Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERBENIHAN I

Pengujian Kadar Air Benih

Disusun Oleh :
Kelompok 8
Felia Shella Meidina

150510130043

Jessica Amanda Claudia

150510130098

Daud Supardi

150510130111

Asyitri Desliyanti R. Rosidin

150510130116

Yuda Pebriana

150510130128

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih merupakan material yang bersifat higroskopis, memiliki susunan yang
kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat sedemikian
rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih karena
keadaan yang higroskopis itu tergantung pada kelembaban relatif dan suhu udara
lingkungan sekitarnya. Benih merupakan biji tanaman yang digunakan untuk tujuan
pertanaman, artinya benih memiliki fungsi agronomis. Untuk itu benih yang diproduksi
dan tersedia harus bermutu tinggi agar mampu menghasilkan tanaman yang mampu
berproduksi maksimal.
Mutu benih mencakup tiga aspek yaitu mutu genetik, yaitu aspek mutu benih
yang ditentukan berdasarkan identitas genetik yang telah ditetapkan oleh pemulia dan
tingkat kemurnian dari varietas yang dihasilkan, identitas benih yang dimaksud tidak
hanya ditentukan oleh tampilan benih, tetapi juga fenotipe tanaman, mutu fisiologi, yaitu
aspek mutu benih yang ditunjukan oleh viabilitas benih meliputi daya berkecambah/daya
tumbuh dan vigor benih, serta mutu fisik, yaitu aspek mutu benih yang ditunjukan oleh
tingkat kebersihan, keseragaman biji dari segi ukuran maupun bobot, kontaminasi dari
benih lain atau gulma, dan kadar air. Kadar air benih merupakan salah satu komponen
yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan maupun penyimpanan benih.
Umumnya pada tanaman serealia (padi-padian) dan kacang-kacangan (legume),
pada saat mendekati masak kadar airnya konstan sekitar 20 %, tetapi sedikit naik turun
seimbang dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Benih setelah dipanen atau dipetik
dari pohon induknya perlu segera dikeringkan sampai kadar air tertentu yang aman,
misalnya padi 11-12 %, jagung 11-12 %, kedelai 10-11 %, kacang hijau 11-12 % dan

kacang tanah 10-11 %. Penurunan kadar air ini berhubungan dengan benih akan
disimpan, beberapa hari, minggu, bulan atau tahun. Tinggi rendahnya kadar air dalam
benih memegang peranan yang demikian penting dan berpengaruh besar terhadap mutu
benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap benih selama
penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air tinggi berisiko mempercepat
mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air biji atau benih berfungsi untuk
menentukan saat panen yang tepat dan saat penyimpanan benih. Pemanenan harus
dilakukan pada tingkat kadar air tertentu pada masing-masing spesies atau varietas.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.

Berapa berat kedua cawan yang telah di isi kacang endul sebelum di oven?
Berapa berat kedua cawan yang telah di isi kacang endul setelah di oven?
Berapa jumlah kadar air benih setelah di masukkan ke dalam rumus kadar air?
Berapa rata-rata jumlah kadar air benih?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui berapa persen kadar air pada kacang benih.
2. Menambah pengetahuan tentang kadar air pada kacang endul.
3. Memenuhi tugas laporan praktikum dari dosen matakuliah Teknologi Perbenihan I.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kadar air benih adalah berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang
karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam
persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Penilaian Air adalah banyaknya
konten air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya konten air tersebut &
dinyatakan dalam% terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air
diantaranya untuk untuk mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk
mengatur kadar air yang tepat selama penyimpanan dalam rangka mempertahankan
viabilitas benih tersebut. Kadar air adalah hilangnya berat ketika benih dikeringkan
sesuai dengan teknik atau metode tertentu. Metode pengukuran kadar air yang
diterapkan dirancang untuk mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang
mudah menguap bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak

mungkin

(ISTA, 2006). Dalam penentuan uji kadar air digunakan 2 metode oven, yaitu metode
temperatur rendah 1032C dan metode temperatur tinggi 130 - 133C. Kedua metode
tersebut dapat digunakan dalam penentuan kadar air (Bonner, 1995).
Pada prinsipnya metode yang digunakan dalam penentuan kadar air ada dua
macam yaitu :
1. Metode praktis, metode ini mudah dilaksanakan tetapi hasilnya kurang teliti sehingga
sering perlu dikalibrasikan terlebih dahulu.
2. Metode dasar, disini kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat yang
diakibatkan oleh pengeringan/pemanasan pada kondisi tertentu, dan dinyatakan
sebagai persentase dari berat mula-mula.
Dalam metode oven dengan suhu rendah konstan, sampel sebanyak 4-5 gram
harus dinyatakan menutupi dasar wadah, timbang wadah dan tutupnya sebelum dan
sesudah pengisian. Wadah yang telah ditutupi masukkan ke dalam oven pada suhu 103 C

dan keringkan kurang lebih 1 jam. Pengeringan terhitung mulai saat oven mencapai suhu
yang diinginkan setelah itu dikeluarkan dan ditutup, lalu ditempatkan pada eksikator
selama 30-45 menit. Setelah didinginkan timbang wadah dan tutp beserta isinya.
Kelembaban nisbi ruangan saat penentuan kadar air harus kurang 70%. (Agrawal, 1986)
Metode pengeringan oven telah mempertimbangkan bahwa hanya air saja yang
diuapkan selama pengeringan. Namun, bagaimanapun juga senyawa yang

mudah

menguap mungkin ikut menguap yang akan menyebabkan hasil pengukuran over
estimation. Sebagai contoh, pada beberapa benih, Abies sebagian resin ikut menguap
ketika benih dibelah sehingga kadar air yang dihasilkannya lebih tinggi (Bonner, 1991
dalam Poulsen, 1994). Dengan demikian, kadar air yang ditentukan dengan metode oven
mungkin saja tidak merepresentasikan kadar air benih yang sesungguhnya (Poulsen,
1994). Namun, bagaimanapun juga metode pengeringan oven merupakan metode yang
digunakan sebagai metode standar (Edwards, 1987; ISTA, 1999; ISTA 2006) bila
dibandingkan dengan metode lainnya yang masih harus dikalibrasi. Pemilihan metode
pengukuran kadar air yang paling tepat adalah apabila cara tersebut mampu memberikan
nilai kadar air tertinggi (Willan, 1985).
Penilaian air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik
untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air
memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih ortodok
pada tingkat air tinggi berisiko cepat mundurnya benih selama dalam penyimpanan.
Penilaian air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB dalam
sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analisis benih di
laboratorium benih. Kadar air benih selalu berubah tergantung kadar air lingkungannya,
karena benih memiliki sifat selalu berusaha mencapai kondisi yang equilibrium dengan
keadaan sekitarnya (Kuswanto, 1997).
Penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting untuk
dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya
(Satopo, L. 1985). Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama
daya hidup benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar

benih adalah antara 6% 8%. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah
akan menyebabkan kerusakan pada embrio. Air yang terdapat dalam benih dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu air bebas dan air yang terikat. Pada perhitungan kadar air
benih, yang dihitung persentasenya hanyalah air bebas, karena air inilahyang dapat
bergerak bebas di dalam benih dan mudah untuk diuapkan (Anonim, 2009).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Benih kacang endul
2. Oven
3. Eksikator
4. Cawan / wadah kertas
5. Timbangan elektrik
6. Burrow moisture tester

3.2 Langkah Kerja


Metode yang digunakan pada praktikum adalah metode dasar/oven. Percobaan
dilakukan dalam dua kali ulangan.
a. Menimbang wadah kertas dan benih padi masing-masing sebanyak +5 gram
untuk dua kali ulangan (w1 gram) dan (w2 gram)
b. Setelah ditimbang, dilanjutkan memanaskan wadah kertas dan contoh benih
jagung tadi dalam oven selama 1 jam pada temperatur 130oC.
c. Setelah pemanasan selesai, wadah kertas dan benih ditimbang lagi.
d. Catat angka yang ditunjukkan oleh timbangan, kemudian hitung kadar air
benihnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


Massa awal (sebelum pengovenan)
W1 (Ulangan Pertama) = 5,13 gram
W2 ( Ulangan Kedua ) = 5,04 gram
Massa akhir (setelah pengovenan)
W2 ( Ulangan Pertama) = 4,89gram
W2 ( Ulangan Kedua) = 4,78 gram

Kadar Air (KA)

KA1

= 4.68%

KA2

= 5.16%

Rata-rata Kadar Air( )=

= 4.92 %
4.2 Pembahasan
Kadar air benih ialah berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang karena
pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase
terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya
kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air
tersebut dan dinyatakan dalam persen terhadap berat asal contoh benih. Tujuan
penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui kadar air benih sebelum
disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan dalam
rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut.
Praktikum kali ini adalah termasuk metode dasar pengujian kadar air benih, yaitu
dengan cara pengovenan. Kadar air adalah hilangnya berat ketika benih dikeringkan
sesuai dengan teknik atau metode tertentu. Berat benih pada pengulangan satu
sebelum benih di oven adalah 5.13 gram (W1) dan pada pengulangan kedua yaitu
5.04 gram (W1). Setelah itu benih diletakkan pada oven. Setelah selesai dilakukan
pengovenan selama benih mengalami pengurangan massa atau berat yaitu pada W2
pengulangan pertama 4.89 gram dan pada W2 pada pengulangan kedua 4.78 gram.
Hal ini dikarenakan oven dengan suhu 1300 C dapat menurunkan kadar air dalam
benih. Setelah dihitung menggunakan rumus pada hasil pengamatan didapatkan KA1
pada ulangan pertama adalah 4.68 % dan KA 2 setelah di oven adalah 5.16 %. Terjadi
pengurangan prosentase. Rata-rata kadar air benih adalah 4,92 %
Benih kacang endul termasuk benih ortodoks. Benih orthodox merupakan jenis
benih yang dapat disimpan dengan optimal pada kadar air yang relatif rendah yakni
9-12 %. Rata-rata kadar air pada benih kacang endul yang kita amati yaitu 6,82 %.

Kadar air yang dikandung kacang endul yang kami amati ini lebih rendah dari yang
seharusnya. Ini juga berarti benih siap disimpan dengan optimal.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kadar air benih adalah berat air yang dikandung dan yang kemudian
hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan
dalam persentase terhadap berat awal contoh benih.
Pada prinsipnya metode yang digunakan dalam penentuan kadar air ada
dua macam yaitu :
1. Metode praktis, metode ini mudah dilaksanakan tetapi hasilnya kurang teliti
sehingga sering perlu dikalibrasikan terlebih dahulu.
2. Metode dasar, disini kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat
yang diakibatkan oleh pengeringan/pemanasan pada kondisi tertentu, dan
dinyatakan sebagai persentase dari berat mula-mula.
Berat benih pada pengulangan satu sebelum benih di oven adalah 5.13
gram (W1) dan pada pengulangan kedua yaitu 5.04 gram (W 1). Setelah selesai
dilakukan pengovenan selama benih mengalami pengurangan massa atau berat
yaitu pada W2 pengulangan pertama 4.89 gram dan pada W2 pada pengulangan
kedua 4.78 gram. Rata-rata KA benih kacang endul adalah 6.82 %.

Benih kacang endul termasuk benih ortodoks. Benih orthodox merupakan


jenis benih yang dapat disimpan dengan optimal pada kadar air yang relatif
rendah yakni 9-12 %. Kadar air yang dikandung kacang endul yang kami amati
ini lebih rendah dari yang seharusnya. Ini juga berarti benih siap disimpan
dengan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2012.

Tentang

Pengujian

Kadar

Air

Benih.

Diakses

melalui

http://www.academia.edu/5502476/Pengujian_Kadar_Air_Benih. Diakses pada Kamis,


16 Oktober 2014.