Anda di halaman 1dari 4

Christiawan Simanjuntak

12/334400/PS/06393

Kebahagiaan menurut Psikologi Positif


Pada awalnya psikologi memiliki tiga tujuan utama yaitu : Menyembuhkan penyakit
mental, membantu semua orang untuk hidup dengan lebih produktif dan bermakna,
mengidentifikasi dan memelihara bakat atau potensi manusia. Tujuan awal dari psikologi
tersebut seakan luntur ketika sejak perang dunia II, umumnya kajian-kajian psikologi hanya
berkutat di ranah-ranah penyembuhan mental. Hal tersebut sesuai dengan kritikan Maslow
didalam buku yang berjudul Motivation and Personality (1945). Dia mengatakan bahwa
psikologi lebih banyak membahas manusia dari sisi negatif, penyakit mental, kelemahankelamahan manusia, daripada membahas manusia dari sisi positif, potensi, kebaikan, dan
pencapaian manusia.
Berdasarkan alasan-alasan diatas, Seligman pada tahun 1998 secara resmi mendirikan
psikologi positif. Jelaslah dalam pandangan sejarah, Psikologi positif lahir untuk merespon
kondisi yang ada saat itu. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika psikologi positif dikaitkan
tentang pembahasan hakikat manusia dari segi positif. Misalnya, segi positif, kejujuran,
keberanian, kebahagiaan, dan lain-lain. Dalam beberapa literatur, psikologi positif difenisikan
sebagai studi ilmiah tentang kebahagiaan manusia (human happiness). Kennon, Sheldon, dan
Laura king juga berpendapat bahwa Psikologi positif mempelajari apa yang membentuk manusia
menjadi bahagia dan bagaimana cara mereka mendapatkannya. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa kebahagiaan mendapat tempat yang paling vital dalam kajian-kajian
psikologi positif. Hal tersebut diperkuat oleh argumentasi Seligman yang menyatakan bahwa
kebahagiaan adalah apa yang ingin dicapai psikologi positif.
Menurut Selligman, ada 3 tonggak psikologi positif yang membantu membantu
memahami kajian-kajian dan ruang lingkup psikologi positif, yaitu:
1. Dimensi Subjektif
Pada dimensi ini, psikologi positif mengkaji tentang emosi positif atau situasi positif
dalam kesubjektifan setiap individu seperti kebahagiaan, kesenangan, cinta, relaksasi,
dan kepuasan.

Christiawan Simanjuntak
12/334400/PS/06393

2. Dimensi Individual
Pada dimensi ini, psikologi positif mengkaji tentang pola-pola perilaku individu yang
positif atau sifat-sifat individu yang positif seperti keberanian, kejujuran, persistance,
dan

kebijaksanaan.

Dimensi

ini

juga

mengkaji

tentangkemampua

untuk

mengembangkan sensibilitas estetik dan menggali potensi kreatif seseorang dan


dorongan untuk mengejar kesempurnaan.
3. Dimensi kelompok atau masyarakat
Dimensi ini mengkaji tentang perkembangan, pembentukan, dan pemeliharaan
institusi positif. Yang dimaksud dengan institusi adalah kelompok-kelompok atau
komunitas-komunitas sosial. Institusi-institusi positif ini harus selalu dipelihara untuk
menciptakan individu-individu yang positif seperti keluarga yang sehat, lingkungan
kerja yag sehat, dan komunitas-komunitas yang sehat.
Jelaslah bagi kita bahwa kajian-kajian psikologi positif didasarkan pada 3 dimensi misalnya
individu yang tahan terhadap stres haruslah apabila ditinjau dari psikologi positif baiklah dilihat
dari ketiga dimensi tersebut. Pada persoalan kebahagiaan, jelaslah bahwa hal tersebut berada di
dimensi subjektif.
Beberapa ahli psikologi positif telah berhasil mendefiniskan kebahagiaan. Menurut
Heygen, Kebahagiaan adalah perasaan subjektif yang menyenangkan. Mc arthur berpendapat
bahwa kebahagiaan merupakan perasan yang memuaskan dan menggembirakan. Sedangkan
menurut Selligman, kebahagiaan adalah perasaan positif yang ditandai dengan kegiatan-kegiatan
yang positif. Dari defenisi-defenisi para ahli tersebut dapatlah kita simpulkan bahwa kebahagiaan
merupakan sebuah perasaan subjektif yang positif atau kita dapat lebih mengenal dengan istilah
emosi positif.
Seligman mengklasifikasi emosi positif pada tiga komponen yang berasosiasi dengan:
a. Masa lalu
Kepuasan, pemenuhan, dan ketenangan adalah emosi positif yang diasosiasikan dengan
masa lalu.

Christiawan Simanjuntak
12/334400/PS/06393

b. Masa kini
Pada masa kini, ada 2 kelompok yang berbeda yakni kesenangan sementara dan
gratifikasi. Kesenangan sementara merupakan kebahagiaan sementara dan hanya
berdasarkan penginderaan. Misalnya, makanan yang lezat, sensasi seksual, dan suara
yang enak didengar. Gratifikasi merupakan kebahagiaan batiniah. Kebahagiaan ini lebih
kompleks dari pada kebahagiaan sementara. Gratifikasi lebih rumit dan membutuhkan
kecerdasan dalam mengolahnya seperti rasa suka, semangat, riang, ceria, dan gembira.
Gratifikasi atau kebahagiaan batiniah ini didapat dari kegiatan-kegiatan yang lebih
kompleks seperti glee, bliss, dan ecstasy.
c. Masa depan
Kebahagiaan atau emosi positif yang berasosiasi dengan masa depan mencakup
optimisme, harapan, kepercayaan diri, dan keyakinan.
Ketiga klasifikasi berdasarkan asosiasi tersebut, terletak atau ditentukan oleh
perasaan-perasaan subjektif yang mendasar. Yang berada di tahap akhir, yang berhak
untuk menilai tetaplah diri kita didalam perasaan subjektif kita.
Sebagai salah satu atribut dalam manusia. Kebahagiaan juga dapat diukur secara
akurat dan konsisten seperti tes kebahagiaan dari argyle (2001), the revised oxford
happiness scale, dan lain-lain.

Christiawan Simanjuntak
12/334400/PS/06393

Daftar Pustaka
1. Froh, J. J. 2004. The History of Positive psychology: Truth be Told. Diakses pada
tanggal 28 oktober 2014 pukul 19.28 WIB dari www.people.hofstra.edu
2. Seligman, Martin. 2005. Authentic Happiness (terjemahan). Bandung: Mizan Pustaka