Anda di halaman 1dari 6

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

Tugas Review III Mata Kuliah Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan AS
Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : Fareed Zakaria, ―The Challenger‖, dalam The Post American World. (New York: W. W. Norton&Co., 2008),
hal. 86-128.

Munculnya Cina sebagai Pesaing Amerika Serikat dan Prediksi Hubungan Cina-Amerika
Serikat di Masa Depan

Dalam konstelasi politik dan ekonomi internasional, hingga kini Amerika Serikat (AS) masih memegang
posisi dominan. Akan tetapi, belakangan ini muncul beberapa pesaing, yang lantas menyebabkan pengaruh
AS mulai sedikit berkurang. Pesaing yang disebut-sebut paling memiliki kesempatan besar untuk menjadi
pemain dominan dalam politik dan ekonomi internasional adalah Cina, sebuah negara dengan jumlah
penduduk mencapai 1,3 bilyun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat. Dominannya Cina
dalam dunia internasional tidak terjadi begitu saja. Jika mau ditilik dari sejarah, awalnya Cina tidak terlalu
dominan. Akan tetapi, setelah Cina fokus untuk mengembangkan pembangunan ekonomi dan mulai
melakukan modernisasi, Cina lalu berkembang dengan pesat. Perkembangan pesat Cina tersebut antara lain
terjadi dari sisi perdagangan, manufaktur, investasi, tingkat tabungan, dan berbagai perkembangan lain.
Fareed Zakaria dalam tulisannya yang berjudul ―The Challenger‖ kemudian membahas mengenai
perkembangan Cina dalam dunia internasional, dan bagaimana AS sebagai kekuatan utama dunia
menyikapinya.
Dalam tulisannya, Fareed Zakaria menjelaskan mengenai peran dominan dari pemerintah Cina yang
berhasil menjadikan Cina sebagai negara yang maju secara ekonomi. Pemerintah Cina, yang menjalankan
prinsip pragmatisme dan kompetensi, telah berhasil membawa Cina ke dalam suatu bentuk kapitalisme
dengan karakteristik Cina—kapitalisme dengan memberikan peran besar pada pemerintah, melalui besarnya
peran state-owned enterprises dalam mengelola perekonomiannya. Dominannya pemerintah Cina ini juga
ternyata memberikan dampak negatif berupa terciptanya gap antara pemerintah dan rakyat Cina, yang lantas
menyebabkan munculnya tekanan sosial di mana-mana. Fareed Zakaria menamakan masalah ini sebagai
desentralisasi spiral (spiraling decentralization), masalah yang ia nilai merupakan masalah besar yang harus
dipecahkan Cina di masa depan. Dalam memecahkan masalah desentralisasi spiral ini, lanjut Zakaria, Cina
telah menuju ke arah yang benar; reformasi ekonomi telah membawa Cina ke arah keterbukaan dan
akuntabilitas, kebebasan individu juga kini mulai diakui. Terlalu dini mungkin untuk memprediksi apakah

Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Cina akan menjadi demokratis di masa depan, yang jelas kini Cina semakin menunjukkan tanda-tanda yang
semakin positif, dengan mengkombinasikan partisipasi masyarakat dengan hirarki dan kontrol elit—rejim
yang dinamakan oleh Zakaria sebagai ―mixed regime‖. Langkah yang positif menuju reformasi politik Cina.
Menyinggung masalah kondisi domestiknya, Cina memang kini sedang berbenah memperbaiki kondisi
domestiknya. Fokus strategi politik internasional Cina lebih diarahkan untuk memaksimalkan
pertumbuhannya, bukan untuk memperluas pengaruh Cina dalam dunia internasional. Untuk mencapai
pertumbuhan ekonominya, Cina terus membangun hubungan baik dengan negara-negara dunia; Cina juga
cenderung menghindari konflik dengan negara-negara dunia, dan karenanya permasalahan politik luar negeri
merupakan hal yang agak sensitif bagi Cina. Cina lebih suka menyembunyikan cahayanya dengan
menjalankan prinsip-prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi. Prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi
Cina ini diwujudkan melalui terminologi ―peaceful rise‖, yang kemudian dijadikan salah satu bentuk politik
luar negeri Cina. Bentuk politik luar negeri Cina yang lain adalah ―Christian Confucians‖, yang mengacu
pada bagaimana Cina menjalankan pola pemikiran Barat dalam menjalankan perekonomiannya, yaitu secara
modern dan rasional; dengan tetap memegang prinsip-prinsip Konfusianisme yang mengacu pada etika,
moralitas, dan keadilan dalam kehidupan politiknya.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Cina menganut prinsip ―peaceful rise‖ dan ―Christian Confucians‖,
yang berarti seharusnya Cina tidak akan berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Akan tetapi, berbagai
usaha yang telah dilakukan Cina dalam pencarian sumber energi dan sumber bahan mentah, pada akhirnya
akan membawa Cina semakin ke arah ekspansionis. Hal ini ditunjukan melalui hubungan yang semakin solid
antara Cina dan negara-negara di Benua Afrika, di mana Cina banyak memberikan pinjaman finansial pada
negara-negara Afrika—seperti Zimbabwe, Sudan, dan Afrika Selatan—yang lantas menimbulkan friksi antara
Cina dengan great power lain yang juga ingin mendekati Afrika. Bantuan finansial itu pun terkadang
diberikan dengan cuma-cuma, yang membuat motif netralitas Cina dipertanyakan. Kerjasama juga dilakukan
Cina pada negara-negara Asia, di mana Cina semakin aktif melancarkan diplomasi dan soft power-nya. Cina
yang tadinya dinilai sebagai tetangga yang bermasalah, mulai menjadi lebih bersahabat, sabar, berprospek
jangka panjang, lebih akomodatif, dan lebih mau terlibat dalam kerja sama regional; perubahan positif yang
membuat Cina semakin ―disambut‖ di Asia.
Perkembangan Cina yang semakin pesat, baik dari segi ekonomi maupun dari segi politik melalui soft
power diplomacy-nya yang semakin akomodatif, menjadikan Cina sebagai lawan yang berdiri sejajar dengan

Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

AS dalam konstelasi politik internasional. Kemajuan pesat Cina tersebut lantas melahirkan kekhawatiran
pada beberapa kalangan AS, yang mulai melihat Cina sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional AS.
Keberadaan Cina sebagai ancaman ini, lanjut Zakaria, lebih merupakan ancaman yang sifatnya asymmetrical
superpower, di mana Cina akan menunjukkan kekuatannya bukan dalam hal militer, melainkan lebih ke
kekuatan ekonomi dan kekuatan non-militer lain. Kekuatan Cina dalam hal-hal non-militer inilah yang sulit
diatasi AS, yang selama ini cenderung menggunakan kapabilitas militernya untuk mengalahkan
lawan-lawannya. Pergerakan Cina yang pelan namun pasti dalam menarik simpati dari berbagai negara dunia
melalui kekuatan ekonomi dan kekuatan non-militernya, mau tidak mau merupakan ancaman besar bagi
dominasi AS di dunia internasional.
Menanggapi tulisan yang dibuat Fareed Zakaria, penulis berpendapat bahwa tulisan Fareed Zakaria
kurang membahas mengenai bagaimana AS menyikapi kemunculan Cina tersebut dan bagaimana prospek
hubungan Cina-AS di masa depan, dua hal yang menurut penulis merupakan hal yang penting dalam
konstelasi politik internasional di masa depan. Zakaria seperti hanya membahas mengenai kemajuan Cina
yang sangat pesat—yang menjadikan Cina mampu berdiri sejajar dengan AS sebagai kekuatan utama dunia.
Akan tetapi, walaupun Zakaria kurang membahas dengan jelas mengenai prospek hubungan Cina-AS di masa
depan, penulis menangkap dalam beberapa penjelasannya, Zakaria cenderung pesimis dengan adanya
kerjasama antara Cina-AS. Seperti misalnya, Zakaria cenderung memberikan fakta-fakta yang menunjukkan
bahwa kekuatan Cina akan semakin berkembang serta Cina akan semakin ekspansionis dalam memperluas
pengaruhnya. Dua fakta tersebut, lanjut Zakaria, lantas melahirkan ancaman dalam diri AS, serta melahirkan
ketakutan AS akan tergesernya posisinya sebagai kekuatan utama dunia internasional. Penjelasan Zakaria
tersebut, menurut penulis, merupakan pandangan yang cenderung pesimis dalam memandang prospek
hubungan Cina-AS di masa depan—pandangan yang cenderung sesuai dengan perspektif Realisme dalam
hubungan internasional, yang selalu pesimis dengan adanya kerjasama dan percaya bahwa hubungan
internasional bersifat konfliktual. Penulis sendiri kurang setuju dengan pandangan Fareed Zakaria tersebut.
Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Cina semakin menunjukkan perkembangan yang pesat—baik secara
ekonomi, maupun secara soft power diplomacy—penulis cenderung percaya akan adanya kerjasama pada
prospek hubungan Cina-AS di masa depan, pandangan yang sejalan dengan pandangan kaum liberal optimis.
Adapun, menurut penulis, kerjasama antara Cina-AS di masa depan akan berlandaskan pada tiga faktor
utama yang saling bergantung satu sama lain, yaitu adanya ketergantungan ekonomi, keanggotaan dalam

Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

institusi internasional, serta demokratisasi.1


Faktor utama yang melandasi pemikiran penulis mengenai akan adanya hubungan kerjasama solid antara
Cina-AS di masa depan adalah adanya ketergantungan ekonomi antar keduanya. Motif ini sebenarnya sudah
dibahas sedikit mengenai Fareed Zakaria, yang sepertinya juga tidak dapat menyangkal bahwa di antara Cina
dan AS terdapat saling ketergantungan ekonomi yang dalam. Ketergantungan ekonomi inilah yang, menurut
penulis, akan memaksa baik Cina maupun AS untuk terus bekerja sama—dan karenanya menghindari
konflik—di masa depan. Adanya ketergantungan ekonomi antara Cina-AS dan tendensi untuk bekerja sama
di masa depan juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Cina, Yang Jiechi, yang mengatakan bahwa
fondasi strategis bagi hubungan Cina-AS terletak pada kepentingan Cina dan AS yang sama dalam
mengusahakan pembangunan ekonomi yang stabil, terutama untuk menghindari krisis di masa depan. 2
Bilapun tidak terjadi krisis di masa depan, baik Cina maupun AS harus tetap membangun kerjasama yang
solid dan berkelanjutan, lanjut Yang Jiechi. Lebih lanjut lagi, kerjasama ekonomi antara Cina-AS sebenarnya
sudah berlangsung sejak 1978. Ketika itu, volume perdagangan Cina-AS yang tadinya hanya berjumlah 1
bilyum Dollar AS mencapai angka 120 bilyun Dollar AS,3 dan pada tahun 2004, angka tersebut mencapai
245 bilyun Dollar AS.4 Di masa depan, Cina dan AS juga akan membangun sebuah dialog ekonomi, the
China-US Strategic and Economic Dialogues, yang semakin akan memperdalam kerjasama antar keduanya.
Cina juga telah berkomitmen untuk membantu menstabilkan pasar finansial dan menstimulasi perbaikan
ekonomi di AS, dengan harapan perekonomian AS akan kembali tumbuh dalam waktu dekat.5
Faktor kedua yang berperan penting dalam pembentukan kerjasama antara Cina-AS di masa depan
adalah peran institusi internasional dalam mendorong terjadinya kerjasama antar keduanya. Di sini penulis,
senada dengan pandangan kaum liberal, percaya bahwa adanya institusi internasional akan meningkatkan
komunikasi Cina dan AS, yang kemudian akan memperkecil kecurigaan antar kedua negara mengenai intensi
masing-masing, dan pada akhirnya akan menghasilkan komitmen kerjasama antar keduanya. Institusi
internasional juga dapat mencegah efek-efek negatif dari anarki internasional, dengan mewujudkan

1
Anggapan penulis ini senada dengan anggapan yang disampaikan Aaron L. Friedberg, The Future of US-China Relations: Is
Conflict Inevitable? http://belfercenter.ksg.harvard.edu/files/is3002_pp007-045_friedberg.pdf, diakses pada 13 November 2009,
pukul 08.07.
2
China Daily, US, China Should Foster Win-Win Relationship in the 21st Century. http://www.chinadaily.com.cn/
opinion/2009-03/18/content_7589598.htm, diakses pada 13 November 2009, pukul 08.29.
3
U.S.-China Security Review Commission, The National Security Implications of the Economic Relationship between the United
States and China. (Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, July 2002), hal. 38–39.
4
U.S.-China Business Council, U.S.-China Trade Statistics and China’s World Trade Statistics. http://www.uschina.org/
statistics/tradetable.html, diakses pada 13 November 2009, pukul 07.24.
5
China Daily, op.cit.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

kerjasama dan kepercayaan antar negara-negara anggotanya.6 Sejak Perang Dingin berakhir, Cina telah
bergabung dalam berbagai institusi internasional, mulai dari yang sifatnya regional seperti APEC
(Asia-Pacific Economic Cooperation), ARF (the ASEAN Regional Forum), hingga yang sifatnya
internasional seperti masuknya Cina dalam WTO (World Trade Organization). Cina juga telah bermain
semakin aktif dalam wadah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dari tahun 1977 hingga tahun 1997, tercatat
Cina telah bergabung dalam 52 institusi internasional formal7, di mana AS merupakan negara yang dominan
pada institusi internasional tersebut. Meningkatnya jumlah institusi—baik regional maupun
internasional—yang dimasuki Cina, dan besarnya peran AS pada berbagai institusi tersebut akan
menghasilkan ikatan yang kuat antara kedua negara, ikatan yang dipercaya oleh kaum liberal optimis akan
meningkatkan komunikasi dan kontak, yang kemudian akan menghasilkan general mutual understanding dan
kepercayaan antar keduanya. Keinginan Cina untuk terus menikmati manfaat dari keanggotaannya dalam
institusi internasional tersebut akan mendorong Cina untuk tidak mengambil langkah yang dapat merusak
status quo, sehingga akhirnya akan mengurangi kemungkinan konflik antara Cina dan AS yang merupakan
perencana sekaligus pelindung sistem internasional.8
Faktor ketiga yang juga akan mendorong terciptanya hubungan kerjasama antara Cina-AS adalah faktor
demokratisasi. Zakaria telah menyebutkan di awal bahwa Cina sekarang telah menunjukan berbagai tanda
positif menuju demokratisasi melalui pembentukan ―mixed regime‖ di negaranya. Berbagai tanda positif itu
bukan tidak mungkin akan menghasilkan Cina yang demokratis di masa depan. Bila Cina benar-benar
menjadi demokratis, maka—sesuai pandangan kaum liberal optimis—hubungan Cina dan AS akan menjadi
stabil karena keduanya akan memasuki democratic zone of peace.9 Adapun kaum liberal optimis percaya
bahwa demokrasi adalah alat untuk menciptakan perdamaian. Rejim yang meletakkan kekuasaan dan
legitimasi pada consent of the governed cenderung tidak akan terlibat dalam perang, yang tujuan akhirnya
adalah untuk memuaskan ambisi pemimpinnya. Kaum liberal optimis juga percaya bahwa negara yang
demokratis tidak akan saling berperang dengan negara demokratis lainnya sehingga kaum liberal optimis
melihat korelasi antara meningkatnya negara demokratis dengan menurunnya konflik internasional. Cina

6
Lisa L. Martin and Beth A. Simmons, ―Theories and Empirical Studies of International Institutions‖, dalam International
Organization, Vol. 52, No. 4, 1998, hal. 729–757.
7
David M. Lampton, Same Bed, Different Dreams: Managing U.S.-China Relations, 1989–2000. (Berkeley: University of
California Press, 2001), hal. 163
8
Aaron L. Friedberg, op.cit.
9
Ibid.
Page | 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

yang kini semakin menuju ke arah demokratisasi10, kemudian akan memiliki hubungan yang cenderung stabil
dan tanpa konflik dengan AS di masa depan.
Memprediksi mengenai hubungan Cina-AS di masa depan memang bukanlah hal yang mudah. Beberapa
pihak meramalkan akan adanya konflik besar antar keduanya, anggapan yang cenderung sama dengan
anggapan Fareed Zakaria, sementara pihak lain meramalkan akan terciptanya kerjasama yang semakin dalam
antar keduanya. Penulis sendiri lebih menyetujui prediksi kedua, yaitu akan terciptanya suatu hubungan
kerjasama antara Cina-AS dengan berlandaskan pada tiga faktor utama, yaitu ketergantungan ekonomi antar
keduanya yang semakin dalam, faktor institusi internasional yang akan semakin menyatukan keduanya, dan
faktor demokratisasi Cina yang membuat hubungan keduanya akan cenderung lebih stabil di masa depan.

10
Lihat Minxin Pei, ―Creeping Democratization in China‖, dalam Journal of Democracy, Vol. 6, No. 4 (October 1995), hal. 64–79;
dan Minxin Pei, ―China’s Evolution toward Soft Authoritarianism‖, dalam Edward Friedman dan Barrett L. McCormick (ed.),
What If China Doesn’t Democratize? Implications for War and Peace, (New York: M.E. Sharpe, 2000), hal. 74–98.
Page | 6