Anda di halaman 1dari 8

TUGAS INDIVIDU

UNIT PEMBELAJARAN 4
BLOK 21
PENYAKIT UNGGAS

Disusun Oleh :
Cik Sasmi Budi Prawirasari
10/300080/KH/06610
Kelompok 2

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
1 | Page

Learning Objective
1. Mengetahui tentang mycotoxicosis meliputi:
a. Etiologi

d. Diagnosis

b. Patogenesis

e. Terapi

c. Gejala Klinis

f. Pencegahan

Pembahasan
1. Mycotoxicosis adalah penyakit oleh metabolit sekunder toksik dari jamur (mikotoksin)
pada pakan ayam. Lima jenis mikotoksin yang terpenting adalah aflatoksin, okratoksin A,
zearalenon, kelompok trikotesena dan fumonisin . Dampak kesehatan yang ditimbulkan pada
ternak tergantung kepada jenis dan jumlah mikotoksin yang dikonsumsi. Keberadaan
mikotoksin tidak hanya akan membahayakan kesehatan hewan, tetapi juga akan
menimbulkan residu pada produk pangan asal hewan seperti pada daging, telur dan susu yang
dapat membahayakan kesehatan manusia . Pengendalian mikotoksin melalui penanggulangan
dan pencegahan dapat membantu mencegah timbulnya mikotoksin pada pakan dan pangan
asal ternak untuk mencegah resiko lebih lanjut (Widiastuti, 2006)
a. Etiologi
Genus Fusarium memproduksi beberapa mycotoxin di unggas. Diantaranya adalah
trichothecenes, fumonisins, dan moniliformin. Dan beberapa terjadi dengan toksin lain seperti
aflatoxin (Barnes, 2003).
Fumonisin B1 dan Fumonisin B2 paling banyak mencemari jagung dalam jumlah
cukup besar. Terutama F. moniliforme dan F. proliferatum. Sampai saat ini, telah diketahui 11
jenis senyawa fumonisin, yaitu fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3 dan FB4, kemudian
fumonisin A1 (FA1) dan FA2, serta C1, C2, P1, P2 dan P3. Fumonisin B1 adalah fumonisin
yang paling toksik dan dikenal juga dengan nama makrofusin. Kandungan fumonisin
terutama FB1 yang tinggi pada jagung perlu mendapatkan perhatian serius, mengingat
mikotoksin ini banyak ditemukan bersamasama dengan aflatoksin dan mikotoksin lain
sehingga dapat meningkatkan toksisitas mikotoksin tersebut (Maryam, 2000).
Kapang lain yang juga dapat menghasilkan moniliformin adalah F. acuminatum, F.
graminearum, F. oxyporum, F. poliferatum, F. subglutinans (Widiastuti, 2006).

2 | Page

Zearalenon (ZEN) disebut juga toksin F-2 merupakan toksin estrogenik yang
dihasilkan antara lain kapang Fusarium graminearum. Mikotoksin ini pertama kali diisolasi
pada tahun 1962. ZEN cukup stabil dan tahan terhadap suhu tinggi. Selain F. graminearum,
beberapa kapang lain dapat memproduksi ZEN, yakni F. tricinctum dan F. moniliforme.
Kapang ini tumbuh pada suhu optimum 20-25 C dan kelembaban 40-60% selama 1-3 minggu
(Bahri et al, 2005).
Mikotoksin Trichothecenes terdiri atas 200 - 300 senyawaan sejenis yang bersifat
toksik melalui penghambatan sintesis protein pada ribosom. Dua jenis mikotoksin yang
paling dikenal dari golongan trikotesena adalah toksin T-2 dan deoksinivalenol (DON).
Toksin T-2 dihasilkan terutama oleh F. sporotrichiodes ataupun F. graminearum dengan suhu
optimal pembentukannya antara 24 - 26'C (Widiastuti, 2006).
Sumber utama DON dan NIV adalah Fusarium graminearum yang sering dijumpai
pada jagung. F. graminearum merupakan kapang penyebab busuk tongkol pada jagung dan
head blight pada gandum.
Flatoksin berasal dari Aspergillus flavus toxin. Kapang utama penghasil aflatoksin
adalah A. Flavus yang tumbuh pada kisaran suhu 10 - 43C dan ditemukan di mana-mana
serta memproduksi aflatoksin B1 dan B2 pada kisaran suhu 15 - 37C (Widiastuti, 2006).
Okratoksin A (OA) adalah mikotoksin yang dihasilkan terutama oleh Aspergillus
ochraceus yang tumbuh pada kisaran suhu 8 - 37 C (pertumbuhan optimum pada 25 - 31
C) serta pembentukan okratoksin A pada kisaran suhu 15 - 37 C (pembentukan optimum
pada 25- 28 C) (Widiastuti, 2006).
Species Penicillum memproduksi Ochratoxin, Patulin dan Citrin.
b. Patogenesis
Rute penularan paling utama melalui prnafasan, yaitu dengan menghirup spora dalam
jumlah banyak. Selain itu penyakit ini dapat ditularkan melalui telur, karena organisme ini
dapat tumbuh di bagian dalam dalam dari telur, yang dapat menurunnya daya tetas dan
peningkatan kematian embrio (Tabbu.2000). Sehingga dimungkinkan anak ayam yang
menetas dan masih hidup, akan mempunyai resiko tinggi terinfeksi aspergillosis dan
pencemaran Aspergillus sp. dapat ditemukan didalam setter, hatcher, ruang incubator dan
internal duct.
1) Aflatoxin
Pada keracunan akut oleh aflatoksin, di hati terjadi kegagalan metabolisme
karbohidrat dan lemak dan sintesa protein, sehingga terjadi penurunan fungsi hati karena
3 | Page

adanya perombakan pembekuan darah, ikterus dan penurunan sintesis protein serum.
Sementara itu, pada keracunan kronik akan menyebabkan imunosupresif yang diakibatkan
penurunan akitivitas vitamin
K dan penurunan aktivitas fagositas (phagocytic) pada makrofak. Setiap spesies hewan
mempunyai kepekaan yang berbeda terhadap keracunan akut aflatoksin, dengan nilai LD50
yang bervariasi antara 0,3 hingga 17,9 mg/kg berat badan dan organ hati merupakan target
utama yang terserang (Widiastuti, 2006)
c. Gejala Klinis
1) Momiliforme
Moniliforme merupakan jenis mikotoksin fusarium yang baru diketahui terdapat pada
jagung Indonesia. Mikotoksin ini sangat beracun yang menyebabkan kematian yang sangat
cepat pada hewan percobaan. Dosis mematikan (L 50) dari moniliformin berkisar antara 375,4 mg/kg bobot badan ayam dan itik. Pemberian 0,5-2,0 g pakan berkapang yang
mengandung 11,3 mg/kg moniliformin mengakibatkan kematian pada anak itik dalam waktu
2 hari dengan ciri-ciri klinis yang ditunjukkan adalah melemahnya otot-otot, gangguan
pernapasan, koma dan bahkan kematian (Widiastuti, 2006).
2) Zealenon
Zearalenon dan turunannya bersifat estrogenik terhadap babi, sapi perah, anak
kambing, ayam, kalkun, tikus, kelinci dan manusia, namun hewan yang paling peka terhadap
zearalenon adalah babi. Zearalenon yang terkonsumsi oleh hewan (babi) dapat terdeteksi
residunya di dalam susu dalam bentuk b-zearalenon, a-zearalenon dan zearalenon dalam
waktu kurang dari 48 jam dari pemberian awal dan dapat bertahan selama 5 hari sejak
penghentian pemberian pakan yang terkontaminasi tersebut. Gejala klinis keracunan
zearalenon adalah adanya sindrom estrogenik yang meliputi penurunan produksi, gangguan
reproduksi, penyempitan ovarium.
3) Fumonisin
Unggas merupakan hewan yang tahan terhadap fumonisin, dimana pemberian 80 ppm
FBI pada ayam pedaging selama 21 hari tidak berefek negatif terhadap perubahan berat
badan, efisiensi pakan dan konsumsi air . Namun untuk burung puyuh, pada pemberian
melebihi 250 mg/kg berat badan selama 4 minggu menyebabkan penurunan produksi telur
sebesar 44,3% dan pada pemberian melebihi 50 mg/kg berat badan terjadi penurunan berat
telur (Widiastuti, 2006).
4 | Page

4) Trichothecenes
Tanda-tanda klinis keracunan trikotesena dibagi dalam 5 kelompok yaitu (1)
menyebabkan penolakan pakan, (2) menyebabkan nekrosis kulit, (3) menyebabkan gangguan
pencernaan, (4) menyebabkan koagulopati dan (5) menyebabkan gangguan imunologik.
Pemberian T-2 toksin pada DOC ayam pedaging melebihi 4 pg/g pakan per
hari menghambat pertumbuhan secara nyata dan menyebabkan lesi yang parah di mulut mulai
dari minggu pertama pemberian dan semakin parah dengan bertambahnya waktu
pengamatan. Keracunan toksin T-2 yang menyebabkan kematian spontan dilaporkan terjadi
pada ayam yang mengkonsumsi 0,70 mg/kg T-2 bersamaan dengan adanya 0,50 mg/kg
diasetoksiskirpeno (Widiastuti, 2006).
5) Okratoksin A
OA dengan dosis 100 sg (oral) maupun 400 .ig (subkutan) pada anak ayam dapat
menyebabkan kematian dengan kerusakan utama pada viscera! gout, sedangkan secara
mikroskopik terlihat adanya nefrosis yang akut, degenerasi pada hati atau nekrosis fokal dan
enteritis (Widiastuti, 2006).
6) Aflatoxin
Terganggunya fungsi metabolisme, absorpsi lemak, penyerapan unsur mineral
tembaga, besi, kalsium, fosfor, beta karoten, kerusakan kromosom, perdarahan dan memar
(Rachmawati dkk, 2002)

d. Diagnosis
Diagnosis mycotoxicosis dimulai dengan penilaian dari sejarah klinis dan sinyal.
Timbulnya masalah mungkin bertepatan dengan pengiriman pakan baru, namun transportasi
yang terkontaminasi, penggilingan dan makan, sistem dapat menjadi sumber intermiten atau
kronis paparan toksin. Gejala klinis dan lesi yang disebabkan oleh mikotoksin tidak
patognomonik. Sebagai contoh, lesi oral sering diambil sebagai bukti mikotoksin

5 | Page

trichothecene (T-2 toksin), tetapi lesi serupa disebabkan oleh konsentrasi tinggi dari tembaga
sulfat, amonia desinfektan kuarterner, kandidiasis, dan hypovitaminosis A.
Diagnosis definitif mycotoxicosis melibatkan identifikasi dan kuantifikasi racun
tertentu. Ini sulit dalam produksi unggas modern karena penggunaan yang cepat dan
produktif pakan dan bahan-bahan. Kemampuan analitik agak terbatas laboratorium
diagnostik, dan kompleksitas biokimia pakan jadi merupakan faktor tambahan. Analisis untuk
aflatoksin dan zearalenon sudah tersedia, tetapi analisis untuk ochratoxins, zearalenon,
deoxynivalenol, T-2 toksin, diacetoxyscirpenol, alkaloid ergot dan ctrinin kurang begitu.
Konfirmasi dari mycotoxicosis disebabkan oleh trichothecenes lainnya, asam cyclopiazonic,
sterigmatocystin, rubratoksin, atau mycotoxinns kurang umum, terutama dalam pakan,
mungkin hanya dalam beberapa laboratorium (Barnes dkk, 2003).
Teknik analitik untuk mikotoksin meliputi kromatografi (lapisan tipis, gas, cair),
spektrometri massa, dan teknologi berbasis antibodi monoklonal. Evaluasi cahaya hitam bijibijian untuk pertumbuhan A. flavus adalah tes dugaan diterima untuk aflatoksin tetapi tidak
mengkonfirmasi toksin yang sebenarnya. Banyak bioassay yang ditetapkan untuk tes skrining
mikotoksin, tapi hasil tes positif dugaan beberapa tes yang terstandar untuk metode analisis
ini (Barnes dkk, 2003).
Perubahan Makroskopik
Lesi awal meliputi nodule kaseus kecil berwarna kekuningan di daerah jaringan paru. Kadang
ditemukan adanya ascites yang tercampur cairan berwarna merah, plaque akan terhat lebih
besar dan meningkat jumlahnya pada permukaan kantong udara dan kerapkali membentuk
agregat. Organism tersebut biasanya mengalami sporulasi pada permukaan lesi kaseus dan
permukaan kantong udara menebal, ditandai adanya pertumbuhan jamur yang berwarna
kelabu-kehijauan. Pada flamingo, dapat juga ditemukan adanya suatu selaput yang
mengandung mycelia yang menutupi mukosa bronki, disamping adanya nodule pada paru.
Pada siring, kadang-kadang ditemukan adanya eksudat kaseus dan mycelia, yang bercampur
dengan eksudat mukopurulen. Pada brooder pneumonia, akan ditemukan adanya mikroabses
pada jaringan paru. Aspergillosis bentuk sistemik dapat menunjukkan adanya lesi pada hati,
usus, dan otak.
Perubahan Mikroskopik
Lesi pada stadium awal tersifat oleh adanya timbunan limfosit, sejumlah makrofag, dan
beberapa giant cell, yang bersifat fokal. Pada stadium selanjutnya, maka lesi akan
6 | Page

berkembang menjadi granuloma yang terdiri atas daerah nekrosis sentral yang mengandung
heterofil dan dikelilingi oleh makrofag, giant cells, limfosit, dan sejumlah jaringan ikat. Pada
pengecatan Periodic Acid Schiff (PAS) Reaction, dapat dubuktikan adanya hyphae di daerah
jaringan nekrosis (Tabbu., 2000).
e. Terapi
Pakan beracun harus dihapus dan diganti dengan pakan murni. Unggas umumnya
sembuh dari sebagian mycotoxicosis segera setelah diet pakan bebas kontaminasi.
Pengobatan penyakit parasit atau bakteri bersamaan akan mengurangi aditif atau interaksi
sinergis. Praktek manajemen standar terutama merugikan poutry ditekankan oleh mikotoksin
dan harus diperbaiki. Vitamin, mineral (terutama selenium), protein, lipid dan persyaratan
yang meningkat resiko dari mikotoksin dan dapat dikompensasikan dengan formulasi pakan
dan pengobatan berbasis air. Peningkatan protein kasar, energi diet, dan suplemen vitamin
dapat melawan efek aflatoksin. Vitamin E dan C sebagian penetral toksisitas T2 toksin dan
ochratoxin A di ayam.
Strategi lain untuk pengobatan mycotoxicosis dalam pakan terkontaminasi kehadiran
melibatkan nutrisi tertentu yang dimetabolisme untuk membentuk detoxicants. Tambahan
metionin dan N-acetylcysteine menetral aflatoksin kemungkinan melalui peningkatan
pembentukan glutathione (Barnes dkk, 2003).
Detoksifikasi menggunakan agen mikotoksin mengikat sangat menjanjikan bagi
penggunaan pakan terkontaminasi sekaligus mencegah keracunan. Adsorben mineral
anorganik atau binders termasuk berbagai tanah liat, tanah, dan zeolit dapat menjadi bagian
dari pendekatan terpadu. Zeolit adalah silika yang mengandung senyawa yang aditif pakan
praktis dan ekonomis yang dapat mengurangi efek aflatoksin dan cyclopiazonis asam, tapi
tidak T-2 toksin, diacetoxyscirpenol, atau ochratoxin A. Kegiatan adsorben ditunjukkan oleh
sejumlah bijih zeolitic dan Bentonite clay. Pengolahan lebih lanjut dari silikat jenis pengikat
dapat meningkatkan keberhasilan mereka untuk perlindungan. Meskipun potensi adsorben
untuk melawan mikotoksin, ada variabilitas yang besar dalam keberhasilan dan korelasi in
vitro dan in vivo pengujian.
Esterifikasi-glukomanan adalah pelindung terhadap aflatoksin B1 dan ochratoxin pada
ayam pedaging dan menunjukkan aktivitas mengikat moderat untuk fumonisins, zearalenon,
dan T-2 toksin. Metode pencegahan termasuk pengobatan ozon biji-bijian, yang mengurangi
kontaminasi aflatoksin. Amoniasi efektif dalam dekontaminasi pakan dan biji-bijian untuk
7 | Page

aflatoksin, dan kompos jagung terkontaminasi dengan kotoran unggas efektif dalam
mendetoksifikasi aflatoksin. Budaya tertentu dari Lactobaccillus mencegah penyerapan
aflatoksin dari usus kecil. Superactivated arang (ukuran partikel halus) memiliki aktivitas
mengikat marjinal atau tidak untuk aflatoksin atau T-2 toksin (Barnes dkk, 2003).
f. Pencegahan
Pengendalian mikotoksin dapat dilakukan melalui pencegahan,
penanggulangan,monitoring dan penerapan legislasi untuk mikotoksin pada pakan dan
pangan pada seluruh mata rantai secara terpadu. Keamanan pangan melibatkan tanggung
jawab berbagai pihak seperti petani, pedagang hasil pertanian,peternak serta pemerintah
sebagai badan pengawas dan penentu kebijakan agar dihasilkan produk pangan asal ternak
yang siap disajikan dengan resiko yang seminimal mungkin, aman dan berkualitas
(Widiastuti, 2006)

Daftar Pustaka
Bahri, S., R. Maryam Dan R. Widiasturi. 2005. Cemaran Aflatoksin Pada Bahan Pakan Dan
Pakan Di Beberapa Daerah Propinsi Lampung Dan Jawa Timur. Jitv 10(3) : 236 241
Barnes, Hj; Fadly, Am; Glisson, Jr; Mcdougald, Lr; Swayne. 2003. Diseases Of Poultry 11th
Edition. England: Iowa State Press
Maryam, R. 2000. Kontaminasi Fumonisin Pada Bahan Pakan Dan Pakan Ayam Di Jawa
Barat. Pros. Seminar Nasional Peternakan Dan Veteriner. Bogor, 18 19 September
2000. Puslit Peternakan, Bogor. Him. 538-542.
Rachmawati, S; Arifin, Z; Poeloengan, M; Hamid, H. 2002. Residu Aflatoksin B1 Pada
Organ Hati Dan Pertumbuhan Itik Yang Mendapat Perlakuan Bakteri Asam Laktat
(Lactobacillus Riiamnosus). Balai Penelitian Veteriner: Seminar Nasional Teknologi
Peternakan Dan Veteriner: 454-458
Tabbu., C.R. 2000. Penyakit Ayam Dan Penanggulangannya Volume 1. Yogyakarta: Kanisius.
Hal. 142 150
Widiastuti, R. 2006. Mikotoksin: Pengaruh Terhadap Kesehatan Ternak Dan Residunya
Dalam Produk Ternak Serta Pengendaliannya. Jurnal Wartazoa 16(3) : 116-127

8 | Page