Anda di halaman 1dari 9

Sistem reproduksi tersusun atas sistem genital interna dan eksterna.

Pada kelinci
betina organ interna berupa sepasang ovarium dan uterus. Ovarium terletak sebelah
kaudal dari ren dan didalamnya terdapat folikel-folikel Graaf berbentuk gelembung.
Uterus berjumlah sepasang dan berkelok-kelok dan terbagi atas infundirambutm,
tuba, dan uterus. Organ eksterna tersusun atas vagina, vulva, labium majus, labium
ninus, dan clitoris (Tim Dosen anatomi hewan UGM). Sedangkan pada jantan
memiliki organ reproduksi interna dan eksterna. Pada organ interna terdiri dari testis
dan epididimis. Testis terdapat sepasang yang terletak dalam scrotum. Testis
merupakan pengahasil sperma terus dikeluarkan melalui epididimis yang merupakan
tempat pematangan kemudian ke vasdeferens. Sedangkan pada organ eksterna
berupa penis. Penis ini merupakan alat kopulasi dan tersusun dari corpus
cavernosusm penis dan corpusgavernosum urethrae. Disamping itu juga terdapat
kelenjar-kelenjar yang membantu sistem reproduksi (Kastawi, 1992).
Genital apparatus of male rabbit

Genital apparatus of female rabbit

KELENJAR MAMAE
Kelinci memiliki 4 pasang kelenjar mamae, yang tumbuh dan berkembang secara
cepat pada minggu terakhir masa kebuntingan Jumlah produksi susu rata-rata 150200 mg/hari pada anak varietas pertama dan meningkat pada varietas berikutrnya.
Pada kelinci besar jumlahnya akan lebih banyak dan maksimum pengeluaran air
susu terjadi pada minggu kedua dan ketiga masa laktasi. Untuk mendapatkan air
susu yang optimal, sebaiknya pengasuhan anak dibatasi 7 - 8 ekor. Jika jumlah anak
yang dilahirkan perkelahiran (litter size) melebihi 8 ekor, maka kelebihan anak dapat
dilakukan tindakan fostering yaitu dengan menitipkan anak ke induk lain yang jumlah
anaknya lebih sedikit (Pumama, 1997).
DEWASA KELAMIN (PUBERTAS)
Pubertas (dewasa kelamin) itu sendiri adalah suatu periode dimana organ-oran
reproduksi hewan jantan dan betina berfungsi dan perkembangbiakan dapat terjadi
(cole dan Cupp,1977 dalam Hanum, 1985). Pada hewan jantan pubertas ditandai
oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disertai perubahan-

perubahan kelamin sekunder lainnya. Pada hewan betina, pubertas ditandai dengan
terjadinya estrus dan ovulasi. Kelinci akan mulai mencoba kopulasi sebulan atau 2
bulan sebelum mencapai pubertas, tetapi tidak bisa untuk memproduksi anak
sampai ia pubertas.
Pubertas pada kelinci bervariasi dan sangat tergantung pada breed". Kelinci jenis
kecil mempunyai masa pubertas lebih dini dibandingkan kelinci jenis besar. Kelinci
betina lebih dulu mengalami pubertas dibandingkan kelinci jantan. Maraci dan
Machado (1978) mengemukakan bahwa, dewasa kelamin pada kelinci jantan jenis
NZW dicapai pada umur 6 bulan. Cheeke dkk (1982) mengatakan bahwa, kelinci
jantan mencapai dewasa kelamin pada umur 4-8 bulan, tergantung pada bangsa
dan tingkat makanan. Menurut Hafez (1970), meskipun spermatozoa motil terlihat
pada ejakulat pertama pada kelinci yang berumur 4 bulan, tetapi spermatozoa yang
mempunyai fertilitas baik diperoleh pada umur 7-8 bulan. Sastrodihardjo, 1985
melaporkan basil survey pada peternakan rakyat di Jawa bahwa sebagian besar
peternak mengawinkan pertama kali kelinci jantan pada Umur 8 bulan, sedangkan
kelinci betina pada umur 6 bulan.
KEADAAN UMUM SPERMATOZOA
Cheeke dkk (1982) melaporkan bahwa, dalam keadaan normal volume ejakulat
kelinci jantan dewasa antara 0,4-1,5 ml dengan konsentrasi sperma rata-rata 150
juta per ml. Konsen rasio sperma secara umum dipengaruhi oleh bangsa dan tingkat
rangsangan. Hafez (1980) melaporkan bahwa, bangsa kelinci ukuran sedang ratarata volume ejakulasinya 0,8 ml dengan konsentrasi 10-1000 juta per ml.
Semen kelinci dalam keadaan normal mempunyai pH berkisar antara 6,6-7,5 (Mc
Donald, 1976), warna putih susu, ban akasia dan mempunyai tekanan osmotik
hampir sama dengan darah yang ekuivalen dengan larutan NaCl 0,90%. Hasil
pengukuran volume semen pada kelinci Rex di Balitnak dengan menggabungkan
ejakulasi pertama den kedua terukur 1,09 ml dengan konsentrasi sperma 219,4
juta/ml. Sedangkan pada kelinci New Zealand White volume yang terukur pada 2 kali
ejakulasi adalah 1,92 ml dengan konsentrasi sperma 248,8 juta/ml.
BIRAHI (ESTRUS)
Siklus berahi kelinci tidak beraturan sebagaimana didapatkan pada
kebanyakan hewan lainnya. Pada saat pubertas, follicle stimulating hormone (FSH)
dilepaskan ke dalam aliran darah menyebabkan pertumbuhan folikel-folikel pada
ovarium. Sewaktu folikel-folikel tersebut tumbuh dan menjadi matang, berat ovarium
meninggi dan estrogen disekresikan di dalam ovarium untuk dilepaskan ke dalam
aliran darah. Estrogen menyebabkan hewan betina menerima hewan jantan.
Umumnya perkembangan folikel terjadi dalam beberapa gelombang, pada waktu
yang sama 5 sampai 10 yang berkembang pada tingkat yang sama di ovarium.
Folikel yang mulai berkembang ada terus menerus, jadi terdapat beberapa tingkatan
perkembangan dari folikel. Apabila folikel-folikel telah matang, mereka aktif dalam
memproduksi estrogen selama kira-kira 12 sampai 14 hari. Setelah periode ini, jika

ovulasi tidak terjadi, folikel akan mengalami degenerasi, sesuai dengan


pengurangan tingkat estrogen dan kemauan untuk menerima hewan jantan (Hafez,
1970 dalam Hanum, 1985).
Fertilisasi adalah penyatuan dua sel, yaitu gamet jantan dan betina, untuk
membentuk suatu sel zygote yang merupakan suatu proses yang dapat ditinjau
dalam 2 aspek :
1. Dalam aspek embriologik, fertilisasi meliputi pengaktifan ovum oleh
spermatozoa. Tanpa rangsangan fertilisasi, ovum tidak akan memulai
cleavage dan tidak ada perkembangan embriologik.
2. Dalam aspek genetic, fertilisasi meliputi pemasukan faktor-faktor hereditas
pejantan ke dalam ovum. Di sinilah terletak manfaat perkawinan atau
inseminasi ialah menyatukan faktor-faktor unggul kedalam satu individu baru
(Tolihere, 1981).
Kelinci yang didomestikasi mempunyai siklus birahi (estrus) yang beraturan,
umumnya terjadi setiap 4-6 hari dan berhubungan erat dengan periode estrogen
dalam dash serta dapat dilihat pada keadaan sitologi vagina (Colby, 1986). Tandatanda birahi yang terlihg adalah vagina yang membengkak dan berwarna kemerahmerahan. Sedangkan setae tingkah laku jika dipegang punggungnya maka induk
akan terangkat tubuh bagian belakang.
PERKAWINAN
Perkawinan dapat dilakukan secara alami atau melalui inseminasi buatan. Jika
dilakukan secara alami mengingat sifat teritorial pejantan menuntut perkawinan
dilakukan di kandang pejantan dan jika sebaliknya pejantan tidak mau berkopulasi.
Induk yang dikawinkan sebaiknya yang sedang estrus dengan tanda vagina yang
membengkak kemerahan, karena induk yang estrus memudahkan pejantan
berkopulasi. Bila kopulasi terjadi ditandai dengan jatuhnya pejantan kesamping dan
berlangsung sangat cepat. Adanya cairan dalam vagina belum menjamin terjadinya
perkawinan yang fertil, kadang-kadang saat ejakulasi hanya berisi plasma semen
tanpa sperma. Untuk An perkawinan perlu diulang agar fertditas terjadi. Jika
pejantan kesulitan untuk berkopulasi, maka dapat dibantu sehingga kopulasi terjadi.
Owen dkk (1977) menyatakan bahwa, panas merupakan salah satu faktor
lingkungan yang berpengaruh pads kelinci di negara tropis, suhu lingkungan diatas
30 C dapat mengbambat fertilitas pada pejantan sedangkan pada betina bunting
dapat mengakibatkan kematian embrio. Untuk itu waktu mengawinkan kelinci
sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu tidak terlalu panas
(berkisar 23C-25C). Pada daerah bersuhu sejuk, perkawinan pada siang hari pada
hakekatnya tidak bermasalah. Kebiasaan peternak mengawinkan kelinci pada pagi
hari lebih banyak disebabkan oleh tersedianya waktu luang yaitu sebelum peternak
bercocok tanam (Diwyanto dkk, 1985).
Yang perlu diperhatikan dalam perkawinan kelinci adalah harus menghindarkan

perkawinan sedarah atau silang dalam (inbreeding). Oleh karena itu setiap
perkawman harus dicatat dan dibuatkan silsilah jika anak-anaknya akan dilahirkan
bibit.
PELEPASAN SEL TELUR (OVULASI)
Ovulasi adalah proses pelepasan sel telur dari folikel de graaf, clan pada ternak
kelinci tidak terjadi secara spontan (Induce Ovulator). Ovulasi alami terjadi bila induk
mendapat rangsangan dari luar (Hafez, 1970; Sandford, 1979; Cheeke dkk, 1982.
Rangsangan dapat berupa perkawinan melalui kopulasi, melalui penyuntikan
hormon, rangsangan listrik, rangsangan oleh tangan dan cumbu rayu dengan kelinci
betma. Colby (1986) menyatakan bahwa, kelinci bersifat Posceital Ovulator, yaitu
ovulasi terjadi hanya jika adanya kopulasi. Proses kopulasi dapat menyebabkan
peningkatan ukuran folikel secara cepat pada masing- musing ovarium. Ovulasi
biasanya terjadi 6-10 jam setelah kopulasi atau perangsangan (Colby, 1986), 10-12
jam (Miller dkk, 1969). Ovum mempunyai daya fertil selama 6 jam setelah ovulasi.
fertilisasai terjadi 1 2 jam setelah ovulasi, lama kehamilan rata-rata 30 hari, siklus
estrus 1214 hari ditambah 4 hari masa menolak (Sinaga, 2009). Folikel yang
matang memiliki diameter 1,5 mm serta poly ovular folikel umum terjadi. Serum LH
(Luteinazing Hormone) akan mencapai puncak 1-2 jam setelah kopulasi. Hafez
(1980) mengatakan bahwa, ovulasi distimulir oleh LH.

KEHAMILAN
Kehamilan dimulai dari pertemuan sel telur dun sperma. Setelah dibuahi sel telur
membagi diri menjadi sel baru dan pada saat yang bersamaan sel telur menuju tuba
fallopii. Setelah membelah, akan berimplantasi kemudian menjadi embrio dan tetap
diuterus sampai lahir. Pada 4 hari pertama uterus siap menerima embrio dan setelah
8 hari, sel bagian luar dari embrio bertaut pada dinding-dinding uterus kemudian
terbentuk plasenta. Lama kehamilan adalah waktu dari mulai perkawinan sampai
beranak. Lamanya dipengaruhi oleh bangsa kelinci, umur induk, besar dan jumlah
anak serta lingkungan (Sandford, 1979).
Lama kehamilan yang panjang terlihat bila jumlah anak yang dilahirkan sedikit dan
mempunyai berat lebih dan 100 gram, sebaliknya jumlah anak yang banyak
menjadikan lama kehamilan lebih pendek (Cheeke dkk, 1982). Masa kehamilan ratarata 31-32 hari (Hafez, 1980; Cheeke dkk, 1982) tetapi ada yang 29 hari dan paling
lama 35 hari. Hafez (1970) melaporkan, kelinci yang lahir antara 30-32 hari setelah
perkawinan sebanyak 98 persen dan kehamilan diperpanjang apabila litter size
sedikit, terdapat anak yang terlalu besar (abnormal) atau karena terjadi kematian.
Masa kehamilan induk kelinci pada peternakan di Jawa bervariasi antara 29-36 hari
dengan rata-rata 30 hari (Sastrodihardjo, 1985). Kehamilan dapat diketahui dengan
cara palpasi percutan ventro caudal pada hari ke 10 setelah kawin, yaitu dengan
cara meraba bagian bawah perut induk. Bila terasa benjolan bulat yang

mengambang sebesar kelereng dan terasa kenyal maka dapat dipastikan bunting,
bila benjolan terasa keras dan lebih kecil maka kelinci tersebut tidak bunting karena
yang teraba adalah feses dan kelinci harus dikawinkan ulang. Stres karena
perubahan lingkungan, pemberian obat-obatan serta penanganan kasar dapat
menyebabkan terjadinya abortus atau gangguan pada kehamilan. Kesuburan induk
diukur oleh jumlah sel telur yang diovulasikan dan jumlah anak yang dilahirkan
(Sanford, 1979).
KEHAMILAN SEMU
Kehamilan semu sering terjadi pada kelinci akibat adanya handling yang
kasar, dinaiki oleh betina lain dan sebagainya. Hal ini terjadi akibat adanya corpus
luteum persisten yang terdapat selama 2 minggu. Hari ke ke 16-19, betina akan
bersikap seperti akan melahirkan yang normal, tetapi jika dikawinkan biasanya
induknya akan
hamil.
PROSES MELAHIRKAN
Kelinci melahirkan pada pagi hari, yang sebelumnya ditandai dengan kegiatan
mencabut bulu sebagai tempat anaknya. Bagian anak yang akan keluar lebih dahulu
adalah bagian antenomya. Jika janin yang sudah berumur 35 hari belum lahir, maka
janin tersebut akan mati. Untuk itu harus segera dikeluarkan karena dapat
menghambat kehamilan berikutnya. Induk dapat disuntik dengan hormon Oxytocin
(0,1 cc/ 1,5 kg BB induk). Beberapa menit setelah penyuntikan biasanya induk akan
beranak, oleh sebab itu harus ditunggu karena interval kelahiran berlangsung sangat
cepat dengan plasenta yang masih utuh. Untuk menyelamatkan anak, operator
harus membantu membuka plasenta agar anak segera mendapatkan oksigen dan
proses pengerasan tulang cepat terjadi. Kelahiran normal membutuhkan waktu
kurang dari 30 menit dengan interval kelahiran setiap anak 1 sampai 5 menit (Mc
Nitt, 1982 dalam Hanum 1985).

JUMLAH ANAK YANG DILAHIRKAN PERKELAHIRAN (LITTER SIZE)


Litter size adalah jumlah anak yang dilahirkan perkelahiran, banyaknya
tergantung bangsa, jenis dan lingkungan. Umumnya litter size lebih besar pada
bangsa yang besar dan persilangan daripada bangsa lainnya (Hafez, 1970). Choke
dkk (1982) menyatakan bahwa, litter size tergantung pada bangsa, makanan, umur
dan lingkungan induk. Jumlah sel telur yang dilepas oleh masing-masing ovarium
merupakan salah satu faktor yang menentukan litter size. Faktor lain yang
berpengaruh adalah jumlah sel telur yang dibuahi sperma kemudian menuju emus
dan berkembang sampai lahir (Choke dkk, 1982). Secara umum litter size pada
kelinci adalah 4-8 ekor (Nalbandov, 1975), 4-12 ekor (Anonim, 1982). Litter size
yang diperoleh dari hasil IB odalah 8,8 ekor (Komov, 1966), 6,93 (Lahiri dkk, 1982),

7,8 ekor (Chiang dkk, 1968). Hafez (1970) mengatakan bahwa, litter size menurun
dengan meningkatnya persentase inbreeding.
Sedangkan menunut Arifn dkk, (1977) litter size meningkat dengan meningkatnya
bobot induk. Temperatur sangat berpengaruh terhadap kehamilan dan litter size, di
mana kebuntingan terkecil dan litter size yang paling sedikit jika perkawinan
dilakukan
NISBAH KELAMIN (SEKS RATIO)
Nisbah kelamin atau "Sex Ratio" adalah perbandingan dari persentase kelamin
jantan dan betna pada suatu kelahiran (Nalbandov, 1975). Secara teoritis
perbandingan jantan-betina adalah 50:50 % (Robert, 1956; Mc Donald, 1976),
artinya perbandingan yang dilahirkan antara jantan dan betina seimbang. Hafez
(1970) mengatakan bahwa, jantan lebih sedikit dilahirkan dari pada betina. Sandford
(1979) menjelaskan bahwa, hal ini terjadi akibat kematian embrio jantan sebelum
dilahirkan lebih tinggi. Robert (1956) melaporkan bahwa, persentase jantan lebih
tinggi pada waktu bunting dibandingkan saat lahir. Embrio jantan yang mati akan
diserap kembali atau dapat juga abortus. Sastrodihardjo 1985, melaporkan bahwa
nisbah kelamin pada peternakan kelinci di Jawa memiliki kesamaan yaitu
50:50%dengan kisaran 30:70%.
JARAK KAWIN SETELAH BERANAK
Pada pemeliharaan tradisional yang cenderung mencampurkan pejantan dengan
induk secara terus-menerus, maka ketika induk beranak akan langsung dikawini
kembali oleh pejantan. Pada saat beranak, induk kelinci dalam posisi berahi dan bila
terjadi perkawinan biasanya induk akan bunting. Yang menjadi persoalan adalah
terjadi tarik-menarik hormonal antara hormon untuk memproduksi air susu dengan
hormon untuk mempertahankan kehamilan sehingga dampaknya dapat menurunkan
produksi air susu. Selain itu, kesehatan reproduksi induk masih belum pulih.
sehingga bila terjadi kehamilan lagi, akan menyulitkan embrio untuk berimplantasi
(bertaut) pada dinding uterus. Sulitnya embrio berimplantasi pada dinding uterus
yang terluka menyebabkan litter size yang rendah. Dinding uterus yang luka akan
memproduksi sel darah putih yang berguna untuk mencegah penyakit dan untuk
menyembuhkan yang sekaligus dapat membunuh sperma yang berhasil masuk ke
dalam uterus.
Untuk itu sebaiknya jarak-kawin setelah beranak diberikan waktu antara seperti yang
dilakukan di Balitnak pada reproduksi kelinci Rex. Hasil: penelitian menunjukkan
jarak kawin setelah beranak yang ideal adalah 14 hari karena selain efisien juga
memberikan performa yang baik pada jumlah anak yang dilahirkan (Raharjo, dkk.
1993).
Untuk budidaya kelinci yang efisien, penyapihan dapat dilakukan pada umur 35 hari
sampai 45 hari. Jika jarak kawin setelah beranak dilakukan 14 hari, maka dengan

penyapihan umur 35 hari akan memberikan waktu kering kandang selama 7 hari
untuk mempersiapkan kelenjar mamae pada kelahiran berikutnya. Bobot sapih pada
anak kelinci yang sehat berkisar antara 400-500 gr tergantung jumlah anak yang
diasuh oleh induk dan jenis kelinci.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1982. Pedoman Beternak Kelinci. Balai Informasi Pertanian Departemen
Pertanian. Kayu Ambon 1,embang Bandung.
Arifi E.A, E. Salah, E. Galal, E.A El-Tawil and S.S Kishin, 1977. Litter size at birth
and at weaning in three breeds of rabbit and their crosses. In: Animal Breedings
abstracts, 1978. 46 (12): 740
Cheeke P.R, N.M. Patton and G.S. Templeton, 1982. Rabbit Production. 5'b Ed. The
Interstate Printers and Publishers, Inc., Danville, Illinois USA
Chiang. H.S., M.T. Lai and J.E. Dalpavero, 1968. Artificial insemination in the Rabbit.
J. Taiwan Ass. Animal Husbandry Vet. Med. 13 :17-23
Colby. E.D., The Rabbit dalam: Morrow.D.A, 1986. Current therapy in theriogenology
2. W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Coleman, 1965, Pemeliharaan Kelinci dan Burung Puyuh. Yasaguna. Jakarta.
Diwyanto, K., Sumanto, B. Sudaryanto, T. Sartdca den D. Lubis. 1985. Suatu studi
kasus mengenai budidaya ternak kelinci di Desa Pandansari Jawa Tengah (aspek
managemen den produktivitas ternak). Ilmu dan Peternakan Vol. 1 No.10. pp 445452
Hafez. 1970. Superovulasi Kelinci Lokal. Jurnal Chimera
Hafez E. S.E., 1980. Reproduction in farm animal. 4's Ed Lea & Febiger,
Philadelphia
Komov I.A., 1966. Early service ofbreading does. In: Animal breeding abstracts
1967. 35 314
Lahiri S.S., V.RB. Sastry and J.M. Mahajan, 1982. Not on the inheritance of age First
breeding, litter size and weight in rabbit In: Animal Breading Abstracts, 1983. 51
(6):484.
Lebas. F, P. Coudert, R Rovier and H. de Rochambeau. 1986. The rabbit husbandry,
health and production. Food and Agriculture Organization of The United Nations.
Rome.
Kartadisastra. HR, 1995, Beternak Kelinci Unggul, Kanisius, Yogyakarta.
Kastawi. 1992. Aneka Ternak, Universitas Brawijaya, Malang.

Maraci. M and C.R. Macado, 1978. Sexual maturity in rabbit defined by the Phusical
and chemicalacsof the semen. In: Animal Breeding Abstracts, 1978. 46 (10):592.
McDonald L.E., 1976. Veterinary endocrinology and reproduction. 2a Ed Lea &
Febiger, Philadelphia.
Mr. Nitt. 1982. Pengaruh jarak kawin setelah beranak terhadap performa reproduksi
kelinci Rex. Ilmu dan Peternakan 6(1): 27-31.
Sarwono. B, 1985, Beternak Kelinci Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.
Sinaga. 2009. Pemeliharaan dan Perawatan Kelinci. Jakarta : Agro Media Pustaka.
Thear. 1981. Ketersediaan Teknologi Dalam Menunjang Pengembangan Kelinci Di
Indonesia. Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha
Agribisnis Kelinci.
Toelihere, 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung: Angkasa.