Anda di halaman 1dari 21

TUGAS BIOKIMIA I

KALSIUM

Disusun oleh:
Arif Novan

(KA 2012/12030234001)

Aulia Cita S.

(KA 2012/12030234222)

Ruwanti Dewi C. N. (KB 2012/12030234216)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2014

1. Kalsium Sebagai Mineral Makro


Fungsi utama mineral dalam tubuh organisme antara lain pembentukan
struktur rangka, memelihara sistem koloid (tekanan osmotik, viskositas, difusi)
dan regulasi keseimbangan asam basa. Mineral dibagi dalam beberapa
golongan, yaitu mineral makro, mineral mikro, dan mineral trace atau mineral
ultratrace.
Kalsium termasuk mineral makro. Tubuh kita mengandung lebih banyak
kalsium daripada mineral lain. Diperkirakan 2% berat badan orang dewasa atau
sekitar 1,0 1,4 kg terdiri dari kalsium. Sekitar 99% dari kalsium dalam tubuh
berada

di

tulang

dan

gigi

dalam

bentuk

kristal

hidroksiapatit

[3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2], dan 1% sisanya berada dalam bentuk ion pada cairan


intraseluler dan ekstraseluler, terikat dengan protein dan membentuk kompleks
dengan ion organik, seperti sitrat, fosfat dan bikarbonat.
Di dalam cairan ekstraselular dan intraselular kalsium memegang peranan
penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi
otot, penggumpalan darah dan menjaga permebilitas membran sel. Kalsium
juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan
Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma
pada konsenterasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l (9-10,4 mg/100ml). Densitas
tulang berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan
menurun secara berangsur setelah dewasa.

Gambar 1 Struktur hidroksiapatit

2. Macam-macam Kalsium

Kalsium Urin
Kalsium urin adalah kalsium yang berada di dalam urine yang berasal
dari pengendapan garam kalsium di dalam rongga ginjal, saluran ginjal atau
kandung kemih yang berbentuk kristal yang tidak dapat larut. Eksresi
kalsium dalam urin berbeda-beda menurut konsentrasi kalsium dalam serum
dan isi kalsium dalam seluruh tubuh. Apabila kalsium dalam makanan
ditingkatkan, eksresi juga meningkat. Namun mengurangi kalsium tidak
banyak berpengaruh terhadap banyaknya kalsium dalam urin.

Kalsium darah
Kalsium darah merupakan kalsium yang berada dalam darah dan
jaringan lunak. Kadar kalsium dalam darah dan cairan sekitar sel (cairan
ekstraseluler) harus dikontrol dalam batas kadar yang sempit untuk
mendapatkan fungsi fisiologinya yang normal. Fungsi fisiologi dari kalsium
begitu penting dalam mempertahankan hidup sehingga tubuh akan
melakukan proses demineralisasi tulang untuk memelihara kadar kalsium
dalam darah, jika konsumsi kalsium tidak mencukupi.
Kadar kalsium dalam sirkulasi darah kira-kira konstan sekitar 10
mg/100mL dan kalaupun bervariasi tidak sampai 10%. Kurang dari 50%
kalsium darah dan cairan lainnya berada dalam bentuk ion bebas. Sekitar
dalam jumlah yang sangat sedikit merupakan ikatan komplek dengan asam
organik seperti sitrat atau asam anorganik seperti sulfat dan phospat.
3. Homeostasis Kalsium
Homeostasis kalsium yang efektif penting dalam banyak proses biologis,
termasuk metabolisme tulang, poliferasi sel, koagulasi darah, hormonal
signalig transduction dan fungsi neuromuscular. Keseimbangan kalsium
dipertahankan oleh tiga organ utama yaitu sistem gastrointestinal, tulang, dan
ginjal. Sistem gastrointestinal menjaga homeostasis kalsium dengan mengatur
absorpsi kalsium melalui sel-sel gastrointestinal.

Sistem umpan balik negatif yang melibatkan dua hormon yaitu kalsitonin
dan hormon paratiroid atau PTH. Kedua hormon tersebut mempertahankan
konsentrasi kalsium dalam darah di dalam kisaran yang sangat sempit, yaitu
sekitar 10 mg/100 mL. Keempat kelenjar paratiroid yang menempel pada
permukaan tiroid, berfungsi dalam homeostasis ion kalsium.
Keempat kelenjar itu mensekresi hormon paratiroid (parathyroid hormone,
PTH), yang menaikkan kadar kalsium dalam darah, dan dengan demikian
mempunyai pengaruh yang berlawanan dengan hormon kalsitonin yang
dihasilkan oleh kelenjar tiroid.

Gambar 2 Kelenjar tiroid dan kelenjar paratiroid


Hormon paratiroid meningkatkan Ca2+ dengan merangsang reabsorpsi Ca2+
di ginjal dan dengan cara penginduksian sel-sel tulang sejati khusus yang
disebut osteoklas untuk merombak matriks bermineral pada tulang sejati dan
melepaskan Ca2+ ke dalam darah. Kadar kalsium darah mulai meningkat ketika
sel-sel target di ginjal, usus dan tulang sejati merespon hormon paratiroid.
Kalsium darah akan naik hanya sejauh sebelum tiroid melawan dan
menghambat dengan cara mensekresikan kalsitonin.

Sedangkan kalsitonin mempunyai pengaruh yang berlawanan pada


tulang sejati dan ginjal, sehingga menurunkan Ca 2+ darah. Kedua hormon

tersebut

akan

menyeimbangkan

pengaruh

masing-masing,

sehingga

meminimalkan fluktuasi konsentrasi Ca2+ darah.


Vitamin D disintesis dalam bentuk inaktif oleh kulit yang terpapar ke
cahaya matahari, dan memainkan peranan penting dalam homeostasis kalsium.
Vitamin D dibawa dalam darah dan diubah menjadi bentuk aktifnya pada
banyak jaringan seperti hati dan ginjal. Bentuk aktif itu membuat hormon
paratiroid mampu untuk meningkatkan pengambilan Ca2+ oleh usus.
Kekurangan hormon paratiroid menyebabkan kadar kalsium darah turun
secara dramatis yang menyebabkan kontraksi berlebihan otot rangka. Jika tidak
diperbaiki, kondisi ini yang dikenal sebagai tetanus, sangat fatal. Sedangkan,
apabila kelebihan hormon ini akan berakibat berakibat kadar kalsium dalam
darah meningkat, hal ini akan mengakibatkan terjadinya endapan kapur pada
ginjal. Pengontrolan kadar kalsium darah merupakan salah satu contoh
bagaimana homeostasis seringkali dipertahankan dengan cara penyeimbangan
dua hormon yang saling berlawanan, dalam hal ini adalah hormon paratiroid
dan kalsitonin.

Gambar 3 Kontrol hormonal homeostasis kalsium pada mamalia.


4. Absorpsi dan Eksresi Kalsium

Absorpsi kalsium di usus halus dapat melalui 2 mekanisme, yaitu aktif dan
pasif. Transpor kalsium aktif terjadi terutama di duodenum dan proximal
jejunum, sementara transpor pasif terjadi pada seluruh usus halus. Transpor
aktif terjadi saat asupan kalsium rendah. Transpor aktif diatur melalui 1,25dihidroksi vitamin D dan reseptor usus. Duodenum adalah tempat absorpsi
kalsium yang paling efisien karena dapat mengambil kalsium bahkan pada
keadaan diet sangat rendah kalsium melalui mekanisme aktif, juga memiliki
seluruh komponen bagi transpor kalsium melalui jalur transcellular dan
paracellular.
Jumlah absorpsi tergantung dari asupan, usia manusia, hormon vitamin D,
kebutuhan tubuh akan kalsium, diet tinggi protein dan karbohidrat serta derajat
keasaman yang tinggi. Asupan kalsium tidak boleh melebihi 2500 mg/hari.
Manusia dewasa mengkonsumsi kalsium sekitar 500-1200 mg sehari. Absorpsi
kalsium bervariasi, antara 10-60% dan pada manusia kurang lebih 175 mg/hari.
Jumlah ini menurun seiring dengan peningkatan usia dan meningkat ketika
kebutuhan akan kalsium meningkat sementara asupan sedikit. Usus hanya
mampu menyerap 500-600 mg kalsium sehingga pemberian kalsium harus
dibagi dengan jarak 5-6 jam. Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat berada
dalam keadaan terlarut. Absorpsi terjadi dalam usus halus melalui mekanisme
yang

terutama

dikontrol

oleh

calcitropic

hormones

(1,25-

dihydroxycholecalferol vitamin D3 (1,25-(OH)2 D3) dan parathyroid hormone


(PTH)).
Untuk

mempertahankan

keseimbangan

kalsium,

ginjal

harus

mengeksresikan kalsium dalam jumlah yang sama dengan kalsium yang


diabsorpsi dalam usus halus. Tulang tidak hanya berfungsi sebagai penopang
tubuh

namun

juga

menyediakan

sistem

pertukaran

kalsium

untuk

menyesuaikan kadar kalsium dalam plasma dan cairan ekstraseluler. Kurang


lebih 90% kalsium yang masuk akan dikeluarkan melalui feses dan sebagian
kecil melalui urin, sekitar 200 mg/hari untuk mempertahankan kadar normal
dalam tubuh.

Gambar 4 Absorbsi kalsium antara berbagai jaringan yang berbeda


pada saat orang mengkonsumsi 1000 mg kalsium per hari.
Penyerapan usus dan ekskresi kalsium melalui tinja. Biasanya asupan
kalsium sekitar 1000 mg/setiap hari, misalnya jumlah dalam 1 liter susu.
Kation divalen seperti ion kalsium yang kurang diserap dari usus, namun
vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium oleh usus, dan sekitar 35% (350
mg/hari) dari kalsium yang tertelan akan diserap; kalsium yang tersisa dalam
usus diekskresikan dalam feses. 25% (250 mg tambahan/hari) kalsium
memasuki usus melalui gastrointestinal juices dan sel-sel mukosa yang
terkelupas untuk disekresikan. Dengan demikian, sekitar 90% (900 mg/hari)
dari asupan harian kalsium diekskresikan dalam feses (Gambar 2).
Sekitar 10% (100 mg/hari) dari kalsium yang tertelan diekskresikan
dalam urin. Sekitar 41 persen dari kalsium plasma terikat pada protein plasma
dan

karena

itu

tidak

disaring

oleh

kapiler

glomerulus.

Sisanya

dikombinasikan dengan anion seperti fosfat (9%) atau terionisasi (50%) dan
disaring melalui glomerulike dalam tubulus ginjal.
Tubulus ginjal menyerap kembali 99% dari kalsium yang telah
disaring oleh glomeruli, dan sekitar 100 mg/hari diekskresikan dalam urin.
Sekitar 90% dari kalsium dalam filtrat glomerular diserap kembali di tubulus
proksimal, lengkung Henle, dan tubulus distal awal. Kemudian pada akhir

tubulus distal dan duktus pengumpul awal, reabsorbsi sisanya 10% sangat
selektif, tergantung pada konsentrasi ion kalsium dalam darah.
5. Faktor-faktor yang Meningkatkan Absorpsi Kalsium
Banyak faktor mempengaruhi absorpsi kalsium. Kalsium hanya bisa
diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut-air dan tidak mengendap karena
unsur makanan lain, seperti oksalat. Peningkatan kebutuhan terjadi pada
pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defesiensi kalsium dan tingkat aktivitas
fisik yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi
mempengaruhi absorpsi kalsium.
Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium
melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi pada
mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein pengikat kalsium.
Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang
dikeluarkan lambung membantu absorpsi kalsium dengan cara menurunkn pH
di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu meningkatkan pH saluran
cerna, dengan demikian membantu absorpsi.
Aktivitas

fisik

berpengaruh

terhadap

absorpsi

kalsium.

Laktosa

meningkatkan absorpsi bila tersedia cukup enzim laktase. Sebaliknya, bila


terdapat defesiensi laktase, laktosa mencegah absorpsi kalsium. Lemak
meningkatkan waktu transit makanan melalui saluran cerna, dengan demikian
memberi waktu lebih banyak untuk absorpsi kalsium.
Kalium bekerja berlawanan dengan natrium. Kalium membantu absorpsi
kalsium dalam tubuh yaitu mengurangi kalsium lewat urin.
6. Faktor-faktor yang Menghambat Absorpsi Kalsium
Beberapa faktor yang dapat menghalangi penyerapan kalsium adalah
adanya zat organik yang dapat bergabung dengan kalsium dan membentuk
garam yang tidak larut. Contoh dari senyawa tersebut adalah asam oksalat
(oxalic acid) dan asam fitat (phytic acid).
Protein terutama protein hewani dan natrium dapat menurunkan absorpsi
kalsium melalui urin. Setiap penambahan 1 g natrium akan menyebabkan

penambahan kehilangan 26,3 mg kalsium dan setiap penambahan 1 g protein


menyebabkan kehilangan 1,75 mg kalsium.
Asam oksalat yang terdapat dalam bayam, sayuran lain dan kakao
membentuk garam kalsium oksalat yang tidak larut dan sulit diabsorpsi,
sehingga menghambat absorpsi kalsium.
Asam fitat, ikatannya yang mengandung fosfor yang terutama terdapat di
dalam sekam serealia, membentuk kalsium fosfat yang juga tidak dapat larut
dan tidak dapat dipisahkan dalam usus dan tidak dapat diabsorpsi.
Selain itu, kosumsi tinggi serat dapat menurunkan absorpsi kalsium,
diduga karena serat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran cerna
sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi. Rasio konsumsi kalsium
fosfor agar dapat dimanfatkan secara optimal dianjurkan adalah 1:1 dalam
makanan, konsumsi fosfor yang lebih tinggi dapat mengahambat absorpsi
kalsium karena fosfor dalam suasana basa membentuk kalsium fosfat yang
tidak larut air.
Faktor

lain

yang

dapat

menghambat

absorpsi

kalsium

adalah

ketidakstabilan emosional yang dapat mempengaruh efesiensi absorpsi


kalsium, seperti stres, tekanan, dan kecemasan. Kurangnya latihan fisik atau
olahraga seperti jarang berjalan atau pada orang yang kurang bergerak karena
sakit atau terbaring dalam waktu lama dapat menyebabkan kehilangan kalsium
tulang 0,5 % setiap bulan dan mengurangi kemampuan untuk menggantinya.
Kekurangan vitamin D dalam bentuk aktif juga dapat menghambat absorpsi
kalsium, karena Vitamin D mampu meningkatkan absorbsi kalsium.
Faktor lain dalam makanan seperti adanya asam pitat yang dapat
menurunkan absorbsi, kemudian adanya pembentukan garam yang tidak larut,
contohnya

asam

oksalat.

Kelenjar

paratiroid

menghasilkan

hormon

parathormon (PTH) untuk mengatur dan mengontrol kadar kalsium dan fosfat
dalam darah.

7.

Kalsium dalam Plasma dan Cairan Interstitial

Gambar 5 Distribusi kalsium (Ca2+) yang terionisasi, terdifusi tetapi tidak


terionisasi dan dikombinasikan dengan anion plasma dan cairan interstitial
dan kalsium yang dikombinaksikan dengan protein plasma yang tidak
terdifusi melauli membran kapiler.
Kalsium dalam plasma ada dalam tiga bentuk, seperti yang
ditunjukkan pada gambar diatas. (1) 41% (1mmol/L) kalsium yang
dikombinasikan dengan protein plasma dan dalam bentuk ini tidak
didifusikan melalui membran kapiler. (2) 9% dari kalsium (0,2 mmol/L)
adalah terdifusi melalui membran kapiler tetapi dikombinasikan dengan zat
anion plasma dan cairan interstitial (misalnya, sitrat dan fosfat), tidak
terionisasi. (3) 50% dari kalsium dalam plasma adalah baik didifusi melalui
membran kapiler dan terionisasi.
Dengan demikian, plasma dan cairan interstitial memiliki konsentrasi
ion kalsium yang normal sekitar 1,2 mmol/L (atau 2,4 mEq/L, karena
merupakan ion divalen). Kalsium ionik ini adalah bentuk yang penting bagi
sebagian besar fungsi kalsium dalam tubuh, termasuk pengaruh kalsium pada
jantung, sistem saraf, dan pembentukan tulang.

8.

Kebutuhan Kalsium dalam Tubuh


Absorbsi dan eksresi kalsium terjadi di usus halus. Absorbsi kalsium
dapat terjadi secara maksimum sekitar 30%-50% pada usia pertumbuhan dan
menurun pada usia tua. Asupan kalsium yang cukup dapat membantu
melindungi tulang sepanjang hidup kita. Pada anak-anak dan remaja, asupan
kalsium yang cukup dapat membantu memproduksi massa tulang yang lebih
tinggi. Massa tulang yang maksimum yang pernah dicapai seseorang biasanya
saat berusia 25 tahun. Pada orang dewasa (sampai awal empat puluhan),
asupan kalsium yang cukup dapat membantu mempertahankan kepadatan
tulang, khususnya di bagian pinggul, tempat sebagian besar pengeroposan
terjadi. Di kalangan wanita pramenopause, pascamenopause dan tua, asupan
kalsium yang cukup dapat mengurangi laju pengeroposan tulang meskipun
tidak benar-benar mencegah pengeroposan tulang.
Manusia
Bayi
Anak-anak
Remaja
Dewasa
Hamil dan menyusui
Wanita menopause

Kebutuhan kalsium
300-400 mg/hari
500 mg/hari
600-700 mg/hari
500-800 mg/hari
400 mg/hari
1200-1500 mg/hari

Tabel 1 Angka kebutuhan kalsium manusia


Pada umumnya kalsium yang dibutuhkan setiap hari berkisar antara
800 mg hingga 1200 mg, tetapi kebutuhan tersebut berbeda pada setiap jenis
kelamin dan golongan umur. Meskipun pada bayi kalsium hanya sedikit (25
30g), setelah usia 20 tahun secara normal akan terjadi penempatan sekitar
1200 g kalsium dalam

tubuhnya. Penyerapan kalsium sangat bervariasi

bergantung umur dan kondisi badan. Tingkat kecukupan kalsium dapat pula
dikategorikan berdasarkan tingkat konsumsi zat gizi makro dan mikro. Zat
gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan air. Sedangkan
kelompok zat gizi mikro terdiri atas vitamin dan mineral.

Waktu manusia memasuki fase menopause indung telur (ovari)


berhenti memproduksi hormon estrogen, ternyata estrogen mempunyai
peranan penting. Hormon paratiroid (parathyroid hormon, PTH) merupakan
polipeptida yang disekresi oleh kelenjar paratiroid yang terletak di daerah
leher, di belakang lobus kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid berbedabeda sesuai dengan konsentrasi kalsium yang mengadakan perfusi ke kelenjar
paratirod. Hormon paratiroid menyebabkan reabsorbsi kalsium dari tulang,
sedangkan ekskresi kalsium lewat ginjal ditekan, maka kadar kalsium darah
meningkat.
Kalsium semakin dibutuhkan Ibu hamil saat memasuki trimester III
kehamilan, pada masa inilah janin mulai tumbuh dengan pesat, terutama
untuk pembentukan tulang dan giginya. Kebutuhannya sekitar 1.200 - 1500
mg per hari (sama dengan mengkonsumsi 2 gelas susu atau 125 g keju) jauh
lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan selama tidak hamil yang hanya
500 - 800 mg per hari. Bila kebutuhan akan kalsium tidak terpenuhi janin
akan mengambil cadangan kalsium dari tulang Ibu, akibatnya rangka tulang
akan cepat rapuh karena terjadi demineralisasi dan Ibu akan mengalami
keropos tulang dini. Sedangkan dampak kekurangan kalsium secara langsung
tidak ada.

9. Fungsi Kalsium
Fungsi fisiologi dari kalsium begitu penting dalam mempertahankan hidup
sehingga tubuh akan melakukan proses demineralisasi tulang untuk
memelihara kadar kalsium dalam darah, jika konsumsi tidak mencukupi.
Kalsium memiliki beragam fungsi dalam tubuh diantaranya sebagai berikut:

Pembentukan tulang dan gigi

Kalsium dalam tulang mempunyai dua fungsi: (a) sebagai bagian


integral dari struktur tulang, (b) sebagai tempat menyimpan kalsium.
Proses pembentukan tulang dimulai pada awal perkembangan janin,
dengan membentuk matriks yang kuat, tetapi masih lunak dan lentur yang
merupakan cikal bakal tulang tubuh. Matriks yag merupakan sepertiga
bagian dari tulang terdiri atas serabut yang terbuat dari kolagen yang
diselubungi oleh bahan gelatin.
Segera setelah lahir matriks mulai menjadi kuat dan mengeras
melalui proses terbentuknya kristal mineral yang mengandung senyawa
kalsium. Kristal ini terdiri atas kalsium fosfat atau kombiasi kalsium fosfat
dan kalsium hidroksida dinamakan hidroksiapatit [3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2].
Karena kalsium merupakan mineral yang utama dalam ikatan ini,
keduanya harus berada dalam jumlah yang cukup di dalam cairan yang
mengelilingi matriks tulang. Batang tulang yang merupakan bagian keras
matriks mengandung kalsium, fosfat, magnesium, seng, natrium
bikarbonat, dan fluor, selain hidroksipatit.
Keperluan kalsium terbesar pada waktu pertumbuhan, tetapi juga
keperluan-keperluan kalsium masih diteruskan meskipun sudah mencapai
usia dewasa. Pada pembentukan tulang, bila tulang baru dibentuk, maka
tulang yang tua dihancurkan secara simultan.

Gambar 6 struktur tulang

Tulang dibentuk dalam dua proses terpisah yaitu pembentukan


matriks dan penempatan mineral ke dalam matriks tersebut. Tiga jenis
komponen seluler terlibat di dalamnya dengan fungsi yang bereda-beda
yaitu,

osteoblast

dalam

pembentukan

tulang,

osteocyte

dalam

pemeliharaan tulang, osteoclast dalam penyerapan kembali tulang.


Osteoblast membentuk kolagen tempat mineral-mineral melekat. Mineral
utama di dalam tulang adalah kalsium dan fosfor, sedangkan mineral lain
dalam jumlah kecil adalah natrium, magnesium dan fluor.
Penelitian yang dilakukan dengan kalsium radioaktif menunjukkan
bahwa tulang secara terus

menerus dibentuk dan dirombak secara

simultan. Diperkirakan sekitar 20% kalsium tulang orang dewasa diserap


dan diganti lagi setiap tahun.
Pembentukan Gigi
Mineral yang membenuk dentin dan email yang merupakan bagian
tengah dan luar dari gigi adalah minerla yang sama dengan pembentuk
tulang, yaitu hidroksiapatit. Namun, kristal dalam gigi lebih padat dan
kadar airnya lebih rendah. Protein dalam email gigi adalah keratin,
sedangkan dalam dentin adalah kolagen. Pertukaran anatra kalsium gigi
dan kalsium tubuh berlangsung dengan lambat dan terbatas pada kalsium
yang terdapat dalam lapisan dentin. Sedikit pertukaran mungkin juga
terjadi diantara saliva dan email gigi. Kekurangan kalsium selama masa
pembentukan gigi dapat menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap
kerusakan gigi.
Pertumbuhan
Kalsium secara nyata diperlukan untuk pertumbuhan kerena bagian
penting dalam pembentukan tulang dan gigi, juga dibutuhkan dalam
jumlah yang lebih kecil untuk mendukung fungsi sel dalam tubuh. Dalam
masa pertumbuhan ukuran tulang, kandungan kalsum dan kebutuhan
kalsium meningkat. Setelah perumbuhan terhenti, kemungkinan fase
dimana penambahan jumlah tulang dan kalsium (peak bone mass) bersama
akan tetap bertambah sampai usia sekitar 30 tahun. Setelah peak bone

mass tercapai, akan terjadi ketidakseimbangan antara reabsorpsi dan


pembentukan tulang. Konsumsi kalsium adalah salah satu mekanisme
yang dapat membantu pertumbuhan tulang dan mencegah kehilangan
kepadatan tulang (bone loss), karena tubuh biasanya mencapai peak bone
mass antara umur 25-30 tahun.
Katalisator reaksi-reaksi biologi
Kalsium berfungsi sebagai katalisator berbagai reaksi biologi, seperti
absorpsi vitamin B12, tindakan enzim pemecah lemak, lipase pankreas,
ekskresi insulin oleh pankreas, pembentukan dan pemecahan asetilkolin.
Kalsium yang diperlukan untuk mengkatalisis reaksi-reaksi ini diambil
dari pesediaan kalsium dalam tubuh.
Proses kontraksi otot
Dalam proses kontraksi otot, rangsangan yang menghasilkan
kontraksi otot merupakan impuls listrik yang diangkut oleh serabut urat
syaraf. Diperkirakan stimulasi kimia dari ujung syaraf ke tenunan otot
yang menyebabkan terjadinya kontraksi adalah lepasnya ion-ion kalsium
dari tempat penyimpanannya dalam sel. Keluarnya ion kalsium
menstimulasi enzim ATP-ase dalam miosin, yang mengakibatkan pecahnya
ATP yang menghasilkan energi dan terbentuknya ikatan silang antar
miosin dan aktin yang disebut aktomiosin dan terjadilah kontraksi. Setelah
terjadi pengendoran otot, ion kalsium dipompa kembali ke tempat
penyimpanannya dalam sel.
Membantu proses penggumpalan darah
Trombosit beredar secara tetap dalam sistem vaskuler. Trombosit tidak
saling melekat, tidak juga melekat pada sel darah lain atau pada dinding
pembuluh, tetapi jika ada sel endotel yang cedera trombosit menjadi
lengket dan dengan cepat saling melekat, dan pada tempat cedera untuk
mengawali pembekuan darah yang membatasi darah yang hilang dan
memulai proses pemulihan. Setiap menit waktu peredaran kira-kira 1012
trombosit melalui 1000 m2 permukaan kapiler dibatasi 7x1011 sel endotel.

Jika lapisan endotel tidak utuh memaparkan jaringan ikat


dibawahnya, trombosit dengan cepat melekat pada kolagen melalui protein
pengikat kolagen dalam membrannya. Perlekatan mengaktifasi trombosit
berakibat perombakan ATP dan pembebasan ADP dan glikoprotein adhesif
ke lingkungan sekitarnya. ADP adalah pemicu agregasi trombosit yang
kuat, agar melekat dalam jumlah besar pada yang telah melekat pada
kolagen. Trombosit baru ini pada gilirannya digiatkan, sehingga agregasi
berlanjut membentuk massa koheren yang disebut trombus trombosit.
Bersamaan dengan kejadian ini, reaksi pembekuan kompleks lain
dimulai. Substansi yang disebut tromboplastin jaringan dilepaskan oleh
sel-sel endotel cedera, mengawali sederatan reaksi dalam plasma darah
yang mengkonversi protrombin menjadi trombin. Trombin pada gilirannya
mengkatalisis pengkonversian fibrinogen menjadi fibrin yang membentuk
anyaman fibril halus bergaris melintang.
Pembekuan dimulai ketika keping-keping darah dan faktor-faktor
lain dalam plasma darah kontak dengan permukaan yang tidak biasa,
seperti pembuluh darah yang rusak atau terluka.Pada saat terjadi luka pada
permukaan tubuh, komponen darah, yaitu trombosit akan segera
berkumpul mengerumuni bagian yang terluka dan akan menggumpal
sehingga dapat menyumbat dan menutupi luka. Proses pembekuan darah:
1. Kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut
keluar juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan
kasar

dan

menyebabkan

trombosit

pecah.

Trombosit

akan

mengeluarkan zat (enzim) yang disebut trombokinase.


2. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah
protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan
tersebut dipengaruhi ion kalsium (Ca+) di dalam plasma darah.
Protrombin adalah senyawa protein yang larut dalam darah yang
mengandung globulin. Zat ini merupakan enzim yang belum aktif yang
dibentuk oleh hati. Pembentukannya dibantu oleh vitamin K.

3. Trombin yang

terbentuk akan mengubah

firbrinogen menjadi

benangbenang fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan


luka akan tertutup sehingga darah tidak mengalir keluar lagi.
Fibrinogen adalah sejenis protein yang larut dalam darah. Coba Anda
bayangkan, apabila fibrin ini beredar di dalam darah kita tanpa adanya
luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan terjadi banyak penyumbatan
darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh kita.
10. Sumber Kalsium

Tabel 2 Contoh makanan yang berkalsium tinggi


Susu dan produk olahannya seperti yogurt dan keju serta campuran
makanan yang mengandung keju memiliki kandungan tertinggi per takaran

saji. Produk ikan kaleng yang menyertakan tulangnya (salmon atau sarden)
juga mengandung banyak kalsium, tetapi irisan ikan segar tanpa tulang bukan
sumber kalsium tinggi.
Mengkonsumsi makanan yang tinggi akan kandungan vitamin D juga baik
untuk membantu penyerapan kalsium. Vitamin D dapat diperoleh dari sinar
matahari, multi vitamin, sayuran, dan formulasi vitamin D khusus. Vitamin ini
juga ditemukan dalam jumlah kecil pada telur, susu, ikan, kacang-kacangan,
sayuran berdaun hijau gelap. Sinar matahari pagi merupakan sumber vitamin
D, dimana vitamin ini diproduksi oleh sinar ultraviolet pada bentuk tidak aktif
di kulit. Vitamin ini diubah dan disimpan dan diubah lagi menjadi bentuk aktif
di dalam hati dan ginjal.

11. Dampak Defisiensi Kalsium


Osteomalasia
Bila konsumsi kalsium menurun dapat terjadi kekurangan kalsium
yang menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga riketsia pada orang
dewasa. Pada osteomalasia, tulang menjadi lunak karena mineralisasi
matriks tulang terganggu. Sebab utama osteomalasia yang sesungguhnya
adalah kekurangan vitamin D. Vitamin D didapat dari sinar matahari
dimana vitamin ini diproduksi oleh sinar ultraviolet pada bentuk tidak aktif
di kulit. Vitamin ini diubah dan disimpan dan diubah lagi menjadi bentuk
aktif di dalam hati dan ginjal. Setelah diaktifkan, vitamin D meningkatkan
penyerapan kalsium dari usus dan merangsang ginjal untuk menyerap
kembali kalsium dari urin kembali ke aliran darah. Jadi, jumlah vitamin D
sangat penting untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan
kalsium.

Gambar 7 Osteomalasia
Osteoporosis
Kekurangan

kalsium

saat

remaja

merupakan

penyebab

osteoporosis di usia tua. Pada osteoporosis terdapat pengurangan massa


tulang yang normal, matriksnya, dan kalsium. Osteoporosis timbul jika
pembentukan matriksnya tidak sempurna, absorpsi yang rendah atau
terlalu banyak kalsium yang terbuang bersama urin. Osteoporosis dapat
dipercepat oleh keadaan stress sehari-hari. Osteoporosis lebih banyak
terjadi pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak pada orang kulit
putih daripada kulit berwarna. Osteoporosis terjadi pada 25% wanita
pascamenopause, adanya defisiensi estrogen pada masa itu ikut berperan
sehingga pada wanita lebih tinggi.

Gambar 8 Osteoporosis

Pencegahan osteoporosis dapat dimulai ketika tulang seseorang


dibentuk. Pembentukan tulang yang kuat sebelum menopause melalui
makanan yang kaya kalsium dan olahraga yang adekuat tampaknya
merupakan tindakan yang terbaik. Akivitas fisik yang berlanjut seumur
hidup tampaknya dapat menunda atau mencegah pengeroposan tulang,
bahkan pada orang berusia lanjut. Disamping itu osteoporosis lebih banyak
terjadi pada perokok dan peminum alkohol.
Selain itu, kekurangan kalsium dapat pula mengakibatkan
kerusakan gigi, pertumbuhan tulang menjadi tidak sempurna, sukarnya
terjadi penggumpalan darah, terjadinya kekejangan otot.
Tubuh orang dewasa mengandung sekitar 1200 gram kalsium,
terutama terdapat dalam tulang. Secara umum, toksisitas kalsium jarang
ditemukan. Tidak ada efek negatif yang ditemukan pada orang dewasa
sehat yang mengkonsumsi kalsium sampai 2500 mg per hari.
Namun konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan
sulit buang air besar (konstipasi) dan menggnggu penyerapan mineral
seperti zat besi, seng, dan tembaga. Kelebihan kalsium jangka panjang
akan menyebabkan resiko hiperkalsemia, batu ginjal dan gangguan fungsi
ginjal. Oleh karena itu konsumsi suplemen kalsium jauh di atas kebutuhan
sebaiknya dihindari. Disarankan konsumsi kalsium per hari tidak melebihi
2500 mg.

DAFTAR PUSTAKA

Aslamyah, Siti. 2008. Pembelajaran berbasis SCL pada mata kuliah biokimia
nutrisi. Makassar: Universitas Hassanudin.
Auliana, Risqie. 2013. Gizi dan Mineral. http://staff.uny.ac.id/sites/default
/files/pendidikan/Rizqie%20Auliana,Dra.%20%20M.Kes./ILMU%20GIZIMINERAL.pdf. Diakses tanggal 18 Oktober pukul 08.33 WIB.
Campbell dan Reece. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Guyton, Arthur C dan Hall, John E. 2006. Textbook Of Medical Physiology
Eleventh Edition. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Safii, Imron. 2012. Mineral Kalsium. Semarang: Universitas Muhammadiyah
Semarang.
William dan Wilkins. 1996. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan
Klinis. Jakarta: EGC.