Anda di halaman 1dari 16

Tantangan terhadap Pembentukan Pengaturan Keamanan di

Asia Timur, dan Kaitannya dengan Teori Regional Security

Complexes

Disusun oleh :
Erika
0706291243
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir


Mata Kuliah Pengkajian Strategi
Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional
Semester Genap 2008/2009

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2009

Page | 1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tidak seperti negara-negara Asia Tenggara yang dengan solid bekerja sama dalam
sebuah organisasi regional ASEAN, negara-negara Asia Timur justru tidak pernah
membentuk suatu organisasi regional sendiri. Cina, Jepang, dan Korea Selatan justru lebih
sering “menumpang” di berbagai organisasi dan kerja sama kawasan lain, seperti misalnya
dalam APEC, ASEM, ASEAN+3, dan lain-lain. Bentuk yang terakhir, ASEAN+3,
disebut-sebut sebagai organisasi yang berpotensial besar untuk membentuk regionalisme
Asia Timur di masa mendatang1. Adapun kerjasama antara negara-negara ASEAN dengan
Jepang, Cina, dan Korea Selatan itu sebenarnya telah dimulai sejak 1997 silam, ketika
diadakan pertemuan antara 10 pemimpin ASEAN dengan 3 pemimpin negara tersebut.
Pertemuan tahun 1997 itu kemudian mendasari pertemuan-pertemuan lain yang
diselenggarakan oleh 10 negara ASEAN dan 3 negara Asia Timur itu. ASEAN+3 sendiri
terbentuk sebagai jawaban terhadap krisis Asia yang terjadi pada tahun 1997. Krisis
keuangan yang kala itu terjadi di Asia menyadarkan negara-negara Asia Timur bahwa
mereka memerlukan suatu pengaturan yang baik dalam hal perdagangan dan keuangan
internasional agar jika terjadi krisis serupa, negara Asia Timur tidak kembali terpuruk.
Pertemuan tiga negara Asia Timur yang dimotori oleh ASEAN dalam wadah
ASEAN+3 kemudian memunculkan pemikiran untuk mendirikan sebuah organisasi dengan
Cina, Jepang, dan Korea Selatan sebagai penggerak utamanya, yaitu dalam bentuk East
Asia Community. Akan tetapi ide ini ternyata tidak kunjung direalisasikan karena berbagai
kendala dan hambatan yang tidak memungkinkan terealisasinya suatu bentuk kerja sama
intra kawasan Asia Timur. Faktor eksternal, seperti misalnya ASEAN dalam ASEAN+3,

1
Yeo Lay Hwee. Realism and Reactive Regionalism: Where Is East Asian Regionalism Heading?
http://revistas.ucm.es/cps/16962206/articulos/UNIS0505230008A.pdf, diakses pada 7 Mei 2009, pukul
21.07.
Page | 2
seperti merupakan faktor krusial yang menyatukan ketiga negara Asia Timur tersebut untuk
duduk bersama dalam suatu forum. Hal ini lantas memancing pertanyaan, bisakah
negara-negara Asia Timur membentuk suatu kerja sama intra kawasan, dalam hal ini untuk
urusan keamanan, tanpa adanya bantuan eksternal? Mungkinkah suatu bentuk pengaturan
keamanan intra kawasan di Asia Timur terwujud, mengingat hingga kini negara-negara
Asia Timur tidak pernah benar-benar duduk bersama dalam suatu forum untuk membahas
masalah keamanan kawasannya? Pertanyaan inilah yang akan coba dibahas dalam makalah
ini.

1.2. Pertanyaan Permasalahan


Makalah ini akan berusaha menjawab pertanyaan :
1. Mengapa sangat sulit bagi negara-negara Asia Timur untuk membentuk pengaturan
keamanan tingkat kawasan tanpa bantuan aktor eksternal?
2. Apa saja langkah yang harus dilakukan negara Asia Timur untuk membentuk sebuah
pengaturan keamanan bersama di tingkat kawasan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis pertama akan membahas mengenai Regional
Security Complexes (RSC) yang terbentuk di antara negara-negara Asia Timur—Cina,
Jepang, dan Korea Selatan, dan kemudian dilanjutkan dengan analisis faktor-faktor yang
menghambat pembentukan pengaturan keamanan di kawasan Asia Timur tersebut, dan
mengakhirinya dengan memberikan option berupa langkah yang dapat diambil untuk
membentuk suatu pengaturan keamanan di Asia Timur.

1.3. Kerangka Teori


Patrick M. Morgan mendefinisikan security atau keamanan sebagai sebuah bentuk
pemeliharaan, penggunaan, dan pengaturan kapasitas power negara untuk mencegah
terjadinya perang atau konflik yang dapat membahayakan keamanan negara baik secara
psikis (threat/ancaman) maupun fisik (war/perang) dengan melaksanakan hubungan politik

Page | 3
dengan negara lain.2 Keamanan jugalah fenomena yang sifatnya relasional, dalam artian
untuk memahami keamanan nasional suatu negara, dibutuhkan pemahaman mendalam
mengenai pola internasional ketergantungan negara tersebut pada negara lain. Hal inilah
yang mendorong dibutuhkannya analisis sistem level dalam memahami masalah keamanan,
yang dalam tulisan Barry Buzan dalam bukunya yang berjudul People, States, and Fear
didefinisikan dalam bentuk lingkup keamanan regional. Region dalam konsep ini bukanlah
mengacu pada pengertian region secara teritori saja, tetapi lebih kepada sekumpulan unit
yang memiliki proses sekuritisasi, desekuritisasi, atau keduanya sekaligus, yang terhubung
satu sama lain, yang lantas menyebabkan masalah keamanan negara-negara tersebut tidak
dapat dianalisa secara terpisah satu sama lain3. Ada juga yang mengatakan region dipahami
sebagai subsistem supranasional dari sistem internasional 4 . Ketika membicarakan
keamanan regional, maka tentu saja unsur pengaturan keamanan/security arrangement
merupakan unsur yang esensial dalam memahami keamanan di regional tersebut. Salah satu
bentuk pengaturan keamanan yang penulis temukan dalam kasus Asia Timur adalah
Regional Security Complex.
Analisa mengenai Regional Security Complex (RSC) sendiri meliputi unsur-unsur
seperti: geografi, etnisitas, dan budaya masyarakat di wilayah tersebut. Ketiga faktor ini
nantinya akan menimbulkan adanya saling ketergantungan antar negara satu dengan negara
lain yang kemudian akan bermuara pada munculnya suatu kompleksitas keamanan
regional/Regional Security Complex (RSC). Regional Security Complex (RSC) dipahami
sebagai sekumpulan negara yang karena satu dan lain hal memiliki kedekatan, yang lantas
membuat primary security negara-negara tersebut tergabung dan tidak dapat dipisahkan
satu sama lain 5 . Dalam suatu RSC, permasalahan keamanan negara-negara yang
bersangkutan saling berhubungan erat sehingga kepentingan keamanan nasional tidak

2
Patrick M. Morgan, “Regional Security Complexes and Regional Orders” dalam Regional Orders: Building
Security in A New World. (Pennsylvania: Pennsylvania State University Press, 1997), hal. 21
3
Barry Buzan dan Ole Waefer. Regions and Power : The Structure of International Security. (Oxford:
Cambridge University Press, 2003), hal. 44.
4
Björn Hettne. Beyond the ‘New’ Regionalism. http://www.iei.liu.se/content/1/c4/36/46/autumn%202005/
h05%20-%20NPE_Hettne_3.pdf, diakses pada 18 Maret 2009, pukul 19.39.
5
Barry Buzan. People, States, and Fear. (London: Harvester Wheatsheaf, 1991), hal. 190.
Page | 4
mungkin ada tanpa memperhitungkan keamanan wilayah. Walaupun terdapat
ketergantungan keamanan antar anggotanya, tidak berarti terciptanya situasi harmonis di
dalam RSC. Kenyataannya, hubungan antar anggota dalam RSC selalu diwarnai persaingan,
perimbangan kekuasaan, berbagai bentuk aliansi, serta masuknya kekuatan eksternal ke
dalamnya6.
Salah satu pencetus teori RSC, Barry Buzan, menekankan unsur terpenting dari
sebuah RSC adalah adanya saling ketergantungan antar negara-negara dalam kawasan
tersebut7, yang membuat keamanan negara yang satu tidak dapat dipisahkan dari keamanan
negara anggota RSC lainnya. Buzan dan Waefer juga menyebutkan empat variabel
penyusun struktur esensial RSC, yaitu:
1. batas wilayah (yang membedakan RSC dengan negara sekitarnya),
2. struktur anarkis (RSC harus terdiri dari dua atau lebih unit-unit otonom),
3. polaritas (adanya penyebaran kekuasaan antar unit), dan
4. konstruksi sosial (yang meliputi pola persepsi amity dan enmity antar unit).
Teori RSC ini pada akhirnya bertujuan untuk membentuk suatu bentuk pengaturan
keamanan sebagai tujuan akhir dari setiap usaha regionalisasi yang berbasis keamanan
kawasan. Konsep pengaturan keamanan ini membahas cara negara-negara dalam
mengusahakan terciptanya keteraturan dan keamanan kawasan dengan jalan melakukan
kerja sama dengan negara-negara tetangganya di kawasan. Terdapat 5 model yang biasa
digunakan dalam pengaturan keamanan, yaitu:
1. integrasi
2. pluralistic security community
3. collective security
4. great-power concert
5. power restraining power
Model integrasi ini membutuhkan adanya badan supra-state dimana badan tersebut
memiliki otonomi khusus untuk membentuk badan pertahanan kawasannya. Apabila

6
Barry Buzan dan Ole Waefer, op.cit., hal. 47.
7
Barry Buzan dkk., The European Security Order Recast: Scenarios for the Post-Cold War Era, (London:
Pinter, 1990)
Page | 5
konflik terjadi, negara tidak lagi bereaksi atas nama negaranya melainkan atas nama badan
supra-state yang menaunginya. Model ini diadaptasi dengan baik melalui badan Uni Eropa.
Model kedua, pluralistic security community, memiliki sifat yang serupa dengan
model integrasi. Yang membedakannya adalah, model ini hanya membutuhkan komitmen
dari negara-negara anggotanya untuk bersama-sama menjaga keamanan di kawasannya dan
negara-negara tersebut masih memiliki otoritas terhadap badan pertahanannya. Pada
umumnya model ini dapat ditemui di berbagai organisasi kawasan di dunia, seperti
ASEAN.
Model ketiga, collective security atau yang biasa disebut multilateral colletive
management, mengusahakan keberadaan RSC untuk menciptakan perdamaian dunia.
Berbeda dengan model kedua, model ini menekankan pada pentingnya usaha pro-aktif
untuk mencapai tujuannya, misalnya dengan membentuk badan peacekeeping sebagai
usaha untuk meredam konflik dan menciptakan perdamaian dunia.8 Model ini diadaptasi
dengan sempurna melalui pembentukan badan PBB.
Model keempat, great-power concert, mengusahakan terciptanya security
management dengan menekankan pentingnya usaha dari negara-negara besar / powerful di
satu kawasan untuk menciptakan keamanan di kawasan. Kontribusi negara-negara powerful
tersebut menjadi penting karena nasib keamanan kawasan menjadi tanggung jawab mereka.
Model terakhir, power restraining power, lebih melihat bagaimana negara-negara
kawasan mengusahakan terciptanya distribusi power di kawasan. Untuk mencapai
tujuannya, model ini membutuhkan keberadaan struktur balance of power yang berfungsi
untuk mengimbangi kekuatan hegemoni satu negara di kawasan yang mungkin dapat
menciptakan instabilitas kawasan.

8
A. LeRoy Bennett, International Organization: Principles and Issues, (Engelwood Cliffs, New Jersey:
Prentice Hall, 1998), hal. 143-177
Page | 6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Regional Security Complex di Asia Timur


Secara geografis, kawasan Asia Timur didefinisikan sebagai negara-negara yang
terletak di bagian timur laut Asia, yang terdiri dari Cina, Jepang, Korea Utara dan Korea
Selatan. Definisi kawasan dalam kerangka keamanan lantas memisahkan keempat negara
ini dengan negara-negara ASEAN karena unsur interdependensi keamanan yang dapat
ditemukan dalam keempat negara ini tidak ditemukan pada negara-negara ASEAN.
Menyinggung unsur eksternal yang disebutkan Buzan dan Waefer, Amerika Serikat dilihat
sebagai kekuatan eksternal yang paling berpengaruh dalam Asia Timur, sehingga membuat
Cina, Jepang, Korea Utara dan Korea Selatan sangat tergantung pada AS. Adapun,
ketergantungan yang sama tidak ditemukan antara AS dengan keempat negara tersebut
sehingga AS tidak dapat dimasukkan dalam RSC Asia Timur.
Unsur interdependensi antara Cina-Jepang-Korea Utara-Korea Selatan begitu
terasa ketika Kim Jung Il sebagai presiden Korea Utara memutuskan untuk
mengembangkan senjata nuklir di Korea Utara9. Ketiga negara Asia Timur lain lantas tidak
tinggal diam begitu mendengar rencana ini, karena hal tersebut dapat mengancam
keamanan Cina, Jepang, dan Korea Selatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam kasus nuklir di Korea Utara, Jepang dan Cina sebagai dua kekuatan utama Asia
Timur berperan aktif dalam negosiasi. Pada bulan September 2002, Perdana Menteri Jepang
Junichiro Koizumi melakukan kunjungan ke Pyongyang untuk bertemu Kim Jong Il.
Pertemuan tersebut menghasilkan Japan-DPRK (Democratic People’s Republic of Korea)
Pyongyang Declaration yang mengindikasikan normalisasi hubungan diplomasi antara
kedua negara. 10 Sementara negosiasi Cina dan Korea Utara lebih ke arah penjagaan

9
Kim Jung Il’s Nuclear Ambition. www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1582115,00.html, diakses
pada 15 Desember 2007 pukul 20.20
10
The National Institute for Defense Studies, East Asian Strategic Review 2003, (Tokyo: The Japan Times,
2003), hal. 5.
Page | 7
stabilitas kawasan Korea Utara, dengan menyediakan minyak, batu bara, listrik, gandum,
dan pupuk kepada Korea Utara.11 Hal ini dilakukan Cina karena Cina sadar kestabilan
Korea Utara harus dijaga, karena bila situasi politik di Korea Utara terus memburuk, Cina
akan menjadi target utama bagi masyarakat Korea Utara untuk mengungsi.
Kompleksitas hubungan antar negara Asia Timur juga terjadi pada ketegangan
hubungan Cina-Jepang, yang lebih disebabkan karena aktor historis, di mana Cina masih
mempunyai trauma sejarah, yang masih mempengaruhi pandangan masyarakat Cina
terhadap Jepang. Hubungan sejarah Jepang dan Cina yang tidak baik ini menyebabkan
munculnya enmity12 dari rakyat Cina pada Jepang. Hubungan Cina dan Taiwan yang buruk
juga turut membuat semakin kompleksnya kondisi keamanan di Asia Timur. Taiwan yang
ingin memerdekakan diri dari Cina, tentulah membuat negara-negara Asia Timur lain
khawatir karena Cina tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi, yang berarti akan terjadi
konflik besar bila Taiwan sampai nekat memerdekakan diri. Cina juga sangat
memperhatikan peranan Amerika Serikat dalam militerisasi Jepang13, karena bila kondisi
militer Jepang semakin kuat, bukan tidak mungkin Jepang akan menguasai Asia Timur, dan
hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi kedudukan Cina di kawasan Asia Timur.

2.2. Faktor-faktor yang Menghambat Pembentukan Pengaturan Keamanan di Asia


Timur

Sebenarnya, ide untuk membentuk suatu forum keamanan bersama Asia Timur
telah dicetuskan oleh presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev pada tahun 1986 dan 1988,
oleh perdana menteri Uni Soviet Shevardnaze pada tahun 1990 dan oleh presiden Korea
Selatan Roh Tae-Woo dalam sidang PBB di tahun 1990 dan 1992, namun hingga kini tidak

11
Charles E. Morrison, Asia Pacific Security Outlook 2003, (Tokyo: an APAP Project, 2003), hal. 50
12
Enmity dimengerti sebagai hubungan yang berlandaskan ketakutan dan kecurigaan, lihat Barry Buzan.
People, States, and Fear. (London: Harvester Wheatsheaf, 1991), hal. 190.
13
Peran Amerika Serikat memiliki signifikansi besar pada perkembangan militer Jepang, dimulai dengan
disetujuinya Pasal 9 dari Konstitusi Pascaperang oleh Diet Jepang pada tahun 1946, lihat Joseph P.
Keddell, Jr., The Politics of Defense in Japan: Managing Internal and External Pressures, (New York:
M.E. Sharpe, Inc., 1993), hal.12.
Page | 8
ada satupun bentuk pengaturan keamanan bersama yang berhasil diwujudkan dalam bentuk
konkret. 14 Berbeda dengan bentuk pengaturan keamanan bersama, berbagai bentuk
regionalisasi ekonomi telah dilakukan oleh Cina, Jepang, dan Korea Selatan (sementara
Korea Utara yang memang masih terkucilkan dari dunia internasional, relatif jarang bekerja
sama dengan dunia internasional), walaupun tidak dapat dipungkiri berbagai bentuk kerja
sama ekonomi tersebut lahir dengan bantuan pihak eksternal, misalnya Asean Plus Three
yang lahir atas inisiatif ASEAN. Sehubungan dengan kesulitan Asia Timur membentuk
suatu bentuk pengaturan keamanan bersama tanpa bantuan pihak eksternal, Barry Buzan
berpendapat bahwa kerja sama regional di kawasan Asia Timur tidak dapat berkembang
tanpa keberadaan hegemoni great power di kawasan. Permasalahan yang muncul dari sini
adalah, keberadaan great power Asia Timur lebih diwakili oleh Amerika Serikat, bukan
oleh salah satu dari empat negara di kawasan tersebut. Cina dan Jepang tidak dianggap
sebagai negara dengan power yang cukup besar karena keduanya memiliki kekuatan
ekonomi dan militer yang berimbang.15 Karena AS tidak memiliki kepentingan sebesar
kepentingan negara-negara di Asia Timur dan tidak ada kesadaran maupun inisiatif
langsung dari negara-negara tersebut untuk bersama-sama menciptakan security
management, maka bentuk pengaturan keamanan bersama intra kawasan Asia Timur
dengan tanpa melibatkan aktor eksternal sepertinya akan sulit terwujud.
Dalam bukunya yang berjudul Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral
Distrust in the Shadow of Globalization, Gilbert Rozman menyebutkan beberapa faktor
penghambat munculnya kerja sama regional di Asia Timur, khususnya dalam bentuk
keamanan. Salah satunya adalah faktor modernisasi yang terjadi16. Ketidakseimbangan
pembangunan yang muncul sebagai dampak dari modernisasi membuat negara-negara Asia
Timur justru menjadi resisten terhadap keterbukaan. Ketidakseimbangan ini juga lantas

14
Ralph C. Hassig dan Kongdan Oh. The Dilemma of Security Cooperation in the Northeast Asia.
http://www.keia.org2-Publications/2-3-Monograph/Monograph2005/Hassig-Oh.pdf, diakses pada 18
Desember 2007 pukul 02.02
15
Barry Buzan, “Security Architecture in Asia: the Interplay of Regional and Global Levels”, Pacific Review,
Vol. 16, No.2, 2003, hal. 165-171
16
Gilbert Rozman. Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral Distrust in the Shadow of Globalization.
(United States: Cambridge University Press, 2004).
Page | 9
membuat masing-masing negara Asia Timur menjadi kehilangan kepercayaan pada dunia
luar, faktor yang sangat esensial dalam menciptakan kerja sama regional di suatu kawasan.
Modernisasi dan globalisasi yang ada justru semakin membuat masing-masing negara Asia
Timur menutup diri dari pergaulan dengan dunia internasional, dan karenanya cenderung
menerapkan proteksionisme di segala bidang.
Faktor kedua yang juga menghambat lahirnya sebuah regionalisme di Asia Timur
adalah karena faktor sejarah yang lantas membuat hubungan dua kekuatan besar di Asia
Timur—Jepang dan Cina—menjadi tidak akur. Hubungan tidak akur Jepang-Cina ini
sebenarnya dimulai pada masa Perang Dunia II, ketika tentara Jepang dengan brutal
menyerang dan menghabisi rakyat Cina. Ketika itu, Kaisar Hirohito memerintahkan
pasukan Jepang untuk menyerang dan menduduki Cina. Bangsa Jepang pun ketika itu
menyebut Cina sebagai “Chancorro” (artinya ras yang lebih rendah dari manusia). Karena
pasukan Jepang menganggap rakyat Cina adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia,
pasukan Jepang menjadi lebih tega dalam menyiksa rakyat Cina. Penjarahan, perkosaan,
pembunuhan, dan berbagai tindak kejahatan lain terjadi di seluruh pelosok Cina. Semua
tindakan itu mempunyai tujuan yang sama : mendirikan Kekaisaran Jepang di Cina.17
Jepang bagaikan „monster kawasan‟ yang melakukan ekspansi ke hampir seluruh wilayah
Asia Pasifik pada tahun 1931 hingga 1945. Serangan Jepang yang paling kejam dilancarkan
pada Cina dan menewaskan lebih dari 300.000 orang dalam peristiwa berdarah di
Nanking. 18 Faktor latar belakang sejarah yang membuat hubungan Cina dan Jepang
menjadi tidak akur ini merupakan faktor penghambat yang bisa dikatakan paling
berpengaruh. Tanpa adanya rekonsiliasi dalam hubungan Cina dan Jepang, pengaturan
keamanan Asia Timur, dalam bentuk apapun, sepertinya akan sangat sulit dicapai.
Faktor penghambat lain yang juga mempersulit terbentuknya pengaturan
keamanan di Asia Timur adalah karena kurangnya kemauan dari negara-negara Asia Timur
itu sendiri untuk melakukan negosiasi dan kerja sama di antara mereka19. Hal ini terbukti

17
Data didapatkan penulis dari film Horror in the East.
18
Nanjing Massacre. http://www.index-china.com/index-english/Nanjing%20Massacres.html, diakses pada
15 Desember 2008 pukul 20.20.
19
Rozman, Gilbert, op.cit.
Page | 10
dari sedikitnya kerja sama yang dihasilkan antar negara-negara Asia Timur tersebut tanpa
bantuan organisasi kawasan lain. Kurangnya kemauan ini bisa jadi dikarenakan memang
identitas regional antar Cina-Jepang-Korea Utara-Korea Selatan memang belum terbentuk20.
Walaupun menyadari bahwa faktor keamanan mereka sangat tergantung satu sama lain,
keempat negara tersebut masih belum merasa dirinya adalah bagian dari suatu kawasan
Asia Timur. Faktor enmity memainkan peran sangat besar di sini, ketidakpercayaan dan
kecurigaan yang muncul antar keempat negara Asia Timur menyebabkan identitas regional
tampaknya masih sulit terbentuk. Dan tanpa adanya suatu identitas regional, sulit bagi suatu
kawasan untuk menerapkan sebuah pengaturan keamanan bersama.
Faktor yang juga menghambat munculnya suatu bentuk pengaturan keamanan
bersama intra kawasan di Asia Timur adalah adanya perbedaan ideologi yang kompleks.
Kawasan Asia Timur merupakan kawasan kompleks dengan perbedaan ideologi yang dalam,
di mana budaya Konfusianisme, Taoisme, Budhis, Shinto-Jepang hingga keberadaan agama
Kristen memperlihatkan adanya keanekaragaman ideologi yang sangat kompleks di
kawasan Asia Timur. Dari semua kompleksitas ideologi tersebut, tidak dapat ditemui
benang merah yang sekiranya dapat dijadikan alat pemersatu identitas mereka sebagai
bagian dari kawasan. Hal inilah yang dianggap sebagai salah satu faktor terpenting yang
menghambat konstruksi sistem keamanan kolektif di kawasan Asia Timur.

2.3. Langkah yang Harus Ditempuh Cina, Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan
untuk Membentuk Pengaturan Keamanan tingkat Kawasan

Berbagai faktor penghambat yang telah disebutkan pada subbab sebelumnya


membuat pembentukan suatu pengaturan keamanan bersama intra kawasan di Asia Timur
tampak masih merupakan khayalan di masa kini. Perbedaan yang telanjur ada membuat
keempat negara Asia Timur harus berusaha ekstra keras demi menjembatani berbagai
perbedaan yang ada, untuk membentuk suatu pengaturan keamanan bersama. Ide

20
Zhang Yunling. East Asian Cooperation and Integration: Where To Go?, http://iaps.cass.cn/English/
Articles/showcontent.asp?id=375, diakses pada 24 Mei 2009, pukul 11.00.
Page | 11
pembentukan pengaturan keamanan bersama itupun tampaknya bukan hal yang tidak
mungkin, mengingat notion pembentukan East Asia Community sendiri kini sedang digarap.
Namun sebelum kerja sama keamanan untuk membentuk pengaturan keamanan bersama
dapat digarap, ada beberapa langkah yang harus ditempuh21, yaitu:
 Menjadikan Jepang untuk lebih aktif
Berbeda dengan Cina yang memang sudah aktif dalam kawasan Asia Timur, baik
secara ekonomi maupun politik dan keamanan, Jepang hingga kini masih belum terlalu
menunjukkan ketertarikannya untuk membentuk dan bersatu dalam suatu bentuk
pengaturan keamanan bersama dengan negara Asia Timur lain. Dibanding berprioritas
pada pembentukan regionalisme Asia Timur, Jepang lebih tertarik untuk memperbaiki
kondisi ekonomi dalam negerinya yang memang sedang menurun. Jepang juga terlihat
lebih mengutamakan prioritasnya untuk meningkatkan hubungan dengan AS,
dibanding dengan negara-negara Asia Timur lainnya. Padahal hubungan kerja samanya
dengan negara Asia Timur seharusnya dapat lebih menguntungkan Jepang dibanding
kerja samanya dengan AS yang sekarang sedang mengalami krisis. Preferensi Jepang
yang lebih US-centric inilah yang harus diubah. Usaha mengubah preferensi Jepang
agar lebih East Asia-centric dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan sekaligus
mendorong Jepang untuk lebih aktif dalam berpartisipasi di berbagai usaha kerja sama
regional.
 Membangun kepercayaan antara Cina dan Jepang
Sebagai dua negara berkekuatan besar di Asia Timur, dapat dikatakan nasib
terbentuknya regionalisme ataupun pengaturan keamanan bersama intra kawasan di
Asia Timur, terletak pada hubungan antara Cina dan Jepang, yang hingga kini masih
kurang baik lantaran faktor hubungan sejarah yang memang menghasilkan trauma
sejarah dalam diri masyarakat Cina pada Jepang. Namun adanya hubungan latar
belakang sejarah yang buruk itu bukan lantas berarti kedua negara Asia Timur ini tidak
dapat bekerja sama. Kenyataannya, berbagai kerja sama perdagangan dan investasi
telah dijalin oleh kedua negara. Namun unsur kepercayaan memang tampaknya masih

21
Ibid.
Page | 12
belum hadir pada hubungan kedua negara. Sejauh ini, penulis melihat Jepang dan Cina
masih menjalankan hubungan sebagai rival, bukan sebagai partner. Normalisasi
hubungan perlu dilakukan, dan kesadaran kedua negara bahwa yang satu tidak bisa
sukses tanpa bantuan yang lain, haruslah dibangun.
 Membentuk sebuah joint military arrangement
Sebagai bentuk konkrit dari pengaturan keamanan bersama, keempat negara Asia
Timur dapat mulai membentuk sebuah joint military arrangement. Pembentukan joint
military arrangement ini kemudian dapat dilanjutkan dengan melakukan regional
military exchange program dan membangun berbagai dialog keamanan antar
menteri-menteri keamanan Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara untuk
membahas berbagai isu keamanan, baik yang bersifat tradisional maupun yang bersifat
non-tradisional.
 Menjembatani berbagai perbedaan politik yang ada
Perbedaan politik antar negara-negara Asia Timur merupakan faktor penghambat yang
juga menyulitkan terbentuknya pengaturan keamanan bersama Asia Timur. Untuk
mengatasi hal ini, berbagai langkah untuk menjembatani perbedaan politik antar
keempat negara dapat dilakukan, misalnya dengan membangun sistem konsultasi
bersama antar para pemimpin Asia Timur untuk membahas berbagai isu keamanan
yang dapat mengancam kawasan Asia Timur.

Page | 13
BAB III

KESIMPULAN

Sebagai salah satu teori dalam paradigma keamanan, teori RSC telah mampu
menjelaskan bahwa faktor keamanan suatu negara sejatinya tidak terlepas dari keamanan
negara-negara sekitarnya, yang tergabung dalam suatu bentuk konpleksitas keamanan
regional. Hal inilah yang dapat ditemukan dalam kawasan Asia Timur, di mana keamanan
negara yang satu sangat berkaitan dengan keamanan negara yang lain. Hubungan keamanan
antar negara-negara Asia Timur begitu kompleks, mulai dari unsur ketidakpercayaan yang
mewarnai hubungan Jepang-Cina, sampai pada ketakutan bersama Cina-Jepang-Korea
Selatan pada Korea Utara dan pengembangan nuklirnya. Hubungan yang kompleks itu
lantas menciptakan interdependensi antar negara-negara Asia Timur, yang menjadi ciri
utama dalam suatu RSC menurut Barry Buzan. Lebih lanjut lagi, interdependensi yang ada
kemudian menimbulkan suatu keinginan bagi negara-negara Asia Timur untuk membentuk
suatu organisasi keamanan bersama dengan Cina, Jepang, dan Korea Selatan sebagai
anggota utamanya; keinginan yang ditunjukkan dengan munculnya wacana pembentukan
East Asian Community—yang hingga kini belum berhasil direalisasikan.
Wacana pembentukan suatu pengaturan keamanan bersama sebenarnya bukan
tidak pernah muncul, melainkan selalu tenggelam seiring dalamnya perbedaan antar
negara-negara Asia Timur. Asia Timur sendiri merupakan kawasan yang rumit, dengan
berbagai faktor—mulai dari latar belakang sejarah, sampai pada faktor perbedaan yang
memang ada di antara negara-negara Asia Timur—yang lantas menghambat terbentuknya
suatu pengaturan keamanan bersama di Asia Timur. Jikapun ada bentuk kerja sama yang
melibatkan negara Asia Timur secara keseluruhan, pastilah kerja sama tersebut melibatkan
aktor eksternal, dan seringkali justru dimotori oleh aktor eksternal tersebut. Perbedaan dan
berbagai faktor penghambat yang ada memang begitu kompleks, sehingga jika negara Asia
Timur ingin mewujudkan suatu bentuk pengaturan keamanan bersama intra kawasan,
negara Asia Timur harus bersatu menjembatani berbagai perbedaan yang ada untuk
Page | 14
kemudian duduk bersama membicarakan isu keamanan bersama. Hal tersebut tentu saja
mungkin, hanya saja untuk masa sekarang, tampaknya negara-negara Asia Timur harus
puas “menumpang” pada organisasi keamanan di kawasan lain, sebab tampaknya suatu
bentuk pengaturan keamanan intra kawasan di Asia Timur dengan tanpa melibatkan aktor
eksternal masih sulit terwujud.

Page | 15
DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Bennett, A. Leroy. 1998. International Organization: Principles and Issues. Engelwood
Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
Buzan, Barry, dkk. 1990. The European Security Order Recast: Scenarios for the
Post-Cold War Era, London: Pinter.
Buzan, Barry. 1991. People, States, and Fear. London: Harvester Wheatsheaf.
Buzan, Barry dan Ole Waefer. 2003. Regions and Power : The Structure of International
Security. Oxford: Cambridge University Press.
Keddell, Joseph P. 1993. The Politics of Defense in Japan: Managing Internal and External
Pressures. New York: M.E. Sharpe, Inc.
Morgan, Patrick M. 1997. “Regional Security Complexes and Regional Orders” dalam
Regional Orders: Building Security in A New World. Pennsylvania: Pennsylvania State
University Press.
Morrison, Charles E. 2003. Asia Pacific Security Outlook 2003. Tokyo: an APAP Project.
Rozman, Gilbert. 2004. Northeast Asia’s Stunted Regionalism: Bilateral Distrust in the
Shadow of Globalization. United States: Cambridge University Press.
The National Institute for Defense Studies. 2003. East Asian Strategic Review 2003. Tokyo:
The Japan Times.

INTERNET
http://www.iei.liu.se/content/1/c4/36/46/autumn%202005/ h05%20-%20NPE_Hettne_3.pdf
www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1582115,00.html
http://revistas.ucm.es/cps/16962206/articulos/UNIS0505230008A.pdf
http://www.keia.org2-Publications/2-3-Monograph/Monograph2005/Hassig-Oh.pdf
http://www.index-china.com/index-english/Nanjing%20Massacres.html
http://iaps.cass.cn/English/Articles/ showcontent.asp?id=375

Page | 16