Anda di halaman 1dari 5

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

REVIEW TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL II


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber : Arif Dirlik, “the Global in the Local”, dalam Rob Wilson dan Wimal Dissanayake, ed., Global/Local :
Cultural Production and the Transnational Imaginary, (Duke University Press, 1996), hal. 212-235

Membangun Multikulturalisme yang Ideal sebagai Reaksi dari Globalisasi Dunia

Dahulu, hubungan internasional hanya dimengerti sebagai hubungan antar negara, dengan
tanpa memperhatikan unsur-unsur lokal yang membentuk suatu negara. Tidak diperhatikannya
unsur lokal dikarenakan adanya pendapat dari kaum modernis teleologi bahwa unsur lokal hanya
akan mendatangkan stagnasi dalam menghadapi dinamisme arus kapitalisme yang ada, serta karena
unsur lokal dipandang sebagai hambatan menuju kesadaran penuh terciptanya negara-bangsa.
Karena berbagai alasan itulah, unsur lokal lantas dikatakan menghambat modernitas oleh para
penganut modernisme. Namun pandangan kaum modernis yang cenderung menolak unsur lokal di
sini kemudian mendapat tantangan dari kaum anti-modernis yang lantas mengatakan modernisasi
hanya sebuah naratif untuk mengubah paksa mereka yang tidak ingin berubah menjadi modern.
Modernisasi ini sendiri kemudian dikaitkan dengan kapitalisme yang pada waktu itu sedang
berkembang pesat. Senada dengan pandangan kaum anti-modernis, kaum sosialis yang dipelopori
oleh Karl Marx dan Friedrich Engels menolak adanya proses alami menuju terciptanya
pembangunan yang kapitalis. Kaum sosialis mengatakan bahwa kesuksesan global dari kapitalisme
terjadi karena adanya penggunaan koersi dari negara-negara maju pada negara-negara dunia, berupa
brainwashing yang dilakukan oleh institusi pendidikan yang dimotori oleh negara maju, seperti
yang dikatakan Kropotkin. Berbagai kritik pada modernisasi itu lantas mengantar kita pada
kesadaran akan pentingnya keberadaan unsur lokal, yang telah dari sejak dahulu ditinggalkan dan
hanya dianggap sebagai hambatan yang tidak berarti bagi kemajuan pembangunan. Heterogenitas
dalam suatu bangsa pun mulai diperhatikan. Hal inilah yang mendasari lahirnya pandangan
multikulturalisme.
Dalam tulisannya mengenai multikulturalisme, pada awalnya Arif Dirlik mengutarakan
kekhawatirannya akan kembali bangkitnya kapitalisme dan kembali dilupakannya unsur lokal,
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

karena apa yang diungkapkan kaum anti-modernis hanya merupakan masa transisi dari
keterpurukan kapitalisme kala itu. Namun kepesimisan tersebut lantas hilang, mengingat memang
adanya urgensi keberadaan unsur lokal sebagai pihak yang harus menerima konsekuensi ekologis,
sosial, dan politik dari pembangunan sehingga keberadaan unsur lokal memang tidak mungkin tidak
mendapat perhatian. Kesadaran akan pentingnya unsur lokal merupakan artikulasi yang lahir dari
berbagai kelompok sosial yang mendambakan adanya pengakuan akan keberadaan mereka, juga
lahir dari kelompok yang mengecam modernisasi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih sederhana mengenai pengertian
multikulturalisme itu sendiri, Dirlik lantas menyajikan pehamaman global lokalisme dalam konteks
ekonomi, yaitu dalam konteks global kapitalisme. Dalam global kapitalisme, setiap perusahaan
lokal dihargai dan diberi kesempatan berproduksi secara independen. Akan tetapi semua perusahaan
lokal itu kemudian akan diorganisir oleh sebuah perusahaan transnasional (transnational
corporation) besar, yang lantas mengurus segala hubungan perdagangan perusahaan-perusahaan
lokal dengan perusahaan transnasional lainnya yang di dalamnya juga melibatkan
perusahaan-perusahaan lokal dalam wilayah yang berbeda. Mengambil analogi global kapitalisme
tersebut, global lokalisme dimengerti sebagai usaha pemerintah suatu negara dalam mengorganisir
unsur-unsur lokal di dalamnya, dengan memperhatikan kelebihan-kelebihan dari unsur lokal, untuk
membantu agar unsur lokal tersebut dapat bertahan di dunia global.
Perbedaannya dengan modernisme terletak pada diperhatikannya unsur lokal sebagai
unsur yang berpengaruh. Namun walaupun elemen-elemen lokal diperhatikan sebagai unsur yang
berpengaruh, tidak berarti lantas elemen lokal dibiarkan bebas berkembang tanpa adanya aturan
yang rigid dari negara. Dalam tulisannya, Dirlik mengutip pandangan Ohmae yang menyatakan
global localism dimengerti sebagai 70% global dan 30% lokal, yang berarti di sini global (dalam
konteks ekonomi : perusahaan transnasional, dan dalam konteks negara : pemerintah) masih lebih
dominan dalam proses pengambilan keputusan sebab bagaimanapun elemen-elemen lokal masih
membutuhkan supervisi dan koordinasi supranasional dalam pengaturannya. Ini yang menyebabkan
pada akhirnya batas-batas nasional dan kedaulatan akan semakin memudar, karena pada akhirnya
kebutuhan akan adanya koordinasi supranasional akan meningkatkan kerja sama negara-negara
dunia, dalam skala regional ataupun global. Wilson dan Dissanayake juga mengatakan,
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

diperhatikannya elemen lokal tidak lantas berarti diberikan otonomi pada elemen lokal tersebut,
melainkan lebih kepada mulai diliriknya fitur-fitur lokal yang menarik untuk membantu
meningkatkan kerja sama lokal dengan global.
Senada dengan pendapat Arif Dirlik yang menekankan pentingnya elemen lokal dalam
era globalisasi dan modernisasi ini, Samuel Huntington juga menyatakan bahwa globalisasi yang
terjadi di dunia pada akhirnya akan menyebabkan terbentuknya identitas-identitas yang heterogen,
identitas heterogen itu sendiri terbentuk karena lahirnya kesadaran diri dalam diri individu-individu
dunia akan berbedanya diri mereka satu dengan yang lain1. Sehingga untuk beradaptasi dengan
masyarakat dunia yang sadar akan heterogenitas identitas mereka, multikulturalisme sangat
diperlukan. Pandangan klasik yang cenderung menghomogenisasikan masyarakat sebagai suatu
kesatuan, yaitu kesatuan nation-state pun mulai ditinggalkan karena dinilai tidak sesuai lagi dengan
perkembangan jaman. Dalam bukunya yang berjudul Liberation, Multiculturalism, and Toleration,
John Horton menjelaskan bahwa multikulturalisme dipahami sebagai suatu situasi heterogenitas
budaya, yang merujuk pada pengakuan akan adanya eksistensi pluralitas etnik serta berbagai
kelompok budaya di masyarakat2. Senada dengan pandangan Huntington, penulis mengakui bahwa
untuk menghadapi dunia yang semakin modern dan persaingan yang timbul di dalamnya, sebuah
pemahaman mengenai multikulturalisme—seperti yang disebutkan oleh Arif Dirlik—merupakan
cara yang tepat. Hal tersebut dikarenakan elemen-elemen lokal harus bekerja sama dengan elemen
global untuk mempertahankan eksistensinya di dunia ini. Elemen lokal harus menemukan cara
untuk menarik perhatian dunia agar keberadaan mereka diperhatikan, dan hal ini dapat dilakukan
dengan adanya kerja sama antara elemen lokal dan global melalui suatu pandangan
multikulturalisme. Penulis sendiri setuju pada pandangan Arif Dirlik bahwa elemen lokal layak
untuk mendapat perhatian lebih di dunia global ini, karena sebenarnya elemen global juga
membutuhkan elemen lokal untuk dapat terus bersaing di dunia modern ini sehingga dapat
dikatakan antara elemen lokal dan global terjadi suatu hubungan simbiosis mutualisme. Meminjam
analogi ekonomi Dirlik, perusahaan transnasional akan selalu membutuhkan perusahaan lokal untuk

1
Samuel P. Huntington.The Clash of Civilization and the Remaking of World Order?, (London : Touchstone Books,
1996).
2
John Horton, “Liberalism, Multiculturalism, and Tradition”, dalam John Horton, ed., Liberalism, Multiculturalism,
and Tradition, (London : Macmillan, 1993), hal. 2.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

memberikan informasi mengenai situasi dan kondisi di masyarakat lokal itu sendiri; begitu juga
perusahaan lokal, yang akan membutuhkan modal dan jaringan yang luas dari perusahaan
transnasional tersebut untuk memperluas pemasaran produk mereka. Hubungan simbiosis antara
global dan lokal ini dapat menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak bila hubungan
keduanya ditangani dengan baik. Di sinilah penulis menemukan adanya satu kekurangan pada
pandangan multikulturalisme secara keseluruhan.
Dalam tulisannya, Dirlik mengutip pandangan Ohmae yang menyebutkan persentasi
pengambilan keputusan antara global dan lokal adalah 70% dan 30%. Adanya persentasi yang lebih
besar bagi global disebabkan karena elemen lokal membutuhkan elemen global sebagai supervisor
dan koordinator, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Hal tersebut memang benar, elemen
lokal (masyarakat) memang membutuhkan elemen global (dalam konteks politik : pemerintah)
untuk membantu mengatur beberapa aspek kehidupan mereka. Akan tetapi persentasi yang besar
bagi elemen global juga menunjukkan bahwa pola hubungan yang terjadi antar keduanya adalah
top-down approach, yaitu bahwa elemen global/pemerintah memiliki kuasa lebih besar yang dapat
mempengaruhi elemen lokal/masyarakat. Hal ini lantas menimbulkan masalah baru, sebab tanpa
adanya kekuasaan yang sama antar kedua elemen, mustahil rasanya segala kepentingan elemen
lokal dapat terakomodasi. Yang akan terjadi berikutnya adalah suatu pemaksaan keputusan dari
global/negara pada lokal/masyarakat, untuk mengubah lokal agar sesuai dengan keinginan global.
Semua ini terjadi karena digunakannya top-down approach dalam hubungan antara global dan lokal,
yang menyebabkan elemen global seringkali memaksakan suatu solusi dan peraturan yang
digeneralisir untuk segala bentuk permasalahan3. Padahal setiap elemen lokal memiliki keunikan
masing-masing, situasi dan kondisi setiap elemen lokal berbeda-beda sehingga seharusnya
peraturan/solusi yang digunakan tidak dapat digeneralisir. Penulis sendiri berpendapat bahwa
sebaiknya hubungan global-lokal ini tidaklah menggunakan top-down approach, melainkan lebih
menggunakan bottom-up approach, di mana segala keputusan di tingkat global haruslah berasal dari
tingkat lokal. Hal ini dikarenakan pada akhirnya segala keputusan global tersebut akan
diimplementasikan pada tingkat lokal, sehingga alangkah baiknya bila segala keputusan itu berasal

3
Dwi Ardhanariswari Sundrijo, “Accomodative Multiculturalism”, Global Jurnal Politik Internasional, vol. 9, no.2
(Desember 2007), hal. 177.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

dari aspirasi lokal sendiri. Persentasi pengambilan keputusan antara global-lokal pun tidak lagi
dapat 70%-30% seperti yang disebutkan Ohmae sebelumnya, melainkan seyogyanya persentasi
pengambilan keputusan dapat menjadi 50%-50% demi dihasilkannya hubungan yang sejajar antara
global dan lokal. Dengan cara inilah, menurut penulis, multikulturalisme yang ideal dapat
dilaksanakan.

Page | 5