Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AKHIR

EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN INTERNASIONAL

“Heart of Borneo”
Pembangunan Hutan Kalimantan yang Berkelanjutan oleh
Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam

Disusun oleh:
Erika
0706291243
Jurusan Hubungan Internasional

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2009

Page | 1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi semakin pesat, telah terjadi
penurunan kualitas lingkungan bumi. Penurunan kualitas lingkungan bumi yang terjadi di berbagai
tempat ini tengah menjadi isu yang ramai dibicarakan oleh para ahli lingkungan, terutama terkait
ketersedian dan keberlanjutan sumber daya tersebut bagi generasi di masa mendatang. Masalah
ketersediaan dan keberlanjutan sumber daya bagi generasi mendatang juga mengusik pikiran
pemerintah sebagai entitas yang bertugas melindungi warga negaranya. Dari sekian banyak masalah
penurunan kualitas lingkungan bumi yang berdampak pada menurunnya ketersediaan sumber daya
bagi generasi mendatang, kerusakan hutan termasuk isu yang mendapat perhatian dari banyak pakar.
Hal ini disebabkan karena hutan memiliki manfaat yang banyak bagi manusia. Hutan dapat
memberikan manfaat langsung pada pertumbuhan ekonomi. Sumber daya hutan, misalnya, dapat
dimanfaatkan untuk berbagai sumber penghasilan dan kebutuhan pangan. Dari sini dapat dilihat
bahwa sumber daya hutan berkontribusi penting bagi kesejahteraan manusia.
Pentingnya kontribusi hutan bagi kesejahteraan manusia tidak lantas menjadikan
pengelolaan hutan dilakukan secara bertanggung jawab; malah sebaliknya, sumber daya hutan
seringkali dieksploitasi demi kepentingan ekonomi. Tidak sedikit hutan yang telah mengalami
deforestasi,1 dan kini memiliki kondisi yang sangat memprihatinkan. Hutan Kalimantan termasuk
salah satu dari sekian banyak hutan dunia yang telah mengalami deforestasi. Terkait dengan
banyaknya deforestasi yang terjadi, WWF sebagai salah satu NGO lingkungan pun kemudian
mengajak pemerintah dari tiga negara yang memiliki wilayah di hutan Kalimantan yaitu pemerintah
Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk bergabung dalam suatu proyek bernama “Heart
of Borneo” yang bertujuan untuk memelihara dan melindungi hutan Kalimantan. Adapun proyek
“Heart of Borneo” ini merupakan proyek pertama yang menggabungkan koordinasi lintas batas
negara, sehingga proyek ini kemudian dilihat sebagai proyek yang sangat berpotensi mewujudkan
hutan Kalimantan yang lestari.

1
Deforestasi sendiri diartikan sebagai perubahan fungsi hutan yang disebabkan oleh konversi secara permanen, dari
hutan menjadi lahan pertanian atau hutan produksi, dengan cara penebangan kayu.
Page | 2
1.2. Pertanyaan Permasalahan
Makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan berikut: Mengapa Indonesia, Malaysia,
dan Brunei Darussalam bersedia bekerja sama dengan WWF dalam Proyek “Heart of Borneo” di
Hutan Kalimantan?

1.3. Kerangka Konsep


Untuk menjawab pertanyaan mengenai alasan keterlibatan Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam dalam proyek “Heart of Borneo” di hutan Kalimantan, makalah ini akan menggunakan
kerangka konsep mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan
berkelanjutan sendiri merupakan terminologi yang pertama lahir pada tahun 1980, ketika
International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources menyampaikan
mengenai World Conservation Strategy yang bertujuan untuk mencapai terciptanya sebuah
pembangunan berkelanjutan melalui usaha-usaha konservasi sumber daya yang hidup.2 Akan tetapi,
World Conservation Strategy membatasi pengertian pembangunan berkelanjutan pada usaha-usaha
menciptakan ekologis yang berkelanjutan. Gambaran lebih luas mengenai pembangunan
berkelanjutan kemudian digunakan oleh United Nations Environment Program (UNEP) dalam
Brundtland Report, yang mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang
memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengkompromisasikan kemampuan generasi masa depan
untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”. 3 Dalam report ini, pembangunan berkelanjutan
diartikan tidak lain sebagai penggabungan antara proteksi lingkungan dan pembangunan ekonomi.
Kualitas lingkungan dan pembangunan ekonomi, karenanya, dilihat sebagai satu kesatuan yang
saling mempengaruhi dan saling memperkuat satu sama lain. The Brundtland Report juga
mengaitkan pencapaian pembangunan berkelanjutan dengan beberapa perubahan politik dan sosial,
seperti misalnya eliminasi eksploitasi dan kemiskinan, distribusi sumber daya global yang adil,
berakhirnya tren kenaikan anggaran militer negara-negara dunia, metode baru untuk memastikan
kontrol populasi yang tepat, perubahan gaya hidup, penggunaan teknologi yang sesuai, dan
perubahan institusional, termasuk di dalamnya, demokratisasi yang dicapai melalui partisipasi

2
Susan Baker, et.all. “Introduction”, in Susan Baker, et.all. (eds.), The Politics of Sustainable Development; Theory,
Policy, and Practice within the European Union. (London: Routledge, 1997), hal. 2.
3
Lorraine Elliot, The Global Politics of the Environment, (New York: New York University Press, 2004), hal. 158
Page | 3
efektif warna negara pada proses pembuatan kebijakan.4

4
Susan Baker, loc.cit., hal. 3.
Page | 4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Deskripsi “Heart of Borneo”


Heart of Borneo (HoB) merupakan suatu program yang diinisiasikan WWF yang bertujuan
untuk mempersatukan para pihak dari berbagai sektor yang beroperasi di kawasan HoB dengan satu
tujuan utama, yaitu mengupayakan pembangunan berkelanjutan pada wilayah Hutan Kalimantan
yang bersesuaian dengan konservasi alam. Adapun, dalam melaksanakan proyek ini, WWF
kemudian mengajak pemerintah dari tiga negara yang masing-masing memiliki hutan di hutan
Kalimantan, yaitu pemerintah Indonesia, pemerintah Kalimantan, dan pemerintah Brunei
Darussalam. Tidak hanya mengajak pemerintah ketiga negara tersebut, proyek HoB ini sebenarnya
juga bekerja sama dengan masyarakat lokal dan kalangan pengusaha, yang akan dijelaskan pada
subbab berikutnya. Salah satu prinsip fundamental dari program HoB ini adalah bahwa tiga negara
(Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) yang bekerja bersama akan memperoleh hasil yang
lebih banyak untuk konservasi bagi kawasan hutan Kalimantan dibanding ketika masing-masing
dari tiga negara ini bekerja secara sendiri-sendiri; sehingga dalam proyek ini, kolaborasi lintas batas
menjadi hal yang krusial. Lebih lanjut lagi, dalam proyek HoB, penciptaan kawasan lindung yang
dikelola dengan baik merupakan inti program HoB.5 Dengan terbentuknya jaringan antara kawasan
lindung yang berfungsi sebagaimana mestinya dan kawasan budidaya yang dikelola secara
bertanggung jawab, HoB diharapkan akan mampu menjawab kebutuhan ekologi dan ekonomi
secara berimbang.6

2.1.1. Kronologis Pembentukan “Heart of Borneo”


Kronologis pembentukan “Heart of Borneo” (HoB) pertama kali dimulai pada April 2005
di sebuah workshop yang digelar oleh pemerintah Brunei Darussalam dan difasilitasi oleh WWF.
Pada event tersebut, hadir lebih dari 150 perwakilan dari organisasi pemerintah dan non-pemerintah
dari Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia di mana dalam event tersebut, dijelaskan
mengenai keuntungan pemikiran akan konservasi skala-besar, mengenai isu kerusakan hutan di

5
WWF, Solusi Potensial untuk Heart of Borneo. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/solutionhob/,
diakses pada 21 Desember 2009, pukul 04.12.
6
Ibid.
Page | 5
Kalimantan, dan adanya urgensi untuk mengadakan kerjasama lintas batas (transboundary
partnership) yang efektif. Acara ini juga dihadiri oleh representatif dari UNESCO, ASEAN, IUCN,
ITTO, Wildlife Conservation Society, The Nature Conservancy, dan TRAFFIC. Dalam acara ini,
dihasilkan konsensus untuk membentuk Vision and Action Plan untuk mewujudkan deklarasi HoB
pada 2006.
Pertemuan di Brunei Darussalam itu kemudian berlanjut di Indonesia pada Desember 2005.
Ketika itu, Departemen Kehutanan Indonesia mengadakan National Workshop on the HoB yang
dihadiri lebih dari 100 peserta yang berasal dari 8 Departemen pemerintah dan 10 distrik di
Kalimantan. Hasil dari Seminar ini adalah sebuah draft deklarasi HoB, sebuah perjanjian untuk
mewujudkan HoB dalam implikasi nyata berupa kerjasama antara pemerintah Indonesia,
pemerintah Malaysia, dan pemerintah Brunei Darussalam di masa depan. Di Malaysia juga terjadi
pertemuan untuk membahas kelanjutan HoB, yaitu pada pertemuan antara organisasi pemerintah
dan para pengambil kebijakan baik pada tingkat daerah maupun pada tingkat pusat, yang diadakan
di Sabah dan Sarawak. Respon dari pertemuan tersebut cukup positif. Pada Maret 2005, pemerintah
Malaysia menyatakan kesiapannya mendukung proyek HoB. Menteri Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Malaysia pun mengadakan berbagai persiapan untuk menyiapkan pertemuan trilateral
HoB yang akan diadakan pada Juli 2006 di Indonesia. respon positif juga datang dari pemerintah
Brunei Darussalam, yang mengadakan seminar National HoB Planning Workshop pada Mei 2006
dengan bekerja sama dengan WWF, untuk menunjukkan dukungan pada proyek HoB tersebut. Hasil
dari seminar ini adalah, area HoB mengalami peningkatan dari 11% wilayah hutan Brunei menjadi
59%, termasuk di dalamnya wilayah hutan produksi dan hutan lindung. 7 Keputusan untuk terlibat
dalam HoB kemudian juga disampaikan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dalam
ASEAN Summit, sebagai bukti keseriusan pemerintah ketiga negara untuk mengadopsi proyek
WWF ini.

2.1.2. Perkembangan Proyek “Heart of Borneo”


Selepas bergabungnya pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dalam
proyek HoB, berbagai perkembangan telah terjadi, antara lain pada tahun 2007 ketika lahirnya
komitmen dari pemerintah ketiga negara untuk melindungi, mengatur, dan mengembalikan 220.000

7
WWF, Transboundary Collaboration. http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/borneo_
rainforest_conservation/transboundary_collaboration/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 04.52.
Page | 6
km2 wilayah di hutan Kalimantan8 melalui penandatanganan Deklarasi HoB. Deklarasi ini juga
ditandatangani oleh berbagai organisasi regional dan internasional lainnya, seperti Association of
Southeast Asian Nations (ASEAN), Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines East Asia Growth
Area (BIMP-EAGA), Asia Pasific Economic Cooperation (APEC), dan United Nations Convention
on Biological Diversity (UNCBD). Sejak itu, berbagai pertemuan untuk membahas pelaksanaan
HoB telah digelar. Pada 9 Oktober 2009 lalu, diadakan pertemuan tingkat negara yang ketiga (3rd
HoB Trilateral Meeting) yang berlangsung di kota Kinabalu, Malaysia pada tanggal 5-6 Oktober
2009. Pada pertemuan ini, masing-masing negara memberikan update perkembangan program HoB
dan membicarakan beberapa isu penting, di antaranya adalah wacana pembentukan Institutional
Arrangement and Modalities, sebuah mekanisme pendanaan berkelanjutan untuk program HoB,
pembentukan sistem informasi geografis, serta logo HoB. Pertemuan yang dihadiri oleh para
delegasi negara dari Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia ini dibuka secara resmi oleh Yang
Berhormat Tan Sri Datuk Seri Panglima Joseph Kurup, Deputi Menteri Sumberdaya dan
Lingkungan Malaysia.
Para perwakilan negara kemudian menyampaikan perkembangan program HoB di negara
masing-masing pada hari pertama pertemuan tersebut. Brunei telah membentuk Dewan Nasional
HoB (Brunei Darussalam HoB National Council) dan HoB Center. Indonesia telah memiliki draft
final Rencana Aksi Strategis Nasional sebagai landasan implementasi program HoB di Indonesia
dan bahwa kawasan HoB oleh pemerintah telah diadopsi sebagai kawasan strategis nasional
(KSN).9 Sementara dari sisi Malaysia, perkembangan yang telah terjadi adalah bahwa program
HoB di kawasan Sabah dan Sarawak telah dimasukkan dalam Ninth Malaysia Plan.
Bagian esensial dari pertemuan ini adalah pembahasan mengenai Institutional
Arrangements and Modalities yang merupakan pilar penting dalam implementasi program HoB.
Draft dokumen yang menjadi bahan diskusi bersama ketiga negara khusus untuk isu ini
dipersiapkan oleh Malaysia. Dalam pertemuan kemudian disepakati perlunya pendalaman lebih
lanjut terhadap masalah Institutional Arrangements dan Modalities. Setelah pertemuan trilateral di
Kinabalu ini, pemerintah ketiga negara sepakat untuk segera membentuk Kelompok Kecil yang

8
WWF, Borneo. http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_worldforests/forest_work/borneo_
forest/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 06.13.
9
Nancy Ariaini, Denyutnya Heart of Borneo pada Pertemuan Trilateral Ketiga. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/
upaya_kami/hob/?11220/Denyutnya-Heart-of-Borneo-pada-Pertemuan-Trilateral-Ketiga, diakses pada 21 Desember
2009, pukul 03.13.
Page | 7
bertugas membahas dan menyelesaikan isu-isu tersebut. Brunei Darussalam bersedia memfasilitasi
pertemuan Kelompok Kecil ini dan sekaligus menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan pertemuan
trilateral keempat yang secara tentatif akan diadakan pada bulan April 2010.10 Pada pertemuan ini,
Indonesia juga mengusulkan pembahasan isu pendanaan berkelanjutan untuk program HoB,
termasuk di dalamnya mengenai pertimbangan pentingnya mempromosikan HoB sebagai kawasan
prioritas REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation–Mengurangi
Emisi Karbon akibat Deforestasi dan Degradasi Hutan). Ketiga negara sepakati bahwa hal ini harus
dibicarakan lebih lanjut dalam pertemuan trilateral mendatang dengan mempertimbangkan
kepentingan masing-masing negara. Dalam pertemuan ini, pemerintah ketiga negara juga
membicarakan peluang untuk mendemonstrasikan inisiatif ini dalam sebuah “side-event” pada
Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen tahun ini.11

2.1.3. Program-Program “Heart of Borneo”


Program-program HoB yang hingga kini paling mendapat perhatian dan paling gencar
dipromosikan adalah mengenai pengadaan Pasar Baru untuk Jasa Lingkungan (Payment for
Environmental Services/PES). Adapun, PES merupakan langkah untuk memberikan insentif bagi
masyarakat lokal untuk melindungi, sekaligus mendapat keuntungan dari upaya perlindungan yang
telah mereka lakukan pada sumber daya di wilayah yang termasuk dalam proyek HoB. Adapun
program PES ini berangkat dari pemikiran bahwa mereka yang melindungi lingkungan seharusnya
mendapat insentif dari upaya perlindungan tersebut. Mekanisme yang diterapkan kemudian adalah
memberikan rewards dari pihak yang diuntungkan dari kelestarian lingkungan terhadap pihak yang
mengusahakan kelestarian lingkungan tersebut.12 Program ini sendiri dilaksanakan melalui kerja
sama dengan CARE, sebuah NGO yang bekerja untuk membela kaum miskin dan marjinal, serta
dengan International Institute for the Environment and Development (IIED). Sejauh ini, program
FES ini sedang diupayakan untuk dilaksanakan di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan dengan
menerapkan sistem reward payment dari pihak yang memanfaatkan kelestarian sungai Kapuas Hulu
(seperti misalnya perusahaan air, dan industri-industri lainnya) pada penduduk sekitar Kapuas Hulu

10
Nancy Ariaini, loc.cit.
11
Heart of Borneo Organizing Committee, Denyut Jantung Borneo Masih Kuat pada Pertemuan Tiga Negara.
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/?11221/Denyut-Jantung-Borneo-masih--kuat-pada-pertemuan-t
iga-negara, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 14.31.
12
WWF, New Market for Nature’s Services. http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/
borneo_rainforest_conservation/economic_tools/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 10.29.
Page | 8
yang menjaga kelestarian sungai.
Program kedua yang juga sedang sangat dipromosikan dan tengah berjalan dalam HoB
adalah program pengadaan Kabupaten Konservasi. Di Kalimantan sendiri, terdapat dua kabupaten
konservasi yang termasuk dalam kawasan HoB yaitu Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat
yang dideklarasikan pada tanggal 1 Oktober 2003, serta Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur
yang dideklarasikan pada tanggal 5 Juli 2005. Kabupaten Konservasi merupakan unit administrasi
yang berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan: perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman hayati, pemanfaatan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat; kabupaten konservasi merupakan perangkat konservasi inovatif yang menempatkan
aspek pembangunan berkelanjutan di ranah pemerintah daerah.13 Program Kabupaten Konservasi
ini dipandang sebagai sebuah upaya pembangunan logis untuk menghindari terkorbankannya
habitat alami akibat pembangunan ekonomi yang tidak terencana. Adapun, perencanaan kabupaten
konservasi dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Namun demikian sebagai pengelola, institusi
akademis/penelitian dan LSM juga ikut terlibat dan membantu pemerintah daerah dalam upaya
membangun kabupaten konservasi. Pada tingkat yang lebih tinggi pemerintah daerah pun
membutuhkan kerja sama dengan pemerintah pusat untuk mempersiapkan perencanaan
pembangunan jangka panjang yang selaras dengan rencana pembangunan nasional.14

2.2. Kerusakan Hutan di Kalimantan: Urgensi Dilakukannya “Heart of Borneo”


Pembahasan mengenai HoB dan program-program HoB itu sendiri memunculkan
pertanyaan, mengapa pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam setuju untuk ikut
bekerja sama dengan WWF dalam proyek HoB ini? Ternyata alasan keterlibatan pemerintah ketiga
negara tersebut tidak lain tidak bukan adalah karena hutan Kalimantan kini telah mengalami
kerusakan hutan yang sangat parah. Jika tadinya, Kalimantan memiliki area hutan seluas 51.400.000
hektar pada tahun 1950 15 , dalam perkembangannya, luas wilayah hutan di Kalimantan ini
mengalami penurunan disaat negara tersebut memasuki era Orde Baru yaitu pada tahun 1970-an.16
Pada masa ini, Presiden Soeharto, Presiden Indonesia kala itu, mempunyai kebijakan yang terfokus

13
WWF, Solusi Potensial untuk Heart of Borneo. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/solutionhob/,
diakses pada 21 Desember 2009, pukul 10.42.
14
Ibid.
15
Institut Studi Arus Informasi, Potret Buram Hutan Indonesia. http://www.isai.or.id/?q=node/10, diakses pada 9
Oktober 2009 pukul 16.34.
16
Ibid.
Page | 9
pada pembangunan, sebuah kebijakan yang sangat mengarah pada bidang ekonomi. Keberadaan
kayu yang begitu banyak di negara tersebut menjadikannya satu hal yang sangat menggiurkan. Hal
inilah yang menjadi awal di mana pembalakan hutan begitu intens terjadi. Selain itu, merebaknya
perusahaan kayu pada masa tersebut menjadi faktor pendukung lainnya.17 Menurut survei pada
tahun 1999, laju deforestrasi rata-rata dari tahun 1985–1997 mencapai 1,7 juta hektar. Selama
periode tersebut, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan mengalami deforestrasi terbesar. Secara
keseluruhan daerah-daerah ini kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya. Para ahli pun
sepakat, bila kondisinya masih begitu terus, hutan dataran rendah non rawa akan lenyap dari
Kalimantan setelah 2010.18 Bila dilihat dari data-data tersebut, kerusakan hutan di Kalimantan
merupakan kerusakan yang cukup parah. Dalam data penelitian, pada tahun 1985, dari seluruh luas
wilayah Kalimantan, lebih dari 70 persennya adalah hutan; sementara kini luas hutan di Kalimantan
tinggal 50,4 persennya.19 Suatu penurunan yang tentunya sangat memprihatinkan. Pemetaan proses
perkembangan kerusakan hutan di Kalimantan dapat dilihat dalam gambar 1 tentang realisasi dan
kerusakan hutan di Kalimantan 1900-2020.
Gambar Realisasi dan Proyeksi Kerusakan Hutan Kalimantan 1900-2020

17
Institut Studi Arus Informasi, loc.cit.
18
Ibid.
19
Lihat Hutan di Kalimantan Cuma Tersisa Separo . http://www.hulusungaitengahkab.go.id/versi3/index.php?option=
com_content&view=article&id=432:awas-luas-hutan-di-kalimantan-cuma-tersisa-separo&catid=18:pariwisata&Ite
mid=64, diakses pada 9 oktober 2009, pukul 16.31.
Page | 10
Save Our Borneo (SOB) memaparkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas
Kalimantan yang mencapai 59 juta hektar, laju kerusakan hutan (deforestasi) akan mencapai 864
ribu hektare per tahun atau 2,16 persen.20

2.3. “Heart of Borneo” sebagai Jawaban Masalah Kerusakan Hutan di Hutan Kalimantan
Kerusakan hutan yang parah yang terjadi pada hutan Kalimantan kemudian memaksa
dilakukannya suatu upaya untuk melestarikan hutan Kalimantan, sebelum hutan Kalimantan
benar-benar punah. Adapun proyek HoB dinilai sebagai proyek yang tepat untuk mengatasi masalah
kerusakan hutan di Kalimantan. Hal ini karena proyek HoB merupakan proyek lingkungan di hutan
Kalimantan pertama yang menggabungkan koordinasi lintas batas antara pemerintah Indonesia,
Malaysia, dan Brunei Darussalam; di mana proyek-proyek yang ada sebelumnya biasa hanya
melibatkan LSM dan pemerintah lokal yang dominan di Hutan Kalimantan, yaitu pemerintah
Indonesia. Adanya koordinasi lintas batas ini dipandang sebagai hal yang dapat mempermudah
upaya perlindungan hutan Kalimantan, karena selama ini upaya perlindungan selalu terbentur
masalah-masalah batas negara sehingga upaya yang ada hingga kini belum maksimal.
Sebagai proyek yang baru berjalan, tentunya banyak pihak yang meragukan proyek HoB
dapat mengatasi masalah kerusakan hutan di hutan Kalimantan. Akan tetapi berbagai perkembangan
positif yang terjadi, misalnya dari antusiasme pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam dalam setiap pertemuan trilateral HoB melahirkan harapan, hutan Kalimantan masih
dapat diselamatkan. Salah satu program HoB, pengadaan kabupaten konservasi, juga dilihat sebagai
upaya positif untuk menjamin kelestarian wilayah hutan Kalimantan, karena program tersebut
menerapkan berbagai prinsip pembangunan berkelanjutan seperti telah disebutkan pada subbab
sebelumnya. Tingginya antusiasme masyarakat lokal dalam menyukseskan program HoB ini juga
sudah barang tentu merupakan perkembangan positif bagi upaya penciptaan hutan Kalimantan yang
lestari. Sehubungan dengan berbagai perkembangan positif ini, Carter Roberts, pemimpin sekaligus
CEO dari WWF mengatakan bahwa proyek ini adalah “kesuksesan monumental bagi konservasi
dan bagi jutaan jiwa yang bergantung pada sumber daya Borneo bagi kehidupan mereka.
Pelaksanaan praktik pembangunan berkelanjutan di wilayah ini akan memastikan perlindungan

20
Ibid.
Page | 11
lingkungan bagi generasi di masa depan”.21

2.4. “Heart of Borneo” sebagai Jawaban terhadap Masalah Non-Lingkungan Seputar Hutan
Kalimantan
Selain merupakan jawaban terhadap permasalahan lingkungan di Hutan Kalimantan,
proyek HoB ternyata juga mendatangkan keuntungan pada sektor non-lingkungan, yaitu pada sektor
ekonomi dan sektor sosial.

2.4.1. “Heart of Borneo” dalam Menjawab Permasalahan Ekonomi


Selain bekerja sama dengan pemerintah negara Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam, proyek HoB ini juga dijalankan WWF dengan mengajak para pengusaha-pengusaha
kayu untuk bekerja sama. Adapun, para pengusaha kayu yang bekerja sama dengan WWF untuk
proyek HoB tergabung dalam Global Forest and Trade Network (GFTN). Kerja sama antara WWF
dengan GFTN terjadi sejak Jakarta Conference, di mana pada acara tersebut, WWF menjalin kerja
sama dengan GFTN seputar pembelian kayu bersertifikat di wilayah HoB. 22 GFTN sendiri
merupakan jaringan gabungan dari negara, perusahaan, dan berbagai organisasi yang terlibat dalam
usaha pemasaran dan pembelian produk kayu bersertifikasi. Adapun produk kayu bersertifikasi
adalah produk kayu yang didapatkan melalui proses legal, dengan memperhatikan unsur
pembangunan berkelanjutan. GFTN ini sendiri telah berkembang di lebih dari 30 negara di dunia;23,
antara lain (1) Afrika: negara-negara di Afrika Tengah dan Ghana; (2) Asia Pasifik: Australia, Cina,
Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Vietnam; (3) Eropa: Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Inggris,
Jerman, Perancis, Portugal, Rumania, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Swiss; (4) Amerika Latin dan
Karibia: Bolivia, Brasil, Peru, dan negara-negara Amerika Tengah dan Karibia (Belize, El Salvador,
Guatemala, Honduras, Kosta Rika, Nikaragua, Panama, Puerto Riko, dan Republik Dominika); dan
(5) Amerika Utara. Melalui kerja sama GFTN dengan HoB ini, para pengusaha dan organisasi yang
tergabung dalam GFTN ini memperoleh keuntungan ekonomi berupa penjualan produk kayu
bersertifikat, sekaligus tetap bertanggung jawab atas produk kayu tersebut karena produk kayu

21
Tom Lalley, Third of Borneo to Be Conserved, New Declaration Passed. http://www.worldwildlife.org/
who/media/press/2007/WWFPresitem917.html, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 15.32.
22
WWF, Pencapaian Utama GFTN Indonesia: Jakarta Conference. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/
upaya_kami/kehutanan_spesies/whatwedo/gftnindonesia/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 16.31.
23
WWF, GFTN Worldwide. http://gftn.panda.org/gftn_worldwide/, diakses pada 11 Oktober 2009, pukul 18.40.
Page | 12
bersertifikat merupakan produk kayu yang diproduksi dengan memperhatikan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan.

2.4.2. “Heart of Borneo” dalam Menjawab Permasalahan Sosial dan Budaya


Selain mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi para pengusaha kayu melalui kerja
samanya dengan GFTN, proyek HoB ini juga ternyata mampu memberikan berbagai dampak sosial
dan budaya yang positif bagi masyarakat lokal di Kalimantan. Seperti misalnya melalui program
Payment for Environmental Services (PES) yang memberikan insentif berupa reward payment bagi
masyarakat lokal yang terlibat aktif dalam memelihara kesejahteraan lingkungan yang tercakup
dalam wilayah HoB. Walaupun program ini belum sampai pada tahap pelaksanaan, akan tetapi
program ini menunjukkan perkembangan yang positif. Bila program ini berhasil dilaksanakan,
tentulah akan memberikan dampak sosial yang sangat baik bagi masyarakat lokal wilayah HoB.
Dampak sosial dari proyek HoB juga dilaksanakan melalui pembukaan lapangan pekerjaan
untuk mengontrol berbagai upaya penebangan yang dilakukan dengan memperhatikan
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Untuk kepentingan pengawasan, tentunya proyek HoB
ini membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Pengawasan ini dilakukan dengan
memberdayakan masyarakat lokal, yang sekaligus bertujuan untuk memberikan pemasukan lebih
bagi masyarakat lokal agar mereka tidak membabat habis hutan Kalimantan hanya karena mereka
tidak memiliki penghasilan.24 Proyek HoB ini tidak hanya mendatangkan dampak lingkungan yang
positif, tapi juga dampak sosial yang positif.
Sementara dari sisi budaya, wilayah HoB sebagian besar merupakan wilayah yang masih
asri dan bebas dari peradaban kota. Suku Dayak merupakan suku yang banyak menghuni wilayah
hutan Kalimantan, seperti misalnya di wilayah Gunung Lumut yang termasuk wilayah sakral bagi
suku Dayak yang memeluk agama Hindu Kaharingan. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah
lokal melalui HoB telah mengajukan aplikasi pada UNESCO untuk menjadikan daerah sekitar
Gunung Lumut tersebut sebagai World Heritage Site.25 Wilayah yang juga diajukan oleh HoB pada
UNESCO adalah wilayah Gunung Muller yang secara ekologis memenuhi kriteria untuk dijadikan
World Heritage Site, dan untuk dikelola sebagai Taman Nasional atau bentuk pengaturan lainnya

24
WWF, The Heart of Borneo. http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_world/
forests/forest_work/borneo_forest/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 13.46.
25
WWF, Protected Areas. http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/borneo_rainforest_
conservation/protected_areas/, diakses pada 21 Desember 2009, pukul 17.46.
Page | 13
yang ditujukan bukan untuk produksi.26

2.5. Analisa “Heart of Borneo” sebagai Upaya Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam
untuk Mewujudkan Pembangunan Hutan Kalimantan yang Berkelanjutan
Bergabungnya pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dalam proyek
“Heart of Borneo” yang diusung oleh WWF merupakan perkembangan positif dalam proyek HoB
yang membawa proyek ini ke arah yang berbeda. Keterlibatan pemerintah dalam upaya
perlindungan hutan Kalimantan merupakan hal yang positif dan sangat membantu kelancaran
program HoB karena bagaimanapun pemerintah sebagai entitas legal memiliki ijin untuk mengelola
wilayah hutan Kalimantan tersebut. Adapun keterlibatan pemerintah Indonesia, Malaysia, dan
Brunei Darussalam dalam proyek HoB ini didasarkan pada tiga alasan, yaitu alasan lingkungan,
alasan ekonomi, dan alasan sosial budaya. Alasan pertama, alasan lingkungan, merupakan alasan
yang mendasari seluruh proyek HoB. Berangkat dari parahnya tingkat kerusakan hutan di hutan
Kalimantan, WWF serta Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam terdorong untuk melakukan
berbagai upaya untuk menyelamatkan hutan Kalimantan sebab bila tidak diselamatkan secepatnya,
dikhawatirkan wilayah hutan Kalimantan lama-kelamaan akan hilang. Alasan kedua, alasan
ekonomi. Walaupun pemerintah ketiga negara menyadari bahwa kerusakan hutan Kalimantan sudah
sedemikian parahnya, akan tetapi tidak dapat dipungkiri, hutan Kalimantan merupakan salah satu
sumber penghasilan bagi perekonomian ketiga negara. Hutan Kalimantan merupakan sumber dari
berbagai jenis kayu, rotan, dan berbagai jenis sumber daya lain yang tentunya dapat menjadi
komoditas strategis bagi Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Karena itu, pemerintah
ketiga negara tetap mengupayakan agar berbagai sumber daya itu dapat dikelola dengan cara yang
tetap sesuai dengan prinsip kelestarian lingkungan. Alasan ketiga, alasan sosial dan budaya.
Terlepas dari masalah kerusakan lingkungan dan kebutuhan ekonomi, hutan Kalimantan merupakan
tempat tinggal berbagai suku yang hidup terpisah dari peradaban. Keberadaan berbagai suku ini
membutuhkan perlindungan dari pemerintah, agar jangan sampai penebangan kayu yang terjadi
malah merusak dan mencemari lingkungan tempat mereka tinggal. Karena itu dibutuhkan tindakan
pemerintah untuk mengawasi berbagai penebangan yang ada agar jangan sampai penebangan
tersebut merusak tempat tinggal mereka. Selain itu, proyek HoB ini juga dapat menyediakan

26
Ibid.
Page | 14
berbagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal di wilayah hutan Kalimantan, yang sebagian
besar merupakan masyarakat yang hidupnya belum sejahtera, sehingga keberadaan proyek HoB ini
dapat mengurangi masalah sosial di wilayah hutan Kalimantan. Akumulasi dari tiga alasan tersebut
menghasilkan urgensi dan kepentingan yang melatarbelakangi alasan mengapa pemerintah
Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam mau terlibat dalam proyek HoB.
Berbagai alasan tersebut, mulai dari alasan lingkungan, ekonomi, hingga alasan sosial dan
budaya, menunjukkan upaya pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam unsur „penggabungan antara proteksi
lingkungan dan pembangunan ekonomi‟, jelas bahwa proyek HoB ini memenuhi kedua kriteria
tersebut: melindungi dan melestarikan hutan Kalimantan, sekaligus mendatangkan pemasukan bagi
setiap negara Indonesia, Malaysia, dan Kalimantan, serta mewujudkan lapangan pekerjaan dan
kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat lokal di wilayah hutan Kalimantan. Adanya perbaikan
hutan Kalimantan juga merupakan upaya yang bertujuan untuk melestarikan hutan Kalimantan agar
tetap tersedia untuk generasi mendatang, mengingat perbaikan itu sangat diperlukan karena jika
tidak, hutan Kalimantan diramalkan akan punah, yang akan mengancam kelangsungan generasi
mendatang. Berbagai alasan yang melatarbelakangi pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam untuk menyukseskan proyek HoB ini, karenanya, jelas menggambarkan tujuan
pemerintah setiap negara tersebut untuk mewujudkan sebuah pembangunan hutan Kalimantan yang
berkelanjutan.

Page | 15
BAB III
KESIMPULAN

Upaya pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam bersama-sama dengan


WWF untuk melaksanakan proyek “Heart of Borneo” berangkat dari kondisi kerusakan hutan
Kalimantan yang semakin lama semakin parah. Pembalakan liar yang terjadi, deforestasi
besar-besaran untuk kepentingan industri, serta berbagai faktor lain seakan mempersulit upaya
menciptakan hutan Kalimantan yang lestari. Adapun pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei
Darussalam setuju untuk bergabung dalam proyek “Heart of Borneo” ini karena didasari tiga
kepentingan. Pertama, kepentingan lingkungan, yaitu untuk memastikan kelestarian hutan
Kalimantan demi keseimbangan ekosistem dan demi tersedianya hutan Kalimantan bagi generasi
mendatang. Kedua, kepentingan ekonomi, yaitu agar pemerintah ketiga negara tetap dapat
memperoleh keuntungan ekonomi dari hasil penjualan sumber daya hutan Kalimantan yang
diperoleh dengan cara yang tidak mengancam kelestarian hutan. Ketiga, kepentingan sosial dan
budaya, yaitu proyek “Heart of Borneo” dilihat sebagai proyek yang dapat menyediakan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat lokal Kalimantan dan karenanya dapat mensejahterakan masyarakat dari
sisi sosial, dan melalui proyek ini, pengawasan terhadap praktik penebangan kayu dapat dilakukan,
sehingga akan ada jaminan bahwa penebangan yang ada tidak akan mencemari lingkungan tempat
tinggal masyarakat adat di hutan Kalimantan dari sisi budaya. Akumulasi dari ketiga kepentingan
tersebut menggambarkan bahwa pada akhirnya proyek “Heart of Borneo” merupakan upaya
pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk mewujudkan pembangunan hutan
Kalimantan yang berkelanjutan.

Page | 16
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:
Baker, Susan, et.al. 1997. “Introduction”, in Susan Baker, et.al. (eds.), The Politics of Sustainable
Development; Theory, Policy, and Practice within the European Union. London: Routledge.
Elliot, Lorraine. 2004. The Global Politics of the Environment. New York: New York University
Press.

Sumber Internet:
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/solutionhob/
http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/borneo_rainforest_conservatio
n/transboundary_collaboration/
http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_worldforests/forest_work/borneo_
forest/
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/?11220/Denyutnya-Heart-of-Borneo-pada-Pert
emuan-Trilateral-Ketiga
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/?11221/Denyut-Jantung-Borneo-masih--kuat-p
ada-pertemuan-tiga-negara
http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/
borneo_rainforest_conservation/economic_tools/
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/hob/solutionhob/
http://www.isai.or.id/?q=node/10
http://www.hulusungaitengahkab.go.id/versi3/index.php?option=com_content&view=article&id=4
32:awas-luas-hutan-di-kalimantan-cuma-tersisa-separo&catid=18:pariwisata&Itemid=64
http://www.worldwildlife.org/who/media/press/2007/WWFPresitem917.html
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/kehutanan_spesies/whatwedo/gftnindonesia/
http://gftn.panda.org/gftn_worldwide/
http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_world/
forests/forest_work/borneo_forest/
http://www.panda.org/what_we_do/where_we_work/borneo_forests/borneo_rainforest_conservatio
n/protected_areas/

Page | 17