Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum Patologi Klinis

MENGHITUNG ERITROSIT

DISUSUN OLEH :
RAHMAT DARMAWAN (1204015336)
NINING RUMHAYANI (1204015301)
BOHIR ABDUL Q Z

(1204015072)

PUTRI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
JURUSAN FARMASI
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Salah satu fungsi darah di dalam tubuh adalah sebagai alat transportasi. Di
dalam tubuh darah berperan dalam transport oksigen, karbon dioksida, zat makanan ,
metabolit- metabolit yang tidak diperlukan, mengatur suhu tubuh normal,
mempertahankan keseimbangan asam basa, mengatur keseimbangan air, mengatasi
infeksi, transport hormon untuk metabolisme dan transport metabolit- metabolit antar
jaringan. Jumlah darah dalam tubuh sekitar 5 -7 % dari berat badan. Pada wanita
angka ini sedikit lebih rendah. Plasma terdiri dari 91 -92% adalah air dan sisanya
merupakabn zat- zat yang larut didalamnya berupa protein, enzim, hormon, vitamin,
lipid, asam amino, dsb. Plasma darah ini merupakan system transport yang melayani
semua sel melalui medium cairan ekstraselular.
Darah berwarna merah karena adanya sel-sel darah merah. Sel darah merah
berbentuk bulat gepeng yang kedua permukaannya cekung. Sel darah merah tidak
memiliki inti sel dan mengandung hemoglobin. Eritrosit merupakan bagian utama
dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita
sekitar 4 juta sel/cc darah. Berbentuk Bikonkaf, warna merah disebabkan oleh
Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah untuk mengikat Oksigen. Kadar 1 Hb inilah yang
dijadikan patokan dalain menentukan penyakit Anemia. Eritrosit berusia sekitar 120
hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa 4. Hemoglobin dirombak kemudian
dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu).
Fungsi utama dari sel-sel darah merah (eritrosit) adalah mengangkut Hb yang
seterusnya akan membawa oksigen yang berasak dari paru- paru ke jaringan. Sel
darah merah normal berbentuk pelat, cekung ganda dan berdiameter 8 mikron.
Konsentrasi pada pria lebih besar daripada wanita.

Menghitung sel-sel darah dari ketiga jenis sel darah leukosit, eritrosit, dan
trombosit dihitung jumlahnya persatuan volume darah. Upaya itu biasanya dilakukan
dengan menggunakan alat hitung elektronik. Pada dasarnya alat semacam itu yang
lazimnya dipakai bersama alat pengencer otomatik memberi hasil yang sangat teliti
dan tepat. Harga alat penghitung elektronik mahal dan mengharuskan pemakaian dan
pemeliharaan yang sangat cermat. Selain itu perlu ada upaya untuk menjamin
tepatnya alat itu bekerja dalam satu program jaminan mutu (quality control). Caracara menghitung sel darah secara manual dengan memakai pipet dan kamar hitung
tetap menjadi upaya dalam laboratorium (Gandasoebrata,R. 2007).

Tujuan Praktikum
Menghitung jumlah eritrosit secara manual
Membandingkan hasil literature dan hasil pengamatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Sel darah merah, eritrosit (en:red blood cell, RBC, erythrocyte) adalah jenis
sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan
tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Bagian dalam eritrosit terdiri
dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan
mengambil oksigen dari paru-paru dan insang, dan oksigen akan dilepaskan saat
eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri berasal
dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi. Pada manusia, sel
darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf.
Di dalam sel darah merah tidak terdapat nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama
120 hari sebelum akhirnya dihancurkan.
B. Struktur Eritrosit
Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak
mempunyai inti. Ukuran diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak.
Banyaknya kirakira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan,
karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen. Jumlah eritrosit
juga bervariasi, tergantung jenis kelamin , usia , dan ketinggian tempat tinggal
seseorang. Jumlah eritrosit pada laki-laki normal 5,1-5,8 juta per mililiter kubik darah
dan pada wanita normal 4,3-5,2 juta per mililiter kubik darah. Orang yang hidup di
dataran tinggi cenderung memiliki eritrosit yang lebih banyak. Eritrosit dapat
berkurang lebih banyak karena ada luka yang mengeluarkan darah banyak dan
penyakit anemia. Aktivitas seseorag akan berpengaruh pada peredaran darah sehingga
oksigen yang dilepas akan berbeda-beda untuk setiap orang (Marieb 2004; Solomon
at al. 2005).

Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paruparu untuk
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan
tubuh untuk dikeluarkan melalui paruparu. Pengikatan oksigen dan karbon dioksida
ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa dengan oksigen yang disebut
oksihemoglobin (Hb + oksigen 4 Hb-oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh
tubuh sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan dilepaskan:
Hb-oksigen Hb + oksigen, dan seterusnya. Hb tadi akan bersenyawa dengan karbon
dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin (Hb + karbon dioksida Hb-karbon
dioksida) yang mana karbon dioksida tersebut akan dikeluarkan di paru-paru.
A. Pembentukan Eritrosit
Sel darah merah (eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah, limpa
dan hati. Proses pembentukannya dalam sumsum tulang melalui beberapa tahap.
Mula-mula besar dan berisi nukleus dan tidak berisi hemoglobin kemudian dimuati
hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya dan siap diedarkan dalam sirkulasi
darah yang kemudian akan beredar di dalam tubuh selama kebih kurang 114 - 115
hari, setelah itu akan mati.
Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati akan terurai menjadi dua zat
yaitu hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk membuat eritrosit baru dan
hemoglobin yaitu suatu zat yang terdapat didalam eritrisit yang berguna untuk
mengikat oksigen dan karbon dioksida. Jumlah normal pada orang dewasa kira- kira
11,5 15 gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan laki-laki 13,0
mg%. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terdiri dari asam
amino dan memerlukan pula zat besi, sehingga diperlukan diit seimbang zat besi. Di
dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini bisa berkurang, demikian juga banyaknya
hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila kedua-duanya berkurang maka keadaan
ini disebut anemia, yang biasanya disebabkan oleh perdarahaan yang hebat, penyakit
yang melisis eritrosit, dan tempat pembuatan eritrosit terganggu.

Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoiesis. Pada beberapa minggu


kehidupan embrio di dalam kandungan, eritrosit dihasilkan dari kantong kuning telur.
Beberapa bulan kemudian, pembentukan eritrosit terjadi di hati, limfa, dan kelenjar
limfa. Setelah bayi lahir eritrosit di bentuk oleh sumsum tulang. Produksi eritrosit
distimulasi oleh hormon eritropoietin. Kira-kira di usia 20 tahun, sumsum bagian
proksimal tulang panjang sudah tidak lagi berproduksi. Sebagian besar eritrosit di
hasilkan dari sumsum tulang membranosa ( tulang belakang, dada, rusuk, dan
panggul). Dengan meningkatnya usia, sumsum tulang menjadi kurang produktif.

A. Eritrosit Vertebrata
Eritrosit secara umum terdiri dari hemoglobin, sebuah metalloprotein
kompleks yang mengandung gugus heme, dimana dalam golongan heme tersebut,
atom besi akan tersambung secara temporer dengan molekul oksigen (O2) di paruparu dan insang, dan kemudian molekul oksigen ini akan di lepas ke seluruh tubuh.
Oksigen dapat secara mudah berdifusi lewat membran sel darah merah. Hemoglobin
di eritrosit juga membawa beberapa produk buangan seperti CO2 dari jaringanjaringan di seluruh tubuh. Hampir keseluruhan molekul CO2 tersebut dibawa dalam
bentuk bikarbonat dalam plasma darah. Myoglobin, sebuah senyawa yang terkait
dengan hemoglobin, berperan sebagai pembawa oksigen di jaringan otot.
Warna dari eritrosit berasal dari gugus heme yang terdapat pada hemoglobin.
Sedangkan cairan plasma darah sendiri berwarna kuning kecoklatan, tetapi eritrosit
akan berubah warna tergantung pada kondisi hemoglobin. Ketika terikat pada
oksigen, eritrosit akan berwarna merah terang dan ketika oksigen dilepas maka warna
erirosit akan berwarna lebih gelap, dan akan menimbulkan warna kebiru-biruan pada
pembuluh darah dan kulit. Metode tekanan oksimetri mendapat keuntungan dari
perubahan warna ini dengan mengukur kejenuhan oksigen pada darah arterial dengan
memakai teknik kolorimetri.
Pengurangan jumlah oksigen yang membawa protein di beberapa sel tertentu
(daripada larut dalam cairan tubuh) adalah satu tahap penting dalam evolusi makhluk
hidup bertulang belakang (vertebratae). Proses ini menyebabkan terbentuknya sel

darah merah yang memiliki viskositas rendah, dengan kadar oksigen yang tinggi, dan
difusi oksigen yang lebih baik dari sel darah ke jaringan tubuh. Ukuran eritrosit
berbeda-beda pada tiap spesies vertebrata. Lebar eritrosit kurang lebih 25% lebih
besar daripada diameter pembuluh kapiler dan telah disimpulkan bahwa hal ini
meningkatkan pertukaran oksigen dari eritrosit dan jaringan tubuh.
Vertebrata yang diketahui tidak memiliki eritrosit adalah ikan dari familia
Channichthyidae. Ikan dari familia Channichtyidae hidup di lingkungan air dingin
yang mengandung kadar oksigen yang tinggi dan oksigen secara bebas terlarut dalam
darah mereka. Walaupun mereka tidak memakai hemoglobin lagi, sisa-sisa
hemoglobin dapat ditemui di genom mereka.
A. Nukleus
Pada mamalia, eritrosit dewasa tidak memiliki nukleus di dalamnya (disebut
anukleat), kecuali pada hewan vertebrata non mamalia tertentu seperti salamander
dari genus Batrachoseps. Konsentransi asam askorbat di dalam sitoplasma eritrosit
anukleat tidak berbeda dengan konsentrasi vitamin C yang terdapat di dalam plasma
darah. Hal ini berbeda dengan sel darah yang dilengkapi inti sel atau sel jaringan,
sehingga memiliki konsentrasi asam askorbat yang jauh lebih tinggi di dalam
sitoplasmanya.
Rendahnya daya tampung eritrosit terhadap asam askorbat disebabkan karena
sirnanya transporter SVCT2 ketika eritoblas mulai beranjak dewasa menjadi eritrosit.
Meskipun demikian, eritrosit memiliki daya cerap yang tinggi terhadap DHA melalui
transporter GLUT1 dan mereduksinya menjadi asam askorbat.
A. Fungsi lain
Ketika eritrosit berada dalam tegangan di pembuluh yang sempit, eritrosit
akan melepaskan ATP yang akan menyebabkan dinding jaringan untuk berelaksasi
dan melebar. Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat hemoglobin
terdeoksigenasi, yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan
melancarkan arus darah supaya darah menuju ke daerah tubuh yang kekurangan
oksigen.

Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah merah
mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel
darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan
membran sel patogen, serta membunuhnya.
Eritrosit juga mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida (CO) dan air,
karena eritrosit mengandung karbonat anhidrase dalam jumlah besar. Reaksi ini
memungkinkan darah bereaksi dengan CO dan mengangkutnya dari jaringan ke
paru-paru.

B. Eritrosit Mamalia
Pada awal pembentukannya, eritrosit mamalia memiliki nuklei, tapi nuklei
tersebut akan perlahan-lahan menghilang karena tekanan saat eritrosit menjadi
dewasa untuk memberikan ruangan kepada hemoglobin. Eritrosit mamalia juga
kehilangan organel sel lainnya seperti mitokondria. Maka, eritrosit tidak pernah
memakai oksigen yang mereka antarkan, tetapi cenderung menghasilkan pembawa
energi ATP lewat proses fermentasi yang diadakan dengan proses glikolisis pada
glukosa yang diikuti pembuatan asam laktat. Lebih lanjut lagi bahwa eritrosit tidak
memiliki reseptor insulin dan pengambilan glukosa pada eritrosit tidak dikontrol oleh
insulin. Karena tidak adanya nuklei dan organel lainnya, eritrosit dewasa tidak
mengandung DNA dan tidak dapat mensintesa RNA, dan hal ini membuat eritrosit
tidak bisa membelah atau memperbaiki diri mereka sendiri.
Eritrosit mamalia berbentuk kepingan bikonkaf yang diratakan dan diberikan
tekanan di bagian tengahnya, dengan bentuk seperti "barbel" jika dilihat secara
melintang. Bentuk ini (setelah nuklei dan organelnya dihilangkan) akan
mengoptimisasi sel dalam proses pertukaran oksigen dengan jaringan tubuh di
sekitarnya. Bentuk sel sangat fleksibel sehingga muat ketika masuk ke dalam
pembuluh kapiler yang kecil. Eritrosit biasanya berbentuk bundar, kecuali pada
eritrosit di keluarga Camelidae (unta), yang berbentuk oval.

Pada jaringan darah yang besar, eritrosit kadang-kadang muncul dalam


tumpukan, tersusun bersampingan. Formasi ini biasa disebut roleaux formation, dan
akan muncul lebih banyak ketika tingkat serum protein dinaikkan, seperti contoh
ketika peradangan terjadi.
Limpa berperan sebagai waduk eritrosit, tapi hal ini dibatasi dalam tubuh
manusia. Di beberapa hewan mamalia, seperti anjing dan kuda, limpa mengurangi
eritrosit dalam jumlah besar, yang akan dibuang pada keadaan bertekanan, dimana
proses ini akan menghasilkan kapasitas transpor oksigen yang tinggi.

C. Eritrosit pada manusia


Kepingan eritrosit manusia memiliki diameter sekitar 6-8 m dan ketebalan 2
m, lebih kecil daripada sel-sel lainnya yang terdapat pada tubuh manusia. [13]
Eritrosit normal memiliki volume sekitar 9 fL (9 femtoliter) Sekitar sepertiga dari
volume diisi oleh hemoglobin, total dari 270 juta molekul hemoglobin, dimana setiap
molekul membawa 4 gugus heme.
Orang dewasa memiliki 23 1013 eritrosit setiap waktu (wanita memiliki 45 juta eritrosit per mikroliter darah dan pria memiliki 5-6 juta. Sedangkan orang yang
tinggal di dataran tinggi yang memiliki kadar oksigen yang rendah maka cenderung
untuk memiliki sel darah merah yang lebih banyak). Eritrosit terkandung di darah
dalam jumlah yang tinggi dibandingkan dengan partikel darah yang lain, seperti
misalnya sel darah putih yang hanya memiliki sekitar 4000-11000 sel darah putih dan
platelet yang hanya memiliki 150000-400000 di setiap mikroliter dalam darah
manusia.
Pada manusia, hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai peran untuk
mengantarkan lebih dari 98% oksigen ke seluruh tubuh, sedangkan sisanya terlarut
dalam plasma darah.
Eritrosit dalam tubuh manusia menyimpan sekitar 2.5 gram besi, mewakili
sekitar 65% kandungan besi di dalam tubuh manusia.

D. Daur Hidup
Proses dimana eritrosit diproduksi dinamakan eritropoiesis. Secara terusmenerus, eritrosit diproduksi di sumsum tulang merah, dengan laju produksi sekitar 2
juta eritrosit per detik (pada embrio, hati berperan sebagai pusat produksi eritrosit
utama). Produksi dapat distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang disintesa
oleh ginjal. Hormon ini sering digunakan dalam aktivitas olahraga sebagai doping.
Saat sebelum dan sesudah meninggalkan sumsum tulang belakang, sel yang
berkembang ini dinamai retikulosit dan jumlahnya sekitar 1% dari seluruh darah yang
beredar.
Eritrosit dikembangkan dari sel punca melalui retikulosit untuk mendewasakan
eritrosit dalam waktu sekitar 7 hari dan eritrosit dewasa akan hidup selama 100-120
hari.

Anemia
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel darah
merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah
berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang
memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke
seluruh bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin
dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam
jumlah sesuai yang diperlukan tubuh.
Penyebab Anemia
Penyebab umum dari anemia:
o

Perdarahan hebat

Akut (mendadak)

Kecelakaan

Pembedahan

Persalinan

Pecah pembuluh darah

Kronik (menahun)

Perdarahan hidung

Wasir (hemoroid)

Ulkus peptikum

Kanker atau polip di saluran pencernaan

Tumor ginjal atau kandung kemih

Perdarahan menstruasi yang sangat banyak

Berkurangnya pembentukan sel darah merah


o

Kekurangan zat besi

Kekurangan vitamin B12

Kekurangan asam folat

Kekurangan vitamin C

Penyakit kronik

Meningkatnya penghancuran sel darah merah

Pembesaran limpa

Kerusakan mekanik pada sel darah merah

Reaksi autoimun terhadap sel darah merah:

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal

Sferositosis herediter

Elliptositosis herediter

Kekurangan G6PD

Penyakit sel sabit

Penyakit hemoglobin C

Penyakit hemoglobin S-C

Penyakit hemoglobin E

Thalasemia

Gejala
Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi

kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang


tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan
stroke atau serangan jantung.
Diagnosa
Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel
darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam
suatu contoh darah bisa ditentukan. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari
hitung jenis darah komplit (CBC).
Berikut merupakan beberapa jenis anemia :
1. Anemia hemografi terjadi akibat kehilangan darh akut. Sumsum tulang secara
bertahap akan memproduksi sel darh merah baru untuk kembali ke kondisi normal.
2. Anemia defisiensi zat besi terjadi akibat penurunan asupan makanan, penurunan
daya absorpsi, atau kehilangan zat besi secara berlebihan.
3. Anemia aplastik (sumsum tulang tidak aktif), ditandai dengan penurunan sel darah
merah secara besar-besaran. Hal ini dapat terjadi karena pajanan radiasi yang
berlebihan, keracunan zat kimia atau kanker.
4. Anemia pernicious karena tidak ada vitamin B12.
5. Anemia sel sabit (sickle cel anemia) adalah penyakit keturunan diman molekul
hemoglobin yang berbeda dari hemoglobin normalnya karena penggantian salah satu
asam amino pada rantai polipeptida beta. Akibatnya, sel darah merah terdistorsi
menjadi berbentuk sabit dalam kondisi konsentrasi oksigen yang rendah. Sel-sel
terdistorsi ini menutup kapiler dan mengganggu aliran darah.

Polisitemia
Polisitemia adalah peningkatan sel darah merah dalam sirkulasi, yang
mengakibatkan peningkatan viskositas dan volume darah. Aliran darah yang mengalir
melalui pembuluh darah terhalang dan aliran kapilar dapat tertutup.
1). Polisitemia kompensatori (sekunder) dapat terjadi akibat hipoksia (kekurangan
oksigen) karena hal berikut ini:
(a) kediaman permanen dataran tinggi
(b) aktifitas fifik berkepanjangan
(c) penyakit paru atau penyakit jantung
2). Polisitemia Vera adalah gangguan pada sum-sum tulang.
Hitung jumlah eritrosit
Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter dalah. Seperti
hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual
dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung leukosit, yaitu
menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung leukosit.
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk
memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang
digunakan adalah:
Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g,
aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan
karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.
Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml.
Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.
Natrium klorid 0.85 % .

BAB III
METODELOGI
Alat dan reagen :

Objek glass, darah manusia

Lanset steril

Kapas alkohol 70%

Pipet thoma eritrosit

Larutan hayem

Kamar hitung Improved Neubauer

Mikroskop

Prosedur:
1. Tindakan sama sperti cara mengisi pipet leukosit, yaitu darah yang dihisap
sampai garis tanda 101 (pengenceran 200x). Reagen yang digunakan adalah
larutan hayem.
2. Kamar hitung yang sudah disiapkan dengan darah + larutan hayem.
3. Biarkan selama 3 menit lalu lihat dibawah mikroskop pembesaran 40x.
4. Kesalahan-kesalahan pada tindakan menghitung eritrosit pada umumnya sama
seperti yang telah diterangkan pada satu tindakan menhitung leukosit. Satu
kesalahan khusus yang sering dibuat ialah menghitung jumlah eritrosit memakai
lensa objektif kecil sehingga kesalahan menjadi lebih besar.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil

Data Pengamatan :

No

Nama Mahasiswa

Kadar Eritrosit

Lenyta

11.420.000/L Darah

Bohir

1.260.000/L Darah

Perhitungan :

Vb = 80 x P x L x T
= 80 x 1/20 x 1/20 x 0,1
= 0,02 /L Darah

Fp = 100/volume eritrosit yang di ambil


= 100/0,5 = 200

Jumlah Eritrosit = n x Fp/ Vb


= 126 x 200/0,02 = 1.260.000 /L Darah

B.Pembahasan
Sel darah merah, eritrosit (en:red blood cell, RBC, erythrocyte) adalah jenis
sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan
tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Bagian dalam eritrosit terdiri
dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Fungsi sel darah
merah adalah mengikat oksigen dari paruparu untuk diedarkan ke seluruh jaringan
tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui
paruparu.
Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak
mempunyai inti. Ukuran diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak.
Banyaknya kirakira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan,
karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen. Nilai normal kadar
eritrosit pada pria yaitu 4,5-5,5 juta/l darah dan pada wanita yaitu 4,0-5,0 juta/l
darah.
Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter dalah.
Seperti hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu
manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung leukosit,
yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung
leukosit.
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis
untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer
yang digunakan adalah laruatn hayem, larutan gower dan NaCl 0,85%.
Pada praktikum, untuk menghitung jumlah eritrosit sama seperti menghitung
jumlah leukosit hanya saja berbeda kamar hitungnya saja. Darah dihisap sampai tanda
0,5, kemudian ditambahkan reagen hayem sampai tanda batas, lalu homogenkan dengan
menyerupai bentuk angka 8. Tetesan ketiga yang sudah tercampur darah dan reagen
diteteskan di kamar hitung. Kemudian hitung dan lihat di mikroskop dengan perbesaran
40x.

Didapatkan jumlah eritrosit masing-masing kelompok yaitu kelompok 1


11.420.000/l darah dan pada kelompok 2 1.260.000 /l darah.Dapat disimpulkan bahwa
kedua kelompok tidak masuk dalam range normal kadar eritrosit wanita dan pria. Pada
kelompok 1 Jumlah eritrosit melebihi batas normal Hal ini dikarenakan orang tersebut
mengalami polisitemia,dan pada kelompok 2 jumlah eritrosit dibawah nilai normal
kemungkinan orang tersebut mengalami anemia , ketidaknormalan kedua kelompok
tersebut karena adanya kesalahan, kesalahan yang dapat terjadi 10%, selain itu juga
ketidaktelitian pemeriksa dalam menghitung jumlah eritrosit, sehingga tidak ada yang
masuk dalam range nilai normal kadar eritrosit.

BAB VI
KESIMPULAN
Nilai normal kadar eritrosit pada pria yaitu 4,5-5,5 juta/l darah dan pada
wanita yaitu 4,0-5,0 juta/l darah.
Sel darah merah, eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan
berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah dalam
hewan bertulang belakang.
Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paruparu untuk
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari
jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paruparu.
Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter darah.
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis
untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis.

Larutan Hayem : Natrium Sulfat 2,5 g, Natrium Klorid 0,5 g, Merkuri klorid
0,25 g dan Aquadest 100 ml

DAFTAR PUSTAKA
1. Ganda Soebrata. 2009. Penuntun Laboratorium Praktikum. Jakarta: Dian
Rakyat
2.

http://www.scribd.com/doc/68815948/Laporan-Praktikum-Patologi-KlinikMateri-III Akses 14/10/2014 22:45

3.

http://www.scribd.com/arifa_imani/d/55620042-54778499-Isi-Materi-IDK-IIIHematologi Akses 14/10/2014 22:

4. http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/pengertian-pembentukan-fungsieritrosit.html Akses 14/10/2014 22:05