Anda di halaman 1dari 18

SIMULASI BLENDING BATUBARA DI BAWAH STANDAR KONTRAK

DALAM BLENDING DUA JENIS GRADE BEDA KUALITAS


PADA PT AMANAH ANUGERAH ADI MULIA SITE KINTAP
KECAMATAN KINTAP, KABUPATEN TANAH LAUT
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

NAMA MAHASISWA
NIM
JURUSAN
DOSEN PEMBIMBING

:
:
:
:

DIMAS APRI SAPUTRA


H1C109009
TEKNIK PERTAMBANGAN, FTTP-UNLAM
AGUS TRIANTORO, MT
RISWAN, MT

ABSTRAK
PT Amanah Anugerah Adi Mulia Site Kintap (PT A3M Kintap) dihadapkan
dengan permasalahan pencampuran batubara (coal blending) agar batubara hasil
penambangannya dapat sesuai dengan kualitas permintaan konsumen. Kualitas
batubara hasil penambangan PT A3M Kintap sebelum di blending dikelompokan dalam
beberapa grade. Masing-masing grade memiliki karakteristik yang berbeda ditinjau dari
nilai masing-masing parameter kualitas. Diketahui bahwa beberapa grade batubara
tersebut memiliki nilai parameter kualitas yang ditolak dari kontrak penjualan yang ada.
Upaya yang dilakukan adalah dengan menganalisa parameter kualitas setiap
grade dengan kreteria demand. Selanjutnya melakukan simulasi blending terhadap
grade batubara yang nilai parameter kualitasnya tidak berada dalam rank kontrak agar
dapat diterima sesuai kontrak. Perhitungan dibantu dengan bantuan Add-Ins Solver
pada MS. Excel dimana penyelesaiannya menggunakan metode perhitungan Program
Linier Metode Simpleks.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa pasangan blending yang tidak dapat
memenuhi kriteria demand pada bulan Oktober 2013 adalah grade A C New untuk
PT JA Nusantara, grade C D untuk PT Lintas Bara Resource, serta grade D A, D
B, D C, D B New, dan E C untuk CV Mitra Bumi Sejahtera. Sedangkan pasangan
blending yang tidak dapat memenuhi kriteria demand pada bulan November 2013
adalah grade C D dan C E untuk PT Asia Pasific Mining Resource serta grade D
A dan E A untuk CV Mitra Bumi Sejahtera.
Kata Kunci:

Batubara, Blending, Demand, Grade, Parameter Kualitas, Metode


Simpleks (Solver)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perbedaan kualitas batubara
dalam satu seam yang sama adalah
mungkin terjadi, baik secara lateral
maupun vertikal. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh perbedaan proses
pengendapan, komposisi penyusun,
serta akumulasi pengotor yang terikut
saat proses pembatubaraan. Selain itu
proses pengambilan serta penanganan
batubara saat kegiatan penambangan
berlangsung juga ikut berpotensi
menyebabkan terjadinya perbedaan
kualitas tersebut.
Pengawasan terhadap kualitas
batubara dari hasil penambangan
berserta proses pengolahannya sangat
penting mengingat dalam setiap kontrak
perdangangan
batubara
tercantum
kriteria
kualitas
batubara
yang
diinginkan oleh pihak konsumen.
Perusahaan dituntut untuk memenuhi
kebutuhan pihak konsumen baik secara
kuantitas maupun kualitas yang telah
disepakati pada kontrak, jika terjadi hal
yang tidak sesuai kontrak maka pihak
konsumen berhak membatalkan kontrak
tersebut. Dengan demikian dalam
kegiatan penambangan kontrol kualitas
sangat penting agar keberlangsungan
kontrak dapat dijaga.
Adanya
perbedaan
kualitas
batubara
yang
ditambang
serta
tanggung jawab memenuhi kriteria
kontrak menjadi sebuah tantangan
untuk setiap perusahaan tambang.
Strategi untuk menyelesaikan masalah
tersebut adalah dengan melakukan
pencampuran batubara (coal blending),
dimana perlu dilakukan perhitungan
atau
simulasi
untuk
mengetahui
komposisi yang tepat dari berbagai jenis
kelompok batubara yang tersedia agar
dapat menghasilkan campuran dengan
kuantitas dan kualitas yang sesuai
dengan kriteria kontrak.
Perumusan Masalah
Permasalahan yang ingin diteliti
dalam penelitian ini adalah:

1. Terdapat kelompok (grade) batubara


yang nilai parameter kualitasnya
tidak berada dalam rank kontrak.
2. Tidak ada acuan penggunaan
kelompok batubara yang nilai
parameter kualitasnya tidak berada
dalam rank kontrak di dalam coal
blending.
Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada
pembahasan masalah sebagai berikut:
1. Tidak membahas sistem serta
manajemen
penambangan
PT
Amanah Anugerah Adi Mulia Site
Kintap.
2. Mengamati dan menganalisa proses
coal blending PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap yang berada di
port PT Mandiri Citra Bersama.
3. Mengamati management stockpile di
port PT Mandiri Citra Bersama.
4. Tidak membahas produktivitas unit
hauling dan unit pengolahan.
5. Tidak membahas perbedaan nilai
kualitas simulasi blending dengan
actual.
6. Tidak
membahas
harga
jual
batubara.
7. Simulasi
blending
hanya
menggunakan dua grade berbeda.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah:
1. Memanfaatkan grade batubara yang
nilai parameter kualitasnya tidak
berada dalam rank kontrak.
2. Memberikan acuan penggunaan
grade batubara yang nilai parameter
kualitasnya tidak berada dalam rank
kontrak di dalam coal blending.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah:
1. Bagi Mahasiwa
a. Sebagai
penerapan
ilmu-ilmu
pertambangan yang terkait dengan
ilmu dalam pengolahan bahan
galian
khususnya
peningkatan
mutu.

b.

2.
a.
b.

3.
a.

b.

Diharapkan
dapat
membantu
memperdalam pengetahuan dan
pemahaman mengenai kualitas
batubara.
Bagi Perusahaan
Mengetahui permasalahan yang
terjadi dalam kegiatan penelitian.
Dapat
dijadikan
bahan
pertimbangan atau usulan untuk
meningkatkan nilai tambah hasil
tambang.
Bagi Pemerintah
Sebagai
Informasi
kegiatan
penelitian
yang
dilakukan
perusahaan di daerah tersebut.
Sebagai
informasi
untuk
meningkatkan
nilai
tambah
sehingga mendukung industri dalam
negeri.

TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN


Keadaan Umum Perusahaan
PT Amanah Anugerah Adi Mulia
Site Kintap merupakan perusahan
swasta yang bergerak di bidang
penambangan batubara. PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap telah
mengantongi Izin Usaha Pertambangan
untuk area dengan luas 1,060 Ha di
wilayah
Kabupaten
Tanah
Laut
berdasarkan keputusan Bupati Tanah
Laut yang tercantum pada surat
keputusan dengan Nomor 545.2.014 /
PU / DPE / 2001 tertanggal 11 Juni
2001, Nomor 545.3.001 / PU / DPE /
2002 tertanggal 30 April 2002, Nomor
545.3.015 / PU / DPE / 2003 tertanggal
17 Desember 2003, dan Nomor
545.3.004 / PU / DPE / 2005 tertanggal
29 Juni 2005.
Dalam pelaksanaan kegiatan
penambangannya
PT
Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap selain
melakukan penambangannya sendiri
juga mempercayakan sebagian area
yang
menjadi
Izin
Usaha
Pertambangan-nya untuk dikerjakan
oleh jasa kontraktor PT Kalimantan
Prima Persada. Secara umum kegiatan
operasi penambangan pada PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap meliputi
kegiatan pembersihan lahan (land
clearing), pengupasan tanah pucuk (top

soil removal), overburden removal,


pengambilan batubara (coal getting),
pereduksian ukuran batubara (coal
crushing),
dan
pengapalan
(transshipment).
Lokasi dan Kesampaian Daerah
Secara administratif lokasi Izin
Usaha Pertambangan yang dimiliki oleh
PT Amanah Anugerah Adi Mulia Site
Kintap terletak di Desa Riam Adungan,
Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah
Laut, Provinsi Kalimantan Selatan dan
secara
geografis
Izin
Usaha
Pertambangan PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap membentang dari
298,859 mT 304,568 mT dan
9,587,817 mU 9,590,379 mU dengan
luas 1,060 Ha.
Dari ibukota provinsi Kalimantan
Selatan yaitu Banjarmasin, untuk
mencapai lokasi operasi penambangan
yang dilakukan PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap dapat ditempuh
melalui jalur darat dimana dengan rute
perjalanan sebagai berikut:
1. Banjarmasin Kintap
Dari Kota Banjarmasin sebelumnya
perjalanan
menuju
Kecamatan
Kintap hingga mencapai jembatan
PT Central Corporindo Internasional
dimana dapat ditempuh dengan
menggunakan kendaraan roda dua
maupun roda empat melalui jalan
provinsi dengan kondisi jalan
beraspal. Jarak tempuh sejauh
120 km dengan waktu tempuh 1.5
jam dengan kecepatan 80 km/jam.
2. Kintap Lokasi tambang PT
Amanah Anugerah Adi Mulia Site
Kintap
Selanjutnya dari jembatan PT
Central Corporindo Internasional
perjalanan
dilanjutkan
dengan
melalui jalan perkebunan sawit PT
Pola
Kahuripan
Inti
Sawit.
Perjalanan ini dapat ditempuh
dengan menggunakan kendaraan
roda dua maupun roda empat
sejauh 30 km dengan waktu
tempuh 0.5 jam dengan
kecepatan 60 km/jam.

Topografi
Elevasi daerah di sekitar area
Izin Usaha Pertambangan PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap berkisar
antara 75 mdpl lebih. Di sebelah utara
konsesi PT Amanah Anugerah Adi Mulia
Site Kintap terdapat daerah perbukitan
yang
tersusun
oleh
batupasir,
batulanau, dan batulempung. Selain
perbukitan terdapat juga pegunungan
yang tersusun oleh batuan beku seperti
batubasal, batuserpentinit, batuperidotit,
serta batuan metamorf sekis.
Morfologi
Morfologi di daerah sekitar area
Izin Usaha Pertambangan PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap terdiri
dari
morfologi
perbukitan
terjal,
morfologi bergelombang, dan morfologi
dataran. Morfologi tersebut didasari oleh
batuan-batuan sedimen yang berumur
Tersier.
Daerah
penambangan
PT
Amanah Anugerah Adi Mulia Site Kintap
dikelilingi
oleh
perkebunan
sawit
sehingga vegetasi didominasi oleh
tumbuhan sawit. Namun secara luas bila
diamati dan berdasarkan Peta Rupa
Bumi
Indonesia
terbitan
BAKOSURTANAL tahun 2001 dengan
skala 1 : 50,000, penggunaan lahan
terutama yang ada di sekitar DAS di
dominasi oleh hutan belukar, ladang,
dan sebagian kecil pemukiman.
Struktur Geologi
Secara regional, kondisi geologi
disekitar konsesi PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap merupakan bagian
dari rangkaian Pegunungan Meratus
yang membujur dengan arah Timur
Laut-Barat Daya. Struktur geologi
regional pada daerah ini umumnya
adalah antiklin, sinklin, sesar naik, sesar
mendatar dan sesar turun.
Keadaan tektonik daerah konsesi
diperkirakan telah berlangsung sejak
zaman Jura dan telah menyebabkan
tercampurnya batuan ultramafik dengan
batuan malihan. Pada zaman Kapur
Awal
atau
sebelumnya
terjadi
penerobosan granit dan diorite yang

menerobos batuan ultramafik dan


batuan malihan. Pada akhir Kapur Awal
terbentuk kelompok Alino yang terdiri
dari Formasi Paniungan, Formasi
Pudak,
Formasi
Keramaian,
dan
Formasi Manunggul, yang sebagian
merupakan
Olistostrom,
diselingi
dengan kegiatan gunung api Kelompok
Pitanak yang terdiri dari Formasi Pitanak
dan Formasi Paau.
Kegiatan Penambangan
Tahapan kegiatan penambangan
pada PT Amanah Anugerah Adi Mulia
Site Kintap adalah:
1. Pembersihan Lahan
Pembesihan lahan (Land Clearing)
dilakukan sebagai tahap awal
penambangan.
Area
konsesi
penambangan
PT
Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap
sebelumnya sebagian merupakan
hutan sekunder dengan vegetasi
tumbuhan
yang
relatif
tidak
berukuran besar dan sebagiannya
lagi adalah perkebunan sawit.
Dalam proses awal pembukaan
lahan pepohonan kecil dan semaksemak dibersihkan secara langsung
dengan digusur oleh bulldozer. Jika
ditemukan pohon yang berukuran
besar
maka
terlebih
dahulu
dipotong menggunakan chain saw
dan baru kemudian akarnya digusur
dengan bulldozer.
2. Pengupasan
dan
Penimbunan
Tanah Pucuk
Setelah
permukaan
lahan
dibersihkan dari vegetasi-vegetasi
maka
mulailah
kegiatan
pengupasan Top Soil. Ketebalan
lapisan Top Soil yang dikupas
berkisar
antara
50-120
cm.
Pengupasan dilakukan dengan
menggunakan
excavator
dan
pengangkutan menggunakan dump
truck HINO FM 320. Penumpukan
Top Soil dipisahkan pada tempat
yang khusus dan ketika telah
mencapai
batas
maksimum
tumpukan maka akan ditanami
tanaman perdu sementara untuk

3.

4.

menghindari erosi dan menjaga


kesuburan tanah.
Pengupasan
dan
Penimbunan
Lapisan
Tanah
Penutup
(Overburden)
Pembongkaran
lapisan
tanah
penutup sangat dipengaruhi oleh
jenis
material
batuannya.
Pembongkaran
lapisan
yang
bermaterial batuan lunak, tidak
kompak, atau lapuk dilakukan
dengan penggalian bebas dan bila
relatif agak keras maka material
akan dibongkar dengan cara
penggaruan atau ripping. Ripping
dilakukan dengan menggunakan
alat berat bulldozer type KOMATSU
D 375, kemudian setelah terberai
batuan tersebut di dozing dan
diumpankan ke alat muat sekelas
KOMATSU PC 400 kemudian
diangkut oleh alat muat jenis dump
truck jungkit kapasitas 20 ton ke
tempat pembuangan (waste dump)
dengan jarak maksimal 600 m.
Untuk material yang terlalu keras
atau kompak dan pada permukaan
yang luas maka pembongkaran
akan dibantu dengan metode
blasting.
Pengupasan dan Pengangkutan
Batubara (Coal Getting)
Teknik penggalian batubara tidak
jauh
berbeda
dengan
teknik
pengupasan lapisan penutup, yaitu
penggalian dari elevasi yang paling
tinggi ke elevasi yang lebih rendah.
Setelah batubara tersingkap, sisasisa
material lapisan
batuan
penutup yang tersisa di atas lapisan
batubara akan dibersihkan dengan
excavator sekelas KOMATSU PC
200.
Lapisan
batubara
yang
diperkirakan hilang dikarenakan
kegiatan ini maksimal sebesar 10
cm. Setelah dibersihkan dari
pengotor, untuk batubara yang
sangat
kompak
dilakukan
pemberaian terlebih dahulu dengan
cara diripping. Sedangkan untuk
lapisan batubara yang tidak terlalu
keras dapat dilakukan dengan
penggalian langsung. Penggalian

batubara
dilakukan
dengan
excavator KOMATSU PC 400
selanjutnya
batubara
hasil
penggalian dimuat ke dalam dump
truck HINO FM 320 ke stock ROM.
Kegiatan coal getting dilakukan
secara berurutan setiap strip dan
block penambangan,
sehingga
terjadi
penambangan
yang
berkesinambungan
atau
yang
dikenal dengan metode strip mine.
Setelah didumping di stock ROM
batubara akan kembali diangkut ke
stockpile yang berjarak 39 Km
dari lokasi penambangan. Armada
dump truck yang dipersiapkan untuk
pengangkutan ini sebanyak 60 unit.
Stockpile yang dimaksud berada di
pelabuhan
milik PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap
yang bernama PT Mandiri Citra
Bersama.
Pengangkutan
dan
Pengolahan
Batubara
Batubara hasil penambangan
ditempatkan di stock ROM dekat lokasi
penambangan,
sebelum
diangkut
menggunakan dump truck HINO FM 320
menuju stockpile PT Mandiri Citra
Bersama yang berjarak 39 Km dari
lokasi penambangan. Batubara yang
diangkut dari stock ROM sebelumnya
telah dikelompokan berdasarkan grade
yang telah ditentukan, kemudian
selanjutnya
untuk
mencapai
keseragaman ukuran batubara sesuai
permintaan pembeli, batubara yang
telah di angkut akan diremukan dengan
menggunakan
unit
crusher.
Unit
peremukan terdiri dari hopper, yang
berfungsi sebagai tempat penerima
umpan atau corong yang menampung
batubara yang akan diremukan, dan
crusher yang berfungsi sebagai alat
peremuknya.
Setelah
peremukan
batubara ditimbun di lokasi penimbunan
dengan kode product dan siap untuk
diblending lalu dikapalkan, dimana
lokasi penimbunan dan unit pengolahan
batubara dibangun di area yang sedatar
mungkin dan dilengkapi dengan parit
dan tanggul pengaman agar aliran air
5

dapat tersalurkan dengan baik menuju


kolam pengendapan.
Coal Blending atau Pencampuran
Batubara
Kegiatan coal blending yang
dilakukan oleh PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap terdiri dari
beberapa rangkaian kegiatan, meliputi:
1. Sampling Pre Shipment
Sampling pre shipment merupakan
kegiatan
pengambilan
sampel
batubara
sebelum
proses
pengapalan/transshipment
berlangsung
dengan
tujuan
mengetahui
kualitas
batubara
product yang akan dijadikan acuan
penentuan komposisi coal blending.
Kegiatan pengambilan sampel ini
dilakukan oleh surveyor yang
ditunjuk oleh PT Amanah Anugerah
Adi Mulia Site Kintap, rutin setiap
bulannya. Pengambilan sampel
dilakukan pada
setiap grade
batubara
product
dengan
menggunakan
sekop
dengan
ukuran yang telah ditentukan oleh
standar ASTM.
2. Coal Blending Calculation
Permintaan kualitas batubara dari
pihak konsumen (coal demand)
dengan
parameter-parameter
kualitas tertentu serta hasil analisa
kualitas batubara dari sampling pre
shipment pada setiap periodenya,
merupakan acuan utama yang
dijadikan dasar target perhitungan
komposisi coal blending (coal
blending calculation). Perhitungan
komposisi ditujukan agar hasil dari
pencampuran memiliki nilai kualitas
yang berada pada rank kualitas
yang diminta oleh konsumen.
3. Proses Coal Blending
Dari
proses
coal
blending
calculation akan didapat persentase
komposisi setiap grade batubara
untuk menghasilkan kualitas yang
memenuhi coal demand. Dari
persentase tersebut maka akan
diketahui tonnase batubara yang
dibutuhkan dengan mengalikannnya
dengan target pengiriman atau

kapasitas tongkang (barge). Dalam


pengaplikasian lapangan kontrol
terhadap komposisi yang telah
ditentukan yaitu dengan asumsi
jumlah tonnase batubara tiap dump
truck
adalah
sama
dimana
sebelumnya sebagai acuan satu
dump truck yang telah bermuatan
akan ditimbang terlebih dahulu
pada unit timbangan. Oleh dump
truck batubara akan didumping di
sekitar bibir apron feeder kemudian
akan diumpankan pada dua unit
apron feeder dengan bantuan
excavator. Batubara yang telah
diumpankan pada apron feeder
selanjutnya dicurahkan pada belt
conveyor dimana jumlahnya akan
dikontrol sesuai dengan luas
bukaan pada bagian bawah apron
feeder. Sebenarnya apron feeder
merupakan hopper biasa yang
serupa dengan hopper pada unit
crusher, bedanya batubara yang
masuk pada hoper ini akan
langsung dicurahkan pada belt
conveyor atau pita berjalan tanpa
mengalami proses pengolahan lagi.
Selama
proses
transportasi,
batubara yang jatuh ke belt
conveyor dari apron feeder 1 akan
berjalan dan akan bertemu serta
bercampur dengan batubara dari
apron feeder 2 di persimpangan belt
conveyor, disinilah proses blending
dimulai.
TINJAUAN PUSTAKA
Batubara
Batubara merupakan salah satu
bahan bakar fosil berupa batuan
sedimen organik (non-klastik) yang
dibentuk
oleh
sisa-sisa
bagian
tumbuhan dari vegetasi prasejarah yang
terakumulasi
pada
suatu
area
pengendapan, kemudian mengalami
proses pembatubaraan (coalification).
Batubara terdiri atas unsur-unsur utama,
yaitu karbon, hidrogen, dan oksigen;
serta unsur-unsur tambahan seperti
belerang dan nitrogen. Batubara banyak
dimanfaatkan sebagai bahan bakar
pembangkit uap di PLTU dan juga
6

bentuknya bisa diubah menjadi zat cair


dan gas (Sumber: Muchjidin, 2006).
1. Terbentuknya Batubara
Ada dua teori yang dikenal untuk
menjelaskan terbentuknya batubara
berdasarkan
proses
pembentukannya, yaitu:
a. Teori Insitu, teori ini mengatakan
bahwa bahan-bahan pembentuk
batubara
merupakan
tumbuhtumbuhan yang tumbuh di tempat
batubara
tersebut
terbentuk.
Setelah tumbuh-tumbuhan tersebut
tumbang atau roboh, tumbuhtumbuhan tersebut tidak mengalami
proses transportasi dan segera
tertimbun oleh lapisan sedimen,
untuk
selanjutnya
mengalami
proses
pembatubaraan
(coalification).
b. Teori Insitu, teori ini menyatakan
bahwa bahan-bahan pembentuk
batubara berasal dari tempat yang
berbeda
dengan
tempat
pembentukan batubara. Dengan
demikian tumbuhan yang telah mati
mengalami proses transportasi oleh
media air dan terakumulasi di suatu
tempat dan selanjutnya tertutup
oleh
sedimen-sedimen
dan
mengalami coalification.
2. Waktu Terbentuknya Batubara
Waktu yang dibutuhkan dalam
proses batubara sangat panjang,
oleh
karena
itu
para
ahli
menyederhanakan atau membuat
batasan periode waktu ke dalam
beberapa periode (Tabel 1)
Tabel 1. Klasifikasi Satuan Morfologi

Parameter Kualitas Batubara


Adapun
baberapa
macam
parameter-parameter kualitas batubara
yang perlu diketahui dalam melakukan

blending adalah sebagai berikut:


1. Analisa Proximate
Merupakan analisa pendahuluan
untuk mengetahui kualitas batubara
secara
pasar
maupun
perdangangan. Sifatnya mendasar
dan
hanya
dilakukan
untuk
mengetahui hal-hal pokok pada
unsur pembentuk batubara. Analisa
proximate terdiri dari 4 (empat) nilai
analisa yang jika dijumlahkan akan
bernilai 100%, yaitu:
a. Kandungan Air, analisa ini untuk
menentukan kadar air dalam contoh
yang akan dianalisa. Kandungan air
batubara sangat tergantung dengan
kondisi
batubara
yang
akan
dianalisa. Nilai moisture dapat
digunakan untuk menghitung hasilhasil analisa ke dalam basis
(kondisi) yang berbeda misalnya dry
basis, dry ash free, mineral matter
free, as received, dan lain-lain.
b. Kandungan Abu, analisa ini untuk
mengetahui akumulasi jumlah abu
yang
dihasilkan
dari
proses
pembakaran batubara. Kadar abu
dalam batubara dapat menurunkan
nilai kalori hasil pembakaran
batubara.
Semakin
tinggi
kandungan
abu
akan
mempengaruhi tingkat pengotoran
(fouling), keausan dan korosi alat
yang dilalui. Di dalam dapur atau
dalam generator gas, abu dapat
meleleh
pada
suhu
tinggi
menghasilkan massa yang disebut
slag.
c. Kandungan Zat Terbang, volatile
matter merupakan zat organik
(organic volatile matter) maupun
anorganik (inorganic volatile matter)
pada batubara yang menguap atau
berubah menjadi gas saat batubara
dibakar. Adapun volatile matter dari
hasil pembakaran batubara terdiri
dari gas-gas yang mudah terbakar
seperti
hidrogen,
karbon
monoksida, metan, dan gas yang
tidak terbakar seperti karbon
dioksida.
d. Fixed Carbon, Karbon tertambat
atau fixed carbon adalah karbon
7

2.

3.

yang terdapat dalam batubara


dimana bagian yang menghasilkan
energi saat batubara dibakar.
Jumlahnya
ditentukan
oleh
kandungan air, kandungan abu, dan
kandungan zat terbang.
Analisa Ultimate
Analisa
ultimate
didefinisikan
sebagai analisis batubara yang
dinyatakan dalam kandungan unsur
karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur
dan
oksigen.
Analisa
ini
menjelaskan bahwa batubara terdiri
dari semua unsur tersebut dengan
total komposisi masing-masing
unsur tersebut sebesar 100% dalam
suatu massa batubara. Setiap unsur
ditentukan dari sampel yang diuji
secara anlitik dan penentuan
hasilnya dinyatakan dalam basis
kering free mineral matter (dmmf).
Hasil analisa ultimate digunakan
untuk menetukan kualitas dan jenis
lapisan
batubara
selama
penyelidikan cadangan batubara,
sehingga dapat ditentukan kelas
atau keperluan teknis lainnya.
Analisa Ultimate
Metode ini untuk menentukan nilai
kalori dari contoh menggunakan
alat yaitu calorimeter. Nilai kalori
adalah jumlah panas (kalor) yang
dihasilkan
oleh
pembakaran
sempurna, contoh batubara di
laboratorium.

Coal Blending
Coal
Blending
atau
pencampuran
batubara
adalah
penggabungan atau penimbunan secara
bersamaan dan terus-menerus dalam
waktu tertentu dari dua atau lebih
material (batubara beda kualitas), yang
dianggap mempunyai komposisi yang
konstan (parameter kualitas konstan)
dan terkontrol proporsinya.
Dalam hal ini pencampuran
dilakukan terhadap batubara yang
berbeda nilai kalori, kandungan sulfur
dan kandungan abu, sehingga kualitas
batubara hasil campuran merupakan
perpaduan dari parameter kualitas
batubara yang dicampur. Atau dengan

kata lain batubara yang memiliki kualitas


rendah (nilai kalori rendah dan
kandungan
sulfur
tinggi),
dapat
dicampur dengan batubara yang
memiliki kualitas tinggi (nilai kalori tinggi
dan kandungan sulfur rendah) dan
dapat
memenuhi
batasan-batasan
persyaratan
untuk
memenuhi
permintaan konsumen.
Pencampuran
batubara
dilakukan untuk mendapatkan hasil
yang sesuai dengan yang diinginkan,
dengan komposisi yang homogen,
secara teoritis parameter kualitas
campurannya dapat didekati dengan
persamaan berikut:
KB1PB1 + KB2 PB2 ++(KBn PBn ) (1)
KBc =
PBc

Dimana:
KB1 : Parameter kualitas batubara 1
KB2 : Parameter kualitas batubara 2
KBn : Parameter kualitas batubara ke-n
KBc : Parameter kualitas batubara
hasil campuran
PB1 : Persentase batubara 1 (MT)
PB2 : Persentase batubara 2 (MT)
PBn : Persentase batubara ke-n (MT)
PBc : Persentase
batubara
hasil
campuran (TB1+TB2++TBn)
Metode Blending
Dalam
pelaksanaan
proses
blending di stockpile harus mengikuti
hasil perhitungan secara teoritis yang
telah didukung dengan analisa data
laboratorium, agar didapat kualitas yang
diharapkan. Prinsip kerja blending di
stockpile adalah mencampur dua jenis
atau lebih kualitas batubara dengan
proporsi perbandingan yang telah
ditentukan. Hasil yang diperoleh harus
benar-benar homogen sehingga dapat
memenuhi
kualitas
permintaan
konsumen.
1. Metode Curah Langsung
Cara kerja dari metode ini adalah
dua alat penumpah batubara
masing-masing
menumpahkan
batubara ke apron feeder yang
berlainan. Setelah dua apron feeder
penuh maka AF 1 dibuka dengan
aliran tertentu, setelah batubara

sampai di AF 2, AF 2 dibuka sesuai


dengan proporsi yang ditentukan
(Gambar 1).

Gambar 1. Metode Curah Langsung


2.

Metode Dua Conveyor


Cara kerja dari metode ini adalah
dua alat penumpah batubara
masing-masing
menumpahkan
batubara ke apron feeder yang
berlainan. Setelah dua apron feeder
penuh maka AF 1 dan AF 2 dibuka
bersamaan dengan aliran tertentu
berdasarkan perhitungan komposisi
blending (Gambar 2).

Gambar 2. Metode Dua Conveyor


Metode Simpleks
Metode simpleks merupakan
salah satu teknik penentuan solusi
optimal
yang
digunakan
dalam
pemprograman linier. Penentuan solusi
optimal dilakukan dengan memeriksa
semua variabel yang memungkinkan
satu per satu dengan cara perhitungan
iteratif dimana didasarkan pada teknik
eliminasi Gauss Jordan. Sehingga
penentuan solusi optimal dengan

metode simpleks dilakukan tahap demi


tahap yang disebut dengan iterasi.
Metode simpleks digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan pada
pemprograman linier yang kombinasi
variabelnya terdiri dari tiga atau lebih
variabel.
Sebelum melakukan perhitungan
iteratif untuk menentukan solusi optimal,
pertama
sekali
bentuk
umum
pemprograman linier dirubah ke dalam
bentuk baku terlebih dahulu. Bentuk
baku dalam metode simpleks tidak
hanya mengubah persamaan kendala
ke dalam bentuk sama dengan, tetapi
setiap fungsi kendala harus diwakili oleh
satu variabel basis awal. Variabel basis
awal menunjukkan status sumber daya
pada kondisi sebelum ada aktivitas yang
dilakukan. Dengan kata lain, variabel
keputusan semuanya masih bernilai nol.
Dengan demikian, meskipun fungsi
kendala
pada
bentuk
umum
pemprograman linier sudah dalam
bentuk persamaan, fungsi kendala
tersebut masih harus tetap berubah.
Aplikasi Solver pada Microsoft Excel
Solver merupakan salah satu
fasiltas tambahan (Add-Ins) yang
terdapat pada program Microsoft Excel.
Fasilitas ini terdapat pada MS. Excel
versi 2013 maupun versi sebelumnya.
Solver disediakan oleh MS Excel
berfungsi sebagai tool untuk mencari
nilai optimal pada suatu formula pada
sel lembar kerja Excel (atau disebut sel
target). Pemakai (user) secara leluasa
dapat memasukkan nilai decision
variable (variabel keputusan), constraint
variable (variabel pembatas) dan
objective variable (variabel tujuan) untuk
melakukan optimasi kedalam cell dari
suatu
spreadsheet.
Nilai
yang
diharapkan dapat berupa nilai paling
maksimum, nilai paling minimum atau
nilai tertentu yang diharapkan.
Pada dasarnya Solver terdiri dari
3 (tiga) bagian, yakni:
1. Sel Target (Target Cell), merupakan
bagian solver sebagai tempat
dimana hasil akhir pemrosesan atau
eksekusi suatu formula ditempatkan
9

atau juga dapat disebut dengan


objective variable. Dalam excel,
fungsi tujuan berada dalam satu cell
saja. Dimana di dalam cell ini
terdapat formula excel dari cell
lainnnya. Selain itu, kita harus
menentukan target yang ingin
diperoleh. Target dapat diatur
sedemikian rupa dimana nilainya
dapat dicari dengan fungsi minimum
(meminimumkan target cell), fungsi
maksimum
(memaksimumkan
target cell), atau membuat fungsi
sama dengan nilai tertentu (value
of).
2. Sel Pengatur (Adjusted Cell), solver
mengatur perubahan nilai pada sel
yang spesifik, untuk memproduksi
hasil perlu spesifikasi dari formula
pada target cell atau dapat dikenal
dengan decision variable.
3. Sel Pembatas (Constrained Cell),
merupakan
constraint
variable
dimana digunakan untuk membatasi
nilai solver yang dapat digunakan
pada suatu model tertentu dan
mengacu pada sel lain yang
memperngaruhi formula pada target
cell.
(Sumber: Anonim, 2013).
METODE PENELITIAN
Tahap Kegiatan Penelitian
Rancangan kegiatan penelitian
direncanakan
terdiri dari 5 (lima)
tahapan yaitu tahap persiapan, tahap
pengumpulan data, tahap pengolahan
data, tahap analisis data dan tahap
penyusunan laporan akhir.
1. Tahap Persiapan
Pada
tahap
ini
dilakukan
penyusunan usulan tugas akhir,
studi literatur daerah penelitian dan
studi pustaka yang berkaitan
dengan penelitian. Sasaran utama
studi pendahuluan ini adalah
gambaran umum daerah penelitian
dan proses pencampuran batubara
(coal blending) untuk memenuhi
permintaan konsumen.
2. Tahap Pengumpulan Data
Pada
tahap
ini
dilakukan
pengumpulan data berdasarkan

a.

b.

c.

3.

4.

pengamatan langsung dilapangan.


Data yang dibutuhkan dan diperoleh
merupakan data yang berhubungan
dengan kegiatan penambangan
perusahaan dan proses coal
blending. Untuk terpenuhinya data
yang dibutuhkan maka dilakukan
beberapa teknik pengumpulan data,
meliputi:
Observasi Lapangan, teknik ini
dilakukan dengan cara peninjauan
lapangan
untuk
melakukan
pengamatan
secara
langsung
terhadap situasi, kondisi, dan
aktifitas di lokasi penelitian.
Studi Literatur, teknik ini dilakukan
dengan cara pengumpulan sumber
informasi yang berkaitan dengan
kegiatan penelitian dan berasal dari
referensi pihak perusahaan yang
berhubungan dengan penelitian.
Wawancara, teknik ini dilakukan
dengan cara tanya jawab langsung
terhadap personal (manusia) dari
pihak perusahaan yang merupakan
sumber
informasi
yang
berhubungan
dengan
kegiatan
penelitian dan masalah yang
disoroti pada penelitian ini.
Tahap Pengolahan Data
Pada tahap ini semua data yang
berhasil
dikumpulkan
akan
diklasifikasikan
sesuai
dengan
kegunaannya
agar
dapat
menunjang penyusunan laporan
penelitian dan memudahkan dalam
penganalisaan data. Selanjutnya
data
yang
menjadi
pokok
permasalahan
penelitian
akan
dilakukan
perhitungan
dimana
nantinya dapat diperoleh sebuah
optimalisasi sebagaimana tujuan
dari penelitian ini dan ditampilkan
dalam bentuk tabel dan grafik untuk
mempermudah
analisa.
Perhitungan dalam penyusunan
laporan penelitian ini menggunakan
software Microsoft Ecxel 2010
dengan tambahan Add-in Solver.
Tahap Analisa Data
Pada tahap ini hasil pengolahan
data
akan
dianalisa
untuk
mengetahui
seberapa
besar
10

5.

optimalisasi yang didapat. Teknik


analisa yang digunakan yaitu
berdasarkan
nilai
kualitatif,
kuantitatif serta harga jual batubara
hasil coal blending.
Tahap
Penyusunan
Laporan
Penelitian Tugas Akhir
Pada tahap ini keseluruhan tahap
yang telah disebutkan sebelumnya
disusun dan dirangkum dalam
sebuah laporan tertulis untuk
dipertanggungjawabkan
dalam
bentuk laporan hasil penelitian
tugas akhir.

Instrumentasi
Adapun peralatan yang digunakan
selama penelitian tugas akhir agar
tersusunnya laporan penelitian tugas
akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Alat tulis, digunakan untuk mencatat
hasil kegiatan sementara selama
penelitian dilapangan.
2. Kamera digital, digunakan untuk
mendokumentasikan
semua
kegiatan dilapangan serta kejadian
atau sesuatu yang dianggap
penting
berkaitan
dengan
penyusunan
laporan
penelitian
tugas akhir ini.
3. Laptop,
digunakan
untuk
pengolahan data dan analisa serta
penyusunan
laporan
penelitian
tugas akhir ini.

dalam penentuan komposisi coal


blending adalah sebagai berikut:
1. Parameter
Kualitas
Batubara
Product
Setiap
Periode
Transshipment (Tabel 2 dan 3)
Tabel 2. Hasil Analisa Batubara PT
Amanah Anugerah Adi Mulia
Site Kintap, Bulan Oktober
2013
GRADE

IM (%)

AR

ADB

ASH (%) VM (%)


ADB

FC (%)

ADB

TS (%) GCV (Kcal/Kg)

ADB

ADB

AR

HGI

11.60

5.85

7.48

45.20

41.47

0.53

6,470.15

35.00

10.45

6.95

13.05

42.10

37.90

0.43

5,981.23

39.00

10.46

4.82

13.63

44.60

36.95

0.47

6,106.26

36.50

11.30

4.40

18.25

42.00

35.35

0.35

5,569.73

40.60

13.80

5.39

19.93

40.80

33.88

0.55

5,247.08

47.00

A New

11.53

6.05

5.34

43.87

44.74

0.47

6,647.01

39.00

B New

12.40

5.64

11.81

40.36

42.19

0.37

5,985.26

38.00

C New

12.80

4.92

19.79

41.35

33.94

0.46

5,378.01

38.00

Tabel 3. Hasil Analisa Batubara PT


Amanah Anugerah Adi Mulia
Site Kintap, Bulan November
2013
GRADE

TM (%)

IM (%)

AR

ADB

ASH (%) VM (%)


ADB

FC (%)

ADB

TS (%) GCV (Kcal/Kg)

ADB

ADB

AR

HGI

12.27

6.01

8.96

44.96

40.07

0.53

6,417.11

34.60

11.31

7.13

14.37

42.43

36.07

0.43

5,941.00

39.00

11.53

5.00

15.49

44.32

35.19

0.47

6,046.69

36.60

12.42

4.50

20.31

41.87

33.32

0.35

5,497.82

41.00

14.79

5.37

19.84

41.07

33.72

0.55

5,193.82

47.00

A New

12.38

6.27

6.64

44.07

43.02

0.47

6,595.10

39.00

B New

13.34

5.60

13.84

40.69

39.87

0.37

5,928.50

39.00

C New

13.73

5.07

22.18

41.82

30.93

0.46

5,324.51

37.00

2.

Coal Demand (Tabel 4 dan 5)

Tabel 4. Coal Demand PT Amanah


Anugerah Adi Mulia Site
Kintap, Bulan Oktober 2013
SPESIFIKASI
NO.

HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Pengambilan data dilakukan
melalui pengamatan langsung pada
lokasi pelabuhan (port) milik PT Amanah
Anugerah Adi Mulia Site Kintap dimana
proses pencampuran batubara (coal
blending) dilakukan dan mengamati
proses penentuan komposisi blending
(coal
blending
calculation).
Coal
blending calculation merupakan proses
perhitungan komposisi batubara beda
kualitas yang akan dicampur untuk
mendapatkan suatu kualitas tertentu
dari hasil pencampuran tersebut. Hal
terpenting yang perlu diperhatikan

TM (%)

PEMBELI

PT JA Nusantara

KRITERIA

TYPICAL
REJECTION

PT Asia Pasific Mining Resource

TYPICAL
REJECTION

PT Lintas Bara Resource

TYPICAL
REJECTION

CV Mitra Bumi Sejahtera

TYPICAL
REJECTION

TM
(AR-%)
13.00

IM
(ADB-%)

Ash
(ADB-%)

6.00

14.00

> 16

NA

> 16

14.00

5.00

13.00

> 16

NA

> 16

13.00

6.00

12.00

> 15

NA

> 15

13.00

6.00

14.00

> 15

NA

> 16

VM
(ADB-%)

FC
(ADB-%)

42.00 by difference
> 45

NA

42.00 by difference
> 45

NA

41.00 by difference
> 44

NA

41.00 by difference
> 43

NA

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

0.60

6,000.00

>1
0.50
>1
0.50
>1
0.50
>1

HGI
37 min

< 5800
5,900.00

NA
38 min

< 5700
5,900.00

NA
38 min

< 5700
5,750.00

NA
40 min

< 5550

NA

Tabel 5. Coal Demand PT Amanah


Anugerah Adi Mulia Site
Kintap, Bulan November 2013
SPESIFIKASI
NO.

PEMBELI

PT Asia Pasific Mining Resource

PT JA Nusantara

KRITERIA

TYPICAL
REJECTION
TYPICAL
REJECTION

CV Mitra Bumi Sejahtera

TYPICAL
REJECTION

TM
(AR-%)
14.00
> 16
13.00
> 16
12.00
> 15

IM
(ADB-%)

Ash
(ADB-%)

5.00

13.00

NA

> 16

6.00

14.00

NA

> 16

6.00

12.00

NA

> 14

VM
(ADB-%)

FC
(ADB-%)

42.00 by difference
> 45

NA

42.00 by difference
> 45

NA

44.00 by difference
> 46

NA

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

0.50

5,900.00

>1
0.60
>1
0.50
>1

< 5700
6,000.00
< 5800
6,100.00
< 5900

HGI
38 min
NA
37 min
NA
40 min
NA

Pengolahan Data
1. Bulan
Oktober
2013,
untuk
pengolahan data bulan Oktober

11

2013 hasil yang didapat adalah


sebagai berikut:
PT JA Nusantara
Berdasarkan permintaan PT JA
Nusantara dibulan Oktober 2013
terdapat lima grade batubara
product yang tidak sesuai dengan
kriteria demand dimana grade
tersebut meliputi grade A, grade C,
grade D, grade E dan grade C New.
Dari kelima grade tersebut diketahui
keseluruhan kemungkinan jumlah
pasangan
grade
dalam
pencampuran
ada
sebanyak
sembilan belas kemungkinan, yang
meliputi lima untuk grade A dan
grade C dan tiga untuk grade D,
grade E dan grade C New (Tabel
6).

a.

simulasi menghasilkan batubara


blending yang memiliki parameter
kualitas yang sesuai kriteria
demand, hanya terdapat satu
pasangan
blending
yang
menghasilkan batubara blending
yang parameter kualitasnya tidak
sesuai dengan demand yaitu
pasangan blending grade A
dengan grade C New. Hasil
blending kedua grade tersebut
tidak dapat memenuhi demand
dikarenakan
nilai
parameter
kualitas
HGI
hasil
blending
memiliki nilai diluar batas rejection.
PT Asia Pasific Mining Resource
Berdasarkan permintaan PT Asia
Pasific Mining Resource dibulan
Oktober 2013 terdapat lima grade
batubara product yang tidak sesuai
dengan kriteria demand dimana
grade tersebut meliputi grade A,
grade C, grade D, grade E dan
grade C New. Dari kelima grade
tersebut
diketahui
keseluruhan
kemungkinan jumlah pasangan
grade dalam pencampuran ada
sebanyak lima belas kemungkinan,
yang masing-masing meliputi tiga
pasang untuk setiap grade (Tabel
7).

b.

Tabel 6. Simulasi Coal Blending PT JA


Nusantara, Bulan Oktober
2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)
TYPICAL
REJECTION
A

3.84%

96.16%

47.79%

52.21%

61.56%

38.44%

3.04%

B New

96.96%

56.95%

C New

43.05%

15.01%

84.99%

80.19%

19.81%

87.63%

12.37%

12.18%

B New

87.82%

66.66%

C New

33.34%

19.74%

80.26%

60.06%

A New

39.94%

20.52%

B New

79.48%

11.06%

88.94%

46.22%

A New

53.78%

11.55%

B New

88.45%

C New

13.47%

86.53%

C New

50.99%

A New

49.01%

C New

14.04%

B New

85.96%

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
(ADB-%) (ADB-%)

VM
(ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

HGI

13

14

42

by difference

0.6

6000

37 min

> 16

NA

NA

>1

> 16

> 45

< 5800

NA

10.49

6.91

12.84

42.22

38.04

0.43

6,000.00

38.85

11.44

5.09

13.10

43.53

38.27

0.44

6,000.00

37.92

12.45

5.67

12.27

43.51

38.55

0.54

6,000.00

39.61

12.38

5.65

11.67

40.51

42.17

0.37

6,000.00

37.91

12.12

5.45

12.78

43.54

38.23

0.50

6,000.00

36.29

10.45

6.63

13.14

42.48

37.76

0.44

6,000.00

38.62

10.63

4.74

14.55

44.09

36.63

0.45

6,000.00

37.31

10.87

4.89

14.41

44.13

36.57

0.48

6,000.00

37.80

12.16

5.54

12.03

40.88

41.55

0.38

6,000.00

37.82

11.24

4.85

15.68

43.52

35.95

0.46

5,863.46

37.00

10.62

6.45

14.08

42.08

37.40

0.41

5,900.00

39.32

Tabel 7. Simulasi Coal Blending PT


Asia Pasific Mining Resource,
Bulan Oktober 2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)

13

42

by difference

0.5

5900

REJECTION

> 16

NA

> 16

> 45

NA

>1

< 5700

13.09

42.75

39.10

0.40

6,000.00

39.96

0.90%

12.17

5.39

13.13

40.70

40.79

0.37

5,900.00

38.53

99.10%

36.68%

10.82

6.78

13.81

41.96

37.46

0.44

5,900.00

39.89

63.32%

53.38%

46.62%

14.75%

85.25%

61.56%

38.44%

75.99%

12.56

10.77

12.18

12.46

5.61

6.68

5.47

5.54

12.08

12.74

13.96

12.71

12.93

42.45

40.41

42.00

42.58

40.50

39.72

41.23

37.37

39.24

41.03

0.51

0.39

0.43

0.46

0.38

6,000.00

5,900.00

5,900.00

6,000.00

5,900.00

42.70

39.04

38.87

38.49

38.00

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam
upaya blending untuk memenuhi
permintaan PT JA Nusantara
diketahui
hampir
keseluruhan

TS
GCV
(ADB-%) (AR-Kcal/Kg)

14

5.06

5.74

FC
(ADB-%)

TYPICAL

11.39

12.58

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

24.01%

19.74%

80.26%

69.34%

A New

30.66%

20.52%

B New

79.48%

11.06%

88.94%

53.36%

A New

46.64%

11.55%

B New

88.45%

C New

13.47%

86.53%

C New

58.87%

A New

41.13%

C New

14.04%

B New

85.96%

HGI
38 min
NA

10.46

6.94

13.00

42.13

37.93

0.43

5,985.62

38.96

11.41

4.93

14.30

43.17

37.59

0.42

5,900.00

38.55

12.63

5.64

13.28

43.15

37.93

0.54

5,900.00

40.59

10.45

6.64

13.14

42.47

37.76

0.44

5,999.66

38.63

10.78

4.66

15.41

43.60

36.33

0.42

5,900.00

38.08

11.26

4.96

15.14

43.69

36.21

0.49

5,900.00

39.02

10.62

6.45

14.08

42.08

37.40

0.41

5,900.00

39.32

11.37

4.91

14.29

42.57

38.23

0.39

5,900.00

40.11

12.17

5.39

13.13

40.70

40.79

0.37

5,900.00

38.53

10.82

6.78

13.81

41.96

37.46

0.44

5,900.00

39.89

12.74

5.70

13.13

42.23

38.95

0.51

5,900.00

43.27

12.56

5.61

12.74

40.41

41.23

0.39

5,900.00

39.04

10.77

6.68

13.96

42.00

37.37

0.43

5,900.00

38.87

12.28

5.38

13.85

42.39

38.38

0.46

5,900.00

38.41

12.46

5.54

12.93

40.50

41.03

0.38

5,900.00

38.00

12

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan PT Asia Pasific Mining
Resource diketahui keseluruhan
simulasi menghasilkan batubara
blending yang memiliki parameter
kualitas
yang
sesuai
kriteria
demand.
PT Lintas Bara Resource
Berdasarkan permintaan PT Lintas
Bara Resource dibulan Oktober
2013 terdapat lima grade batubara
product yang tidak sesuai dengan
kriteria demand dimana grade
tersebut meliputi grade A, grade C,
grade D, grade E dan grade C New.
Dari kelima grade tersebut diketahui
keseluruhan kemungkinan jumlah
pasangan
grade
dalam
pencampuran ada sebanyak lima
belas kemungkinan, yang masingmasing meliputi tiga pasang untuk
setiap grade (Tabel 8).

c.

Resource
diketahui
hampir
keseluruhan simulasi menghasilkan
batubara blending yang memiliki
parameter kualitas yang sesuai
kriteria demand, hanya terdapat
satu pasangan blending yang
menghasilkan batubara blending
yang parameter kualitasnya tidak
sesuai dengan demand yaitu
pasangan blending grade C dengan
grade D. Hasil blending kedua
grade
tersebut
tidak
dapat
memenuhi demand dikarenakan
nilai parameter kualitas HGI hasil
blending memiliki nilai diluar batas
rejection.
CV Mitra Bumi Sejahtera
Berdasarkan permintaan CV Mitra
Bumi Sejahtera dibulan Oktober
2013 diketahui terdapat dua grade
batubara product yang tidak sesuai
dengan kriteria demand yang
memiliki
kemungkinan
untuk
dilakukan blending dan menjadi
grade batubara product utama
dalam campuran dimana grade
tersebut meliputi grade D dan grade
E. Dari kedua grade tersebut
diketahui keseluruhan kemungkinan
jumlah pasangan grade dalam
pencampuran
ada
sebanyak
sepuluh
kemungkinan,
yang
masing-masing
meliputi
lima
pasang untuk setiap grade (Tabel
9).

d.

Tabel 8. Simulasi Coal Blending PT


Lintas Bara Resource, Bulan
Oktober 2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
GCV
(ADB-%) (AR-Kcal/Kg)

TYPICAL

13

12

41

by difference

0.5

5900

REJECTION

> 15

NA

> 15

> 44

NA

>1

< 5700

0.90%

99.10%

36.68%

63.32%

53.38%

46.62%

14.75%

85.25%

70.35%

29.65%

80.95%

19.05%

19.74%

80.26%

69.34%

A New

30.66%

20.52%

B New

79.48%

11.06%

88.94%

53.36%

A New

46.64%

11.55%

B New

88.45%

C New

13.47%

86.53%

C New

58.87%

A New

41.13%

C New

14.04%

B New

85.96%

HGI
38 min
NA

10.46

6.94

13.00

42.13

37.93

0.43

5,985.62

38.96

11.41

4.93

14.30

43.17

37.59

0.42

5,900.00

38.55

12.63

5.64

13.28

43.15

37.93

0.54

5,900.00

40.59

10.45

6.64

13.14

42.47

37.76

0.44

5,999.66

38.63

10.71

4.70

15.00

43.83

36.48

0.43

5,947.16

37.72

11.10

4.93

14.83

43.88

36.37

0.49

5,942.61

38.50

10.62

6.45

14.08

42.08

37.40

0.41

5,900.00

39.32

11.37

4.91

14.29

42.57

38.23

0.39

5,900.00

40.11

12.17

5.39

13.13

40.70

40.79

0.37

5,900.00

38.53

Tabel 9. Simulasi Coal Blending CV


Mitra Bumi Sejahtera, Bulan
Oktober 2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)
TYPICAL

10.82

6.78

13.81

41.96

37.46

0.44

5,900.00

39.89

12.74

5.70

13.13

42.23

38.95

0.51

5,900.00

43.27

12.56

5.61

12.74

40.41

41.23

0.39

5,900.00

39.04

10.77

12.28

12.46

6.68

5.38

5.54

13.96

13.85

12.93

42.00

42.39

40.50

37.37

38.38

41.03

0.43

0.46

0.38

5,900.00

5,900.00

5,900.00

38.87

38.41

38.00

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan
PT
Lintas
Bara

REJECTION
D

79.11%

20.89%

56.19%

43.81%

52.80%

46.69%

73.98%

A New

26.02%

56.62%

B New

43.38%

58.88%

41.12%

31.50%

68.50%

38.32%

61.36%

64.08%

A New

35.92%

31.87%

B New

68.13%

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
GCV
(ADB-%) (AR-Kcal/Kg)

13

14

41

by difference

0.5

5750

> 15

NA

NA

>1

< 5550

HGI
40 min

> 16

> 43

11.36

4.70

16.00

42.67

36.63

0.39

5,757.84

39.43

NA

10.93

5.52

15.97

42.04

36.47

0.39

5,750.00

39.90

10.85

4.57

16.00

43.00

35.92

0.40

5,791.86

38.48

11.36

4.83

14.89

42.49

37.79

0.38

5,850.00

40.18

11.78

4.94

15.45

41.29

38.32

0.36

5,750.00

39.47

12.90

5.58

14.81

42.61

37.00

0.54

5,750.00

42.07

11.51

6.46

15.22

41.69

36.63

0.47

5,750.00

41.52

11.71

5.02

16.00

43.00

35.65

0.50

5,757.34

40.41

12.99

5.63

14.69

41.90

37.78

0.52

5,750.00

44.13

12.85

5.56

14.40

40.50

39.54

0.43

5,750.00

40.87

13

2.

a.

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan
CV
Mitra
Bumi
Sejahtera diketahui hanya ada lima
pasang grade yang mungkin dan
bisa diblending untuk memenuhi
kriteria demand CV Mitra Bumi
Sejahtera. Ke lima pasang grade
campuran yang bermasalah adalah
D - A, D - B, D - C, D - B New dan E
- C, dimana ke lima grade tersebut
tidak dapat memenuhi demand
dikarenakan nilai parameter kualitas
HGI hasil blending memiliki nilai
diluar batas rejection. Selain itu
khusus pada pasangan grade D
dan grade C nilai Ash dan Volatile
Matter hasil simulasi blending
memiliki nilai diluar batas rejection,
pada pasangan grade E dan grade
C nilai Ash juga memiliki nilai yang
diluar batas rejection.
Bulan November 2013, untuk
pengolahan data bulan November
2013 hasil yang didapat adalah
sebagai berikut:
PT Asia Pasific Mining Resource
Berdasarkan permintaan PT Asia
Pasific Mining Resource dibulan
November 2013 terdapat lima grade
batubara product yang tidak sesuai
dengan kriteria demand dimana
grade tersebut meliputi grade A,
grade C, grade D, grade E dan
grade C New. Dari kelima grade
tersebut
diketahui
keseluruhan
kemungkinan jumlah pasangan
grade dalam pencampuran ada
sebanyak tujuh belas kemungkinan,
yang meliputi empat untuk grade A
dan grade C dan tiga untuk grade
D, grade E dan grade C New (Tabel
10).

Tabel 10. Simulasi Coal Blending PT


Asia Pasific Mining Resource,
Bulan November 2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)
TYPICAL
REJECTION

b.

12.39%

87.61%

43.75%

56.25%

57.73%

42.27%

14.63%

B New

85.37%

41.67%

58.33%

91.49%

8.51%

94.53%

5.47%

36.09%

B New

63.91%

9.25%

90.75%

63.35%

A New

36.65%

6.62%

B New

93.38%

5.49%

94.51%

49.60%

A New

50.40%

3.88%

B New

96.12%

C New

6.65%

93.35%

C New

50.00%

A New

50.00%

C New

4.72%

B New

95.28%

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

HGI

14

13

42

by difference

0.5

5900

38 min

> 16

NA

> 16

> 45

NA

>1

< 5700

NA

11.43

6.99

13.70

42.74

36.57

0.44

6,000.00

38.45

12.35

5.16

15.34

43.22

36.27

0.43

5,900.00

38.20

13.34

5.74

13.56

43.32

37.39

0.54

5,900.00

39.84

13.18

5.66

13.13

41.31

39.90

0.39

6,000.00

38.36

11.40

6.24

14.84

43.22

35.70

0.45

5,985.04

38.00

11.61

4.96

15.90

44.11

35.03

0.46

6,000.00

36.97

11.71

5.02

15.73

44.14

35.11

0.47

6,000.00

37.17

12.69

5.38

14.44

42.00

38.18

0.41

5,971.15

38.13

11.41

6.89

14.92

42.38

35.82

0.42

5,900.00

39.19

12.41

5.15

15.30

42.68

36.88

0.39

5,900.00

40.27

13.28

5.53

14.27

40.77

39.44

0.37

5,900.00

39.13

11.50

7.03

14.67

42.36

35.94

0.44

5,900.00

39.44

13.58

5.82

13.19

42.58

38.41

0.51

5,900.00

42.97

13.40

5.59

14.07

40.70

39.63

0.38

5,900.00

39.31

11.47

6.99

14.89

42.39

35.73

0.43

5,900.00

38.87

13.06

5.67

14.41

42.95

36.98

0.46

5,959.81

38.00

13.36

5.57

14.23

40.74

39.45

0.37

5,900.00

38.91

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan PT Asia Pasific Mining
Resource
diketahui
hampir
keseluruhan simulasi menghasilkan
batubara blending yang memiliki
parameter kualitas yang sesuai
kriteria demand, terdapat dua
pasangan
blending
yang
menghasilkan batubara blending
yang parameter kualitasnya tidak
sesuai dengan demand yaitu
pasangan blending grade C dengan
grade D dan grade C dengan grade
E. Hasil blending kedua grade
tersebut tidak dapat memenuhi
demand
dikarenakan
nilai
parameter kualitas HGI hasil
blending memiliki nilai diluar batas
rejection.
PT JA Nusantara
Berdasarkan permintaan PT JA
Nusantara dibulan November 2013
terdapat lima grade batubara
product yang tidak sesuai dengan
kriteria demand dimana grade
tersebut meliputi grade A, grade C,
14

grade D, grade E dan grade C New.


Dari kelima grade tersebut diketahui
keseluruhan kemungkinan jumlah
pasangan
grade
dalam
pencampuran
ada
sebanyak
delapan belas kemungkinan, yang
meliputi empat untuk grade A, lima
untuk grade C dan tiga untuk grade
D, grade E dan grade C New (Tabel
11).

2013 diketahui terdapat dua grade


batubara product yang tidak sesuai
dengan kriteria demand yang
memiliki
kemungkinan
untuk
dilakukan blending dan menjadi
grade batubara product utama
dalam campuran dimana grade
tersebut meliputi grade D dan grade
E. Dari kedua grade tersebut
diketahui keseluruhan kemungkinan
jumlah pasangan grade dalam
pencampuran ada sebanyak empat
kemungkinan, yang masing-masing
meliputi dua pasang untuk setiap
grade (Tabel 12).

Tabel 11. Simulasi Coal Blending PT JA


Nusantara, Bulan November
2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)
TYPICAL
REJECTION

c.

12.39%

87.61%

54.63%

45.37%

65.90%

34.10%

30.68%

B New

69.32%

55.82%

44.18%

90.91%

9.09%

94.53%

5.47%

83.33%

A New

16.67%

60.50%

B New

39.50%

9.25%

90.75%

54.23%

A New

45.77%

6.62%

B New

93.38%

5.49%

94.51%

42.47%

A New

57.53%

3.88%

B New

96.12%

C New

6.65%

93.35%

C New

46.84%

A New

53.16%

C New

4.72%

B New

95.28%

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

HGI

13

14

42

by difference

0.6

6000

37 min

> 16

NA

NA

>1

> 16

> 45

< 5800

NA

11.43

6.99

13.70

42.74

36.57

0.44

6,000.00

38.45

12.34

5.32

14.11

43.56

37.01

0.45

6,000.00

37.50

13.13

5.79

12.67

43.63

37.90

0.54

6,000.00

38.83

13.01

5.73

12.34

42.00

39.93

0.42

6,078.40

37.65

Tabel 12. Simulasi Coal Blending CV


Mitra Bumi Sejahtera, Bulan
November 2013
CAMPURAN
BLENDING PERSENTASE
TM
DUA
BLENDING
PRODUCT
(AR-%)
TYPICAL

11.43

5.94

15.00

43.49

35.58

0.45

6,000.00

37.66

11.61

4.95

15.93

44.10

35.02

0.46

5,996.79

37.00

11.71

5.02

15.73

44.14

35.11

0.47

6,000.00

37.17

11.67

5.21

14.02

44.28

36.50

0.47

6,138.09

37.00

12.25

5.24

14.84

42.89

37.04

0.43

6,000.00

37.55

11.41

6.89

14.92

42.38

35.82

0.42

5,900.00

39.19

12.40

5.31

14.05

42.88

37.76

0.40

6,000.00

40.08

13.28

5.53

14.27

40.77

39.44

0.37

5,900.00

39.13

11.50

7.03

14.67

42.36

35.94

0.44

5,900.00

39.44

13.40

5.89

12.25

42.80

39.07

0.50

6,000.00

42.40

13.40

5.59

14.07

40.70

39.63

0.38

5,900.00

39.31

11.47

6.99

14.89

42.39

35.73

0.43

5,900.00

38.87

13.01

5.71

13.92

43.02

37.36

0.46

6,000.00

38.06

13.36

5.57

14.23

40.74

39.45

0.37

5,900.00

38.91

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan PT JA Nusantara
diketahui
keseluruhan
simulasi
menghasilkan batubara blending
yang memiliki parameter kualitas
yang sesuai kriteria demand. Akan
tetapi ada satu pasangan grade dari
simulasi yang menghasilkan nilai
kalori yang terlalu berlebih yaitu
grade C dengan grade A New.
CV Mitra Bumi Sejahtera
Berdasarkan permintaan CV Mitra
Bumi Sejahtera dibulan November

REJECTION
D

34.49%

65.51%

50.50%

A New

49.50%

25.92%

74.08%

35.33%

A New

64.67%

KUALITAS HASIL BLENDING


IM
Ash
VM
(ADB-%) (ADB-%) (ADB-%)

FC
(ADB-%)

TS
(ADB-%)

GCV
(AR-Kcal/Kg)

HGI

12

12

44

by difference

0.5

6100

40 min

> 15

NA

NA

>1

> 14

> 46

< 5900

NA

12.32

5.49

12.88

43.89

37.74

0.47

6,100.00

36.81

12.40

5.38

13.54

42.96

38.12

0.41

6,040.98

40.01

12.92

5.84

11.78

43.95

38.42

0.54

6,100.00

37.81

13.23

5.95

11.30

43.01

39.73

0.50

6,100.00

41.83

Dari hasil pensimulasian terhadap


grade batubara product yang tidak
sesuai kriteria demand dalam upaya
blending
untuk
memenuhi
permintaan
CV
Mitra
Bumi
Sejahtera diketahui hanya ada dua
pasang grade yang mungkin dan
bisa diblending untuk memenuhi
kriteria demand CV Mitra Bumi
Sejahtera. Ke dua pasang grade
campuran yang bermasalah adalah
D - A dan E - A, dimana ke dua
grade
tersebut
tidak
dapat
memenuhi demand dikarenakan
nilai parameter kualitas HGI hasil
blending memiliki nilai diluar batas
rejection.
Penentuan Pasangan Grade Batubara
dalam Coal Blending
Berdasarkan hasil pengolahan
data dapat dibuat sebuah acuan atau
ketentuan yang perlu diperhatikan
dalam penentuan pasangan grade
batubara dalam coal blending agar
parameter kualitas hasil blending sesuai
15

dengan kriteria demand. Adapun


ketentuan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Pencampuran suatu grade yang
memiliki
parameter
yang
bermasalah karena memiliki nilai
yang lebih rendah hanya dapat
dipasangkan dengan grade lain
dengan parameter serupa yang
lebih tinggi nilai parameternya,
begitu juga sebaliknya.
2. Grade dengan nilai parameter yang
berada
pada
batas
rejection
minimum hanya dapat dipasangkan
dengan grade yang memiliki
parameter serupa dengan nilai yang
lebih tinggi, begitu juga sebaliknya.
Diharapkan dengan mengetahui
ketentuan yang seperti disebutkan di
atas perusahaan dapat menentukan
strategi dan target produksi atau hauling
batubara yang baik sehingga dapat
menghindari terjadinya reject terhadap
batubara yang diblending.
Penanganan
Pasangan
Grade
Batubara dengan Nilai Parameter
yang Tidak Sesuai dengan Kriteria
Demand Walau Sudah dilakukan
Blending
Berdasarkan data penelitian
yang didapatkan dan dari hasil
pengolahan data, diketahui bahwa
masih ada hasil simulasi blending yang
memiliki nilai parameter yang tidak
sesuai dengan kriteria demand terutama
pada nilai parameter kulitas HGI.
Keadaan ini tentunya bukan hal yang
baik karena batubara hasil blending
tersebut memiliki potensi direject oleh
pihak pembeli. Menyikapi hal ini maka
perusahaan direkomendasikan untuk
memikirkan
kemungkinan
untuk
melakukan blending ke dua (secondary
blending). Secondary blending yang
dilakukan nantinya dapat mengikuti cara
atau prosedur pengolahan data pada
penelitian ini untuk simulasi penentuan
komposisinya. Akan tetapi ada yang
perlu diperhatikan dalam melakukan
secondary blending, secondary blending
perlu memperhatikan tujuan atau target

yang ingin dicapai dari pencampuran


tersebut.
Direkomendasikan
dalam
melakukan
secondary
blending,
batubara hasil campuran sebelumnya
agar dapat pasangkan dengan batubara
hasil campuran dengan grade utama
yang sama yang memiliki nilai
parameter serupa dengan nilai yang
lebih baik. Sebagai contoh adalah hasil
simulasi bulan Oktober 2013 untuk
permintaan PT JA Nusantara, dimana
diketahui dari hasil simulasi pasangan
grade A - C New memiliki nilai HGI yang
bermasalah karena memiliki nilai
dibawah kriteria. Keadaan ini dapat
disikapi dengan melakukan blending
kembali
dengan
memasangkannya
dengan pasangan hasil blending grade
A - E, karena pasangan grade A - E
memilki nilai HGI yang lebih besar dan
nilai parameter yang lain masuk dalam
rank demand serta relatif sama dengan
pasangan grade A - C New sehingga
perubahan nilai parameter lain dari hasil
secondary blending relatif aman. Selain
itu disatu sisi pemanfaatan grade A lebih
besar persentasenya untuk memenuhi
kriteria demand tersebut.
Analisa Faktor yang Mempengaruhi
Terjadinya Kesalahan Hasil Blending
Adapun faktor yang berpotensi
menyebabkan kesalahan dalam hasil
simulasi blending yang teramati selama
masa
penelitian
adalah
proses
pengambilan sampel. Dari pengamatan
pada proses pengambilan sampel
terutama pengambilan sampel pre
shipment diketahui bahwa hasil analisa
sampel
tersebut
belum
dapat
menggambarkan
keadaan
kualitas
tumpukan batubara yang hendak
diketahui
kualitasnya,
hal
ini
dikarenakan pengambilan sampel hanya
dilakukan pada permukaan tumpukan
batubara sedangkan bagian tumpukan
batubara yang berada dibagian dalam
tidak terambil. Bagian luar tumpukan
tentunya akan relatif lebih kering
dibandingkan dengan bagian dalam,
karena bagian luar selalu terpapar udara
bebas. Keadaan ini akan menyebabkan
16

adanya perbedaan nilai TM sehingga


dapat menyebabkan kesalahan hasil
simulasi blending.
Keadaan ini dapat diselesaikan
dengan mensiasati proses pengambilan
sampel pada belt conveyor untuk
analisa parameter kualitas general
(General
Analysis) setiap
barge.
Dengan cara pengisian berlapis (areal
stockpiling) pada setiap barge dan
setiap lapisan mewakili satu grade.
Selanjutnya jumlah lot (kumpulan
sampel) yang akan diambil dari belt
conveyor disesuaikan dengan jumlah
grade yang dimasukan ke dalam barge,
dengan demikian hasil analisa general
dari setiap lot akan menggambarkan
nilai parameter kualitas setiap grade
batubara dan rata-rata keseluruhan lot
akan menggambarkan nilai parameter
kualitas batubara disetiap barge. Cara
ini lebih efisien karena tidak lagi perlu
dilakukan pengambilan sampel pre
shipment setiap bulannya dan nilai
parameter kualitas batubara akan lebih
update karena pada setiap pengiriman
batubara kualitas setiap grade selalu
terkontrol.
PENUTUP
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil
penelitian ini antara lain:
1. Grade
batubara
yang
nilai
parameter kualitasnya tidak berada
dalam rank kontrak:
a. Bulan Oktober 2013
Untuk permintaan PT JA Nusantara,
PT Asia Pasific Mining Resource
dan PT Lintas Bara Resource grade
batubara yang bermasalah adalah
grade A, grade C, grade D, grade E
dan grade C New. Sedangkan
permintaan
CV
Mitra
Bumi
Sejahtera grade batubara yang
bermasalah adalah grade D dan
grade E.
b. Bulan November 2013
Untuk permintaan PT Asia Pasific
Mining Resource dan PT JA
Nusantara grade batubara yang
bermasalah adalah grade A, grade
C, grade D, grade E dan grade C

2.
a.

b.

New. Sedangkan permintaan CV


Mitra
Bumi
Sejahtera
grade
batubara yang bermasalah adalah
grade D dan grade E
Solusi agar grade batubara yang
nilai parameter kualitasnya tidak
berada dalam rank kontrak dapat
dimanfaatkan
adalah
dengan
melakukan pencampuran batubara
(coal blending) dimana kontrol
terhadap parameter kualitas hasil
blending harus dijadikan fokus
utama. Bila nantinya hasil blending
masih memiliki parmeter kualitas
yang bermasalah maka dapat
dilakukan secondary blending.
Adapun acuan atau ketentuan yang
perlu diperhatikan dalam proses
coal blending meliputi:
Pencampuran suatu grade yang
memiliki
parameter
yang
bermasalah karena memiliki nilai
yang lebih rendah hanya dapat
dipasangkan dengan grade lain
dengan parameter serupa yang
lebih tinggi nilai parameternya,
begitu juga sebaliknya.
Grade dengan nilai parameter yang
berada
pada
batas
rejection
minimum hanya dapat dipasangkan
dengan grade yang memiliki
parameter serupa dengan nilai yang
lebih tinggi, begitu juga sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2005.
Training
Kualitas
Batubara
dan
Stockpile
Management, PT Geoservice,
Yogyakarta, 2005.
Anonim, 2008. Draft Diktat Kuliah
Batubara, Universitas Lambung
Mangkurat,
23
Juli
2008,
Banjarbaru.
Anonim, 2013. Riset Operasi.
Muchjidin, 2006. Pengendalian Mutu
dalam Industri Batubara, Institut
Teknologi Bandung, Bandung.
Sitohang,
D.J.,
2013.
Evaluasi
Pencapaian
Target
Barging
Batubara
di
PT.
Kadya

17

Carakamulia,
Kecamatan
Simpang Empat, Kabupaten
Banjar,
Provinsi
Kalimantan
Selatan, Laporan Tugas Akhir,
Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.
Sukandarrumidi, 1995. Batubara dan
Gambut,
Fakultas
Teknik
Universitas
Gadjah
Mada,
Yogyakarta.

18