Anda di halaman 1dari 36

Manfaat kultur jaringan

Manfaat kultur jaringan -- Kemaren sudah saya posting tentang pengertian


kultur jaringan,kini giliran posting lagi tentang manfaat kultur jaringan,kalau
anda belum mengetahui apa yang di maksud dengan kultur jaringan,kultuur
jaringan itu termasuk salah satu usaha untuk pengembang biakan tanaman
dengan metode yang mutakhir.

Karena dunia sudah mengalami perkembangan yang makin lama makin


maju,maka dunia pengembangan pertanian juga mengalami kemajuan yang salah satunya adalah
dengan teknologi bioteknologi kultur jaringan.Dengan ini maka untuk mengembangkan suatu
tanaman yang langka akan semakin mudah dan tak perlu repot lagi dengan teknik - teknik
budidaya tanaman lainnya

Perbanyakan tanaman secara besar-besaran telah dibuktikan keberhasilannya pada perkebunan


kelapa sawit dan tebu. Dengan cara kultur jaringan dapat klon suatu komoditas tanaman dalam
relatif cepat. Manfaat yang dapat diperoleh dari kloning ini cukup banyak, misalnya: di luar
pulau Jawa akan didirikan suatu perkebunan yang membutuhkan bibit tanaman dalam jumlah
ribuan, maka sudah dapat dibayangkan betapa mahalnya biayanya hanya untuk trasnportasi saja.
Hala ini dapat diatasi denga usaha kloning melalui budaya jaringan, karena hanya perlu
membawa beberapa puluh botol planlet yang berisi ribuan bibit. Dengan cara ini dapat
menghemat waktu dan biaya yang cukup banyak dalam persiapan pemberangkatan ataupun
transportasinya. Pada ekspor anggrek, misalnya, orang luar negeri menghendaki bunga anggrek
yang seragam baik bentuk maupun warnanya. Dalam hal ini dapat dipenuhi juga dengan usaha
kloning. Bibit-bibit tanaman dari usaha mericlono (tanaman hasil budidaya meristem) akan
berharga lebih mahal, karena induknya dipilih dari tanaman yang mempunyai sifat paling bagus
(unggul).

Kultur jaringan tanaman telah dikenal banyak orang sebagai usaha mendapatkan varietas baru
(unggul) dari suatu jenis tanaman dalam waktu yang relatif lebih singkat dari pada dengan cara
pemuliaan tanaman yang harus dilakukan penanaman secara berulang-ulang sampai beberapa
generasi. Untuk mendapatkan varietas baru melalui kultur jaringan dapat dilakukan dengan cara
isolasi protoplas dari 2 macam varietas yang difusikan. Atau dengan cara isolasi khloroplas suatu
jenis tanaman yang dimasukkan kedalam protoplas jenis tanaman yang lain, sehingga terjadi
penggabungan sifat-sifat yang baik dari kedua jenis tanaman tersebut hingga terjadi hibrid
somatik. Cara yang lain adalah dengan menyuntikkan protoplas dari suatu tanaman ketanaman
lain. Contohnya transfer khloroplas dari tanaman tembakau berwarna hijau ke dalam protoplas
tanaman tembakau yang albino, hasilnya sangat memuaskan karena tanaman tembakau menjadi
hijau pula. Contoh lain adalah keberhasilan mentrasnfer khloroplas dari tanaman jagung ke
dalam protoplas tanaman tebu hasilnya memuaskan (Anik Herawati, 1991).

Sumber: mastegar.blogspot.com
Jumat, 11 Juli 2008
kultur jaringan
I. IDENTITAS BUKU

1. Judul buku : Teknik Kultur Jaringan

2. Pengarang : Daisy P. Dkk.

3. Tahun Terbit : 1994

4. Kota Terbit : Yogyakarta

5. Penerbit : Kanisius

II. SAMERI (ISI BUKU)

1. BAB I (PENGERTIAN TENTANG KULTUR JARINGAN)

Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam baha asing disebut


sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel
yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti
membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai
sifat seperti induknya.

Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila


menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu
jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya
penuh dan vakuolanya kecil-kecil. Kebanyakan orang menggunakan jaringan ini
untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem keadaannya selalu membelah,
sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan.

Teknik kultur jaringan sebenarnya sangat sederhana, yaitu suatu sel atau
irisan jaringan tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan
dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril.
dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami
proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam
medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap
dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil
suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dlama
jumlah yang besar.

Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel sperti
yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan
autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah
kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan
dilingkungan yangsesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna.

Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang
diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai
bahan dasar untuk pembentukkan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan
yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun
pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian
tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti:
daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila
menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu
diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.

2. BAB II (MANFAAT KULTUR JARINGAN)

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman


baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat
fisiologi dan morfologi sama persis dengan induknya. Dari teknik kultur jaringan
tanaman ini diharapkan juga memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul.
Secara lebih rinci dan jelas berikut ini akan dibahas secara khusus kegunaan dari
kultur jaringan terhadap berbagai ilmu pengetahuan.

Perbanyakan tanaman secara besar-besaran telah dibuktikan


keberhasilannya pada perkebunan kelapa sawit dan tebu. Dengan car kultur
jaringan dapat klon suatu komoditas tanaman dalam relatif cepat. Manfaat yang
dapat diperoleh dari kloning ini cukup banyak, misalnya: di luar pulau Jawa akan
didirikan suatu perkebunan yang membutuhkan bibit tanaman dalam jumlah ribuan,
maka sudah dapat dibayangkan betapa mahalnya biayanya hanya untuk
trasnportasi saja. Hala ini dapat diatasi denga usaha kloning melalui budaya
jaringan, karena hanya perlu membawa beberapa puluh botol planlet yang berisi
ribuan bibit. Dengan cara ini dapat menghemat waktu dan biaya yang cukup
banyak dalam persiapan pemberangkatan ataupun transportasinya. Pada ekspor
anggrek, misalnya, orang luar negeri menghendaki bunga anggrek yang seragam
baik bentuk maupun warnanya. Dalam hal ini dapat dipenuhi juga dengan usaha
kloning. Bibit-bibit tanaman dari usaha mericlono (tanaman hasil budidaya
meristem) akan berharga lebih mahal, karena induknya dipilih dari tanaman yang
mempunyai sifat paling bagus (unggul).

Kultur jaringan tanaman telah dikenal banyak orang sebagai usaha


mendapatkan varietas baru (unggul) dari suatu jenis tanaman dalam waktu yang
relatif lebih singkat dari pada dengan cara pemuliaan tanaman yang harus
dilakukan penanaman secara berulang-ulang sampai beberapa generasi. Untuk
mendapatkan varietas baru melalui kultur jaringan dapat dilakukan dengan cara
isolasi protoplas dari 2 macam varietas yang difusikan. Atau dengan cara isolasi
khloroplas suatu jenis tanaman yang dimasukkan kedalam protoplas jenis tanaman
yang lain, sehingga terjadi penggabungan sifat-sifat yang baik dari kedua jenis
tanaman tersebut hingga terjadi hibrid somatik. Cara yang lain adalah dengan
menyuntikkan protoplas dari suatu tanaman ketanaman lain. Contohnya transfer
khloroplas dari tanaman tembakau berwarna hijau ke dalam protoplas tanaman
tembakau yang albino, hasilnya sangat memuaskan karena tanaman tembakau
menjadi hijau pula. Contoh lain adalah keberhasilan mentrasnfer khloroplas dari
tanaman jagung ke dalam protoplas tanaman tebu hasilnya memuaskan (Anik
Herawati, 1991).

Khloroplas yang ditransfer harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Sewaktu dilakukan isolasi, khloroplas harus sempurna.

Setelah diisolasi harus mempuyai sifat yang sama dengan khloroplas yang

tumbuh secara in vivo (budidaya biasa).

Setelah diisolasi masih mempunyai sifat atau aktivitas fotosintesa yang cukup

tinggi.

Contoh isolasi protoplas dalam budidaya jaringan yang sangat berguna adalah
ditemukannya sun-chlorella (jenis ganggang). Ganggang ini secara enzimatis
dijadikan protoplas (sel-selnya ditelanjangi dengan cara diinkubasikan dalam enzim
medium sehingga dinding selnya larut), kemudian dikeringkan dibawah sinar
matahari. Protoplas tersebut selanjutnya dipecah hingga didapatkan khloroplas dan
akhirnya dibuat pil-pil untuk pengobatan.

Menciptakan varietas baru dapat pula dilakukan dengan menggunakan bantuan


jenis bakteri seperti bakteri penyebab tumor yang disebut Agrobacterium
tumifaciens. Bakteri ini disuntikkan pada tanaman sehat mempunyai buah ukuran
besar, agar tanaman sehat tersebut menjadi sakit tumor. Bakteri yang berada
dalam jaringan yang menonjol karena terkena tumor tersebut kemudian diambil
dan disuntikkan kedalam tanaman lain yang ukuran buahnya kecil-kecil. Dengan
cara ini terbukti bahwa tidak lam kemudian tanaman tersebut menghasilkan buah
yang ukurannya besar. Hal ini membuktikan bahwa bakteri yang dipindahkan
tersebut membawa sifat keturunan yang ada pada tanaman semula. Sedangkan
untuk mendapatkan yang baru yang tahan terhadap stress garam, pestisida
tertentu, logam berat, suhu rendah atau tinggi dan sebagainya dapat dilakukan
dengan cara-cara khusus.

Menciptakan tanaman baru yang toleran terhadap stress garam pernah dilakukan
oleh Handa dkk. (Suryowinoto, 1985) yaitu terhadap tanaman tomat dan tembakau.
Pada penelitian ini menggunakan penambahan PEG (Poly Ethilen- Glycol) atau
NaCL, yang biasa dipergunakan untuk mendapatkan kultivar yang toleransi
terhadap garam.

Beberapa jenis tanaman ada yang teramcam punah (endangered species), misalnya
berbagai jenis tanaman pisang, tanaman melati, kenanga, kayu jati, dan kayu putih.
Usaha yang paling tepat untuk melestarikan tanaman yang terancam punah adalah
dengan jalan kloning. Dengan usaha kloning ini, populasi dari tanaman tersebut
akan terselamatkan, bahkan dapat bertambah, sekaligus sifat-sifat yang dimiliki
oleh tanaman tersebut tetap terjamin.

Kultur jaringan juga mempunyai manfaat yang besar dibidang farmasi, karena dari
usaha ini dapat dihasilkan metabolit skunder upaya untuk pembuatan obat-obatan,
yaitu dengan memisahkan unsur-unsur yang terdapat di dalam kalus ataupun
protokormus, misalnya alkoloid, steroid, dan terponoid. Dengan ditemukannya cara
mendapatkan metabolit skunderdari kalus suatu eksplan yang di tumbuhkan dalam
medium kultur jaringan, mak berarti dapat menghemat waktu dan tenaga. Dengan
cara biasa, untuk mendapatkannya harus menunggu lama samapai tanaman cukup
umur bahkan sampai berproduksi hingga bertahun-tahun. Sedangkan dengan teknik
kultur jaringan hanya membuthkan waktu antara tiga minggu sampai satu bulan
saja. Metabolit yang dihasilkan dari kalus ternyata juga memiliki kadar yang lebih
tinggi daripada dengan cara biasa (langsung dari tanaman). Dengan cara
pengambilan metabolit skunder dari kalus, biasanya selalu diperoleh kandungan
lain yang lebih banyak jenisnya, karena seringkali timbul zat-zat alkaloid atau
persenyawaan-persenyawaan lainnya yang sangat berguna untuk pengobatan.

Persenyawaan yang bermanfaat yang diambil dari kalus dapat ditingkatkan


kadarnya dengan cara memanipulasinya, antara lain:

Memakai medium lain yang sesuai.

Mengubah salah satu kadar komponen dalam medium.

Memberi zat tambahan tertentu ke dalam medium, misalnya penambahan zat

pengatur tumbuh auksin ataupun sitokinin.

Kultur jaringan juga memberikan masukkan atau informasi pengetahuan yang


sangat bermanfaat dibidang fisiologi tanaman. Pada tanaman anggrek misalnya,
telah berhasil diketahui bahwa jika ujung akarnya diiris melintang akan
memperlihatkan warna tertentu. Warna tersebut nantinya akan sama dengan warna
bunganya. Hal ini sangat berguna dalam bidang perdangan bunga hias, sebab
walaupun tanamannya belum berbunga orang sudah dapat mengetahui warna
bunga yang akan muncul.

Melalui perbanyakan vegetatif dengan kultur jaringan ternyata juga


berpengaruh terhadap devisa negara. Misalnya, denagn terlaksananya ekspor
tanaman anggrek ke negara lain, maka akan menaikkan devisan negara dibidang
pertanian.

Teknik kultur jaringan sampai saat ini memang belum biasa dilaksanakan oleh
para petani, baru beberapa kalangan pengusaha swasta saja yang sudah mencoba
melaksanakannya, karena pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman memerlukan
keterampilan khusus dan harus diltar belakangi dengan ilmu pengetahuan dasar
tentang fisiologi tumbuhan, anatomi tumbuhan, biologi, kimia dan pertanian.
Dengan demikian jelas akan amat sulit untuk diterima oleh kalangan petani biasa.
Di samping itu, pelaksanaan teknik kultur jaringan mutlak memerlukan laboratorium
khusus, walaupun dapat di usahakan secara sederhana (dalam ruang yang
terbatas), namun tetap memerlukan peralatan yang memadai. Kemungkinan lain
petani akan merasa enggan bekerja secara aseptik. Karena semua pekerjaan harus
dilaksanakan secara hatri-hati dan cermat serta memerlukan kesabaran yang
tinggi. Biaya untuk mewujudkan perbanyakan tanaman cecara in vitro ini juga
sangat mahal, kecuali kita meramu medium sendiri. Bila kia terpaksa harus
membeli medium yang sudah jadi (dalam kemasan) jelas akan sangat mahal, sebab
medium yang sudah jadi masih harus di impor dari luar negeri. Apalagi kita harus
membeli saran untuk perlakuan isolasi dan fusi protoplas, tentu biayanya akan
bertambah besar. Enzim-enzim yang digunakan dalam kultur jaringan juga masih
dibeli dari luar negeri sepertti Jepang.

Lepas semua dari kendala-kendala tersebut diatas, kita harus mengakui bahwa
teknik kultur jaringan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, terutama
untuk pengembangan bioteknologi.

BIOTEKNOLOGI

ILMU-ILMU DASAR ILMU TERAPAN

MIKROBIOLOGI KULTUR JARINGAN

BIO KIMIA REKAYASA

BIOLOGI MOLEKULER TEKNOLOGI

EMBRIO TUMBUHAN REKOMBINAN

GENETIKA
3. BAB III (ALAT-ALAT LABORATORIUM KULTUR JARINGAN)

A. Laminar Air Flow Cabinet (LAFC)

Alat ini letaknya diruang penabur, yaitu ruang yang selalu harus dalam
keadaan steril. alat ini digunakan sebagai tahap perlakuan penanaman.

B. Entkas

Merupakan bentuk lama dari alat penabur (LAFC), maka fungsinya pun sama
seperti (LAFC)

C. Shaker (penggojok)

Merupakan alat penggojok yang putarannya dapat diatur menurut kemauan


kita. Penggojok ini dapat digunakan untuk keperluan menumbuhkan kalus pada
eksplan anggrek atau untuk membentuk protokormusatau sering disebut plb
(protocorm like bodies) dari kalus bermacam jaringan tanaman.

D. Autoklaf

Autoklaf adalah alat sterilisasi untuk alat dan medium kultur jarinang
tanaman.

E. Timbangan Analitik

Jenis alat ini bermacam-macam, tetapi yang penting adalah timbanagn yaang
dapat dipergunakan untuk menimbang sampai satuan yang sangat keil. Alat ini
berfungsi sebagai alat untuk menimbang bahan-bahan kimia yang digunakan untuk
kultur jaringan.

F. Stirer

Alat ini berfungsi untuk menggojok dengan pemanas. Dengan menggunakan


listrik, alat ini berfungsi sebagai kompor disamping sebagai penggojok.

G. Erlenmeyer

Alat ini digunakan dalama kultur jaringan tanaman sebagai sarana


mmenuangkan air suling maupun untuk tempat media dan penanaman eeksplan.

H. Gelas Ukur

Gelas ukur digunakan untuk menakar air suling dan bahan kimia yang akan
digunakan.
I. Gelas Piala

Alat ini digunakan untuk menuangkan atau mempersiapkan bahan kimia dan
air suling dalam pembuatan medium.

J. Petridish

Alat ini merupakan semacam jenis gelas piala yang mutlak dibutuhkan dalam
kultur jaringan.

K. Pinset dan Scalpel

Pinset digunakan untuk memegang atau mengambil irisan eksplan atau


untuk menanam eksplan

L. Lampu Spiritus

Digunakan untuk sterilisasi dissecting kit (skalpel dan pinset) di dalam


laminar air flow cabinet atau di dalam enkas pada kita mengerjakan penanaman
atau sub-culture.

M. Tabung Reaksi

Alat ini digunakan pada saat mengerjakan isolasi protoplas dan isiolasi
khloroplas.

4.BAB IV (FASILITAS LABORATORIUM KULTUR JARINGAN)

Fasilitas laboratorium kultur jaringan di bagi dalam beberapa bagian yang


fungsinya satu sama lainnya berbeda-beda dan persyaratannya pun berbeda-beda
pula. Laboratorium kultur jaringan harus dirancang secara khusus. Karena ada
bagian-bagian atau ruangan-ruanagn yang harus dalam suasana steril atau bebas
mikroba.

Ruang-ruang dalam kultur jaringan di kelompokkan menurut macam kegiatan


yang ada di dalamnya,, yaitu sebagai berikut:

A. Ruang Tidak Steril

Ruang Tamu.

Dalam laborsatorium kultur jaringan sebaiknya di lengkapi dengan ruang


tamu, karena biasanya laboratorium kultur jaringan selalu di datangi tamu baik
tamu yang ingin melihat sarana dan suasana laboratorium maupun tamu ingin
membeli hasil biakan kultur jaringan.

Ruang Administrasi.

Segala surat-menyurat tentang pembelian alat-alatlboratorium, pembelian


media kultur jringan, penjualan bibit-bibit hasil biakan kultur jaringan, dan
transaksi-transaksi ataupun perjanjian-perjanjian kerja sama tentang penelitian
dilaksanakan di dalam ruangan administrasi.

Ruang Staf.

Laboratorium kultur jaringan membutuhkan staf peneliti dalam jumlah


banyak, tujuannya adalah agar dapat di adakan pembagian kerja sesuai dengan
spesialisasinya masing-masing. Di dalam ruang staf ini dapat pula di lakasanakan
diskusi antar staf pada waktu berkumpul bersama.

Kamar Mandi dan WC.

Ruang kultur jaringan harus dalam suasana bersih untuk menghindari


kontaminasi oleh mikroba. Bila pekerja akan memasuki ruangan penabur atau
ruang inkubator, tubuh dan pakaiannya harus bersih, tidak berkeringat dan tidak
berdebu. Untuk inilah kamar mandi dan wc perlu diadakan.

Ruang Ganti Pakaian.

Untuk menghindari timbulnya kontaminasi oleh mikroba, maka para


karyawan di dalam laboratorium kultur jaringan perlu memakai pakaian yang
bersih, dalam arti baru di cuci. Oleh karena itu dalam ruangan kultur jaringan perlu
di adakan ruang ganti pakaian.

Ruang Tempat Penyimpanan Bahan Kimia dan Alat-alat dari Gelas.

Komponen bahan kimia penyusun media kultur jaringan sangat banyak


macamna. Oleh karena itu, penyimpanannya memerlukan pengaturn yang khusus
supaya mudah mecarinya. Penyimpanan yang tidak teratur akan mempelambat
dalam pekerjaan, misalnya dalam mencari salah sau komponen media saja
membutuhkan waktu yang lama.

Bahan kimia yang mahal harganya seperti hormon tumbuh dan enzim untuk isolasi
protoplas harus disimpan dala ruangan yang sejuk.

Alat-alat dari gelas seperti erlenmeyer, gelas ukurdan alat gelas lainnya perlu
disimpan dalam almari tersendiri.

Ruang Preparasi.

Di dalam ruangan ini disediakan peralatan dan tempat untuk mencuci alat-
alat laboratorium yang akan digunakan. Peralatan yang ada antara lain keranjang-
keranjang plastik untuk tempat peralatan yang baru dicuci.

Ruang Penimbangan dan Sterilisasi.

Bermacam-macam media kultur jaringan dijual dalam bentuk kemasan


dengan harga yang relatif mahal. Oleh karena itu, staf labolatorium lebih senang
meramu sendiri medum tanam yang dibutuhkannya.dengan demikian dibutuhkan
lat untuk menimbang semua komponen bahan kimia tersebut. Misalnya menimbang
bahan kimia makro dan mikro.

Rumah Kaca (Green House)

Rumah kaca adalah suatu bangunan yang atap dan sekeliling dinding bagian
atasnya terbuat dari kaca. Tujuan penyediaan rumah kaca adalah untuk tempat
meletakkan pot-pot bibit tanaman, baik bibit yang akan dijadikan bahan kultur
jarinang maupun bibit hasil dari kultur jaringan yang sudah siap djual atau
dipelihara sendiri.

B. Ruang Tidak Mutlak Steril

Ruang Planlet.

Ruangan ini menggunakan alat pendingi (AC), maka temperatur ruangan dapat
mencapai sekitar 25OC sehingga ideal bagi pertumbuhan planlet. Botol-botol yang
berisi planlet jumlahnya dapat mencapai ratusan. Oleh sebab itu, dalam ruangan ini
perlu disediakan rak-rak alumuniaum yang dasrnya berlobang-lobang untuk
meletakkan botol-botol tersebut secara teratur dan rapi.

Ruang Inkubator.

Eksplan yang sudah ditanam dalam media kultur jringan perlu dipantau
pertumbuhannya setiap hari. Untuk pemantauan ini perlu ruangan khusus yang
keadaannya lebih steril dari ruang planlet, yaitu ruang inkubator.

Ruang inkubator harus memiliki suhu kurang lebih 25 OC dan harus dilengkapi
dengan lampu-lampu neon, karena eksplan yang ditumbuhkan dalam ruangan
inkubasi membutuhkan temperatru dan cahaya yang dapat diatur dan disesuaikan
dengan jenis eksplannya.

Ruang Shaker dsn Enkas.

Eksplan yang baru ditanam dan diinkubasikan dalam ruang inkubator akan
menghasilkan kalus. Bila kalus ini cukup umur, maka dapat diperlukan suspensi sel,
yaitu menumbuhkan suatu eksplan atau kalus dengan menggunakan media cair
(media yang tidak menggunakan zat pemadat atau agar), kemudian digojok di atas
shaker.

Hasil pertumbuhan kalus ini adalah berupa protokormus atau dalam istilah asing
disebut plb (protocorm like bodies). Bentuk protocormus adalah bulat-bulat padat
dan berwarna hijau. Bila keadaan protocormus sudah keadaan demikian maka
sudah siap dipindahkan kedalam media padat untuk di tumbuhkan menjadi planlet.

Enksa juga sering di letakkan dalam satu ruang dengan shaker, kegunaan enkas ini
sama dengan Laminar Air Flow Cabinet, yaitu untuk menabur eksplan.

C. Ruang Mutlak Steril.

Ruang Penabur.

Ruang penabur biasanya di buat dengan ukuran yang tidak terlalu besar, yaitu 2x3
m2. tujuannya adalah agar pelaksanaan sterilisasi ruangannya tidak membutuhkan
waktu yang lama dan tidak mengalami kesulitan.
Dinding ruang penabur dilengkapi dengan porselin, sehingga sterilisasi mudah
dilakukan. Sterilisasi ruangan dilakukan dengan cara menyemprotkan alkohol 96%
dengan hand-sprayer. Sedangkan sterilisasi lantai dengan menggunakan kain pel
yang dibasahi alkohol 96%. Sterilisasi ini mutlak harus dilakukan menjelang ruang
penabur akan digunakan.

Bila saat calon penabur akan memasuki ruangan, lampu ultra violet harus dimatkan
terlebih dahulu kemudian menyalakan lampu neon biasa dan calon penabur
diperbolehkan memasuki ruangan tersebut. Sebaiknya, pada saat akan keluar
lampu neon di matikan dan setelah keluar menutup daun pintu kembali lampu ultra
violet dinyalakan. Dengan demikian steril ruangan dapat dijamin.

5. BAB V (MEDIA TANAM KULTUR JARINGAN)

A. Unsur-unsur yang Dibutuhkan Tanaman

Sebelum menguraikan cara-cara membuat medium kultur jaringan, maka


terlebih dahulu kita harus mengetahui unsur-unsur yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman. Unsur-unsur yang dibuthkan tanaman dikelompokkan
menjadi:

1. Garam-garam Anorganik

Setiap tanaman membutuhkan paling sedikit 16 unsur untuk pertumbuhannya yang


normal. Tiga unsur di antaranya adalah C,H,O yang di ambil dari udara, sedangkan
13 unsur yang lain berupa pupuk yang dapat diberikan melalui akar atau melalui
daun. Pada perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Semua unsur tersebut
dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Ada unsur yang dibutuhkan
tanaman dalam jumlah besar yang disebut unsur makro, ada pula yang dibutuhkan
oleh tanaman dalam jumlah sedikit tetapi harus tersedia yang disebut unsur mikro.

2. Zat-zat Organik

Zat-zat organik yang biasanya ditambahkan dalam medium kultur jaringan adalah
sukrosa, mio inositol, asam amino, dan zat pengatur tumbuh. Sedangkan sebagai
tambahan biasanya diberi zat organik lain seperti air kelapa, ekstrak ragi, pisang,
tomat, toge dan lain-lain.

B. Kegunaan Setiap Unsur Bagi Tanaman


setelah kita mengetahui unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman, maka
sebelum kita menentukan unsur-unsur yang akan digunakan untuk meramu
medium kultur jaringan perlu mengetahui terlebih dahulu kegunaan unsur-unsur
tersebut bagi pertumbuhan tanaman atau jaringan tanaman.

1. Unsur Nitrogen (N)

Kegunaan unsur Nitrogen bagi tanaman adalah untuk menyuburkan


tanaman, sebab unsur N dapat membentuk protein, lemak dan berbagai
persenyawaan organik yang lain.

2. Unsur Fospor (P)

Dibutuhkan oleh tanaman untuk membentuk karbohidrat. Maka, unsur P ini


dibutuhkan secara besar-besaran pada waktu pertumbuhan benih.

3. Unsur Kalium (K)

Memperkuat untuk tubuh tanaman, karena unsur ini dapat digunakan untuk
memperkuat serabut-serabut akar, sehingga daun, bunga dan buah tidak mudah
gugur.

4. Unsur Sulpur (S)

Unsur ini digunakan untuk proses pembentukan anakan sehingga


pertumbuhan dan ketahanan tanaman terjamin.

5. Unsur Kalsium (Ca)

Digunakan untuk merangsang pembentukkan bulu-bulu akar, mengeraskan


batang dan merangsang pembentukkan biji.

6. Unsur Magnesium (Mg)

Digunakan tanaman sebagai bahan mentah untuk ppembentukkan sejumlah


protein.

7. Unsur Besi (Fe)

Unsur ini digunakan sebagai penyangga (chelati agint) yang sangat penting
untuk menyagga kestabilan pH media selama digunakan untuk menumbuhkan
jaringan tanaman.

8. Unsur Sukrosa
Unsur ini sering ditambahkan pada medium kultur jaringan sebagai sumber
energi yang diperlukan untuk induksi kalus.

9. Unsur Glukosa atau Fruktosa

Unsur ini dapat digunakan sebagai unsur pengganti sukrosa karena dapat
merangsang beberapa jaringan.

10. Unsur Mio-inositol

Penambahan unsur ini pada medium bertujuan untuk membantu diferensiasi


dan pertumbuhan sejumlah jaringan.

11. Unsur Vitamin

Vitamin-vitamin yang sering digunakan dalam mediumklutur jaringan antara


lain adalah Thiamin. Thiamin adalah vitamin esensial yang digunakan untuk
medium kultur jaringan.

12. Unsur Asam Amino

Unsur ini diunakan oleh tanaman untuk proses pertumbuhan dan diferensiasi
sel. Kebutuhan unsur asam amino oleh tanaman berbeda.

13. Unsur Zat Pengatur Tumbuh.

Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senywa organik bukan hara,
yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah
proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh dalam tanaman terdir dari lima
kelompok yaitu, Auksin, Sitokinin, Giberelin, Etilen dan Inhibitor dengan ciri khas
dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis.

Zat pengatur tumbuh sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi


pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam
medium, pertumbuhan sangat terhambat bahkan tidak akan tumbuh sama sekali.

C. Bentuk Fisik Media Tanam

Media tanam harus berisi semua zat yang diperlukan untuk menjamin pertumbuhan
eksplan. Bahan-bahan yang diramu berisi campuran garam mineral sumber unsur
makro dan unsur mikro, gula , vitamin, protein, dan hormon tumbuh. media tanam
dalam kultur jaringan adalah tempat untuk tumbuh eksplan. Media tanam tersebut
dapat berupa larutan (cair) atau padat. Media cair berarti campuran-campuran zat
kimia dengan air suling, sedangkan media padat adalah media zat cair tesebut
ditambah dengan zat pemadat agar.

D. Faktor Lingkungan

1. Keasaman (pH)

Keasaman pH adalah nilai derazat keasaman atau kebasaan dari larutan


dalam air. Keasaman (pH) suatu larutan menyatakan kadar dari ion H dalam
larutan. Nilai di dalam pH berkisar antara 0 (sangat asam) sampai 14 (sangat basa),
sedangkan titk netral adalah pH pada 7.

Sel-sel tanaman yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan


mempunyai toleransi pH yang relatif sempit dengan titik optimal antara pH 5,0-6,0.
Bila eksplan mulai tumbuh, pH dalam lingkungan kultur jaringan tanaman umumnya
akan naik apabila nutrein habis terpakai.

Pengukuran pH dapat dilakukan dengan menggunakan pH meter, atau bila


menginginkan yang lebih praktis dan murah dapat digunakan kertas pH. Bila
ternyata pH medium masih kurang normal, maka dapat ditambah KOH 1-2 tetes.
Sedangkan apabila pH melampaui batas normal dinetralkan dengan penambahan
HCL.

2. Kelembapan

Kelembapan relatif (RH) lingkungan biasanya mendekati 100%. RH sekeliling


kultur mempengaruhi pola pengembangan. Jadi, pengaturan RH pada keadaan
tertentu memerlukan suatu bentuk diferensiasi Khusus.

3. Cahaya

Intensitas cahaya yang rendah dapat mempertinggi embriogenesis dan


organogenesis. Cahaya ultra violet dapat mendorong pertumbuhan dan
pembentukan tunas dari kalus tembakau pada intesitas yang rendah.

4. Temperatur

Temperatur yang dibutuhkan untuk dapat terjadi pertumbuhan yang


optimum umumnya adalah berkisar di antara 200-300C. Sedangkan temperatur yang
optimum untuk pertumbuhan kalus endosperm adalah sekitas 250C.

E. Pembuatan Media Tanam


Sebelum membuat medium, maka terlebi dahulu kita harus menentukan
medium apa yang akan kita buat. Jenis medium dengan komposisi unsur kimia yang
berbeda dapat digunakan untuk media tumbuh dari jaringan tanaman yang berbeda
pula. Misalnya media Vacin Went sangat baik untuk media tumbuh anggrek. Tetapi
tidak cocok untuk media tumbuh lain. Untuk eksplan dair tanaman keras sring
menggunakan medium WPM, sedangkan untuk tanaman semusim (sayuran dan
tanaman hias) sering menggunakan medium MS. Medium Kundson C cocok untuk
menanam eksplan kelapa kopyor dan anggrek.

Untuk membuat media kultur jaringan, biasanya menimbang setiap


komponen bahan kimia yang terdapat pada resep medium dasar. Langkah ini
kurang praktis karena memakan banyak waktu dan mengurangi ketepatan. Selain
itu, timbangan yang digunakan untuk menimbang sejumlah kecil bahan kimia
kadang-kadang tidak tersedia. Kendala ini dapat diatasi dengan membuat larutan
stoc terlebih dahulu, kecuali untuk unsur makronya. Jadi perlu membuat larutan
stoc mikro.

6.BAB VI (METODE PELAKSANAAN KULTUR JARINGAN)

A. Metode Kultur Jaringan.

1. Dilihat dari Macam Media Tanam

Teknik kultur jaringan dapat dilaksanakan dengan dua metode yaitu:

a. Metode Padat (Solid Method)

Metode pada dilakukan dengan tujuan mendapatkan kalus dan kemudian dengan
medium diferensiasi yang berguna untuk menumbuhkan akar dan tunas sehingga
kalus dapat tumbuh menjadi planlet. Media padat adalah media yang mengandung
semua komponen kimia yang dibutuhkan oleh tanaman dan kemudian dipadatkan
dengan menambahkan zat pemadat. Zat pemadat tersebut dapat berupa agar-agar
batangan, agar-agar bubuk, atau agar-agar kemasan kaleng yang yang memang
khusus digunakan untuk media padat untuk kultur jaringan.

Media yang terlalu padat akan mengakibatkan akar sukar tumbuh, sebab akar sulit
untuk menembus ke dalam media. Sedangkan media yang terlalu lembek akan
menyebabkan kegagalan dalam pekerjaan. Kegagalan dapat berupa tenggelamnya
eksplan yang ditanam. Eksplan yang tenggelam tidak akan dapat tumbuh menjadi
kalus, karena tempat area kalus yaitu pada irisan (jaringan yang luka) tertutup oleh
medium.

Metode padat dapat digunakan untuk metode kloning, untuk menumbuhkan


protoplas stelah diisolasikan, untuk menumbuhkan planlet dari protokormus stelah
dipindahkan dari suspensi sel, dan untuk menumbuhkan planlet dari prtoplas yang
sudah difusikan (digabungkan).

b. Metode Cair(Liquid Metho)

Penggunaan metode cair ini kurang praktis dibandingkan dengan metode padat,
karena untuk menumbuhkan kalus langsung dari ekspaln sangat sulit sehingga
keberhasilannya sangat kecil dan hana tanaman-tanaman tertentu yang dapat
berhasil. Oleh karena itu, penggunaan media cair lebih ditekankan untuk suspensi
sel, yaitu untuk menumbuhkan plb (prtocorm like bodies). Dari protokormus ini
nantinya dapat tumbuh menjadi planlet apabila dipindahkan kedalam media padat
yang sesuai.

Pembuatan media cair jauh lebih cepat daripada media padat, karena kita tidak p
erlu memanaskannya untuk melarutkan agar-agar. Media cair juga tidak
memerlukan zat pemadat sehingga keadaannya tetap berupa larutan nutrein.

2. Dilihat dari Bahan atau Eksplan yang Dipakai

Bila dilihat dari macam bahan yang digunakan, maka metode kultur jaringan yang
telah dikenal sekarang antara lain adalah:

1) Kultur meristem.

2) Kultur antera

3) Kultru endosperma

4) Kultur suspensi sel

5) Kultur protoplas

6) Kultur embrio

7) Kultur spora

8) Dan lain-lain

3. Dilihat dari Cara Pemeliharaan


Eksplan yang telah ditanam, agar dapat tumbuh menjadi kalus dan kemudian
menjadi planlet, membutuhkan pemeliharaan yang rutin dan tepat. Artinya, eksplan
atau kalus yang sudah waktunya untuk dipindahkan ke dalam media tanam yang
baru harus segera dilaksanakan, tidak boleh sampai terlambat. Pemindahan yang
terlambat dapat menyebabkan pertumbuahn eksplan atau kalus dapat terhenti atau
dapat mengalami brownig atau terkontaminasi oleh jamur atau bakteri.

B. Pelaksanaan Kultur Jaringan

1. Sterilisasi Alat Penabur

Sebelum digunakan, enkas harus diterilisasi dengan menggunakan hand sprayer


berisi spirtus atau campuran formalin 10% dan alkohol 70%, dengan perbandinga
1:1. setelah disemprot kemudian dibiarkan terlebih dahulu kurang lebih 10 menit,
baru kemudian boleh digunakan.

2. Sterilisasi Alat dan Medium

Alat-alat dissecting –set dan glass ware yang akan digunakan untuk kultur jaringan,
setelah dicuci dan dikeringkan kemudian dibungkus dengan kertas payung dan
o
disterilisasi di dalam autoklaf dengan suhu 121 C, tekanan 15 lb, dan lama
sterilsiasi 20-30 menit.

Botol-botol eksplan yang sudah berisi medium setelah ditutup dengan alumunium
foil, kemudian disterilisasi. Sterilisasi medium lebih sedikit waktunya dibandingkan
dengan sterilisasi alat-alat, yakni 15 menit, tetapi suhu dan tekannya sama.

3. Sterilisasi Eksplan

Sterilisasi eksplan dilaksanakan dengan dua cara yaitu:

a. Sterilisasi Eksplan secara Mekanis

Cara ini digunakan untuk eksplan yang keras atau berdaging, yaitu dengan
membakar eksplan tersebut di atas lampu spirtus sebanyak tiga kali.

b. Sterilisasi Eksplan secara Kimiawi

Sterilisasi ini gunakan untuk eksplan yang lunak. Sterilisasi ini menggunakan bahan
kimia. Bahan-bahan yang digunakan untuk sterilisasi:

Sodium hipoklorit
Mercuri chlorit

Alkohol 70%

4. Menabur Eksplan

Menabur eksplan dilakukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet dengan kondisi
aseptik. Sebelum kita bekerja di dalam laminar air flow cabinet, semua perhiasan
tangan harus dilepas, dan tangan dibasuh terlebih dahulu dengan alkohol 70%.

Eksplan yang siap ditaman dipotng dengan menggunakan scalpel di dlam cawan
petri. Potongan eksplan dimasukan kedalam erlenmeyer yang berisi media tumbuh,
hingga permukaan yang teriris bersentuhan dengan medium.

Setelah semua pekerjaan menabur selesai, kemudian alat-alat yang sudah dipakai
dibersihkan.

5. Melaksanakan Sub-Kultur

Dalam waktu satu sampai dua minggu, eksplan akan tumbuh menjadi kalus. Kalus
adalah suatu masa sel yang terbentuk pada permukaan eksplan atau irisan eksplan.
Kalus ini akan tumbuh pada media eksplan yang padat., sedangkan pada media cair
akan tumbuh plb (protokormus)

Sub-kultur adalah suatu usaha untuk mengganti media kultur jaringan dengan
media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk kalus atau protokormus dapat
terpenuhi.

III. PEMBAHASAN

Dari hasil perbandingan antara buku yang saya buat ini bila dibandingkan
dengan buku kultur jaringan yang lain ternyata pada laporan buku yang saya buat
ini masih banyak kekurangannya yaitu:

Masalah-masalah Dalam Kultur Jaringan

Dalam kegiatan kultur jaringan, tidak sedikit masalah-masalah yang muncul


sebagai pengganggu dan bahkan menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan
kegiatan kultur yang dilakukan. Gangguan kultur secara umum dapat muncul dari
bahan yang ditanam, dari lingkungan kultur, maupun dari manusianya.
Permasalahan dalam kultur ada yang dapat diprediksi sebelumnya dan ada
pula yang sulit diprediksi kejadiannya. Untuk yang tidak dapat diprediksi, car
mengatasinya tidak dapat secara preventif tetapi diselesaikan setelah kasus itu
muncul.

Adapun masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu:

1) Kontaminasi

Kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam kegiatan


kultur jaringan. Munculnya gangguan ini bila dipahami secara mendasar adalah
merupakan sesuatu yang sangat wajar sebagai konsekuensi penggunaan yang
diperkaya.

Penomena kontaminasi sangat beragam, keragaman tersebut dapat dilihat


dari jenis kontaminasinya (bakteri, jamur, virus, dll).

Upaya mencegah terjadinya kontaminsai.

Biasakan membersihkan berbagai sarana yang diperlukan dalam kultur

jaringan.

Yakinkan bahwa proses sterilisasi media secara baik dan benar.

Lakukan proses penanaman bahan pada keadaan anda nyaman dan cari

waktu yang longgar.

2) Pencoklatan/browning

Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang
sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.
Peristiwa pencoklatan sesunggguhnya merupakan peristiwa alamiah yang biasa
yang sering terjadi.

Pencoklatan umumnya merupakan suatu tanda-tanda kemunduran fisiologi


eksplan dan tidak jarang berakhir pada kematian eksplan.

3) Vitrifikasi

Vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada kultur yang ditandai dengan:
Munculnya pertumbuhan dan pertumbuhan yang tidaknormal.

Tanaman yang dihasikan pendek-pendek atau kerdil.

Pertrumbuhan batang cenderung ke arah penambahan diameter

Tanaman utuhnya menjadi sangat turgescent.

Pada daunnya tidak memiliki jaringan pallisade..

4) Variabilitas Genetik

Bila kultur jaringan digunakan untuk upaya perbanyakan tanaman yang


seragam dalam jumlah yang banyak, dan bukan sebagai upayapemuliaan tanaman
maka variasi genetik adalah kendala. Variasi genetik dapat terjadi pada kultur in
vitro karena:

Laju multiflikasi yang tinggi, variasi terjadi karena terjadinya sub kultur

berulang yang tidak terkontrol

Penggunaan teknik yang tidak sesuai.

Variasi genetik yang paling umum terjadi pada kultur kalus dan kultur
suspensi sel, hal tersebut terjadi karena munculnya sifat instabilitas kromosom
mungkin akibat teknis kultur, media atau hormon.

Cara mengatasi problem variasi genetik tentunya tidak sederhana, harus


memperhatikan aspek yang dikulturkan.

5) Pertumbuhan dan Perkembangan

Problem utama berkaitan dengan proses pertumbuhan adalah bila eksplan


yang ditanam mengalami stagnasi, dari mulai tanam hingga kurun waktu tertentu
tidak mati tetapi tidak tumbuh.

Untuk menghindari hal itu dapat dilakukan dengan preventif menghindari


bahan tanam yang tidak juvenil atau tidak meristematik. Karena awal pertumbuhan
eksplan akan dimulai dari sel-sel yang muda yang aktif membelah, atau dari sel-sel
tua yang muda kembali.

Media juag dapat menjadi sebab terjadinya stagnasi pertumbuhan, karena


dari kondisi medialah suatu sel dapat atau tidak terdorong melakukan proses
pembelahan dan pembesaran dirinya.

Pada proses klutur jaringan yang bersifa inderict embriogenesis, tahapan


pembentukan kalus harus dilanjutkan dengan mendorong induksi embriosomatik
dari sel-sel kalus. Terjadinya embrio somatik dapat secara endogen atau eksogen.

6) Praperlakuan

Masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman eksplan saja,
pertumbuahn dan perkembangannya dlama botol saja tetapi juga sangat bisa
dipengaruhi oleh persyaratan kegiatan prapelakuan. Pada kasus ini masalah akan
muncul bila kegiatan prapelakuaan tidak dilakukan.

Prapelakuan dilakukan umumnya untuk tujuan-tujuan tertentu, secara umum


adalah dalam rangka menghilangkan hambatan. Hambatan apat berupa hambatan
kemikalis, fisik, biologis. Hambatan berupa bahan kimia penanganannya harus
dimulai dari pengenalan senyawa aktif, potensi gangguan, proses reaksi dan
alternatif pengelolaannya.

7) Lingkunagn Mikro

Masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga
sering menjadi masalah. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi
pertumbuhan eksplan, suhu yang terlalu rendah aatau tinggi dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan.

Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda,


namunddemikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator
suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu
ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya.

Sehingga optimasi pertumbuhan tidak bisa diharapkan sama antara kultur


yang satu dengan kultur yang lain.

IV. SIMPULAN
Dari hasil pembuatan laporan buku ini dapat disimpulkan bahwa kultur
jaringan. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang
mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti
membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai
sifat seperti induknya.

Manfaat dari teknik kultur jaringan tanaman ini diharapkan juga memperoleh
tanaman baru yang bersifat unggul.

Dalam kegiatan kultur jaringan perlu memerlukan bahan-bahan yang


dibutuhkan dalam proses kegiatan kultur jaringan. Bahan-bahan yang digunakan
dalam kegiatan kultur jaringan diantaranya:

Unsur hara makro dan mikro

Zat Pengatur tumbuh

Aquades

Vitamin

Agar

Gula

Ekstrak-ekstrak organik (ekstrak air kelapa, ekstrak tomat, dll).

Sumber: hamdan-motor.blogspot.com
MANFAAT / KEUNTUNGAN KULTUR JARINGAN
1. Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yau~g singkat
2. Sifat identik dengan induk
3. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
4. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa

Manfaat Kultur Jaringan.

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru
dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat
fisiologi danmorfologi sama persis dengan induknya. Dari teknik kultur jaringan
tanaman ini diharapkan juga memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul.
Secara lebih rinci dan jelas berikut ini akan dibahas secara khusus kegunaan dari
kultur jaringan terhadap berbagai ilmu pengetahuan.( hamdan-
motor.blogspot.com/2008/07/kultur-jaringan.html - 169k -)

Manfaat lain adalah:


· Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yang singkat
· Sifat identik dengan induk
· Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
· Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman
dewasa (all by ftp.ui.edu)

Sumber: http://www.scribd.com/doc/21288531/Kultur-jaringan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi
bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian
tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur
tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman
dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama
dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan
bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat
steril.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit
yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah
yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu
menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan
mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan
perbanyakan konvensional.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan
diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin,
dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan
lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik
jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang
dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol
kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya
dengan autoklaf.
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.
Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah
tunas.
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di
tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga
steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang
disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang
melakukan kultur jaringan juga harus steril.
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam
eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari
adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung
reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di
tempat yang steril dengan suhu kamar.
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan
akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan
dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan
perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun
jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna
putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke
bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan
memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar
dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan
terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi
dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan
pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit
generatif.
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan
usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan
yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati,
sengon, akasia, dll.
Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan
pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut
dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek
dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari
kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan
pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat. Selain itu, dengan
adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat maka lahan-lahan yang kosong
dapat c
KEUNTUNGAN PEMANFAATAN
KULTUR JARINGAN
¨ Pengadaan bibit tidak tergantung musim
¨ Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak
dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari
satu mata tunas yang sudah respon dalam 1
tahun dapat dihasilkan minimal 10.000
planlet/bibit)
¨ Bibit yang dihasilkan seragam
¨ Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (meng
gunakan organ tertentu)
¨ Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah
dan mudah
¨ Dalam proses pembibitan bebas dari gang
guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan
lainnya
KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman)
tumbuh
menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama
atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim
diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.
Kola Lemahkan Tulang

BOSTON – Konsumsi senyawa kola yang berlebihan pada tubuh, menurut penelitian
baru-baru ini, membuat tulang manusia, terutama wanita menjadi makin lemah.
Hasil tersebut ditemukan oleh Dr. Katherine L. Tucker dari Universitas Boston, yang
melakukan studi korelasi kelemahan tulang pada 2500 peminum kola, yang
dilangsir kantor berita AP awal minggu ini.
Pada penelitiannya tersebut, Dr. Katherine menemukan bahwa peminum kola,
memiliki tingkat kekuatan tulang lebih rendah daripada orang yang tidak meminum
kola. “Tingkat kekuatan tulang dikenal dengan istilah BMD atau Bone Mineral
Density, yang mempengaruhi berbagai masalah kerapuhan tulan,” paparnya.
“Karena kola merupakan salah satu minuman terpopuler yang ada saat ini. Hasil
penelitian ini seharusnya diumumkan secara luas, karena berpengaruh pada taraf
kesehatan kita,” urainya, pada artikel yang telah dimuat di bulan Oktober ini di
Jurnal Klinik Nutrisi Amerika.
Penelitian ini juga menunjukan kebanyakan peminum kola perempuan memiliki
tingkat kerapuhan tulan lebih besar. Dalam catatannya, menurut Dr. Katherine hal
ini dimungkinkan karena banyak wanita lebih banyak meminum susu, namun
banyak meminum soda pada kola.
Fenomena ini dijelaskan oleh Dr. Katherine dikarenakan kola mengandung zat
bernama phosporic acid. Zat tersebut menyerap fungsi kalsium yang telah masuk
dalam tubuh sehingga mineral yang ada dalam kalsium, yang seharusnya dapat
membantu proses penguatan tulang menjadi hilang.
“Sayangnya baru sekarang ada bukti kuat, yang menyatakan zat berkarbonasi
seperti kola, ternyata sangat berpengaruh pada tulang,” tambah Katherine.
Sementara itu, pada kaum lelaki, lebih sedikit efek perapuhan tulang yang
dikarenakan konsumsi kola. (slg)
Bioteknologi

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Langsung ke: navigasi, cari
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup
(bakteri, jamur, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim,
alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini,
perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga
pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi
molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan
kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang
ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang
lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti,
maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan
reproduksi hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan
antara lain dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam
jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan
signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini,
produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara
maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi
semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan
sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk
memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum
dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang
pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun
penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh
dapat sembuh seperti sediakala. Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi
rekayasa genetika, kultur jaringan dan rekombinan DNA, dapat dihasilkan tanaman
dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika
dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan terhadap hama maupun
tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada
pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak
bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat
toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Kemajuan di bidang bioteknologi tak lepas dari berbagai kontroversi yang
melingkupi perkembangan teknologinya. Sebagai contoh, teknologi kloning dan
rekayasa genetika terhadap tanaman pangan mendapat kecaman dari bermacam-
macam golongan.
Sumber: www.dephut.go.id/INFORMASI/setjen/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11.htm
Media Kultur Jaringan
Salah satu kesulitan dalam kultur jaringan tanaman adalah kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan
optimum sangat berbeda pada tiap spesies, sehingga tidak ada media yang dapat
direkomendasikan untuk semua tanaman. Penelitian – penelitian yang intensif pada kultur
jaringan selama 50 tahun terakhir telah banyak mengembangkan media, beberapa diantaranya
telah digunakan secara luas dalam kultur jaringan saat ini. Media ini diberikan pada Tabel 12.1.
Bahan kimia dalam media biasanya ditentukan, artinya hanya hara tertentu yang dimasukkan ke
dalam media, atau media dapat juga mengandung bahan tambahan kompleks seperti air kelapa
atau jus jeruk yang mengandung zat pengatur tumbuh.
12.1. Komposisi Media Kultur Jaringan
12.1.1. Hara anorganik
Ada 12 hara mineral yang penting untuk pertumbuhan tanaman dan beberapa hara yang
dilaporkan mempengaruhi pertumbuhan in vitro. Untuk pertumbuhan normal dalam kultur
jaringan, unsur – unsur penting ini harus dimasukkan dalam media kultur. Perbandingan 5 media
pada Tabel 12.1 memperlihatkan bahwa unsur esensial ini dimasukkan pada masing – masing
media tapi konsentrasinya berbeda karena diberikan dalam bentuk yang berbeda.
12.1.2. Hara organik
Tanaman yang tumbuh dalam kondisi normal bersifat autotrof dan dapat mensintesa semua
kebutuhan bahan organiknya. Meskipun tanaman in vitro dapat mensintesa senyawa ini,
diperkirakan mereka tidak menghasilkan vitamin dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan
yang sehat dan satu atau lebih vitamin mesti ditambahkan ke media. Thiamin merupakan vitamin
yang penting, selain itu asam nikotin, piridoksin dan inositol biasanya ditambahkan.
Selain bahan organik tersebut, bahan kompleks seringkali ditambahkan, termasuk ekstrak ragi,
casein hydrolysate, air kelapa, jus jeruk, jaringan pisang, dan lain – lain. Penambahan bahan
kompleks ini menghasilkan media yang tak terdefinisi. Dengan penelitian yang cukup,
semestinya bahan kompleks ini dapat diganti dengan zat tertentu, mungkin tambahan suatu
vitamin atau asam amino.
12.1.3. Sumber karbon
Tanaman dalam kultur jaringan tumbuh secara heterotrof dan karena mereka tidak cukup
mensintesa kebutuhan karbonnya, maka sukrosa harus ditambahkan ke dalam media. Sumber
karbon ini menyediakan energy bagi pertumbuhan tanaman dan juga sebagai bahan pembangun
untuk memproduksi molekul yang lebih besar yang diperlukan untuk tumbuh.
Biasanya sukrosa pada konsentrasi 1 – 5% digunakan sebagai sumber karbon tapi sumber karbon
lain seperti glukosa, maltosa, galaktosa dan laktosa juga digunakan. Ketika sukrosa diautoklaf,
terjadi hidrolisis untuk menghasilkan glukosa dan fruktosa yang dapat digunakan lebih efisien
oleh tanaman dalam kultur.
12.1.4 Agar
Umumnya jaringan dikulturkan pada media padat yang dibuat seperti gel dengan menggunakan
agar atau pengganti agar sperti Gelrite atau Phytagel. Konsentrasi agar yang digunakan berkisar
antara 0.7 – 1.0%. Pada konsentrasi tinggi agar menjadi sangat keras, sedikit sekali air yang
tersedia, sehingga difusi hara ke tanaman sangat buruk. Agar dengan kualitas tinggi seperti Difco
BiTek mahal harganya tapi lebih murni, tidak mengandung bahan lain yang mungkin
mengganggu pertumbuhan. Pengganti lain seperti gelatin kadang – kadang digunakan pada lab
komersial.
Gel sintetis diketahui dapat menyebabkan hyperhidration (vitrifikasi) yang merupakan problem
fisiologis yang terjadi pada kultur. Untuk mengatasi masalah ini, produk baru bernaman Agargel
telah diproduksi ole Sigma. Produk ini merupakan campuran agar dan gel sintetis dan
menawarkan kelebihan kedua produk sekaligus mengurangi problem vitrifikasi. Produk ini dapat
dibuat di lab dengan mencampurkan 1 g Gelrite (Phytagel) dengan 4 g agar sebagai agen
pengental untuk 1 L media.
12.1.5 pH
pH media biasanya diatur pada kisaran 5.6 – 5.8 tapi tanaman yang berbeda mungkin
memerlukan pH yang berbeda untuk pertumbuhan optimum. Jika pH lebih tinggi dari 6.0, media
mungkin menjadi terlalu keras dan jika pH kurang dari 5.2, agar tidak dapat memadat.
12.1.6. Zat Pengatur Tumbuh
Pada media umumnya ditambahkan zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh akan dibahas
tersendiri pada minggu 13.
12.1.7. Air
Air distilata biasanya digunakan dalam kultur jaringan, dan banyak lab menggunakan aquabides
(air destilata ganda). Beberapa lab, dengan alasan ekonomi, menggunakan air hujan, tapi ini
menyebabkan sulit mengontrol kandungan bahan organik dan non-organik pada media.
12.2. Pemilihan Media
Jika tidak ada informasi awal, biasanya mulai dengan media MS (Murashige dan Skoog 1962).
Media ini mengandung konsentrasi garam dan nitrat yang lebih tinggi dibandingkan media lain,
dan telah sukses digunakan pada berbagai tanaman dikotil. Untuk inisiasi kalus, 2.4-D
ditambahkan ke media dengan konsentrasi 1 – 5 mgL-1. Untuk multiplikasi tunas, sitokinin
seperti BAP ditambahkan dan juga diberi auksin, seperti NAA pada konsentrasi yang rendah.
Untuk inisiasi akar, IBA pada konsentrasi 1 – 2 mgL-1 ditambahkan. Faktor yang paling sulit
ditentukan dalam kultur jaringan adalah zat pengatur tumbuh dan biasanya perlu melakukan
penelitian kecil untuk menentukan konsentrasi terbaik yang akan digunakan. Ada 2 pendekatan:
Pendekatan pertaman adalah dengan menggunakan media dasar MS dan meneliti kisaran dua zat
pengatur tumbuh yang berbeda. Lihat table 12.1.
Tabel 12.1 Pendekatan eksperimental untuk memilih konsentrasi yang paling tepat dari BAP dan
NAA sebagai tambahan pada media MS berisi 2% sukrosa dan 0.8% agar, Dimodifikasi dari
Bhojwani dan Razdan (1983).
BAP (mg/L)

NAA
0 0.5 2.5 5.0
(mg/L)

0 1 2 3 4

0.5 5 6 7 8

2.5 9 10 11 12

5.0 13 14 15 16

Pendekatan kedua adalah dengan menggunakan metode yang lebih luas menurut deFossard
(1976) diaman 4 kategori, mineral, auksin, organik dan sitokinin diuji masing – masing pada 3
konsentrasi. Percobaan yang besar ini memerlukan 81 perlakuan yang berbeda dan sangat
menghabiskan waktu tapi mungkin diperlukan untuk beberapa tanaman yang sangat sulit
dikulturkan.
12.3. Persiapan Media
Media yang paling banyak digunakan adalah Murashige dan Skoog (1962). Cara yang paling
mudah untuk menyiapkan media MS adalah dengan membeli prepacked media yang banyak
dijual secara komersial.
Berikut adalah hal – hal penting yang mendasar dalam pembuatan media :
1. Sebelum memulai, siapkan lembar media dan tentukan media apa dan
berapa banyak yang akan anda buat. Tulis informasi ini pada lembar kerja
dan periksa setiap langkah sambil anda bekerja. Tanda tangani dan tulis
tanggal pada lembar kerja dan letakkan pada notebook. Anda dapat
menuliskan komentar tentang apa saja yang tidak biasa atau penting yang
terjadi pada saat anda membuat media.
2. Cuci alat gelas dengan air destilata sebelum mulai menyiapkan media.
3. Ukur kira – kira 90% dari volume akhir air destilata, misalnya 900 ml untuk
volume akhir 1 liter, lalu masukkan ke dalam beaker.
4. Jika anda akan memanaskan larutan, pastikan anda menggunakan alat tahan
panas.
5. Sambil mengaduk air, perlahan masukkan bubuk MS dan aduk hingga benar –
benar larut. Cuci bagian dalam paket MS dengan air destilata untuk
mengambil sisa – sisa bubuk dan masukkan ke larutan media.
6. Masukkan bahan tahan panas lainnya – stok GM,myo-inositol, sucrose, BA,
aduk rata.
7. Atur pH media menggunakan NaOH, HCl, or KOH.
8. Buat volume akhir media dengan menggunakan labu takar
9. Jika menggunakan agar, masukkan ke dalam campuran media sebelum
diautoklaf.
10.Media harus selalu diautoklaf dalam wadah dengan ukuran 1 1/2 x atau 2x
lebih besar dari volume media agar media tidak tumpah.
11.Tuangkan media sesuai kebuthan sebelum diautoklaf atau sesudah
diautoklaf, tergantung kebutuhan.
12.Tutp wadah pada saat diautoklaf, tapi jangan terlalu erat, agar ada
pertukaran udara.
13.Media disterilisasi dengan mengautoklaf pada 1 kg/cm2 (15 psi), 121º C
selama kurang lebih 30 menit. Volume yang lebih besar (200 ml atau lebih)
mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Gunakan exhaust yang lambat.
14.Biarkan media mendingin hingga 55º C sebelum menambahkan bahan –
bahan yang tidak tahan panas (acetosyringone, claforan, kanamycin).
15.Media dituangkan ke petri dish biasanya dengan volume 25 ml per petri. Ini
akan menghasilkan sekitar 40 petri per liter media.
16.Dinginkan media di dalam laminar. Jangan pindahkan petri yang telah diisi
media sampai petri tersebut dingin.
17.Simpan media yang sudah dingin di refrigerator.

Sumber: www.fp.unud.ac.id/biotek/kultur-jaringan-tanaman/12-media-kultur-
jaringan/

Tahapan-Tahapan Kultur Jaringan


08:58 | Author: Sepdian Luri
a. Pemilihan dan Penyiapan Tanaman Induk Sumber Eksplan
Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman,
kegiatan yang pertama harus dilakukan adalah memilih
bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut
harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus
sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Tanaman
indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan
dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau
greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan
dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan
pada waktu dikulturkan secara in-vitro.

Lingkungan tanaman induk yang lebih higienis dan


bersih dapat meningkatkan kualitas eksplan.
Pemeliharaan rutin yang harus dilakukan meliputi:
pemangkasan, pemupukan, dan penyemprotan dengan
pestisida (fungisida, bakterisida, dan insektisida),
sehingga tunas baru yang tumbuh menjadi lebih sehat
dan dan bersih dari kontaminan. Selain itu pengubahan
status fisiologi tanaman induk sumber eksplan kadang-
kadang perlu dilakukan seperti memanipulasi parameter cahaya, suhu, dan zat pengatur tumbuh.
Manipulasi tersebut bisa dilakukan dengan mengondisikan tanaman induk dengan
fotoperiodisitas dan temperatur tertentu untuk mengatasi dormansi serta penambahan ZPT seperti
sitokinin untuk merangsang tumbuhnya mata tunas baru dan untuk meningkatkan reaktivitas
eksplan pada tahap inisiasi kultur (Yusnita,
2003).
b. Inisiasi Kultur
Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro
tahap ini adalah pembuatan kultur dari
eksplan yang bebas mikroorganisme serta
inisiasi pertumbuhan baru (Wetherell,
1976). Ditambahkan pula menurut Yusnita,
2004, bahwa pada tahap ini mengusahakan
kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik
berarti bebas dari mikroorganisme,
sedangkan aksenik berarti bebas dari
mikroorganisme yang tidak diinginkan.
Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa
eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi
pertumbuhan baru, sehingga akan
memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat,untuk
perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell, 1976).
Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus disterilisasi. Sterilisasi
merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di
permukaan eksplan. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan
eksplan adalah NaOCl, CaOCl2, etanol, dan HgCl2.
Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Tanaman
yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum tentu menunjukkan rspon in-vitro yang
sama (Wetherell, 1976). Penggunaan eksplan yan tepat merupakan hal penting yang juga harus
diperhatikan pada tahap ini. Umur fisiologis dan ontogenetik tanaman induk, serta ukuran
eksplan bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan, merupakan faktor penting dalam tahap
ini. Bagi kebanyakan tanaman, eksplan yang sering digunakan adalah tunas pucuk (tunas apikal)
atau mata tunas lateral pada potongan batang berbuku. Namun belakangan ini, eksplan potongan
daun yang dulunya hanya digunakan untuk tanaman-tanaman herba, seperti violces, begonia,
petunia dan tomat, ternyata dapat digunakan juga untuk tanaman-tanaman berkayu seperti Ficus
lyrata, Annona squamosa, dan melinjo. Eksplan yang dapat digunakan untuk memperbanyak
tanaman Anthurium sendiri diantaranya adalah tunas pucuk, daun, tangkai daun muda, tangkai
bunga, spate, spandik, biji, ruas batang dan anther.
Umur fisiologis dan umur ontogenetik jaringan tanaman yang dijadikan eksplan juga
berpengaruh terhadap potensi morfogenetiknya. Umumnya, eksplan yang berasal dari tanaman
juvenile mempunyai daya regenerasi tinggi untuk membentuk tunas lebih cepat dibandingakan
dengan eksplan yang berasal dari tanaman yang sudah dewasa.
Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini adalah terjadinya pencokelatan atau
penghitaman bagian eksplan (browning). Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul
akibat stress mekanik yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari
tanaman induk. Senyawa fenol tersebut bersifat toksik, menghambat pertumbuhan atau bahkan
dapat mematikan jaringan eksplan.

c. Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul


Tahap ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak seperti
tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bisa
dilanjutkan untuk tahap berikutnya (Yusnita, 2004). Pada tahap ini, perbanyakan dapat dilakukan
dengan cara merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler atau
merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik secara langsung maupun
melalui induksi kalus terlebih dahulu. Seperti halnya dalam kultur fase inisiasi, di dalam media
harus terkandung mineral, gula, vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan
secara tepat (Wetherell, 1976). Hormon yang digunakan untuk merangsang pembentukan tunas
tersebut berasal dari golongan sitokinin seperti BAP, 2-iP, kinetin, atau thidiadzuron (TDZ).

Kemampuan memperbanyak diri yang sesungguhnya dari suatu perbanyakan secara in-vitro
terletak pada mudah tidaknya suatu materi ditanam ulang selama multiplikasi (Wetherell, 1976).
Eksplan yang dalam kondisi bagus dan tidak terkontaminasi dari tahap inisiasi kultur
dipindahkan atau disubkulturkan ke media yang mengandung sitokinin. Subkultur dapat
dilakukan berulang-ulang kali sampai jumlah tunas yang kita harapkan, namun subkultur yang
terlalu banyak dapat menurunkan mutu dari tunas yang dihasilkan, seperti terjadinya
penyimpangan genetik (aberasi), menimbulkan suatu gejala ketidak normalan (vitrifikasi) dan
frekuensi terjadinya tanaman off-type sangat besar.

d. Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan


Akar
Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk akar dan
pucuk tanaman yang cukup kuat untuk dapat bertahan
hidup sampai saat dipindahkan dari lingkungan in-vitro
ke lingkungan luar. Dalam tahap ini, kultur tanaman akan
memperoleh ketahanannya terhadap pengaruh
lingkungan, sehingga siap untuk diaklimatisasikan
(Wetherell, 1976). Tunas-tunas yang dihasilkan pada
tahap multiplikasi di pindahkan ke media lain untuk
pemanjangan tunas. Media untuk pemanjangan tunas
mengandung sitokinin sangat rendah atau tanpa sitokinin.
Tunas tersebut dapat dipindahkan secara individu atau
berkelompok. Pemanjangan tunas secara berkelompok
lebih ekonomis daripada secara individu. Setelah tumbuh
cukup panjang, tunas tersebut dapat diakarkan.
Pemanjangan tunas dan pengakarannya dapat dilakukan
sekaligus atau secara bertahap, yaitu setelah
dipanjangkan baru diakarkan. Pengakaran tunas in-vitro
dapat dilakukan dengan memindahkan tunas ke media pengakaran yang umumnya memerlukan
auksin seperti NAA atau IBA. Keberhasilan tahap ini tergantung pada tingginya mutu tunas yang
dihasilkan pada tahap sebelumnya. Disamping itu, beberapa perlakuan yang disebut hardening in
vitro telah dilaporkan dapat meningkatkan mutu tunas sehingga planlet atau tunas mikro tersebut
dapat diaklimatisasikan dengan persentase yang lebih tinggi. Beberapa perlakuan yang bisa
dilakukan sebagai berikut:
1. Mengondiskan kultur di tempat yang pencahaannya berintensitas lebih tinggi (contohnya
10000 lux) dan suhunya lebih tinggi.
2. Pemanjangan dan pemanjangan tnas mikro dilakukan dalam media kultur dengan hara
mineral dan sukrosa lebih rendah dan konsentrasi agar-agar lebih tinggi (Yusnita, 2004).
e. Aklimatisasi
Dalam proses perbanyakan tanaman secara
kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet
merupakan salah satu tahap kritis yang
sering menjadi kendala dalam produksi bibit
secara masal. Pada tahap ini, planlet atau
tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di
luar botol seperti rumah kaca , rumah
plastik, atau screen house (rumah kaca kedap
serangga). Proses ini disebut aklimatisasi.
Aklimatisasi adalah proses pengkondisian
planlet atau tunas mikro (jika pengakaran
dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan
baru yang aseptik di luar botol, dengan
media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap
ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil
jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi.

Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik,
rumah bibit, dan lapangan sangatlah jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol.
Kondisi di luar botol bekelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas
cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi dalam botol. Planlet atau tunas mikro lebih bersifat
heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik,
serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan.

Disamping itu tanaman tersebut memperlihatkan beberapa gejala ketidak normalan, seperti
bersifat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vaskulernya tidak berkembang sempurna,
morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagai mana mestinya. Strutur
mesofil berubah, dan aktifitas fotosintesis sangat rendah. Dengan karakteristik seperti itu,
palanlet atau tunas mikro mudah menjadi layu atau kering jika dipindahkan ke kondisi eksternl
secara tiba-tiba. Karena itu, planlet atau tunas mikro tersebut diadaptasikan ke kondisi lngkungan
yang baru yang lebih keras. Dengan kata lain planlet atau tunas mikro perlu diaklimatisasikan
( Yusnita, 2004).

Sumber: http://kultur-jaringan.blogspot.com/2009/08/tahapan-tahapan-kultur-
jaringan.html