Anda di halaman 1dari 5

PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK: EKSTRAKSI

Penulis: Gayatri Ayu Andari


NIM: 10513053
Kelas: K-01
Kelompok: 4
gayatriayuandari@yahoo.com
Abstrak
Ekstraksi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk proses pemisahan dengan cara pemindahan satu senyawa atau
lebih senyawa dari satu fasa ke fasa yang lain. Metode pemisahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstraksi cair-cair
pada asam asetat yang akan diperoleh fasa air dan organik serta ekstraksi asam basa pada campuran beberapa senyawa organik
sejumlah yang sama dan akan dihasilkan fasa asam, basa, dan netral. Tujuan praktek ini adalah memperoleh asam asetat dari
ekstraksi cair-cair, menentukan konsentrasi asam asetat awal dan setelah diekstraksi, menentukan masa serta titik leleh fasa asam,
basa, dan netral, dari ekstraksi asam basa.
Kata kunci: ekstraksi, fasa, asam, basa, organik

Abstract
Extraction is one of the methods used for the separation process by means of the transfer of a compound or compounds of one
phase to another phase. Separation method used in this experiment is a liquid extraction in acetic acid to get water phase and
organik phase, and an acid base extraction on a mix of organic compounds which have same number that will be generated
being acid, base, and neutral phase. The purpose of this practice is to obtain acetic acid from liquid-liquid extraction, determine
the initial concentration of acetic acid and after extracting, determining the mass and melting point of acid, base, and neutral
phase, after acid-base extracting.
Keywords: extraction, phase, acids, base, organic

1. PENDAHULUAN
Ekstraksi adalah metode pemisahan yang melibatkan
proses pemindahan satu atau lebih senyawa dari satu
fasa ke fasa lain dan didasarkan pada prinsip kelarutan.
Ekstraksi cair-cair merupakan suatu teknik yang mana
suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan
dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik) yang
pada hakekatnya tidak tercampurkan dan menimbulkan
perpindahan satu atau lebih zat terlarut ke dalam pelarut
yang kedua [1]. Dasar metode ekstraksi cair-cair adalah
distribusi senyawa diantara dua fasa cair yang berada
dalam kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi di
kedua fasa cair disebut koefisien distribusi, K, yaitu K=
Ca/Cb. Perpindahan senyawa terlarut dari satu fasa ke
fasa yang lain akhirnya mencapai keadaan setimbang
(pada suhu tertentu), maka K bisa ditentukan.
Ekstraksi padat cair, prinsip ekstraksi padat-cair
adalah adanya kemampuan senyawa dalam suatu
matriks yang kompleks dari suatu padatan, yang dapat
larut oleh suatu pelarut tertentu. Beberapa hal yang
harus diperhatikan untuk tercapainya kondisi optimum
ekstraksi antara lain: senyawa dapat terlarut dalam

pelarut dengan waktu yangsingkat, pelarut harus selektif


melarutkansenyawa yang dikehendaki, senyawa analit
memiliki konsentrasi yang tinggi untukmemudahkan
ekstraksi, serta tersedia metodememisahkan kembali
senyawa analit daripelarut pengekstraksi [3]. Suatu
materi padat dapat mengalami difusi kedalam larutan
hingga meningkatkan konsentrasi larutan tersebut.
Bahan teresktrak yang berada dalam matrik materi yang
inert,lambat laun akan terlarut dalam larutan, demikian
pula spesies pelarut akan terdistribusi dalam materi
padat
tersebut
hingga
mengalami
keadaan
kesetimbangan.
Ekstraksi asam-basa, ekstraksi yang menggunakan
reagen larutan asam dan basa untuk melakukan
pemisahan suatu senyawa. Larutan asam akan
bercampur dengan suatu senyawa dalam campuran
sampel dan membentuk fasa asam. Begitu juga dengan
larutan basa akan bercampur dengan senyawa lain yang
terdapat pada campuran sampel dan membentuk fasa
basa. Sedangkan senyawa yang tidak bereaksi dengan
reagen asam dan basa, maka akan membentuk fasa
netral atau fasa organik. Setelah terbentuk masingmasing fasa, maka pada fasa asam ditambahkan larutan
basa, dan pada fasa basa ditambahkan larutan asam

untuk menetralkan masing-masing fasa sehingga


terbentuk spesi senyawa seperti semula dalam bentuk
endapan.

2. METODE PERCOBAAN
2.1 Ekstraksi Cair-cair (Kelarutan)
Larutan asam asetat sebanyak 5 mL dimasukkan ke
dalam corong pisah 100 mL, kemudian diekstraksi satu
kali dengan 15 mL etil asetat. Setelah dikocok 1-2 kali
pada awal, kran corong pisah dibuka dengan posisi
terbalik. Corong pisah disimpan pada klem bundar
(klem cincin). Jika sudah terpisah, bagian bawah
dikeluarkan ke dalam Erlenmeyer dengan hati-hati, saat
mengeluarkan cairan, tutup corong pisah dibuka.
Larutan dalam fasa air dititrasi dengan larutan NaOH
0,3 M dan ditambahkan indicator fenolftalein.
Sebelumnya sudah dilakukan titrasi terlebih dahulu
terhadap 5 mL larutan asam asetat awal. Kemudian
dilakukan perhitungan konsentrasi terhadap larutan
konsentrasi asam asetat awal dan konsetrasi asam asetat
sesudah ekstraksi. Setelah itu dilakukan ekstraksi
terhadap 5 mL larutan asam asetat dalam air sebanyak
tiga kali masing-masing dengan 5 mL etil asetat, dan
asam asetat dalam fasa air dititrasi. Konsentrasi asam
asetat ditentukan.

2.2 Ekstraksi Asam-Basa: Pemisahan


Campuran Senyawa Organik Asam, Basa
dan Netral
Campuran padatan yang mengandung sejumlah
yang sama senyawa: (1) asam benzoat (C6H5CO2H); (2)
p-nitroanilin (NO2-C6H4NH2); dan naftalen (C10H8)
ditimbang sebanyak 0,2 g, kemudian dilarutkan di
dalam 2 mL diklorometana di dalam tabung reaksi
bertutup, dihangatkan di atas pemanas listrik jika perlu
untuk penyempurnaan larutan. Larutan NaOH 6 M
sebanyak 2 mL ditambahkan ke dalam tabung reaksi
tersebut, tabung reaksi ditutup dan diguncangkan
dengan kuat. Tutup tabung reaksi dibuka perlahan untuk
mengeluarkan tekanan dari dalam tabung akibat proses
pengguncangan, dan proses pengguncangan diulangi
beberapa kali. Tabung reaksi disimpan dalam rak dan
dibiarkan terjadi pemisahan 2 fasa secara sempurna.
Fasa organik dipindahkan menggunakan pipet tetes
secara perlahan ke dalam tabung reaksi kosong dan
bersih serta diberi label.Larutan basa juga dipindahkan
ke dalam tabung reaksi yang kosong dan bersih serta
diberi label.Fasa organik dipindahkan kembali ke dalam
tabung reaksi sempurna dan ditambahkan 2 mL larutan
NaOH 6 M serta dilakukan ekstraksi seperti
sebelumnya. Pemisahan fasa dilakukan, fasa larutan

basa digabungkan dengan larutan basa yang dihasilkan


dari proses sebelumnya.
Larutan HCl 6 M sebanyak 2 mL ditambahkan ke
dalam fasa organik di dalam tabung reaksi dan
dilakukan ekstraksi seperti sebelumnya.Fasa larutan
asam dipisahkan ke dalam tabung reaksi kosong dan
bersih.Proses ekstraksi
diulangi dengan cara
menambahkan larutan HCl 6 M sebanyak 2 mL ke
dalam fasa organik.Fasa larutan asam yang dihasilkan
pada proses ini digabungkan dengan fasa larutan asam
yang diperoleh pada proses ekstraksi sebelumnya. Fasa
organik dipindahkan dalam tabung reaksi yang kosong
dan bersih. Pada fasa organik tersebut ditambahkan 1
mL diklorometana, kemudian ditambahkan sedikit
garam natrium sulfat anhidrat untuk menghilangkan sisa
air yang mugkin ada,tabung digoyangkan hingga tidak
terbentuk emulsi. Cairan fasa organik dipisahkan dari
padatan garam meggunakan pipet tetes yang bagian
bawahnya disumbat dengan sedikit kapas, fasa organik
dimasukkan ke dalam tabung reaksi kosong dan
bersih.Sekarang terdapat fasa larutan basa, fasa larutan
asam, dan fasa organik.Fasa larutan basa didinginkan
dan dinetralkan dengan penambahan larutan HCl 6 M
tetes demi tetes sampai kertas lakmus berwarna merah
(atau terbentuk banyak endapan, sekitar 2-4 mL HCl).
Padatan disaring secara vakum menggunakan corong
Hirsch atau corong Bchner dan labu isap, serta dibilas
sedikit dengan air dingin. Padatan dipindahkan pada
kertas saring lain untuk dikeringkan dan ditentukan titik
lelehnya. Cara yang sama diulangi terhadap fasa larutan
asam, hanya untuk penetralan digunakan larutan NaOH
6 M. Padatan yang terbentuk disaring vakum,
dikeringkan, ditimbang dan ditentukan titik lelehnya.
Sedangkan untuk fasa organik, dilakukan penguapan
diklorometana pada penangas air di atas pemanas listrik
hingga volumenya berkurang (jangan sampai kering!).
Tabung reaksi diangkat dari penangas air dan
didinginkan pada suhu kamar, lalu dimasukkan ke
dalam penangas es agar terbentuk kristal.Kristal yang
terbentuk disaring vakum kemudian dikeringkan,
ditimbang dan ditentukan titik lelehnya.

2.3 Ekstraksi pelarut: Isolasi Trimiristin


dari pala (Demonstrasi oleh Asisten)
Pala yang sudah dipotong-potong atau diserbukkan
ditimbang 10 g dan dibungkus dengan kertas saring
menyerupai silinder dan diikat dengan tali benang
kasur. Bungkusan serbuk pala itu dimasukkan ke dalam
tabung Soxhlet. Perhatian: ukuran bungkusan pala tidak
boleh melampaui tinggi dari saluran pelarut pada tabung
Soxhlet!! Dimasukkan sekitar 40 mL n-heksana ke
dalam labu bundar yang dilengkapi batang pengaduk
magnet atau batu didih dan dipasang di atas pemanas
listrik berpengaduk magnet. Tabung Soxhlet dipasang di
atas labu berisi n-heksana dan kondensor dipasang di

atas tabung Soxhlet . Jangan lupa pasang selang air dan


nyalakan aliran air ke dalam kondensor yang sebaiknya
dibalut dengan selimut berisi es. Lakukan proses
Soxhletasi selama 30 menit. Setelah Soxhletasi,
tuangkan ekstrak dalam labu bundar ke dalam labu
bundar lain untuk didistilasi lebih lanjut (Anda harus
sudah merangkai peralatan distilasi pada saat menunggu
proses Soxhletasi). Lakukan distilasidi atas pemanas
listrik. Larutan ekstrak dikisatkan dengan cara distilasi
sampai terbentuk residu endapan. Pisahkan endapan
dengan penyaringan Buchner yang dilengkapi
pengisapan, cuci sekali dengan campuran aseton
metanol (1:1) dingin, lalu biarkan kristal kering.
Timbang hasil yang diperoleh, tentukan titik leleh dan
hitung rendemennya dalam pala.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1.Titrasi Asam Asetat dengan NaOH
0,3 M
Volum Asam
Asetat
5 mL asam asetat
(keadaan awal)

Volum
NaOH 0,3 M
13,25 mL

Konsentrasi (M)

5 mL asam asetat
(setelah diekstraksi
1 kali)

13,70 mL

0,822

5 mL asam asetat
(setelah diekstraksi
3 kali)

13,3 mL

0,798

0,795

Tabel 2. Masa Fasa dan Titik Leleh dari


Ekstraksi
Masa campuran awal = 0,214 gr
Fasa
Masa (gr)
Fasa Asam
0,019

Titik Leleh (C)


147-150

Fasa Basa

0,033

122-124

Fasa Organik

0,016

85-90

Pada percobaan ekstraksi cair-cair (kelarutan),


sebelum asam asetat diekstraksi, konsetrasi awal dari
asam asetat ditentukan dengan cara mentitrasi asam
asetat dengan larutan NaOH 0,3 M dan indikator
fenolftalein. Volume asetat yang digunakan 5 mL dan
volume NaOH 0,3 M yang diperlukan adalah 13,35 mL,
melalui perhitungan menggunaka persamaan:
Mol asam=Mol basa
Ma.Va = Mb.Vb

Sehingga diperoleh konsentrasi asam asetat awal adalah


0,795 M. Saat sudah diekstraksi satu kali dengan etil
asetat dan dititrasi dengan larutan NaOH 0,3 M,
diperoleh volume NaOH 0,3 M adalah 13,70 mL
sehingga diperoleh konsentrasi asam asetat 0,822 M.
Sedangkan pada saat sudah diekstraksi tiga kali dan
kemudian dilakukan titrasi dengan larutan NaOH 0,3 M,
diperoleh volume NaOH 0,3 M adalah 13,3 mL
sehingga diperoleh konsentrasi asam asetat 0,798 M.
Dari hasil konsentrasi yang diperoleh dapat
dibandingkan bahwa nilai konsentrasi sesudah ekstraksi
sebanyak tiga kali lebih mendekati dengan konsentrasi
asam asetat awal, sehingga melakukan ekstraksi lebih
dari satu kali akan memberikan hasil yang lebih efektif
dan mendekati dengan konsentrasi aslinya. Selain itu
diperoleh juga konsentrasi yang mendekati dengan
senyawa yang awal.Asam asetat glasial yang diekstraksi
tidaklah murni mengandung senyawa asam asetat. Di
dalam asam asetat tersebut bisa terkandung senyawasenyawa organik lainnya. Dengan adanya ekstraksi caircair, maka asam asetat akan tertarik dalam pelarut air
yang bersifat polar, sedangkan untuk senyawa-senyawa
organik yang kurang polar akan tertarik oleh pelarut etil
asetat yang sifat kepolaran lebih kecil dibandingkan
dengan air. Semakin banyak pengulangan ekstraksi,
maka senyawa-senyawa organik lain yang ikut
tercampur dalam asam asetat glasial semakin banyak
yang terbawa dalam pelarut yang kurang polar, yaitu etil
asetat. Apabila tidak dilakukan ekstraksi berulang kali,
senyawa-senyawa organik lain dapat dianggap sebagai
pengotor dan dapat mempengaruhi konsetrasi dari asam
asetat tersebut.
Untuk percobaan yang kedua, yaitu ekstraksi asambasa. Ekstraksi asam-basa ini dilakukan untuk
memisahkan senyawa organik, yaitu campuran padatan
dengan perbandingan yang sama: (1) asam benzoat
(C6H5CO2H); (2) p-nitroanilin (NO2-C6H4NH2); dan
naftalen (C10H8). Dalam ekstraksi asam-basa akan
diperoleh 3 fasa, yaitu fasa asam, fasa basa, dan fasa
netral yaitu fasa organiknya. Setelah dilarutkan dalam
diklorometana dan dipanaskan, maka tahap pertama
adalah penambahan NaOH 6 M, yang mana akan
membentuk fasa organik dan fasa basa. Selain itu tujuan
penambahan NaOH 6 M diawal adalah untuk
mendeprotonasi asam benzoat sehingga nantinya akan
terbentuk garam benzoat yang akan larut dalam fasa cair
Untuk menetralkan fasa basa yang diperoleh maka
ditambahkan larutan asam, yaitu larutan HCl 6 M tetes
demi tetes dan akan terbentuk endapan. Endapan yang
terbentuk dikeringkan dengan corong vakum dan
diperoleh masa fasa basa sebesar 0,033 gram. Selain itu
ditentukan titik leleh dari endapan yang dibentuk
sebesar 122-124C.
Kemudian fasa organik yang diperoleh dari ekstraksi
pertama ditambahkan larutan asam, yaitu HCl 6 M.
Tujuan penambahan HCl 6 M pada fasa organik ini

adalah untuk memdeprotonasi p-nitroanilin sehingga pnitroanilin dapat berubah dalam bentuk garamnya dan
berada larut di dalam fasa cair. Setelah ditambahkan
akan terbentuk dua fasa, yaitu fasa asam dan fasa netral
atau fasa organiknya. Pada fasa asam untuk
menetralkannya ditambahkan NaOH 6 M. setelah
penambahan larutan basa pada fasa asam, maka akan
terbentuk endapan. Endapan yang bercampuran dengan
larutan akan disaring dengan corong vakum. Dari
penyaringan ini diperoleh masa dari fasa asam sebesar
0,019 gram. Titik leleh dari endapan fasa asam
diperoleh sekitar 147-150C.
Untuk fasa organik yang terakhir, dilakukan
penguapan diklorometana, kemudian dilakukan
pembentukan kristal setelah proses penguapan dan
pendingin dengan cara diletakkan di dalam penangas es.
Dari percobaan ini diperoleh masa dari kristal fasa
organik seberat 0,016 gram. Titik leleh dari kristal
adalah sekitar 85-90C.
Berdasarkan titik leleh dari fasa asam, fasa basa, dan
organik atau fasa netral yang diperoleh maka dapat
ditentukan senyawa apa yang menjadi fasa asam, fasa
basa dan fasa netral atau organik dari campuran padatan
yang awal, dengan cara membandingkan antara titik
leleh yang diperoleh dengan titik leleh pada literatur.
Titik leleh untuk asam benzoat adalah 122,4C; titik
leleh untuk p-nitroanilin adalah 148,5C; dan titik leleh
untuk naftalen adalah 80,2C [2]. Maka dengan
membandingkan titik leleh yang ada, diperoleh hasil
bahwa fasa asam adalah senyawa p-nitroanilin, fasa
basa adalah senyawa asam benzoat, dan fasa organik
atau netral adalah naftalen. Naftalen dikatakan sebagai
netral karena tidak bereaksi dengan asam maupun basa
yang digunakan sebagai reagen dalam ekstraksi asam
dan basa. Asam benzoat dikatakan sebagai fasa basa
karena saat pertama kali ditambahkan dengan NaOH 6
M (reagen yang bersifat basa), senyawa ini yang tertarik
oleh larutan NaOH 6M. Sedangkan p-nitroanilin
dikatakan sebagai fasa asam karena saat ditambahkan
dengan HCl 6 M, p-nitroanilin yang tertarik oleh reagen
asamnya.
Tujuan penambahan HCl 6 M pada larutan fasa basa
dan penambahan NaOH 6 M pada larutan fasa asam
adalah untuk mendapatkan spesi awal, yaitu asam
benzoat dan p-nitroanilin yang dihasilkan berupa
endapan.
Namun, titik leleh pada fasa organik, yaitu naftalen
pada literatur tidak berada pada rentang titik leleh hasil
percobaan. Selain itu melalui perhitungan persen
kesalahan diperoleh kesalahan dalam titik leleh yang
diperoleh sebesar 6%.Hal ini dapat disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu:
1. Masih terdapat pengotor dalam kristal naftalen yang
terbentuk.
2. Kesalahan paralaks dalam pengukuran titik leleh
menggunakan alat yang terdapat pada laboratorium.

Selain itu dengan mengetahui masa yang diperoleh


oleh masing-masing fasa, maka dapat diperoleh kadar
dari asam benzoat, p-nitroanilin, dan naftalen yang
berada dalam campuran senyawa tersebut. Persentase
kadar masing-masing fasa dapat dicari dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:

%=
x 100%
Sehingga
diperoleh kadar dari masing-masing
fasa
dalam sampel/campuran sebanyak 0,214 gram adalah

1. Fasa asam (p-nitroanilin) kadarnya 8,88%


2. Fasa basa (asam benzoat) kadarnya 15,42%
3. Fasa netral (naftalen) kadarnya 7,48%
Berdasarkan hasil persentase kadar masing-masing
senyawa yang kecil dalam sampel campuran, dapat
diakibatkan oleh beberapa kesalahan, antara lain:
(a) Kondisi reagen yang digunakan sudah tidak murni
lagi/sudah terkontaminasi zat lainnya. Dalam campuran
senyawa tersebut masih terdapat pengotor. Karena
endapan yang terbentuk hanya disaring menggunkan
corong vakum. Setelah endapan terbentuk, tidak
dilakukan rekristalisasi yang mana kemurnian spesi
yang terbentuk lebih besar.
(b) Kesalahan saat penimbangan atau pengukuran
reagen atau zat yang digunakan saat percobaan
(c) Saat mengektraksi, larutan fasa organik dan fasa
cair belum benar-benar terpisah dengan baik tetapi
sudah dikeluarkan
(d) Kebersihan alat-alat yang digunakan saat percobaan
tidak baik
(e) Masih terdapat beberapa endapan dari masingmasing senyawa yang masih menempel pada kertas
saring atau menempel pada tabung reaksi karena tidak
dilakukan pembilasan dengan bersih.
Dari hasil persentase kadar yang diperoleh maka
didalam sampel campuran masih lebih banyak bahanbahan pengotor yang merupakan senyawa-senyawa lain
yang tercampur dalam campuran senyawa.
Pada percobaan yang ketiga, yaitu isolasi trimiristin
dari pala hanya dijelaskan oleh asisten praktikum
mengenai cara kerja ekstraksi menggunakan metode
soxhletasi. Pala yang akan diekstraksi dengan metode
soxhletasi harus dihaluskan terlebih dahulu dengan cara
dipotong-potong atau diserbukkan. Tujuan dari hal
tersebut untuk mempercepat proses ekstraksi, karena
luas permukaannya lebih besar, jadi laju reaksi lebih
cepat berjalan. Kemudian dilakukan pembungkusan
dengan kertas saring yang bertujuan agar sampel tidak
ikut turun ke dalam labu alas bundar ketika diekstraksi.
Prinsip kerja utama dalam metode ektraksi soxhlet
adalah ektraksi yang kontinyu. Maksud dari ekstraksi
kontinyu ini adalah ekstraksi terhadap senyawa yang
ingin diambil pada pala dengan terus menerus sampai

semua senyawa yang ingin diperoleh tidak terdapat lagi


di dalam pala, namun terkumpul dalam labu bulat
tempat untuk menampung hasil ekstraksi. Pelarut nheksana akan membawa senyawa pada pala yang
memiliki kepolaran yang hampir sama atau sama
dengan larutan n-heksana. Pada ekstraksi soxhlet ini
harus digunakan pelarut yang mudah menguap dan juga
digunakan hanya untuk senyawa yang tahan dengan
panas, oleh karena itu digunakan n-heksana sebagai
pelarut dalam percobaan ini. Untuk percobaan soxhlet
tidak dilakukan penimbangan masa senyawa yang
terdapat dalam sampel pala dan pengukuran titik leleh.

4. KESIMPULAN
Dari percobaan ini, diperoleh konsentrasi asam asetat
awal 0,795 M, sedangkan saat asam asetat diekstraksi
sebanyak 1 kali diperoleh konsentrasi asam asetat 0,822
M dan saat diekstraksi sebanyak 3 kali diperoleh
konsentrasi asam asetat 0,798 M. Dari pemisahan
senyawa organik diperoleh fasa asam dengan masa
0,019 gr dan titik lelehnya 147-150 C yaitu pnitroanilin, fasa basa dengan masa 0,033 gr dan titik
lelehnya 122-124 C yaitu asam benzoat, fasa organik
dengan masa 0,016 gr dan titik lelehnya 85-90 C yaitu
naftalen. Kadar masing-masing fasa dalam sampel
adalah (1 )Fasa asam (p-nitroanilin) kadarnya 8,88% (2)
Fasa basa (asam benzoat) kadarnya 15,42% (3)Fasa
netral (naftalen) kadarnya 7,48%.

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT.
Penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada
dosen pengawas Laboratorium Kimia Organik ITB, Dr.
Deana Wahyuningrum, S.Si, M.Si. Penulis juga
berterimakasih kepada para asisten praktikum Kimia
Organik, dan kepada teman-teman Jurusan Kimia ITB
2013 terutama Ni Luh Putu Ananda Saraswati sebagai
partner dalam praktikum organik dan teman-teman
kelompok 4 yang telah membantu penulis selama
melakukan percobaan dan dalam diskusi.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Bassett,J.,dkk. 1994. BUKU AJAR VOGEL KIMIA
ORGANIK ANALISIS KUANTITATIF ANORGANIK.
(diterjemahkan oleh: Dr.A.Hadyama Pudjaatmaka dan
Ir. L. Setiono). Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Halaman 165.
[2] Anonim. Material Data Sheet (MSDS) List. (online).
Diakses
pada
tanggal
15
Oktober
2014.
https://www.sciencelab.com/msdsList.php

[3] Jurnal ILMU DASAR, Vol. 12 No. 1, Januari 2011:


13-22 diakses dari http://jurnal.unej.ac.id