Anda di halaman 1dari 130

DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR AHLI

KESA

KODE MA : 2.210

KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT

2008

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

EDISI KELIMA

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Judul Modul

: Kode Etik dan Standar Audit

Penyusun

Perevisi Pertama

:

:

Drs. H.T. Redwan Jaafar, Ak. Sumiyati, Ak., M.F.M. Drs. H.T. Redwan Jaafar, Ak. Drs. Wawan Trangawan Teguh Widhyo Utomo, Ak. Sunaryono, Ak., M.M. Sigit Susilo Broto, Ak., M.Comm. John Elim, Ak., MBA Linda Ellen Theresia, SE., MBA Riri Lestari, Ak

: : : : : : Tahun 1998 : Tahun 2000 : Tahun 2002 :
:
:
:
:
:
:
Tahun 1998
:
Tahun 2000
:
Tahun 2002
:
Tahun 2005
:
Tahun 2008

Perevisi Kedua

Perevisi Ketiga Perevisi Keempat Pereviu Editor

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Pembentukan Auditor Ahli

Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat)

Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) ISBN 979-3873-06-X Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau

ISBN 979-3873-06-X

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

ii

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Tujuan Pembelajaran 2 B.
Kata Pengantar
i
Daftar Isi
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
A. Tujuan Pembelajaran
2
B. Sistematika Modul
2
C. Metodologi Pemelajaran
4
BAB II
ETIKA PROFESI, STANDAR AUDIT, DAN KENDALI MUTU
5
Tujuan Pemelajaran Khusus
5
A. Pengertian Profesi
5
B. Pengertian dan Tujuan Kode Etik
7
C. Pengertian dan Tujuan Standar Audit
13
D. Kode Etik, Standar Audit, dan Program Jaminan Kualitas
14
E. Kode Etik dan Standar Audit APIP
16
F. Latihan Soal
17
BAB III
KODE ETIK APARAT PENGAWASAN FUNGSIONAL
PEMERINTAH
19
Tujuan Pemelajaran Khusus
19
A. Landasan Hukum
20
B. Kode Etik APIP
21
C. Pelanggaran
28
D. Pengecualian
29
E.
Sanksi atas Pelanggaran
30
F
Kode Etik Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal ………
30
G.
Latihan Soal
32

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

iv

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

BAB IV

STANDAR AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH

Tujuan Pemelajaran Khusus

A. Pendahuluan

B. Standar Audit APIP

C. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara D. Standar Profesi Audit Internal E. Latihan Soal BAB V
C. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
D. Standar Profesi Audit Internal
E. Latihan Soal
BAB V
PENUTUP
Daftar Kepustakaan
Lampiran 1
Lampiran 2

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

34

34

34

38

84

89

104

107

109

v

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit Kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi ditentukan oleh keandalan, kecermatan, ketepatan
Kode Etik dan Standar Audit Kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi ditentukan oleh keandalan, kecermatan, ketepatan

Kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi ditentukan oleh keandalan, kecermatan, ketepatan waktu, dan mutu jasa atau pelayanan yang dapat diberikan oleh profesi yang bersangkutan. Kata ”kepercayaan” demikian pentingnya karena tanpa kepercayaan masyarakat maka jasa profesi tersebut tidak akan diminati, yang kemudian pada gilirannya profesi tersebut akan punah. Untuk membangun kepercayaan perilaku para pelaku profesi perlu diatur dan kualitas hasil pekerjaannya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu dibutuhkan penetapan standar tertentu, sehingga masyarakat dapat meyakini kualitas pekerjaan seorang profesional.

Pekerjaan audit adalah profesi. Auditor yang bekerja di sektor publik selain dituntut untuk mematuhi ketentuan dan peraturan kepegawaian sebagai seorang pegawai negeri sipil, ia juga dituntut untuk menaati kode etik Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) serta Standar Audit APIP atau standar audit lainnya yang telah ditetapkan. Sehingga bagaimana seharusnya perilaku seorang auditor Pemerintah serta apa saja yang harus dilakukan agar hasil pekerjaannya memenuhi standar mutu yang harus dicapai, perlu diketahui oleh setiap mereka yang berprofesi sebagai aparat pengawasan intern pemerintah.

yang berprofesi sebagai aparat pengawasan intern pemerintah. Modul Kode Etik dan Standar Audit ini dimaksudkan untuk

Modul Kode Etik dan Standar Audit ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang seharusnya dimiliki dan dilaksanakan oleh seorang auditor sebagai aparatur pengawasan intern

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

1

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

pemerintah mengenai kode etik dan standar audit dengan tujuan pembelajaran sebagai berikut :

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pemelajaran adalah sesuatu yang diharapkan dicapai oleh para peserta diklat setelah menyelesaikan suatu diklat.
Tujuan pemelajaran adalah sesuatu yang diharapkan dicapai oleh
para peserta diklat setelah menyelesaikan suatu diklat. Tujuan
pemelajaran dapat dibagi ke dalam tujuan pembelajaran umum dan
tujuan pemelajaran khusus.
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM
Setelah mempelajari mata diklat ini, peserta pelatihan diharapkan
mampu menjelaskan Kode Etik dan Standar Audit dalam rangka
pelaksanaan tugasnya selaku auditor Pemerintah.
TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS
Setelah mempelajari mata diklat ini, peserta pelatihan mampu:
1.
Menjelaskan
pentingnya
jasa
profesi
memperoleh
kepercayaan
masyarakat;
2.
Menjelaskan dan menerapkan Kode Etik APIP;
3.
Menjelaskan dan menerapkan Standar Audit APIP; dan
4.
Menjelaskan pentingnya kendali mutu bagi auditor.

B. SISTEMATIKA MODUL

BAB I

Pendahuluan

Bab ini menguraikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sistematika modul dan metodologi pembelajaran.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

2

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

BAB II

Etika Profesi, Standar Audit dan Kendali Mutu

Pada bab ini diuraikan pengertian profesi, pengertian dan tujuan kode etik, pengertian dan tujuan standar
Pada bab ini diuraikan pengertian profesi, pengertian dan tujuan
kode etik, pengertian dan tujuan standar audit, hubungan antara
kode etik, standar audit dan kendali mutu. Dalam bab ini juga
disinggung sepintas mengenai pelaksanaan kode etik dan
standar audit bagi APFP dan pada akhir bab diberikan soal-soal
latihan.
BAB III
Kode Etik Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
Pada bab ini diuraikan kode etik yang berlaku di kalangan
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. Sebagai bahan
perbandingan, pada bab ini akan diuraikan Kode Etik bagi
auditor internal yang diterbitkan oleh Konsorsium Organisasi
Profesi Audit Internal dan Kode Etik Akuntan Indonesia. Di akhir
bab juga diberikan soal-soal latihan/bahan diskusi.
BAB IV Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
Pada bab ini diuraikan secara rinci standar audit yang berlaku
bagi APIP beserta penjelasannya. Sebagai tambahan bahan
perbandingan, pada bab ini akan dijelaskan secara ringkas
Standar Profesi Audit Internal yang disusun oleh Konsorsium
Organisasi Profesi Audit Internal. Pada akhir bab diberikan
latihan soal/bahan diskusi.
BAB V
Penutup

Pada bab ini, sebagai penutup disampaikan himbauan moral agar para auditor APIP umumnya dan peserta Diklat khususnya senantiasa mematuhi aturan perilaku atau kode etik yang

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

3

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

berlaku serta standar audit yang telah ditetapkan dan dipelajari dalam Diklat yang bersangkutan.

C. METODOLOGI PEMBELAJARAN

dalam Diklat yang bersangkutan. C. METODOLOGI PEMBELAJARAN Metodologi pembelajaran untuk mata diklat ini menggunakan

Metodologi pembelajaran untuk mata diklat ini menggunakan metode ceramah, diskusi dan pembahasan kasus. Ceramah diberikan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta pelatihan tentang Kode Etik dan Standar Audit, sedangkan diskusi dan pembahasan kasus dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan penerapan kode etik dan standar audit bagi peserta pelatihan. Dengan demikian diharapkan para peserta dapat lebih memahami materi ajaran ini yang pada gilirannya mampu menerapkannya dalam pelaksanaan tugas audit secara baik.

ajaran ini yang pada gilirannya mampu menerapkannya dalam pelaksanaan tugas audit secara baik. Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

4

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit PENGERTIAN PROFESI 1. Bersangkutan dengan profesi; 2. Pekerjaan yang memerlukan
Kode Etik dan Standar Audit PENGERTIAN PROFESI 1. Bersangkutan dengan profesi; 2. Pekerjaan yang memerlukan
Kode Etik dan Standar Audit PENGERTIAN PROFESI 1. Bersangkutan dengan profesi; 2. Pekerjaan yang memerlukan
PENGERTIAN PROFESI 1. Bersangkutan dengan profesi; 2. Pekerjaan yang memerlukan kepandaian khusus menjalankannya;
PENGERTIAN PROFESI
1. Bersangkutan dengan profesi;
2.
Pekerjaan
yang
memerlukan
kepandaian
khusus
menjalankannya;

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Setelah mempelajari bab ini, para peserta dapat menjelaskan pengertian profesi, kode etik, standar, kendali mutu dan pentingnya ketiga hal tersebut dalam pelaksanaan tugas audit di lingkungan Pemerintahan.

A.

Profesi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Sedangkan profesional menurut KBBI adalah:

untuk

3.
3.

Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan dari amatir).

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persyaratan utama dari suatu profesi adalah tuntutan kepemilikan keahlian tertentu yang unik. Dengan demikian setiap orang yang mau bergabung dalam suatu profesi tertentu dituntut memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

5

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit orang awam atau orang kebanyakan. Selain itu, para anggota profesi dituntut

orang awam atau orang kebanyakan. Selain itu, para anggota profesi dituntut untuk memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan karena ada kompensasi berupa pembayaran untuk melakukannya. Hal ini mewajibkan adanya komitmen terhadap kualitas hasil pekerjaan.

Suatu pekerjaan keahlian dapat digolongkan sebagai suatu profesi jika memenuhi persyaratan tertentu. Prof. Welenski di
Suatu pekerjaan keahlian dapat digolongkan sebagai suatu profesi
jika memenuhi persyaratan tertentu. Prof. Welenski di dalam buku
Sawyers Internal Auditing menyebutkan 7 (tujuh) syarat, yaitu:
1.
Pekerjaan tersebut adalah untuk melayani kepentingan orang
banyak (umum)
2.
Bagi yang ingin terlibat dalam profesi dimaksud, harus melalui
pelatihan yang cukup lama dan berkelanjutan
3.
Adanya kode etik dan standar yang ditaati di dalam organisasi
tersebut
4.
Menjadi anggota dalam organisasi profesi dan selalu mengikuti
pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi
tersebut
5.
Mempunyai media massa/publikasi yang bertujuan untuk
meningkatkan keahlian dan keterampilan anggotanya
6.
Kewajiban menempuh ujian untuk menguji pengetahuan bagi yang
ingin menjadi anggota
7.
Adanya suatu badan tersendiri yang diberi wewenang oleh
pemerintah untuk mengeluarkan sertifikat

Dikaitkan dengan tugas auditor internal pemerintah yang terhimpun dalam Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), timbul pertanyaan apakah pekerjaan audit yang dilakukan oleh auditor pemerintah dapat digolongkan sebagai pekerjaan profesi. Jika dilihat dari

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

6

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

rumusan atau pengertian profesi menurut KBBI dan pendapat Prof.

Welenski tersebut di atas, maka pekerjaan audit yang dilakukan auditor

APIP dapat digolongkan pada pekerjaan profesi/profesional.

Bekerja secara profesional berarti bekerja dengan menggunakan

keahlian khusus menurut aturan dan persyaratan profesi. Karena itu

setiap pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan suatu sarana berupa standar dan kode etik sebagai pedoman
setiap pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan suatu sarana
berupa standar dan kode etik sebagai pedoman atau pegangan bagi
seluruh anggota profesi tersebut. Kode etik dan standar tersebut bersifat
mengikat dan harus ditaati oleh setiap anggota agar setiap hasil kerja
para anggota dapat dipercaya dan memenuhi kualitas yang ditetapkan
oleh organisasi.
B.
PENGERTIAN DAN TUJUAN KODE ETIK
1. Pengertian Etik dan Kode Etik
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, 1988, mendefinisikan etik sebagai (1) kumpulan
asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; (2) nilai mengenai
benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang
buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Menurut
Eric L. Kohler dalam buku A Dictionary for Accountants, edisi ke
lima, 1979 – ethic adalah :
A system of moral principles and their application to
particular problems of conduct; specially, the rules of
conduct of a profession imposed by a professional body
governing the behavior of its member.

Etika menurut Dictionary of Accounting karangan Ibrahim Abdulah

Assegaf, cetakan I tahun 1991 adalah sebagai berikut :

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

7

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Disiplin pribadi dalam hubungannya dengan lingkungan yang lebih daripada apa yang sekedar ditentukan oleh Undang- Undang.

Jadi, kode etik pada prinsipnya merupakan sistem dari prinsip- prinsip moral yang diberlakukan dalam suatu kelompok profesi yang ditetapkan secara bersama.

Kode etik suatu profesi merupakan ketentuan perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap mereka yang menjalankan tugas profesi tersebut, seperti dokter, pengacara, polisi, akuntan, penilai, dan profesi lainnya.

pengacara, polisi, akuntan, penilai, dan profesi lainnya. Dilema Etika dan Solusinya 2. Dalam hidup bermasyarakat
Dilema Etika dan Solusinya
Dilema Etika dan Solusinya

2.

Dalam hidup bermasyarakat perilaku etis sangat penting, karena interaksi antar dan di dalam masyarakat itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai etika. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa kesadaran semua anggota masyarakat untuk berperilaku secara etis dapat membangun suatu ikatan dan keharmonisan bermasyarakat. Namun demikian, kita tidak bisa mengharapkan bahwa semua orang akan berperilaku secara etis. Terdapat dua faktor utama yang mungkin menyebabkan orang berperilaku tidak etis, yakni:

mungkin menyebabkan orang berperilaku tidak etis, yakni: a. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat

a. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandar udara (bandara). Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat terbuka.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

8

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Pada kesempatan berikutnya, pada saat bertemu dengan keluarga dan teman-temannya, yang bersangkutan dengan bangga bercerita bahwa dia telah menemukan dompet dan mengambil isinya.

b.

Orang tersebut secara sengaja bertindak tidak etis untuk keuntungan diri sendiri. Misalnya, seperti contoh di atas, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandara. Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat tersembunyi dan merahasiakan kejadian tersebut.

a. b.
a.
b.

Dorongan orang untuk berbuat tidak etis mungkin diperkuat oleh rasionalisasi yang dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan berdasarkan pengamatan dan pengetahuannya. Rasionalisasi tersebut mencakup tiga hal sebagai berikut:

Setiap orang juga melakukan hal (tidak etis) yang sama. Misalnya, orang mungkin berargumen bahwa tindakan memalsukan perhitungan pajak, menyontek dalam ujian, atau menjual barang yang cacat tanpa memberitahukan kepada pembelinya bukan perbuatan yang tidak etis karena yang bersangkutan berpendapat bahwa orang lain pun melakukan tindakan yang sama.

Jika sesuatu perbuatan tidak melanggar hukum berarti perbuatan tersebut tidak melanggar etika. Argumen tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa hukum yang sempurna harus sepenuhnya dilandaskan pada etika. Misalnya, seseorang yang menemukan barang hilang tidak wajib mengembalikannya kecuali jika pemiliknya dapat membuktikan bahwa barang yang ditemukannya tersebut benar-benar milik orang yang kehilangan tersebut.

bahwa barang yang ditemukannya tersebut benar-benar milik orang yang kehilangan tersebut. Pusdiklatwas BPKP 2008 9

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

9

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

c. Kemungkinan bahwa tindakan tidak etisnya akan diketahui orang lain serta sanksi yang harus ditanggung
c.
Kemungkinan bahwa tindakan tidak etisnya akan diketahui
orang lain serta sanksi yang harus ditanggung jika
perbuatan tidak etis tersebut diketahui orang lain tidak
signifikan. Misalnya penjual yang secara tidak sengaja
terlalu besar menulis harga barang mungkin tidak akan
dengan kesadaran mengoreksinya jika jumlah tersebut
sudah dibayar oleh pembelinya. Dia mungkin akan
memutuskan untuk lebih baik menunggu pembeli protes
untuk mengoreksinya, sedangkan jika pembeli tidak
menyadari dan tidak protes maka penjual tidak perlu
memberitahu.
Kenyataan ini menimbulkan dilema etika, pertanyaan
tentang bagaimana seseorang seharusnya menyikapi suatu
keadaan untuk menetapkan apakah suatu tindakan merupakan
perbuatan etis atau tidak etis. Pada tahun 1930-an, organisasi
pengusaha Rotary International, mengembangkan kode etik untuk
kalangannya. Dalam menetapkan apakah suatu tindakan
digolongkan etis atau tidak etis, organisasi tersebut menggunakan
empat pertanyaan, biasa dikenal dengan the Four-Way Test,
yakni:
a. Apakah tindakan tersebut benar?
b. Apakah
tindakan
tersebut
adil
untuk
semua pihak?
c. Apakah tindakan tersebut dapat
membangun kesan baik dan
pertemanan yang lebih baik?

d. Apakah tindakan tersebut menguntungkan semua pihak?

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

10

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Saat ini, telah dikembangkan rangka pemikiran untuk membantu setiap orang memecahkan dilema etika. Rangka tersebut dapat membantu masyarakat mengidentifikasi masalah etika dan menetapkan tindakan yang tepat sesuai dengan nilai pribadi yang dimilikinya. Rangka tersebut dikenal sebagai the six- step approach, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

a. Identifikasikan kejadiannya. b. c. d. e. f.
a.
Identifikasikan kejadiannya.
b.
c.
d.
e.
f.

Identifikasikan masalah etika berkaitan dengan kejadian tersebut.

Tetapkan siapa saja yang akan terpengaruh serta tetapkan apa konsekuensi yang akan diterima/ditanggungnya berkaitan dengan kejadian tersebut.

Identifikasikan alternatif-alternatif tindakan yang dapat ditempuh pihak yang terkait dengan dilema tersebut.

Identifikasikan konsekuensi dari tiap-tiap alternatif tersebut.

Tetapkan tindakan yang tepat berdasarkan pertimbangan tentang nilai-nilai etika yang dimiliki dan konsekuensi serta kesanggupan menanggung konsekuensi atas pilihan tindakannya. Pilihan tindakan tersebut sifatnya sangat individual sehingga sangat tergantung pada nilai etika yang dimiliki oleh yang bersangkutan serta kesanggupannya menanggung akibat dari pilihan tindakannya.

kesanggupannya menanggung akibat dari pilihan tindakannya. Langkah tersebut akan mengarah pada ketidakseragaman

Langkah tersebut akan mengarah pada ketidakseragaman perilaku karena nilai yang diyakini oleh masing-masing individu mungkin berbeda. Oleh karena itu, untuk tercapainya keseragaman ukuran perilaku, apakah suatu tindakan etis atau tidak etis, maka kode etik perlu ditetapkan bersama oleh seluruh anggota profesi.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

11

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

3. Perlunya Kode Etik bagi Profesi

Etik dan Standar Audit 3. Perlunya Kode Etik bagi Profesi Sebagaimana diuraikan di atas, kode etik

Sebagaimana diuraikan di atas, kode etik yang mengikat semua anggota profesi perlu ditetapkan bersama. Tanpa kode etik, maka setiap individu dalam satu komunitas akan memiliki tingkah laku yang berbeda-beda yang dinilai baik menurut anggapannya dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Tidak dapat dibayangkan betapa kacaunya apabila, misalnya, setiap orang dibiarkan dengan bebas menentukan mana yang baik dan mana yang buruk menurut kepentingannya masing-masing, atau bila menipu dan berbohong dianggap perbuatan baik, atau setiap orang diberi kebebasan untuk berkendaraan di sebelah kiri atau kanan sesuai keinginannya. Oleh karena itu nilai etika atau kode etik diperlukan oleh masyarakat, organisasi, bahkan negara agar semua berjalan dengan tertib, lancar, teratur dan terukur.

semua berjalan dengan tertib, lancar, teratur dan terukur. Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja
semua berjalan dengan tertib, lancar, teratur dan terukur. Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja

Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja auditor ditentukan oleh keahlian, independensi serta integritas moral/kejujuran para auditor dalam menjalankan pekerjaannya. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap satu atau beberapa auditor dapat merendahkan martabat profesi auditor secara keseluruhan, sehingga dapat merugikan auditor lainnya.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

12

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Oleh karena itu organisasi auditor berkepentingan untuk mempunyai kode etik yang dibuat sebagai prinsip moral atau aturan perilaku yang mengatur hubungan antara auditor dengan auditan, antara auditor dengan auditor dan antara auditor dengan masyarakat.

Kode etik atau aturan perilaku dibuat untuk dipedomani dalam berperilaku atau melaksanakan penugasan sehingga
Kode etik atau aturan
perilaku dibuat untuk
dipedomani dalam berperilaku
atau melaksanakan penugasan
sehingga menumbuhkan
kepercayaan dan memelihara
citra organisasi di mata
masyarakat.
C.
PENGERTIAN DAN TUJUAN STANDAR AUDIT
Salah satu pengertian standar menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Standar
antara lain diperlukan sebagai:
1.
Ukuran mutu;
2.
Pedoman kerja;
3.
Batas tanggung jawab;
4.
Alat pemberi perintah;
5.
Alat pengawasan;

6. Kemudahan bagi umum.

Standar

yang

digunakan

sebagai

ukuran

pada

umumnya

diperlukan pada pekerjaan yang memiliki ciri:

1. Menyangkut kepentingan orang banyak;

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

13

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

2. Mutu hasilnya ditentukan;

3. Banyak orang (pekerja) terlibat;

4. Sifat dan mutu pekerjaan sama;

5. Ada organisasi yang mengatur.

dan mutu pekerjaan sama; 5. Ada organisasi yang mengatur. Standar merupakan kriteria atau ukuran mutu kinerja

Standar merupakan kriteria atau ukuran mutu kinerja yang harus dicapai, berbeda dengan prosedur yang merupakan urutan tindakan yang harus dilaksanakan untuk mencapai suatu standar tertentu. Standar audit merupakan ukuran mutu pekerjaan audit yang ditetapkan oleh organisasi profesi audit, yang merupakan persyaratan minimum yang harus dicapai auditor dalam melaksanakan tugas auditnya. Standar audit diperlukan untuk menjaga mutu pekerjaan auditor. Mutu audit perlu dijaga supaya profesi auditor tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. Untuk meyakinkan pembaca laporan audit, maka auditor harus mencantumkan dalam laporannya bahwa auditnya telah dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku.

D.

KODE ETIK, STANDAR AUDIT DAN PROGRAM JAMINAN KUALITAS

D. KODE ETIK, STANDAR AUDIT DAN PROGRAM JAMINAN KUALITAS Dasar pikiran yang melandasi penyusunan kode etik

Dasar pikiran yang melandasi penyusunan kode etik dan standar setiap profesi adalah kebutuhan profesi tersebut akan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang diberikan oleh profesi. Setiap profesi yang menjual jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya.

memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Pada umumnya tidak semua pengguna jasa audit memahami hal-

Pada umumnya tidak semua pengguna jasa audit memahami hal- hal yang berkaitan dengan auditing. Yang memahami auditing adalah

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

14

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

kalangan profesi itu sendiri. Oleh karena itu profesi tersebut perlu mengatur dan menetapkan ukuran mutu yang harus dicapai oleh para auditornya. Aturan yang ditetapkan oleh profesi ini menyangkut aturan perilaku, yang disebut dengan kode etik, yang mengatur perilaku auditor sesuai dengan tuntutan profesi dan organisasi pengawasan serta standar audit yang merupakan ukuran mutu minimal yang harus dicapai auditor dalam menjalankan tugas auditnya. Apabila aturan ini tidak dipenuhi berarti auditor tersebut bekerja di bawah standar dan dapat dianggap melakukan malpraktik.

di bawah standar dan dapat dianggap melakukan malpraktik. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa profesi harus
di bawah standar dan dapat dianggap melakukan malpraktik. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa profesi harus

Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa profesi harus dijaga. Karena itu setiap profesi harus membangun dan melaksanakan program jaminan kualitas. Program ini harus dilakukan dalam upaya pemenuhan standar audit yang mengharuskan auditor menggunakan keahlian profesional dengan cermat dan seksama. Program jaminan kualitas harus diciptakan untuk mempertahankan profesionalisme dan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa audit.

dan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa audit. Program jaminan kualitas untuk masing-masing APIP dapat
dan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa audit. Program jaminan kualitas untuk masing-masing APIP dapat

Program jaminan kualitas untuk masing-masing APIP dapat dibangun sendiri sesuai dengan karakteristik APIP yang bersangkutan. Sebagai contoh, langkah-langkah pengendalian mutu dalam penugasan audit di lingkungan BPKP, sebagai bagian dari program jaminan kualitas, dituangkan dalam 12 (dua belas) formulir kendali mutu (KM-1 s.d. KM-12)

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

15

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

sebagaimana ditetapkan Surat Edaran Kepala BPKP No. SE-448/K/1990 tanggal 11 September 1990. Standar Pengendali Mutu yang harus dibuat menurut ketentuan Ikatan Akuntan Indonesia dapat dilihat di Lampiran 1.

E.

KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP

dilihat di Lampiran 1. E. KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP Auditor APIP adalah pegawai negeri
dilihat di Lampiran 1. E. KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP Auditor APIP adalah pegawai negeri

Auditor APIP adalah pegawai negeri yang mendapat tugas antara lain untuk melakukan audit. Karena itu auditor pemerintah dapat diibaratkan sebagai seseorang yang kaki kanannya terikat pada ketentuan-ketentuan sebagai pegawai negeri sedangkan kaki kirinya terikat pada ketentuan- ketentuan profesinya. Pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa bagi pegawai negeri yang bertugas sebagai auditor posisinya sebagai pegawai negeri adalah lebih utama dari tugas profesinya, tetapi menyatakan ruang lingkup kode etik yang harus diperhatikannya lebih luas dari profesi tertentu yang lain.

Auditor APIP yang meliputi auditor di lingkungan BPKP, Inspektorat Jenderal Departemen, Unit Pengawasan LPND, dan Inspektorat Propinsi, Kabupaten, dan Kota dalam menjalankan tugas auditnya wajib mentaati Kode Etik APIP yang berkaitan dengan statusnya sebagai pegawai negeri dan Standar Audit APIP sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. PER/04/M.PAN/03/2008 dan No. PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008.

Negara No. PER/04/M.PAN/03/2008 dan No. PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008. Pusdiklatwas BPKP 2008 1 6

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

16

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Di sisi lain, terdapat pula auditor pemerintah, khususnya auditor BPKP, adalah akuntan, anggota Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang dalam keadaan tertentu melakukan audit atas entitas yang menerbitkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (BUMN/BUMD) sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Karena itu auditor pemerintah tersebut wajib pula mengetahui dan mentaati Kode Etik Akuntan Indonesia dan Standar Audit sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Kutipan Kode Etik ini dimuat dalam Lampiran 2.

oleh IAI. Kutipan Kode Etik ini dimuat dalam Lampiran 2. LATIHAN SOAL 1. 2. 3. Sebutkan
LATIHAN SOAL 1. 2. 3.
LATIHAN SOAL
1.
2.
3.

Sebutkan 5 macam profesi yang Saudara ketahui dan jelaskan pengertian profesional !

Menurut pendapat Saudara apakah pekerjaan APIP termasuk pekerjaan profesional ? Jelaskan alasan Saudara !

Mengapa kode etik diperlukan dalam organisasi profesi auditor ?

Bagaimana sikap Saudara selaku auditor pada APIP, jika melihat auditor APIP lainnya dalam tingkah lakunya tidak sesuai dengan yang diatur oleh organisasi profesinya ?

F.

4.
4.

5. Apa perlunya standar audit ? Apa yang dimaksud dengan pengendalian mutu dalam kaitannya dengan penugasan audit ?

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

17

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Mengapa setiap organisasi auditor perlu membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu audit ?

6. Apa bedanya standar audit dengan prosedur audit ? Jelaskan hubungan keduanya !

7. Harap Saudara jelaskan hubungan kode etik, standar audit dan pengendalian mutu audit !

kode etik, standar audit dan pengendalian mutu audit ! 8. 9. 10. Umumnya, apabila personil yang

8.

9.

10.

Umumnya, apabila personil yang ditugaskan semakin cakap dan berpengalaman, maka supervisi secara langsung terhadap personil tersebut, semakin tidak diperlukan. Demikian salah satu pernyataan dalam standar pengendalian mutu akuntan publik. Tanpa memperhatikan standar yang lain, bagaimana komentar Saudara mengenai pernyataan tersebut ?

Apakah hasil audit yang dilakukan oleh seorang auditor yang pandai pasti bermutu ? Jelaskan jawaban Saudara !

Sebutkan unsur kebijakan dan prosedur pengendalian mutu audit menurut Ikatan Akuntan Indonesia ?

unsur kebijakan dan prosedur pengendalian mutu audit menurut Ikatan Akuntan Indonesia ? Pusdiklatwas BPKP 2008 1

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

18

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan
Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan
Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan
Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan
Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan
Kode Etik dan Standar Audit TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Setelah mempelajari bab ini para peserta mampu menjelaskan dan menerapkan kode etik APIP

Kode etik APIP dimaksudkan sebagai pegangan atau pedoman bagi para pejabat dan auditor APIP dalam bersikap dan berperilaku agar dapat memberikan citra APIP yang baik serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap APIP.

Di samping itu, sebagai bahan perbandingan, dalam modul ini akan dibahas secara singkat mengenai kode etik yang diterapkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal yang antara lain termasuk Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern BUMN/BUMD (FKSPI BUMN/BUMD).

antara lain termasuk Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern BUMN/BUMD (FKSPI BUMN/BUMD). Pusdiklatwas BPKP 2008 1 9

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

19

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

A. LANDASAN HUKUM

Kode Etik APIP yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/04/M.PAN/03/2008
Kode Etik APIP yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/04/M.PAN/03/2008
tanggal 31 Maret 2008 dilandasi oleh ketentuan hukum sebagai berikut:
1.
Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 1999 Tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme;
2.
Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara;
3.
Undang-Undang
RI
Nomor
1
Tahun
2004
Tentang
Perbendaharaan Negara;
4.
Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara;
5.
Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah;
6.
Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian
Negara RI sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006;
7.
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan
Pemberantasan Korupsi;

8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/03.1/M.PAN/03/2007 Tentang Kebijakan Pengawasan Nasional Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2007–2009.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

20

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

B. KODE ETIK APIP

Kode etik APIP ini diberlakukan bagi seluruh auditor dan pegawai negeri sipil yang diberi tugas oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) untuk melaksanakan pengawasan dan pemantauan tindak lanjutnya.

1. Prinsip-prinsip Perilaku integritas, obyektivitas, kerahasiaan dan kompetensi. a. Integritas bijaksana,
1. Prinsip-prinsip Perilaku
integritas, obyektivitas, kerahasiaan dan kompetensi.
a.
Integritas
bijaksana,
kerahasiaan dan kompetensi. a. Integritas bijaksana, Isi dari kode etik APIP ini memuat 2 (dua) komponen,

Isi dari kode etik APIP ini memuat 2 (dua) komponen, yaitu: (1) Prinsip-prinsip perilaku auditor yang merupakan pokok-pokok yang melandasi perilaku auditor; dan (2) Aturan perilaku yang menjelaskan lebih lanjut prinsip-prinsip perilaku auditor.

Tuntutan sikap dan perilaku auditor dalam melaksanakan tugas pengawasan dilandasi oleh beberapa prinsip perilaku, yaitu:

Auditor dituntut untuk memiliki kepribadian yang dilandasi oleh sikap jujur, berani,

dan

bertanggung jawab untuk membangun kepercayaan guna memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang handal. Bersikap dan bertindak jujur merupakan tuntutan untuk dapat dipercaya. Hasil pengawasan yang dilakukan auditor dapat dipercaya oleh pengguna apabila auditor dapat menjunjung tinggi kejujuran. Sikap jujur ini juga didukung

pengguna apabila auditor dapat menjunjung tinggi kejujuran. Sikap jujur ini juga didukung Pusdiklatwas BPKP 2008 2

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

21

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

oleh sikap berani untuk menegakkan kebenaran. Tidak mudah diancam dengan berbagai ancaman. Bijaksana berarti auditor melaksanakan tugasnya dengan tidak tergesa-gesa melainkan berdasarkan pembuktian yang memadai. Auditor dinilai bertanggung jawab apabila dalam penyampaian hasil pengawasannya seluruh bukti yang mendukung temuan audit didasarkan pada bukti yang cukup, kompeten, dan relevan.

b. Obyektivitas c. Kerahasiaan
b. Obyektivitas
c. Kerahasiaan

Auditor harus menjunjung tinggi ketidak-berpihakan profesional dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan memroses data/informasi audit. Auditor APIP membuat penilaian seimbang atas semua situasi yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan sendiri atau orang lain dalam mengambil keputusan.

Auditor harus menghargai nilai dan kepemilikan informasi yang diterimanya dan tidak mengungkapkan informasi tersebut tanpa otorisasi yang memadai, kecuali diharuskan oleh peraturan perundang-undangan. Auditor hanya mengungkapkan informasi yang diperolehnya kepada yang berhak untuk menerimanya sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. d. Kompetensi Dalam melaksanakan tugasnya auditor dituntut
sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. d. Kompetensi Dalam melaksanakan tugasnya auditor dituntut

d. Kompetensi

Dalam melaksanakan tugasnya auditor dituntut untuk memiliki pengetahuan, keahlian, pengalaman dan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

22

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas. Tuntutan ini bukan saja dilakukan berdasarkan penugasan keikutsertaan dalam seminar, lokakarya atau pelatihan dari instansinya saja melainkan juga dilakukan secara mandiri oleh auditor yang bersangkutan.

Aturan Perilaku a. Integritas Dalam prinsip ini auditor dituntut agar: 1) Dapat melaksanakan tugasnya secara
Aturan Perilaku
a.
Integritas
Dalam prinsip ini auditor dituntut agar:
1)
Dapat
melaksanakan
tugasnya
secara
jujur,
bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh;

2.

Aturan perilaku mengatur setiap tindakan yang harus dilakukan oleh auditor dan merupakan pengejawantahan prinsip- prinsip perilaku auditor.

teliti,

2) Dapat menunjukkan kesetiaan dalam segala hal yang berkaitan dengan profesi dan organisasi dalam melaksanakan tugas;

3) Dapat mengikuti perkembangan peraturan perundang- undangan dan mengungkapkan segala hal yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan profesi yang berlaku;

4)

Dapat menjaga citra dan mendukung visi dan misi organisasi;

5)

Tidak menjadi bagian kegiatan ilegal atau mengikatkan diri pada tindakan-tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi APIP atau organisasi;

diri pada tindakan-tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi APIP atau organisasi; Pusdiklatwas BPKP 2008 2 3

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

23

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

6)

Dapat menggalang kerjasama yang sehat diantara sesama auditor dalam pelaksanaan audit; dan

7)

Dapat

saling

mengingatkan,

membimbing

dan

mengoreksi perilaku sesama auditor.

Bahan Diskusi:

Sumitro adalah seorang guru besar akuntansi pada suatu universitas negeri. Ia duduk di ruangan kerjanya
Sumitro adalah seorang guru besar akuntansi pada
suatu universitas negeri. Ia duduk di ruangan kerjanya
sambil berpikir keras karena baru saja melakukan
percakapan telepon dengan seorang pengacara yang
mewakili suatu bank pemerintah terkemuka. Sang pengacara
meminta dirinya menjadi saksi ahli dalam suatu kasus
laporan keuangan nasabah bank berkaitan dengan pemberian
kredit.
Kelihatannya bank tersebut telah memberikan suatu
pinjaman dalam jumlah yang besar kepada nasabah tersebut
yang didasarkan pada laporan keuangannya. Pinjaman
tersebut tidak sanggup ditanggulangi pengembaliannya oleh
si nasabah karena terjadi kesulitan keuangan yang
berdampak pada terganggunya kelangsungan hidup
perusahaan nasabah itu. Laporan keuangan itu telah diaudit
dengan opini wajar tanpa pengecualian oleh sebuah kantor akuntan publik yang dikenalnya
dengan baik.
Profesor Sumitro telah mereviu laporan audit atas laporan keuangan, kertas kerja audit,
dan standar akuntansi yang terkait dengan masalah tersebut. Ia menyimpulkan bahwa kantor
akuntan publik telah lalai dalam pemberian pendapat atau opini atas penyajian laporan keuangan
dan kondisi perusahaan.
Profesor Sumitro ragu-ragu apakah ia bersedia menjadi saksi ahli dalam kasus tersebut
karena ia mengenal secara pribadi para akuntan yang bekerja pada kantor akuntan publik
tersebut. Di samping itu, kantor akuntan publik tersebut selalu merekrut mahasiswa dari
universitasnya dan telah memberikan banyak sumbangan keuangan yang cukup besar bagi
pengembangan program akuntansi di universitasnya. Kenyataan lain, kantor akuntan publik itu
sedang memroses dukungan dana dalam mempromosikan dirinya untuk menduduki jabatan
ketua jurusan akuntansi.
Sumitro khawatir jika ia setuju memberikan pelayanan sebagai saksi ahli, ia mungkin
tidak dapat memberikan kesaksiannya dengan obyektif. Ia juga khawatir tindakannya sebagai
saksi ahli dapat membahayakan hubungan baik yang sudah terjalin antara universitasnya dengan
kantor akuntan publik tersebut.
Diskusikan kasus tersebut yang dikaitkan dengan unsur integritas dan apa yang harus
dilakukan oleh Profesor Sumitro.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

24

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

b.

Obyektivitas

Dalam prinsip ini auditor dituntut agar:

1) Mengungkapkan semua fakta material yang diketahuinya, yang apabila tidak diungkapkan mungkin dapat mengubah pelaporan kegiatan-kegiatan yang diaudit;

3) dengan keputusan profesionalnya. maupun
3)
dengan keputusan
profesionalnya.
maupun

2) Tidak berpartisipasi dalam kegiatan atau hubungan- hubungan yang mungkin mengganggu atau dianggap mengganggu penilaian yang tidak memihak atau yang mungkin menyebabkan terjadinya benturan kepentingan; dan

Menolak suatu pemberian dari auditi yang terkait

pertimbangan

Bahan Diskusi:

dan Menolak suatu pemberian dari auditi yang terkait pertimbangan Bahan Diskusi: Pusdiklatwas BPKP 2008 2 5

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

25

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Aditia, seorang auditor, menerima penugasan audit pada Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Timur. Hasil audit sementara
Aditia, seorang auditor, menerima penugasan audit pada Dinas
Kehutanan Propinsi Kalimantan Timur. Hasil audit sementara yang
dijumpai adalah adanya indikasi kerugian negara akibat penebangan ilegal
yang dilakukan oleh sekelompok oknum tertentu, yang tidak terdeteksi
oleh pengawasan dinas kehutanan. Aditia menduga ada kolusi antara
kelompok oknum tersebut dengan orang dalam , sehingga penebangan
liar tersebut tidak terlaporkan. Padahal seyogianya dapat terdeteksi
melalui sistem pengendalian intern Dinas Kehutanan.
Salah seorang pejabat dinas kehutanan pernah melakukan
pendekatan secara pribadi kepada Aditia,
ketika ia sedang menanyakan tentang jenis-
jenis kayu yang hendak ia beli dalam rangka
pembangunan rumah tinggalnya. Pejabat
tersebut menjanjikan akan menyediakan
kayu yang Aditia butuhkan dengan kualitas
terbaik tanpa harus membayar sepeserpun.
Walaupun tidak ada permintaan kompensasi
dari pejabat tersebut, namun Aditia dapat
menduga bahwa pemberian kayu yang dijanjikan memiliki hubungan
dengan hasil audit yang ia sampaikan.
Diskusikan kasus tersebut dikaitkan dengan sikap obyektivitas yang
seharusnya dipertahankan oleh Aditia.
c. Kerahasiaan Dalam prinsip ini auditor dituntut agar: 1)
c.
Kerahasiaan
Dalam prinsip ini auditor dituntut agar:
1)

Secara hati-hati menggunakan dan menjaga segala informasi yang diperoleh dalam audit; dan

dan menjaga segala informasi yang diperoleh dalam audit; dan 2) Tidak akan menggunakan informasi yang diperoleh

2) Tidak akan menggunakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan pribadi/golongan di luar kepentingan organisasi atau dengan cara yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Bahan Diskusi:

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

26

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Sejak memasuki era reformasi, kebebasan untuk memperoleh informasi sedemikian gencar sampai-sampai informasi yang
Sejak
memasuki
era
reformasi,
kebebasan
untuk
memperoleh
informasi sedemikian gencar sampai-sampai informasi yang belum
dipublikasikan secara formal pun ternyata telah tersebar di masyarakat.
Masyarakat mempertanyakan hasil-hasil pengawasan yang dihasilkan
oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah selama lebih dari 30 tahun
di era orde baru. Banyak pihak berpendapat bahwa hasil pengawasan oleh
aparatur pengawasan intern pemerintah
diklasifikasikan sebagai informasi yang
rahasia bagi instansi tersebut sehingga
tidak patut dipublikasikan kepada
masyarakat.
Di lain pihak masyarakat sebagai
stakeholders merasa perlu memperoleh
berbagai informasi tersebut sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip
akuntabilitas publik oleh aparatur negara
dalam mengelola dana masyarakat. Contoh yang masih belum lenyap di
ingatan kita, bagaimana seorang ketua tim auditor Badan Pemeriksa
Keuangan menginformasikan temuan auditnya kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi yang kemudian diperluas dengan penjebakan
(istilah penasehat hukum terdakwa) di sebuah hotel yang berujung kepada
proses pengadilan dan penjatuhan hukuman 3 (tiga) tahun penjara
terhadap terdakwa.
Diskusikan: kasus tersebut dilihat dari sudut pandang prinsip
kerahasiaan yang harus dijaga oleh auditor dan berikan pendapat Saudara
apakah yang dilakukan oleh ketua tim auditor BPK itu melanggar etika?
d.
Kompetensi
Dalam prinsip ini auditor dituntut agar:
1)
Melaksanakan
tugas
pengawasan
sesuai
dengan
standar audit;
2)
Terus menerus meningkatkan kemahiran profesional,
keefektifan dan kualitas hasil pekerjaan; dan

3) Menolak untuk melaksanakan tugas apabila tidak sesuai dengan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang dimiliki.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

27

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Bahan Diskusi:

Anton baru saja diangkat sebagai pegawai negeri sipil dan ditempatkan pada Inspektorat Jenderal Departemen Teknologi
Anton baru saja diangkat sebagai pegawai negeri
sipil dan ditempatkan pada Inspektorat Jenderal
Departemen Teknologi Tinggi. Ia adalah seorang lulusan
sarjana ekonomi jurusan akuntansi yang belum pernah
melakukan audit.
Dua minggu sejak penempatannya, ia langsung
ditugaskan untuk melakukan audit kinerja pada Direktorat
Jenderal Teknologi Nuklir yang merupakan salah satu unit kerja di bawah
departemen itu. Anton menyadari bahwa ia belum berpengalaman sama sekali
tentang bidang tugasnya. Sebagai pegawai baru tentu saja ia merasa enggan
untuk menginformasikan hal itu kepada pimpinannya, padahal surat tugasnya
telah ditanda tangani.
Diskusikan dari kasus di atas keterkaitannya dengan pemenuhan prinsip
etika kompetensi.
kebijakan atas pelanggaran kode etik APIP ini. Kebijakan yang berupa pernyataan ketentuan tersebut adalah: 1.
kebijakan atas pelanggaran kode etik APIP ini.
Kebijakan yang berupa pernyataan ketentuan tersebut adalah:
1.

PELANGGARAN

C.

pernyataan ketentuan tersebut adalah: 1. PELANGGARAN C. Penegakan disiplin atas pelanggaran kode etik profesi adalah

Penegakan disiplin atas pelanggaran kode etik profesi

adalah suatu tindakan positif agar ketentuan tersebut dipatuhi

secara konsisten. Itulah sebabnya Peraturan Menteri Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor

PER/04/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 menetapkan

Tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik tidak dapat diberi

toleransi, meskipun dengan alasan tindakan tersebut dilakukan

demi kepentingan organisasi atau diperintahkan oleh pejabat yang

lebih tinggi.

atau diperintahkan oleh pejabat yang lebih tinggi. 2. Auditor tidak diperbolehkan untuk melakukan atau memaksa

2. Auditor tidak diperbolehkan untuk melakukan atau memaksa

karyawan lain melakukan tindakan melawan hukum atau tidak etis.

3. Pimpinan APIP harus melaporkan pelanggaran kode etik oleh

auditor kepada pimpinan organisasi.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

28

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

4. Pemeriksaan, investigasi dan pelaporan pelanggaran kode etik ditangani oleh Badan Kehormatan Profesi, yang terdiri dari pimpinan APIP dengan anggota yang berjumlah ganjil dan disesuaikan dengan kebutuhan. Anggota Badan Kehormatan Profesi diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan APIP.

Profesi diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan APIP. D. PENGECUALIAN Berhubung penerapan kode etik berkaitan

D.

PENGECUALIAN

Berhubung penerapan kode etik berkaitan dengan peran manusia yang lingkungannya tidak selalu normal, maka diberikan klausul pengecualian atas pelanggaran kode etik profesi. Dalam hal-hal tertentu yang menurut pertimbangan profesionalnya, seorang auditor dimungkinkan untuk tidak menerapkan aturan perilaku tertentu, maka mekanisme pengecualiannya diatur sebagai berikut: Permohonan pengecualian atas penerapan kode etik tersebut harus dilakukan secara tertulis sebelum auditor terlibat dalam kegiatan atau tindakan yang dimaksud. Persetujuan untuk tidak menerapkan kode etik hanya boleh diberikan oleh pimpinan APIP.

atau tindakan yang dimaksud. Persetujuan untuk tidak menerapkan kode etik hanya boleh diberikan oleh pimpinan APIP.

Dengan kata lain, pengecualian untuk tidak menerapkan kode etik hanya dilakukan atas situasi yang telah direncanakan, bukan secara spontan pada saat kejadian itu berlangsung. Pengecualian juga tidak diperkenankan ketika pelanggaran atas kode etik telah dilakukan baru kemudian diajukan permohonan.

ketika pelanggaran atas kode etik telah dilakukan baru kemudian diajukan permohonan. Pusdiklatwas BPKP 2008 2 9

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

29

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

E. SANKSI ATAS PELANGGARAN

Auditor APIP yang terbukti melanggar Kode Etik APIP akan dikenakan sanksi oleh pimpinan APIP atas rekomendasi dari Badan Kehormatan Profesi. Bentuk-bentuk sanksi yang direkomendasikan oleh Badan Kehormatan Profesi antara lain berupa:

oleh Badan Kehormatan Profesi antara lain berupa: a. Teguran tertulis; b. Usulan pemberhentian dari tim
a. Teguran tertulis; b. Usulan pemberhentian dari tim audit; dan c. Tidak diberi penugasan audit
a. Teguran tertulis;
b. Usulan pemberhentian dari tim audit; dan
c. Tidak diberi penugasan audit selama jangka waktu tertentu.
berlaku.

Pengenaan sanksi terhadap pelanggaran Kode Etik oleh pimpinan

APIP dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

F. KODE ETIK KONSORSIUM ORGANISASI PROFESI AUDIT INTERNAL

Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal menyusun kode etik dengan pendekatan yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan latar belakang organisasionalnya yang berbeda dengan APIP. Konsorsium menggunakan istilah Standar Perilaku

dengan APIP. Konsorsium menggunakan istilah Standar Perilaku Auditor Internal yang berisi: i. Auditor internal harus

Auditor Internal yang berisi:

i. Auditor internal harus menunjukkan kejujuran, objektivitas, dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya.

ii. Auditor internal harus menunjukkan loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap pihak yang dilayani. Namun demikian, auditor internal

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

30

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

tidak boleh secara sadar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum.

iii. Auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam tindakan atau kegiatan yang dapat mendiskreditkan profesi audit internal atau mendiskreditkan organisasinya.

profesi audit internal atau mendiskreditkan organisasinya. iv. Auditor internal harus menahan diri dari

iv.

Auditor internal harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan konflik dengan kepentingan organisasinya; atau kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka, yang meragukan kemampuannya untuk dapat melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya secara objektif.

v.

Auditor internal tidak boleh menerima sesuatu dalam bentuk apapun dari karyawan, klien, pelanggan, pemasok, ataupun mitra bisnis organisasinya, yang dapat, atau, patut diduga, dapat memengaruhi pertimbangan profesionalnya.

vi.

vii.

viii.

Auditor internal hanya melakukan jasa-jasa yang dapat diselesaikan dengan menggunakan kompetensi profesional yang dimilikinya.

Auditor internal harus mengusahakan berbagai upaya agar senantiasa memenuhi Standar Profesi Audit Internal.

Auditor internal harus bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan tugasnya. Auditor internal tidak boleh menggunakan informasi rahasia (i) untuk mendapatkan keuntungan pribadi, (ii) secara melanggar hukum, atau (iii) yang dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya.

yang dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya. ix. Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, auditor internal

ix. Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, auditor internal harus mengungkapkan semua fakta-fakta penting yang diketahuinya, yaitu fakta-fakta yang jika tidak diungkap dapat (i) mendistorsi laporan atas

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

31

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

kegiatan yang direviu, atau (ii) menutupi adanya praktik-praktik yang melanggar hukum.

x. Auditor internal harus senantiasa meningkatkan kompetensi serta efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugasnya. Auditor internal wajib mengikuti pendidikan profesional berkelanjutan.

G. LATIHAN SOAL 1. Harap Saudara jelaskan pengertian independensi dalam hubungannya dengan penugasan audit! Ada
G.
LATIHAN SOAL
1.
Harap Saudara jelaskan pengertian independensi dalam
hubungannya dengan penugasan audit! Ada berapa jenis
independensi yang Saudara ketahui, jelaskan !
2.
Mengapa
di
dalam
menjalankan
tugasnya
auditor
harus
independen?
3.
Misalkan Saudara pimpinan salah satu Kantor Akuntan
Publik/Kepala Perwakilan BPKP/Inspektur Jenderal/Inspektur
Wilayah. Saudara mengetahui bahwa salah satu staf, Auditor A
yang terkenal sangat independen dalam sikap mentalnya, memiliki
hubungan keluarga dengan pimpinan organisasi B. Bagaimana
pertimbangan Saudara, apakah Saudara akan menugaskan
Auditor A untuk memeriksa organisasi B ? Apa alasan Saudara!
4.
Dengan merujuk kepada soal no. 3. jika Saudara adalah Auditor A,
dan pimpinan Saudara tidak tahu bahwa Saudara memiliki
hubungan keluarga dengan pimpinan organisasi B, tapi Saudara
ditugaskan untuk memeriksa organisasi B, bagaimana sikap
Saudara ? Jelaskan jawaban Saudara.

5. Dalam bulan Januari 20XX Saudara ditugaskan melakukan audit atas pengadaan barang inventaris dalam partai besar yang

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

32

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

spesifik dan harganya mahal, yang dibiayai dari anggaran belanja barang kantor Saudara.

Pada saat audit dijumpai hal-hal berikut :

a. Pada saat Saudara melakukan cek fisik ternyata terdapat kekurangan barang dengan nilai Rp 500.000.000,00 ;

b. c. d.
b.
c.
d.

Pejabat yang bertanggung jawab atas pengadaan barang tersebut menyatakan bahwa sisa barang sejumlah kekurangan tersebut dititipkan kepada rekanan (penjual) ;

Dari hasil analisis serta teknik audit yang Saudara lakukan diperoleh bukti/data bahwa telah terjadi kejanggalan yang menjurus kepada tindakan manipulasi dan kolusi sesama pejabat dan rekanan yang bersangkutan.

Pada saat Saudara membicarakan masalah tersebut kepada pejabat yang bertanggung jawab, Saudara diminta untuk tidak mempermasalahkan penyimpangan tersebut dan tidak memasukkan dalam laporan audit. Ia mengemukakan bahwa uang sebesar Rp500 juta tersebut tidak hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri saja, tetapi dibagi-bagi dengan pejabat-pejabat lainnya.

Bagaimana sikap Saudara seharusnya dalam menghadapi masalah tersebut? Berikan komentar secukupnya !

6.
6.

Sering dikatakan bahwa auditor harus memiliki integritas yang

tinggi. Apa maksud dari pengertian integritas di sini? Jelaskan

jawaban Saudara !

7. Pemeriksa harus memiliki keahlian yang diperlukan dalam tugasnya. Keahlian apa saja yang perlu dimiliki seorang auditor?

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

33

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu
Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu
Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu
Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu
Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu
Kode Etik dan Standar Audit PENDAHULUAN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu

PENDAHULUAN

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Setelah mempelajari bab ini, para peserta mampu menjelaskan standar audit yang berlaku bagi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah serta standar audit yang berlaku pada organisasi audit internal lainnya.

Bab ini akan menguraikan perihal:

1. Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (SA-APIP)

2. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara – Badan Pemeriksa Keuangan

3. Standar Profesi Audit Internal – Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal.

Internal – Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal. A. Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

A.

Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (SA-APIP) merupakan revisi atas Standar Audit Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah yang disusun oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tahun 1996.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

34

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Di dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004, tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara, diatur tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab Keuangan Negara yang dilakukan oleh dan atau atas nama Badan Pemeriksa Keuangan (Pasal 1 butir (3)).

Oleh karena APIP adalah auditor intern dalam lembaga eksekutif dan dibentuk untuk membantu pimpinan di lingkungan lembaga eksekutif, baik di tingkat Presiden, Menteri, Kepala Lembaga Pemerintah non Departemen (LPND) sampai ke tingkat Pemerintah Daerah Propinsi, Kabupaten, dan Kota, maka standar audit APIP diperlukan kehadirannya, mengingat pelaksanaan audit yang dilakukan oleh BPK tidak selalu dapat dialihkan untuk dilakukan oleh APIP, seperti audit keuangan. Namun dalam modul ini akan diuraikan secara singkat standar pemeriksaan keuangan negara (SPKN) yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala BPK Nomor 1 Tahun 2007 sebagai bahan pembanding.

1. Landasan Hukum
1. Landasan Hukum

Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (SA- APFP), yang diterbitkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Peraturan Menpan Nomor:

PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008, didasarkan pada:

PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008, didasarkan pada: o Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan

o Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara;

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

35

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

o

Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Lembaga Pemerintah Non Departemen dimana Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) diatur pada pasal 52 sampai dengan pasal 54)

o

Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006;

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/03.1/M.PAN/03/2007 Tentang Kebijakan Pengawasan Nasional Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2007–2009.

o Pengertian Standar Audit APIP Tujuan dan Fungsi Standar Audit APIP Tujuan standar audit APIP
o
Pengertian Standar Audit APIP
Tujuan dan Fungsi Standar Audit APIP
Tujuan standar audit APIP adalah:
a.

2.

3.

Standar audit APIP adalah kriteria atau ukuran mutu minimal untuk melakukan kegiatan audit yang wajib dipedomani oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).

dipedomani oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Menetapkan prinsip-prinsip dasar untuk merepresentasikan

Menetapkan prinsip-prinsip dasar untuk merepresentasikan praktik-praktik audit yang seharusnya;

b. Menyediakan kerangka kerja pelaksanaan dan peningkatan kegiatan audit intern yang memiliki nilai tambah;

c. Menetapkan dasar-dasar pengukuran kinerja audit;

d. Mempercepat

organisasi;

perbaikan

kegiatan

operasi

dan

proses

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

36

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

e. Menilai, mengarahkan dan mendorong auditor untuk mencapai tujuan audit;

f. Menjadi pedoman dalam pekerjaan audit; dan

g. Menjadi dasar penilaian keberhasilan pekerjaan audit.

Standar audit berfungsi sebagai ukuran mutu minimal bagi para auditor dan APIP dalam:

Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang dapat merepresentasikan praktik-praktik audit yang seharusnya, menyediakan kerangka kerja pelaksanaan dan peningkatan kegiatan audit yang memiliki nilai tambah serta menetapkan dasar-dasar pengukuran kinerja audit;

serta menetapkan dasar-dasar pengukuran kinerja audit; a. b. Pelaksanaan koordinasi audit oleh APIP; c.
a. b. Pelaksanaan koordinasi audit oleh APIP; c. Pelaksanaan perencanaan audit oleh APIP; dan d.
a.
b.
Pelaksanaan koordinasi audit oleh APIP;
c.
Pelaksanaan perencanaan audit oleh APIP; dan
d.
Ruang Lingkup

4.

Penilaian efektivitas tindak lanjut hasil pengawasan dan konsistensi penyajian laporan hasil audit.

pengawasan dan konsistensi penyajian laporan hasil audit. Kegiatan utama APIP meliputi: audit, reviu, pemantauan,

Kegiatan utama APIP meliputi: audit, reviu, pemantauan, evaluasi, dan kegiatan pengawasan lainnya berupa sosialisasi, asistensi dan konsultansi. Namun peraturan ini hanya mengatur mengenai Standar Audit APIP.

Kegiatan

audit

yang

dapat

dilakukan

oleh

APIP

pada

dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) jenis audit, yaitu:

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

37

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

a. Audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.

b. Audit kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan dan rekomendasi atas pengelolaan instansi pemerintah secara ekonomis, efisien, dan efektif.

Audit dengan tujuan tertentu yaitu audit yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diaudit. Yang termasuk dalam kategori ini adalah audit investigatif, audit terhadap masalah yang menjadi fokus perhatian pimpinan organisasi dan audit yang bersifat khas.

Ruang lingkup kegiatan audit yang diatur dalam Standar Audit ini meliputi audit kinerja dan audit investigatif, sedangkan audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan wajib menggunakan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).

c. Standar audit APIP disusun dengan sistematika yang
c.
Standar
audit
APIP
disusun
dengan
sistematika
yang

STANDAR AUDIT APIP

B.

disusun dengan sistematika yang STANDAR AUDIT APIP B. dapat digambarkan sebagai berikut: Pusdiklatwas BPKP 2008

dapat

digambarkan sebagai berikut:

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

38

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

PRINSIP-PRINSIP DASAR STANDAR UMUM AUDIT KINERJA AUDIT INVESTIGATIF STANDAR STANDAR STANDAR STANDAR PELAKSANAAN
PRINSIP-PRINSIP DASAR
STANDAR UMUM
AUDIT KINERJA
AUDIT INVESTIGATIF
STANDAR
STANDAR
STANDAR
STANDAR
PELAKSANAAN
PELAPORAN
PELAKSANAAN
PELAPORAN
STANDAR TINDAK LANJUT
STANDAR TINDAK LANJUT
1. Prinsip-prinsip Dasar
Prinsip-prinsip dasar adalah asumsi-
asumsi dasar, prinsip-prinsip yang diterima secara
umum dan persyaratan yang digunakan dalam
mengembangkan standar audit, yang bagi auditor
berguna dalam mengembangkan simpulan atau opini atas audit
yang dilakukan, terutama dalam hal tidak adanya standar audit
yang berkaitan dengan hal-hal yang sedang diaudit. Prinsip-prinsip
dasar tersebut mencakup audit kinerja dan audit investigatif.

Prinsip-prinsip dasar ini dapat diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu: kewajiban auditor dan kewajiban APIP.

a. Kewajiban Auditor

kewajiban auditor dan kewajiban APIP. a. Kewajiban Auditor 1) Kewajiban Auditor untuk Mengikuti Standar Audit Auditor

1)

Kewajiban Auditor untuk Mengikuti Standar Audit

Auditor harus mengikuti Standar Audit dalam segala pekerjaan audit yang dianggap material.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

39

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Agar pekerjaan auditor dapat dievaluasi, maka setiap auditor wajib mengikuti Standar Audit dalam melaksanakan pekerjaannya yang dianggap material. Suatu hal dianggap material apabila pemahaman mengenai hal tersebut kemungkinan akan memengaruhi pengambilan keputusan oleh pengguna laporan audit. Auditor diharuskan untuk menyatakan dalam setiap laporan bahwa kegiatan- kegiatannya ”dilaksanakan sesuai dengan standar”.

Kewajiban Auditor untuk Meningkatkan Kemampuan

Auditor harus secara terus menerus meningkatkan kemampuan teknik dan metodologi audit

Dengan memperbaiki teknik dan metodologi audit, auditor dapat meningkatkan kualitas audit dan mempunyai keahlian yang lebih baik untuk menilai ukuran kinerja atau pedoman kerja yang digunakan oleh auditi. Komponen kemampuan auditor yang harus ditingkatkan meliputi:

Komponen kemampuan auditor yang harus ditingkatkan meliputi: kemampuan teknis, manajerial, dan konseptual yang terkait

kemampuan teknis, manajerial, dan konseptual yang terkait dengan audit dan auditi.

2)
2)

b.

Kewajiban APIP

1)

Menyusun Rencana Pengawasan

auditi. 2) b. Kewajiban APIP 1) Menyusun Rencana Pengawasan APIP harus menyusun rencana pengawasan

APIP

harus

menyusun

rencana

pengawasan

tahunan

dengan

prioritas

pada

kegiatan

yang

mempunyai risiko terbesar dan selaras dengan tujuan organisasi. APIP diwajibkan menyusun

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

40

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

rencana

strategis

lima

tahunan

sesuai

dengan

peraturan perundang-undangan

Rencana pengawasan tahunan berisi rencana kegiatan audit dalam tahun yang bersangkutan serta sumber daya yang
Rencana pengawasan tahunan berisi rencana
kegiatan audit dalam tahun yang bersangkutan serta
sumber daya yang
diperlukan.
Penentuan prioritas
kegiatan audit
didasarkan pada
evaluasi risiko yang
dilakukan oleh
APIP dan dengan mempertimbangkan prinsip
kewajiban menindak-lanjuti pengaduan dari
masyarakat. Penyusunan rencana pengawasan
tahunan tersebut didasarkan atas prinsip keserasian,
keterpaduan, menghindari tumpang tindih dan
pemeriksaan berulang-ulang serta memperhatikan
efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya.
Rencana strategis sekurang-kurangnya berisi visi,
misi, tujuan, strategi, program dan kegiatan APIP
selama lima tahun.
2)
Mengomunikasikan dan Meminta Persetujuan
Rencana Pengawasan Tahunan
APIP
harus
mengomunikasikan
rencana

pengawasan tahunan kepada pimpinan organisasi dan unit-unit terkait

Melalui pengomunikasian rencana pengawasan tahunan tersebut diharapkan kendala yang dihadapi berupa kekurangan sumber daya dapat

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

41

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

3)

Kode Etik dan Standar Audit 3) terinformasikan kepada pimpinan dan mencegah terjadinya tumpang tindih pemeriksaan oleh

terinformasikan kepada pimpinan dan mencegah terjadinya tumpang tindih pemeriksaan oleh berbagai APIP.

Mengelola Sumber Daya

APIP harus mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara ekonomis, efisien dan efektif, serta memrioritaskan alokasi sumber daya tersebut pada kegiatan yang mempunyai risiko besar

4) Menetapkan Kebijakan dan Prosedur
4)
Menetapkan Kebijakan dan Prosedur

Dengan terbatasnya sumber daya yang ada, maka APIP hendaknya membuat skala prioritas pada pekerjaan- pekerjaan pengawasan yang menurut peraturan perundang- undangan harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu. Keterbatasan sumber daya tidak dapat dijadikan alasan bagi APIP untuk tidak memenuhi standar audit.

alasan bagi APIP untuk tidak memenuhi standar audit. APIP harus menyusun kebijakan dan prosedur untuk mengarahkan

APIP harus menyusun kebijakan dan prosedur untuk mengarahkan kegiatan audit

kebijakan dan prosedur untuk mengarahkan kegiatan audit Kebijakan dan prosedur yang meliputi pengelolaan kantor, dan

Kebijakan dan prosedur yang meliputi pengelolaan kantor, dan pelaksanaan audit disusun untuk memastikan bahwa pengelolaan APIP serta pelaksanaan pengawasannya dapat dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif. Efektivitas kebijakan dan prosedur tersebut dapat dicapai jika

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

42

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

proses reviu atas kebijakan dan prosedur dilakukan secara terus menerus.

5)

Melakukan Koordinasi

APIP

harus

melakukan

koordinasi

dengan,

dan

membagi

informasi

kepada,

auditor

eksternal

dan/atau auditor lainnya
dan/atau auditor lainnya

Tujuan dilakukannya koordinasi pengawasan adalah untuk memastikan bahwa cakupan yang dilakukan telah tepat dan tidak terjadi pengulangan kegiatan. Salah satu perwujudan koordinasi adalah dengan menyampaikan rencana pengawasan tahunan serta hasil-hasil pengawasan yang telah dilakukan APIP dalam periode yang akan dilakukan oleh auditor eksternal dan/atau auditor lainnya.

dilakukan oleh auditor eksternal dan/atau auditor lainnya. 6) Menyampaikan Laporan Berkala APIP wajib menyusun dan

6)

Menyampaikan Laporan Berkala

APIP wajib menyusun dan menyampaikan laporan secara berkala tentang realisasi kinerja dan kegiatan audit yang dilaksanakan APIP

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

43

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Laporan berkala dimaksudkan untuk menyampaikan perkembangan pengawasan sesuai dengan rencana pengawasan tahunan, hambatan yang dijumpai serta rencana pengawasan periode berikutnya.

7) Melakukan Pengembangan Program dan Pengendalian Kualitas APIP harus mengembangkan program dan mengendalikan
7)
Melakukan
Pengembangan
Program
dan
Pengendalian Kualitas
APIP
harus
mengembangkan
program
dan
mengendalikan kualitas audit
Program
pengembangan
kualitas mencakup
seluruh aspek
kegiatan audit di
lingkungan APIP.
Program ini
dirancang untuk
memberikan nilai tambah dan meningkatkan
kegiatan operasi organisasi serta memberikan
jaminan bahwa kegiatan audit di lingkungan APIP
sejalan dengan Standar Audit dan Kode Etik.
Efektivitas program tersebut harus dipantau secara
terus menerus baik oleh internal APIP maupun pihak
lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.

8)

Menindaklanjuti Pengaduan Masyarakat

APIP

harus

menindaklanjuti

pengaduan

dari

masyarakat

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

44

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

APIP berkewajiban untuk menindaklanjuti pengaduan masyarakat antara lain terhadap hal-hal seperti: hambatan, keterlambatan, dan atau rendahnya kualitas pelayanan publik serta penyalahgunaan wewenang, tenaga, uang, dan aset atau barang miliki negara/daerah.

Standar Umum a. Visi, Misi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung Jawab b. Independensi dan Obyektivitas 1)
Standar Umum
a. Visi, Misi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung Jawab
b. Independensi dan Obyektivitas
1)
Independensi APIP
2) Obyektivitas Auditor
3)
Gangguan Terhadap Independensi dan Obyektivitas
c. Keahlian

2.

Standar umum ini meliputi standar-standar yang terkait dengan karakteristik organisasi dan para individu yang melakukan penugasan audit kinerja dan audit investigatif.

Sistematika standar umum dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

standar umum dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: 1) Latar Belakang Pendidikan Auditor   2)

1)

Latar Belakang Pendidikan Auditor

 

2)

Kompetensi Teknis

 

3)

Sertifikasi

Jabatan

dan

Pendidikan

dan

Pelatihan

Berkelanjutan

 

4)

Penggunaan Tenaga Ahli dari Luar

 

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

45

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

d. Kecermatan Profesional

e. Kepatuhan Terhadap Kode Etik

Uraian rinci dari butir-butir Standar Umum di atas adalah sebagai berikut:

a. Visi, Misi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung Jawab APIP harus dinyatakan secara tertulis, disetujui
a.
Visi, Misi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung Jawab
APIP
harus
dinyatakan
secara
tertulis,
disetujui

Visi, misi, tujuan, kewenangan dan tanggung jawab

dan

ditandatangani oleh pimpinan tertinggi organisasi. Pernyataan standar tersebut dimaksudkan untuk memberikan kejelasan secara formal tentang arah dan mandat yang diberikan kepada APIP dalam melaksanakan setiap penugasan audit yang secara khusus berkenaaan dengan kewenangan akses APIP dan para auditornya atas informasi dan personel auditi.

APIP dan para auditornya atas informasi dan personel auditi. Setiap APIP tentunya harus memiliki visi, misi

Setiap APIP tentunya harus memiliki visi, misi dan tujuan yang searah dengan visi, misi, dan tujuan pemerintah serta instansi induknya. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) misalnya, memiliki visi, misi, dan tujuan yang selaras dengan visi, misi, dan tujuan pemerintah. Demikian pula Inspektorat Jenderal memiliki visi, misi, dan tujuan yang selaras dengan visi, misi, dan tujuan departemennya dan seterusnya pada APIP lainnya. Kemudian, kewenangan dan tanggung jawab APIP harus diberdayakan secara optimal agar APIP dapat melaksanakan tugasnya secara independen dan obyektif.

secara optimal agar APIP dapat melaksanakan tugasnya secara independen dan obyektif. Pusdiklatwas BPKP 2008 4 6

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

46

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

b. Independen dan Obyektivitas

Dalam semua hal yang berkaitan dengan audit, APIP

harus

independen

dan

para

auditornya

harus

obyektif

dalam

pelaksanaan

tugasnya.

Keindependensian

dan

obyektivitas tersebut dapat dicapai melalui status APIP dalam organisasi dan penciptaan kebijakan untuk menjaga obyektivitas auditor terhadap auditi.

untuk menjaga obyektivitas auditor terhadap auditi. Status APIP dalam organisasi yang ditempatkan langsung di

Status APIP dalam organisasi yang ditempatkan langsung di bawah pimpinan tertinggi instansi adalah contoh keindependensian yang tinggi dari APIP tersebut. Dalam praktiknya kedudukan dan status organisasi dimana APIP ditempatkan adalah kewenangan pemerintah yang dituangkan dalam suatu peraturan seperti: Keputusan Presiden atau Peraturan Presiden tentang organisasi pemerintah.

Independensi pada dasarnya merupakan state of mind atau sesuatu yang dirasakan oleh masing- masing menurut apa yang diyakini sedang berlangsung. Sehubungan dengan hal tersebut, independensi auditor dapat ditinjau dan dievaluasi dari dua sisi, independensi praktisi dan independensi profesi. Secara lengkap hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Secara lengkap hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: v Independensi Praktisi , yakni independensi yang nyata

v Independensi Praktisi, yakni independensi yang nyata atau faktual yang diperoleh dan dipertahankan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

47

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

oleh auditor dalam seluruh rangkaian kegiatan audit, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap pelaporan. Independensi dalam fakta ini merupakan tinjauan terhadap kebebasan yang sesungguhnya dimiliki oleh auditor, sehingga merupakan kondisi ideal yang perlu diwujudkan oleh auditor. Apabila auditor sungguh-sungguh memiliki kebebasan demikian, maka independensi dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil audit dapat terpenuhi. Namun demikian, independensi dalam fakta tersebut sifatnya sukar diukur dan tidak serta merta dapat disaksikan oleh orang lain. Kenyataan adanya independensi tersebut hanya dapat dirasakan langsung oleh auditor sendiri dan tidak mudah untuk ditunjukkan atau didemonstrasikan kepada umum. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang independensi dalam wujudnya sehari-hari, independensi praktisi ini kurang mendapat perhatian, melainkan lebih ditekankan pada independensi menurut tinjauan yang kedua sebagaimana dikemukakan berikut.

menurut tinjauan yang kedua sebagaimana dikemukakan berikut. v Independensi Profesi , yakni independensi yang ditinjau
menurut tinjauan yang kedua sebagaimana dikemukakan berikut. v Independensi Profesi , yakni independensi yang ditinjau
menurut tinjauan yang kedua sebagaimana dikemukakan berikut. v Independensi Profesi , yakni independensi yang ditinjau

v Independensi Profesi, yakni independensi yang ditinjau menurut citra (image) auditor dari pandangan publik atau masyarakat umum terhadap auditor yang bertugas. Independensi menurut tinjauan ini sering pula dinamakan independensi dalam penampilan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

48

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

(independence in appearance). Independensi menurut tinjauan ini sangat krusial karena tanpa keyakinan publik bahwa seorang auditor adalah independen, maka segala hal yang dilakukannya serta pendapatnya tidak akan mendapatkan penghargaan dari publik atau pemakainya. Agar independensi menurut tinjauan penampilan ini dapat memperoleh pengakuan publik, maka cara yang efektif untuk mewujudkannya adalah dengan menghindari segala hal yang dapat menyebabkan penampilan auditor dalam kaitannya dengan kliennya mendapat kecurigaan dari publik. Namun demikian, untuk menghilangkan kecurigaan itu tidaklah mudah, bahkan sering memperoleh sorotan dari publik.

Kebijakan untuk menjaga obyektivitas auditor terhadap auditi dapat dituangkan dalam bentuk ketentuan seperti: tidak diperkenankannya seorang auditor melakukan audit pada auditi tertentu selama tiga tahun berturut-turut, dilakukannya rotasi atau mutasi penugasan audit, larangan seorang auditor melakukan audit pada auditi yang pejabatnya memiliki hubungan keluarga, dan sebagainya.

yang pejabatnya memiliki hubungan keluarga, dan sebagainya. Jika independensi atau obyektivitas terganggu, baik secara
yang pejabatnya memiliki hubungan keluarga, dan sebagainya. Jika independensi atau obyektivitas terganggu, baik secara
yang pejabatnya memiliki hubungan keluarga, dan sebagainya. Jika independensi atau obyektivitas terganggu, baik secara

Jika independensi atau obyektivitas terganggu, baik secara faktual maupun penampilan, maka gangguan tersebut harus dilaporkan kepada pimpinan APIP. Auditor dapat menyampaikan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

49

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

keberatannya atas penugasan audit yang dapat mengganggu independensi dan obyektivitasnya sehingga pimpinan dapat menggantikannya dengan orang lain yang tidak terganggu keindependensian dan obyektivitasnya. Dalam pelaksanaannya perlu diciptakan ketentuan yang mengatur tentang tatacara pelaporan tersebut.

ketentuan yang mengatur tentang tatacara pelaporan tersebut. Perlu juga diciptakan kebijakan yang mengatur tentang tidak
ketentuan yang mengatur tentang tatacara pelaporan tersebut. Perlu juga diciptakan kebijakan yang mengatur tentang tidak

Perlu juga diciptakan kebijakan yang mengatur tentang tidak diizinkannya seorang auditor melakukan penugasan audit pada suatu auditi tertentu apabila yang bersangkutan memiliki hubungan keluarga, sosial, dan hubungan lainnya yang dapat mengganggu independensi dan obyektivitasnya. Demikian pula perlu diciptakan kebijakan tentang tidak diperkenankannya auditor yang memberikan jasa reviu atau konsultansi atas suatu kegiatan atau instansi tertentu untuk terlibat dalam suatu penugasan audit pada instansi yang sama atau sebaliknya.

untuk terlibat dalam suatu penugasan audit pada instansi yang sama atau sebaliknya. Pusdiklatwas BPKP 2008 5

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

50

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

c.

Keahlian

Auditor

 

harus

mempunyai

pengetahuan,

keterampilan,

dan

kompetensi

lainnya

yang

diperlukan

untuk melaksanakan tanggung jawabnya.

yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya . Agar tercipta kinerja audit yang baik, maka APIP harus
yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya . Agar tercipta kinerja audit yang baik, maka APIP harus

Agar tercipta kinerja audit yang baik, maka APIP harus memiliki kriteria tertentu dari setiap auditor yang diperlukan untuk merencanakan audit, mengidentifikasi kebutuhan profesional auditor dan untuk mengembangkan teknik dan metodologi audit. Untuk itu, maka auditor APIP harus memiliki latar belakang pendidikan formal minimal Strata Satu (S-1) atau yang setara.

Kompetensi teknis yang harus dimiliki oleh setiap auditor pada umumnya adalah auditing, akuntansi, administrasi pemerintahan dan komunikasi. Sedangkan khusus bagi auditor investigatif diharusnya memiliki kompetensi tambahan, yaitu:

Sedangkan khusus bagi auditor investigatif diharusnya memiliki kompetensi tambahan, yaitu: Pusdiklatwas BPKP 2008 5 1

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

51

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

1)

Pengetahuan tentang prinsip-prinsip, praktik-praktik, dan teknik audit investigatif, termasuk cara-cara untuk memperoleh bukti dari whistleblower (pihak- pihak tertentu yang menyampaikan sesuatu yang menyimpang yang dapat digunakan sebagai informasi awal dalam proses audit investigatif).

Pengetahuan tentang penerapan hukum, peraturan, dan ketentuan lainnya yang terkait dengan audit investigatif.

Kemampuan memahami konsep kerahasiaan dan perlindungan terhadap sumber informasi.

2) 3)
2)
3)
dan perlindungan terhadap sumber informasi. 2) 3) 4) Kemampuan menggunakan peralatan komputer, perangkat

4) Kemampuan menggunakan peralatan komputer, perangkat lunak, dan sistem terkait secara efektif dalam rangka mendukung proses audit investigatif terkait dengan cybercrime (kejahatan dalam lingkungan dunia maya dengan teknologi informasi).

Auditor harus mempunyai sertifikasi jabatan fungsional auditor (JFA) dan mengikuti pendidikan dan pelatihan profesional berkelanjutan (continuing professional education). Pendidikan sertifikasi jabatan fungsional auditor adalah kompetensi dasar auditor yang harus dimiliki oleh setiap auditor sesuai dengan jenjangnya masing-masing sebelum ditugaskan dalam penugasan audit. Auditor diwajibkan untuk terus meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan berkelanjutan,

terus meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, Pusdiklatwas BPKP 2008 5 2

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

52

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

seperti: keikutsertaan dalam konferensi, seminar, kursus, program pelatihan di kantor sendiri dalam bidang yang terkait dengan penugasan audit dan berpartisipasi dalam proyek penelitian yang memiliki substansi di bidang audit.

APIP dapat menggunakan tenaga ahli apabila APIP tidak mempunyai keahlian yang diharapkan untuk melaksanakan penugasan. Tenaga ahli tersebut dapat berupa: aktuaris, penilai (appraiser), pengacara, insinyur, konsultan lingkungan, profesi medis, ahli statistik dan geologi. Tenaga ahli tersebut harus memiliki kualifikasi profesional, kompetensi dan pengalaman yang relevan, independen dan memiliki proses pengendalian kualitas. Mereka juga harus disupervisi sebagaimana mestinya.

Mereka juga harus disupervisi sebagaimana mestinya. d. Kecermatan Profesional secara hati-hati (prudent)
d. Kecermatan Profesional secara hati-hati (prudent) dalam setiap
d. Kecermatan Profesional
secara
hati-hati
(prudent)
dalam
setiap
Profesional secara hati-hati (prudent) dalam setiap Auditor harus menggunakan keahlian profesionalnya dengan

Auditor harus menggunakan keahlian profesionalnya

dengan cermat dan seksama (due professional care) dan

penugasan.

Penggunaan keahlian secara cermat dan seksama (due professional care) mewajibkan auditor untuk melaksanakan tugasnya secara serius, teliti, dan menggunakan seluruh kemampuan dengan pertimbangan profesionalnya dalam melaksanakan tugas audit.

seluruh kemampuan dengan pertimbangan profesionalnya dalam melaksanakan tugas audit. Pusdiklatwas BPKP 2008 5 3

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

53

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

e. Kepatuhan Terhadap Kode Etik.

Auditor harus mematuhi Kode Etik yang ditetapkan.

Auditor tidak saja harus menggunakan seluruh kemampuan dan kecermatannya tetapi juga dituntut untuk mematuhi kode etik yang ditetapkan. Dengan demikian kompetensi dan etika harus dipenuhi secara bersamaan.

Standar Pelaksanaan Audit Kinerja a. Perencanaan 1) Penetapan sasaran, alokasi sumber daya ruang lingkup, 2)
Standar Pelaksanaan Audit Kinerja
a. Perencanaan
1) Penetapan sasaran,
alokasi sumber daya
ruang
lingkup,
2) Pertimbangan dalam perencanaan

3.

a) Evaluasi terhadap sistem pengendalian intern

Standar pelaksanaan pekerjaan audit kinerja mendeskripsikan sifat kegiatan audit kinerja dan menyediakan kerangka kerja untuk melaksanakan dan mengelola pekerjaan audit kinerja yang dilakukan oleh auditor. Secara sistematis standar pelaksanaan audit kinerja terdiri dari:

sistematis standar pelaksanaan audit kinerja terdiri dari: metodologi, dan b) Evaluasi atas ketidakpatuhan auditi

metodologi, dan

pelaksanaan audit kinerja terdiri dari: metodologi, dan b) Evaluasi atas ketidakpatuhan auditi terhadap peraturan

b) Evaluasi atas ketidakpatuhan auditi terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatuhan (abuse)

b. Supervisi

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

54

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

c. Pengumpulan dan Pengujian Bukti

1)

Pengumpulan bukti

2)

Pengujian bukti

d. Pengembangan Temuan

e. Dokumentasi a. Perencanaan menyusun rencana audit. Perencanaan audit sumber daya 1)
e. Dokumentasi
a. Perencanaan
menyusun
rencana
audit.
Perencanaan
audit
sumber daya
1)

Uraian dari masing-masing butir Standar Pelaksanaan Audit Kinerja adalah sebagai berikut:

Dalam setiap penugasan audit kinerja, auditor harus

bertujuan

untuk menjamin bahwa tujuan audit dapat tercapai secara berkualitas, ekonomis, efisien, dan efektif. Dalam perencanaan ini, auditor menetapkan sasaran, ruang lingkup, metodologi, dan alokasi

serta

mempertimbangkan berbagai hal termasuk sistem pengendalian intern dan ketaatan auditi terhadap peraturan perundang- undangan, kecurangan dan ketidakpatuhan (abuse).

undangan, kecurangan dan ketidakpatuhan ( abuse ). Penetapan Sasaran, Ruang Lingkup, Metodologi, dan Alokasi

Penetapan Sasaran, Ruang Lingkup, Metodologi, dan Alokasi Sumber Daya

Sasaran penugasan audit kinerja adalah untuk menilai bahwa auditi telah menjalankan kegiatannya secara ekonomis, efisien dan efektif serta; menilai efektivitas sistem pengendalian intern dan kepatuhan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

55

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan (abuse).

Ruang lingkup dalam audit kinerja meliputi aspek keuangan dan operasional auditi sehingga auditor harus memeriksa semua buku, dokumen, catatan, laporan, aset maupun personalia.

a) b) Penetapan jumlah bukti yang akan diuji; c) d) e)
a)
b)
Penetapan jumlah bukti yang akan diuji;
c)
d)
e)

Untuk mencapai sasaran audit berdasarkan ruang lingkup audit yang telah ditetapkan, auditor harus menggunakan metodologi audit yang meliputi:

Penetapan waktu yang sesuai untuk melaksanakan prosedur audit tertentu;

Penggunaan teknologi audit yang sesuai, seperti:

teknik sampling dan pemanfaatan komputer sebagai alat bantu audit;

Pembandingan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku; dan

Perancangan prosedur audit untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse).

perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan ( abuse ). Alokasi sumber daya harus ditentukan oleh APIP dalam upaya

Alokasi sumber daya harus ditentukan oleh APIP dalam upaya untuk mencapai sasaran penugasan audit. Penugasan auditor harus didasarkan kepada evaluasi atas sifat dan kompleksitas penugasan, keterbatasan waktu dan ketersediaan sumber dana. Pengalokasian sumber

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

56

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

daya manusia auditor yang diperlukan didasarkan pada latar belakang pendidikan formal dan pengalaman sesuai dengan kebutuhan audit.

2)

Pertimbangan dalam Perencanaan

a) b) c) d) aspek penting beroperasinya auditi; e)
a)
b)
c)
d)
aspek penting
beroperasinya auditi;
e)

Dalam merencanakan audit kinerja, auditor harus mempertimbangkan berbagai hal, termasuk sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan auditi terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse). Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah:

Laporan hasil audit sebelumnya serta tindak lanjut atas rekomendasi yang material;

Sasaran audit dan pengujian yang diperlukan untuk mencapai sasaran audit dimaksud;

Kriteria yang akan digunakan untuk mengevaluasi organisasi, program, aktivitas atau fungsi yang diaudit;

Sistem pengendalian intern auditi termasuk

lingkungan tempat

Sistem pengendalian intern auditi termasuk lingkungan tempat Pemahaman tentang hak dan kewajiban serta hubungan timbal

Pemahaman tentang hak dan kewajiban serta hubungan timbal balik antara auditor dengan auditi, dan manfaat audit bagi kedua belah pihak;

f) Pendekatan

efektif; dan

audit

yang

paling

efisien

dan

g) Bentuk, isi dan pengguna laporan hasil audit.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

57

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Auditor harus memahami rancangan sistem pengendalian intern dan menguji penerapannya. Sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai yang memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efisien dan efektif, keterandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Efektivitas sistem pengendalian intern akan memberi keyakinan yang memadai akan tercapainya tujuan organisasi. Itulah sebabnya auditor harus memiliki pemahaman atas sistem pengendalian intern dan menilainya yang dapat dilakukan melalui teknik audit seperti:

yang dapat dilakukan melalui teknik audit seperti: permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi, dan pemeriksaan

permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi, dan pemeriksaan atas catatan dan dokumen.

Auditor harus merancang auditnya untuk mendeteksi adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang- undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse). Dalam merencanakan pengujian untuk mendeteksi adanya ketidakpatuhan, auditor harus mempertimbangkan perkembangan peraturan-

mendeteksi adanya ketidakpatuhan, auditor harus mempertimbangkan perkembangan peraturan- Pusdiklatwas BPKP 2008 5 8
mendeteksi adanya ketidakpatuhan, auditor harus mempertimbangkan perkembangan peraturan- Pusdiklatwas BPKP 2008 5 8
mendeteksi adanya ketidakpatuhan, auditor harus mempertimbangkan perkembangan peraturan- Pusdiklatwas BPKP 2008 5 8

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

58

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

peraturan baru dan kerumitan peraturan perundang- undangan tersebut. Di samping itu, auditor harus mempertimbangkan risiko terjadinya kecurangan yang berpengaruh secara signifikan terhadap tujuan audit.

Auditor harus menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk mendeteksi kemungkinan adanya ketidak-patuhan terhadap
Auditor harus menggunakan pertimbangan
profesionalnya untuk mendeteksi kemungkinan
adanya ketidak-patuhan terhadap peraturan
perundang-undangan, kecurangan dan ketidak-
patutan (abuse) serta melaporkan jika dijumpai hal-
hal tersebut kepada pihak-pihak tertentu sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
b.
Supervisi
Pada setiap tahap audit kinerja, pekerjaan auditor
harus
disupervisi
secara
memadai
untuk
memastikan
tercapainya
sasaran,
terjaminnya
kualitas
dan
meningkatnya kemampuan auditor.
Supervisi yang dilakukan secara terus menerus
selama pekerjaan audit harus diarahkan ke substansi
maupun metodologi audit, untuk mengetahui:
1)
Pemahaman anggota tim audit atas rencana audit;

2)

Kesesuaian pelaksanaan audit dengan standar audit;

3)

Kelengkapan bukti yang terkandung dalam kertas kerja audit untuk mendukung simpulan dan rekomendasi;

4)

Kelengkapan dan akuransi laporan audit.

untuk mendukung simpulan dan rekomendasi; 4) Kelengkapan dan akuransi laporan audit. Pusdiklatwas BPKP 2008 5 9

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

59

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kegiatan supervisi dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari ketua tim auditor mereviu pekerjaan anggota tim, pengendali teknis mereviu pekerjaan ketua dan anggota tim, pengendali mutu mereviu pekerjaan pengendali teknis, ketua tim, dan anggota tim. Supervisi dilakukan untuk memastikan bahwa:

1) Tim audit memahami tujuan dan rencana audit; 2) Audit dilaksanakan sesuai dengan standar audit;
1)
Tim audit memahami tujuan dan rencana audit;
2)
Audit dilaksanakan sesuai dengan standar audit;
3)
Prosedur audit telah diikuti;
4)
Kertas kerja audit memuat bukti-bukti yang
mendukung temuan dan rekomendasi;
5)
Tujuan audit telah dicapai.
c.
Pengumpulan dan Pengujian Bukti
Auditor
harus
mengumpulkan
dan
menguji
bukti

untuk mendukung kesimpulan dan temuan audit kinerja. Oleh karena audit dapat didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengujian bukti untuk melihat kesesuaian informasi yang terkandung dalam bukti tersebut dengan suatu kriteria yang mendasarinya, maka proses pengumpulan dan pengujian bukti adalah inti dari audit.

yang mendasarinya, maka proses pengumpulan dan pengujian bukti adalah inti dari audit. Pusdiklatwas BPKP 2008 6
yang mendasarinya, maka proses pengumpulan dan pengujian bukti adalah inti dari audit. Pusdiklatwas BPKP 2008 6

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

60

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

1)

Pengumpulan bukti

Auditor harus mengumpulkan bukti yang cukup, kompeten, dan relevan. Bukti audit dapat digolongkan menjadi bukti fisik, bukti dokumen, bukti kesaksian, dan bukti analisis.

fisik, bukti dokumen, bukti kesaksian, dan bukti analisis. Bukti yang cukup berkaitan dengan jumlah bukti yang

Bukti yang cukup berkaitan dengan jumlah bukti yang dapat dijadikan sebagai dasar penarikan suatu kesimpulan audit. Penentuan kecukupan bukti didasarkan pada pertimbangan keahlian auditor secara profesional dan obyektif.

Bukti yang kompeten adalah bukti yang sah dan dapat diandalkan untuk menjamin kesesuaiannya dengan fakta. Bukti disebut sah apabila bukti tersebut memenuhi persyaratan hukum dan peraturan perundang-undangan. Bukti yang dapat diandalkan berkaitan dengan sumber perolehan dan cara perolehan bukti itu sendiri.

Bukti audit disebut relevan jika bukti tersebut secara logis mendukung pendapat atau argumentasi yang berhubungan dengan tujuan dan kesimpulan audit.

yang berhubungan dengan tujuan dan kesimpulan audit. Auditor dapat menggunakan tenaga ahli untuk memperoleh bukti

Auditor dapat menggunakan tenaga ahli untuk memperoleh bukti yang cukup, kompeten dan relevan.

2)

Pengujian bukti

Auditor harus menguji bukti audit yang dikumpulkan. Pengujian bukti dimaksudkan untuk menilai kesahihan bukti yang dikumpulkan terkait

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

61

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

dengan kesesuaian antara informasi yang terkandung dalam bukti tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan. Teknik audit dalam melakukan pengujian bukti dapat dilakukan seperti: konfirmasi, inspeksi, pembandingan, penelusuran hingga bukti asal, dan wawancara.

d. Pengembangan Temuan Auditor harus mengembangkan temuan sebab, dan akibat. e. Dokumentasi
d. Pengembangan Temuan
Auditor
harus
mengembangkan
temuan
sebab, dan akibat.
e. Dokumentasi

Auditor harus

menyiapkan

dan

yang

diperoleh selama pelaksanaan audit kinerja. Temuan audit berupa ketidak-ekonomisan, ketidak-efisienan dan ketidak- efektifan pengelolaan organisasi, program, aktivitas atau fungsi yang diaudit. Selain itu, temuan juga dapat berupa tidak efektifnya sistem pengendalian intern, adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse). Unsur temuan meliputi: kondisi, kriteria,

( abuse ). Unsur temuan meliputi: kondisi, kriteria, menata-usahakan dokumen audit kinerja dalam bentuk kertas

menata-usahakan

dokumen audit kinerja dalam bentuk kertas kerja audit. Dokumen audit harus disimpan secara tertib dan sistematis agar dapat secara efektif diambil kembali, dirujuk, dan dianalisis.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

62

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Dokumen audit yang berkaitan dengan perencanaan,

pelaksanaan, dan pelaporan audit harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan auditor yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai hubungan dengan audit tersebut dapat memastikan bahwa dokumen audit tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung kesimpulan, temuan, dan rekomendasi auditor.

yang mendukung kesimpulan, temuan, dan rekomendasi auditor. Dokumen audit harus berisi hal-hal berikut ini: 1) Tujuan,
Dokumen audit harus berisi hal-hal berikut ini: 1) Tujuan, lingkup, dan metodologi audit, termasuk kriteria
Dokumen audit harus berisi hal-hal berikut ini:
1)
Tujuan, lingkup, dan metodologi audit, termasuk kriteria
pengambilan uji petik yang digunakan;
2)
Dokumentasi
pekerjaan
yang
dilakukan
untuk
mendukung
pertimbangan
profesional
dan
temuan
auditor;
3)
Bukti tentang reviu supervisi terhadap pekerjaan yang
dilakukan; dan
4)
Penjelasan
auditor
mengenai
standar
yang
tidak
diterapkan, apabila ada, alasan dan akibatnya.

APIP harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang wajar mengenai pengamanan dan penyimpanan dokumen audit selama waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dokumen audit dapat berupa dokumen tertulis secara manual maupun dalam format elektronik. Dokumen audit dapat dijadikan sarana reviu terhadap kualitas pelaksanaan audit.

elektronik. Dokumen audit dapat dijadikan sarana reviu terhadap kualitas pelaksanaan audit. Pusdiklatwas BPKP 2008 6 3

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

63

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

4. Standar Pelaporan Audit Kinerja

Standar pelaporan merupakan acuan bagi penyusunan laporan hasil audit kinerja yang merupakan tahap akhir suatu proses audit untuk mengomunikasikan hasil audit kepada auditi dan pihak lain yang terkait.

hasil audit kepada auditi dan pihak lain yang terkait. a. Kewajiban Membuat Laporan b. Cara dan
a. Kewajiban Membuat Laporan b. Cara dan Saat Pelaporan c. Bentuk dan Isi Laporan d.
a. Kewajiban Membuat Laporan
b. Cara dan Saat Pelaporan
c. Bentuk dan Isi Laporan
d. Kualitas Laporan
e. Tanggapan Auditi
f. Penerbitan dan Distribusi Laporan
Rincian
dari
setiap
butir-butir
stándar
pelaporan
kinerja adalah sebagai berikut.
a. Kewajiban Membuat Laporan

Secara sistematis standar pelaporan audit kinerja meliputi butir-butir sebagai berikut:

audit

audit kinerja meliputi butir-butir sebagai berikut: audit Auditor harus membuat laporan hasil audit kinerja sesuai

Auditor harus membuat laporan hasil audit kinerja sesuai dengan penugasannya yang disusun dalam format yang sesuai, segera setelah selesai melakukan auditnya.

Laporan hasil audit berguna antara lain untuk:

1) Mengomunikasikan hasil audit kinerja kepada auditi dan pihak lain yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan;

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

64

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

2)

Menghindari kesalah-pahaman atas hasil audit;

3)

Menjadi bahan untuk melakukan tindakan perbaikan bagi auditi dan instansi terkait; dan

4)

Memudahkan pemantauan tindak lanjut untuk menentukan pengaruh tindakan perbaikan yang semestinya telah dilakukan.

b. Cara dan Saat Pelaporan Laporan hasil audit kinerja harus dibuat c. Bentuk dan Isi
b. Cara dan Saat Pelaporan
Laporan
hasil
audit
kinerja
harus
dibuat
c. Bentuk dan Isi Laporan
Laporan
hasil
audit
kinerja
harus
dibuat

secara

tertulis dan segera, yaitu pada kesempatan pertama setelah berakhirnya pelaksanaan audit.

Laporan yang dibuat tertulis bertujuan untuk menghindari kemungkinan salah tafsir atas kesimpulan, temuan dan rekomendasi auditor. Keharusan membuat laporan secara tertulis tidak membatasi atau mencegah pembahasan lisan dengan auditi selama proses audit berlangsung.

dalam

bentuk dan isi yang dapat dimengerti oleh auditi dan pihak lain yang terkait.

dapat dimengerti oleh auditi dan pihak lain yang terkait . Laporan hasil audit dapat berbentuk surat

Laporan hasil audit dapat berbentuk surat atau bab. Bentuk surat digunakan apabila dari hasil audit tidak dijumpai banyak temuan. Sedangkan digunakan dalam bentuk bab apabila dari hasil audit ditemukan banyak temuan.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

65

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit Laporan hasil audit kinerja baik bentuk surat atau bab harus 8)

Laporan

hasil

audit

kinerja

baik

bentuk surat

atau

bab

harus

8) Dasar melakukan audit; 9) Identifikasi audit; 10) Tujuan/sasaran, lingkup dan metodologi audit; 11) 12)
8)
Dasar melakukan audit;
9)
Identifikasi audit;
10)
Tujuan/sasaran, lingkup dan metodologi audit;
11)
12)
Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi;
13)
14)
15)

16)

memuat:

Pelaporan informasi rahasia, bila ada.

Pernyataan bahwa audit dilaksanakan sesuai dengan standar audit;

Hasil audit berupa kesimpulan, temuan audit dan rekomendasi;

Tanggapan dari pejabat auditi yang bertanggung jawab;

Pernyataan adanya keterbatasan dalam audit serta pihak-pihak yang menerima laporan ;

dalam audit serta pihak-pihak yang menerima laporan ; Kelemahan sistem pengendalian intern, ketidakpatuhan

Kelemahan sistem pengendalian intern, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse) disajikan sebagai bagian temuan.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

66

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

d. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Auditor harus melaporkan adanya kelemahan atas sistem pengendalian intern auditi.

Kelemahan atas sistem pengendalian intern yang dilaporkan adalah kelemahan yang mempunyai pengaruh signifikan. Sedangkan kelemahan yang tidak signifikan cukup disampaikan kepada auditi dalam bentuk surat (management letter).

Ketidakpatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan, Kecurangan dan Ketidakpatutan (abuse)

Auditor harus melaporkan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidapatutan (abuse).

e. f. Kualitas Laporan Laporan hasil audit kinerja harus tepat lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta
e.
f.
Kualitas Laporan
Laporan
hasil
audit
kinerja
harus
tepat
lengkap,
akurat,
obyektif,
meyakinkan,
serta
jelas
seringkas mungkin.

Agar suatu informasi bermanfaat secara maksimal, maka laporan hasil audit harus tepat waktu. Agar menjadi lengkap, maka laporan hasil audit harus memuat semua informasi dari bukti yang dibutuhkan untuk memenuhi

waktu,

dan

audit harus memuat semua informasi dari bukti yang dibutuhkan untuk memenuhi waktu, dan Pusdiklatwas BPKP 2008
audit harus memuat semua informasi dari bukti yang dibutuhkan untuk memenuhi waktu, dan Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

67

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

sasaran audit, memberikan pemahaman yang benar dan memadai atas hal yang dilaporkan, dan memenuhi persyaratan isi laporan hasil audit.

Laporan yang akurat berarti informasi yang disajikan didukung oleh bukti yang benar dan temuan telah disajikan dengan tepat. Perlunya keakuratan didasarkan atas kebutuhan untuk memberikan keyakinan kepada pengguna laporan bahwa apa yang dilaporkan memiliki kredibilitas dan dapat diandalkan.

yang dilaporkan memiliki kredibilitas dan dapat diandalkan. Laporan yang obyektif berarti informasi yang disajikan itu

Laporan yang obyektif berarti informasi yang disajikan itu seimbang (adil) dalam isi maupun redaksinya, tidak memihak sehingga pengguna laporan dapat diyakinkan oleh fakta yang disajikan. Laporan obyektif juga memiliki pengertian tidak menyesatkan. Auditor yang menyampaikan laporan hasil audit harus berdiri netral.

yang menyampaikan laporan hasil audit harus berdiri netral. Agar laporan itu meyakinkan, maka laporan harus dapat

Agar laporan itu meyakinkan, maka laporan harus dapat menjawab sasaran audit, menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi yang logis. Informasi yang disajikan harus cukup meyakinkan pengguna laporan untuk

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

68

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

mengakui validitas temuan dan manfaat penerapan rekomendasi. Laporan yang jelas adalah laporan yang mudah dibaca
mengakui
validitas
temuan
dan
manfaat
penerapan
rekomendasi.
Laporan yang jelas adalah laporan yang mudah
dibaca dan dipahami. Untuk itu, maka laporan
menggunakan bahasa yang jelas, sederhana, lugas dan
tidak teknis. Pengorganisasian laporan secara logis, akurat
dan tepat dalam menyajikan fakta merupakan hal yang
penting dalam memberikan kejelasan dan pemahaman bagi
pengguna laporan hasil audit.
Laporan yang ringkas adalah laporan yang tidak
lebih panjang dari yang diperlukan untuk menyampaikan
dan mendukung pesan.
g. Tanggapan Auditi
Auditor harus meminta tanggapan atau pendapat
terhadap kesimpulan, temuan dan rekomendasi termasuk
tindakan perbaikan yang direncanakan oleh auditi secara
tertulis dari pejabat auditi yang bertanggung jawab.
h. Penerbitan dan Distribusi Laporan
Laporan
hasil
audit
kinerja
diserahkan
kepada
pimpinan organisasi, auditi, dan pihak lain
yang diberi
wewenang
untuk
menerima
laporan
hasil
audit
sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Laporan hasil audit kinerja harus didistribusikan tepat waktu kepada pihak yang berkepentingan sesuai peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal yang diaudit merupakan rahasia negara atau dilarang untuk disampaikan kepada pihak-pihak tertentu atas dasar ketentuan peraturan

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

69

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

perundang-undangan, maka untuk tujuan pengamanannya, auditor dapat membatasi pendistribusian laporan tersebut.

5. Standar Tindak Lanjut Audit Kinerja

Standar tindak lanjut mengatur tentang ketentuan dalam hal kepastian saran dan rekomendasi telah dilakukan oleh auditi. Secara sistematis butir-butir standar tindak lanjut audit kinerja meliputi:

a. Komunikasi Dengan Auditi b. Prosedur Pemantauan c. Status Temuan d. a. Komunikasi Dengan Auditi
a.
Komunikasi Dengan Auditi
b.
Prosedur Pemantauan
c.
Status Temuan
d.
a. Komunikasi Dengan Auditi
Auditor
harus
mengomunikasikan
kepada
bahwa
tanggung
jawab
untuk
menyelesaikan
menindak-lanjuti temuan audit kinerja
dan
berada pada auditi.

Ketidakpatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan dan Kecurangan

Uraian dari masing-masing butir standar tindak lanjut audit kinerja adalah sebagai berikut.

auditi

atau

rekomendasi

kinerja adalah sebagai berikut. auditi atau rekomendasi Pernyataan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman

Pernyataan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran bahwa tanggungjawab menindak- lanjuti rekomendasi audit bukan berada pada auditor melainkan pada auditi. Oleh sebab itu, dalam praktiknya, auditor harus memperoleh pernyataan

pada auditi. Oleh sebab itu, dalam praktiknya, auditor harus memperoleh pernyataan Pusdiklatwas BPKP 2008 7 0

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

70

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

atau penegasan tertulis dari auditi bahwa hasil auditnya akan ditindaklanjuti.

b. Prosedur Pemantauan

Auditor

harus

memantau

dan

mendorong

tindak

lanjut atas temuan beserta rekomendasi.

c. Status Temuan
c. Status Temuan

Walaupun tanggung jawab menindak-lanjuti hasil audit berada pada pihak auditi, namun demikian auditor diwajibkan memantau proses tindak lanjut melalui pendokumentasian data temuan audit dan pemutahiran data temuan audit tersebut secara terus menerus. APIP perlu membuat kebijakan dan prosedur pemantauan guna mengefektifkan pelaksanaan tindak lanjut hasil audit. Auditor dalam setiap penugasan audit wajib memeriksa tindak lanjut hasil audit tahun sebelumnya dan memperoleh informasi secukupnya tentang belum ditindak-lanjutinya hasil audit tahun sebelumnya.

Auditor harus melaporkan status temuan beserta rekomendasi audit kinerja sebelumnya yang belum ditindak- lanjuti.

Laporan status temuan yang disampaikan kepada pihak yang berkepentingan memuat antara lain:

1. Temuan dan rekomendasi;

memuat antara lain: 1. Temuan dan rekomendasi; 2. Sebab-sebab belum ditindaklanjutinya temuan; 3. Komentar

2. Sebab-sebab belum ditindaklanjutinya temuan;

3. Komentar dan rencana pihak auditi untuk menuntaskan temuan.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

71

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

d. Ketidakpatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan dan Kecurangan

Terhadap temuan yang berindikasi adanya tindakan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan kecurangan, auditor harus membantu aparat penegak hukum terkait dalam upaya penindak-lanjutan temuan tersebut.

Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) harus melakukan kerja sama dengan aparat penegak hukum dan meneliti sebab-sebab tidak atau belum adanya proses hukum.

Standar Pelaksanaan Audit Investigatif a. Perencanaan
Standar Pelaksanaan Audit Investigatif
a. Perencanaan

6.

Standar pelaksanaan pekerjaan audit investigatif mendeskripsikan sifat kegiatan audit investigatif dan menyediakan kerangka kerja untuk melaksanakan dan mengelola pekerjaan audit investigatif yang dilakukan oleh auditor investigatif.

Sistematika standar pelaksanaan audit investigatif meliputi :

standar pelaksanaan audit investigatif meliputi : 1) Penetapan sasaran, ruang lingkup dan alokasi sumber

1)

Penetapan sasaran, ruang lingkup dan alokasi sumber daya

2)

Pertimbangan dalam perencanaan

b. Supervisi

c. Pengumpulan dan Pengujian Bukti

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

72

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

1)

Pengumpulan bukti

2)

Pengujian bukti

d.

Dokumentasi

Rincian dari masing-masing butir standar pelaksanaan audit investigatif adalah sebagai berikut.

a. Perencanaan
a.
Perencanaan

Dalam setiap penugasan audit investigatif, auditor investigatif harus menyusun rencana audit. Rencana audit tersebut harus dievaluasi dan bila perlu disempurnakan selama proses audit investigatif berlangsung sesuai dengan perkembangan hasil audit investigatif di lapangan.

Perencanaan audit investigatif dimasudkan untuk memperkecil tingkat risiko kegagalan dalam melakukan audit investigatif dan memberikan arah agar pelaksanaan audit investigatif dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif.

investigatif dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif. Informasi yang diterima dari berbagai sumber, seperti:

Informasi yang diterima dari berbagai sumber, seperti: pengaduan masyarakat, pengembangan hasil audit kinerja atau audit lainnya, permintaan instansi aparat penegak hukum atau instansi lainnya dijadikan sebagai dasar penyusunan rencana audit investigatif. Setiap informasi yang diterima dianalisis dan dievaluasi untuk menentukan satu keputusan dari 3 (tiga) keputusan, yaitu: melakukan audit investigatif, meneruskan ke pejabat yang berwenang, atau tidak perlu ditindak-lanjuti. Apabila keputusan yang

ke pejabat yang berwenang, atau tidak perlu ditindak-lanjuti. Apabila keputusan yang Pusdiklatwas BPKP 2008 7 3

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

73

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

diambil adalah melakukan audit investigatif, maka rencana tindakan memuat langkah-langkah berikut:

v Menentukan sifat utama pelanggaran; v Menentukan fokus perencanaan dan sasaran audit investigatif; v
v
Menentukan sifat utama pelanggaran;
v
Menentukan fokus perencanaan dan sasaran audit
investigatif;
v
Mengindentifikasi kemungkinan pelanggaran hukum,
peraturan, atau perundang-undangan, dan
memahami unsur-unsur yang terkait dengan
pembuktian atau standar;
v
Mengindentifikasi dan menentukan prioritas tahapan
audit investigatif yang diperlukan untuk mencapai
sasaran audit investigatif;
v
Menentukan sumber daya yang diperlukan untuk
memenuhi persyaratan audit investigatif; dan
v
Melakukan
koordinasi
dengan
instansi
yang
berwenang,
termasuk
instansi
penyidik
jika
diperlukan.
1)
Penetapan Sasaran, Ruang Lingkup dan Alokasi
Sumber Daya
Dalam membuat rencana audit, auditor harus
menetapkan sasaran, ruang
sumber daya.
lingkup, dan alokasi
Sasaran
audit
investigatif
adalah

terungkapnya kasus penyimpangan yang berindikasi

dapat menimbulkan kerugian keuangan negara/daerah.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

74

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Ruang lingkup audit investigatif meliputi pengungkapan fakta dan proses kejadian, sebab dan dampak penyimpangan, dan penentuan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam atau bertanggung jawab atas penyimpangan.

2) Pertimbangan dalam Perencanaan auditor investigatif harus berbagai hal. v v Pemahaman mengenai
2)
Pertimbangan dalam Perencanaan
auditor
investigatif
harus
berbagai hal.
v
v
Pemahaman
mengenai

berjenjang;

Tujuan penetapan alokasi sumber daya pendukung audit investigatif adalah agar kualitas audit investigatif dapat dicapai secara optimal. Kebutuhan sumber daya yang harus ditentukan antara lain terkait dengan personil, pendanaan, dan sarana prasarana lainnya.

Dalam penyusunan rencana audit investigatif,

mempertimbangkan

Berbagai hal yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan rencana audit investigatif antara lain:

Sasaran, ruang lingkup dan alokasi sumber daya;

akuntabilitas

ruang lingkup dan alokasi sumber daya; akuntabilitas v Aspek kegiatan operasi auditi dan aspek

v

Aspek

kegiatan

operasi

auditi

dan

aspek

pengendalian intern;

 

v

Jadwal kerja dan batasan waktu;

 

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

75

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

v

Hasil audit periode sebelumnya dengan mempertimbangkan tindak lanjut terhadap rekomendasi atas temuan sebelumnya; dan

v

Mekanisme koordinasi antara auditor, auditi, dan pihak terkait lainnya.

b. Supervisi Pada setiap tahap audit investigatif, auditor harus disupervisi secara memadai v v v
b. Supervisi
Pada
setiap
tahap
audit
investigatif,
auditor
harus
disupervisi
secara
memadai
v
v
v
Ketaatan terhadap prosedur audit;
v
v
Pencapaian tujuan audit.

c. Pengumpulan dan Pengujian Bukti

pekerjaan

untuk

audit. c. Pengumpulan dan Pengujian Bukti pekerjaan untuk memastikan tercapainya sasaran, terjaminnya kualitas, dan

memastikan tercapainya sasaran, terjaminnya kualitas, dan meningkatnya kemampuan auditor.

Supervisi harus diarahkan baik pada substansi maupun metodologi audit yang bertujuan antara lain untuk mengetahui:

Pemahaman tim audit atas tujuan dan rencana audit;

Kesesuaian pelaksanaan audit dengan standar audit;

Kelengkapan bukti-bukti yang terkandung dalam kertas kerja audit untuk mendukung temuan dan rekomendasi; dan

kerja audit untuk mendukung temuan dan rekomendasi; dan Auditor investigatif harus mengumpulkan dan menguji bukti

Auditor

investigatif

harus

mengumpulkan

dan

menguji bukti untuk mendukung kesimpulan dan temuan audit investigatif.

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

76

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit Pelaksanaan pengumpulan dan evaluasi bukti harus pada upaya pengujian hipotesis untuk

Pelaksanaan pengumpulan dan evaluasi bukti harus

pada

upaya

pengujian

hipotesis

untuk

Fakta-fakta dan proses kejadian (modus operandi);

Sebab dan dampak penyimpangan; dan

difokuskan

mengungkapkan:

v

v

v Pihak-pihak yang diduga terlibat/bertanggung jawab atas kerugian keuangan negara/daerah. o Pengumpulan Bukti
v
Pihak-pihak yang diduga terlibat/bertanggung jawab
atas kerugian keuangan negara/daerah.
o
Pengumpulan Bukti
Auditor investigatif harus mengumpulkan bukti
audit yang cukup, kompeten dan relevan.
Pengumpulan bukti bertujuan untuk
menentukan apakah informasi awal yang diterima
dapat diandalkan karena akan digunakan auditor
untuk mendukung kesimpulan dan temuan audit.
o
Pengujian Bukti
Auditor investigatif harus menguji bukti audit
yang dikumpulkan.

Pengujian bukti dimaksudkan untuk menilai kesahihan bukti yang dikumpulkan dan kesesuaian bukti dengan hipotesis. Bukti diuji dengan memperhatikan urutan proses kejadian (sequences) dan

dengan hipotesis. Bukti diuji dengan memperhatikan urutan proses kejadian ( sequences ) dan Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

77

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

kerangka waktu kejadian (time frame) yang dijabarkan dalam bentuk bagan arus kejadian (flow chart) atau narasi. Teknik yang dapat digunakan untuk menguji bukti antara lain: inspeksi, observasi, wawancara, konfirmasi, analisis, pembandingan, rekonsiliasi dan penelusuran kembali.

d. Dokumentasi Auditor harus menyiapkan dan sistematis agar dapat secara efektif diambil dirujuk, dan
d.
Dokumentasi
Auditor
harus
menyiapkan
dan
sistematis
agar
dapat
secara
efektif
diambil
dirujuk, dan dianalisis.

menatausahakan

dokumen audit investigatif dalam bentuk kertas kerja audit.

Dokumen audit investigatif harus disimpan secara tertib dan

kembali,

Hasil audit investigatif harus didokumentasikan dalam berkas audit investigatif secara akurat dan lengkap. Pedoman internal audit investigatif harus secara khusus dan jelas menekankan kecermatan dan pentingnya ketepatan waktu. Laporan temuan audit investigatif dan pencapaian hasil audit investigatif harus didukung dengan dokumentasi yang cukup dalam berkas audit investigatif.

dokumentasi yang cukup dalam berkas audit investigatif. 7. Standar Pelaporan Audit Investigatif Standar pelaporan

7. Standar Pelaporan Audit Investigatif

Standar pelaporan ini merupakan acuan bagi penyusunan laporan hasil audit yang merupakan tahap akhir kegiatan audit

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

78

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

investigatif, untuk mengomunikasikan hasil audit investigatif kepada auditi dan pihak lain yang terkait.

Secara

sistematis

standar

pelaporan

meliputi butir-butir sebagai berikut:

audit

investigatif

o Kewajiban Membuat Laporan

o Cara dan Saat Pelaporan o Bentuk dan Isi Laporan o Kualitas Laporan o Pembicaraan
o
Cara dan Saat Pelaporan
o
Bentuk dan Isi Laporan
o
Kualitas Laporan
o
Pembicaraan Akhir dengan Auditi
o
Penerbitan dan Distribusi Laporan
o Kewajiban Membuat Laporan
Auditor
investigatif
harus
membuat
laporan

Rincian dari setiap butir standar pelaporan audit investigasi adalah sebagai berikut.

hasil

audit investigatif sesuai dengan penugasannya yang disusun dalam format yang tepat segera setelah melakukan tugasnya.

Laporan hasil audit investigatif dibuat secara tertulis , dengan tujuan untuk memudahkan pembuktian dan berguna untuk proses hukum berikutnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Beberapa hal yang perlu dipedomani adalah:

Beberapa hal yang perlu dipedomani adalah: v Dalam setiap laporan, fakta harus diungkapkan untuk

v Dalam setiap laporan, fakta harus diungkapkan untuk membantu pemahaman pembaca laporan. Hal ini termasuk suatu pernyataan yang singkat dan jelas

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

79

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

berkenaan dengan penerapan hukum yang dilanggar atau sebagai dasar suatu audit investigatif.

v Laporan harus memuat bukti-bukti baik yang mendukung maupun yang melemahkan temuan audit. v Laporan
v Laporan
harus
memuat
bukti-bukti
baik
yang
mendukung
maupun
yang
melemahkan
temuan
audit.
v
Laporan harus didukung dengan kertas kerja audit
investigatif yang memuat referensi kepada semua
wawancara, kontak, atau aktivitas audit investigatif
yang lain.
v
Laporan harus mencerminkan hasil yang diperoleh
dari audit investigatif, yaitu berupa: denda,
penghematan, pemulihan, tuduhan, rekomendasi
dan sebagainya.
v
Auditor harus menulis laporannya dalam bentuk
deduktif, menggunakan kalimat dan pernyataan yang
berupa ulasan dan kalimat topik. Penulisan kalimat
dan paragraf harus singkat, sederhana dan
langsung.
v
Laporan harus ringkas tanpa mengorbankan
kejelasan, kelengkapan dan ketepatan untuk
mengomunikasikan temuan audit investigatif yang
relevan.
v
Laporan tidak boleh mengungkapkan pertanyaan
yang belum terjawab atau memungkinkan
interpretasi yang keliru.
v
Laporan audit investigatif tidak boleh mengandung
opini atau pandangan pribadi. Semua penilaian,

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

80

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

kesimpulan, pengamatan dan rekomendasi harus didasarkan fakta yang tersedia.

v

Kelemahan sistem atau permasalahan manajemen yang terungkap dalam audit investigatif harus dilaporkan kepada pejabat yang berwenang dengan segera.

o Cara dan Saat Pelaporan Laporan hasil audit investigatif dibuat secara tertulis dan segera setelah
o
Cara dan Saat Pelaporan
Laporan hasil audit investigatif dibuat secara tertulis
dan
segera
setelah
berakhirnya
pelaksanaan
audit
investigatif.
APIP harus menetapkan kapan laporan akan
diberikan secara tertulis sesuai dengan situasi dan kasus
yang diaudit.
o
Isi Laporan
Laporan hasil audit investigatif harus memuat semua
aspek yang relevan dari audit investigatif.
Laporan
hasil
audit
investigatif
minimal
harus
memuat hal-hal berikut:
v
Dasar melakukan audit;
v
Identifikasi auditi;
v
Tujuan/sasaran, lingkup dan metodologi audit;

v

Pernyataan bahwa audit investigatif telah dilaksanakan sesuai Standar Audit;

v

Fakta-fakta dan proses kejadian mengenai siapa, di mana, bilamana, bagaimana dari kasus yang diaudit;

v

Sebab dan dampak penyimpangan;

mana, bilamana, bagaimana dari kasus yang diaudit; v Sebab dan dampak penyimpangan; Pusdiklatwas BPKP 2008 8

Pusdiklatwas BPKP 2008

Pusdiklatwas BPKP 2008

81

Kode Etik dan Standar Audit

Kode Etik dan Standar Audit

v

Pihak yang diduga terlibat atau bertanggung jawab; dan

v

Dalam pengungkapan pihak yang bertanggung jawab atau yang diduga terlibat, auditor harus memperhatikan asas praduga tidak bersalah yaitu dengan tidak menyebut identitas lengkap.

o Kualitas Laporan
o Kualitas Laporan

Laporan hasil audit investigasi harus akurat, jelas, lengkap, singkat, dan disusun dengan logis, tepat waktu, dan obyektif.

dan disusun dengan logis, tepat waktu, dan obyektif . Laporan harus akurat dan jelas, singkat, menunjukkan

Laporan harus akurat dan jelas, singkat, menunjukkan hasil-hasil relevan dan upaya auditor investigatif. Laporan harus disajikan secara langsung tepat secara gramatikal, menghindari penggunaan kata yang tidak perlu, mengganggu, atau membingungkan. Laporan harus disajikan dengan baik, relevan dengan audit investigatif dan mendukung penyajian.

Semua audit investigatif harus dilaksanakan dan dilaporkan secara cermat dan tepat waktu. Hal ini disebabkan besarnya dampak hasil audit investigatif terhadap karir seseorang atau kehidupan suatu organisasi.

terhadap karir seseorang atau kehidupan suatu organisasi. o Pembicaraan Akhir dengan Auditi   Auditor

o Pembicaraan Akhir dengan Auditi

 

Auditor

investigatif

harus

meminta

tanggapan/

pendapat

terhadap

hasil

audit

investigatif.

Tanggapan/

Pusdiklatwas BPKP 2008