Anda di halaman 1dari 25

BAB II

GOUT ARTRITIS
A. Pengertian

Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri
pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki
bagian tengah. (Merkie, Carrie. 2005).
Gout merupakan penyakit metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang
menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005;407).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek
genetic pada metabolism purin atau hiperuricemia. (Brunner & Suddarth. 2001;1810).
Gout atau sering disebut
asam urat adalah suatu penyakit
metabolik dimana tubuh tidak dapat
mengontrol asam urat sehingga
terjadi penumpukan asam urat yang
menyebabkan ras nyeri pada tulang
dan
sendi.
(Kesimpulan
Kelompok).

B. ETIOLOGI
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam
urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme
asam urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam
urat yang kurang dari ginjal.
Faktor predisposisi terjadinya penyakit gout adalah:
1. Umur
Umumnya pada usia pertengahan, tetapi gejala bisa terjadi lebih awal bila terdapat
factor herediter.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

2. Jenis Kelamin
Lebih sering terjadi pada pria dengan perbandingan 20:1
3. Iklim
Lebih banyak ditemukan pada daerah dengan suhu yang lebih tinggi
4. Herediter
Factor herediter dominan autosomal sangat berperan dan sebanyak 25% disertai
adanya hiperurikemi
5. Keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya hiperurikemi
Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :
1. Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan asam urat
berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
2. Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan
ginjal yang akan menyebabkan : Pemecahan asam yang dapat menyebabkan
hiperuricemia.
3. Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat seperti :
aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol
Faktor Resiko Terjadinya Asam Urat
Tidak semua orang dengan peningkatann asam urat dalam darah (hiperuremia)
akan menderita penyakit asam urat. Namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan
seseorang menderita penyakit asam urat, diantaranya:
a. Pola makan yang tidak terkontrol. Asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh
dalam tubuh dapat mempengaruhi kadar asam urat dalam darah. Makanan yang
mengandung zat purin yang tinggi akan diubah menjadi asam urat.
b. Seseorang dengan berat badan yang berlebihan (obesitas).
c. Suku bangsa tertentu. Menurut penelitian, suku bangsa di dunia yang paling tinggi
terserang asam urat adalah orang maori di Australia. Sedangkan di Indonesia
tertinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi di daerah ManadoMinahasa karena kebiasaan atau pola makan ikan dan mengkonsumsi alcohol.
d. Peminum alcohol. Alcohol dapat menyebabkan pembuangan asam urat lewat
utine ikut berkurang, sehingga asam urat tetap bertahan di dalam darah.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

e. Seseorang yang berumur 45 tahun biasanya pada laki-laki, dan perempuan saat
umur menepouse.
f. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit asam urat.
g. Seseorang kurang mengkonsumsi air putih.
h. Seseorang dengan gangguan ginjal dan hipertensi.
i. Seseorang yang menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu lama.
j. Seseorang yang mempunyai penyakit diabetes mellitus.

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi gout dibagi dua yaitu:
1. Gout Primer
Gout primer dipengaruhi oleh factor genetic. Terdapat produksi/sekresi asam urat yang
berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2. Gout Sekunder
Gout sekunder dapat disebabkan oleh dua hal yaitu;
a. Produksi asam urat yang berlebihan, misalnya pada:
o Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia, myeloma retikulasi)
o Sindroma Lesch-Nyhan yaitu kelainan akibat defisiensi hipoxantin guanine
fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang
dewasa
o Gangguan penyimpanan glikogen
o Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel megaloblastik
menstimulasi pengeluaran asam urat
b. Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
o Kegagalan ginjal kronik
o Pemakaian obat-obat salisilat, tiazid, beberapa macam diuretic dan
sulfonamide
o Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis laktik, hiperparatiroidisme dan pada
miksedema
c. Obesitas (kegemukan)
d. Intoksikasi (keracunan timbal)
e. Pada penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan baik dimana akan
ditemukan mengandung benda-benda keton (hasil buangan metabolism lemak)
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

dengan kadar yang tinggi. Kadar benda-benda keton yang meninggi akana
menyebabkan kadar asam urat juga ikut meninggi.

Penyakit asam urat mempunyai 4 tahapan, yaitu:


a. Tahap 1 (Tahap akut)
Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan arthritis yang khas untuk pertama
kalinya. Serangan arthritis tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5-7
hari. Bila dilakukan pengobatan maka akan cepat menghilang. Karena cepat menghilang
maka penderita sering menduga kakinya hanya keseleo atau terkena infeksi, sehingga
tidak menduga terkena penyakit gout arthritis dan tidak melakukan pemeriksaan lebih
lanjut. Pada pemeriksaan kadang-kadang tidak ditemukan ciri-ciri penderita terserang
penyakit gout arthritis. Ini karena serangan pertama berlangsung secara singkat dan dapat
sembuh dengan sendirinya (self-limiting), maka penderita sering berobat ke tukang urut
dan pada saat penderita sembuh, penderita menyangka hal itu dikarenakan hasil
urutan/pijatan. Namun jika dilihat dari teori, nyeri yang diakibatkan asam urat tidak boleh
dipijat atau diurut, tanpa diobati atau diurut sekalipun serangan pertama kali akan hilang
dengan sendirinya

b. Tahap 2 (Tahap Interkritikal)


Pada tahap ini penderita dalam keadaan sehat selama rentang waktu tertentu. Rentang
waktu setiap penderita berbeda-beda. Dari rentang waktu 1-10 tahun. Namun rata-rata
rentang waktunya antara 1-2 tahun. Panjangnya rentang waktu pada tahap ini
menyebabkan seseorang lupa bahwa dirinya pernah menderita serangan gout arthritis
akut .
c. Tahap 3 (Tahap Intermitten)
Setelah melewati masa Interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala, maka penderita
akan memasuki tahap ini yang ditandai dengan serangan arthritis yang khas seperti diatas.
Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang jarak antara
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

serangan yang satu dengan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama
serangan makin lama makin panjang, dan jumlah sendi yang terserang makin banyak.
d. Tahap 4 (Tahap Kronik Tofaceous)
Tahap ini terjadi bila penderita telah mengalami sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada
tahap ini akan terbentuk benjolan-benjolan disekitar sendi yang sering meradang yang
disebut dengan Thopi. Thopi ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk kapur yang
merupakan deposit dari Kristal monosodium urat. Thopi ini akan menyakibatkan
kerusakan pada sendi dan tulang disekitarnya.

D. PATOFISIOLOGI
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam
urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adequat akan menghasilkan akumulasi
asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan
kristal asam urat menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan
menimbulkan respon inflamasi.
Hiperurecemia merupakan hasil :
a. Meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal.
b. Menurunnya ekskresi asam urat.
c. Kombinasi keduanya.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka asam urat
tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang akan berakumulasi
atau menumpuk di jaringan konectiv diseluruh tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya
kristal akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom
tidak hanya merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

Pada penyakit gout akut tidak ada gejala-gejala yang timbul. Serum urat maningkat tapi
tidak akan menimbulkan gejala. Lama kelamaan penyakit ini akan menyebabkan hipertensi
karena adanya penumpukan asam urat pada ginjal.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak. Serangan ini meliputi
hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat nyeri yang menyebabkan tulang sendi
menjadi lunak dan terasa panas, merah. Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang
paling pertama terinflamasi, kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang.
Kadang-kadang gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi
cenderung berulang dan dengan interval yang tidak teratur.
Periode intercritical adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan
gout. Kebanyakan pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-6 sampai 2 tahun setelah
serangan pertama. Serangan berikutnya disebut dengan polyarticular yang tanpa kecuali
menyerang tulang sendi kaki maupun lengan yang biasanya disertai dengan demam. Tahap
akhir serangan gout atau gout kronik ditandai dengan polyarthritis yang berlangsung sakit
dengan tofi yang besar pada kartilago, membrane synovial, tendon dan jaringan halus. Tofi
terbentuk di jari, tangan, lutut, kaki, ulnar, helices pada telinga, tendon achiles dan organ
internal seperti ginjal. Kulit luar mengalami ulcerasi dan mengeluarkan pengapuran, eksudat
yang terdiri dari Kristal asam urat

E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Nyeri hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat tidur.
b. Saat dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan teraba panas.
c. Disertai pembentukan Kristal natrium urat yang dinamakan thopi.
d. Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.
e. Thopi pada ibu jari, mata kaki dan pinna telinga
f. Peningkatan suhu tubuh.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

a. Gangguan akut :
a) Nyeri hebat
b) Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang
c) Sakit kepala
d) Demam.

b. Gangguan kronis :
a) Serangan akut
b) Hiperurisemia yang tidak diobati
c) Terdapat nyeri dan pegal
d) Pembengkakan sendi membentuk noduler yang disebut tofi (penumpukan
monosodium urat dalam jaringan).

Menurut Buditanto (2000) mengatakan, bahwa pasien dengan gejala gout arthritis akan
mengalami peradangan pada satu atau beberapa persendian. Sendi metatarsophalangeal
dengan jari kaki pertama. Tapi tidak jarang seni lutut, tarsal, dan pergelangan kaki juga ikut
terlibat. Nyeri yang terbiasa dikeluhkan pasien adalah tajam dan terkadang membuat pasien
tidak bisa berjalan. Pada beberapa orang, nyeri dirasakan terutama setelah bangun tidur.

F. KOMPLIKASI
1. Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi kronis dan tofi yang
menyebabkan degenerasi sendi.
2. Hipertensi dan albuminuria.
3. Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik
4. Deformitas pada persendian yang terserang
5. Urolitiasis akibat deposit kristal urat pada saluran kemih
6. Nephrophaty akibat deposit kristal urat dalam interstisial ginjal.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

G. PENATA LAKSANAAN
Penatalaksanaan asam urat secara umum, dapat diatasi dengan menggunakan pengobatan
modern (kimia) ataupun pengobatan tradisional.
a. Pengobatan Modern (Konvensional/Kimia)
Pengobatan modern ini biasa diperoleh dengan mengunakan resep dokter. Obatobatannya antara lain:
1) Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (OAINS), yang berfungsi untuk mengatasi nyeri
sendi akibat proses peradangan.
2) Kortikosteroid, yang berfungsi sebagai obat anti radang dan menekan reaksi imun.
Obat ini dapat diberikan dalam bentuk tablet atau suntikan dibagian sendi yang sakit.
3) Imunosupresif, yang berfungsi untuk menekan reaksi imun. Obat ini jarang digunakan
karena efek sampingnya cukup berat yaitu dapat menimbulkan penyakit kan ker dan
bersifat racun bagi ginjal dan hati.
4) Suplemen antioksidan yang diperoleh dari asupan vitamin dan mineral yang
berkhasiat untuk mengobati asam urat. Asupan vitamin dan mineral dapat diperoleh
dengan mengkonsumsi buah atau sayuran segar atau orange, seperti wortel.
Selain obat-obatan tersebut, pengobatan secara medis dapat juga dilakukan
melalui program rehabilitasi. Rehabilitasi ini berfungsi untuk mengembalikan
kemampuan penderita seperti semula sehingga dapat menjalankan kehidupan seharihari dengan lancar. Caranya adalah mengistirahatkan sendi yang sakit, melakukan
pemanasan atau pendinginan, dan memanfaatkan arus listrik untuk meningkatkan
ambang rasa sakit.

b. Pengobatan Tradisional (Herbal)


Tanaman obat yang digunakan untuk penyakit asam urat berfungsi sebagai anti
radang, penghilang rasa sakit (analgesic). Membersihkan darah dari zat toksik, peluruh
kemih (diuretic) sehingga memperbanyak urin, dan menurunkan asam urat. Adapun jenis
tanaman berkhasiat obat yang dapat digunakan untuk mengatasi asam urat diantaranya
yaitu (Saraswati, 2009 dalam Muhammad, 2010):
1) Mengkudu (Morinda Citrifolia). Buah ini dipercaya memiliki khasiat sebagai
pengurang rasa nyeri dan anti-inflamasi alamiah. Ekstraknya dapat menghambat
enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang akan menyingkirkan penimbul rasa nyeri,
prostaglandin (PEG).
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

10

2) Sambiloto. Efeknya adalah anti-radang, menghilangkan nyeri, dan penawar racun.


3) Kumis kucing. Efeknya adalah anti-radang, peluruh kemih, menghancurkan batu
ginjal dari kristal adam urat.
4) Daun salam. Efeknya adalah sebagai peluruh kencing, penghilang nyeri.
5) Alang-alang. Efeknya adalah peluruh kemih.
6) Temulawak. Efeknya adalah anti radang, menghilangkan nyeri, dan peluruh kemih.
7) Jahe merah. Efeknya adalah anti-radang, dan melancarkan sirkulasi darah.
8) Kunyit. Efeknya adalah anti-radang, menghilangkan nyeri, melancarkan darah dan
vital energy.

c. Pengobatan Modalitas
Terapi non farmakologis yang dapat digunakan sebagai alternative pilihan dalam
pengobatan diminore primer adalah:
1) Kompres hangat
Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan mempergunakan bulibuli panas yang di bungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan
panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh
darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri sendi yang
dirasakan akan berkurang atau hilang (Perry & Potter, 2005)
Menurut Bare & Smeltzer (2001), kompres hangat mempunyai keuntungan
meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan aliran darah ke suatu area
dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan.
Menurut Price & Wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang sangat efektif
untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat disalurkan melalui konduksi
(botol air panas). Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan dapat meningkatkan
aliran darah.
Kompres hangat adalah metode yang digunakan untuk meredakan nyeri dengan cara
menggunakan buli-buli yang diisi dengan air panas yang ditempelkan pada sendi
yang nyeri.
2) Olahraga

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

11

Olahraga secara teratur dapat menimbulkan aliran darah sirkulasi darah pada sendi
menjadi lancar sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Pelepasan endorphin alami
dapat meningkatkan dengan olahraga teratur yang akan menekan pelepasan
prostaglandin, selain itu mampu menguatkan kadar beta andorfin yaitu zat kimia otak
yang berfungsi meredakan rasa sakit (Sadoso, 1998).
3) Berhenti merokok dan mengkonsumsi alcohol
Kebiasaan-kebiasaan buruk ini, mempunyai efek negative terhadap tubuh manusia,
pada perokokk berat dapat meningkatkan durasi terjadinya nyeri, hal ini berkaitan
dengan peningkatan volume dan durasi perdarahan selama nyeri. Dengan
menghindari dan menghilangkan kebiasaan tersebut, diharapkan efek negative dapat
dihilangkan sehingga nyeri tidak terjadi (Medicastore, 2004).
4) Pengaturan diet
Cara mengurangi dan mencegah rasa nyeri saat menstruasi, dianjurkan
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium dan makanan segar,
seperti sayuran, buah-buahan, ikan, daging, dan makanan yang mengandung vitamin
B6 karena berguna untuk metabolism estrogen (Medicastore, 2004).

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Serum asam urat
Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl. Pemeriksaan ini mengindikasikan hiperuricemia,
akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan ekskresi.
2. Angka leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3 selama serangan
akut.Selama periode asimtomatik angka leukosit masih dalam batas normal yaitu 5000
10.000/mm3.
3. Eusinofil Sedimen rate (ESR)
Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate mengindikasikan
proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di persendian.
4. Urin spesimen 24 jam
Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan produksi dan ekskresi dan asam urat.
Jumlah normal seorang mengekskresikan 250 - 750 mg/24 jam asam urat di dalam urin.
Ketika produksi asam urat meningkat maka level asam urat urin meningkat. Kadar kurang
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

12

dari 800 mg/24 jam mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan
serum asam urat.Instruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan peses atau tisu
toilet selama waktu pengumpulan. Biasanya diet purin normal direkomendasikan selama
pengumpulan urin meskipun diet bebas purin pada waktu itu diindikasikan.
5. Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau material aspirasi
dari sebuah tofi menggunakan jarum kristal urat yang tajam, memberikan diagnosis
definitif gout.
6. Pemeriksaan radiografi
Dilakukan pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan akan menunjukkan tidak terdapat
perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah penyakit berkembang progresif maka akan
terlihat jelas/area terpukul pada tulang yang berada di bawah sinavial sendi.
7. Pemeriksaan Laboratorium
Seorang dikatakan menderita asam urat apabila pemeriksaan laboratorium menunjukkan
kadar asam urat dalam darah diatas 7 mg/Dl untuk pria dan lebih dari 6 mg/Dl untuk
wanita. Selain itu, kadar asam urat dalam urin lebih dari 760-1000 mg/24 jam dengan diet
biasa. Disamping hal tersebut, sering juga dilakukan pemeriksaan gula darah, ureum, dan
kreatinin, disertai pemeriksaan profil lemak darah untuk menguatkan diagnosis.
Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mendeteksi ada dan tidaknya penyakit diabetes
mellitus. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi
ginjal. Sementara itu pemeriksaan profil lemak darah penanda ada dan tidaknya gejala
aterosklerosis.
8. Pemeriksaan Radiologis
pemeriksaan radiologis digunakan untuk melihat proses yang terjadi dalam sendi dan
tulang serta untuk melihat proses pengapuran di dalam tofus.
9. Pemeriksaan Cairan Sendi
Tujuannya adalah untuk melihat Kristal urat atau monosodium urate (Kristal MSU)
dalam cairan sendi. Untuk melihat perbedaan jenis arthritis yang terjadi perlu dilakukan
kultur cairan sendi. Jika ada peradangan sendi, maka cairan sendi yang dikeluarkan bisa
dipakai sebagai bahan pemeriksaan penyakit sendi tersebut. Dengan mengeluarkan cairan
sendi yang meradang maka pasien akan merasakann nyeri sendi yang berkurang.
10. Pemeriksaan dengan Rontgen

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

13

Pemeriksaan rontgen perlu dilakukan untuk melihat kelainan baik pada sendi maupun
pada tulang dan jaringan disekitar sendi (Ketria, 2009).
Seberapa sering penderita asam urat untuk melakukan pemeriksaan rontgen tergantung
perkembangan penyakitnya. Jika sering kumat, sebaiknya dilakukan pemeriksaan rontgen
ulang.

I. PENCEGAHAN
Pembatasan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu : Jeroan (jantung,
hati, lidah ginjal, usus), Sarden, Kerang, Ikan herring, Kacang-kacangan, Bayam, Udang,
Daun melinjo.
a. Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan
kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat
yang kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap
memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa
meningkatkan kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi
pengeluaran asam urat melalui urine.
b. Tinggi karbohidrat : Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat
baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan
pengeluaran asam urat melalui urine.
c.

Rendah protein : Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar
asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam
jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa.

d. Rendah lemak : Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan
yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi
lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.
e. Tinggi cairan : Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar
yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon,
blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buahbuahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung
purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena
keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

14

f. Tanpa alkohol : Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang
mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi
alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam
laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.

J.

Asuhan keperawatan pada klien Gout Artritis


Asuhan keperwatan kasus gout artritis
1. Data Fokus

Data subyektif
Data obyektif
1. Klien mengatakan rasa sakit pada ibu
1. Kesadaran composmentis.
jari kakinya kambuh sejak 2 hari yang
2. Terdapat tanda-tanda inflamasi akut pada
lalu.
sendi metatarsofangeal digitti I manus
2. Klien mengatakan tidak berani
dextra.
minum obat anti nyeri.
3. Terdapat tofi di daerah aurikula dan
3. Klien mengatakan tidak mengetahui
maleolus lateralis sinistra.
tentang penggunaan obat dan
4. Hasil lab :
perawatan dirumah.
a. Hb 14 gr %
4. Klien bertanya tentang penyakitnya
b. Leukosit 13000 u/l
dapat ditirunkan ke anaknya atau
c. LED 40 mm/jam
tidak.
d. Kadar uric acyd 9,3 gr %
5. Klien merasa aneh dengan bentuk ibu
5. Skala nyeri 4
jarinya.
6. P : Makan jeroan
Q : Nyeri sendi
R : Nyeri pada ibu jari kakinya
S : Skala 4
T : 2 hari yang lalu
7. Klien bertanya tentang penyakitnya

2. Analisa Data
Data

Masalah

DS :
Nyeri sendi
1. Klien mengatakan rasa sakit
pada ibu jari kakinya
kambuh sejak 2 hari yang
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

Etiologi
Peradangan sendi, penimbunan
Kristal pada membrane sinovia,
tulang rawan arikular, erosi
tulang rawan, prolifera sinovia
15

lalu.
2. Klien mengatakan tidak
berani minum obat anti
nyeri.
DO :
1. Skala nyeri 4
2. P : Makan jeroan
Q : Nyeri sendi
R : Nyeri pada ibu jari
kakinya
S : Skala 4
T : 2 hari yang lalu
3. Terdapat
tanda-tanda
inflamasi akut pada sendi
metatarsofangeal digitti I
manus dextra.
4. Terdapat tofi di daerah
aurikula
dan
maleolus
lateralis sinistra.
5. Hasil lab :
e. Hb 14 gr %
f. Leukosit 13000 u/l
g. LED 40 mm/jam
h. Kadar uric acyd 9,3 gr
%
Ds :
G Gangguan citra diri
1. Klien merasa aneh dengan
bentuk ibu jarinya.

dan pembentukan panus.

P perubahan bentuk kaki dan


terbenuknya tofus.

Do :
1. Terdapat tofi di daerah
aurikula
dan
maleolus
lateralis sinistra.

Ds :

Defisit pengetahuan

1. Klien mengatakan tidak


berani minum obat anti
nyeri.
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

kurangnya
pemahaman
pengobatan dan perawatan di
rumah .

16

2. Klien mengatakan tidak


mengetahui
tentang
penggunaan
obat
dan
perawatan dirumah.
3. Klien bertanya tentang
penyakitnya
dapat
ditirunkan ke anaknya atau
tidak.
Do :
1. Klien
terlihat
kurang
mengetahuin

tentang

penyakit gout
2. Klien
terlihat
kurang
mengetahuin tetang obat
gout

Diagnosa keperawatan
1. Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada membrane sinovia,
tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
2. Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya tofus.
3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman pengobatan dan

perawatan di rumah .

Intervensi Keperawatan
No
1

Diagnosa
Keperawatan
Nyeri
sendi
berhubungan
dengan Peradangan
sendi, penimbunan
Kristal
pada
membrane sinovia,
tulang
rawan
arikular,
erosi
tulang
rawan,

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Intervensi

Rasional

Setelah
dilakukan MANDIRI
MANDIRI
tindakan
keperawatan
1. Nyeri
merupakan
selama 3 x 24 diharapkan 1. Kaji lokasi, intensitas,
respon
subjektif
nyeri berkurang, hilang,
dan tipe nyeri. Observasi
yangbdapat
dikaji
teratasi.
kemajuan
nyeri
ke
dengan menggunakan
Dengan kriteria hasil :
daerah yang baru. Kaji
skala
nyeri. Klien
1. Klien
melaporkan
nyeri dengan skala0 4.
melaporkan
nyeri
penelusuran nyeri.
biasanya
di
atas
2. menunjukan perilaku

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

17

prolifera
sinovia
dan pembentukan
panus.

yang lebiih rileks.


tingkat cedera.
3. memperagakan
keterampilan reduksi 2. Bantu
klien 2. Nyeri dipengaruhi oleh
nyeri.
dalam mengidentifikasi
kecemasan
dan
4. Skala nyeri 0 1 atau
factor pencetus.
peradangan
pada
teratasi.
sendi.
3.

Jelaskan dan bantu klien


3. Pendekatan
dengan
terkait dengan tindakan
menggunakan
pereda
nyeri
relaksasi
dan
nonfamakologi dan non
farmakologilain
invasif.
menunjukan
keefektifan
dalam
mengurangi nyeri.

4.

Ajarkan relaksasi: teknik 4. Akan


melancarkan
terkait ketegangan otot
peredaran
darah
rangka
yang
dapat
sehingga kebutuhan
mengurangi intensitas
oksigen pada jaringan
nyeri.
terpenuhi
dan
mengurangi nyeri.

5.

Ajarkan
metode 5. Mengalikan perhatian
klien terhadap nyeri ke
distraksi selama nyeri
hal
yang
akut.
menyenangkan.

6.

Tingkatkan
6. pengetahuan tersebut
pengetahuaan tentang
membatu mengurangi
penyebab nyeri dan
nyeri
dan
dapat
menbatumeningkatkan
hubungan
dengan
kepatuhan
klien
berapa lama nyeri akan
terhadap
rencana
berlangsung.
terapeutik.

7.

Hindarkan

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

klien

7.

pemakaian

alkohol,
18

meminum
alcohol,
kafein,
dan
obat
diuretik.

KOLABORASI

kafein, dan obatobatan diuretik akan


menambah
peningkatan
kadar
asam
urat
dalam
serum.

KOLABORASI

1. Kolaborasi dengan tim 1. Alopurinol


medis untuk pemberian
menghambat
alopurinol
biosentesis asam urat
sehingga menurunkan
kadar
asam
urat
serum.

Gangguan citra diri


berhubungan
dengan perubahan
bentuk kaki dan
terbenuknya tofus.

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3 x 24 diharapkan
citra diri klien meningkat.
Dengan kriteria hasil :
1. Klien
mampu
mengatakan
atau
mengkomunikasikan
dengan orang
terdekat
tentang
situasi dan perubahan
yang terjadi.
2. Mampu menyatakan
penerimaan diri
terhadap situasi.
3. Mengakui
dan
menggabungkan
perubhan
dalam
konsep diri dengan
cara yang akurat tanpa

MANDIRI
1. Kaji perubhan perspsi
dan
hubungannya dengan
derajat
ketidakmampuan.
2. Ingatkan
kembali
realitas bahwa masih
dapat menggunakan sisi
yang sakit dan belajar
mengontrol sisi yang
sehat.

MANDIRI

1. Menetukan bantuan
individual
dalm
menyusun
rencana
perawatan
atau
pemilihan intervensi.
2. Membantu
klien
melihat bahwa peraat
menerima
kedua
bagian dari seluruh
tubuh
dan
mulai
menerima situasi baru.

3. Membantu
3. Bantu
dan
ajurkan
meningkatkan
perawatan yang baik
perasaan harga diri
dan
memperbaiki
dan mengontrol lebih
kebiasaan.
dari
satu
area

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

19

merasakan
dirinya negatif.

harga

kehidupan.

4. Anjurkan orang terdekat


untuk mengizinkan klien
melakukan
sebanyak
mungkin hal untuk
dirinya.

5. Bersama klien mencari


alternatif koping yang
positif.

4. Menghidupkan
kembali
perasaan
mandiri dn membatu
perkemabangan harga
diri
serta
memengaruhi proses
rehabilitasi.

5. Dukungan
perawat
kepada klien dapat
meningkat kan rasa
percaya diri klien.

6. Klien
dapat
beradaptasi terhadap
6. Dukung prilaku atau
perubahan
dan
usaha peningkata minat
memahami
peran
atau partisipasi dalam
individu
dimasa
aktifitas rehabilitasi.
mendatang.

Defisit pengetahuan
berhubungan
dengan kurangnya
pemahaman
pengobatan
dan

KOLABORASI

KOLABORASI

1. Kolaborasi dengan ahli


neuropsikologi
dan
konseling
bila
da
indikasi.

1. Dapat
memfasilitasi
perubahan peran yang
penting
untuk
perkembangan
perasaan.

MANDIRI
Setelah
dilakukan MANDIRI
tindakan
keperawatan
1. Kaji kemampuan pasien 1. Mengetahui
respon
selama 3 x 24 diharapkan
dalam mengungkapkan
dan
kemampuan
Pasien dan keluarga dapat
instruksi yang diberikan
kognnitif klien dalam
memahami penggunaan
oleh
dokter
atau

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

20

perawatan di rumah obat dan


.
dirumah.

perawatan

perawat.

menerima informasi.

2. Berikan Jadwal obat


yang harus di gunakan
meliputi nama obat,
dosis, tujuan dan efek
samping

3. Bantu pasien dalam


merencanakan program
latihan dan istirahat
yang teratur.

2. Penjelasan ini dapat

meningkatkan
koordinasi
dan
kesadaran
pasien
terhadap pengobatan
yang teratur.

3. Memberikan

struktur
dan
mengurangi
kecemasan
pada
waktu
menangani
proses penyakit yang
kronis kompleks.

4. Tekankan
pentingnya
melanjutkan
manajemen
farmako
terapeutik.

4. Keuntungan dari terapi

5. Berikan
informasi
mengenai
alat-alat
bantu yang mungkin
dibutuhkan.

5. Mengurangi

6. Jelaskan pada
tentang
asal
penyakit

6. Memberikan

pasien
mula

obat-obatan
tergantung
pada
ketepatan dosis.
paksaan
untuk menggunakan
sendi
dan
memungkinkan
individu untuk ikut
serta secara lebih
nyaman dalam aktifitas
yang dibutuhkan atau
diinginkan.

pengetahuan pasien
sehingga pasien dapat
menghindari terjadinya
serangan berulang.

KOLABORASI
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

21

KOLABORASI
1.

Kolaborasi
dengan
1. Bantuan dan dukungan
sumbersumber
dari orang lain untuk
komunitas arthritis.
meningkatkan
pemulihan maksimal.

Asuhan Keperawatan Teori Gout Artritis

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada membrane sinovia, tulang
rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
2. Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan,
dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia,
dan pembentukan panus.
3. Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya tofus.
4. Perubahan pola tidur b.d nyeri.
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman pengobatan dan
perawatan di rumah .

Rencana Keperawatan
1. Dk. I : Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia,
tulang rawan arikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan
: Nyeri berkurang, hilang, teratasi.
Kriteria hasil
:
o Klien melaporkan penelusuran nyeri.
o menunjukan perilaku yang lebiih rileks.
o memperagakan keterampilan reduksi nyeri.
Skala nyeri 0 1 atau teratasi.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

22

INTERVENSI
MANDIRI

Kaji lokasi, intensitas,an tipe nyeri.


Observasi kemajuan nyeri ke
daerah yang baru. Kaji nyeri
dengan skala0 4.

Bantu klien dalam mengidentifikasi


factor pencetus.
Jelaskan dan bantu klien terkait
dengan tindakan pereda nyeri
nonfamakologi dan non invasif.

Ajarkan relaksasi: teknik terkait


ketegangan otot rangka yang dapat
mengurangi intensitas nyeri.

Ajarkan metode distraksi selama


nyeri akut.
Tingkatkan
pengetahuaan tentang
penyebab nyeri dan hubungan
dengan berapa lama nyeri akan
berlangsung.

Hindarkan klien meminum alcohol,


kafein, dan obat diuretik.

KOLABORASI

Kolaborasi dengan tim medis untuk


pemberian alopurinol

RASIONAL
Nyeri
merupakan
respon
subjektif yangbdapat dikaji
dengan menggunakan skala
nyeri. Klien melaporkan nyeri
biasanya di atas tingkat cedera.
Nyeri
dipengaruhi
oleh
kecemasan dan peradangan pada
sendi.
Pendekatan
dengan
menggunakan relaksasi dan
farmakologilain
menunjukan
keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
Akan melancarkan peredaran
darah
sehingga
kebutuhan
oksigen pada jaringan terpenuhi
dan mengurangi nyeri.
Mengalikan perhatian klien
terhadap nyeri ke hal yang
menyenangkan.
pegetahuan tersebut membatu
mengurangi nyeri dan dapat
menbatumeningkatkan
kepatuhan
klien
terhadap
rencana terapeutik
pemakaian alkohol, kafein, dan
obat-obatan
diuretik
akan
menambah peningkatan kadar
asam urat dalam serum.
Alopurinol
menghambat
biosentesis asam urat sehingga
menurunkan kadar asam urat
serum.

2. Dk. II : Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada
gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi
sinovia, dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan : klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai dengan
kemampuannya.
Kreteria hasil
:
o klien ikut dalam program latihan
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

23

o tidak mengalami kontraktur sendi


o kekuatan otot bertambah
o klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan mempertahankan
koordinasi optimal.
INTERVENSI
MANDIRI
Kaji mobilitas yang ada dan
observasi adanya peningkatan
kerusakan.
Ajarkan klien melakukan latihan
gerak aktif pada ekstermitas yang
tidak sakit.
Bantu klien melakukan latihan
ROM dan perawatan diri sesuai
toleransi.
Pantau
kemajuan
dan
perkembangan kemamapuan klien
dalam melakukan aktifitas
KOLABORASI
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
untuk latihan fisik klien.

RASIONAL
Mengetahui tingkat kemampuan
klien dalam melakukan aktifitas.
Gerakan aktif memberi masa
tonus, dan kekuatan otot, serta
memperbaiki fungsi jantung dan
pernafasan.
Untuk
mempertahankan
fleksibilitas
sendi
sesuai
kemampauan.
Untuk
mendeteksi
perkembangan klien.

Kemampuan
mobilisasi
ekstermitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik dari tim
fisioterapi.

3. Dk. III : Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk kaki dan terbenuknya tofus.
Tujuan perawatan
: Citra diri klien meningkat
Kriteria hasil
:
o Klien mampu mengatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang
situasi dan perubahan yang terjadi
o mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
mengakui dan menggabungkan perubhan dalam konsep diri dengan cara yang akurat
tanpa merasakan harga dirinya negatif.

INTERVENSI
MANDIRI
Kaji
perubhan
perspsi
dan
hubungannya dengan
derajat
kletidak mampuan.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

RASIONAL
Menetukan bantuan individual dalm
menyusun rencana perawatan
atau pemilihan intervensi
Membantu
klien
melihat
bahwa peraat menerima kedua
24

Ingantkan kembali realitas bahwa


masih dapat menggunakan sisi yang
sakit dan belajar mengontrol sisi
yang sehat.

bagian dari seluruh tubuh dan


mulai menerima situasi baru.

Bantu dan ajurkan perawatan yang


baik dan memperbaiki kebiasaan.

Anjurkan orang terdekat untuk


mengizinkan
klien
melakukan
sebanyak mungkin hal untuk
dirinya.

Bersama klien mencari alternatif


koping yang positif.

Membantu meningkatkan perasaan


harga diri dan mengontrol lebih
dari satu area kehidupan.
Menghidupkan kembali perasaan
mandiri
dn
membatu
perkemabangan harga diri serta
memengaruhi proses rehabilitasi.
Dukungan perawat kepada klien
dapat meningkat kan rasa
percaya diri klien.
Klien dapat beradaptasi terhadap
perubahan dan memahami peran
individu dimasa mendatang.

Dukung
prilaku
atau
usaha
peningkata minat atau partisipasi
dalam aktifitas rehabilitasi.

Dapat memfasilitasi perubahan peran


yang
penting
untuk
perkembangan perasaan.

KOLABORASI

Kolaborasi
denagn
ahli
neuropsikologi dan konseling bila
da indikasi .

4. DK IV : Perubahan Pola Tidur b/d Nyeri.


Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.

INTERVENSI
Tentukan kebiasaan tidurnya dan
perubahan saat tidur.
Buat rutinitas tidur baru yang
dimasukkan dalam pola lama dan
lingkungan baru.

Tingkatkan regimen kenyamanan


waktu tidur, misalnya mandi
Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

RASIONAL
Mengkaji pola tidurnya dan
mengidentifikasi intervensi yang
tepat.
Bila rutinitas baru mengandung
aspek sebanyak kebiasaan lama,
stress
dan
ansietas
yang
berhubungan dapat berkurang
Membantu menginduksi tidur
Dapat merasakan takut jatuh
karena perubahan ukuran dan
25

hangat dan massage.

tinggi tempat tidur, memberikan


kenyamanan pagar tempat untuk
membantu mengubah posisi.

Gunakan pagar tempat tidur


sesuai indikasi ; rendahkan
tempat tidur jika memungkinkan.

Tidur tanpa gangguan lebih


menim- bulkan rasa segar, dan
pasien mungkin tidak mampu
untuk kembali ke tempat tidur bila
terbangun.
Di berikan untuk membantu pasien
tidur atau istirahat.

Kolaborasi dalam pemberian obat


sedative, hipnotik sesuai dengan
indikasi.

5. DK V : Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang


pengobatan dan perawatan di rumah .
Kriteria hasil :
Pasien dan keluarga dapat memahami penggunaan obat dan perawatan dirumah.
INTERVENSI
Kaji kemampuan pasien dalam
mengungkapkan instruksi yang
diberikan oleh dokter atau
perawat.
Berikan Jadwal obat yang harus
di gunakan meliputi nama obat,
dosis, tujuan dan efek samping

RASIONAL
Mengetahui
respon
kemampuan kognnitif klien
menerima informasi.

Bantu
pasien
dalam
merencanakan program latihan
dan istirahat yang teratur.

Memberikan
struktur
dan
mengurangi kecemasan pada waktu
menangani proses penyakit yang kronis
kompleks.

dan
dalam

Penjelasan ini dapat meningkatkan


koordinasi dan kesadaran pasien
terhadap pengobatan yang teratur.

Berikan informasi mengenai alatalat


bantu
yang
mungkin
dibutuhkan.

Keuntungan dari terapi obat-obatan


tergantung pada ketepatan dosis.

Jelaskan pada pasien tentang asal


mula penyakit
Kolaborasi dengan sumbersumber komunitas arthritis.

Mengurangi
paksaan
untuk
menggunakan
sendi
dan
memungkinkan individu untuk ikut
serta secara lebih nyaman dalam
aktifitas
yang
dibutuhkan
atau
diinginkan.
Memberikan pengetahuan pasien
sehingga pasien dapat menghindari

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

26

terjadinya serangan berulang.


KOLABORASI
Bantuan dan dukungan dari orang lain
untuk
meningkatkan
pemulihan
maksimal.Mengkaji pola tidurnya dan
mengidentifikasi intervensi yang tepat.

Kelompok 5. S1 Keperawatan.2010. UPN Veteran Jakarta

27