Anda di halaman 1dari 6

LATAR BELAKANG

Jarak (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan semak berkayu yang
banyak ditemukan di daerah tropik dan sudah lama dikenal oleh masyarakat kita sebagai
tanaman obat dan penghasil minyak lampu, bahkan sewaktu zaman penjajahan Jepang
minyaknya diolah untuk bahan bakar pesawat terbang. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di
Amerika Tengah dan saat ini telah menyebar di berbagai tempat di Afrika dan Asia. Jarak pagar
merupakan tanaman serbaguna, tahan kering, dan tumbuh dengan cepat.
Herbarium adalah koleksi referensi suatu jenis tumbuhan yang dapat merepresentasikan
morfologi tumbuhan yang meliputi batang, daun, bunga, dan buah. Peranan herbarium ini penting
sekali untuk identifikasi dan inventarisasi jenis-jenis tumbuhan,terutama untuk tumbuhan yang
berasal dari hutan dan hidup liar yang belum banyak dikenal serta untuk penelitian lebih lanjut.
Pembuatan herbarium merupakan suatu aktifitas pengawetan tanaman untuk keperluan
penelitian lebih lanjut. Fungsi dari herbarium adalah membantu identifikasi tumbuhan lainnya
yang sekiranya memiliki persamaan cirri-ciri morfologinya. Dengan kata lain, herbarium
merupakan tumbuhan yang diawetkan yang nantinya dapat dijadikan perbandingan dengan
tumbuhan yang akan diidentifikasi.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Herbarium
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk
tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor
Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di
bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah
(Arber, 1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai
koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 Ramadhanil dan Gradstein Herbarium Celebense 39
praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa (Ramadhanil, 2003).

Herbarium berasal dari kata hortus dan botanicus, yang artinya kebun botani yang
dikeringkan secara sederhana, yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah
dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi (Sama, 2009).
Herbarium berguna dalam pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan. Pada
tumbuhan tingkat rendah organ-organ tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora dan
bagian-bagian tertentu yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tinggi, bagian-bagian
tersebut berupa bunga, buah, dan biji karena dasar klasifikasi tumbuhan tersebut adalah struktur
bunga (Sama, 2009).
Herbarium digunakan ilmuwan untuk memahami dunia tumbuhan. Herbarium pertama
kali ditemukan pada tahun 1600-an di Eropa. Cara sederhana untuk membuat herbarium adalah
dengan cara mengeringkan organ tumbuhan yang selanjutnya ditata, diberi laber lalu disimpan (
Prasodjo,2007 ).

2.2 Macam-Macam Herbarium


Adapun macam-macam herbarium di bagi menjadi dua yaitu :
a) Herbarium basah
Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi yang sudah
didentifikasi dan di tanam bukan lagi pada habitat aslinya. Spesiesmen tumbuhan yang telah
diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang di buat dari komponen macam zat dengan
komposisi yang berbeda-beda. Adapun zat yang di gunakan pada herbarium basah
diantaranya akuades, formalin 4% asam cuka 40% terusi alkohol 50% dan gliserin 10%.
(matnawi 1989).
b) Herbarium kering
Herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeringan, namun tetap
terlihat

ciri-ciri

morfologinya

sehingga

masih

bisa

diamati

dan

di

jadikan

perbandingan. (matnawi, 1989).


Herbarium kering, cara kering menggunakan dua macam proses yaitu: a. Pengeringan
langsung, yakni tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di pres di dalam sasak,

untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di pres dalam waktu dua minggu kemudian
dikeringkan diatas tungku pengeringan dengan panas yang diatur di dalam oven. Pengeringan
harus segera dilakukan karena jika terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok
daunnya dan cepat menjadi busuk. b. Pengeringan bertahap, yakni material herbarium
dicelup terlebih dahulu di dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan lalu
dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, ditempuk dan dipres, dijemur atau
dikeringkan di atas tungku pengeringan. Selama proses pengeringan material herbarium itu
harus sering diperiksa dan diupayakan agar pengeringan nya merata. Setelah kering, material
herbarium dirapikan kembali dan kertas koran bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas
baru. Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi (Onrizal, 2005).
2.3 Kegunaan Herbarium
Manfaat dan Kegunaan herbarium diantaranya, herbarium sangat penting artinya
sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan identifikasi, hal ini
memungkinkan karena pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lebih
lama( Fauzi, 2010 )
kegunaan

herbarium

lainnya

yaitu

sebagai

berikut

(sama,2009):

- Material peraga pelajaran botani


- Material penelitian
- Alat pembantu identifikasi tanaman
- Material pertukaran antar herbarium di seluruh dunia
-

Bukti keanekaragaman

- Spesimen acuan untuk publikasi spesies baru (sama,2009).

2.4 Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembuatan Herbarium


Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit atau
kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang, daun,
bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering
digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar,

sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya buah
(Setyawan dkk, 2004).
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam praktek
pembuatan herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan informasi
terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain, suatu koleksi
tumbuhan harus mempunyai

seluruh bagian tumbuhan dan harus

yang

informasi

memberikan

seluruh

yang tidak nampak

ada keterangan

spesimen herbarium

(Aththorick dan Siregar, 2006).

Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuata herbarium :


a. Tahap pengumpulan
Pengumpulan tanaman dilakukan dengan melakukan eksplorasi di lapangan.
Selanjutnya masukan tumbuhan yang diperoleh kedalam vasculum, atau dimasukan saja
kedalam halaman sebuah buku yang tebal. Ambilah terutama dari bagian tumbuhan yang
berbunga dan berbuah. Bagian dari tumbuhan yang besar sedikitnya panjangnya 30-40
cm dan sedikitnya harus ada satu daun dan satu inflorescencia yang lengkap, kecuali
kalau bagiannya yang khusus masih terlalu besar. Lihatlah bagian tumbuhan yang berada
dibawah tanah. Serta mencatat hal-hal yang penting dan kehususan seperti : warna, bau,
bagian dalam tanah, tinggi tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya tanaman
tersebut (triharto, 1996)
b. Cara pengeringan
Tumbuhan diatur diatas kertas kasar dan kering, yang tidak mengkilat, misalkan
kertas Koran. Letakan diantara beberapa halaman yang dobel dan sertakan dalam setiap
jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut. Juga biasanya digunakan etiket gantung
yang diikatkan pada bahan tumbuh-tumbuhan, yang nomornya adalah berhubungan
dengan buku catatan lapangan. Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal, direndam
beberapa detik dalam air yang mendidih. Lalu tekanlah secara perlahan-lahan. Gantilah
untuk beberapa hari kertas pengering tersebut. Ditempat yang kelembabannya sangat
tinggi, dapat dijemur dibawah sinar mata hari atau didekatkan di dekat api (diutamakan
dari arang). Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan juga terasa

kaku. Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan kering. Makin
cepat mereka mengering, maka makin baik warna itu dapat dipertahankan (triharto,
1996).
c. Pengawetan
Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali
terserang jamur. Oleh karena itu, penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah
koleksi tersebut dibawah sinar matahari. Ddan dapat di taburi zat bubukan belerang,
naphtaline atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol. Kedua zat yang
terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus (triharto, 1996).
d. Pembuatan herbarium
Temple herbarium. Tempelkan nama pada kertas dengan kertas label. Tuliskan
diatas kertas herbarium data mengenai tanggal, tempat ditemukan, tempat mereka
tumbuh, nama penemu, catatan khusus, nama familia dan nama spesies (triharto, 1996).

Aththorick, T.A, dan Siregar E.S. 2006. Taksonomi


Biologi FMIPA USU. Medan

Tumbuhan. Departemen

Fauzi, Ahmad.2010.

Matnawy,H. 1989. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.


Prasodjo, Budi. 2007. Pengawetan Tumbuhan.Jakarta:Yudistira.
Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam Menunjang
PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi.
Sama,
Surya.
2009.
UPI : Bandung

Pengaweatan

Tanaman

dan

Pengawetan

Setyawan, A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K dan Susilowati, A. 2005.


Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Sebelas Maret. Surakarta

Triharto, Ahmad. 1996. Dasar-dasar perlindungan Tanaman.


UGM press : Yogyakatra

Hewan.