Anda di halaman 1dari 14

Bergabungnya Cina, Jepang, dan Korea Selatan dalam ASEAN+3,

Pembuktian Kebenaran Anggapan Realis dalam Memandang Regionalisme

Disusun oleh :
Erika
0706291243
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir


Mata Kuliah Teori Ekonomi dan Politik Internasional
Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional
Semester Genap 2008/2009

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2009
Page | 1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang rumit. Walaupun hanya beranggotakan
empat negara (Republik Rakyat Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara), tidak lantas
membuat regionalisme Asia Timur mudah tercapai, sebab negara-negara di Asia Timur masih
memiliki banyak perbedaan-perbedaan yang membuat proses regionalisasi Asia Timur tampak
masih sulit dicapai. Beberapa perbedaan mendasar yang menghambat terciptanya suatu
regionalisme Asia Timur adalah faktor latar belakang sejarah yang berbeda, ikatan regional yang
kurang kuat, ketakutan akan hadirnya ancaman, serta berbagai perbedaan sistem politik yang
ada.
Dalam bukunya yang berjudul Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral Distrust
in the Shadow of Globalization, Gilbert Rozman menyebutkan beberapa faktor penghambat
munculnya regionalisme Asia Timur. Salah satunya adalah faktor modernisasi yang terjadi1.
Ketidakseimbangan pembangunan yang muncul sebagai dampak dari modernisasi membuat
negara-negara Asia Timur justru menjadi resisten terhadap keterbukaan. Ketidakseimbangan ini
juga lantas membuat masing-masing negara Asia Timur menjadi kehilangan kepercayaan pada
dunia luar, faktor yang sangat esensial dalam menciptakan regionalisme di suatu kawasan.
Modernisasi dan globalisasi yang ada justru semakin membuat masing-masing negara Asia
Timur menutup diri dari pergaulan dengan dunia internasional, dan karenanya cenderung
menerapkan proteksionisme.
Faktor kedua yang juga menghambat lahirnya sebuah regionalisme di Asia Timur
adalah karena faktor sejarah yang lantas membuat hubungan dua kekuatan besar di Asia
Timur—Jepang dan Cina—menjadi tidak akur. Hubungan tidak akur Jepang-Cina ini
sebenarnya dimulai pada masa Perang Dunia II, ketika tentara Jepang dengan brutal menyerang
dan menghabisi rakyat Cina. Ketika itu, Kaisar Hirohito memerintahkan pasukan Jepang untuk

1
Gilbert Rozman. Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral Distrust in the Shadow of Globalization.
(United States: Cambridge University Press, 2004).
Page | 2
menyerang dan menduduki Cina. Bangsa Jepang pun ketika itu menyebut Cina sebagai
“Chancorro” (artinya ras yang lebih rendah dari manusia). Karena pasukan Jepang menganggap
rakyat Cina adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia, pasukan Jepang menjadi lebih tega
dalam menyiksa rakyat Cina. Penjarahan, perkosaan, pembunuhan, dan berbagai tindak
kejahatan lain terjadi di seluruh pelosok Cina. Semua tindakan itu mempunyai tujuan yang
sama : mendirikan Kekaisaran Jepang di Cina.2 Faktor latar belakang sejarah yang membuat
hubungan Cina dan Jepang menjadi tidak akur ini merupakan faktor penghambat yang bisa
dikatakan paling berpengaruh. Tanpa adanya rekonsiliasi dalam hubungan Cina dan Jepang,
regionalisme Asia Timur sepertinya akan sangat sulit dicapai.
Faktor penghambat lain yang juga mempersulit terbentuknya regionalisme di Asia
Timur adalah karena kurangnya kemauan dari negara-negara Asia Timur itu sendiri untuk
melakukan negosiasi dan kerja sama di antara mereka3. Hal ini terbukti dari sedikitnya kerja
sama yang dihasilkan antar negara-negara Asia Timur tersebut tanpa bantuan organisasi
kawasan lain. Jika ada pun, perjanjian kerja sama tersebut seringkali terhenti karena kurang
digarap dengan baik. Sebagai contoh, perjanjian kerja sama antara Jepang dan Korea Selatan
yang dimulai dengan adanya kunjungan Presiden Korea Kim Dae Jung ke Tokyo pada Oktober
19984. Kunjungan ini sebenarnya merupakan langkah yang baik, akan tetapi kunjungan ini tidak
lantas disikapi dengan baik—baik oleh Pemerintah Jepang maupun oleh Pemerintah Korea
Selatan—sehingga negosiasi antara Jepang dan Korea Selatan pun terhenti. Cina dan Jepang
bahkan belum pernah mengadakan suatu perjanjian kerja sama sendiri. Hal tersebut dikarenakan
kurangnya kemauan dari ketiga negara Asia Timur tersebut untuk bekerja sama satu sama lain.
Walaupun terdapat banyak hambatan dalam membentuk regionalisme Asia Timur,
tidak dapat disangkal kini negara-negara Asia Timur sedang bergerak menuju ke arah
pembentukan regionalisme Asia Timur. Hal tersebut nyata terasa dari kesediaan Cina, Jepang,
dan Korea Selatan untuk bergabung dalam ASEAN+3. Berbagai perbedaan dan permusuhan pun
ditinggalkan oleh ketiga negara Asia Timur tersebut, untuk duduk bersama dan menghasilkan
berbagai keputusan bersama dalam berbagai bentuk kerja sama yang dihasilkan melalui

2
Data didapatkan penulis dari film Horror in the East.
3
Rozman, Gilbert, op.cit.
4
John Ravenhill. East Asian Regionalism, Much Ado About Nothing. (Canberra: Australian National University,
Department of International Relations, 2008), hal. 22.
Page | 3
ASEAN+3. Kesediaan ketiga negara Asia Timur, yang tadinya memiliki hubungan tidak akur,
tentu mengundang pertanyaan dari semua negara dunia. Makalah ini kemudian akan mencoba
membahas kasus bergabungnya Cina, Jepang, dan Korea Selatan ke dalam wadah ASEAN+3
sebagai salah satu bentuk regionalisme.

1.2. Pertanyaan Permasalahan


Makalah ini akan berusaha menjawab pertanyaan : Mengapa Cina, Jepang dan Korea
Selatan bersedia bergabung dalam ASEAN+3, dilihat dari kacamata Realis dalam
memandang regionalisme? Dalam menjawab pertanyaan ini, penulis akan memaparkan latar
belakang dibentuknya ASEAN+3 beserta sedikit penjelasan mengenai ASEAN+3 itu sendiri,
dan lalu mengakhiri makalah dengan memaparkan motif dari kesediaan Cina, Jepang, dan Korea
Selatan untuk bergabung dalam ASEAN+3.

1.3. Kerangka Teori


Dalam kerangka Teori Ekonomi dan Politik Internasional, suatu region/kawasan tidak
hanya didefinisikan sebagai wilayah yang memiliki kesamaan letak geografis, melainkan lebih
kepada bagaimana aktor-aktor politik internasional menginterpretasikan makna dari region itu
sendiri5. Karenanya, regionalisme bukan hanya sebuah konsep geografis, melainkan juga sebuah
proses dinamis yang di dalamnya mencakup hubungan ekonomi, politik, dan sosial budaya 6.
Ada dua macam regionalisme, regionalisme lama dan regionalisme baru. Regionalisme lama,
yang berkembang pada tahun 1930-an, merupakan suatu proses regionalisasi yang melibatkan
negara-negara di wilayah geografis yang sama serta mengarah pada integrasi regional sebagai
tujuan akhirnya, sedang regionalisme baru, yang mulai berkembang sejak tahun 1990-an, tidak
hanya melibatkan negara di wilayah geografis yang sama serta tidak bertujuan untuk melahirkan
sebuah integrasi regional7.
Hurrell mengatakan, regionalisme dapat digunakan untuk menghadapi efek buruk dari

5
Andrew Hurrell. “Regionalism in Theoretical Perspective”, dalam Louise Fawcett dan Andrew Hurrell (ed.),
Regionalism in World Politics: Regional Organization and International Order. (New York: Oxford University
Press, 1995), hal. 41.
6
Yeo Lay Hwee. Realism and Reactive Regionalism: Where Is East Asian Regionalism Heading?
http://revistas.ucm.es/cps/16962206/articulos/UNIS0505230008A.pdf, diakses pada 7 Mei 2009, pukul 21.07.
7
Ibid.
Page | 4
globalisasi, yang bila tidak diatasi dengan baik, akan semakin melemahkan instrumen politik
nasional. Adanya globalisasi yang semakin meluas tentunya memerlukan suatu pengaturan
kolektif dari negara-negara dunia, dan pengaturan kolektif itu akan menjadi lebih mudah bila
dilakukan bersama dengan negara-negara yang memiliki kesamaan sejarah, budaya dan nilai,
serta kesamaan kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi 8. Karenanya, unsur terpenting dari
terbentuknya suatu regionalisme adalah kesamaan identitas (sejarah, budaya, nilai), serta
kesamaan kepentingan.
Menanggapi berbagai isu regionalisme, Realis, sebagai paradigma tertua di ilmu
Hubungan Internasional, cenderung skeptis akan adanya kerja sama kawasan. Bagi kaum realis,
kerja sama merupakan hal yang dinomorduakan, atau bahkan tidak mendpat tempat dalam ilmu
Hubungan Internasional. Walaupun cenderung skeptis akan adanya kerja sama, namun tidak
berarti bahwa kaum Realis menegasikan kemungkinan terjadinya kerja sama kawasan dalam
bentuk regionalisme. Kaum Realis berpendapat, regionalisme mungkin terjadi bila didukung
berbagai motif tertentu dari negara anggotanya. Kaum Realis berpendapat bahwa preferensi
suatu negara untuk bergabung dalam suatu bentuk regionalisme sangat ditentukan oleh posisi
negara tersebut dalam pembagian distribusi kekuasaan internasional9, karenanya posisi suatu
negara dalam dunia internasional merupakan hal penting yang menentukan motif negara tersebut
untuk bekerja sama dalam suatu bentuk regionalisme. Kaum Realis juga menekankan
perhatiannya pada unsur kepentingan nasional, yang menjadi inti utama aktivitas negara dalam
kacamata seorang Realis. Walaupun suatu negara bekerja sama dalam suatu bentuk regionalisme,
namun bukan berarti negara tersebut lantas benar-benar tulus bergabung dalam regionalisme
tersebut dan lantas melupakan kepentingan nasionalnya demi mewujudkan kepentingan bersama.
Kaum Realis percaya, dalam setiap kerja sama regionalisme yang terjalin, pastilah unsur
kepentingan nasional tetap ada dan tetap mendasari segala tingkah laku negara tersebut.
Pandangan yang terkenal dari kaum Realis terhadap regionalisme juga disampaikan
oleh Joseph Grieco, yang lantas dikenal dengan sebutan voice opportunity thesis. Pandangan ini
mengatakan negara-negara akan cenderung mencari cara untuk meningkatkan pengaruh mereka
dalam dunia internasional dengan mengikatkan diri bersama negara kuat lain dalam suatu bentik

8
Andrew Hurrell, op.cit., hal. 55-58.
9
Young Jong Choi dan James A. Caporaso. “Comparative Regional Integration”, dalam Walter Carlsnaes et.all
(eds.), Handbook of International Relations, (London: Sage Publications, 2002), hal. 486.
Page | 5
institusi dan kebijakan internasional10. Melalui keanggotaaannya dalam institusi internasional,
negara akan berusaha untuk meningkatkan perannya, sekaligus berusaha mengurangi berbagai
hambatan yang mungkin dapat mengancamnya.

10
Ibid, hal. 487.
Page | 6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kerja Sama Negara-Negara Asia Timur dalam ASEAN+3 sebagai Awal dari
Regionalisme Asia Timur

Tidak seperti negara-negara Asia Tenggara yang dengan solid bekerja sama dalam
sebuah organisasi regional ASEAN, negara-negara Asia Timur justru tidak pernah membentuk
suatu organisasi regional sendiri. Cina, Jepang, dan Korea Selatan justru lebih sering
“menumpang” di berbagai organisasi dan kerja sama kawasan lain, seperti misalnya dalam
APEC, ASEM, ASEAN+3, dan lain-lain. Bentuk yang terakhir, ASEAN+3, disebut-sebut
sebagai organisasi yang berpotensial besar untuk membentuk regionalisme Asia Timur di masa
mendatang11. Adapun kerjasama antara negara-negara ASEAN dengan Jepang, Cina, dan Korea
Selatan itu sebenarnya telah dimulai sejak 1997 silam, ketika diadakan pertemuan antara 10
pemimpin ASEAN dengan 3 pemimpin negara tersebut. Pertemuan tahun 1997 itu kemudian
mendasari pertemuan-pertemuan lain yang diselenggarakan oleh 10 negara ASEAN dan 3
negara Asia Timur itu.
ASEAN+3 sendiri terbentuk sebagai jawaban terhadap krisis Asia yang terjadi pada
tahun 1997. Krisis keuangan yang kala itu terjadi di Asia menyadarkan negara-negara Asia
Timur bahwa mereka memerlukan suatu pengaturan yang baik dalam hal perdagangan dan
keuangan internasional agar jika terjadi krisis serupa, negara Asia Timur tidak kembali terpuruk.
Karena itu tujuan utama dari dibentuknya ASEAN+3 adalah untuk membangun mekanisme
pengaturan sistem makroekonomi dan kerja sama keuangan yang lebih baik agar krisis serupa
dapat dicegah di masa depan.
Meluasnya dampak negatif dari Krisis Asia ke seluruh negara Asia Timur menyadarkan
pemimpin Jepang, Cina, dan Korea Selatan bahwa sebenarnya negara-negara Asia Timur
mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. Interdependensi antar negara Asia Timur itu
kemudian menuntut adanya suatu bentuk kerja sama regional yang menyatukan mereka,

11
Yeo Lay Hwee, op.cit.
Page | 7
bersama dengan wilayah Asia Tenggara yang ketika itu juga mengalami kehancuran finansial
akibat Krisis Asia tahun 1997-1998. Sehubungan dengan hal ini, Stuart Harris mengatakan
bahwa Krisis Asia menyadarkan negara-negara Asia Timur bahwa mereka tidak bisa
sepenuhnya bergantung pada organisasi yang telah ada, negara Asia Timur harus membentuk
organisasi baru untuk mencegah agar krisis serupa tidak terjadi lagi12.
Berbagai pertemuan untuk menggagas ASEAN+3 pun digelar. Satu dari berbagai
pertemuan yang cukup signifikan adalah Manila Framework yang diselenggarakan di Manila,
Phillipina. Dalam Manila Framework, ketiga negara Asia Timur bersedia duduk bersama
mengesampingkan segala perbedaan yang ada, untuk bersama-sama memikirkan jalan keluar
dari krisis yang kala itu tengah mereka alami. Pertemuan di Manila tersebut berhasil
menghasilkan suatu proses pembuatan keputusan bersama antar negara Asia Timur dan ASEAN,
yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesadarakan akan adanya rasa ke-Asia Timur-an antar
pemimpin negara Asia Timur.
Krisis Asia yang terjadi kala itu juga menurunkan image Amerika Serikat sebagai
negara penjamin keuangan internasional, karena ternyata IMF sebagai organisasi yang
didominasi Amerika Serikat, tidak mampu menangani Krisis Asia, dan malah justru
memperparah kondisi keuangan Asia Timur kala itu. Anggapan bahwa Amerika Serikat dan
berbagai lembaga internasional yang ada kini tidak dapat lagi melindungi keuangan
internasional melahirkan keinginan dari negara-negara non-Barat, salah satunya adalah Asia
Timur, untuk melindungi sendiri kepentingan negaranya. Negara-negara Asia Timur pun lantas
mulai membangun cadangan devisanya, dan mulai membangun kerja sama regional dengan
ASEAN untuk melahirkan suatu nilai tukar baru agar krisis keuangan serupa tidak terjadi lagi13.
Negara-negara ASEAN+3 juga sepakat untuk membentuk sebuah Asian Monetary Fund, sebuah
lembaga untuk mengatur dan mengawasi kondisi keuangan Asia karana IMF dirasa tidak lagi
sesuai paska Krisis Asia 14 . Kerja sama dalam bidang keuangan ini disebut-sebut sebagai
kemajuan terbesar dari terbentuknya ASEAN+315, yang lantas mendorong terbentuknya kerja

12
Stuart Harris. The Regional Response in Asia-Pacific and its Global Implications, dipersentasikan pada 3rd
Annual Conference di University of Warwick, 16-18 September 1999.
13
Joint Ministerial Statement, ASEAN + 3 Finance Ministers Meeting. www.mof.go.jp/english/if/if014.htm
14
Naoko Munakata. Transforming East Asia, the Evolution of Regional Economic Integration. (Washington D.C.:
Brookings Institution Press, 2006), hal. 102.
15
Ibid, hal. 106.
Page | 8
sama dalam berbagai bidang lain dalam kerangka ASEAN+3.
Pada KTT ASEAN ke-13 di Singapura, ke-13 negara tersebut sepakat mengidentifikasi
berbagai bentuk kerjasama komprehensif, dengan menyetujui 4 agenda besar. Empat agenda
tersebut yaitu pertama, kerjasama Politik dan Keamanan, kedua Ekonomi dan Keuangan, ketiga
Energi, Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan, keempat Sosial
Budaya, serta kelima Mekanisme Dukungan Institusi. Pada bidang politik dan keamanan,
ASEAN+3 memandang perlu meningkatkan stabilitas dan perdamaian untuk mencegah aksi
terorisme. Di sektor perdagangan dan investasi, ASEAN+3 terus menggalakkan program
penurunan dan penghapusan tarif, yang kemudian diharapkan dapat meningkatkan arus
perdagangan dan investasi dalam dan antar negara-negara ASEAN+3. Tidak hanya dalam
bidang ekonomi dan keamanan, kerjasama juga digalakkan terutama pada sektor pariwisata,
pertanian, makanan dan kehutanan.
Beberapa akademisi Asia Pasifik, seperti Drysdale, Elek, dan Soesastro mengatakan
kerja sama antar negara-negara ASEAN dengan tiga negara Asia Timur dilaksanakan dengan
berdasar pada tiga prinsip utama, yaitu keterbukaan, persamaan, dan pembangunan 16. Prinsip
keterbukaan menuntut adanya transparansi dan non-diskriminasi pada berbagai kebijakan
ekonomi dan perdagangan antar negara-negara ASEAN+3. Prisip persamaan mengandung arti
bahwa segala aktivitas harus dilakukan demi keuntungan bersama/mutual benefit bagi seluruh
negara-negara ASEAN+3, dengan mempertimbangkan struktur ekonomi dan politik
masing-masing negara. Sementara pada prinsip pembangunan, negara-negara ASEAN+3 akan
bersama-sama melaksanakan pembangunan secara gradual menuju terciptanya kerja sama
ekonomi dengan berdasar pada voluntary participation dan consensus building.17 Kerja sama
dalam ASEAN+3 ini melibatkan pertukaran informasi, dialog kebijakan, pengaturan likuiditas
regional seperti yang dihasilkan dari Chiang Mai Initiative, serta proses pembuatan keputusan
bersama untuk beberapa area tertentu seperti dalam koordinasi nilai tukar uang.18

16
Yeo Lay Hwee, loc.cit.
17
Peter Drysdale, et.all. “Open Regionalism: The Nature of Asia Pacific Integration,” dalam Peter Drysdale dan
David Vines (ed.), Europe, East Asia and APEC. (Australia: Cambridge University Press, 1998), hal. 105-106.
18
Masahiro Kawai. Regional Economic Integration and Cooperation in East Asia, dipersentasikan pada Experts’
Seminar on the Impact and Coherence of OECD Country Policies on Asian Developing Economies, tanggal
10-11 Juni 2004, Paris.
Page | 9
2.2. Kepentingan Jepang, Cina, dan Korea Selatan dalam ASEAN+3

Jepang, Cina, dan Korea Selatan bergabung dalam ASEAN+3 bukan tanpa maksud dan
tujuan tertentu. Masing-masing negara Asia Timur itu memiliki tujuan tersendiri yang dapat
diraih melalui keanggotaannya dalam ASEAN+3. Ini membuktikan anggapan kaum realis dalam
memandang regionalisme, yang menitikberatkan perhatiannya pada adanya unsur kepentingan
nasional sebagai alasan negara-negara untuk bekerja sama dalam suatu bentuk organisasi
regional.
Kemajuan ekonomi Cina yang pesat melahirkan ketakutan di diri bangsa Jepang.
Jepang takut Cina akan mendominasi Asia, atau bahkan dunia. Ketakutan ini dibarengi dengan
keinginan Jepang untuk merevitalisasi perekonomiannya. Ketakutan Jepang akan menguatnya
pengaruh Cina dan keinginan untuk merevitalisasi perekonomiannya agar semakin maju,
mendorong Jepang untuk bergabung dalam ASEAN+3 bersama-sama dengan Cina dan Korea
Selatan. Dengan bergabung dalam ASEAN+3, Cina akan lebih dapat diatur dan kebijakan serta
tindakannya akan lebih dapat diprediksi, begitu harapan Jepang19.
Di satu sisi, Cina yang saat itu sedang mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, juga
memiliki pertimbangan tersendiri untuk bergabung dalam ASEAN+3, yaitu Cina ingin lebih
mengamankan kondisi lingkungan internasionalnya sehingga dapat lebih memfokuskan diri
pada usaha-usaha pembangunan domestiknya. Cina berharap, dengan bergabung dalam
ASEAN+3, ia akan lebih diterima oleh negara sekitarnya. Serangan dari negara-negara anggota
ASEAN+3 pun dapat dihindari, sehingga Cina dapat lebih berfokus untuk membangun
perekonomian domestiknya dan membangun kekuatan dalam negerinya, sambil menjalin koalisi
dengan negara-negara sekitar untuk melawan negara superpower kala itu, Amerika Serikat20.
Jika Jepang dan Cina sama-sama bergabung untuk melawan/mencegah munculnya
ancaman dari negara lain, negara Asia Timur ketiga, Korea Selatan, memiliki alasan yang
sedikit berbeda. Sebagai negara dengan tingkat perekonomian dan kekuatan militer yang relatif
lebih kecil dibanding Jepang dan Cina, Korea Selatan justru bergabung dengan ASEAN+3 agar

19
Naoko Munakata, loc.cit., hal. 13.
20
Ibid.
Page | 10
dapat meningkatkan bargaining position-nya di dunia internasional. Korea Selatan berharap,
keanggotaannya di ASEAN+3 dapat membuatnya memiliki posisi yang paling tidak sama
dengan major powers lain—Amerika Serikat, Cina, dan Jepang21. Melalui keanggotaannya
dalam ASEAN+3, Korea Selatan ingin untuk lebih berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi
kawasannya, sehingga akhirnya dapat menjadi kekuatan utama di kawasan Asia Timur.

2.4. Analisa Pandangan Realis Terhadap Kasus Bergabungnya Cina, Jepang, dan Korea
Selatan dalam Bentuk Regionalisme ASEAN+3

Walaupun memiliki banyak perbedaan dan berbagai faktor penghambat seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, ternyata negara-negara Asia Timur (Cina, Jepang, dan Korea
Selatan) mampu mengatasi berbagai hambatan tersebut untuk kemudian bersatu dalam
ASEAN+3. Pesatnya modernisasi yang terjadi memang membuat ketiga negara Asia Timur
cenderung menutup diri dari dunia internasional. Ditambah lagi, sejarah hubungan tidak akur
antara Cina dan Jepang sebagai dua kekuatan utama Asia Timur, membuat regionalisme di Asia
Timur seperti tidak mungkin terjadi. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya kemauan dari
masing-masing negara Asia Timur untuk menjalin kerja sama satu dengan yang lainnya, karena
berbagai perbedaan yang ada. Namun semua itu berubah selepas Krisis Asia menghantam dan
menghancurkan kehidupan perekonomian dan keuangan Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Krisis
yang terjadi tahun 1997-1998 itu menyadarkan pemerintah Cina, Jepang, dan Korea Selatan
bahwa sudah saatnya mereka mulai mengesampingkan segala perbedaan yang ada, untuk
bersatu menyatukan kekuatan demi menanggulangi krisis serupa agar tidak terjadi lagi.
Namun sebenarnya, di balik motif mengatasi krisis dan menyatukan kekuatan tersebut,
baik Cina, Jepang, maupun Korea Selatan memiliki agenda dan motif masing-masing,
sehubungan dengan keanggotaannya dalam ASEAN+3. Jepang, misalnya, setuju untuk
bergabung dengan ASEAN+3 demi mencegah Cina untuk menguasai perekonomian regional
dan global. Kemajuan Cina yang semakin pesat memang membuat Jepang khawatir, dan untuk
membatasi gerak-gerik Cina itulah, Jepang bersedia untuk bergabung dalam ASEAN+3. Motif
Jepang ini sangat mencerminkan pola pikir kaum Realis dalam memandang regionalisme, yaitu

21
Ibid, hal. 14.
Page | 11
bahwa preferensi suatu negara dalam bekerja sama ditentukan oleh posisi negara tersebut dalam
dunia internasional, dalam hal ini Jepang (yang dapat dikatakan) ketika itu hampir menjadi
kekuatan nomor dua di Asia. Tentunya Jepang tidak ingin membiarkan Cina berhasil menjadi
kekuatan nomor satu di Asia, karenanya Jepang setuju untuk mengajak Cina bekerja sama dalam
ASEAN+3, agar gerak-gerik Cina dapat dibatasi.
Di lain sisi, Cina, sebagai negara yang kala itu sedang berkembang pesat, juga
menyatakan keinginannya untuk bergabung dalam ASEAN+3. Hal ini agak mengherankan,
karena sebenarnya tanpa perlu bergabung dengan ASEAN+3 pun, Cina sudah menjadi negara
yang terbilang besar. Apalagi mengingat masa lalu yang buruk antara Cina dan Jepang, di mana
rakyat Cina pernah disiksa dan dibunuh secara brutal oleh Jepang. Namun masa lalu yang buruk
itu ditepis Cina dengan setuju bergabung dalam ASEAN+3 bersama dengan Jepang dan Korea
Selatan. Demi mencapai kepentingan nasionalnya, yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan
pembangunan domestiknya, Cina bersedia melupakan masa lalunya yang buruk dengan Jepang.
Sebab dengan bergabung dalam ASEAN+3, Cina memperoleh perlindungan paling tidak dari
negara-negara anggota ASEAN+3, yang berarti Cina tidak perlu repot selalu waspada akan
ancaman dari luar, dan dapat berkonsentrasi lebih pada pembangunan dalam negerinya. Motif
Cina ini sangat sesuai dengan pandangan kaum Realis dalam memandang regionalisme, yaitu
bahwa regionalisme terjadi dengan kondisi masing-masing anggotanya tetap
memiliki/berpegang pada kepentingan nasional.
Motif negara ketiga, Korea Selatan, juga menunjukkan kebenaran pandangan kaum
Realis dalam memandang fenomena regionalisme ASEAN+3, yaitu kebenaran dari voice
opportunity thesis seperti yang disampaikan pada kerangka teori. Melalui ASEAN+3, Korea
Selatan, berusaha untuk menaikkan posisi tawarnya dalam dunia internasional, sekaligus
berusaha mengurangi berbagai hambatan perdagangan internasional yang dapat timbul dengan
menjadi bagian dari bentuk regionalisme yang lebih luas. Korea Selatan sadar bahwa ia kurang
memiliki power jika dibandingkan dengan Cina dan Jepang, karena itu ia bergabung dalam
ASEAN+3, agar paling tidak dirinya memiliki posisi tawar yang sama dengan negara-negara
besar yang juga tergabung dalam ASEAN+3.

Page | 12
BAB III
KESIMPULAN

Kasus bergabungnya Jepang, Cina, dan Korea Selatan dalam bentuk regionalisme
ASEAN+3 memang kasus yang unik. Betapa tidak, ketiga negara Asia Timur yang terkenal
memiliki banyak perbedaan dan hubungan tidak akur tersebut bersedia mengesampingkan
segala perbedaan yang ada, untuk bersatu dan bekerja sama dalam wadah ASEAN+3. Kesediaan
ketiga negara tersebut untuk bergabung dalam ASEAN+3 tentunya tidak bisa dilepaskan dari
adanya keinginan yang sama dari Cina, Jepang, dan Korea Selatan untuk bersama-sama
mengatasi Krisis Asia yang pada waktu itu sedang terjadi. Ketiga negara Asia Timur tersebut
sadar, sistem internasional yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan mereka, dan bahwa sejatinya
mereka merupakan satu kesatuan, di mana terdapat interdependensi yang kuat antar mereka.
Adanya interdependensi ini lantas menuntut mereka untuk bersatu, demi mengatasi masalah
bersama ini.
Adapun ternyata ketika memutuskan untuk bergabung dalam ASEAN+3, ketiga negara
Asia Timur tersebut sebenarnya memiliki motif masing-masing. Ketiga motif negara-negara
Asia Timur untuk bergabung dalam ASEAN+3 jelas membuktikan kebenaran anggapan kaum
Realis dalam memandang regionalisme. Walaupun skeptis terhadap terjadinya kerja sama, kaum
Realis memandang regionalisme sebagai salah satu alat untuk mencapai kepentingan nasional
(seperti dalam motif Cina), sebagai alat untuk mencegah dan mengawasi potential enemy
(seperti dalam motif Jepang), serta sebagai alat untuk meningkatkan bargaining position (seperti
dalam motif Korea Selatan). Karenanya, kasus bergabungnya Jepang, Cina, dan Korea Selatan
ke dalam wadah ASEAN+3 sebenarnya merupakan contoh yang baik bagi pembuktian
anggapan kaum Realis dalam memandang fenomena regionalisme. Besarnya unsur kepentingan
nasional dalam memprediksi tingkah laku negara, serta perasaan security dillema yang muncul
terhadap potential enemy, dan akhirnya keinginan untuk meningkatkan posisi tawar dalam dunia
internasional mewarnai motif ketiga negara Asia Timur ini untuk bergabung dalam ASEAN+3.
ASEAN+3 karenanya, merupakan wadah yang—dapat dikatakan, sejauh ini—paling berpotensi
untuk dapat membentuk regionalisme Asia Timur di kemudian hari.

Page | 13
DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Choi, Young Jong dan James A. Caporaso. 2002. “Comparative Regional Integration”, dalam
Walter Carlsnaes et.all (eds.), Handbook of International Relations. London: Sage Publications.

Drysdale, Peter, et.all. 1998. “Open Regionalism: The Nature of Asia Pacific Integration,”
dalam Peter Drysdale dan David Vines (ed.), Europe, East Asia and APEC. Australia:
Cambridge University Press
Hurrell, Andrew. 1995. “Regionalism in Theoretical Perspective”, dalam Louise Fawcett dan
Andrew Hurrell (ed.), Regionalism in World Politics: Regional Organization and International
Order. New York: Oxford University Press, 1995
Munakata, Naoko. 2006. Transforming East Asia, the Evolution of Regional Economic
Integration. Washington D.C.: Brookings Institution Press.
Ravenhill, John 2008. Asian Regionalism, Much Ado About Nothing. Canberra: Australian
National University. Department of International Relations.

Rozman, Gilbert. 2004. Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral Distrust in the Shadow
of Globalization. United States: Cambridge University Press.

PERSENTASI PAPER
Harris, Stuart. The Regional Response in Asia-Pacific and its Global Implications,
dipersentasikan pada 3rd Annual Conference di University of Warwick, 16-18 September 1999.
Kawai, Masahiro. Regional Economic Integration and Cooperation in East Asia,
dipersentasikan pada Experts’ Seminar on the Impact and Coherence of OECD Country Policies
on Asian Developing Economies, tanggal 10-11 Juni 2004, Paris.

WEBSITE
Joint Ministerial Statement, ASEAN + 3 Finance Ministers Meeting, diakses dari
www.mof.go.jp/english/if/if014.htm
Hwee, Yeo Lay. Realism and Reactive Regionalism: Where Is East Asian Regionalism Heading?
Diakses dari http://revistas.ucm.es/cps/16962206/articulos/UNIS0505230008A.pdf.

Page | 14