Anda di halaman 1dari 13

Lembaga keuangan adalah badan usaha yang mengumpulkan asset dalam bentuk dana dari

masyarakat dan disalurkan untuk pendanaan proyek pembangunan serta kegiatan ekonomi
dengan memperoleh hasil dalam bentuk bunga sebesar prosentase tertentu dari besarnya dana
yang disalurkan. Sekalipun perbankan kovensional telah menjadi bagian utama dalam
menjalankan roda ekonomi namun masih banyak kalangan ulama menyatakan bahwa bunga
yang diperoleh dari aktivitas perbankan tidak sesuai dengan ajaran islam. Sejalan dengan itu
terakhir muncul lembaga keuangan dalam konsep ekonomi islam yang dikenal dengan perbankan
syariah, namun faktanya pemakai jasanya perbankan syariah juga banyak dari kalangan nonislam. Lembaga keuangan merupakan bagian utama dari sistem keuangan dalam ekonomi
modern yang melayani masyarakat pemakai jasa-jasa keuangan. Lembaga keuangan utama
adalah Bank. Dengan bantuan lembaga keuangan para pelaku usaha dapat melakukan transaksi
keuangan dalam jumlah besar yang tidak mungkin dilakukan secara tunai.
KLASIFIKASI LEMBAGA KEUANGAN
Lembaga keuangan (atau sering juga disebut Iembaga intermediasi) dapat dikelompokkan
berdasarkan kemampuannya menghimpun dana dari masyarakat secara langsung. Atas dasar
tersebut lembaga keuangan dapat dibedakan menjadi lembaga keuangan depositori (depository
financial institution) dan lembaga keuangan nondepositori (non depository financial
institution).
Lembaga keuangan depositori atau sering juga disebut depository intermediary. Lembaga
keuangan ini menghimpun dan secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan
(deposits) misalnya giro, tabungan atau deposito berjangka yang diterima dari penabung atau
unit surplus. Unit surplus memiliki kelebihan pendapatan, setelah dikurangi kebutuhan untuk
konsumsi. Lembaga keuangan yang menawarkan jasa-jasa seperti ini adalah bank-bank.
Lembaga keuangan non depositori atau sering juga disebut lembaga keuangan Non bank.
Lembaga keuangan yang kegiatan usahanya bersifat kontraktual (contractual institutions) yaitu
menarik dana dari masyarakat dengan menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung
terhadap risiko ketidakpastian misalnya polis asuransi, program pensiun. Kelompok lembaga
keuangan kontraktual dapat disebut perusahaan asuransi dan dana pensiun.
Lembaga keuangan investasi (investment institution) misalnya perusahaan efek, reksa dana.
Lembaga keuangan bukan bank lainnya yaitu perusahaan modal ventura dan perusahaan
pembiayaan (finance company) yang menawarkan jasa pembiayaan sewaguna usaha, anjak
piutang, pembiayaan konsumen dan kartu kredit.
PERAN
LEMBAGA
KEUANGAN
DALAM
PROSES
INTERMEDIASI
Intermediasi keuangan adalah proses/kegiatan pengalihan dana dari penabung (ultimate lenders)
kepada peminjam (ultimate borrowers). Proses intermediasi dilakukan oleh lembaga keuangan
dengan cara membeli sekuritas primer yang diterbitkan oleh unit defisit dan dalam waktu yang
sama lembaga keuangan mengeluarkan sekuritas sekunder kepada penabung atau unit surplus.
Sekuritas primer antara lain dapat berupa saham, obligasi, commercial paper, perjanjian kredit
dan sebagainya. Sementara yang termasuk sekuritas sekunder adalah giro, tabungan, deposito
berjangka, sertifikat deposito, polis asuransi, reksa dana dan sebagainya.
Fred C. Yeager, Dalam Bukunya Financial Institutions Management Lembaga keuangan sebagai
lembaga intermediasi memiliki peran yang sangat strategis dalam proses intermediasi keuangan
scbagai
berikut:

Pengalihan aset (asset transmutation) Untuk memenuhi kebutuhan dananya, unit ekonomi
menerbitkan sekuritas primer yang jangka waktunya dapat disesuaikan dengan keinginan dan
kebutuhannya. Surat-surat berharga yang diterbitkan oleh unit defisit kemungkinan jumlah,
jangka waktu dan bentuknya berbeda dengan kebutuhan unit surplus. Lembaga keuangan
memecahkan masalah tersebut dengan membeli sekuritas primer tersebut dengan menggunakan
dana yang diperoleh dari penerbitan sekuritas sekunder. Dengan menerbitkan sekuritas sekunder
untuk ditukarkan dengan dana unit surplus dan kemudian menukarkannya dengan sekuritas
primer yang dikeluarkan unit defisit. Lembaga keuangan mengubah sekuritas unit surplus
menjadi kewajiban. Proses pengalihan dari kewajiban menjadi kekayaan disebut Transmutasi
aset.
Likuiditas berkaitan dengan kemampuan memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan.
Realokasi pendapatan. Untuk merealokasi penghasilan pada dasarnya dapat saja membeli dan
menyimpan barang misalnya rumah, tanah dan sebagainya, namun dengan memiliki sekuritas
sekunder yang dikeluarkan lembaga keuangan misalnya simpanan di bank, polis asuransi jiwa,
reksa dana, program pensiun dan sebagainya, akan jauh lebih baik dibandingkan dengan
alternatif pertama. Karena Rumah tangga umumnya digunakan untuk tujuan yang bersifat
konsumtif dan bukan untuk peningkatan pendapatan di masa yang akan datang. Sementara unit
usaha, penerbitan sekuritas primer untuk tujuan investasi yang diharapkan dapat meningkatkan
pendapatan.
Transaksi. Sekuritas sekunder yang diterbitkan Iembaga intermediasi keuangan seperti rekening
giro, tabungan, deposito berjangka atau sertifikat deposito dan sebagainya, merupakan bagian
dari sistem pembayaran / transaksi.
http://zulidamel.wordpress.com/2010/02/21/lembaga-keuangan/

Lembaga Keuangan Mikro adalah upaya penyedia jasa keuangan, terutama simpanan dan kredit,
dan juga jasa keuangan lain yang diperuntukan bagi keluarga miskin dan berpenghasilan rendah
yang tidak memiliki akses terhadap bank komersial.
Dalam Lincolin Arsyad, Lembaga Keuangan Mikro adalah lembaga yang memberikan jasa
keuangan bagi pengusaha mikro dan masyarakat berpenghasi lan rendah, baik formal, semi
formal, dan informal yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan formal dan telah berorientasi
pasar untuk tujuan bisnis.
Lembaga Keuangan Mikro berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan berbagai jasa
pinjaman, baik untuk kegiatan produktif yang dilakukan usaha mikro, maupun untuk kegiatan
konsumtif keluarga masyarakat miskin. Sebagai lembaga simpanan, Lembaga Keuangan Mikro
dapat menghimpun dana yang dijadikan prasyarat bagi adanya kredit walaupun pada akhirnya
sering kali jumlah kredit yang diberikan lebih besar dari dana yang berhasil dihimpun.
Referensi Makalah

Kepustakaan:
Zainul Arifin, Dasar-dasar Ekonomi, (Alvabet, Jakarta: 2006). Elsi Kartika Sari, Pengantar
Hukum Zakat dan Wakaf, (Jakarta: Grasindo, 2006).

PENGGABUNGAN PERUSAHAAN
Merger adalah proses difusi atau penggabungan dua perseroan dengan salah satu di antaranya tetap
berdiri dengan nama perseroannya sementara yang lain lenyap dengan segala nama
dankekayaannya dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut.
Merger terbagi menjadi tiga, yaitu:

Merger horizontal, adalah merger yang dilakukan oleh usaha sejenis (usahanya sama),
misalnya merger antara dua perusahaan roti, perusahaan sepatu.

Merger vertikal, adalah merger yang terjadi antara perusahaan-perusahaan yang saling
berhubungan, misalnya dalam alur produksi yang berurutan. Contohnya: perusahaan pemintalan
benang merger dengan perusahaan kain, perusahaan ban merger dengan perusahaan mobil.

Konglomerat ialah merger antara berbagai perusahaan yang menghasilkan berbagai produk
yang berbeda-beda dan tidak ada kaitannya, misalnya perusahaan sepatu merger dengan
perusahaan elektronik atau perusahaan mobil merger dengan perusahaan makanan. Tujuan utama
konglomerat ialah untuk mencapai pertumbuhan badan usaha dengan cepat dan mendapatkan hasil
yang lebih baik. Caranya ialah dengan saling bertukar saham antara kedua perusahaan yang
disatukan.

Bentuk kerja sama atau penggabungan badan usaha di antaranya sebagai berikut.

Trust

Trust adalah peleburan beberapa badan usaha menjadi sebuah perusahaan yang baru, sehingga
diperoleh kekuasaan yang besar dan monopoli. Contoh: Bank Mandiri merupakan gabungan dariBank
Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, Bank Ekspor Impor Indonesia

Kartel

Kartel adalah bentuk kerja sama antara beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang
sama dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan, memperkecil kondisi persaingan, dan memperluas
atau menguasai pasar. Macam-macam kartel yang sering dijumpai antara lain:
1. Kartel wilayah adalah penggabungan yang didasarkan pada perjanjian pembagian wilayah atau
daerah penjualan dan pemasaran barangnya
2. Kartel produksi adalah penggabungan yang bertujuan untuk menyelenggarakan produksi
bersama secara massal, tetapi masing-masing perusahaan ditetapkan batas jumlah produksi
yang diperbolehkan (kuota produksi)
3. Kartel bersyarat atau kartel kondisi adalah penggabungan dengan menetapkan syarat-syarat
penjualan, penyerahan barang, dan penetapan kualitas produksi
4. Kartel harga adalah penggabungan dengan menetapkan harga minimum dari produk yang
dihasilkan masing-masing anggota
5. Kartel pembelian dan penjualan adalah penggabungan untuk pembelian dan penjualan hasil
produksi, agar tidak terjadi persaingan.

Holding Company

Holding Company adalah suatu PT yang besar yang menguasai sebagian besar sero atau saham
perusahaan lainnya. Meskipun secara yuridis badan usaha yang dikuasai tetap berdiri sendiri namun
diatur dan dijalankan sesuai dengan kebijakan PT yang menguasai.

Concern

Sebenarnya concern sama halnya dengan holding company, yaitu memiliki sebagian besar sahamsaham dari beberapa badan usaha. Perbedaannya adalah holding company sering berbentukPT,
sedangkan concern sering dimiliki perseorangan, yaitu seorang hartawan yang mempunyai modal yang
amat besar.

Corner dan Ring

Corner dan ring adalah penggabungan beberapa badan usaha yang tujuan mencari keuntungan besar,
dengan cara menguasai penawaran barang untuk memperoleh monopoli dan menaikkan harga.

Syndicate

Syndicate adalah kerja sama sementara oleh beberapa badan usaha untuk menjual atau mengerjakan
suatu proses produksi.

Joint Venture

Joint venture adalah penggabungan beberapa badan usaha untuk mendirikan satu bentuk usaha
bersama dengan modal bersama pula, dengan tujuan untuk menggali kekayaan alam dan mendidik
tenaga ahli untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Production Sharing

Production sharing adalah kerja sama bagi hasil antara pihak-pihak tertentu.

Waralaba (Franchise)

Waralaba merupakan sistem usaha yang tidak memakai modal sendiri, artinya untuk membuka gerai
waralaba cukup menggunakan modal milik investor lain. Seorang franchise (pembeli usaha waralaba)
harus memenuhi syarat-syarat khusus yang ditetapkan oleh franchisor (perusahaan waralaba), karena
pada franchise akan menggunakan merek yang sama dengan franchisor sehingga harus memiliki standar
yang sama. Keuntungan yang diperoleh investor waralaba antara lain terhindar dari biaya trial and error,
karena sudah terlebih dahulu dikeluarkan oleh pemilik usaha.

http://id.wikipedia.org/wiki/Merger

Penggabungan Usaha
Pengertian Penggabungan Usaha
Dunia usaha semakin lama semakin berkembang dan persaingan dalam jenis produk, mutu
produk, maupun pemasarannya semakin ramai dan ketat sehingga seringkali timbul persaingan
yang tidak sehat dan saling mengalahkan.
Untuk mengatasi adanya saling merugikan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang
lain, perlu kiranya diadakan suatu bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Salah satu
bentuk kerjasama yang dapat ditempuh adalah dengan melalui penggabungan usaha antara dua
atau lebih perusahaan dengan perusahaan yang lain baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis.
Berdasarkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 22 paragraf 08 tahun 1999 :
Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih perusahaan yang
terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting wiith)
perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain
Sedangkan menurut Hadori Yunus (1981 : 224), pengertiannya adalah sebagai berikut :
Penggabungan badan usaha adalah usaha untuk menggabungkan suatu perusahaan dengan satu
atau lebih perusahaan lain ke dalam satu kesatuan ekonomis.
Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penggabungan usaha merupakan usaha
pengembangan atau perluasan perusahaan dengan cara menyatukan perusahaan dengan satu atau
lebih perusahaan lain menjadi satu kesatuan ekonomi.
Jenis dan bentuk penggabungan usaha
a. Jenis-jenis penggabungan usaha
Berdasarkan PSAK No. 22 paragraf 08 tahun 1999, terdapat dua jenis penggabungan usaha
yaitu :
1) Akuisisi (acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu
pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva netto dan operasi perusahan yang
diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau

mengeluarkan saham.
2) Penyatuan kepemilikan (uniting of interest/pooling of interest) adalah suatu penggabungan
usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama menyatukan
kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva neto dan operasi kendali perusahaan yang
bergabung tersebut dan selanjutnya memikul bersama segala resiko dan manfaat yang melekat
pada entitas gabungan, sehingga tidak ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai perusahaan
pengakuisisi (acquirer)
b. Bentuk-bentuk penggabungan usaha
Adapun bentuk-bentuk penggabungan usaha menurut Arifin S (2002 : 240-241) dapat dibedakan
ke dalam beberapa golongan, antara lain sebagai berikut :
1) Ditinjau dari bentuk penggabungannya, terdapat tiga bentuk penggabungan usaha sebagai
berikut :
- Penggabungan horisontal, yaitu penggabungan perusahaan-perusahaan yang sejenis yang
menjadi satu perusahaan yang lebih besar. Pada umumnya dasar dibentuknya penggabungan
usaha ini adalah untuk menghindari adanya persaingan diantara perusahaan yang sejenis dan
meningkatkan efisiensi diantara perusahaan-perusahaan yang bersangkutan tersebut.
- Penggabungan vertikal, yaitu penggabungan perusahaan yang sebelumnya, keduanya
mempunyai hubungan yang saling menguntungkan, misalnya suatu perusahaan lain yang
kemudian pemasok (supplier) bahan baku perusahaan lain yang kemudian bergabung agar dapat
terjaga adanya kepastian bahan baku dan kontinuitas produksi.
- Penggabungan konglomerat, yaitu merupakan kombinasi dari penggabungan horisontal dan
vertikal. Penggabungan konglomerat ini merupakan gabungan dari perusahaan-perusahaan yang
memiliki usaha yang berlainan misalnya perusahaan angkutan bergabung dengan perusahaan jasa
hotel dan perusahaan makanan (catering).
2) Sedangkan dari segi hukumnya, penggabungan usaha dibagi menjadi :
- Merger, yaitu penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan membeli perusahaan lain yang
kemudian perusahaan yang dibelinya tersebut menjadi anak perusahaannya atau dibubarkan.
Perusahaan yang dibelinya sudah tidak mempunyai status hukum lagi dan yang mempunyai
status hukum adalah perusahaan yang membelinya.
- Konsolidasi, merupakan bentuk lain dari merger, yaitu penggabungan usaha dengan cara satu
perusahaan bergabung dengan perusahaan lain membentuk satu perusahaan baru
- Afiliasi, yaitu penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar saham atau seluruh
saham perusahaan lain untuk memperoleh hak pengendalian (controlling interest). Perusahaan
yang dikuasai tersebut tidak kehilangan status hukumnya dan masih beroperasi sebagaimana
perusahaan lainnya.
Akuisisi
Pengertian Akuisisi
Sebelum membahas lebih lanjut tentang tujuan dan motivasi perusahaan melakukan akuisisi,
terlebih dahulu akan dibahas pengertian dari akuisisi. Ada beberapa pendapat dari para ahli
tentang definisi akuisisi yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
Menurut PSAK No. 2 paragraf 08 tahun 1999 :
Akuisisi (acqusition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu
pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang
diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau
mengeluarkan saham.

Sedangkan Michael A. Hitt, dkk (2002 : 259) menyatakan bahwa :


Akuisisi yaitu memperoleh atau membeli perusahaan lain dengan cara membeli sebagian besar
saham dari perusahaan sasaran.
Definisi lainnya menurut P.S Sudarsanan (1999) dalam Christina (2003 : 9);
Akuisisi dapat didefinisikan sebagai sebuah perjanjian, sebuah perusahaan membeli aset atau
saham perusahaan lain, dan para pemegang dari perusahaan lain menjadi sasaran akuisisi
berhenti menjadi pemilik perusahaan.
Marcell Go dalam Christina (2003 : 9), dalam bukunya yang berjudul manajemen grup bisnis
menyatakan bahwa :
Akuisisi sering juga disebut sebagai investasi peranan modal. Akuisisi adalah penguasaan
sebagian saham dari perusahaan subsidiary, melalui pembelian saham hak suara perusahaan
subsidiary, dalam jumlah material (lebih dari 50%).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka akuisisi dapat disimpulkan sebagai pengambilalihan
kepemilikan suatu perusahaan oleh perusahaan lain yang dilakukan dengan cara membeli
sebagian atau seluruh saham perusahaan, dimana perusahaan yang diambil alih tetap memiliki
hukum sendiri dan dengan maksud untuk pertumbuhan usaha.
Klasifikasi Akuisisi
a) Berdasarkan bentuk dasar akuisisi, terdapat tiga prosedur dasar yang tepat dilakukan
perusahaan untuk mengambil alih perusahaan lain, yaitu :
1) Merger atau konsolidasi
Istilah merger sering digunakan untuk menunjukkan penggabungan dua perusahaan atau lebih,
dan kemudian tinggal nama salah satu perusahaan yang bergabung. Sedangkan consolidation
menunjukkan penggabungan dari dua perusahaan atau lebih, dan dari perusahaan-perusahaan
yang bergabung tersebut hilang, kemudian muncul nama baru dari perusahaan gabungan.
2) Akuisisi saham
Cara kedua untuk mengambil alih perusahaan lain adalah membeli saham perusahaan tersebut,
baik dibeli secara tunai, ataupun menggantinya dengan sekuritas lain (saham atau obligasi).
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih antara akuisisi saham atau merger :
- Dalam akuisisi saham, tidak diperlukan rapat umum pemegang saham (RUPS) dan pemungutan
suara
- Dalam akuisisi saham, perusahaan yang akan mengakuisisi dapat berhubungan langsung
dengan pemegang saham target lewat tender offer.
- Akuisisi saham seringkali dilakukan secara tidak bersahabat untuk menghindari manajemen
perusahaan target yang seringkali menolak akuisisi tersebut.
- Seringkali sejumlah minoritas pemegang saham dari perusahaan target tetap tidak mau
menyerahkan saham mereka untuk dibeli dalam tender offer, sehingga perusahaan target tetap
tidak sepenuhnya terserap ke perusahaan yang mengakuisisi.
3) Akuisisi Assets
Suatu perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan jalan membeli aktiva perusahaan
tersebut. Cara ini akan menghindarkan perusahaan dari kemungkinan memiliki pemegang saham
minoritas, yang dapat terjadi pada peristiwa akuisisi saham. Akuisisi assets dilakukan dengan
cara pemindahan hak kepemilikan aktiva-aktiva yang dibeli.
b) Berdasarkan keterkaitan operasinya, akusisi dikelompokkan sebagai berikut :
- Akuisisi Horisontal
Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan lain yang mempunyai bisnis atau bidang usaha yang
sama. Perusahaan yang diakuisisi dan yang mengakuisisi bersaing untuk memasarkan produk

yang mereka tawarkan


- Akuisisi vertikal
Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang berada pada tahap proses produksi yang
berbeda. Misalnya, perusahaan rokok mengakuisisi perusahaan perkebunan tembakau.
- Akuisisi konglomerat
Perusahaan yang mengakuisisi dan yang diakuisisi tidak mempunyai keterkaitan operasi.
Akuisisi perusahaan yang menghasilkan food-product oleh perusahaan komputer, dapat
dikatakan sebagai akuisisi konglomerat (Suad Husnan, 1998 : 648-651)
Motivasi Akuisisi
Alasan yang sering dikemukakan ketika perusahaan bergabung dengan perusahaan lain atau
melakukan akuisisi adalah karena dengan akuisisi, perusahaan mampu mencapai pertumbuhan
lebih cepat daripada harus membangun unit usaha sendiri. Selain itu, faktor yang paling
mendasari perusahaan melakukan akuisisi adalah motif ekonomi (mendapat keuntungan).
Beberapa perusahaan melakukan akuisisi karena adanya beberapa motivasi. Menurut Suad
Husnan (1998 : 658-660) motivasi akuisisi adalah sebagai berikut :
a) Sinergi
Sinergi merupakan nilai gabungan dari kedua perusahaan yang bergabung, lebih besar dari
penjumlahan masing-masing nilai perusahaan yang digabungkan. Jadi, kondisi saling
menguntungkan Pdari peristiwa akuisisi, akan terjadi jika telah diperoleh sinergi. Sinergi yang
dihasilkan akuisisi ada dua jenis yaitu operasional sinergi dan sinergi keuangan. Operasional
sinergi adalah sinergi yang dinikmati perusahaan karena kombinasi dari beberapa operasi,
sehingga dapat menekan biaya atau menaikkan penghasilan. Sedangkan sinergi keuangan,
berasal dari penghematan yang dinikmati perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan
(financing)
b) Peningkatan pendapatan
Dengan adanya akuisisi, pendapatan dapat meningkat karena kegiatan pemasaran yang lebih
baik, strategi benefits, dan peningkatan daya saing. Pemasaran yang lebih baik dapat terjadi
karena pemilihan bentuk dan media promosi yang lebih tepat, memperbaiki sistem distribusi, dan
menyeimbangkan komposisi produk. Strategi benefits memungkinkan perusahaan
mengembangkan produk, atau menembus target pasar yang semula sulit untuk dilakukan.
Sedangkan peningkatan daya saing dapat terjadi apabila penggabungan usaha tersebut
meningkatkan pengusaan pasar oleh perusahaan sehingga menimbulkan kekuatan monopoli.
c) Penurunan biaya
Penurunan biaya mungkin dapat terjadi sebagai akibat dari peningkatan unit yang dihasilkan,
sehingga menekan biaya rata-rata (economies of scale) menghilangkan manajemen yang kurang
efisien dan penggunaan sumberdaya yang komplementer, juga merupakan sumber-sumber untuk
mengurangi biaya.
d) Penghematan pajak
Perusahaan melakukan akuisisi sebagai potensi memperoleh penghematan pajak. Salah satu
sumber penghematan pajak adalah untuk meningkatkan debt capacity. Apabila penggabungan
perusahaan menyebabkan kombinasi perusahaan tersebut mampu meminjam lebih besar tanpa
harus meningkatkan biaya kebangkrutan, maka tambahan pinjaman tersebut akan mampu
memberikan manfaat dalam bentuk tax savings.
e) Diversifikasi
Manajemen melakukan akuisisi untuk tujuan diversifikasi usaha, yaitu keinginan untuk
memasuki industri yang lebih luas dan menguntungkan dimana industri target berada, dan

dengan menggabungkan dua badan usaha yang berbeda ini, maka akan memiliki jenis usaha
yang lebih besar tanpa harus memulai usaha dari awal, karena semuanya sudah dirintis oleh
perusahaan yang diakuisisi, sehingga perusahaan pengakuisisi hanya melanjutkan apa yang telah
ada.
Manfaat Akuisisi
Menurut Shapiro (1991 : 933) dalam Christina (2003 : 12), keuntungan atau manfaat akuisisi
adalah sebagai berikut :
1) Peningkatan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dalam bisnis sekarang daripada melakukan
pertumbuhan secara internal.
2) Mengurangi tingkat persaingan dengan membeli beberapa badan usaha guna menggabungkan
kekuatan pasar dan pembatasan persaingan.
3) Memasuki pasar baru penjualan dan pemasaran sekarang yang tidak dapat ditembus
4) Menyediakan managerial skill, yaitu adanya bantuan manajerial mengelola aset-aset badan
usaha.
Proses Akuisisi
Proses akuisisi merupakan suatu faktor penting, terutama karena pembelian suatu unit bisnis
tertentu pada umumnya berkaitan dengan jumlah uang yang relatif besar dan membutuhkan
waktu yang relatif lama, sehingga bagi perusahaan pengambil alih, sebelum memutuskan untuk
akuisisi terhadap suatu perusahaan terlebih dahulu akan berusaha memahami secara lebih jelas
mengenai prospek dan sasaran yang akan dicapai.
Proses akuisisi menurut P.S Sudarsaman (1999 : 50) dalam Christina (2003 : 15) terdiri dari tiga
tahap, yaitu :
1) Tahap persiapan, meliputi :
- Mengembangkan strategi akuisisi, alasan penciptaan nilai dan kriteria akuisisi
- Meneliti, menyaring dan mengidentifikasi perusahaan target.
- Evaluasi strategi terhadap sasaran dan menilai kelayakan akuisisi
2) Tahap negosiasi, meliputi :
- Pengembangan strategi pengarahan
- Mengevaluasi keuangan dan perhitungan harga perusahaan target
- Negosiasi dan transaksi pembiayaan
3) Tahap integrasi (penggabungan), meliputi :
- Mengevaluasi kesehatan organisasi dan budaya perusahaan
- Mengembangkan pendekatan integrasi
- Menyesuaikan strategi, organisasi dan budaya antara perusahaan pengakuisisi dan perusahaan
yang diakusisi.
- Hasil-hasil
Sedangkan menurut Alfred Rappaport (1979) dalam Christina (2003: 16) proses analisis akuisisi
melalui tiga tahap yaitu :
1) Planning
Proses perencanaan akuisisi dimulai dengan suatu analisis terhadap corporate objectives and
product market strategics. Analisis ini ditujukan untuk memahami kekuatan dan kelemahan yang
meliputi berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, teknologi dan sebagainya. Disamping itu,
analisis ini juga meliputi parameter-paratemeter industri seperti proyeksi tingkat pertumbuhan
pasar, peraturan pemerintah dan faktor sumber daya manusia dengan menggunakan berbagai
kriteria seperti kualitas manajemen, profitabilitas, struktur modal dan kriteria lainnya.
2) Search and Screen

Proses pencarian dan pelacakan merupakan suatu pendekatan sistematik untuk menggabungkan
berbagai prospek akuisisi yang menarik dan dianggap menguntungkan. Proses pencarian lebih
menfokuskan pada bagaimana dan dimana mencari calon perusahaan yang akan diambil
alih, yang dianggap menunjukkan calon terbaik sesuai dengan sasaran dan kriteria yang
dikembangkan dalam tahap proses perencanaan.
3) Financial evaluation
Proses evaluasi keuangan lebih memfokuskan pada jawaban manajemen atas beberapa
pertanyaan mengenai harga tertinggi yang harus dibayar oleh perusahaan pengambil alih serta
apa yang menjadi resiko utama.
Perlakuan Akuntansi Akuisisi
Dilihat dari segi akuntansinya, apabila dua atau lebih badan usaha diselenggarakan bersama atau
digabungkan dengan tujuan untuk melanjutkan usaha-usahanya yang terdahulu. Sebagai akibat
adanya kombinasi tersebut, maka prosedur pencatatan akuntansinya terdiri dari dua macam
metode yaitu metode pembelian (by purchase) dan metode penyatuan kepentingan (by pooling of
interest)
Menurut Hadori Yunus (1981 : 251, 258) :
a) Metode pembelian (by purchase), yaitu apabila di dalam suatu kombinasi usaha dari dua atau
lebih badan usaha, dimana bagian yang terpenting dari pemilikan perusahaan atau perusahaanperusahaan yang diperoleh itu dieliminasikan. Atau apabila penggabungan badan usaha tersebut
berakibat para pemilik perusahaan yang bergabung tidak lagi ikut berpartisipasi secara substansil
di dalam perusahaan tunggal yang dibentuk. Dengan lain perkataan, sebagai akibat kombinasi
usaha itu terjadi (timbul) suatu pemilikan baru.
b) Metode penyatuan kepentingan (by pooling of interest), yaitu pada suatu kombinasi usaha dari
dua atau lebih badan usaha, dimana pemegang-pemegang dari bagian penting atas pemilikan
masing-masing badan usaha itu menjadi pemilik dari badan usaha yang kemudian memiliki harta
kekayaan dan usaha-usaha dari perusahaan yang bergabung, baik secara langsung atau melalui
satu atau lebih anak perusahaan.
Sedangkan menurut Suad Husnan (1998 : 655,656)
a) Metode pembelian (by purchase)
Metode ini mencatat kekayaan perusahaan yang diakuisisi pada harga pasar yang wajar (fair
market value) pada buku perusahaan yang melakukan akuisisi. Dengan demikian, maka
perusahaan yang melakukan akuisisi dapat menentukan harga perolehan yang baru (new cost
basis) untuk aktiva-aktiva yang diakuisisi. Pada metode ini, istilah akuntansi goodwill
diciptakan. Goodwill merupakan selisih antara harga yang dibayar dengan nilai pasar yang wajar
dari aktiva yang diakuisisi.
b) Metode penyatuan kepentingan (by pooling of interest)
Dengan metode ini, aktiva-aktiva perusahaan baru dinilai sama dengan nilai buku dari
perusahaan yang mengakuisisi dan diakuisisi. Perusahaan yang baru, dimiliki bersama oleh para
pemegang saham perusahaan-perusahaan lama. Aktiva total dan ekuitas total tidak mengalami
perubahaan. Tidak ada goodwill yang timbul. Metode ini digunakan apabila perusahaan
pengakuisisi menerbitkan saham dengan hak suara (voting stock) sebagai pertukaran minimal
sebanyak 90% dari saham denga hak suara yang diakuisisi.
http://dwiermayanti.wordpress.com/2009/10/15/penggabungan-badan-usahaakuisisi/

PENGKOSENTRASIAN PERUSAHAAN
1.
Trust
Trust merupakan suatu bentuk penggabungan / kerjasama perusahaan secara horisontal untuk
membatasi persaingan, maupun rasionalisasi dalam bidang produksi dan penjualan.
2. Holding Company
Holding Company / Perusahaan Induk yaitu perusahaan yang berbentuk Corporation yang
menguasai sebagian besar saham dari beberapa perusahaan lain
3. Kartel
Kartel adalah bentuk kerjasama perusahaan-perusahaan dengan produksi barang dan jasa sejenis
yang didasarkan perjanjian bersama untuk mengurangi persaingan.
Kartel dibagi dalam beberapa bentuk :
a. Kartel Kondisi / syarat
Perjanjian dalam kartel jenis ini menekankan pada syarat-syarat penyerahan barang dan
pembayaran. Diluar perjanjian ini para anggota kartel bebas melakukan apa saja dalam
bidangnya masing-masing.
b. Kartel Harga
Perjanjian dalam kartel ini menekankan pada pembatasan harga jual untuk produk yang
sama/sejenis. Para anggota kartel tidak diperkenankan menjual produk di bawah harga yang telah
ditetapkan.
c. Kartel produksi
Perjanjian dalam kartel ini menekankan pada pembatasan produksi masing-masing anggota,
biasanya ditetapkan atas dasar jumlah tertentu atau persentase tertentu dari total produksi. Tujuan
pembatasan produksi adalah mengatur jumlah produksi yang beredar di pasar sehingga harga
bisa dipertahankan pada suatu tingkat tertentu.
d. Kartel Daerah
Kartel daerah berkaitan dengan perjanjian antara para anggota kartel untuk membagi daerah
pemasarannya, misalnya atas dasar wilayah tertentu atau atas dasar jenis barang (biasanya akan
terjadi spesialisasi)
e. Kartel pembagian laba
Perjanjian dalam kartel ini menyangkut cara pembagian laba untuk masing-masing anggota.
Laba yang diperoleh para anggota kartel terlebih dahulu disetorkan ke kas pusat baru dibagikan
kepada para anggotanya berdasarkan formula yang sudah ditetapkan bersama.
Contoh : Kartel minyak, kartel semen
4. Sindikasi
Adalah bentuk perjanjian kerjasama antara beberapa orang untuk melaksanakan suatu proyek.
Sindikasi juga dapat melakukan perjanjian sindikasi untuk memusatkan penjualan pada satu

lokasi tertentu, disebut sindikasi penjualan. Ada juga sindikasi perbankan (beberapa bank
bersindikasi untuk membiayai suatu proyek yang besar)
5. Concern
Concern adalah suatu bentuk penggabungan yang dilakukan baik secara horisontal maupun
vertikal dari sekumpulan perusahaan Holding. Concern dapat muncul sebagai akibat dari satu
perusahaan yang melakukan perluasan usaha secara horisontal ataupun vertikal melalui pendirian
perusahaan baru.
Dengan concern, penarikan dana untuk anak perusahaan dapat dilakukan melalui induk
perusahaan yang kedudukannya di pasar modal lebih kuat dibandingkan bila anak perusahaan
beroperasi sendiri-sendiri di pasar modal.
Dengan concern, dapat lebih mudah melakukan rasionalisasi seperti halnya:
- Melakukan spesialisasi diantara perusahaan yang bernaung dibawah concern bersangkutan.
- Menghentikan perusahaan-perusahaan dengan tingkat laba terendah, memuaskan penelitian
pasar, reklame riset, dsb.
- Dalam hal kebutuhan modal kerja, maka dapat mengalihkan modal yang menganggur di satu
perusahaan ke perusahaan lain yang membutuhkan.
6.
Joint Venture
Merupakan perusahaan baru yang didirikan atas dasar kerjasama antara beberapa perusahaan
yang berdiri sendiri.
Ciri-ciri Joint Venture;
a. Merupakan perusahaan baru yang didirikan bersama oleh beberapa perusahaan.
b. Modal terdiri dari pengetahuan dan modal yang disediakan para pendiri.
c. Joint venture antara perusahaan asing dengan modal nasional harus berbentuk Perseroan
Terbatas.
Contoh:
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tujuh operator selular di Asia Pasifik telah menandatangi
kesepakatan pembentukan perusahaan joint venture yang dinamakan Bridge Mobile Alliance
(Bridge). Penandatanganan ini dilakukan di Singapura tanggal 3 november 2004 lalu. Dimana
pelopor dari kesepakatan ini adalahSingapura.
Operator-operator yang termasuk di dalam Bridge ini adalah Bharti (India), Globe Telecom
(Filipina), Maxis (Malaysia), Optus (Australia), SingTel (Singapura), Taiwan Cellular
Corporation (Taiwan) dan Telkomsel (Indonesia). Dengan rincian pelanggan yaitu; 14,5 juta
pelanggan Telkomsel, 3 juta dari SingTel, 5 juta dari Maxis, 9 juta dari Bharti, 13 dari Globe
Telecom, sekitar 8 jutadariTCC.
Tujuan utama pembentukan perusahaan joint venture ini adalah untuk memenuhi kebutuhan
komunikasi selular bagi segmen yang sering bepergian untuk menikmati layanan yang friendly
(ramah) dan biaya yang efisien, dimana pelanggan akan merasakan layanan di luar negeri seperti
layanan selular di negara sendiri. Aktivitas pokok Bridge adalah mengembangkan suatu proses
koordinasi regional dimana seluruh pelanggan dapat menikmati layanan selular regional yang

ditawarkan oleh salah satu operator yang masuk dalam grup Bridge.
Tujuan pembentukan Bridge ini adalah untuk memberikan pelayanan global dengan lebih baik
melalui pengembangan produk dan layanan selular regional secara bersama-sama dan
mengeksplor platform layanan yang kompatibel lintas negara. Dengan begitu perusahaan yang
tergabung dalam Bridge akan mendapat nilai tambah, ujar Bajoe Narbito, Direktur Utama
Telkomsel, Jumat (5/11).
7. Trade Association
yaitu persekutuan beberapa perusahaan dari suatu cabang perusahaan yang sama dengan tujuan
memajukan para anggotanya dan bukan mencari laba.
Contoh: APKI (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia, ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman
Indonesia)
8. Gentlements Agreement
Persetujuan beberapa produsen dalam daerah penjualan dengan maksud mengurangi persaingan
diantara mereka.
http://hokkopparuliansitompul.wordpress.com/category/uncategorized/page/6/