Anda di halaman 1dari 50

PEMANFAATAN SPERMA PADA INDIVIDU BETINA Drosophila

melanogaster STRAIN wb dan evg

LAPORAN PENELITIAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika II yang Dibina
Oleh Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd

Oleh
Kelompok 3/Off. B
Genetika Hari Kamis
Fetty Hariyanti
(120341400023)
Utaria Mutasam
(120341421989)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
November 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Drosophila merupakan salah satu marga dari kelas insekta yang
keberadaannya dapat ditemukan dimana saja. Drosophila mempunyai jenis yang
sangat

banyak,

dan

salah

satunya

adalah

Drosophila

melanogaster.

D.melanogaster sangat cocok digunakan dalam penelitian genetika. Hal ini


dikarenakan

Drosophila melanogaster

mempunyai struktur anatomi yang

kompleks, memiliki siklus hidup yang pendek, mudah dibiakkan dalam


laboratorium, biaya untuk mengembangbiakkannya mudah, mudah dikontrol,
banyak mutan dari Drosophila melanogaster yang telah dideskripsikan sehingga
informasinya dapat dengan mudah digunakan, serta jumlah kromosom Drosophila
melanogaster sedikit dan terdapat kromosom raksasa di dalam kelenjar ludah dari
larva dewasa (King, 1965: 53).
Drosophila melanogaster

jantan dan betina mampu melakukan

perkawinan dan menghasilkan keturunan setelah mencapai kedewasaan seksual.


Kedewasaan seksual pada individu jantan ditandai dengan kemampuan
menghasilkan dan mengeluarkan sperma, sedangkan pada individu betina ditandai
dengan kemampuan dalam mengovulasikan ootid. Pada individu betina, sperma
dari individu jantan disimpan di kedua reseptakulum seminalis, dan pada
pasangan spermateka, spermateka merupakan organ tempat penyimpanan sperma
dalam jangka panjang (Clark, et al, 1994).
Letsinger dan Gromko (1985) dalam Nusantari (1997) menyatakan bahwa
perkawinan kembali pada individu betina Drosophila melanogaster dipengaruhi
antara lain oleh jumlah sperma yang tersisa dalam spermateka. Pernyataan ini
menunjukkan bahwa perkawinan kembali dapat terjadi pada individu betina
Drosophila melanogaster . Betina Drosophila melanogaster tidak hanya dapat
kawin dengan jantan dari strain yang sama, namun juga dapat kawin dengan
beberapa jantan dari strain yang berbeda.
Menurut Gilbert, dalam Iida & Douglas (2003), pada Drosophila
melanogaster , terdapat ribuan sperma yang ditransferkan dari jantan ke betina
dalam sekali kawin. Beberapa dari sperma tersebut akan langsung digunakan, dan

lainnya akan disimpan untuk penggunan yang akan datang, namun tidak sedikit
pula dari sperma-sperma tersebut yang tak tertampung karena terbatasnya
kapasitas organ penyimpanan sperma. Pada betina normal, kemampuan
penyimpanannya hanya sekitar 20-25% dari seluruh jumlah sperma yang
ditransferkan.
Lebih

jauh

lagi

dinyatakan

bahwa

individu

betina

Drosophila

melanogaster mempunyai pemanfaatan sperma yang sempurna. Pengkajian lebih


lanjut dari Clark, et al (1994) menyatakan bahwa proses kawin kembali dapat
meningkatkan kesuburan pada individu betina Drosophila melanogaster . Saat
individu betina melakukan kawin kembali dengan individu jantan lain, ada
fenomena dimana sperma dari jantan kedua yang lebih diutamakan. Hal ini tidak
diragukan lagi melibatkan faktor-faktor yang menentukan kapan dan bagaimana
sperma disimpan. Salah satu faktor yang menentukan ketika individu betina telah
reseptif untuk kawin kembali adalah berkurangnya jumlah sperma yang disimpan
(Clark, et al, 1994).
Penyimpanan sperma dan penggunaannya secara langsung dapat
mempengaruhi

kesuburan

banyak

organisme,

termasuk

di

Drosophila

melanogaster . Sperma yang ditransfer saat kawin disimpan dalam organ khusus
pada Drosophila betina dan terus digunakan selama 2-3 minggu setelah kawin.
Dengan demikian, penerimaan sperma oleh betina, penyimpanan dan pemanfaatan
memainkan peran penting dalam keberhasilan reproduksi. (Iida & Douglas, 2003)
Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan diatas, maka dilakukan
penelitian dengan judul Pemanfaatan Sperma Pada Individu Betina
Drosophila melanogaster Strain wb dan evg

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1.

Bagaimana pemanfaatan sperma pada individu betina Drosophila


melanogaster strain wb?

2.

Bagaimana pemanfaatan sperma pada individu betina Drosophila


melanogaster strain evg?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Untuk

mengetahui

pemanfaatan

sperma

pada

individu

betina

sperma

pada

individu

betina

Drosophila melanogaster strain wb.


2.

Untuk

mengetahui

pemanfaatan

Drosophila melanogaster strain evg.

1.4 Kegunaan Penelitian


Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1

Bagi peneliti
Sebagai program pengayaan bahan praktikum matakuliah Genetika
II tentang kajian pemanfaatan sperma pada individu betina
Drosophila melanogaster strain wb dan evg.

1.4.2

Bagi Mahasiswa
Memberikan informasi tentang pemanfaatan sperma pada individu
betina Drosophila melanogaster strain wb dan evg.

1.5 Asumsi Penelitian


Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1 Mutu dan kualitas medium dari setiap botol dianggap sama.
1.5.2 Semua faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, dan kelembaban
selama penelitian dianggap sama.
1.5.3 Seluruh umur Drosophila melanogaster

dalam penelitian ini

dianggap sama.

1.6 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah


Penelitian yang dilakukan memiliki ruang lingkup dan batasan masalah,
antara lain:
1.6.1 Pada penelitian ini Drosophila melanogaster yang digunakan adalah
strain wb, w, b, N, e, evg, dan vg.
1.6.2 Drosophila melanogaster betina yang digunakan dalam penelitian
ini adalah wb dan evg.

1.6.3 Drosophila melanogaster jantan yang digunakan dalam penelitian


ini adalah wb, w, b, N, e, evg, dan vg.
1.6.4 Data yang diperoleh berasal dari pengamatan fenotip F1 yang
meliputi warna mata, faset mata, warna tubuh, keadaan sayap, jenis
kelamin, dan jumlah keturunan F1 dari tiap tipe persilangan.
1.6.5 Penelitian dilakukan sebanyak 5 kali ulangan dan hanya mengamati
sebatas keturunan F1. Pengambilan data berupa perhitungan F1
dimulai dari pupa mulai menetas sampai hari ke tujuh.

1.7 Definisi Operasional


Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.7.1 Strain adalah kelompok intra-spesifik yang memiliki hanya satu atau
sejumlah kecil ciri yang berbeda, biasanya secara homozigot untuk
ciri-ciri tersebut (galur murni) (Corebima, 2003). Strain yang
digunakan pada penelitian ini adalah strain wb dan evg pada betina,
dan strain wb, w, b, N, e, evg, dan vg untuk jantan.
1.7.2 Pemanfaatan sperma adalah penggunaan sperma yang tersimpan
dalam organ penyimpanan sperma (reseptakulum seminalis dan
spermateka) oleh individu betina Drosophila melanogaster (Clark,
et al, 1994). Pemanfaatan sperma pada penelitian ini dapat dilihat
dari jumlah dan strain dari keturunan F1 yang dihasilkan pada setiap
tipe persilangan.
1.7.3 Daya reseptivitas adalah kemampuan individu betina untuk
menerima kehadiran individu jantan kedua, ketiga, dan seterusnya
setelah

melakukan

perkawinan

dengan

jantan

sebelumnya

(Nusantari, 1997). Daya reseptivitas pada penelitian ini adalah


kemampuan betina yang dapat dikawinkan lagi dengan jantan lain
setelah dua hari dari perkawinan sebelumnya.
1.7.4 Fenotip adalah karakter-karakter yang dapat diamati pada suatu
individu (yang merupakan hasil interaksi antara genotip dengan
lingkungan tempat hidup dan berkembang) (Corebima, 2003).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Drosophila melanogaster

Gambar 1. Salah satu contoh strain D.melanogaster


Sumber : (Tamarin, 2001)
Sistematika Drosophila melanogaster adalah sebagai berikut (Wijayanti,
2012) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Drosophilidae

Genus

: Drosophila

Spesies

: Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster wild-type, atau lebih dikenal sebagai lalat


buah, memiliki mata multifaset berwarna merah, toraks berwarna kuning
kecoklatan dengan rambut hitam yang melengkung dan tersebar. Abdomennya
bergaris-garis dan sepasang sayap transparan. Drosophila melanogaster memiliki
siklus hidup yang pendek, jumlah kromosom sedikit, ukuran genom kecil, dan
memiliki kromosom yang besar pada kelenjar ludahnya, kromosom yang

berukuran besar inilah yang menyebabkan Drosophila melanogaster

sering

digunakan dalam penelitian genetika (Oltmanns, 2012).


2.2 Sistem Reproduksi Drosophila melanogaster
2.2.1 Sistem Reproduksi Drosophila melanogaster Betina
Sistem reproduksi pada individu betina Drosophila melanogaster tersusun
atas uterus, sepasang spermateka, reseptakulum seminalis, oviduct, sepasang ovari
dan kelenjar tambahan (Sun, 2013). Setiap ovari terdiri dari sekelompok ovariol
yang mana ovariol-ovariol ini akan menuju lateral oviduk pada bagian posterior
dan bersatu di bagian anterior dalam suatu ligament penggantung yang menempel
pada diafragma dorsalis (Borror, et al, 1992). Oogonia terletak pada ujung bagian
anteriol dari ovariol yang disebut dengan germanium. Oogonia mengalami mitosis
menghasilkan oosit dan trofosit. Oosit akan berjalan di sepanjang ovariol dan
mengalami pemasakan saat melintasi daerah ovariol ini. Oosit akan membesar
karena adanya penyimpanan kuning telur. Protein kuning telur (vitellarium)
disintesis di luar ovariol dan dipindahkan ke dalam oosit oleh epitel folikel
(Boror, et al, 1992)

Gambar 2. Sistem Reproduksi Betina D.melanogaster


(Sumber: Wolfner, 2011)

2.2.2 Sistem Reproduksi Drosophila melanogaster Jantan


Reproduksi jantan pada Drosophila melanogaster terdiri dari
testis, kelenjar tambahan, saluran ejakulasi dan vesikula seminalis
(Zamore, 2011). Menurut Boror et al (1992) testis terdiri dari
sekelompok buluh-buluh sperma atau folikel-folikel yang dikelilingi oleh
selaput peritoneum. Setiap sperma bermuara ke dalam buluh penghubung
yang pendek yaitu vas efferens dan buluh ini berhubungan dengan satu
vas deferens tunggal pada masing-masing sisi. Dua vas deferens biasanya
bersatu pada bagian posterior untuk membentuk saluran ejakulasi.
Kelenjar tambahan mensekresikan cairan-cairan yang berfungsi sebagai
suatu carrier untuk spermatozoa atau membentuk spermatofor. Berikut
gambar representatif dari sistem reproduksi pada individu jantan
D.melanogaster.
Kelenjar Tambahan
Testis

Vesikula seminalis

Saluran Ejakulasi Anterior


Sperm Pump
Saluran Ejakulasi Posterior
Segmen abdominal posterior

Gambar 3. Sistem Reproduksi Jantan D.melanogaster


(Sumber: Zamore, 2011).
2.3 Daya Reseptivitas Individu Betina Drosophila melanogaster
Perkawinan D.melanogaster akan terjadi jika keduanya telah
mencapai kematangan seksual (Feng, 2010). Namun yang paling
berpengaruh dalam perkawinan adalah individu betina itu sendiri. Hal ini

dikarenakan adanya faktor internal dan faktor eksternal yang berpengaruh


terhadap individu betina itu sendiri. Beberapa faktor eksternal yang
berpengaruh adalah faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan dan yang
sangat penting adalah sinyal yang dikeluarkan oleh individu jantan selama
tahap pengenalan. Faktor internal yang berpengaruh antara lain kematangan
seksual dan status kawin individu betina (Levine, 1968). Kemampuan betina
untuk melakukan perkawinan akan meningkat seiiring pertambahan
umurnya setelah penetasan dan akan berkurang setelah mencapai titik
puncak kemampuan kawinnya (Feng, 2010).
Telah diketahui sejak lama bahwa individu betina Drosophila
melanogaster, tidak melakukan kawin sampai beberapa saat dari penetasan.
Menurut Manning (1967) dalam Feng (2010), individu betina reseptif pada
rentang umur 24-40 jam setelah penetasan. Sementara Shorrock (1972)
dalam Indayati (1999), menyatakan bahwa kematangan ovarium yang
dihubungkan dengan kedewasaan seksual terjadi pada umur 48 jam setelah
penetasan. Dalam hal ini berarti bila individu dipasangkan dengan individu
jantan maka akan terjadi perkawinan dalam waktu yang singkat (biasanya
dalam waktu 30 menit). Bila individu betina telah reseptif, maka dia akan
memperlambat

geraknya

untuk

memungkinkan

individu

jantan

menempelkan probocisnya pada individu betina dan melakukan kopulasi.


Manning dalam Nusantari (1997) mengatakan bahwa Drosophila
melanogaster tidak akan kawin dua kali dalam waktu yang cepat. Individu
betina yang telah kawin akan segera menolak individu jantan dengan
gerakan ekstrusi yang khas dan akan reseptif kembali 24 jam setelah
reseptakulum seminalis (tempat penyimpanan sperma) telah kosong dari
sperma. Suatu keadaan dimana individu betina sudah dapat menerima
kehadiran individu jantan untuk melakukan perkawinan disebut dengan
daya reseptivitas. Keadaan individu betina yang seperti ini dikatakan
keadaan yang reseptif (Indayanti, 1999). Perkawinan kembali pada individu
betina Drosophila melanogaster dipengaruhi oleh jumlah sperma yang
tersisa dalam organ penyimpanan sperma (spermateka) dalam batas waktu
tertentu. Waktu kawin kembali tiap 2 hari sekali menunjukkan bahwa pada

saat ini telah terjadi pengurangan jumlah sperma dalam spermateka


(Nusantari, 1997).
2.4 Pemanfaatan Sperma Pada Individu Betina Drosophila melanogaster
Perkawinan kembali dan penyimpanan sperma pada individu
betina merupakan aspek penting pada perilaku seksual Drosphila
melanogaster karena berkaitan dengan pola pemanfaatan sperma (Singh et
al, 2001). Drosophila melanogaster memiliki dua tipe organ untuk
penyimpanan sperma yaitu reseptakulum seminalis yang mengandung
sebagian besar sperma (65-80%), dan pasangan spermateka sebagai tempat
penyimpanan sperma jangka panjang. Sperma disimpan di dalam lumen
spermateka dimana sperma menerima protein-protein yang masih belum
diketahui fungsinya dari sel epitelial sekretori yang mengelilingi lumen
spermateka (Adrianne, et al, 2008). Sperma yang tersimpan dalam
reseptakulum seminalis digunakan untuk fertilisasi terlebih dahulu
daripada yang tersimpan di spermateka. Mekanisme ini terjadi karena
posisi dari organ penyimpanan sperma pada traktus genetalis individu
betina yang mana bagian proksimal reseptakulum seminalis terbuka
langsung ke oviduk di atas uterus (Muliati, 2000).
Jumlah sperma yang tersimpan di dalam organ penyimpanan
sekitar 500-700, sehingga diperkirakan adanya pembuangan sperma dari
Drosophila dan hanya 10%-20% yang disimpan. Penyimpanan sperma
berada dalam keadaan berputar secara kontinyu. Adanya tingkat
penggunaan sperma yang tinggi disebabkan oleh kontraksi otot
reseptakulum seminalis yang membantu pergerakan sperma untuk keluar
masuk dari reseptakulum seminalis (Muliati, 2000). Pemanfaatan sperma
dalam fertilisasi dapat bersifat acak maupun tidak acak. Pemanfaatan
sperma dalam fertilisasi tidak acak apabila keturunan dari jantan pertama
tidak muncul pada persilangan betina dengan jantan kedua, ketiga,
keempat, atau dengan kata lain keturunan pada persilangan tertentu hanya
akan menghasilkan fenotip keturunan pertama hasil persilangan tersebut.
Pemanfaatan sperma yang bersifat acak terjadi jika keturunan dari jantan

10

pertama dengan betina tersebut muncul pada persilangan dengan jantan


kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata lain muncul pada
persilangan dengan jantan selanjutnya. Gen-gen spesifik dan proteinprotein diketahui memiliki peran penting dalam kompetisi antar sperma.
Pada individu jantan Drosophila melanogaster, sperma dari jantan kedua
lebih diutamakan. Protein-protein dari kelenjar asesori pada individu
jantan memainkan peran dalam kompetisi sperma pada Drosophila
(Adrianne, et al, 2008).

11

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Drosophila melanogaster betina dapat
melakukan perkawinan dengan banyak jantan
Drosophila melanogaster yang berbeda-beda.

Drosophila melanogaster betina mencapai


kedewasaan seksual setelah mampu
mengovulasikan ootid.

Drosophila melanogaster jantan mencapai


kedewasaan seksual setelah mampu
menghasilkan dan mengeluarkan sperma
spermatozoa.

Individu betina memiliki kemampuan


reseptivitas untuk melakukan perkawinan
kembali dengan jantan yang lain tanpa
menunggu reseptakulum seminalisnya
kosong terlebih dahulu.

Jumlah sperma yang ditransfer oleh individu


jantan selama perkawinan ke individu betina
tergantung dari kuantitas sekresi kelenjar
asesori.

Persilangan wb dengan wb, w, b , N dan


persilangan evg dengan evg, vg, e, N secara
berurutan masing-masing dengan 4 tipe persilangan.

Terjadi kompetisi antara sperma dari jantan pertama


dengan jantan kedua, ketiga dan seterusnya di dalam
organ penyimpanan sperma individu betina.

Membandingkan fenotif F1 hasil persilangan dengan


hasil rekonstruksi kromosom.

Terdapat fenomena pemanfaatan sperma secara acak


atau tidak acak pada individu betina Drosophila
melanogaster

12

3.2 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dari penelitian ini adalah ada pemanfaatan sperma bersifat acak
dan tidak acak pada individu betina Drosophila melanogaster strain wb dan evg.

13

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif observatif karena tidak
ada perlakuan khusus dalam penelitian. Penelitian dilakukan dengan cara
menyilangkan wb dengan wb, w, b, dan N serta evg dengan evg, vg,
e, N secara berurutan dengam empat tipe persilangan untuk mengetahui
pemanfaatan sperma pada wb dan evg. Data yang didapat dianalisis secara
deskriptif dengan menggunakan analisis rekonstruksi kromosom tubuh dan
kromosom kelamin.

4.2 Populasi dan Sampel


Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila
melanogaster yang didapatkan dari Laboratorium Genetika Jurusan Biologi
FMIPA UM, sedangkan sampel yang digunakan adalah Drosophila melanogaster
dengan strain wb, w, b, N, evg, vg dan e.

4.3 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan
November tahun 2014. Untuk tempat penelitiannya adalah di Laboratorium
Genetika ruang 310, jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam dan di Jl. Terusan Ambarawa No. 7 Malang.

4.4 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol selai, busa
penutup, selang 2 ukuran, spidol, cotton buds, timbangan, blender, pisau, kompor,
panci, mikroskop stereo, ember dan pengaduk. Adapun bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Drosophila melanogaster strain wb, w, b, N, evg, vg
dan e, pisang rajamala, tape singkong, gula merah, yeast, plastik dan kertas
pupasi.

14

4.5 Prosedur Kerja


4.5.1 Pembuatan medium
- Menimbang pisang rajamala, tape singkong dan gula merah dengan
perbandingan 7 : 2 : 1.
- Memblender pisang dan tape dengan menambah air.
- Menuangkan hasil blenderan (bahan) ke dalam panci, menambah
gula merah yang telah diiris, kemudian dimasak di atas kompor
selama 45 menit.
- Mematikan kompor dan memasukkan medium ke dalam botol selai
selagi panas dan menutup botol dengan spon.
- Mendinginkan dalam bejana yang berisi air.
- Setelah dingin, membuka tutup botol dan memberi 2-3 butir yeast
dan kertas pupasi.
- Menutup botol dengan spon.
4.5.2

Pengampulan
- Mengisi selang dengan potongan kecil pisang dan menempatkan
pisang pada bagian tengah selang.
- Mengambil pupa yang telah menghitam dari dalam stok Drosophila
melanogaster untuk setiap strain dengan menggunakan kuas.
- Memasukkan ampulan ke dalam selang yang telah berisi pisang
serta menutupnya dengan potongan spon atau busa.
- Memberikan label pada masing-masing selang dengan nama strain
dan tanggal pengampulan.

4.5.3

Persilangan
Untuk wb ada 4 tipe:
1. Tipe IA
-

wb disilangkan dengan wb.

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan w (wb pertama dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan b (w dilepas).

15

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (b dilepas).

Setelah 2 hari N dilepas, wb dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

wb dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

2. Tipe II A
-

wb disilangkan dengan w.

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan b (w pertama dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (b dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan wb (N dilepas).

Setelah 2 hari wb dilepas, wb dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

wb dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

3. Tipe III A
-

wb disilangkan dengan b.

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (b pertama dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan wb (N dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan w (wb dilepas).

16

Setelah 2 hari w dilepas, wb dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

wb dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

4. Tipe IV A
-

wb disilangkan dengan N.

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan wb (N pertama dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan w (wb dilepas).

Setelah 2 hari, wb dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan b (w dilepas).

Setelah 2 hari b dilepas, wb dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

wb dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

Untuk evg ada 4 tipe:


1. Tipe I B
-

evg disilangkan dengan evg.

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan e (evg pertama dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan vg (e dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (vg dilepas).

17

Jarak 2 hari N dilepas, evg dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

evg dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

2. Tipe II B
-

evg disilangkan dengan e.

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan vg (e pertama dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (vg dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan evg (N dilepas).

Jarak 2 hari evg dilepas, evg dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

evg dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

3. Tipe III B
-

evg disilangkan dengan vg.

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan N (vg pertama dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan evg (N dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan e (evg dilepas).

18

Jarak 2 hari e dilepas, evg dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

evg dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

4. Tipe IV B
-

evg disilangkan dengan N.

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan evg (N pertama dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan e (evg dilepas).

Setelah 2 hari, evg dipindah ke medium baru dan disilangkan


dengan vg (e dilepas).

Jarak 2 hari vg dilepas, evg dipindah ke medium baru tanpa


disilangkan.

evg dilepaskan setelah ada pupa.

Mengamati fenotip hasil persilangan F1 dan menghitung


jumlahnya selama 1-7 hari.

Mencatat hasil pengamatan.

Mengulang sebanyak 5x ulangan.

4.5.4 Teknik Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati fenotip dan jumlah
dari tiap-tiap persilangan pada turunan pertama (F1) dari masing-masing tipe
persilangan kemudian memasukkan data ke dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Pengamatan Penghitungan Fenotip
Tipe

Persilangan

wb >< wb
IA

Fenotip
F1

Ulangan
1

Total
4

wb
wb

19

wb
wb >< w

wb
w
w
wb
w

wb >< b

w
b
wb
b
w

wb >< b

N
w
wb
w
b

wb

wb
wb
w
N

II
A,
dst

wb
wb >< w
wb

20

4.5.5 Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan
rekonstruksi kromosom tubuh. Data hanya dianalisis secara deskriptif karena
dalam rumusan masalah hanya terbatas pada pemanfaatan sperma saja.

21

BAB V
DATA DAN ANALISIS DATA
5.1. Data
5.1.1. Data Hasil Pengamatan Fenotip
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, ciri masing-masing strain
(wb, w, b, evg, e, vg dan N) Drosophila melanogaster yang digunakan dalam
penelitian adalah sebagai berikut.
a. Strain N (normal)
- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh kuning kecoklatan
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
b. Strain wb (white eyes dan black body)
- Warna mata putih
- Faset mata halus
- Warna tubuh hitam
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
c. Strain w (white eyes)
- Warna mata putih
- Faset mata halus
- Warna tubuh kuning kecoklatan
-

Sayap menutupi tubuh dengan sempurna

d. Strain b (black body)


- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh hitam
-

Sayap menutupi tubuh dengan sempurna.

e. Strain evg (ebony dan vestigial)


- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh hitam

22

- Sayap mereduksi sehingga tidak menutupi tubuh dengan sempurna


f. Strain e (ebony)
- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh hitam
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
g. Strain vg (vestigial)
- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh kuning kecoklatan
- Sayap mereduksi sehingga tidak menutupi tubuh
dengan sempurna
5.1.2. Data Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1
Tabel 5.1.2.1 Tabel Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1
5.1.2.2 Tipe Persilangan A
Tipe

Persilangan

wb >< wb

Ulangan

Fenotip
F1

wb

wb

Total

Keterangan

wb = 22

Tidak dapat

wb = 36

dikatakan
acak maupun
tidak acak.

wb
wb >< w

wb >< b

wb >< N

10

11

wb = 26

wb

wb = 13

12

12

11

w = 44

44

34

12

w = 13

23

wb

16

16

27

wb = 59

wb

12

wb = 7

15

w=4

12

w=7

15

b=5

wb

wb = 5

Acak

Acak

Acak

23

wb

wb >< w

wb

wb = 9

16

w = 38

w=-

b=-

29

16

N = 32

wb

wb = 2

wb

wb = 9

15

15

w = 38

w=-

b=-

11

21

N = 32

16

21

32

w = 69

Tidak dapat

13

75

51

w = 139

dikatakan

Acak

acak maupun
tidak acak.

wb >< b

2
wb >< N

wb >< wb

wb

22

w = 26

38

w = 47

wb

42

18

wb = 60

20

15

b = 35

17

47

23

w = 87

13

w = 22

wb

wb = 10

b=3

18

24

N = 49

w=4

w=-

wb

12

wb = 30

wb

15

11

12

wb = 38

b = 10

19

N = 24

Acak

Acak

Acak

24

w
wb
wb
b
N

wb >< b

wb

18

19

wb = 37

Tidak dapat

13

27

b = 40

dikatakan
acak maupun
tidak acak.

wb >< N

wb >< wb

wb

wb = 16

16

b = 33

20

32

13

12

31

w = 108

14

26

24

38

N = 107

wb

15

10

16

16

wb = 65

wb

23

wb = 36

b = 10

w = 16

19

10

N = 38

wb

16

wb = 20

wb

wb = -

b=-

16

10

w = 42

35

28

13

w = 78

N = 17

wb

wb = 1

wb

wb = 4

b=-

16

10

27

w = 59

15

w = 27

14

11

N = 37

Acak

Acak

wb >< w

wb

Acak

Acak

25

wb >< N

17

22

26

27

w = 92

Tidak dapat

40

24

16

56

N = 136

dikatakan
acak maupun
tidak acak.

wb >< wb

4
wb >< w

wb >< b

wb

23

16

10

w = 49

17

24

24

N = 65

wb

29

29

24

wb = 82

wb

24

25

20

wb = 69

N = 27

wb

11

wb = 16

wb

wb = 6

16

17

14

14

10

w = 71

27

23

21

15

w = 94

10

N = 12

wb

12

16

21

25

wb = 74

wb

wb = 18

20

w = 24

14

19

w = 41

17

19

b = 51

Total

Keterangan

Acak

Acak

Acak

5.1.2.3 Tipe Persilangan B


Tipe

Persilangan

evg >< evg

Ulangan

Fenotip
F1

evg

18

evg

21

48

Tidak dapat
20

evg = 51

dikatakan

43

27

evg = 139

acak maupun
tidak acak.

I
evg >< e

evg

13

evg = 24

evg

10

13

evg = 29

25

24

e = 60

46

25

12

52

e = 135

Acak

26

evg >< vg

evg >< N

evg

evg >< e

evg

evg = 1

evg

evg = 3

e = 12

e = 18

vg

20

45

vg = 72

vg

14

33

22

vg = 69

evg

evg = 4

evg

evg = 4

e = 15

18

e = 25

vg

vg = -

vg

vg = -

12

17

N = 36

29

16

42

N = 87

evg

evg = -

evg

evg = -

e=1

e=-

vg

vg = -

vg

vg = -

16

N = 16

22

N = 22

11

35

Acak

Acak

Acak

Tidak dapat
16

19

e = 51

dikatakan

28

43

e = 117

acak maupun
tidak acak.

2
evg >< vg

evg >< N

e = 11

14

10

e = 24

vg

12

19

20

27

vg = 78

vg

32

53

44

53

vg = 182

13

e = 14

11

e = 16

Acak

Acak

27

evg >< evg

evg

evg >< vg

vg

vg = 7

vg

26

vg = 26

11

23

13

N = 55

11

48

47

22

N = 128

e=-

e=1

vg

vg = -

vg

vg = -

N=3

N=7

evg

21

24

evg = 60

evg

28

71

evg = 135

e=1

e=-

vg

vg = 2

vg

vg = 1

N=1

N=3

evg

21

15

evg = 31

evg

28

36

evg = 49

vg

20

vg

28

22

Acak

Acak

Tidak dapat
18

vg = 43

dikatakan

36

vg = 86

acak maupun
tidak acak.

evg >< N

evg >< evg

vg

24

vg = 31

vg

vg = 12

15

N = 34

22

32

N = 63

vg

vg = 3

vg

vg = 5

N = 11

N = 12

Acak

Acak

28

evg >< e

evg

evg >< N

evg

14

evg = 18

evg

13

evg = 16

vg

11

vg = 11

vg

20

vg = 20

N=3

N=1

evg

evg = -

evg

evg = -

19

14

e = 33

25

17

e = 42

--

21

44

Acak

Tidak dapat

50

N = 71

dikatakan

101

N = 145

acak maupun
tidak acak.

evg >< evg

evg >< e

evg >< vg

41

N = 46

N = 19

evg

19

98

evg = 126

evg

29

36

25

49

evg = 139

43

12

N = 61

51

14

N = 74

evg

evg = -

evg

evg = -

19

48

23

e = 90

27

68

27

e = 122

N=3

N=3

evg

evg = 4

evg

evg = 3

e=4

e=9

vg

17

vg = 24

Acak

Acak

Acak

29

evg

vg

39

11

vg = 50

--

--

--

--

--

--

--

5.1.3 Analisis Rekontruksi Kromosom


5.1.3.1 Rekontruksi Kromosom Kelamin wb
a) Persilangan Tipe I
wb >< wb
w b
w b
><
b
w b

: wb

wb

b
F1

w
w

b
(wb)
b

w b
( wb)
b

wb >< w

w
w

: wb

w b
b
><
b
b

w b
b

F1

w
w

b
(w)
b

w b
(w)
b

wb >< b

w
w

w b
b
><
b
b

: w b wb

b
F1

w b
(b)
w b

w b
( wb)
b

wb >< N
P

w
:
w

: wb

b
w b
><
b
b

wb

30

b
w b
(N)
w b

w b
(w)
b

F1

b)

Persilangan Tipe II

wb >< w

w
w

: wb

w b
b
><
b
b

w b

b
F1

w
w

b
(w)
b

w b
(w)
b

wb >< b
P
G

w
:
w

w b
b
><
b
b

: wb w b

b
F1

w b
(b)
w b

w b
( wb)
b

wb >< N
w
w

b
w b
><
b
b


: wb w b

b
F1

w b
(N)
w b

w b
(w)
b

wb >< wb
w b
w b
><
b
w b

: wb

wb

b
31

w
w

b
(wb)
b

F1

c)

Persilangan Tipe III

w b
( wb)
b

wb >< b
w b
b
><
b
b

w
:
w

: w b w b

b
F1

w b
(b)
w b

w b
( wb)
b

wb >< N
w
w

: wb

b
w b
><
b
b

wb
b

F1

w b
(N)
w b

w b
(w)
b

wb >< wb
w b
w b
><
b
w b

: wb

wb

b
F1

w
w

b
(wb)
b

w b
( wb)
b

wb >< w

w
w

: wb

w b
b
><
b
b

w b

32

w
w

b
(w)
b

w b
(w)
b

F1

d)

Persilangan Tipe IV

wb >< N
b
w b
><
b
b

w
:
w

: w b wb

b
F1

w b
(N)
w b

w b
(w)
b

wb >< wb
w b
w b
><
b
w b

: wb

wb

b
F1

w
w

b
(wb)
b

w b
( wb)
b

wb >< w
P

w
:
w

: wb

w b
b
><
b
b

w b

b
F1

w
w

w b
(w)
b

b
(w)
b

wb >< b

w
w

: wb

w b
b
><
b
b

w b
b

33

F1

w b
(b)
w b

w b
( wb)
b

5.1.3.2 Rekontruksi Kromosom Tubuh evg


a)

Persilangan Tipe I

evg >< evg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(evg)
e vg

evg >< e

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(e)
e vg

evg >< vg
P

e vg
e vg
:
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(vg)
e vg

evg >< N

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

b)

Persilangan Tipe II

e vg
(N)
e vg

34

evg >< e

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(e)
e vg

evg >< vg
P

e vg
e vg
:
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(vg)
e vg

evg >< N

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(N)
e vg

evg >< evg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

c)

Persilangan Tipe III

e vg
(evg)
e vg

evg >< vg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

35

F1

e vg
(vg)
e vg

evg >< N

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

d)

Persilangan Tipe III

e vg
(N)
e vg

evg >< evg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(evg)
e vg

evg >< e

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e)

Persilangan Tipe IV

e vg
(e)
e vg

evg >< N

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(N)
e vg

36

evg >< evg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(evg)
e vg

evg >< e
P

e vg
e vg
:
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(e)
e vg

evg >< vg

e vg
e vg
><
e vg
e vg

: e vg e vg

F1

e vg
(vg)
e vg

5.1.4 Analisis Deskriptif


5.1.4.1 Persilangan pada individu wb
Pada persilangan IA, kami menggunakan analisis rekontruksi kromosom
kelamin karena mutan w (white) terpaut pada kromosom kelamin nomor 1
sehingga dalam persilangannya juga akan mempengaruhi sex dari Drosophila
melanogaster itu sendiri. Dari hasil pengamatan fenotip dan sex yang telah
dilakukan selama 1 sampai 7 hari sebanyak 5x ulangan, diperoleh data pada tipe
persilangan IA antara wb

dengan wb (jantan pertama) menghasilkan

keturunan F1 berfenotip wb dan wb. Kemudian tipe persilangan IA antara


wb

dengan w (jantan kedua) menghasilkan keturunan F1 dengan fenotip

wb,wb,w,dan w. Pada persilangan tipe IA yang ada pada botol C, wb ><


b (jantan ketiga) menghasilkan keturunan F1 berfenotip wb,wb,w,w, b.

37

Untuk persilangan tipe IA yang ada pada botol D yaitu antara wb >< N
diperoleh hasil anakan F1 dengan fenotip wb, wb, w,dan N sementara
anakan yang diperoleh pada botol E dimana wb tidak disilangkan memiliki
fenotip wb, wb, w, N.
Pada tipe persilangan IIA antara wb >< w (jantan pertama)
menghasilkan anakan F1 dengan fenotip w dan w. Untuk persilangan IIA yang
dilakukan di botol B yaitu antara wb >< b (jantan kedua) didapatkan anakan
F1 dengan fenotip w,w,wb, b. Pada persilangan IIA botol C yaitu antara
wb >< N (jantan ketiga) diperoleh anakan dengan fenotip w,w,wb, b, dan
N. Untuk persilangan tipe IIA yang dilakukan pada botol D yaitu wb >< wb
diperoleh hasil anakan F1 dengan fenotip w,wb,wb, b, dan N. Sedangkan
untuk anakan yang ada botol E ( wb tidak disilangkan), kami belum memperoleh
data dikarenakan pada botol tersebut, belum ada yang menetas bahkan belum ada
larva yang terlihat.
Pada tipe persilangan IIIA di botol pertama (A) antara wb >< b (jantan
pertama) didapatkan anakan F1 dengan fenotip wb,dan b. Untuk persilangan
dengan jantan yang kedua yaitu antara wb >< N, diperoleh hasil anakan F1
berfenotip wb,b,w,dan N. Pada persilangan dengan jantan ketiga yaitu
antara wb >< wb, diperoleh anakan F1 dengan fenotip wb,wb,w, b,
N. Pada persilangan dengan jantan ke-empat yang ada pada botol D yaitu antara
wb >< w, diperoleh anakan F1 dengan fenotip wb,w,w, dan N.
Sedangkan anakan F1 yang diperoleh dari botol E ( wb tidak disilangkan) yaitu
wb,wb,w w. N.
Pada tipe persilangan IVA dengan jantan pertama yaitu antara wb ><
N, diperoleh anakan F1 dengan fenotip w,N. Pada persilangan selanjutnya,
yaitu antara wb >< wb (jantan kedua) diperoleh hasil anakan F1 berfenotip
wb,wb,w, dan N. Pada persilangan dengan jantan yang ketiga ( wb ><
w) diperoleh hasil anakan F1 dengan fenotip wb,wb,w, w, N. Untuk
persilangan dengan jantan keempat yang ada pada botol D yaitu wb >< b
diperoleh anakan dengan fenotip wb,wb,w, w, N dan b. Sedangkan
untuk hasil anakan dari botol E, kondisinya sama dengan tipe persilangan IIIA
yang belum menunjukkan adanya larva. Jika dilihat dari seluruh persilangan yang

38

dilakukan, terlihat bahwa hasil anakan dari persilangan dengan jantan yang kedua
memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan hasil anakan dengan
jantan yang pertama, begitu seterusnya.
5.1.4.2 Persilangan pada individu evg
Pada persilangan tipe B ini, kami menggunakan rekontruksi kromosom
tubuh untuk mengetahui jenis anakan yang dihasilkan karena strain e, dan vg
terletak pada kromosom tubuh. Oleh karena itu, analisis dari persilangan tipe B ini
tidak terlalu rumit karena fenotip yang akan muncul tidak akan terpaut pada
kelamin, hanya jumlah frekuensi kemunculannya yang berbeda. Pada persilangan
tipe IB ( evg >< evg) dengan jantan pertama, diperoleh anakan F1 dengan
fenotip evg. Pada persilangan dengan jantan kedua ( evg >< e) diperoleh
anakan dengan dua fenotip yang berbeda yaitu evg, dan e. Pada persilangan
dengan jantan ketiga pada botol C ( evg >< vg) diperoleh anakan F1 dengan 3
macam fenotip yang berbeda yaitu evg, e dan vg. Pada persilangan di botol D (
evg >< N) dengan jantan keempat, diperoleh 3 macam fenotip yang berbeda
yaitu evg, e dan N. Untuk hasil anakan pada botol E ( evg tidak disilangkan)
diperoleh hasil dengan fenotip e dan N.
Pada persilangan tipe IIB yaitu ( evg >< e) diperoleh hasil anakan F1
hanya berfenotip e. Untuk persilangan dengan jantan kedua ( evg >< vg)
diperoleh anakan F1 dengan 2 macam fenotip yang berbeda yaitu e dan vg. Untuk
persilangan pada botol C ( evg >< N) diperoleh hasil anakan F1 dengan
fenotip e, vg dan N. Pada persilangan dengan jantan keempat yang ada pada botol
D ( evg >< evg) diperoleh anakan F1 dengan fenotip e, N, dan evg. Untuk tipe
persilangan

selanjutnya

yaitu

IIIB

pada

botol

A(

evg

><

vg)

diperoleh hasil anakan F1 dengan fenotip vg kemudian untuk persilangan dengan


jantan kedua ( evg >< N) diperoleh hasil anakan F1 dengan 2 macam fenotip
yaitu vg dan N. Pada persilangan dengan jantan ketiga yang ada pada botol C (
evg >< evg), diperoleh hasil anakan F1 dengan fenotip vg, N dan evg. Untuk
persilangan dengan jantan terakhir yaitu jantan keempat ( evg >< e) diperoleh
anakan F1 dengan 3 macam fenotip yang berbeda yaitu vg, N dan e. Untuk hasil
anakan dari botol E belum diketahui karena belum adanya pupa yang menetas.

39

Tipe persilangan yang terakhir yaitu tipe persilangan IVB ( evg >< N)
diperoleh anakan F1 dengan satu macam fenotip yaitu N. Pada persilangan dengan
jantan kedua di botol B ( evg >< evg) diperoleh hasil anakan F1 dengan
fenotip N, dan evg. Pada persilangan dengan jantan ketiga di botol C ( evg ><
e) diperoleh anakan F1 dengan fenotip N dan e sementara persilangan dengan
jantan keempat di botol D ( evg >< vg) diperoleh hasil anakan F1 berfenotip
N, evg, e da n vg. Untuk hasil anakan pada botol E belum dapat diketahui karena
kondisi dari botol E sama dengan persilangan sebelumnya yaitu belum adanya
larva yang muncul. Jumlah anakan dari keseluruhan persilangan tipe B ini sama
dengan tipe A yaitu hasil anakan dengan jantan yang kedua lebih banyak daripada
jumlah anakan dengan jantan yang pertama begitu seterusnya.

40

BAB VI
PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dengan mengawinkan 1 betina Drosophila


melanogaster

dengan 4 jantan Drosophila melanogaster dengan strain yang

berbeda secara bergantian. Hal ini bertujuan untuk melihat pemanfaatan sperma
yang dilakukan oleh betina Drosophila melanogaster dengan melihat hasil
turunan pertama nya (F1).
Berdasarkan data hasil pengamatan dan rekonstruksi kromosom yang telah
dibuat, pada semua tipe persilangan A ataupun B yang menggunakan wb dan
evg telah terjadi pemanfaatan sperma yang bersifat acak ini terjadi pada semua
tipe perkawinan yaitu mulai dari tipe ke I sampai tipe ke IV. Persilangan tipe IA
yaitu persilangan antara wb><wb, wb >< w, wb >< b dan wb>< N,
tipe II A (wb><w, wb >< b,wb><N, dan wb><wb), tipe IIIA (wb
>< b, wb><N, wb >< wb, dan wb >< w), dan tipe IVA (wb><N,
wb><wb, wb><w, dan wb >< b). Tapi untuk perkawinan wb dengan
tiap jantan pertama pada tiap tipe perkawinan tidak bisa dikatakan bersifat acak
maupun tidak acak, karena anakan yang dihasilkan sesuai dengan rekonstruksi
kromosom.
Begitu juga dengan persilangan antara evg dengan evg, e, vg, dan
N, pemanfaatan sperma oleh individu betina terjadi secara acak. Pemanfaatan
sperma yang bersifat acak dapat dilihat pada persilangan tipe IB (evg >< evg,
evg >< e, evg >< vg, dan evg><N ), tipe II B (evg >< e, evg ><
vg, evg><N dan evg >< evg), tipe III B (evg >< vg, evg><N,
evg >< evg dan evg >< e), dan tipe IV B (evg><N, evg >< evg,
evg >< e, dan evg >< vg). Tapi untuk perkawinan evg dengan jantan
pertama pada tiap tipe perkawinan tidak bisa dikatakan bersifat acak maupun tidak
acak, karena anakan yang dihasilkan sesuai dengan rekonstruksi. Hal ini sesuai
dengan literatur yang menyatakan bahwa pemanfaatan sperma dalam fertilisasi
bersifat tidak acak dan acak. Pemanfaatan sperma dalam fertilisasi bersifat tidak
acak jika turunan dari jantan pertama tidak muncul pada persilangan betina
tersebut dengan jantan kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata lain
keturunan pada persilangan tertentu hanya akan menghasilkan fenotip keturunan
41

pertama dari hasil persilangan tersebut. Pemanfaatan sperma bersifat acak terjadi
apabila keturunan dari jantan pertama dengan betina muncul kembali pada
persilangan betina tersebut dengan jantan kedua, ketiga maupun keempat atau
dengan kata lain muncul pada persilangan dengan jantan selanjutnya
(Yulianingsih, 2000).
Penyimpanan sperma secara acak dapat disebut sperm displacement atau
sperm precedence. Sperm displacement adalah dimana sperma dari individu
jantan pertama diubah tempat penyimpanannya dalam organ penyimpanan sperma
(reseptakulum seminalis dan spermateka) oleh sperma dari individu jantan kedua
sehingga sperma dari individu jantan pertama menjadi jarang digunakan untuk
membuahi sel telur individu betina. Sedangkan sperm precedence adalah dimana
sperma dari individu jantan kedua lebih diutamakan untuk membuahi sel telur
betina akibat kehadiran cairan semen dari individu jantan kedua menyebabkan
berhentinya proses kapasitasi dan mengurangi motilitas sperma individu jantan
pertama (Clark, et al, 1994). Berdasarkan hasil penelitian, kami lebih memilih
model sperm precedence yang kami rasa sesuai dengan hasil keturunan F1 yang
menunjukkan data bahwa jumlah keturunan dari jantan kedua pasti lebih banyak
daripada keturunan dengan jantan pertama, jumlah keturunan dari jantan ketiga
pasti lebih banyak dari jumlah keturunan dengan jantan kedua, dan jumlah
keturunan dari jantan keempat pasti lebih banyak dari jumlah keturunan dengan
jantan ketiga.
Mekanisme sperm displacement dan sperm precedence pada Drosophila.
melanogaster saat ini belum diketahui sepenuhnya. Namun, menurut Birkead dan
Moller (1998); Simmons dan Siva-Jothy (1998); dan Paker (1998) dalam Singh,
et. al (2002) mengusulkan 5 model dari sperm displacement dengan cara
menganalisis nilai dari jumlah anakan jantan kedua (P2), model-model tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Model sperm mixing model diasumsikan adanya pencampuran
yang instan dan sempurna dari dua ejakulat. Jumlah anakan P2
konstan, yaitu sekitar 50%.
b. Model sperm stratification model, sperma dari jantan yang kedua
berada dekat dengan tempat fertilisasi daripada sperma dari jantan

42

pertama. Jumlah P2 akan mendekati 100% sampai akhirnya sperma


dari jantan kedua habis, setelah habis maka giliran sperma dari
jantan pertama yang digunakan dan anakan dari jantan pertama
(P1) akan naik hingga 100%.
c. Model sperm repositioning model, sperma dari jantan yang
kedua berada dekat dengan tempat fertilisasi tapi dua ejakulat
memulai untuk bercampur dengan segera. Dalam model ini nilai P2
menurun menjadi 50%.
d. Model sperm removal model, memprediksikan bahwa nilai P2
masih

konstan

dalam

proporsinya

oleh

pemindahan

atau

pergeseran sperma dari jantan pertama.


e. Model passive sperm loss model, memprediksi bahwa nilai P2
juga masih pada level tinggi tertentu.
Berdasarkan model-model diatas, jika melihat jumlah P2, model yang
sesuai dengan hasil penelitian ini adalah sperm mixing model karena anakan yang
dihasilkan pada persilangan dengan jantan kedua, ketiga, maupun keempat masih
terdapat anakan dari jantan-jantan sebelumnya atau dengan kata lain anakan dari
jantan pertama muncul lagi pada persilangan dengan jantan kedua, ketiga, dan
keempat. Misalnya saja pada perkawinan antara wb dengan N, kemudian wb
tersebut disilangkan kembali dengan wb maka anakan dari persilangan pertama
dengan N akan muncul kembali pada perkawinan kedua antara wb dan wb
tersebut.
Berkaitan dengan jumlah anakan dari jantan kedua labih banyak daripada
jantan pertama, Turner dan Anderson (1984) dalam Singh, et. al (2002)
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi, antara lain adalah:
1) kualitas dari ejakulasi, dimana jantan dengan jumlah sperma dan cairan
seminal yang lebih banyak bisa menyiram saluran reproduktif betina
dengan sperma yang lebih banyak tersimpan daripada jantan dengan
jumlah sperma dan cairan seminal yang lebih sedikit,
2) keseluruhan dari semangat pejantan, ini bisa menghalangi mekanisme
yang pertama, karena individu yang yang lebih bersemangat atau lebih
giat bisa memproduksi sperma dan cairan seminal yang lebih banyak,

43

3) komposisi dari ejakulasi.

Pemanfaatan sperma secara acak juga disebabkan oleh struktur dari organ
penyimpanan sperma dan kompetisi sperma. Menurut Muliati (2000), sperma
yang tersimpan dalam reseptakulum seminalis digunakan untuk fertilisasi terlebih
dahulu daripada yang tersimpan di spermateka. Mekanisme ini terjadi karena
posisi relatif organ penyimpanan sperma pada traktus genetalis individu betina;
dalam hal ini bagian proksimal reseptakulum seminalis terbuka langsung ke
oviduk di atas uterus. Nusantari (1997) juga menyatakan bahwa diduga sperma
dari individu jantan kedua yang masuk ke vulva selanjutnya dapat masuk organ
penyimpanan reseptakulum seminalis yang tidak mempunyai katub pembuka.
Sperma terakhir yang masuk mendesak sperma sebelumnya ke bagian puncak
yang melingkar-melingkar dan sulit keluar lagi. Sedangkan sperma terakhir lebih
berada di sebelah luar organ penyimpan dan mempunyai kesempatan
dimanfaatkan lebih dahulu.
Selain itu, jika melihat bentuk dari organ spermateka yang lebih lurus
daripada reseptakulum seminalis, Nusantari (1997) menambahkan bahwa diduga
pada spermateka ini sperma individu jantan kedua lebih leluasa berkompetisi
dengan sperma dari individu jantan pertama dibandingkan jika organ penyimpan
sperma melingkar-lingkar. Jika memang demikian maka sperma kedua yang lebih
dekat dengan bagian luar organ penyimpan yang lebih mempunyai kesempatan
dimanfaatkan. Sehingga sperma dari reseptakulum seminalis yang paling cepat
dimanfaatkan.
Pada proyek ini, satu individu betina D.melanogaster dikawinkan dengan
empat jantan D.melanogaster dengan strain yang berbeda secara berurutan.
Misalnya pada persilangan tipe 1A, wb disilangkan dengan 4 jenis jantan yaitu
wb, w, b, dan N. Begitu pula dengan persilangan tipe B yang
menyilangkan evg dengan empat jenis jantan yang berbeda. Setiap perkawinan
dilakukan tiap dua hari sekali. Tujuan dari perlakuan tersebut berhubungan
dengan daya reseptivitas yang dimiliki oleh individu betina Drosophila
melanogaster. Menurut Grillet (2006) daya reseptivitas adalah suatu keadaan
dimana individu betina menerima kehadiran individu jantan untuk dapat

44

melakukan perkawinan pertama, kedua dan seterusnya. Individu betina


Drosophila melanogaster tidak akan kawin dua kali dalam waktu yang cepat
karena betina Drosophila melanogaster yang telah dikawini biasanya enggan
untuk menerima jantan lain dalam beberapa waktu (Sun, 2013). Hal tersebut
dikarenakan adanya perubahan tingkah laku dan berkurangnya daya pikat
terhadap jantan oleh individu betina (Singh, 2002).
Beberapa protein yang diproduksi oleh kelenjar asesori pada sistem
reproduksi Drosophila melanogaster jantan akan bercampur dengan sperma
selama proses ejakulasi dan akan ditransferkan pada sistem reproduksi Drosophila
melanogaster betina yang mana akan mempengaruhi penyimpanan sperma,
kapasitasi, dan akan memicu copulation effect dan sperm effect (Sun, 2013).
Copulation effect merupakan perubahan perilaku betina Drosophila melanogaster
disebabkan oleh adanya komponen cairan semen (protein) yang ditransfer selama
proses kawin oleh individu jantan yang menyebabkan menurunnya reseptivitas
dan memaksimalkan penggunaan sperma sedangkan sperm effect dikaitkan
dengan kuantitas dari sperma jantan kedua (Singh, 2002). Kemampuan
Drosophila melanogaster individu betina untuk kembali dalam keadaan reseptif
tidak menunggu sampai sperma dalam organ penyimpanan (spermatheca) kosong
(Singh, 2002), namun individu betina D.melanogaster dapat kembali dalam
keadaan reseptif meskipun dalam organ penyimpanannya masih didapati adanya
sperma dari jantan yang pertama.
Adanya sperma individu jantan sesudah perkawinan dengan jantan yang
kedua akan menyebabkan terjadinya kompetisi sperma. Ketika sperma dari
individu jantan kedua memasuki organ penyimpanan sperma, maka sperma dari
individu jantan kedua akan berkompetisi dengan sperma dari individu jantan
pertama dalam hal membuahi ovum (Singh, 2002). Kompetisi sperma ini akan
melibatkan peristiwa sperm displacement and incapacitation (Sun, 2013). Seperti
yang telah dijelaskan diatas, sperm displacement adalah berubahnya kedudukan
dari sperma jantan pertama akibat digeser oleh sperma dari individu jantan kedua
(Singh, 2002) sehingga sperma dari individu jantan pertama menjadi jarang
digunakan untuk membuahi sel telur.

45

Menurut Addriane (2008) beberapa gen spesifik dan protein memiliki


peranan penting dalam kompetisi antar sperma. Protein-protein tersebut
diproduksi oleh kelenjar asesori dari sistem reproduksi individu jantan Drosophila
melanogaster (Sun, 2013). Protein-protein yang dihasilkan oleh kelenjar asesori
tersebut akan tercampur dengan seminal fluid dan akan ditransfer ke tubuh
individu betina selama proses ejakulasi (Sun, 2013). Beberapa protein tersebut
akan mengatur banyak hal mulai dari daya reseptifitas, pengeluaran telur,
penggunaan dan penyimpanan sperma serta timbulnya proses incapacitation pada
sperma jantan pertama (Sun, 2013). Protein-protein yang diketahui ikut berperan
dalam sperm displacement diantaranya protein Acp36DE, Acp26A, Acp29AB,
dan Acp53Eb (Singh, et. al, 2002).
Penelitian lebih lanjut mengenai sperma pada individu jantan kedua
Drosophila melanogaster mengungkapkan bahwa protein-protein reproduktif
pada individu jantan sangat berpengaruh terhadap kompetisi sperma. Pada
Drosophila melanogaster, masuknya sperma dari pejantan kedua dapat berakibat
terhentinya proses kapasitasi (incapacitation) dari sperma jantan pertama akibat
adanya cairan semen dari jantan kedua yang masuk pada saat proses kopulasi.
Sperma dari jantan pertama ini terhambat oleh cairan semen dari individu kedua
(Adrianne, et al, 2008). Menurut penelitian lebih lanjut, adanya gen Acp36DE dan
CG9997 memiliki kontribusi besar dalam kompetisi sperma (Castillo, 2014).
Adanya protein Acp36DE pada sperma individu jantan akan merubah hasil dari
kompetisi sperma. Transfer protein Acp36DE ke dalam saluran penyimpanan
sperma (spermatheca) oleh jantan kedua pada individu betina akan berinteraksi
dengan sperma dari jantan pertama dan menyebabkan sperma dari jantan pertama
memiliki kemampuan fertilisasi yang rendah (fewer fertilizations) dalam
membuahi sel telur. Akibatnya sperma dari jantan kedua lebih diutamakan untuk
membuahi sel telur daripada sperma jantan pertama (Chapman, 2000). Sperma
yang lebih diutamakan ini akan melakukan interaksi dengan protein reproduktif
pada individu betina di dalam organ penyimpanan sperma. Protein-protein
reproduktif pada betina disekresikan oleh sel sekretori (Secretory Cells) yang ada
dalam sistem reproduksi betina (female reproductive tract) (Sun, 2013). Studi
lebih lanjut mengenai sistem reproduksi betina menunjukkan bahwa terdapat

46

sebuah gen Hr39 dan sekresi protein canonical yang dibutuhkan untuk ovulasi
pada individu betina Drosopohila melanogaster. Interaksi antara protein
Acp36DE dan CG9997 individu jantan kedua dengan protein Hr39 yang
disekresikan oleh kelenjar reproduktif pada betina juga akan menyebabkan
berhentinya proses incapacitation sperma dari jantan pertama sehingga keturunan
yang dihasilkan pada anakan F1 didominasi oleh fenotip dari individu jantan
kedua (Castillo, 2014).

47

BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diperoleh kesimpulan yaitu ada
pemanfaatan sperma pada betina Drosophila melanogaster strain wb dan evg yang
bersifat acak. Namun pada persilangan dengan individu jantan yang pertama pada
seluruh tipe persilangan tidak bisa dikatakan terjadi pemanfaatan secara acak
maupun tidak acak.

7.2 Saran
7.2.1

Perlu diadakan pengkajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang


berpengaruh terhadap pemanfaatan sperma oleh individu betina.

7.2.2

Sebaiknya lebih teliti, sabar dan tekun dalam melakukan pengamatan


fenotip supaya data yang diperoleh lebih akurat.

48

DAFTAR RUJUKAN
Adrianne, et al. 2008. An Evolutionary Expressed Sequence Tag Analysis of
Drosophila Spermatheca Genes. The International Journal of Organic
Evolution 62:11
Borror, et al. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta
Castillo, Dean M, Moyle, Leoni C. 2014. Intraspecific sperm competition genes
enforce post-mating species barriers in Drosophila. (Online)
(http://rspb.royalsocietypublishing.org/content/281/1797/20142050.ab
stract?sid=308cf62c-3405-4c61-91e5-0f8ab5fbc3a7) diakses pada 8
November 2014.
Chapman, T; Neubaumare, D.M, Wolfner,M. F. 2000. The role of male accessory
gland protein Acp36DE in sperm competition in Drosophila
melanogaster. (Online) (http://rspb.royalsocietypublishing.org/The
role of male accessory gland protein Acp36DE in-sperm-competition
in Drosophila melanogaster.html) diakses pada 8 November
2014Feng, Kai. 2010. Neural Control of The Female Mating Decision
InDrosophilamelanogaster.Disertasi.(Online).(http://othes.univie.ac.at
/10366/1/2010-05-21_0701378.pdf), diakses 8 Nopember 2014.
Clark, et al. 1994. (Variation in Sperm Displacement and Its Association With
Accessory Gland Protein Loci in Drosophila melanogaster). (online)
http://www.genetics.org/content/139/1/189.full.pdf 1994 diakses
tanggal 7 November 2014.
Grillet. 2006. A Drosophila Male Pheromone Affects Female Sexual Receptivity.
(online)(http://rspb.royalsocietypublishing.org/content/273/1584/315.f
ull.pdf+html) diakses tanggal 8 November 2014.
Iida, Kaori & Douglas R. Cavener. 2004. Glucose Dehydrogenase is Required for
Normal Sperm Storage and Utilization in Female Drosophila
melanogaster: The Journal of Experimental Biology: 207, 675-681
Indayati, Nur. 1999. Pengaruh Umur Betina dan Macam Strain Jantan terhadap
Kemampuan Kawin Kembali Individu Betina Drosophila
melanogaster. Skripsi: IKIP Malang
King, R,C. 1965. Genetics. Oxford University Press : New York.
Levine, Robert. Paul. 1968. Genetics Second Edition, London: Hold, Rinehartang
Winston, inc.
Muliati, L. 2000. Pengaruh Strain dan Umur Jantan Terhadap Jumlah Turunan
Jantan dan Betina Drosophila melanogaster. Malang: FMIPA
Universitas Negeri Malang : Skripsi tidak diterbitkan
Nusantari, Elya. 1997. Kajian Perkawinan Kembali pada Individu Betina
Drosophila melanogaster. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Oltmanns, Thomas F, et all. 2012. Portrait Drosophila melanogaster. New York:
McGraw Hill. Inc

49

Singh, et al. 2002. Female Remating, Sperm Competition and Sexual Selection in
Drosophila.(online) (http://www.funpecrp.com.br/gmr/year2002/vol31/pdf/gmr0034.pdf) diakses pada 8 Nopember 2014.
Sun, Jianjun; Allan C Spradling. 2013. Ovulation in Drosophila is controlled by
secretory cells of the female reproductive tract. (Online)
(http://dx.doi.org/10.7554/eLife.00415) diakses pada 9 November
2014
Tamarin. 2001. Principles of Genetics Seventh Edition. New York: Mc. Graw
Hills Company
Wijayanti, A. N. 2012. Pengaruh Umur Betina Drosophila melanogaster Strain tx
terhadap Jumlah dan Jenis Kelamin F1 Sebagai Panduan Praktikum
Genetika. Skripsi tidak diterbitkan. Madiun: IKIP PGRI Madiun
Wolfner, Mariana F. 2011. Precious Essences: Female Secretions Promote Sperm
Storage in Drosophila. (Online) (http://wwwPLoS Biol 9(11):
e1001191. doi:10.1371/journal.pbio.1001191) diakses pada 9
November 2014.
Yulianingsih, Eko. 2000. Studi Tentang Pembuahan Ovum pada Persilangan
Drosophila melanogaster Strain b><btx dan Strain b>< w. Skripsi
tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Zamore, D.Philip; Shengmei Ma. 2011. Isolation of Drosophila melanogaster
Testes. (Online) (http://w.jove.com/details.php?id=2641) diakses pada
9 November 2014.

50

Anda mungkin juga menyukai