Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

OTOMIKOSIS

Pembimbing :
dr. Armiyanto, Sp. THT-KL (K)
Disusun oleh :
Isabela Ayu Yuaningsih
Jessica Janice Luhur
Gerry Setiawan Lay
Vincencius William

2011-061-030
2011-061-031
2012-061-009
2012-061-010

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG & TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK ATMAJAYA
3 Juni 6 Juli 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmatNya karena dapat menyelesaikan referat dengan judul Otomikosis sebagai
salah satu tugas dalam kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Telinga-HidungTenggorok (THT).
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. Armiyanto, Sp.THT-KL
(K) atas waktu dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyusun
0

referat dengan judul Otomikosis, karena dalam praktek sehari-sehari khususnya


dalam bidang THT diperlukan pengetahuan akan infeksi jamur pada telinga luar.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam referat ini. Oleh
karena itu penulis memohon maaf yang sebesarnya apabila terdapat kekeliruan, baik
dalam penulisan maupun isi dari referat ini. Masukan dan kritik sangat penulis
harapkan, demi perbaikan di kemudian hari.
Akhir kata semoga referat ini membantu berbagai pihak yang turut membaca.

Jakarta, Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul .....................................................................................................................


Kata Pengantar ..................................................................................................................1
Daftar Isi..............................................................................................................................2
Daftar Gambar....................................................................................................................3
BAB I: PENDAHULUAN .................................................................................................4
BAB II: PEMBAHASAN.....................................................................................................
2.1 Anatomi Telinga Luar..............................................................................................5

2.2 Definisi dan Etiologi...............................................................................................6


2.3 Diagnosis................................................................................................................6
2.4 Tatalaksana............................................................................................................7
2.5 Komplikasi............................................................................................................8
2.6 Prognosis...............................................................................................................8
BAB III: KESIMPULAN...................................................................................................9
Daftar Pustaka..................................................................................................................10

Daftar Gambar

Gambar 2.1: Anatomi Telinga............................................................................................5


Gambar 2.2: Otomikosis oleh Candida albicans...................................................................7
Gambar 2.3: Otomikosis oleh Aspergillus niger...................................................................7

BAB I
PENDAHULUAN
Otomikosis adalah infeksi pada kanalis akustikus eksterna yang disebabkan oleh
jamur dengan karakteristik nyeri yang lebih ringan dibandingkan infeksi akut dari kanalis
akustikus eksterna. Infeksi jamur pada telinga luar umumnya tidak begitu nyeri namun lebih
persisten oleh karena itu disebut juga dengan otitis eksterna kronik difus. Pasien biasanya
mengeluhkan telinga yang gatal, keluarnya cairan dari telinga, telinga tersumbat,dan
penurunan pendengaran. Otomikosis sering terjadi pada negara dengan iklim yang tropis dan
subtropis. Faktor risiko yang menunjang terjadinya otomikosis antara lain adalah pasien
immunocompromised, diabetes mellitus, riwayat pengobatan dengan antibiotik topikal untuk
otitis eksterna, dan faktor-faktor yang menunjang pertumbuhan jamur seperti otorrhea dan
adanya debris epitel pada liang telinga luar. Pada kebanyakan kasus otomikosis disebabkan
oleh golongan Aspergillus sp dan Candida sp.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Telinga Luar
Telinga luar meliputi daun telinga atau pinna, liang telinga atau canalis acusticus
eksternus dan membran timpani. Daun telinga yang terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit.
berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju
gendang telinga. Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk
menangkap suara dan bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil
susunan tulang dan rawan yang dilapisi kulit tipis.

Gambar 2.1 Anatomi Telinga


Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian
luar, sedangkan dua pertiga bagian dalamnya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3
cm. Pada sepertiga bagian liang telinga yang terdiri dari tulang rawan , pada kulitnya terdapat
kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut . Liang telinga yang terdiri dari
tulang rawan ini adalah tempat dimana osteomyelitis biasa terjadi dan penyakit maligna pada
telinga bisa menyebar. Pada dua pertiga bagian dalam liang telinga yang terdiri dari tulang

hanya terdiri dari kulit yang tipis, imobil, sedikit rambut dan kelenjar serta terhubung dengan
epitel dari membran timpani.
Membran timpani, membentuk batas antara telinga luar dengan telinga tengah.
Membran timpani berbentuk lonjong dan konkaf dan terhubung dengan manubrium dari
malleus yang disebut umbo. Pada membran timpani, bagian yang tebal dinamakan pars tensa
dan bagian yang lebih tipis disebut pars flaksida atau membran sharpnell.1,2
2.2 Definisi dan Etiologi Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi pada kanalis akustikus eksterna yang disebabkan oleh
jamur. Penyebab tersering otomycosis adalah Pytirosporum, Aspergilus, kemudian Candida.
Pytirosporum, seperti di kepala membentuk sisik yang tampak seperti ketombe di liang
telinga1 Aspergillus Sp. mungkin dapat menyebabkan infeksi yang agresif yang melibatkan
jaringan epitel dan subkutan.2 Untuk bertumbuh, jamur membutuhkan tiga hal penting yaitu :
kelembaban, suhu yang hangat, dan tempat yang gelap, apabila kanalis akustikus eksterna
(KAE) memiliki keadaan keadaan seperti tersebut, maka pertumbuhan jamur pada KAE
sangat memungkinkan terjadi. Dengan mengubah tingkat kelembaban akan mengganggu
pertumbuhan jamur jamur tersebut.3
2.3 Diagnosis
Keluhan yang sering membuat penderita mengunjungi dokter adalah telinga terasa
gatal. Pada telinga luar terdapat lapisan berwarna putih, hitam atau abu-abu di telinga,
Penderita mengalami gangguan pendengaran serta telinga terasa penuh akibat telinga penuh
dengan debris.
Pada anamnesa dapat diperoleh keluhan berupa gatal, gangguan pendengaran, dan
telinga terasa penuh. Riwayat pemakaian antibiotik topikal pada telinga dapat menyebabkan
otomycosis. Riwayat penyakit immunocompromised seperti HIV dan DM dapat
meningkatkan resiko terjadinya otomycosis.
Pada pemeriksaan dengan otoskop dapat terlihat adanya lapisan berwarna putih,
hitam, abu-abu. Lapisan berwarna putih disebabkan oleh Candida albicans, lapisan berwarna
hitam disebabkan oleh Aspergillus niger, pada infeksi Pityosporum dapat ditemukan
gambaran sisik menyerupai ketombe. Kanalis akustikus eksternus terlihat bengkak dan
kemerahan. Pemeriksaan KOH atau biakan jamur dapat membantu diagnosis.4-7

Gambar 2.2 Otomikosis oleh Candida albicans

Gambar 2.3 Otomikosis oleh Aspergillus niger


2.4 Tatalaksana
Pengobatan ditujukan untuk menjaga agar liang telinga tetap kering , jangan lembab,
dan disarankan untuk tidak mengorek-ngorek telinga dengan barang-barang yang kotor
seperti korek api,

garukan

telinga, atau kapas. Kotoran-kotoran telinga harus sering

dibersihkan. Pengobatan yang dapat diberikan seperti :


a. Larutan asam asetat 2-5 % dalam alkohol yang diteteskan kedalam liang telinga
biasanya dapat menyembuhkan. Tetes telinga siap beli seperti VoSol (asam asetat
non akueus 2 %), Cresylate (m-kresil asetat) dan Otic Domeboro (asam asetat 2
%) bermanfaat bagi banyak kasus.
b. Larutan timol 2 % dalam spiritus dilutes ( alkohol 70 % ) atau meneteskan larutan
burrowi 5 % satu atau dua tetes dan selanjutnya dibersihkan dengan desinfektan
biasanya memberi hasil pengobatan yang memuaskan.
c. Dapat juga diberikan Neosporin dan larutan gentian violet 1-2 %.
d. Akhir-akhir ini yang sering dipakai adalah fungisida topikal spesifik, seperti preparat
yang mengandung nystatin , ketokonazole, klotrimazole, dan anti jamur yang
diberikan secara sistemik.
7

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan anti jamur tidak secara


komplit mengobati proses dari otomikosis ini, oleh karena agen-agen diatas tidak
menunjukkan keefektifan untuk mencegah otomikosis ini relaps kembali. Hal ini menjadi
penting untuk diingat bahwa, selain memberikan anti jamur topikal, juga harus dipahami
fisiologi dari kanalis auditorius eksternus itu sendiri, yakni dengan tidak melakukan manuvermanuver pada daerah tersebut, mengurangi paparan dengan air agar tidak menambah
kelembaban, mendapatkan terapi yang adekuat ketika menderita otitis media, juga
menghindari situasi apapun yang dapat merubah homeostasis lokal. Kesemuanya apabila
dijalankan dengan baik, maka akan membawa kepada resolusi komplit dari penyakit ini.
2.5 Komplikasi
Komplikasi dari otomikosis yang pernah dilaporkan adalah perforasi dari membran
timpani dan otitis media serosa, tetapi hal tersebut sangat jarang terjadi, dan cenderung
sembuh dengan pengobatan. Patofisiologi dari perforasi membran timpani mungkin
berhubungan dengan nekrosis vaskular dari membran timpani sebagai akibat dari trombosis
pada pembuluh darah. Angka insiden terjadinya perforasi membran yang dilaporkan
dari berbagai penelitian berkisar antara 12-16 % dari seluruh kasus otomikosis. Tidak
terdapat gejala dini untuk memprediksi terjadinya perforasi tersebut, keterlibatan membran
timpani sepertinya merupakan konsekuensi inokulasi jamur pada aspek medial dari telinga
luar ataupun merupakan ekstensi langsung infeksi tersebut dari kulit sekitarnya. 1
2.6 Prognosis
Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat. Pada saat terapi dengan
anti jamur dimulai, maka akan dimulai suatu proses resolusi ( penyembuhan ) yang baik
secara imunologi. Bagaimanapun juga, resiko kekambuhan sangat tinggi, jika faktor yang
menyebabkan infeksi sebenarnya tidak dikoreksi, dan fisiologi lingkungan normal dari
kanalis auditorius eksternus masih terganggu.8-10

BAB III
KESIMPULAN
8

Otomikosis adalah infeksi pada kanalis akustikus eksterna yang disebabkan oleh
jamur umumnya disebabkan oleh Aspergillus sp dan Candida sp. Otomikosis sering terjadi
pada negara dengan iklim yang tropis dan subtropis. Faktor risiko yang menunjang terjadinya
otomikosis antara lain adalah pasien immunocompromised, diabetes mellitus, riwayat
pengobatan dengan antibiotik topikal untuk otitis eksterna, dan faktor-faktor yang menunjang
pertumbuhan jamur. Pasien biasanya mengeluhkan telinga yang gatal, keluarnya cairan dari
telinga, telinga tersumbat,dan penurunan pendengaran. Pengobatan terbaik adalah mencegah
pertumbuhan dari jamur itu sendiri dengan menjaga telinga tetap bersih dan kering dan
mengurangi mengorek-ngorek telinga. Selain itu diberikan juga antifungal topikal seperti
nystatin , ketokonazole, klotrimazole, dan anti jamur yang diberikan secara sistemik.
Resiko kekambuhan sangat tinggi sehingga pengobatan harus diberikan secara tuntas
untuk mengeradikasi jamur dan juga mengoreksi keadaan fisiologis kanalis auditorius
eksternus.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Hafil AF, Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, Bashiruddin J, Restuti RD, ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala & leher. Edisi ke-6. Jakarta: FKUI; 2007.
2. Cummings Charles W., Flint Paulw., Harker Lee A., et al. Cummings Otolaryngology
Head & Neck Surgery : Fourth Edition. USA: Elsevier Mosby. 2005.
3. Linstrom CJ, Lucente FE. Infections of the External Ear. Dalam: Bailey BJ, Johnson
JT, Newlands SD, ed. Head and neck surgery otolaryngology. Edisi ke-4. US:
Lippincott Williams & Wilkins; 2006.
4. Anil, K. Lalwani, editor. Lange Otolaryngology, Head and Neck Surgery. New York:
The McGraw-Hill Companies, 2008
5. Jia X, Liang Q, Chi F, Cao W. Otomycosis in Shanghai : aetiology, clinical features,
and therapy. Mycoses. 2011
6. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat. 4th ed. Elsevier
7. Menner AL. A Pocket Guide to the Ear. Thieme. New York. 2003
8. Ozcan, K Murat, dkk. Otomycosis in Turkey: Predisposing factors, aetiology and
therapy. The Journal of Laryngology and Otology. 2003. 117(1), 39-42. Retrieved
July 6, 2009, from ProQuest Medical Library.
9. Ho, Tang dkk. Otomycosis : Clinical features and treatment implications. The Journal
of Otolaryngology-Head and neck Surgery.2006. 135,787-791.
10. P Hueso Gutirrez, S Jimenez Alvarez, E Gil-carcedo Sanudo, et al. Presumed
diagnosis : Otomycosis. A study of 451 patients. Acta Otorinolaringol Esp. 2005. 56,
181-186.

10