Anda di halaman 1dari 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Politik Luar Negeri Indonesia : Kebebasaktifan yang Oportunis

Bebas aktif. Dua kata itu terdengar sempurna jika digunakan untuk menggambarkan keadaan politik luar negeri Indonesia. Bagaimana tidak, politik luar negeri bebas aktif pada hakikatnya menunjukkan suatu sikap tidak berpihak pada salah satu blok yang sedang mengadakan pertentangan, namun juga tidak menunjukkan suatu netralitas. Seperti yang

dikatakan Mohammad Hatta dalam pidatonya “Mendayung Antara Dua Karang”, “aktif”

yang dimaksud menunjukkan suatu intensitas Indonesia untuk ikut serta dalam usaha menjaga dan menciptakan perdamaian dunia. Ini berarti Indonesia tidak menunjukkan suatu netralitas, yang diartikan sebagai keadaan tak berpartisipasi. Yang dimaksudkan Bung Hatta adalah Indonesia tidak memihak adidaya dunia namun bukan berarti Indonesia mundur dari arena pertentangan internasional, melainkan Indonesia akan terus berusaha secara aktif untuk melakukan upaya-upaya demi menciptakan perdamaian dunia. Pada hakikatnya, politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif merupakan dambaan setiap negara. Namun sayangnya, teori tinggal teori. Pelaksanaan dari politik luar negeri bebas aktif itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pendulum pelaksanaan politik Indonesia yang bebas aktif menyebabkan Indonesia dapat bergerak dengan mudah ke kiri dan ke kanan, sesuai dengan kepentingan nasional pada masa-masa tertentu. Hal ini dapat dilihat pada pergerakan arah pendulum politik bebas aktif sepanjang era Orde Lama, Orde Baru, hingga masa pemerintahan

reformasi, dari Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY 1 . Tulisan ini akan membahas mengenai arah pergerakan orientasi politik luar negeri Indonesia selama 6 masa kepemimpinan, mulai dari Orde Lama hingga masa Susilo Bambang Yudhoyono, serta benang merah yang dapat ditarik dari 6 masa kepemimpinan tersebut. Dimulai pada masa pemerintahan Presiden Indonesia pertama, Soekarno. Pada era pemerintahan Soekarno, yaitu sejak tahun 1945 sampai tahun 1965, pelaksanaan politik luar

1

Politik

Luar

Negeri

Indonesia

:

Akan

Ke

Mana?

http://azzahrablogs.blogspot.com/2008/04/politik-luar-negeri-

indonesia-akan.html, diakses pada 3 Mei 2008, pukul 13.04.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

negeri Indonesia dapat dikatakan cenderung ke arah kiri. Jakarta tampak lebih akrab dengan Moskow, Beijing maupun Hanoi, dan tampak garang terhadap AS dan sekutu Baratnya 2 . Memang tidak dapat dipungkiri, antara dekade 50-an hingga pertengahan 60-an, Bung Karno merupakan sosok yang penuh dengan kontroversi, hal ini dikarenakan karena visi politik luar negerinya yang kelewat agresif. Keagresifan Bung Karno antara lain ditandai dengan pembentukan NEFOS (New Emerging Forces) yang beranggotakan negara-negara Dunia Ketiga, serta gagasan pembentukan “Poros Jakarta-Beijing-Pyongyang” yang kesemuanya menunjukkan kedekatan Bung Karno dengan komunis 3 . Kedekatan Indonesia dengan komunis ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh keinginan Indonesia, sebagai negara yang ketika itu baru terbentuk, untuk mendapat pengakuan dari dunia internasional, yang ternyata lebih banyak didapatkan Indonesia dari negara-negara Blok Timur pada masa itu. Menjelang masa pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu dari tahun 1965 sampai tahun 1998, politik luar negeri Indonesia menjadi lebih condong ke kanan. Hal ini ditunjukkan dengan membaiknya hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat. Indonesia, yang pada jaman pemerintahan Soekarno sangat anti-Barat, menjadi mau tidak mau sangat bergantung pada kekuatan negara Barat. Kedekatan Indonesia dengan Barat ini berkaitan erat dengan kepentingan nasional Indonesia kala itu, yaitu sebagai negara yang sedang mengalami fase pembangunan, serta sebagai negara baru yang sedang berbenah. Berbagai pembangunan yang dilakukan ini tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Dana ini diperoleh Indonesia dari pinjaman pada negara-negara Barat. Faktor mencari bantuan luar negeri sangat mendominasi diplomasi Indonesia pada tahun-tahun pertama Orde Baru 4 . Kedekatan Indonesia dengan Barat kala itu tidak hanya berlaku di bidang ekonomi, namun juga di bidang industri dan keamanan.

  • 2 Riza Sihbudi. Politik Luar Negeri RI Mau Ke Mana?. http://www.polarhome.com/pipermail/nasional -m/2002-October/000341.html, diakses pada 18 Febuari 2008, pukul 15.42.

  • 3 Sinar Harapan. Melihat Arah Politik Luar Negeri Indonesia, Dari Bung Karno yang Vokal ke Mbak Mega yang Bungkam. http://www.sinarhara pan.co.id/berita/0107/27/lua02.html, diakses pada 3 Mei 2008, pukul 12.09.

  • 4 Bantarto Bandoro, Indonesia dan Negara-negara Besar (Jakarta : Centre for Strategic and International Studies, 1995), hal.

977.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, politik luar negeri Indonesia terlihat seperti tidak mengalami perubahan yang cukup berarti. Hal ini mungkin disebabkan karena masih menjabatnya Ali Alatas sebagai Menteri Luar Negeri, seperti yang terjadi pada jaman Orde Baru. Indonesia masih dapat dikatakan pro-Barat. Kerja sama Indonesia dengan Barat kala itu memang banyak mendatangkan dampak positif bagi kepentingan nasional Indonesia, salah satunya adalah berbagai kemajuan di bidang teknologi, industri, dan ekonomi. Selepas B.J. Habibie, Indonesia beralih di bawah pimpinan Abdurrahman Wahid. Pada masa jabatannya, Abdurrahman Wahid banyak mengadakan kunjungan ke berbagai negara-negara berkembang, yang kemudian banyak mendatangkan tanggapan positif berupa janji untuk memberikan bantuan-bantuan ekonomi bagi Indonesia oleh negara-negara berkembang yang dikunjunginya, yang sebagian besar tergabung dalam ASEAN. Hubungan Indonesia dengan sesama negara berkembang yang tadinya sempat terbengkalai pun kembali terjalin. Hal yang perlu diperhatikan semasa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid adalah pencanangan “diplomasi ekonomi” yang dilakukannya dengan maksud untuk menarik investor asing masuk ke Indonesia. Dalam pidatonya di depan MPR pada tanggal 7 Agustus 2000, ia menyatakan:

Upaya pemulihan ekonomi nasional terus kita lakukan dengan mengundang masuknya investasi dari luar negeri ke Indonesia. Sesungguhnya, minat para investor asing untuk menanam modalnya di Indonesia yang memiliki sumberdaya alam yang besar amat tinggi. Tetapi, ini hanya dapat dicapai kalau kita sukses memperbaiki citra Indonesia sehingga kepercayaan internasional terhadap Indonesia pulih kembali 5 .

Pidato Abdurrahman Wahid ini kembali menegaskan tujuan politik luar negeri Indonesia yang sebenarnya, yaitu memenuhi kepentingan nasional, dalam hal ini menarik minat para investor asing untuk menanam modalnya di Indonesia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

5 Budi Mulyana. Pragmatisme Polugri Indonesia. http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/12/04/ pragmatisme-polugri-indonesia/, diakses pada 3 Mei 2008, pukul 11.13.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Presiden Indonesia yang selanjutnya adalah Megawati Soekarnoputri. Di bawah pimpinan Megawati, politik luar negeri Indonesia kembali condong ke kanan. Ini ditandai dengan dijadikannya AS sebagai negara non-Asia pertama yang dikunjungi Megawati 6 . Selama masa kepemimpinannya, Megawati banyak melakukan kunjungan luar negeri ke berbagai negara seperti Aljazair, Hongaria, Kroasia, dan Mesir, dan lain-lain. Kesemuanya dilakukan, menurut Megawati, untuk aktif meningkatkan hubungan persahabatan dengan negara lain 7 . Dari sini, dapat kita lihat pula orientasi politik luar negeri Indonesia selama masa kepemimpinan Presiden Megawati yang juga mengarah pada pemenuhan kepentingan nasional, dalam hal ini untuk meningkatkan hubungan persahabatan Indonesia dengan negara lain, yang nantinya akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Bagaimana dengan masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

Pada awal September 2007, Jubir Kepresidenan Dino Patti Jalal mengatakan, “Presiden selalu

mengatakan ekuilibrium, tapi ada istilah lain yang digunakan Presiden: all direction forum policy. Berarti, semua orang kita temani dan dari semua orang kita petik manfaat dari kemitraan atau partnership 8 ”. Dari pernyataan tersebut, menjadi jelaslah realitas politik luar negeri Indonesia yang terwakili dalam satu kata: oportunisme. Sesungguhnya, jika ditilik dari perkembangan politik luar negeri Indonesia selama 6 masa kepemimpinan, jelaslah orientasi politik luar negeri Indonesia: kepentingan nasional. Selama suatu negara dapat memberikan sumbangan positif bagi kepentingan nasional kita, maka Indonesia dengan senang hati akan

menjalin hubungan baik dengan negara tersebut. Begitu juga bila suatu negara tidak memberikan sumbangan cukup positif bagi kepentingan nasional kita, apalagi bila hubungan Indonesia dengan suatu negara malah merugikan Indonesia dan kepentingan nasionalnya, maka Indonesia tidak akan segan untuk meregangkan hubungannya dengan negara tersebut.

6

7

8

Riza

Sihbudi.

Politik

Luar

Negeri

RI

Mau

Ke

Mana?.

http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/2002

-October/000341.html, diakses pada 18 Febuari 2008, pukul 15.42.

 

Dwitri

Walluyo

dan

Zainal

Dalle.

Perjalanan

Presiden

Megawati,

Tak

Berharap

Bulan

Jatuh.

http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23& id=20606, diakses pada 3 Mei 2008, pukul 14.07.

 

Budi

Mulyana.

Pragmatisme

Polugri

Indonesia.

http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007

/12/04/pragmatisme-polugri-indonesia/, diakses pada 3 Mei 2008, pukul 11.13.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Dari kesemua penjelasan di atas, dapat disimpulkan kepentingan nasional-lah yang menjadi benang merah dari semua orientasi politik luar negeri Indonesia selama 6 masa kepemimpinan. Dan untuk mencapai pemenuhan kepentingan nasional tersebut, sikap oportunis pun dijalankan Indonesia.