Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

PNEUMOTORAKS
PEMBIMBING:
dr. Riana Sari Sp. P

Oleh :
Anugerah Adi Santoso
Aswin Fauziah
Bagus Burhan
M. Hafidz
Nuri Febtitasari
Pristihana Putro Wicaksono

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

REFERAT
PNEUMOTORAKS

Yang Diajukan Oleh:


Anugerah Adi Santoso
Aswin Fauziah
Bagus Burhan
M. Hafidz
Nuri Febtitasari
Pristihana Putro Wicaksono

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Fakultas


Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

2014

Pembimbing:
dr. Riana Sari Sp. P

Dipresentasikan dihadapan:
dr. Riana Sari Sp. P

Disahkan Ka Prodi Profesi :


dr. Dona Dewi Nirlawati

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

DAFTAR ISI

Halaman Judul .

Halaman Pengesahan

Daftar Isi ..

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................

BAB II

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi .................................................

B. Definisi ........................................................................

C. Klasifikasi ...................................................................

D. Penghitungan Luas Pneumotoraks .

E.

Gejala Klinis ...............................................................

11

F.

Pemeriksaan Fisik .......................................................

12

G. Pemeriksaan Penunjang .............................................

13

H. Penatalaksanaan ........................................................

15

I.

Pengobatan Tambahan ...............................................

18

J.

Rehabilitasi ..................................................................

18

KESIMPULAN ....................................................................

19

DAFTAR PUSTAKA 20

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Paru-paru merupakan unsur elastis yang akan mengempis seperti balon
dan mengeluarkan semua udaranya melalui trakea. Paru-paru sebenarnya
mengapung dalam rongga toraks, dikelilingi oleh suatu lapisan tipis cairan
pleura yang menjadi pelumas bagi gerakan paru-paru.1
Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga
pleura. Dengan adanya udara dalam rongga pleura tersebut, maka akan
menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru tidak dapat
mengembang dengan maksimal. Pneumotoraks dapat terjadi baik secara
spontan maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat
primer dan sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat
iatrogenik dan non iatrogenik.2
Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang
tidak diketahui. Namun dari sejumlah penelitian yang pernah dilakukan
menunjukkan bahwa pneumotoraks lebih sering terjadi pada penderita
dewasa yang berumur sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering daripada
wanita, dengan perbandingan 5 : 1.2
Di Amerika Serikat, insidens pneumotoraks spontan primer pada lakilaki adalah 7,4 kasus per 100.000 orang tiap tahunnya sementara pada wanita
insidensnya 1,2 kasus per 100.000 orang. Sedangkan insidens pneumotoraks
spontan sekunder pada laki-laki adalah 6,3 kasus per 100.000 orang dan
wanita 2,0 per 100.000 orang. Pneumotoraks traumatik lebih sering terjadi
daripada pneumotoraks spontan dengan laju yang semakin meningkat.3
Pneumotoraks spontan primer terjadi pada usia 20 30 tahun dengan
puncak insidens pada usia awal 20-an sedangkan pneumotoraks spontan
sekunder lebih sering terjadi pada usia 60 65 tahun.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


Paru-paru dan pleura mengisi sebagian besar rongga toraks dengan
jantung di antaranya, sedangkan aorta descendens serta oeshophagus terletak
di belakang jantung. Pleura terbagi atas 2 lapisan, yaitu: pleura parietalis dan
pleura visceralis. Pleura parietalis merupakan selaput tipis dari membrana
serosa yang melapisi rongga pleura. Pada daerah yang menghadap
mediastinum, pleura ini beralih meliputi paru-paru sehingga disebut pleura
visceralis atau pleura pulmonalis. Pleura visceralis ini membugkus paru-paru
dan melekat erat pada permukaannya. Ruangan potensial antara kedua
lapisan pleura ini disebut cavitas pleuralis yang hanya berisi lapisan tipis
cairan untuk lubrikasi.8
Volume dan kapasitas paru-paru dapat diukur dengan menggunakan alat
yang disebut spirometri. Dengan menggunakan alat ini, volume paru
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
1. Volume tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap
kali bernapas normal; besarnya kira-kira 500 mililiter pada laki-laki
dewasa.
2. Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang dapat
diinspirasi setelah dilakukan inspirasi kuat; biasanya mencapai 3000
mililiter.
3. Volume cadangan ekspirasi adalah volume udara ekstra maksimal yang
dapat diekspirasi melalui ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi; jumlah
normalnya adalah sekitar 1100 mililiter.
4. Volume residu yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru
setelah ekspirasi paling kuat; volume ini besarnya kira-kira 1200 mililiter.
Pernapasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Inspirasi
terjadi karena gerak otot pernapasan yaitu m.intercostalis dan diafragma

yang menyebabkan rongga dada membesar sehingga udara akan terhisap


masuk melalui trakea dan bronkus.7
Jaringan paru dibentuk oleh jutaan alveolus mengembang dan
mengempis bergantung pada membesar atau mengecilnya rongga dada.
Dinding dada yang membesar akan akan menyebabkan paru-paru
mengembang sehingga udara akan terhisap ke dalam alveolus. Sebaliknya
bila m.intercostalis melemas maka dinding dada akan mengecil sehingga
udara akan terdorong keluar. Sementara itu, karena adanya tekanan
intraabdominal maka diafragma akan terdorong ke atas apabila tidak
berkontraksi. Ketiga faktor ini yaitu lenturnya dinding thoraks, kekenyalan
jaringan paru dan tekanan intraabdominal menyebabkan ekspirasi. Dengan
demikian ekspirasi merupakan kegiatan yang pasif.7
Adanya lubang di dinding dada atau di pleura viseralis akan
menyebabkan udara masuk ke rongga pleura sehingga pleura viseralis
terlepas dari pleura parietalis dan paru tidak lagi ikut dengan gerak napas
dinding thoraks dan diafragma. Hal ini terjadi pada pneumotoraks. Jika
dipasang penyalir tertutup yang diberikan tekanan negatif maka udara ini
akan terhisap dan paru dapat dikembangkan lagi.7

B. Definisi
Pneumotoraks adalah suatu keadaan terdapatnya udara atau gas di dalam
pleura yang menyebabkan kolapsnya paru yang terkena.3

C. Klasifikasi
Menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu: 2, 3
1.

Pneumotoraks Spontan
Pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba. Pneumotoraks tipe ini
dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis, yaitu :
a) Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi
secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. 2, 3

b) Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi


dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki
sebelumnya, misalnya fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik
kronis (PPOK), kanker paru-paru, asma dan infeksi paru. 2, 3
2.

Pneumotoraks traumatik
Pneumotoraks yang terjadi akibat adanya suatu trauma, baik trauma
penetrasi atau bukan, yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada
maupun paru. 2, 3
Pneumotoraks tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua
jenis, yaitu :
a) Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang
terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada,
barotrauma. 2, 3
b) Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi
akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis inipun
masih dibedakan menjadi dua, yaitu : 2, 3
1) Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental
Adalah suatu pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis
karena kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut,
misalnya pada parasentesis dada, biopsi pleura. 2, 3
2) Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial
Adalah suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan
cara mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya
tindakan ini dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada
pengobatan tuberkulosis sebelum era antibiotik, maupun untuk
menilai permukaan paru. 2, 3

3.

Berdasarkan jenis fistulanya, maka pneumotoraks dapat diklasifikasikan


ke dalam tiga jenis.4
a)

Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax)


Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka
pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar.

Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun


lambat laun berubah menjadi negatif karena diserap oleh jaringan
paru disekitarnya. Pada kondisi tersebut paru belum mengalami
re-ekspansi, sehingga masih ada rongga pleura, meskipun tekanan di
dalamnya sudah kembali negatif. Pada waktu terjadi gerakan
pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap negatif. 4
b) Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax),
Yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara rongga pleura
dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar (terdapat
luka terbuka pada dada). Dalam keadaan ini tekanan intrapleura
sama dengan tekanan udara luar. Pada pneumotoraks terbuka
tekanan intrapleura sekitar nol. Perubahan tekanan ini sesuai dengan
perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan pernapasan.4
Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu
ekspirasi tekanan menjadi positif.4 Selain itu, pada saat inspirasi
mediastinum dalam keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi
mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada yang terluka
(sucking wound).2
c)

Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax)


Pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin
lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis
yang bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui
trakea, bronkus serta percabangannya dan selanjutnya terus menuju
pleura melalui fistel yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam
rongga pleura tidak dapat keluar.4 Akibatnya tekanan di dalam
rongga pleura makin lama makin tinggi dan melebihi tekanan
atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat
menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.2

4. Sedangkan menurut luasnya paru yang mengalami kolaps, maka


pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu.4
a)

Pneumotoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan pada


sebagian kecil paru (< 50% volume paru).

b) Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian


besar paru (> 50% volume paru).

D. Penghitungan Luas Pneumotoraks


Penghitungan luas pneumotoraks ini berguna terutama dalam penentuan
jenis kolaps, apakah bersifat parsialis ataukah totalis. Ada beberapa cara
yang bisa dipakai dalam menentukan luasnya kolaps paru, antara lain :

1.

Rasio antara volume paru yang tersisa dengan volume hemitoraks,


dimana masing-masing volume paru dan hemitoraks diukur sebagai
volume kubus. 2
Misalnya : diameter kubus rata-rata hemitoraks adalah 10cm dan
diameter kubus rata-rata paru-paru yang kolaps adalah 8cm,
maka rasio diameter kubus adalah :
83
______

103

2.

512
=

________

= 50 %

1000

Menjumlahkan jarak terjauh antara celah pleura pada garis vertikal,


ditambah dengan jarak terjauh antara celah pleura pada garis horizontal,
ditambah dengan jarak terdekat antara celah pleura pada garis horizontal,
kemudian dibagi tiga, dan dikalikan sepuluh.2

% luas pneumotoraks
A + B + C (cm)
=

__________________

x 10

10

3.

Rasio antara selisih luas hemitoraks dan luas paru yang kolaps dengan
luas hemitoraks.4

(L) hemitorak (L) kolaps paru


(AxB) - (axb)
_______________

x 100 %

AxB

E. Gejala klinis
1.

Anamnesis
Berdasarkan anamnesis, gejala dan keluhan yang sering muncul adalah:
2, 4, 5

a)

Sesak napas, didapatkan pada hampir 80-100% pasien. Seringkali


sesak dirasakan mendadak dan makin lama makin berat. Penderita
bernapas tersengal, pendek-pendek, dengan mulut terbuka.

b) Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dirasakan


tajam pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih
nyeri pada gerak pernapasan.
c)

Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien.

d) Denyut jantung meningkat.


e)

Kulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen darah yang


kurang.

f)

Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10%


pasien, biasanya pada jenis pneumotoraks spontan primer.

11

Berat ringannya keadaan penderita tergantung pada tipe pneumotoraks


tersebut.2
a)

Pneumotoraks tertutup atau terbuka, sering tidak berat.

b) Pneumotoraks ventil dengan tekanan positif tinggi, sering dirasakan


lebih berat.
c)

Berat ringannya pneumotoraks tergantung juga pada keadaan paru


yang lain serta ada tidaknya jalan napas.

d) Nadi cepat dan pengisian masih cukup baik bila sesak masih ringan,
tetapi bila penderita mengalami sesak napas berat, nadi menjadi
cepat dan kecil disebabkan pengisian yang kurang.

2.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik torak didapatkan:3, 4
a)

Inspeksi :
1) Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper
ekspansi dinding dada)
2) Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal
3) Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat

b) Palpasi :
1) Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar
2) Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat
3) Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit
c)

Perkusi :
1) Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak
menggetar
2) Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat, apabila
tekanan intrapleura tinggi

d) Auskultasi :
1) Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai
menghilang

12

2) Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni


negatif

F. Pemeriksaan Penunjang
1.

Foto Rntgen
Gambaran

radiologis

yang

tampak

pada

foto

rntgen

kasus

pneumotoraks antara lain:


a)

Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps
akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru
yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler
sesuai dengan lobus paru. 6

b) Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio


opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan
kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak selalu
berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan. 6
c)

Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium


intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah.
Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang
sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan
tekanan intra pleura yang tinggi. 6

d) Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan


sebagai berikut:3
1) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi
jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. Hal ini terjadi
apabila pecahnya fistel mengarah mendekati hilus, sehingga
udara yang dihasilkan akan terjebak di mediastinum. 3
2) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam
dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari
pneumomediastinum.

Udara

yang

tadinya

terjebak

di

mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah yang


lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher terdapat banyak

13

jaringan ikat yang mudah ditembus oleh udara, sehingga bila


jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat
mendesak jaringan ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada
depan dan belakang. 3
3) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan
tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas
diafragma.3

Foto R pneumotoraks (PA), bagian yang ditunjukkan dengan


anak panah merupakan bagian paru yang kolaps

2.

Analisa Gas Darah


Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi
meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien
dengan gagal napas yang berat secara signifikan meningkatkan
mortalitas sebesar 10%.6

3.

CT-scan thorax
CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema
bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan
ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan
primer dan sekunder. 6

14

G. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan pneumotoraks adalah untuk mengeluarkan
udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Pada prinsipnya, penatalaksanaan pneumotoraks adalah sebagai berikut :
1.

Observasi dan Pemberian O2


Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura
telah menutup, maka udara yang berada didalam rongga pleura tersebut
akan diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan
tambahan O2. Observasi dilakukan dalam beberapa hari dengan foto
toraks serial tiap 12-24 jam pertama selama 2 hari.2 Tindakan ini
terutama ditujukan untuk pneumotoraks tertutup dan terbuka.4

2.

Tindakan dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumotoraks yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan
untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat hubungan
antara rongga pleura dengan udara luar dengan cara: 2
a)

Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga


pleura, dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura
akan berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum
tersebut.2, 4

b) Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :


1) Dapat memakai infus set
Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke dalam rongga
pleura, kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal
saringan tetesan dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah
klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang
keluar dari ujung infus set yang berada di dalam botol. 4
2) Jarum abbocath
Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan
jarum dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi yang

15

tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga pleura,


jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini kemudian
dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa infuse ini
selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem
penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar
dari ujung infuse set yang berada di dalam botol.4
3) Pipa water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (toraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga
pleura dengan perantaraan troakar atau dengan bantuan klem
penjepit. Pemasukan troakar dapat dilakukan melalui celah
yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit di sela iga ke-4
pada linea mid aksilaris atau pada linea aksilaris posterior.
Selain itu dapat pula melalui sela iga ke-2 di garis mid
klavikula. 3, 4
Setelah troakar masuk, maka toraks kateter segera
dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar dicabut,
sehingga hanya kateter toraks yang masih tertinggal di rongga
pleura. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di dada dan
pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya.
Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2
cm di bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat
dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.3, 4
Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan
intrapleura tetap positif. Penghisapan ini dilakukan dengan
memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O, dengan tujuan
agar paru cepat mengembang. Apabila paru telah mengembang
maksimal dan tekanan intra pleura sudah negatif kembali, maka
sebelum dicabut dapat dilakukuan uji coba terlebih dahulu
dengan cara pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila
tekanan dalam rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa

16

belum bisa dicabut. Pencabutan WSD dilakukan pada saat


pasien dalam keadaan ekspirasi maksimal.2

3.

Torakoskopi
Yaitu suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga toraks
dengan alat bantu torakoskop. 3

4.

Torakotomi

5.

Tindakan bedah
a)

Dengan pembukaan dinding toraks melalui operasi, kemudian dicari


lubang yang menyebabkan pneumotoraks kemudian dijahit

b) Pada pembedahan, apabila ditemukan penebalan pleura yang


menyebabkan paru tidak bisa mengembang, maka dapat dilakukan
dekortikasi.
c)

Dilakukan resesksi bila terdapat bagian paru yang mengalami


robekan atau terdapat fistel dari paru yang rusak

d) Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang tebal dibuang,


kemudian kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat fistel. 4

17

H. Pengobatan Tambahan
1.

Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan


ditujukan terhadap penyebabnya. Misalnya : terhadap proses TB paru
diberi OAT, terhadap bronkhitis dengan obstruksi saluran napas diberi
antibiotik dan bronkodilator.4

2.

Istirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat. 4

3.

Pemberian antibiotik profilaksis setelah setelah tindakan bedah dapat


dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi komplikasi, seperti
emfisema.3

I.

Rehabilitasi
1. Penderita yang telah sembuh dari pneumotoraks harus dilakukan
pengobatan secara tepat untuk penyakit dasarnya.
2. Untuk sementara waktu, penderita dilarang mengejan, batuk atau bersin
terlalu keras.
3. Bila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian antitusif, berilah
laksan ringan.
4. Kontrol penderita pada waktu tertentu, terutama kalau ada keluhan batuk,
sesak napas.4

18

BAB III
KESIMPULAN

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana rongga pleura terisi oleh


udara, sehingga menyebabkan pendesakan terhadap jaringan paru yang
menimbulkan gangguan dalam pengembangannya terhadap rongga dada saat
proses respirasi. Oleh karena itu, pada pasien sering mengeluhkan adanya sesak
napas dan nyeri dada.
Berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks dapat terjadi baik secara spontan
maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan
sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non
iatrogenik. Dan menurut fistel yang terbentuk, maka pneumotoraks dapat bersifat
terbuka, tertutup dan ventil (tension).
Dalam menentukan diagnosa pneumotoraks seringkali didasarkan pada hasil
foto rntgen berupa gambaran translusen tanpa adanya corakan bronkovaskuler
pada lapang paru yang terkena, disertai adanya garis putih yang merupakan batas
paru (colaps line). Dari hasil rntgen juga dapat diketahui seberapa berat proses
yang terjadi melalui luas area paru yang terkena pendesakan serta kondisi jantung
dan trakea.
Pada prinsipnya, penanganan pneumotoraks berupa observasi dan pemberian
O2 yang dilanjutkan dengan dekompresi. Untuk pneumotoraks yang berat dapat
dilakukan tindakan pembedahan. Sedangkan untuk proses medikasi disesuaikan
dengan penyakit yang mendasarinya. Tahap rehabilitasi juga perlu diperhatikan
agar pneumotoraks tidak terjadi lagi.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta : EGC; 1997. p. 598.
2. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,
Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1063.
3. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Updated:
2010

May

27;

cited

2011

January

10.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/827551
4.

Alsagaff, Hood. Mukty, H. Abdul. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.


Surabaya : Airlangga University Press; 2009. p. 162-179

5. Schiffman, George. Stoppler, Melissa, Conrad. Pneumothorax (Collapsed


Lung).

Cited

2011

January

10.

Available

from

http://www.medicinenet.com/pneumothorax/article.htm
6. Malueka, Rusdy, Ghazali. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta : Pustaka
Cendekia Press; 2007. p. 56
7. Sjamsuhidajat, R. Dinding toraks dan pleura. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah.
Jakarta : EGC. 1997. P.404-419.
8. Wibowo, Daniel, S. Paryana, Widjaja. Rongga thorax. Dalam : Anatomi
Tubuh Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu. 2009. P. 209-220.

20