Anda di halaman 1dari 16

HIDROLISIS PATI ENZIMATIS

Ina Rahmawati, 230110130140

ABSTRAK

Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, pada sebagin besar organ tubuh utama, seperti otak, lensa mata dan sel saraf, sumber energi yang dibutuhkan adalah glukosa dan tidak dapat digantikan oleh sumber energi lainnya. Hidrolisis pati enzimatis merupakan pemecahan molekul pati atau amilum menjadi bagian-bagian penyusun yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa dan glukosa dengan menggunakan enzim sebagai katalisator. Pada praktikum ini, dilakukan hidrolisis pati menggunakan enzim amilase dengan sampel berupa tepung terigu, tepung aci, tepung maizena dan beras. Tujuan dari praktikum ini yaitu melakukan hidrolisis berbagai macam pati secara enzimatis dan membuktikan bahwa pati sebagai polisakarida merupakan monomer 1,4 -glukosa. Metode yang digunakan pada praktikum ini yaitu mengetahui kadar glukosa yang terlarut pada beberapa sampel dengan memberikan beberapa tahapan perlakuan, mulai dari pengenceran, pemanasan, penambahan larutan iodin, inkubasi serta mengetahui nilai absorban sampel dengan menggunakan spektrofotometer, nilai yang didapatkan pada spektrofotometer menunjukkan konsentrasi glukosa yang terdapat pada sampel. Kata Kunci : hidrolisis enzimatis, pati, enzim α-amilase, glukosa, absorban,

spektrofotometer

PENDAHULUAN

Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, pada sebagin besar organ

tubuh utama, seperti otak, lensa mata dan sel saraf, sumber energi yang dibutuhkan adalah

glukosa dan tidak dapat digantikan oleh sumber energi lainnya. Karbohidrat merupakan

senyawa yang mengandung gugus fungsi keton atau aldehid, dan gugus hidroksi.

Karbohidratberfungsi sebagai penyedia energi yang utama selain protein dan lemak. Amilum,

selulosa, glikogen dan glukosa merupakan beberapa senyawa karbohidrat yang penting dalam

kehidupan manusia. Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen, dan

oksigen (Mc Glivery & Goldstein,1996).

Struktur karbohidrat terdiri atas molekul karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O).

Contohnya adalah glukosa (C 6 H 12 O 6 ), sukrosa atau gula tebu (C 12 H 22 O 11 ), dan selulosa

((C 6 H 10 O 5 ) n ), dari ketiga contoh tersebut maka karbohidrat mempunyai rumus umun

C n (H 2 O) n , Rumus molekul glukosa misalnya, dapat dinyatakan sebagai (C 6 H 12 O 6 ). Oleh

karena komposisi demikian, kelompok senyawa ini pernah disebut sebagai hidrat karbon

sehingga diberi nama karbohidrat. Akan tetapi, sejak tahun 1880, disadari bahwa senyawa

tersebut bukanlah hidrat dari karbon. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida yang artinya gula. Karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Berdasarkan gugus fungsinya, karbohidrat merupakan suatu polihidroksialdehida atau polihidroksiketon atau senyawa yang pada hidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Lihat beberapa struktur karbohidrat pada Gambar 1. Semuanya mempunyai gugus aldehida (--- CHO) atau gugus keton (---CO) dan beberapa gugus hidroksil. Glukosa mengandung satu gugus aldehida dan 5 gugus hidroksil, sedangkan fruktosa mengandung satu gugus keton dan 5 gugus hidroksil. Glukosa merupakan suatu aldoheksosa, disebut juga dekstrosa karena memutar bidang polarisasi ke kanan. Glukosa merupakan komponen utama gula darah, menyusun 0,065- 0,11% darah kita. Glukosa dapat terbentuk dari hidrolisis pati, glikogen, dan maltosa. Glukosa sangat penting bagi kita karena sel tubuh kita menggunakannya langsung untuk menghasilkan energi. Glukosa dapat dioksidasi oleh zat pengoksidasi lembut seperti pereaksi Tollens sehingga sering disebut sebagai gula pereduksi.

Tollens sehingga sering disebut sebagai gula pereduksi. D-glukosa β -D-glukosa α -D-glukosa Polisakarida adalah

D-glukosa

sehingga sering disebut sebagai gula pereduksi. D-glukosa β -D-glukosa α -D-glukosa Polisakarida adalah polimer

β-D-glukosa

disebut sebagai gula pereduksi. D-glukosa β -D-glukosa α -D-glukosa Polisakarida adalah polimer dengan beberapa

α-D-glukosa

Polisakarida adalah polimer dengan beberapa ratus hingga ribuan monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Polisakarida dibedakan menjadi dua jenis yaitu polisakarida simpanan yang berfungsi sebagai materi cadangan yang ketika dibutuhkan akan dihidrolisis untuk memenuhi permintaan gula bagi sel. Pati atau amilum adalah karbohidrat kompeks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati tersusun dari dua macamkarbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda (wikipedia,2014). Enzim merupakan senyawa protein kompleks yang dihasilkan oleh sel-sel organisme dan berfungsi sebagai katalisator suatu reaksi kimia (Harwati dkk,1997). Kerja enzim sangat spesifik, karena strukturnya hanya dapat mengkatalisis satu tipe reaksi kimia saja dari suatu substrat, seperti hidrolisis, oksidasi dan reduksi. Ukuran partikel mempengaruhi laju

hidrolisis (Saraswati, 2006). Enzim α-amilase adalah salah satu enzim yang berperan dalam proses degradasi pati, sejenis makromolekul karobohidrat. Struktur molekul dari enzim ini adalah α-1,4-glukanohidrolase. Bersama dengan enzim pendegradasi pati lain, pululanase, α- amilase, termasuk ke dalam golongan enzim kelas 13 glikosil hidrolase (E.C.3.2.1.1). α- amilase ini memiliki beberapa sisi aktif yang dapat mengikat 4 hingga 10 molekul substrat sekaligus. Hidrolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Hidrolisis pati enzimatis merupakan pemecahan molekul pati atau amilum menjadi bagian-bagian penyusun yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa dan glukosa dengan menggunakan enzim sebagai katalisator (Rindit et al,1998). Proses hidrolisis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu enzim, ukuran partikel, temperatur, pH, waktu hidrolisis, serta perbandingan cairan terhadap volume substrat dan pengadukan.

METODOLOGI Waktu dan Tempat Praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis dilaksanakan pada tanggal 7 November 2014 Pukul 13.00 WIB-selesai bertempat di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (TPHP) Gedung 4 Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada Praktikum Hidrolisis Pati Enzimatis yaitu : Gelas ukur berfungsi untuk mengukur volume larutan, gelas kimia berfungsi untuk melarutkan sampel, spatula berfungsi untuk mengaduk larutan sampel, hot plate berfungsi untuk memanaskan atau menghomogenkan larutan, tabung reaksi berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan sampel, pipet tetes berfungsi untuk memindahkan larutan dalam skala kecil, inkubator berfungsi sebagai alat untuk menginkubasi atau menyimpan sampel pada suhu tertentu, spektrofotometer berfungsi sebagai alat untuk mengukur nilai absorbansi sampel. Adapun bahan yang digunakan yaitu : tepung beras, tepung maizena, tepung aci, tepung terigu berfungsi sebagai sampel yang akan diuji, glukosa berfungsi untuk pembuatan larutan standar, aqudes berfungsi sebagai pengencer, enzim amilase berfungsi sebagai enzim yang akan membantu menghidrolisis tepung, reagen iodin berfungsi untuk membentuk persenyawaan kompleks yang berwarna agar dapat terukur pada spektrofotometer.

Prosedur Praktikum

Penyiapan Larutan Pati 0,2 %
Penyiapan Larutan Pati 0,2 %
Timbang pati terlarut (aci) 0,2 gram Masukan kedalam gelas kimia lalu tambahkan 10 ml akuades
Timbang pati terlarut (aci) 0,2 gram
Masukan kedalam gelas kimia lalu
tambahkan 10 ml akuades
Panaskan hingga mendidih selama 15 menit
lalu dinginkan
Pisahkan larutan pati 4 ml untuk tabung 1
dan 2
Tambahkan larutan iodin
tabung 1 dan 2
2 tetes untuk
Tambahkan enzim amilase 6 tetes untuk tabung 1 10 tetes untuk tabung 2 Inkubasi dalam
Tambahkan enzim amilase
6 tetes untuk tabung 1
10 tetes untuk tabung 2
Inkubasi dalam oven selama 10 menit

Panaskan dalam air mendidih selama 5 menit

Hitung nilai absorbansi tepung aci dengan spektrofotometer
Hitung nilai absorbansi tepung aci dengan
spektrofotometer

HASIL DAN PENGAMATAN

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kelompok

   

Enzim

       

Sampel

Penambah

yang

Penambah

Setelah

Setelah

 

Absorban-

an Iodin

ditamba

an Enzim

Inkubasi

Pemanasan

 

si

 

hkan

 
 

Warna

 

Warna

hitam

 

Larutan

Larutan

   

hitam

kuning

kuning

kehijauan,

terdapat

kehijauan,

kehijauan,

6 Tetes

kehijauan,

ada endapan

ada endapan

1.00 abs

terdapat

hitam yang

hitam yang

Tepung

endapan

endapan

lebih banyak

lebih banyak

Aci

putih

putih

 

dari endapan

dari endapan

putih

 

putih

4 mL

Warna

 

Warna

Larutan

Larutan

   

hitam

kuning

kuning

hitam

kehijauan,

10 Tetes

kehijauan,

kehijauan,

ada endapan

kehijauan,

ada endapan

0.525 abs

terdapat

terdapat

putih yang

putih yang

 

endapan

endapan

lebih banyak

lebih banyak

putih

putih

dari endapan

dari endapan

hitam

 

hitam

 

Tabel 2. Data Standar Glukosa

 
 

X

 

Y

     

No

(Konsentrasi

(Absorbansi)

 

X.Y

 

X

2

 

Y

2

Glukosa)

     

1

0.4

0.03

 

0.012

 

0.16

 

0.0009

2

0.3

0.026

 

0.0078

 

0.09

 

0.000676

3

0.2

0.013

 

0.0026

 

0.04

 

0.000169

Ʃ

0.9

0.069

 

0.0224

 

0.29

 

0.001745

Untuk mendapatkan garis fungsi Y=aX+b, maka digunakan persamaan sebagai berikut:

 

a =

a=

a=

a=

a= -0.0025

dan untuk mencari b yaitu:

b =

b=

b=

b=

b=0.085

dari hasil perhitungan diatas kita dapatkan persamaan

Y = 0.085 x -0.0025

Dari Persamaan Y = 0.085 x -0.0025 Kurva Standar Glukosa dapat digambarkan sebagai berikut :

Kurva Standar Glukosa

0.035 y = 0.085x - 0.0025 0.03 R² = 0.9146 0.025 0.02 0.015 0.01 0.005
0.035
y = 0.085x - 0.0025
0.03
R² = 0.9146
0.025
0.02
0.015
0.01
0.005
0
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
Absorbansi

Konsentrasi

Absorbansi Linear (Absorbansi)
Absorbansi
Linear (Absorbansi)

Gambar 1. Grafik Fungsi Standar Glukosa

Untuk menentukan nilai R 2 berikut:

atau nilai koefisien korelasi maka menggunakan persamaan

R

R

R

R

R

 

=

=

=

 

=

=

R = 0.914

Nilai dari koefisien korelasi standar glukosa:

0,00 - 0,199 = sangat rendah

0,20

-

0,399

= rendah

0,40

-

0,599

= sedang

0,60

-

0,799

= kuat

0,80

-

1,000

= sangat kuat

Dari perhitungan diatas, Nilai dari koefisien korelasi standar glukosa yang didapat yaitu sangat kuat dengan nilai dari koefisien korelasinya sebesar 0.914, sehingga dapat disimpulkan bahwa standar glukosa ini sangat kuat. Untuk mengetahui konsentrasi larutan glukosa yang digunakan maka dapat pula digunakan dengan persamaan sebagai berikut:

Absorbansi larutan aci 4 mL yang ditetesi enzim amilase 10 tetes

1,00 = - 0,0025+0,085 X

1,00+0,0025 = 0,085 X

1,0025 = 0,085 X

X=

11,7

Absorbansi larutan aci yang ditetesi enzim amilase 6 tetes

0,525 = - 0,0025 + 0,085 X

0,525+ 0,0025 = 0,085 X

0,5275 =0,085 X

X=

X= 6,2 Maka konsentrasi glukosa dalam aci tersebut adalah 11,79 gr/mL dan 6,2 gr/mL.

Tabel 3. Hasil Perhitungan Glukosa 1 lab.

Kelompok

Sampel

Konsentrasi Glukosa (mg/L)

6 Tetes

10 Tetes

1

Terigu 4 mL

15.2

14.2

2

Terigu 5 mL

18.8

16.2

3

Aci 4 mL

11.7

6.2

4

Aci 5 mL

1.47

14.7

5

Maizena 4 mL

4.7

4.5

6

Maizena 5 mL

17.9

18.9

7

Beras 4 mL

10.45

8.78

8

Beras 5 mL

16.4

2.17

PEMBAHASAN Pada praktikum ini, dilakukan hidrolisis pati menggunakan enzim amilase dengan sampel berupa tepung terigu, tepung aci, tepung maizena dan beras. Tujuan dari praktikum ini yaitu melakukan hidrolisis berbagai macam pati secara enzimatis dan membuktikan bahwa pati sebagai polisakarida merupakan monomer 1,4 -glukosa. Dari tabel 1. Diatas dapat diketahui bahwa dengan adanya beberapa tahapan dalam perlakuan didapatkan hasil yang berbeda pula. Hidrolisis pati enzimatis dilakukan dengan beberapa jenis sampel. Sampel yang didapatkan oleh kelompok 3 yaitu sampel tepung aci 0,2 mg. Langkah awal yang dilakukan yaitu melarutkan aci dengan aquades sebanyak 10 mL kemudian diaduk menggunakan spatula. Setelah itu larutan aci yang sudah dilarutkan dibagi menjadi 2 wadah yaitu tabung 1 dan 2 dengan volume masing-masing wadah 4 mL. Kemudian dipanaskan diatas hot plate dengan tujuan agar aci dapat benar-benar homogen, Pada awal sebelum dan

sesudah pemanasan larutan aci berwarna putih, larutan aci kemudian ditambah larutan iodin

2 mL, warna larutan menjadi menjadi hitam kehijauan serta terdapat endapan putih pada

bagian bawah larutan hal ini menujukan bahwa pati sudah mulai bereaksi dengan larutan iodin tersebut. Larutan kemudian ditambah dengan enzim amilase dengan volume tabung 1 sebanyak 6 tetes (0,3 mL) dan tabung 2 sebanyak 10 tetes (0,5mL) hal ini bertujuan untuk menguji aktivitas enzim yang terkandung dalam pati. Setelah ditambahkan larutan iodin, larutan aci diinkubasi dalam inkubator selama 10 menit pada suhu 55 o C, inkubasi berfungsi untuk memberikan suhu optimum pada enzim untuk bekerja. Setelah diinkubasi didapatkan tabung 1 terdapat endapan hitam dan endapan putih, dimana konsentrasi endapan hitam lebih banyak dari endapan putih, warna larutan menjadi kuning kehijauan. Tabung 2 terdapat endapan putih dan hitam dimana konsentrasi endapan putih lebih banyak dari endapan hitam, warna larutan menjadi kuning. Seperti yang kita ketahui hidrolisis merupakan proses penguraian atau pemecahan suatu senyawa yang menghasilkan air dan CO 2 . Namun pada proses ini terjadi proses hidrolisis enzimatis yaitu proses pemecahan atau penguraian polimer menjadi monomer dengan bantuan enzim dengan penambahan biokatalisator lain berupa larutan asam. Pada dasarnya senyawa pati terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua- duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin. Warna biru yang ditimbulkan tersebut disebabkan oleh molekul amilosa yang membentuk senyawa. Sedangkan amilopektin jika ditambahkan dengan iodin akan memberikan warna ungu atau merah lembayung. Proses hidrolisis ini ditandai dengan perubahan warna dari biru menjadi coklat keruh. Setelah diinkubasi larutan didinginkan kemudian dilakukan pemanasan kembali selama

5 menit. Proses pemanasan ini bertujuan agar pati dapat terhidrolisis secara total. Setelah itu larutan dimasukan kedalam kuvet unuk diuji seberapa besar nilai absorbansi larutan aci tersebut dan dimasukan kedalam spektrofotometer. Hasil yang didapatkan tabung 1 nilai absorbannya 1.00 abs sedangkan tabung 2 nilai absorbannya 0.525 abs. Dari hasil nilai absorbansi tersebut dapat dikatakan bahwa hasilnya positif, dimana proses hidrolisis tersebut berjalan secara sempurna. Proses hidrolisis pati secara sempurna akan menghasilkan glukosa dengan nilai absorbansi dibawah 1 sesuai dengan Hukum Lambert Bila suatu sumber sinar monokromatik melewati medium transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorpsi.” Hal-hal yang dapat menyebabkan proses hidrolisis tidak atau kurang berjalan secara sempurna diantaranya yaitu: Pada saat menghomogenkan larutan, larutan tidak diaduk sehingga ada pati yang menggumpal atau mengendap, Pada saat penambahan larutan iodin,

terlalu banyak atau lebih dari 2 tetes, sehingga warna biru lebih kuat dan hidrolisis tidak berjalan secara total. Sehingga pada saat proses pemanasan dan inkubasi larutan tidak terhidrolisis dan tidak menghasilkan warna coklat transparan pada larutan pati tesebut. Hidrolisis pati positif akan menghasilkan warna coklat transparan pada larutan tersebut. Serta kurangnya waktu untuk proses pemanasan dan waktu untuk proses inkubasi. Bila dibandingkan dengan sampel yang sama yaitu kelompok 4 dengan sampel aci 5 mL, kelompok 4 mendapatkan nilai absorbansi tabung 1 (6 tetes amilase) 1.25 abs, tabung 2 (10 tetes amilase) 0.15 abs. Nilai absorbansi pada kelompok 4 dikatakan negatif hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pemanasan pada saat melarutkan tepung yang kurang baik. Waktu pemanasannya terlalu singkat sehingga tepung maizena tidak terlarut sempurna. Pembuatan kurva standar glukosa ditujukan untuk memberikan informasi mengenai koefisien korelasi. Koefisien korelasi yang dilambangkan dengan R 2 merupakan nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua variabel. Untuk hasil perhitungan didapatkan nilai koefisien korelasi 0,914 yang menunjukkan hubungan antara variable X (konsentrasi) dan Y (absorbansi) memiliki hubungan yang sangat kuat. Dengan nilai yang positif menandakan bahwa seiring penambahan konsentrasi glukosa bertambah pula absorbansinya. Untuk menghitung konsentrasi glukosa, yaitu dengan memasukkan nilai absorbansi pati yang telah dihitung kedalam persamaan Y= -0.0025 + 0.085 X , sehingga di dapatkan nilai X yang merupakan komsentrasi glukosa yang terkandung pada sampel. Pada kelompok 3 nilai konsentrasi glukosa yaitu 11.7 gr/mL untuk penambahan amilase 6 tetes dan 6.2 gr/mL untuk penambahn amilase 10 tetes. Berdasarkan data hasil kelompok nilai konsentrasi glukosa pada berbagai sampel menunjukkan nilai yang berbeda-beda. Untuk konsentrasi glukosa pada kelompok 1 dengan sampel tepung terigu 4 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 15.2 gr/mL ( amilase 6 tetes ) dan 14.2 (amilase 10 tetes), kelompok 2 dengan sampel tepung terigu 5 mL dan mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 18.8 gr/mL ( amilase 6 tetes) dan 16.2 gr/L (amilase 10 tetes), kelompok 3 dengan sampel tepung aci 4 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 11.7 gr/mL (amilase 6 tetes) dan 6.2 gr/mL (amilase 10 tetes), kelompok 4 dengan sampel tepung aci 5 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 1.47 gr/mL (amilase 6 tetes) dan 14.7 gr/mL (amilase 10 tetes), kelompok 5 dengan sampel tepung maizena 4 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 4.7 gr/mL (amilase 6 tetes) dan 4.5 gr/mL ( amilase 10 tetes), kelompok 6 dengan sampel tepung maizena mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 17.9 gr/mL ( amilase 6 tetes) dan 8.78 (amilase 10 tetes),kelompok 7 dengan sampel tepung beras

4 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 10.45 (amilase 6 tetes) dan 8.78 gr/mL ( amilase 10 tetes). Sedangkan kelompok 8 dengan sampel tepung beras 5 mL mendapatkan nilai konsentrasi glukosa 16.4 gr/mL (amilase 6 tetes) dan 2.17 gr/mL ( amilase 10 tetes). Dari hasil keseluruhan data diatas dapat diketahui bahwa nilai konsentrasi glukosa yang paling tinggi yaitu pada sampel tepung terigu 4 mL dan tepung terigu 5 mL.

KESIMPULAN Pati atau amilum adalah karbohidrat kompeks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Pada dapat dihidrolisis yaitu proses dekomposisi kimia dengan menggunakan air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Hidrolisis pati enzimatis merupakan pemecahan molekul pati atau amilum menjadi bagian-bagian penyusun yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa dan glukosa dengan menggunakan enzim sebagai katalisator, enzim yang berperan dalam hidrolisis pati yaitu enzim amilase yang mana enzim ini adalah salah satu enzim yang berperan dalam proses degradasi pati, sejenis makromolekul karobohidrat. Dari hasil praktikum yang sudah dilakukan dapat diketahui bahwa jenis-jenis pati mengandung konsentrasi glukosa yang berbeda-beda, nilai konsentrasi glukosa yang paling tinggi yaitu pada sampel tepung terigu 4 mL dan tepung terigu 5 mL.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Hidrolisis Karbohidrat. Duniainikecil.wordpress.com diakses pada 14 November 2014 Pukul 21.24 WIB Anonim. 2011. Makalah Enzim Amilase, Sectoranalyst.blogspot.com diakses pada 14 November 2014 Pukul 0.18 WIB Anonim. 2013. Hidrolisis. Februadi.com/hidrolisis.com diakses pada 14 November 2014 Pukul 21.38 WIB

LAMPIRAN

Tabel Hasil Pengamatan Lab.

Kel

Sampel

Banyak

 

Iodin

Enzim amilase

Inkubasi

Pemanasan

Absorbansi

sampel

pemanasan

(2 tetes)

6 tetes

10 tetes

6 tetes

10 tetes

6 tetes

10 tetes

                 

Larutan

   

1

Terigu

4

mL

putih

Merah

pekat

Tidak ada

perubahan/

Merah

pekat

Tidak ada

perubahan/

Merah

pekat

Larutan

hijau pekat

ada

endapan

hitam

Larutan

hijau pekat

ada

endapan

hitam

hijau

transparan,

endapan

menjadi

melebur

Larutan hijau

transparan,

endapan

menjadi

melebur

6

tetes:

1,291 Abs

10

tetes:

1,211 Abs

                 

Larutan

   

putih, ada

Larutan

2

Terigu

5

mL

putih

Hitam

kecoklatan

Tidak ada

perubahan/

Hitam

kecoklatan

Tidak ada

perubahan/

Hitam

kecoklatan

Larutan

berwarna

coklat

pekat

Larutan

berwarna

bening,ada

endapan

endapan

hitam

dilapisan

atasnya

putih, ada

endapan

hitam diatas

permukaan

6

tetes:

1,60 Abs

10

1,381 Abs

tetes :

 

hitam

terdapat

terdapat

endapan

larutan hitam

putih

             

Larutan

Larutan

Larutan

   

3

Aci

4

mL

putih

Hitam

kehijauan

Tidak ada

perubahan/

Hitam

kehijauan,

ada

endapan

putih

Tidak ada

perubahan/

Hitam

kehijauan,

ada

endapan

putih

kuning

kehijauan,

ada

endapan

hitam

yang lebih

banyak

dari

kuning

kehijauan,

ada

endapan

putih yang

lebih

banyak

dari

kuning

kehijauan,

ada

endapan

hitam yang

lebih

banyak

dari

Larutan

kuning

kehijauan,

ada endapan

putih yang

lebih banyak

dari endapan

hitam

6

tetes:

1,00 Abs

10

0,525 Abs

tetes :

           

endapan

endapan

endapan

   

putih

hitam

putih

               

Larutan

   

Terdapat

hijau,

Tidak ada

Tidak ada

dua

terdapat

6

tetes:

Aci

4 5

mL

putih

Hitam

Kehijauan

perubahan/

Hitam

kehijauan

perubahan/

Hitam

kehijauan

lapisan

cokelat

dan hitam

Larutan

berwarna

hijau

dua lapisan

cokelat di

atas dan

Larutan

berwarna

kuning

1,25 Abs

10

tetes:

0,15 Abs

di bawah

hitam di

bawah

           

Larutan

       

5 Maizena

4

mL

putih

Biru gelap

terdapat

endapan

hitam

Larutan

biru

kuning,

terdapat

endapan

Larutan

biru

kuning,

terdapat

endapan

bening,

terdapat

endapan

yang lebih

banyak

Larutan

bening,

terdapat

endapan

yang

Larutan

keruh,

terdapat

endapan

dibgian

Larutan

keruh,

terdapat

endapan

dibgian

6

tetes:

0,388 Abs

10

tetes :

0,399 Abs

dari

sedikit

bawah

bawah

tabung 2

                   

6

tetes:

6 Maizena

5

mL

putih

Biru tua

Tidak ada

perubahan/

Biru tua

Tidak ada

perubahan/

Biru tua

Tidak ada

perubahan/

Biru tua

Tidak ada

perubahan/

Biru tua

Larutan

kuning

keorangean

Larutan

orange

kecoklatan

1,125 Abs

10

tetes:

1,606 Abs

                 

Larutan

Larutan

 

berwarna

berwarna

7

Tepung

beras

4 mL

putih

Ungu

kehitaman

Tidak ada

perubahan/

Ungu

kehitaman

Tidak ada

perubahan/

Ungu

kehitaman

Larutan

berwarna

coklat,

terdapat

endapan di

lapisan

bawah

Larutan

berwarna

coklat,

terdapat

endapan di

lapisan

bawah

coklat

muda,

terdapat

endapan di

lapisan

bawah,

terdapat

coklat muda,

terdapat

endapan di

lapisan

bawah,

terdapat

gumpalan-

6

tetes:

0,886 Abs

10

tetes :

0,794 Abs

gumpalan-

gumpalan

gumpalan

hitam

hitam

dibawah

               

Larutan

     

8

Tepung

beras

5 mL

putih

Hitam

pekat

Tidak ada

perubahan/

Hitam

pekat

Tidak ada

perubahan/

Hitam

pekat

Larutan

berwarna

merah teh,

terdapat

endapan

putih

berwarna

hijau

lumut,

terdapat

endapan

putih

diatas

endapan

hitam

Larutan

berwarna

merah teh,

terdapat

endapan

Larutan

berwarna

kuning

bening,

terdapat

endapan

putih diatas

endapan

hitam

6

tetes:

1,396 Abs

10

tetes :

0,182 Abs

Dokumentasi Praktikum

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Pemanasan

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Hasil Inkubasi

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Hasil Absorban

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Pemanasan Setelah diinkubasi

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Inkubasi

Dokumentasi Praktikum Pemanasan Hasil Inkubasi Hasil Absorban Pemanasan Setelah diinkubasi Inkubasi Penambahan Iodin 15

Penambahan Iodin