Anda di halaman 1dari 11

IKATAN KIMIA

MAKALAH KIMIA DASAR


dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah kimia dasar

Oleh :
AZKA WAFI EL HAKIM ( NPM : 230210140008 )
HELGA RACHEL F ( NPM : 230210140014 )
MUHAMMAD KEMAL P. ( NPM : 230210140045 )
LISMA MAHESHA AMANDA ( NPM : 230210140047 )

Prodi Ilmu Kelautan


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

UNIVERSITAS PADJAJARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu kimia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang
materi, seperti hakekat, susunan, sifat-sifat, perubahan serta energi yang menyertai
perubahannya.
Di alam sendiri banyak ditemukan zat, baik berupa unsur maupun senyawa.
Keberadaan zat tersebut sangat ditentukan oleh kestabilan zat itu sendiri. Jika suatu zat stabil
maka kita akan menemukannya dalam bentuk unsur bebas, namun jika zat itu tidak stabil
maka kita akan menemukannya dalam bentuk senyawa. Suatu atom bergabung dengan atom
lainnya melalui ikatan kimia sehingga dapat membentuk senyawa, baik senyawa kovalen
maupun senyawa ion. Senyawa ion terbentuk melalui ikatan ion, yaitu ikatan yang terjadi
antara ion positif, yaitu atom yang melepaskan elektron dan ion negatif, yaitu atom yang
menangkap elektron. Akibatnya, senyawa ion yang terbentuk bersifat polar.
Ternyata unsur dan senyawa tersebut dapat bersatu karena gaya tarik-menarik antara
atom dan dapat disebut Ikatan Kimia. Dari kekuatan gaya tarik-menarik inilah menentukan
sifat-sifat kimia dari suatu zat. Cara ikatan kimia berubah jika suatu zat bereaksi digunakan
untuk mengetahui jumlah energi yang diserap selama terjadinya reaksi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, telah ditetapkan rumusan masalah
sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan ikatan kimia ?

Mengapa ikatan kimia begitu penting dalam kimia ?

Bagaimana bentuk ikatan kimia ?

1.3 Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, tujuan dibuatnya makalah ini adalah :
Mempelajari lebih dalam tentang ikatan kimia

BAB II
PEMBAHASAN
IKATAN KIMIA
1. Pengertian Ikatan Kimia
Antara dua atom atau lebih dapat saling berinteraksi dan membentuk molekul. Interaksi
ini selalu disertai dengan pelepasan energi. Adapun gaya-gaya yang menahan atom-atom
dalam molekul merupakan suatu ikatan yang dinamakan ikatan kimia. Ikatan kimia terbentuk
karena unsur-unsur cenderung membentuk struktur elektron stabil. Struktur elektron stabil
yaitu struktur elektron gas mulia ( Golongan VIII A ) Seperti dalam tabel 3.1 berikut.
Unsur
He
Ne
Ar
Kr
Xe
Rn

Nomor
Atom
2
10
18
36
54
86

2
2
2
2
2
2

8
8
8
8
8

8
18
18
18

8
18
32

8
18

Walter Kossel dan Gilbert Lewis pada tahun 1916 menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara stabilnya gas mulia dengan cara atom berikatan. Mereka mengemukakan
bahwa jumlah elektron terluar dari dua atom yang berikatan, akan berubah sedemikian rupa
sehingga susunan kedua elektron kedua atom tersebut sama dengan susunan gas mulia.
Kecenderungan atom-atom untuk memiliki struktur atau konfigurasi elektron gas mulia atau
8 elektron pada kulit terluar disebut kaidah Oktet.
Contoh: Br + Br
Br Br
Atau
Br - Br
Sementara itu, atom-atom yang mempunyai nomor atom kecil dari hidrogen sampai
dengan boron cenderung memiliki konfigurasi elektron gas helium atau
mengikuti kaidah Duplet.
Elektron yang berperan dalam reaksi kimia yaitu elektron pada kulit terluar atau
elektron valensi. Elektron valensi menunjukan kemampuan suatu atom untuk berikan dengan
atom lain. Contoh elektron valensi dari beberapa unsur dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 3.2 Elektron Valensi Beberapa Unsur
Susunan
Elektron
Unsur
elektron
valensi
C
2.4
4
6
2.6
6
8O
Mg
2.8.2
2
12
2.8.3
3
13Al
2.8.5
5
15P
2.8.7
7
17Cl

Unsur unsur dari golongan alkali dan alkali tanah, untuk menyamai kestabilan
cenderung melepaskan elektron terluarnya sehingga membentuk ion positif. Unsur unsur
yang mempunyai kecenderungan membentuk ion positif termasuk unsur elektropositif.
Unsur unsur dari golongan halogen dan khalkhogen mempunyai kecenderungan
menangkap elektron untuk mencapai kestabilan sehingga membentuk ion negatif. Unsur unsur yang demikian termasuk unsur elektronegatif.
A. Jenis-Jenis Ikatan Kimia
Ikatan kimia merupakan sebuah proses fisika yang bertanggungung jawab dalam gaya
interaksi tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa
diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Secara umum, ikatan kimia dapat digolongkan
menjadi dua jenis, yaitu:
1. IKATAN ANTAR ATOM
a. Ikatan ion = heteropolar
Ikatan ionik adalah sebuah gaya elektrostatik yang mempersatukan ion-ion
dalam suatu senyawa ionik. Ion-ion yang diikat oleh ikatan kimia ini terdiri dari kation
dan juga anion. Kation terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki energi ionisasi rendah
dan biasanya terdiri dari logam-logam alkali dan alkali tanah. Sementara itu, anion
cenderung terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi, dalam hal ini
unsur-unsur golongan halogen dan oksigen. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
ikatan ion sangat dipengaruhi oleh besarnya beda keelektronegatifan dari atom-atom
pembentuk senyawa tersebut. Semakin besar beda keelektronegatifannya, maka ikatan
ionik yang dihasilkan akan semakin kuat. Ikatan ionik tergolong ikatan kuat, dalam hal ini
memiliki energi ikatan yang kuat sebagai akibat dari perbedaan keelektronegatifan ion
penyusunnya. Pembentukan ikatan ionik dilakukan dengan cara transfer elektron. Dalam
hal ini, kation terionisasi dan melepaskan sejumlah elektron hingga mencapai jumlah
oktet yang disyaratkan dalam aturan Lewis.
Sifat-Sifat ikatan ionik adalah:
a. Bersifat polar sehingga larut dalam pelarut polar
b. Memiliki titik leleh yang tinggi
c. Baik larutan maupun lelehannya bersifat elektrolit
Contoh : Pembentukan NaCl

b. Ikatan kovalen = homopolar


Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang terbentuk dari pemakaian elektron
bersama oleh atom-atom pembentuk ikatan. Ikatan kovalen biasanya terbentuk dari unsurunsur non logam. Dalam ikatan kovalen, setiap elektron dalam pasangan tertarik ke dalam

nukleus kedua atom. Tarik menarik elektron inilah yang menyebabkan kedua atom terikat
bersama.
Ikatan kovalen terjadi ketika masing-masing atom dalam ikatan tidak mampu memenuhi
aturan oktet, dengan pemakaian elektron bersama dalam ikatan kovalen, masing-masing atom
memenuhi jumlah oktetnya. Hal ini mendapat pengecualian untuk atom H yang
menyesuaikan diri dengan konfigurasi atom dari yang tidak terlibat dalam ikatan kovalen
disebut elektron bebas. Elektron bebas ini berpengaruh dalam menentukan bentuk dan
geometri molekul.
Ada beberapa jenis ikatan kovalen yang semuanya bergantung pada jumlah pasangan
elektron yang terlibat dalam ikatan kovalen.
Ikatan tunggal merupakan ikatan kovalen yang terbentuk 1 pasangan elektron.
Contoh dari Ikatan Kovalen Tunggal, pembentukan molekul hidrogen :

(sumber: jejaringkimia.blogspot.com)
Ikatan rangkap 2 merupakan ikatan kovalen yang terbentuk dari dua pasangan
elektron. Contohnya pembentukan molekul O2

Ikatan rangkap 3 yang terdiri dari 3 pasangan elektron. Contohnya pembentukan


N2 (gas nitrogen).

Ikatan rangkap memiliki panjang ikatan yang lebih pendek daripada ikatan tunggal.
Selain itu terdapat juga bermacam-macam jenis ikatan kovalen lain seperti ikatan sigma, pi,
delta, dan lain-lain.
Senyawa kovalen dapat dibagi mejadi senyawa kovalen polar dan non polar. Pada
senyawa kovalen polar, atom-atom pembentuknya mempunyai gaya tarik yang tidak sama
terhadap elektron pasangan persekutuannya. Hal ini terjadi karena beda keelektronegatifan

antara atom-atom penyusunnya. Akibatnya terjadi pemisahan kutub positif dan negatif.
Sementara itu pada senyawa kovalen non-polar titik muatan negatif elekton persekutuan
berhimpit karena beda keelektronegatifan yang kecil atau tidak ada.
Contoh :

c. Ikatan kovalen koordinasi = semipolar


Ikatan kovalen koordinasi merupakan ikatan kimia yang terjadi apabila pasangan
elektron bersama yang dipakai oleh kedua atom disumbangkan oleh salah satu atom saja.
Sementara itu atom yang lain hanya berfungsi sebagai penerima elektron berpasangan saja.
Syarat-syarat terbentuknya ikatan kovalen koordinasi :
Salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas
Atom yang lainnya memiliki orbital kosong
Susunan ikatan kovalen koordinasi sepintas mirip dengan ikatan ion, namun kedua
ikatan ini berbeda oleh karena beda keelektronegatifan yang kecil pada ikatan kovalen
koordinasi sehingga menghasilkan ikatan yang cenderung mirip kovalen. Contohnya
Pembentukan NH4+

d. Ikatan Logam
Ikatan logam merupakan salah satu ciri khusus dari logam, pada ikatan logam
ini elektron tidak hanya menjadi miliki satu atau dua atom saja, melainkan
menjadi milik dari semua atom yang ada dalam ikatan logam tersebut. Elektronelektron dapat terdelokalisasi sehingga dapat bergerak bebas dalam awan elektron
yang mengelilingi atom-atom logam. Akibat dari elektron yang dapat bergerak
bebas ini adalah sifat logam yang dapat menghantarkan listrik dengan mudah.
Ikatan logam ini hanya ditemui pada ikatan yang seluruhnya terdiri dari atom
unsur-unsur logam semata. Contohnya :

sumber : mulyadit.wordpress.com
2. IKATAN ANTAR MOLEKUL
a. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom lain yang
mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari senyawa yang sama. Ikatan
hidrogen merupakan ikatan yang paling kuat dibandingkan dengan ikatan antar molekul lain,
namun ikatan ini masih lebih lemah dibandingkan dengan ikatan kovalen maupun ikatan ion.
Ikatan hidrogen ini terjadi pada ikatan antara atom H dengan atom N, O, dan F yang memiliki
pasangan elektron bebas. Hidrogen dari molekul lain akan bereaksi dengan pasangan elektron
bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi. Kekuatan ikatan
hidrogen ini dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan dari atom-atom penyusunnya. Semakin
besar perbedaannya semakin besar pula ikatan hidrogen yang dibentuknya.
Kekuatan ikatan hidrogen ini akan mempengaruhi titik didih dari senyawa tersebut.
Semakin besar perbedaan keelektronegatifannya maka akan semakin besar titik didih dari
senyawa tersebut. Namun, terdapat pengecualian untuk H2O yang memiliki dua ikatan
hidrogen tiap molekulnya. Akibatnya, titik didihnya paling besar dibanding senyawa dengan
ikatan hidrogen lain, bahkan lebih tinggi dari HF yang memiliki beda keelektronegatifan
terbesar. Contohnya :

sumber : achmadkimia.blogspot.com

b. Ikatan van der walls


Gaya Van Der Walls dahulu dipakai untuk menunjukan semua jenis gaya tarik
menarik antar molekul. Namun kini merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi
molekul menjadi dipol seketika. Ikatan ini merupakan jenis ikatan antar molekul yang
terlemah, namun sering dijumpai diantara semua zat kimia terutama gas. Pada saat tertentu,
molekul-molekul dapat berada dalam fase dipol seketika ketika salah satu muatan negatif
berada di sisi tertentu. Dalam keadaan dipol ini, molekul dapat menarik atau menolak
elektron lain dan menyebabkan atom lain menjadi dipol. Gaya tarik menarik yang muncul
sesaat ini merupakan gaya Van der Walls.
3. TEORI ORBITAL MOLEKUL
Teori Ikatan Valensi mampu secara kualitatif menjelaskan kestabilan ikatan kovalen
sebagai akibat tumpang-tindih orbital-orbital atom. Dengan konsep hibridisasi pun dapat
.sayangnya dalam beberapa kasus, teori ikatan valensi tidak dapat menjelaskan sifat-sifat
molekul yang tramati secara memuaskan. Contohnya adalah molekul oksigen, yang struktur
Lewisnya sebagai berikut.

Menurut gambaran struktur Lewis Oksigen di atas, semua elektron pada O2


berpasangan dan molekulnya seharusnya bersifat diamagnetik, namun kenyataannya, menurut
hasil percobaan diketahui bahwa Oksigen bersifat paramagnetik dengan dua elektron tidak
berpasangan. Temuan ini membuktikan adanya kekurangan mendasar dalam teori ikatan
valensi.
Sifat magnet dan sifat-sifat molekul yang lain dapat dijelaskan lebih baik dengan
menggunakan pendekatan mekanika kuantum yang lain yang disebut sebagai teori orbital
molekul (OM), yang menggambarkan ikatan kovalen melalui istilah orbital molekul yang
dihasilkan dari interaksi orbital-orbital atom dari atom-atom yang berikatan dan yang terkait
dengan molekul secara keseluruhan.
Menurut teori OM, tumpang tindih orbital 1s dua atom hidrogen mengarah pada
pembentukan dua orbital molekul, satu orbital molekul ikatan dan satu orbital molekul
antiikatan. Orbital molekul ikatan memiliki energi yang lebih rendah dan kestabilan yang
lebih besar dibandingkan dengan orbital atom pembentuknya. Orbital molekul antiikatan
memiliki energi yang lebih besar dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan dengan
orbital atom pembentuknya. Penempatan elektron dalam orbital molekul ikatan menghasilkan
ikatan kovalen yang stabil, sedangkan penempatan elektron dalam orbital molekul antiikatan
menghasilkan ikatan kovalen yang tidak stabil.

Dalam orbital molekul ikatan kerapatan elektron lebih besar di antara inti atom yang
berikatan. Sementara, dalam orbital molekul antiikatan, kerapatan elektron mendekati nol
diantara inti. Perbedaa ini dapat dipahami bila kita mengingat sifat gelombang pada elektron.
Gelombang dapat berinteraksi sedemikian rupa dengan gelombang lain membentuk
interferensi konstruktif yang memperbesar amplitudo, dan juga interferensi destruktif yang
meniadakan amplitudo.
Pembentukan orbital molekul ikatan berkaitan dengan interferensi konstruktif,
sementara pembentukan orbital molekul antiikatan berkaitan dengan interferensi destruktif.
Jadi, interaksi konstruktif dan interaksi destruktif antara dua orbital 1s dalam molekul H2
mengarah pada pembentukan ikatan sigma (1s) dan pembentukan antiikatan sigma (*1s).
4. HIBRIDISASI
Dalam kimia, hibridisasi adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atom
membentuk orbital hibrid yang baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif sifat ikatan
atom. Konsep orbital-orbital yang terhibridisasi sangatlah berguna dalam menjelaskan bentuk
orbital molekul dari sebuah molekul. Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari teori
ikatan valensi. Walaupun kadang-kadang diajarkan bersamaan dengan teori VSEPR, teori
ikatan valensi dan hibridisasi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan teori
VSEPR.
a. Sejarah perkembangan
Teori hibridisasi dipromosikan oleh kimiawan Linus Pauling, dalam menjelaskan
struktur molekul seperti metana (CH4). Secara historis, konsep ini dikembangkan untuk
sistem-sistem kimia yang sederhana, namun pendekatan ini selanjutnya diaplikasikan lebih
luas, dan sekarang ini dianggap sebagai sebuah heuristik yang efektif untuk merasionalkan
struktur senyawa organik.
Teori hibridisasi tidaklah sepraktis teori orbital molekul dalam hal perhitungan
kuantitatif. Masalah-masalah pada hibridisasi terlihat jelas pada ikatan yang melibatkan
orbital d, seperti yang terdapat pada kimia koordinasi dan kimia organologam. Walaupun
skema hibridisasi pada logam transisi dapat digunakan, ia umumnya tidak akurat.
Sangatlah penting untuk dicatat bahwa orbital adalah sebuah model representasi dari
tingkah laku elektron-elektron dalam molekul. Dalam kasus hibridisasi yang sederhana,
pendekatan ini didasarkan pada orbital-orbital atom hidrogen. Orbital-orbital yang
terhibridisasikan diasumsikan sebagai gabungan dari orbital-orbital atom yang bertumpang
tindih satu sama lainnya dengan proporsi yang bervariasi. Orbital-orbital hidrogen digunakan
sebagai dasar skema hibridisasi karena ia adalah salah satu dari sedikit orbital yang
persamaan Schrdingernya memiliki penyelesaian analitis yang diketahui. Orbital-orbital ini
kemudian diasumsikan terdistorsi sedikit untuk atom-atom yang lebih berat seperti karbon,
nitrogen, dan oksigen. Dengan asumsi-asumsi ini, teori hibridisasi barulah dapat
diaplikasikan. Perlu dicatat bahwa kita tidak memerlukan hibridisasi untuk menjelaskan
molekul, namun untuk molekul-molekul yang terdiri dari karbon, nitrogen, dan oksigen, teori
hibridisasi menjadikan penjelasan strukturnya lebih mudah.
Teori hibridisasi sering digunakan dalam kimia organik, biasanya digunakan untuk
menjelaskan molekul yang terdiri dari atom C, N, dan O (kadang kala juga P dan S).
Penjelasannya dimulai dari bagaimana sebuah ikatan terorganisasikan dalam metana.
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari sudut pandang sebuah atom.
Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara tetrahedal (seperti metana, CH4), maka
karbon haruslah memiliki orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom
hidrogen. Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1.

b.

Teori hibridisasi vs. Teori orbital molekul


Teori hibridisasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari kimia organik dan secara
umum didiskusikan bersama dengan teori orbital molekul dalam buku pelajaran kimia
organik tingkat lanjut. Walaupun teori ini masih digunakan secara luas dalam kimia organik,
teori hibridisasi secara luas telah ditinggalkan pada kebanyakan cabang kimia lainnya.
Masalah dengan teori hibridisasi ini adalah kegagalan teori ini dalam memprediksikan
spektra fotoelektron dari kebanyakan molekul, meliputi senyawa yang paling dasar seperti air
dan metana. Dari sudut pandang pedagogi, pendekatan hibridisasi ini cenderung terlalu
menekankan lokalisasi elektron-elektron ikatan dan tidak secara efektif mencakup simetri
molekul seperti yang ada pada teori orbital molekul.
c. Contoh hibridisasi dan tabelnya

Sumber : safi-tri.blogspot.com

Sumber : www.chem-is-try.org

Daftar Pustaka
James E. Brady, Kimia Universitas, Binarupa Aksara, 2002
Data yang diberikan oleh ibu Yeni Mulyani, Dosen Kimia Dasar
http://kimiaku.wordpress.com/materi-belajar/ikatan-kimia/
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia
http://kimlemoet.wordpress.com/2013/11/10/ikatan-kimia-kelas-x/
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/ikatan-kimia/ikatan-kimia/
http://fitritanasy.student.unidar.ac.id/2013/06/makalah-ikatan-kimia.html

Anda mungkin juga menyukai