Anda di halaman 1dari 9

BAB I

Pendahuluan
Oklusi
Menurut terminology of occlusion ( 2012 ), pengertian oklusi adalah
kontak antara permukaan insisal atau permukaan pengunyahan dari gigi rahang
atas dan rahang bawah. Oklusi yang baik dapat mencegah kerusakan otot
pengunyahan dan meningkatkan fungsi yang sehat dari otot pengunyahan serta
menurunkan kemungkinan terjadinya penyakit, gangguan mekanis dan difungsi
atau rasa sakit. Beberapa terminologi yang umum dipakai dalam menjelaskan
oklusi, antara lain :
1. Relasi sentrik
Hubungan mandibula dengan tulang tengkorak dimana kondilus
berada pada posisi paling tipis / dekat dengan eminens artikular tanpa
memperhatikan hubungan gigi
2. Oklusi sentrik / maximum intercuspation ( ICP )
Kontak oklusi maksimum atau interkuspid terlepas dari posisi sentrik
3. Retruded contact position ( RCP )
Hubungan oklusal yang didapat pada posisi paling mundur dari
kondilus pada TMJ atau sebuah posisi yang lebih mundur dari posisi
relasi sentrik
4. Excursion ( ekskursi )
Merupakan pergerakan mandibula yang dikarenakan pergerakan
kondilus yang menjauhi posisi relasi sentrik
5. Working side
Merupakan pergerakan dari gigi bagian lateral ke arah mandibula
digerakkan

6. Balancing side
Merupakan lawan dari working side dimana pada gigi tiruan penuh,
istilah ini digunakan ketika ada kontak sengaja pada kedua sisi rahang
ketika rahang bergerak ke arah lateral
7. Protrusi
Posisi mandibula yang berada lebih anterior dari posisi sentrik

Gigi tiruan cekat


Menurut PCP tahun 1994, yang dimaksud dengan gigi tiruan cekat ( fixed
prosthodontics ) adalah cabang dari ilmu prostodonsia yang mempelajari
penggantian atau merestorasi gigi dengan pengganti artifasial yang tidak dapat
dilepaskan dari mulut. Atau dengan kata lain, gigitiruan cekat adalah gigitiruan
yang dipasang dalam rongga mulut pasien yang tidak dapat dilepaskan oleh
pasien sendiri.
Gigi tiruan cekat ada 2 jenis menurut jumlah gigi yang digantikan,yaitu :
1. Mahkota / crown, dimana gigi tiruan cekat yang mengganti 1 gigi
yang hilang atau rusak
2. Jembatan / bridge, dimana gigi tiruan cekat yang mengganti 2 atau
lebih gigi yang hilang atau rusak
Sedangkan menurut sumber dukungan yang dipakai, gigi tiruan cekat
dibagi menjadi :
1. Gigi tiruan cekat dukungan gigi asli
2. Gigi tiruan cekat dukungan implan

BAB II
ISI

Konsep oklusi
Konsep oklusi gigi geligi dimulai dari hasil penelitian Edward Angle (
1899 ). Angle yang mengadakan penelitian mengenai oklusi statis pada posisi
interkuspal, berdasarkan hubungan ideal dari gigi molar satu permanen atas dan
bawah pada bidang sagital ( Foster,1997 ).
Andrew ( 1972 ) dalam penelitiannya tentang oklusi terhadap 120 subjek,
menyimpulkan bahwa ciri-ciri oklusi yang ideal adalah sebagai berikut :
1. Hubungan yang tepat dari gigi-gigi molar satu permanen pada bidang
sagital, dimana tonjol mesiobukal molar satu atas terletak pada groove
mesiobukal molar satu bawah.
2. Angulasi dari mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang
transversal, dimana angulasi mesiodistal gigi insisivus sentralis atas
2o, insisivus lateralis atas 7o, insisivus sentralis bawah 2o dan insisivus
lateralis bawah 0o
3. Inklinasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital,
dimana inklinasi fasiolingual gigi insisivus sentralis atas 28 o, insisivus
lateralis atas 26o, insisivus sentralis bawah 22o, dan insisivus lateralis
bawah 23o.
4. Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual

Konsep skema oklusi yang digunakan secara umum dalam menyusun anasir
gigi, antara lain :

1. Bilateral balanced occlusion.


Merupakan oklusi gigi yang dimana gigi posterior berkontak secara
berkelompok dengan gigi anterior pada saat working dan balancing.
Tujuan dari skema oklusi ini adalah untuk mendapatkan stabilisasi
protesa pada saat pergerakan ekskursi. Skema oklusi ini jarang
ditemukan pada gigi asli.
2. Unilateral balanced occlusion / group function
Merupakan oklusi dimana pada ekskursi lateral, gigi posterior
berkontak pada sisi kerja dalam kelompok dan gigi anterior juga
berkontak
3. Mutually protected occlusion
Merupakan oklusi yang disusun dimana kontak gigi posterior berada
pada maksimal interkuspid tetapi tidak pada pergerakan lateral
maupun protrusi. Pada oklusi ini, gigi anterior melindungi gigi
posterior ketika kontak eksentrik dan gigi posterior melidungi gigi
anterior ketika maksimal interkuspid. Digunakan untuk pasien yang
lebih tua yang memakai gigi tiruan dengan gigi posterior yang tidak
atau sedikit mengalami resorpsi tulang dan tidak goyang.
Pada gigi tiruan cekat, konsep oklusi yang diterapkan adalah mengikuti
konsep oklusi gigi asli. Menurut Curtis ( 1999 ), pola oklusi fungsional gigi
tiruan cekat untuk gigi posterior sebaiknya dibuat dalam group function,
terutama untuk yang melibatkan gigi kaninus.
Gangguan Temporomandibular
Okeson menggunakan istilah temporomandibular disorders (TMDs)
untuk seluruh gangguan fungsional dalam sistem pengunyahan. Etiologi
gangguan

sendi

temporomandibular

adalah

faktor-faktor

yang

dapat

menimbulkan pembebanan yang melebihi kapasitas adaptasi sendi, baik beban

sesaat yang ekstrim maupun beban berulang. Umumnya ditandai oleh rasa nyeri
pada otot-otot mastikasi dan sendi saat palpasi, keterbatasan gerak mandibula
dan bunyi sendi. Rasa sakitnya tidak berhubungan dengan sakit gigi.
Faktor yang paling sering dihubungkan dengan terjadinya gangguan sendi
temporomandibula adalah oklusi yang tidak baik dan stres emosional.
Hubungan antara faktor oklusi dan gangguan sendi temporomandibula sulit
dipahami dan hingga saat ini masih merupakan hal yang diperdebatkan dalam
bidang kedokteran gigi. Beberapa parameter oklusal seperti tipe oklusi, tipe
skema oklusi, kontak pada sisi balancing dan parameter oklusal lainnya sering
kali dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan sendi temporomandibula,
namun teori-teori yang mendukung hal tersebut masih terbatas dan masih
kontroversial
Salah satu parameter yang masih dipertentangkan adalah pemilihan
skema oklusi khususnya dalam perawatan gigi tiruan sebagian dan gigi tiruan
cekat. Pada awal abad ke-20, para peneliti meyakini bahwa balanced occlusion
adalah penutun yang paling ideal dalam pembuatan gigi tiruan, karena selain
memberikan kestabilan yang terbaik bagi gigi tiruan penuh juga diharapkan
dapat mendistribusikan beban secara merata ke seluruh gigi asli yang masih ada.
Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian Schuyler yang didukung oleh penelitipeneliti lainnya, konsep balanced occlusion mulai digantikan dengan canine
guidance dan group function. Canine protected occlusion seringkali dikatakan
sebagai skema yang ideal karena permukaan akar gigi kaninus yang luas dan
panjang, serta posisinya yang strategis jauh dari fulkrum dapat melindungi gigi
posterior dari beban lateral. Akan tetapi tidak ada bukti-bukti biologis, klinis
dan histologis mengenai mekanisme proteksi gigi kaninus. Di lain pihak
beberapa peneliti lainnya menyarankan group function occlusion karena selai
merupakan oklusi yang paling banyak dimiliki individu terutama orang dewasa,
tipe oklusi ini juga memberikan stimulasi yang lebih baik pada periodonsium,

sehingga periodonsium pada kelompok ini lebih kuat meskipun terdapat resesi
gingiva yang luas
Oklusi yang baik harus memungkinkan mandibula bertranslasi tanpa
hambatan dan oklusal saat gerakan fungsional terutama segmen posterior,
sehingga efesiensi pengunyahan pada sisi kerja tidak hilang, distribusi beban
aksial lebih merata dan dapat menghindari jatuhnya beban berlebih pada sendi
temporomandibula. Oklusi sangat penting karena merupakan dasar dari fungsi
mastikasi. Dalam bidang prostodontik, salah satu tujuan pembuatan gigi tiruan
adalah mengembalikan fungsi. Oleh karena itu, pemahaman tentang oklusi yang
baik diperlukan oleh prostodontis dapat merehabilitasi oklusi sehingga dicapai
fungsi yang dinamis ( Sugiaman et al, 2011 ).

BAB III
PEMBAHASAN
Aplikasi klinis konsep oklusi pada gigi tiruan cekat

Oklusi pada protesa GTC penuh


Bilateral balanced occlusion disarankan untuk digunakan ketika gigi
antagonisnya adalah adalah gigi tiruan penuh dan group function occlusion
biasanya digunakan ketika gigi antagonisnya adalah gigi asli serta mutually
protected occlusion ketika dibutuhkan anterior guidance
Oklusi pada protesa GTC pada bagian posterior
Kemungkinan timbulnya tekanan lateral dapat dikurangi dengan anterior
guidance pada kontak oklusal inisial dan ekskursi. Group function occlusion
sebaiknya digunakan ketika gigi anterior lemah.
Oklusi pada protesa implan single unit
Oklusi dari implan single unit harus direncanakan untuk memaksimalkan
distribusi tekanan pengunyahan pada gigi penyangga dan meminimalisir
tekanan pengunyahan pada implan
Oklusi pada protesa GTC dengan gigi asli atrisi ( kehilangan dimensi
vertikal )
Atrisi adalah kehilangan struktur gigi yang diakibatkan tekanan mekanis
dari gigi antagonis, yang berdampak pada enamel dan bila dibiarkan akan
berdampak pada lapisan dentin. Ketika telah melewati enamel, maka atrisi akan
sangat cepat menghancurkan dentin yang lunak. Kebiasaan fungsional seperti
mengunyah dan menelan biasanya menimbulkan efek yang sedikit pada gigi

antagonis. Kebiasaan parafungsional seperti clenching dan clicking pada gigi,


menimbulkan tekanan yang berlebihan pada gigi antagonis dan mulai mengikis
gigi.
Perawatan

yang

dapat

dilakukan

menggunakan bahan full porcelain

untuk

kasus

tersebut

adalah

untuk mengembalikan fungsi estetis

sedangkan bahan porcelain-fused to metal memerlukan pengambilan struktur


gigi yang lebih banyak. Namun, bahan full porcelain gagal untuk
mengembalikan vertikal dimensi dan mengembalikan kontak oklusi yang baik
sehingga dapat dilakukan perawatan konvensionall, yang meliputi splint
overlay, restorasi sementara, observasi dan mahkota crown keramik dimana
oklusi disusun menjadi klas I Angle

DAFTAR PUSTAKA
1. Balshi TJ, Wolfinger GJ. Restoring Lost Vertical Dimension of Occlusion
using Dental implants. Int J Prosthodontics. (9)5 : 473-9.1998
2. Garg S, Kumar S, Jindal , Gupta S. Restoring normal occlusion and function
in a severely attrited and worn out dentiion. Case Report.
3. Terminology of Occlusion. 2012.
4.