Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kesehatan saat ini berkembang dengan pesat sehingga menuntut
tenaga kesehatan untuk lebih maju. Seiring dengan ilmu kesehatan tersebut,
banyak juga penyakit-penyakit yang muncul saat ini. Diantaranya adalah
penyakit keganasan pada alat reproduksi wanita yang memerlukan upaya
pencegahan dan deteksi dini.
Ca Serviks adalah perubahan sel-sel serviks dengan karakteristik histologi,
proses perubahan pertama menjadi tumor ini dimulai terjadi pada sel-sel pada
squamocolumnar junction. Ca serviks merupakan kanker genital kedua yang
paling sering pada wanita dan bertanggungjawab sebanyak 6 % dari semua
kanker pada wanita. Di Amerika Serikat (CancerNet, 2001).
Angka kejadian Ca serviks masih tinggi, WHO menyatakan pada tahun
2001 sebanyak 2,43 juta orang (35 %) meninggal akibat kanker yang salah
satunya termasuk Ca serviks. Untuk Indonesia sendiri khususnya daerah Jawa
pada tahun 2004 ditemukan kasus Ca serviks sebanyak 2780 kasus (33,98 %).
Data dari RSCM Jakarta menunjukkan setiap tahun ditemukan 250 300
kasus Ca serviks, di Rumah Sakit Kanker Darmais Jakarta setiap tahunnya
ditangani 200 kasus baru Ca serviks. Di Sumatera Barat pada tahun 2004
ditemukan 150 kasus Ca serviks (Dinkes Propinsi Sumbar, 2005). Sedangkan
data yang didapatkan dari ruang gynekologi-onkologi kebidanan RSUP
Dr.M.Djamil Padang, pada bulan Oktober 2011 ini ada 6 orang klien yang
dirawat dengan kanker serviks.
Berdasarkan latar belakang tersebut mahasiswa tertarik untuk
mengangkat kasus ini dengan alasan penanganan yang lebih cepat, efektif dan
komprehensif akan dapat mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh penyakit
kanker serviks. Selain itu penting bagi perawat untuk memperlajari
patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan
yang komprehensif pada klien dengan kanker serviks beserta keluarganya.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan
asuhan

keperawatan

pada

klien

dengan

Kanker

Serviks

secara

komprehensif
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kanker
serviks
b. Mahasiswa mampu merumuskan masalah dan menegakkan diagnosa
keperawatan pada klien dengan kanker serviks
c. Mahasiswa mampu membuat rencana keperawatan pada klien dengan
kanker serviks
d. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada klien
dengan kanker serviks.
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi dari implementasi yang
diberikan pada klien dengan kanker serviks.
C. MANFAAT
1. Memberikan informasi pada perawat dan instansi RSUP Dr.M.Djamil
Padang dalam memberikan yankes pada klien dengan masalah kanker
serviks yang sesuai dengan asuhan keperawatan secara tepat dan benar.
2. Menambah wawasan pada mahasiswa keperawatan mengenai asuhan
keperawatan yang tepat pada klien dengan kanker serviks.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Ca serviks adalah perubahan selsel serviks dengan karakteristik
histologi, proses perubahan pertama menjadi tumor ini dimulai pada selsel
squamocolunar junction (Reeger, 1997).
Ca serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada serviks,
dimana dalam keadaan ini terdapat sekelompok sel abnormal terbentuk dari
sel jaringan yang tumbuh terus menerus tidak terbatas, tidak terkoordinasi atau
tidak berguna bagi tubuh sehingga selsel sekitarnya tidak dapat
melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya, keadaan tersebut biasanya
disertai dengan ada perdarahan atau pengeluaran cairan vagina yang abnormal
( Lucmann, 1995 ).
Kanker leher rahim adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel
epitel skuamosa. Kanker leher rahim merupakan kanker yang terjadi pada
serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan
liang senggama atau vagina (Notodiharjo, 2002).

B. Etiologi
Penyebab Ca serviks secara pasti belum diketahui sampai saat ini,
diduga ada faktor yang dapat diidentifikasikan sehubungan dengan insiden
terjadinya Ca serviks yaitu: (Wiknjosastro, 1999)
1. Menikah usia dini ( < 16 tahun )
2. Mempunyai pasangan lebih dari satu atau ganti ganti pasangan
3. Sering melahirkan dan jarak kehamilan terlalu dekat
4. Riwayat infeksi HPV ( Human Papillo Virus ) tipe 16 atau 18
5. Infeksi virus herpes tipe II
6. Hygine seksual yang jelek
3

7. Pengaruh zat karsinogen


8. Keturunan
9. Merokok
10. Umur 35 60 tahun
C. Patofisiologi
Munculnya penyakit ini diakibatkan oleh sel dinding (epitel) rahim
berkembang tidak normal. Dan seperti penyakit kanker lainnya, pemicu dari
kanker serviks ini belum diketahui secara pasti. Tapi dari beberapa penelitian
diketahui adanya virus papilloma sebagai penyebab lain dari kanker ini.
Kebanyakan penelitian menemukan bahwa infeksi human papilloma virus
(HPV) bertanggung jawab untuk semua kasus kanker serviks. Virus ini hidup
pada suasana lembab di cairan vagina yang dialami oleh penderita keputihan
(leukore). Dalam waktu yang lama apabila keputihan yang diderita tersebut
tidak kunjung membaik, umumnya berisiko pada kanker rahim. Biasanya
keadaan ini ditandai dengan banyaknya cairan keputihan yang disertai bau
yang tidak sedap, dan perdarahan yang keluar dari alat genital. Tapi ada
kalanya kanker yang dialami muncul tanpa gejala gejala sakit tersebut.
Serviks yang normal secara alami mengalami proses metaplasi akibat
saling mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan adanya
pemaparan terhadap faktor resiko dan masuknya mutagen, metaplasi yang
awalnya berlangsung secara normal/fisiologis akan berubah jadi patologik
(displatik-diskariotik) yang terjadi dengan beberapa tahap. Mulai dari tahap
prainvasiv sampai invasiv dan menuju keganasan. Kira-kira dibutuhkan
waktu 10-15 tahun dari tahap prainvasive menjadi invasive.
Orang yang menikah pada usia dini, perkembangan dan kematangan
serviksnya belum sempurna dan lebih rentan terhadap rangsangan zat-zat
kimia, sehingga sel mukosa berkembang menjadi sel kanker. Usia 35-60
tahun juga dapat merangsang terbentuknya sel-sel kanker karena terjadi
perubahan keseimbangan steroid endrogen dan gangguan proliferasi sel-sel
epitel.

Ganti-ganti pasanngan dapat menyebabkan penyebaran kuman pada


reproduksi wanita, sehingga terjadi infeksi sel epadinya proses inflamaitel
dan gangguan proliferasi sel epitel yang dapat menimbulkan keganasan pada
serviks.
Multiparitas mengakibatkan serviks sering mengalami perlukaan yang
mengakibatkan terjadinya inflamasi sel epitel. Selanjutnya terjadi proliferasi
sel epitel yang dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks.
Defisiensi vitamin C, beta karoten dan juga asam folat bisa
menyebabkan berkurangnya kemampuan perbaikan mukosa serviks. Hal ini
akan merangsang pertumbuhan sel yang tidak normal di servik.
Infeksi HPV adalah salah satu faktor resiko yang dapat menginduksi
untuk terjadinya kanker serviks. Kanker dapat muncul segera atau bisa
bertahun-tahun setelah infeksi. Untuk menculnya suatu kanker tidak selalu
disebabkan oleh salah satu faktor resiko, ada kalanya kanker muncul karena
pengaruh berbagai faktor resiko. Teori mengatakan bahwa HPV mensintesis
sel serviks bersama dengan agen mutagen lain seperti merokok yang dapat
menyebabkan penurunan efektivitas sistem imun untuk melawan virus yang
masuk, sehingga terjadi keganasan oportunitis, yang merangsang timbulnya
kanker.
Tahap dimana metaplasi sel yang abnormal terjadi disebagian SJC saja
ini dikenal dengan tahap prainvasive yang umumnya tidak memperlihatkan
gejala yang nyata. Ini dikenal dengan 2 bentuk yaitu : CIN (carcinoma
intraepitel neoplasia) dan CIS (carcinoma in situ).
Kelanjutan tahap ini adalah tahap invasive. Tahap invasive ini terdiri
dari beberapa tahap :
Tahap I dimana kanker hanya terbatas pada serviks saja tapi telah
mengalami invasi ke stroma serviks. Akibat invasi pada stoma serviks,
yang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur serviks. Kerusakan
tersebut menyebabkan ulserasi yang disertai dengan perdarahan spontan
setelah coitus serta tejadi anemia. Selain itu, ulserasi juga menyebabkan
sekresi serviks yang berlebihan, sehingga timbul keputihan yang berbau
khas. Ini akan dapat berlanjut ke tahap II

Tahap II sudah ada perluasan kanker kearah bawah serviks tapi tidak
melibatkan dinding panggul dan telah mengenai daerah vagina dan akan
terjadi nekrosis pada vagina dan juga akan adanya pengeluaran cairan
vagina yang berbau busuk dan juga dapat disertai dengan terjadinya

perdarahan.
Tahapan III penyebaran ke vagina yang lebih luas dan juga mengalami

penyebaran pada dinding panggul.


Pada tahap ini kanker meluas ke sistem perkemihan, pencernaan,
pernapasan, dan otak. Metastasis pada sistem perkemihan dapat
menyebabkan penyumbatan ureter atau penuhnya kandung kemih yang
dapat menyebabkan terjadinya gangguan eliminasi urine. Metastasis pada
bagian pencernaan dapat menyebabkan terbentuknya ulkus dan terjadinya
perdarahan. Selain itu, juga dapat terjadi peningkatan asam lambung yang
merangsang mual dan muntah. Metastasis pada sistem pernapasan
menyebabkan gangguan pengembangan paru sehingga terjadi gangguan
pertukaran gas. Dan metastasis pada bagian otak menyebabkan terjadinya
kerusakan sistem saraf sehingga terjadi stoke dan kematian.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan oleh

perdarahan yang eksesif dan gagal menahun akibat uremia oleh karena
obstruksi ureter. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prognosis
kanker serviks yaitu :
1.

Umur penderita

2.

Keadaan umum

3.

Tingkat klinik keganasan

4.

Ciri-ciri histologi sel tumor

5.

Kemampuan ahli yang menangani

6.

Sarana pengobatan yang tersedia

D. Manifestasi Klinis
1. Keputihan

Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Gejala yang keluar


dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis
jaringan. Dalam hal demikian pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.
2. Siklus menstruasi tidak teratur
Siklus menstruasi yang tidak teratur, dimana siklus lebih pendek dan
perdarahan menstruasi yang timbul hanya bercak darah
3. Pengeluaran dari vagina yang tidak normal
Pengeluaran dari vagina yang tidak sempurna dapat berupa keputihan yang
berbau busuk, perdarahan diluar siklus menstruasi. Rasa rabas akan dialami
pada vagina. Pada Ca serviks lanjut meningkat secara bertahap dan menjadi
encer, akhirnya berwarna lebih gelap dan sangat berbau akibat nekrosis dan
infeksi tumor.
4. Perdarahan pada post senggama
Perdarahan pada post senggama biasanya terjadi akibat terbukanya
pembuluh darah, makin lama akan sering terjadi.
5. Nyeri
Rasa nyeri berawal dari lumbal, kemudian menjalar ke panggul bagian
depan dan belakang paha, lutut sampai pergelangan kaki.
6. Perdarahan saat BAK dan BAB
Adanya perdarahan spontan pervagina saat defekasi dicurigai kemungkinan
adanya Ca serviks.
(Hamilton, 1995)
E. Klasifikasi
Tahapan stadium klinik Ca.cervik menurut The Federation of
Gynecologic and Obstetri ( FIGO , 1978 ) yang berdasarkan pemeriksaan
klinis, radiology, kuretasi endoserviks dan biopsi (Winjosastro,1999), yaitu :

Stadium 0

: Karsinoma in situ ( KIS ), Karsinoma intra epitel,


membrana basalis masih utuh.

Stadium I

: Karsinoma terbatas pada servik

Stadium Ia

: Karsinoma mikro invasive, bila membrana basalis sudah


rusak dan sel tumor sudah memasuki stoma > 3 mm dan sel
tumor tidak terdapat dalam pembuluh limfa atau pembuluh

Stadium Ib occ

: darah.
Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi
pada pemeriksaan histologik sel tumor telah mengadakan

Stadium Ib

: invasi stroma melebihi Ia.


Secara

Stadium II

klinis

sudah

di

duga

adanya

tumor

yang

: menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri.


Karsinoma sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3

Stadium IIa

: bagian atas vagina, tetapi tidak melibatkan dinding panggul.


Penyebaran hanya ke vagina, perineum masih terbebas dari
infiltrat tumor.

Stadium IIb

: Penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi belum


sampai ke dinding panggul.

Stadium III

: Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina atau


parametrium sampai dinding panggul.

StadiumIIIa

: Penyebaran

sampai

1/3

bagian

distal

vagina,

ke

parametrium tidak dipersoalkan dan tidak sampai dinding


panggul.
StadiumIIIb

: Penyebaran sudah sampai ke dinding panggul, sudah ada


gangguan faal ginjal.

Stadium IV

: Meluas keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa


rektum dan atau kandung kemih.

StadiumIVa

: Kanker sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah


menginfiltrasi mukosa rektum dan atau kandung kemih.

StadiumIVb

: Kanker menyebar ke organ lain yang lebih jauh


8

F. Prognosis
Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah :
1. Umur penderita
2. Keadaan umum
3. Tingkat klinik keganasan
4. Ciri-ciri histopalogis sel tumor
5. Kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani
6. Sarana pengobatan yang ada
(Meyer, 1997)
G. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
Deteksi dini merupakan kunci penanggulangan penyakit kanker.
Kanker leher rahim stadium dini sering tidak menimbulkan gejala atau tanda
yang khas. Namun demikian kanker stadium dini dapat dideteksi dengan suatu
pemeriksaan sederhana yang dikenal dengan Pap Smear. Setiap wanita yang
telah melakukan hubungan seksual, berisiko untuk menderita kanker leher
rahim. Oleh karena itu Pap Smear dilakukan setelah ada aktifitas seksual. Jika
setelah pemeriksaan pertama ternyata tidak ada kelainan displasia atau kanker,
maka tes diulangi setelah satu tahun, jika hasilnya tetap negatif pemeriksaan
dilanjutkan tiap 2-3 tahun sampai umur 65-70 tahun. Jika ditemukan pra
kanker, maka pemeriksaan diulangi 6 bulan berikutnya (Nurrochmi, 2001).
H. Diagnosis Kanker Leher Rahim
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai
berikut (Suharto, 2007) :
a. Pemeriksaan pap smear
Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim secara
akurat dan dengan biaya yang tidak mahal, akibatnya angka kematian
akibat kanker leher rahim pun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap
wanita yang telah aktif secara seksual sebaiknya menjalani pap smear

secara teratur yaitu 1 kali setiap tahun. Apabila selama 3 kali berturut-turut
menunjukkan hasil pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap
smear bisa dilakukan setiap 2 atau 3 tahun sekali. Hasil pemeriksaan pap
smear adalah sebagai berikut:
Normal.
Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).
Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas).
Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).
Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih
dalam atau ke organ tubuh lainnya).
b. Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu
pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap
smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
c. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
d. Tes Schiller
Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya
akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya
menjadi putih atau kuning.
I. Pencegahan Kanker Leher Rahim
Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat
dan menghindari faktor-faktor penyebab kanker meliputi (Dalimartha, 2004) :
a. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada usia muda,
pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti pasangan seks.
b. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah mempunyai anak
perlu melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali atau menurut
petunjuk dokter.
c. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom,
karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker leher rahim.
d. Dianjurkan untuk berperilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan alat
kelamin dan tidak merokok.
e. Memperbanyak makan sayur dan buah segar.

10

J.

Pengobatan Kanker Leher Rahim


Pemilihan pengobatan kanker leher rahim tergantung pada lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita, dan rencana
penderita untuk hamil lagi. Pengobatan kanker leher rahim antara lain
(Diananda, 2007) :
a. Pembedahan
Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif
maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan
penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat
dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti
memperbaiki keadaan penderita.
b. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif yang
masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar
berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan
pertumbuhannya.

c. Kemoterapi
Apabila kanker telah menyebar ke luar panggul, maka dianjurkan
menjalani kemoterapi. Kemoterapi menggunakan obat obatan untuk
membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui
suntikan intravena atau melalui mulut.
d. Terapi biologis
Terapi biologi berguna untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh
dalam melawan penyakit. Terapi biologis tersebut dilakukan pada kanker
yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
e. Terapi gen
Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara :

Mengganti gen yang rusak atau hilang.

11

Menghentikan

kerja

gen

yang

bertanggung

jawab

terhadap

pembentukan sel kanker.


Menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi
dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun

radioterapi.
Menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah
baru di jaringan kanker sehingga sel-sel kankernya mati.

K. Pemeriksaan penunjang
1.

Papanicolow smear : displasia

2.

Biopsi : neoplasma intra epitel

3.

Kolposkopi : untuk melihat daerah yang terkena proses metaplasia

4.

Laboratorium: dilakukan untuk mengetahui aktifitas dryvaekinase pada


klien konservatif dapat diketahui peningkatan enzim ini tertahan pada
daerah epitelium servik, pemeriksaan darah rutin ditemukan penurunan
kadar Hb.

5.

Pelvik limpharagiografi, yang dapat menunjukan adanya gangguan


pada saluran pelvik atau preaortic limfe. Pemeriksaan intravena urografi
yang dilakukan pada Ca serviks tahap lanjut dapat menunjukana adanya
obstruksi pada ureter terminal.

6.

Test schiller, digunakan iodine solution yang diusapkan pada


permukaan servik yang normal akan membentuk bayangan ( awan )

7.

CT Scan : ukuran tumor dan perluasan sebelum pembedahan

8.

Radiologi

9.

Barium enema

10.

USG
(Purwanto, 2002)

12

L. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER


SERVIKS
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
b. Data Umum Kesehatan

Riwayat kesehatan sekarang


Keluhan keputihan, siklus menstruasi tidak teratur, tidak
menstruasi sama sekali, pengeluaran sekret vagina yang tidak
normal, perdarahan setitik setelah senggama, nyeri tajam pada paha
dan sampai tungkai.

Riwayat kesehatan dahulu


Riwayat kesehatan ynag lalu tentang penyakir yang
berhuibungan dengan kanker, terdapat riwayat infeksi HPV, infeksi
virus herpes tipe II, hygiene seksual yang jelek.

Riwayat kesehatan keluarga


Adanya riwayat anggota keluarga yang menderita kanker,
riwayat pasangna yang menderita infeksi reproduksi.

Riwayat menstruasi
Adanya riwayat menstruasi yang tidak teratur, lama dan
siklus haid, usia menarce.

Riwayat perkawinan
Adanya riwayat menikah pada usia dini (<16 tahun),
mempunyai pasangan yang lebih dari satu, sering melahirkan dan
jarak kehamilan yang dekat.

Riwayat keluarga berencana


Adanya riwayat penggunaan alat kontrasepsi hormonal.

c. Aspek Psikososial

Perilaku
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui
perubahan fisiologis dan prilaku secara tidak langsung melalui

13

timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk


melawan kecemasan. Intensitas perilaku akan meningkatkan gejala
dengan peningkatan kecemasan.

Faktor predisposisi
Dalam mengkaji faktor predisposisi akan ditemukan hal yang
dapat menyebabkan terjadi kecemasan, antara lain : peristiwa
traumatik, konflik yang dialami, frustasi, gangguan fisik, pola keluarga
menghadapi stress, riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga dan
pengobatan yang pernah didapat.

Stressor pencetus
Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal.
Stressor pencetus dapat pula dikelompokkan dalam dua kategori :
-

Ancaman

terhadap

integritas

seseorang

yang

meliputi

ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk

melakukan aktivitas sehari hari


Ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat membahayakan

identitas, harga diri dan fungsi sosial.


Sumber koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan
menggunakan sumber koping dari lingkungan diantaranya tingkat
ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial,
keyakinan budaya yang dapat membuat individu mengadopsi strategi
koping yang sukses.

Mekanisme koping
Ketika mengalami kecemasan indivisu menggunakan berbagai

melkanisme koping untuk mencoba mengatasi ketidakmampuan dan


kecemasan secara konstruktif merupakan penyebab utama terjadinya
prilaku patologis.
Untuk kecemasan ringan, pola koping yang cenderung
muncul adalah menangis, tidur, makan, tertawa, atau melakukan

14

aktivitas fisik. Namun untuk mengatasi kecemasan sedang, berat


dan oanik, dibutuhkan lebih banyak energi.
d. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : lemah, klien tampak pucat.


Tanda tanda vital : tekanan darh normal dan rendah, nadi
meningkat, frekuensi nafas normal atau meningkat, suhu normal

atau meningkat.
Kepala : rambut rontok, konjungtiva anemis, membran mukosa

mulut kering, mukosa mulut pucat.


Torak : pernapasan dan nadi agak meningkat, hipotensi.
Abdomen : nyeri tekan, terdapat distensi abdomen atau kandung

kemih.
Genitalia : keluar cairan (keputihan, darah) kemerahan, laserasi dan

bau busuk.
Ekstremitas : kelemahan, edema.

e. Pemeriksaan Penunjang

Papanicalow Smear
Biopsi
Kolposkopi
Radiologi

2. Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosa keperawatan yang dapat muncul antara lain :
a.

Nyeri b.d proses penyakit (kompresi/destruksi jaringan saraf,


kekurangan suplai vascular, inflamasi, obstruksi jaras saraf), efek
samoing berbagai agen terapi.

b.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


status metabolik berkenaan dengan kanker, konsentrasi kemoterapi dan
radsiasi, distress emosional.

c.

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan


melalui rute normal dan atau banormal (perdarahan), status
hipermetabolik, kerusakan masukan cairan.

15

d.

Ketakutan/ansietas b.d krisi situasi (kanker), ancaman atau


perubahan kesehatan, ancaman kematian, perpisahan dengan keluarga.

e.

Gangguan harga diri rendah b.d efek samping kemoterapi atau


radioterapi.

f.

Resti infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan sekunder dan


imunosupresi, malnutrisi, prosedur invasive.

g.

Resti perubahan mambran mukosa mulut b.d efek samping


agen terapi.

h.

Resti kerusakan integritas kulit b.d efek radiasi dan kemoterapi,


penurunan imunologis, perubahan statusnutrisi, anemia.

i.

Resti konstipasi/diare b.d iritasi GIT dari kemoterapi dan


radiasi, masukan cairan buruk.

j.

Resti perubahan pola seksual b.d ketakutan dan ansietas,


perubahan fungsi/struktur tubuh.

k.

Resti perubahan proses keluarga b.d krisis situasi, perubahan


peran atau status ekonomi.

l.

Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan


kebutuhan oengobatan b.d interpretasi informasi, tidak mengenal
sumber informasi, keterbatasan kognitif.

16

3. Intervensi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri b.d proses penyakit

(kompresi/destruksi jaringan
saraf, kekurangan suplai

Kriteria Hasil (NOC)

Intervensi (NIC)

Level nyeri
Kriteria hasil :
a. Laporkan frekuensi

Manajemen Nyeri

nyeri
b. Kaji frekuensi nyeri
c. Lamanya nyeri

vascular, inflamasi, obstruksi


jaras saraf), efek samping

berlangsung
d. Ekspresi wajah

berbagai agen terapi.

terhadap nyeri
e. Perubahan TTV
Kontrol nyeri
Kriteria hasil :
a. Mengenal faktor
penyebab
b. Gunakan tindakan
pencegahan
c. Gunakan tindakan

Aktivitas

Lakukan penilaian nyeri secara


komprehensif dimulai dari lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas dan penyebab.

Kaji ketidaknyamanan secara


nonverbal, terutama untuk pasien
yang tidak bisa
mengkomunikasikannya secara
efektif

Pastikan pasien mendapatkan


perawatan dengan analgesic

Gunakan komunikasi yang


terapeutik agar pasien dapat

non analgetik
d. Gunakan analgetik

menyatakan pengalamannya
terhadap nyeri serta dukungan

yang tepat

dalam merespon nyeri

Tentukan dampak nyeri terhadap


kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu
makan, aktivitas, kesadaran, mood,
hubungan sosial, performance kerja
dan melakukan tanggung jawab
sehari-hari)

Evaluasi bersama pasien dan tenaga


kesehatan lainnya dalam menilai
efektifitas pengontrolan nyeri yang
pernah dilakukan

Kontrol faktor lingkungan yang


dapat menimbulkan
ketidaknyamanan pada pasien (suhu
ruangan, pencahayaan, keributan)

Ajari untuk menggunakan tehnik


non-farmakologi (misalnya :

relaksasi, guide, imagery, terapi


musik, distraksi).

Kolaborasikan dengan pasien dan


tenaga kesehatan lainnya untuk
memilih dan mengimplementasikan
metoda dalam mengatasi nyeri
secara non-farmakologi.

Menyediakan analgesic yang


dibutuhkan dalam mengatasi nyeri

2.

Ketidakseimbangan nutrisi

Status nutrisi : asupan

makanan dan cairan


Status nutrisi : intake

nutrient
Pengontrolan berat badan

kurang dari kebutuhan tubuh


b.d status metabolik
berkenaan dengan kanker,
konsentrasi kemoterapi dan
radiasi, distress emosional.

Manajemen Nutrisi

Kaji apakah klien punya alergi

makanan
Kaji makanan kesukaan klien
Kolaborasi dengan ahli gizi jumlah
kalori dan jenis nutrisi yang

dibutuhkan
Anjurkan klien untuk meningkatkan

intake Fe
Anjurkan klien untuk meningkatkan
intake protein dan vit. C

Tawarkan klien untuk


mengkonsumsi snack, seperti : buah

segar, jus buah


Berikan makanan yang lunak dan

lembut
Yakinkan bahwa diet yang diberikan
mengandung cukup serat

Monitor intake nutrisi dan kalori


Timbang BB jika diperlukan
Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi dan bagaimana
memenuhinya
Pantau kulit kering, mengelupas
dengan depigmentasi
Pemantauan Nutrisi

Pantau turgor kulit


Pantau kekeringan, rambut tipis
yang mudah dicabut
Pantau mual dan muntah

Pantau ukuran lipatan kulit


Pantau albumin, protein total,
hemoglobin dan level hematokrit
Pantau level energi, kelemahan dan
keletihan
Pantau pucat dan konjungtiva
3.

Kekurangan volume cairan


b.d kehilangan cairan
berlebihan melalui rute
normal dan atau abnormal
(perdarahan), status
hipermetabolik, kerusakan
masukan cairan.

Keseimbangan cairan
Keseimbangan elektrolit

dan asam basa


Hidrasi

Manajemen cairan

Hitung haluran
Pertahankan intake yang akurat
Pasang kateter urin
Monitor status hidrasi (seperti :
kelembapan mukosa membran,
nadi)
Monitor hasil lab. terkait retensi
cairan (peningkatan BUN, Ht )
Monitor TTV
Monitor adanya indikasi
retensi/overload cairan (seperti

:edem, asites, distensi vena leher)


Anjurkan klien untuk intake oral
Kaji ketersediaan produk darah
untuk trsanfusi
Berikan terapi IV

4. Implementasi
Kegiatan pada tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana yang
telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya perawat menerapkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan berdasarkan ilmu keperawatan dan ilmu yang terkait
secara terintegrasi.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan untuk
mengukur keberhasilan dari tujuan yang ingin dicapai.
6. Dokumentasi
Setelah melakukan asuhan keperawatan setiap data, rencana maupun tindakan
serta evaluasi yang dilakukan harus didokumentasikan. Hal ini dilakukan agar
dapat diketahui bagaimana

BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal Pengkajian : 18 Juni 2007
I. Identitas Diri Klien
Nama

: Ny. S

Tempat/Tgl. Lahir

: 2 februari 1975

Umur

: 38 tahun

Pekejaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Jl Ranah sungai Dareh,damasraya

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

No. Mr

: 536520

Tanggal masuk RS

: 18 juni 2007

Diagnosa Medis

: Susp Ca. Serviks Stadium II A

II. Data Umum Kesehatan


1. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan Utama
Klien masuk RS pada tanggal 18 Juni 2007, jam 01.30 WIB dengan
keluhan keluar darah yang banyak dari kemaluan sejak 7 jam sebelum
masuk RS disertai nyeri pada pinggang yang menjalar ke ari-ari. Klien
juga mengatakan kepala pusing.
b. Faktor Pencetus
Klien mengatakan setiap berhubungan badan Ia merasakan nyeri dan
keluar darah dari kemaluannya.
c. Lamanya keluhan
Klien mengalami perdarahan terus menerus sejak 7 jam sebelum
masuk Rumah Sakit.

2. Riwayat Kesehatan Dahulu


Klien mengatakan ia tidak pernah menderita sakit seperti ini atau penyakitpenyakit kanker yang lain. Klien mengatakan baru pertama kali dirawat di
Rumah Sakit M.Djamil. Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit
jantung, paru, ginjal, hati dan DM.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita kanker
baik seperti yang dialami oleh klien ataupun kanker pada organ tubuh
lainnya.
4.

Riwayat Menstruasi
Kilen mengatakan mendapat menstruasi pertama pada usia 13 tahun.
Siklus menstruasinya tidak teratur, kadang satu bulan dua kali, kadang
tidak mengalami menstruasi dalam satu bulan. Lamanya 4-5 hari,
banyaknya 2-3 kali ganti duk dalam sehari, nyeri haid ada tapi tidak
mengganggu aktivitasnya. Tetapi sejak 3 bulan yang lalu, klien mengalami
menstruasi yang memanjang yaitu 10-12 hari, banyaknya 3-4 kali duk,
disertai dengan nyeri haid.

5.

Riwayat Perkawinan
Klien mengatakan ia menikah 1 kali pada usia 15 tahun, klien melahirkan
anak pertama pada usia 17 tahun. Klien memiliki 5 orang anak
(multiparitas)Klien tidak pernah mengalami keguguran, jarak antara
kelahiran anak pertama dan kedua 3 tahun dan jarak kelahiran anak ketiga
sampai anak kelima masing-masing 2 tahun.

6.

Riwayat Keluarga Berencana


Klien mengatakan ia baru menggunakan kontrasepsi pil setelah melahirkan
anak kelima. Klien menggunakan kontrasepsi pil selama 6 bulan kemudian
diganti dengan kontrasepsi suntik selama 6 bulan, karena klien merasa

jantungnya berdebar-debar setelah minum pil ataupun menggunakan


suntik oleh karena itu ia tidak menggunakan kontrasepsi apapun juga.
III. Pola Nutrisi
1. BB: 61 kg
2. TB: 155 cm
3. BMI:
BB (kg )
61
61

= 25,39
2
2
2,4025
TB (m) (1,55)

4. LILA: 32 cm
5. Frekuensi makan 3 kali sehari, banyaknya setengah porsi menu rumah
sakit,

kadang-kadang ditambah dengan makanan dari luar seperti bubur

dan buah-buahan.
6. Klien mengatakan napsu makan berkurang di bandingkan sebelum sakit.
7. Klien mengatakan tidak mengalami penurunan atau penambahan berat
badan dalam tiga bulan terakhir ini.
VI. Pola Eliminasi
1. Buang Air Besar (BAB)
Sejak sakit frekuensi BAB 1x perhari, waktunya pada pagi hari,
konsistensi keras, warnanya kuning.
2. Buang Air Kecil (BAK)
Frekuensi 4-5x/hari warnanya kuning, baunya seperti baunya khas urine.
V. Pola Tidur dan Istirahat
1. Sebelum sakit
a. Waktu tidur: Dari jam 9 sampai jam 5 WIB
b. Lama tidur 8 jam
c.Tidak ada kebiasaan menjelang tidur
2. Selama sakit
Waktu tidur:Dari jam 9 sampai jam 5 WIB
4

b. Lama tidur kurang lebih 8 jam perhari


c. Tidak ada kebiasaan menjelang tidur
VI. Pola Aktivitas dan Latihan
Klien mengatakan ia masih bisa melakukan aktivitas seharihari seperti
makan, minum, berjalan kekamar mandi tampa bantuan. Namun klien
mengeluh mudah lelah dan harus banyak istirahat
VII. Pola Bekerja
Jenis pekerjaan : Saat ini klien hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga
dan melakukan pekerjaan seperti biasanya.
.
VIII. Riwayat Keluarga (Genogram)

Keterang :
= Klien
= Tinggal serumah

= Perempuan
5

I. Riwayat Lingkungan

Kebersihan : Lingkungan

perkarangan

klien

bersih

rumah

dan

perkarangan disapu setiap hari.

Bahaya

: Tidak terdapat benda-benda berbahaya disekitar rumah.

Polusi :

Klien tidak tinggal didaerah pabrik (lingkungan bebas dari


polusi).

X. Aspek Psikologis
1. Persepsi diri
a. Hal yang amat dipikirkan saat ini
Klien mengatakan ia merasa cemas dengan kondisi penyakit saat ini, ia
tidak mau dan sangat takut dioperasi. Klien lebih memilih kemoterapi
untuk mengobati penyakitnya. Klien sering bertanya kepada perawat
tentang penyakitnya,klien sering mengulangi pertanyaan
b. Harapan setelah menjalani perawatan
Klien berharap cepat sembuh tanpa operasi.
2. Pertahanan Koping
Klien mengatakan ia tabah menjalani perawatan di rumah sakit, klien
selalu diberikan support oleh suami dan anaknya.
3. Sistem Nilai dan Kepercayaan
Klien beragama Islam dan melaksanakan ibadah sesuai dengan
kepercayaannya. Sejak sakit, klien tidak pernah melakukan sholat karna
klien menganggap dirinya sedang tidak bersih, saat ini hanya dapat berdoa
agar cepat sembuh, klien yakin dan percaya kekuasaan Allah SWT bahwa
setiap penyakit pasti ada obatnya.
4. Riwayat psikososial
Klien terlihat cemas , klien sering bertanya kepada perawat mengenai
penyakitnya.klien sering mengulang pertanyaannya.

XI. Pemeriksaan Fisik


1. Tanda-tanda vital
TD 110/70 mmHg, N = 80 x/i, S = 36,6 0C, P = 20 x/I
2. Kepala
Kulit kepala bersih tidak berketombe, rambut hitam dan tidak rontok
3. Mata
Simetris, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, reflek
positif kiri dan kanan, diameter pupil 2 mm
4. Hidung
Tidak terdapat pembesaran chonca, tidak terdapat nyeri tekan, tidak
terdapat tanda-tanda peradangan, penciuman baik.
5. Mulut
Mukosa mulut lembab, tidak terdapat caries dentis, tidak terdapat tandatanda peradangan/stomatitis.
6. Thorak
Paru-paru :
:

I : Simetris kiri dan kanan


Pa : Fremitus kiri dan kanan
Pe : Sonor
A : Vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
Jantung :
I : Iktuscordis tidak terlihat
Pa : Iktuscordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Pe : Batas jantung normal
A : S1>S2, bising (-)
7. Sirkulasi
Lancar tidak terdapat aliran yang terhambat dengan tidak terdapatnya
pembengkakan baik ekstremitas bawah maupun ekstremitas atas, kapilarry
refil <3 detik, sianosis (-).
8. Abdomen
I : Perut tampak buncit, skiatrik (-)
7

Pa : Perut lembek, massa tidak teraba, asites (-)


Pe : Tympani
A : Bising usus (+) 9x/1
9. Genitalia
Keluar darah dari vagina berupa flek-flek merah kehitaman, cairan
kental/keputihan dan berbau,berdasarkan pemeriksaan inspekulo ditemukan
ada masa di sepertiga distal vagina.Klien mengatakan ia merasa nyeri saat
ditekan didaerah atas kemaluannya. Hasil pemeriksaan vagina touch
10. Neurologi
Kesadaran Composmentis cooperatif (CMC), GCS 15, reflek patella +/+.
11. Muskuloskeletal
Klien masih bisa melakukan ADL sendiri tanpa bantuan orang, tonus otot
baik
XII. Data Laboratorium
Senin 18 juni 2007
Hb. 7,9 gr%
leukosit 17200/mm3
Hematokrit 23%
Trombosit 390 000/mm3
Glukosa puasa 119 mg %
Ureum darah 22 mg %
Natrium darah 125 meq/l
Kalium 4,7 meq/l
Chlorida serum 110 mg/dl.
Selasa 19 juni 2007
Hb. 8,4gr
leukosit 13800/mm
Hematokrit 24%
Trombosit 300 000/mm3
Glukosa puasa 100 mg %
Ureum darah 7mg %
8

Natrium darah 125 meq/l


Kalium 4,7 meq/l
Chlorida serum 110 mg/dl.
SGOT 9 u/l
SGPT 11 u/l
XIII. Pengobatan
a. untuk memperbaiki keadaan umum
Ca glukonas (injeksi)
Tranfusi
Infus RL 28 tetes/menit
Trantamin 3x1 ampul
Vitamin K dan vitamin C 3x1 ampul
b. Rencana kemoterapi tanggal 21 juni 2007

A. Analisa Data
No
1 DS :

Data

Masalah
Perubahan perpusi jaringan

Klien
mengatakan

ia

mengalami

perdarahan

pervaginam yang tidak diketahui sebabnya


sejak 7 jam yang lalu
-

Klien
mengatakan

saat

perdarahan

berupa

ini

ia

mengalami

flek-flek

merah

kehitaman
-

Klien
mengatakan ia mudah lelah

DO :
-

Klien

tampak
9

lelah
-

Konjungtiva
anemis

Keluar

darah

pervaginam berwarna merah kehitaman


-

Hb 7,9 gr%

DS :

Gangguan rasa nyaman :

Klien

nyeri

mengatakan nyeri saat ditekan pada daerah


diatas kemaluan.
-

Klien
mengatakan

ia

mengalami

perdarahan

lewat vagina yang tidak tahu penyebabnya


sejak 7 jam yang lalu
-

Klien
mengatakan saat ini ia masih mengalami
perdarahan

berupa

flek-flek

merah

kehitaman
-

Klien
mengatakan ia merasa nyeri di ari-ari

DO :
-

Skala nyeri 5

Klien
didiagnosa Ca Serviks stadium IIA
10

klien
mengalami

perdarahan

tampak

pervaginam

berwarna merah kehitaman


3.

Porsio
tidak

rata,

ada

teraba

pembengkakan

dan Ansietas

menimbulkan perdarahan
-

Klien

tampak

meringis saat perawat melakukan vulva


higiene
-

Ada massa pada


sepertiga distal vagina

TD

110/70

cemas

dengan

mmHg, N 90x/i, R 24x/i


DS :
- Klien

mengatakan

ia

penyakitnya saat ini


- Klien menanyakan apakah penyakitnya
dapat sembuh tanpa operasi
DO :
- Klien sering bertanya kepada perawat
mengenai penyakitnya
- Klien tanpak gelisah
- Expresi wajah tanpak tegang
- TTV : TD : 110/70 mmHg, Nadi 80x/menit,
Pernafasan 20 x/menit, Suhu 36,5 C

Diagnosa keperawatan yang muncul


1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk penerimaan oksigen.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan syaraf
11

3. Ansietas berhubungan dengan ancaman/perubahan status kesehatan

12

RENCANA KEPERAWATAN
No
DX
1

Diagnosa Keperawatan
Perubahan

Tujuan

Rasional

perpusi

jaringan B.d penurunan Tujuan :


komponen seluler yang Menunjukkan perfusi adekuat,
diperlikan

Intervensi

Dan kriteria

untuk

pengiriman oksigen.

Mandiri :
1. awasi tanda vital, kaji - Memberikan
pengisian,
kulit/membran

informasi

warna

derajat/keadekuatan perfusi jaringan

mukosa,

dan membantu menentukan kebutuhan

dasar panggul, dasar kuku.

intervensi.
- Meningkatkan

2. tinggikan

kepala

tentang

sesuai

toleransi.

ekspansi

memaksimalkan

paru

oksigenasi

dan
untuk

kebutuhan seluler.
- Dispnea, gemericik menunjukan GJK

3. awasi upaya pernapasan ;


auskultasi
perhatikan

bunyi

karena

regangan

jantung

nafas

lama/peningkatan kompensasi curah

bunyi

jantung.

adventisius.
- Iskemia

seluler

,mempengaruhi
1

jaringan miokardial/potensial risiko


infark.
4. Selidiki

keluhan

nyeri

dada, palpitasi.

- Dapat

mengindikasikan

gangguan

fungsi serebral karena hipoksia atau


defisiensi vitamin B12.
5. kaji untuk respon verbal
melambat,

mudah

terangsang,

- Membantu memperbaiki proses pikir

agitasi,gangguan memori,

dan

kemampuan

binggung.

melakukan/memperahankan
kebutuhan AKS.

6. orientasikan pasien sesuai - Vasokontriksi (ke organ) menurunkan


kebutuhan. Berikan cukup

sirkulasi periper. Kenyamanan pasien

waktu untuk b erfikir,

atau kebutuhan rasa hangat harus

komunokasi dan aktivitas

seimbang dengan kebutuhan untuk


menghindari panas yang berlebihan
pencetus

7. Catat keluhan rasa dingin,

vasodilatasi

(penurunan

perpusi organ).

pertahankan
lingkungan

suhu
dan

tubuh

hangat sesuai indikasi.

- Termoreseptor jaringan termal dangkal


karena gangguan oksigen

8. Hindari

penggunaan - Meningkatkan sel pembawa oksigen,

bantalan penghangat atau

memperbaiki

defisiensi

untuk

botol air panas. Ukur suhu

menurunkan resiko pendarahan.

air mandi hangat sesuai


indikasi.

- Memaksimalkan

transpor

oksigen

kejaringan,
Kolaborasi.
9. awasi
laboratorium

pemeriksaan
misalnya - transplantasi

sum-sum

tulang

Hb/Ht dan jumlah SDM,

dilakukan pada kegagalan sum-sum

GDA.

tulang

10. berikan
prodak

SDM

lengkap,

darah

sesuai

indikasi, awasi ketat untuk


komplikasi perfusi.

11. siapkan

intervensi

pembedahan

sesuai

indikasi.
2

Gangguan rasa nyaman Tujuan :


nyeri

b.d

jaringan syaraf

kompresi Setelah

1. Tentukan
dilakukan

intervensi

keperawatan 3 x 24 jam klien

riwayat

nyeri -

Informasi

memberikan

data

(lokasi, frekuensi, durasi dan

dasar untuk mengevaluasi kebutuhan

intensitas)

atau

keefektifan

intervensi

mengatakan nyeri berkurang

(pengalaman nyeri adalah individual

atau hilang

yang digabungkan dengan baik dari


respon fisik dan emosional)

Kriteria hasil
-

Klien dapat mengikuti 2. Evaluasi terapi tertentu seperti terapi yang diberikan.

radiasi, kemoterapi, bioterapi,

Memberikan informasi kepada


klien akan menurunkan kecemasan
4

Klien dapat melakukan


relaksasi

atau

aktivitas

evaluasi

penghilangan

rasa

yang dapat meningkatkan ambang

nyeri..

nyeri, kontrol nyeri maksimum

hiburan sesuai indikasi untuk


mengurangi nyeri
-

Klien dapat melakukan 3. Dorong


aktivitas
dengan

secara

mendiri

minimalnya

rasa

nyeri

penggunaan

Memungkinkan

klien

untuk

berpartisipasi aktif dan meningkatkan

manajemen nyeri mis. Tehnik

rasa kontrol.

relaksasi atau napas dalam,


imajinasi

terbimbing

dan

sentuhan terapeutik
4. Pantau tanda-tanda vital

Umumnya nyeri menyebabkan


gelisah serta meningkatnya tandatanda vital

Kolaborasi
3

Ansietas

berhubungan

5. Berikan

dengan

analgetik

sesuai -

indikasi

ancaman/perubahan

Setelah

dilakukan

status kesehatan

keperawatan selama 2x24 jam

analgesia

dapat

menurunkan

tekanan darah

intervensi
-

rasa cemas klien hilang atau 1. Tinjau

ulang

tidak cemas lagi.

pasien

pengalaman

orang

terdekat

Informasi

membantu

dalam

identifikasi rasa takut dan kesalahan


konsep berdasarkan pada pengalaman

Kriteria hasil
-

sebelumnya dengan kanker.

Menunjukkan

rentang

menjelaskan

berkurangnya rasa takut

dan apakah kesimpulan pasien


dan

mendiskusikan takut/masalah
-

Tentukan apakah dokter telah

yang tepat dari perasaan dan


Mengakui
Menyatakan
pengetahuan
tentang situasi

yang

akurat

pada kanker.

kepada

pasien

telah tercapai
2. Dorong

pasien

untuk -

Memberikan kesempatan untuk

mengungkapkan pikiran dan

memeriksa rasa takut relistik serta

perasaan

kesalahan konsep tentang diafnostik

3. Berikan

informasi

akurat,

konsisten mengenai prognosis, hindari

memperdebatkan

tentang

persepsi

terhadap

situasi

pasien
tertawa,

Dapat menurunkan ansietas dan


memungkinkan

pasien

membuat

keputusan atau pilihan berdasarkan


realitas

musik, sentuhan terapeutik.


4. Catat komentar atau perilaku -

Takut atau ansietas menurun,

yang menunjukkan menerima

menerima

atau

kenyataan

menggunakan

strategi

secara

positif

dengan

efektif menerima situasi


5. Libatkan pasien atau orang
terdekat dalam perencanaan

perawatan.

Berikan

waktu -

untuk peristiwa pengobatan


6. Berikan

kenyamanan

Dapat membantu memperbaiki


beerapa

fisik

perasaan,

kontrol

atau

kemandirian pada pasien yang merasa

klien

tak berdaya dalam menerima diagnosa


dan pengobatan
-

Ini sulit untuk menerima dengan


isu emosi bila pengalaman eksterm
atau ketidaknyamanan fisik menetap

Anda mungkin juga menyukai