Anda di halaman 1dari 18

Peran Pemikir Cina Liberal dalam Mengkonstruk Konsep dan Nilai Hak

Asasi Manusia di Cina, serta Hubungannya dengan Kebijakan Luar

Negeri Cina Terkait Masalah Hak Asasi Manusia

Disusun oleh :
Erika
0706291243
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir


Mata Kuliah Teori Hubungan Internasional II
Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional
Semester Genap 2008/2009

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2009

Page | 1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cina dan pelanggaran hak asasi manusia, kedua hal tersebut seperti tidak dapat dipisahkan.
Selama beberapa tahun lamanya, Cina dikenal sebagai negara yang banyak melakukan pelanggaran
hak asasi manusia, mulai dari masalah tidak terpenuhinya berbagai hak sipil-politik, masalah
penyiksaan (torture) yang dilakukan pemerintah pada warganya, sampai masalah hak-hak buruh
yang tidak dipedulikan. Awalnya dunia internasional tidak tahu bahwa ternyata begitu banyak
pelanggaran hak asasi manusia terjadi di Cina. Hal tersebut dikarenakan Cina dulunya begitu
tertutup, sehingga tidak banyak informasi dalam negeri Cina yang diketahui dunia internasional.
Kalaupun ada, informasi yang keluar tersebut tentulah sudah diseleksi oleh pemerintah Cina,
sehingga berbagai pelanggaran hak asasi di dalam Cina tentulah tidak pernah sampai ke dunia
internasional. Diadopsinya Open Door Policy oleh pemerintahan Deng Xiao Ping pada tahun
1978-lah yang membuat berbagai pelanggaran hak asasi manusia (selanjutnya disingkat HAM)
mulai terkuak di dunia internasional. Puncak pelanggaran HAM di Cina terjadi pada Peristiwa
Tiananmen Square pada tahun 1989, di mana ribuan penduduk Cina ditembak secara brutal oleh
militer pemerintah Cina karena ingin menggulingkan rezim diktator dan menggantinya dengan
sistem demokrasi. Ratusan nyawa melayang pada peristiwa itu, dan ribuan mengalami luka-luka.
Dunia internasional pun berang. Cina dikecam.
Bersamaan dengan datangnya kecaman dari dunia internasional, para pemikir Cina liberal
pun mulai muncul. Mereka mulai aktif menyuarakan pentingnya konsep HAM yang diakui secara
universal untuk diakui dan diterapkan oleh pemerintah Cina pada rakyatnya. Para pemikir Cina
liberal ini kemudian melakukan berbagai cara untuk membuat rakyat Cina sadar akan hak-hak yang
mereka miliki, baik itu melalui tulisan, seminar, dan lain-lain. Usaha pemikir Cina liberal ini
tentulah banyak menemui kendala, salah satunya adalah kesulitan mengubah mindset rakyat Cina
yang memang tidak mengenal konsep HAM sebelumnya, dikarenakan kepercayaan Konfusianisme
Page | 2
yang mereka anut memang tidak mengenal konsep hak. Tulisan ini kemudian akan membahas
bagaimana proses konstruksi nilai-nilai HAM secara universal pada masyarakat dan pemerintah
Cina akhirnya berhasil dilakukan, sehingga kemudian melahirkan berbagai kebijakan-kebijakan
pemerintah Cina yang mendukung terpenuhinya hak-hak asasi rakyat Cina.

1.2. Permasalahan
Makalah ini akan menjawab pertanyaan : Bagaimana proses konstruksi nilai-nilai HAM
secara universal akhirnya berhasil dilakukan di Cina, dan apa implikasi konstruksi nilai
tersebut pada kebijakan luar negeri Cina? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, makalah ini
terlebih dahulu akan memberikan penjelasan mengenai keadaan HAM di Cina saat konsep HAM
belum diakui di Cina, serta kemudian membahas proses konstruksi nilai-nilai HAM secara universal
pada rakyat Cina, dan kemudian diakhiri dengan pembahasan mengenai kondisi paska konstruksi
nilai.

1.3. Kerangka Teori


James Fearon dan Alexander Wendt mengatakan bahwa konstruktivisme adalah pandangan
yang menitikberatkan perhatiannya pada peran ide dalam mengkonstruksi kehidupan sosial,
dengan juga berfokus pada peran agen/subjek yang terkonstruksi secara sosial 1 . Kaum
konstruktivis juga mengatakan bahwa pembentukan ide merupakan unsur yang penting dalam
membentuk identitas sosial suatu masyarakat2. Finnemore dan Sikkink menyebutkan ada tiga
tahapan dalam siklus sebuah norma, yaitu :
1. Norm emergence
Norm emergence merupakan tahapan yang sangat dipengaruhi oleh norm entrepreneurs, di
mana norm entrepreneurs bertujuan untuk meyakinkan masyarakat atau pemimpin negara
untuk mengakui suatu norma tertentu. Dalam bekerja, norm entrepreneurs kadang bekerja
sama dengan NGO ataupun dengan organisasi-organisasi internasional, dan bahkan kadang

1
James Fearon dan Alexander Wendt. “Rationalism v. Constructivism: A Skeptical View”, dalam Walter Carlsnaes,
et.al (ed.), Handbook of International Relations. (London: Sage Publications, 2002), hal. 57.
2
Scott Burchill, et.al. Theories of International Relations, (New York: Palgrave, 2001), hal. 217.
Page | 3
dengan negara itu sendiri. Untuk dapat mencapai tahap siklus norma selanjutnya, sebuah
norma harus terlebih dahulu terinstitusionalisasikan melalui sekumpulan peraturan
internasional yang spesifik. Setelah norms entrepreneurs berhasil mempengaruhi negara
dan pemimpinnya untuk menjadi norm leaders dan kemudian mengadopsi suatu norma
baru, dapat dikatakan suatu norma telah mencapai suatu tipping point.
2. Norm cascade
Tahapan kedua dalam siklus sebuah norma adalah norm cascade, yang dimengerti sebagai
imitasi dinamik yang dilakukan seorang norm leaders untuk mensosialisasikan norma yang
sudah dianutnya pada negara lain, agar negara tersebut menjadi pengikut norma tersebut
juga. Motivasi dari norm cascade ini sendiri masih belum terlalu jelas, namun dapat
dikatakan seorang norm leaders mensosialisasikan norma karena adanya keinginan dari
dirinya untuk meningkatkan legitimasi internasional terhadap norma yang dianutnya
tersebut.
3. Norm internalization
Norm internalization tercapai saat suatu norma sudah diakui secara universal sebagai hal
yang taken for granted, sehingga bukan merupakan hal yang perlu diperdebatkan lagi dan
sudah otomatis diterima3.
Sehubungan dengan kemunculan norma dalam masyarakat, Emanuel Adler menyebutkan adanya
social communication dalam tahapan pembentukan nilai di masyarakat. Melalui komunikasi sosial
inilah, seorang agen dapat melakukan perubahan arti pada suatu material/konsep yang berlaku di
masyarakat 4 . Perubahan arti pada suatu material ini kemudian akan berkontribusi pada
institusionalisasi struktur sosial masyarakat. Adler juga menekankan dampak komunikasi sosial
pada hubungan sosial masyarakat, yaitu pada bagaimana suatu debat dan diskursi dapat memicu
lahirnya sebuah shared understandings5 pada suatu masyarakat.

3
Michael Barnett. “Social Constructivism” dalam Baylis dan Smith (ed.), Globalization of World Politics. (New York:
Oxford University Press, 2001), hal. 266.
4
Emanuel Adler. “Constructivism and International Relations”, dalam Walter Carlsnaes, et.all (ed.), Handbook of
International Relations. (London: Sage Publications, 2002), hal. 102.
5
Ibid.
Page | 4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Hak Asasi Manusia secara Universal


Secara universal, dunia internasional mengakui adanya konsep HAM sesuai pemikiran para
pemikir Liberal Barat. Walaupun tidak dapat disangkal, memang sulit menentukan batasan, aturan,
dan definisi yang jelas mengenai konsep HAM, bahkan di antara para pemikir Liberal Barat itu
sendiri. Seperti misalnya, para pemikir awal liberal cenderung mengatakan bahwa HAM adalah hal
yang harus diterapkan secara universal dan obsolete dalam segala kondisi, yang kemudian
mendapat banyak kritik dari para pemikir moral karena dianggap tidak memperhatikan perbedaan
nilai moral dan budaya yang ada. Memang benar, HAM tidaklah bisa dipaksakan secara universal
dalam segala kondisi, akan tetapi perlu diakui, bahwa ada beberapa hak asasi yang memang harus
diakui secara universal. Seperti salah satunya yang dikatakan oleh John Locke, „no one should harm
another in his life, liberty, and possessions‟6. Dalam pernyataan tersebut, John Locke antara lain
menyebutkan adanya HAM utama yang tidak dapat dilanggar, yaitu hak untuk hidup, hak
kebebasan bersuara, serta hak kepemilikan.
Senada dengan John Locke, Immanuel Kant mengatakan bahwa HAM adalah instrumen
yang bertujuan untuk membantu pencapaian tujuan dan memaksimalkan potensi seorang individu
pemilik hak tersebut, bahwa hak bukanlah alat untuk mewujudkan keinginan individu lain, ataupun
keinginan kolektif suatu negara7. Thomas Paine dan Thomas Jefferson juga mengatakan, bahwa
HAM adalah instrumen penting yang dimiliki seorang individu untuk melindungi dirinya dari
otoritas gereja dan negara8, sehingga jelaslah di sini bahwa HAM secara universal mengandung
pengertian sebagai hak yang dimiliki seorang individu, yang tidak dapat diganggu ataupun dibatasi
penerapannya oleh individu lain, maupun oleh entitas besar seperti negara.
Hak Asasi Manusia sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu hak-hak sipil politik,

6
John Locke. Two Treaties of Government, (Cambridge: Cambridge University Press, 1960), hal. 289.
7
Robert Weatherley. The Discourse of Human Right in Cina, Historical and Ideological Perspective. (London:
Macmillan Press, 1999), hal. 18.
8
Ibid, hal. 19.
Page | 5
serta hak-hak sosial ekonomi. Hak-hak sipil politik ini kemudian dapat lagi dibagi ke dalam dua
kelompok besar, yaitu kebebasan sipil (yang mencakup otonomi seseorang atas dirinya sendiri,
seperti kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan beragama, hak untuk tidak disiksa, dan
lain-lain), dan hak-hak politik (yang mencakup hak untuk memilih, akses yang sama pada
pemerintahan, dan lain-lain). Kategori hak yang lain, hak-hak ekonomi sosial merupakan hak yang
bertujuan menjamin kelangsungan kehidupan ekonomi dan sosial seseorang. Hak-hak sosial
ekonomi ini kemudian dibagi lagi menjadi hak untuk mendapat pangan, sandang, dan papan (rights
to food, clothing, and accomodation).

2.2. Konsep Hak Asasi Manusia dalam Ajaran Konfusianisme


Konfusianisme sebagai kepercayaan yang paling banyak dianut masyarakat Cina dari dahulu
hingga sekarang, disebut-sebut mempunyai andil dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat Cina
mengenai konsep hak asasi manusia. Tertutupnya Cina pada jaman dahulu menyebabkan
masyarakat Cina cenderung terisolasi dari dunia luar, sehingga satu-satunya sumber pengetahuan
kala itu datang dari pemerintah Cina sendiri, yang mengakui dan menanamkan nilai-nilai
Konfusianisme di seluruh wilayah Cina. Sebenarnya jika mau ditelaah lebih lanjut, ajaran
Konfusianisme memiliki satu kekurangan besar, yaitu tidak adanya bahasan mengenai konsep HAM
dalam seluruh ide dan praktik Konfusianisme. Kedudukan setiap individu yang merupakan nilai
utama dari konsep HAM secara universal, tidak diakui dalam Konfusianisme karena Konfusianisme
merupakan ajaran yang berbasis sistem moral inequality, ajaran yang melihat kedudukan manusia
dari status sosialnya dalam masyarakat. Seperti misalnya, beberapa status sosial seperti pemerintah,
bapak, dan suami dikatakan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding status lainnya (rakyat,
anak, dan istri)9. Hal ini menyebabkan sering terjadinya pelanggaran HAM di Cina pada keempat
status yang dianggap memiliki kedudukan sosial lebih rendah tersebut. Karena pemerintah dianggap
memiliki kedudukan sosial lebih tinggi dari rakyat, rakyat harus patuh pada pemerintah dan tidak
boleh melawan kehendak pemerintah; bahkan bila ternyata pemerintah itu menginjak-injak HAM

9
Y. C. Koo, et.all. Chinese Philosophy Vol. I, Confucianism and Other Schools. (Taiwan: Cina Academy, 1974), hal.
44.
Page | 6
rakyat, rakyat tetap harus patuh pada pemerintah.
Kekurangan ajaran Konfusianisme terhadap konsep HAM adalah, ajaran ini tidak pernah
mengakui bahwa setiap individu/manusia memiliki hak, melainkan ajaran Konfusianisme justru
menekankan bahwa setiap individu memiliki kewajiban. Setiap ajaran Konfusianisme menekankan
perlu adanya kewajiban yang bersifat resiprokal antar setiap orang berdasarkan status sosial yang
dimilikinya, seperti misalnya rakyat memiliki kewajiban untuk patuh pada pemerintah, sementara
pemerintah memiliki kewajiban untuk mengatur rakyatnya dengan adil. Berbeda dengan ajaran
Liberal Barat, ajaran Konfusianisme tidak menyebutkan adanya korelatif antara hak dan kewajiban
(yaitu bahwa dalam setiap hak yang dimiliki ada kewajiban yang harus dilakukan), ajaran
Konfusianisme mengatakan bahwa pikiran dan tingkah laku setiap individu ditentukan bukan oleh
kesadaran dirinya sendiri, melainkan oleh keharusan melaksanakan kewajiban yang didapatnya dari
status sosialnya10. Seperti yang dikatakan salah satu pemikir Cina kala itu, yaitu bahwa masyarakat
Cina tidak sadar bahwa mereka sebenarnya memiliki hak, bahwa ia merasa sense of rights yang
dimiliki rakyat Cina adalah yang terlemah dibanding penduduk di negara-negara lain11. Ajaran
Konfusianisme juga menekankan pada pentingnya unsur kolektif dibanding unsur individu, seperti
misalnya ajaran Konfusianisme mengatakan bahwa kepentingan individu sebenarnya berasal dari
kepentingan seluruh masyarakat, dan karenanya yang paling penting adalah memenuhi kepentingan
masyarakat secara keseluruhan karena dengan terpenuhinya kepentingan masyarakat, maka dengan
sendirinya kepentingan setiap individu—yang menjadi unsur dari masyarakat—akan terpenuhi; dan
karenanya ajaran Konfusianisme mengatakan bahwa masyarakat lebih signifikan dari individu12.

2.3. Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Cina


Membicarakan mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Cina bukanlah hal yang mudah,
karena pada awalnya Cina begitu tertutup pada dunia luar. Media-media internasional dilarang
masuk ke wilayah Cina tanpa izin dari Pemerintah Cina. Hal ini menyebabkan banyak

10
Harro von Senger, “Chinese Culture and Human Rights”, dalam W. Schmale (ed.), Human Rights and Cultural
Diversity. (Goldbach: Keip Publishing, 1993), hal. 318.
11
Hao Chang. Liang Chi-Chao and the Intellectual Transition in Cina: 1890-1907. (Cambridge, Mass: Harvard
University Press, 1971), hal. 195.
12
Gong Wenxiang. „The Legacy of Confucian Culture in Maoist Cina‟, Social Science Journal, hal. 372.
Page | 7
pelanggaran-pelanggaran HAM yang lantas tidak terekspos di dunia internasional. Namun ketika
Cina memutuskan untuk mulai menjalankan Open Door Policy, barulah media-media asing dapat
masuk, dan saat itulah berbagai pelanggaran HAM di Cina mulai terkuak.
Salah satu pelanggaran HAM berat yang terjadi di Cina berhubungan dengan
diterapkannya One Child Policy bagi seluruh rakyat Cina, sebuah kebijakan yang bertujuan untuk
membatasi angka kelahiran anak di Cina dikarenakan jumlah penduduk Cina yang kala itu sangat
membludak dan angka pertumbuhan yang tinggi. Sebagai negara sosialis, Cina memberikan
bantuan uang pendidikan bagi rakyatnya, namun hal tersebut hanya berlaku untuk anak pertama
dari setiap keluarga. Begitu juga dengan tunjangan-tunjangan lain, yang hanya diterima oleh anak
pertama dari setiap keluarga. Kebijakan inilah yang kemudian memberatkan warga Cina, sehingga
sebagian besar dari mereka pun memilih untuk tidak melahirkan dibanding harus membiayai sendiri
kebutuhan anak-anak mereka. Namun sayangnya, penerapan one child policy ini kemudian
mendatangkan berbagai akibat negatif. Seperti misalnya, kebijakan ini mendorong wanita Cina
untuk melakukan aborsi, yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai HAM. Tidak hanya aborsi,
anak yang sudah telanjur dilahirkan pun terkadang dibunuh karena beratnya tuntutan menghidupi
anak tanpa tunjangan pemerintah di Cina. Dan parahnya, berbagai aborsi ini seringkali diwajibkan
oleh pemerintah, dengan tanpa bertanya pada keluarga sang bayi tersebut, karena menurut
pemerintah Cina, sudah menjadi kewajiban tiap keluarga untuk hanya memiliki satu anak.
Pelanggaran HAM berat kedua yang diketahui oleh media internasional adalah ketika
terjadinya military crackdown di Tiananmen Square yang dilakukan oleh Pemerintah Cina sendiri.
Peristiwa Tiananmen Square disebabkan karena adanya demonstrasi dan rpotes dari mahasiswa dan
berbagai elemen masyarakat, yang pada umumnya bertujuan untuk menumbangkan rezim otoriter
pemerintah Cina kala itu, dan menggantinya dengan sistem politik demokrasi. Demonstrasi ini
sebenarnya seharusnya merupakan hal yang wajar, karena seharusnya setiap individu memiliki hak
untuk berpendapat. Namun tidak demikian di Cina. Saat itu, rakyat Cina masih belum memiliki
kebebasan dan hak untuk berpendapat, sehingga demonstrasi ini dinilai sebagai kegiatan yang
melanggar hukum karena melawan pemerintah oleh pemerintah Cina saat itu, dan karenanya
pemerintah Cina boleh menghukum rakyat yang tidak patuh ini. Peristiwa ini dikabarkan menelan
Page | 8
korban 200-300 orang, menurut pemerintah Cina. Namun Chinese Red Cross menyebutkan bahwa
korban yang meninggal karena insiden tersebut mencapai 2000-3000 orang. Selepas insiden itu,
pemerintah Cina kemudian menangkap secara paksa orang-orang yang terlibat dalam demonstrasi
tersebut, serta membatasi penyebaran berita sehubungan peristiwa Tiananmen Square oleh seluruh
media Cina. Kesemua hal ini menunjukkan betapa buruknya kualitas HAM di Cina kala itu, di
mana setiap individu seperti tidak ada artinya dibandingkan negara. Setiap individu hanya memiliki
kewajiban untuk patuh pada negara, dengan tanpa memiliki hak-hak asasi yang seharusnya
dimilikinya.

2.4. Peran Pemikir Cina Liberal dalam Mengkonstruksikan Nilai-Nilai HAM di Cina
Berbagai pelanggaran-pelanggaran HAM di Cina yang telah disebutkan pada subbab
sebelumnya terjadi karena tidak dipahaminya konsep HAM secara universal pada rakyat Cina,
maupun pada Pemerintah Cina. Sehingga yang terjadi adalah, rakyat Cina tidak memahami hak-hak
yang sebenarnya mereka miliki, dan karenanya mereka tidak melawan ketika mereka disiksa oleh
pemerintah. Di sinilah peran para pemikir Cina Liberal sangat penting, karena para pemikir inilah
yang lantas menyadarkan masyarakat Cina akan hak-hak yang sebenarnya mereka miliki dengan
berbagai tulisan dan pemikirannya. Para pemikir Cina liberal ini sendiri mulai aktif bersuara sejak
tahun 1980-an, seiring dengan berbagai tekanan yang didapat Cina dari dunia internasional karena
terkuaknya pelanggaran-pelanggaran HAM di Cina.
Salah satu pemikir Cina Liberal yang cukup vokal kala itu adalah Han Depei, yang
mendefinisikan hak asasi manusia sebagai hak fundamental bagi setiap orang. Han Depei
mengkritik ajaran Konfusianisme yang cenderung memberi kedudukan spesial bagi status sosial
tertentu, Han mengatakan bahwa setiap orang seharusnya memperoleh hak untuk hidup yang sama,
hak untuk dihargai, dan berbagai hak-hak lainnya dalam porsi yang sama tanpa memperhatikan
status sosial orang tersebut13. Pendapat Han ini seakan mengecam berbagai perlakuan tidak adil
yang dilakukan oleh pemerintah pada rakyat Cina, karena menurut Han, setiap orang memiliki hak

13
Han Depei. Renquan de Lilun yu Shijian (The Theory and Practise of Human Rights). (Wuhan: Wuhan University
Publishing House, 1995), hal. 353.
Page | 9
yang sama. Pemikir Cina Liberal lain adalah Li Buyun, yang mengatakan bahwa HAM adalah hak
setiap individu yang harus dilindungi oleh hukum14, Li mengatakan bahwa hukum dan pemerintah
seharusnya ada untuk melindungi hak-hak rakyatnya, bukan sebaliknya seperti yang terjadi di Cina.
Pemikir Cina Liberal yang juga cukup berpengaruh di Cina adalah Zhang Wenxian,
seorang professor hukum dari Jilin University. Melalui essaynya yang berjudul „On the Subject of
Human Rights and the Human Rights of the Subject‟, Zhang mengatakan bahwa hanya seorang
individulah yang memiliki hak asasi, hak asasi adalah sebuah konsep yang terbatas, yang hanya
mengacu pada individu, sebagai anggota dari sebuah masyarakat 15 . Dan karenanya, Zhang
mengakui adanya konsep HAM secara universal sebagai hak asasi yang dimiliki setiap individu
dalam masyarakat; ia mengakui adanya unsur individual dalam konsep HAM, dan menegasikan
unsur kolektif dalam konsep HAM. Zhang juga menentang diutamakannya kepentingan kolektif
daripada kepentingan individu apabila ternyata kepentingan kolektif itu akan melanggar hak asasi
seorang individu.
Menyinggung masalah tidak adanya konsep hak asasi manusia pada masyarakat Cina,
Wang Jiafu, Liu Hainian, dan Li Buyun lalu mempermasalahkan masalah beratnya kewajiban yang
harus ditanggung rakyat Cina, di mana ternyata unsur kewajiban itu kemudian menghancurkan
kebebasan dan otonomi seorang individu atas dirinya. Mereka juga menekankan, jika Cina ingin
menjadi negara maju, pemerintah Cina harus memberikan perhatian pada masalah hak asasi
individu, bukan hanya pada unsur kewajiban rakyat16. Lebih lanjut lagi, Wang Jiafu, Liu Hainian
dan Li Buyun lantas menyalahkan pemerintah yang cenderung memanfaatkan ketidakpahaman
rakyat Cina akan konsep HAM untuk kemudian menindas hak-hak mereka dan melakukan berbagai
penyalahgunaan kekuasaan. Wang dan kawan-kawan juga kemudian menyerukan agar hak asasi
individual dapat lebih diperhatikan dalam berbagai kebijakan pemerintah.

14
Li Buyun. “Lun Renquan de Sanzhong Cunzai Xingtai” (“On The Three Types of Human Rights”), dalam Fazue
Yangjiu (Studies in Law), 1991, hal. 14.
15
Zhang Wenxian. “Lun Renquan de Zhuti yu Zhuyi de Renquan” (“On the Subject of Human Rights and the Human
Rights of the Subject”), dalam Zhongguo Faxue edisi Mei 1991, hal. 26.
16
Wang Jiafu, et.all. “On the Reform of the Legal System”, dalam Faxue Yanjiu (Studies in Law), 1989, hal. 8.
Page | 10
2.5. Perubahan Pasca Konstruksi Nilai HAM
Usaha konstruksi nilai-nilai HAM secara universal yang dilakukan oleh para pemikir Cina
liberal ternyata membuahkan hasil. Sejak 1980-an, HAM mulai mendapat perhatian dari pemerintah
Cina. Robert Weatherby mengatakan bahwa para tahun 1980-an, ketertarikan masyarakat dan
pemerintah Cina pada masalah hak asasi manusia mulai berkembang17. Hal tersebut ditunjukkan
dengan diadakannya konferensi mengenai hubungan legal antara hak dan kewajiban di Changchun
pada tahun 198818, lalu disusul dengan diadakannya sebuah konferensi nasional untuk membahas
hal-hal spesifik tentang HAM oleh Research Center for Social Science Development dengan
disponsori oleh Pemerintah Cina19. Menyusul kemudian, pada 20 April 1991, People’s University of
Cina mengadakan konferensi untuk membahas mengenai konsep HAM di Cina, dan diikuti oleh
Law Institute of Chinese Academy of Social Sciences yang mengadakan konferensi serupa pada
18-21 Juni 1991. Kesemua konferensi tersebut juga didukung dengan munculnya berbagai bahan
bacaan, artikel, buku, dan dokumen-dokumen pemerintah yang bertemakan HAM di Cina20.
Perubahan konsep HAM secara universal juga diterima oleh Pemerintah Cina, terbukti
dengan dikeluarkannya 1991 Human Rights White Paper oleh Pemerintah Cina sebagai wujud
kepeduliannya dan keinginannya untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusia di Cina. Kebebasan
politik pun kini lebih diperhatikan oleh Pemerintah Cina. Selepas Peristiwa Tiananmen Square dan
kecaman serta kritikan dunia internasional sekaligus para pemikir Cina Liberal, Pemerintah Cina
pun menjadi lebih serius dalam mengakomodasi kebebasan berpendapat dan berpolitik rakyatnya.
Perhatian Cina pada masalah HAM juga diwujudkan dalam bentuk berbagai konferensi
internasional bertemakan HAM yang dihadiri Cina. Seperti pada partisipasi aktif Cina di Bangkok
Asian Regional Meeting on Human Rights, sebuah pertemuan awal sebelum memasuki World
Conference on Human Rights 1993. Kemajuan Cina dalam mengakomodasi masalah-masalah HAM
juga tercermin ketika Cina mengadakan konferensi internasional bertemakan HAM pada tanggal 21

17
Robert Weatherby, op.cit, hal. 132.
18
Albert Chen. “Developing Theories of Rights and Human Rights in Cina”, dalam Raymond Wacks (ed.), Hong Kong
and 1997: Essays in Legal Theory. (Hong Kong: Hong Kong University Press, 1993), hal. 125.
19
Meng Chunyan. “Zhichi Ma Kesi Renquanguan, Fandui Zichan Jieji Renguanquan” (“Insist on the Marxist View of
Human Rights, Oppose on the Bourgeois View of Human Rights”), dalam Renmin Ribao (People’s Daily), edisi 27
September 1990, hal. 3.
20
Robert Weatherby, ibid.
Page | 11
Oktober 1998 lalu. Walaupun konferensi ini tidak membahas mengenai masalah HAM di Cina pada
khususnya, namun kesediaan Cina untuk menggelar dan menjadi tuam rumah untuk konferensi
internasional mengenai HAM sudah merupakan kemajuan yang baik. Dengan mengorganisir
konferensi semacam ini, Cina sudah menunjukkan pada dunia internasional bahwa kini Cina sudah
lebih menghargai nilai-nilai HAM. Konferensi ini sendiri dihadiri oleh 80 delegasi dari 27 negara
yang berbeda, untuk merayakan hari ulang tahun Universal Declaration of Human Rights yang
ke-5021. Delegasi dari Cina juga hadir dalam konferensi ini, beserta wakil dari pemerintah dan
akademis Cina.
Ketertarikan Cina pada masalah hak asasi manusia juga ditunjukkannya melalui partisipasi
aktif Cina di PBB. pada April 1994, Qian Qichen, Menteri Luar Negeri Cina menemui Sekretaris
Jendral PBB, Kurt Waldheim, dan menyatakan penghormatannya pada Universal Declaration of
Human Rights, The Proclamation of Teheran, the Declaration on the Right to Development, dan
dokumen-dokumen internasional lain terkait dengan hak asasi manusia. Selain itu, Cina juga
menyatakan kesediaannya untuk memperkuat kerjasama internasional lebih lanjut mengenai HAM.
Kesediaan Cina itu kemudian diwujudkan melalui keikutsertaannya pada World Conference on
Human Rights yang diselenggarakan di Vienna pada tahun 1993. Cina juga berhasil
menyelenggarakan UN Fourth World Conference on Women dan ’95 Nongovernmental
Organizations Forum di Beijing pada September 1995, yang lantas berkontribusi pada
perkembangan hak asasi wanita di dunia 22 . Selain semua konferensi internasional yang telah
disebutkan di atas, masih banyak konferensi internasional bertajuk hak asasi manusia yang telah
dihadiri dan diselenggarakan Cina. Cina juga telah meratifikasi berbagai perjanjian sehubungan
dengan pelaksanaan hak asasi manusia, yang berarti pemerintah Cina kini sudah mulai terbuka pada
konsep HAM, dan sudah mulai menghargai konsep HAM secara universal.

21
The New York Times. Cina Is Host to Human Rights Conference. http://www.nytimes.com/1998/10/21/
world/Cina-is-host-to-human-rights-conference.html?partner=rssnyt&emc=rss, diakses pada 19 April 2009, pukul
18.14.
22
“ “. The Progress of Human Rights in Cina. http://english.peopledaily.com.cn/whitepaper/12(10).html, diakses
pada 19 April 2009, pukul 18.24.

Page | 12
2.5. Analisis
Kasus penerapan HAM di Cina merupakan kasus yang cocok untuk menganalisa masalah
penerapan teori norm cycle seperti yang telah disebutkan oleh Finnemore dan Sikkink. Di sini
penulis melihat adanya unsur para pemikir Cina Liberal sebagai unsur norm entrepreneur yang
lantas meyakinkan dan mempengaruhi pemerintah dan masyarakat Cina agar menerima norma dan
konsep HAM secara universal untuk diterapkan di Cina. Cina, seperti yang telah disebutkan pada
subbab pembahasan sebelumnya, awalnya tidak mengenal adanya konsep hak asasi manusia, karena
ketertutupannya dari dunia internasional sebelumnya. Sehingga pengetahuan satu-satunya rakyat
Cina ketika itu hanya berasal dari pemerintah Cina, yang menerapkan ajaran Konfusianisme pada
seluruh rakyatnya. Ajaran Konfusianisme tidak mengenal adanya konsep hak, yang ada hanya
konsep kewajiban berdasarkan status sosial seseorang. Karena tidak dikenalnya konsep HAM di
Cina itulah, rakyat Cina hanya dapat patuh pada pemerintah, bahkan ketika hak mereka
diinjak-injak. Di sinilah peran para pemikir Cina Liberal sebagai norm entrepreneur sangat
penting. Sejak 1980-an, para pemikir Cina Liberal ini mulai aktif dalam menyuarakan pendapatnya
mengenai konsep dan nilai-nilai HAM secara universal, dengan tujuan utama mengenalkan konsep
dan nilai-nilai HAM secara universal itu pada masyarakat, agar masyarakat paham dan mengerti
akan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan, dan pada pemerintah Cina kala itu, dengan tujuan
agar pemerintah dapat mulai menghargai dan lantas mengakomodasi hak-hak rakyatnya, bukan
hanya menuntut rakyat Cina untuk melaksanakan kewajibannya.
Pengkonstruksian nilai-nilai dan konsep HAM secara universal dilakukan para pemikir
Cina Liberal dengan berbagai macam cara, dari menyuarakan pendapatnya lewat essay dan tulisan,
lewat berbagai media seperti jurnal dan koran-koran Cina, sampai pada teguran kepada pemerintah
agar lebih memperhatikan masalah HAM di Cina. Sekilas terlihat kesemua penulis Cina Liberal ini
seperti menjadi oposisi pemerintah, namun kenyataannya tidak demikian. Sebaliknya, para penulis
Cina Liberal ini justru merupakan warga negara yang patuh hukum, yang peduli pada kemajuan
Cina secara keseluruhan. Didorong oleh keinginan untuk memajukan Cina itulah, para pemikir Cina
Liberal kemudian menyuarakan pendapatnya mengenai konsep dan nilai-nilai HAM secara
Page | 13
universal agar dapat diterapkan di Cina.
Alur konstruksi nilai-nilai dan konsep HAM secara universal yang dilakukan oleh para
pemikir Cina Liberal dimulai dari membangun kesadaran pada rakyat Cina mengenai konsep dan
nilai-nilai HAM yang selama ini tidak mereka ketahui. Berbagai tulisan di media dan jurnal pun
dikeluarkan, dengan tujuan agar rakyat Cina dapat mengetahui hak-hak asasi yang sebenarnya
mereka miliki. Setelah berhasil melakukan konstruksi nilai dan konsep HAM universal kepada
masyarakat, para pemikir Cina Liberal ini kemudian mengarahkan sasarannya pada pemerintah,
dengan mengkritik berbagai kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan nilai-nilai HAM
dalam media cetak, sambil terus menyerukan agar pemerintah Cina mulai memperhatikan
pelaksanaan HAM demi kemajuan Bangsa Cina sendiri.
Usaha para pemikir Cina Liberal itu ternyata berhasil. Pada tahun 1990-an, Pemerintah
Cina sudah mulai memperhatikan masalah HAM. Hal ini ditunjukkan dengan mulai aktifnya
pemerintah Cina dalam segala aktifitas dan konferensi bertemakan hak asasi manusia. Perubahan
nilai dan konsep HAM yang dianut pemerintah Cina ini lantas mengubah sikap dan kebijakannya
pada berbagai perjanjian dan konferensi internasional bertemakan hak asasi manusia. Jika
sebelumnya pemerintah Cina cenderung tidak peduli pada perkembangan HAM di dunia, sejak
1990-an pemerintah Cina sudah mulai terlibat aktif dalam berbagai konferensi dan perjanjian
internasional mengenai HAM. Cina yang tadinya mendapat sorotan tajam dan kecaman dari dunia
internasional karena adanya pelanggaran yang berat terhadap hak asasi manusianya pun kini mulai
dilihat sebagai negara yang lebih bermoral, karena keaktifannya dalam mempromosikan hak asasi
manusia. Di sini dapat dilihat tahapan kemunculan norma (norm emergence) sudah berhasil dicapai
di Cina, dengan diakuinya konsep-konsep dan nilai-nilai HAM secara universal oleh pemerintah
Cina, yang menitikberatkan peran para pemikir Cina Liberal sebagai norm entrepreneur.
Penjelasan di atas sebenarnya juga sekaligus menjelaskan terjadinya tahapan norm cascade,
yang dimengerti sebagai sosialisasi norma yang dilakukan oleh norm leader pada negara lain, yaitu
pada usaha Cina untuk terlibat dalam berbagai konferensi dan perjanjian internasional tentang
HAM. Cina juga beberapa kali menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional tentang HAM.
Keaktifan Cina di dunia internasional ini membuktikan usaha Cina untuk mensosialisasikan
Page | 14
nilai-nilai HAM di dunia internasional, terutama pada negara yang belum mengakuinya. Sehingga
dapat disimpulkan, tahapan norm cascade pada kasus HAM di Cina ini terbukti.
Sementara tahapan ketiga, norm internalization, merupakan tahapan yang sulit dibuktikan
dalam kasus HAM di Cina ini. Hal ini dikarenakan, jauh sebelum Cina menerima konsep dan
nilai-nilai HAM secara universal, mayoritas negara sudah menerimanya sebagai hal yang benar dan
karenanya tidak perlu diperdebatkan. Terbukti dengan telah diakuinya Universal Declaration of
Human Rights oleh mayoritas negara-negara anggota PBB, yang berarti norma dan nilai-nilai HAM
sebenarnya sudah diakui dan diterima oleh dunia internasional. Sehingga tahapan ketiga dari siklus
norma yang disebutkan Finnemore dan Sikkink memang sudah terjadi sebelum tahapan norm
emergence pada kasus HAM di Cina. Cina sendiri merupakan negara yang sebenarnya sedikit
terlambat dalam menerima dan mengakui konsep dan nilai-nilai HAM secara universal. Akan tetapi,
walaupun terlambat mengakuinya, diakuinya nilai-nilai dan konsep HAM secara universal di Cina
merupakan sebuah pencapaian yang baik bagi perkembangan hubungan internasional ke depan.
Kasus perubahan konsep HAM di masyarakat Cina ini merupakan contoh yang baik dari
keberhasilan konstruksi nilai yang ditanamkan oleh para pemikir Cina liberal dengan berbagai
komunikasi sosial melalui berbagai debat dan diskursus yang terjadi di Cina. Hal ini membuktikan
kebenaran teori konstruktivisme yang diungkapkan oleh Adler, yaitu bahwa adanya komunikasi
sosial dalam berbagai diskusi, debat dan diskursus dapat melahirkan suatu shared understandings
dalam masyarakat. Dalam kasus HAM di Cina, lahirnya shared understandings—berupa konsep
HAM secara universal pada masyarakat Cina—tentu tidak terlepas dari peran para pemikir Cina
Liberal, yang berusaha terus-menerus melalui berbagai upaya komunikasi sosial untuk
mengkonstruk pemahaman mengenai HAM di Cina. Melalui pergerakan yang lebih bersifat
bottom-up, yaitu pergerakan yang dimulai dari masyarakat/grass-root level, para pemikir Cina
Liberal ini berhasil menanamkan konsep HAM pada masyarakat Cina, untuk kemudian dilanjutkan
dengan upaya mendesak pemerintah agar mengeluarkan sejumlah kebijakan nasional dan
internasional terkait penghargaan akan HAM di Cina.

Page | 15
BAB III
KESIMPULAN

Cina merupakan negara yang terkenal dengan berbagai kasus pelanggaran terhadap hak
asasi manusianya. Berbagai pelanggaran itu baru mulai terkuak di dunia internasional pada tahun
1970-an, ketika Cina mulai mengadopsi Open Door Policy. Saat itulah, berbagai pelanggaran
terhadap HAM di Cina mulai diketahui, mulai dari One Child Policy yang sangat kontroversial,
sampai kepada terkuaknya Peristiwa Tiananmen Square yang menewaskan ratusan penduduk Cina.
Semua pelanggaran HAM itu tampak dilegalkan oleh pemerintah Cina, dan rakyat Cina pun seperti
menerima saja semua pelanggaran HAM tersebut. Hal tersebut dikarenakan belum dikenalnya
konsep dan nilai-nilai HAM secara universal di Cina, sehingga rakyat Cina tidak mengetahui bahwa
mereka mempunyai hak asasi yang dapat mereka perjuangkan. Di sinilah peran para pemikir Cina
Liberal, yang sejak tahun 1980-an dengan aktif terus menyuarakan konsep-konsep dan nilai-nilai
HAM secara universal lewat berbagai tulisan dalam berbagai media cetak seperti jurnal, essay, dan
koran. Berbagai pemikiran para pemikir inilah yang lantas membuat masyarakat Cina menjadi
paham akan konsep dan nilai-nilai HAM secara universal yang sebenarnya mereka miliki. Pemikir
Cina ini juga berhasil mempengaruhi pemerintah Cina untuk lebih memperhatikan masalah HAM di
Cina lewat berbagai teguran dan tuntutan yang disampaikannya melalui berbagai media.
Diterimanya nilai dan konsep HAM secara universal oleh pemerintah Cina lantas juga
berdampak pada kebijakan luar negeri Cina, terutama yang berkaitan dengan HAM. Sebelumnya,
Cina seperti tidak peduli pada berbagai konferensi dan perjanjian tentang HAM, namun hal tersebut
berubah sejak tahun 1990-an, di mana Cina secara aktif telah mengikuti berbagai konferensi
internasional tentang HAM, juga ikut serta dalam berbagai perjanjian mengenai HAM. Cina juga
terlibat dalam berbagai organisasi internasional yang berhubungan dengan HAM, termasuk dengan
berbagai usaha PBB untuk memajukan HAM di dunia. Semua usaha tersebut membuktikan, Cina
kini telah memahami dan menerima konsep dan nilai-nilai HAM secara universal, dan telah
mewujudkannya dalam berbagai kebijakan luar negerinya.

Page | 16
DAFTAR PUSTAKA

BUKU :
Adler, Emanuel. 2002. “Constructivism and International Relations”, dalam Walter Carlsnaes, et.all.
(ed.), Handbook of International Relations. London: Sage Publications.
Barnett, Michael. 2001. “Social Constructivism”, dalam Baylis dan Smith (ed.), Globalization of
World Politics. New York: Oxford University Press.
Burchill, Scott, et.al. 2001. Theories of International Relations. New York: Palgrave.
Chang, Hao. 1971. Liang Chi-Chao and the Intellectual Transition in Cina: 1890-1907. Cambridge:
Harvard University Press.
Chen, Albert. 1993. “Developing Theories of Rights and Human Rights in Cina”, dalam Raymond
Wacks (ed.), Hong Kong and 1997: Essays in Legal Theory. Hong Kong: Hong Kong
University Press.
Depei, Han. 1995. The Theory and Practise of Human Rights. Wuhan: Wuhan University
Publishing House.
Fearon, James dan Alexander Wendt. 2002. “Rationalism v. Constructivism: A Skeptical View”,
dalam Walter Carlsnaes, et.all (ed.), Handbook of International Relations. London: Sage
Publications.
Koo, Y. C., et.all. 1974. Chinese Philosophy Vol. I, Confucianism and Other Schools. Taiwan: China
Academy.
Locke, John. 1960. Two Treaties of Government. Cambridge: Cambridge University Press.
Von Senger, Harro. 1993. “Chinese Culture and Human Rights”, dalam W. Schmale (ed.), Human
Rights and Cultural Diversity. Goldbach: Keip Publishing.
Weatherley, Robert. 1999. The Discourse of Human Right in Cina, Historical and Ideological
Perspective. London: Macmillan Press.

JURNAL :
Buyun, Li. “On The Three Types of Human Rights”, dalam Fazue Yangjiu (Studies in Law), edisi
tahun 1991.
Page | 17
Chunyan, Meng. “Insist on the Marxist View of Human Rights, Oppose on the Bourgeois View of
Human Rights”, dalam Renmin Ribao (People’s Daily), edisi 27 September 1990.
Jiafu, Wang, et.all. “On the Reform of the Legal System”, dalam Faxue Yanjiu (Studies in Law),
edisi tahun 1989.
Wenxian, Zhang. “On the Subject of Human Rights and the Human Rights of the Subject”, dalam
Zhongguo Faxue edisi Mei 1991, hal. 26.
Wenxiang, Gong. “The Legacy of Confucian Culture in Maoist Cina‟, Social Science Journal, edisi
Juli 1993.

Rujukan dari internet :

The New York Times. Cina Is Host to Human Rights Conference.


http://www.nytimes.com/1998/10/21/world/Cina-is-host-to-human-rights-conference.
html?partner=rssnyt&emc=rss, diakses pada 19 April 2009, pukul 18.14.
“ “. The Progress of Human Rights in Cina. http://english.peopledaily.com.cn/
whitepaper/12(10).html, diakses pada 19 April 2009, pukul 18.24.

Page | 18