Anda di halaman 1dari 10

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

UAS Take Home Sejarah Pandangan Australia terhadap Asia


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Jurusan : Ilmu Hubungan Internasional

1. Apa yang melatarbelakangi dikeluarkannya Immigration Restrictions Act di koloni-koloni


Australia sebelum Federasi dan kemudian White Australia Policy pada masa Federasi
1901? Jelaskan!

Immigration Restrictions Act dikeluarkan untuk mengantisipasi gelombang imigrasi,


terutama imigrasi dari Cina, Jepang, dan Kepulauan Pasifik yang datang dalam jumlah
besar ke wilayah Australia mulai tahun 1850-an. Sebelumnya, pada 1848-1851, imigran
Cina masih datang dalam jumlah relatif kecil sebagai buruh kontrakan. Namun sekitar
tahun 1850-an datang imigran Cina dalam jumlah besar karena muncul isu adanya
tambang emas di Australia. Masuknya imigran non-kulit putih semakin bertambah antara
1863 sampai 1904 ketika 62.000 imigran Kepulauan Pasifik (“Kanaka”) masuk ke
Australia dan bekerja di perkebunan kapas dan gula di Queensland. Masuknya imigran
Asia dan Pasifik dalam jumlah besar itu mendatangkan ketakutan pada warga Australia
terkait masalah pekerjaan, warga Australia khawatir lahan pekerjaan mereka direbut oleh
imigran tersebut. Ditambah lagi fakta bahwa imigran Cina mempunyai etos kerja yang
tinggi dan bersedia bekerja dalam segala kondisi dengan upah yang rendah, yang
membuat para pemilik pabrik dan perkebunan lebih memilih untuk mempekerjakan
mereka. Timbullah kebencian dari kalangan warga Australia pada imigran non-kulit putih
ini karena keterbatasan pengetahuan mengenai budaya masing-masing. Kebencian ini
kemudian memuncak pada 1857 ketika terjadi The Buckland River Riot saat 2500 orang
Cina diusir dari tambang emas oleh warga Australia, serta pada Juni 1860 (The Lambing
Flat Riot) ketika 2000-3000 orang Australia melukai 400-500 penambang Cina. Untuk
mengantisipasi berbagai kebencian yang timbul dalam masyarakat inilah, pemerintah
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

Australia lantas mengeluarkan Immigration Restriction Act. Immigration restriction act


dimengerti sebagai larangan imigrasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Australia untuk
membatasi masuknya imigran-imigran, khususnya imigran non-kulit putih, ke wilayah
Australia. Dalam pembatasannya, immigration restriction act memberlakukan tes
mendikte (dictation test) di mana petugas imigrasi akan membacakan 50 kata dalam
bahasa Eropa (baik bahasa Inggris maupun bahasa Eropa lainnya), dan sang imigran akan
diminta menulis apa yang telah dibacakan. Adanya tes mendikte ini sebenarnya hanya
kamuflase belaka yang bersifat rasial, yang bertujuan untuk mencegah kedatangan
imigran non-kulit putih ke Australia. Sementara White Australia Policy dimengerti
sebagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Australia untuk melegitimasi Immigration
Restriction Act, sekaligus menandai masa saat Australia memberlakukan paham
“Australia for the Australians”. White Australian Policy dimulai pada 1901 sampai tahun
1975, dan sepanjang masa itu berbagai imigran Cina dan Pasifik dideportasi, sampai pada
tahun 1947 hanya tersisa 7000 orang Cina di Australia, mayoritas dari mereka sudah
sangat tua dan sudah terlalu lama tinggal di Australia.

2. Jelaskan hubungan antara kebijakan imigrasi Australia (baik pada masa kolonial maupun
setelah Federasi 1901) dengan letak geografi Australia. Apa pandangan mereka terhadap
masyarakat Asia secara umum, sehingga menimbulkan xenophobia masyarakat kulit putih
Australia terhadap imigran Asia. Berikan penjelasan dan argumen Anda!

Secara geografis, Australia terletak di wilayah Asia. Australia berada lebih dekat dengan
Benua Asia dibanding dengan Eropa, letak Australia secara geografis dengan
motherland-nya—Inggris—terbilang relatif jauh. Inilah yang menyebabkan Australia
merasa inferior, karena letaknya yang jauh dari negara-negara, yang menurutnya,
sebangsa dengan Australia : Eropa. Sebaliknya, Australia secara geografis memiliki
kedekatan wilayah dengan berbagai negara Asia. Australia, yang di kala itu masih
berpenduduk sedikit dan karenanya masih memiliki banyak wilayah kosong, merasa
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

khawatir dan takut wilayahnya akan direbut oleh negara-negara Asia karena ketika itu
negara-negara Asia, terutama Jepang dan Cina, sedang meluaskan pengaruhnya demi
mendapat wilayah jajahan baru untuk tempat bagi penduduknya yang jumlahnya kian
membludak. Ketakutan Australia akan pendudukan Asia karena Australia memiliki
wilayah yang besar dengan penduduk yang relatif masih sedikit sementara negara Asia
memiliki wilayah kecil dengan penduduk yang besar tersebut digambarkan dengan
sangat baik dalam karikatur Little Boy from Manly, yang akan dijelaskan lebih lanjut
pada soal nomor 4b. Selain muncul ketakutan tersebut, muncul juga ketakutan
sehubungan dengan penyebaran paham komunisme yang dilakukan oleh Cina dan oleh
negara Asia lain yang telah jatuh ke tangan komunis. Australia menggunakan Teori
Domino untuk menjustifikasi ketakutannya, dengan berpikir bahwa Australia adalah pin
terakhir dari usaha penyebaran komunisme tersebut; di mana tujuan terakhir penyebaran
komunisme adalah Australia. Pada waktu itu, negara Barat—tidak terkecuali
Australia—sedang dilanda ketakutan yang besar sehubungan dengan penyebaran
komunisme tersebut. Dua ketakutan besar inilah—ketakutan akan direbutnya wilayah
Australia oleh Asia dan ketakutan akan masuknya paham komunisme di Australia akibat
kedatangan imigrasi Asia yang menularkan pahamnya, keduanya akibat kedekatan
wilayah Australia secara geografis dengan Asia—yang mendorong Australia untuk
mengeluarkan berbagai kebijakan imigrasi Australia, baik pada masa kolonial maupun
setelah terbentuknya Federasi Australia 1901.

Xenophobia yang dimaksud di sini dimengerti sebagai persepsi buruk yang timbul di
kalangan orang Australia terhadap orang Asia. Persepsi buruk yang timbul dari
masyarakat Australia pada imigran Asia muncul karena dilatarbelakangi oleh beberapa
poin berikut :
Timbulnya kompetisi ekonomi antara imigran Asia dan pekerja Australia (economic
competition). Kedatangan sekitar 40.000 imigran Cina pada tahun 1850-an pada
tambang emas Australia dan kedatangan imigran Jepang pada 1890-an untuk bekerja
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

pada industri pearl diving membuat para pekerja Australia khawatir akan lahan
pekerjaan mereka, yang direbut oleh imigran Asia tersebut. Kekhawatiran ini
mengakibatkan timbulnya masalah job security di kalangan pekerja Australia. Rasa
inferior dari pekerja Australia itu diperparah dengan ketidaktahuan mereka akan
budaya dan etos kerja pekerja Asia, yang dikenal sebagai pekerja keras yang terbiasa
bekerja dalam waktu lama (long hours working). Etos kerja ini berbeda dengan etos
kerja pekerja Australia, dan etos kerja ini semakin memperparah masalah job
security di kalangan pekerja Australia. Masalah job security juga kemudian semakin
diperparah dengan kondisi pekerja Asia yang bersedia bekerja dalam kondisi sulit
dengan upah rendah, karena para pengusaha dan pemilik pabrik Australia pun lantas
lebih memilih untuk menggaji pekerja Asia daripada pekerja Australia.
Adanya prasangka rasial (racial prejudices) dari penduduk Australia pada imigran
Asia. Prasangka rasial ini kemudian melahirkan timbulnya stereotype tertentu pada
orang Asia secara keseluruhan, seperti misalnya lahir anggapan bahwa orang Asia
khususnya Cina menganggap diri mereka istimewa dan karenanya mereka lantas
bersifat eksklusif dan tidak suka berbaur. Adanya prasangka rasial ini makin
memupuk kebencian warga Australia terhadap imigran Asia, yang kemudian
melahirkan semacam xenophobia seperti yang disebut sebelumnya.
Kekhawatiran akan berbagai kebiasaan buruk yang dibawa imigran Asia akan
menular pada masyarakat Australia, seperti kebiasaan berjudi dan memakai ganja
(gambling and opium smoking). Rakyat Australia khawatir, jika imigran Asia
semakin banyak, lama-kelamaan berbagai kebiasaan buruk yang dibawa para
imigran tersebut akan menular pada masyarakatnya, dan pada akhirnya akan
memperburuk moral masyarakat Australia sendiri.
Selain ditakutkan membawa berbagai pengaruh buruk bagi moralitas masyarakat
Australia, imigran Asia juga ditakutkan membawa berbagai wabah penyakit yang
tadinya tidak pernah ada di Australia, seperti cacar, pes, dan lain-lain. Ketakutan
akan berbagai wabah penyakit yang dibawa imigran Asia inilah yang semakin
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

mempertinggi xenophobia yang timbul di kalangan rakyat Australia pada Asia.


Australia khawatir, jika tidak ada larangan imigrasi, maka imigran Asia akan
semakin membludak kuantitasnya dan lantas akan „membanjiri‟ Australia (the fear
that Australia would become “swamped” by Asian people). Hal ini dikarenakan
wilayah Australia yang luas sementara penduduknya masih sangat sedikit pada tahun
1900-an ketika itu. Hal tersebut melahirkan ketakutan bagi Australia akan direbutnya
tanah mereka oleh Bangsa Asia, yang mayoritas berpenduduk besar dan berwilayah
relatif kecil jika dibandingkan dengan Australia.

3. Apa yang Anda ketahui tentang Pauline Hanson, terutama kritiknya atau keberatannya
terhadap imigran Asia? Jelaskan!

Pauline Hanson merupakan seorang politisi Australia yang dikenal sebagai pendiri
sekaligus pemimpin One Nation Party, sebuah partai yang menginginkan terciptanya
Australia yang hanya berisi orang-orang kulit putih/orang-orang Eropa dengan
memberlakukan kembali White Australian Policy dan berbagai kebijakan imigrasi yang
melarang masuknya imigran non-kulit putih ke Eropa. Pidato dari Pauline Hanson yang
sangat terkenal disebut Maiden Speech, sebuah pidato yang disampaikan Pauline Hanson
ketika berpidato di depan parlemen atas nama partai liberal untuk menentang kebijakan
multikulturalisme dan kebijakan imigrasi yang sedang dijalankan Pemerintah Australia
ketika itu. Melalui pidatonya, Pauline Hanson menyatakan keberatannya akan kebijakan
pemerintah yang cenderung menganakemaskan kaum Aborigin dan para imigran Asia
dengan memberikan berbagai kemudahan dan bantuan bagi mereka, bantuan yang
sebenarnya berasal dari pajak yang dibayar masyarakat Australia. Berbagai kemudahan
dan bantuan ini pada akhirnya akan melahirkan separatisme/perpecahan, perpecahan
antara warga kulit putih Australia yang tidak memperoleh bantuan dengan warga
non-kulit putih yang memperoleh berbagai bantuan, menurut Pauline Hanson. Pauline
Hanson juga menyampaikan kritiknya atas keberadaan imigran Asia yang dinilai kini
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

telah membanjiri Australia. Kritik tersebut berdasar fakta bahwa antara tahun 1984-1995,
40% dari imigran yang masuk ke wilayah Australia adalah imigran Asia1. Pandangan
Pauline Hanson mengenai imigran Asia tersebut adalah : “They have their own culture and
religion, form ghettos and do not assimilate. Of course, I will be called racist but, if I can invite whom I

want into my home, then I should have the right to have a say in who comes into my country. A truly

multicultural country can never be strong or united 2 ”—Pauline Hanson menyatakan bahwa
imigran Asia memiliki budaya yang jelas berbeda dengan warga Australia, hal tersebut
diperparah dengan adanya ketidakbersediaan imigran Asia tersebut untuk berasimilasi
dengan budaya setempat. Ia juga menyebutkan, bahwa Australia adalah milik warga
Australia, dan karena itu warga Australia mempunyai hak untuk menentukan siapa yang
boleh memasuki lahannya. Dalam keberatannya akan imigran Asia, Hanson juga
menyinggung mengenai masalah lapangan pekerjaan yang seharusnya menjadi milik
warga Australia secara penuh, bukan seperti yang terjadi kala itu di mana kebijakna
multikulturalisme pemerintah menyebabkan banyak warga Australia harus bersaing
dengan imigran Asia demi memperoleh pekerjaan yang seharusnya menjadi hak mereka.
Berbagai kritik dan keberatan Hanson akan kehadiran imigran Asia di wilayah Australia
itulah yang membuatnya mendirikan One Nation Party pada tahun 1997. Pada umumnya,
One Nation Party memiliki dua tujuan utama, yaitu untuk menghapus berbagai
kemudahan yang diberikan bagi orang Aborigin karena berbagai kemudahan itu membuat
kaum Aborigin menjadi semakin malas bekerja dan bergantung pada pemerintah, serta
untuk mendeportasi orang-orang Asia dan orang-orang kulit berwarna lain sehingga akan
tercipta Australia yang hanya diperuntukkan bagi warga Australia—Australia yang akan
menjadi bangsa satu ras (one nation). Partai yang didirikan Pauline Hanson ini pada
awalnya mendapat banyak sambutan positif, terutama dari kalangan generasi muda yang
menginginkan perubahan. Akan tetapi, lama-kelamaan partai ini mulai mendapat sorotan
dan kritik tajam dari dunia internasional karena partai ini dinilai rasis. Pamor One Nation

1
Pauline Hanson. Maiden Speech. http://www.paulinehanson.com.au/maidenspeech/pauline-maiden-speech.pdf,
diakses pada 22 Desember 2008, pukul 07.11.
2
Ibid.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

Party ini pun turun.

4. Apa yang dapat Anda jelaskan dengan kartun-kartun berikut ini :


a. “A Little Australian Christmas Party of the Future”
Karikatur berikut menggambarkan ketakutan Australia akan terjadinya pencampuran
budaya Australia dengan budaya-budaya para imigran yang lantas melahirkan
keturunan multi-ras, yang diakibatkan karena minimnya kebijakan imigrasi Australia
dan tidak tegasnya pemerintah menangani para imigran—khususnya imigran
non-kulit putih. Yang terjadi dapat dilihat dari karikatur tersebut, sebuah keluarga
yang terdiri dari berbagai ras berbeda-beda. Karikatur tersebut menggambarkan
suasana makan bersama pada hari Natal, di mana semua keluarga berkumpul makan
bersama. Dalam karikatur tersebut dapat dilihat terciptanya keluarga multi-ras—ada
yang dari Inggris, Cina, India, Indian, dan lain-lain—hal yang, bagi sebagian besar
warga Australia, menyeramkan dan diramalkan akan benar-benar terjadi bila
pemerintah tidak memberi batasan yang jelas bagi kebijakan imigrasi Australia.

Kartun A Little Australian Christmas Party of the Future

b. “A Relative Size of the Chair Somebody‟s Move”


Kartun tersebut menggambarkan ketakutan Australia pada negara lain yang
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

berpenduduk besar seperti Cina, Jepang, India, dan Jerman. Keempat negara ini ketika
itu sedang sibuk meluaskan wilayahnya karena mereka merupakan negara
berpenduduk besar dengan wilayah negara yang tidak begitu luas. Sementara
Australia, dinilai memiliki wilayah yang besar (digambarkan dengan besarnya kursi
yang diduduki Little Boy from Manly, karikatur yang menggambarkan Australia)
dengan jumlah penduduk yang ketika itu masih sedikit (digambarkan dengan
karikatur Little Boy from Manly yang berukuran relatif kecil jika dibandingkan dengan
karikatur Bangsa Cina, Jepang, India dan Jerman lainnya). Dalam karikatur tersebut,
ketakutan jelas tergambar pada ekspresi Little Boy from Manly, sementara keempat
negara berpenduduk besar—Cina, Jepang, India, Jerman—terlihat melirik ke arah
kursi yang diduduki Little Boy from Manly dengan tatapan serakah untuk merebut
kursi tersebut. Kartun ini sangat menggambarkan ketakutan bangsa Australia ketika
itu, ketakutan akan direbutnya tanah mereka oleh kedatangan imigran-imigran Asia.
c. “The Prohibited Chow Pest”
Kartun tersebut menggambarkan rapuhnya kondisi Australia yang disebabkan karena
lemahnya hukum imigrasi Australia (digambarkan dengan jebolnya/retaknya dinding
dan lantai rumah karena tulisan di dinding kiri kartun-defficient immigration laws)
sehingga mengakibatkan Bangsa Cina, yang membawa berbagai wabah penyakit, dapt
masuk dengan mudah. Hal ini tentu menimbulkan ketakutan bagi Little Boy from
Manly—karikatur yang merefleksikan bangsa Australia—akan tertularnya wabah
penyakit yang dibawa oleh Bangsa Cina tersebut.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

Kartun The Prohibited Chow Pest

d. “The Mongolian Octopus: His Grip on Australia”

Kartun The Mongolian Octopus : His Grip on Australia

Kartun “The Mongolian Octopus : His Grip on Australia” pada dasarnya


menggambarkan ketakutan Australia akan damak-dampak buruk yang dibawa oleh
Orang Cina karena kedatangannya dalam jumlah besar ke Australia. Berbagai dampak
negatif yang disebarkan oleh Bangsa Cina itu tergambar dalam setiap tentakel dari
gurita Mongolia, yang digambarkan berkepala wajah orang Cina. Pada tentakel
pertama tertulis cheap labour, yang mengindikasikan dampak negatif berupa
penurunan kualitas hidup buruh karena imigran Cina bersedia dibayar dengan upah
rendah walaupun bekerja dalam kondisi pekerjaan berat. Hal ini bisa berakibat pada
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

tidak dipilihnya pekerja Australia karena pekerja Australia mempunyai standar gaji
minimun tersendiri dalam bekerja. Ada juga tentakel yang menggambarkan kebiasaan
buruk orang Cina yaitu berjudi, menggunakan ganja, korupsi, penyogokan sampai
pencucian uang (opium, custom robbery, pak ah-pu, fan-tan, bribery) yang ditakutkan
akan menular pada kebiasaan warga Australia dan pada akhirnya menurunkan
moralitas masyarakat sehingga membentuk masyarakat yang immoral (immorality).
Selain itu, kehadiran imigran Cina di Asia juga digambarkan membawa berbagai
wabah penyakit yang tadinya tidak ada di Australia seperti tipes dan cacar. Kesemua
dampak negatif ini membuat kebencian rakyat Australia pada imigran Cina semakin
meningkat.