Anda di halaman 1dari 6

1

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014

RESPIRASI
Faridah Tsuraya (1512100051)
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: tsuraya.faridah12@mhs.bio.its.ac.id
AbstrakRespirasi merupakan proses pertukaran
pertukaran antara oksigen dan karbondioksida. Oksigen
dibutuhkan untuk proses metabolisme yang kontinu,
mekanisme hasil akhir metabolisme berupa karbondioksida
dan air. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
jumlah oksigen yang digunakan dalam pernapasan ikan dan
jangkrik. Metode yang dilakukan dalam praktikum ini
adalah dengan penentuan konsumsi oksigen ikan,
pengambilan sampel air yang akan diukur konsentrasi
oksigennya dengan metode Winkler, pengukuran kandungan
oksigen dengan metode Winkler, pengukuran osigen dengan
metode mikro Winkler dan pengukuran konsumsi oksigen
pada jangkrik. Hasil pada praktikum ini adalah pada
penentuan konsumsi oksigen t1 adalah 3,2 dan t2 adalah
1,22. Penggunaan oksigen adalah 0,084 mg/L/jam.gram.
Pada metode mikro Winkler didapatkan penggunaan oksigen
0,178
mg/L/jam.gram.
Pada
jangkrik
didapatkan
penggunaan oksigen 11,009 mg/L/jam.gram. Pada praktikum
ini diketahui bahwa air yang tidak terdapat ikan lebih banyak
megandug kadar DO disbanding dengan air yang
mengandung kadar ikan karena ksigen dignakan ikan untuk
respirasi. Diketahui pula bahwa respirasi menyerap O2 dan
mengeluarkan CO2 pada praktikum penggunaan oksigen
pada jangkrik.
Kata kunci Karbondioksida, Oksigen, Respirasi, Winkler

I. PENDAHULUAN
Respirasi adalah proses pernapasan suatu mahluk.
Respirasi ini dibagi menjadi dua macam, yaitu respirasi
eksternal dan respirasi internal. Respirasi eksternal
adalah proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida
antara organisme dan lingkungannya yang melibatkan
medium respirasi (contohnya udara), membrane respirasi
(contohnya pembuluh darah), dan organ pernapasan
(contohnya paru-paru). Sedangkan respirasi internal
adalah
proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida
dan antara darah dan jaringan. Sederhananya respirasi
eksternal itu terjadi di luar tubuh sampai ke
organ pernapasan, dan respirasi internal itu terjadi pada
organ pernapasan ke seluruh tubuh. [1].
Respirasi ini berfungsi sebagai pensuplai oksigen tubuh
untuk bermetabolisme dan menghasilkan energi. Dengan
bantuan oksigen bahanmakanan dapat teroksidasi dan
menghasilkan energi yang digunakan tubuhuntuk
beraktivitas. Jika oksigen dalam tubuh tidak ada, maka
tubuh akanmelemas dan mati karena tidak dapat
menghasilkan energi untuk tubuh. [2]
Pada sistem respirasi hewan akuatik seperti
pisces (ikan), pada umumnya memiliki organ pernapasan
khusus yaitu insang. Mekanisme respirasinya terbagi
menjadi dua fase yaitu inspirasi dan ekspirasi. Fase
inspirasi diawali dengan terbukanya mulut ikan
sehingga, air masuk ke dalam mulut ikan kemudian
katup insang menutup yang menyebabkan air yang sudah

disaring oleh gerigi pada lengkung insang akan mengalir


ke dalam insang. Fase selanjutnya adalah fase ekspirasi
yaitu pada saat mulut ikan akan ditutup,operculum
terbuka dan air mengalir melalui celah insang sehingga
air menyentuh lembaran insang dan terjadi pertukaran
gas. Darah melepaskan CO2 ke dalam air dan mengikat
O2, maka dari itu mekanisme pertukaran gas terjadi pada
fase ekspirasi [1].
Pada hewan teresterial seperti hewan mamalia
(manusia, mencit,dll) pada umumnya menggunakan pari
- paru sebagai organ pernapasan dimana terjadi proses
pertukaran gas. Mekanismenya dapat dibagi menjadi dua
jenis yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut.
Pernapasan dada dimulai fase inspirasi yaitu kontraksi
otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar
yang mengakibatkan tekanan dalam rongga dada
menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga
udara luar dapat masuk. Fase berikutnya adalah fase
ekspirasi ,yaitu otot antara tulang rusuk berelaksasi atau
kembali
ke
posisi
semula
sehingga
tulang
rusuk turun dan membuat rongga dada menjadi kecil.
Akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih
besar daripadatekanan luar, sehingga udara dalam
rongga dada yang dapat keluar [3].
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju
respirasi suatu makhluk hidup diataranya: [4]
1. Jenis kelamin.Pada hewan berkelamin jantan
memiliki sistem metabolisme yanglebih cepat
dibandingkan yang betina sehingga hewan jantan
memiliki lajurespirasi yang relatif lebih cepat
dibandingkan hewan betinanya.
2. Berat badanHewan yang lebih berat memiliki
jumlah sel yang lebih banyaksehingga memerlukan
lebih
banyak
oksigen
untuk
memenuhi
kebutuhanenerginya.
Maka
dari
itu
laju
respirasinya pun relatif lebih cepat pula.
3. Aktivitas. Semakin banyak aktivitas berarti
semakin banyak pula energy yangdibutuhkan
sehingga membutuhkan oksigen yang lebih banyak
pula untukmenghasilkan energi yang besar. Maka
dari itu aktivitas sangat berpengaruh dalam laju
respirasi suatu mahluk
4. Suhu.Pada saat suhu hewan itu tinggi maka ia akan
membutuhkan
energy panas di dalam tubuhnya agar keadaan tubu
h tetap stabil. Untukmendapatkan energy itu maka
diperlukan pula oksigen yang lebihsehingga
membuat laju respirasinya semakin cepat.
5. Usia. Pada hewan yang memiliki yang usia lebih
tua maka system metabolisme semakin lambat
dibandingkan
dengan
yang
muda.
Jika
metabolismenya melambat maka jumlah oksigen

2
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014
yang diperlukan semakinsedikit sehingga memiliki
laju respirasi menjadi lebih lambat.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui jumlah oksigen yang digunakan dalam
pernapasan ikan dan jangkrik.
II.

2.

METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilakukan pada 11 November
2014 di Laboratorium Zoologi, Biologi, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini
adalah wadah untuk penentuan konsumsi oksigen 2
buah, botol Winkler 2 buah, Erlenmeyer 250 ml,
pipet tetes 4 buah, Erlenmeyer 50 ml 2 buah,
timbangan, statif 1 buah, aluminium foil secukupnya,
syringe 10 ml 2 buah, syringe 1 ml 4 buah,
respirometer, kapas secukupnya. Bahan yang
diguanakan dalam praktikum ini adalah Ikan komet
(Carassius auratus), Jangkrik (Gryllus sp.), larutan
MnSO4, larutan iodide azide, H2SO4 pekat, larutan
amilum 1%, Air, KOH 1%, Eosin.
C. Cara Kerja
Cara kerja dalam praktikum ini adalah :
A. Penentuan konsumsi oksigen ikan
1. Menyiapkan 2 wadah bersih (toples kaca) dengan
volume yang sama kemudian diisi dengan air dari
sumber yang sama hingga penuh.
2. Memasukkan ikan ke dalam salah satu wadah,
kemudian kedua wadah ditutup rapat dengan
aluminium foil rapat, hindari adanya gelembung
udara di dalam kedua wadah kemudian dibiarkan.
B. Pengambilan sampel air yang akan diukur
konsentrasi oksigennya dengan metode Winkler.
1. Menyiapkan botol winkler dan dibersihkan
2. Mengmabil sampel air dalam wadah tanpa ikan
dengan cara nenasukkan supaya tidak ada
gelembung udara yang masuk.
3. Menutup botol winkler di dalam air dan kemudian
dibolak-balikkan botol sambil mengamati ada/
tidaknya gelembung udara
4. Mengukur kandungan oksigen di dalam botol
dengan metode Winkler (dianggap sebagai t1)
5. Mengambil sampel air dari dalam wadah yang
berisi ikan dengan cara yang sama kemudian
mengukur kandungan oksigennya (dianggap
sabagai t2)
6. Menghitung penggunaan oksigen oleh ikan dengan
rumus penggunaan oksigen
C. Pengukuran kandungan oksigen dengan metode
Winkler
1. Membuka botol winkler dan menambahkan 1
ml MnSO4 dengan gelas ukur secara hati-hati
supaya tidak timbul gelembung udara

D.

Menambahkan 1 ml alkali iodide dengan cara


yag sama
3. Menutup kembali botol Winkler dan
membolak-balikkan selama 5 menit
4. Membiarkan botol Winkler selama 10 menit
supaya terjadi pengikatan oksigen terlarut
dengan sempurna yang ditandai dengan
timbulnya endapan di dasar botol.
5. Menambahkan 1 ml H2SO4 pekat dengan cara
yang sama
6. Menutup kembali botol Winkler dan
membolak-balikkan hingga endapan larut dan
larutan menjadi berwarna kuning coklat.
7. Menuangkan larutan dari botol Winkler ke
dalam 1 uah Erlenmeyer 250 ml(duplo)
masing-masing sebanyak 150 ml.
8. Menambahkan 5 tetes amilum 1% ke dalam
kedua Erlenmeyer.
9. Menitrasi larutan di dalam kedua Erlenmeyer
dengan larutan Na2S2O3 hingga berwarna
bening serta mencatat volume larutan
Na2S2O3 yang digunakan.
10. Menjumlahkan volume total penggunaan
larutan Na2S2O3 lalu meghitung rata-ratanya.
11. Menghitung kadar oksigen pada t1 dengan
menggunakan rumus :
Kadar Oksigen / DO = Ax Nx8000
(vol botol winkler -4)/2
Keterangan :
A = volume rata-rata larutan Na2S2O3
N = nilai normalitas sebesar 0,1
Pengukuran kandungan oksigen dengan metode
mikro Winkler
1. Mengambil sampel air dari kedua wadah
menggunakan 2 syringe 10 mL (tanpa jarum)
hingga syringe berisi air dengan volume 10
mL, kemudian volume airnya dikurangi hingga
9,4 Ml, hindari adanya gelembung dalam
syringe.
2. Mengambil 0,2 Ml MnSO4 dengan syringe 1
mL kemudian masukkan ke dalam syringe 10
Ml. Sebelum memasukkan reagen ini, volume
dalam syringe ditambah 0,2 mL lagi agar
reagen yang ditamabahkan tidak tumpah.
Penambahan reagen dilakukan dengan hati-hati
sehingga tidak ada gelembung udara yang
masuk.
3. Mengambil 0,2 Ml alkali iodide dengan cara
yang sama, biarkan sejenak agar reagen dapat
mengikat oksigen dengan sempurna. Ditunggu
hingga terjadi endapan.
4. Menambahkan 0,2 mL H2SO4 pekat dengan
cara yang sama, biarkan hingga seluruh
endapan telah hilang

3
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014
5.

Dituangkan larutan ke dalam Erlenmeyer 50


Ml dengan hati-hati untuk menghindari adanya
gelembung
6. Ditambahkan 1 tetes amilum ke dalam larutan
menggunakan pipet tetes ke dalam Erlenmeyer
7. Menitrasi
larutan
dengan
Na2S2O3
menggunakan syringe 1 Ml dengan hati-hati
hingga warna larutan dalam Erlenmeyer
berunah menjadi bening, dicatat berapa mL
larutan Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi
8. Menghitung kadar oksigen (DO) dengan cara :
a. (Nilai Normalitas Na2S2O3) x 8 = a mg
oksigen tiap Ml Na2S2O3
b. A/ (9,4/1000) = b ppm (mg/L) oksigen
tiap Ml Na2S2O3
c. Kadar oksigen dalam sampel setara
dengan ((Ml Na2S2O3 yang digunakan
dalam titrasi) x b ) ppm (mg/L)
9. Kadar oksigen dalam wadah tanpa ikan
dianggap sebagai kadar oksigen pada waktu t1
sednagkan kadar oksigen dalam wadah degan
ikan dianggap sebagai kadar oksigen pada
waktu t2.
E. Pengukuran konsumsi oksigen pada jangkrik
1. Menimbang jangkrik (Gryllus sp.) sebanyak 5
ekor dan dicatat beratnya dalam gram
2. Kemudian botol respirometer diberi kapas
yang telah dicelup dalam larutan KOH 1%
3. Jangkrik dimasukkan ke dalam tabung
respirometer, kemudian sambungan antara
tabung respirometer dan pipa skala diolesi
dengan vaselin
4. Selanjutnya eosin disuntikkan ke dalam pipa
skala respirometer pada bagian ujungnya
menggunakan jarum suntik hingga skala 0 ml
serta disipakan stopwatch untuk menghitung
waktu yang dibutuhkan
5. Kemudian pergerakan eosin diamati dan
dicatat banyaknya volume udara yang
dikonsumsi berdasarkan pergerakan eosin
tersebut tiap menit
6. Konsumsi/penggunaan oksigen pada jangkrik
(Gryllus sp.) yang dikur dengan respirometer,
dapat dihitung dengan rumus :

III.

Disiapkan 2 wadah bersih (toples kaca) yang


digunakan untuk mengisi air denga volum yang sama
dimana yang satu akan diberi ikan dan yang lainnya
tidak. Dimasukkan ikan ke salah satu wadah sebagai
sampel uji makhluk hidup dalam menggunakan oksigen.
Dihindari adanya gelembung udara pada wadah karena
gelembung tersebut merupakan oksigen yang nantinya
akan ikut terhitung, maka hasil tidak dari awal.
Disiapkan botol winkler dan dibersihkan sebagai wadah
larutan untuk menguji penggunaan oksigen. Mengambil
sampel air dalam wadah tanpa ikan dengan memasukkan
seluruh botol Winkler ke dalam wadah, dibolak-balikkan
agar homogeny dan dipastikan tidak adanya gelembung
udara agar hasil perhitungannya reperesentatif. Diukur
kandungan
oksigen
dalam
botol
di
dalam
winkler(dianggap sebagai t1) dan diambil sampel air dari
dalam wadah yang berisi ikan yang merupakan t2.
Membuka botol winkler dan menambahkan 1 ml MnSO4
dengan gelas ukur secara hati-hati agar didapatkan
larutan dengan ukuran yang sesuai. MnSO4 digunakan
untuk mengikat O2.
Ditambahkan 1 ml alkali iodide untuk untuk
memberi suasana basa dan mengikat CO2(KOH) dan
membentuk iod sebagai indicator warna. Setelah itu,
botol ditutup dan dihomogenkan hingga terbentuk
gumpalan sempurna. Ion mangan yang ditambahkan
pada sampel mengikat oksigen dan terjadi endapan
MnO2. Gumpalan dibiarkan mengendap 5-10 menit.
bagian atas bening dan bagianbawah berupa endapan
berwarna coklat (apabila tidak mengandung O2 endapan
berwarna putih). Endapan coklat mengindikasikan masih
terdapatnya O2 [6].
Reaksi yang terjadi adalah: [6]

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengukuran Konsumsi Oksigen pada Ikan


Prinsip kerja metode Winkler adalah mengukur
laju konsumsi oksigenikan komet dengan menentukan
kadar oksigen yang terlarut dalam air dengantitrasi oleh
larutan thiosulfat (Na2S2O3(aq)) [5].

Gambar 1. Endapan setelah didiamkan 10 menit metode


makroWinkler

4
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014
Reaksi yang terjadi adalah : [6]

Gambar 2. Endapan setelah didiamkan 10 menit metode


mikroWinkler
Ditambahkan H2SO4 pekat untuk memberi
suasana asam. Setelah penambahan H2SO4, endapan
akan terlarut dan membentuk MnSO4. H2SO4
mengubah larutan coklat keruh menjadi coklat bening
atau lebih ke arah kuning.
Reaksinya sebagai berikut : [6]
Gambar 5. Larutan yang dititrasi sedikit demi sedikit
berubah menjadi bening

Gambar 6. Larutan yang telah menjadi bening


Gambar 3. Larutan berwarna kuning atau coklat metode
makrowinkler

Gambar 4. Larutan berwarna kuning atau coklat metode


mikrowinkler
Menuangkan larutan dari botol Winkler
masing-masing 150 ml untuk diuji pada masing-masing
sampel. Ditambahkan 5 tetes amilum 1% sebagai
indicator. Amilum untuk mendeteksi adanya amilum
dalam larutan dan sebagaiindikator yang merubah warna
larutan yang semula cokelat bening menjadibiru muda.
Lalu menitrasi larutan dengan Na2S2O3 sebagai larutan
titrasi.

Lalu dihitung dengan rumus Winkler untuk mengetahui


kadar oksigennya.
Pada metede mikro Winkler juga terdapat
perlakuan yang sama dengan makro Winkler hanya
berukuran lebih kecil dengan menggunakan srynge yang
biasa digunakan untuk mengukur kadar oksigen yang
digunakan pada hewan yang lebih kecil dari ikan. Pada
praktikum ini dihasilkan makro winkler dengan t1= 3,2
dan t2 = 1,22. Titrasi tanpa ikan yaitu 13 tetes dan titrasi
dengan ikan 3 tetes. Jadi bila dibandingkan, kadar
oksigen terlarut lebih besar pada sampel air yang diambil
dari wadah yang tidak terdapat ikan. Literatur
menunjukan yang berkaitan dengan laju konsumsi
oksigen, yaitu aktivitas. Dapat dilihat bahwa saat aktif
(ada aktivitas),oksigen yang dikonsumsi akan lebih besar
dibandingkansaat inaktif. Hal ini dikarenakan pada saat
aktif, sel-seltubuh memerlukan lebih banyak energi, dan
karena itu lebih banyak oksigen [7].
Pada metode mikro Winkler didapatkan t1 (tanpa
ikan) yaitu 8,51 dan t2 (dengan ikan) adalah 4,255.
Penggunaan oksigennya adalag 0,178. Sama seperti
metode makro winkler bahwa t1 akan lebih besar dari t2
dimana air yang berisi ikan kadar oksigennya akan turun
Karena oksigen digunakan oleh ikan beraktivitas.

5
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014
Oksigen sebagai bahan pernafasan di butuhkan
oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh sebab
itu, kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh
kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari
lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut dalam
perairan, tentu saja akan mempengaruhi fisiologi
respirasi ikan, dan hanya ikan yang memiliki sistem
respirasi yang sesuai dapat bertahan hidup [8].
B. Pengukuran Konsumsi Oksigen pada Jangkrik
Pertama-tama jangkrik ditimbang untuk
mengetahui rata-rata berat badan dari kelimanya agar
dapat digunakan untuk menghitung rumus pengggunaan
oksigen selanjtnya. Botol respirometer diberi KOH 1%
secukupnya pada kapas yang ada dalam motor.

Gambar 6. Jangkrik yang telah ditimbang, vaselin, dan


kapas yang ditetesi KOH 1%
Dalam percobaan ini digunakan Kristal KOH
yang berfungsi mengikat CO2 yang berada di dalam
tabung respirometer, sehingga pergerakan yang
disebabkan dari tinta eosin itu benar-benar karena
adanya konsumsi oksigen dari jangkrik yang berada
didalam tabung tersebut. Adapun reaksi yang
terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut:
[6]
Botol dipasang pada alat respirometer sambil diolesi
vaselin pada sambungan pipa dan botol agar rapat dan
tidak ada udara yang masuk dan keluar.
Larutan eosin berfungsi sebagai indikator
oksigen
yang
dihirup
oleh
organisme
(jangkrik) pada repirometer sederhana [9].
Larutan eosin selama percobaan selalu bergerak
mendekati botol respirometer
sederhana
karena
organisme dalam percobaan (jangkrik) dalam
respirometer dapat menghirup udara O2 melalui pipa
sederhana sehingga larutan eosin yang berwarna
dapat bergerak.

Gambar 7. Pengukuran kadar oksigen


menggunakan respirometer pada jangkrik
Hasil yang didapat pada praktikum ini adalah didapatkan
penggunaan oksigen pada jangkrik adalah 11,009
ml/gr.jam.
Prinsip kerja dari respirometer adalah
bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan ol
eh organisme ada karbondioksida yang dikeluarkan
olehnya [10]
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi
adalah:
1.
Jenis
kelaminJangkrik
jantan dan
jangkrik
betina memiliki kecepatanrespirasi yang berbeda [4].
2. KetinggianKetinggian mempengaruhi pernapasan.
Makin tinggidaratan, makin rendah O2, sehingga makin
sedikit O2 yangdapat dihirup serangga. Sebagai
akibatnya serangga padadaerah ketinggian memiliki laju
pernapasan yangmeningkat, juga kedalaman pernapasan
yang meningkat [4].
3. Ketersediaan Oksigen.Ketersediaan oksigen akan
mempengaruhi laju respirasi,namun besarnya pengaruh
tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan
berbeda antara organ padatumbuhan yang sama.
Fluktuasi normal kandungan oksigendi udara tidak
banyak
mempengaruhi
laju
respirasi
karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk
berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia
diudara [4].
4. Berat Tubuh
Hubungan
antara
berat
dengan
penggunaan
oksigen berbanding terbalik. Karena setiap makhluk hidu
pmembutuhkan O2 (Oksigen) dalam jumlah yang besar.
Melebihi dari Berat tubuh. Pada hasil di atas jelas
sekali bahwa ukuran tubuh mempegaruhi laju
pernapasan, semakinkecil ukuran dan berat tubuh maka
semakincepat pernapasannya. [4]

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini adalah kadar
oksigen pada air yang tidak diberi ikan lebih besar
dibandingkan dengan air yang diberi ikan. Hal ini
dibuktikan dengan nilai kadar DO pada metode
mikro Wikler yaitu t1 (air tidak berisi ikan) adalah
3,2 sedangkan t2 (air berisi ikan) adalah 1,22.
Begitupula pada metode mikroWinkler dengan t1 =
4,255 dan t2 = 0,178. Pada pengukuran kadar

6
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014
oksigen pada jangkrik didapatkan hasil 11,009
ml/gram.jam dimana ternyata makhluk hidup
membutuhkan oksigen dalam pernapasan dan
mengeluarkan karbondioksida.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Campbell, Neil. A. Campbell Biology Ninth Edition.
San Fransisco :Pearson Benjamin Cummings. 2011.
[2] Tobin, A.J. Asking About Life. Canada : Thomson
Brooks/Cole. 2005.
[3] Martini, Frederic. H. Fundmentals of Anatomy &
Physiology Ninth Edtion. San Fransisco : Pearson Benjamin
Cummings. 2012.
[4] Nagy, K. A. Field metabolic rate and body size. Journal of
Experimental Biology 208(9):1621-1625. 2005.
[5] Tsuzuki , M.Y., C.A Strussmann dan F. Takashima. Effect
of Salinity on theOxygen Consumption ofLarvae of the
Silvirsides
Odontesthes.
hatcheriandO. bonariensis (Osteichthyes, Atherinopsidae). Bra
zilianArchives ofBiology And Technology. Vol. 51 Nomor 3.
2008

[6] Wetzel, R. G and G. E. Likens. Lymnological Analyses,


Thirth Edition.Springer-Verlag : New York. 2000.
[7] Chang, Raymond. General Chemistry 9th. Mc.Graw Hill.
New York. 2007
[8] Fujaya, Y. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik
Perikanan. RinekCipta, Jakarta.2004.
[9] Yuwono,E. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi,UNSOED,
Purwokerto. 2001.
[10] Soegianto, A. Ekologi Perairan Tawar. Airlangga
University Press. Surabaya. 2010

LAMPIRAN
A. Penentuan Kosnumsi Oksigen Ikan Makro
Winkler
Titrasi Na2SO3, tanpa ikan 13 tetes = 13/20 =
0,65 ml.
Titrasi Na2SO3, dengan ikan 5 tetes = 5/20 =
0,25 ml
Berat ikan 23,4 gram
Kadar Oksigen = 0,65 x 0,1 x 8000
(330-4) / 2
T1= 3,2
Kadar Oksigen = 0,5x 0,1 x 8000
(330-4) / 2
T2 = 1,22
B. Penentuan Kosnumsi Oksigen Ikan Mikro
Winkler
NX8=a
a/ 9,4/1000 = b
0,1 x 8 = 0,8 0,8 x 1000/9,4 = 85,1
B = 85,1 ppm
Tanpa ikan 2 tetes = 0,1 ml
Kadar Oksigen = mL Na2S2O3 x b
= 0,1 x 85,1
= 8,51 ppm mg/L
Dengan ikan 1 tetes = 0,05 ml
Kadar Oksigen = Ml mL Na2S2O3 x b
= 0,05 X 85,1
= 4,255 PPM.MG/l
Penggunaan Oksigen = 8, 51- 4,255
1 x 23, 84
= 0,178 mg/L
C. Penggunaan Oksigen pada Jangkrik
Menit ke 1 = 0,1

Menit ke 2 = 0,18
Menit ke 3 = 0,24
Menit ke 4 = 0,31
Menit ke 5 =0,36
Waktu 5/60 =0,083
Rata-rata Berat 1,97/5 = 0,394 gr
Penggunaan Oksigen =

0,36
0,394x 0,083
0,36
0,0327
= 11,009 ml/gr.jam