Anda di halaman 1dari 7

1

SISTEM URIN
Irawan Dharma S, Ahmad Siddik P, Danang Septaditya HS, Rachmat Yoga T
Electrical Engineering, Diponegoro University
Jln. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia

ABSTRAK
Sistem urin adalah sistem yang sangat krusialbagi
kita. Sistem urin merupakan bagian dari sistem ekskresi
dimana zat-zat yang tidak berguna dikeluarkan dari
tubuh kita melalui urin. Hal ini yang menyebabkan
organ-organ yang berperan dalam urinisasi harus
dijaga kesehatanya. Munculnya bermacam-macam
penyakit pada urin telah membuat para tenaga medis
dan masyarakat awam sulit untuk mengetahui gejalanya,
apalagi mengobati. Teknologi kini sudah dikembangkan
semisal untuk mengetahui gejala asam urat pada urin
menggunakan FET sensor, penggunaan biosensor untuk
mengidentifikasi bakteri patogen untuk infeksi
polimikrobial pada Saluran Kemih, nanotechnology
untuk penyembuhan dalam penyakit diabetes mellitus,
serta Immunosensor ECL untuk mendeteksi retinolbinding protein (RBP)
Kata kunci : Urin, FET sensor, Nanotechnology,
Immunosensor, ECL, biosensor

I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai makhluk biologis, manusia
melakukan proses metabolisme setiap saat. proses
ini menghasilkan beberapa zat sisa yang
dikeluarkan berupa urine.
Urine memudahkan ilmu kedokteran
dalam mendekteksi penyakit secara umum dan
penyakit metabolisme secara khusus. Hal ini
dilakukan dengan menganalisis kandungankandungan zat yang ada pada urine. Oleh karena
itu, pada makalah ini akan dijelaskan beberapa alat
pendeteksi dan terapi bagi beberapa penyakit
metabolisme.
1.2 Tujuan
Memahami dan menganalisis mengenai
teknologi tentang sistem urin untuk membantu
mendeteksi, mendiagnosa, serta menyembuhkan
penyakit-penyakit yang berkaitan dengan siste
urin
II.

DASAR TEORI

Sistem perkemihan atau biasa juga disebut


Urinary system adalah suatu sistem kerjasama
tubuh
yang
memiliki
tujuan
utama
mempertahankan keseimbangan internal atau
Homeostatis. Funsi lainnya adalah untuk
menyerap zat-zat yang masih dibutuhkan dan

membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh


tubuh
2.1. Sistem perkemihan
meliputi :

(Urinary

System)

a) Ginjal
Manusia memiliki sepasang ginjal yang
terletak di belakang perut atau abdomen. Organ
ini terletak di sebelah kiri dan kanan tulang
belakang, di bawah hati dan limpa. Di
bagian
atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal
(juga disebut kelenjar suprarenal). Ginjal kanan
biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri
untuk memberi tempat untuk hati.
Sebagian dari bagian atas ginjal
terlindungi oleh iga ke sebelas dan duabelas.
Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak
yang membantu meredam goncangan.
Fungsi ginjal
Memegang
peranan
penting
dalam
pengeluaran zat-zat toksin dan racun
Mempertahankan keseimbangan cairan
dalam tubuh
Mempertahankan kesimbangan kadar asam
dan basa dalam darah
Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir
dari protein urem, kreatinin, dan amoniak
Stuktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis
yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex
renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat
gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang
berwarna cokelat lebih terang dibandingkan
cortex. Bagian medulla berbentuk kerucut yang
disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi
menghadap kaliks yang terdiri dari lubanglubang kecil disebut papilla renalis.

Hilum adalah pinggir medial ginjal


berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya
pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan
nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang
menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi
menjadi dua atau tiga calices renalis majores
yang masing-masing akan bercabang menjadi
dua atau tiga calices renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak
nefron yang merupakan unit fungsional ginjal.
Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap
ginjal.
Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus
proximal, angsa henle, tubulus distal dan tubulus
urinarius.
b)

Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing
bersambung dari ginjal ke vesika urinaria.
Panjangnya 25-30 cm, dengan penampang 0,5
cm. Ureter sebagian terletak pada rongga
abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga
pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
Lapisan tengah (lapisan otot polos)
Lapisan sebelah dalam (lapisan mukosa)
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakangerakan peristaltik yang mendorong urin masuk ke
dalam kandung kemih.
c)

Vesica Urinaria (kandung kemih)


Vesika urinaria bekerja sebagai penampung
urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi).
Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam
rongga
panggul.
Vesika
urinaria
dapat
mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari:
Lapisan sebelah luar (peritonium)
Tunika muskularis (lapisan berotot).
Tunika submukosa.
Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
d) Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal
pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan
air kemih ke luar.
Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2
cm, terdiri dari :
Lapisan sebelah luar (peritoneum).
Tunika muskularis (lapisan berotot).
Tunika submukosa.
Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

2
Pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm
(Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter uretra terletak
di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina)
dan uretra disini hanya sebagai saluran ekskresi.
Dinding uretra terdiri dari 3 lapisan :
Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot
polos dari Vesika urinaria. Mengandung
jaringan elastis dan otot polos. Sphincter uretra
menjaga agar uretra tetap tertutup.
Lapisan
submukosa,
lapisan
longgar
mengandung pembuluh darah dan saraf.
Lapisan mukosa.

e) Urin (Air Kemih)


Urin adalah hasil eskresi sisa metabolisme
tubuh. Urin dibuang karena mengandung zat-zat
sisa yang tidak dibutuhkan tubuh dan bersifat racun
apabila tetap berada di dalam tubuh.
Komposisi air kemih terdiri dari :
Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme
protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
Elektrolit,
natrium,
kalsium,
NH3,
bikarbonat, fospat dan sulfat.
Pagmen (bilirubin dan urobilin).
Toksin.
Hormon.
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc
tergantung dari pemasukan (intake) cairan
dan faktor lainnya.
Warna, bening kuning muda dan bila
dibiarkan akan menjadi keruh.
Warna, kuning tergantung dari kepekatan,
diet obat-obatan dan sebagainya.
Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama
akan berbau amoniak.
Berat jenis 1,015-1,020.
Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis,
juga tergantung dari pada diet (sayur
menyebabkan reaksi alkalis dan protein
memberi reaksi asam).
f) Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung
kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi
melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
Pertama, kandung kemih terisi secara
progresif hingga tegangan pada dindingnya
meningkat melampaui nilai ambang batas
(Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230
ml urin),
Adanya refleks saraf (disebut refleks
mikturisi) yang akan mengosongkan kandung

kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal
cord (tulang belakang). Sebagian besar
pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan
dapat di pelajari latih.
Sistem saraf simpatis : impuls menghambat
Vesika Urinaria dan gerak spinchter interna,
sehingga otot detrusor relax dan spinchter
interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis:
impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi,
sebaliknya
spinchter
relaksasi
terjadi
MIKTURISI (normal: tidak nyeri).
Gambar 2. Proses pembentukan urin
Ciri-ciri urin normal:
Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi
berbeda-beda sesuai dengan jumlah
cairan yang masuk.
Warnanya bening oranye tanpa ada
endapan.
Baunya tajam.
Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus
dengan pH rata-rata 6.
2.2. Proses Pembentukan Urin
a) Proses Filtrasi
Proses filtrasi terjadi di glomerulus.
Pada proses ini dilakukan proses
penyaringan darah. Yang tersaring
adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang tersaring ditampung
oleh simpai bowmen yang terdiri dari
glukosa, air, sodium, klorida, sulfat,
bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus
ginjal. Cairan yang disaring disebut
filtrate glomerulus.
b) Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan
kembali sebagian besar dari glukosa,
sodium, klorida, fospat dan beberapa ion
bikarbonat. Prosesnya terjadi secara
pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus
proximal.
Sedangkan pada tubulus distal terjadi
kembali penyerapan sodium dan ion
bikarbonat bila diperlukan tubuh.
Penyerapan
terjadi
secara
aktif
(reabsorbsi fakultatif) dan sisanya
dialirkan pada papilla renalis.
c) Proses sekresi.
Sisa dari penyerapan kembali yang
terjadi di tubulus distal dialirkan ke
papilla renalis selanjutnya diteruskan ke
luar.

2.3. Penyakit pada sistem urin


a) Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus adalah suatu
penyakit
yang
penderitanya
mengeluarkan urine terlalu banyak.
Penyebab penyakit ini adalah
kekurangan hormon ADH ( Anti
Diuretic Hormone ) yaitu hormon
yang mempengaruhi proses reabsorpsi
cairan pada ginjal. Bila kekurangan
hormon ADH, jumlah urine dapat
meningkat menjadi 30 kali lipat.
b) Batu Ginjal
Batu ginjal dapat terbentuk
karena pengendapan garam kalsium
di dalam rongga ginjal, saluran
ginjal, dan kantong kemih. Batu
ginjal terbentuk kristal yang tidak
bisa larut dan mengandung kalsium
oksalat, asam urat, dan kristal
kalsium fosfat. Penyebabnya adalah
karena karena terlalu banyak
mengonsumsi garam mineral dan
terlalu sedikit mengonsumsi air. Batu
ginjal tersebut dapat menimbulkan
hidronefosis ( membesarnya ginjal
karena urine tidak dapat mengalir
keluar ) hal itu akibat penyempitan
aliranginjal atau tersumbat oleh batu
ginjal.
c) Gagal ginjal
Gagal ginjal adalah kelainan ginjal
yang tidak berfungsi sebagaimana
mestinya sehingga proses penyaringan
darah tidak berlangsung secara
sempurna. Hal ini mengakibatkan
adanya zat-zat yang seharusnya
dikeluarkan melalui urin tetap berada
di dalam darah.
Penyakit ini terbagi menjadi 2 yaitu
penya ginjal sementara dan tetap.
Penderita penyakit ginjal sementara

dapat ditolong dengan cuci darah.


Sedangkan penderita penyakit ginjal
tetap dapat ditong dengan cangkok
ginjal.
d) Albuminuria
Albuminuria adalah penyakit pada
sistem ekskresi yang ditandai dengan
adanya kandungan albumin pada
darah. Albumin merupakan protein
yang bermanfaat bagi manusia karena
berfungsi untuk mencegah agar cairan
tidak terlalu banyak keluar dari darah.
Penyakit ini menyebabkan terlalu
banyak albumin yang lolos dari
saringan ginjal dan terbuang bersama
urine. Penyakit ini antara lain
disebabkan oleh kekurangan protein.
Cara mencegahnya dengan cara
pengendalian kadar gula darah dan
mengurangi
derajat
albuminuria
dengan pemberian diuretik dosis kecil
dan pembatasan asupan protein (0,60,8 gram / kg berat badan per hari).
III.

Perkembangan teknologi pada sistem


urin
3.1. Alat Pengukur konsentrasi Asam Urat
pada urin dengan menggunakan FET
sensor dengan elektroda
Asam urat merupakan salah satu hasil
metabolisme
dalam
tubuh.
Tingkat
konsentrasi asam urat dalam tubuh dapat
menunjukkan kondisi kesehatan seseorang.
Tingginya asam urat mengindikasikan
penyakit antara lain; gula batu, diabetes tipe
2, penyakit jantung, dan lainnya. Tingkat
konsentrasi asam yang rendah juga
mengindikasikan beberapa jenis penyakit.
Oleh karena itu, perlu dilakukan
pengecekan konsetrasi asam urat secara
berkala. Penggunaan FET sensor dengan
elektroda menggunakan salah satu contoh alat
untuk menentukan konsentrasi asam urat
secara tepat, efisien, dan murah.

4
Proses pengukuran dilakukan dengan
memanfaatkan electroda untuk mengukur
perubahan senyawa redox yang terdapat pada
asam urat. Dimana potensial elektroda akan
berubah tergantung pada reaksi redox

3.2.

Pemanfaatan nanoteknologi
pengobatan diabetes

dalam

Akhir-akhir
ini,
perkembangan
nanoteknologi telah sangat berkembang dan
bermanfaat pada berbagai bidang. Salah satu
realisasi pemanfaatan tersebut yaitu pada
bidang kedokteran.
Saat ini telah berkembang beberapa
pemanfaatan
nanoteknologi
untuk
pengobatan diabetes, berupa penggunaan
nanopartikel pada pengobatan. Berbagai
macam penggunaan nanopartikel diantaranya:
1. Polymeric diodegradable nanoparticle
yang mencakup nanospheres dan
nanocapsules
Partikel padat yang terdiri dari
zat makromolekul berukuran 10nm1000nm. Polymeric nanoparikel sendiri
ada dua macam yaitu nanospheres dan
nanocapsules. Nanosphere adalah sebuah
system matriks yang mana obat secara
fisik sama dan menyebar sedangkan
nanocapsule adalah sebuah system
vesicular dimana obat dibatasi pada
rongga yang dikelilingi oleh membrane
polimer
khusus.
Kelebihan
dari
polymeric nanoparticle adalah mudah
tepecah menjadi komponen biologis yang
mudah diterima oleh tubuh, sitoksisitas
rendah, keakuratan tinggi, dapat melewati
enzim dalam perut. Kekuranganya adalah
nanopartikel yang mucoadhesive dapat
menempel pada permukaan lambung dan
usus.
2. Ceramic nanopraticles
Ceramic nanoparticles terbuat dari
kalsium fosfat, silica, alumina atau
titanium. Kelebihannya adalah proses
persiapan yang mudahm biokompabilitas
tinggi, ukuran yang yang kecil (kurang
dari 50nm), memilii stabilitas yang baik,
dapat melindungi molekul obat yang
sudah terdoping terhadap denaturasi yang
disebabkan
perubahan
Ph
dan
suhu.kekuranganya adalah daya serap

yang buruk di sepanjang membrane


mukosa.

3. BioMems
Implantable
Bio
Micro
Electro
Mechanical System dapat digunakan
untuk
memompa
insulin
untuk
mengontrol pelepasan insulin ketika ada
peningkatan kadar glukosa darah. Alat
BioMEMS yang lain memiliki wadah
obat yang kompartemen yang penuh
dengan molekul insulin. Biosensor dan
membrane yang tidak berpori dengan
diameter 6 nm terletak dibagian luar
untuk mendeteksi perubahan kadar
glukosa darah dan pelepasan insulin

5
Satuan biosensor elektrokimia yang
difungsikan dengan probe DNA terhadap 16S
rRNA dari uropathogens paling umum. Kabel
spinal cedera pasien di sebuah rumah sakit
Veterans Affairs direkrut ke dalam penelitian.
Dari koleksi Sampel urin umumnya diuji
pada biosensor dalam 1 sampai 2 jam. Hasil
biosensor dibandingkan dengan yang
diperoleh dengan menggunakan standar
metode laboratorium mikrobiologi klinik.

Sehingga dengan alat tes biosensor


selama 1 jam dapat mengidentifikasi patogen
multipleks. Dari Juli 2007 hingga Desember
2008 telah ada116 pasien, menghasilkan 109
sampel urin yang cocok untuk analisis dan
perbandingan antara uji biosensor dan kultur
urin standar. Dari sampel 74% adalah positif,
dari yang 42% adalah polimikrobial. Di
dalamnya terdapat 20 organisme, dimana
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa
dan spesies Enterococcus adalah yang paling
umum. Biosensor spesifisitas uji dan nilai
prediktif positif 100%. Sensitivitas deteksi
patogens adalah 89%, menghasilkan 76%
nilai prediksinya negatif.

3.4. Immunosensor ECL


protein pengikat retinol

untuk

mendeteksi

ECL
(electrochemiluminescence)
proses menghasilkan spesies elektrokimia dan
membentuk
keadaan
tereksitasi
yang
memancarkan cahaya, telah terbukti menjadi
teknik yang handal dalam deteksi biologi. ECL
merupakan metode yang cerdas untuk
mendeteksi protein
3.3.

Identifikasi Patogen untuk infeksi


polimikrobial pada Saluran Kemih
menggunakan teknologi biosensor

Diagnosis infeksi saluran kemih secara


cepat akan memiliki dampak yang
menguntungkan pada proses klinis, terutama
pada pasien dengan struktur atau kelainan
saluran kemih yang sangat rentan terhadap
infeksi polimikrobial.

Protein pengikat retinol ( RBP ) ,


yang bisa terdapat dalam plasma manusia , urin
, dan cairan , merupakan biomarker penting
terkait dengan kelainan dan disfungsi ginjal .
Dalam urin manusia yang kuat , konsentrasi
khas RBP di bawah 300 ng mL 1, Dan
meningkat ketika tubulus ginjal. RBP telah
terbukti menjadi indeks sensitif cedera awal
untuk tubulus proksimal . Oleh karena itu ,
tingkat RBP perlu diukur secara akurat untuk
pemantauan dini fungsi tubulus ginjal .

Proses deteksi perbedaan konsentrasi


RBP dijelaskan sebagai berikut . Pertama ,
immunosensors dengan dengan perbedaan
konsentrasi dari RBP dibuat. Kemudian ,
intensitas ECL diperoleh setelah melakukan
scanning setiap elektroda dalam 0,1 M PBS (
pH 8,0 ) yang mengandung 0,25 TPA mM
selama beberapa siklus untuk mendapatkan
intensitas ECL yang relatif stabil . Prinsip dasar
yang disajikan ECL immunosensor ditunjukkan
dalam Skema 1 . AB1 disalurkan ke MWCNTs
(multiwalled
carbon
nanotubes)
membentuk GCE , dan kemudian antigen RBP
dan Ru - Nafion @ SiO2 - berlabel Ab2 yang
berturut-turut digabungkan untuk membentuk
gabungan jenis immunocomplexes . Jumlah
RBP antigen ditentukan dengan mengukur
respon ECL yang dihasilkan dari reaksi
elektrokimia Ru ( bpy ) 32 + dan TPA
(tripropylamine) . Di sinilah , penerapan
MWCNTs dapat meningkatkan kapasitas
penyerapan AB1 , dan mSiO2 (mesoporous
silica nanospheres) nanopartikel dengan
area permukaan besar dan biokompatibilitas
yang baik memungkinkan pemuatan efektif Ru
( bpy ) 32 + dan Ab2 , yang dapat
menyebabkan formasi tambahan sandwich jenis immunocomplexes . Akibatnya , sinyal
ECL secara bertahap ditingkatkan dengan
meningkatnya konsentrasi RBP . Kemampuan
dari immunosensor ECL dengan Ru - Nafion @
SiO2 komposit nanopartikel berlabel Ab2
dievaluasi dengan memplot intensitas ECL
versus konsentrasi analit .

6
masalah pada system urin. Berikut adalah
sebaian dari telnologi itu
FET sensor dengan elektroda yaitu proses
pengukuran
electroda untuk mengukur
perubahan senyawa redox yang terdapat pada
asam urat. Dimana potensial elektroda akan
berubah tergantung pada reaksi redox. FET
sensor dengan elektroda merupakan salah satu
contoh alat untuk menentukan konsentrasi asam
urat secara tepat, efisien, dan murah.
Selanjutnya ada nanotechnology untuk
penyembuhan dalam penyakit diabetes
mellitus. Penggunaan Polymeric nanoparticles,
ceramic nanoparticles, Gold nanoparticles
dimana obat dibuat dalam ukuran nano serta
memiliki keunggulan dan kekurangan seperti
yang telah dijelaskan diatas. Dan BioMems
digunakan untuk memompa insulin untuk
mengontrol pelepasan insulin ketika ada
peningkatan kadar glukosa darah.
Kemudian penggunaan biosensor untuk
mengidentifikasi bakteri patogen untuk infeksi
polimikrobial
pada
Saluran
Kemih.
Penggunaan biosensor ini hanya membutuhkan
waktu 1 jam untuk mengidentifikasi pathogen
multipleks dengan sensitivitas deteksi patogens
adalah 89%, menghasilkan 76% nilai
prediksinya negatif.
Terakhir ada Immunosensor ECL untuk
mendeteksi retinol-binding protein (RBP). RBP
telah terbukti menjadi indeks sensitif untuk
mengtahui gangguan tubulus proksimal. ECL
melakukan scanning secara berkala. RBP
ditentukan dengan mengukur respon ECL yang
dihasilkan dari reaksi elektrokimia. Sinyal ECL
secara
bertahap
ditingkatkan
dengan
meningkatnya konsentrasi RBP. Dan hasilnya
dievaluasi dengan memplot intensitas ECL
versus konsentrasi analit.

V. Kesimpulan

IV. Diskusi
Hasil dari analisis diatas System Urin
merupakan sistem ekskresi manusia dimana
semua zat-zat yang tidak berguna dikeluarkan
dari tubuh. Apabila terjadi gangguan akan
menyebabkan tubuh tidak bisa mengeluarkan
sampah dari dalam tubuh.
Banyak orang yang masih awam terhadap
teknologi yang berkembang untuk mengatasi

1. Sistem urin adalah untuk menyerap zat-zat


yang masih dibutuhkan dan membuang zatzat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.
2. Penyakit pada system urin sangat beraneka
macam dan apabila tidak dideteksi dari dini
akan
menyebabkan
kekompleksan
penyakit, namun hal itu terbantu dengan
adanya teknologi yang berkembang pesat
sekarang.
3. FET sensor dengan elektroda yaitu proses
pengukuran electroda untuk mengukur
perubahan senyawa redox yang terdapat
pada asam urat.

4. Penggunaan

biosensor
untuk
mengidentifikasi bakteri patogen untuk
infeksi polimikrobial pada Saluran Kemih
5. Nanotechnology untuk penyembuhan
dalam
penyakit
diabetes
mellitus.
Penggunaan Polymeric nanoparticles,
ceramic nanoparticles, Gold nanoparticles
serta BioMems.
6. Immunosensor ECL untuk mendeteksi
retinol-binding protein (RBP). RBP
merupakan indeks sensitif
untuk
mengetahui gangguan pada tubulus
proksimal

VI. REFERENSI
1. Adams, R.E., Betso, S.R., Carr, P.W., 1976.
Analytical Chemistry 48 (13), 19891996.
2. Ali, S.M.U., Alvi, N.H., Ibupoto, Z., Nur, O.,
Willander, M., Danielsson, B., 2011.Sensors
and Actuators B: Chemical 152 (2), 241247.
3. Xue, Y., Zhao, H., Wu, Z.J., Li, X.J., He,
Y.J., Yuan, Z.B., 2011. Biosensors &
Bioelectronics 29 (1), 102108.
4. Roco, M.C.; Williams, R.S.; Alivisatos, P.
Nanotechnology research directions, Kluwer
Academic Publications: Boston, 2000.
5. Griebling TL: Urologic Diseases in America
project: trends in resource use for urinary
tract infections in men. J Urol 2005; 173:
1288.
6. Griebling TL: Urologic Diseases in America
project: trends in resource use for urinary
tract infections in women. J Urol 2005; 173:
1281.
7. Girard R, Mazoyer MA, Plauchu MM et al:
High prevalence of nosocomial infections in
rehabilitation units accounted for by urinary
tract infections in patients with spinal cord
injury. J Hosp Infect 2006; 62: 473.
8. Bian, C., Zhang, F., Wang, F., Ling, Z., Luo,
M., Wu, H., Sun, Y., Li, J., Li, B., Zhu, J.,
2010. Acta Biochimica et Biophysica Sinica
42, 847853.