Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

SIROSIS HEPATIK

1.

Definisi Penyakit
Sirosis Hati adalah suatu penyakit hati dimana sirkulasi mikroanatomi
pembuluh darah besar dan seluruh system arsitektur hati mengalami
perubahan, menjadi tidak teratur dan terjadinya pertambahan jaringan ikat
(fibrosis) disekitar parenkim hati yang mengalami regenerasi.
Sebagai salah satu akibat pokok sirosis ialah terjadinya perubahan
didalam aliran darah portal pada parenkim hati. Terdapat 3 kriteria untuk
sirosis :
1. Nekrosis parenkim hati
2. Pembentukan aktif jaringan ikat
3. Proses regenerasi sel hati dalam bentuk yang terganggu
(Ilmu Penyakit Dalam, Edisi II, hal 617)
Sirosis hati adalah sekelompok bentuk perubahan jaringan hepar yang
ditandai dengan regenerasi nodular sel-sel parenkim dan pembentukan
jaringan parut, sirosis dibagi 3 tipe :
1.

Sirosis portal laenecs yang diakibatkan oleh toksisitas alcohol dan


disertai malnutrisi.

2.

Sirosis pascanekrotik, yang mencakup pembentukan jaringan parut


yang diakibatkan oleh virus hepatitis

3.

Sirosis bilier, yang membentuk jaringan parut diakibatkan oleh


obstruksi bilier kronis.
Pada semua tipe, fibrosis atau jaringan parut mempengaruhi fungsi

hati, dan aliran portal darah. Kerusakan aliran darah portal menyebabkan
kongesti vena pada limpa dan saluran gastrointestinal. (Rencana Asuhan dan
Dok Keperawatan, Lynda Juall, hal 136).

Sirosis adalah kondisi fibrosis dan pembentukan jaringan parut yang


difus dihati. Jaringan hari normal digantikan oleh nodus-nodus fibrosa serta
pita-pita fibrosa yang mengerut dan mengelilingi hepatosit. Arsitektur dan
fungsi normal hati terganggu. (Patofisiologi, Elizabeth J Corwin, hal 577).
Sirosis hati adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan
difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat,
degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam
saluran parenkim hati. (Kapita Selekta Kedokteran, hal 508).
2.

Anatomi, Fisiologi, Patologi


1. Anatomi
Hati adalah organ yang paling besar didalam tubuh, warnanya coklat dan
beratnya + 1 kg.
Letaknya : bagian atas dalam rongga abdomen disebelah kanan diafraga.
Hati terbagi 2 lapisan utama :
a. Permukaan atas berbentuk cembung, terletak dibawah diafragma
b. Fisura bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura
transfersus.
Fisura longitudinal memisahkan belahan kanan dan kiri dibagian otot
hati, selanjutnya hati dibagi 4 belahan : lobus kanan, lobus kiri, lobus
kuadata dan lobus quadratus.
Pembuluh darah pada hati :
-

Arteri hepatik, yang keluar dari aorta dan memberikan 1/5 darahnya
kepada hati.

Vena porta, terbentuk dari vena lienalis dan vena mesenterika


superior, mengantarkan 4/5 darahnya ke hati.

Vena hepatica, mengembalikan darah hati ke vena cava inferior.

2. Fisiologi
Fungsi hati terdiri dari :

Mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan yang disimpan
disuatu tempat didalam tubuh, dikeluarkannya sesuai dengan
pemakainnya dalam jaringan.

Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk direksresi dalam


empedu dan urin.

Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen

Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air.

Sekresi empedu, garam empedu dibuat dihati dibentuk dalam system


reticulo endothelium dialirkan ke empedu.

Pembentukan ureum, hati menerima asam amino diubah menjadi


ureum dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urine.

3. Patologi
Siroses hati, ditandai adanya perubahan jaringan hepar yang ditandai
dengan regenerasi nodular sel-sel parenkim dan pebentukan jaringan
parut, sirosis dibagi 3 tipe.

3.

a.

Siroses portal laeneces

b.

Siroses pasca nekrotik

c.

Siroses bilier

Patofisiologi
Siroses adalah kondisi fibrosis dan pembentukan jaringan parut yang
difus dihati. Jaringan hati normal digantikan oleh nodus-nodus fibrosa serta
pita-pita fibrosa yang mengerut dan mengelilingi hepatosit. Arsitektur dan
fungsi hati normal terganggu. Sirosis hati terjadi sebagai respon terhadap
cedera sel berulang dan reaksi peradangan yang ditimbulkannya. Penyebab
sirosis antara lain adalah infeksi misalnya hepatitis, obstruksi saluran
empedu yang menyebabkan penimbunan empedu dikanalikulus dan
rupturnya kanalikulus atau cedera hepatosit akibat toksin. Alcohol adalah
toksin yang paling sering menyebabkan cedera peradangan hati.

4.

Tanda dan Gejala


1. Gejala-gejala gastrointestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual,
muntah dan diare.
2. Demam, berat badan menurun dan oedem
3. asites, hidrotoraks dan oedema
4. Ikterus, kadang-kadang urine menjadi tua/kecoklatan
5. Hepatomegali
6. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral didinding abdomen
dan toraks, kaput medusa, wasir dan varises esophagus.
7. Kelainan endokrin, yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme, yaitu:
a.

Impotensi, atrofi testis, ginekomasta

b.

Amenorer, hiperpigmentasi aerola mamae

c.

Spider nevi dan eritema

d.

Hiperpigmentasi

8. Jari tubuh
5.

Manajemen Medik
1. istirahat ditemat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites dan
demam.
2. Diet rendah protein (diet hati III : protein 19/kg BB, 55 gr protein, 200
kalori). Bila ada asites diberikan diit rendah garam II (600-800 mg) atau
III (1.000-2000 mg). bila proses tidak aktif, diperlukan diit tinggi kaloti
(2000-3000 kalori) dan tinggi protein (80-125 g/hari).
Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein
dalam makanan dihentikan (diet hati I) untuk kemudian diberikan
kembali sedikit demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh.
3. Mengatasi injeksi dengan antibiotic diusahakan memakai obat-obatan
yang jelas tidak hepatotoksik.
4. Memperbaiki keadaan gisi, bila perlu dengan pemberian asam amino
esensial berantai cabang dan glukosa.
5. Roboransia, vitamin B kompleks. Dilarang makan dan minum bahan
yang mengandung alcohol.

Petalaksanaan Asites dan Oedema adalah :


1. Istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg/hari)
2. Memberikan pengobatan diuretika berupa spironokakton 50-100 mg/hari
(awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari bila setelah 3-4 hari
tidak ada perubahan.
3. Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan
terapi medikamentosa yang itensif), dilakukan terapi parasintesis.
4. Pengendalian cairan asites. Diharapkan terjadi penurunan BB 1 kg/2 hari
adalah keseimbangan cairan negative 600-800 ml/hari.
6.

Data Fokus Pengkajian


1. Wawancara
Dalam melakukan wawancara terhadap klien dengan diagnosa sirosis
hepatic, yang perlu diperhatikan adalah factor defikasi, nutrisi, intake
dan output cairan.
a.

Pola defikasi : frekuensi, pernah berubah

b.

Prilaku defikasi : penggunaan laksatif, cara mempertahankan pola

c.

Defekasi feses : warna, baud an tekstur

d.

Diet : makanan yang mempengaruhi defekasi, makanan yang biasa


dimakan, makanan yang dihindari, dan pola makanan yang
teratur/tidak.

e.

Cairan : jumlah dan jenis minuman/hari

f.

Aktivitas : kegiatan sehari-hari

g.

Kegiatan spesifik

h.

Penggunaan medikasi : obat-obatan yang mempengaruhi defekasi

i.

Stress : stress berkepanjangan atau pendek, koping untuk


menghadapi atau bagaimana menerima.

j.

Pembedahan/penyakit menetap

2. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji tanda-tanda vital (nadi, tensi, pernaf, suhu)
b. Mengkaji perubahan warna kulit bila berkemungkinan berhubungan
dengan ikterus terutama pada bagian perifer, sclera mata.

c. Palpasi pada daerah kuadran kanan atas tepatnya pada organ hepar
untuk mengetahui apakah ada pembesaran hepar atau tidak adanya
nyeri tekan/tidak.
d. Palpasi pada abdomen untuk mengetahui adanya asites
e. Ukur lingkar abdomen apabila terdapat acites
f. Palpasi pada tibia untuk mengetahui adanya oedema
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Scan hepar
b. Pemeriksaan adanya anemia
c. Pemeriksaan darah dan urine (penurunan kadar albumin serum,
peninggian kadar globulin serum, peninggian kadar bilirubin direk
dan indirek).
d. Pemeriksaan penurunan enzim kolinesterasi
e. Pemeriksaan kimia darah (SGOT, SGPT)
f. Pemeriksaan bakteriologis/serologi (HBSAg)
g. Biopsi hepar
h. Esofagoskopi
i. Partografi transhepatik perkutan
j. Pemeriksaan roentgen dada
7.

Analisa Data

No
Analisa Data
1. Do :
- Pasien
memegang
abdomen
kuadran
kanan atas.
Pasien
tampak
meringis
sakit
dirasakan.

Etiologi
Hati terinfeksi oleh virus

Terjadi proses
peradangan,
pembengkakan dan
dipenuhi oleh sel-sel
radang serta limphosit

Merangsang serabut saraf


reseptor nyeri untuk
mengeluarkan enzim
bradikinin dan serotinin

Nyeri dipersepsikan

Masalah
Gangguan
rasa
nyaman
nyeri
abdomen kuadran
kanan atas .

2.

Do :
Makan klien tidak
habis.
Klien lemah.
BB menurun.

3.

Do :
- Pasien tampak lemah.
- Aktifitas
karena
dibantu.

4.

Do :
Kulit
joundice
Sklera
ikterus

:
mata

Kerusakan hati
menyebabkan
berkurangnya jumlah
bilirubin direk duodenum
sehingga suasana
duodenun menjadi asam

Mengiritasi duodenum

Impuls iritatif ke otak

Merangsang medula
center

Mual + muntah
Proses peradangan hati

Kerusakan sel-sel hati

Gangguan metabolisme
karbohidrat

Karbohidrat tidak dapat


disimpan dihati dalam
bentuk glikogen

ATP tidak terbentuk

Energi berkurang dan


terjadi kelemahan otot

Aktifitas terganggu
Kurang pengetahuan/
informasi tentang
penyakit tersebut dan
semua hal yang
berhubungan dengan
keadaan yang
memperberat keadaan.

Klien tidak mengerti

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi.

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan ATP

Kurang
pengetahuan
tentang penyakit
yang diderita.

8.

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terjadinya proses
peradangan yang ditandai dengan nyeri pada ulu hati (kuadran kanan
atas)
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan ATP berhubung dengan terganggunya
aktifitas yang ditandai klien tampak lemah dan aktifitas klien dibantu.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan mual dan
muntah yang ditandai dengan klien tidak nafsu makan.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
diit tinggi kalori tinggi protein.

9.

Perencanaan
1. Dx I
Tujuan
-

Jangka pendek

: Rasa nyeri berkurang.

Jangka panjang

: Suhu tubuh stabil.

Intervensi
-

Atur posisi klien.

Berikan kompres hangat pada daerah yang sakit.

Berikan obat analgetik/ antibiotik.

Alihkan perhatian klien.

Anjurkan agar klien tidak beraktifitas yang dapat memperburuk


kondisi klien.

Anjurkan untuk beristirahat.

2. Dx II
Tujuan
-

Jangka pendek

: Suhu tubuh menurun.

Jangka panjang

: Suhu tubuh stabil.

Intervensi
-

Ukur suhu tubuh klien.

Berikan kompres dingin/ hangat pada leher, keriak dan lipatan


paha.

Berikan obat penurun panas.

Anjurkan klien untuk banyak minum.

Anjurkan klien untuk istirahat

3. Dx III
Tujuan
-

Jangka pendek

: Terpenuhinya kebutuhan nutrisi.

Jangka panjang

: * Bertambahnya nafsu makan.


* BB bertambah.

Intervensi
-

Diskusikan penyebab anoreksia, dispnea, dan mual.

Bantu klien untuk istirahat sebelum makan.

Tawarkan makan sedikit tapi sering.

Pertahankan hygiene mulut yang baik.

Atur makanan dengan protein/ kalori tinggi.

Ajarka klien tindakan untuk menurunkan mual :

Hindari bau makanan yang disiapkan, yang kurang berbau


(bila mungkin).

Kendurkan pakaian saat makan.

Duduk di udara segar saat makan.

Hindari berbaring datar sedikitnya 2 jam sesudah makan.

4. Dx IV
Tujuan
-

Jangka pendek

: Rasa gatal berkurang.

Jangka panjang

: Rasa gatal dan bintik merah hilang.

Intervensi
-

Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering.

Cegah penghangatan yang berlebihan dengan mempertahankan


suhu ruangan.

Anjurkan klien tidak menggaruk.

Konsul dengan dokter untuk pengobatan farmakologis

Pertahankan kelembaban ruangan pada 30% sampai 40% dan


dingin.

DAFTAR PUSTAKA

Soeparman, DR. Dr. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 1987.
Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aaesculapius, Jakarta, 1990.
Corwin J. Elizabeth. Patofisiologi. EGC, Jakarta, 2001.
Carpenito Juall Lynda, Rencana Asuhan & dokumentasi Keperawatan. EGC,
Jakarta, 1990.
Price A. Sylvia. Patofisiologi. EGC, Jakarta, 1995.
Pearce C. Evelyn. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia, Jakarta,
2000.