Anda di halaman 1dari 154

BAB I

WAHYU ALLAH
A. Pengertian Wahyu
Dikatakan wahaitu ilaih dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak
diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui
pembicaraa yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata,
dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu adalah kata masdar ( infinitif ); dan materi kata itu
menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu ; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu
maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat
dan khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.
Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan
adalah al-muha yaitu pengertian isim maf`ul, yang diwahyukan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:
1. Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa.
Sebagaimana Firman Allah SWT;



Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya Maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para
rasul.(Q.S. al-Qashash (28):7)
2. Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah. Sebagaimana
Firman Allah SWT;

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di


pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (Q.S. an-Nahl
(16):68)
3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang
diceritakan al-Quran;


Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada
mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (Q.S. Maryam (19):
11)
1

4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah
dalam diri manusia. Sebagaimana Firman Allah SWT;



Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah
ketika menyembelihnya[501]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu
kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar
mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (.Q.S. al-Anam (6): 121)

Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan
(dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(Q.S. al-Anam (6): 112).
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah
untuk dikerjakan. Sebagaimana Firman Allah SWT;




(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya
Aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang Telah beriman".
kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka
penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Q.S. al-Anfal
(8): 12)
Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar'i mereka definisikan
sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini
menggunakan pengertian maf'ul, yaitu almuha (yang diwahyukan). Muhammad
Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid adalah pengetahuan yang
didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa
2

pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama
melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda
antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa
sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana
datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih, dan senang.
Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal
definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau
kasyaf, tetapi pembedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.
(Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-ilmu al-Quran, 1992: 35-38).
B. Cara Penyampaian Wahyu Allah
Di dalam al-Quran terdapat beberapa ayat tentang kata al-wahyu dengan
semua derifasinya. Kata-kata tersebut yang akan dijadikan sebagai bahan kajian
tentang bagaimana Allah menyampaikan wahyu kepada yag dikehendaki-Nya.
1. Penyampaian Wahyu kepada Malaikat
Beberapa ayat berikut cukup memberikan penjelasan tentang penyampaian
wahyu oleh Allah kepada Malaikat-Nya.




Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (Q.S. al-Baqarah (2): 30).
Juga terdapat ayat al-Quran tentang wahyu Allah kepada mereka :



(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama
kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang Telah beriman". kelak akan Aku
jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka
dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Q.S. al-Anfal (8): 12).
Di samping itu ada pula ayat-al-Quran tentang para malaikat yang
mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya.
3


Dan (Malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan (Q.S. adz-Dzariyat (51): 4)


Dan (Malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Q.S. an-Naziat (79): 5).
Ayat-ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada
para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para
malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis dari Nawas bin Sam`an r.a yang
mengatakan : Rasulullah SAW berkata :
Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui
wahyu; maka langitpun tergetarlah dengan getaran- atau Dia mengatakan dengan goncanganyang dahsyat karena takut kepada Allah Azza wa jalla. Apa bila penghuni langit mendengar
hal itu, maka pingsan dan bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali
mengangkat muka diantara mereka itu adalah jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu,
kepada jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian jibril berjalan melintasi para
malikat, setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu;
apa yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai jibril ? jibril menjawab : Dia mengatakan
yang hak. Dan Dialah yang maha tinggi lagi Maha Besar. Para malikatpun mengatakan
seperti apa yang dikatakan jibril. Lalu jibril menyampaikan wahyu itu seperti apa yang
diperintahkan Allah azza wajalla.
Hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan
para malikatnya mendengar-Nya. Dan pengaruh wahyu itupun sangat dahsyat;
apabila pada lahirnya- di dalam perjalanan Jibril untuk menyampaikan wahyu- hadis
di atas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai al-Quran, akan tetapi hadis
tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok permasalahan
itu terdapat di dalam hadis sahih :
Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat memukulmukulkan sayapnya karena pengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang
licin..
Telah nyata pula bahwa al-Quran telah dituliskan di lauhil mahfudz,
berdasarkan firman Allah :


Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia. Yang (tersimpan) dalam
Lauh Mahfuzh. (Q.S. al-Buruj (85): 21-22)
Demikian pula bahwa al-Quran itu diturunkan sekaligus ke baitul izzah yang
berada di langit dunia pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam lailatul qadar.`(Q.S. al-Qadar


(97):1)


Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan
Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (Q.S. ad-Dukhan (44): 3).


Bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)
(Q.S. al-Baqarah (2): 185)
Di dalam sunnah terdapat hal yang menjelaskan nuzul ( turunnya ) al-Quran
yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukanlah nuzul kedalam hati Rasulullah SAW .
Dari Ibnu Abbas dengan hadis mauquf : ` Quran itu diturunkan sekaligus ke langit dunia
pada malam lailatul Qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun, lalu
Ibnu Abbas membacakan: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu dengan
membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang
benar dan yang paling baik penyelesaiannya.`(al-Furqan : 33). `Dan Al-Qur`an itu
telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`( alIsraa: 106 ).
Dan dalam satu riwayat :
Telah dipisahkan Quran dari az-Zikr lalu diletakkan dibaitul Izzah dilangit dunia;
kemudian jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.
Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah
yang berupa al-Quran kepada jibril dengan beberapa pendapat :
a. Bahwa Jibril menerimanya secara mendengar dari Allah dengan lafalnya yang
khusus.
b. Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfudz.
c. Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril,
atau lafal Muhammad saw.
Pendapat yang pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan
pegangan oleh ahlussunnah wal jama`ah. Serta diperkuat oleh hadis Nawas bin
Sam`an di atas.
Menisbahkan al-Quran kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat :


Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quraan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi
Maha Mengetahui.(Q.S. an-Naml (27): 6 ).
5



`Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat
yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.`( Q.S.atTaubah(9) : 6).



`Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak
mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: `Datangkanlah Al Qur`an yang lain dari ini
atau gantilah dia `. Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku
sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`( Q.S. Yunus : 15 ).
Al-Quran adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam
Muhammad. Sedang pendapat kedua di atas itu tidak dapat dijadikan pegangan,
sebab adanya al-Quran di lauhul mahfudz itu seperti hal-hal gaib yang lain,
termasuk al-Quran. Dan pendapat yang ketiga lebih sesuai dengan hadis, sebab
hadis itu wahyu Allah kepada Jibril, kemudian kepada Muhammad saw. Secara
maknawi saja. Lalu ungkapan itu diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.


`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada
lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.`(Q.S. an-Najm (53): 3-4 ).
Dan oleh sebab itulah diperbolehkan meriwayatkan hadis menurut maknanya
sedang al-Quran tidak. Demikianlah telah kami perbincangkan perbedaan al-Quran
dengan Hadis qudsi dan Hadis Nabawi.
Keistimewaan al-Quran: 1) al-Qur`an adalah mukjizat; 2) Kepastiannya
mutlak; 3) membacanya dianggap ibadah; 4) wajib disampaikan dengan lafalnya.
Sedang hadis kudsi, sekalipun ada yang berpendapat lafalnya juga diturunkan,
tidaklah demikian halnya.
Hadis nabawi ada dua macam: pertama : yang merupakan ijtihad Rasulullah
SAW. Ini bukanlah wahyu. Pengakuan wahyu terhadapnya dengan cara
membiarkan, hanyalah bila ijtihad itu benar. Kedua : yang maknanya diwahyukan,
sedang lafalnya dari Rasulullah sendiri. Oleh sebab itu ini dapat dinyatakan dengan
maknanya saja. Hadis kudsi itu menurut pendapat yang kuat, maknanya saja yang
diturunkan, sedang lafalnya tidak. Ia termasuk dalam bagian yang kedua ini. Sedang
menisbatkan hadis kudsi kepada Allah dalam periwayatannya karena adanya nash
syara` tentang itu, sedang hadis-hadis nabawi lainnya tidak.

2. Penyampaian Wahyu Kepada Para Rasul


Allah memberikan wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan
dan ada yang tidak. Yang pertama : melalui Jibril malaikat pembawa wahyu, dan hal
ini akan kami jelaskan nanti. Yang kedua : tanpa melalui perantaraan. Di antaranya
ialah; mimpi yang benar di dalam tidur.
1). Mimpi yang benar di dalam tidur.
`Dari Aisyah r.a dia berkata : sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah
SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali
mimpi itu datang bagaikan terangnya di waktu pagi hari.`(H.R. Bukhari-Muslim)
Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah SAW untuk menerima wahyu
dalam keadaan sadar, tidak tidur. Di dalam al-Quran wahyu diturunkan ketika
beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surah alKausar diturunkan melalui mimpi. Karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Di
dalam sahih Muslim, dari Anas r.a ia berkata :
`Ketika Rasulullah SAW disuatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba ia
mendekur, lalu mengengkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan
kepadanya : Apa yang menyebabkan Engkau tertawa wahai Rasulullah ? Ia menjawab:
Tadi telah turun kepadaku sebuah surah; lalu ia membacakan: Bismillahirrahmanirrahim,
inna a`taina kal kautsar fashalli lirabbika wanhar, inna syaa niaka huwal abtar.`(H.R.
Muslim)
Mungkin keadaan mendengkur ini adalah keadaan yang dialaminya ketika
wahyu turun.
Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi
adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih
anaknya, Ismail.
`Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar . Maka
tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar`.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis, .
Dan Kami panggillah dia: `Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi
itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan
orang-orang yang datang kemudian, `Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim`.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya
ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan
Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.`( as-Saffat : 101-112 ).

Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag
demikian itu tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu.
Hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW :
`Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.`
Mimpi yang benar bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama
dari sekian macam cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firmanNya:
`Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia
kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang
utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.`(as-Syuraa : 51 ).
2). Yang lain ialah kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara.
Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s.
`Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah
berfirman kepadanya, berkatalah Musa: `Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar
aku dapat melihat kepada Engkau`.( al-Araaf : 143 ).
`Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.` ( al-Ma`idah : 164 )
Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara
secara langsung kepada Rasul kita Muhammad saw. Pada malam isra` dan mi`raj.
Yang demikian ini yang termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat
di atas ( atau dari balik tabir ). Dan di dalam al-Quran macam wahyu ini tidak ada.
3). Cara Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat Kepada Rasul
Wahyu Allah kepada Nabinya itu ada kalanya tanpa perantaraan, seperti yang
telah kami sebutkan diatas, misalnya mimpi yang benar diwaktu tidur, dan kalam
ilahi dibalik tabir, dalan keadaan jaga yang disadari. Dan ada kalanya melalui
perantaraan malaikat wahyu. Wahyu dengan perantaraan malaiakat wahyu inilah
yang hendak kami bicarakan dalam topik ini, karena Quran diturunkan dengan
wahyu macam ini.
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul; Cara pertama :
datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang
mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap
menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apa bila wahyu yang
turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua
kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan
mungkin suara itu adalah suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan di
dalam hadis :
`Apabila Allah menghendaki suatu urusan dilangit, maka para malaikat memukulmukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata
rantai diatas batu-batu licin.` (H.R. al-Bukhari) . Dan mungkin pula suara
8

malaikat itu sendiri pada waktu rasul baru mendengarnya untuk yang pertama
kali.
Cara kedua : Malaikat menjelma kepada rasul sebagai seorang laki-laki dalam
bentuk manusia. Cara ini lebih ringan dari pada yang sebelumnya. Karena ada
kesesuaian antara pembicara dan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengar
dari utusan pembawa wahyu itu. Karena merasa seperti manusia yang berhadapan
saudaranya sendiri.
Keadan jibril menampakkan diri sebagai seorang laki-laki itu tidaklah
mengharuskan ia untuk melepaskan sifat kerohaniannya, dan tidak berarti pula
bahwa dzatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan
bahwa ia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk meyenangkan
Rasulullah SAW sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama- tatkala wahyu
turun seperti dencingan lonceng- tidak menyenangkan karena keadaan demikian
menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah yang seimbang dengan tingkat
kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibn Khaldun : ` Dalam
keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang
bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya, sedang
dalam keadaan lain, sebaliknya, malaikat berubaha dari yang rohani semata menjadi
manusia jasmani.`
Keduanya itu tersebut dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul
Mu`minin r.a bahwa Haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW
mengenai hal itu dan jawab Nabi :
` Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang
paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan
terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara
kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan`(H.R. al-Bukhari).
Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa
kepayahan , dia berkata :
`Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang
amat dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi Rasulullah`.
Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang didisyaratkan
didalam ayat :



`Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia
kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang
utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana`.(as-Syuuaar : 51).
SAW

Mengenai hembusan di dalam hati, telah disebutkan di dalam hadis Rasulullah

`Roh kudus telah menghembuskan kedalanm hatiku bahwa seseorang itu tidak akan
mati sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertaqwalah kepada
Allah dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.`
Hadis ini tidak menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri, hal
ini mungkin dapat dikembalikkan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut
didalan hadis Aisyah. Mungkin malaikat datang pada beliau dalam keadaan yang
menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Dan
kemungkinan pula bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adsalah wahyu selain
Qur`an.(Tentang cara penyampaian wahyu ini dikutip dari Mana Khalil al-Qatthan,
Mabahis fi Ulum al-Quran).
C. Fungsi Wahyu
Dalam pandangan Muhammad Abduh, keberadaan wahyu dapat dibagi dalam
dua fungsi. Fungsi pokok yang pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia
akan terus ada dan kekal sesudah tubuh kasar mati. Keyakinan akan adanya hidup
kedua setelah hidup yang pertama ini bukan hasil dari pemikiran yang sesat dari akal
dan bukan pula suatu khayalan, karena umat manusia secara keseluruhan- kecuali
sedikit saja- sepakat mengatakan bahwa jiwa akan tetap hidup setelah meninggalkan
tubuh. Untuk memberikan penjelasan tentang alam ghaib yang penuh dengan
rahasia inilah, maka Nabi-nabi dikirim oleh Allah kepada umat manusia.
Fungsi wahyu yang kedua mempunyai kaitan erat dengan sifat dasar manusia
sebagai makhluk sosial. Manusia harus hidup secara berkelompok. Untuk
mewujudkan kehidupan sosial yang rukun dan damai, para anggotanya harus
membina hubungan antara mereka atas dasar saling mencintai. Tetapi pada
dasarnya, kebutuhan manusia akan sesuatu tidaklah terbatas, sehingga akan
senantiasa muncul konflik dan pertentangan. Untuk mengatasi hal itu telah
diusahakan menukar prinsip cinta dengan keadilan, tetapi manusia tidaklah sanggup
meletakkan dasar-dasar yang kuat tentang keadilan yang dapat diterima oleh semua
orang. Untuk mengatur manusia dengan baik, maka dibutuhkan wahyu yang dibawa
oleh para Nabi dan Rasul.
Dengan demikian, wahyu menolong akan untuk mengetahui alam akhirat
serta kehidupan manusia di sana dan untuk mengetahui sifat kesenangan serta
bentuk perhitungan yang dihadapinya di akhirat kelak.
Selanjutnya wahyu dapat menolong akal dalam mengatur masyarakat atas
dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya dan dalam mendidik manusia untuk
hidup damai dan tenteram dengan sesamanya. Wahyu membawa syariat yang
mendorong manusia untuk melaksanakan kewajiban seperti kejujuran, kebenaran
dan menepati janji.
Sesungguhnya manusia dengan akalnya dapat mengetahui tentang adanya
Allah dan dapat mengetahui bahwa ia wajib beribadah dan berterima kasih kepadaNya, tetapi akal manusia tidak akan mampu mengetahui semua sifat-sifat Allah dan
tidak dapat mengetahui tentang cara yang paling tepat dan baik dalam mengibadahiNya. Dalam hal ini wahyulah yang menjelaskan kepada akal cara beribadat,
berterima kasih dan bersyukur kepada-Nya.
Akal manusia juga tidak dapat mengetahui perincian kebaikan dan kejahatan.
Di antara perbuatan manusia ada yang tidak dapat diketahui oleh akal, apakah hal
10

tersebut baik atau buruk. Dalam hal ini, baik dan buruknya perbuatan ditentukan
oleh perintah dan larangan Allah. Perbuatan yang diperintahkan oleh Allah pastinya
mengandung kebaikan secara substantif, sebaliknya, perbuatan yang dilarang oleh
Allah adalah mengandung keburukan dan kejahatan secara substantif. Hanyalah
Allah yang mengatahui apa sebab perbuatan demikian baik atau buruk.
Fungsi lain dari wahyu adalah menguatkan pendapat akal dan meluruskannya
melalui sifat sakral dan absolut yang terdapat dalam wahyu. Sifat absolut inilah yang
membuat orang tunduk kepada sesuatu. Memang akal manusia dapat mengetahui
kewajiban berterima kasih kepada Allah, kewajiban berbuat baik, dan menjauhi
perbuatan jahat, serta selajutnya dapat membuat hukum dan peraturan mengenai
kewajiban-kewajiban itu dan dapat mengajak manusia lain untuk mengetahuinya,
akan tetapi sesungguhnya akal tidak dapat memaksa manusia untuk tunduk pada
hukum dan peraturan yang dibuatnya itu. Oleh sebab itu, manusia berhajat kepada
konfermasi dari keuatan ghaib Yang Maha Tinggi. Konfermasi datang dalam
bentuk wahyu, yang membawa pengetahuan dan mampu menenteramkan jiwa
manusia.

11

BAB II
PENGENALAN AL-QURAN
Al-Quran dan Nabi dengan sunnahnya merupakan dua hal pokok dalam
ajaran Islam. Keduanya merupakan hal sentral yang menjadi jantung umat Islam.
Karena seluruh bangunan doktrin dan sumber keilmuan Islam terinspirasi dari dua
hal pokok tersebut. Oleh karena sangat wajar dan logis bila perhatian dan apresiasi
terhadap keduanya melebihi perhatian dan apresiasi terhadap bidang yang lain.
Seperti kita ketahui bahwa al-Quran merupakan buku petunjuk (kitab
hidayah) khususnya bagi umat Islam serta umat manusia pada umumnya.[Al-Quran
juga menjadi Manhajul hayah (Kurikulum kehidupan) bagi manusia di dalam meniti
hidup di gelanggang kehidupan ini. Satu hal yang juga disepakati oleh seluruh
ummat Islam ialah kedudukan al-Quran sebagai sumber utama hukum Islam,
pembahasan berikut akan menjelaskan berbagai alasan (hujjah) yang menguatkan
kesepakatan umat tersebut.
A. Pengertian Al-Quran
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar
pengertian al-Quran baik dari bahasa maupun istilah, di antaranya adalah:
1. As-Syafii mengatakan, lafadz al-Quran yang terkenal itu bukan musytaq (bukan
pecahan dari akar kata apa pun) dan bukan pula ber-hamzah (tanpa tambahan
huruf hamzah di tengahnya, jadi dibaca al-Quran). Lafadz tersebut sudah lazim
digunakan dalam pengertiannya Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Jadi menurut as-Syafii lafadz tersebut bukan berasal dari
kata qa-ra-a (membaca), sebab kalau akar katanya qa-ra-a, maka tentunya setiap
sesuatu yang dibaca dapat dinamai dengan al-Quran. Lafadz tersebut memang
nama khusus bagi al-Quran, sama halnya dengan nama Taurat dan Injil. (AlKhatib, Tarikh Baghdad, 62)
2. Al-Farra berpendapat, lafadz al-Quran adalah pecahan (musytaq) dari kata
qarain (kata jamak dari qarinah) yang berarti kaitan, karena ayat-ayat al-Quran
satu sama lain saling berkaitan untuk membentuk makna yang utuh. Karena itu
jelaslah bahwa huruf nun pada akhir lafadz al-Quran adalah huruf asli, bukan
huruf tambahan. (as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Quran, 1979: 87)
3. Al-Asyari dan para pengikutnya mengatakan, lafadz al-Quran adalah musytaq
(pecahan) dari akar kata qarn. Ia mengemukakan contoh kalimat qarnusy-syai
bisysyai (menggabungkan sesuatu dengan sesuatu). Jadi kata qarn dalam hal itu
bermakna gabungan atau kaitan, karena surat-suratdan ayat-ayat saling
bergabung dan berkaitan. (az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1959: 278).
4. Az-Zajjaj mengatakan; lafadz al-Quran ditulis dengan huruf hamzah di
tengahnya berdasarkan pola kata (wazn) fulan. Lafadz tersebut merupakan
pecahan (musytaq) dari akar kata qarun yang berarti jamun. Ia mengetengahkan
contoh kalimat qurial mau fil haudhi yang berarti air dikumpulkan dalam kolam.
Jadi dalam kalimat itu kata qarun bermakna jamun yang dalam bahasa Indonesia
bermakna kumpul. Alasannya al-Quran mengumpulkan atau menghimpun
intisari kitab-kitab suci terdahulu (az-Zarkasyi, al-Burhan, 1959: 278).
5. Al-Lihyani: lafadz al-Quran ditulis dengan huruf hamzah di tengahnya
berdasarkan pola kata gufran dan merupakan pecahan (Musytaq) dari akar kata
qa-ra-a yang bermakna tala (membaca). Lafadz al-Quran digunakan untuk
12

menamai sesuatu yang dibaca, yakni obyek, dalam bentuk mashdar (az-Zarkasyi,
al-Burhan.., 1959: 87).
Pendapat terakhir lebih kuat dan lebih tepat karena dalam bahasa Arab lafadz
al-Quran adalah bentuk mashdar yang maknanya sinonim dengan qiraah, yaitu
bacaan. Sebagai contoh, firman Allah SWT.


Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka
ikutilah bacaannya itu.(Q.S. al-Qiyamah (75): 17-18)
Secara terminologis para ulama mengemukakan berbagai definisi sebagai
berikut :
1. Safi Hasan Abu Thalib menyebutkan :

Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan dengan lafal Bahasa Arab dan maknanya
dari Allah SWT melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, Ia
merupakan dasar dan sumber utama bagi syariat. (Safi Hasan Abu Talib, Tatbiq alSyariah al-Islamiyah fi al-Bilad al-Arabiyah, 1990: 54.)
Dalam hubungan ini Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya :


Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar
kamu memahaminya.(Q.S. Yusuf (12):2)
2. Zakaria al-Birri, yang dimaksud al-Quran adalah :

Al-Kitab yang disebut al-Quran dalah kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada
Rasul-Nya Muhammad SAW dengan lafal Bahasa Arab dinukil secara mutawatir dan
tertulis pada lembaran-lembaran mushaf.( Zakaria al-Birri, Masadir al-Ahkam alIslamiyah, 1975: 16.)
3. Al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustasfa menjelaskan bahwa yang dimaksud alQuran adalah :

13

Al-Quran yaitu merupakan firman Allah SWT.( Al-Ghazali, al-Mustasfa Min


Ilmi al-Ushul,1971: 118)
Dari ketiga definisi di atas, pada dasarnya mengacu pada maksud yang
sama. Definisi pertama dan kedua sama-sama menyebutkan bahwa al-Quran
adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan
menggunakan bahasa Arab. Adapun bedanya definisi kedua lebih menegaskan
bahwa al-Quran dinukil secara mutawatir. Adapun definisi ketiga, yang
dikemukakan oleh Al-Ghazali ternyata hanya menyebutkan bahwa al-Quran
merupakan firman Allah SWT, akan tetapi Al-Ghazali dalam uraian selanjutnya
menyebutkan bahwa al-Quran bukanlah perkataan Rasulullah, beliau hanya
berfungsi sebagai orang yang menyampaikan apa yang diterima dari Allah
SWT.

Nabi hanya berfungsi pembawa atau penyampai apa-apa yang diterima dari Allah, bahwa
Allah menetapkan hukum-hukum.(Ibid)
4. Dawud al-Attar; Al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad secara lafaz (lisan), makna serta gaya bahasa (uslub)-nya, yang
termaktub dalam mushaf yang dinukil secara mutawatir.
Definisi di atas mengandung beberapa kekhususan sebagai berikut :
1. Al-Quran sebagai wahyu Allah, yaitu seluruh ayat Al-Quran adalah wahyu
Allah; tidak ada satu kata pun yang datang dari perkataan atau pikiran Nabi.
2. Al-Quran diturunkan dalam bentuk lisan dengan makna dan gaya bahasanya.
Artinya isi maupun redaksi Al-Quran datang dari Allah sendiri.
3. Al-Quran terhimpun dalam mushaf, artinya Al-Quran tidak mencakup wahyu
Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk hukum-hukum yang kemudian
disampaikan dalam bahasa Nabi sendiri.
4. Al-Quran dinukil secara mutawatir, artinya Al-Quran disampaikan kepada
orang lain secara terus-menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin
bersepakat untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan berbedabedanya tempat tinggal mereka.
Sebetulnya masih terdapat sejumlah definisi lain yang dirumuskan oleh para
Ulama, tetapi kelihatannya mengandung maksud yang sama meskipun secara
redaksional berbeda.
Dalam kaitannya dengan sumber dalil, al-Quran oleh ulama ushul sering
disebut dengan al-Kitab. Umumnya di dalam kitab-kitab ushul, para ulama ushul
dalam sistematika dalil yang mereka susun menyebut al-Quran dengan al-Kitab.Hal
ini tentu saja bisa dipahami, sebab di dalam al-Quran sendiri sering disebut alKitab yang dimaksud adalah al-Quran. Seperti firman Allah :
14


Kitab(Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
(Q.S. al-Baqarah (2):2)
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Quran
merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dengan menggunakan
bahasa Arab, yang penukilannya disampaikan secara mutawatir, dari generasi ke
generasi, hingga sampai sekarang ini, Penukilan al-Quran dilakukan oleh para
sahabat dengan menghafalnya dan menyampaikan ke generasi setelah mereka
melalui sanad yang mutawatir. Dengan demikian otentisitas dan keabsahan alQuran dan terpelihara sepanjang masa serta tidak akan pernah berubah. Hal
dibenarkan oleh Allah dalam firman-Nya :


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benarbenar memeliharanya (Q.S. al-Hijr (15): 9)
B. Nama Lain al-Quran
Al-Fairuz Abadi mengatakan ada sekitar 100 nama lain dari al-Quran, misalnya
al-Mubin (yang menerangkan), al-Karim (yang mulia), an-Nur (cahaya), al-Huda
(petunjuk), asy-Syifa (obat), al-Mubarak (yang diberkahi), al-Hakim (Kebijaksanaan),
dan lain-lain.
Di antara sekian banyak nama, yang paling terkenal adalah:
1. al-Kitab (al-Baqarah [2]: 2), al-Araf (7):2 dan lain-lain;


Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa



Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di
dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan Kitab itu (kepada
orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
2. al-Quran (al-Baqarah [2]: 185; al-Hijr [15]: 87; dll).

15



(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena
itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.


Dan Sesungguhnya kami Telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang
dan Al Quran yang agung.
Al-Quran dan al-Kitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam
hal ini Dr. Muhammada Daraz berkata: ia dinamakan Quran karena ia `dibaca`
dengan lisan, dan dinamakan al- kitab karena ia `ditulis` dengan pena. Kedua
kata ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya.
Penamaan Al-Quran dengan kedua nama ini memberikan isyarat bahwa
selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian,
apa bila diantara salah satunya ada yang melenceng, maka yang lain akan
meluruskannya, kita tidak dapat menyandarkan hanya dengan haflan seseorang
sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para
sahabat, yang dinukilkan kepada kita dari generasi kegenerasi menurut keadaan
sewaktu dibuatnya pertama kali. Dan kita pun tidak dapat menyandarkan hanya
kepada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan tersebut
berdasarkan isnad yang sahih dn mutawatir.
Dengan penjagaan yang ganda ini oleh Allah telah ditanamkan kedalam
jiwa umat Muhammad untuk mengikuti langkah Nabi-Nya. Maka Quran tetap
terjaga dalam benteng yang kokoh. Hal itu tidak lain untuk mewujudkan janji
Allah yang menjamin terpeliharanya Quran seperti di firmankan-Nya :
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya`.(al-Hijr :9 ).
Dengan demikian Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan
dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.Penjagaan
ganda ini diantaranya menjelaskan bahwa kitab-kitab samawi lainnya diturunkan
hanya untuk waktu itu, sedang Quran diturunkan untuk membetulkan dan
menguji kitab-kitab yang sebelumnya. Karena itu Quran mencakup hakikat yang
ada didalam kitab-kitab terdahulu dan menambahnya dengan tambahan yang
dikehendaki Allah. Quran menjalankan fungsi-fungsi kitab-kitab sebelumnya,
16

tetapi kitab-kitab itu tidak dapat menempati posisinya. Allah telah menakdirkan
untuk menjadikannya sebagai bukti sampai hari kiamat. Dan apa bila Allah
mengehndaki suatu perkara, maka Dia akan mempermudah jalannya ke arah itu.
Karena Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Inilah alasan yang paling kuat.
Di namakan Al-Kitab karena memberi pengertian karena wahyu itu
dirangkum dalam bentuk tulisan yang merupakan huruf-huruf dan
menggambarkan ucapan. Dinamakan al-Quran karena wahyu itu tersimpan
dalam dada manusia, mengingat nama al-Quran berasal dari kata qiraah dan di
dalam qiroah terkandung makna agar selalu diingat. Dengan dua nama
tersebut mengisyaratkan makna wahyu tersebut akan senantiasa terpelihara
dalam dua bentuk hafalan dan tulisan.
Selain dua nama lain al-Quran di atas, yang juga masyhur adalah:
3. al-Furqan (Ali Imran [3]: 4; al-Furqan [25]:1 ; dll);



Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan Al Furqaan.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa
yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).


Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya,
agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
4. azd-Dzikr (al-Hijr [15]: 9);


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar
memeliharanya.
C. Kehujjahan Al-Quran
Sebagaimana disebutkan oleh Abdul Wahab Khallaf (Ilmu Ushul Fiqh, 1990:
24), bahwa kehujjahan Al-Quran itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya
yang sedikitpun tidak ada keraguan atasnya. Dengan kata lain Al-Quran itu betulbetul datang dari Allah dan dinukil secara qatiy (pasti). Oleh karena itu hukumhukum yang terkandung di dalam Al-Quran merupakan aturan-aturan yang wajib
diikuti oleh manusia sepanjang masa. Sementara M. Quraish Shihab (Membumikan
Al-Quran, 1994: 27) menjelaskan bahwa al-Quran sebagai wahyu , merupakan
bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi fungsi
utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Sebagai sumber ajaran Islam yang utama al-Quran diyakini berasal dari Allah
dan mutlak benar. Keberadaan al-Quran sangat dibutuhkan manusia. Di kalangan
Mutazilah dijumpai pendapat bahwa Tuhan wajib menurunkan al-Quran bagi
manusia, karena manusia dengan segala daya yang dimilikinya tidak dapat
17

memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya (Harun Nasution, Islamologi


(Ilmu Kalam),1980: 80). Bagi Mutazilah al-Quran berfungsi sebagai konfirmasi,
yakni memperkuat pendapat-pendapat akal pikiran, dan sebagai informasi terhadap
hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal. Di dalam al-Quran terkandung
petunjuk hidup tentang berbagai hal walaupun petunjuk tersebut terkadang bersifat
umum yang menghendaki penjabaran dan perincian oleh ayat lain atau oleh hadis.
Petunjuk al-Quran terkadang memang bersifat global sehingga menerapkannnya
perlu ada pengolahan dan penalaran akal manusia, dan karena itu pula al-Quran
diturunkan untuk manusia berakal. Kita misalnya disuruh spuasa, haji dan
sebagainya. Tetapi cara-cara mengerjakan ibadah tersebut tidak kita jumpai dalam
al-Quran, melainkan dalam hadis Nabi yang selanjutnya dijabarkan oleh para ulama
sebagaimana kita jumpai dalam kitab-kitab fiqih.
Dengan demikian jelas bahwa kehujjahan (argumentasi) Al-Quran sebagai
wahyu tidak seorangpun mampu membantahnya di samping semua kandungan
isinya tak satupun yang bertentangan dengan akal manusia sejak awal diturunkan
hingga sekarang dan seterusnya. Lebih-lebih di abad modern ini, di mana
perkembangan sains modern sudah sampai pada puncaknya dan kebenaran AlQuran semakin terungkap serta dapat dibuktikan secara ilmiah.
D. Al-Quran Sebagai Sumber Hukum
Seluruh mazhab dalam Islam sepakat bahwa al-Quran adalah sumber hukum
yang paling utama, dengan kata lain, al-Quran menempati posisi awal dari tertib
sumber hukum dalam berhujjah. al-Quran dipandang sebagai sumber hukum yang
utama dari sumber-sumber yang ada. Safi Hasan Abi Thalib (1990: 63-64)
menegaskan:

Al-Quran dipandang sebagai sumber utama bagi hkum-hukum syariat. Adapun sumbersumber lainnya adalah sumber yang menyertai dan bahkan cabang dari al-Quran. Dan dari
sini, jelas bahwa al-Quran menempati posisi utama dalam berargumentasi, tidak boleh pindah
kepada yang lain kecuali apabila tidak ditemukan di dalamnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, jelaslah bahwa al-Quran adalah sumber
hukum utama dalam ajaran Islam. Adapun sumber-sumber lainnya merupakan
pelengkap dan cabang dari al-Quran, karena pada dasarnya sumber-sumber lain itu
akan kembali kepada al-Quran. Al-Ghazali(1971: 118) bahkan mengatakan, pada
hakikatnya sumber hukum itu satu, yaitu firman Allah SWT. Sebab sabda
Rasulullah bukanlah hukum, tetapi sabda beliau merupakan pemberitaan tentang
bermacam-macam hukum Allah SWT.

18

Dari uraian di atas jelas bahwa al-Quran adalah wahyu Allah, menjadi sumber
utama dalam melakukan istinbath hukum. Tidak seorang pun ulama dan umat
Islam yang membantahnya.
E. Perbedaan antara al-Quran dengan Hadis Qudsi
Sebelum beranjak pada keterangan tentang perbedaan antara al-Quran dan
Hadits Qudsi, ada baiknya dijelaskan dulu tentang Hadits Qudsi. Hadits adalah
segala perkataan, perbuatan, dan taqrir yang disandarkan kepada Nabi Muhammad
SAW. Sedangkan qudsi ( kudsi ) dinisbahkan sebagai kata quds, nisbah ini
mengesankan rasa hormat, karena materi kata itu menunjukkan kebersihan dan
kesucian dalam arti bahasa. Maka kata taqdis berarti menyucikan Allah. Taqdis sama
dengan tathiir, dan taqaddasa sama dengan tatahhara (suci, bersih ) Allah berfirman
dengan kata-kata malaikat-Nya :




Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."
Hadis Qudsi ialah hadis yang oleh Nabi saw, disandarkan kepada Allah.
Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka rasul
menjadi perawi kalam Allah ini dari lafal Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan
hadis qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah SAW dengan disandarkan
kepada Allah, dengan mengatakan :
`Rasulullah SAW mengataklan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`, atau
ia mengatakan:
`Rasulullah SAW mengatakan : Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah
Ta`ala.`
Contoh yang pertama :

19

`Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulullah SAW mengenai apa yang diriwayatkannya
dari Tuhannya Azza Wa Jalla, tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafakah,
baik di waktu siang atau malam hari
Contoh yang kedua :
`Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW berkata : ` Allah ta`ala berfriman :
Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebutKu.bila menyebut-KU didalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya didalam diri-Ku.
Dan bila ia menyebut-KU dikalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya
didalam kalangan orang banyak lebih dari itu
Dari pengertian hadits qudsi di atas, maka beberapa perbedaan antara alQuran dengan hadis qudsi,yang terpenting diantaranya ialah :
1. Al-Quranul Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah
dengan lafalnya. Dan dengan itu pula orang arab ditantang, tetapi mereka tidak
mampu membuat seperti al-Quran itu, atau sepuluh surah yang serupa itu,
bahakan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena al-Quran
adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat.. sedang hadis kudsi tidak untuk
menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
2. Al-Quranul karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: Allah
ta`ala telah berfirman, sedang hadis kudsi-seperrti telah dijelaskan diatasterkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah; sehingga nisbah
hadis kudsi kepada Allah itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Maka dikatakan
: `Allah telah berfirman atau Allah berfirman.` Dan terkadang pula diriwayatkan
dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW tetapi nisbahnya adalah nisbah
kabar, karena Nabi yang menyampaikan hadis itu dari Allah, maka dikatakan :
Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannaya.
3. Seluruh isi Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah
mutlak. Sedang hadis-hadis kudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga
kepastiannya masih merupakan dugaan. Ada kalanya hadis kudsi itu sahih,
terkadang hasan ( baik ) dan terkadang pula da`if (lemah).
4. Al-Quranaul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah
wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadis kudsi maknanya saja
yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW . hadis kudsi ialah wahyu
dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Leh sebab itu, menurut sebagian besar
ahli hadis diperbolehkan meriwayatkan hadis kudsi dengan maknanya saja.
5. Membaca Al-Quranul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca didalam
salat. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`(al-Muzammil :
20).
Nilai ibadah membaca Quran juga terdapat dalam hadis :
`Barang siapa membaca satu huruf dari Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan
kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu
huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf`.

20

Sedang hadis qudsi tidak disuruhnya membaca di dalam salat. Alllah memberikan
pahala membaca hadis kudsi secara umum saja. Maka membaca hadis kudsi tidak
akan memperoleh pahala sperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca
Quran bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.

21

BAB III
KANDUNGAN AL-QUR`AN
A. Ayat al-Qur`an
1. Pengertian Ayat
Ayat ialah susunan kata dan kalimat al-Qur`an yang membentuk makna yang
sempurna, dan kumpulan dari beberapa ayat tersebut dinamakan surat. Secara
etimologis, ayat berarti tanda. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah
pemilahan makna-makna yang dikehendaki.
2. Yang Pertama Turun
Ada tiga pendapat tentang ayat yang pertama turun :
a. al-`Alaq 1-5, yang berbunyi :



1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah,4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5. Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.
Pendapat di atas berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Aisyah berikut :
Awal pertama wahyu yang didatangkan kepada Rasulullh SAW adalah berupa mimpi
yang benar di waktu tidur. Di dalam mimpi itu beliau tiada melihat apapun melainkan
dating kepada beliau seperti cahaya subuh. Kemudian timbullah keinginan beliau untuk
berkhalwat. Maka beliau pergi ke gua Hira` dan bertahannus di sana untuk beberapa
hari, sambil membawa bekal. Kemudian beliau kembali ke rumah, maka Khadijah
membekali beliau seperti semula sampai datangnya kebenaran. Ketika beliau sedang berada
di gua Hira`, Jibril mendatanginya dan berkata : Bacalah! Aku menjawab : Aku tidak
pandai membaca. Malaikat kemudian menarik dan memelukku erat-erat sehingga aku
kepayahan. Kemudian malaikat melepaskan aku dan berkata lagi :Bacalah! Aku
menjawab : Aku tidak pandai membaca. Malaikat kemudian kembali memeluk aku
ketiga kalinya sampai aku kepayahan dan kemudian melepaskan aku kembali. Kemudian
malaikat berkata : Iqra` bismi Rabbika . Sampai pada ayat Ma lam ya`lam.
Kemudian Rasulullah kembali ke rumah Khadijah, dengan gemetar karena peristiwa yang
baru saja dialaminya itu.
b. al-Mudassir, yang berbunyi :


1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. Dan
Tuhanmu agungkanlah!
22

Ini berdasarkan riwayat Bukhari Muslim dari Jabir bin Abdillah yang artinya
sebagai berikut :
Ayat apakah yang mula-mula turun ? Jabir menjawab : Ya ayyuhal-Muddassir. Aku
(Abdurrahman) berkata : Bukankah Iqra` bismirabbikal-lazi khalaq ? Jabir Menjawab :
Aku menceritakan kepadamu apa yang diberitakan oleh Rasulullah kepada kami.
Menurut Suyuti, maksud hadis di atas ialah surat yang pertama kali turun secara
utuh. Jawabannya memang al-Muddassir.
c. al-Fatihah yang berbunyi :





1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2. Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4.
Yang menguasai[4] di hari Pembalasan. 5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan
Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 6. Tunjukilahkami jalan yang
lurus,7. (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Ini merupakan pendapat sahabat Ibnu Abbas dan sebagian mufassirin. Hal ini
berdasar berita yang disampaikan oleh sahabat Maisarah.
3. Yang Terakhir Turun
a. Q.S. an-Nisa` 176 yang berbunyi :





Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak
mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang
23

perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki
mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi
jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) Saudarasaudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak
bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu,
supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Hal tersebut menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat al-Barra` bin
Azib.
b. Q.S. an-Nasr yang berbunyi :



1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. Dan kamu lihat
manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan
memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha
Penerima taubat.
Hal ini berdasar hadis riwayat Muslim dari Ibnu Abbas.
c. Q.S. al-Maidah: 3 yang berbunyi :



Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang
siapa terpaksa. Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut turun ketika Rasulullah melakukan haji wada`, dan setelah itu
beliau masih hidup selama 81 hari lagi.
B. Surat al-Qur`an
1. Pengertian Surat
Secara etimologis

adalah bentuk masdar dari kata kerja

dan bentuk jamaknya adalah

yang memiliki arti

tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi serta indah, sesuatu
yang sempurna atau lengkap dan susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkattingkat (Louis Ma`luf, 1977:362).
24

Tentang istilah surat, ada beberapa pendapat antara lain : memisalkan


dengan pagar bangunan (bagian dari al-Quran); memisalkan pagar kota (karena
mengelilingi ayatnya sebagaimana rumah dan pagar) ; bermakna martabat karena
ayat-ayat disusun dalam surat secara tertib dan harmonis; tingginya surat (karena alQuran adalah Kalam Allah yang bernilai tinggi) ; dan karena masing-masing surat
merupakan susunan (Suyuti, tt.:53, Zarkasyi, 1988:332). Zarqani (1988:350)
menambahkan permisalannya, bahwa surat berarti penjagaan terhadap Nabi
Muhammad dan risalah yang dibawanya berupa al-Quran dan agama Islam karena
surat merupakan mukjizat. Dalam hal ini, surat diserupakan dengan pagar kota yang
dapat memelihara dari serangan musuh. Dilihat dari aspek terminologisnya, surat
ialah rangkaian ayat-ayat al-Quran yang ada pembuka dan penutupnya, atau istilah
bahasa Arabnya memiliki fawatih as-suwar dan khawatim as-suwar. Ja`bari
(Zarqani, 1988:350) menambahkan definisi ini bahwasanya surat terdiri dari
minimal tiga ayat.
Kata surat disebutkan Allah dalam al-Quran pada beberapa ayat dan surat
dengan bentuk mufrad dan jamak, juga dalam fungsi i`rab yang berlainan. Dengan
lafaz

dalam Q.S. Taubah (9) ayat 64, 86,124 dan 127. Misalnya ayat 64 :



Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang
menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka:
"Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)." Sesungguhnya Allah akan
menyatakan apa yang kamu takuti itu.
Q.S.an- Nur:1


(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukumhukum yang ada di dalam)nya, dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar
kamu selalu mengingatinya.
Q.S. Muhammad :20




Dan orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka
apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah)
25

perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu
seperti pandangan orang yang pingsan Karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.
Dengan lafaz

dalam Baqarah:23 & Yunus:38, misalnya:



Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada
hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Dengan lafaz

dalam surat Hud:13



Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu",
Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat
yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain
Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".
Pemakaian kata surat tersebut, antara lain ditujukan kepada orang munafiq
(Q.S.9: 64, 86,124, 127 dan Q.S.47:20) ; surat tentang hukum-hukum perzinaan dan
pergaulan (Q.S.24:1) ; dan tantangan membuat surat kepada kaum musyrik dan
menunjukkan kemurnian surat al-Quran (Q.S.2:23 ; Q.S.10:38 dan Q.S.11:13).
2. Penentuan Nama Surat
Sebagian ulama tidak setuju bila dikatakan surat ini atau itu, seperti yang
diriwayatkan Tabrani dan Baihaqi dari Anas, dengan hadis marfu` : Janganlah
kalian mengatakan surat al-Baqarah, surat Ali `Imran, surat an-Nisa dan demikian
pula seluruh surat dalam al-Quran, akan tetapi katakanlah surat yang didalamnya
disebutkan al-baqarah, atau Ali `Imran, demikian pula seluruh surat al-Quran.
Sanad hadis ini lemah, bahkan Ibnu Jauzi menganggap maudu` (Suyuti, tt.:53).
Dalam al-Quran, ada beberapa surat yang memiliki satu nama, dua nama
(misal al-Baqarah disebut fustatul-Quran), tiga nama (misal surat al-Maidah), dan
ada yang lebih dari itu (misal al-Fatihah memiliki 25 nama antara lain ummulquran, fatihatul-kitab, as-sab`ul-masani), bahkan ada beberapa surat yang
dinamakan dengan satu nama (misalnya alif-lam-mim dan alif-lam-ra berdasarkan
pendapat bahwa fawatihus-suwar bisa dijadikan nama surat) (Suyuti, tt.:54-57).
Suyuti menerangkan juga alasan dan hikmah penamaan banyaknya surat itu.
Nama-nama tersebut masing-masing memiliki maksud yang berbeda.
Demikian pula beberapa surat lain yang memiliki lebih dari satu nama. Menurut
Zarkasyi (1988 :338-342), perlu pembahasan khusus tentang banyaknya nama-nama
26

surat tersebut. Apakah secara tauqifi ataukah karena adanya kesesuaian makna.
Namun kita perlu melihat kekhususan nama-nama surat tersebut. Misalnya,
penamaan surat al-baqarah, karena di dalamnya ada cerita tentang sapi betina dan
keajaibannya ; surat an-nisa, karena di dalamnya banyak dibicarakan tentang
hukum-hukum wanita ; surat al-an`am, karena di dalamnya ada keterangan tentang
keadaan-keadannya ; dan kisah para Nabi dalam surat-surat tertentu yang memakai
nama mereka (kecuali Musa, Adam, dan Dawud, karena pembicaraan tentang
mereka ada di beberapa surat).
Adapun hikmah dari penentuan dan pembagian surat yaitu :
a. Mempermudah dan menumbuhkan kerinduan untuk mempelajari al-Quran
dan menghafalkannya. Misalnya pengajaran al-Quran kepada anak kecil
dimulai dahulu dari surat yang pendek, kemudian sedikit demi sedikit dan
secara bertahap dilanjutkan dengan surat yang lebih panjang.
b. Menunjukkan tema pembicaraan.
c. Mengisyaratkan bahwa panjangnya suatu surat tidak menunjukkan
kelebihannya, namun semua surat adalah mukjizat meskipun pendek.
d. Seorang pembaca dapat berhenti dalam tiap surat, tidak harus membaca alQuran sekaligus, sehingga dapat dipahami maksud dan isi tiap surat.
e. Memperingan penghafal al-Quran, karena apabila seorang calon hafid telah
menghafal satu surat, ia merasa bahwa baru menghafal sebagian al-Quran,
lalu berusaha sungguh-sungguh untuk meneruskan hafalannya.
f. Perincian masing-masing surat tersebut menunjukkan keterkaitan makna di
dalamnya (Zarqani, 1988: 351-352 dan Zarkasyi, 1988:333-335).
3. Macam Surat
Ditinjau dari segi panjang pendeknya ayat, ulama membedakan surat dalam alQuran sebagai berikut :
a. At-Tiwal : surat yang jumlah ayatnya paling banyak. Ada 7 surat yang
termasuk kategori ini, yaitu al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa, al-Maidah, alAn`am, al-A`raf dan Yunus.
b. Al-Miun : surat yang jumlah ayatnya seratus lebih sedikit.
c. Al-Masani : surat yang jumlah ayatnya sedikit di bawah seratus.
d. Al-Mufassal : surat yang jumlah ayatnya relatif tidak banyak dan letaknya di
akhir-akhir surat al-Quran. Dinamakan mufassal karena banyaknya pemisah
basmalah antara surat satu dengan yang lain. Hal ini terbagi lagi menjadi tiga
yaitu at-Tiwal (dari surat al-Hujurat al-Buruj) ; al-Ausat (dari at-Tariq-alBayyinah) ; dan al-Qisar (dari az-Zalzalah - akhir al-Quran) (Suyuti, tt.:58 dan
65, Zarkasyi, 1988: 307-313, dan Zarqani, 1988:352).
Selain itu, pembagian surat juga dibedakan menjadi Makkiyyah dan
Madaniyyah. Secara garis besar, ada tiga perbedaan pendapat yaitu :
a. Ditinjau dari aspek masa turunnya al-Quran, Makkiyyah berarti surat yang
diturunkan sebelum hijrah dan Madaniyyah ialah surat yang diturunkan
setelah hijrah baik di Makkah maupun Madinah, pada waktu pembukaan kota
Makkah maupun haji wada`, atau sewaktu Rasulullah dalam perjalanan.
b. Ditinjau dari aspek tempat turunnya, Makkiyyah ialah surat yang diturunkan
di Makkah, meskipun setelah hijrah dan Madaniyyah yaitu surat yang
diturunkan di Madinah. Sedangkan surat yang diturunkan dalam perjalanan
tidak termasuk Makkiyyah maupun Madaniyyah.
27

c. Ditinjau dari aspek tujuannya, Makkiyyah ialah surat yang diturunkan untuk
penduduk Makkah dan Madaniyyah diturunkan untuk penduduk Madinah.
Dari ketiga pendapat tersebut, menurut jumhur ulama, yang paling kuat
adalah pendapat yang pertama karena dua pendapat yang lain debatable. Bertolak
dari pengertian tersebut, jumlah surat makkiyyah disepakati oleh ulama ada 82 surat,
madaniyyah 20 surat, dan 12 surat masih kontroversial tentang klasifikasinya.
Adapun 12 surat yang kontroversial tersebut ialah surat al-Fatihah, ar-Ra`d, arRahman, as-Saf, at-Tagabun, at-Tatfif, al-Qadr, al-Bayyinah, az-Zilzal, al-Ikhlas dan
Mu`awwizatain (Suyuti, tt.:8-11, Zarkasyi,1988:239-262, Zarqani,1988:198-204 &
Manna` Qattan, 53-54).
Ada istilah lain yang berkaitan dengan makkiyyah dan madaniyyah sbb:
a. Makkiyyah Madaniyyah : Surat Makkiyyah yang ayat-ayatnya ada yang
diturunkan di Madinah. Misalnya al-An`am diturunkan di Makkah, hanya 3
ayat yang diturunkan di Madinah, yakni ayat {

}.

b. Madaniyyah Makkiyyah : surat Madaniyyah yang diturunkan di Makkah.


Misalnya : al-A`raf, Yunus, Hud, Yusuf, ar-Ra`d, Ibrahim, al-Hijr, an-Nahl
(kecuali 3 ayat terakhir diturunkan di antara Makkah dan Madinah), Bani
Israil, al-Kahfi, Maryam,Taha, al-Anbiya, al-Hajj kecuali 3 ayat

} al-Mukminun, al-Furqan, asy-Syu`ara kecuali 5 ayat terakhir


}

}an-Naml, al-Qasas, al-Ankabut, ar-Rum, Luqman

kecuali 3 ayat }

} as-Sajdah kecuali 3 ayat

} as-Saba, al-Fatir, Yasin, as-Saffat, Sad,

az-Zumar kecuali 3 ayat {

} Hawamim, Fa, az-Zariyat, at-Tur,

an-Najm, al-al-Qamar, ar-Rahman, al-Waqi`ah, as-Saf, at-Tagabun kecuali


beberapa ayat, al-Mulk, Nun, al-Haqqah, Saala, Nuh, al-Jinn, al-Muzammil

) , al-Mudassir sampai akhir surat al-

kecuali 2 ayat

Quran kecuali: az-Zalzalah, an-Nasr, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas.


Madaniyyah: surat yang diturunkan di Madinah, yakni al-Anfal, al-Baraah, anNur, sampai at-Tahrim. Makkiyyah : surat yang diturunkan di Makkah semua,
misalnya : al-Alaq, Nun, al-Muzammil, dan seterusnya.
Yang menjadi pertanyaan, apakah Nabi memang menjelaskan bahwa ini surat
Makkiyyah atau Madaniyah. Untuk menjawab pertanyaan ini, menurut Qadi Abu
Bakar dalam kitabnya al-Intisar
(Zarkasyi, 1988:246) bahwasanya hal ini
dikembalikan kepada daya ingat para sahabat dan tabi`in, karena tidak ada hadis
Nabi tentang masalah ini dan seandainya ada pasti masalah ini transparan.
4. Sistematika Surat
Sebagaimana kesepakatan jumhur ulama, jumlah surat dalam al-Quran ada
114 seperti yang ada dalam mushaf Usmani , dimana surat pertamanya al-Fatihah
dan yang terakhir an-Nas. Menurut Mujahid (Zarkasyi, 1988:317) jikalau dihitung
113 surat, karena surat at-Taubah dan al-Anfal dijadikan satu (dengan alasan bahwa
28

surat at-Taubah tanpa basmalah, sehingga menjadi satu dengan al-Anfal). Bahkan
dalam mushaf Ibnu Mas`ud, hanya ada 112 surat karena tidak ada surat
Mu`awwidzatain. Dalam mushaf Ubayyi, ada 116 surat karena doa istiftah dan
qunut seolah-olah seperti dua surat.
Mengenai jumlah huruf dan katanya, Zarkasyi (1988:314-315) mema parkan
cerita tentang ketika Hajjaj bin Yusuf meminta kepada ahli qiraah Basrah untuk
berkumpul antara lain Hasan Basri, Abu Aliyah, Nasr bin Asim, Asim al-Jahdari
dan Malik bin Dinar agar menghitung huruf al-Quran. Selama 4 bulan, mereka
melakukan penelitian tersebut, dan hasilnya bahwa jumlah kata dalam al-Quran ada
77.439, dan jumlah hurufnya ada 323.015. Adapun mengenai jumlah ayatnya ada
beberapa pendapat. Menurut Ali ada 6.218; menurut `Ata ada 6.177; menurut
Hamid ada 6.212 ; dan menurut Rasyid ada 6.204.
Yang perlu diketahui ialah bahwa penyebab perbedaan tersebut antara lain
bahwasanya Nabi mewaqafkan awal suatu ayat, sehingga ada yang menganggapnya
satu ayat ; dan basmalah ada yang dimasukkan ayat, ada yang tidak. Mengenai
pertengahan al-Quran, maka jumhur ulama berpendapat bahwa huruf
pertengahannya ialah yang terdapat dalam ( al-Kahfi:19).
Adapun
tentang penyusunan ayat dalam al-Quran, menurut Makki, hal itu adalah tauqifi
Rasulullah, dan menurut Qadi Abu Bakar, tertibnya ayat dalam surat merupakan
suatu hal yang wajib dan pasti, karena tentu Jibril mendikte Nabi bahwa ayat ini
diletakkan di sini dst. Zarkasyi dengan tegas mengatakan bahwa tertib ayat dalam
surat, tak diragukan lagi bahwa hal itu adalah tauqifi Nabi.
Ada tiga pendapat tentang sistematika tertib surat al-Quran, yaitu :
a. Menurut Jumhur ulama (termasuk di dalamnya Imam Malik dan Qadi Abu
Bakar), sistematika surat dalam mushaf al-Quran ialah ijtihad para sahabat.
Pendapat ini disinkronkan kepada Ibnu Faris yang mengatakan bahwa alQuran dikumpulkan dalam dua hal. Yang pertama, penyusunan surat-surat alQuran adalah ijtihad para sahabat, sedangkan pengumpulan ayat-ayat dalam
satu surat ialah secara tauqifi dari Rasulullah sebagaimana disampaikan Jibril
dari Allah. Pendapat ini didasarkan bahwa mushaf para sahabat berbeda
sistematikanya (sebelum pengumpulan al-Quran masa Usman). Masing-masing
berbeda awal dan akhirnya, seperti mushaf Ali (dimulai dengan surat al-`Alaq),
mushaf Ibnu Mas`ud (diawali al-Baqarah), dan Mushaf Ubayyi bin Ka`ab
(diawali al-Fatihah).
b. Menurut sebagian ulama, sistematika surat yang seperti sekarang ini adalah
tauqifi dari Rasulullah seperti halnya ayat al-Quran. Pendapat ini didasarkan
pada kesepakatan para sahabat tentang mushaf al-Quran yang ditulis pada masa
Usman. Karmani dalam kitab al-Burhan-nya menjelaskan bahwa sistematika
tersebut dari Allah di Lauh Mahfud, demikian pula ketika tiap tahun Rasulullah
membacakan al-Quran di depan Jibril.
c. Menurut sebagian ulama, termasuk Qadi Abu Muhammad bin Atiyyah,
sistematika sebagian surat adalah tauqifi Rasulullah dan sebagian lain ijtihad
para sahabat (Zarqani, 1988:353-358, Suyuti, tt.:64-65, dan Zarkasyi, 1988:324325).
Suyuti (tt.:112) menjelaskan alasan pendapat yang mengatakan bahwa
sistematika surat al-Quran adalah tauqifi dari Rasulullah antara lain dengan :
melihat huruf-hurufnya, kesesuaian antara awal surat dengan akhir surat
sebelumnya, keseimbangan dalam lafadnya, dan kemiripan isi suatu surat dengan
surat sebelumnya. Sedangkan menurut Zarkasyi (1988:328), kemungkinan urutan
29

sistematika surat ini ialah hasil ijtihad para sahabat. Sedangkan pendapat tentang
penyusunan ayat-ayat dalam al-Quran, antara lain, menurut Makki, hal itu adalah
tauqifi Rasulullah; dan menurut Qadi Abu Bakar, tertibnya ayat dalam surat
merupakan suatu hal yang wajib dan pasti, karena tentu Jibril mendikte Nabi bahwa
ayat ini diletakkan di sini dst.
Ada beberapa pendapat tentang bagaimana mengetahui surat yang pertama
kali dan terakhir kali diturunkan.
Dalam Sahih Bukhari disebutkan bahwa surat yang pertama kali diturunkan
adalah Iqra kemudian Mudassir. Sedang dalam sahih Muslim disebutkan bahwa
yang pertama kali diturunkan adalah Mudassir. Ada pula pendapat bahwa yang
pertama kali ialah surat Fatihah, menurut riwayat Abu Ishaq dari Abi Maisarah.
Menurut Zarkasyi (1988:263-265) konklusi dari ketiga pendapat tersebut dan
dengan melihat sejarah dan latar belakang ketiga pendapat tersebut, maka
disimpulkan bahwa ayat yang pertama kali turun ialah Iqra, sedangkan perintah
tablig pertama kali ialah al-Mudassir, dan surat yang pertama kali turun ialah surat
al-Fatihah.
Mengenai yang terakhir turun, ulama juga berbeda pendapat. Menurut riwayat
Ibnu Abbas : an-Nasr, riwayat Aisyah : al-Maidah, riwayat lain : al-Baraah dan ayat
yang terakhir turun ialah akhir surat an-Nisa, menurut Syu`bah yang disandarkan
kepada Ubayyi bin Ka`ab, ayat yang terakhir ialah at-Taubah:128-129, Riwayat
Bukhari : ayat riba, dan riwayat Muslim : an-Nasr.
Dalam pengelompokan surat, Zarkasyi (1988:249-252) mengklasifikasi kan
surat-surat yang diturunkan pada periode Makkah dan Madinah berdasar urutannya.
Periode Makkah diawali surat al-`Alaq dan tentang surat yang terakhir, ulama
berbeda pendapat (ada yang al-Ankabut, a-Muminun, dan at-Tatfif). Adapun
periode Madinah diawali surat al-Baqarah dan diakhiri dengan surat al-Maidah.
Berikut tertib surat berdasar turunnya menurut Zarkasyi, tanpa memasukkan
surat al-Fatihah :
Makkiyyah : Al-`Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Mudassir, Al-Lahab, AtTakwir, Al-A`la, Al-Lail, Al-Fajr, Ad-Duha, Al-Insyirah, Al-`Asr, Al-`Adiyat, AlKausar, At-Takasur, Al-Ma`un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas,
An-Najm, `Abasa, al-Qadar, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qari`ah,
Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalat, Qaf, Al-Balad, At-Tariq, Al-Qamar, Sad,
Al-A`raf, Al-Jin, Yasin, Al-Furqan, Al-Fatir, Maryam, Taha, Al-Waqi`ah, AsySyua`ra, An-Naml, Al-Qasas, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An`am, AsSaffat, Luqman, Saba, Az-Zumar, Al-Mukmin, Ha-Mim as-Sajdah, Asy-Syura, AzZukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jasiyah, Al-Ahqaf, Az-Zariyat, Al-Gasyiyah, Al-Kahfi,
An-Nahl, Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya, Al-Mukminun, As-Sajdah, At-Tur, Al-Mulk,
Al-Haqqah, Al-Ma`arij, An-Naba, An-Naziat, Al-Infitar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al`Ankabut, dan At-Tatfif.
Madaniyyah : Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah,
An-Nisa, Az-Zilzal, Al-Hadid, Al-Qital, Ar-Ra`d, Ar-Rahman, Ad-Dahr, At-Talaq,
Al-Bayyinah, Al-Hasyr, An-Nasr, An-Nur, Al-Hajj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah,
Al-Hujurat, At-Tahrim, As-Saf, Al-Jum`ah, At-Tagabun, Al-Fath, At-Taubah, dan
Al-Maidah.
5. Pembuka Surat
Fawatih as-suwar (pembuka surat) merupakan istilah untuk ayat-ayat yang
mengawali sebuah surat dalam al-Quran. Tak ada sebuah suratpun yang tidak ada
30

fawatih as-suwar-nya. Dalam masalah ini, Suyuti (tt.:105-107) dan Zarkasyi (1988:213219) meresume keterangan dari Syihabuddin Abu Syamah bahwa Allah membuka
surat-surat al-Quran dengan 10 jenis kata, yaitu :
a. Pujian kepada-Nya dengan menetapkan sifat-sifat pujian dan meniadakan sifat
kekurangan. Dalam menetapkan sifat pujian, Allah menggunakan dua jenis
yaitu :

dalam 5 surat ( al-Kahfi, as-Saba, al-An`am, al-Fatir dan al-

Fatihah) dan

dalam dua surat (al-Furqan dan al-Mulk). Dalam

menafikan sifat kekurangan, Allah memakai kata

dalam 7 surat yaitu

Bani Israil dan al-Isra(dengan bentuk masdar), al-Hadid dan al-Hasyr (bentuk
fi`il madi), al-Jum`ah dan at-Tagabun (fi`il mudari`), serta al-A`la (fi`il amr).
b. Huruf tahajji/ hijaiyyah terdapat dalam 29 surat dan terdiri dari 14 huruf
yaitu

karena ada beberapa yang

diulangi misalnya pengulangan huruf alif, lam dan mim dalam {


} . Ditinjau dari segi jumlah hurufnya, Zarkasyi merangkumnya menjadi
: Satu huruf ada tiga, yakni }
}

: Tiga huruf ada 12 yakni }

huruf ada dua yaitu


}

); Dua huruf ada 10, yakni

{ ; Empat

; Lima huruf ada dua yaitu {

. Didapati, bahwa surat yang diawali dengan huruf tahajji, ayat

selanjutnya berkaitan dengan al-Quran, kecuali dalam surat al-Ankabut dan


ar-Rum. Misal dalam al-Baqarah {

c. Huruf nida dalam 10 surat, 5 surat panggilan kepada Rasulullah dalam surat
al-Ahzab, at-Talaq, at-Tahrim, al-Muzammil dan al-Mudassir misalnya {
} . Lima surat yang lain adalah panggilan kepada umat yakni
dalam surat an-Nisa, al-Maidah, al-Hajj, al-Hujurat dan al-Mumtahanah,
misal {

}.

d. Kalimat berita terdapat dalam 23 surat, yaitu dalam surat al-Anfal, at-Taubah,
al-Mukminun, an-Nahl, al-Anbiya, an-Nur, az-Zumar, Muhammad, al-Fath,
al-Qamar, ar-Rahman, al-Mujadalah, al-Haqqah, al-Ma`arij, Nuh, al-Qiyamah,
al-Balad, `Abasa, al-Qadr, al-Bayyinah, al-Qari`ah, at-Takasur, dan alKausar.Misalnya {

e. Kata sumpah, 15 surat (at-Tin, ad-Duha, at-Tariq, as-Saffat, adz-Dzariyat, atTur, an-Najm, al-Mursalat, an-Nazi`at, al-Buruj, al-Fajr, asy-Syams, al-Lail, al`Adiyat dan al-`Asr). Misal {

}
31

f. Kata syarat dalam tujuh surat, yakni al-Waqi`ah, al-Munafiqun, at-Takwir, alInfitar, al-Insyiqaq, az-Zalzalah dan an-Nasr. Misalnya {

g. Kata perintah dalam 6 surat yakni al-Jin, al-`Alaq, al-Kafirun, al-Ikhlas, alFalaq dan an-Nas. Misalnya {

h. Kalimat tanya dalam 6 surat yaitu al-Gasyiyah, an-Naba, al-Insan, al-Insyirah,


al-Fil dan al-Ma`un. Misalnya {
i.

Doa dalam tiga 3 yaitu al-Mutaffifin, al-Humazah dan al-Lahab. Misal {


}

j.

Kalimat at-ta`lil dalam satu surat yaitu Quraisy {

}.

Sesuai pendapat ulama ilmu balagah, keindahan awal suatu kalimat dapat
menarik perhatian para pendengar. Apabila awal kalimat tidak indah meskipun
kalimat selanjutnya baik, maka hal itu tidak menarik perhatian pendengar.
Demikianlah Allah mengawali surat dengan fawatih as-suwar yang dimaksudkan
untuk menarik perhatian manusia agar mendengarkan, lalu melihat dan memahami
serta mengamalkan ayat-ayat al-Quran (sebagaimana firman Allah berikut
).
Dalam melihat huruf tahajji, ada beberapa pendapat ulama, yaitu : Ulama
Basrah tidak menghitungnya sebagai satu ayat. Sedangkan ulama Kufah, sebagian
ada yang memasukkan ayat dan sebagian yang lain tidak ; Sebagian fawatihus-suwar
mendapat perlakuan I`rab, dan ada yang tidak ; Semuanya dibaca waqaf, bila tidak
dihubungkan dengan kata sesudahnya ; Keseluruhannya dituliskan dalam mushaf
sesuai hurufnya masing-masing, bukan namanya (Zarkasyi, 1988: 220-221).
6. Penutup Surat
Adapun khawatim as-suwar (penutup surat) ialah istilah untuk akhir kata atau
kalimat yang mengakhiri suatu surat dalam al-Quran. Seperti halnya fawatih as-suwar,
penutup surat inipun memiliki nilai keindahan karena merupakan kata akhir yang
didengar oleh pendengar sehingga membekas dalam hatinya dan memberikan kesan
yang mendalam.
Allah memakai beberapa kalimat misalnya : Rincian permohonan di akhir
surat al-Fatihah; Doa di dua ayat terakhir surat al-Baqarah; Wasiat di akhir surat Ali
Imran; Wasiat dan faraidl di akhir surat an-Nisa; Pengagungan kepada Allah yang
mengakhiri surat al-Maidah, yakni sebagai berikut {
} ;Janji dan ancaman di akhir surat al-An`am {
} ;Memelihara ibadah di akhir surat al-A`raf ; Himbauan jihad
dan silaturahmi di akhir al-Anfal ;Sifat dan pujian kepada Rasulullah serta tahlil di
akhir surat at-Taubah; Hiburan kepada Rasulullah di akhir surat Yunus dan Hud
;Sifat dan pujian kepada al-Quran di akhir surat Yusuf ; Penolakan terhadap orang
32

yang mendustai Rasul di akhir surat ar-Ra`du ; Pujian dan faidah al-Quran, serta
dalil bahwa Allah Esa di akhir surat Ibrahim ; Wasiat al-Quran kepada Rasulullah
di akhir surat al-Hijr ; Pujian kepada Nabi karena tumaninahnya dan janji Allah di
akhir an-Nahl ; Pujian di akhir surat al-Isra; Perintah Tauhid di akhir surat al-Kahfi
dan lain-lain yang masing-masing memiliki rahasia (Suyuti, tt.:107-108 dan Zarkasyi,
1988:233-235).
Kalau kita amati lebih lanjut, terdapat kesesuaian dan keharmonisan antara
pembuka dan penutup surat. Sebagai contoh antara lain : Surat Qasas dimulai
hijrahnya Musa dari negaranya {

}, dan diakhiri pujian

atas hijrahnya Muhammad {

}; Surat Mukminun

diawali keberuntungan orang beriman, {


ketidakberuntungan kaum kafir {

} dan diakhiri dengan


}; Surat Sad diawali kata {

} dan diakhiri dengan {

} ; Surat Nun diawali penafian

atas kegilaan Muhammad {

} dan diakhiri dengan {

}.
Selain itu juga ada kesesuaian antara pembuka surat tertentu dengan
penutup surat sebelumnya. Sebagai contoh antara lain : awal surat Quraisy {
} dan akhir surat al-Fil {

}; Pembukaan surat al-

Kausar dengan akhir surat al-Ma`un ; Pembukaan surat al-Qari`ah dengan akhir
surat al-`Adiyat ; Pembukaan al-Hadid (tasbih) dengan akhir al-Waqi`ah (perintah
tentang tasbih) ; Awal al-Baqarah dan akhir al-Fatihah (Suyuti,111-114 & Zarkasyi,
1988:236-237).
C. Isi al-Qur`an
Garis besar kandungan al-Qur`an meliputi :
1. Aqidah, yakni keyakinan yang lebih menitikberatkan pada tauhidullah, yakni
meng-Esa-kan Allah dan menyatukan pengabdian hanya kepada-Nya.
2. Syari`ah, yakni hukum Islam yang meliputi Ibadah dan Muamalah, dengan kata
lain petunjuk tentang beribadah bermuamalah dan cara mendekatkan diri
kepada Allah.
3. Akhlaq, yakni hal-hal yang terkait dengan perilaku dan sopan santun, baik
hablun minallah maupun hablun minan-nas.
4. Berita Gaib yang terkait dengan alam yang tidak terjangkau oleh manusia di
dunia.
5. Janji bagi yang taat kepada perintah Allah dan Ancaman bagi yang
melanggarnya.
6. Tata Hukum yang diperlukan manusia.
7. Kisah para Nabi dan Rasul serta umat terdahulu.

33

BAB IV
NUZULUL QURAN
Allah menurunkan al-Quran kepada Rasulullah SAW untuk memberi petunjuk
kepada manusia. Turunnya al-Quran merupakan peristiwa besar yang sekaligus
menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya alQuran yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada
alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat
Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi
umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Turunnya al-Quran yang kedua kali
secara bertahap berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya sangat mengagetkan orang
dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia Allah yang
ada dibalik itu. Berikut ini akan dijelaskan seputar nuzulul Quran.
A. Pengertian Nuzulul Quran
Secara etimologis Nuzulul Quran berarti peristiwa al-Quran turun atau
turunnya al-Quran. Penggunaan istilah Nuzulul Quran bersifat Majazi, maksudnya
mempermaklumkan al-Quran dengan cara dan sarana yang dikehendaki Allah
sehingga dapat diketahui oleh malaikat di Lauhul Mahfudz dan oleh Nabi
Muhammad SAW. di dalam hatinya yang suci.
Dalam al-Quran Nuzulul Quran diungkap dengan dua ungkapan, yaitu (1)
dengan kata Nazzala yunazzilu tanzilan, dengan makna konotatif turun secara
berangsur-angsur, dan (2) dengan kata anzala yunzilu inzalan, dengan makna
denotatif menurunkan. Penggunaan dua kata itulah yang menyebabkan
terjadinya berbagai macam definisi dan tahapan Nuzulul Quran yang mengkaji alQuran dari aspek bahasanya (Tim DEPAG, Ensiklopedi.., 1995: 860).
Az-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran (1957:228) menjelaskan
mengenai proses turunnya al-Quran mulai dari Lauhil Mahfudz sampai kepada Nabi
Muhammad SAW. Dalam hal ini, turunnya al-Quran melalui tiga cara:
1. Al-Quran turun sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam
Lailatul Qodar, kemudian dituturunkan kepada Nabi Muhammad secara
bertahap, sejak diangkatnya beliau menjadi Rasul hingga wafat. Ulama
berbeda pendapat mengenai berapa lama Nabi Muhammad menjadi rasul,
sebagian mengatakan 20 tahun, sebagian lagi 23 tahun dan sebagian lagi 25
tahun. Perbedaan ini dipicu oleh perbedaan mereka menentukan berapa lama
Nabi Muhammad menetap di Makkah setelah diangkat menjadi rasul (azZarkasyi, 1957: 228).
2. Al-Quran diturunkan ke langit dunia setiap tahun pada malam Lailatul Qadar ,
kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad. Dalam
kaitan ini, setiap tahun pada malam Lailatul Qadar Allah menurunkan ayat alQuran sesuai dengan kadar kebutuhan dan tuntutan tahun tersebut.
3. Allah menjadikan malam lailatul Qadar sebagai awal pembuka diturunkannya
al-Quran secara bertahap (Ibid.)
Setelah mengemukakan ketiga cara di atas, az-Zarkasyi memilih cara yang
pertama sebagai cara yang paling benar berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas dalam Mustadrak al-Hakim, al-Quran diturunkan sekaligus ke langit
dunia pada malam lailatul qadar, kemudian turun secara bertahap selama 20 tahun
(Ibid.).
34

Senada dengan pendapat az-Zarkasyi, as-Suyuthi dalam al-Itqan fi Ulum alQuran (1979: 41) mengutip pendapat Ibn Hajar al-Asqalani yang menyatakan
bahwa cara pertama, yaitu al-Quran diturunkan sekaligus dalam keseluruhannya
dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia di malam lailatul qadar kemudian diturunkan
secara bertahap kepada Nabi Muhammad selama menjadi Rasul oleh Jibril adalah
cara yang paling tepat.
B. Bukti Historis Turunnya al-Quran Bertahap
Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia yang meletakkan dasar-dasar
yang prinsipil dalam segala persoalan kehidupan manusia dan merupakan kitab
universal. Petunjuk ini merupakan sendi utama yang dimiliki agama Islam sebagai
way of life bagi penganutnya dan menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
kelak (Quraish Shihab, membumikan..., 1992:33).
Allah menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. dengan
perantara malaikat Jibril secara bertahap. Malaikat sebagai perantara Allah dengan
manusia, karena al-Quran merupakan petunjuk manusia. Ayat-ayat al-Quran
diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian serta kebutuhan
Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini merupakan peristiwa besar yang dialami
beliau selama hidupnya. Allah SWT berfirman:


Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi
bagian.(Q.S. al-Isra (17): 106).


Kitab (ini) diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. alJatsiyah (45): 2).
Dilihat dari ungkapan ayat-ayat di atas (untuk arti menurunkan) semuanya
menggunakan kata tanzil bukan inzal. Hal ini menunjukkan bahwa al-Quran
diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur. Berbeda dengan kitab samawi
sebelumnya seperti Taurat, Injil, dan Zabur turunnya sekaligus, tidak bertahap.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Firman Allah SWT:



Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya
sekali turun saja?"; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami
membacanya secara tartil (teratur dan benar). (Q.S. al-Furqan (25): 32).
Pertanyaan orang kafir itulah yang dijadikan landasan beberapa ahli tafsir,
bahwasanya orang kafir merasa heran dengan turunnya al-Quran secara berangsurangsur karena mereka mengetahui bahwa kitab-kitab sebelumnya diturunkan secara
sekaligus. Bukanlah kitab-kitab itu berwujud benda kemudian diturunkan begitu
35

saja, tetapi diturunkan (dibacakan) sekaligus oleh Malaikat Jibril (Manna Khalil alQatthan, 1994: 152).
Ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah Q.S. al-Alaq ayat 1-5:



Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Pada awalnya Rasulullah SAW diberitahu lewat mimpi pada bulan kelahiran
beliau, yaitu bulan Rabiul Awwal. Kemudian diturunkan kepada beliau dalam
keadaan sadar. Sebagaimana Hadits dari Aisyah r.a. yang diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim:
Wahyu yang mula-mula diturunkan kepada Rasulullah SAW ialah mimpi yang benar di
waktu tidur. Setiap kali mimpi beliau melihat ada yang datang bagaikan cahaya terang di
pagi hari. Kemudian beliau lebih suka menyendiri. Beliau pergi ke gua Hira untuk
bertahannuts beberapa malam; dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau
kembali ke rumah Khadijah r.a. dan Khadijah pun membekali seperti itu biasanya. Sehingga
datanglah suatu kebenaran kepada beliau sewaktu berada di gua Hira. Malaikat datang
kepada beliau dan berkata: Bacalah. Rasulullah menjawab: Aku berkata kepadanya; Aku
tidak pandai membaca. Lalu dia memegang dan merangkulku sampai aku kepayahan,
kemudian dia melepaskan aku, lalu katanya: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak pandai
membaca. Lalu dia merangkulku untuk yang kedua kalinya sampai aku kepayahan, lalu
dia melepaskan aku, lalu katanya: Bacalah. Lalu aku menjawab: Aku tidak pandai
membaca. Lalu dia merangkulku untuk yang ketiga kalinya sampai aku kepayahan,
kemudian dia melepaskan aku, lalu katanya: Bacalah dengan menyebut nama
Tuhanmu yang telah menciptakan sampai dengan apa yang belum diketahuinya..
Peristiwa tersebut tepatnya malam Senin 17 Ramadhan tahun 41 dari
kelahiran beliau bertepatan dengan 6 Agustus 610 M di gua Hira. Ketika turunnya
wahyu yang pertama beliau masih sebagai seorang Nabi, belum ditugasi untuk
menyampaikan kepada orang lain, namun setelah turun wahyu yang kedua (Q.S. alMudatsir (74): 1-7) beliau ditugasi untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang
diterimanya.



Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu
agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan
janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

36

Secara historis, sejarah turunnya al-Quran di sini akan dibagi ke dalam tiga
periode agar lebih jelas tujuan-tujuan pokok al-Quran:
Periode pertama, kandungan al-Quran berkisar pada tiga hal; 1) Pendidikan
bagi Rasulullah dalam membentuk kepribadiannya (Q.S. al-Mudatssir (74): 1-7); 2)
Pengetahuan dasar mengenai ketuhanan (Q.S. al-Ala (87) dan Q.S. al-Ikhlas (112));
dan 2) Dasar-dasar akhlak Islamiyah dan pembentukan masyarakat Muslim.
Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan
bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab terhadap al-Quran ketika
itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok, yaitu; 1) sebagian kecil dari
mereka menerima dengan baik; 2) sebagian besar mereka menolak karena
kebodohan mereka (Q.S. al-Anbiya (21):24), keteguhan mereka dalam
mempertahankan adat-istiadat dan tradisi nenek moyang (Q.S. az-Zukhruf (43):22),
dan karena ada maksud-maksud tertentu dari suatu golongan; dan 3) Dakwah alQuran mulai melebar hingga perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.
Periode kedua, sejarah turunnya al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun,
dimana ayat-ayat al-Quran telah sanggup memblokade paham jahiliyah dari segala
segi, sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam alam pikiran
sehat (Q.S. an-Nahl (16): 125; Fushilat (41):13; Yasin (36): 78 82).
Periode ketiga, pada masa ini dakwah al-Quran telah mencapai atau
mawujdkan prestasi yang sangat besar. Periode ini berlangsung selama 10 tahun
(Quraish Shihab, 1992:35-37). Ini merupakan periode yang terakhir. Islam telah
disempurnakan oleh Allah dengan turunnya ayat yang terakhir turun. Surat alMaidah ayat 3 (ayat tentang hukum), ketika Nabi wukuf pada waktu haji wada
pada tanggal 9 Dzulhijjah 10 H/ 7 Maret 632 M. Sehingga dari ayat yang pertama
sampai yang terakhir turun memakan waktu sekitar 22 tahun (Muhammad Chirzin,
Al-Quran ...., 1998: 16-17).
C. Hikmah Pentahapan dalam Penurunan al-Quran
Adapun hikmah diturunkannya al-Quran secara berangsur-angsur antara lain:
1. Menguatkan dan meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW:



Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan
kepadanya sekali turun saja?"; demikianlahsupaya kami perkuat hatimu dengannya
dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (Q.S. al-Furqan (25): 32).
2. Memuliakan Nabi Muhammad SAW dan menunjukkan sifat lemah lembut
Allah kepada beliau:

37

Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan
perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(Q.S. al-Hasyr (59:21).
3. Kesesuaian dengan peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum,
misalnya tahapan dalam pelarangan khamr sebagaimana ayat-ayat berurut
berikut ini:



Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan
rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (Q.S. an-Nahl (16): 67).




Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya
terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya
lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka
nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Q.S. al-Baqarah (2):
219).






Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri
mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga
kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat
buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat
38

air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan
tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (Q.S. anNisa (4):43).



Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.
al-Maidah (5): 90).
4. Tantangan dan Mukjizat:


Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil,
melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik
penjelasannya. (Q.S. al-Furqan (25): 33)
5. Mempermudah hafalan dan memahami;



Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. al-Jumuah (62): 2).
6. Bukti yang pasti bahwa al-Quran diturunkan dari sisi yang Maha Bijaksana dan
Maha terpuji:


Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana
lagi Maha tahu. (Q.S. Hud (11): 1).

39

BAB V
SEJARAH PEMELIHARAAN AL-QURAN
Pemeliharaan al-Quran adalah penjagaan kemurnian al-Quran baik lafadz
maupun maknanya mulai dari pertama kali al-Quran diturunkan sampai masa sekarang
dan yang akan datang. Sebenarnya pemeliharaan kemurnian al-Quran adalah lewat
pengumpulannya. Yang dimaksud dengan pengumpulan Quran (Jamul Quran ) oleh
para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut:
Pertama : pengumpulan dalam arti Hifdzuhu ( menghafalkannya dalam hati).
Jummaul Quran artinya huffazuhu ( penghafal-penghafalnya, orang yang
menghafalkannya didalam hati). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah
kepada Nabi-Nabi senantiasa menggerak-gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk
membaca Quran ketika itu turun kepadanya sebelum jibril selesai membacakannya,
karena ingin menghafalkannya:



Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepatcepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai
membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan
kamilah penjelasannya.(Q.S. al-Qiyamah: 16-19).
Ibn Abbas mengatakan: Rasulullah SAW sangat ingin segera menguasai
Quran yang diturunkan, ia menggerakkan lidah dan kedua bibirnya karena takut apa
yang turun itu akan terlewatkan. Ia ingin segera menghafalnya. Maka Allah
menurunkan: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Quran karena
hendak cepat-cepat untuk menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya dan membacanya , maksudnya Kami yang mengumpulknnya
didadamu, kemudian kami memebacakannya. Apa bila Kami telah selesai
memebacakannya, maksudnya apabila Kami telah menurunkannya kepadamu maka
ikitilah bacaan itu, maksudnya dengarkan dan perhatikanlah ia, kemudian atas
tanggungan Kamilah penjelasannya, yakni menjelaskannya dengan lidahmu. Dalam
lafal yang lain ia katakan : atas tanggungan Kamilah membacakannya maka setelah ayat
ini turun bila jibril datang, Rasulullah SAW diam. Dalam lafal lain: ia
mendengarkan.dan bila jibril telah pergi, barulah ia membacanya sebagaimana
diperintahkan Allah.
Kedua : pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi ( penulisan al-Quran semuanya)
baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surah-surahnya, atau menertibkan ayatayat semata dan setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, atau
menertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul
yang menghimpun semua surah, sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
Ketiga: pengumpulan dalam arti merekam suara bacaan al-Quran, yaitu
pelestarian al-Quran dengan cara merekam dalam pita suara.

40

A. Pengumpulan al-Quran dalam Arti Menghafalnya pada Masa Nabi


Rasulullah SAW amat menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu penurunan
wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya. Persis seperti yang
dijanjikan Allah:
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya ( didadamu) dan ( membuatmu
pandai) membacanya ( al-Qiyamah: 17 ).
Oleh sebab itu ia adalah hafiz ( penghafal ) al-Quran pertama dan merupakan
contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi
kecintaan mereka kepada pokok agama dan sumber risalah. Al-Quran diturunkan
selama dua puluh tahun lebih. Proses penurunanya terkadang hanya turun satu ayat
dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal
dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab bangsa arab secara kodrati memang
mempunyai daya hafal yang k uat. Hal itu umumnya karena mereka buta huruf.,
sehingga dalam penulisan berita-berita, syair dan silsilah mereka dilakukan dengan
catatan dihati mereka.
Dalam kitab sahihnya Bukhari telah mengemukakan adanya tujuh hafiz,
melalui tiga riwayat. Mereka adalah: Abdullah bin Masud, Salim bin Maqal bekas
budak Abu Huzaifah, Muaz bin Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin Sabit, Abu Zaid bin
Sakan dan Abu Darda.
a. Dari Abdullah bin Amr bin As dikatakan :
Aku telah mendengar Rasulullah SAW berkata: Ambilah Quran dari empat
orang,Abdullah bin Maud, Salim, Muaz dan Ubai bin Kaab. keempat orang tersebut
dua orang kaum muhajirin, yaitu Abdullah bin Masud dan Salim; dan dua orang dari
Anshar yaitu; Muaz dan Ubai.
b. Dari Qatadah dikatakan:
Aku telah bertanya kepada Anas bin Malik: siapakah orang yang hafal Quran dimasa
Rasulullah SAW ? dia menjawab: empat orang semuanya dari kaum anshar; Ubai bin
Kaab , Muaz bin Jabal, Zaid bin sabit, dan Abu zaid. Aku bertanya kepadanya;
siapakah Abu Zaid itu ? ia menjawab salah seorang Pamanku.
c. Dan diriwayatkan pula melalui Sabit, dari Anas yang mengatakan:
Rasulullah SAW wafat sedang Quran belum dihafal kecuali oleh empat orang: Abu
Darda, Muaz bin Jabal, Zaid bin Sabit, dan abu Zaid.
Abu Zaid yang disebut-sebut diatas penjelasannya terdapat dalam riwayat
yang dinukil oleh Ibn Hajar dengan isnad yang memenuhi persyaratan Bukhari.
Menurut Anas Abu Zaid yang hafal Quran itu namanya Qais bin Sakan. Kata
Anas, ia adalah seorang laki-laki dari suku kami, Bani Adi Ibnun Najjar dan
termasuk salah seorang paman kami. Ia meninggal dunia tanpa meninggalkan anak,
dan kamilah yang mewarisinya.
Ibn Hajar ketika menuliskan biografi Said bin Ubaid menjelaskan bahwa ia
termasuk seorang hafiz dan dijuluki pula dengan al-Qari ( pembaca al-Quran).
41

Penyebutan para hafiz yang tujuh atau delapan ini tidak berarti pembatasan, karena
beberapa keterangan dalam kitab-kitab sejarah dan sunan menunjukkan bahwa para
sahabat berlomba menghafalkan al-Quran dan mereka memerintahkan anak-anak
dan ister-isteri mereka untuk menghafalkannya. Mereka membacanya dalam salat
ditengah malam, sehingga alunan suara mereka terdengar bagai suara lebah.
Rasulullah SAW pun sering melewati rumah-rumah orang Anshar dan berhenti
untuk mendengarkan alunan suara mereka yang membaca al-Quran dirumahrumah.
Dari Abu Musa Al-Asyari:
Bahwa Rasullullah saw. Berkata kepadanya : tidakkah engkau melihat aku tadi
malam, diwaktu aku mendengarkan engkau membaca al-Quran ? sungguh engkau telah
diberi seruling dari seruling Nabi Daud,
Diriwayatkan Abdullah bin Amr berkata : Aku telah menghafal al-Quran dan
aku telah menamatkannya pada setiap malam. Hal ini sampai kepada Nabi, maka katanya :
Tamatkanlah dalam waktu satu bulan.
Abu Musa al-Asyari berkata :Rasulullah berkata: Sesumgguhnya aku mengenal
kelembutan alunan suara keturunan Asyari diwaktu malam ketika berada dalam rumah. Aku
mengenal rumah-rumah mereka dari suara bacaan al-Quran mereka diwaktu malam, sekalipun
aku belum pernah melihat rumah mereka diwaktu siang.
Disamping antusiasme para sahabat untuk mempelajari dan menghafal alQuran Rasulullah pun mendorong mereka kearah itu dan memilih orang tertentu
yang akan mengajarkan al-Quran kepada mereka. Ubadah bin Samit berkata:
Apabila ada seseorang yang hijrah ( masuk islam) Nabi menyerahkannya kepada salah
seorang diantara kami untuk mengajarinya al-Quran. Dan dimasjid Rasulullah sering
terdengar gemuruh suara orang membaca al-Quran, sehingga Rasulullah memerintahkan mereka
agar merendahkan suara agar tidaj saling mengganggu.
Pembatasan tujuh orang sebagaimana disebutkan Bukhari dengan tiga
riwayat diatas, diartikan bahwa mereka itilah yang hafal seluruh isi al-Quran diluar
kepala dan telah menunjukkan hafalannya dihadapan Nabi. Serta isnad-isnad nya
sampai kepada kita. Sedang para hafidz al-Quran lainnya-yang berjumlah banyaktidak memenuhi hal tersebut; terutama karena para sahabat telah tersebar
diberbagai wilayah dan sebagian mereka menghafalkan dari yang lain. Cukuplah
sebgai bukti tentang hal ini bahwa para sahabat yang terbunuh dalam pertempuran
dalam sumur Maunah semuanya disebut qurra , sebanyak tujuh puluh orang
sebagaiman disebutkan dalam hadis, sahih. Al-Qurtubi mengatakan : telah terbunuh
tujuh orang qari pada perang Yamamah; dan terbunuh pula pada masa nabi
sejumlah itu dalam pertempuran dalam sumur Maunah.
Inilah pemahaman para ulama dan pertakwilan mereka terhadap hadis-hadis
sahih yang menunjukkan terbatasnya jumlah para hafid al-Quran yaitu hanya tujuh
orang seperti yang telah dikemukakan. Dalam mengomentari riwayat Anas yang
menyatakan Tak ada yang hafal al-Quran kecuali empat orang, al-Mawardi
berkata ucapan Anas yang menucapkan bahwa tidak ada yang hafal al-Quran selain
empat orang itu tidak dapat diartikan bahwa kenyataannya memang demikian.
Sebabmungkin saja Anas tidak mengetahui ada orang lain yang menghafalnya. Bila
tidak, maka bagaimana ia mengetahui secara persis orang-orang yang hafal alQuran sedangkan para sahabat amat banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai
wilayah ? pengetahuan Anas tentang orang-orang yang hafal al-Quran itu tidak
42

dapat diterima kecuali kalau ia bertemudengan setiap orang yang menghafalnya dan
orang itu menyatakan kepadanya bahwa ia belum sempurna hafalannya dimasa
Nabi. Yang demikian ini amat tidak mungkin terjadi menurut kebiasaan. Karena itu
bila yang dijadikan rujukan oleh Anas hanya pengetahuannya sendiri maka hal ini
tidak berarti bahwa kenyataannya memang demikian. Disamping itu syarat
kemutawatiran juga tidak menghendaki agar semua pribadi hafal, bahkan bila
kolektifitas sahabat telah hafal - sekalipun secara distributif maka itu sudah cukup.
Dengan penjelasan ini al-Mawardi telah menghilangkan keraguan yang
mengesankan sedikitnya jumlah huffaz. ( para penghafal al-Quran ) dengan cara
meyakinkan dan menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang kuat mengenai
pembatasan jumlah hafiz dalam hadis Anas dengan menjelaskan memuaskan.
Abu Ubaid telah menyebutkan dalam kitab al-Qiraat sejumlah qari dari
kalangan sahabat. Dari kaum muhajirin, ia menyebutkan: empat orang khalifah,
Talhah,Sad, Ibn Masud, Huzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah as-Saib, empat
orang bernama Abdullah, Aisyah, Hafsah, dan Ummu Salamah.; dan dari kaum
anshar : Ubaidah bin Samit , Muaz, yang dijuluki Abu Halimah, Majma bin
Jariyah, Fudalah bin Ubaid dan Maslamah bin Mukhallad ditegaskannya bahwa
sebagian mereka itu menyempurnakan hafalannya sepeninggalnya Nabi.
Al-Hafiz az-Zahabi menyebutkan dalan tabaqatul qurra bahwa jumlah qari
tersebut adalah jumlah mereka yang menunjukkan hafalannya dihadapan Nabi dan
sanad-sanadnya sampai kepada kita secara bersambung. Sedangkan sahabat yang
hafal al-Quran namun sanadnya tidak sampai kepada kita, jumlah mereka itu
banyak.
Dari keterangan -keterangan ini jelaslah bagi kita bahwa para hafiz alQuran dimasa Rasullulah amat banyak jumlahnya, dan bahwa berpegangan pada
hafalan dalam penukilan dimasa itu termasuk ciri khas umat ini. Ibn Jazari guru
para qari pada masanya menyebutkan : Penukilan al-Quran dengan berpergang
Pada hafalan- bukannya pada mushaf dan kitab-kitab- merupakan salah satu
keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat ini.
B. Pengumpulan al-Quran dalam Arti Penulisan al-Quran
1.

Pada Masa Nabi

Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu al-Quran dari sahabatsahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, Ubai bin Kab dan Zaid bin Sabit, bila
ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat
tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan
didalam hati. Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan al-Quran yang turun
itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi; mereka menuliskannya
pada pelepah kurma , lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana,
potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit: Kami menyusun al-Quran
dihadapan Rasulullah pada kulit binatang
Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam
menulis al-Quran. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain saranasarana tersebut. Dan denagn demikian, penulisan al-Quran ini semakin menambah
hafalan mereka.
Jibril membacakan al-Quran kepada Rasulullah pada malam-malam bulan
ramadan setiap tahunnya Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah adalah orang
43

paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan ramadan, ketika ia ditemui oleh
jibril. Ia ditemui oleh jibril setiap malam; jbril membacakan al-Quran kepadanya,
dan ketika Rasulullah ditemui oleh jibril it ia sangat pemurah sekali. Para sahabat
senantiasa menyodorkan al-Quran kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan
maupun tulisan.
Tulisan-tulisan al-Quran pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu
mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah
menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib,
Muaz bin Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Masud telah
menghafalkan seluruh isi al-Quran dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan
pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan al-Quran
dihadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan diatas.
Rasulullah berpulang kerahmatullah disaat al-Quran telah dihafal dan
tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan
surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah
berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi al-Quran
belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyuruh (lengkap). Bila wahyu
turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu
belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu
menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula
terdapat ayat yang manasih (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya.
Susunan atau tertib penulisan al-Quran itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi
setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabiia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada
masa Nabi) al-Quran itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu
mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.
Az-zarkasyi berkata: al-Quran tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman
Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya
dilakukan kemudian sesudah Quran turun semua, yaitu dengan wafatnya
Rasulullah.
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin
Sabit yang mengatakan: Rasulullah telah wafat sedang al-Quran belum
dikumpulkan sama sekali. Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum
dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Katabi berkata: Rasulullah tidak
mengumpulkan al-Quran dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu
ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir
masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan
mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang
benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi
pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar
Pengumpulan al-Quran dimasa Nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b)
pembukuan yang pertama.
2. Pada Masa Abu Bakar
Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan
kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang
arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk
memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada
44

tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal al-Quran. Dalam


peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa
sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan
usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan al-Quran karena
dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh
para qarri.
Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempattempat lain akan membunuh banyak qari pula sehingga al-Quran akan hilang dan
musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah
membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut, kemudian
Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat ,
penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan
yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan
Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu.
Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan
lapang dada perintah penulisan al-Quran itu. Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang
berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan
yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran ( kumpulan) itu
disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaranlembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia
wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada
permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.
Zaid bin Sabit berkata: Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan
berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu
Bakar berkata : Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang
yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra ; dan ia khawatir kalaukalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi di tempat-tempat lain, sehingga
sebagain besar al-Quran akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memetrintahkan
seseorang untuk menguimpulkan al-Quran. Maka aku katakan kepadanya,
bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah ? tetapi Umar menjawab: dan bersumpah, demi Allah, perbuatan
tersebut baik. Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku
untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar. Zaid
berkata lagi: Abu Bakar berkata kepadaku: Engkau seorang pemuda yang cerdas
dan kami tidak meragukan kemammpuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu
untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah al-Quran dan kumpulkanlah. Demi
Allah, Kata Zaid lebih lanjut, sekiranya mereka memintaku untuk
memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah
mengumpulkan al-Quran. Karena itu aku menjawab: Mengapa Anda berdua
ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? Abu Bakar
menjawab: demi Allah itu baik, Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah
membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar.
Maka akupun mulai mencari al-Quran. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari
keping-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal sampai akhirnya aku
mendapatkan akhir surah taubah berada pada Abu Huzaimah al-Anshari; yang tidak
kudapatkan pada orang lain, sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari
kaummu sendiri hingga akhir surah. Lembaran-lembaran ( hasil kerjaku) tersebut
kemudian disimpan ditangan Abu Bakar higga wafatnya. Sesudah itu berpindah
45

ketangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada ditangan Hafsah binti
Umar.
Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada
hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan
diatas: Dan aku dapatkan akhir surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari;
yang tidak aku dapatkan pada orang lain. Tidak menghilangkan arti keberhatihatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah Taubah itu tidak mutawatir.
Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut
dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Zaid sendiri hafal dan demikian
pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya. Perkataan itu lahir karena
Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal
oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi
catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.
Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib,
yang mengatakan : Umar datang lalu berkata: Barang siapa menerima dari
Rasulullah sesuatu dari al-Quran, hendaklah ia menyampaikannya. Mereka
menuliskan al-Quran itu pada lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma.
Dan Zaid tidak mau menerima dari al-Quran mengenai seseorang sebelum
disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas
hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang
menerimanya secara pendengaran (langsung dari Rasul), sekalipun Zaid sendiri
hafal. Ia bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati. Dan diriwayatkan pula
oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar
berkata pada Umar dan Zaid: Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada
yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah,
maka tulislah. Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, seklaipun hadis
tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan: Yang dimaksudkan dengan
dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.
As-Sakhawi menyebutkan dalam Jamalul qurra, yang dimaksdukan ialah
kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau
dua orang saksi iti menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara
yang dengan itu al-Quran diturunkan. Abu Syamah berkata: Maksud mereka
adalah agar Zaid tidak menuliskan al-Quran kecuali diambil dari sumber asli yang
dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid
berkata tentang akhir surah Taubah, aku tidak mendapatkannya pada orang lain,
sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya
catatan.
Kita sudah mengetahui bahwa al-Quran sudah tercatat sebelum masa itu,
yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah
kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut
dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun
serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan
itu al-Quran diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang
mengumpulkan al-Quran dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping
terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali,
Ubai dan Ibn Masud. Tetpi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas
dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak
dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak
dimansuk dan secara ijma sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan46

keistimewaan ini hanya ada pada himpunan al-Quran yang dikerjakan Abu Bakar.
Para ulama berpendapat bahwa penamaan al-Quran dengan mushaf itu baru
muncul sejak saat itu, disaat Abu Bakar mengumpulkan al-Quran. Ali berkata:
Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga
Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang yang pertama
mengumpulkan kitab Allah.
3. Pada Masa Usman
Penyebaran Islam bertambah dan para Qurra pun tersebar di berbagai
wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajari qiraat (bacaan) dari qari
yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) al-Quran yang mereka
bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf yang dengannya alQuran diturunkan. Apa bila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu
medan peperangan, sebag ian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat
ini.terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaanperbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian
bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak
melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana
yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan mnimbulkan saling bertentangan bila
terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah
yang demikian ini harus segera diselesaikan.
Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq,
diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman.
Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca al-Quran. Sebagian bacaan
itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing memepertahankan dan
berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi
bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian
Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah
dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian
perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada
anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan
dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalaukalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka
bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu
Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan
tetap pada satu huruf.
Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk
meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan
lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memmanggil Zaid bin Sabit
al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Said bin As, dan Abdurrahman bin Haris bin
Hisyam. Ketiga orang terkahir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka
agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang
diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa quraisy,
karena al-Quran turun dengan logat mereka.
Dari Anas : Bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia
pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian armenia dan azarbaijan
bersama dengan penduduk Iraq, Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka
dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman selamatkanlah umat ini sebelum
47

mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana peerselisihan


orang-orang yahudi dan nasrani. Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah
yang isinya; sudilah kiranya anda kirimkan lemgbaran-lembaran yang berisi alQuran itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan
mengembalikannya. Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman
memerintahkan Zaid bin Sabit , Abdullah bin Zubair, Saad bin As dan
Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.mereka pun menyalinnya
menjadi beberapa mushaf. Usman berkata kepada ketiga orang quraisy itu:
bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari quran,
maka tulislah dengan logat quraisy karena quran diturunkan dengan bahasa quraisy.
Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi
beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada
Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan
memerintahkan agar semua al-Quran atau mushaf lainnya dibakar. Zaid berkata:
Ketika ami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang
pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah;maka kami mencarinya, dan aku
dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Ansari, ayat itu ialah



Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah
mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di
antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya) (Q.S. al-Ahzab (33):23)
lalu kami tempatkan ayat ini pada surah tersebut dalam mushaf.
Berbagai Asar atau keterangan para sahabat menunjukkan bahwa
perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Huzaifah, tetapi juga
mengejutkan para sahabat yang lain. Dikatakan oleh Ibn Jarir : Yakub bin Ibrahim
berkata kepadaku: Ibn Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan
kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: pada masa kekahlifahan Usman telah
terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain
mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu
suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga
kepada guru-guru tersebut. Kata Ayyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata:
sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,
dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: Kalian yang
ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca al-Quran. Penduduk yang
jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabatsahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Quran pedoman) saja!
Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya : aku adalah
salah seorang di antara mereka yang disuruh menuliskan, kata Abu Qalabah:
Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada
seseorang yang telah menerimanya dari Rasulullah. Akan tetapi orang tadi mungkin
tengah berada di luar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum
48

dan yang sesudah serta membiarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau
dipanggil. Ketika penulisan mushaf telah selesai, Kahlifah Usman menulis surat
kepada semua penduduk daerah yang isinya: Aku telah melakukan yang demikian
dan demikian. Aku telah menghapuskan apa yang ada padaku, maka hapuskanlah
apa yang ada padamu.
Ibn Asytah meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah, keterangan
yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah
meriwayatkannya pula melalui Abu Qalabah dalam al-Masahif.
Suwaid bin Gaflah berkata: Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik
tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf
al-Quran sudah atas persetujuan kami. Usman berkata : bagaimana pendapatmu
tentang qiraat ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa
qiraatnya lebih baik dari qiraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran. Kami
berkata : bagaimana penadapatmu ? ia menjawab : aku berpendapat agar manusia
bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan,
kami berkata : baik sekali pendapatmu itu.
Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah
disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek)
dari tujuh huruf al-Quran seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu
qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada
Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu
mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk dimadinah, yaitu mushafnya sendiri
yang dikenal dengan nama mushaf Imam. Penamaan mushaf itu sesuai dengan
apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan: Bersatulah wahai
umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf alQuran pedoman). Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang
selain itu. Umatpun menrima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam
huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh
huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf
itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi
hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan
tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah
menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah
yang terjadi.
Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh
Usman: Ia menyatukan umat islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang
mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang
mempunyai mushaf berlainan dengan mushaf yang disepakati itu membakar
mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa
dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana.
Meka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya.sesuai dengn
permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan
karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan
demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah
tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan
ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf
yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya.tetapi hal itu
bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi
49

kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka
yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.
Apa bila sebagian orang lemah pengetahuan berkata : Bagaimana mereka
boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan
pula membaca dengan cara itu ? maka jawabnya ialah : Sesungguhnya perintah
Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang
menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan
(rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka,
tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajibpula bagi
orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, bertianya harus pasti dan
keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan
hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh
memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan al-Quran dikalangan umat
yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.
Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah
meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yangv tujuh tersebut, yang
menjadi kewajigan bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah
apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut
ternyatasangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu
menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada
melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan
pemeluknya dari pada menyelamatkannya.
4. Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman
Dari teks-teks diatas jelaslah bahwa pengumpulan (mushaf oleh) Abu Bakar
berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya.
Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya al-Quran karena
banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban
dari para qari. Sedang motif Usman dalam mengumpulkan al-Quran ialah karena
banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca al-Quran yang disaksikannnya
sendiri didaerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang
lain.
Pengumpulan al-Quran yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu
tulisan atau catatan al-Quran yang semula bertebaran dikulit-kulit binatang, tulang,
dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat
dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayatayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan
tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika al-Quran itu diturunkan.
Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya
menjadi satu huruf diantar ketujuh huruf itu, untyuk mempersatukan kaum
muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf
lainnya. Ibnut Tin dan yang lain mengatakan: Perbedaan antara pengumpulan Abu
Bakar dan Usmanialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan
oleh kekawatiran akan hilangnya sebagian al-Quran karena kematian para
penghafalnya, sebab ketika itu al-Quran belum terkumpul disatu tempat. Lalu Abu
Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat
dan surahnya. Sesuatu dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka. Sedang
pengumpulam Usman sebabnya banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga
50

mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini
menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan, karena kawatir akan timbul
bencana , Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu dalam
satu mushaf dengan menertibkan surah-surahnya dan membatasinya hanya pada
bahasa quraisy saja dengan alasan bahwa quran diturunkan dengan bahasa mereka
(quraisy). Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa
selain quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini
sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja. Al-Haris
al-Muhasibi mengatakan: Yang masyhur dikalangan orang banyak ialah bahwa
pengumpul al-Quran itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman
hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas
dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir
dihadapannya.serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan
yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu
mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada
tujuh huruf dengan mana al-Quran diturunkan. Sedang yang lebih dahulu
mengumpulkan al-Quran secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq.
Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah
dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi al-Quran dari penambahan dan
penyimpangan sepanjang zaman.
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan
Usman ke berbagai daerah :
a. Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirimkan
ke Mekkah, Syam Basyrah, Kuffah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Ibn Abu
Daud mengatakan: Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani berkata: telah
ditulis tujuh buah mushaf, lalu dikirimkan ke Mekkah, Syam, Basyrah, Kuffah,
Bahrain, Yaman dan sebuah ditahan di Madinah.
b. Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah masing-masing dikirimkan
ke Iraq, Syam,Mesir dan Mushaf Imam, atau dikirimkan ke Kuffah, Basyrah,
Syam dan mushaf Imam berkata Abu Amr ad-Dani dalam al-Muqni.
sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Usman menulis Mushaf, ia
membuatnya sebanyak empat buah salinan dan ia kirimkan kesetiap daerah
masing-masing satu buah: ke Kufah, Basyrah, Syam dan ditinggalkan satu
buah untuk dirinya sendiri.
c. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuti berkata
bahwa pendapat inilah yang masyhur.
Adapun lembaran-lembaran yang dikembalikan kepada Hafsah, tetap
berada ditangannya hingga ia wafat, setelah itu lembaran-lembaran tersebut
dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh
Marwan bin Hakam lalu dibakar.
Mushaf-mushaf yang ditulis oleh Usman itu sekarang hampir tidak
ditemukan sebuah pun juga. Keteranagn yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam
kitabnya Fadhailul al-Quran menyatakan bahwa ia menemukan satu buah
diantaranya di masjid Damsyik di Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran yang menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan diriwayatkannya pula mushaf Syam ini
dibawa ke Inggris setalah beberapa lama berada ditangan kaisar rusia di
perpustakaan Leningrad. Juga dikatakn pula bahwa mushaf itu terbakar dalam
masjid Damsyik pada tahun 1310 H. Pengumpulan al-Quran oleh Usman ini
disebut dengan pengumpulan ketiga yang dilaksanakan pada 25 H.
51

C. Pengumpulan al-Quran melalui Rekaman Suara Bacaan


Yang dimaksud dengan memelihara al-Quran lewat rekaman adalah
pelestarian al-Quran dengan cara merekam dlam pita suara. Sudah diketahui
bersama bahwa terdapat hukum-hukum bacaan (tajwid) yang harus diperhatikan
oleh pembaca al-Quran. Hukum-hukum tersebut seperti al-Qalqalah, ar-raum, alikhfa, al-idgham dan lain-lain. Hal ini bukunlah hal muda karena cukup
menyulistkan dalam penulisan.
Oleh karenanya, para ulama menetapkan bahwa tidak sah berpegang kepada
yang tertulis dalam mushhaf belaka, kan tetapi harus menerima dari orang yang
hafal al-Quran yang dipercaya. Pada ulama mengatakan,bencana terbesar adalah
berguru kepada lembaran-lembaran kasar. (Jamaah, tt:87). Bahkan para ulama
mengatakan: jangan kalian mempelajari al-Quran dari mushhafku, juga jangan mengambil
ilmu dari suhufku. (Asykari, 1383: 10). Karena hanya Dialah yang bisa mengajari
manusia dan melihat kepada rasam mushhaf.
Rasulullah mengutus orang-orang yang ahli membaca al-Quran (qurra)
kepada orang yang baru masuk Islam, untuk mengajarkan bacaan al-Quran serta,
kalau mungkin, menuliskan untuk mereka. Pada masa khalifah sepeninggal beliau,
mereka mengikuti jejaknya dan mereka mengutus ahli-ahli baca al-Quran ke negerinegeri taklukan untuk mengajar warga negaranya membaca al-Quran. Ketika
Usman menyalin mushhaf, beliau mengirim mushhaf-mushhaf ke negeri-negeri
tersebut dengan didampingi oleh seorang ahli baca al-Quran pada masing-masing
mushhaf.
Tidak diragukan lagi, hal ini menunjukkan bahwa betapa hukum-hukum
bacaan tidak mungkin kuat, kecuali lewat penerimaan lisan secara langsung. Untuk
meguatkan hanya bisa lewat media yang merupakan metode para ahli baca alQuran. Sementara pada masa sekarang, media dan alat perekam suara telah
ditemukan dan bacaan bida diulang kembali.
Dalam rangka menyebarkan al-Quran dan mengembangkannya didunia
Islam, terutama ke negara-negara yang kekurangan pakar, alat tersebut bisa dipakai
sebagai media terbaik untuk memelihara dan mempelajari al-Quran.
Orang-orang yang cemburu terhadap Islam dan orang-orang yang antusias
untuk menyebarkannya, telah menyadarinya, kemudian mereka berlomba
memasukkan al-Quran ke dalam kaset (pisa suara) dengan semangat yang sama
sebagaimana ketika mereka mengumpulkan dalam kertas-kertas dalam sebuah
mushhaf.
Pengumpulan tersebut melahirkan organisasi pelestarian al-Quran di Mesir
pada tahun 1379 H atas prakarsa Ustadz Labib as-Said, sekaligus sebagai ketuanya.
Saya merujuk pada riwayat mengenai pengumpulan sebagaimana ditulis oleh ustadz
Labib as-Said dalam sebuah kitabnya al-Jami as-Shauti al-Awwan li al-Quran al-Karim
au al-Mushhaf al-Murattal. Mereka sepakat untuk memberi nama produk mereka
dengan nama al-Mushhaf al-Murattal atau al-Jami as-Shauti.
Adapun kata mushhaf dan mishhaf (dengan dhammah atau kasrah pada huruf
mim), pada dasarnya yang terkenal adalah mushhaf yaitu dari kata ash-ha-fa, yang
berarti kumpulan mushhaf. Secara istilah berarti kumpulan lembaran-lembaran alQuran dengan susunan ayat dan surat dalam bentuk yang telah diterima umat Islam (yang
bersumber) dari Nabi Muhammad SAW.
Al-Murattal berasal dari kata ratlu as-syaghri (tumbuhnya sama bagus dengan
masaknya, dan merekah/membelah). Sedangkan menurut istilah adalah bacaan yang
52

tenang, keluarnya huruf dari makhraj sesuai dengan semestinya yang disertai renungan makna.
Ada yang berpendapat bahwa al-murattal adalah menjaga keluarnya huruf-huruf
(makhraj), mempehatkan waqaf-waqaf (tanda berhenti). At-Tartil adalah tingkatan
tertinggi dalam bacaan, dari empat tingkatan yang ada, yaitu;
a) at-Tahqiq, lebih tenang, lebih lamban, lebih banyak digunakan dalam
pengajaran al-Quran.
b) At-Tartil,bacaan dengan lambat dan tentang.
c) At-Tadwir, bacaan antara tartil dan hadr.
d) Al-Hadr, bacaan cepat, tetapi dengan memperhatikan hukum-hukum bacaan.
Yang dimaksud dengan al-Mushhaf al-Murattal adalah bentuk rekaman yang
memperdengarkan al-Quran dengan peralatannya berupa perangkat rekaman
modern, sejumlah kaset dan piringan hitam.
1. Sebab-sebab Berdirinya
Pemikiran yang mendasari pengumpulan al-Quran dalam bentuk
rekaman suara ini di antaranya:
1) Tuntutan pelestarian al-Quran.
2) Memudahkan memahami al-Quran serta menghafalkannya.
3) Pentingnya mempertahankan al-Quran dalam menghadapi pada pencela
al-Quran, serta dalam menghadapi setiap usaha untuk menyelewengkan alQuran, juga setiap halangan yang diletakan di depan kesatuan pengikutpengikutnya, serta didepan penyebarannya, pembagiannya diantara orangorang Islam. Hal ini bisa ditumbuhkan dalam studio, audio, dan sejenisnya.
4) Menolong Mushhaf al-Ustmanii yang telah mempersatukan umat Islam.
5) Menghindari berbagai penyimpangan terhadap al-Quran.
6) Penyebaran bahasa al-Quran dan memperkokoh persatuan umat Islam.
2. Sejarah al-Mushhaf al-Murattal
Pada suatu sore, tanggal 14 Ramadhan 1378 H di Kairo, di bawah
pimpinan ustadz Labib as-Said, pertemuan pertama organisasi pelestarian alQuran diadakan untuk mengkaji sebuah tema. Dan pada saat itu pulalah
disepakati AD/ART dari organisasi tersebut.
3. Permulaan penerbitan produksi
Produksi pertama menuai banyak kendala, baik materi maupun keilmuan
dan lain sebagainya. Namun berkat pertolongan Allah semuanya bisa dilewati.
Maka produksi pertama dimulai pada tahun 1379 H, pada bulan Dzulqadah,
dan selesai cetakan pertama pada bulan Muharram 1381 H dengan bacaan
syaikh Mahmud Khalil al-Husairi, riwayat Hafsh dan Imam Ashim. Kemudian
pada tahun 1382 H diiringi rekaman bacaan Abu Amir dengan riwayat adDauri.
4. Cara pelaksaan rekaman
Merekam bukanlah sesuatu yang mudah, maka dengan kesempurnaan
sang qari, yang saat itu sebagai syaikh (guru besar) para qari asal Mesir. Panitia
53

sering meminta mengulang-ulang bacaan beliau agar diperoleh hasil rekaman


yang sempurna.
Adapun para qari yang dilibatkan dalam proyek ini antara lain:
a) Syaikh Mahmud Khalil Khusairi, membaca dengan riwayat Hafsh dan
Imam Ashim.
b) Mushthafa al-Mallawani, membaca dengan riwayat Khalaf dari Hamzah.
c) Abdul Fatah al-Qadhi, membaca dengan riwayat Ibnu Wardan dari
Abu Jafar.
d) Fuad al-Arusyi dan Muhammad Shiddiq al-Mansyawi, Kamil Yusuf alBahtami, dengan riwayat ad-Dauri dan Abu Amir.

54

BAB VI
KEMUKJIZATAN AL-QURAN
A. Pendahuluan
Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah
fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit
sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya
sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total
tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat
ilmiyah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya. Saking pelik, unik, rumit
dan keluar biasanya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai macam
sudutnya, yang darinya melahirkan ketakkjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi
yang ingkar.
Namun demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan intelektualitas
manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sedikit
demi sedikit nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh terhadap kesadaran
manusia akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan posisi al-Qur`an
sebagai kalam Allah yang Qudus yang berfungsi sebagai petunjuk dan bukti
terhadap kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Serentetan nilai alQur`an yang unik, pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga dapat menundukkan
manusia dengan segala potensinya itulah yang lazimnya disebut dengan
MUKJIZAT.
B. Pengertian Mukjizat
Kata Mukjizat menurut Quraish Shihab berasal dari bahasa Arab
yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu, sedangkan ta
marbutah pada kata menunjukkan makna mubalaghah (superlative) (M.
Quraish Shihab, 1999: 23). Menurut kamus besar Purwo Darminto adalah
kejadian ajaib/luar bisaa yang sukar dijangkau oleh kemampuan manusia
(Depdikbut, 1989: 596). Sedangkan menurut pakar agama Islam adalah suatu hal
atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang disebut Nabi, sebagai
bukti kenabiannya yang di tantangkan pada yang meragukan, untuk melakukan atau
mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan
tersebut (Quraish Shihab, 1999:23). Manna Khalil al-Qattan menjelaskan bahwa
pengertian Kelemahan secara umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu,
sehingga nampaklah kemampuan dari mujiz(sesuatu yang melemahkan). Dan kata
Ijaz dalam konteks ini adalah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya
sebagai seorang Rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab beserta
generasi-generasi setelahnya untuk menghadapi mujizatnya yang abadi( al-Qur`an)
(Manna Khalil al-Qattan, 1998: 371).
Dari definisi tersebut di atas dapat diturunkan beberapa pengertian
diantaranya: Pertama; kejadian luar bisaa yang sukar dijangkau oleh kemampuan
manusia, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana ke-luar bisaaan mukjizat?
Dan kata sukar pada definissi diatas menimbulkan probability tentang adanya
55

kemungkinan bahwa manusia akan bisa sampai pada maqom sukar tersebut, bila
demikian masihkah disebut mujizat?.
Dalam bukunya yang berjudul Mukjizat Al-Qur`an Quraish Shihab
menjelaskan bahwa kejadian luar bisaa yang dimaksud adalah sesuatu yang berada
diluar jangkauan sebab dan akibat yang terdapat secara umum pada hukum-hukum
alam (sunatullah) yang diketahui oleh manusia (Quraish Shihab, 1999:24). Namun
demikian penulis lebih berpendapat bahwa semua keajaiban yang terjadi di alam
termasuk mukjizat semuanya adalah rasional artinya bahwa sebenarnya akal mampu
menerima kebenaran logis terhadap mukjizat. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat
dalam al-Qur`an yang menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang gaib termasuk
konsekuensi dari pahala dan dosa yang akan diterima oleh manusia besuk di hari
pembalasan tetapi kenyataannya banyak manusia tidak percaya, tepatnya dalam Q.S.
Yunus (10): 39:



Bahkan yang Sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya
dengan Sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah
orang-orang yang sebelum mereka Telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.
Dalam pengertian lain bahwa pengetahuan manusia tentang hukum sebabakibat yang terdapat di alam hanyalah sebagian kecil dari hukum-hukum sebab
akibat yang ada dalam pengetahuan Tuhan. Sebagai contoh adalah untuk
mendapatkan hasil angka 7 bisa melalui 4+3 = 7 (hukum alam yang dapat diketahui
manusia), sedangkan masih banyak sebab-akibat dari hasil angka 7 yang tidak dapat
diketahui manusia karena keterbatasan penginderaan. Misalnya 3+3+1=7,
(22)+3=7, 10-3=7, 100-99+(22)+2=7 dst, yang semua sebab-akibat tersebut
ditunjukkan oleh Tuhan maka manusia akan mampu memahaminya. Oleh karena
itu termasuk kata sukar di atas kurang tepat. Karena yakin bahwa manusia
dibatasi oleh hukum-hukum alam yang melekat pada dirinya. Tetapi seandainya
Allah memberikan penjelasan maka akal akan mampu menerima kebenaran
tersebut, namun kenyataannya Allah tak memberikan penjelasan karena ada tujuantujuan tertentu yang tak mudah kita pahami.
Kedua; melemahkan. Istilah ini juga menggoda pada kita untuk mengkaji
ulang. Diantara pendapat datang kaum Sirfah. Abu Ishaq Ibrahim An-Nizam dan
pengikutnya dari kaum syiah seperti al-Murtadha mengatakan bahwa kemukjizatan
al-Qur`an adalah dengan cara shirfah (pemalingan). Artinya bahwa Allah
memalingkan orang-orang Arab untuk menantang Quran, padahal sebenarnya
mereka mampu, maka pemalingan inilah yang luar bisaa yang selanjutnya pendapat
ini di habisi oleh Qadi Abu bakar al-Baqalani ia berkata: kalau yang luar biasa itu
adalah shirfah maka kalam Allah bukan mukjizat melainkan Shirfah itu sendiri yang
mukjizat dengan berlandasan pada QS. Al-Isra:88. (Manna Khalil al-Qattan,
1998: 375).
Berbeda dengan pendapat kaum sirfah, penulis lebih memandang melalui
kaca mata dilalah siyaqiyah, bahwa makna melemahkan-dilemahkan cenderung
mengarah pada konteks menang dan kalah. Hal inilah yang menurut penulis kurang
56

etis. Dan ternyata kata melemahkan - tidak terdapat dalam alQur`an. kalimat yang digunakan adalah ( tanda-tanda) dan
(penjelasan) yang dari kedua kata tersebut menurut Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA. mempunyai dua pengertian pertama; pengkabaran Ilahi (Q.S. Ali
Imran (3):118, 252: Q.S. (al-Anam (6):4; Q.S. Yunus (10):7 dan Q.S. (al-Baqarah
(2):159; Q.S. Ali Imran (3) :86; Q.S. Yunus (10) :150). Kedua; tanda-bukti yang
termasuk digolongkan mukjizat (Q.S. Ali Imran (3):49; Q.S. al-Araf (7):126; Q.S.alMumin (40):78; Q.S. an-Naml (27):13 dan Q.S. al-Araf (7):105; Q.S. an-Naml
(16):44; Q.S. Thaha (20) :72) (Said Aqil Munawar, 2002: 30). yang menurut penulis
sebenarnya jauh dari makna melemahkan atau bahkan mengalahkan.
Ketiga; dibawa oleh seorang Nabi. Seandainya peristiwa luar bisaa tersebut
terjadi bukan pada nabi meskipun secara fungsi ada kesamaan dengan mukjizat,
bisakah disebut mukjizat?. Dalam buku yang sama Quraish Shihab menjelaskan,
selain yang membawa nabi kejadian luar bisaa tersebut bukan dinamakan mukjizat.
Beliau menambahkan kalau terjadi pada seseorang yang kelak akan menjadi nabi
maka disebut Irhash, adakalanya terjadi pada hamba Allah yang taat yang disebut
karomah, dan apabila terjadi pada hamba yang durhaka disebut Istidroj (rangsangan
untuk lebih durhaka) atau Ihanah (penghinaan) (Quraish Shihab, 1999:24). Semua
peristiwa tersebut adalah merupakan tanda-tanda dan bukti atas kebesaran Allah
agar siapapun yang menyaksikannya baik melalui akal maupun hatinya dapat
beriman kepada Allah.
Keempat; sebagai bukti kerasulan. Kata bukti menyangkut percaya dan
tidak percaya, seandainya seseorang telah percaya pada rasul bahwa Ia adalah utusan
Allah, adakah masih disebut mukjizat?.
Dari definisi mukkjizat, makna bukti atau tanda inilah yang paling utama
bukan lemah dan melemahkan karena tujuan risalah (kerasulan) adalah agar
seseorang mampu memahami dan meyakini bahwa risalah tersebut benar-benar dari
Zat yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Adapaun bagi mereka yang sudah percaya
terhadap kerasulan Nabi beserta apa yang disampaikannya yang berupa wahyu dari
Tuhan maka peristiwa luar bisaa tersebut tetap disebut mukjizat. Sebab dimensi lain
makna mukjizat(ketidak mampuan akal) tetap berlaku pada orang yang sudah
percaya tersebut. Oleh karena itu fungsinya disamping sebagai bukti juga
merupakan penjelasan dan pemantapan terhadap keyakinan seseorang.
Kelima; mengandung tantangan. Memang kebanyakan ulama diantara
misalnya Syahrur juga melihat QS. Al-Isra: 88 mengandung tantangan dan
tantangan tersebut berakhir pada kelemahan mujaz (Syahrur, 2000: 1790, namun
hemat penulis bahwa sebenarnya Allah tidak hendak menantang orang-orang kafir.
Bagaimana bisa Tuhan menantang mahluknya jelas inpossible, karena maksud dan
tujuannya bukan untuk menantang. Dalam ilmu dilaliyah, conten analisis perlu
meneropong gaya penuturan Autor, misalnya kalimat ayo kalau berani ! ( kondisi
marah) mempunyai makna tantangan, sedangkan ayo kalau berani (kodisi
tersenyum) bermakana menguji.
C. Makna Kemujizatan Al-Qur`an
Berdsarkan sifatnya, mukjizat (Al-Qur`an) yang diberikan kepada nabi
Muhammad SAW. sangatlah berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang diberikan
kepada nabi-nabi terdahulu. Jika para nabi sebelumnya bersifat Hissiy-Matrial
57

sedangkan Al-Qur`an bersifat maknawy / immateri. Perbedaan tersebut bertolak


pada dua hal mendasar yaitu pertama, para nabi sebelum Muhammad SAW.
ditugaskan pada masyarakat dan masa tertentu. Oleh karenanya mukjizat tersebut
hanya sementara. Sedangkan Al-Qur`an tidak terbatas pada masyrakat dan masa
tertentu sehingga berlaku sepanjang masa. Kedua, secara historis-sosiologis dalam
pemikirannya manusia mengalami perkembangan. Auguste Comte (1798-1857)
sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab - ia berpendapat bahwa pikiran manusia
dalam perkembangannya mengalami tiga fase. Pertama Fase keagamaan,
dikarenakan keterbatasan pengetahuan manusia ia mengembalikan penafsiran
semua gejala yang terjadi pada kekuatan Tuhan atau dewa yang diciptakan dari
benaknya. Kedua fase metafisika, yaitu manusia berusaha menafsirkan gejala yang
ada dengan mengembalikan pada sumber dasar atau awal kejadiannya. Ketiga fase
ilmiah, dimana manusia dalam menafsirkan gejala atau fenomena berdasarkan
pengamatan secara teliti dan eksperimen sehingga didapatkan hukum-hukum yang
mengatur fenomena tersebut (Quraish Shihab, 1999: 36-37). Posisi Al-Qur`an
sebagai mukjizat adalah pada fase ketiga dimana ditengarahi bahwa potensi pikirrasa manusia sudah luar biasa sehingga bersifat universal dan eternal.
Umumnya mukjizat para rasul berkaitan dengan hal yang dianggap bernilai
tinggi dan sebagai keunggulan oleh masing-masing umatnya pada masa itu.
Misalnya pada zaman nabi Musa lagi ngeternnya tukang sihir, maka mukjizatnya
sebagaimana tertera dalam QS. Al-araf: 103-126, As-Suara: 30-51, dan Thoha: 5773. pada nabi Isa adalah zaman perdukunan / tabib maka mukjizatnya adalah
seperti pada QS. Ali Imran: 49 dan Al-Maidah: 110. Dan pada zaman Muhammad
lagi marak-maraknya sastra sehingga mukjizat yang mach adalah Al-Qur`an (Said
Aqil Munawar, 2002: 31). Dari sinilah sebagian ulama berpendapat bahwa
kemukjizatan Al-Qur`an yang utama saat itu adalah kebahasaan dan kesastraannya
di samping isi yang terkandung di dalamnya.
D. Kemukjizatan Al-Qur`an dari Aspek Basaha dan Sastra
Dari segi kebahasaan dan kesastraannya Al-Qur`an mempunyai gaya bahasa
yang khas yang sangat berbeda dengan bahasa masyarakat Arab, baik dari
pemilihan huruf dan kalimat yang keduanya mempunyai makna yang dalam. Usman
bin Jinni (932-1002) seorang pakar bahasa Arab -sebagaimana dituturkan Quraish
Shihab- mengatakan bahwa pemilihan kosa kata dalam bahasa Arab bukanlah suatu
kebetulan melainkan mempunyai nilai falsafah bahasa yang tinggi (Quraish Shihab,
1999:90). Kalimat-kalimat dalam Al-Qur`an mampu mengeluarkan sesuatu yang
abstrak kepada fenomena yang konkrit sehingga dapat dirasakan ruh dinamikanya,
termasuk menundukkan seluruh kata dalam suatu bahasa untuk setiap makna dan
imajinasi yang digambarkannya. Kehalusan bahasa dan uslub Al-Qur`an yang
menakjubkan terlihat dari balgoh dan fasohahnya, baik yang konkrit maupun
abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna yang dituju sehingga
dapat komunikatif antara Autor(Allah) dan penikmat (umat) (Said Aqil Mnawar,
2002: 33-34).
Kajian mengenai Style Al-Qur`an, Shihabuddin menjelaskan dalam bukunya
Stilistika Al-Qur`an, bahwa pemilihan huruf dalam Al-Qur`an dan
penggabungannya antara konsonan dan vocal sangat serasi sehingga memudahkan
dalam pengucapannya. Lebih lanjut dengan mengutip Az-Zarqoni- keserasian
tersebut adalah tata bunyi harakah, sukun, mad dan ghunnah (nasal). Dari paduan ini
58

bacaan Al-Qur`an akan menyerupai suatu alunan musik atau irama lagu yang
mengagumkan. Perpindahan dari satu nada ke nada yang lain sangat bervariasi
sehingga warna musik yang ditimbulkanpun beragam. Keserasian akhir ayat
melebihi keindahan puisi, hal ini dikarenakan Al-Qur`an mempunyai purwakanti
beragam sehingga tidak menjemukan. Misalnya dalam surat Al-Kahfi(18: 9-16) yang
diakhiri vocal a dan diiringi konsonan yang berfariasi, sehingga tak aneh kalau
mereka (masyarakat Arab) terenyuh dan mengira Muhammad berpuisi. Namun
Walid Al-mughiroh membantah karena berbeda dengan kaidah-kaidah puisi yang
ada, lalu ia mengira ucapan Muhammad adalah sihir karena mirip dengan
keindahan bunyi sihir (mantra) yang prosais dan puitis. Sebagaimana pula
dilontarkan oleh Montgomery Watt dalam bukunya bells Introduction to the Qoran
bahwa style Quran adalah Soothsayer Utterance (mantera tukang tenung), karena gaya
itu sangat tipis dengan ganyanya tukang tenung, penyair dan orang gila
(Shihabuddin Qalyubi, 1997: 39-41). Terkait dengan nada dan lagam bahasa ini,
Quraish Shihab mengutip pendapat Marmaduke -cendikiawan Inggris- ia
mengatakan bahwa Al-Qur`an mempunyai simponi yang tidak ada taranya dimana
setiap nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita.
Misalnya dalam surat An-Naaziat ayat 1-5. Kemudian dilanjutkan dengan lagam
yang berbeda ayat 6-14, yang ternyata perpaduan lagam ini dapat mempengaruhi
psikologis seseorang (Quraish Shihab, 1999: 197).
Selain efek fonologi terhadap irama, juga penempatan huruf-huruf AlQur`an tersebut menimbulkan efek fonologi terhadap makna, contohnya
sebagaimana dikutip Shihabuddin Qulyubi dalam bukunya Najlah Lughah AlQur`an al-karim fi Juz amma, bunyi yang didominasi oleh jenis konsonan frikatif
(huruf sin) memberi kesan bisikan para pelaku kejahatan dan tipuan, demikian pula
pengulangan dan bacaan cepat huruf ra pada QS. An-Naaziat menggambarkan
getaran bumi dan langit. Contoh lain dalam surat Al-haqqah dan Al-Qariah
terkesan lambat tapi kuat, karena ayat ini mengandung makna pelajaran dan
peringatan tentang hari kiyamat (Shihabuddin Qalyubi, 1997: 45-46).
Dari pemilihan kata dan kalimat misalnya, Al-Qur`an mempunyai sinonim
dan homonym yang sangat beragam. contohnya kata yang berkaitan dengan
perasaan cinta. diungkapkan saat bertatap pandang atau mendengar kabar
yang menyenangkan, kemudian jika sudah ada perasaan untuk bertemu dan
mendekat menggunakan , seterusnya bila sudah ada keinginan untuk
menguasai dan memiliki dengan ungkapan , tingkat berikutnya ,
dilanjutkan dengan , lalu , terus , dan bila sudah
muncul pengorbanan meskipun membahayakan diri sendiri namanya ,
bila kadar cinta telah memenuhi ruang hidupnya dan tidak ada yang lain maka
menjadi
, yang semua itu bila berujung pada tarap tidak mampu
mengendalikan diri, membedakan sesuatu maka disebut ( Quraish Shihab,
1999: 97) yang semua kata-kata tersebut mempunyai porsi dan efek makna masingmasing. Meminjam bahasanya Sihabuddin disebut lafal-lafal yang tepat makna
artinya pemilihan lafal-lafal tersebut sesuai dengan konteksnya masing-masing.
Misalanya, dalam menggambarkan kondisi yang tua renta (Zakaria) dalam QS.
Maryam: 3-6, Wahanal Azmu minni bukan Wahanal lahmu minni. Juga
Wasytaalar-rasu syaiba (uban itu telah memenuhi kepala) bukan Wasytaalassyaibu fi rasi (uban itu ada di kepala) (Shihabuddin Qalyubi, 1997: 54).

59

Masih dalam konteks redaksi bahasa Al-Qur`an berlaku pula


deviasi(penyimpangan untuk memperoleh efek lain) misalnya dalam QS. AsySuara, ayat 78-82. Pada ayat 78, 79 dimulai dengan lafal allazi, pada ayat 80 dimulai
waidza, namun pada ayat 81, 82 kembali dengan allazi, dan fail pada ayat
78,79,81,82 adalah Allah, sedang pada ayat 80 faiilnya orang pertama (saya) tentu
kalau diatofkan pada ayat 78,79,81,82 maka terjadi deviasi pemanfaatan pronomina
hua () . Lafal yahdiin, yumiitunii wa yasqiin dan yasfiin tanpa didahului promnomina
tersebut. Pengaruh dan efek deviasi yang ditimbulkan adalah munculnya variasi
struktur kalimat sehingga kalimat-kalimat tersebut tersa baru dan tidak
menjemukan (Ibid.).
Selain itu keseimbangan redaksi Al-Qur`an telah membuat takjub para
pemerhati bahasa, baik keseimbangan dalam jumlah bilangan kata dengan
antonimnya, jumlah bilangan kata dengan sinonimnya, jumlah kata dengan
penyebabnya, jumlah kata dengan akibatnya, maupun keseimbangan-keseimbangan
yang lain(khusus). Misalnya dan masing-masing sebanyak
145 kali.
dan
sebanyak 50 kali dan seterusnya. Kata dan
sinonimnya misalnya, dan sebanyak 14 kali, dan

sebanyak 49 kali dan lain sebagainya. Kata dengan penyebabnya


misalnya, ( tawanan) dan sebanyak 6 kali, dan
sebanyak 60 kali dan lain-lainnya. Kata dan akibatnya contohnya,
dan
sebanyak 32 kali,
dan
sebanyak 73 kali (Quraish Shihab, 1999:141-142). Secara umum Said Aqil
merangkum keistimewaan Al-Qur`an sebagai berikut:
1. Kelembutan Al-Qur`an secara lafziyah yang terdapat dalam susunan suara
dan keindahan bahasa.
2. Keserasian Al-Qur`an baik untuk orang awam maupun cendekiawan.
3. Sesuai dengan akal dan perasaan, yakni Al-Qur`an memberi doktrin pada
akal dan hati, serta merangkum kebenaran serta keindahan sekaligus.
4. Keindahan sajian serta susunannya, seolah-olah suatu bingkai yang dapat
memukau akal dan memusatkan tanggapan dan perhatian.
5. Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam
bentuknya.
6. Mencakup dan memenuhi persyaratan global (ijmali) dan terperinci (tafsily).
7. Dapat memahami dengan melihat yang tersurat dan tersirat (Said Aqil
Munawar, 2002: 35).
Semua data-data yang penulis paparkan, hanyalah sekelumit kandungan
kemukjizatan dari sisi kebahasaan dan tentunya masih banyak hal terkait dengan
kontek ini yang tak mungkin penulis bahas. Singkat kata bahwa ditinjau dari
kebahasaan Al-Qur`an mempunyai kandungan makna luar bisa baik pemilihan kata,
kalimat dan hubungan antar keduanya, efek fonologi terhadap nada dan irama yang
sangat berpengaruh terhadap jiwa penikmatanya atau efek fonologi terhadap makna
yang ditimbulkan serta deviasi kalimat yang sarat makna. Sehingga tak heran bila
Al-Qur`an menempatkan dirinya sebagai seambrek simbul yang sangat komunikatif
lagi fenomenal. Eksistensinya yang sedemikian luarbisa, membuat bangsa Arab
khususnya saat itu bertekuk lutut dan tak mampu berbuat apa-apa.
E. Kemukjizatan Al-Qur`an dari aspek Isyarat Ilmiyah
Selain keistimewaan pada kebahasaan, Al-Qur`an juga mempunyai isyaratisyarat ilmiyah yang sebagian ulama menganggap sebagai bentuk kemukjizatan Al60

Qur`an. Diantara isyarat-isyarat itu adalah bagaimana Al-Qur`an berbicara tentang


reproduksi manusia. Setidaknya ada beberapa ayat yang menjelaskan proses
kejadian manusia yang berasal dari Nutfah (air mani), yaitu surat Al-Qiyamah
(75):36 -39):



Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung
jawaban)?. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),.
Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan daripadanya
sepasang: laki-laki dan perempuan.
Surat An-. Najm (53): 45-46):


Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. Dari air
mani, apabila dipancarkan
Surat Al-Waqiah (56): 58-59)


Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang
menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?
Ayat-ayat di atas pada zaman modern sesuai dengan penemuan para ahli
genetika bahwa air mani yang menyembur dari laki-laki mengandung 200.000.000
lebih sel sperma yang salah satu darinya akan menembus rahim dan membuahi
ovum. Dalam konsep tersebut bahwa sel sperma mempunyai kromosum yang
dilambangkan hurup XY, sedangkan perempuan XX. Apabila sel sperma yang
berkromosum X lebih dominan maka akan lahir perempuan sedang apabila yang
lebih dominan Y maka akan lahir laki-laki. Barang kali inilah penjelasan sementara
tentang informasi ayat ke 39 surat Al-Qiyamah. Kemudian setelah ovum terbuahi
akan menjadi zigot atau yang dalam ayat ke 38 disebut Alaqoh (Quraish Shihab,
1999:166-170).
Selain itu, Al-Qur`an juga mengisyaratkan tentang kejadian alam semesta,
bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan seperti digambarkan
dalam QS. Al-Anbiya`(21): 30.



Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya.

61

dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?
Pada tahun 1929 Edwin P. Hubbel (1889-1953) mengadakan observasi
yang menunujukkan adanya pemuaian alam semesta. Hal ini sesuai dengan QS.
Azdariyat ayat 57 bahwa alam semesta berekspansi bukan statis sebagaimana
diduga Enstin. Ekspansi itu melahirkan sekitar seratur milyar galaksi yang masingmasing mempunyai 100 milyar bintang. Pada awalnya semua benda-benda langit
tersebut merupakan gumpalan gas padat terdiri dari proton dan neutron yang
mempunyai kisaran secara teratur, dan pada derajat temperature tertentu gumpalan
tersebut meledak yang proses ini lazimnya disebut Big Bang (Quraish Shihab,
1999:171-172).
Diantara isyarat ilmiyah lain adalah gunung. Secara eksplisit kata gunung
dalam Al-Qur`an disebutkan sebanyak 39 kali dan secara implisit terdapat 10 kali.
Dari 49 ayat tersebut 22 diantaranya menggambarkan gunung sebagai pasak atau
pancang bumi. Misalnya dalam surat An Naba` (78) :7


Dan gunung-gunung sebagai pasak.
Begitu juga dalam QS. 13:3, 15:19, 16:15, 21:31, 27:61, 31:10, 50:7, 77:27
dan 79:32. Fakta-fakta mengenai gunung, baru tersingkap oleh para pakar pada
akhir tahun 1960-an, bahwa gunung mempunyai akar, dan peranannya dalam
menghentikan gerakan menyentak horizontal lithosfer, baru dapat difahami dalam
kerja teori lempengan tektonik(plate tetonics). Hal ini dapat dimengerti karena akar
gunung mencapai 15 kali ketinggian di permukaan bumi sehingga mampu menjadi
stabilisator terhadap goncangan dan getaran (Zaghul Raghib Muhammad Al Najar,
1999: 122).
Lebih lanjut Airy (1855) mengatakan bahwa lapisan di bawah gunung
bukanlah lapisan yang kaku melainkan gunung itu mengapung pada lautan
bebatuan yang lebih rapat. Namun demikian massa gunung yang besar tersebut
diimbangi defisiensi massa dalam bebatuan sekelilingnya di bawah gunung dalam
bentuk akar. Akar gunung memberikan topangan buoyancy serupa dengan semua
benda yang mengapung. Ia menggambarkan kerak bumi yang berada di atas lava
dapat dibandingkan dengan kenyataan sehari-hari yaitu seperti rakit kayu yang
mengapung di atas air, dimana permukaan rakit yang mengapung lebih tinggi dari
permukaan lainnya juga mempunyai permukaan yang lebih dalam. Dengan
demikian permukaan bumi tetap dalam Equilibrium Isostasis, artinya bawa
permukaan bumi berada dalam titik keseimbangan akibat perbedaan antara Volume
dan daya grafitasi (Zaghul Raghib Muhammad Al Najar, 1999: 180).
Masih banyak lagi isyarat-isyarat ilmiyah yang disinggung Al-Qur`an
misalnya tentang kejadian awan, sistem kehidupan lebah, tumbuhan-tumbuhan
yang berklorofil dan seterusnya, yang semua itu merangsang terhadap adanya
pembuktian-pembuktian secara empiris dan rasionalis. Dan semakin bukti-bukti itu
terkuak semakin nyatalah kebenaran Al-Qur`an bahwa ia bukan buatan
Muhammad. Bagaimana mungkin seorang Muhammad yang 14 abad silam tak
mengenal pendidikan tidak bisa baca-tulis mampu menjelaskan hal itu semua.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana posisi kebenaran ilmiyah terhadap
isyarat-isyarat ilmiyah Al-Qur`an?. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa Al62

Qur`an bukanlah buku kumpulan teori ilmiyah, ia lebih merupakan suatu petunjuk
untuk menuju pada tujuan yang benar. Apabila kita menganalisa sedikit ayat-ayat
diatas bahwa Al-Qur`an tidak hanya berhenti pada isyarat ilmiyah tetapi lebih pada
bagaimana setelah manusia itu memahami dan mengerti terhadap isyarat-isyarat
ilmiyah tersebut. Adapun ke-ilmiyah-an Al-Qur`an hanya sebatas juklak agar
tujuan-tujuan Tuhan lebih komunikatif dan efektif. Sehingga ada perbedaan
mendasar atas ke-ilmiyah-an Al-Qur`an dan ke-ilmiyah-an dalam pengetahuan
manusia. Sehingga dapat di analogkan ke-ilmiyah-an Al-Qur`an adalah peta dan
ke-ilmiyah-an manusia adalah proses penelusuran jejak-jejak tersebut, oleh
karenanya hanya bersifat justifikasi andaikata benar. Sebab sevalid apapun keilmiyah-an manusia ia tetap tunduk pada hukum-hukum dan teori-teori keprobabilitas-an manusia yang notabene bersifat serba terbatas.
F. Kemukjizatan al-Qur`an dari Aspek Kisah-kisah Purba
Diantara hal yang menarik dari Al-Qur`an adalah bahwa Al-Qur`an
memuat beberapa cerita kaum-kaum terdahulu, hingga jauh ke hulu sejarah
peradaban umat manusia yang tak mungkin buku sejarah manapun mampu
mengcover secara akurat. Memang Al-Qur`an tidak memaparkan secara
kronologis-histories, karena memang Al-Qur`an bukanlah buku sejarah. Al-Qur`an
menggunakan sejarah purba tersebut hanya sebagai icon terhadap sebuah
fenomena tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Sehingga starting pointnya
dalam memahami kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur`an bukan dari dimensi
histories ansih, melainkan dari dimensi agama kisah merupaka metode Tuhan
dalam rangka menyampaikan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Bahkan Al-Qur`an juga memberi informasi terhadap kejadian-kejadian yang
bakal terjadi, misalnya kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia pada masa
sekitar sembilan tahun sebelum peristiwa tersebut terjadi. Juga cerita tentang
datangnya seekor binatang yang dapat bercakap-cakap menjelang hari kiyamat,
yang terdapat dalam surat An-Naml (27): 82. (Quraish Shihab, 1999:194).



Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang
melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia
dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Manna Kholil Khattan menyebutkan macam-macam kisah yang terdapat di
Al-Qur`an. Pertama, kisah-kisah para Nabi dan segala hal yang menyangkut
perjuangannya. Seperti Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, Muhammad
SAW. dan seterusnya. Kedua, kisah-kisah yang berhubungan dengan masa lulu dan
orang-orang yang belum bias dipastikan kenabiaanya. Misalnya kisah beribu-ribu
orang yang pergi dari kampungnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua
orang putra Adam, Ashaabul kahfi, Zulkarnain, ashaabul Sabt, Karun dan lainlainnya. Ketiga, kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada Nabi

63

Muhammad SAW. seperti perang badar, prang uhud, perang Hunain, perang
Ahzab, tentang Isra` dan Miraj dan lain-lain (Manna Khalil al-Qattan, 1998:436).
Sementra diantara kritikus baik dari orientalis maupun oksidentalis ada yang
meragukan. Salah satunya seperti yang dikutip MannaKholil Khattan, bahwa salah
satu kandidat doctor di Mesir mengajukan judul Al Fannul Qasasiy fil Qur`an, yang
intinya dalam disertasi tersebut menyatakan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur`an
merupakan karya seni yang tunduk kepada daya cipta dan kreatifitas kaidah-kaidah
seni, tanpa harus memegangi sisi kebenaran sejarah. Dari pernyataan ini jelas sekali
bahwa ia meragukan kebenaran terhadap kisah-kisah dalam Al-Qur`an (Manna
Khalil al-Qattan, 1998:438-439).
Dalam Al-Qur`an surat Al-Hadid(57):26 disebutkan:



Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan kami jadikan kepada
keturunan keduanya kenabian dan Al kitab, Maka di antara mereka ada yang
menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik.
Barang kali kita merasa tertohok jika ada orang bertanya kapan dan dimana
Nabi Nuh itu hidup adakah bukti-bukti secara empiris terhadap hal itu?. Untuk
menelusuri pertanyaan ini kita dapat murujuk pada tradisi Islam yaitu Al-Qur`anhadis dan sebagainya, tradisi Semitis yang meliputi injil, data arkeologis dan
antropologis.
Al-Qur`an surat 11:44, mengisahkan bahwa perahu Nabi Nuh terdampar
di gunung Judy. Maulana Yusuf menafsirkan, gunung Judy terletak di daerah yang
meliputi distrik Bohran di Turki; yaitu dekat perbatasan Turki sekarang dan Irak
dan Syiria. Yakni pegunungan besar Plateau Ararat yang mendomonasi distrik ini.
Dalam teradisi Islam dari Imam Abu al-Fida Al-Tadmuri (Mattewhs 1949)
dapat disimpulkan bahwa sejarah Nabi Nuh AS mulai sekitar 6000 tahun yang lalu
atau 4000 SM. Sementara daerah sekitar seperti ayat di atas di huni oleh penduduk
lembah Trigis Hulu atau keturunan mereka. Di samping itu pertemuan tadisi Islam
dan Injil menguatkan hal tersebut. Menurut Al-Tadmuri nabi Nuh mempunyai tiga
putra yaitu Sam, Ham dan Yafat. Menurut tradisi Injil dan Yahudi putra Nabi Nuh
adalah Shem, Ham dan Japhet. Sementara Kanaan masih polemic ada yang
mengatakan termasuk putranya atau cucunya dari Ham, yang jelas masih keluarga
Nabi Nuh (Zaghul Raghib Muhammad Al Najar, 1999: 67-68)
Para sarjan Yahudi percaya bahwa Sam adalah cikal-bakal kelompok ras
yang umumnya sekarang disebut Timur Tengah. Ham dianggap sebagai nenek
moyang oaring yang tinggal di Afrika Utara sedangkan kanaan sebagai asal-usul
Canaanites yaitu Hittites, Amorites, Jebusites, Hivites, Girghasites dan Perrizites.
Dan Yafat dianggap sebagai bapak dari bangsa yang mendiami daerah utara dan
barat Palestina.
Keterangan yang mirip di tuturkan oleh Al-Tadmuri dalam bukunya Muthir
Al-Gharam Fi Fadl Zuyarat Al-Khalili dengan mengutip riwayat At-Thalabi bahwa
Sam adalah bapak dari orang Arab, Parsi dan Yunani, Ham adalah bapaknya orang
64

Negro dan Yafat adalah bapaknya orang Turki, Barbar dan Yajuj dan Majuj
(Zaghul Raghib Muhammad Al Najar, 1999: 68-69).
Dari perkawinan tradisi di atas nampak formasi kehidupan Nabi Nuh
sekaligus mempertegas terhadap kisah yang ada dalam Al-Qur`an bukanlah
mengada-ada. Meskipun dari sudut latar, setting, plot dan alur tidak jelas. Karena
Al-Qur`an tidak hendak me-narasi-kan suatu peristiwa dengan pendekatan sastra.
Dan menurut penulis eksistensinya Al-Qur`an sebagai satu kesatuan yang tak dapat
dipisahkan -terkait dengan masalah kisah-kisah ini- maka bila satu kisah sudah
dapat dibuktikan secara empiris maka ini sekaligus membuktikan bahwa seluruh
kisah dalam Al-Qur`an adalah benar dan non fiktif adanya.
G. Kemukjizatan al-Qur`an dari Aspek Tasyri (hukum)
Tidak kalah menakjubkan lagi ketika Al-Qur`an berbicara tentang
hukum(tasyri) baik yang bersifat individu, sosial(pidana, perdata, ekonomi serta
politik) dan ibadah. Sepanjang sejarah peradaban umat, manusia selalu berusaha
membuat hukum-hukum yang mengatur sekaligus sebagai landasan hidup mereka
dalam kehidupan mereka. Namun demikian hukum-hukum tersebut selalu
direkonstruksi diamandement bahkan dihapuskan sesuai dengan tingkat kemajuan
intelekstualitas dan kebutuhan dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Perkara ini tak berlaku pada Al-Qur`an. Hukum-hukum Al-Qur`an selalu
kontekstual berlaku sepanjang hayat, dimanapun dan kapanpun karena Al-Qur`an
datang dari Zat yang Maha Adil lagi Bijaksana.
Dalam menetapkan hukum Al-Qur`an menggunakan cara-cara sebgai
berikut; pertama, secara mujmal. Cara ini digunakan dalam banyak urusan ibadah
yaitu dengan menerangkan pokok-pokok hukum saja. Demikian pula tentang
muamalat badaniyah Al-Qur`an hanya mengungkapkan kaidah-kaidah secara
kuliyah.sedangkang perinciannya diserahkan pada As-Sunah dan ijtihad para
mujtahid. Kedua, hukum yang agak jelas dan terperinci. Misalnya hukum jihad,
undang-undang peranghubungan umat Islam dengan umat lain, hukum tawanan
dan rampasan perang. Seperti QS. At-Taubah 9:41. Ketiga, jelas dan terpeinci.
Diantara hukum-hukum ini adalah masalah hutang-piutang QS. Al-Baqarah,2:282.
Tentang makanan yang halal dan haram, QS. An-Nis` 4:29. Tentang sumpah, QS.
An-Nahl 16:94. Tentang perintah memelihara kehormatan wanita, diantara QS. AlAhzab 33:59. dan perkawinan QS. An-Nisa` 4:22. (Said Aqil Munawar, 2002: 49-52)
Yang menarik diantara hukum-hukum tersebut adalah bagaimana Tuhan
memformat setiap hukum atas dasar keadilan dan keseimbangan baik untuk
jasmani dan rohani, individu maupun sosial sekaligus ketuhanan. Misalnya shalat
yang hukumnya wajib bagi setiap muslim yang sudah aqil-balig dan tidak boleh
ditinggalkan atau diganti dengan apapun. Dari segi gerakan banyak penelitian yang
ternyata gerakan shalat sangat mempengaruhi saraf manusia, yang intinya kalau
shalat dilakukan dengan benar dan khusuk (konsentrasi) maka dapat menetralisir
dari segala penyakit yang terkait dengan saraf, kelumpuhan misalnya. Juga shalat
yang kusuk merupakan bentuk meditasi yang luar biasa, sehingga apabila seseorang
melakukan dengan baik maka jiwanya akan selamat dari goncangan-goncangan
yang mengakibatbatkan sters hingga gila.
Dalam konteks sosial shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar
seperti dalam QS. Al-Ankabut (29): 45.
65



Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan
Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji
dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
yang kedua perbuatan tersebut merupakan biang kerok penyakit sosial. Semua
bentuk kejahatan sosial seperti politik kotor, korupsi, kriminalitas pelecehan seksual
yang semua itu disebabkan oleh nafsu (potensi) syaitoniyah dan shalat adalah obat
mujarab untuk itu.
Contoh lain misalnya Al-Qur`an Ali Imran (3);159 yang menanamkan
sistem hukum sosial dengan berdasar pada azaz musyawarah.




Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap
mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Ayat diatas menganjurkan untuk menyelesaikan semua problem sosial
dengan azaz musyawarah agar dapat memenuhi keadilan bersama dan tidak ada
yang dirugikan. Nilai yang dapat diambil adalah bagaimana manusia harus mampu
bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya, karena hasil keputusan
dengan musyawarah adalah keputusan bersama. Dengan demikian keutuhan
masyarakat tetap terjaga. Ayat selanjutnya apabila sudah sepakat dan saling
bertanggung jawab maka bertawakkal kepada Allah. Hal ini mengindikasikan harus
adanya kekuasaan mutlak yang menjadi sentral semua hukum dan sistem tata nilai
manusia.
Demikianlah karakteristik sekaligus rahasia hukum-hukum Tuhan yang
selalu menjaga keadilan dan keseimbangan baik individu, sosial dan ketuhanan yang
tak mungkin manusia mampu menciptakan hukum secara kooperatif dan holistic.
Oleh karena itu tak salah bila seorang Rasyid Rida -sebagaimana dikutip oleh
Quraish Shihab- mengatakan dalam Al-Manarnya bahwa petunujuk Al-Qur`an
dalam bidang akidah, metafisika, ahlak, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan
agama, sosial, politik dan ekonomi merupakan pengetahuan yang sangat tinggi
66

nilainya. Dan jarang sekali yang dapat mencapai puncak dalam bidang-bidang
tersebut kecuali mereka yang memusatkan diri secara penuh danmempelajarinya
bertahun-tahun. Padahal sebagaimana maklum Muhammd sang pembawa hukum
tersebut adalah seorang Ummy dan hidup pada kondisi dimana ilmu pengetahuan
pada masa kegelapan.

67

BAB VII
METODE TAFSIR AL-QURAN
A. Pendahuluan
Al-Quran adalah kitabullah yang di dalamnya termuat dasar-dasar ajaran
Islam. Al-Quran menerangkan segala perintah dan larangan, yang halal da haram,
baik dan buruk, dsb. Seluruh yang termaktub dalam al-Quran itu hakikatnya ajaran
yang harus dipegang umat Islam. Ia memberikan petunjuk dan pedoman hidup
untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat dalam bentuk ajaran akidah,
akhlak, ibadah, sejarah, dan sebagainya.
Untuk mengungkap hal tersebut, tidaklah memadai bila seseorang yang
mampu membacanya saja. Lebih dari itu diperlukan kemampuan memahami dan
mengungkap isi serta mengetahui prinsip-prinsip yang dikandungnya. Kemampuan
seperti inilah yang diberikan tafsir. Dikatakan tafsir karena untuk membuka gudang
simpanan yang tertimbun dalam al-Quran. Menafsirkan berarti berupaya untuk
menjelaskan maksud dan kandungan al-Quran.
Penafsiran terhadap al-Quran tumbuh dan berkembang sejak masa awal
petumbuhan dan perkembangan Islam. Hal ini disebabkan oleh kenyataan adanya
ayat-ayat tertentu yang maksud dan kandungannya tidak bisa dipahami sendiri oleh
para sahabat, kecuali harus merujuk pada Rasulullah SAW. Hanya saja kebutuhan
terhadap penafsiran al-Quran pada masa itu tidak sebenar pada masa-masa
berikutnya.
Sejalan dengan kebutuhan umat manusia untuk mengetahui seluruh segi
kandungan al-Quran, maka tafsir al-Quran terus berkembang baik pada masa
ulama khalaf maupun salaf sampai sekarang. Pada tahapan-tahapan
perkembangannya itu sendiri terlihat adanya karakteristik yang berbeda-beda. Pada
ulama telah melakukan klasifikasi, menyangkut metode yang dipakai oleh mufassir
dalam menafsirkan al-Quran menjadi empat metode:
5. Metode Tahlili
6. Metode Ijmali
7. Metode Muqaran
8. Metode Maudhui
B. Pengertian Metode Tafsir
Sebelum dibicarakan tentang metode tafsir ada baiknya kita memahami dulu
apa yang dimaksud dengan tafsir. Dalam Bahasa Arab kata tafsir berasal dari kata alfasr
yang berarti penjelasan atau keterangan, yaitu menerangkan dan
mengungkapkan sesuatu yang belum jelas (az-Zarqani, tth: 3). Sedangkan menurut
istilah, para ulama berbeda pendapat dalam mengemukakan definisinya. Sebagian
ulama menyatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang menerangkan tentang nuzul
(turunnya) ayat-ayat, hal ihwalnya, kisah-kisahnya, sebab-sebab yang terjadi dalam
nuzulnya, tertib makiyah dan madaniyahnya, muhkam dan mutasyabihnya, halal dan
haramnya, waad dan waid nya, nasikh dan mansukhnya, khas dan ammnya, mutlaq
dan muqayyad nya, perintah dan larangannya, ungkapan dan tamsilnya, dan
sebagainya (Basuni, 1977:2).
Adakalanya kata tafsir disamakan dengan tawil yang berakar kata al-aulu yang
artinya kembali. Dalam hal ini orang yang menafsirkan al-Quran menguraikannya
sedemikian rupa berdasarkan pokok pengertian yang terkandung di didalam ayat itu
68

sendiri. Ada juga yang mengatakan kata tawil berakar kata dari iyalah yang berarti
pengendalian. Jadi orang yang memberikan tawil seolah-olah mengendalikan
ucapannya dan meletakkan makna menurut yang semestinya (asy-Syirbani, 6).
Adakalanya tafsir disebut dengan hikmah. Orang yang mengatakan sama
antara tafsir dengan hikmah mendasarkan dalilnya pada penafsiran Ibn Abbas
untuk Q.S. al-Baqarah (2): 169: Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Beliau mengatakan bahwa hikmah dalam hal ini bermakna
pengetahuan tentang al-Quran; baik nasikh dan mansukhnya, muhkamat dan
mutasyabihatnya, ayat yang didahulukan dan mana yang kemudian, ayat-ayat yang
mengaharamkan dan yang menghalalkan sesuatu dan sebagainya. Dalam sebuah
riwayat dari Ibn Abbas dikatakan juga bahwa makna hikmah dalam ayat tersebut
adalah tafsirnya, karena al-Quran dapat dibaca oleh orang yang shalih atau durhaka
(Ibid. 8).
Terdapat banyak pengertian yang terlingkup dalam kata tafsir atau kata-kata
lain yang menjadi padanannya. Namun secara umum diterima bahwa yang
dimaksud dengan kata itu adalah usaha untuk memperjelas makna teks al-Quran.
Juga termasuk dalam pengertiannya adaah usaha untuk mengadaptasi teks al-Quran
ke dalam situasi kontemporer seorang mufasir. Dengan demikian, di samping untuk
memenuhi kebutusan teoritis untuk memahami pesan-pesan al-Quran, tafsir juga
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan praktis yang besar untuk mendapatkan
petunjuk kitab suci yang akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (Ulumul
Quran, Vol II, 1990:14).
Tidak diragukan lagi ada bermacam-macam jenis tafsir dan mazhab yang
berbeda-beda yang terbentuk atas dasar masing-masing tafsir tersebut. Pada
umumnya mereka berbedadalam pendekatan dan penekanan aspek. Ada jenis tafsir
yang menekanan pada aspek filologis dan harfiyah dan naskah al-Quran. Jenis
lainnya memusatkan perhatian pada arti dan kandungannya, dan inilah yang
diberikan metode tafsir. Jelasnya metode tafsir adalah cara seorang mufasir
memberikan tafsirannya. Apakah ia menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, alQuran dengan Hadits Nabi, al-Quran dengan riwayat sahabat, al-Quran dengan
israiliyat atau al-Quran dengan pikirannya. Teknik penafsiran lebih menekankan
pada prosedur penafsiran yang dilalui.
C. Sejarah dan Perkembangan Tafsir
1. Tafsr Masa Nabi Muhammad dan Sahabat
Pada masa Nabi, al-Qurn tersebar di kalangan sahabat dalam bentuk lisan.
Namun demikian, sebahagian mereka menghapal di luar kepala dan sebahagian
yang lain menulis di kulit, batu tipis, daun, tembikar dan lain-lain (al-Qurtubi,
1996:37).[Setelah banyak penghafal al-Qurn meninggal dalam perang Yamamah
(kira-kira 700 orang) pada zaman Abu Bakar al-Siddq, Umar ibn Khattb meminta
Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qurn (Ibid.43-49). Namun demikian, seluruh
kandungannya sebenarnya telah disalin pada masa Nabi, tetapi tidak dikumpulkan
dalam satu kesatuan dan oleh kerana itu pelbagai catatan atau dokumen belum
disusun secara berurutan (as-Suyuthi, 1979:41).
Sebagai penerima wahyu, Nabi memahami al-Qurn secara global dan
terperinci setelah Allah memberi kekuatan hapalan dan penjelasan pada Nabi (Q.S.
al-Qiyamah: 17-19). Sebagaimana hal yang sama juga diterima oleh Sahabat melalui
69

Nabi berkaitan dengan pemahaman global yang berkaitan dengan hukum-hukum


dan terperinci berkaitan dengan hal-hal yang bersifat batiniah. Hal ini
dimungkinkan, sebagaimana kata Ibn Khaldun, bahawa al-Qurn diturunkan
dengan bahasa Arab, termasuk gaya (uslb), sehingga mereka boleh memahami dan
mengetahui maknanya (azd-Dzahabi, 1976:33). Jadi, Nabi sebagai penerima wahyu
adalah pentafsir pertama dan utama dari al-Quran. Hal ini ditunjukkan oleh firman
Allah QS. An-Nahl (16): 44:



Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al
Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada
mereka[829] dan supaya mereka memikirkan.
Sejarah tafsir secara tradisional dimulai oleh para sahabat yang merupakan
kelompok yang paling dekat dengan peristiwa pewahyuan. Namun demikian, alDhahab menegaskan bahawa tidak semua sahabat mempunyai tingkat pemahaman
makna al-Qurn yang sama. Hal ini disebabkan oleh kemampuan akal dan
pengetahuan mereka dalam memahami al-Qurn berbeda (adz-Dzahabi, 1976: 34).
Menurut as-Suyuthi, pada zaman sahabat mufasir yang paling terkenal adalah Abu
Bakar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Ibn Abbas, Ubai Ibn Kaab, Zaid bin Tsabit,
Abu Musa al-Asari, Abdullah bin Zubair (as-Suyuthi, t.th.:63).
Para sahabat mentafsirkan al-Qurn berdasarkan empat sumber, yaitu alQurn, hadith Nabi, ijtihad dan serta keterangan ahli kitab, Yahudi atau Kristian.
Kandungan al-Quran itu meliputi banyak hal, seperti yang boleh dan dilarang,
global dan terperinci, mutlak dan tertentu, dan terakhir am dan khusus. Sesuatu
yang boleh di satu tempat, tidak boleh di tempat lain, demikian juga berkaitan
dengan pembedaan global-terperinci, mutlak-tertentu, am-khusus. Oleh kerana itu,
adalah wajib bagi mufasir untuk melihat penjelasan al-Qurn di dalam al-Qurn itu
sendiri, sehingga dimungkinkan untuk mengumpulkan satu tema yang diulangulang. Contoh pentafsiran semacam ini sangat banyak, di antaranya Q.S. al-Mukmin
(40): 28



dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya
kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
melampaui batas lagi pendusta.

70

ditafsirkan dengan akhir surah, al-Mukmin (40):77:



Maka Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar; Maka meskipun
kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang kami ancamkan kepada mereka
ataupun kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada kami
sajalah mereka dikembalikan.
Sumber kedua tafsir Sahabat adalah Hadith Nabi. Jika mereka menemukan
masalah di dalam memahami kitab Allah, mereka merujuk kepada Nabi dengan
bertanya langsung. Misalnya, Hadith yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmizi dari
Ibn Hibban berkata (at-Thabari,1998:109-115):

Di sini para sahabat menafsirkan akhir dari surat al-Fatihah (2): 7, bahwa
orang-orang yang dikutuk itu adalah Yahudi dan orang yang sesat itu adalah kaum
Kristian. Contoh lain adalah hadits yang dikeluarkan oleh Uqbah ibn Umar (azZarqani, 13):


.
Saya mendengar Rasulullah dan beliau berada di atas mimbar, dan
bersiapsedialah kamu menghadapi musuh menurut kemampuan kamu,
dan ingatlah kemampuan itu adalah musuh.
Hadits ini digunakan untuk menafsirkan surah bahwa kekuatan yang
dimaksudkan di sini adalah memanah.
Sedangkan sumber ketiga adalah ijtihad, yang menuntut sahabat untuk
mempunyai pengetahuan bahasa dan rahsianya, adat kebiasaan Arab, hal-ehwal
Yahudi dan Kristian di semenanjung Arab ketika diturunkannya al-Qurn dan
pemahaman yang kuat (adz-Dzahabi, 1976: 58) Sumber ini digunakan oleh para
sahabat jika mereka tidak mendapatkan kejelasan makna al-Qurn dari al-Qurn
itu sendiri mahupun dari Nabi.
Dan terakhir adalah pengetahuan sahabat akan tradisi Yahudi dan Kristian
(isrliyyat). Hal ini dikeranakan dalam beberapa masalah, al-Qurn mempunyai
keterkaitan dengan kitab Taurat, secara khas mengenai kisah-kisah para Nabi, umatumat terdahulu, demikian juga dengan kitab Injil mengenai kisah kelahiran Nabi Isa
ibn Maryam dan mujizat yang dimilikinya. Namun demikian, jelas al-Dhahab, alQurn mengambil metodologi yang berbeza dengan kedua-dua kitab yang
disebutkan. Biasanya al-Qurn tidak menceritakan kisah-kisah secara terperinci dan
dari segala segi kerana semua ini dimaksudkan untuk sekadar ibarat atau tamsil.
Tetapi, terdapat sebahagian sahabat yang cenderung untuk memerinci cerita-cerita
71

global yang sebenarnya berasal dari agama mereka sebelumnya, iaitu Yahudi dan
Kristian, seperti Abdullah ibn Salam dan Kab al-Akhbr (adz-Dzahabi, 1976: 61).
Namun demikian, sumber terakhir ini tidak sepenting tiga sumber sebelumnya,
kerana kedua-dua kitab telah banyak diubah dan diganti (adz-Dzahabi, 1976: 62).
Di antara para sahabat yang paling terkemuka dalam penafsiran al-Quran
adalah Ibn Abbas. Kedudukan istimewa ini juga diakui oleh sahabat yang lain, di
antaranya Umar Ibn al-Khattab (adz-Dzahabi, 1976: 67). Ada banyak alasan untuk
ini. Nabi pernah mendoakan sang paman ini untuk diberi kemahiran ilmu kitab dan
hikmah. Keistimewaan lain adalah beliau tumbuh besar di dalam lingkungan
kehidupan Nabi, sehingga boleh mengikuti secara langsung transfer pengetahuan
dari sang Nabi. Beliau termasuk di antara sahabat yang disegani setelah wafatnya
Nabi, kerana pengetahuan yang luas tentang pelbagai tempat dan peristiwa sebabsebab turunnya al-Quran. Kemampuan bahasa Arab meliputi kata-kata asing, khas,
adab, gaya (uslub) dan dari puisi Arab pra-Islam. Terakhir, kedudukan yang tinggi
dikeranakan keyakinannya untuk mengatakan kebenaran (adz-Dzahabi, 1976: 6768).Ibn Abbas adalah salah satu sahabat yang menggunakan puisi Arab kuno untuk
menafsirkan al-Quran. Penggunaan puisi ini dimungkinkan jika tidak ada
penjelasan daripada Nabi, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Abbas:
Hal ini dilakukan ketika beliau menafsirkan surah al-Araf: 34:

Ibn Abbas menafsirkan lafaz dengan makna arak (sesuatu yang


memabukkan). Hal ini berdasarkan puisi Arab kuno:

*
Dalam puisi yang lain juga disebutkan (al-Fairuzabadi, t.tp:126):

2. Tafsir pada Masa Tabin


Mengenai tafsir Tabin, ulama berbeda pandangan. Namun demikian,
mereka berpendapat bahawa tafsir tabin boleh diterima apabila tidak ada
penjelasan dari Nabi dan sahabat. Di antara ulama yang menolak tafsir ini adalah
Ibn Aql. Alasannya kerana para tabin tidak mendengar dari Rasulullah, sehingga
tidak mungkin untuk menerimanya sebagaimana terhadap tafsr sahabat. Selain itu,
para tabin tidak menjadi saksi terhadap masa dan hal-ikhwal berkaitan dengan
turunnya al-Qurn yang akan memungkinkan kesalahan pemahaman. Sementara
integritas tabin (adalah) tidak dijamin sebagaimana diberikan pada Nabi dan
sahabat (adz-Dzahabi, 1976: 128).
Sedangkan yang menerima tafsir tabiin adalah sebahagian besar mufassir.
Alasan mereka kerana para tabiin merujuk pada tafsir sahabat. Misalnya, Mujahid
mengulas mushaf dengan merujuk kepada Ibn Abbas (Ibid.). Menurut al-Zarqan,
tafsr tabin ini boleh dibahagi ke atas tiga golongan, yaitu golongan ahli Mekah,
ahli Madinah dan ahli Irak. Golongan Mekah dianggap golongan yang paling tahu
72

tentang tafsir kerana, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Taimiyyah, mereka adalah
sahabat Ibn Abbas, seperti Mujahid ibn Abi Rabah, Ikrimah budak Ibn Abbas,
Said ibn Jubair, dan Tawus (az-Zarqani, 19-22).
D. Metode Tafsir al-Quran
1. Tafsir Tahlili
Yang dimaksud dengan tafsir tahlili adalah menafsiran al-Qur;an dengan
penyampaian secara lengkap dari aspek pembahasan lafadznya, yang meliputi
pembahasan kosa kata, arti yang dikehendaki, dan sasaran yang dituju dari
kandungan ayat, yaitu unsur ijaz, balaghah, dan keindahan kalimat, aspek
pembahasan makna, yaitu apa yang bisa diistinbatkan dari ayat yang meliputi
hukum fikih, dalil syari, norma-norma akhlak, akidah atau tauhid, perintah,
larangan, janji, ancaman, dan lain-lain. Di samping itu juga mengemukakan kaitan
ayat-ayat dan relevansinya dengan surat sebelum dan sesudahnya (Ali Hasan Arid,
1994:41). Dengan demikian sebab nuzul ayat, hadits-hadits Nai, pendapat para
sahabat dan tabiin sangat dibutuhka.
Dalam tafsir tahlili ini, penafsir mengurai makna yang dikandung dalam alQuran ayat demi ayat, surat demi surat sesuai dengan urutan yang telah baku di
dalam mushhaf. Bentuk dan corak yang melekat pada tafsir ini sesuai dengan
kapasitas keilmuan, dan keahlian, serta kecenderungan penafsir (al-Farmawi,
1994:12).
Dari segi bentuknya tafsir tahlili bisa dibagi ke dalam dua pembagian:
a. Tafsir bil Matsur: yaitu, menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, al-Quran
dengan sunnah, al-Quran dengan pendapat sahabat Nabi SAW, dan alQuran dengan perkataan tabiin (al-Qatthan). Menurut Subhi as-Shalih
bentuk tafsir semacam ini sangat rentan terhadap masuknya pendapatpendapat di luar Islam, seperti kaum zindiq Yahudi dan Parsi, dan masuknya
hadits-hadits yang tidak shahih (Subhi as-Shalih, t.th.:291). Contoh kitab-kitab
tafsir yang tergolong bil matsur di antaranya adalah:
1) Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran (30 juz) karya Ibn Jarir at-Thabari (w. 310
H).
2) Bahr al-Ulum (3 Jilid) karya Abu Lais al-Samarkandi (w.373/378 H).
3) Al-Kasyaf wa al-Bayan an Tafsir al-Quran (hanya ditemukan 4 jilid, dari
surat al-Fatihah sampai al-Furqan) karya Abu Ishaq ats-Salabi (w.427 H)
4) Maalim at-Tanzil karya al-Baghawi (w.516 H)
5) Tafsir al-Quran al-Azim (4 jilid) karya Abu al-Fida al-Hafidz Ibn Katsir
(w.774 H)
6) Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Quran karya Abdurrahman as-Salabi (w.876
H)
7) Ad.Dur al-Mansur fi Tafsir bi al-Matsur (4 jilid) karya Jalaluddin as-Suyuthi
(w.991 H).
8) Dan lain-lain.
b. Tafsir bir Rayi, yaitu, penafsiran al-Quran dengan ijtihad, serutama setelah
seorang mufasir itu betul-betul mengetahui perihal bahasa Arab, asbab annuzul, nasikh dan mansukh, dan hal-hal lain yang lazim diperlukan oleh
seorang mufasir (azd-Dzahabi, 1976:155). Terhadap status tafsir bir rayi ini
golongan salaf sangat berkebeatan menerima penafsiran model ini kalau tidak
73

ada dasar yang shahih. Azd-Dzahabi membagi tafsir jenis ini menjadi dua,
yaitu dapat diterima dan tidak dapat diterima. Tafsir bir rayi dapat diterima
apabila:
1) Menjauhi sikap yang terlalu berani menduga-duga kehendak Allah di
dalam kalamnya tanpa memiliki persaratan sebagai seorang mufasir.
2) Memaksakan diri memahami sesuatu yang hanya wewenang Allah SWT.
3) Menghindari dorongan dan kepentingan hawa nafsu.
4) Menghindari tafsir yang ditulis untuk kepentingan mazhab semata.
5) Meghindari penafsiran pasti (qathi) di mana seorang mufasir tanpa alasan
mengklaim bahwa itulah yang dimaksudkan oleh Allah. (Ibid. 275).
Di antara contoh kitab-kitab tafsir bir rayi adalah:
1) Mafatih al-Ghaib karya Fakhr ar-Razi (w. 606 H)
2) Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Tawil karya Baidhawi (w. 691 H).
3) Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Tawil karya an-Nasafi (w.701
4) Dan lain-lain
Dari sisi coraknya tafsir taflili dapat dibagi paling sedikit menjadi lima, yaitu:
a. Tafsir Sufi
Menurut Quraish Shihab, tafsir corak ini muncul sebagai akibat timbulnya
gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi dari kecenderungan berbagai pihak terhadap
materi, atau sebagai kompensasi terhadap kelemahan yang dirasakan (Quraish
Shihab, 1997:73). Corak ini terbagi menjadi dua:
1) Penafsir sufi yang mencoba meneliti dan mengkaji ayat al-Quran dengan
menggunakan teori-teori madzhabnya dan sesuai dengan ajaran-ajaran
mereka. Mereka berusaha maksimal menemukan teori dan ajaran di dalam
al-Quran yang dianggap sesuai dengan teori dan ajaran mereka. Sehingga
seringkali mereka mentawilkan ayat-ayat al-Quran dengan tidak
mengikuti cara-cara untuk menawilkan ayat al-Quran dan
menjelaskannya dengan penjelasan yang menyimpang ari pengertian
tekstual yang telah dikenal dengan dalil syari serta tidak didukung oleh
kajian kebahasaan (adz-Dzahabi, 1976:339). Sufi/ tasawuf semacam ini
biasa dikenal dengan tasawuf teoritis atau nadhari.
2) Penafsiran sufi yang menafsirkan atau menawilkan ayat-ayat al-Quran
berbeda dengan arti dzahirnya, berdasarkan isyarat-isyarat tersembunyi
yang hanya tampak jelas oleh pemimpin suluk, namun masih tetap bisa
dikompromikan dengan arti dzahir yang dimaksud. Tafsir jenis ini sering
disebt dengan tafsir isyari.
Contoh kitab-kitab tafsir yang bercorak tafsir sufi di antaranya adalah:
1) Tafsir al-Quran al-Karim karya at-Tustari (w.383 H)
2) Haqaiq at-Tafsir karya as-Salami (w.412 H)
3) Araisy al-Bayan fi Haqaiq al-Quran karya as-Syairazi (w.606 H).
b. Tafsir Fiqhi
Tafsir corak ini munculnya bersamaan dengan lahitrnya tafsir bin matsur
dan sama-sama dinukil dari Nabi SAW tanpa adanya perbedaan di antara
keduanya. Tafsir ini muncul di antaranya sebagai dampak dari berkembangkan
ilmu fikih dan terbentuknya madzhab fiqih, dimana setiap golongan berusaha
untuk membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran mereka
74

terhadap ayat-ayat hukum (Quraish Shihab, 1997:73). Berikut adalah di antara


contoh tafsir jenis ini adalah:
1) Ahkam al-Quran karya al-Jashash (w.370 H).
2) Ahkam al-Quran karya Ibn Arabi (w.543 H).
3) Al-Jami al-Ahkam al-Quran karya al-Qurthubi (w.671 H)
c. Tafsir Falsafi
Tafsir ini muncul akibat penerjemahan kitab filsafat yang mempengaruhi
sementara pihak, akibat masuknya penganut agama-agama lain ke dalam ajaran
Islam dengan sadar atau tidak mereka mempercayai beberapa hal dari
kepercayaan lama mereka. Kesemuanya menimbulkan pendapat setuju atau tidak
yang tercermin dalam penafsiran mereka (Ibid.). Dalam mensikapi fenomena
semacam ini umat Islam terpecah menjadi dua, yaitu;
1) Umat Islam menolak buku-buku karya para filosof bahkan
mengharamkannya karena dianggap bertentangan dengan akidah serta
agama. Kemudian mereka mengarang kitab-kitab untuk menyerang
mereka.
2) Mengagumi Filsafat, golongan ini hendak menafsirkan ayat-ayat al-Quran
berdasarkan teori-teori filsafat mereka semata, akan tetapi mereka gagal
oleh karena -menurut Aridh tidak mungkin ayat-ayat al-Quran
mengandung teori-teori mereka yang sama sekali tidak mendukungnya
(Aridh, 1994:63)
Di antara contoh karya tafsir jenis ini adalah Mafatih al-Ghaib karya Fakhr arRazi (w. 606 H).
d. Tafsir Ilmi
Tafsir ini muncul berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penafsir
untuk memahami ayat-ayat al-Quran sejalan dengan pekembangan ilmu.
Sebagaimana diketahui di dalam al-Quran banyak ditemukan ayat-ayat yang
mendorong pembaca untuk memperhatikan alam, maka sebagian ahli tafsir
mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah tersebut berdasarkan kaedah-kaedah
kebahasaan dengan keunikannya yang dikaitkan dengan bidang ilmu dan hasil
kajan mereka terhadap gejala atau fenomena alam (al-Farmawi, 1994:22). Namun
demikian sangat disayangkan, penafsiran corak ini masih terbatas pada ayat-ayat
tertentu dan bersifat parsial, terpisah dengan ayat-ayat lain yang berbicara pada
masalah yang sama (Ibid.).
Di antara contoh kitab tafsir jenis ini adalah: Jawahir al-Quran karya Imam
al-Ghazali, al-Itqan karya as-Suyuthi, at-Tafsir al-Ilm li al-Kauniyat al-Quran al-Karim
karya Hanafi Ahmad, dll.
e. Tafsir Adab al-ijtimai
Yaitu satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat al-Quran
yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemasyarakatan, serta usaha-usaha
untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka
berdasarkan petunjuk al-Quran dengan mengemukakannya menggunakan bahasa
yang mudah dimengerti dan indah didengar (Quraish Shihab, 1997:73). Di antara
contoh tafsir jenis ini adalah: Tafsir al-Manar karya Rasyid Ridha (w. 1345 H),
Tafsir al-Maraghi karya Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Quran al-Karim karya
Mahmud Salthut, dll.
75

1) Sejarah Perkembangan Tafsir Tahlili


Di atas telah disinggung tentang perkembangan tafsir al-Quran. Sebenarnya
sejarah perkembangan tafsir bisa dikelompokkan menjadi empat periode, yaitu
periode Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabiin dan pembukuan. Pada masa
Nabi dan sahabat tafsir al-Quran masih menggunakan ijmali (global) (Nasirddin
Baidan, 1998: 3), Nabi dan sahabat belum memberikan rincian yang memadai.
Dengan demikian metode yang paling awal adalah ijmali. Pada periode tabiin
tafsir masih ditulis bergabung dengan penulisan hadits-hadits dan dihimpun
dalam satu bab seperti bab-bab hadits, belum dipisahkan secara khusus yang
hanya memuat tafsir alQuran, surat demi surat dan ayat demi ayat dari awal alQuran hingga akhir.
Pada periode kodifikasi mulailah disusun secara khusus kitab-kitab tafsir
yang berdiri sendiri yang oleh sebagaian ahli dikatakan dimulai oleh al-Farra
(w.207 M) dengan kitabnya yang berjudul Maanil Quran (Quraish Shihab, 1997:
73)). Kemudian disusul oleh Ibn Majah (w.273 H), Ibn Jarir at-Thabari (w.310 H),
Abu Bakar bin Mundzir an-Naisaburi (w.318 H), Ibn Abi Hatim (w.327 H), Abu
Syaikh Ibn Hibban (w.369 H), al-Hakim (w.405 H), dan Abu Bakar bin
Mardawaih (w.410 H) ( al-Qatthan, 476). Tafsir pada periode ini adalah tafsir
tahlili yang mengambil bentuk bil matsur.
Kemudian seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tafsir bi almatsur mulai tergeser kedudukannya oleh tafsir bir rayi dengan mengambil corak
sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh penafsir, ada yang ahli
bahasa, maka corak tafsirnya adalah bahasa, demikian juga ahli tasawuf, filsafat,
kalam, dan lain-lain, dan sampai pada era baru (modern) mereka mengambil corak
tafsir dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kontemporer di samping
menyingkap asas-asas kehidupan social, prinsip-prinsip tasyri dan teori-teori
pengetahuan dari kandungan al-Quran sebagaimana terlihat dalam tafsir fi Dzilal
al-Quran, al-Manar, dan yang sezaman dengan keduanya.
2) Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Tahlili
Untuk melihat kelebihan dan kekurangan tafsir tahlili, penulis mengambil
pendapat Nasiruddin Baidan dalam bukunya Metodologi Penafsiran al-Qran
(Nasiruddin Baidan, 1998: 53-61).
a) Kelebihannya
Pertama; Ruang lingkupnya luas. Penafsir dapat menggunakan dua bentuk,
bil matsur atau bir rayi. Yang bir rayi juga bisa menggunakan corak sesuai
dengan kecenderungan dan keahlian penafsir, yang ahli bahasa bisa
menekankan pada aspek kebahasaanya, yang ahli qaraat bisa menekankan pada
aspek qiraatnya, demikian juga yang ahli filsafat, tasawuf dan lain sebagainya.
Kedua, memuat berbagai ide. Tafsir tahlili memberikan kesempatan seluasluasnya bagi mufasir untuk menuangkan berbagai ide dan gagasannya dalam
menafsirkan al-Quran. Dengan terbukanya pintu selebar-lebarnya bagi mufasir
untuk mengemukakan pemikirannya dalam menafsirkan al-Quran, maka
lahirlah berbagai kitab tafsir yang berjilid-jilid seperti tafsir at-Thabari (15 jilid),
tafsir ruh al-maani (16 jilid) tafsir Fakhr ar-Razi (17 jilid), tafsir al-Maraghi (10 jilid)
dan lain-lain.
76

b) Kekurangannya
Pertama, Menjadikan petunjuk al-Quran parsial. Seperti halnya metode
global, metode tahlili juga dapat membuat petunjuk al-Quran bersifat parsial
atau terpecah-pecah. Sehingga terasa seakan-akan al-Quran memberikan
pedoman secara tidak komprehensip dan tidak konsisten karena menafsirkan
yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya. Perbedaan tersebut
terutama disebabkan oleh kurang diperhatikannya ayat-ayat lain yang mirip atau
sama dengannya.
Kedua, menghasilkan penafsiran yang subyektif. Sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa tafsir tahlili telah memberikan peluang yang luas
kepada mufasir untuk mengemukakan ide-ide dan pemikirannya. Sehingga
kadang-kadang mufasir tidak sadar bahwa ia telah menafsirkan ayat al-Quran
sacara subyektif, dan tidak mustahil juga ada di antara mereka yang menafsirkan
al-Quran sesuai dengan hawa nafsunya tanpa mengindahka kaedah-kaedah dan
norma-norma yang berlaku. Hal ini dimungkinkan karena memang metode ini
memebuka peluang untuk yang demikian.
Ketiga, masuknya pemikiran israiliyat. Dikarenakan tidak adanya
pembatasan bagi para mufasir untuk menuangkan pemikirannya maka berbagai
pemikiran dapat masuk kedalamnya tidak terkecuali pemikiran israiliyat.
Sepintas lalu sebenarnya kisah-kisah israiliyat tidak ada persalan, selama tidak
dikaitkan dengan pemahaman al-Quran. Tetapi bila dihubungkan dengan
pemahaman kitab suci, timbul problem karena akan terbentuk opini bahwa apa
yang dikisahkan di dalam cerita ini merpakan maksud dari firman Allah SWT,
padalah belum tentucocok dengan apa yang dimaksudkan Allah dalam firmanNya tersebut.
Keempat, mengikat generasi berikutnya. Pembahasan-pembahasan yang
silakukan melalui metode ini akan mengikat generasi berikut, karena
penafsirannya sangat umum dan teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada
persoalan-persoalan khusus yang dialamai oleh mufassirin di dalam masyarakat
mereka, akhirnya penafsiran tersebut mengisahkan seolah-olah itulah
pandangan al-Quran untuk setiap waktu dan tempat (Abdul Karim Dahlan,
1994:150).
2. Tafsir Ijmali
Tafsir ijmali adalah menafsirkan al-Quran dengan cara singkat dan global,
tanpa disertai uraian yang panjang dan luas. Dengan metode ini mufasir
menjelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat
menjelaskan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal selain arti yang
dikehendaki. Hal ini dilakukan terhadap ayat-ayat al-Quran, ayat demi ayat dan
surat demi surat, sesuai dengan urutannya dalam mushaf setelah ia
mengemukakan arti-arti itu dalam kerangka uraian yang mudah dengan bahasa
dan cara yang dapat dipahami oleh semua kalangan (Ali Aridh, 1994: 73).
Di antara contoh kitab tafsir ijmali adalah; Tafsir Shafwat al-Bayan li Maali alQuran karya Syeikh Muhmad Mahlut; Tafsir Jalalain karya Jalaluddin as-Suyuthi
dan Jalaluddin al-Mahali; Tafsir al-Quran al-Adzim karya Muhammad Farid
Wajdi; dll.

77

3. Tafsir Muqaran
Metode tafsir muqarah adalah metode yang ditempuh oleh seorang mufasir
dengan cara mengambil sejumlah ayat al-Quran, kemudian mengemukakan
penafsiran para ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu, baik mereka yang termasuk
ulama salaf maupun ulama khalaf yang metode dan kecenderungan mereka
berbeda-beda, baik penafsiran mereka berdasarkan riwayat yang bersumber dari
rasul, sahabat atau tabiin (tafsir bil matsur) atau berdasarkan rasio (tafsir bir
rayi), dengan mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan segi-segi
kecenderungan masing-masing dalam menafsirkan al-Quran. Langkah
berikutnya, mufasir dengan metode ini mengungkapkan pendapatnya tentang
mereka, lalu dijelaskan pula bahwa ada di antara mereka yang corak
pemikirannya ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasainya.
Selain rumusan di atas, metode tafsir muqaran mempunyai pengertian dan
lapangan yang lebih luas yaitu membandingkan antara ayat-ayat al-Quran yang
berbicara tentang suatu masalah, atau membandingkan antara ayat-ayat alQuran dengan Hadits-hadis Rasulullah SAW yang memperkuat al-Quran.
4. Tafsir Maudhui
a. Pengertian
Menurut Ibn Taimiyah (t.th.:19), tafsir maudhui adalah suatu ilmu yang
belum diketahui sebelumnya, kecuali zaman sekarang. Menurut sebagaian
ulama, bahwa tafsir maudhui ialah mengumpulkan ayat-ayat al-Quran yang
berbeda-beda dari surat-surat al-Quran yang berhubungan dengan satu tema
tertentu kemudian menafsirkannya sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran dan
tujuan-tujuan al-Quran (Ibid, 15).
Dr. Zahir al-Mai memberikan definisi, bahwa tafsir maudhui adalah ilmu
yang membahas ketentuan-ketentuan al-Quran yang mempunyai satu makna
dan tujuan dengan jalan mengumpulkan ayat-ayat yang berbeda kemudian
mengkajinya dengan cara tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula untuk
menjelaskan maknanya, mengeluarkan unsur-unsurnya kemudian merangkaian
dengan rangkaian yang komprehensip (al-Mai, 1405 H: 7).
Sedangkan menurut al-Farmawi (1994:52), adalah menghimpun ayat-ayat
al-Quran yang mempunyai maksud sama, dalam arti sama-sama membicarakan
satu topik masalah dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab
turunnya ayat-ayat tersebut. Kemudian penafsir mulai membicarakan
keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan. Semuanya dijelaskan
secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik bersumber dari al-Quran
sendiri, hadits Nabi SAW, maupun pemikiran rasional.
Dari berbagai definisi di atas, dapatlah ditarik benang merahnya, bahwa
tafsir maudhui menonjolkan tema, judul, atau topik pembahasan, sehingga ada
yang menyebutnya sebagai metode topikal. Jadi mufasir mencari tema-tema atau
topik-topik yang ada ditengah masyarakat atau berasal dari al-Quran itu sendiri,
dan atau dari sumber yang lain. Kemudian grand tema yang sudah ditetapkan
dkaji secara holistik dan koprehensip dari berbagai aspeknya sesuai dengan
kapasitas atau petunjuk yang termuat di dalam ayat-ayat yang telah dikumpulkan
tersebut dan kemudian ditafsirkan.
78

Dengan demikian, penafsiran yang dilakukan tidak keluar dari


pemahaman ayat-ayat al-Quran agar tidak terkesan penafsiran tersebut
berangkan dari pemikiran atau terkaan belaka. Oleh karena itu, dalam proses
pemakaiannya metode ini tetap menggunakan kaedah-kaedah yang berlaku
secara umum dalam ilmu tafsir, yang dilengkapi hadits-hadits Nabi, pendapat
sahabat, ulamadan sebagainya.
Di samping cara tersebut di atas, penafsiran yang menggunakan metode
maudhui juga bisa dilakukan dengan cara mengambil satu surat dari surat-surat
al-Quran. Surat itu dikaji secara keseluruhan, dari awal hingga akhir surat,
kemudian dijelaskan tujuan-tujuan khusus dan umum dari surat itu serta
menghubungkannya antara masalah-masalah (tema-tema) yang dikemukakan
pada ayat-ayat dari surat itu, sehingga jelas surat itu merupakan satu kesatuan
(al-Aridh, 1994: 78). Namun untuk cara yang terakhir ini, banyak ulama yang
tidak mengakuinya sebagai tafsir maudhui, termasuk di dalamnya adalah alFarmawi.
Langkah-langkah penerapan tafsir maudhui antara para ahli yang
menekuni metode ini hampir sama, dan hanya kecil sekali perbedaannya,
misalnya Ali Hasan al-Aridh merumuskan 8 langkah untuk menerapkan
metode ini. Sedangkan al-Farmawi hanya merumuskan 7 langkah saja. 7 langkah
tersebut adalah:
1) Memilih dan menetapkan masalah al-Quran yang akan dikaji secara
tematik.
2) Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah
yang ditetapkan, ayat makiyah dan madaniyah.
3) Menyusun ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa
turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya, jika
ada.
4) Mengetahui korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut di dalam masingmasing surat.
5) Menyusun tema bahasan di dalam kerangka yang pas, sistematis,
sempurna, dan utuh.
6) Melengkapi pembahasan dan uraian dengan hadits, bila dipandang
perlu, sehingga pembahasan semakin sempurna dan jelas.
7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan
cara menghimpun ayat-ayat yang memunyai pengertian serupa,
mengkompromikan antara pengertian yang am dan khas, antara yang
mutlaq
dan muqayyad, mensinkronkan ayat-ayat yang tampak
kontradiktif, menjelaskan ayat-ayat nasikh dan mansukh, sehingga
semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan dan
kontradiksi atau tidak ada pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada
makna-makna yang sebenarnya tidak tetap (al-Farmawi, 1994:45-46).
b. Kelemahan dan Kelebihannya
Kelebihannya:
1) Menampilkan topik suatu permasalahan secara utuh tidak bercerai berai,
sehingga bisa dijadikan tolak ukur untuk mengetahui pandanganpandangan al-Quran terhadap suatu masalah. Dengan demikian akan
menjadi lebih sistematis.
79

2) Titik tolak keberangkatannya bermula dari kenyataan yang ada


dimasyarakat dan berakhir pada al-Quran untuk mencari jawabannya.
Dengan demikian tafsir tersebut dapat menjawab tantangan zamannya
dengan lebih tepat.
3) Peran mufasir cenderung aktif, karena ia telah mempersiapkan lebih
dahulu topiknya, lalu ia memilah-milah ayat al-Quran yang
berhubungan dengan topik terseut, sehingga penafsir lebih dinamis.
4) Mufasir tidak dituntut waktu dan nafas yang panjang karena ia hanya
menyelesaikan topik yang dibahas (Asyrafuddin, 1992:87).
Kelemahannya:
1) Kehilangan munasabat atau hubungan antara ayat yang satu dengan
lainnya, padahal itu sangat penting.
2) Tidak bisa menafsirkan keseluruhan al-Quran, karena ada ayat-ayat
yang hanya bisa ditafsirkan secara tahlili saja, seperti surat at-Taubah
dan lainnya.
3) Pada satu ayat terkadang mengandung beberapa pesan, yang diantaranya
tidak ada kaitannya dengan topik yang dibahas, akibatnya pesan tadi
tidak difungsikan.
4) Para pakar yang mendukung metode maudhui menyebutkan satu syarat
yang sulit untuk dilakukan, yaitu urutan turunnya ayat-ayat yang
dihimpun, karena jarang ditemukan keterangan yang pasti (Ibid.)
c. Beberapa Karya Tafsir Maudhui
1) Al-Marah fi al-Quran karya Abbas Muhammad al-Aqqad.
2) Riba fi al-Quran karya Abu Ala al-Maududi
3) Tafsir Surat Yasin Karya Dr. Ali Hasan al-Aridh
4) Tafsir Surat al-Fatihah karya Ahmad Sayyid al-Kumi
5) Adam fi al-Quran karya Ali Nashr ad-Din
6) Aqidah fi al-Quran karya Abu Ala al-Maududi.
7) Dan lain-lain.

80

BAB VIII
PENGERTIAN HADITS, SUNNAH,
KHABAR, ATSAR DAN HADITS QUDSI
A. Pengertian al-Hadits
Hadits menurut pengertian bahasa mempunyai beberapa arti, yaitu; 1) jadid
(sesuatu yang baru) lawan dari kata al-qadim, sesuatu yang lama. Seperti perkataan:
artinya dia baru masuk/memeluk Islam. 2) qarib dekat,
yaitu tidak lama lagi akan terjadi. Sedangkan lawannya adalah baid jauh. 2) khabar
berita yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari
seseorang kepada orang lain (Ajjaj al-Khatib, 1971:20).
Hadits dengan pengertian khabar tersebut di atas dapat dijumpai pada:
1. Q.S. at-Thur (52): 34:


Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika
mereka orang-orang yang benar.
2. Q.S. al-Kahfi (18): 6:


Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu Karena bersedih hati
setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan Ini (AlQuran).
3. Q.S. ad-Dhuha (93): 11:


Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.
Sedangkan menurut pengertian terjadi perbedaan pendapat antara ahli ushul
dan ahli hadits. Menurut ahli hadits:

:

.
Seluruh perkataan, perbuatan, dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan menurut yang lainnya adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi,
baik yang berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.
Yang termasuk hal-ihwal dalam definisi di atas ialah segala sesuatu yang
diriwayatkan dari Nabi Muhammad yang berkaitan dengan himmah, karakteristik,
sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaannya.
Menurut rumusan yang lain, hadits adalah:

.

81

Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan,
taqrir, maupun sifat beliau.
Sedangkan ahli ushul, definisi hadits adalah:


Semua perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad SAW yang berkaitan
dengan hokum syara dan ketetapannya.
Dengan pengertian ini, jelaslah bahwa segala sesuatu yang bersumber dari
Nabi SAW. Yang tidak ada kaitannya dengan hukum atau tidak mengandung misi
kerasulannya, seperti tatacara berpakaian, tidur dan makan, tidak termasuk hadits.
B. Pengertian Sunnah
Menurut bahasa, sunnah berarti:

.
Kebiasaan dan jalan (cara) yang baik dan yang jelek.
Menurut batasan lain, sunnah berarti:

,
Jalan (yang dilalui) baik yang terpuji atau yang tercela ataupun jalan yang lurus atau
tuntutan yang tetap (konsisten).
Rasulullah SAW bersabda:



Barang siapa yang melakukan perbuatan baik, ia akan mendapatkan pahala (dari
perbuatan itu) dan pahala orang yang menirunya dengan tidak dikurangi pahala
sedikitpun. Dan barang siapa yang melakukan perbuatan jelek, ia akan menanggung
dosa dan dosa orang-orang yang menirunya dengan tidak dikurangi dosanya sedikitpun.
(H.R. Imam Muslim)

Pada hadits lain Rasulullah bersabda lagi:




Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan atau perbuatan orang-orang sebelum kamu,
sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga meskipun mereka
memasuki lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka (H.R. al-Bukhari)

82

Ayat-ayat al-Quran cukup banyak yang menunjukkan arti sunnah menurut bahasa,
di antaranya adalah :
1. Q.S. al-Kahfi (18): 55:



Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk
Telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali
(keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang Telah berlalu pada) umat-umat
yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.
2. Q.S. al-Isra (17) :77:


(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul kami
yang kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan
kami itu.
3. Q.S. al-Anfal (8): 38:



Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari
kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka
yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan berlaku (kepada
mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ".
4. Q.S. al-Hijr (5):13:


Mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan Sesungguhnya Telah berlalu
sunnatullah terhadap orang-orang dahulu.
5. Q.S. al-Ahzab (33) :38 dan 62:



Tidak ada suatu keberatanpun atas nabi tentang apa yang Telah ditetapkan Allah
baginya. (Allah Telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabinabi yang Telah berlalu dahulu dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang
pasti berlaku,
83


Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang Telah terdahulu sebelum
(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.
6. Q.S. al-Fathir (35):43:




Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan Karena rencana (mereka) yang
jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya
sendiri. tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah
yang Telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu
tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula)
akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
7. Q.S. al-Mukmin (40): 85:



Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa
kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di
waktu itu binasalah orang-orang kafir.
Bila kata sunnah disebutkan dalam masalah yang berhubungan dengan
hukum syara, maka yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang diperintahkan,
dilarang, atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW, baik berupa perkataan atau
perbuatannya, apabila dalam dalil hukum syara disebutkan al-Kitab dan as-Sunnah,
maka yang dimaksudkan adalah al-Quran dan al-Hadits (Ajjaj al-Khatib, 1971:15).
Sedangkan mengenai arti sunnah menurut istilah, di kalangan ulama terdapat
perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang dan persepsi
masing-masing terhadap diri Rasulullah SAW. Secara garis besarnya, mereka terbagi
menjadi tiga golongan: ahli Hadits, ahli ushul, dan ahli fiqih.
1. Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah:
Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan,
perbuatan, taqrir, budi pekerti perjalanan hidup, baik sebelum menjadi Rasul maupun
sesudahnya.

84

Dalam pengertian lain disebutkan:


Segala sesuatu yang berhubungan dengan sirah (perjalanan hidup) Nabi SAW., budi
pekerti, berita, perkataan, dan perbuatannya baik melahirkan syara atau tidak.
Mereka mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas karena mereka memandang
diri Rasulullah sebagai uswatun hasanah (contoh atau teladan yang baik). Oleh
karena itu, mereka menerima secara utuh segala yang diberitakan tentang diri
Rasulullah SAW. tanpa membedakan apakah yang diberikan itu berhubungan
dengan hukum syara atau tidak. Mereka juga tidak memisahkan antara beliau
sebelum diutus menjadi Rasul atau sesudahnya. Pendapat ini didasarkan pada
Q.S. al-Ahzab (33): 21:



Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
Juga Q.S. as-Syura (42) : 52-53 juga disebutkan:



dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu)
jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.
Lebih jauh lagi, ada yang mengatakan bahwa sunnah itu tidak hanya terbatas
pada apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saja, tetapi termasuk juga
segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin. Ini berarti
pengertian sunnah bagi mereka sama dengan pengertian hadits sebagaimana
disebutkan terdahulu.
2. Pengertian sunnah menurut ahli ushul:
Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW. selain al-Quran al-Karim,
baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil
bagi hukum syara.
Definisi ahli ushul ini membatasi pengertian sunnah hanya pada sesuatu
yang bersumber dari Nabi, baik perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang
berkaitan dengan hukum syara. Dengan demikian, sifat, perilaku, sejarah
hidup, dan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad, yang tidak
berkaitan dengan hukum syara tidak dapat dikatakan sunnah. Demikian juga

85

dengan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW. sebelum
beliau diutus menjadi Rasul.
Pemahaman ahli ushul terhadap sunnah sebagaimana tersebut diatas,
didasarkan pada agumentasi bahwa Rasulullah SAW adalah pembawa dan
pengatur undang-undang yang menerangkan kepada manusia tentang dustur alhayat (undang-undang hidup) dan menetapkan kerangka dasar bagi para
mujtahid yang hidup sesudahnya. Hal-hal yang tidak mengandung misi seperti
ini tidak dapat dikatakan sunnah. Oleh karena itu, ia tidak dapat dijadikan
sumber hukum.
Banyak ayat al-Quran yang dapat dijadikan argumentasi bagi pemahaman
ahli ushul di atas, misalnya Q.S. al-Hasyr (59): 7:



apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya
bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
amat keras hukumannya.
Ayat ini memerintahkan kepada umat Islam agar mentaati segala ketentuan
yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. baik mengenai perintah maupun
larangan-Nya.
Q.S. an-Nahl (16): 44:


.... dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,
Ayat ini mengisyaratkan kepada umat Islam agar mereka melaksanakan
sunnah Nabi SAW. sebagaiaman mereka mengamalkan al-Quran, karena
keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
3. Pengertian sunnah menurut ahli fiqih:
Segala ketetapan yang berasal dari Nabi Muhammad selain yang difardhukan dan
diwajibkan. Menurut mereka, sunnah merupakan salah satu hukum yang lima (wajib,
sunnah, haram, makruh dan mbah), dan yang tidak termasuk kelima hukum ini disebut
bidah.
Definisi lainnya adalah :
Segala sesuatu yang apabila dikerjakan lebih baik dari pada ditinggalkan, kelebihan ini
tidak berarti larangan (ancaman) karena meninggalkannya, seperti sunnah-sunnah dalam
shalat dan wudhu. Pekerjaan sunnah ini membawa kemanfatan, sehingga dianjurkan
untuk mengerjakannya, namun tidak ada yang mengharamkan meninggalkannya. Jelaslah
bahwa bagi yang mengerjakan akan mendapatkan pahala dan bagi yang meninggalkannya
tidak akan mendapatkan siksa.
86

Ulama ahli fiqih mendefinisikan sunnah seperti ini karena mereka


memusatkan pembahasan tentang pribadi dan perilaku Rasulullah pada
perbuatan-perbuatan yang melandasi hukum syara agar diterapkan pada
perbuatan manusia pada umumnya, baik yang wajib, haram, makruh, mubah,
maupun sunnah. Ini memang tidak dapat dilepaskan dari dasar hukum menurut
mereka, yaitu hukum syara yang lima. Oleh karena itulah apabila mereka
berkata, perkara ini sunnah, maksudnya mereka memandang bahwa pekerjaan
itu membawa nilau syariat yang dibebankan oleh Allah kepada setiap yang
baligh dan berakal dengan tuntutan yang tidak mesti. Dengan kata lain, tidak
fardhu dan tidak wajib (menurut ulama Hanafiyah) dan tidak wajib (menurut
ulam fiqih lainnya).
Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa sunnah berlawanan dengan bidah,
karena di masa Rasulullah, sunnah diartikan dengan cara dan perilaku yang
diikuti, yang menyangkut masalah agama. Sedangkan bidah menurut bahasa
adalah perkara yang baru. Imam as-Syathibi berkata, Pokok pengertian bidah
adalah menciptakan sesuatu yang baru, tanpa contoh terlebih dahulu. (asSyathibi, t.th: 29).
C. Pengertian Khabar dan Atsar
1. Pengertian Khabar
Selain istilah Hadits dan Sunnah, terdapat istilah Khabar dan Atsar. Khabar
menurut lughat, berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang (Hasbi,
1954: 32). Untuk itu dilihat dari sudut pendekatan ini (sudut pendekatan bahasa),
kata Khabar sama artinya dengan Hadits. Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, yang
dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah hadits sama artinya dengan khabar,
keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu, mauquf, dan maqthu' (as-Suyuthi,
1330 H: 4). Ulama lain, mengatakan bahwa kbabar adalah sesuatu yang datang
selain dari Nabi SAW., sedang yang datang dari Nabi SAW. disebut Hadits. Ada
juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar. Untuk
keduanya berlaku kaidah 'umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa tiap-tiap
hadits dapat dikatakan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan Hadits.
Menurut istilah sumber ahli hadits; baik warta dari Nabi maupun warta dari
sahabat, ataupun warta dari tabi'in. Ada ulama yang berpendapat bahwa khabar
digunakan buat segala warta yang diterima dari yang selain Nabi SAW. Dengan
pendapat ini, sebutan bagi orang yang meriwayatkan hadits dinamai muhaddits, dan
orang yang meriwayatkan sejarah dinamai akhbary atau khabary. Ada juga ulama
yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari khabar, begitu juga sebaliknya ada
yang mengatakan bahwa khabar lebih umum dari pada hadits, karena masuk ke
dalam perkataan khabar, segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi maupun dari
selainnya, sedangkan hadits khusus terhadap yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja
2. Pengertian Atsar
Atsar menurut lughat ialah bekasan sesuatu, atau sisa sesuatu, dan berarti
nukilan (yang dinukilkan) (Hasbi, 1954: 33). Sesuatu do'a umpamanya yang
dinukilkan dari Nabi dinamai: do'a ma'tsur. Sedangkan menurut istilah jumhur
ulama sama artinya dengan khabar dan hadits. Dari pengertian menurut istilah,
terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. "Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa
Atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW.,
87

sahabat, dan tabi'in. Sedangkan menurut ulama Khurasan, bahwa Atsar untuk yang
mauquf dan khabar untuk yang marfu (Ibid. 11).
D. Perbedaan Hadits dengan as-Sunnah, al-Khabar, dan al-Atsar
Dari keempat istilah yaitu Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar, menurut
jumhur ulama Hadits dapat dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu bahwa
hadits disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu pula halnya sunnah,
dapat disebut dengan hadits, khabar dan atsar. Maka Hadits Mutawatir dapat juga
disebut dengan Sunnah Mutawatir atau Khabar Mutawatir. Begitu juga Hadits
Shahih dapat disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan Atsar Shahih.
Tetapi berdasarkan penjelasan mengenai Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar
ada sedikit perbedaan yang perlu diperhatikan antara hadits dan sunnah menurut
pendapat dan pandangan ulama, baik ulama hadits maupun ulama ushul dan juga
perbedaan antara hadits dengan khabar dan atsar dari penjelasan ulama yang telah
dibahas. Perbedaan-perbedaan pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Hadits dan Sunnah : Hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, taqrir yang
bersumber dari Nabi SAW, sedangkan Sunnah segala yang bersumber dari
Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau
perjalan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya.
2. Hadits dan Khabar : Sebagian ulama hadits berpendapat bahwa Khabar
sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada selain Nabi SAW.,
Hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan kepada Nabi SAW.
Tetapi ada ulama yang mengatakan Khabar lebih umum daripada Hadits,
karena perkataan khabar merupakan segala yang diriwayatkan, baik dari Nabi
SAW., maupun dari yang selainnya, sedangkan hadits khusus bagi yang
diriwayatkan dari Nabi SAW. saja. "Ada juga pendapat yang mengatakan,
khabar dan hadits, diithlaqkan kepada yang sampai dari Nabi saja, sedangkan
yang diterima dari sahabat dinamai Atsar".
3. Hadits dan Atsar : Jumhur ulama berpendapat bahwa Atsar sama artinya
dengan khabar dan Hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa Atsar
sama dengan Khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW.,
sahabat dan tabi'in. "Az Zarkasyi, memakai kata atsar untuk hadits mauquf.
Namun membolehkan memakainya untuk perkataan Rasul SAW. (hadits
marfu)". Dengan demikian, Hadits sebagai sesuatu yang berasal atau
disandarkan kepada Nabi SAW. saja, sedangkan Atsar sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi SAW., sahabat dan tabi'in.
E. Perbedaan As-Sunnah dengan Bid'ah
Pembahasan ini semata-mata hanya menekankan pada sisi perbedaan antara
hadits dengan bid'ah, tidak membahas macam-macam bid'ah dan pengaruhnya
dalam kehidupan sehari-hari, baik pada sisi hukum syara' maupun muamalah.
Bid'ah, menurut bahasa memiliki beberapa makna, yaitu; penemuan terbaru, sesuatu
yang sangat indah, dan lelah. Sedang menurut pengertian agama, adalah "Apapun
yang terjadi setelah Rasulullah wafat berupa kebaikan atau sebaliknya, dan tidak mempunyai
dalil syarak yang jelas". Imam Syatibi, dalam kitabnya al-'Atisham, mengartikan bid'ah
itu dalam bahasa sebagai penemuan terbaru. Dengan demikian, "bid'ah suatu
88

pekerjaan yang belum ada contohnya, dinamailah pekerjaan-pekerjaan yang diada-adakan


dalam Agama dan dipandang indah oleh yang mengadakannya, bid'ah.
Ada dua pendapat yang dikemukakan oleh dua golongan yang berlaianan.
Yang pertama adalah golongan ahli Ushul : pendapat pertama, yaitu golongan yang
memasukkan segala urusan yang diada-adakan dalam soal ibadat saja ke dalam
bid'ah. Pendapat kedua, golongan yang memasukkan dalam kata bid'ah segala
urusan yang sengaja diada-adakan, baik dalam urusan 'Ibadah, maupun dalam
urusan 'Adat. Sedangkan kedua, adalah golongan Ahli Fuqaha, mempunyai dua
pendapat. Perdapat pertama yang memandang bid'ah ; segala perbuatan yang tercela
saja, yang menyalahi kitab, atau Sunnah, atau Ijma. Pendapat yang kedua,
memandang bid'ah segala yang diada-adakan sesudah Nabi, baik kebajikan maupun
kejahatan, baik ibadah maupun adat (urusan keduniaan).
Golongan Fuqaha yang hanya memandang bid'ah segala perbuatan yang
tercela saja yang menyalahi Kitab, atau Sunnah, atau Ijma', mendefinisikan Bid'ah
sebagai berikut : "Bid'ah itu, perbuatan yang tercela, yaitu ; yang diada-adakan serta
menyalahi Kitab, atau Sunnah, atau Ijma': inilah yang tidak diizinkan Syara' sama
sekali, baik perkataan, ataupun perbuatan, baik secara tegas maupun secara isyarat
saja ; dan tidak masuk ke dalamnya urusan-urusan kedunian. Sedangkan golongan
Fuqaha yang memandang bid'ah yang terjadi sesudah Nabi, mendefinisikan bid'ah
sebagai berikut : "Bid'ah itu, ialah : Segala yang diadakan-adakan sesudah Nabi
(sesudah kurun yang diakui baiknya), baik yang diadakan itu kebajikan, maupun
kejahatan, baik mengenai ibadah maupun menengnai adat (yakni yang dengannya
dikehendaki maksud duniawi).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa
Bid'ah segala sesuatu yang diada-adakan sesudah Nabi wafat, untuk dijadikan syara'
dan Agama, pada hal yang diada-adakan itu tak ada dalam Agama; diada-adakan itu
pula sesuatu syubuhat (yang menyamarkan), atau karena sesuatu ta'wil. Sedangkan
Sunnah, segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW., baik berupa perkataan,
perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum
diangkat menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Dengan kata lain sesuatu yang hanya
bersumber atau disandarkan kepada Nabi semata-mata.
Dengan demikian antara Sunnah dan Bid'ah terdapat perbedaan yang sangat
jelas sekali. Sunnah, sesuatu yang betul-betul bersumber atau sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi semata-mata, sedangkan Bid'ah merupakan sesuatu yang
diada-adakan ahli atau seseorang yang tidak mempunyai dalil yang jelas. Walaupun
dalam pembagian Bid'ah ada bid'ah mahmudah dan bid'ah Mazmumah atau ada
bid'ah Hasanah dan bid'ah Sayyiah. Ada yang membagi bid'ah wajib, bid'ah Sunnah,
bid'ah Mubah, bid'ah Haram, dan bid'ah Makruh, tetapi perbedaan antara Sunnah
dengan Bid'ah sangat jelas yaitu Sunnah sesuatu yang bersumber atau disandarkan
kepada Nabi, sedangkan Bid'ah sesuatu yang diada-adakan setelah Nabi. Maka,
KH.Moenawar Chalil mengatakan, bahwa "kita (ummat Islam) dalam mengerjakan
agamanya haruslah mengikuti Sunnah Nabi dan menjauhi perbuatan-perbutan bid'ah dengan
arti kata yang sebenarnya".
F. Perbedaan antara al-Quran dengan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi
Definisi al-Quran dan al-Hadits telah dikemukakan pada halaman
terdahulu. Dan untuk mengetahui perbedaan antara definisi al-Quran dengan hadis
Qudsi dan hadis Nabawi, maka disini kami kemukakan dua definisi berikut ini :
89

1. Perbedaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi


Kita telah mengetahui makna hadis secara etimologi, sedangkan qudsi
dinisbatkan kepada kata quds. Nisbah ini mengesankan rasa hormat karena materi
kata itu sendiri menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam arti bahasa. Maka, kata
taqdis berarti menyucikan Allah. Taqdis sama dengan tathir, dan taqaddasa sama
dengan tathahhara (suci, bersih). Allah berfirman tentang malaikat dalam Q.S. alBaqarah (2): 30:




Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui."
Hadis qudsi adalah hadis yang oleh Rasulullah SAW. disandarkan kepada
Allah. Maksudnya, Rasulullah SAW. meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam
Allah. Maka, Rasulullah SAW. menjadi perawi kalam Allah ini dengan lafal dari
Rasulullah SAW. sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi, dia
meriwayatkannya dari Allah dengan disandarkan kepada Allah dengan mengatakan,
"Rasulullah SAW. mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya,"
atau ia mengatakan, "Rasulullah SAW. mengatakan, 'Allah Taala telah berfirman
atau berfirman Allah Taala'."

Contoh Pertama

Allah berfirman, Seluruh amal anak Adam untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa
itu untuk-Ku, Aku akan memberikan balasannya. Puasa itu perisai. Apabila seorang
kamu berpuasa, janganlah ia memaki-maki, mengeluarkan kata-kata keji, dan jangan ia
berhiruk-pikuk. Jika ia dicarut oleh seseorang, atau dibunuh (hendak dibunuh), hendaklah
ia katakana: Saya berpuasa. (H.R. al-Bukhari)
Contoh Kedua
90

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. berkata, "Allah Taala berfirman, 'Aku
menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku di
dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan, bila dia menyebut-Ku
di kalangan orang banyak, Aku pun menyebutnya di kalangan orang banyak yang lebih
baik dari itu ...'." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis nabawi itu ada dua, yaitu 1) bersifat tauqifi yaitu : yang kandungannya
diterima oleh Rasulullah SAW dari wahyu, lalu ia menjelaskan kepada manusia
dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini, meskipun kandungannya dinisbahkan
kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih dinisbahkan kepada Rasulullah
SAW , sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya, meskipun
didalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain. 2) bersifat taufiqi yaitu :
yang disimpulkan oleh Rasulullah SAW menurut pemahamannya terhadap alQuran, kerena ia mempunyai tugas menjelaskan al-Quran atau menyimpulkannya
dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulann yang bersifat ijtihad ini,
diperkuat oleh wahyu jika ia benar, dan jika terdapat kesalahan didalamnya, maka
turunlah wahyu yang membetulkannya. Bagian ini bukanlah kalam Allah secara
pasti.
Dari sini jelaslah bahwa hadis nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi
dan taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh wahyu itu bersumber dari wahyu. Da
inilah makna dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad saw. :
`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan`.(Q.S. an-najm :3-4).
Hadis Qudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah
SAW melalui salah satu car penurunan wahyu, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW,
inilah pendapat yang kuat. Dinisbahkannya hadis Qudsi kepada Allah SWT adalah
nisbah mengenai isinya, bukan nisbah mengenai lafalnya. Sebab seandainya hadis
Qudsi itu lafalnya juga dari Allah, maka tidak ada lagi perbedaan antara hadis Qudsi
dengan al-Quran; dan tentu pula gaya bahasanya menuntut untuk ditantang, serta
membacanya pun diangggap ibadah.
Mengenai hal ini timbul dua macam ketaskaan ( syubhah ) :Pertama: bahwa
hadis nabawi ini juga wahyu secara maknawi, yang lafalnya dari Rasulullah SAW ,
tetapi mengapa hadis nabawi tidak kita namakan juga hadsi Qudsi ? jawabnya ialah
bahwa kita merasa pasti tentang hadis qudsi bahwa ia diturunkan maknanya dari
Allah karena adanya nash syara` yang menisbahkannya kepada Allah, yaitu kata-kata
Rasulullah SAW ; Allah Ta`ala telah berfirman, atau Allah Ta`ala berfirman. Itulah
sebabnya kita namakan hadis itu adalah hadis qudsi. Hal ini berbeda dengan hadishadis nabawi, kerena hadis nabawi tidak memuat nash tentang hal seperti ini.
Disamping itu bisa jadi isinya diberitahukan ( kepada Nabi ) melalui wahyu ( yakni
91

secara tauqifi ) namun mungkin juga disimpulkan melalui ijtihad ( yaitu secara
taufiqi ), dan oleh sebab itu kita namakan masing-masing dengan nabawi sebagai
terminal nama yang pasti. Seandainya kita mempunyai bukti untuk membedakan
mana wahyu tauqifi, tentulah hadis nabawi itu kita namakan pula hadis Qudsi.
Kedua : Bahwa apa bila lafal hadis qudsi itu dari Rasulullah SAW maka
dengan alasan apakah hadis itu dinisbahkan kepada Allah melalui kata-kata Nabi `
Allah Ta`ala telah berfirman` atau ` Allah Ta`ala berfirman`? Jawabnya ialah bahwa
hal yang demikian ini biasa terjadi dalam bahasa arab, yang menisbahkan kalam
berdasarkan kandungannya bukan berdasar lafalnya. Misalnya ketika kita mengubah
sebait syair menjadi prosa, kita katakan ` si penyair berkata demikian` . juga ketika
kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseorang kita pun mengatakan `si fulan
berkata demikian` . begitu juga al-Quran menceritakan tentang Nabi Musa, Fir`aun
dan sebagainya isi kata-kata mereka dengan lafal mereka dan dengan gaya bahasa
yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi dinisbatkan kepada mereka.
`Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa : `Datangilah kaum yang zalim itu, kaum
Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?` Berkata Musa: `Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan sempitlah dadaku
dan tidak lancar lidahku maka utuslah kepada Harun . Dan aku berdosa terhadap
mereka , maka aku takut mereka akan membunuhku`.Maka datanglah kamu berdua
kepada Fir`aun dan katakanlah olehmu: `Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan
semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami`.Fir`aun menjawab: `Bukankah
kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu
tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu . dan kamu telah berbuat suatu
perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang
tidak membalas guna. Berkata Musa: `Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu
itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku
takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia
menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan
kepadaku itu adalah kamu telah memperbudak Bani Israil`.Fir`aun bertanya: `Siapa
Tuhan semesta alam itu?` Musa menjawab: `Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apaapa yang di antara keduanya , jika kamu sekalian mempercayai-Nya`.( Q.S. asysyuara` : 10-24 )
2. Perbedaan antara al-Quran dan Hadits Qudsi
Ada beberapa perbedaan antara al-Quran dengan hadis qudsi, dan yang
terpenting adalah sebagai berikut:
a. Al-Quran adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW.
dengan lafal-Nya, dan dengan itu pula orang Arab ditantang, tetapi mereka
tidak mampu membuat seperti Alquran itu, atau sepuluh surah yang serupa
itu, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena alQuran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat. Adapun hadis qudsi
tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
b. Alquranal-Quran hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan Allah
Taala berfirman. Adapun hadis qudsi, seperti telah dijelaskan di atas,
terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah, sehingga nisbah
hadis qudsi itu kepada Allah adalah nisbah dibuatkan. Maka dikatakan,
92

c.

d.
e.

f.

Allah telah berfirman atau Allah berfirman. Dan, terkadang pula


diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW. tetapi nisbahnya
adalah nisbah kabar, karena Nabi menyampaikan hadis itu dari Allah. Maka,
dikatakan Rasulullah SAW. mengatakan apa yang diriwayatkan dari
Tuhannya.
Seluruh isi al-Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya
mutlak. Adapun hadis-hadis qudsi kebanyakan adalah kabar ahad, sehingga
kepastiannya masih merupakan dugaan. Adakalanya hadis itu sahih, hasan,
dan kadang-kadang dhaif.
Al-Quran dari Allah, baik lafal maupun maknanya.
Hadis qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari Rasulullah SAW. Hadis
qudsi ialah wahyu dalam makna, tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebab itu,
menurut sebagian besar ahli hadis, diperbolehkan meriwayatkan hadis qudsi
dengan maknanya saja.
Membaca al-Quran merupakan ibadah, karena itu ia dibaca dalam shalat.
"Maka, bacalah apa yang mudah bagimu dalam al-Quran itu." (Al-Muzamil:
20).
Nilai ibadah membaca al-Quran juga terdapat dalam hadis, "Barang siapa
membaca satu huruf dari Al-Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan,
kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim
itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf." (HR
Tirmizi dari Ibnu Mas'ud).
Adapun hadis qudsi tidak disuruh membacanya dalam shalat. Allah
memberikan pahala membaca hadis qudsi secara umum saja. Maka,
membaca hadis qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang
disebutkan dalam hadis mengenai membaca al-Quran bahwa pada setiap
huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.

BAB IX
BENTUK-BENTUK DAN
UNSUR-UNSUR HADITS
A. Bentuk-bentuk Hadits
Sebagaimana dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa hadits mencakup
segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi SAW. Oleh karena itu pada bahasan
ini akan diuraikan tentang bentuk hadits qauli, fili, taqriri, hammi dan ahwali
1. Hadits Qauli
Yang dimaksud dengan hadits qauli adalah segala yang disandarkan kepada
Nabi SAW. yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat beberapa maksud
syara, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah, akhlaq
93

maupun yang lainnya. Di antara contoh hadits qauli ialah hadits tentang doa
Rasulullah SAW. yang ditujukan kepada yang mendengar, menghafal, dan
menyampaikan ilmu. Hadits tersebut di antaranya :

Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan


perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain, karena
banyak orang berbicara mengenai fiqh padahal ia bukan ahlinya. Ada tiga sifat yang
karenanya tidak akan timbul rasa dengki di hati seorang muslim, yaitu ikhlas beramal
kepada Allah swt., saling menasehati dengan pihak penguasa dan patuh atau setia
kepada jamaah. Karena sesungguhnya doa mereka akan membimbing dan menjaganya
dari belakang.
Juga hadits tentang bacaan al Fatihah dalam shalat :

Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca umul Quran al Fatihah.(H.R. alBukhari dan Muslim)
2. Hadits fili
Yang dimaksud dengan hadits fili adalah segala yang disandarkan kepada
Nabi SAW. berupa perbuatannya yang sampai kepada kita. Seperti hadits tentang
shalat dan haji. Contoh hadits fili tentang shalat adalah sabda Rasulullah SAW.:

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.


Juga hadits Rasulullah SAW. :

Raulullah SAW. shalat di atas tunggangannya, kemana saja tunggangannya


menghadap. (H.R. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)
3. Hadits taqriri

94

Yang dimaksud hadits taqriri, ialah segala hadits yang berisi segala ketetapan
Nabi saw. terhadap apa yang datang dari sahabat. Nabi saw. membiarkan suatu
perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat, setelah memenuhi beberapa syarat
baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya.
Di antara contoh hadits taqriri, ialah sikap Rasulullah saw. membiarkan para
sahabat melaksanakan perintahnya, sesuai dengan penafsirannya masing-masing
sahabat terhadap sabdanya :
Janganlah seorang pun shalat Asar kecuali nanti di Bani Quraidlah. (H.R. alBukhari)
Sebagian sahabat memahami larangan tersebut, sehingga mereka tidak
melaksanakan shalat Asar pada waktunya. Sedang segolongan sahabat lainnya
memahami perintah tersebut dengan perlunya segera menuju Bani Qaraidlah dan
jangan santai dalam peperangan, sehingga dapat shalat tepat pada waktunya. Sikap
para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi saw. tanpa ada yang disalahkan atau
diingkarinya.
Selain dari bentuk-bentuk di atas, masih ada bentuk lainnya, yang berupa
hadits hammi dan hadits ahwali.
4. Hadits hammi
Yang dimaksud dengan hadits hammi adalah hadits yang berupa hasrat
Nabi saw. belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 Asyura.
Dalam riwayat ibn Abbas, disebutkan sebagai berikut :

Ketika Rasulullah SAW. berpuasa pada hari Asyura dan


memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata : Ya
Rasulullah ! hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Rasulullah SAW. bersabda, Tahun yang akan datang insya Allah aku akan
berpuasa pada hari yang ke sembilan.
Nabi SAW. belum sempat merealisasikan hasratnya ini, karena wafat
sebelum sampai bulan Asyura. Menurut Imam Syafii dan para pengikutnya, bahwa
menjalankan hadits hammi ini disunnahkan, sebagaimana menjalankan sunnahsunnah yang lainnya.
5. Hadits ahwali
Yang dimaksud hadits ahwali ialah hadits yang berupa hal ihwal Nabi saw.
yang menyangkut hal fisik, sifat-sifat dan kepribadiannya. Tentang keadaan fisik
Nabi saw., dalam beberapa hadits disebutkan, bahwa fisiknya tidak terlalu tinggi dan
95

tidak pendek, sebagaimana yang dikatakan oleh al Barai dalam sebuah hadits
riwayat Bukhari :

Rasul saw. adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tubuh.Keadaan fisiknya
tidak tinggi dan tidak pendek(H.R. al-Bukhari).
Pada hadits lain disebutkan :

Berkata Anas bin Malik, aku belum pernah memegang sutra murni dan sutra berwarna
(yang halus) sehalus telapak tangan Nabi SAW. juga belum pernah mencium wewangian
seharum Nabi SAW. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)
Mengenai sifat Rasul saw. dalam hadits dari ibn Umar riwayat Bukhari :

Rasulullah saw. bukan termasuk orang yang melampui batas dan berkata kotor dan
bahkan beliau bersabda, sebaik-baik kamu adalah sebaik akhlaqmu.
B. Unsur-unsur Hadits
1. Sanad
Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran, atau sesuatu yang kita jadikan
sandaran. Dikatakan demikian, karena hadits bersandar kepadanya. Menurut istilah,
terdapat perbedaan rumusan pengertian. Al-Badru bin jamaah dan at-Tiby
mengatakan bahwa sanad adalah :
berita tentang jalan matan.(as-Suyuthi, : 4)
Mahmud at-Thahan mendefinisikan:
Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits), yang menyampaikan kepada matan
hadits.
Muhammad Ajjaj al-Khathib memberikan definisi:

96

Silsilah para perawi yang menukilkan hadits dari sumber yang pertama.
Yang berkaitan dengan istilah sanad, terdapat kata-kata seperti, al- isnad, almusnid dan al-musnad. Kata-kata ini secara terminologis mempunyai arti yang cukup
luas, sebagaimana yang dikembangkan oleh para ulama.
Kata al-isnad berarti menyandarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal)
dan mengangkat yang dimaksudkan disini, ialah menyandarkan hadits kepada orang
yang mengatakannya (raf u al hadits ila qailih atau azwu al hadits ila qailih). Menurut at
Tiby, sebenarnya kata al-isnad dan as-sanad digunakan oleh para ahli hadits dengan
pengertian yang sama.
Kata al-musnad mempunyai beberapa arti. Bisa berarti hadits yang
disandarkan atau diisnadkan oleh seseorang; Bisa berarti, kumpulan hadits yang
diriwayatkan dengan menyebutkan sanad secara lengkap, seperti musnad al-Firdaus;
Bisa berarti, nama suatu kitab yang menghimpun hadits-hadits dengan sistem
penyusunan bersandarkan nama-nama para sahabat para perawi hadits, seperti kitab
musnad Ahmad; Bisa juga berarti nama bagi hadits yang marfu dan muttasil (hadits
yang disandarkan Nabi saw. dan sanadnya bersambung).
Sebenarnya dari tiga definisi sanad di atas tidak ada perbedaan secara
substansial. Untuk lebih jelas pembahasan tentang sanad, kita ambil satu contoh
hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:

Telah diberitahukan kepadaku Muhammad ibn Mutsanna, ia berkata, Abdul Wahab


ats-Tsaqafi telah mengabarkan kepadaku, ia berkata telah bercerita kepadaku Ayyub
atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari Nabi SAW bersabda, Tiga perkara
yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yaitu; Allah
dan Rasulnya hendaknya lebih dicintai daripada selain keduanya; Kecintaan kepada
seseorang tidak lain karena mencintai Allah semata-mata; dan keengganan kembali
kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan di neraka. (H.R. al-Bukhari)
Dari hadits di atas dapatlah dijelaskan:
a. Matan haditsnya dimulai dengan kata-kata tsalatsun sampai ay-yuqdafa fin-nar.
b. Hadits tersebut diterima al-Bukhari melalui rangkaian sanad:
1) Muhammad ibn Mutsanna (sanad pertama)
2) Abdul Wahhab ats-Tsaqafi (sanad kedua)
3) Ayyub (sanad ketiga)
4) Abi Qilabah (sanad keempat)
97

Anas r.a. (sanad kelima)


Dapat dikatakan pula bahwa sabda Nabi SAW di atas disampaikan oleh :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Anas r.a. (sebagai rawi pertama)


Abu Qilabah (sebagai rawi kedua)
Ayyub (sebagai rawi ketiga)
Ats-Tsaqafi (sebagai rawi keempat)
Muhammad ibn Mutsanna (rawi kelima)
Al-Bukhari (mukharrij hadits)

Dalam ilmu hadits faedah mempelajari sanad adalah untuk menimbang,


shahih tidaknya suatu hadits, atau bahkan menjadi dhaif. Sekiranya salah seorang
dalam sanad hadits tersebut ada yang fasik atau tertuduh dusta, maka haditsnya
menjadi dhaif, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu
hukum.
2. Matan
Kata matan atau al-matn menurut bahasa berarti ma irtafaa min al-ardi (tanah
yang meninggi), ada yang mengartikan kekerasan, kekuatan, kesangatan. Sedang
menurut istilah menurut Mahmud Thahhan:
Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.
Muhammad Ajjaj al-Khatib:
lafat-lafaz hadits yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu.
Ada juga redaksi yang lebih simpel lagi, yang menyebutkan bahwa matan
adalah ujung sanad (ghayah as sanad). Dari semua pengertian di atas, menunjukkan
bahwa yang dimaksud dengan matan, ialah materi atau lafaz hadits itu sendiri.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa matan adalah
pembicaraan (kalam) atau materi berita yang dengannya diperoleh sanad terakhir,
baik pembicaraan itu sabda Rasulullah, sahabat atau tabiin. baik isi pembicaraan itu
tentang perbuatan Nabi SAW, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah
oleh Nabi SAW. misalnya:

.
98

Kami shalat bersama-sama Rasulullah SAW pada waktu udara sangat panas, apabila
salah seorang di antara kami tidak sanggup menekankah dahinya di atas tanah, maka ia
bentangkan pakaiannya, lantas sujud di atasnya. (H.R.Muslim)
Perbuatan sahabat yang menejaskan perbuatan salah seorang dari mereka
yang tidak disanggah ole Nabi SAW., yaitu mulai dari kata kunna sampai fasajada
alaihi disebut dengan matan hadits.
3. Rawi
Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan
hadits (naqil al-hadits). Orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu
kitab, apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya).
Bentuk jamanya ruwah, dan perbuatannya menyampaikan hadits disebut merawi
(meriwayatkan) hadits.
Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak
dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadits pada tiap-tiap tabaqahnya, juga disebut rawi,
jika yang disebut dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan
hadits. Akan tetapi yang membedakan antara rawi dan sanad, terletak pada
pembukuan atau pentadwinan hadits. Orang yang menerima hadits dan kemudian
menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan perawi. Dengan
demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan atau
menghimpun hadits).
Untuk lebih jelas dapat membedakan antara sanad, rawi dan matan,
sebagaima yang diuraikan di atas, ada baiknya melihat contoh hadits di bawah ini:

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mamur bin Rabii al Qaisi, katanya :
Telah menceritakan kepaku Abu Hisyam al Muhzumi dari Abu al Wahid, yaitu ibn
Ziyad, katanya : Telah menceritakan kepaku Utsman bin Hakim, katanya : Telah
menceritakan kepadaku Muhammad bin al Munkadir, dari Amran, dari Utsman bin
Affan ra., ia berkata : Barang siapa yang berwudlu dengan sempurna (sebaik-baiknya
wudlu) keluarlah dosa-dosanya dari seluruh badannya bahkan dari bahwa kukunya
(H.R. Muslim)
Dari Muhammad bin Mamar bin Ribi al-Qaisi sampai dengan Utsman bin
Affan ra. adalah sanad dari hadits tersebut. Mulai kata man tawaddaa sampai
dengan kata tahta azfarih, adalah mattannya. Sedang Imam Muslim yang dicatat
di ujung hadits adalah perawinya, yang juga disebut mudawin

99

BAB X
SEJARAH PERIWAYATAN DAN
PEMBUKUAN AL-HADITS
Keberadaan hadits sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam memiliki
sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi,
zaman Nabi, Sahabat, dan Tabiin hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H.
Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan
larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi
akan tercampurnya nash al-Qur'an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus
Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur'an. Larangan tersebut
100

berlanjut sampai pada masa Tabi'in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat
menentang penulisan hadits, begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi
penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan
Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H).
Terlepas dari naik-turunnya
perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadits
memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban Islam.
A. Sejarah Perkembangan Hadits Pra Kodifikasi
1. Hadits pada Periode Pertama (Masa Rasulullah)
a. Masa Penyebaran Hadits
Rasulullah hidup di tengah-tengah masyarakat dan sahabatnya. Mereka
bergaul secara bebas dan mudah, tidak ada peraturan atau larangan yang
memepersulit para sahabat untuk bergaul dengan beliau. Segala perbuatan, ucapan,
dan sifat Nabi bisa menjadi contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat pada masa tersebut. Masyarakat menjadikan nabi sebagai panutan dan
pedoman dalam kehidupan mereka. Jika ada permasalahan baik dalam Ibadah
maupun dalam kehidupan duniawi, maka mereka akan bisa langsung bertanya pada
Nabi.Kabilah-kabilah yang tinggal jauh di luar kota Madinah pun juga selalu
berkonsultasi pada Nabi dalam segala permasalahan mereka. Adakalanya mereka
mengirim anggota mereka untuk pergi mendatangi Nabi dan mempelajari hukumhukum syari'at agama. Dan ketika mereka kembali ke kabilahnya, mereka segera
menceritakan pelajaran (hadits Nabi) yang baru mereka terima.
Selain itu, para pedagang dari kota Madinah juga sangat berperan dalam
penyebaran hadits. Setiap mereka pergi berdagang, sekaligus juga berdakwah untuk
membagikan pengetahuan yang mereka peroleh dari Nabi kepada orang-orang yang
mereka temui.
Pada saat itu, penyebarluasan hadits sangat cepat. Hal tersebut berdasar
perintah Rasulullah pada para sahabat untuk menyebarkan apapun yang mereka
ketahui dari beliau. Beliau bersabda,

"

"

Sampaikanlah olehmu apa yang berasal dariku, kendati hanya satu ayat! (H.R.
al-Bukhari)
Dalam hadits lain disebutkan,

"

"

Hendaknya orang yang menyaksikan hadits di antara kamu menyampaikannya


pada yang tidak hadir (dalam majlis ini). Karena boleh jadi, banyak orang yang
menerima hadits (dari kamu) lebih memahami dari pada (kamu sendiri) yang
mendengar (langsung dariku) (H.R. al-Bukhari).
Perintah tersebut membawa pengaruh yang sangat baik untuk menyebarkan
hadits. Karena secara bertahap, seluruh masyarakat muslim baik yang berada di
Madinah maupun yang di luar Madinah akan segera mengetahui hukumhukum
101

agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Meskipun sebagian dari mereka tidak
memperoleh langsung dari Rasulullah, mereka akan memperoleh dari saudara
saudara mereka yang mendengar langsung dari Rasulullah. Metode penyebaran
hadits tersebut berlanjut sampai Haji Wada dan wafatnya Rasulullah.
Faktor-faktor yang mendukung percepatan penyebaran hadits di masa
Rasulullah:
a) Rasulullah sendiri rajin menyampaikan dakwahnya.
b) Karakter ajaran Islam sebagai ajaran baru telah membangkitkan semangat
orang di lingkungannya untuk selalu mempertanyakan kandungan ajaran
agama ini, selanjutnya secara otomatis tersebar ke orang lain secara
berkesinambungan.
c) Peranan istri Rasulullah amat besar dalam penyiaran Islam, hadits termasuk di
dalamnya. (Zuhri, 2003:31)
b. Penulisan Hadits dan Pelarangannya
Penyebaran hadits-hadits pada masa Rasulullah hanya disebarkan lewat
mulut ke mulut (secara lisan). Hal ini bukan hanya dikarenakan banyak sahabat yang
tidak bisa menulis hadits, tetapi juga karena Nabi melarang untuk menulis hadits.
Beliau khawatir hadits akan bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran.
Menurut al-Baghdadi (w. 483 H), ada tiga buah hadits yang melarang penulisan
hadits, yang masing-masing diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri, Abu Hurairah,
dan Zaid ib Tsabit. Namun yan dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya hanya
hadits Abu Said al-Khudri yang berbunyi,
"

"
Janganlah kamu sekalian menulis sesuatu dariku selain Al-Quran . Barangsiapa
yang menulis dariku selain Al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya.
Riwayatkanlah dari saya. Barangsiapa yang sengaja berbohong atas nama saya maka
bersiaplah (pada) tempatnya di neraka (HR. Muslim).
Disini Nabi melarang para sahabat menulis hadits, tetapi cukup dengan
menghafalnya. Beliau membolehkan meriwayatkan hadits dengan disertai ancaman
bagi orang yang berbuat bohong. Dan hadits tersebut merupakan satu satunya
hadits yang shahih tentang larangan menulis hadits. Menurut Dr. Muhammad Alawi
al-Maliki, meskipun banyak hadits dan atsar yang semakna dengan hadits larangan
tersebut, semua hadits itu tidak lepas dari cacat yang menjadi pembicaraan di
kalangan para ahli hadits.
Adapun faktor-faktor utama dan terpenting yang menyebabkan Rasulullah
melarang penulisan dan pembukuan hadits adalah :
a) Khawatir terjadi kekaburan antara ayat-ayat al-Quran dan hadits Rasul bagi
orang-orang yang baru masuk Islam.
b) Takut berpegangan atau cenderung menulis hadits tanpa diucapkan atau
ditelaah.
c) Khawatir orang-orang awam berpedoman pada hadits saja.(Hasan Sulaiaman
Abbas Alwi, 1995:16)
Nabi telah mengeluarkan izin menulis hadits secara khusus setelah peristiwa
fathu Makkah. Itupun hanya kepada sebagian sahabat yang sudah terpercaya.
102

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, bahwa ketika Rasulullah
membuka kota Makkah, beliau berpidato di depan orang banyak dan ketika itu ada
seorang lelaki dari Yaman bernama Abu Syah meminta agar dituliskan isi pidato
tersebut untuknya. Kemudian Nabi memerintahkan sahabat agar menuliskan untuk
Abu Syah.

"

"

Wahai Rasulullah. Tuliskanlah untukku. Nabi bersabda (pada sahabat yang lain),
tuliskanlah untuknya. (H.R. Ahmad)
2. Hadits pada Periode Kedua (Masa Khulafa al-Rasyidin)
a. Masa Pemerintahan Abu Bakar dan Umar ibn Khattab
Setelah Rasulullah wafat, banyak sahabat yang berpindah ke kota-kota di
luar Madinah. Sehingga memudahkan untuk percepatan penyebaran hadits. Namun,
dengan semakin mudahnya para sahabat meriwayatkan hadits dirasa cukup
membahayakan bagi otentisitas hadits tersebut. Maka Khalifah Abu Bakar
menerapkan peraturan yang membatasi periwayatan hadits. Begitu juga dengan
Khalifah Umar ibn al-Khattab. Dengan demikian periode tersebut disebut dengan
Masa Pembatasan Periwayatan Hadits (

).

Pembatasan tersebut dimaksudkan agar tidak banyak dari sahabat yang


mempermudah penggunaan nama Rasulullah dalam berbagai urusan, meskipun
jujur dan dalam permasalahan yang umum. Namun pembatasan tersebut tidak
berarti bahwa kedua khalifah tersebut anti-periwayatan, hanya saja beliau sangat
selektif terhadap periwayatan hadits. Segala periwayatan yang mengatasnamakan
Rasulullah harus dengan mendatangkan saksi, seperti dalam permasalahan tentang
waris yang diriwayatkan oleh Imam Malik (Imam Malik, t.th:553).
Abu Hurairah, sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits, pernah ditanya
oleh Abu Salamah, apakah ia banyak meriwayatkan hadits di masa Umar, lalu
menjawab, "Sekiranya aku meriwayatkan hadits di masa Umar seperti aku
meriwayatkannya kepadamu (memperbanyaknya), niscaya Umar akan
mencambukku dengan cambuknya." (Ajjaj al-Khatib, 1963:96).
Riwayat Abu Hurairah tersebut menunjukkan ketegasan Khalifah Umar
dalam menerapkan peraturan pembatasan riwayat hadits pada masa
pemerintahannya. Namun di sisi lain, Umar ibn Khattab bukanlah orang yang anti
periwayatan hadits. Umar mengutus para ulama untuk menyebarkan al-Qur'an dan
hadits. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, "Saya tidak mengangkat penguasa
daerah untuk memaki orang, memukul, apalagi merampas harta kalian. Tetapi saya
mengangkat mereka untuk mengajarkan al-Qur'an dan hadits kepada kamu semua."
(Ibn Saad, juz I,135)
b. Masa Pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib
Secara umum, kebijakan pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi
Thalib tentang periwayatan tidak berbeda dengan apa yang telah ditempuh oleh
kedua khlaifah sebelumnya. Namun, langkah yang diterapkan tidaklah setegas
langkah khalifah Umar ibn al-Khattab. Dalam sebuah kesempatan, Utsman
meminta para sahabat agar tidak meriwayatkan hadits yang tidak mereka dengar
103

pada zaman Abu Bakar dan Umar (Ajjaj al-Khatib 1989): 97-98). Namun pada
dasarnya, periwayatan Hadits pada masa pemerintahan ini lebih banyak daripada
pemerintahan sebelumnya. Sehingga masa ini disebut dengan

.
Keleluasaan periwayatan hadits tersebut juga disebabkan oleh karakteristik
pribadi Utsman yang lebih lunak jika dibandingkan dengan Umar Selain itu, wilayah
kekuasaan Islam yang semakin luas juga menyulitkan pemerintah untuk mengontrol
pembatasan riwayat secara maksimal.
Sedangkan pada masa Ali ibn Abi Thalib, situasi pemerintahan Islam telah
berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Masa itu merupakan masa krisis dan fitnah
dalam masyarakat. Terjadinya peperangan antar beberapa kelompok kepentingan
politik juga mewarnai pemerintahan Ali. Secara tidak langsung, hal itu membawa
dampak negatif dalam periwayatan hadits. Kepentingan politik telah mendorong
pihak-pihak tertentu melakukan pemalsuan hadits. Dengan demikian, tidak seluruh
periwayat hadits dapat dipercaya riwayatnya.
Situasi Periwayatan Hadits
Dalam perkembangannya, periwayatan hadits yang dilakukan para sahabat
berciri pada dua tipologi periwayatan:
a) Dengan menggunakan lafal hadits asli, yaitu menurut lafal yang diterima
dari Rasulullah.
b) Hanya maknanya saja. Karena mereka sulit menghafal lafal redaksi hadits
persis dengan yang disabdakan Nabi.
Pada masa pembatasan periwayatan, para sahabat hanya meriwayatkan
hadits jika ada permasalahan hukum yang mendesak. Mereka tidak meriwayatkan
hadits setiap saat, seperti dalam khutbah. Sedangkan pada masa pembanyakan
periwayatan, banyak dari sahabat yang dengan sengaja menyebarkan hadits. Namun
tetap dengan dalil dan saksi yang kuat. Bahkan jika diperlukan, mereka rela
melakukan perjalanan jauh hanya untuk mencari kebenaran hadits yan
diriwayatkannya.

3. Hadits pada Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil - Tabi'in Besar)


Sesudah masa Khulafa' al-Rasyidin, timbullah usaha yang lebih sungguh
untuk mencari dan meriwayatkan hadits. Bahkan tatacara periwayatan hadits pun
sudah dibakukan. Pembakuan tatacara periwayatan hadits ini berkaitan erat dengan
upaya ulama untuk menyelamatkan hadits dari usaha-usaha pemalsuan hadits.
Kegiatan periwayatan hadits pada masa itu lebih luas dan banyak dibandingkan
dengan periwayatan pada periode Khulafa' al-Rasyidin. Kalangan Tabi'in telah
semakin banyak yang aktif meriwayatkan hadits.
Meskipun masih banyak periwayat hadits yang berhati-hati dalam
meriwayatkan hadits, kehati-hatian pada masa itu sudah bukan lagi menjadi ciri khas
yang paling menonjol. Karena meskipun pembakuan tatacara periwayatan telah
ditetapkan, luasnya wilayah Islam dan kepentingan golongan memicu munculnya
104

hadits-hadits palsu. Sejak timbul fitnah pada akhir masa Utsman r.a, umat Islam
terpecah-pecah dan masing-masing lebih mengunggulkan golongannya. Pemalsuan
hadits mencapai puncaknya pada periode ketiga, yakni pada masa kekhalifahan
Daulah Umayyah.
Seorang ulama Syi'ah, Ibnu Abil Hadid menulis dalam kitab Nahju alBalaghah, "Ketahuilah bahwa asal mulanya timbul hadits yang mengutamakan pribadi-pribadi
(hadits palsu) adalah dari golongan Syi'ah sendiri. Perbuatan mereka itu ditandingi oleh
golongan Sunnah (Jumhur/Pemerintah) yang bodoh-bodoh. Mereka juga membuat hadits hadits
untuk mengimbangi hadits golongan Syi'ah itu"
Karena banyaknya hadits palsu yang beredar di masyarakat dikeluarkan oleh
golongan Syi'ah, Imam Malik menamai kota Iraq (pusat kaum Syi'ah) sebagai
"Pabrik Hadits Palsu".
Tokoh-tokoh dalam Perkembangan Hadits
Pada masa awal perkembangan hadits, sahabat yang banyak meriwayatkan
hadits disebut dengan al-Muktsirun fi al-Hadits, mereka adalah:
a. Abu Hurairah meriwayatkan 5374 atau 5364 hadits
b. Abdullah ibn Umar meriwayatkan 2630 hadits
c. Anas ibn Malik meriwayatkan 2276 atau 2236 hadits
d. Aisyah (isteri Nabi) meriwayatkan 2210 hadits
e. Abdullah ibn Abbas meriwayatkan 1660 hadits
f. Jabir ibn Abdillah meriwayatkan 1540 hadits
g. Abu Sa'id al-Khudry meriwayatkan 1170 hadits.
Sedangkan dari kalangan Tabi'in, tokoh-tokoh dalam periwayatan hadits
sangat banyak sekali, mengingat banyaknya periwayatan pada masa tersebut, di
antaranya :
a. Madinah
- Abu Bakar ibn Abdu Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam
- Salim ibn Abdullah ibn Umar
- Sulaiman ibn Yassar
b. Makkah
- Ikrimah
- Muhammad ibn Muslim
- Abu Zubayr
c. Kufah
- Ibrahim an-Nakha'i
- Alqamah
d. Bashrah
- Muhammad ibn Sirin
- Qotadah
e. Syam
- Umar ibn Abdu al-Aziz (yang kemudian menjadi khalifah dan memelopori
kodifikasi hadits)
f. Mesir
-Yazid ibn Habib
g. Yaman
- Thaus ibn Kaisan al-Yamani
105

B. Sejarah Perkembangan Hadits pada era Kodifikasi


Proses kodifikasi hadits atau tadwiin al-Hadits yang dimaksudkan adalah
proses pembukuan hadits secara resmi yang dilakukan atas instruksi Khalifah,
dalam hal ini adalah Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (memerintah tahun 99-101 H).
Beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara
perbendaraan sunnah. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh
wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal Hadits menuliskan dan
membukukannya supaya tidak ada Hadits yang akan hilang pada masa sesudahnya.
Abu Naim menuliskan dalam bukunya Tarikh Isbahan bahwa Khalifa Umar
bin Abd al-Aziz mengirimkan pesan perhatikan hadits Nabi dan Kumpulkan. AlBukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Abd al-Aziz mengirim surat kepada Abu
Bakar bin Muhammad bin Hazm sebagai berikut: Perhatikanlah apa yang ada pada
hadits-hadits Rasulullah saw, dan tulislah, karena aku khawatir akan terhapusnya
ilmu sejalan dengan hilangnya ulama, dan janganlah engkau terima selain hadits
Nabi saw. (Shahih al-Bukhari, Juz I. hal 29)
Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm
(w. 117 H) untuk mengumpulkan hadits-hadits yang ada pada Amrah binti Abd alRahman bin Sad bin Zaharah al- Anshariyah (21- 98 H) dan al-Qasim bin
Muhammad bin Abi Bakr al-Shiddiq.
Pengumpulan al-Hadits khususnya di Madinah ini belum sempat dilakukan
secara lengkap oleh Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan akhirnya usaha ini
diteruskan oleh Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124) yang
terkenal dengan sebutan Ibnu Syihab al-Zuhri. Beliaulah sarjana Hadits yang paling
menonjol di jamannya. Atas dasar ini Umar bin Abd al-Aziz pun memerintahkan
kepada anak buahnya untuk menemui beliau. Dari sini jelaslah bahwa Tadwin alHadits bukanlah semata-mata taktib al-Hadits (penulisan al-Hadits).
Tadwin al-Hadits atau kodifikasi al-Hadits merupakan kegiatan pengumpulan
al-Hadits dan penulisannya secara besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah
(khalifah). Sedangkan kegiatan penulisan al-Hadits sendiri secara tidak resmi telah
berlangsung sejak masa Rasulullah saw masih hidup dan berlanjut terus hingga
masa kodifikasi. Atas dasar ini tuduhan para orientalis dan beberapa penulis muslim
kontemporer bahwa al-Hadits sebagai sumber hukum tidak otentik karena baru
ditulis satu abad setelah Rasulullah wafat adalah tidak tepat. Tuduhan ini menurut
M M. Azami lebih disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam melacak sumbersumber yang berkaitan dengan kegiatan penulisan Hadits.
Bahkan beberapa orientalis seperti Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht
telah sengaja melakukan kecerobohan dalam hal ini untuk menciptakan keraguan
terhadap otentisitas al-Hadits. Tetapi amat disayangkan banyak penulis
kontemporer termasuk dari kalangan Muslim telah menjadikan karya Ignaz
Goldziher dan Joseph Schacht sebagai rujukannya. Sungguh aneh karya Ignaz
Goldziher dan Joseph Schacht telah ditelan mentah-mentah oleh kelompok liberal
Islam untuk menghantam karya-karya ulama terdahulu tentang hadits.
Dalam bukunya Studies In Early Hadith Literature yang diterjemahkan oleh
Ali Musthafa Yaqub dengan judul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, M
M. Azami telah mengurakian secara rinci dalam bab tersendiri tentang kegiatan
penulisan al-Hadits mulai dari masa Rasulullah saw hingga pertengahan abad ke dua
Hijriyah. Tampak sekali dari penelitian Azami, bahwa telah terjadi transfer
informasi atas riwayat Hadits dari generasi ke generasi mulai dari masa sahabat
106

hingga masa tabiin kecil dan tabittabiin tidak saja dalam bentuk lisan tetapi juga
dalam bentuk tulisan. Misalnya saja catatan dari Abdullah bin Amr bin Ash yang
terkenal dengan al-Shahifah al Shadiqah telah ditransferkan kepada muridnya Abu
Subrah. Shahifah tersebut juga sampai ke tangan cucunya Syuaib bin Muhammad
bin Abdullah bin Amr. Dari tangan Syuaib ini berlanjut ke tangan putra dari
Syuaib bin Muhammad atau cicit dari Abdullah bin Amr yaitu Amr bin Syuaib.
Pada masa tadwin ini penulisan hadits belum tersistimatika sebagimana
kitab-kitab Hadits yang ada saat ini tetapi sekadar dihimpun dalam bentuk kitabkitab jami dan mushannaf. Demikian juga belum terklasifikasikannya Hadits atas
dasar shahih dan tidaknya. Barulah pada periode sesudahnya muncul kitab Hadits
yang disusun berdasarkan bab-bab tertentu, juga kitab hadits yang memuat hanya
hadits-hadits shahih saja. Pada periode terakhir ini pengembangan ilmu jarh wa
tadil telah semakin mantap dengan tampilnya Muhammad bin Ismail al-Bukhari.
Kitab-kitab hadits yang masyhur di masa itu adalah :
(1) Mushannaf oleh Syu'bah bin al-Hajjaj (160-H)
(2) Mushannaf oleh Al-Laits bin Sa'ad (175-H)
(3) Al-Muwaththa' oleh Malik bin Anas al-Madani, Imam Darul Hijrah
(179-H).
(4) Mushannaf oleh Sufyan bin Uyainah (198-H)
(5) Al-Musnad oleh asy-Syafi'i (204-H)
(6) Jami al-Imam oleh Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani (211-H)
C. Sejarah Perkembangan Hadits Pasca Kodifikasi
1. Periode Penyaringan Hadits (abad ke-III H)
Yaitu dimana tidak ditulis kecuali hadits-hadits nabi SAW saja, sehingga
mulai disusun kitab-kitab musnad yang bersih dari fatwa-fatwa, seperti musnad
Imam Ahmad bin Hanbal. Walaupun demikian, masih tercampur dengan
hadits-hadits dha'if bahkan maudhu', sehingga pada pertengahan abad-III ini
para ulama membuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat hadits shahih. Sehingga
muncul ide-ide untuk mengumpulkan yang shahih-shahih saja yang dipelopori
oleh Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah al-Bukhari
(Imam Bukhari) dengan karyanya Jami'us Shahih dan disusul oleh muridnya
Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (Imam Muslim),
sehingga abad ini merupakan abad keemasan bagi hadits dengan munculnya
para ahli hadits terkemuka dan disusunnya kutubus-sittah (6 kumpulan hadits)
yang memuat hampir seluruh hadits-hadits yang shahih.
Diantara kitab-kitab hadits yang sudah tersusun waktu itu adalah :
a. Mushannaf Said bin Manshur (227-H)
b. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (235-H)
c. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (241-H)
d. Shahih al-Bukhari (251-H)
e. Shahih Muslim (261-H)
f. Sunan Abu Daud (273-H)
g. Sunan Ibnu Majah (273-H)
h. Sunan At-Tirmidzi (279-H)
i. Sunan An-Nasa'i (303-H)
j. Al-Muntaqa fil Ahkam Ibnu Jarud (307-H)
k. Tahdzibul Atsar Ibnu Jarir at-Thabari (310-H)
107

2. Periode Penyempurnaan (Abad-IV H)


Yaitu pemisahan antara ulama mutaqaddimin (salaf) yang metode
mereka adalah berusaha sendiri dalam meneliti perawi, menghafal hadits sendiri
serta menyelidiki sendiri sampai pada tingkat sahabat dan tabi'in. Sedangkan
ulama muta'akhkhirin (khalaf) ciri mereka dalam menyusun karyanya adalah
dengan menukil dari kitab-kitab yang telah disusun oleh salaf, menambahkan,
mengkritik dan men-syarah-nya (memberikan ulasan tentang isi hadits-hadits
tersebut).
Kitab-kitab hadits yang termasyhur pada abad ini diantaranya adalah :
a. Shahih Ibnu Khuzaimah (311-H)
b. Shahih Abu Awwanah (316-H)
c. Shahih Ibnu Hibban (354-H)
d. Mu'jamul Kabir, Ausath dan Shaghir, oleh At-Thabrani (360-H)
e. Sunan Daraquthni (385-H)
3. Periode Klasifikasi dan Sistemisasi
Penyusunan Kitab Hadits (Abad-VH)
Yaitu dengan mengklasifikasikan hadits, cara pengumpulannya,
kandungannya dan tema-tema yang sama. Disamping itu juga mensyarah dan
meringkas kitab-kitab hadits sebelumnya, sehingga muncullah berbagai kitabkitab hadits hukum, seperti :
a. Sunanul Kubra, al-Baihaqi (384-458 H).
b. Muntaqal Akhbar, Majduddin al-Harrani (652-H).
c. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar al-Asqalani (852-H).
Dan berbagai kitab targhib wa tarhib (kitab yang berisi berbagai hal
untuk menggemarkan dalam beribadah dan mengancam bagi yang lalai), seperti:
a. At-Targhib wa Tarhib, Imam al-Mundziri (656-H).
b. Riyadhus Shalihin, oleh Imam Nawawi (767-H).

BAB XI
KEDUDUKAN DAN FUNGSI
AL-HADITS DALAM ISLAM
A. Kedudukan Hadits Dalam Islam
Al-Hadits adalah salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati
martabat kedua -setelah Al-Qur`an - dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam
artian, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar
hukumnya dalam al-Qur`an, maka hakim ataupun mujtahid harus kembali kepada
Hadits Nabi SAW.. Dalam praktek banyak sekali ditemukan masalah yang tidak
dimuat dalam al-Qur`an dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadits Nabi.
Hal ini tak terlalu sulit dipahami, sebab al-Qur`an adalah Kitab Allah yang hanya
108

memuat ketentuan-ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar


masalah. Sedangkan rinciannya dituangkan di dalam hadits Nabi, dan memang
harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan al-Qur`an akan menjadi setebal
apa. Karena ia harus memuat bermacam-macam masalah kecil dan parsial yang tak
ada batasnya.
Kemudian masalah yang dihadapi umat manusia tak pernah berhenti dan
zaman senantiasa berkembang. Masalah yang aktual sepuluh tahun silam, belum
tentu terdengar di zaman ini. Sekiranya al-Qur`an memuat masalah-masalah kecil
dan bersifat lokal, maka penyajiannnya akan terkesan kurang sejalan dengan roda
perputaran zaman. Padahal al-Qur`an diturunkan Allah SWT untuk menjadi
pegangan umat manusia hingga akhir zaman, dan konsepnya senantiasa relevan
untuk setiap kurun waktu dan tempat. Oleh karena itu, al-Qur`an tidak memuat
cara pembuatan pesawat terbang, teknik merakit komputer, rumus-rumus
matematika. Sebab masalah-masalah sejenis ini sifatnya temporer dan berkembang
terus menerus sesuai dengan tingkat kemajuan peradaban umat manusia. Akan
tetapi al-Qur`an cukup menginformasikan masalah-masalah general yang bersifat
mutlak dan tak mengalami perubahan. al-Qur`an juga memberikan dorongan kuat
untuk menggunakan akal pikiran manusia ke arah yang bermanfaat. Nah, di sinilah
letaknya salah satu kemukjizatan al-Quran.
Masalah-masalah agama yang tidak dirinci al-Qur`an itu pada umumnya
dapat ditemukan di dalam Hadits Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat,
puasa, zakat, haji yang merupakan rukun Islam, tidak dijelaskan rinciannya dalam alQur`an, akan tetapi dijabarkan secara detail oleh hadits Nabi SAW. Demikian pula
aturan muamalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral dan
lainnya. Dari sini dapat ditangkap betapa urgensinya hadits dalam kehidupan
berIslam ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa bagian terbesar dari konsep Islam
didapati di dalam hadits.
Sebagaimana
telah diungkapkan sebelumnya, hadis adalah sumber
ajaran Islam yang kedua, setelah Al-Quran. Tanpa hadis, Islam tidak akan tampak
ajarannya, bahkan seseorang tersesat, karena tidak mengenal ajarannya secara utuh.
Hadis mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam agama mengiringi kedudukan
Al-Quran, karena kebanyakan ayat-ayat Al-Quran mempunyai pengertian yang
masih mujmal (global), mutlaq (absolut/tak terbatas) dan amm (umum). Kemudian
datang ucapan dan perbuatan Rasulullah s.a.w. yang menjadi mubayyin (penjelas),
muqayyid (pembatas) dan mukhashshis (pentakhsis) (Ahmad Amin, 1975: 208).
Adapun mengenai kedudukan Rasulullah s.a.w. dan sunnah beliau dalam Islam
telah disebutkan dalam beberapa ayat A1-Quran, di antaranya:
1. Menjelaskan Kitabullah (Abbas Bayyuni,t.th.: 4)
Allah s.w.t. berfirman dalam Al-Quran Surat an-Nahl ayat 44:



Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al
Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. an-Nahl (16): 44)
109

Di antara tugas Rasulullah s.a.w., beliau menjelaskan --baik dengan


perkataan maupun perbuatan-- hal-hal yang masih global dan sebagainya dalam
Al-Qur'an. Tugas ini berdasarkan perintah dari Allah SWT. Tentu saja
penjelasan terhadap isi Al-Quran itu bukanlah sekedar Qiraah Al-Quran
(membaca Al-Quran). Banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerlukan
penjelasan praktis. Dan itu sudah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., karenanya
Rasulullah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tugas ini. Menolak penjelasan
Rasulullah terhadap al-Quran juga tidak mungkin, karena Al-Quran sendiri
telah menegaskan demikian. Oleh karena, itu, menolak penjelasan Rasulullah
terhadap Al-Quran sama saja artinya dengan menolak Al-Quran.
2. Rasulullah s.a.w. merupakan teladan baik yang wajib dicontoh oleh setiap
muslim (Mustafa al-Azami, 1994:27).
Allah s.w.t. berfirman dalam Surat al-Ahzab ayat 21



Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (Q.S. al-Ahzab (33): 21)
3. Rasulullah s.a.w. wajib ditaati (Ibid.,28).
Allah SWT berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah
kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) (Q.S.
an-Anfal (8): 20)


Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan
barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk
menjadi pemelihara bagi mereka. (Q.S. an-Nisa (4): 80)
Ayat-ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW
diutus hanyalah agar dipatuhi perintah-perintahNya dengan izin Allah, bukan
sekedar tablig (menyampaikan) atau memberikan kepuasan. Manusia belum
dapat dikatakan beriman apabila belum mau menerima sistem dan hukum Allah
yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sewaktu masih hidup; dan sesudah
beliau wafat, menerima sistem dan hukum Allah itu dengan menjadikan
Al-Quran dan sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum dan sistem
kehidupan.
Rasulullah SAW tidaklah sekedar penasihat yang saran-sarannya boleh
diambil atau tidak. Sebab agama Islam merupakan pandangan hidup (way of life)
110

yang nyata dengan segala bentuk dan aturannya, baik yang berupa nilai-nilai,
akhlak, adab, ibadah, dan lain-lain. Pemberlakuan hukum yang dilakukan
Rasulullah tidaklah semata-mata masalah pribadi, tetapi hal itu merupakan
penerapan sistem dan hukum Allah. Seandainya hal itu merupakan masalah
pribadi, niscaya sepeninggal Rasulullah hukum Allah dan sunnah RasulNya
tidak mempunyai arti lagi. Abu Bakr RA juga pernah memerangi orang-orang
hanya karena mereka tidak mematuhi Allah dan RasulNya dalam masalah zakah.
4. Rasulullah SAW Mempunyai Wewenang Untuk Membuat Suatu Aturan
(Syariah).(Abbas, :9)
Allah SWT berfirman:









(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati
tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka
mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang
buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada
mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan
mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah
orang-orang yang beruntung. Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah
utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi;
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan,
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman
kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia,
supaya kamu mendapat petunjuk".(Q.S. al-Araf (7): 157-158)
Ayat-ayat ini berisi perintah untuk beriman kepada Allah dan RasulNya,
dengan konsekuensi mematuhi perintah-perintah, aturan-aturan dan
sunnah-sunnahnya. Dan manusia tidak mungkin memperoleh petunjuk dari
111

ajaran-ajaran Rasul tanpa mengikuti ajaran-ajaran itu sendiri. Sekedar percaya


atau beriman dengan hati saja tanpa dibarengi dengan pengamalan yang
sempurna terhadap aturan-aturan dan sunnah-sunnah Rasul, hal itu tidaklah
sempurna. Ayat-ayat di atas juga mengandung penjelasan tentang wewenang
dan kekuasaan Nabi untuk membuat suatu aturan hukum. Dan ini merupakan
anugerah Allah kepada beliau. Allah berfirman

... dan (Nabi) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi
mereka segala yang buruk. (Q.S. al-Araf:157)
Dalam ayat ini Allah melimpahkan wewenang untuk menghalalkan atau
mengharamkan sesuatu kepada Nabi. Karenanya tidak ada perbedaan antara
hal-hal yang dihalalkan atau diharamkan oleh Allah dengan hal-hal yang
dihalalkan atau diharamkan oleh Nabi. Keduanya wajib ditaati. Oleh karena itu
Allah berfirman:





Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta
benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul,
kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara
kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya
bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya. (Q.S. al-Hasyr (59): 7).
Sejalan dengan penjelasan di atas, ada ayat lain yang menunjukkan
bahwa sumber, syari'at Islam --baik Al-Quran maupun sunnah-- adalah satu,
yaitu wahyu dari Allah SWT. Ayat tersebut adalah:


Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S. an-Najm
(53): 3-4)
Dari keterangan-keterangan dalam ayat-ayat tersebut di atas jelaslah
bahwa mengamalkan Al-Quran saja dan meninggalkan Sunnah adalah sesuatu
yang tidak mungkin dan tidak dibenarkan. Oleh karena itu Al-Imam as-Syafii
mengatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang
112

diwajibkan oleh Allah, maka berarti ia menerima sunnah-sunnah RasulNya serta


menerima hukum-hukumnya. Begitu pula orang yang menerima sunnah Rasul,
ia berarti menerima perintah-perintah Allah (asy-SyafiI, 1969: 33).
Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa taat kepada Rasulullah SAW adalah
suatu kewajiban, sebab taat kepada Allah SWT juga disyaratkan taat kepada
Rasul. Dan setelah Rasul wafat ketaatan itu diwujudkan dalam menerima dan
mengikuti sunnah-sunnahnya. Oleh karena itu ummat Islam sejak
periode-periode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan
memakai sunnah-sunnah Rasul. Sebagai perwujudannya, hukum-hukum yang
mereka tetapkan sejak zaman Nabi tidak pernah menyimpang dari
ketentuan-ketentuan itu.
B. Fungsi al-Hadits Terhadap al-Quran
Di atas telah dijelaskan, bahwa di antara kedudukan hadits dalam Islam
adalah menjelaskan kitabullah (al-Quran). Sebagai penjelas, hadits memiliki
bermacam-macam fungsi. Imam Malik bin Anas menyebutkan ada lima macam
fungsi, yaitu sebagai bayan taqrir, bayan at-tafsir, bayan at-tafshil, bayan at-tabst, bayan attasyri. Sementara itu, Imam SyafiI juga menyebutkan ada lima fungsi, yaitu sebagai
bayan at-tafshil, bayan takhshis, bayan at-tayin, bayan at-tasyri, dan bayan an-naskh.
Dalam kitab ar-Risalah, asy-SyafiI menambahkan satu fungsi lagi, yaitu bayan alisyarah. Sedangkan Ahmad bin Hanbal menyebutkan empat fungsi saja, yaitu bayan
at-takid, bayan at-tafsir, bayan at-tasyri, dan bayan at-takhshih. Berikut pejelasan
masing-masing:
1. Bayan at-Takid
Bayan at-takid disebut juga dengan bayan at-taqrir atau bayan al-Isbat.
Yang dimaksud dengan bayan at-takid ialah menetapkan dan memperkuat apa
yang diterangkan dalam al-Quran. Fungsi hadits dalam hal ini hanya
memperkokoh isi kandungan al-Quran. Sebagai contoh adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn Umar, sebagai berikut:


Apabila kalian melihat (ruyah) bulan, maka berpuasalah, juga apabila melihat
(ruyah) itu maka berbukalah (H.R. Muslim)
Hadits ini men-taqrir Q.S. al-Baqarah (2): 185:


barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.
Contoh lain, hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah :

- -

Rasulullah SAW bersabda, Tidak diterima shalat seseorang yang berhadas
sebelum berwudhu. (H.R. al-Bukhari).
113

Hadits ini men-taqrir Q.S. al-Maidah (5): 6 mengenai keharusan berwudhu


ketika hendak mendirikan shalat. Ayat tersebut adalah:



Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
Juga hadits tentang dasar-dasar Islam yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari
Ibn Umar:



- -





Rasulullah SAW bersabda, Islam dibangun atas lima dasar, yaitu mengucapkan
kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji,
dan berpuasa di bulan Ramadhan. (H.R. al-Bukhari).
Hadits tersebut men-taqrir Q.S. al-Hujurat: 15; Q.S. an-Nur: 56; Q.S. alBaqarah (2): 183 dan 185 dan Q.S. Ali Imran: 97.



Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman)
kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang
yang benar. (Q.S. al-Hujurah (49): 15)


Dan Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya
kamu diberi rahmat. (Q.S. an-Nur (24): 56).



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. al-Baqarah (2): 183)
114






(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,
Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu,
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. al-Baqarah (2): 185).



Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Q.S. Ali Imran (3): 97).
Menurut sebagian ulama, bayan takid atau bayan taqrir ini disebut juga
dengan bayan al-muwafiq li an-nashi al-Kitab. Hal ini dikarenakan munculnya
hadits-hadits itu sesuai dengan nash al-Quran.
2. Bayan at-Tafsir
Yang dimaksud dengan bayan at-tafsir adalah memberikan perincian dan
penafsiran terhadap ayat-ayat al-Quran yang masih mujmal (global),
memberikan taqyid (persyaratan) terhadap ayat-ayat yang masih mutlaq, dan
memberikan takhshih (penentuan khusus) terhadap ayat-ayat al-Quran yang
masih umum. Contoh ayat-ayat yang masih mujmal adalah perintah mengerjakan
shalat, puasa, zakat, disyariatkan jual-beli, pernikahan, qishah, hudud, dan
sebagainya. Ayat-ayat tentang masalah tersebut masih bersifat mujmal, baik
mengenai cara mengerjakan, sebab-sebabnya, syarat-syarat, ataupun halanganhalangannya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. melalui haditsnya menafsirkan
dan menjelaskan seperti disebutkan dalam hadits-hadits berikut:


115

Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku melakukan shalat (H.R. al-Bukhari dan
Muslim).
Hadits ini menerangkan tata cara menjalankan shalat, sebagaimana Q.S. alBaqarah (2): 43:


Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'
Contah hadits yang men-taqyid kan ayat-ayat al-Quran yang bersifat
mutlaq, adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini:


Rasulullah didatangi seseorang yang membawa pencuri, maka beliau memotong tangan
percuri tersebut dari pergelangan tangan.

Hadits ini mentaqyid Q.S. al-Maidah: 38:



Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Contoh hadits yang berfungsi men-takhshih keumumman ayat-ayat alQuran, seperti sabda Rasulullah SAW:
Kami para Nabi tidak meninggalkan harta warisan.
Dan sabda Rasulullah SAW:
Pembunuh tidak berhak menerima warisan
Kedua hadits tersebut men-takhsis keumuman firman Allah Q.S. an-Nisa (4):
11:


116

Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu :


bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.
3. Bayan at-Tasyri
Yang dimaksud dengan bayan at-tasyri adalah mewujudkan suatu hukum
atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam al-Quran. Bayan ini juga disebut
juga dengan bayan zaid ala al-Kitab al-Karim. Hadits Rasulullah SAW. dalam
segala bentuknya (baik yang qauli, fili maupun taqriri) berusaha untuk
menunjukkan kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang tidak
terdapat dalam al-Quran. Beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh para sahabat atau yang tidak diketahuinya, dengan memberikan
bimbingan dan menjelaskan persoalannya.
Banyak hadits Rasulullah SAW. yang termasuk dalam kelompok ini, di
antaranya adalah hadits tentang penetapan haramnya mengumpulkan dua
wanita bersaudara (antara istri dan bibinya), hokum syufah, hokum merajam
pezina wanita yang masih perawan, dan hokum tentang hak waris seorang anak.
Sebuah contoh hadits Nabi SAW tentang zakat fitrah, sebagai berikut:

.
Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan
Ramadhan satukat (sha) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka maupun
hamba, laki-laki ataupun perempaun. (H.R. Muslim).
Hadits yang termasuk bayan at-tasyri ini wajib diamalkan sebagaimana
halnya hadits-hadits yang lain. Ibn Qayyim berkata bahwa hadits-hadits
Rasulullah yang berupa tambahan terhadap al-Quran harus ditaati dan tidak
boleh ditolak atau mengingkarinya. Ini bukanlah sikap Rasulullah mendahului
al-Quran, melainkan semata-mata karena perintahnya.
Ketiga bayan yang telah diuraikan di atas telah disepakati oleh para
ulama, namun untuk bayan yang ketiga masih sedikit dipersoalkan. Sementara
itu, untuk bayan lainnya, seperti bayan an-nasakh, terjadi perbedaan pendapat.
Ada yang mengakui dan menerima fungsi al-Quran sebagai nasikh dan ada yang
menolaknya.
4. Bayan an-Nasakh
Kata an-nasakh dari segi bahasa memiliki beberapa arti, yaitu al-ibthal
(membatalkan), al-ijalah (menghilangkan), at-tahwil (memindahkan), atau at-taqyir
(mengubah). Para ulama mengartikan bayan an-nasakh ini melalui pendekatan
bahasa, sehingga di antara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam
mengartikannya. Hal ini juga terjadi di kalangan ulama mutaqaddimin maupun
mutaakhirin. Menurut ulama mutaqaddimin, yang disebut bayan an-nasakh ialah
adanya dalil syara yang dapat menghapuskan ketentuan yang telah ada karena
datangnya kemudian.
117

Dari pengertian di atas jelaslah bahwa ketentuan yang datang kemudian


dapat menghapuskan ketentuan yang datang terdahulu. Hadits sebagai
ketentuan yang datang kemudian dari al-Quran, dalam hal ini, dapat
menghapus ketentuan dan isi kandungan al-Quran. Demikianlah menurut
ulama yang menganggap adanya fungsi bayan an-nasakh. Imam Hanafi
membatasi fungsi bayan ini hanya terhadap hadits-hadits yang mutawatir dan
masyhur. Sedangkan terhadap hadits ahad , ia menolaknya.
Salah satu contoh yang biasa diajukan oleh para ulama adalah hadits:
Tidak ada wasiat bagi ahli waris
Hadits ini menurut mereka me-nasakh isi al-Quran surat al-Baqarah ayat 180:



Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib
kerabatnya secara ma'ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

118

BAB XII
ULUMUL HADITS
Ulumul Hadits secara kebahasaan berarti ilmu-ilmu tentang hadis. Kata
'ulum adalah bentuk jamak dari kata 'ilm (ilmu). Dalam hubungannya dengan
pengetahuan tentang hadis, ada ulama yang menggunakan bentuk 'ulum al-hadis,
seperti IbnuSalah (ahli hadis, w. 642 H/1246 M) dalam kitabnya 'Ulum al-hadis, dan
ada juga yang menggunakan bentuk 'ilm al-hadis, seperti Jalaluddin as-Suyuti dalam
mukadimah kitab hadisnya Tadrib ar-Rawi. Penggunaan bentuk jamak disebabkan
ilmu tersebut bersangkut-paut dengan hadis Nabi SAW yang banyak macam dan
cabangnya. Hakim an-Naisaburi (321 H/933 M-405 H/1014M), misalnya,dalam
kitabnya Ma'rifah 'Ulum al-hadis mengemukakan 52 macam ilmu hadis. Muhammad
bin Nasir al-Hazimi, ahli hadis klasik, mengatakan bahwa jumlah ilmu hadis
mencapai lebih dari 100 macam yang masing-masing mempunyai objek kajian
khusus sehingga bisa dianggap sebagai suatu ilmu tersendiri.
Hasbi ash-Shiddieqy, tokoh hadis Indonesia, mengatakan bahwa ilmu hadis
adalah ilmu yang berpautan dengan hadis Nabi SAW. Peryataannya ini selain
bertolak dari makna lugawi- (bahasa) juga mengisyaratkan bahwa ilmu-ilmu yang
bersangkut- paut dengan hadis Nabi SAW itu banyak macam dan cabangnya.
Kajian llmu Hadis, secara garis besar ulama hadis mengelompokkan ilmuilmu yang bersangkut-paut dengan hadis Nabi SAW tersebut ke dalam dua bidang
pokok, yakni ilmu hadis riwayah ( 'ilm al-hadis ar-riwayah) dan ilmu hadis dirayah ( 'ilm
al-hadis ad-dirayah).
A. Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu Hadis Riwayah ialah ilmu yang mempelajari cara periwayatan,
pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadis Nabi SAW. Objek kajiannya
ialah hadis Nabi SAW dari segi periwayatan dan pemeliharaannya yang meliputi:
1) cara periwayatannya, yakni bagaimana cara penerimaan dan penyampaian
hadis dari seorang periwayat (rawi) kepada periwayat lain;
2) cara pemeliharaan, yakni penghafalan, penulisan, dan pembukuan hadis.
Ilmu ini tidak mem-bicarakan kualitas sanad, sifat rawi, dan cacat yang
terdapat pada matan dan lainnya.
Ilmu Hadis Riwayah bertujuan untuk memelihara hadis Nabi SAW dari
kesalahan dalam proses periwayatan atau dalam hal penulisan dan
119

pembukuannya. Lebih lanjut ilmu ini juga bertujuan agar umat Islam menjadikan
Nabi SAW sebagai suri teladan melalui pemahaman terhadap riwayat yang berasal
darinya dan mengamalkannya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah alAhzab (33) ayat 21:



Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.
Ulama yang terkenal dan dipandang sebagai pelopor ilmu hadis riwayah
adalah Abu Bakar Muhammad bin Syihab az-Zuhri (51-124 H), seorang imam
dan ulama besar di Hedzjaz (Hijaz) dan Syam (Suriah). Dalam sejarah
perkembangan hadis, az-Zuhri tercatat sebagai ulama pertama yang menghimpun
hadis Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz atau Khalifah
Umar II (memerintah 99 H/717 M-102 H /720 M).
Meskipun demikian, ilmu hadis riwayah ini sudah ada sejak periode
Rasulullah SAW sendiri, bersamaan dengan dimulainya periwayatan hadis itu
sendiri. Sebagaimana diketahui, para sahabat menaruh perhatian yang tinggi
terhadap hadis Nabi SAW. Mereka berupaya mendapatkannya dengan
menghadiri majelis Rasulullah SAW serta mendengar dan menyimak pesan atau
nasihat yang disampaikan Nabi SAW. Mereka juga memperhatikan dengan
seksama apa yang dilakukan Rasulullah SAW, baik dalam beribadah maupun
dalam aktivitas sosial, dan akhlak Nabi SAW sehari-hari. Semua itu mereka
pahami dengan baik dan mereka pelihara melalui hafalan mereka. Selanjutnya
mereka menyampaikannya dengan sangat hati-hati kepada sahabat lain atau
tabiin. Para tabiin pun melakukan hal yang sama, memahami hadis,
memeliharanya, dan menyampaikannya kepada tabiin lain atau tabi' at- tabi'in
(generasi sesudah tabiin).
Demikianlah periwayatan dan pemeliharaan hadis Nabi SAW berlangsung
hingga usaha penghimpunan yang dipelopori oleh az-Zuhri. Usaha
penghimpunan, penyeleksian, penulisan, dan pembukuan hadis secara besarbesaran dilakukan oleh ulama hadis pada abad ke-3 H, seperti Imam al-Bukhari,
Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmizi, dan ulama- ulama hadis
lainnya melalui kitab hadis masing-masing.
Dengan dibukukannya hadis Nabi SAW dan selanjutnya dijadikan rujukan
oleh ulama yang datang kemudian, maka pada periode selanjutnya ilmu hadis
riwayah tidak lagi banyak berkembang. Berbeda halnya dengan ilmu hadis dirayah
yang senantiasa berkembang dan melahirkan berbagai cabang ilmu hadis. Oleh
karena itu, pada umumnya yang dibicarakan oleh ulama hadis dalam kitab-kitab
ulumul hadis yang mereka susun adalah ilmu hadis dirayah. Dalam
perkembangannya, istilah ulumul hadis menjadi sinonim bagi ilmu hadis dirayah.
Selain itu, ilmu hadis dirayah disebut juga musthlahul al-hadis (ilmu peristilahan
hadis) atau 'ilm ushul al-hadis (ilmu dasar hadis).
B. Ilmu Hadits Dirayah
120

Ilmu Hadis Dirayah adalah Ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah untuk


mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara menerima dan menyampaikan hadis,
sifat rawi, dan lain-lain. Sasaran kajian ilmu hadis dirayah adalah sanad dan matan
dengan segala persoalan yang terkandung di dalamnya yang turut mempengaruhi
kualitas hadis tersebut. Kajian terhadap masalah-masalah yang bersangkutan
dengan sanad disebut naqd as-sanad (kritik sanad) atau kritik ekstern. Disebut
demikian karena yang dibahas ilmu itu adalah akurasi (kebenaran) jalur
periwayatan, mulai dari sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menulis
dan membukukan hadis tersebut.

Pokok bahasan naqd as-sanad adalah sebagai berikut.


1) Ittishal as-sanad (persambungan sanad). Dalam hal ini tidak dibenarkan
adanya rangkaian sanad yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui
identitasnya ( wahm) atau samar .
2) Tsiqah as-sanad, yakni sifat 'adl (adil), dhabit (cermat dan kuat), dan tsiqah
(terpercaya) yang harus dimiliki seorang periwayat.
3) Syazz, yakni kejanggalan yang terdapat atau bersumber dari sanad.
Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang tsiqah tetapi
menyendiri dan bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh
periwayat-periwayat tsiqah lainnva.
4) 'Illah, yakni cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang kelihatannya baik
atau sempurna. Syazz dan 'illah adakalanya terdapat juga pada matan dan
untuk menelitinya diperlukan penguasaan ilmu hadis yang mendalam.
Kajian terhadap masalah-masalah yang menyangkut matan disebut naqd almatn (kritik matan) atau kritik intern. Disebut demikian karena yang dibahasnya
adalah materi hadis itu sendiri, yakni perkataan, perbuatan atau ketetapan
Rasulullah SAW. Pokok pembahasannyameliputi:
1) Rakakah al-lafz yakni kejanggalan-kejanggalan dari segi redaksi
2) Fasad al-ma 'na, yakni terdapat cacat atau kejanggalan pada makna hadis
karena bertentangan dengan al-hiss (indera) dan akal, bertentangan dengan
nas al-Qur'an, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang terjadi pada
masa Nabi SAW serta mencerminkan fanatisme golongan yang berlebihan
3) kata-kata garib (asing), yakni kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan
maknanya yang umum dikenal.
Tujuan dan faedah ilmu hadis dirayah adalah untuk mengetahui dan
menetapkan maqbul(diterima) dan mardud (ditolak)-nya suatu hadis. Dalam
perkembangannya, hadis Nabi SAW telah dikacaukan dengan munculnya hadishadis palsu yang tidak saja dilakukan oleh musuh-musuh Islam, tetapi juga oleh
umat Islam sendiri dengan motif kepentingan pribadi, kelompok atau golongan.
Oleh karena itu, ilmu hadis dirayah ini mempunyai arti penting dalam usaha
pemeliharaan hadis Nabi SAW. Dengan ilmu hadis dirayah dapat diteliti hadis
mana yang dapat dipercaya berasal dari Rasulullah SAW, shahih, dhaif, dan palsu.
Secara praktis, ilmu hadis dirayah juga sudah ada sejak periode awal Islam
atau sejak periode Rasulullah SAW, paling tidak dalam arti dasar-dasarnya. Ilmu
ini muncul bersamaan dengan mulainya periwayatan hadis yang disertai dengan
121

tingginya perhatian dan selektivitas sahabat dalam menerima riwayat yang sampai
kepada mereka. Berawal dengan cara yang sangat sederhana, ilmu ini berkembang
sedemikian rupa seiring dengan berkembangnya masalah yang dihadapi. Pada
akhirnya ilmu ini melahirkan berbagai cabang ilmu dengan metodologi
pembahasan yang cukup rumit.
Pada periode Rasulullah SAW, kritik atau penelitian terhadap suatu riwayat
(hadis) yang menjadi cikal baka1 ilmu hadis dirayah dilakukan dengan cara yang
sederhana sekali. Apabila seorang sahabat ragu-ragu menerima suatu riwayat dari
sahabat lainnya, maka ia segera menemui Rasulullah SAW atau sahabat lain yang
dapat dipercaya untuk mengkonfirmasikannya. Setelah itu, barulah ia menerima
dan mengamalkan hadis tersebut.
Pada periode sahabat, penelitian hadis yang menyangkut sanad maupun
matan hadis semakin menampakkan wujudnya. Abu Bakar as-Siddiq (573-634;
khalifah pertama dari al-khulafa' ar- rasyidun (Empat Khalifah Besar)), misalnya,
tidak mau menerima suatu hadis yang disampaikan oleh seseorang kecuali yang
bersangkutan mampu mendatangkan saksi untuk memastikan kebenaran riwayat
yang disampaikannya.
Demikian pula yang dilakukan oleh Umar bin al-Khattab (581-644; khalifah
kedua dari al-Khulafa ' ar-Rasyidun). Bahkan Umar mengancam akan memberi
sanksi terhadap siapa saja yang meriwayatkan hadis jika tidak mendatangkan
saksi. Ali bin Abi Thalib (603-661; khalifah terakhir dari al-Khulafa' ar-Rasyidun)
menetapkan persyaratan tersendiri. la tidak mau menerima suatu hadis yang
disampaikan oleh seseorang kecuali yang menyampaikannya bersedia diambil
sumpah atas kebenaran riwayat tersebut. Meskipun demikian, ia tidak menuntut
persyaratan tersebut terhadap sahabat-sahabat yang paling dipercaya kejujuran
dan kebenarannya, seperti Abu Bakar as-Siddiq.
Semua yang dilakukan mereka bertujuan untuk memelihara kemumian
hadis-hadis Rasulullah SAW. Di antara sahabat yang terkenal selektif dan tak
segan-segan membicarakan kepribadian sahabat lain dalam kedudukannya sebagai
periwayat hadis adalah Anas bin Malik (w. 95 H), Abdullah bin Abbas (Ibnu
Abbas), dan Ubadah bin as-Samit.
Prinsip dasar penelitian sanad yang terkandung dalam kebijaksanaan yang
dicontohkan oleh para sahabat diikuti dan dikembangkan pula oleh para tabiin.
Di antara tokoh tabiin yang terkenal dalam bidang ini adalah Sa'id bin Musayyab
(15-94 H), al-Hasan al-Basri (21-110 H), Amir bin Syurahbil asy-Sya'bi (17-104
H), dan Muhammad bin Sirin (w.110H).
Kritik matan juga tampak jelas pada periode sahabat, Aisyah binti Abu
Bakar RA, misalnya, pernah mengkritik hadis dari Abu Hurairah (w. 57 H)
dengan matan berbunyi:

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya mayat diadzab disebabkan oleh ratapan sebagian


keluarganya. (H.R. al-Bukhari)
Aisyah mengatakan bahwa periwayat telah bersalah dalam menyampaikan
hadis tersebut sambil menjelaskan matan yang sesungguhnya. Suatu ketika
122

Rasulullah SAW lewat pada suatu kuburan orang Yahudi dan beliau melihat
keluarga si mayat sedang meratap di atasnya. Melihat hal tersebut Rasulullah
SAW bersabda:
Mereka sedang meratapi si mayat, sementara si mayat sendiri sedang diazab dalam
kuburnya. (H.R. al-Bukhari)
Lebih lanjut Aisyah berkata cukuplah al-Qur'an bukti ketidakbenaran
matan hadis yang datang dari Abu Hurairah karena maknanya bertentangan
dengan al-Qur'an. Ia mengutip al-Quran surah al-An'am (6) ayat 164 :




Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah
Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan
kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan
diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Sejumlah sahabat lainnya juga melakukan hal yang sama, seperti Umar bin
al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud (Ibnu Mas'ud), dan
Abdullah bin Abbas. Pada periode tabiin, penelitian dan kritik matan semakin
berkembang seiring dengan berkembangnya masalah-masalah matan yang mereka
hadapi. Demikian pula di kalangan ulama- ulama hadis selanjutnya.
Pada penghujung abad ke-2 H barulah penelitian/ kritik hadis mengambil
bentuk sebagai ilmu hadis teoretis di samping bentuk praktis seperti dijelaskan di
atas. Imam asy-Syafi'i adalah ulama pertama yang mewariskan teori-teori ilmu
hadisnya secara tertulis sebagaimana terdapat dalam karya monumentalnya arRisalah (kitab usul fikih) dan al- Umm (kitab fikih). Hanya saja teori ilmu hadisnya
tersebut tidak terhimpun dalam satu kitab khusus melainkan tersebar dalam
pembahasan-pembahasannya dalam dua kitab tersebut.
Ulama pertama yang membukukan ilmu hadis dirayah adalah Abu
Muhammad ar-Ramahurmuzi (265-360 H) dalam kitabnya, al-Muhaddis al-Fashil
bain ar-Rawi wa al- wa 'iy (Ahli Hadis yang memisahkan antara rawi dan pemberi
nasihat). Sebagai pemula, kitab ini belum membahas masalah-masalah ilmu hadis
secara lengkap. Kemudian muncul al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H/1014 M)
dengan sebuah kitab yang lebih sistematis, Ma'rifah 'U1um al-Hadis (Makrifat Ilmu
Hadis). Meskipun demikian, kitab ini masih memiliki kekurangan.
Kemudian Abu Nu'aim al-Isfahani (w. 430 H/1038 M), muhaddis (ahli
hadis) dari Astalun (Persia), berusaha melengkapi kekurangan tersebut melalui
kitabnya, al-Mustakhraj 'Ala al-hakim. Setelah itu muncul Abu Bakr Ahmad alKhatib al-Bagdadi (392 H/1002 M-463 H/1071 M) yang menulis dua kitab ilmu
hadis, yakni al-Kifayah fI 'ilm ar-Riwayah dan al-Jami' li Adab ar-Rawi wa as-Sami'.
123

Selain itu, al-Bagdadi juga menulis sejumlah kitab dalam berbagai cabang ilmu
hadis. Menurut al-Hafiz Abu Bakar bin Nuqtah, ulama hadis kontemporer dari
Mesir, ulama yang menulis ilmu hadis setelah al-Bagdadi pada dasamya berutang
budi kepada karya-karya yang ditinggalkannya.
Kitab-kitab ulumul hadis yang terkenal pada periode berikutnya antara lain
'Ulum al-Hadits karya Abu Amar Usman bin Shalah atau Ibnu Salah (ahli hadis; w.
642 H/1246 M). Kitab ini mendapat perhatian banyak ulama sehingga banyak
pula yang menulis syarah (ulasan)-nya. Misalnya, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam
kitabnya al-Ifsah bi Takmil an- Nakt 'ala Ibn Sallah, Imam an-Nawawi dalam
kitabnya al-Irsyad dan at- Taqrib, dan Ibnu Kasir (700 H/1300 M-774 H/1373 M)
dalam kitabnya Ikhtisar 'Ulum al-hadis.
Kitab lainnya yang cukup terkenal di antaranya ialah Tadrib ar-Rawi oleh
Jalaluddin as-Suyuti, Taudih al-Afkar oleh Muhammad bin Isma'il al-Kahlani asSan'ani (1099 H/1688 M-1182 H/1772 M) dan Qawa 'id at- Tahdis karya
Muhammad Jamaluddin bin Muhammad bin Sa'id bin Qasim al-Qasimi (12831332 H).
Di samping kitab ulumul hadis yang bersifat umum, dalam perkembangan
selanjutnya muncul pula kitab ulumul hadis yang bersifat khusus, yakni kitab yang
membahas satu cabang ilmu hadis tertentu dengan pembahasan yang lebih luas
dan mendalam. Ilmu hadis dirayah memiliki cabang-cabang yang berkaitan
dengan sanad, rawi, dan matan hadis. Cabang-cabang yang berkaitan dengan
sanad dan rawi yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Ilmu Rijal al-Hadits
'Ilm rijal al-hadis, yakni ilmu yang mengkaji keadaan para rawi hadis dan
perikehidupan mereka, baik dari kalangan sahabat, tabiin maupun tabi' at- tabi'in,
dan generasi sesudahnya. Bagian dari 'ilm rijal al-hadis ini adalah 'ilm tarikh rijal alhadis. Ilmu ini secara khusus membahas perihal para rawi hadis dengan
penekanan pada aspek-aspek tanggal kelahiran, nasab atau garis keturunan, guru
sumber hadis, jumlah hadis yang diriwayatkan, dan murid-muridnya.
Di antara kitab-kitab terkenal dalam cabang ilmu hadis ini ialah al-Isti'ab fi
Ma'rifah al- Ashab karya Ibnu Abdul Bar (w. 463 H), al-Isabah fi Tamyiz asShahabah dan Tahdzib at- Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani, serta Tahdzib alKamal karya Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zakki al-Mizzi (w. 742 H).
2. Ilmu al-Jarh wa at-Tadil
'Ilm al-jarh wa at-ta'dil, yakni ilmu yang membahas hal ihwal rawi dengan
menyoroti kesalehan dan kejelekannya, sehingga dengan demikian
periwayatannya dapat diterima atau ditolak. Muhammad Ajaj al-Khatib, ahli hadis
kontemporer dari Suriah, mengelompokkan sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat
tercela para periwayat masing-masing ke dalam enam tingkatan dan setiap
tingkatan dilambangkan dengan istilah-istilah tertentu.
Untuk sifat-sifat terpuji digunakan istilah autsaq an-nas (orang yang paling
dipercaya, baik kepribadian maupun hafalannya), la yus'al 'anhu (tidak perlu
dipertanyakan lagi), tsiqah-tsiqah (tepercaya kuat), tsabat (kokoh), la ba'sa bih (tidak
masalah) dan laisa bi ba'id min as- shawwab (tidak jauh dari kebenaran). Untuk sifatsifat tercela digunakan istilah akdzab an-nas (manusia paling pendusta), muttaham
124

kadzib (suka berdusta), muttaham bi al-kadzib (dituduh berdusta). la yuktab hadisuh


(tidak perlu ditulis hadisnya), la yuhtajj bih (tidak dapat dijadikan hujah), dan fihi
maqal (dipertanyakan). Untuk periwayat yang memiliki sifat terpuji hadisnya dapat
diterima dengan peringkat kehujahan sesuai dengan peringkat sifat terpuji yang
dimilikinya. Sebaliknya, periwayat yang memiliki sifat tercela hadisnya ditolak
dengan peringkat penolakan sesuai dengan peringkat sifat jelek yang dimilikinya.
Kitab-kitab terkenal dalam cabang ilmu hadis ini antara lain al-Jarh wa at- Ta
dil karya Ibnu Abi Hatim ar-Razi (w. 328 H) dan al-Jarh wa at-Ta'dil karya
Muhammad Jamaluddin bin Muhammad bin Sa 'id bin Qasim al-Qasimi.
3. Ilmu Ilal al-Hadits
'Ilm 'Ilal al-Hadits, yakni ilmu yang membahas perihal cacat tersembunyi
yang mungkin terdapat dalam suatu hadis yang keberadaannya dapat
menjatuhkan nilai hadits yang secara lahir tampak shahih. Misalnya, hadits yang
tampak muttashil (hadis yang sanadnya menyambung sampai kepada Nabi SAW
atau sahabat) setelah diteliti lebih jauh ternyata munqati' (hadis yang salah seorang
periwayatnya gugur tidak pada sahabat, tetapi bisa terjadi pada periwayat yang di
tengah atau di akhir) .Untuk dapat mempelajari cacat tersembunyi ini diperlukan
penguasaan ilmu 'ilm 'ilal al-hadis secara mendalam karena masalah yang menjadi
objek kajiannya lebih rumit.
Kitab-kitab terkenal di cabang ini di antaranya 'Ilal al-Hadis oleh Ibnu Abi
Hatim ar-Razi, al- 'Ilal oleh Imam at-Tirmizi, dan al- 'Ilal al-Mutananiyah fi alAhadis al-Wahiyah oleh Ibnu al-Jauzi (510-97 H).
4. Ilmu Gharib al-Hadits
Ilmu Gharib al-Hadits, yakni ilmu yang membahas masalah kata atau lafal
yang terdapat pada matan hadis yang sulit dipahami, baik karena kata atau lafal
tersebut jarang sekali dipakai, nilai sasteranya yang tinggi, maupun karena sebab
yang lain. 'Ilm gharib al-hadis ini mempunyai arti penting dalam memahami maksud
hadis dengan baik dan tepat karena sering kali suatu lafal tidak dapat dipahami
sesuai dengan maknanya yang umum dikenal (makna lahiriah) sehingga harus
dipahami dengan makna tersendiri agar maksud yang dituju oleh hadis tersebut
dapat diungkap dengan baik dan tepat. Ilmu inilah yang mengantarkan seseorang
untuk dapat menemukan makna yang tepat tersebut. Ulama perintis di bidang ini
adalah Abu Ubaidah Ma'mar bin Mussana at- Taimi (w. 210 H) dan kemudian
Abu al-Hasan an-Nadr bin Syunail al-Mazini (w. 203 H). Keduanya telah menulis
kitab tentang gharib al-hadis. Namun, Muhammad Adib Salih (ahli hadis
kontemporer dari Suriah) mengatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab
kecil dan banyak masalah yang belum terdapat di dalamnya.
Kitab yang terkenal ialah al-Fa'iq fi Gharib al-Hadits karya Abu Kasim
Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari dan an-Nihayah fi Gharib al-Hadits karya
Majduddin Abu as-Sa 'adah al-Mubarak bin Muhammad yang terkenal dengan
nama Ibnu Asir (544-606H).
5. Ilmu Asbab al-Wurud al-Hadits
125

'Ilm Asbab al-Wurud al-Hadis, yakni ilmu yang membahas sebab atau hal-hal
yang melatarbelakangi munculnya suatu hadis. Sebab atau hal tersebut adakalanya
berupa pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat, lalu Rasulullah SAW
memberikan jawabannya, dan adakalanya berupa peristiwa yang disaksikan atau
dialami sendiri oleh Rasulullah SAW bersama sahabatnya, kemudian beliau
menjelaskan hukumnya.
Hadis-hadis yang mempunyai asbab al- wurud ini harus dipahami sesuai
dengan keterikatannya dengan sebab atau hal-hal yang melatarbelakangi
munculnya hadis tersebut. Ilmu ini bertujuan mengantarkan seseorang untuk
dapat memahami hadis sesuai konteksnya.
Ulama yang dipandang sebagai perintis dalam bidang ilmu ini adalah Abu
Hafs Umar bin Muhammad bin Raja al-Ukbari (380-458 H), dan kitab yang
terkenal dalam bidang ini ialah al-Bayan wa at- Ta 'rif fi Asbab Wurud al-Hadits asySyarif karya Syarib Ibrahim Muhammad bin Kamaluddin al-Husaini al-Hanafi adDimasyqi yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Hamzah ( 1054 -1112 H).
6. Ilmu Mukhtalif al-Hadits
'IIm Mukhtalif al-Hadits, yakni ilmu yang membahas hadis-hadis yang secara
lahir tampak saling bertentangan. Ilmu ini mempunyai arti penting dalam
mengantarkan seseorang untuk dapat menyelami makna filosofis suatu hadis,
karena pada tingkat makna filosofis tidak mungkin hadis-hadis Rasulullah SAW
benar-benar bertentangan satu sama lain. Apabila tampak bertentangan, maka
pertentangan itu hanyalah pada makna lahiriahnya, bukan pada maksud
sesungguhnya yang dituju.
Ulama perintis di bidang ini ialah Imam asy-Syafi'i dengan karyanya
Mukhtalif al-Hadis. Kemudian muncul pula Abu Muhammad Abdullah bin
Muslim ad-Dinawari bin Qutaibah atau Ibnu Qutaibah (213 H/828 M-276
H/889 M) dengan kitabnya Ta'wi1 Mukhtalif al-Hadis dan Abu Ja'far Ahmad bin
Muhammad at- Thahawi (239-321 H) dengan kitabnya Musykil al-Hadits.
7. Ilmu Nasikh wa Mansukh al-Hadits
'Ilm Nasikh wa Mansukh al-Hadits, yakni ilmu yang membahas penyelesaian
hadis-hadis yang bertentangan dan tidak dapat dikompromikan. Ilmu ini
mempelajari sejarah munculnya hadis-hadis yang bertentangan tersebut untuk
mengetahui mana di antaranya yang lebih dahulu muncul dan yang kemudian.
Penyelesaian dilakukan dengan kaidah an-nasikh, yaitu hadis yang datang
kemudian membatalkan hadis yang datang lebih dahulu. Selanjutnya, hadis yang
membatalkan dijadikan hujjah dan diamalkan, sedangkan hadis yang
dibatalkan/dihapus ditinggalkan. Kitab-kitab terkenal di bidang ini antara lain
Nasikh al-Hadis wa Mansukhih karya Abu Hafs Umar bin Ahmad bin Usman yang
terkenal dengan nama Ibnu Syahin (297-385 H) dan al-I'tibar fi an-Nasikh wa alMansukh min al-Atsar karya Abu Bakar Muhammad bin Musa al-Hazimi (547-584
H).
8. Ilmu Takhrij al-Hadits

126

'Ilm Takhrij al-Hadits, yakni ilmu yang membahas kualitas hadis. Ilmu ini
membicarakan cara yang harus ditempuh dalam mencari dan menemukan hadis
di dalam kitab-kitab sumber asli yang memuatnya serta menerangkan kualitas
sanad yang mendukung periwayatan hadis tersebut.
Yang dimaksud dengan kitab hadis sumber asli adalah kitab hadis yang
ditulis langsung oleh periwayat dengan memaparkan jalur sanadnya secara utuh,
seperti al-kutub as-sittah (kitab hadis yang enam, yaitu Shahih al-Bukhari, Shahih
Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tarmizi Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibn
Majah), al-Muwatta' oleh Imam Malik, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, dan Sunan
ad-Darimi. 'Ilm Takhrij al-Hadis bertujuan mengantarkan seseorang untuk
menelusuri kualitas sanad hadis dengan meneliti nama-nama periwayat yang
terdapat dalam jalur sanadnya.
Kitab-kitab penting di bidang ini di antaranya Thuruq Takhrij Hadits
Rasulillah karya Abu Muhammad Abdul Hadi (ahli hadis kontemporer dari Mesir)
dan Ushul at- Takhrij wa Dirasah al-Asanid karya Mahmud at- Tahhan (ahli hadis
kontemporer dari Mesir).

127

BAB XIII
KAEDAH KESAHIHAN HADITS
Yang dimaksud dengan kaedah keabsahan hadits Nabawi di sini adalah
kriteria-kriteria atau syarat-syarat dimana suatu hadits yang diriwayatkan dapat
dikatakan rah berasal dari Nabi SAW atau dengan kata lain hadits tersebut benar-benar
bersumber dari Nabi yang didukung dengan kaedah-kaedah kesahihan yang telah
ditetapkan oleh ahli kaedah-kaedah kesahihan yang telah ditetapkan oleh ahli hadits
sebagai buktinya, karena menurut ahli hadits, hadits sahih adalah hadits yang sanad dan
matannya sahih. Sehingga diketahui bagaimana status hadits-hadits yang tidak
memenuhi kriteria-kriteria tersebut dan bagaimana suatu hadits sampai kepada derajat
maudhu (palsu).
Sebagaimana diketahui, hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam kedua
setelah Al-Quran. Berbeda dengan A1-Quran yang bersifat qathiy l-dilalah, hadits
sebagian besarnya bersifat dzanniy ad-dilalah. Juga melihat perjalanan hadits yang cukup
panjang dengan kondisi masing-masing yang melatar belakanginya, ternyata hadits Nabi
mempunyai tingkat kualitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu para ulama hadits perlu
mengadakan penelitian terhadap hadits Nabi. Adapun hadits yang menjadi obyek
penelitian adalah hadits-hadit ahad. Untuk itu para ulama telah menciptakan berbagai
kaedah-kaedah tersebut meliputi kaedah kesahihan sanad dan kesahihan matan.
A. Kaedah Kesahihan Sanad Hadits
Yang dimaksud dengan kaedah kesahihan sanad hadis adalah segala syarat
atau kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu sanad hadis yang berkualitas sahih
(Subhi Shalih, :249). Segala syarat atau kriteria itu meliputi seluruh bagian sanad.
Ulama hadis dari kalangan mutaqaddimin, yakni ulama hadis sampai abad ketiga
Hijriyah, belum memberikan definisi secara eksplisit tentang hadis sahih.
Menurut al-Imam as-Syafii, al-khahar al-khass (hadis ahad) tidak dapat
dijadikan hujjah, kecuali apabila hadis itu:
1) diriwayatkan oleh perawi yang: a) dapat dipercaya pengamalan agamanya, b)
dikenal sebagai orang jujur dalam menyampaikan berita, c) memahami dengan
baik makna hadis bila terjadi perubahan lafalnya, e) mampu menyampaikan
riwayat hadis bi al-lafziy, yakni tidak meriwayatkan hadis bi l-mana, f)
terpelihara hafalannya, bila dia meriwayatkan dengan hafalan, dan terpelihara
catatannya, bila dia meriwayatkan melalui kitabnya, g) apabila hadis yang
diriwayatkannya juga diriwayatkan oleh orang lain, maka bunyi hadis itu tidak
berbeda, dan h) terlepas dari perbuatan penyembunyian cacat (tadlis).
2) Rangkaian sanadnya muttasil (bersambung) kepada Nabi, atau dapat juga tidak
sampai kepada Nabi (Syuhudi Ismail, 1998: 106-107).
128

Kalangan ulama mutaakhkhirin kemudian memberikan definisi hadis sahih


secara jelas. Ibn Shalah mendefinisikan hadis sahih sebagai berikut: Adapun hadis
sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi SAW),
diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit sampai pada akhir sanad, (di dalam
hadis itu) tidak terdapat syuzuz (kejanggalan) dan illah (cacat) (Ibid. 109).
Pengertian hadis sahih tersebut telah mencakup sanad dan matan hadis.
Kriteria yang menyatakan bahwa rangkaian perawi dalam sanad harus bersambung
dan seluruh perawinya harus adil dan dabit adalah kriteria untuk kesahihan sanad,
sedangkan keterhindaran dari syuzuz dan illah, selain merupakan kriteria untuk
kesahihan sanad, juga merupakan kriteria untuk kesahihan matan hadis.
1. Ittishal as-Sanad (Sanad Bersambung)
Unsur pertama dari kaedah kesahihan sanad hadis adalah ittishal as-sanad
(bersambungnya sanad). Yang dimaksud dengan bersambungnya sanad adalah
tiap-tiap perawi dalam sanad hadis dari perawi pertama, yaitu mukharrij sampai
perawi terakhir menerima riwayat hadis dari perawi terdekat sebelumnya, keadaan
itu berlangsung demikian sampai akhir sanad dari hadis itu, yaitu sahabat (Ibid, 111).
Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, para ulama
biasanya menempuh tata kerja penelitian sebagai berikut:
a. Mencatat semua nama perawi dalam sanad yang diteliti.
b. Mempelajari sejarah hidup masing-masing perawi:
1) Melalui kitab-kitab rijal l-hadis, seperti Tahzib l-Tahzib dan Lisan l-Mizan,
karya Ibn Hajar l-Asqalaniy, Mizan l-Itidal karya Al-Zahabiy, dan lain
sebagainya.
2) Dengan maksud mengetahui:
(1) Apakah setiap perawi dalam sanad itu dikenal sebagai orang yang adil
dan dabit, serta tidak suka melakukan tadlis.
(2) Apakah antara perawi dengan perawi terdekat dalam sanad itu
terdapat hubungan muasharah (sezaman pada masa hidupnya dan
guru-murid dalam periwayatan hadis.
(3) Meneliti kata-kata yang menghubungka.n antara para perawi dengan
perawi terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata itu (yang
terpakai) berupa:

atau kata-kata

lainnya (Syuhudi Ismail, 1992: 84-85).


Dalam hubungannya dengan persambungan sanad, kualitas perawi sangat
menentukan. Secara mullah keadaan perawi dapat dibagi kepada yang siqah dan
yang tidak siqah. Dalam menyampaikan riwayat, perawi yang siqah memiliki tingkat
akurasi yang tinggi dan karenanya dapat dipercaya riwayatnya. Bagi perawi yang
tidak siqah, perlu diteliti apakah letak ketidaksiqahannya berkaitan dengan kualitas
pribadinya, yakni yang menyangkut keadilannya, ataukah berkaitan dengan kapasitas
intelektualnya, yakni yang menyangkut kedhabitnnya. Yang jelas, riwayat dari perawi
yang tidak siqah, dari segi akurasinya berada di bawah riwayat orang yang siqah.
Di samping itu metode periwayatan yang dipakai oleh para perawi perlu
juga diteliti, karena tadlis (penyembunyian cacat) masih mungkin terjadi pada sanad
yang dikemukakan oleh perawi yang siqah. Maka kesiqahan perawi dalam
menggunakan lambang metode periwayatan perlu diteliti secara cermat (Ibid. 112).
Jadi suatu sanad hadis barulah dapat dinyatakan bersambung apabila:
129

1) Seluruh perawi dalam sanad itu benar-benar siqah (adil dan dabit).
2) Antara masing perawi dengan perawi terdekat sebelumnya dalam
sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan secara sah
menurut ketentuan tahammul wa ada l-hadis.
2. Perawi Bersifat Adil
Secara etimologi kata adil berasal dari bahasa Arab al-adl, merupakan
mas}dar dari kata kerja adala. Kata ini mempunyai arti antara lain keadilan,
kelurusan (istiqamah), kejujuran (Munawir, 971-973). Para ulama telah membahas
siapa orang yang dinyatakan bersifat adil. Dalam memberikan pengertian istilah adil
yang berlaku dalam ilmu hadis, ulama berbeda pendapat. Dari berbagai perbedaan
pendapat itu dapat dihimpunkan kriterianya kepada empat butir. Penghimpunan
kriteria itu didasarkan pada kesamaan maksud, tetapi berbeda dalam ungkapan
sebagai akibat dari perbedaan tinjauan. Empat butir kriteria sifat adil tersebut
adalah: a. beragama Islam; b. mukallaf; c. melaksanakan ketentuan agama; dan d.
memelihara muruah (Syuhudi Ismail, 1993: 18).
Secara umum, ulama hadits telah mengemukakan cara penetapan keadilan
perawi berdasarkan:
a. Popularitas keutamaan perawi di kalangan ulama hadits. Perawi yang terkenal
keutamaan pribadinya misalnya: Malik ibn Anas, Sufyan as-Sauri, dan lain
sebagainya, tidak diragukan lagi keadilannya.
b. Penilaian dari para kritikus perawi hadits. Penilaian ini berisi pengungkapan
kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada perawi hadits.
c. Penerapan kaedah al-Jarh wa at-Tadil. Cara ini ditempuh bila para kritikus
perawi hadits tidak sepakat tentang kualitas pribadi perawi tertentu (Ibid. 117).
Khusus mengenai sahabat Nabi, hampir seluruh ulama hadits menilai mereka
bersifat adil. Karenanya dalam proses penilaian perawi hadits, pribadi sahabat
Nabi tidak dikritik oleh ulama hadits dari segi keadilannya.
3. Perawi Bersifat Dhabit.
Arti dhabit secara literal ada beberapa macam, yakni dapat berarti yang
kokoh, yang kuat, yang tepat, dan yang hafal dengan sempurna (Luwis Maluf, 1973:
445). Sedangkan pengertdan dabit menurut istilah, para ulama berbeda pendapat
dalam menyatakannya. Namun berbagai pernyataan tentang arti dabit itu dapat
digabungkan kepada butir-butir sebagai berikut:
a. Perawi itu memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya
(diterimanya).
b. Perawi itu hafal dengan baik riwayat yang telah diriwayatkannya (diterimanya).
c. Perawi itu mampu menyampaikan riwayat yang telah dihafalnya dengan baik,
kapan saja dia menghendakinya dan sampai saat dia menyampaikan riwayat
tersebut kepada orang lain (Syuhudi Ismail, 1993:120).
Kedhabitan yang diterangkan di atas adalah kedhabitan yang oleh ulama
hadits disebut dengan istilah dhabit shadri. Di samping itu ada lagi dhabit kitabi, yakni
perawi yang memahami dengan baik tulisan hadits yang tertulis dalam kitab yang
ada padanya, apabila ada kesalahan tulisan dalam kitab dia mengetahui letak
kesalahannya (Ibid., 122).
Adapun cara penetapan kedhabitan seorang perawi, menurut berbagai
pendapat ulama, dapat dinyatakan sebagai berikut:
a. Kedabitan perawi dapat diketahui berdasarkan kesaksian ulama.
130

b. Dapat diketahui berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang


disampaikan oleh perawi lain yang telah dikenal kedabitannya. Tingkat
kesesuaian itu mungkin hanya sampai ke tingkat makna atau mungkin ke
tingkat redaksinya.
c. Apabila seorang perawi sesekali mengalami kekeliruan, maka dia masih dapat
dinyatakan sebagai perawi yang dabit. Tetapi apabila kesalahan itu sering
terjadi, maka perawi yang bersangkutan tidak lagi disebut perawi yang dabit
(Ibid., 121).
4. Terhindar dari syudzudz (kejanggalan)
Ulama berbeda pendapat tentang pengertian syadz dalam hadits. Dari
pendapat-pendapat yang bebeda itu, ada tiga pendapat yang menonjol, yaitu bahwa
yang dimaksud dengan hadits syadz adalah:
a. Hadits yang diriwayatkan oleh orang yang siqah tetapi riwayatnya
bertentangan dengan riwayat yang tsiqah juga. Pendapat ini dikemukakan oleh
Al-Imam as-Syaf ii.
b. Hadits yang dikemukakan oleh orang yang tsiqah, tetapi orang-orang tsiqah
lainnya tidak meriwayatkan hadits itu. Pendapat ini dikemukakan oleh
Al-Hakim an-Naisaburiy.
c. Hadits yang sanadnya hanya satu buah raja, baik perawinya bersifat siqah
maupun tidak siqah. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Yala al-Khaliliy (alHakim an-Naisaburi, t.th.:2).
Dari ketiga pendapat itu, maka pendapat as-Syafii merupakan pendapat
yang banyak diikuti oleh para ulama ahli hadits sampai saat ini. Berdasarkan
pendapat as-Syafiiy tersebut, maka kemungkinan suatu sanad mengandung syudzuz
bila sanad yang diteliti lebih dari satu buah. Hadits yang hanya memiliki sebuah
sanad saja tidak dikenal kemungkinan adanya syudzuz. Oleh karena itu
membandingkan-bandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang mempunyai
topik pembahasan sama merupakan satu langkah yang penting untuk mengetahui
kemungkinan adanya syuzuz dalam suatu hadits.
Hadits yang mengandung syudzuz, oleh para ulama hadits disebut sebagai
hadits syadz, sedangkan lawan dari hadits syadz disebut hadits mahfudz. Penyebab
utama terjadinya syadz dalam sanad hadits adalah karena perbeciaan tinghat
kedabitan perawi, yakni ada yang memiliki tingkat tamm ad-dabt (dabit yang
sempurna), ada pula yang memiliki tingkat khafif ad-dhabt (kurang sedikit
kedhabitannya). Perbedaan tingkat kedabitan perawi akan mempengaruhi ketsiqahan
perawi, karena --sebagaimana diketahui-- istilah tsiqah merupakan gabungan unsur
adil dan dhabit.
5. Terhindar dari Illah (cacat)
Pengertian Illah menurut istilah ilmu hadits --sebagaimana yang
dikemukakan oleh Ibn Shalah dan an-Nawawiy-- adalah sebab yang tersembunyi
yang merusakkan kualitas hadits. Keberadaannya menyebabkan hadits yang pada
lahirnya tampak berkualitas sahih menjadi tidak shahih (Syuhudi Ismail, 1993:130).
Illah yang disebutkan dalam salah satu unsur kaedah kesahihan sanad
hadits adalah 'illah yang untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang lebih
cermat sebab hadits yang bersangkutan tampak sanadnya berkualitas shahih. Cara
menelitinya antara lain dengan membanding-bandingkan semua sanad yang ada
131

untuk matan yang isinya semakna. Ulama ahli kritik hadits mengakui bahwa
penelitian illah hadits ini sulit dilakukan.
Karena penelitian illah hadits itu sulit dilakukan, maka Ibn al-Madiniy dan
Al-Khatib al-Bagdadiy memberi petunjuk bahwa untuk meneliti illah hadits,
langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah:
a. Seluruh sanad hadits untuk matan yang semakna dihimpun dan diteliti, bila
hadits yang bersangkutan memiliki mutabi ataupun syahid.
b. Seluruh perawi dalam berbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang telah
dikemukakan oleh para ahli kritik hadits (Syuhudi Ismail, 1992: 88).
Menurut penjelasan ulama ahli kritik hadits, illah hadits umumnya
ditemukan pada:
a. Sanad yang tampak muttashil (bersambung) dan marfu (bersandar kepada
Nabi) tetapi kenyataannya mauquf (bersandar kepada sahabat Nabi), walaupun
sanadnya muttashil.
b. Sanad yang tampak muttashil dan marfu', tetapi kenyataannya mursal (bersandar
kepada Tabii) walaupun sanadnya muttashil.
c. Dalam hadits itu telah terjadi kerancuan karena bereampur dengan hadits lain.
d. Dalam sanad hadits itu terjadi kekeliruan penyebutan nama perawi yang
memiliki kemiripan atau kesamaan dengan perawi lain yang kualitasnya
berbeda (Ibid. 89).
Dua bentuk illah yang disebut pertama berupa sanad hadits terputus,
sedangkan dua bentuk illah yang disebut terakhir berupa perawi yang tidak dabit,
sedikitnya tidak tamm ad-dhabt.
B. Kaedah Kesahihan Matan Hadits
Sebagaimana diketahui bahwa menurut pendapat umum ulama hadits, yang
sanadnya sahih belum tentu juga sahih matannya. Demikian pula sebaliknya, matan
yang sahih belum tentu sanadnya juga sahih. Jadi kesahihan hadits tidak hanya
ditentukan aleh kesahihan sanad saja, tetapi juga ditentukan oleh kesahihan
matannya.
Apabila dinyatakan bahwa kaedah kesahihan sanad hadits mempunyai
tingkat akurasi yang tinggi, maka suatu hadits yang sanadnya sahih mestinya
matannya juga sahih. Pada kenyataannya tidak demikian, ada hadits yang sanadnya
sahih tetapi matannya dhaif (lemah). Hal ini terjadi bukanlah sesungguhnya
disebabkan oleh kaedah kesahihan sanad hadits yang akurat, melainkan karena ada
faktor-faktor lain yang telah terjadi, misalnya:
a. Karena telah terjadi kesalahan dalam melaksanakan penelitian matan,
misalnya karena kesalahan dalam menggunakan pendekatan.
b. Karena telah terjadi kesalahan dalam penelitian sanad.
c. Karena matan hadits yang bersangkutan telah mengalami periwayatan secara
makna yang ternyata mengalami kesalahan pemahaman (Ibid. 124).
Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa unsur-unsur yang harus
dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas sahih ada dua macam, yakni terhindar
dari syudzuz (kejanggalan) dan illah (cacat). Itu berarti bahwa untuk meneliti matan,
maka unsur tersebut harus menjadi acuan utama.
Apabila penelitian syudzuz dan illah pada sanad dinyatakan sebagai kegiatan
yang sulit, maka demikian juga penelitian syudzuz dan illah pada matan tidak mudah
dilakukan. Dalam melaksanakan penelitian matan, ulama hadits biasanya tidak
secara ketat menempuh langkah-langkah menurut unsur-unsur kaedah kesahihan
132

matan. Maksudnya mereka tidak menekankan bahwa langkah pertama haruslah


meneliti illah, atau sebaliknya. Bahkan dalam menjelaskan macam-macam matan
yang daif, ulama hadits tidak mengelompokkannya kepada dua unsur utama dari
kaedah kesahihan matan itu.
Ulama hadits menerangkan tanda-tanda yang berfungsi sebagai tolok ukur
bngi matan yang sahih dan juga sebagai tolok ukur untuk meneliti apakah suatu
hadits berstatus palsu ataukah tidak palsu. Mereka tidak menjelaskan urutan
penggunaan butir-butir tolok ukur yang dikemukakan. Hal itu dapat dimengerti
karena persoalan yang perlu diteliti pada berbagai matan memang tidak selalu sama.
Jadi penggunaan butir-butir tolok ukur sebagai pendekatan penelitian matan disesuaikan dengan masalah yang terdapat pada matan yang bersangkutan.
Adapun tolok ukur penelitian matan (ma'ayir naqd l-matn) yang dikemukakan
oleh para ulama tidak seragam. Menurut Al-Khatib al-Bagdadiy, suatu matan hadits
barulah dinyatakan sebagai maqbu1 (diterima karena berkualitas sahih) apabila:
a. Tidak bertentangan dengan akal sehat
b. Tidak bertentangan dengan hukum Al-Quran yang telah muhkam (ketentuan
hukum yang telah tetap).
c. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir.
d. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama
masa lalu (salaf).
e. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti.
f. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas Kesahihannya lebih kuat
(al-Adlabi, 1983:236).
Butir-butir di atas oleh sebagian ulama dinyatakan sebagai tolok ukur untuk
meneliti apakah suatu, hadits berstatus palsu ataukah tidak palsu. Pendapat tersebut
memang cukup ekstrem, sebab suatu matan hadits yang tidak memenuhi salah satu
butir saja tidak bisa secara cepat dinyatakan sebagai hadits palsu. Dalam
hubungannya dengan tolok ukur meneliti hadits palsu terdapat perbedaan pendapat
di kalangan ulama hadits. Menurut Ibn al-Jauziy, setiap hadits yang bertentangan
dengan akal atau berlawanan dengan ketentuan pokok agama, maka hadits tersebut
adalah hadits palsu (Ibid. 237).
Menurut jumhur ulama tanda-tanda matan hadits yang palsu itu adalah:
a. Susunan bahasanya rancu Rasulullah SAW yang fasih berbahasa Arab
mustahil menyabdakan pernyataan yang rancu tersebut.
b. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan akal sehat dan sulit
diinterpretasikan secara rasional.
c. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam.
d. Kandungan pernyataannya sunnatullah hukum alam.
e. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan fakta sejarah.
f. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan petunjuk Al-Quran ataupun
hadits mutawatir yang telah mengandung petunjuk pasti.
g. Kandungan pernyataannya berada di luar kewajaran diukur dari petunjuk
umum ajaran Islam; misalnya amalan tertentu yang menurut petunjuk umum
ajaran Islam dinyatakan sebagai amalan yang tidak seberapa, tetapi
diiming-iming dengan pahala yang sangat luar biasa (Ibid.237-238).
Salahuddin al-Adlabiy menyimpulkan bahwa tolok ukur untuk meneliti
matan ada empat macam, yaitu:
a. Tidak bertentangan dengan petunjuk Al-Quran
b. Tidak bertentangan dengan hadits yang lebih kuat
133

c. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indra dan sejarah.


d. Susunan pernyataannya tidak menunjukan ciri-ciri sabda kenabian (Ibid. 238).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian
dengan menggunakan berbagai tolok ukur di atas, yaitu bahwa:
a. Sebagian hadits Nabi berisi petunjuk yang bersifat targhib (hal yang
memberikan harapan) dan tarhib (hal yang memberikan ancaman) dengan
maksud untuk mendorong ummatnya gemar melakukan amal kebajikan
tertentu dan berusaha menjauhi apa yang dilarang oleh agama.
b. Dalam bersabda, Nabi SAW menggunakan pernyataan atau ungkapan yang
sesuai dengan kadar intelektual dan keislaman orang yang diajak bicara,
walaupun secara umum apa yang dinyatakan oleh Nabi berlaku untuk semua
ummat beliau.
c. Terjadinya hadits, ada yang didahului oleh suatu peristiwa yang menjadi
sebabnya yang diistilahkan dengan sabab wurud hadits
d. Sebagian dari hadits Nabi ada yang telah dinasakh atau mansukh (dihapus
masa berlakunya)
e. Menurut petunjuk Al-Quran, Nabi Muhammad SAW itu selain Rasul Allah
juga manusia biasa. Dengan demikian ada hadits yang erat kaitannya dengan
kedudukan beliau sebagai utusan Allah, di samping ada pula yang erat
kaitannya dengan kedudukan beliau sebagai individu, pemimpin masyarakat,
dan pemimpin negara.
f. Sebagian hadits Nabi SAW ada yang berisi hukum (dikenal dengan hadits
hukum) dan ada yang berisi imbauan dan dorongan untuk melakukan
kebajirkan hidup duniawi (disebut hadits irsyad).
Dengan uraian tersebut di atas dapatlah dinyatakan bahwa walaupun
unsur-unsur pokok kaedah kesahihan matan hadits hanya dua macam saja, tetapi
aplikasinya dapat berkembang dan menuntut adanya pendekatan dengan tolok ukur
yang cukup banyak.

134

BAB IV
PEMBAGIAN HADITS NABI SAW
A. Dari Sisi Jumlah Perawinya
Para ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadits yang ditinjau dari
sisi kuantitas atau jumlah rawi yang menjadi sumber berita. Di antara mereka ada
yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu hadits mutawatir, masyhur, dan
ahad, juga ada yang membaginya menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.
Ulama golongan pertama, yang menjadikan hadits masyhur berdiri sendiri
dan tidak termasuk bagian dari hadits ahad dianut oleh sebagian ulama ushul, di
antaranya adalah Abu Bakar al-Jashah ( 305-370 H). Adapun ulama golongan kedua
diikuti oleh kebanyakan ulama ushul dan ulama kalam. Menurut mereka, hadits
masyhur bukan merupakan hadits yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari
hadits ahad. Itulah sebabnya mereka membegi hadits menjadi dua bagian, yaitu
mutawatir dan ahad.
1. Hadits Mutawatir
a. Ta'rif Hadits Mutawatir
Kata mutawatir menurut bahasa ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan
atau berturut-turut antara satu dengan yang lain tanpa ada jarak (al-Fayyumi, 1978:
321).
Sedangkan menurut istilah ialah:

"Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang
menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta."

"Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat
mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga
akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan."

135

Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang
diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan
tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita
yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat
mengadakan berita-berita secara dusta.
Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan
haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung
dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang
yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang
kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara
perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada
pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz
diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau
sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.
Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah
dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk
berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.
b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
1) Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan
tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang
disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau
rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam
arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat)
sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir
walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.
2) Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil
mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang
batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.
(1) Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut
diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
(2) Ashabus Syafi'i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan
dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
(3) Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut
berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang
mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir
sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).
(4) Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40
orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:


Hai nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang
mukmin yang mengikutimu. (Q.S. al-Anfal (7): 64).

136

3) Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan)


pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi
syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan AlHazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena
persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat
bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit.
Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak
benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan
hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir
itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur
bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir,
seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam AsSuyuthi(w.911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan
Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).
c. Faedah Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu dharuri, yakni keharusan untuk
menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia
membawa keyakinan yang qath'i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi
Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti
yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi
hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena
kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk
tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan
mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah
hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil
ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri
yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).
d. Pembagian Hadits Mutawatir
Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam :
1) Hadits Mutawatir Lafdzi
Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :
"Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga
pada hukum dan maknanya."
Pengertian lain hadits mutawatir lafdzi adalah :
"Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi
dari sejumlah rawi."
Contoh Hadits Mutawatir Lafdzi :

137

"Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka
hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka."
Silsilah/urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut :
Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40
orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin
menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.
2) Hadits mutawatir maknawi
Hadits mutawatir maknawi adalah :

"Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tetapi dapat diambil dari
kesimpulannya atau satu makna yang umum."
Atau:
"Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada
lafaz."
Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya
berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian
atau kesamaan dalam maknanya. Contoh :

"Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam
doa salat istiqa' dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua
ketiaknya." (HR. Bukhari Muslim)
Dengan redaksi yang lain, misalnya:

138

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak
kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis
yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :

3) Hadis Mutawatir Amali


Hadis Mutawatir Amali adalah :

"Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah
mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan
untuk melakukannya atau serupa dengan itu."
Contohnya adalah kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan
dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu
adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan
kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya
demikian.
Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas, juga
ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. Mereka
memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. Oleh
karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir
maknawi.
2. Hadis Ahad
a. Pengertian hadis ahad
Menurut Istilah ahli hadis, tarif hadis ahad antara lain adalah:

"Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis
mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan

139

seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke
dalam hadis mutawatir: "
Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut:

"Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir."


b. Faedah hadis ahad
Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qath'i, sebagaimana hadis
mutawatir. Hadis ahad hanya memfaedahkan dzan, oleh karena itu masih perlu
diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau
ternyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul,
maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana
hadis mutawatir. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan
suatu hadis, ialah memeriksa "Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud". Kalau
maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan
dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.
Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (shahih, atau hasan),
hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya.
Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita
kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak
bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana
yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh,
yang terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh.
Jika kita tidak mengetahui sejarahnya, kita usahakan menarjihkan salah
satunya. Kita ambil yang rajih, kita tinggalkan yang marjuh. Jika tak dapat
ditarjihkan salah satunya, bertawaqquflah kita dahulu.
Walhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis, sesudah
nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam, atau mukhtakif adalah jika dia tidak
marjuh dan tidak mansukh.
B. Dari Sisi Kualitas Sanad dan Matan
Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis bergantung kepada tiga
hal, yaitu jumlah rawi, keadaan (kualitas) rawi, dan keadaan matan. Ketiga hal
tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadis. Bila dua buah hadis menentukan
keadaan rawi dan keadaan matan yang sama, maka hadis yang diriwayatkan oleh dua
orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang diriwayatkan oleh satu orang
rawi; dan hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya
daripada hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi.
Jika dua buah hadis memiliki keadaan matan jumlah rawi (sanad) yang sama,
maka hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya, lebih tinggi
tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya,
dan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada
hadis yang diriwayatkan oleh rawi pendusta.


140

"Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada kami)
pada waktu yang telah kami tentukan." (Q.S. al-Araf (7): 155)
Pendapat lain membatasi jumlah mereka empat pulu orang, bahkan ada
yang membatasi cukup dengan empat orang pertimbangan bahwa saksi zina itu ada
empat orang.
Kata-kata

(dari sejumlah rawi yng semisal dan

seterusnya sampai akhir sanad) mengecualikan hadis ahad yang pada sebagian
tingkatannya terkadang diriwayatkan oleh sejumlah rawi mutawatir. Contoh hadis :
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya."
Awal hadis tersebut adalah ahad, namun pada pertengahan sanadnya
menjadi mutawatir. Maka hadis yang demikian bukan termsuk hadis mutawatir.
Kata-kata

(dan sandaran mereka adalah

pancaindera) seperti sikap dan perkataan beliau yang dapat dilihat atau didengar
sabdanya. Misalnya para sahabat menyatakan; "kami melihat Nabi SAW berbuat
begini". Dengan demikian mengecualikan masalah-masalah keyakinan yang
disandarkan pada akal, seperti pernyataan tentang keesaan firman Allah dan
mengecualikan pernyataan-pernyataan rasional murni, seperti pernyataan bahwa
satu itu separuhnya dua. Hal ini dikarenakan bahwa yang menjadi pertimbangan
adalah akal bukan berita.
Bila dua hadis memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya, maka hadis
yang matannya seiring atau tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran, lebih
tinggi tingkatannya dari hadis yang matannya buruk atau bertentangan dengan ayatayat Al-quran. Tingkatan{martabat) hadis ialah taraf kepastian atau taraf dugaan
tentang benar atau palsunya hadis berasal dari Rasulullah.
Hadis yang tinggi tingkatannya berarti hadis yang tinggi taraf kepastiannya
atau tinggi taraf dugaan tentang benarnya hadis itu berasal Rasulullah SAW. Hadis
yang rendah tingkatannya berarti hadis yang rendah taraf kepastiannya atau taraf
dugaan tentang benarnya ia berasal dari Rasulullah SAW. Tinggi rendahnya
tingkatan suatu hadis menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadis sebagai
sumber hukum atau sumber Islam.
Para ulama membagi hadis ahad dalam tiga tingkatan, yaitu hadis shahih,
hadis hasan, dan hadis dhaif. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan,
jumlah rawi, keadaan rawi, dan keadaan matan dalam menentukan pembagian
hadis-hadis tersebut menjadi hadis shahih, hasan, dan dhaif.
1. Hadis Shahih
Hadis shahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat, hadis yng
benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadis sahih, yang diberikan oleh ulama,
antara lain :

141

"Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak
menyalahi ayat (al-Quran), hadis mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan
dhabit."
Keterangan lebih luas mengenai hadis shahih telah diuraikan pada bab XIV
di atas tengan Kaedah Kesahihan Hadits.
2. Hadis Hasan
Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi
hadis hasan adalah :

"yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik
menurut kami, yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak
terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan hadisnya, tidak janggal diriwayatkan melalui
sanad yang lain pula yang sederajat. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan."
3. Hadis Dhaif
Hadis dhaif menurut bahasa berarti hadis yang lemah, yakni para ulama
memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal
dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadis dhaif :

"Hadis dhaif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis shahih, dan juga tidak
menghimpun sifat-sifat hadis hasan."
Jadi hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih,
melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan. Pada hadis daif itu
terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis
tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
C. Dari Sisi Kedudukan Sebagai Hujjah
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan
pemeriksaan, penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad,
karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. Memang berbeda dengan
hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury, yaitu suatu keharusan menerima
142

secara bulat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, hadis ahad ahad ditinjau dari
segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul
dan hadis mardud.
1. Hadis Maqbul
Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil, yang diterima, yang
dibenarkan. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah:
"Hadis yang menunjuki
menyabdakannya."

suatu

keterangan

bahwa

Nabi

Muhammad

SAW

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima.


Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah:
a. Hadis sahih, baik yang lizatihu maupun yang ligairihi.
b. Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.
Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib
diterima, namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat
bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan, mengingat dalam
kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan
datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah
SAW.
Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut
dengan hadis nasikh, sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut
dengan hadis mansukh. Disamping itu, terdapat pula hadis-hadis maqbul yang
maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya yang lebih rajih (lebih kuat
periwayatannya). Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih,
sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh.
Apabila ditinjau dari segi kemamulannya, maka hadis maqbul dapat dibagi
menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma'mulin bihi.
a. Hadis mamulun bihi
Hadis mamulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang
termasuk hadis ini ialah:
1) Hadis muhkam, yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan
2) Hadis mukhtalif, yaitu dua hadis yang pada lahirya saling berlawanan yang
mungkin dikompromikan dengan mudah
3) Hadis nasikh
4) Hadis rajih.
b. Hadis ghairu mamulin bihi
Hadis ghairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan.
Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah:
1) Hadis mutawaqaf, yaitu hadis mukhtalif yang tidak dapat dikompromikan,
tidak dapat ditansikhkan dan tidak pula dapat ditarjihkan
2) Hadis mansukh
3) Hadis marjuh.
143

2. Hadis Mardud
Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan
menurut urf Muhaddisin, hadis mardud ialah :

"Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki
keterangan yang kuat atas ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya
bersamaan."

Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah:

"Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbul."


Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan
untuk menerima hadis-hadis maqbul, maka sebaliknya setiap hadis yang mardud
tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). Jadi, hadis mardud
adalah semua hadis yang telah dihukumi dhaif.
D. Dari Sisi Persambungan Sanadnya
1. Hadis Muttashil
Hadis muttashil disebutjuga Hadis Maushul.

"Hadis muttashil adalah hadis yang didengar oleh masing-masing rawinya dari rawi yang di
atasnya sampai kepada ujung sanadnya, baik hadis marfu' maupun hadis mauquf."
Kata-kata "hadis yang didengar olehnya" mencakup pula hadis-hadis yang
diriwayatkan melalui cara lain yang telah diakui, seperti Al-Arz, Al-Mukatabah, dan
Al-Ijasah, Al-Sahihah. Dalam definisi di atas digunakan kata-kata "yang didengar"
karena cara penerimaan demikian ialah cara periwayatan yang paling banyak
ditempuh. Mereka menjelaskan, sehubungan dengan hadis Mu 'an 'an, bahwa para
ulama Mutaakhirin menggunakan kata 'an dalam menyampaikan hadis yang
diterima melalui Al-Ijasah dan yang demikian tidaklah menafikan hadis yang
bersangkutan dari batas Hadis Muttashil.
Contoh Hadis Muttashil Marfu' adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik;
dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

144

"Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada
keluarga dan hartanya" (H.R. Imam Malik)
Contoh hadis muttashil mauquf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik
dari Nafi' bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata:

"Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali
keharusan membayarnya." (H.R. Imam Malik)
Masing-masing hadis di atas adalah muttasil atau mausul, karena masingmasing rawinya mendengarnya dari periwayat di atasnya, dari awal sampai akhir.
Adapun hadis Maqtu yakni hadis yang disandarkan kepada tabi'in, bila
sanadnya bersambung. Tidak diperselisihkan bahwa hadis maqtu termasuk jenis
Hadis muttasil; tetapi jumhur mudaddisin berkata, "Hadis maqtu tidak dapat
disebut hadis maushul atau muttashil secara mutlak, melainkan hendaknya disertai
kata-kata yang membedakannya dengan Hadis mausul sebelumnya. Oleh karena itu,
mestinya dikatakan "Hadis ini bersambung sampai kepada Sayid bin Al-Musayyab
dan sebagainya ". Sebagian ulama membolehkan penyebutan hadis maqtu sebagai
hadis mausul atau muttasil secara mutlak tanpa batasan, diikutkan kepada kedua
hadis mausul di atas. Seakan-akan pendapat yang dikemukakan jumhur, yaitu hadis
yang berpangkal pada tabi'in dinamai hadis maqtu. Secara etimologis hadis maqtu'
adalah lawan Hadis mausul. Oleh karena itu, mereka membedakannya dengan
menyadarkannya kepada tabi'in.
2. Hadis Munqati'
Kata Al-Inqitha' (terputus) berasal dari kata Al-Qath (pemotongan) yang
menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Dan kata inqitha'
merupakan akibatnya, yakni terputus. Kata inqitha' adalah lawan kata ittishal
(bersambung) dan Al-Washl. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi
pada rangkaian sanad. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini
dengan perbedaan yang tajam. Menurut kami, hal ini dikarenakan berkembangnya
pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama
mutaakhirin.
Definisi Munqathi yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan
oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, yakni:

"Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya, baik yang
disandarkan kepada Nabi SAW, maupun disandarkan kepada yang lain."
145

Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya
gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun.
Sehubungan dengan itu, penyusun Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan:

Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk
Hadis Munqati' (terputus) persambungannya."
Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis, AnNawawi berkata, "Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha, AlKhatib, Ibnu Abdil Barr, dan Muhaddis lainnya". Dengan demikian, hadis munqati'
merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang
terputus sanadnya.
Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut:

"Hadis Munqathi adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu
tempat atau beberapa tempat, dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak
lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad."
Definisi ini menjadikan hadis munqathi' berbeda dengan hadis-hadis yang
terputus sanadnya yang lain. Dengan ketentuan "Salah seorang rawinya" definisi ini
tidak mencakup hadis mu'dhal; dengan kata-kata, "Sebelum sahabat" definisi ini
tidak mencakup hadis mursal; dan dengan penjelasan kata-kata "Tidak pada awal
sanad" definisi ini tidak mencakup hadis muallaq

146

BAB XV
PENCIPTAAN MANUSIA
DALAM AL-QURAN DAN AL-HADITS
Janin yang di dalam rahim adalah hasil percampuran antara sperma laki-laki dan
ovum perempuan. Keduanyalah yang memiliki saham di dalam prosesi terjadinya janin.
Demikianlah yang dikatakan pakar dari Italia, Spallanzani, pada tahun 1775 M. Dan
pada tahun 1783, Van Beneden menetapkan kebenaran teori ini. Demikian juga
Boveri pada pertengahan 1888 - 1909 menyatakan bahwa kromosom terbagi-bagi dan
masing-masing memiliki kekhususan-kekhususan yang akan menurunkan sifat dari
pemilik kromosom tersebut. Dan Morgan pada tahun 1912 mampu memberikan
batasan yang lebih rinci, yaitu bahwasannya sifat keturunan ada pada tempat khusus
dalam kromosom. Demikianlah informasi yang ada yang sampai kepada kita,
bahwasannya sejarah kemanusiaan tidak mengetahui bahwa janin terbentuk dari
percampuran sperma laki-laki dan ovum wanita kecuali setelah melewati abad 18
masehi, bahkan hal itu tidak bisa dipastikan kebenarannya kecuali setelah memasuki
awal abad 19 masehi.
Akan tetapi, ketika kita membuka-buka Al-Quran yang mulia dan sunnah
Rasulullah, kita akan mendapati penjelasan rinci dan pasti, bahwasannya manusia
tercipta dari nuthfah amsaaj(air mani yang bercampur). Allah berfirman:


Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar
dan Melihat. (Q.S. al-Insan (76): 2)
Seluruh ahli tafsir sama ketika menerangkan nuthfah amsaj, yaitu air mani
yang bercampur; air mani laki-laki dan air mani perempuan. Dan hadits Rasulullah
yang agung pun semakin menegaskan akan hal itu. Yaitu hadits yang di-takhrij oleh
Imam Ahmad dalam musnadnya:

147

Seorang Yahudi yang sedang lewat disamping Rasulullah, dan dia sedang berbincangbincang dengan sahabat-sahabatnya, maka berkatalah Quraisy, Wahai yahudi, orang
ini mengaku dirinya nabi. Maka Yahudi tersebut berkata, Aku benar-benar akan
menanyakannya tentang sesuatu yang tidak akan mengetahui jawabannya kecuali pasti
ialah nabi. Wahai Muhammad, Manusia diciptakan dari apa? Rasulullah bersabda,
Wahai Yahudi, manusia diciptakan dari nuthfahnya laki-laki dan nuthfahnya
perempuan. Maka Yahudi tersebut berkata, Memang demikian, nabi-nabi sebelummu
pun mengatakan demikian.( H.R. Imam Ahmad)
A. Nuthfah/Sperma
1. Data Ilmiah tentang Nuthfah/Sperma
Sperma terbentuk di dalam testis yang kemudian disempurnakan
keadaannya sebagaimana disebutkan di dalam embriologi dan turun ke bawah
untuk bertemu dengan ovum. Kemudian ia ke punggung dan turun ke perut bagian
bawah pada minggu-minggu terakhir fase kehamilan. Air mani laki-laki dapat
digambarkan sebagai berikut:
Air mani laki-laki yang berbentuk seperti kepala yang berbuntut yang selalu
bergerak sampai terjadinya pembuahan, dan prostaglandin yang kemudian
menempel di dinding rahim sehingga memudahkan dalam memindahkan
sperma untuk bisa memasuki tempat pembuahan. Padahal, ada jutaan (500 600 juta) sperma yang terus memburu ovum, akan tetapi hanya satu sperma
yang bisa memasuki dan membuahi ovum tersebut. Tentu saja, ini adalah hal
yang sangat panjang dan lebar sekali bagi sperma untuk bisa mencapai tempat
pembuahan di uretrine tube yang akan mengantarkan hal pembuahan ke
rahim. Hal ini yang penuh dengan rintangan mungkin sama dengan
perjuangan manusia untuk bisa mendarat di bulan.
148

Sesungguhnya spermatozoa terdiri atas 23 kromosom. Diantara kromosom


tersebut ada satu kromosom yang membawa sifat genetik, terkadang (Y) atau (X).
Adapun ovum maka kromosom jenis kelamin selalu (X). Kalau kromosom sperma
jenis (Y) yang membuahi ovum, maka akan jadi laki-laki (XY). Akan tetapi jika
kromosom sperma (X) yang membuahi ovum, maka akan jadi perempuan (XX).
Maka yang mempengaruhi terjadinya gen/jenis kelamin (laki-laki atau perempuan)
adalah sperma, dan bukan ovum !!
Setelah melewati masa 5 jam setelah pembuahan, maka itu adalah masa
pertama terjadinya sejarah kemanusiaan yang terdiri atas 46 kromosom, dimana ia
mewarisi sifat-sifat genetik yang akan dia bawa ketika menjadi makhluk baru, dan
sifat-sifat resesif yang tidak akan muncul, akan tetapi muncul pada sebagian anakanaknya atau cucu-cucunya. Setelah fase ini, ovum yang sudah terbuahi ini
membelah dengan cepat walaupun tidak merubah bentuknya dan terus bergerakgerak di uretrine tube (organ penghubung antara rahim dan tempat indung telur.
Dan rahim adalah tempat berkembang dan sempurnanya janin sebelum
lahir. Dan rahim memiliki keistimewaan-keistimewaan yang memang sangat aman
untuk mengemban tugas ini. diantara sebabnya adalah: Rahim terletak di dalam
salah satu ruang perut yang besar, dengan temperatur suhu yang saling berkait
dengan organ di sekitar rahim, dan juga memungkinkan rahim untuk bisa bergerakgerak dan berkembang sampai ukurannya bisa berlipat lebih dari 100 kali lipat dari
sebelumnya pada akhir kehamilan.
Tulang-tulang reproduksi dan melindungi organ rahim.
Hormon kehamilan (progesteron) terus mensuplai/membantu kekuatan
rahim. Sebagaimana janin berada di dalam rahim berputar-putar dan bergerak akan
menghasilkan permintaan amniosia yang bisa dilakukan oleh janin, dan sekaligus
menghalanginya terjadinya dampak dari gerakan-gerakan tsb bagi organ diluar
rahim.
Fase ini terus berjalan di dalam rahim sampai mencapai hari ke-6, dan
kemudian perkembangannya di dinding rahim sampai hari ke-15, dan kemudian
memasuki alaqah.
2. Pembahasan Al-Quran tentang Nuthfah
Nuthfah, secara bahasa adalah cairan yang sedikit atau sepercik air. Dan ini
berkaitan dengan air mani laki-laki yang berbentuk seperti hewan spermatozoa yang
itu pun sebagian kecil dari jasad laki-laki. Spermatozoa terbentuk dari air yang hina
(mani) dan kemudian menjadi spermatozoa (nuthfah).
Tentang hal ini, Allah berfirman:

149

Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati
air yang hina.(Q.S. as-Sajdah (32): 7-8)


Dia Telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang
nyata. (Q.S. an-Nahl (16): 4)



Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah
menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya (Q.S.
Abasa (80): 17-19)
Dan sperma yang bercampur, sebagaimana firman Allah:


Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang
kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia
mendengar dan Melihat. (Q.S. al-Insan (76): 2)
Perhatikanlah mujizat ini !!! Maka, secara lughawi (bahasa) nuthfah adalah
kecil atau secercah/setetes yang menyendiri, akan tetapi susunannya berupa sesuatu
yang bercampur (amsyaaj), dan ini adalah ovum yang dibuahi (dicampuri) oleh
spermatozoa yang sangat kecil yang pada saat yang sama ia terdiri atas kromosomkromosom sperma laki-laki dan kromosom-kromosom dari ovum.
Adakah seseorang memiliki gambaran bahwasannya sperma laki-laki ketika
keluar dari kelaminnya dapat diketahui alur perubahan-perubahannya, akan laki-laki
kah, atau perempuan ??! Akan tetapi Al-Quran telah mengatakan:


Dan sungguh, Dialah Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan,
laki-laki dan perempuan yang tercipta dari nuthfah ketika keluar dari kemaluannya
(Q.S. an-Najm (53): 45 - 46)
Ketika air mani keluar dari kemaluan Dan Allah telah menentukan segala
hal yang akan terjadi pada calon janin tersebut, laki-laki atau perempuan!! Lalu,
siapakah yang memberikan informasi kepada Muhammad SAW bahwasannya
nuthfah seorang laki-laki terkandung dua jenis, yaitu X dan Y, dan jenis inilah yang
akan kemudian menentukan genetika janin ? Padahal, hal ini belum diketahui oleh
manusia kecuali setelah ditemukannya mikroskop elektronik pada beberapa abad
yang silam !! Berdasarkan data di mikroskop elektronik itu-lah, baru diketahui
150

bahwa gen laki-laki atau perempuan hanya ada di dalam nuthfah laki-laki dan bukan
di ovum perempuan !! Ini artinya, kita pada awal abad 20 secara keseluruhan, tidak
mengetahui bahwa gen laki-laki atau perempuan adanya pada nuthfah laki-laki.
Akan tetapi Al-Quran yang mulia yang telah diturunkan Allah 14 abad yang silam
sudah menegaskan akan hal itu dengan sangat jelasnya.
Kita kembali kepada pembicaraan awal terjadinya pembuahan. Kami telah
kemukakan bahwa sperma terbentuk di dalam testis dan kemudian disempurnakan
keadaanya di dalam itu, sebagaimana kita dapati penjelasannya menurut embriologi.
Kemudian sperma tersebut bertemu dengan ovum di bagian bawah lalu berpindah
ke tulang punggung, kemudian turun lagi ke bagian bawah pada fase-fase akhir
kehamilan. Allah menegaskan tentang hal ini dalam firman-Nya:




Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami),
kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap Ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. al-Araf (7):172)
Ini adalah penjelasan yang sangat gamblang, bahwasannya asal-mula
keturunan manusia adalah diorgan tulang punggung sebagai tempat terbentuknya
spermatozoa janin, Subhanallah yang Maha Mengetahui tentang ciptaan-Nya.
Dan terakhir, sebagaimana kami kemukakan sesunggunya rahim adalah
tempat yang kokoh lagi aman dan mengamankan bagi perkembangan janin, dan
memberikan proteksi terhadap janin dari berbagai hal yang mungkin terjadi. Kita
mendapati al-Quran sudah menerangkan akan hal ini dan menegaskannya sejak 14
abad silam. Allah berfirman:


Maka, Kami jadikan ia (manusia) di dalam tempat yang sangat kokoh lagi aman,
sampai waktu yang sudah diketahui, maka kami tetapkan segala sesuatu kepadanya,
maka sungguh Allah-lah sebaik-baik pembuat ketentuan (Q.S. Al-Mursalat (77):
21-23)
B. Alaqah
1. Pembahasan Ilmiah
Alaqah berkembang menjadi mudhghah pada hari ke 24 sampai hari ke 26.
Dan itu adalah waktu yang singkat jika dibandingkan dengan waktu perubahan dari
151

nuthfah ke alaqah. Dan perkembangan ini bermula dari kepala yang berbentuk
somites (mirip bola) pada hari ke-24 atau 25. kemudian, bagian punggung/atas dari
somites ini melengkung setahap demi setahap pada ujung janin. Dan pada hari ke28 janin mulai terlihat bagian-bagiannya yang kelihatan seperti unta yang gemuk. Ia
berputar dan berbola-balik di dalam rahim selama perkembangan ini hingga
berakhir pada akhir minggu ke-6.
Perlu juga disebutkan bahwa fase mudhghah memulai perkembangannya
dengan perkembangan yang lebih berarti, ada penambahan volume ruang rahim
secara berlipat-lipat. Mudhghah mulai kelihatan seperti sepotong daging, tidak
kelihatan strukturnya, dan kemudian mulai pada perkembangan kedua yaitu
perkembangan bentuk, mulai kelihatan beberapa organ: dua mata; lisan; (dalam
minggu ke-4) dan dua bibir (pada minggu ke-5). Akan tetapi tidak jelas keadaannya
kecuali diakhir minggu ke-8. Mulai kelihatan kedua tangan dan kedua siku pada
perkembangan ini.
2. Pembahasan Menurut Al-Quran dan al-Hadits
Secara bahasa, mudhghah adalah zone tempat tumbuhnya gigi. Dan
penamaan ini sangat sesuai dengan keadaan fase janin ini, sebab keadaan embrio ini
seperti benda yang banyak kelok-kelok dan perubahannya terus-menerus dan
kelihatan bagian-bagiannya, seperti kepala yang bulat (somites) dan selebihnya mirip
dengan keadan gigi yang berjajar. Demikian juga, janin berputar-putar dan
berbolak-balik di dalam rahim seperti berbolak-baliknya sesuatuyang di kulum di
dalam mulut.
Adanya perkembangan mudhghah adalah setelah terjadinya perkembangan
alaqah. Urutan ini sesuai benar dengan ayat Al-Quran:




Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling
baik. (Q.S. al-Mukminun (23): 14)
Diantara sifat mudhghah adalah bentuknya yang menanjang dan berubahubah bentuknya ketika berputa-putar dan berbolak-balik. Dan keadaan ini adalah
sesuai benar dengan fase ini. Dan sebagaimana sudah kami sebutkan bahwasannya
mudhghah mengalami perkembangan yang cepat sebelum terbentuk dan
terciptanya bagian-bagian organ, dan perkembangan lainnya terjadi setelah
terbentuknya organ tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

152




Wahai sekalian manusia, jika kalian masih meragukan terjadinya hari kebangkitan,
maka ketahuilah bahwasannya Kami menciptakan kalian dahulu dari tanah,
kemudian dari nuthfah, kemudian dari alaqah, kemudian dari mudhghah yang
sempurna penciptaannya dan mudhghah yang tidak sempurna penciptaannya agar Kami
menjelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan di dalam rahim apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. (Q.S. Al-Hajj (22):5)
Jadi, sebenarnya ada 2 buah perkembangan mudhghah: yaitu (i) mudhghah
yang tidak sempurna penciptaannya dan (ii) mudhghah yang sempurna. Dan
perkembangan ini berakhir pada minggu ke-6 (setelah 40 hari). Dan Imam Muslim
sudah men-takhrij dalam shahih-nya sebuah hadits dari Abdullah ibn Masud. Kata
Abdullah ibn Masud,

Rasulullah menceritakan kepada kami, dan Beliau orang yang jujur dan diakui
kebenarannya, Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptannya di dalam perut
ibunya selama 40 hari, kemudian 40 hari lagi menjadi alaqah, kemudian 40 hari
berikutnya menjadi mudhghah, kemudian Allah mengutus satu malaikat, maka ia
meniupkan ruhnya, dan menetapkannya dengan 4 ketetapan: (i) rizqinya, (ii) ajalnya,
(iii) amalannya, (iv) kesusahannya atau bahagianya. Maka demi Allah yang tiada
Dzat yang haq disembah kecuali Dia, sungguh diantara kalian benar-benar beramal
dengan amalan ahlul jannah sampai tidak ada batas antara dirinya dengan jannah
153

kecuali satu hasta, akan tetapi taqdir yang menyatakan lain telah mendahului dirinya,
maka ia pun beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam
neraka itu. Dan sungguh salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan
amalan ahli neraka, sampai tiada batas antara dirinya dengan neraka kecuali satu
hasta, akan tetapi taqdir yang menyatakan lain telah mendahului dirinya, maka ia pun
beramal dengan amalan ahli jannah, maka ia pun masuk ke dalam jannah. (H.R.
Muslim)
Dan ada penjelasan juga bahwa sebagian anggota badan Allah ciptakan
sebelum itu, maka kedua mata dan lisan (pada minggu ke 4) diciptakan sebelum
diciptakannya dua bibir (bibir diciptakan pada minggu ke 5). Dan penjelasan AlQuran pun mendahulukan penciptaan dua mata dan lisan sebelum dua bibir. Allah
berfirman:


Bukankah kami menjadikan baginya dua mata dan lisan, dan dua bibir? (Q.S. AlBalad (90): 8-9)
Lalu, siapakah yang memberi kabar kepada Muhammad SAW tentang
setiap data ini? Apakah Beliau memiliki alat yang bisa menjelaskan dan
menampilkan data itu, mikroskop, untuk bisa menampilkan data tentang janin yang
panjangnya tidak lebih dari 1 cm? Dia-lah Allah yang Maha Perkasa. !

154