Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM PROPERTI MATERIAL

MODUL 1
PENENTUAN KONSISTENSI NORMAL SEMEN HIDROLISIS

KELOMPOK P9
Muhammad Naufal
Muhammad Kevarga
Hanan Shanidar
Intan Kusuma

Tanggal Praktikum
Asisten Praktikum
Tanggal Disetujui
Nilai
Paraf Asisten

1306448496
1306391983
1406642883
1406642896

: 10 Oktober 2014
: Afdol Pranata
:
:
:

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

A. Tujuan Percobaan
Menentukan konsistensi normal dari semen hidrolis untuk keperluan penentuan waktu
pengikatan semen. [Menentukan jumlah air yang dibutuhkan untuk mempersiapkan
pasta semen hidrolis untuk pengetesan].

B. Peralatan Percobaan
1. Mesin aduk [mixer], dengan daun-daun pengaduk dari baja tahan karat serta
mangkuk yang dapat dilepas.
2. Alat vicat.
3. Timbangan dengan kepekaan sampai 1,0 gram.
4. Alat pengorek [scraper] dibuat dari karet yang agak kaku.
5. Gelas ukur dengan kapasitas 150 atau 200 ml.
6. Sendok perata [trowel]
7. Sarung tangan karet.

C. Bahan Percobaan
1. Semen Portland 300 kg.
2. Air bersih [dengan suhu kamar].

D. Dasar Teori
Konsistensi normal yaitu kekentalan antar campuran semen dan air telah sesuai
dengan presentase jumlah air terhadap semen yang digunakan untuk percobaan, yaitu
berkisar antara 24% - 33% (standar ASTM C 187 98). Temperatur udara sekitar
standar dari campuran batu, semen kering, cetakan dan dasar tempat berkisar antara 20
27.5C (68 81.5F). Temperatur campuran dari air biasanya tidak kurang dari 23
1,7C (73F) dan tidak lebih dari 62C (3.5F). Dengan kondisi inilah maka standar
dari penetrasi jarum alat vicat untuk menentukan konsistensi normal adalah 10 1
mm.

E. Prosedur Percobaan
Pembuatan Pasta Semen
1.

Memasang daun pengaduk serta mangkuk pada alat pengaduk.

2.

Mempersiapkan bahan seperti semen dan air.

3.

Memasukkan bahan untuk percobaan dalam mangkuk dan campurlah sebagai


berikut :
a. Menuangkan air dengan variasi 120-90 cc untuk semen tipe Portland.
b. Memasukkan 300 gram semen ke dalam air dan membiarkan proses
penyerapannya selama 30 detik.

4. Menjalankan mesin pengaduk dengan kecepatan rendah [140

5 ppm] dan

aduklah selama 30 detik.


5. Menghentikan mesin pengaduk untuk 15 detik dan menyapu bahan [pasta] dari
dinding sisi mangkuk.
6. Menjalankan mesin pengaduk kembali dengan kecepatan sedang [285

10 ppm]

dan mengaduknya selama 1 menit.


Pengujian dengan alat vicat
7.

Mengambil pasta dengan segera dari mangkuk dan membentuknya seperti bola.
Bola pasta tersebut dilemparkan dari tangan yang satu ke tangan yang lain
[dengan jarak

15 cm] sebanyak 25 kali. Kemudian bola pasta ditempatkan pada

alat vicat dan ditekankan kedalam cincin konis sehingga memenuhi cincin
tersebut.
8.

Menempatkan cincin tersebut pada gelas dan menuang kelebihan pasta semen dari
kedua sisi cincin. Bagian atas dari pasta semen diratakan dengan sendok adukan
sedemikian rupa sehingga tidak menekan adukan.

9.

Memusatkan cincin berisi pasta tersebut dibawah batang dan menyentuhkan dan
mengunci jarum pada permukaan pasta.

10. Menempatkan indikator tepat pada angka nol yang atas. Melepaskan batang
bersamaan jarum dengan memutar kunci. Kemudian, jarum masuk ke dalam pasta.
11. Apabila dalam 30 detik kedalaman jarum masuk ke dalam pasta sebesar 10

mm dari permukaan, maka konsistensi pasta semen tersebut adalah normal.


12. Apabila konsistensi normal belum tercapai, maka harus mengulangi langkahlangkah no.1 s/d no.10, sampai konsistensi tercapai.
13. Mencatat jumlah air yang diperlukan untuk mencapai konsistensi normal.
14. Menggambarkan grafik yang menunjukkan hubungan antara kedalaman penetrasi
jarum dan kadar air [dalam persen] dalam pasta semen.

F. Pengolahan Data Percobaan


1. Data Pengamatan
Tabel 1. Data Pengamatan

Percobaan

Semen (gram)

Volume
Air (cc)

Lemparan

Penetrasi

1
2
3
4
5

300
300
300
300
300

120
110
100
95
90

25
25
25
25
25

40
27
18
9
10

2. Grafik Hubungan antara Konsistensi Semen Hidrolis dengan Volume Air

Tabel 2. Hubungan antara Konsistensi Semen Hidrolis dengan Volume Air


Volume
Air (cc)

Penetrasi

120
110
100
95
90

40
27
18
9
10

Berdasarkan percobaan, diperoleh bahwa agar kedalaman masuk jarum C ke dalam


pasta besarnya 10 1 mm dari permukaan pasta semen, dibutuhkan air sebanyak 90 cc
untuk dicampur ke dalam 300 gram semen. Dari jumlah air sebanyak 90 cc tersebut
diperoleh konsistensi normal semen hidrolisis sebesar 10 mm. Sehingga konsistensi
normal pasta semen dapat dihitung sebesar :
= (90/300) x 100%
= 30%

Kedalaman Penetrasi (mm)

Grafik Konsistensi Normal Semen


terhadap Kadar Air
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

y = 63.357x

penetrasi [mm]
Linear (penetrasi
[mm])

0.0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

Kadar Air (x 100 %)

G. Analisa
I. Analisa Percobaan
Untuk melakukan percobaan menentukan konsistensi normal dari semen
hidrolis ini, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu: memasang daun
pengaduk serta mangkuk pada alat pengaduk. Langkah ini merupakan langkah awal
yang harus dilakukan. Sebelumnya, mangkuk dipasang dan dikunci dengan baut
yang ada di mesin pengaduk, hal itu bertujuan agar mangkuk berada dalam keadaan
stabil karena akan mempengaruhi proses pengadukan semen hidrolis di dalam
mangkuk. Apabila mangkuk dalam keadaan tidak stabil, proses pengadukan semen
tidak akan merata atau kadar air di dalam semen hidrolis tidak tersebar secara
menyeluruh. Kemudian pemasangan daun pengaduk juga merupakan hal yang
penting dalam proses pengadukan. Sebelum pengadukan semen dilakukan, daun
pengaduk harus dipastikan dalam keadaan yang baik terlebih dahulu, agar dapat
menghasilkan

adukan

semen

yang

baik

pula

khususnya

dalam

kelenturan/kelecakannya yang akan mempengaruhi mudah atau tidak semen


tersebut untuk dikerjakan. Setelah pemasangan alat mesin pengaduk, praktikan
menuangkan semen 300 gram kedalam mangkuk lalu menjalankan mesin pengaduk
dengan kecepatan 1 [140 5ppm],dan proses pencampuran air 120 cc dilakukan
pada saat bersamaan dengan proses pengadukan semen. Setelah mesin dimatikan,

lalu praktikan menyapu bahan (pasta) dari dinding sisi mangkuk. Lalu praktikan
menjalankan mesin pengaduk kembali dengan kecepatan sedang dan diaduk selama
1 menit.
Proses pengadukan selesai, praktikan harus segera mengambil pasta dari
dalam mangkuk dan membentuknya seperti bola. Percobaan ini berpacu dengan
waktu, karena memang sifat semen yang sangat sensitif terhadap udara, dimana
udara mempercepat proses pengikatan semen dengan air serta mempercepat proses
pembentukan kekuatan dari pasta tersebut sehingga pasta menjadi kakuuntuk
dibentuk. Bola pasta yang telah dibentuk, dilemparkan dari tangan yang satu ke
tangan yang lain [dengan jarak

15 cm] sebanyak 25 kali. Hal ini bertujuan agar

pasta cukup lentur untuk dibentuk, dan dengan banyak lembaran 25 kali cukup
untuk membuat pasta tersebut elastis. Pasta yang elastis akan kelihatan lebih cair
permukaannya dimana dapat terlihat air telah tersebar merata, dan ketika keadaan
tersebut telah dicapai bola pasta ditempatkan kedalam cincin konis. Untuk
membuat pasta tersebut memenuhi cincin, dan tidak memiliki ruang kosong
ditengahnya, badan cincin digoyang-goyang agar pasta yang lunak tersebut dapat
masuk dan memenuhi cincin dengan mudah. Waktu pengisian cincin lebih cepat
maka akan semakin baik pasta tersebut untuk mencapai penetrasi yang diinginkan.
Setelah pasta memenuhi cincin, sisa-sisa pasta yang berada diluar cincin dapat
dibuang, dan permukaan pasta didalam cincin diratakan dengan trowel karena
penetrasi dilakukan pada permukaan yang rata sehingga penekanan yang diberikan
juga memberikan aksi yang merata pada pasta tersebut. Cincin yang berisi pasta
ditempatkan di bawah batang lalu batang tersebut disentuhkan tepat diatas
permukaan pasta serta menguncinya supaya batang tersebut diam dan belum
memberikan tekanan pada pasta. Batang disentuhkan tepat diatas permukaan pasta
karena kalau tidak diatas permukaan, ketika batang tersebut dilepas akan
memberikan tekanan yang lebih besar , pemahman ini berkaitan dengan teori yang
mengatakan semakin jauh jaraknya akan semakin besar tekanannya pada pasta dan
penetrasi yang didapatkan bukan penetrasi sebenarnya. Setelah batang dikunci,
praktikan mengatur indikator tepat pada skala nol. Lalu batang dilepaskan dengan
jatuh bebas ke pasta tersebut dan penurunan dari pasta akibat batang itulah yang
dinamakan penetrasi. Indikator harus dalam skala nol karena kalau tidak
penghitungan kedalaman penetrasi akan salah. Apabila dalam 30 detik kedalaman
jarum masuk ke dalam pasta sebesar 10

1 mm dari permukaan, maka konsistensi

pasta semen tersebut adalah normal, atau dengan kata lain kadar air dengan berat

semen sesuai untuk mencapai kelenturan atau proporsi yang ideal, tidak terlalu
kaku dan tidak terlalu cair. Jika konsistensi normal belum tercapai, maka praktikan
harus mengulangi langkah-langkah percobaan dari awal yaitu mulai dari proses
pengambilan dan percampuran bahan, hal ini dilakukan sampai konsistensi
normalnya tercapai. Karena konsistensi akan mempengaruhi waktu pengikatan dari
semen tersebut, jadi kalau konsistensinya tidak tepat waktu pengikatan semen
tersebut juga tidak tepat.

II. Analisa Hasil


Konsistensi normal suatu semen hidrolis dipengaruhi oleh beberapa hal
yaitu proporsi percampuran bahan dimana keadaan akhirnya percampuran bahan
yang digunakan adalah semen dengan berat 300 gram dan air sebanyak 90cc.
Faktor bahan yang digunakan memegang peranan penting terhadap hasil akhir yang
didapatkan. Dalam hal ini, jumlah air yang digunakan oleh praktikan berbeda
dengan yang tertera pada modul, namun dengan proporsi air 90cc didapatkan
kelecakan yang ideal terhadap kedalaman penetrasi sebesar 10 1 mm. Selain itu
konsistensi normal juga dipengaruhi oleh proses pengadukan, dan proses
pembentukan kelenturan pasta yang akan dilihat dari nilai slump yang diperoleh.
Slump merupakan proses penurunan atau perbedaan ketinggian dari permukaan
pasta setelah dibiarkan tanpa pengaruh apapun dalam waktu tertentu. Besar slump
sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang digunakan. Berdasarkan tabel dan grafik
dari hasil pengolahan data maka dapat dilihat semakin banyak air yang digunakan
(120-90 cc) maka akan semakin besar kedalaman penetrasi yang didapatkan
terlepas dari faktor banyaknya lemparan pada pasta. Dengan kata lain, dapat
disimpulakan bahwa pada jumlah semen tetap semakin besar faktor air semen,
maka akan semakin besar jumlah pasta yang diperoleh, seiring dengan itu nilai
slump juga akan semakin besar. Nilai slump yang besar dapat dilihat dari semakin
encernya pasta tersebut dan dengan demikian kelecakannya akan semakin tinggi.
Selain faktor air semen, kedalaman penetrasi juga dipengaruhi oleh
banyaknya lemparan yang dilakukan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya,
lemparan pada pasta bertujuan untuk membentuk kelecakan dari pasta tersebut. Ada
5 kali percobaan yang telah dilakukan oleh praktikan dan pada pengulangan yang
ke 5 percobaan baru berhasil dilakukan. Penetrasi didapatkan ketika lemparan
dilakukan sebanyak 25 kali sesuai dengan teori. Itu menandakan bahwa kelecakan
yang ideal terhadap penetrasi 10

1 mm terjadi dengan banyak lemparan 25 kali.

Semakin banyak lemparan maka akan semakin kaku pasta tersebut atau
kelecakannya akan semakin rendah oleh karena itu harus diimbangi dengan jumlah
air yang digunakan.
Bila ditinjau satu per satu, pada percobaan yang pertama dengan proporsi air
120 cc dengan lemparan 25 kali didapatkan kedalaman penetrasi 40mm. Dapat
disimpulkan bahwa jumlah air yang digunakan masih terlalu banyak untuk
kedalaman penetrasi 10 mm, walaupun jumlah lemparan yang dilakukan sebanyak
25 kali. Percobaan kedua juga belum berhasil dilakukan dengan proporsi air 110 cc
dan lemparan sebanyak 25 kali walaupun kedalaman penetrasi yang didapatkan
semakin kecil yaitu 27 mm. Hal ini menandakan pasta belum cukup lecak namun
keadaan ini membuktikan kebenaran konsep pemahaman bahwa semakin banyak
air kedalaman penetrasi akan semakin besar. Pada pengulangan ke 5 akhirnya
percobaan berhasil dilakukan yaitu dengan proporsi air 90 cc dengan banyak
lemparan 25 kali. Air 90cc menyebabkan pasta lebih kaku dibandingkan dengan air
yang digunakan pada 4 pengulangan sebelumnya, namun keadaan tersebut
diimbangi dengan jumlah lemparan yang cukup yaitu 25 kali lemparan sehingga
pasta memiliki kelecakan yang tepat untuk mendapatkan kedalaman penetrasi
sebesar 10

1 mm karena semakin banyak lemparan akan semakin kaku pasta

tersebut (mengurangi tingkat keenceran pasta).


Percobaan kelima dilakukan dengan jumlah air 90 cc dan berhasil
mendapatkan penetrasi sebesar 10 mm, artinya dengan jumlah air sebanyak 90 cc
menghasilkan konsistensi normal dari semen hidrolisis yang telah ditetapkan
berdasarkan standar ASTM C 187 98. Untuk perhitungan kadar air yang
digunakan dalam percobaan juga telah memenuhi standar yang sudah ada (24% 33%), dimana dalam percobaan kadar air yang ada adalah 30%.

III. Analisa Kesalahan


Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan :

Praktikan tidak cukup baik dalam melakukan percobaan ini karena harus
melakukan 4 kali pengulangan untuk mendapatkan target kedalaman penetrasi
yang diinginkan.

Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam percobaan ini yaitu


diantaranya: kualitas bahan, proporsi bahan, kondisi alat yang digunakan, dan
faktor dari praktikannya sendiri.

IV. Kesimpulan

Konsistensi semen hidrolis dengan jumlah semen tetap bergantung pada kadar
air dan banyak lemparan

Konsistensi digambarkan dengan kedalaman penetrasi jarum dalam pasta semen


Semakin besar kadar air maka penetrasi dan nilai slump semakin besar
Penetrasi semakin besar maka nilai kelecakan pasta semen semakin tinggi
Semakin banyak lemparan pada pasta semen maka kelecakan pasta akan
semakin rendah

Kegagalan dalam percobaan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya:


kualitas bahan, proporsi bahan, kondisi alat yang digunakan, dan faktor
kecakapan dari praktikannya sendiri.

Kadar air dalam percobaan ini sebesar 30 %

H. Referensi
Buku Panduan Praktikum Lab Bahan Dep.Teknik Sipil UI
American society for Testing and Materials. Standards Test Method for Normal
Consistency of Hydraulic Cement, No. ASTM C 187-98. Annual Book of ASTM
Standards, Vol 04.01.
http://www.unidayan.ac.id/files/IRZAL_AGUS_PENGARUH_VARIASI_FAKT
OR_AIR_SEMEN_DAN_TEMPERATUR_TERHADAP.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19794/4/Chapter%20II.pdf
http://www.scribd.com/doc/30495203/9/Gambar-3-2-Grafik-mencari-faktor-airsemen

LAMPIRAN

Praktikan saat membuat bola

Praktikan saat menguji dengan

semen

alat vicat

Praktikan saat menguji dengan

Praktikaan saat memasukkan

alat vicat

semen ke cicin dan plat gelas

Praktkan saat melakukan

Mesin aduk [mixer]

pengadukan

Gelas ukur dengan kapasitas 500


ml

Hasil pengujian dengan alat vicat


dan hasil didapat adalah 10 mm