Anda di halaman 1dari 6

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Universitas
Indonesia.

REVIEW ORGANISASI INTERNASIONAL


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber : Kelly-Kate S. Pease, International Organizations : Perspective on Governance in The Twenty-First Century,
(New Jersey: Prentice Hall.Inc, 2000), hal. 37-53.

Organisasi Internasional Menurut Perspektif Realisme, Signifikan dan Efektifkah?

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, Uni Afrika. Ketiga organisasi tersebut merupakan sedikit
contoh dari banyaknya organisasi internasional yang keberadaannya kini tidak dapat dipisahkan dari sistem
dunia internasional. Fenomena organisasi internasional tentunya telah memberikan dinamika sendiri bagi
perkembangan hubungan internasional. Bagaimanakah realisme, salah satu perspektif yang bisa dibilang
sebagai pendekatan tertua dalam ilmu hubungan internasional, memandang organisasi internasional?
Kelly-Kate S. Pease dalam bukunya yang berjudul International Organizations: Perspectives on
Governance in The Twenty-First Century mengutarakan pandangan kaum realis terhadap organisasi
internasional, dengan menyebutkan beberapa pandangan para pemikir besar realis. Senada dengan
Thucydides, Kelly-Kate S. Pease mempertanyakan kegunan aliansi, salah satu bentuk organisasi
internasional. Kelly-Kate S. Pease mengakui bahwa aliansi memang memberikan sumbangan dalam hal
keamanan nasional, yaitu dengan memperkecil kemungkinan suatu negara akan diserang, dalam hal ini oleh
negara sesama anggota aliansi. Namun, Kelly-Kate S. Pease menambahkan, perlu diingat bahwa walaupun
suatu negara telah bergabung dalam suatu aliansi, bukan berarti lantas negara itu tidak perlu membangun
powernya lagi. Setiap negara harus menjamin pertahanannya sendiri melalui kekuatan militer yang
dimilikinya. Kebergabungan suatu negara dalam sebuah aliansi tidak berarti negara itu tidak akan diserang
oleh negara sesama aliansi, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, ia menyimpulkan, keberadaan power
tetaplah senjata yang paling utama dalam hubungan internasional. Kelly-Kate S. Pease juga menyetujui
pandangan Niccolo Machiavelli yang mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk dapat bertahan adalah
dengan bergantung pada diri sendiri. Machiavelli mengatakan bahwa ketergantungan akan membuat
penguasa menjadi tawanan dari sekutu itu sendiri, penguasa akan menjadi lemah karena ketergantungan itu,
dan kepentingan nasional negaranya akan terhalang oleh kepentingan negara sekutu tersebut. Karena itulah,
penguasa harus berhati-hati agar jangan sampai timbul ketergantungan pada negara sekutu. Dari pernyataan
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.

tersebut, dapat dilihat bahwa Kelly-Kate S. Pease mengatakan bahwa kaum realis memandang organisasi
internasional sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, ia menekankan bahwa suatu negara tidak boleh
bergantung sepenuhnya pada organisasi internasional, melainkan harus bergantung pada kekuatan negara itu
sendiri.
Asumsi kaum realis bahwa keadaan dunia adalah anarki dan tanpa pemerintahan dunia juga
mempengaruhi cara pandang Kely-Kate S. Pease dalam memandang organisasi internasional. Keadaan dunia
yang anarki ini mendorong setiap negara untuk mempertahankan dirinya masing-masing. Setiap negara pasti
memiliki keinginan untuk terus mempertahankan eksistensinya dalam dunia internasional. Keinginan itu
mendorong setiap negara maju dalam pentas internasional dengan membawa kepentingan nasional
masing-masing, dan negara-negara itu satu sama lain tidak akan mau untuk mengalah dan
mengkompromisasikan kepentingannya. Karena alasan itulah, ia lagi-lagi mempertanyakan efektifitas dari
sebuah organisasi internasional, organisasi internasional dilihat hanya sebagai ajang pertarungan berbagai
kepentingan nasional negara-negara anggotanya, bukan sebagai ajang untuk memupuk kerjasama antar
anggota. Kelly-Kate S. Pease juga menjelaskan dalam bukunya mengenai salah satu bentuk distribusi
kekuasaan yang didominasi oleh satu negara (unipolar), di mana satu negara itu akan disebut negara
hegemoni. Menurutnya, organisasi internasional merupakan perpanjangan tangan dari negara hegemoni.
Negara hegemon akan menggunakan kekayaan dan kekuatan powernya yang dominan untuk mendirikan
organisasi internasional; negara hegemon juga akan memberikan insentif berupa perlindungan keamanan
dan bantuan ekonomi untuk menarik negara-negara lain agar bergabung. Dengan cara itu, negara hegemon
secara tidak langsung membuat negara-negara anggota organisasi internasional menjadi bergantung padanya.
Organisasi internasional merupakan langkah dari negara hegemon untuk mewujudkan pandangannya
mengenai keteraturan dunia dalam sebuah institusi. Efektifitas organisasi internasional pun menjadi sebatas
berhubungan dengan kepentingan dari negara hegemon tersebut; organisasi internasional merupakan
perpanjangan tangan dari negara hegemoni. Kelly-Kate S. Pease juga mengatakan bahwa organisasi
internasional hanya memberikan sedikit, jika tidak dapat dibilang tidak ada, signifikansi dalam memelihara
perdamaian dunia, karena organisasi internasional tidak dapat membatasi perilaku negara. Negara tidak akan
‘patuh’ pada organisasi internasional, bila kepentingan nasionalnya berada dalam bahaya. Sebaliknya,
pemerataan kekuasaanlah yang akan menentukan apakah suatu perang akan terjadi atau tidak.

Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.

Setelah semua kritiknya terhadap efektifitas organisasi internasional, Kelly-Kate S. Pease


mengakui bahwa organisasi internasional ternyata memang memberikan berbagai dampak positif bagi
terwujudnya keteraturan dunia. Ia mengatakan, organisasi internasional merupakan mekanisme yang baik
untuk mengontrol negara; dengan adanya organisasi internasional, kondisi menuju keteraturan dunia
(walaupun tidak mungkin) akan semakin dapat terwujud. Selain itu, organisasi internasional, lanjut
Kelly-Kate S. Pease, merupakan alat yang baik untuk sosialisasi internasional. Dampak positif ketiga adalah,
organisasi internasional merupakan jawaban dari peperangan yang terjadi antar negara pada jaman dahulu;
peperangan yang bertujuan untuk menguasai dunia dan berusaha mewujudkan keteraturan dunia.
Senada dengan Kelly-Kate S. Pease yang mempertanyakan efektifitas organisasi internasional,
Morgenthau mengatakan bahwa aturan-aturan dalam organisasi internasional seringkali dilanggar oleh para
anggotanya, namun yang menarik adalah mereka yang melanggar seringkali tidak dihukum; dan kalaupun
dihukum, hukuman itu seringkali tidak efektif1. Hal tersebut dikarenakan, menurut E.H. Carr, ketika berada
dalam organisasi internasional, para anggota sangat jarang memperhatikan moral; faktanya, negara lebih
sering bertindak atas dasar dan dengan pengaruh power2. Negara, secara natural egois dan agresif, hanya
mengutamakan dan melakukan hal-hal untuk kepentingan nasional, tanpa memperhatikan hukum dan
moralitas. Selain itu, bagi kaum realis, upaya untuk mewujudkan suatu pemerintahan dunia melalui
organisasi internasional tidak mungkin dapat diwujudkan, karena negara—sebagai aktor rasional—tidak
mungkin bersedia menyerahkan kedaulatannya ke dalam suatu badan internasional3. Faktor tidak begitu
diperhatikannya moral dan keengganan negara untuk mempercayakan kedaulatannya ke dalam sebuah
organisasi internasional itulah yang menyebabkan efektifitas organisasi internasional kembali dipertanyakan.
Signifikansi organisasi internasional kembali dipertanyakan oleh Jill Steans dan Lloyd Pettiford,
yang mengatakan bahwa organisasi internasional hanya akan efektif bila ada suatu sanksi yang efektif dan
power dari negara yang berkuasa/hegemon4. Hal ini menunjukkan, bagi kaum realis, peran negara tetaplah
yang terpenting. Aktor-aktor lain selain negara, termasuk organisasi internasional tidaklah berperan penting
dalam hubungan internasional, karena pengambil keputusan pada akhirnya tetaplah negara. Selain itu, realis

1
Clive Archer. International Organizations, (London : Routledge, 2000), hal. 82.
2
Ibid, hal. 79.
3
Jill Steans dan Lloyd Pettiford. International Relations Perspectives and Themes, (England: Pearson Education Limited, 2001),
hal. 23.
4
Ibid, hal. 26.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.

berpendapat bahwa kewajiban utama negara adalah pada dirinya sendiri, bukan pada hal yang abstrak seperti
‘komunitas internasional’ 5 ; anggapan tersebut mematahkan anggapan bahwa tujuan dari organisasi
internasional adalah untuk memajukan kerjasama antar anggotanya. Kaum realis menilai tujuan seperti itu
terlalu utopis dan tidak masuk akal.
Selain menilai tujuan organisasi internasional sebagai instrumen untuk memajukan kerjasama
antar anggotanya terlalu utopis dan tidak masuk akal, kaum realis juga berpendapat organisasi internasional
tidak terlalu berhasil dan tidak signifikan perannya dalam pencapaian dan pemeliharaan dunia. Hal tersebut
dikatakan oleh Hans J. Morgenthau yang berpendapat bahwa organisasi internasional hanya berhasil
menjadi bagian dalam relasi antara negara dan pemerintah, tanpa memberikan sumbangan yang penting bagi
pencapaian perdamaian dunia6. Lebih lanjut lagi, Clive Archer menyebutkan bahwa organisasi internasional
hanya dilihat sebagai instrumen kebijakan untuk negara, dan organisasi non-pemerintah internasional
tampak tidak mendapat perhatian dalam pandangan kaum realis 7, hal ini dikarenakan pandangan kaum realis
yang menitikberatkan peran negara dalam hubungan internasional.
Pada dasarnya, penulis beranggapan bahwa ajaran realisme tidak terlalu mempercayai efektifitas
dari organisasi internasional. Kaum realis melihat bahwa organisasi internasional hanya merupakan
perpanjangan tangan dari negara yang berkuasa, apa yang dihasilkan dari organisasi internasional
sebenarnya mencerminkan kepentingan negara-negara penguasa. Dapat dikatakan, kaum realis cukup skeptis
terhadap organisasi internasional dan mempertanyakan efektifitas dari organisasi internasional tersebut.
Menurut kaum realis, organisasi internasional itu tidak ubahnya suatu ekstensi dari kepentingan negara
hegemon selaku pendiri organisasi internasional, sehingga dalam pelaksanaannya, tentu saja organisasi
internasional hanya mencerminkan kepentingan negara penguasa, tanpa melirik sedikit pun pada
kepentingan negara anggotanya yang lain. Dan karena ia tidak memberikan sumbangan yang signifikan bagi
negara-negara anggota organisasi internasional non hegemon, penulis lantas berkesimpulan : jika ditilik dari
sudut pandang realisme, keberadaan organisasi internasional merupakan hal yang tidak signifikan. Lebih
lanjut lagi, kaum realis percaya bahwa dalam hubungan internasional, tidaklah mungkin ada suatu hubungan
pertemanan yang dilandasi kepercayaan dan moralitas. Moralitas dipandang oleh realis sebagai sesuatu yang

5
Ibid, hal. 24.
6
Archer, op.cit, hal. 84.
7
Ibid, hal. 85.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.

klise dan tidak perlu mendapat perhatian sebesar power. Hal ini kembali menyentil hal krusial dalam
eksistensi organisasi internasional : kepercayaan antar anggota organisasi—yang menurut kaum realis, tidak
akan mungkin ada dalam fenomena hubungan internasional. Faktor ketidakadaan rasa percaya dan moralitas
dalam organisasi internasional inilah yang menyebabkan organisasi internasional menjadi kehilangan
efektifitas dan signifikansinya dalam kancah dunia internasional.
Selain itu, penulis memandang organisasi internasional hanya merupakan sarana untuk
mempertahankan status quo dalam hubungan internasional antara negara hegemon dengan negara non
hegemon. Negara hegemon selaku pendiri organisasi internasional, akan mengandalkan kekuatan ekonomi
dan powernya untuk terus menekan negara anggota organisasi internasional lainnya. Negara hegemon lantas
akan terus menyuarakan kepentingan nasional dan ego negaranya, tanpa mempedulikan nasib negara
anggota organisasi internasional lainnya. Dan karena mereka/ia adalah negara hegemon yang notabene
merupakan sumber pendanaan dan sumber power organisasi internasional, maka organisasi internasional
pun tidak dapat berbuat apa-apa selain patuh kepada kehendak negara hegemon tersebut. Hal ini dapat
penulis lihat dari reaksi Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama reaksi Dewan Keamanannya, terhadap invasi
Amerika Serikat ke Irak tahun 2003 silam. Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi internasional yang
bertujuan mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional (to unite our strength to maintain
international peace and security-bagian Pembukaan Piagam PBB8) serta menentang penggunaan kekerasan
bersenjata (that armed force shall not be used9-bagian Pembukaan Piagam PBB), seperti kehilangan suara
dan pengaruhnya dalam menghadapi serangan Amerika Serikat ke Irak yang seharusnya ditentang oleh PBB
itu. Alih-alih melakukan tindakan yang diperlukan guna menanggapi serangan Amerika Serikat yang telah
menodai cita-cita luhur dan nilai-nilai yang telah disepakati bersama dalam PBB—seperti misalnya
melakukan interupsi dalam hubungan ekonomi dan hubungan ekonomi serta memutus hubungan diplomatik
dengan AS (The Security Council may decide what measures not involving the use of armed force are to be
employed to give effect to its decisions, and it may call upon the Members of the United Nations to apply
such measures. These may include complete or partial interruption of economic relations and of rail, sea,
air, postal, telegraphic, radio, and other means of communication, and the severance of diplomatic

8
Charter of the United Nations. http://www.un.org/aboutun/charter/, diakses pada 24 September 2008, pukul 03.32.
9
Ibid.
Page | 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Indonesia.

relations10-Artikel 41 Piagam PBB)—PBB memilih untuk bungkam dan seperti tutup mata pada apa yang
dilakukan AS ini. Padahal jika masalah serangan ini ditilik lebih lanjut, serangan AS pada Irak ini jelas-jelas
merupakan tindakan yang dapat mengancam perdamaian dunia—belum lagi dengan fakta bahwa serangan
ini dilakukan dengan kekuatan militer dan kekerasan bersenjata, hal yang sangat bertentangan dengan nilai
luhur PBB. Namun apa mau dikata, rupanya kekuasaan dan power AS selaku negara hegemon begitu besar
dalam PBB; AS yang merupakan penyumbang dana operasional PB terbesar, seperti mengendalikan PBB.
Karena itu, tidaklah heran jika PBB tidak dapat berkutik melawan AS. Negara-negara anggota PBB lain juga
seperti kehilangan nyali jika harus berhadapan dengan AS. Peristiwa ini lagi-lagi membuktikan, bahwa
keberadaan organisasi internasional (dalam hal ini, PBB) memang tidak efektif dan signifikan dalam
konstelasi sistem dunia internasional, karena power tetap merupakan senjata yang paling berkuasa dalam
dunia internasional.

10
Ibid.
Page | 6

Anda mungkin juga menyukai