Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit yang berkaitan dengan otot adalah cedera otot. Cedera otot banyak dialami
mereka yang beraktivitas di dunia olahraga seperti atlet. Tetapi, tidak menutup
kemungkinan orang biasa juga mengalami cedera otot saat berolahraga. Cedera ini
umumnya disebabkan karena kesalahan dalam berolahraga atau karena kecelakaan akibat
benturan dengan lawan seperti pemain sepakbola. Bisa juga disebabkan terjatuh dalam
posisi yang tidak baik, sehingga kaki atau tangan terkilir. Bila seseorang mengalami cedera
otot, otot akan mengalami peregangan.
Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan, peregangan berlebihan atau
stress yang berlebihan. Strain aadalah robekan mikroskopis tidak komplek dengan
perdarahan ke dalam jaringan. Pasien-pasien mengalami rasa sakit atau nyeri mendadak
dengan nyeri tekan local pada pemakaian otot dan kontraksi isometric.
Oleh karena alasan tersebut diatas maka penulis tertarik membahas masalat tersebut
untuk dijadikan suatu makalah.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat akademik. Selain itu
demi menambah wawasan tentang sistem muskuloskeletal khususnya strain. Inilah
yang menjadi dasar tujuan kami dalam pembuatan makalah ini.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tentang pengertian strain
b. Untuk mengetahui tentang klasifikasi strain
c. Untuk mengetahui tentang etiologi strain
d. Untuk mengetahui tentang patofisiologi strain
e. Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan medis strain
f. Untuk mengetahui tentang pemeriksaan diagnostik strain
g. Untuk mengetahui tentang pencegahan strain
h. Untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien strain

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

C. PEMBATASAN MASALAH
Mengingat terbatasnya waktu yang disediakan, maka pada makalah ini penulis hanya
membicarakan tentang pengertian, etiologi (penyebab), patofisiologi, manifestasi klinis
(tanda dan gejala), komplikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis maupun
penatalaksanaan keperawatan, serta asuhan keperawatan pada penderita strain.

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan batasan tersebut masalah yang dapat kita rumuskan adalah :
Apa yang dimaksud dengan strain?
Apa saja klasifikasi strain?
Apa etiologi dari strain?
Apa saja patofisiologi strain?
Bagaimana penatalaksanaan medis strain ?
Apa saja pemeriksaan penunjang strain?
Apa saja pencegahan strain?
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien strain?

E. METODE PENULISAN
Dalam penyusunan makalah ini, kami memperoleh bahan atau sumber-sumber
pembahasan dari berbagai media yang ada, antara lain seperti internet dan beberapa
literatur yang ada. Kemudian kami saling menghubungkan satu sama lain dalam
pembahasan sehingga menjadi karangan lengkap, objektif dan akurat.

F. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini terdiri dari:
BAB I:

PENDAHULUAN
Yang terdiri dari : latar belakang, tujuan penulisan, pembatasan makalah,
rumusan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II:

PEMBAHASAN
Yang terdiri dari : definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, penatalaksanaan,
pemeriksaan penunjang, pencegahan, serta asuhan keperawatan pada strain.

BAB III: PENUTUP


Yang terdiri dari : kesimpulan dan saran.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

BAB II
PEMBAHASAN
A. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULUS

1. DEFINISI MUSKULUS
Otot (muscle) jaringan tubuh yang berfungsi mengubah energi kimia menjadi
kerja mekanik sebagai respons tubuh terhadap perubahan lingkungan. Otot
membentuk 43% berat badan. Lebih dari sepertiganya merupakan protein tubuh
dan setengahnya tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat.
Proses vital di dalam tubuh (seperti kontraksi jantung, kontriksi pembuluh darah,
bernapas, peristaltik usus) terjadi karena adanya aktivitas otot.

2. FUNGSI OTOT
a) Menghasilkan gerakan rangka
b) Mempertahankan sikap dan posisi tubuh
c) Menyokong jaringan lunak
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

d) Menunjukkan pintu masuk dan keluar saluran dalam sistem tubuh


e) Mempertahankan suhu tubuh; kontraksi otot: energi panas

3. JENIS-JENIS OTOT
Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot
dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.

a) Otot Lurik (Otot Rangka)


Otot lurik disebut juga otot rangka / otot serat lintang / otot sadar. Otot ini bekerja
di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunvai jalur-jalur
melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang tersusun berselang-selang.
Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot rangka dapat
berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali - kali. Otot
rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari bagian:
o Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang menggembung
o Urat

otot

(tendon),

merupakan

kedua

ujung

yang

mengecil.

Urat otot (tendon) tersusun dari jaringan ikat dan bersifat keras serta liat.
Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai
berikut ini:
1) Origo merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak
berubah kedudukannya ketika otot berkontraksi.
2) Insersio merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak
ketika otot berkontraksi.
Otot yang dilatih terus menerus akan membesar atau mengalami hipertrofi,
Sebaliknya jika otot tidak digunakan (tidak ada aktivitas) akan menjadi
kisut atau mengalami atrofi.
Ciri-ciri otot lurik

Bentuknya silindris, memanjang

Tampak adanya garis-garis melintang yang tersusun seperti daerah gelap


dan terang secara berselang-seling (lurik).

Mempunyai banyak inti sel.

Bekerja dibawah kesadaran, artinya menurut perintah otak, oleh karena itu
otot lurik disebut sebagai otot sadar.

Terdapat pada otot paha, otot betis, otot dada, otot

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

BENTUK: terdiri dari banyak serabut, intinya terletak di tepi (pinggir),


terdapat garis gelap dan terang (sangat jelas), panjang otot rangka bervariasi
antara 1-40 mm, sedangkan tebalnya antara 10-100 mikron; setiap serabut
otot rangka dilapisi oleh sarkolema (di dalam sarkolema terdapat miofibril
= elemen yang dapat berkontraksi), serabut otot yang masing-masing
dilapisi sarkolema berkelopok membentuk 15-30 serabut otot dan dilapisi
fasiculus. Masing-masing fasikulus dilapisi oleh jaringan ikat perimisium.
Jaringan ikat yang meliputi serabut otot rangka disebut endomisium.
Masing-masing endomisium dilapisi lagi oleh epimisium. Dalam otot
rangka terdapat mioglobin pigmen yang disebut mioglobin

LOKASI : semua otot yang melekat pada tulang, otot lidah, langit-langi
(palatinum), pharing, ujung esophagus

INNERVASI : sistem syaraf kraniospinal bekerja menurut kehendak


individu

AKSI: kontraksi cepat, berlangsung sebentar

b) Otot Polos
Otot polos disebut juga otot tak sadar atau otot alat dalam (otot viseral). Otot
yang ditemukan dalam intestinum dan pembuluh darah bekerja dengan
pengaturan dari sistem saraf tak sadar, yaitu saraf otonom. Otot polos dibangun
oleh sel-sel otot yang terbentuk gelondong atau kumparan halus dengan kedua
ujung meruncing,serta mempunyai satu inti yang letaknya ditengah. Kontraksi
otot polos tidak menurut kehendak, tetapi dipersarafi oleh saraf otonom.
Otot polos terdapat pada alat-alat dalam tubuh, misalnya pada:
o Dinding saluran pencernaan
o Saluran-saluran pernapasan
o Pembuluh darah
o Saluran kencing dan kelamin

Ciri-ciri otot polos

Bentuknya gelondong, panjang, pipih, kedua ujungnya meruncing dan


dibagian tengahnya menggelembung.

Mempunyai satu inti sel ditengah.

Tidak memiliki garis-garis melintang (polos).

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

Bekerja diluar kesadaran, artinya tidak dibawah pe tah otak, oleh karena itu
otot polos disebut sebagai otot tak sadar.

Terletak pada otot usus, otot saluran peredaran darah otot saluran kemih
dan lain lain

Sitoplasmanya terdiri dari sarkoplasma yang mengandung miofibril (elemen


yang mampu berkontraksi sehingga dpt bergerak)

Panjang otot polos bervariasi antara 15-500 mikron, tergantung lokasi :


paling pendek pembuluh darah, paling panjang uterus (rahim wanita/betina)

LOKASI: terdapat pada alat atau daerah organ yang berongga saluran
pencernaan makanan (batang kerongkongan, esophagus, lambung, usus
halus, usus kasar), batang tenggorokan, bronkus, pulmo, uterus (rahim),
kantung urine, kantung empedu, pembuluh darah

INNERVASI (PERSYARAFAN): sangat dipengaruhi oleh sistem syaraf


otonom (bisa simpatis, bisa parasimpatis)

Peningkatan kerja otot polos seperti gerak peristaltik dilakukan oleh syaraf
parasimpatis, sedangkan penghambatan kerja otot polos dilakukan oleh
syaraf simpatis

AKSI: kontraksi lambat, berlangsung lama, kadang-kadang ritmis

c) Otot Jantung
Otot jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik hanya saja
serabutserabutnya bercabang-cabang dan saling beranyaman serta dipersarafi
oleh saraf otonom.
Letak inti sel di tengah. Dengan demikian, otot jantung disebut juga otot lurik
yang bekerja tidak menurut kehendak. Otot yang ditemukan dalam jantung
bekerja secara terus-menerus tanpa henti. Pergerakannya tidak dipengaruhi sinyal
saraf pusat.

Ciri-ciri otot jantung

Otot jantung ini hanya terdapat pada jantung.

Strukturnya sama seperti otot lurik, gelap terang secara berselang seling dan
terdapat percabangan sel.

BENTUK: terdiri dari beberapa serabut otot yang bercabang dan bersatu
dengan serabut di sebelahnya anastomosoma atau sinsitium; mempunyai

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

garis gelap dan terang (tidak sejelas pada otot rangka); intinya di tengah
(center); pd interval tertentu terdapat keping-keping interkalar (intercalar
disc), pd intercalar disc terdapat jaringan Purkinye yang berfungsi
mempercepat penghantaran impuls (kecepatan 4 m/detik)

LOKASI: hanya ada di jantung

INNERVASI: sistem syaraf otonom

AKSI: kontraksi otomatis & ritmis

Kerja otot jantung tidak bisa dikendalikan oleh kemauan kita, tetapi bekerja
sesuai dengan gerak jantung. Jadi otot jantung menurut bentuknya seperti
otot lurik dan dari proses kerjanya seperti otot polos, oleh karena itu disebut
juga otot special

Peningkatan denyut jatung sangat dipengaruhi oleh syaraf simpatis,


sedangkan pengurangan denyut jantung sangat dipengaruhi oleh syaraf
parasimpatis

4. CIRI-CIRI SISTEM MUSKULUS


a) Kontrakstilitas.serabut otot berkontraksi dan menegang,yang dapat atau tidak
melibatkan pemendekkan otot.
b) Eksitbilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh
impuls saraf.
c) Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi
panjang otot saat rileks.
d) Elastisitas.serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau
meregang.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

5. KOMPOSISI OTOT RANGKA

Komposisi Otot Rangka


a) Otot merah banyak mengandung pigmen pernapasan yaitu mioglobin, yg
berfungsi membawa oksigen dari kapiler darah (ekstrasel) ke mitokondria
(intrasel) kapasitas metabolisme oksidatif yang lebih tinggi dengan aktivitas
siklus Krebs dan enzim transport elektron yang kuat
b) Otot putih karena kurang mioglobin kapasitas glikolisis anaerobik yang
tinggi dgn aktivitas enzim glikolisis dan fosforilase yang kuat.
c) Ekstraktif
Yaitu zat non-protein yang larut dlm air meliputi kreatinin, kreatinin fosfat, ADP,
asam amino, asam laktat, dll. Zat yang memiliki struktur grup fosfat mrpkn zat
yang kaya energy.
d) Protein
Komponen enzim otot yang mengkatalisis berbagai tahapan pd proses glikolisis
mrpkn protein sarkoplasmik. Protein lain yang membentuk struktur otot ialah
miosin, aktin, troponin, dan tropomiosin.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

6. STRUKTUR OTOT RANGKA


a) Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai
pelindung otot. Terdiri dari membran sel yang disebut membran plasma & sebuah
lapisan luar yang terdiri dari satu lapisan tipis mengandung kolagen.
b) Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril
dan miofilamen berada.
c) Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot. Merupakan bulatan-bulatan kecil pada
potongan melintang mengandung 1500 FM,3000 FA yang merupakan molekul
protein polimer besar untuk kontraksi otot.
Memiliki 2 filamen:

Filamen Tebal yang dibentuk oleh miosin

Filamen Tipis yang dibentuK oleh aktin, tropomiosin & troponin

d) Miofilamen
Miofilamen

adalah

benang-benang/filamen

halus

yang

berasal

dari

miofibril.Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :


1) miofilamen homogen (terdapat pada otot polos)
2) miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot
rangka/otot lurik).
Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin (aktin
dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi (memendek)
maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika otot kita melakukan relaksasi
(memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

Protoplasma mempunyai garis-garis melintang / myofibril heterogen

Myofibril berupa serabut ada yang kasar ada yang halus sehingga terkesan
terlihat gelap dan terang (lurik)

Pada umumnya otot ini melekat pada kerangka sehingga disebut juga otot
kerangka

Otot ini dapat bergerak menurut kemauan kita (otot sadar)

Pergerakannya cepat tetapi lekas lelah

Rangsangan dialirkan melalui saraf motoris

Inti sel jumlahnya banyak dan berada di tepi

7. KOMPONEN OTOT TUBUH


Adalah komponen tubuh yang memiliki fungsi seperti untuk alat gerak,
menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot
jantung dan otot rangka.
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur dan fungsi
yang sama. Jadi jaringan otot adalah sekumpulan sel-sel otot. Untuk menggerakkan
anggota tubuh kita, diperlukan sistem otot. Sistem otot terdiri dari beberapa bagian
yang saling terpisah yang disebut otot-otot. Sebagian besar otot kita melekat pada
kerangka tubuh. Otot dapat mengerut dan dapat juga menegang. Oleh karena itu,
susunan otot adalah suatu sistem alat untuk menguasai gerak aktif dan posisi tubuh
kita. Pada setiap otot terlihat beberapa empal yang merupakan bagian yang aktif
mengerut.
Sistem otot bercirikan

Di susun oleh sel-sel otot (sel yang memiliki kemampuan khusus yaitu :
berkontraksi)

Kemampuan kontraksi ini terjadi karena sel itu memiliki komponen protein aktin
dan myosin

Aktin dan myosin adalah suatu bahan yang dimiliki oleh semua sel yang dapat
bergerak

a) Aktin
1. Terletak pada korteks sel (di dalam sitoplasma tepat di bawah membrane sel)
2. Membentuk konstruksi alur pembelahan

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

10

3. Mikrovilli (juluran-juluran halus sitoplasma memendek, memanjang dan


bergerak)
4. BM 42.000 Dalton
5. Terdiri dari G-aktin ( molekul bulat ) dan

F-aktin ( filamen halus, hasil

polomerisasi)
6. Membentuk filamen halus/tipis pada otot bergaris melintang yang terdiri dari Faktin yang bersosiasi dengan protein regulator troponin dan tromiosin

b) Miosin
1. Tersebar luas dan tidak terbatas pada sel otot
2. BM 470.000 Dalton
3. Di bangun oleh dua subfragmen : meromiosin ringan dan meromiosin berat
4. Mengalami polimerisasi
5. Membentuk filamen tebal otot bergaris melintang dan agregat multimolekuler

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

11

8. OTOT EKSTERMITAS ATAS

9. OTOT EKSTERMITAS BAWAH

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

12

10. OTOT PADA DADA

11. OTOT PADA WAJAH DAN LEHER

B. DEFINISI STRAIN
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak
langsung (overloading). Pada cidera strain rasa sakit adalah nyeri yang menusuk pada saat
terjadi cedera, terlebih jika otot berkontraksi (www.promosikesehatan.com).

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

13

Strain adalah hasil dari penggunaan otot atau struktur sambungan lain yang melebihi
kemampuan fungsional. Strain dapat terjadi pada suatu cedera (akut) atau dapat terjadi
karena efek komulatif dari penggunaan berlebihan yang berangsur-angsur sampai dengan
serangan mendadak. ( gerlach pless burrell,1996)
Strain adaalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan, peregangan berlebihan, atau
stress yang berlebihan. Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplet dengan
perdarahan ke dalam jaringan. Pasien mengalami rasa sakit dan nyeri mendadak dengan
nyeri tekan local pada pemakaian otot dan kontraksi isometric. (Brunner & suddarth, 2001)
Strain akut pada struktur muskulotendious terjadi pada persambungan antara otot dan
tendon. Tipe cedera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada
hamstringnya. Beberapa kali cedera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam
melangkahi penuh.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa strain adalah
kerusakan pada jaringan otot yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung
akibat dari peregangangan atau penggunaan otot yang berlebihan.

C. KLASIFIKASI
1. Derajat I/Mild Strain (Ringan)
Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit
muskulotendinous

yang

ringan

berupa

stretching/kerobekan

ringan

pada

otot/ligament. Peregangan ringan dari otot/tendon menghasilkan ketegangan pada


Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

14

saat dipalpitasi, memungkinkan ketegangan otot, tetapi tidak mengalami kehilangan


rentang gerak sendi ( ROM), edema, atau ekimosis.
Gejala yang timbul :

Nyeri local

Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot

Tanda-tandanya :

Adanya spasme otot ringan

Bengkak

Gangguan kekuatan otot

Fungsi yang sangat ringan.

Komplikasi

Strain dapat berulang

Tendonitis

Perioritis

Perubahan patologi

Adanya inflasi ringan dan mengganggu jaringan otot dan tendon namun
tanda perdarahan yang besar.

Penanganan

Biasanya sembuh dengan cepat dan pemberian istirahat, kompresi dingin


secara intermitten pada 24 jam pertama kemudian pengompresan hangat,
dan elevasi, terapi latihan yang dapat membantu mengembalikan kekuatan
otot.

Analgesic ringan dan obat anti inflamasi.

2. Derajat II/Moderate Strain (sedang)


Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang
berlebihan. Peregangan sedang atau sobekan pada otot atau tendon yang mengasilkan
spasme otot yang berat, nyeri pada gerakan yang pasif, dan edema segera setelah
luka, diikuti dengan ekimosis.
Gejala yang timbul

Nyeri local

Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot

Spasme otot sedang

Bengkak

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

15

Tenderness

Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang.

Komplikasi sama seperti pada derajat I :

Strain dapat berulang

Tendonitis

Perioritis

Terapi

Penangannannya sama dengan strain derajat pertama, kecuali pada


penggunaan es digunakan secara intermediet selama lebih dari 48 jam,
setelah kompres hangat dilakukan. Mobilitas dibatasi selama 4-6 minggu,
kemudian diikuti latihan yang bertahap. Tindakan pembedahan diperlukan
pada kasus berat.

Perubahan patologi : Adanya robekan serabut otot

3. Derajat III/Strain Severe (Berat)


Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat. Berupa robekan
penuh pada otot dan ligament yang menghasilkan ketidakstabilan sendi. Peregangan
berat dan penggerusan komplit dari tendon/ otot yang menyebabkan spasme otot,
ketegangan, edema, dan kehilangan pergerakan.
Gejala :

Nyeri yang berat

Adanya stabilitas

Spasme

Kuat

Bengkak

Tendernes

Gangguan fungsi otot.

Komplikasi :

Distabilitas yang sama.

Perubahan patologi :

Adanya robekan/tendon dengan terpisahnya otot dengan tendon.

Terapi :
Imobilisasi dengan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.
Penanganannya sama dengan derajat kedua.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

16

Strain ringan ditandai dengan kontraksi otot terhambat karena nyeri dan teraba pada
bagian otot yang mengaku. Strain total didiagnosa sebagai otot tidak bisa berkontraksi dan
terbentuk benjolan. Cidera strain membuat daerah sekitar cedera memar dan membengkak.
Setelah 24 jam, pada bagian memar terjadi perubahan warna, ada tanda-tanda perdarahan
pada otot yang sobek, dan otot mengalami kekejangan.

D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


Sebagai penyebabnya adalah persendian tulang dipaksa melakukan suatu gerak yang
melebihi jelajah sendi atau range of movement normalnya. Trauma langsung ke
persendian tulang, yang menyebabkan persendian bergeser ke posisi persendian yang tidak
dapat bergerak.
Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak Pada strain kronis : Terjadi
secara berkala oleh karena penggunaaan yang berlebihan/tekanan berulangulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon).

E. PATOFISIOLOGI
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak
langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,
kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada
bagian groin muscles (otot pada kunci paha), hamstring (otot paha bagian bawah), dan otot
guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera memar
dan membengkak.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

17

F. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN PASIEN


Penanganan strain meliputi istirahat, meninggikan bagian yang sakit, pemberian kompres
dingin, dan pemasangan balut tekan. Istirahat akan mencegah cedera tambahan dan mempercepat
penyembuhan. Peninggian akan mengontrol pembengkakan. Kompres dingin basah atau kering
diberikan secara intermitten 20 sampai 30 menit selama 24 jam sampai 48 jam pertama setelah
cedera dapat menyebabkan vasokontriksi, yang akan mengurangi perdarahan, edema, dan
ketidaknyamanan. Harus diperhatikan jangan sampai terjadi kerusakan kulit dan jaringan akibat
suhu dingin yang berlebihan. Balut tekan elastis dapat mengontrol perdarahan, mengurangi edema,
dan menyokong jaringan yang cedera. Status neurovaskuler ekstermitas yang cedea dipantau
sesering mungkin.
Selama fase penyembuhan, otot, ligamen, atau tendon yang cedera harus diistirahatkan dan
memperbaiki diri. Setelah stadium inflamasi akut (mis setelah 24 sampai 48 setelah cedera) dapat
diberikan kompres panas secara intermiten (selama 15 sampai 30 menit, 4 kali sehari) untuk
mengurangi spasme otot dan memperbaiki vasodilatasi, absorpsi dan perbaikan. Tergantung
beratnya cedera, latihan aktif dan pasif progresif boleh dimulai dalam 3 sampai 5 hari. Latihan awal
yang berlebihan dalam perjalanan terapi dapat memperlama pernyembuhan. Strain memerlukan
berbulan-bulan sampai berminggu-minggu untuk sembuh. Pembidaian mungkin diperlukan untuk
mencegah cedera tulang.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi:
1. CT scan
2. MRI
Dapat digunakan untuk menentukan derajat dari cedera tersebut.
3. Artroskopi
Tindakan melihat bagian dalam sendi menggunakan kamera dengan lensa fiber optik
melalui sayatan kulit yang sangat kecil.
4. Elektromiografi
Electromyography pada otot berfungsi untuk mendeteksi adanya potensial listrik yang
dihasilkan otot saat kontraksi dan relaksasi sehingga dapat digunakan untuk
mengendalikan suatu sistem.
5. Pemeriksaan dengan bantuan komputer lainnya untuk menilai fungsi otot dan sendi.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

18

H. PENCEGAHAN
Sebagai upaya pencegahan, saat melakukan aktivitas olahraga memakai sepatu yang
sesuai, misalnya sepatu yang bisa melindungi pergelangan kaki selama aktivitas. Selalu
melakukan pemanasan atau stretching sebelum melakukan aktivitas atletik, serta latihan
yang tidak berlebihan. Cedera dapat terjadi pada setiap orang yang melakukan olahraga
dengan jenis yang paling sering adalah strain dan sprain dengan derajat dari yang ringan
sampai berat. Cedera olahraga terutama dapat dicegah dengan pemanasan dan pemakaian
perlengkapan olahraga yang sesuai.

I. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STRAIN


1. PENGKAJIAN
a) Aktivitas/istirahat
Tanda: keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena.
b) Sirkulasi
Tanda:

Takikardi (respon stres, hipovolemia).

Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera.

c) Neurosensori
Gejala: hilang gerakan/sensori, kebas/kesemutan (parstesis)
Tanda: spasme otot.
d) Nyeri/ketidak nyamanan
Gejala: nyeri berat tiba-tiba saat cedera.
Tanda: spasme otot.
e) Keamanan
Tanda:

laserasi

kulit, avulsi

jaringan, perdarahan, perubahan warna,

pembengkakan lokal.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Ganguan rasa nyaman nyeri b.d bengkak pada daerah ekstremitas.
b) Keterbatasan mobilitas fisik b.d daerah yang nyeri.
c) Resti terhadap disfungsi nerovaskular perifer b.d bengkak.
d) Risiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d bengkak

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

19

3. INTERVENSI DAN RASIONAL


Dx: 1
1. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat,
traksi (rujuk ke dokter; trauma).
Rasional: menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/tegangan
jaringan yang cedera.
2. Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan. Perhatikan karakteristik, termasuk
intensitas (skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda
vital dan perilaku/emosi).
Rasional: mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat
ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.
3. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
Rasional: meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan nyeri.
4. Dorong klien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. Rasional:
membantu untuk menghilangkan ansietas. Pasien dapat merasakan kebutuhan untuk
mneghilangkan pengalaman kecelakaan.
5. Jelaskan prosedur sebelum memulai.
Rasional: memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk aktifitas juga
berpartisipasi dalam mengontrol ketidak nyamanan.
6. Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional: memperhatikan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan
resolusi inflamasi pada jaringan.
7. Berikan alternative tindakan kenyamanan. Contoh: pijatan punggung, perubahan
posisi).
8. Selidiki adanya keluhan nyeri tiba-tiba/tidak biasa, lokasi progresif/buruk tidak
hilang dengan analgesik.
Rasional: dapat menandakan komplikasi. Contoh: infeksi, iskemia jaringan,
sindrom kompartemen.
9. Kolaborasi berikan obat anti nyeri
a. Asetilsalisilat (Aspirin)
Rasional : ASA bekerja sebagai anti inflamasi dan efek analgesic ringan dalam
mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilistas. ASA harus dipakai secara
regular untuk mendukung kadar dalam darah teraupetik. Riset mengindikasikan
ASA memiliki indeks toksisitas yang paling rendah dari NSAID lain yang
diresepkan.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

20

b. NSAID lainnya mis: Ibuprofen (motrin); naproksen (naprosin); sulindak


(clinoril); piroksikam (feldene); Fenoprofen (nalfon).
Rasional : dapat digunakan bila pasien tidak memberikan respon dari aspirin,
atau untuk meningkatkan efek dari aspirin.

Dx: 2
1. Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan
persepsi terhadap imobilitas.
Rasional: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang
keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan
kemajuan kesehatan.
2. Dorong partisipasi pada aktifitas terapeutik/rekreasi, pertahankan rangsangan
lingkungan. Contoh: radio, tv, koran, barang milik pribadi/lukisan, jam, kalender.
Rasional: memberi kesempatan untuk mengeluarkam energi, memfokuskan
kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri.

Dx : 3
a) Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada strain.
Rasional: kembalinya warna harus cepat (3-5 detik), warna kulit putih
menunjukan gangguan arterial, sianosal diduga ada gangguan vena.
b) Pantau TTV, perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum/kulit dingin/perubahan
mental.
Rasional: ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi
jaringan.
c) Dorong klien untuk secara rutin latihan jari/sendi distal cedera. Ambulasi segera
mungkin.
Rasional: meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah
khususnya pada ekstremitas bawah.
d) Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan dan
pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan dibandingkan dengan
yang tidak cedera. Perhatikan penampilan/luasnya.
Rasional: peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada
pembengkakan jaringan/edema umum tetapi dapat menunjukan perdarahan.
Catatan: peningkatan 1 inchi pada paha orang dewasa dapat sama dengan
akumulasi 1 unit darah.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

21

e) Berikan kompres es sekitar strain sesuai indikasi.


Rasional: menurunkan edema/pembentukan hematoma, yang dapat mengganggu
sirkulasi.

Dx: 4
1. Mandiri
a. Lihat kulit, adanya edema, area sirkulasinya terganggu / pigmentasi atau
kegemukan / kurus
Rasional : kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilitas fisik dan
gangguan status nutrisi
b. Pijat area kemerahan atau yang memutih
Rasional : meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan
c. Ubah posisi sering ditempat tidur atau kursi, bantu latihan rentang gerak pasif
atau aktif
Rasional : memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang
mengganggu aliran darah
d. Berikan perawatan kulit sering, meminimalkan dengan kelembaban / ekskresi
Rasional : terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan
e. Periksa sepatu atau sandal kesempitan dan ubah sesuai kebutuhan
Rasional : edema dependen dapat menyebabkan sepatu terlalu sempit,
meningkatkan resiko tertekan dan kerusakan kulit pada kali
f. Hindari obat intramuskuler
Rasional : edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorpsi
obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/ terjadinya infeksi.
2. Kolaborasi
Berikan tekanan alternative atau kasur, kulit domba, perlindungan siku atau tumit.
Rasional : menurunkan tekanan pada kulit dapat memperbaiki sirkulasi kulit.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

22

J. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS STRAIN


Kasus:
Rocky, 18 tahun, seorang mahasiswa yang menyukai olahraga panjat tebing. Tapi
malang baginya pada saat melakukan panjat tebing Rocky jatuh dari ketinggian 30 meter.
Rocky tidak bisa berdiri dan mengalami luka-luka. Teman-taman sesama pemanjat
tebing langsung menolong Rocky dengan memasang bidai pada tungkai kiri Rocky dan
memasang mitela pada bahu kiri, kemudian membawanya ke rumah sakit.
Rocky tidak kehilangan kesadaran, tetapi nyeri dan bengkak pada sendi bahu kiri
dan tungkai bawah terkulai. Pada saat pemeriksaan terlihat pembengkakan, nyeri tekan
dan nyeri sumbu pada cruris sinistra 1/3 tengah. Pada artikulasio humeri sinistra tidak
bisa digerakan dan terlihat bengkak di bagian depan dan daerah deltoid kosong.
Pemeriksaan bagian akral pada kedua ekstremitas tersebut baik. Kemudian dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Dokter bedah Orthopaedi memutuskan untuk melakukan reposisi pada sendi bahu
kiri dan operasi ORIF Open Reduksi dan Internal Fiksasi pada cruris sinistra. Sebelum
melakukan tindakan, dokter meminta persetujuan Rocky dan keluarganya. Selain itu
Rocky diberi ATS dan antibiotika.
Bagaimana Anda menjelaskan keadaan Rocky?

1) Data Fokus
DATA SUBJEKTIF
1. Klien mengatakan nyeri pada
daerah kaki kiri.

DATA OBJEKTIF
1. Kesadaran: compos mentis
2. TTV:

P = saat bergerak, Q = menusuk-

TD : 120 / 90 mmhg

nusuk, R = kaki kiri S = 4-6

RR : 22 x/menit

(sedang) T = dimulai setelah

N : 82 x / menit

terjatuh, nyeri dirasakan selam 3

S : 36,5o C

jam.
2. Klien mengatakan sering terbangun
pada malam hari di karenaakan
nyeri pada kaki.

3. Terlihat bengkak pada bahu sebelah


kiri.
4. Terlihat tungkai belakang klien
terkulai.

3. Klien mengatakan aktifitas di bantu 5. Klien terlihat meringis kesakitakitan


oleh keluaraga dan perawat .
4. Klien mengatakan sulit berdiri
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

pada saat di lakukan penekanan di


bagian cruris di bagian sinistra
23

sendiri.

sepertiga tengah.

5. Klien mengatakan sulit


menggerakan tungkainya.
6. Klien mengatakan sakit kaki
kirinya saat bergerak.
7. Klien mengatakan sedikit stress
menghadapi tindakan operasi.
8. Klien mengatakan kurang tidur

6. Klien tampak di bantu untuk


melakukan aktifitas.
7. Klien tampak berbaring lemah di
tempat tidur.
8. Klien terlihat ketakutan pada saat
pemeriksaan.
9. Klien terlihat stress pada saat di

baik pada waktu siang maupun

mintai persetujuan untuk dilakukan

malam hari.

operasi.

9. Klien tampak terganggu tegang dan 10. Muka klien tampak pucat.
gelisah dengan kondisi ruang
perawatan yang ramai.

2) Analisa Data
NO

DATA

DX
1

DS:

MASALAH
Gangguan

1. Klien mengatakan nyeri pada daerah rasa nyaman

PENYEBAB
Terputusnya
jaringan tulang

kaki kiri P = saat bergerak, Q = nyeri


menusuk-nusuk, R = kaki kiri S = 46 (sedang) T = dimulai setelah
terjatuh,

nyeri dirasakan selam 3

jam.
2. Klien mengatakan sering terbangun
pada malam hari di karenaakan nyeri
pada kaki.
3. Klien mengatakan sakit kaki kirinya
saat bergerak.
DO:
1. Kesadaran: composmentis
2. TTV :
TD : 120 / 90 mmhg

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

24

RR : 22 x/menit
N : 82 x / menit
S : 36,5 o C
3. Terlihat bengkak pada bahu sebelah
kiri.
4. Klien terlihat meringis kesakitakitan
pada saat di lakukan penekanan di
bagian

cruris

di

bagian

sinistra

sepertiga tengah.
2

DS:

Gangguan

1. Klien mengatakan aktifitas di bantu Imobilitas


oleh keluaraga dan perawat.

Kerusakan
muskuloskele-

fisik

tal

Kecemasan

Rencana

2. Klien mengatakan sulit berdiri sendiri.


3. Klien mengatakan sulit menggerakan
tungkainya.
DO:
1. Kesadaran: composmentis
2. TTV :
TD : 120 / 90 mmhg
RR : 22 x/menit
N : 82 x / menit
S : 36,5 o C
3. Terlihat

tungkai

belakang

klien

terkulai.
4. Klien

tampak

di

bantu

untuk

melakukan aktifitas.
5. Klien tampak berbaring lemah di
tempat tidur.
3

DS:
1. Klien

mengatakan

sedikit

stress

menghadapi tindakan operasi.


2. Klien mengatakan kurang tidur baik
pada waktu siang maupun malam hari.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

pembedahan
dan kehilangan
status
kesehatan.

25

3. Klien tampak terganggu tegang dan


gelisah

dengan

kondisi

ruang

perawatan yang ramai.

DO:
1. Kesadaran composmentis
2. TTV :
TD : 120 / 90 mmhg
RR : 22 x/menit
N : 82 x / menit
S : 36,5 o C
3. Klien terlihat ketakutan pada saat
pemeriksaan
4. Klien terlihat stress pada saat di
mintai persetujuan untuk dilakukan
operasi
Muka klien tampak pucat

3) Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang.
b. Gangguan imobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal.
c. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status
kesehatan.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

26

4) Intervensi

NO.
DX
1

TUJUAN DAN
KRITERIA

INTERVENSI

RASIONAL

HASIL
Setelah dilakukan

1. Kaji nyeri secara

Untuk mengetahui

Asuhan

komprehensif termasuk

kesesuaian intervensi

keperawatan 3 x

lokasi, karakteristik,

yang telah diberikan

24 jam nyeri

durasi, frekuensi, kualitas

dan yang akan di

berkurang sampai

dan faktor presipitasi.

lanjutkan

dengan hilang

2. Observasi reaksi

Untuk mengetahui

dengan KH:

nonverbal dari ketidak

adanya gangguan

1. Klien

nyamanan.

nonverbal.

melaporkan

3. Gunakan teknik

Agar klien tidak stres

nyeri

komunikasi terapeutik

pada saat dilakukan

berkurang dg

untuk mengetahui

pengkajian tengtang

scala 2-3

pengalaman nyeri klien

riwayat kesehatanya.

2. Ekspresi
wajah tenang

sebelumnya.
4. Kontrol faktor lingkungan Untuk mengurangi

klien dapat

yang mempengaruhi nyeri tingkat insitas nyeri.

istirahat dan

seperti suhu ruangan,

Untuk meredakan dan

tidur

pencahayaan, kebisingan.

meringakan Nyeri
klien.

5. Kurangi faktor presipitasi

Sebagai cara untuk

nyeri.Pilih dan lakukan

meredakan nyeri

penanganan nyeri

dengan tindakan

(farmakologis/non

keperawatan

farmakologis).
6. Ajarkan teknik non

Mencegah cidera

farmakologis (relaksasi,

selanjutnya,

distraksi dll) untuk

meminimalkan

mengetasi nyeri..

gerakan fragmen
fraktur.

7. Membidai dan menyangga Untuk memblokade


daerah cidera.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

sistem saraf agar tidak


27

merasakan atau
mengurangi rasa nyeri.
8. Melakukan perubahan
posisi dengan perlahan.

Mengontrol edema
dengan memperbaiki
drainase.

9. Meninggikan ekstremitas

Edema dan perdarahan

yang cedera setinggi

kedalam jaringan yang

jantung

mengalami trauma

10. Memantau pembengkakan


dan status neorovaskuler

Edema dan
perdarahan kedalam
jaringan yang
mengalami trauma

mengakibatkan
ketidaknyamanan
nyeri yang tidak
tertahankan
menunjukan sindrom
kompratemen.

11. Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri.

Agar tidak terjadi


komplikasi lanjut
akibat analgetik yang
tidak sesuai.

Setelah dilakukan

1. Kaji kemampuan pasien

untuk mengetahui

asuhan

dalam melakukan

tingkat kemampuan

keperawatan 3x

ambulasi

pasien

24 jam terjadi
peningkatan

2. Latih pasien ROM pasifaktif sesuai kemampuan

untuk melatih tingkat


aktifitas

Ambulasi:

muskuloskletel klien

Tingkat

agar bisa pulih

mobilisasi,

kembali

Perawtan
diri dengan KH :

3. ajarkan pasien berpindah


tempat secara bertahap

1. Peningkatan
aktivitas fisik

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

untuk mengajarkan
klien melakukan
aktifitas secara
mandiri

28

4. Evaluasi pasien dalam


kemampuan ambulasi

untuk mengetahui
tingkat keberhasilan
dan proses ambulansi
sebelumnya

Pendidikan kesehatan
1. Edukasi pada pasien dan

Memberikan

keluarga pentingnya

informasi yang tepat

ambulasi dini.

kepada keluarga
pentingnya ambulansi
pasien

2. Edukasi pada pasien dan


keluarga tahap ambulasi

Agar keluarga dapat


mempraktekan
langsung kepada klien
cara ambulansi yang
tepat.

3. Berikan reinforcement

Agar klien dapat

positip atas usaha yang

menigkatkan rasa

dilakukan pasien.

percaya diri.

Kolaborasi dg fisioterapi

Agar klien dapat

untuk perencanaan ambulasi

mencapai proses
penyembuhan yang
cepat.

Setelah dilakukan

1. Berikan dorongan

tindakan

terhadap tiap-tiap proses

keperawatan 3x24

kehilangan status

jam Rasa cemas

kesehatan yang timbul.

dapat diatasi/
berkurang.

2. Berikan privacy dan


lingkungan yang nyaman.

Untuk mengurangi
rasa cemas

Privacy dan
lingkungan yang
nyaman dapat

Dengan Kriteria

mengurangi rasa

hasil :

cemas.

1. Klien dapat

3. Batasi staf perawat/

Untuk dapat lebih

menyatakan

petugas kesehatan yang

memberikan

kecemasan yang

menangani pasien.

ketenangan.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

29

dirasakan.

4. Observasi bahasa non

2. Klien dapat

verbal dan bahasa verbal

beristirahat

dari gejala-gejala

dengan tenang.

kecemasan.

3. Ekspresi wajah
ceria/rileks.

5. Temani klien bila gejalagejala kecemasan timbul.


6. Berikan .kesempatan bagi

Untuk mendeteksi dini


terhadap masalah

Untuk mengurangi
rasa cemas.
Kemampuan

klien untuk

pemecahan masalah

mengekspresikan

pasien meningkat bila

perasaannya .

lingkungan nyaman
dan mendukung
diberikan.

7. Berikan informasi tentang


program pengobatan dan

Untuk mengurangi
ketegangan klien

hal-hal lain yang


mencemaskan klien.
8. Lakukan intervensi

Informasi yang

keperawatan dengan hati-

diberikan dapat

hati dan lakukan

membantu

komunikasi terapeutik.

mengurangi
kecemasan/ansietas.

9. Anjurkan klien istirahat

Untuk menghindari

sesuai dengan yang

kemungkinan yang

diprogramkan.

tidak diinginkan.

10. Hargai setiap pendapat


dan keputusan klien.

Untuk meningkatkan
harga diri klien.

Post op
1. dorong pasien

pasien mampu

berpartisipasi dalam

memperoleh kembali

pengembangan program

kemandirian dengan

terapi

partisipasi aktif dalam


pengembalian
keputusan rencana

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

30

terapi
2. Gunakan pendekatan dan
sentuhan.

Meyakinkan klien
agar dapat mudah
dalam melkukan

tindakan-tindakan
3. ajarkan penggunaan

cedera akibat

modalitas terapi dan

penggunaan modalitas

bantuan mobilisasi secara

atau alat bantu dapat

aman ,lakukan superfisial

dicegah melaui

pemakalannya agar

pendidikan dan untuk

keamananya terjamin

mengurangi rasa
cemas klien

4. Temani pasien untuk

Mencegah terjadinya

mendukung keamanan dan hal-hal yang merusak


menurunkan rasa takut.

diri serta menigkatkan


semangat hidup

5. Sediakan aktivitas untuk


menurunkan ketegangan.

Membantu
melepaskan beban
sehingga klien dapat
merasakan tidak
terbebani.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

31

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak
langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang
salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi
pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan
otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera
memar dan membengkak.

4.2 Saran
Dengan adanya tugas ini penulis dapat lebih memahami tentang bagaimana penyakit strain
dan dapat melakukan perawatan yang baik serta menegakkan asuhan keperawatan yang
baik. Dengan adanya hasil tugas ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur untuk
menambah wawasan dari ilmu yang telah di dapatkan dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

32

DAFTAR PUSTAKA

Smelzer,Suzanne.C,2001.buku ajar keperawatan medikal bedah brunner dan


suddarth.Ed 8.Jakarta;EGC

Doenges,Marlyn.E.1999.rencana asuhan keperawatan.Ed3.Jakarta;EGC

Brunner, Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. EGC. Jakarta

Burrell, gerlach pless,1996. Adult nursing. USA. library of congress

Corwin, elizabeth J, 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta.

Doengoes E. Marilyn, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk


Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. EGC. Jakarta

FK.UI. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ke-3. Media Aesculaplus.

http://www.promosikesehatan.com/tips.php

http://health.yahoo.com/health/Diseases and Conditions/Disease Feed Data/Leg Pain

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

33

Anda mungkin juga menyukai