Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Salah satu agenda utama bagi pembangunan nasional adalah sektor
pendidikan. Melalui pendidikan negara dapat meningkatkan sumber daya
manusia yang berimplikasi pada kemajuan di berbagai bidang kehidupan
lainnya, seperti: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Karena itulah
pemerintah harus memenuhi hak setiap warga dalam memperoleh
layananan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD
1945.
Pendidikan tidak hanya berperan besar dalam kemajuan bangsa,
melainkan juga berkaitan dengan pasar bebas yang semakin kompetitif,
pendidikan hendaknya dipandang dapat mengakomodir masyarakat agar
suatu negara memiliki manusia-manusia yang berkualitas. Melalui
pendidikan dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya kaya akan
pengetahuan teoritis melainkan juga praktis, penguasaan teknologi, dan
memiliki keahlian khusus. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar
pengevaluasian dan peningkatan pendidikan di setiap negara secara
berkesinambungan.
Melihat sedemikian penting peranan pendidikan, kemunculan
pendidikan non formal dapat dipandang sebagai salah satu upaya
pemerintah untuk meningkatkan taraf pendidikan penduduk di berbagai

negara, termasuk di Indonesia. Konsep awal dari Pendidikan Non Formal


ini muncul sekitar akhir tahun 60-an hingga awal tahun 70-an dalam
bukunya Philip Coombs dan Manzoor A., P.H. (1985)
Dalam GBHN TAP MPR (Garis Besar Haluan Negara Ketetapan
MPR) dinyatakan:Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu,
pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan
pemerintah.
Hal ini berarti setiap manusia Indonesia diharapkan supaya selalu
berkembang sepanjang hidup dan di lain pihak masyarakat dan pemerintah
diharapkan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar.
Prinsip ini berarti masa sekolah bukanlah satu-satunya masa bagi setiap
orang untuk belajar melainkan hanya sebagian dari waktu belajar yang akan
berlangsung seumur hidup.
Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa
pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus (continue) dari bayi
sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti
yang

dicantumkan

dalam

hadits

Nabi

Muhammad

SAW

yang

menganjurkan belajar dari buaian hingga liang lahad (pintu kubur).


Sebenarnya ide pendidikan seumur hidup telah lama dalam sejarah
pendidikan, tetapi baru populer sejak terbitnya buku Paul Langerend An
Introduction to Life Long Education (sesudah Perang Dunia II) kemudian

diambil alih oleh Internaional Comission on The Development of


Education (UNESCO).
Istilah pendidikan seumur hidup (long life integrated education)
tidak dapat diganti dengan istilah-istilah lain sebab isi dan luasnya (scopenya) tidak persis sama seperti istilah out of school education, continuing
education, adult education, further education, rewirent education.

B.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sistem pendidikan?
2. Apa yang dimaksud dengan pendidikan sebagai suatu sistem?

C.

Tujuan
1.

Mahasiswa dapat mengetahui apa pengertian sistem dan pendidikan.

2.

Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem


pendidikan.

3.

Mahasiswa dapat mengetahui komponen-komponen yang terdapat


pada sistem pendidikan.

4.

Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan


sebagai suatu sistem.

5.

Mahasiswa dapat mengetahui ciri-ciri pendidikan sebagai sebuah


sistem terbuka.

6.

Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dari sisten pendidikan

7.

Mahasiswa dapat mengetahui sekilas tentang Jalur Dan Jenjang


Pendidikan (Menurut UU SISDIKNAS)

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem
Sistem berasal bari bahasa Yunani, yakni system yang berarti
sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur
dan merupakan suatu keseluruhan . Istilah sistem merupakan suatu konsep
yang bersifat abstrak. Sistem dapat diartikan sebagai seperangkat komponen
atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai satu tujuan.
Zahara Idris (1987) mengemukakan bahwa sistem adalah kesatuan
yang terdiri atas komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur
sebagai sumber-sumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur,
tidak acak, dan saling membantu untuk mencapai suatu hasil (produk).
Sistem dapat pula diartikan sebagai suatu himpunan atau perpaduan hal-hal
atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang
kompleks atau utuh (Amirin: 1992). Mc. Ashan (1983) mendefinisikan sistem
sebagai suatu strategi yang menyeluruh atau terencana dikomposisi oleh
suatu set elemen yang harmonis, mempresentasikan kesatuan unit, masingmasing mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam
bentuk yang logis. Sementara itu Immegart (1772) menyatakan bahwa esensi
sistem merupakan suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang
tersusun secara sistematis, bagian-bagian itu berelasi antara yang satu dengan
yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya.

B.

Pengertian Sistem Pendidikan

Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu system yang berarti
adalah cara atau strategi. Dalam bahasa Inggris sistem berarti system,
jaringan, susunan, cara. Sistem juga diartikan suatu strategi atau cara
berpikir. Sedangkan kata pendidikan itu berasal dari kata Pedagogi, kata
tersebut berasal dari bahasa yunani kuno, yang jika dieja menjadi 2 kata
yaitu Paid yang artinya anak dan Agagos yang artinya membimbing. Dengan
demikian Pendidikan bisa di artikan sebagai usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar agar para
pelajar di didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya yang
diperlukan untuk dirinya dan masyarakat.
Jadi, bisa di simpulkan bahwa sistem pendidikan adalah suatu strategi
atau cara yang akan di pakai untuk melakukan proses belajar mengajar untuk
mencapai

tujuan

agar

para

pelajar

tersebut

dapat

secara

aktif

mengembangkan potensi di dalam dirinya yang diperlukan untuk dirinya


sendiri dan masyarakat.
Adapun komponen-komponen yang terdapat pada sistem pendidikan
sebagai berikut:
1. Tujuan
Tujuan merupakan batasan dari hal-hal yang hendak dicapai. Baiknya
tujuan yang ingin dicapai dalam satu usaha perluh dikonkritkan terlebih
dahulu sebelum usaha tersebut dimulai, sebab tujuan mempunyai fungsi
yang tertentu terhadap satu usaha.

2. Pendidikan
Pendidikan adalah orang yang melaksanakan pendidikan, orang ini biasa
disebut guru atau dosen. Orang tersebut sebagai pihak yang mendidik
dengan norma-norma. Pihak yang turut membentuk anak, pihak yang
memberikan anjuran, pihak yang terlibat dalam menghumanisasikan anak,
memiliki berbagai macam pengetahuan dan kecakapan.
3. Peserta Didik
Sasaran dari pendidikan adalah peserta didik, peserta didik dapat dikatakan
sebagai pihak yang dididik, dipimpin, diarahkan, dan diberi berbagai
macam ilmu pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik. Peserta didik
juga bisa dikatakan sebagai pihak yang dihumanisasikan yang biasa di
sebut pelajar atau mahasiswa.
4. Alat pendidik
Alat pendidikan adalah sesuatu apapun yang membantu terlaksananya
proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuannya, baik berupa
benda ataupun bukan berupa benda.
C. Pendidikan Sebagai Suatu Sistem
Segala sesuatu yang ada di dunia ini, dari yang besar hingga yang
kecil, dari tata surya hingga seekor semut, dapat dipandang sebagai sistem.
Apabila pandangan ditujukan pada sebuah sistem tertentu maka sistem-sistem
lain di luar sistem dimaksud di pandang sebagai supra sistem. Misalnya saja
kita sedang menujukan pandangan kepada pendidikan maka sistem-sistem
yang lain di luar sistem pendidikan seperti sistem politik, sistem ekonomi,

sistem sosial, sistem pasar, dan sebagainya dapat dipandang sebagai supra
sistem.
Berjalannya sebuah sistem adakalanya berhubungan dengan supra
sistemnya dan adakalanya tidak berhubungan dengan supra sistemnya.
Apabila berjalannya sebuah sistem berhubungan dengan supra sistemnya
maka sistem tersebut dinamakan sistem terbuka. Misalnya sekolah, pasar,
rumah sakit, manusia (orang), sapi, tanaman, dan sebagainya. Sebaliknya,
jika sebuah sistem berjalan tanpa berhubungan dengan supra sistemnya
melainkan hanya berhubungan dengan komponen-komponen yang ada di
dalam sistem saja maka sistem yang demikian disebut sebagai sistem
tertutup. Misalnya jam, kipas angin, AC, dan sebagainya. Namun demikian
perlu disadari bahwa sebenarnya tidak ada sistem yang sepenuhnya terbuka
dan tidak ada pula sistem yang sepenuhnya tertutup.
Pendidikan merupakan salah satu sistem terbuka, karena pendidikan
itu tidak akan dapat berjalan dengan sendirinya tanpa berhubungan dengan
sistem-sistem lain di luar sistem pendidikan. Ciri-ciri pendidikan sebagai
sebuah sistem terbuka antara lain:
1. Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar. Pendidikan
mendatangkan pengajar, uang, alat-alat belajar, para peserta didik, dan
sebagainya dari luar lembaga pendidikan.
2. Memiliki pemroses. Pendidikan memproses peserta didik dalam aktivitas
belajar dan pembelajaran.
3. Menghasilkan output atau mengekspor energi, materi, dan informasi.

4. Merupakan kejadian yang berantai. Memproses peserta didik (input


pendidikan) merupakan kegiatan yang beruang-ulang dan saling
berkaitan.
5. Memiliki negative entroppy, yaitu suatu usaha untuk menahan kepunahan
dengan cara membuat impor lebih besar dari pada ekspor. Dalam
pendidikan hal ini dilakukan dengan cara mengantisipasi perubahan
lingkungan dan memperbaiki kerusakan.
6. Memiliki alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki
diri.Segala informasi yang terkait dengan pendidikan dimanfaatkan oleh
penyelenggara pendidikan untuk mengambil keputusan dalam rangka
mempertahankan dan memperbaiki pendidikan.
7. Ada kestabilan yang dinamis. Pendidikan selalu dinamis mencari yang
baru, memperbaiki diri, memajukan diri agar tidak ketinggalan zaman,
bahkan berusaha mengantisipasi dan menyongsong masa depan.
8. Memiliki deferensiasi, yakni spesialisasi-spesialisasi. Dalam organisasi
pendidikan ada bagian pengajaran, keuangan, kepegawaian, kesiswaan/
kemahasiswaan dan sebagainya. Masing-masing bagian ini masih dapat
dipilah-pilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi.
9. Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang
sama. Para pendidik boleh berkreasi menciptakan cara-cara baru yang
lebih baik dalam usaha memajukan pendidikan.
Setiap unit usaha atau organisasi merupakan sebuah sistem yang
terdiri dari berbagai macam komponen yang saling mendukung daam

rangka mencapai tujuan. Secara umum suatu unit pendidikan dapat


digambarkan sebagai berikut.
Raw input, Instrumental input dan Enviromental input masuk dalam
proses pendidikan yang menghasilkan output. Raw input merupakan
bahan mentah/ calon siswa. Instrumental input merupakan unsur
pendukung yang mempengaruhi aktivitas organisasi atau unit usaha dan
dapat dirancang oleh unit usaha tersebut. Dalam pendidikan adalah unsur
sumber daya manusia, sistem administrasi sekolah, kurikulum, anggaran
pendidikan, sarana dan prasarana. Enviromental input merupakan faktor
lingkungan yang mempengaruhi aktivitas suatu organisasi atau unit usaha
tetapi tidak dapat dirancang. Dalam pendidikan adalah pengaruh tv,
ekonomi, politik, sosbud,dll.
D.

Sistem-Sistem Pendidikan
1)

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan
sikap dan kemampuan serta memberikan

pengetahuan dan

keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarat dan


mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk
mengikuti pendidikan menengah. Oleh karena itu, bagi seluruh
warga negara perluh disediakan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan dasar, dan tiap-tiap warga negara diwajibkan menempuh
pendidikan yang sekurang-kurangnya dapat membekali dirinya
dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar itu.

Berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan dasar ini,


adanya wajib belajar bagi anak usia 7-12 tahun yang pernah
dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 2 mei 1984. Tentang
wajib belajar tersebut, kemudian dinyatakan dalam UUSPN (1), yang
berbunyi; warga negara yang berumur 6 (enam) tahun berhak
mengikuti pendidikan dasar dan ayat (2) warga negara yang
berumur 7 (tujuh) tahun, berkewajiban mengikuti pendidikan dasar
dan pendidikan yang setara sampai tamat.
2)

Pendidikan Menengah
Sekolah Menengah Pertama yang disingkat dengan SMP
merupakan jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di
Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah
menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas
7 sampai kelas 9. Saat ini Sekolah Menengah Pertama menjadi
program Wajar 9 Tahun (SD, SMP).
Pendidikan menengah berfungsi untuk mempersiapkan
peserta didik untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar
serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan
lingkungan

sosial,

budaya

dan

alam

sekitar

serta

dapat

mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau


pendidikan tinggi.

Lulusan sekolah menengah pertama dapat melanjutkan


pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah menengah
kejuruan (atau sederajat). Pelajar sekolah menengah pertama
umumnya berusia 13-15 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara
berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni
sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah
pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah

menengah

pertama

diselenggarakan

oleh

pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah


pada tahun 2001, pengelolaan sekolah menengah pertama negeri di
Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Kementerian
Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah

kabupaten/kota.

Sedangkan

Kementerian

Pendidikan

Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar


nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah menengah pertama
negeri

merupakan

unit

pelaksana

teknis

dinas

pendidikan

kabupaten/kota.
(Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didiksekolah-menengah-pertama)
3)

Pendidikan Menengah Umum


Pendidikan menengah umum berfungsi menyiapkan peserta
didik untuk melanjutkan pendidikannya pada tingkat pendidikan

yang lebih tinggi . pendidikan menengah kejuruan yang diikuti atau


mengikuti pendidikan keahlian pada tingkat pendidikan tinggi.
4)

Pendidikan tinggi
Pendidikan

tinggi

merupakan

kelanjutan

pendidikan

menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik


menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akdemik
dan atau profesional yang dapat menerapkan mengembangkan
dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/ atau
kesenian.
Misi

TriDharma

pendidikan

tinggi

yang

meliputi

pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah


dalam rangka mencapai tujuan yang telah digariskan tersebut.
Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan disebut
perguruan tinggi, yang dapat berbentuk akademik, politeknik,
sekolah tinggi, institut dan universitas.
a) Institut merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan
vokasi dalam sejumlah rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau
Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institut dapat
menyelenggarakan pendidikan profesi.
b) Sekolah

Tinggi merupakan

menyelenggarakan

pendidikan

Perguruan
akademik

Tinggi

yang

dan

dapat

menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu rumpun Ilmu

Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi


syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan
profesi.
c) Politeknik merupakan

Perguruan

Tinggi

yang

menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun


Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi dan jika memenuhi
syarat, politeknik dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
d) Akademi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan vokasi dalam satu atau beberapa cabang Ilmu
Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu.
5) Pendidikan Formal
Pasal 14 disebutkan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri
atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan

formal

adalah

kegiatan

yang

sistematis,

bertingkat/berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan


perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya;

termasuk

kedalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis


dan umum, program

spesialisasi, dan latihan professional,

yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus (Coombs


1973).
6) Pendidikan Non Formal
Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi
dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang dilakukan secara

mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih


luas yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu
di dalam mancapai tujuan belajarnya(Coombs 1973).
Pendidikan yang program-programnya bersifat nonformal
memiliki tujuan dan kegiatan yang terorganisasi, diselenggarakan
di lingkungan masyarakat dan lembaga-lembaga untuk melayani
kebutuhan belajar khusus para peserta didik.
7) Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung
sepanjang usia sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap,
keterampilan,

dan

pengetahuan

yang

bersumber

dari

pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk


di dalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan
dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar,
perpustakaan, dan media massa(Coombs 1973).
Pendidikan yang program- programnya bersifat informal
tidak

diarahkan

untuk

melayani

kebutuhan

belajar

yang

terorganisasi. Kegiatan pendidikan ini lebih umum, berjalan


dengan

sendirinya, berlangsung terutama dalam lingkungan

keluarga, serta melalui media massa, tempat bermain, dan lain


sebagainya.
Pandangan lain tentang pendidikan dikemukakan oleh
Axiin (1974), yang membuat penggolongan program-program

kegiatan yang termasuk ke dalam pendidikan formal, nonformal,


dan informal dengan menggunakan kriteria adanya atau tidak
adanya kesengajaan dari kedua pihak yang berkomunikasi, yaitu
pihak pendidik (sumber belajar atau fasilitator) dan pihak peserta
didik (siswa atau warga belajar).
Dengan membandingkan karakteristik pendidikan sekolah
terhadap karakteristik pendidikan luar sekolah (Ryan, 1972:11),
sebagai ilustrasi, disatu pihak pendidikan sekolah memiliki program
berurutan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan dan dapat
diterapkan secara seragam di semua tempat yang memiliki kondisi
sama. Di pihak lain, pendidikan
program

yang

tidak

selalu

luar
ketat

sekolah

mempunyai

dalam penyelenggaraan

programnya.
Program

pendidikan

sekolah

memiliki

tingkat

keseragaman yang ketat, sedangkan program pendidikan luar


sekolah lebih bervariasi dan lebih luwes.
(Sumber:

Ramacahyati.

2012.

Perbedaan-Pendidikan-Formal-Non

Formal dan Informal.)


E.

Jalur Dan Jenjang Pendidikan (Menurut UU SISDIKNAS)


a) Jalur Pendidikan
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Bab VI pasal 13 Ayat 1 jalur
pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal

yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan formal


adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri
atas pendidikan dasar pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Pendidikan

informal

adalah

jalur

pendidikan

keluarga

dan

lingkungan.
b) Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan
berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai dan kemampuan yang dikembangkan (UU No. 20 Tahun 2003
Bab 1 Pasal 1 ayat 8). Jenjang pendidikan formal terdiri atas
pendidikan dasar pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
(Sumber: http://www.pendidikanekonomi.com)
c) Jenis Pendidikan yang ada di Indonesia

Yang dimaksud dengan jenis pendidikan adalah suatu lembaga


yang dibentuk untuk melakukan pembelajaran sesuatu dengan
mengkhususkan tujuan suatu pendidikan di dalam satuan pendidikan
itu sendiri.
Berikut beberapa jenis pendidikan yang ada di Indonesia

1. Pendidikan untuk Umum


Pendidikan untuk umum merupakan pendidikan dasar 9
tahun yang meliputi 6 tahun Sekolah Dasar dan 3 tahun untuk
Sekolah Menengah Pertama. Pendidikan untuk umum memiliki
tujuan agar para siswa mendapatkan pengetahuan yang cukup
sebagai bekal melanjutkan ke perguruan tinggi ataupun dalam
mencari pekerjaan. Selain itu pengetahuan umum juga berguna
dalam bersosialisasi di kehidupan sehari-hari.
2. Pendidikan berbasis Kejuruan
Pendidikan berbasis Kejuruan merupakan terobosan yang
menjanjikan dalam mendapatkan kesempatan bekerja setelah selesai
menempuh pendidikan dasar 9 tahun. Dengan sistem tersebut,
pemerintah mampu mencetak individu-individu yang berkualitas
serta memiliki keahlian yang lebih khusus. Di Indonesia, bentuk
pendidikan berbasis Kejuruan biasa disebut SMK atau Sekolah
Menengah Kejuruan , dan sekolah tersebut memiliki bermacammacam pilihan spesialisasi keahlian sehingga para siswa bisa
dengan leluasa belajar sesuai dengan minat mereka.
3. Pendidikan lanjutan Akademik
Pendidikan lanjutan Akademik adalah pendidikan tinggi
setelah selesai menempuh SMA atau Sekolah Menengah Atas.
Biasanya program yang disediakan adalah program Sarjana serta
Pascasarjana.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Sistem pendidikan
Sistem pendidikan adalah suatu strategi atau cara yang akan di pakai
untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar para
pelajar tersebut dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya
yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan masyarakat.
B. Pendidikan sebagai suatu sistem

Segala sesuatu yang ada di dunia ini, dari yang besar hingga yang
kecil, dari tata surya hingga seekor semut, dapat dipandang sebagai sistem.
Pendidikan merupakan salah satu sistem terbuka, karena pendidikan itu tidak
akan dapat berjalan dengan sendirinya tanpa berhubungan dengan sistemsistem lain di luar sistem pendidikan. Ciri-ciri pendidikan sebagai sebuah
sistem terbuka antara lain:
1.

Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar. Pendidikan


mendatangkan pengajar, uang, alat-alat belajar, para peserta didik, dan
sebagainya dari luar lembaga pendidikan.

2.

Memiliki pemroses. Pendidikan memproses peserta didik dalam


aktivitas belajar dan pembelajaran.

3.

Menghasilkan output atau mengekspor energi, materi, dan informasi.

4.

Merupakan kejadian yang berantai. Memproses peserta didik (input


pendidikan) merupakan kegiatan yang beruang-ulang dan saling
berkaitan.

5.

Memiliki negative entroppy, yaitu suatu usaha untuk menahan


kepunahan dengan cara membuat impor lebih besar dari pada ekspor.
Dalam pendidikan hal ini dilakukan dengan cara mengantisipasi
perubahan lingkungan dan memperbaiki kerusakan.

6.

Memiliki alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki


diri.Segala informasi yang terkait dengan pendidikan dimanfaatkan oleh
penyelenggara pendidikan untuk mengambil keputusan dalam rangka
mempertahankan dan memperbaiki pendidikan.

7.

Ada kestabilan yang dinamis. Pendidikan selalu dinamis mencari yang


baru, memperbaiki diri, memajukan diri agar tidak ketinggalan zaman,
bahkan berusaha mengantisipasi dan menyongsong masa depan.

8.

Memiliki deferensiasi, yakni spesialisasi-spesialisasi. Dalam organisasi


pendidikan ada bagian pengajaran, keuangan, kepegawaian, kesiswaan/
kemahasiswaan dan sebagainya. Masing-masing bagian ini masih dapat
dipilah-pilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi.

9.

Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang
sama. Para pendidik boleh berkreasi menciptakan cara-cara baru yang
lebih baik dalam usaha memajukan pendidikan.

C. Sistem-Sistem Pendidikan
1.

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
diperlukan untuk hidup dalam masyarat dan mempersiapkan peserta
didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan
menengah.

2.

Pendidikan Menengah
Sekolah Menengah Pertama yang disingkat dengan SMP merupakan
jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah
lulus sekolah dasar (atau sederajat).
Pendidikan menengah berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik
untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya
dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

3.

Pendidikan Menengah Umum


Pendidikan menengah umum berfungsi menyiapkan peserta didik untuk
melanjutkan pendidikannya pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi .
pendidikan menengah kejuruan yang diikuti atau mengikuti pendidikan
keahlian pada tingkat pendidikan tinggi.

4.

Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan akdemik dan atau profesional
yang dapat menerapkan mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan/ atau kesenian.

5.

Pendidikan Formal
Pasal 14 disebutkan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan

formal

adalah

kegiatan

yang

sistematis,

bertingkat/berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan


perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya; termasuk kedalamnya
ialah

kegiatan

studi

yang

berorientasi akademis dan umum,

program spesialisasi, dan latihan professional, yang dilaksanakan


dalam waktu yang terus menerus (Coombs 1973).
6.

Pendidikan Non Formal


Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi dan sistematis,
di luar sistem persekolahan yang dilakukan secara mandiri atau
merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas yang sengaja
dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mancapai
tujuan belajarnya(Coombs 1973).

7.

Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia
sehingga

setiap orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan

pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari,


pengaruh

lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh

kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan


dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa(Coombs 1973).

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Sistem pendidikan adalah suatu strategi atau cara yang akan di pakai
untuk melakukan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar para
pelajar tersebut dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya
yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan masyarakat.
Adapun komponen-komponen yang terdapat pada sistem pendidikan
sebagai berikut:
1. Tujuan
Tujuan merupakan batasan dari hal-hal yang hendak dicapai. Baiknya
tujuan yang ingin dicapai dalam satu usaha perluh dikonkritkan terlebih
dahulu sebelum usaha tersebut dimulai, sebab tujuan mempunyai fungsi
yang tertentu terhadap satu usaha.
2. Pendidikan
Pendidikan adalah orang yang melaksanakan pendidikan, orang ini biasa
disebut guru atau dosen. Orang tersebut sebagai pihak yang mendidik
dengan norma-norma. Pihak yang turut membentuk anak, pihak yang
memberikan anjuran, pihak yang terlibat dalam menghumanisasikan
anak, memiliki berbagai macam pengetahuan dan kecakapan.

5. Peserta Didik
Sasaran dari pendidikan adalah peserta didik, peserta didik dapat dikatakan
sebagai pihak yang dididik, dipimpin, diarahkan, dan diberi berbagai
macam ilmu pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik. Peserta didik
juga bisa dikatakan sebagai pihak yang dihumanisasikan yang biasa di
sebut pelajar atau mahasiswa.
6. Alat pendidik
Alat pendidikan adalah sesuatu apapun yang membantu terlaksananya
proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuannya, baik berupa
benda ataupun bukan berupa benda.
Pendidikan merupakan salah satu sistem terbuka, karena pendidikan
itu tidak akan dapat berjalan dengan sendirinya tanpa berhubungan dengan
sistem-sistem lain di luar sistem pendidikan.
Dalam GBHN TAP MPR (Garis Besar Haluan Negara Ketetapan
MPR) dinyatakan:Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu,
pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan
pemerintah.
B. Saran
Pendidikan tidak hanya berperan besar dalam kemajuan bangsa,
melainkan juga berkaitan dengan pasar bebas yang semakin kompetitif,
pendidikan hendaknya dipandang dapat mengakomodir masyarakat agar
suatu

negara

memiliki

manusia-manusia

yang

berkualitas.

Melalui

pendidikan dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya kaya akan
pengetahuan teoritis melainkan juga praktis, penguasaan teknologi, dan
memiliki keahlian khusus. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar
pengevaluasian dan peningkatan pendidikan di setiap negara secara
berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

Ramacahyati. 2012. Perbedaan-Pendidikan-Formal-Non Formal dan


Informal.)
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja. dkk. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
http://www.pendidikanekonomi.com
Drs. redja Mudyahardjo. 1992. Dasar-dasar kependidikan. Jakarta:
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Tinggi.
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolahmenengah-pertama)
Dr. Kartini Kartono. 1992. Pengantar Ilmu Mendidik Teorotis. Bandung:
Mandara Maju.
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja. dkk. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.