Anda di halaman 1dari 8

Budidaya lele dengan teknologi biofloc telah menjadi andalan di negara-negara maju di

bidang perikanan seperti Jepang, Brazil, Australia dan lainnya.

Budidaya ikan metode biofloc di Jepang

Budidaya lele sistem bioflok adalah budidaya lele intensif yang dapat dilakukan di
pekarangan rumah. Tidak perlu kolam yang luas, tapi cukup dengan kolam fiber atau terpal
berbentuk bulat berdiameter 2,5 m setinggi 1 m. Menurut Legisan, pada peternakan biasa tiap 1
m3 kolam hanya bisa ditebar 100 ekor benih lele. Tapi dengan sistem bioflok bisa ditebar 500
hingga 1.000 ekor benih lele, dengan tingkat survival hingga 90%.
Budidaya lele sistem bioflok diterapkan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang
berfungsi mengolah limbah budidaya menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang bisa menjadi
makanan alami ikan. Caranya melalui penambahan kultur bakteri (probiotik), dan pemasangan
aerator yang akan menyuplai oksigen sekaligus mengaduk air kolam.
Lele sangat cocok dibudidayakan dengan sistem bioflok karena pertumbuhannya yang
cepat, dan memang dikenal lebih tahan dengan kondisi air apa pun. Sistem bioflok akan
mempercepat pertumbuhan lele karena limbah pakan dan kotoran lele yang bisa meracuni kolam
akan dinetralisasi dan diubah menjadi pakan alami. Selain itu, sistem bioflok juga akan
memperbaiki kualitas air dan mencegah timbulnya bau tak sedap akibat pembusukan limbah
kolam.

Beternak lele secara intensif dapat dilakukan di lahan yang minimal. Pekarangan rumah
yang menganggur atau lahan tidur di sekitar kita bisa kita konversi menjadi lahan yang produktif.
Budidaya lele dengan sistem biofloc, tidak perlu kolam luas. Dengan kolam sederhana dari terpal
atau fiber yang didesain melingkar.
Tidak ada yang melarang buat kolam biofloc ukuran berapa, semampunya saja. Satu kolam
dengan diameter 100 cm, sebagai contoh, bisa ditebar sekitar 500-1000 ekor lele. Untuk diameter
250 cm, kepadatan bisa 4000 ekor lele. Jangan terlalu padat, bisa kolaps.
Dengan kepadatan lele mencapai 1.000 ekor/m2 dalam budidaya biofloc, mampu diperoleh
konversi pakan sekira 0,8. Ini artinya 0,8 kg pakan dapat membentuk 1 kg daging lele.
Analisis Usaha
Seperti telah disinggung, budidaya lele sistem biofloc tidak memerlukan tempat yang
luas, dan modal yang dibutuhkan relatif kecil. Di lahan seluas 20 m 2, sudah bisa memulai dengan
dua kolam. Besarnya investasi untuk satu kolam sederhana sampai panen, mulai dari benih,
pakan, perlengapan dan kolam, dibutuhkan investasi sekitar 4 juta rupiah. Adapun keuntungan
yang diperoleh sekitar 1,5-2 juta rupiah per kolam, dalam satu siklusnya. Satu siklus panen lele
yakni 2,5 3 bulan, untuk panen ukuran 1 kg isi 10 atau 8.
Untuk 1000 m2 luas lahan, kita dapat membangun sekitar 40 kolam dengan rata-rata luas per
kolam sekitar 6 m2. Budidaya lele kategori sehat memiliki tingkat kelangsungan hidup/survival
rate (SR) di atas 90%.
Kondisi Ideal
Meskipun ikan lele termasuk ikan yang dapat beradaptasi di lingkungan yang kurang
mendukung, dalam arti kondisi air minim, kualitas air jelek, keruh, kotor serta sedikit oksigen,
namun untuk menghasilkan panen yang besar, sehat dan berkualitas maka pemeliharaan harus
sebisa mungkin memenuhi kondisi ideal. Itulah salah satu tujuan dari budidaya sistem biofloc.

Ketinggian lokasi ideal: dataran rendah sampai dataran tinggi (700 m dpl).

Suhu ideal : 25C 28C (untuk dewasa), 26C 30C (untuk larva), 24-28C (masa
pemijahan)

Tingkat keasaman (pH) air kolam: 6,5 9.

Tingkat kesadahan (derajat butiran kasac): optimal 50 ppm, maksimal 100 ppm.

Bebas dari limbah berbahaya.

Tahapan Budidaya
Dalam budidaya teknologi biofloc, kita sangat mengandalkan peran dari probiotik,
aerator/sirkulator, dan pakan buatan/pelet. Kita juga tidak boleh menggunakan kolam tanah. Di
samping itu, perlu persiapan media pemeliharaan sekitar satu minggu sebelum benih lele ditebar.
Berikut adalah garis besar dari langkah-langkah budidaya lele sistem bioflok:
1. Bangunlah kolam biofloc sesuai kebutuhan. Rancangan kolam bisa mengikuti contoh di
gambar. Ukurannya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan yang ada. Sangat dianjurkan
kolam dibangun di bawah saung plastik UV.

Contoh konstruksi kolam biofloc


2. Pasanglah perlengkapan-perlengkapan pendukung. Ini mencakup mesin aerator dan selangselang, instalasi listrik, dll.

Pompa udara Hiblow, sebagai mesin aerator kolam biofloc. Bisa menggunakan mesin pompa
lain sejenis
3. Sterilkan area dari sampah dan benda-benda yang tidak perlu. Pastikan juga lokasi kolam
aman dari genangan air hujan. Setelah semua fasilitas telah siap, maka kita sudah siap.
4. Pertama-tama isilah kolam dengan air bersih, bebas limbah. ketinggian air sekitar 80 100
cm.
5. Kemudian lakukan sterilisasi air. Sterilisasi air yaitu dengan pemberian kaporit sebanyak 20
30 gram/m3 air.
6. Lalu lakukan aerasi selama 3 hari sampai bau kaporit hilang. Teknik aerasi yaitu mengalirkan
udara melalui selang-selang kecil secara kontinyu/terus menerus ke air kolam menggunakan
kekuatan mesin aerator yang terhubung tenaga listrik.

Proses aerasi mutlak diperlukan untuk budidaya ikan/lele sistem biofloc


7. Kemudian tambahkan garam. Dosisnya 1 3 kg/m3 air, dan lakukan aerasi kembali.
8. Esok harinya, berikan kapur dolomite. Dosis 100 gram/m3 air. Kapur ini bisa dibeli di toko
pupuk.
9. Esok harinya, berikan molase (tetes tebu) sebanyak 100 ml/m 3. (Molase bisa kita ganti dengan
gula pasir/gula merah), dengan dosis sekitar 100 gr/m3.
10. Sekarang tambahkan PROBIOTIK. Ini sangat penting. Untuk probiotik ini, bisa
menggunakan POC BMW, dengan dosis 2 tutup botol (24 ml) per m3 air.
Probiotik dalam hal ini berperan sebagai terapi maupun sebagai bahan aditif (growth
promoter). Meskipun kadarnya relatif kecil, namun dapat meningkatkan efisiensi pakan (feed
efficiency). Probiotik juga diberikan dengan tujuan meningkatkan keseimbangan mikroba dan
memerangi mikroba jahat atau patogen seperti E. Coli, Salmonella, Clostridium, dll.
11. Selanjutnya tambahkan pupuk kompos. Dosis 1-2 karung per kolam (tergantung ukuran
kolam). Kompos berguna menumbuhkan plankton/mikroba menguntungkan di kolam. Kompos
bisa dibiarkan terbungkus karung. Namun kompos harus benar-benar matang sehingga tidak
malah menimbulkan penyakit pada ternak lele.
12. Istirahatkan kolam sekitar 5 hari, baru kemudian benih ditebar. Benih harus benar-benar
jenis unggul supaya memiliki daya tahan yang prima terutama dari serangan penyakit dan
persaingan pada saat kepadatan lele sudah tinggi.

Syarat Kolam Biofloc


1. Membutuhkan probiotik pembentuk flok. Seperti bakteri Bacillus sp : Bacillus subtilis,
Bacillus licheniformis, Lactobacillus sp., Azotobacter sp., Pseudomonas sp..Probiotik bisa dibeli
dipasaran dengan harga yang murah dan bisa diperbanyak dengan molase supaya lebih hemat.

contoh probiotik yang mengandung bakteri pembentuk floc

contoh probiotik yang mengandung bakteri pembentuk floc


2. Membutuhkan oksigen yang tinggi didalam kolam kisaran 4 ppm-6 ppm. Bisa menggunakan
pompa celup dengan ketinggian pompa 2,5 meter dengan kekuatas 43 watt.
3. Penambahan bahan baku stater yang mengandung karbon seperti molase.
4. Kondisi lingkungan air kolam dibuat selalu mengaduk dengan bantuan semburan air atau
aerator.
Ciri-Ciri Air Kolam yang Terbentuk Biofloc
1. Warna air kolam coklat kekuningan semakin lama akan coklat kemerahan.
2. Air kolam tidak berbau.
3. Air kolam lebih encer dan tidak kental.
4. Jika diambil sampel airnya didiamkan beberapa menit, terdapat endapan coklat kehijauan yang
melayang-layang didalam air.
5. Ikan lele sehat dan gesit.
Mengapa dibutuhkan bahan Penambahan Bahan yang mengandung karbon kedalam air
kolam. Didalam sistem biofloc membutuhkan oksigen, sisa pakan, air yang tersuspensi dan
bantuan bakteri probiotik didalam kolam. Bakteri ini membutuhkan makanan untuk
bermetabolisme dan berkembang menjadi jumlah yang mampu menguraikan sisa pakan didasar
kolam. Bakteri dapat memanfaatkan ammonia-nitrogen dengan efisien jika perbandingan C/N
sekitar 15-25 : 1. Sehingga kekurangan karbon dilakukan kegiatan penambahan bahan ke dalam
kolam seperti gula, molase , tepung tapioka, tepung terigu, dan dedak.
Menurut perhitungan dengan pemberian pakan pelet dengan kandungan protein 34%, dengan
luasan kolam ukuran 5 x 2 tinggi 1 meter.Setiap hari diberikan 2 ons bahan karbon kedalam
kolam.