Anda di halaman 1dari 8
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

REVIEW PENGKAJIAN STRATEGISSAP 3 : TIPOLOGI ANCAMAN

Nama

:

Erika

NPM

:

0706291243

Sumber

:

1.

Barry Buzan. People, States, and Fear. (London : Harvester Wheatsheaf, 1991), hal. 186-229.

 

2.

Barry Buzan dan Ole Waever. Regions and Power: The Structure of International Security.

(Oxford: Cambridge University Press, 2003), hal. 6-87.

Penggunaan Regionalisme dalam Memahami Dinamika Keamanan Internasional

Keamanan adalah fenomena yang sifatnya relasional, dalam artian untuk memahami keamanan nasional suatu negara, dibutuhkan pemahaman mendalam mengenai pola internasional ketergantungan negara tersebut pada negara lain. Hal inilah yang mendorong dibutuhkannya analisis sistem level dalam memahami masalah keamanan, yang dalam tulisan Barry Buzan dalam bukunya yang berjudul People, States, and Fear didefinisikan dalam lingkup keamanan regional. Region di sini dimengerti sebagai sebuah subsistem signifikan dari hubungan keamanan yang menyatukan beberapa negara-negara dalam suatu kesatuan geografis. Paradigma regionalisme sendiri disebut-sebut sebagai paradigma yang paling tepat untuk menganalisa masalah dinamika keamanan internasional oleh beberapa pemikir hubungan internasional. Apa itu paradigma regionalisme dan bagaimana paradigma ini memandang keamanan internasional, serta bagaimana definisi ancaman menurut paradigma regionalisme ini? Hal tersebutlah yang kemudian akan dijelaskan dalam tulisan ini. Dunia keamanan internasional mengenal adanya tiga macam pendekatan dalam menganalisis struktur keamanan internasional, yaitu perspektif neorealisme, globalisme, dan regionalisme. Neorealisme merupakan prinsip yang state-centric, yang menaruh perhatiannya pada masalah polaritas kekuasaan (power polarity) dan pada masalah distribusi kekuasaan material sistem internasional. Sementara perspektif globalisme lebih menekankan pada persebaran globalisasi di dunia internasional, yang akhirnya menyebabkan deteritorialisasi pada tingkatan yang paling ekstrim. Pusat pembicaraan kaum globalis adalah pada sistem internasional, yang mencakup pembagian negara inti (core states) dan negara periferi, di mana struktur dari sistem internasional tersebut bersifat eksploitatif, tidak setara, dan tidak statis.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Pemikiran kaum globalis juga mengatakan bahwa globalisasi dapat menjadi ancaman bagi keamanan suatu negara bila tidak disikapi dengan baik. Globalisasi yang terjadi kemudian lantas menjadi insentif bagi negara-negara untuk lebih berfokus pada kebijakan keamanan yang kooperatif untuk bersama-sama menghadapi globalisasi, terutama pada tingkat regional. Analisis keamanan state-centric yang tradisional pun mulai ditinggalkan dan berganti menjadi model centre-periphery yang lebih dinamis. Digunakannya model centre-periphery untuk menganalisa pesatnya pembangunan yang terjadi kemudian membawa kita pada suatu pemikiran akan semakin dominannya pusat-pusat kekuasaan seperti Amerika Serikat, dan bahwa sistem internasional kini menjadi semakin hirarkis. Untuk menangkal hegemoni pusat-pusat kekuasaan tersebut, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun struktur kekuasaan global yang lebih adil dan multipolar. Sejak itulah, pendekatan regionalisme mulai populer digunakan. Pendekatan regionalisme sendiri merupakan gabungan dari pendekatan neorealisme dan globalisme, yang lebih memberi perhatian pada level analisis yang lebih rendah, dalam hal ini regional. Pemikiran regionalisme pada dasarnya didasari pada satu pemikiran dasar :

yaitu bahwa ancaman lebih sering datang dari jarak yang dekat dibanding jarak yang jauh. Region dalam konsep ini bukanlah mengacu pada pengertian region secara teritori saja, tetapi lebih kepada sekumpulan unit yang memiliki proses sekuritisasi, desekuritisasi, atau keduanya sekaligus, yang terhubung satu sama lain, yang lantas menyebabkan masalah keamanan negara-negara tersebut tidak dapat dianalisa secara terpisah satu sama lain 1 . Ada juga yang mengatakan region dipahami sebagai subsistem supranasional dari sistem internasional 2 . Yang harus diperhatikan dalam pendekatan regionalisme adalah setiap negara tidaklah sama, ada negara kuat, dan ada negara lemah. Pembagian pada kuat-lemahnya suatu negara tidak selalu bergantung pada power yang ia miliki, melainkan lebih kepada derajat kohesi sosiopolitis antara pemerintah dengan masyarakat sipil di suatu negara, atau dengan meminjam istilah

1 Barry Buzan dan Ole Waefer. Regions and Power : The Structure of International Security. (Oxford:

Cambridge University Press, 2003), hal. 44.

2 Björn

Hettne.

Beyond

the

‘New’

Regionalism.

http://www.iei.liu.se/content/1/c4/36/46/autumn%202005/

h05%20-%20NPE_Hettne_3.pdf, diakses pada 18 Maret 2009, pukul 19.39.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Buzan dan Waefer: the degree of stateness 3 . Negara lemah pada akhirnya akan sangat rentan pada berbagai ancaman yang datang dari luar, sedang negara yang ekstrim lemah akan menjadi negara yang gagal (failure state). Penggunaan paham regionalisme dalam menganalisa dinamika keamanan internasional juga disebabkan karena masih dianggap pentingnya faktor teritori dalam memahami masalah dinamika keamanan, walaupun telah muncul berbagai agenda keamanan kontemporer lainnya. Berbicara mengenai keamanan regional, satu prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah pentingnya pola relasi amity dan enmity antar negara. Amity di sini dimengerti sebagai hubungan yang dekat antar negara, yang melahirkan adanya ekspektasi perlindungan dan dukungan; sedangkan enmity dimengerti sebagai hubungan yang berlandaskan ketakutan dan kecurigaan 4 . Pola hubungan amity dan enmity ini sendiri muncul dari faktor yang bervariasi, seperti dari konflik perbatasan, faktor kepentingan, faktor ideologi, sampai pada hubungan sejarah yang terjalin antar negara. Pemahaman mengenai regionalisme dalam memahami masalah keamanan ini lantas melahirkan suatu konsep baru yang dinamakan security complex, yang didefinisikan oleh Buzan sebagai sekumpulan negara yang karena satu dan lain hal memiliki kedekatan, yang lantas membuat primary security negara-negara tersebut tergabung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain 5 . Buzan juga menyebutkan bahwa ancaman keamanan seringkali beroperasi pada jarak yang dekat, sehingga interaksi keamanan suatu negara dengan negara-negara tetangga di sekitarnya harus menjadi prioritas keamanan setiap negara. Dalam mendefinisikan bentuk dan struktur security complexes, Buzan mengatakan bahwa faktor budaya dan rasial seringkali ikut berperan, akan tetapi perlu diingat kedua faktor ini tidak lebih berpengaruh dibanding faktor persepsi keamanan amity dan enmity seperti yang telah dibahas sebelumnya. Security complex dipahami sebagai fenomena aksi-reaksi, di mana unsur yang penting untuk diperhatikan adalah process formation yang terjadi di dalamnya. Security complexes juga dipahami sebagai konsep region dalam masalah dinamika keamanan internasional. Dalam konsep security complex dikenal ada negara dengan level yang lebih

3 Barry Buzan dan Ole Waefer, op.cit., hal. 44.

4 Barry Buzan. People, States, and Fear. (London: Harvester Wheatsheaf, 1991), hal. 190.

5 Ibid.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

rendah (lower level), negara dengan level lebih tinggi (higher level), serta negara insulator. Negara dengan level lebih rendah atau lebih tinggi merupakan istilah masing-masing untuk negara dengan power lemah dan dengan power besar. Sedangkan negara insulator dimengerti sebagai negara yang berada dalam lebih dari satu security complex, yang memungkinkan negara tersebut untuk mengisolasi dirinya dari dinamika keamanan dalam kedua security complex tersebut, ataupun menghadapi kesemua masalah keamanan dalam kedua security complex tersebut tanpa menyatukan keduanya. Selain pola relasi amity dan enmity, faktor yang juga penting dalam menganalisa security complex adalah distribusi kekuasaan antar negara yang terjadi. Distribusi kekuasaan yang terjadi dalam subsistem ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu pergantian distribusi secara internal dan secara eksternal. Pergantian distribusi kekuasaan secara internal dapat terjadi melalui bergabungnya atau berpisahnya aktor-aktor negara di dalam suatu regional, adanya perbedaan tingkat pembangunan antar negara regional, serta adanya pengenalan suatu teknologi militer baru, yang kesemuanya memungkinkan terjadinya perubahan pada distribusi kekuasaan dalam lingkup regional. Sedang pergantian distribusi kekuasaan secara eksternal lebih disebabkan pada campur-tangan dan masuknya pihak asing di luar regional, bisa dalam bentuk masuknya negara luar itu ke dalam wilayah regional, ataupun dibangunnya suatu kerjasama antara negara luar tersebut dengan satu atau beberapa negara dalam regional. Selain mengenai pergantian distribusi secara internal dan eksternal, faktor yang perlu diperhatikan dalam distribusi kekuasaan adalah masalah polaritas dalam region. Barry Buzan dan Ole Waefer mengatakan ada tiga tingkatan penguasaan polaritas, yaitu dikuasai oleh superpowers, great powers, atau regional powers 6 . Superpowers dimengerti sebagai golongan negara yang memiliki kapabilitas militer dan politik yang kuat, serta ditunjang oleh kapabilitas ekonomi yang juga kuat. Kesemua hal tersebut membuat superpowers mampu bermain secara aktif dalam dunia global, khususnya dalam masalah keamanan internasional. Sementara great powers dimengerti sebagai sekelompok negara yang memiliki potensi kekuatan ekonomi, militer, dan politik untuk dapat bersaing dengan superpowers dalam jangka waktu pendek atau sedang. Great powers juga memiliki kapabilitas untuk bermain

6 Barry Buzan, op.cit., hal. 34.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

dalam ranah global, akan tetapi mereka cenderung tidak berperan besar karena tertutup oleh bayang-bayang superpowers. Jenis yang ketiga, regional powers, seperti namanya, dipahami sebagai negara yang dominan di tingkat regional, akan tetapi tidak banyak berperan di tingkat global, karena belum memiliki kapabilitas ekonomi, militer, dan politik sehebat superpowers ataupun great powers. Dalam penjelasannya mengenai Regional Security Complexes (RSC), Buzan dan Waefer mengatakan bahwa di dalam lingkup RSC pasti terdapat semacam ketergantungan keamanan (security interdependence) antar anggotanya. Walaupun terdapat ketergantungan keamanan antar anggotanya, tidak berarti terciptanya situasi harmonis di dalam RSC. Kenyataannya, hubungan antar anggota dalam RSC selalu diwarnai persaingan, perimbangan kekuasaan, berbagai bentuk aliansi, serta masuknya kekuatan eksternal ke dalamnya 7 . Masuknya kekuatan eksternal ke dalam RSC sendiri dapat terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya ketika penetrasi terjadi lewat perjanjian keamanan yang terjadi antara negara anggota RSC dengan kekuatan luar RSC. Yang terjadi selanjutnya dari masuknya kekuatan eksternal dalam RSC adalah pola persaingan antar negara anggota RSC kemudian menjadi permasalahan global, dengan adanya aliansi yang mendukung kutub tertentu. Dalam bukunya, Buzan dan Waefer juga menyebutkan empat level analisis untuk lebih memahami interaksi yang terjadi dalam region, yang disebut sebagai security constellation, yang terdiri dari analisis pada keadaan domestik negara anggota RSC, analisis pada hubungan antar negara anggota RSC, pada hubungan negara-negara di RSC dengan region-region sekitarnya, serta analisis pada peran kekuatan global dalam region tersebut 8 . Untuk lebih memahami RSC, Buzan dan Waefer juga menyebutkan empat variabel penyusun struktur esensial RSC, yaitu batas wilayah (yang membedakan RSC dengan negara sekitarnya), struktur anarkis (RSC harus terdiri dari dua atau lebih unit-unit otonom), polaritas (adanya penyebaran kekuasaan antar unit), dan konstruksi sosial (yang meliputi pola persepsi amity dan enmity antar unit). Menelaah dinamika keamanan internasional dan faktor ancaman yang terjadi di

7 Barry Buzan dan Ole Waefer, loc.cit., hal. 47.

8 Ibid, hal. 51.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

dalamnya merupakan hal yang sulit, dan untuk menjawab kebutuhan pemahaman akan dinamika keamanan internasional, paradigma regionalisme pun digunakan. Kedua buku yang diulas dalam tulisan di atas memberikan gambaran mengenai bagaimana konsep teritori tetap menempati posisi yang signifikan dalam studi keamanan internasional. Membandingkan kedua buku tersebut, yaitu People, States, and Fear karangan Barry Buzan dan Regions and Power : The Structure of International Security karangan Barry Buzan dan Ole Waever, sebenarnya seperti membaca sebuah artikel yang sama, hanya artikel yang satu lebih detail dalam penceritaan isi; begitu pula dengan kedua buku tersebut, di mana People, States, and Fear merupakan versi yang lebih ringkas dari Regions and Power : The Structure of International Security namun tidak berarti buku karangan Barry Buzan tersebut lantas menjadi tidak jelas. People, States, and Fear tetap mampu menghadirkan pemahaman yang jelas mengenai penggunaan paradigma regionalisme dalam menelaah dinamika keamanan internasional, juga mampu menghadirkan pemahaman yang jelas mengenai Regional Security Complexes disertai contoh-contoh yang cukup mewakili. Prinsip amity, enmity, serta distribusi kekuasaan dalam RSC juga telah dijelaskan cukup baik oleh Buzan. Akan tetapi bila dibandingkan dengan Regions and Power : The Structure of International Security, People, States, and Fear masih kalah dalam hal pemahaman konsep. Menurut penulis, konsep-konsep RSC yang terdapat dalam buku karangan Buzan dan Waefer lebih beragam dari buku pertama karangan Buzan. Banyaknya konsep yang ditawarkan Buzan dan Waefer, seperti konsep mengenai superpowers, great powers, dan regional powers semakin memperjelas faktor distribusi kekuasaan dalam RSC, yang oleh Buzan hanya dijelaskan sebagai adanya distribusi kekuasaan secara internal dan eksternal. Selain itu, cara Buzan dan Waefer dalam menggambarkan faktor historis mengenai munculnya paradigma regionalisme untuk menganalisis masalah dinamika keamanan internasional lebih jelas dan terstruktur, seperti ketika dipaparkannya berbagai kelemahan neorealisme dan globalisme yang mendorong pada digunakannya regionalisme sebagai pandangan yang dinilai paling tepat dalam analisa keamanan internasional. Walaupun penulis memandang kedua bahan sebenarnya sudah cukup jelas dalam memberikan pemahaman mengenai konsep Regional Security Complexes, namun penulis

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

masih melihat adanya kekurangan dalam kedua bahan tersebut, yaitu dalam sisi kurang jelasnya penjelasan mengenai segi ancaman dalam pandangan regionalisme. Kedua bahan, walaupun membicarakan mengenai masalah keamanan regional dan konsep-konsep yang menyusun dan membatasinya, tidak menyebutkan secara eksplisit dan jelas faktor-faktor yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan regional tersebut. Padahal keamanan dan ancaman adalah dua faktor yang tidak dapat dipisahkan, membicarakan keamanan berarti juga membicarakan ancaman yang dapat mengancam keamanan itu sendiri. Penulis melihat, sebenarnya banyak poin dalam tulisan Barry Buzan, maupun pada tulisan Barry Buzan dan Ole Waefer yang dapat dijadikan sebagai faktor ancaman, hanya saja kedua buku tersebut tidak terlalu membahas masalah ancaman ini. Seperti misalnya faktor amity dan enmity yang sangat penting dalam pembentukan RSC. Penulis melihat, adanya enmity itu sendiri merupakan ancaman bagi eksistensi RSC itu sendiri. Enmity yang tidak ditangani dengan baik bukan tidak mungkin akan melahirkan kebencian mendalam antar negara anggota RSC, dan hal tersebut tentunya bukan hal yang baik bagi kelangsungan RSC. Poin kedua terletak pada distribusi kekuasaan di dalam RSC itu sendiri. Ciri adanya polaritas dalam RSC itu sendiri, menurut penulis, sebenarnya merupakan ancaman bagi keadaan internal RSC. Hal tersebut dikarenakan pihak yang lebih berkuasa akan cenderung semena-mena dalam menerapkan kekuasaannya, akan cenderung seenaknya dalam mengaplikasikan powernya sehingga pada akhirnya akan terciptanya semacam rasa iri dan tidak puas dari pihak yang lemah, yang kemudian dapat memicu timbulnya konflik internal bila tidak disikapi dengan baik. Dua poin tersebut merupakan faktor ancaman yang dapat menantang eksistensi RSC. Poin ancaman selanjutnya yang penulis lihat adalah pada masuknya kekuatan eksternal ke dalam RSC, yang pada akhirnya akan dengan mudah membawa persaingan antar negara RSC menjadi masalah global, semua terjadi karena besarnya campur tangan eksternal dalam RSC. Dibawanya masalah antar negara anggota RSC ke tingkat global pada akhirnya bukan membantu agar masalah tersebut cepat selesai, melainkan menjadikan masalah tersebut semakin kompleks dengan masuknya berbagai interest dari berbagai negara non-RSC. Yang terjadi selanjutnya adalah konflik regional meluas menjadi konflik global, semua karena penetrasi kekuatan eksternal ke dalam RSC.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Pembahasan Barry Buzan dalam bukunya yang berjudul People, States, and Fear serta dalam buku yang berjudul Regions and Power: The Structure of International Security karangan Barry Buzan dan Ole Waever mengenai pentingnya penggunaan pandangan regionalisme dalam menganalisis dinamika keamanan internasional serta mengenai pemahaman konsep-konsep Regional Security Complexes sebenarnya sudah sangat baik. Akan tetapi, pembahasan yang sudah sangat baik itu akan menjadi lebih sempurna dengan adanya penjelasan yang lengkap mengenai faktor ancaman bagi keamanan regional, karena masalah keamanan seyogyanya tidak akan pernah bisa dipisahkan dari faktor ancaman.