Anda di halaman 1dari 5

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

REVIEW TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL II


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber : Roxanne Lynn Doty, ‘Desire All the Way Down’, Forum on Social Theory of International Politics,
dalam Review of International Studies Vol. 26, No. 1 (2000).

Social Theory and Its Critics: the Unitariness of the State

Dalam tulisannya yang berjudul Desire All the Way Down, Roxanne Lynn Doty
menyampaikan beberapa kritiknya mengenai tulisan Alex Wendt yang berjudul Social Theory of
International Politics. Kritiknya yang pertama terletak pada pendapat Wendt yang menekankan
pentingnya kategorisasi/klasifikasi dalam memahami Social Theory, sebab untuk membangun teori
yang scientific mengenai sistem internasional, perlu dilakukan pendefinisian yang jelas pada
konstruk, dan perlu juga dilakukan pembedaan yang jelas antara konstruk satu dengan konstruk
yang lainnya. Inilah yang mendasari pemikiran akan perlunya dilakukan kategorisasi/klasifikasi
konstruk-konstruk. Klasifikasi yang penting dalam Social Theory adalah klasifikasi agen, struktur,
proses, dan praktik. Namun dalam tulisannya, Doty lantas mengkritik anggapan Wendt akan
perlunya dilakukan kategorisasi tersebut, karena menurut Doty, klasifikasi itu justru akan
menimbulkan terjadinya overlapping peran suatu konstruk. Misalnya, ia menjelaskan, suatu negara
dapat diklasifikasikan sebagai aktor dengan identitas, kepentingan, serta sebagai agen sekaligus
struktur sosial. Agen dan struktur sendiri juga termasuk proses; proses dan praktik seringkali
merupakan hal yang sama. Melalui argumennya tersebut, Doty mengkritik unsur
klasifikasi/kategorisasi yang disajikan Wendt dalam Social Theory, karena ternyata klasifikasi
yang dilakukan itu tidak sesuai dengan kondisi kompleks hubungan negara-negara dunia.
Kritik Doty yang kedua berkisar pada anggapan Wendt bahwa human nature merupakan
sebuah kekuatan materi (material forces), yang berhubungan dengan asumsi dasar konstruktivisme,
yaitu bahwa ide memberi makna pasa kekuatan materi. Adanya human nature sebagai kekuatan
materi lantas membuat berbagai produk human nature, seperti harga diri dan inspirasi juga
menjadi kekuatan materi. Padahal Wendt juga menyebutkan bahwa materi didefiniskan sebagai
sesuatu yang berlawanan dengan ide dan hubungan sosial, sehingga seharusnya inspirasi dan harga

Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

diri, walaupun termasuk hasil dari human nature, bukanlah sebuah kekuatan materi.
Dalam Social Theory-nya, Wendt juga menekankan pada peran negara dalam sistem
internasional, di mana negara dipandang sebagai aktor yang signifikan perannya. Anggapan
tersebut juga mengakui peran negara sebagai unitary actor, yang dapat bertindak rasional sebagai
suatu entitas sendiri. Wendt menekankan pada konsep state reification, di mana reification itu
sendiri dimengerti sebagai perlakuan pada produk dari aktivitas manusia seakan-akan produk
tersebut bukan hanya merupakan produk dari manusia. Anggapan Wendt yang
mengkonseptualisasikan negara sebagai unitary actor merupakan contoh reification. Negara
adalah suatu konstruksi sosial, akan tetapi negara hanya dapat dikonstruksi secara sosial sebagai
unitary actor. Permasalahannya adalah, menurut Doty, negara bukanlah aktor yang uniter,
melainkan aktor yang memiliki unsur-unsur kepribadian multipel (multiple personality), sehingga
tidak dapat dikatakan bahwa negara itu uniter. Dan bila negara tidak dapat dikatakan sebagai aktor
yang uniter, meminjam analogi Wendt, berarti negara tidak dapat dikatakan sebagai suatu aktor
internasional. Mengenai status negara sebagai aktor yang memiliki unsur multiple personalities,
Wendt sebenarnya sudah menyadari hal tersebut, akan tetapi Wendt mengatakan bahwa walaupun
negara terdiri dari banyak unsur penyusun, pada akhirnya unsur-unsur tersebut akan berhasil
bersatu dan menghasilkan suatu tindakan bersama dalam menghadapi tantangan pihak luar.
Sehingga pada akhirnya, lahirlah suatu entitas uniter bernama negara.
Walaupun Doty menganggap Social Theory banyak memiliki kelemahan, namun Doty
tidak menyangkal bahwa Social Theory telah berhasil memberikan kontribusi yang signifikan
dalam perkembangan ilmu hubungan internasional, dengan menghadirkan cara pandang baru
dalam memahami ilmu hubungan internasional : bahwa pembentukan ide, dalam hal ini oleh
negara, penting dalam membentuk identitas sosial dari suatu aktor politik1. Akan tetapi, lanjut
Doty, Social Theory lantas terbentur dengan keinginan Wendt untuk mengaplikasikan tradisi
positivis secara luas dalam teorinya, yang lantas menyebabkan Social Theory memiliki banyak
kekurangan untuk menghadapi dunia yang instabil.
Senada dengan Doty, penulis merasa Social Theory yang diberikan Alex Wendt
merupakan teori yang bagus, karena berhasil menyajikan cara pandang baru dalam membicarakan
1
Scott Burchill, et.al. Theories of International Relations, (New York: Palgrave, 2001), hal. 217.
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

hubungan internasional negara-negara dunia. Penulis juga setuju pada cara pandang Wendt yang
mengatakan negara adalah unsur yang sangat berpengaruh pada pembentukan ide dan pemaknaan,
yaitu pada bagaimana suatu negara mengkonstruk secara sosial dan merespon makna yang
diberikannya pada power politics2 yang kemudian membantunya untuk mengambil keputusan
dalam merespon tindakan negara lain. Wendt mengatakan, struktur dari sistem negara (state system)
adalah struktur yang relatif otonom jika dibandingkan dengan struktur-struktur lain dalam sistem
internasional modern3. Negara, menurut penulis, sebagai entitas politik utama memang memiliki
kapasitas dan kapabilitas yang besar untuk mampu menanamkan pengaruhnya pada pemaknaan
suatu material forces, terutama di waktu yang lampau. Namun kini, sering perkembangan jaman,
peran-peran aktor lain selain negara dalam mengkonstruk ide-ide semakin terlihat. Kini negara
bukan lagi aktor utama yang melakukan pemberian makna pada material forces, MNC dan NGO
pun kini memainkan peranan cukup penting dalam membentuk ide dan gagasan di masyarakat.
Dewasa ini, peran Multi National Corporation sudah semakin meluas dalam berbagai
bidang kehidupan. Jika awalnya MNC hanya bergerak di sektor ekonomi dan pasar, kini MNC
sudah mulai bergerak langsung dalam masyarakat dengan melakukan berbagai konstruksi ide dan
penanaman gagasan. Kesemua hal tersebut dilakukan MNC untuk semakin menanamkan
pengaruhnya pada masyarakat, untuk meluaskan hegemoninya pada masyarakat. Dengan modal
kapital besar yang dimilikinya, MNC seakan tumbuh menjadi entitas saingan negara, yang terus
berusaha untuk mempertahankan ketergantungan masyarakat padanya melalui berbagai konstruksi
ide-ide. Konstruksi ide itu dilakukan melalui berbagai macam cara, antara lain melalui media,
melalui proses komunikasi, dan lain-lain. Tidak jarang MNC juga bekerja di balik negara, dengan
melakukan kerjasama dengan negara, sehingga setiap kebijakan negara seringkali dipengaruhi oleh
konstruksi-konstruksi ide yang dilakukan MNC di baliknya. Kesemua hal tersebut mungkin
dilakukan MNC karena MNC memang memiliki kapabilitas sebagai organisasi yang bermodal
besar dan karenanya memiliki pengaruh signifikan dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan.
Selain diwarnai oleh konstruksi-konstruksi ide yang dilakukan MNC, dunia dewasa ini

2
Charles W. Kegley dan Eugene R, Wittkopf. World Politics: Trend and Transformation, (Boston: Bedford/St.
Martins), hal. 45.
3
Alexander Wendt. Social Theory of International Politics, (United Kingdom: Cambridge University Press, 1999),
hal. 193.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

juga diwarnai oleh berbagai upaya penanaman nilai oleh Non Governmental Organization (NGO),
yang mempunyai misi sendiri berupa penyebaran nilai-nilai tertentu. Hampir sama dengan cara
MNC melakukan konstruksi ide, NGO pun melakukan penanaman nilai pada masyarakat melalui
media dan berbagai proses komunikasi lain seperti lewat seminar, workshop, dan lain-lain. Jika
kekuatan utama MNC terletak pada modalnya yang besar, kekuatan NGO justru terletak bukan
pada modal yang besar, melainkan pada unsur solidaritas yang terbangun antar anggotanya karena
sama-sama menganut suatu common value yang sama, yang lantas menghasilkan jaringan
(networking) dan kemudian mempermudah kerja NGO dalam melakukan konstruksi-konstruksi
ide dan penanaman nilai. Seperti halnya MNC, peran NGO di dunia dewasa ini semakin terasa.
Tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan juga sebenarnya dipengaruhi oleh konstruksi-konstruksi
ide yang dilakukan NGO. Seperti misalnya, pada kampanye Earth Hour kemarin, di mana seluruh
masyarakat dunia diminta untuk berpartisipasi mematikan listrik selama satu jam secara serentak.
Walaupun banyak masyarakat yang tidak melakukannya, namun tidak sedikit orang yang
melakukannya. Dan mereka yang melakukannya pasti melakukannya atas dasar kesadaran dan
kepeduliannya akan lingkungan. Munculnya kesadaran dan kepedulian akan lingkungan itu tidak
lepas dari peran NGO-NGO lingkungan yang terus mengkampanyekan isu pemeliharaan
lingkungan pada masyarakat.
Dua penjelasan mengenai besarnya peran MNC dan NGO dalam melakukan konstruksi
ide dan penanaman nilai tersebut merupakan penjelasan yang tepat untuk mengkritik tulisan Wendt,
yang sayangnya tidak disebutkan dalam tulisan Doty. Di sini penulis ingin menekankan, bahwa
penulis tidak setuju dengan anggapan Doty yang mengatakan state bukanlah unitary actor,
melainkan terdiri dari multiple personalities, dan karenanya tidak dapat dikatakan bahwa state
mampu melakukan konstruksi-kontruksi ide sendirian. Menurut penulis, state memanglah
merupakan aktor yang uniter, uniter dalam hal memiliki kapabilitas pengambilan kebijakan sendiri
untuk melakukan berbagai konstruksi ide-ide. Akan tetapi, kecenderungan perkembangan dunia
dewasa ini, menjadikan penjelasan Wendt itu menjadi kurang lengkap, karena dewasa ini, peran
aktor-aktor lain seperti MNC dan NGO semakin terasa dalam pembentukan nilai dan
pengkonstruksian ide-ide dalam masyarakat. Jadi, untuk menutup penjelasannya, penulis
mengatakan bahwa negara memanglah memegang peranan penting dalam melakukan
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

konstruksi-konstruksi ide dan pemberian makna, akan tetapi perlu diingat berbagai aktor lain
seperti MNC dan NGO, juga memiliki peran yang tidak kalah penting dengan negara dalam
pengkonstruksian ide.

Page | 5