Anda di halaman 1dari 10

Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

DAKWAH BIL HAL


(Suatu Pengalaman Dakwah Terhadap Golongan Remaja di
Indonesia)
Disampaikan dalam Seminar Dakwah Fakulti Usuluddin Akademi Islam Universiti
Malaya Kuala Lumpur tanggal 16-17 Julai 1994.

PENDAHULUAN
Sebelum kita membicarakan agama dan dakwah pada remaja, kiranya lebih baik
kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan remaja? Sekumpulan
pertanyaan yang kita ajukan terhadap remaja: Bagaimana dinamika jiwa remaja, apakah
problem-problem yang melanda bagi kehidupan remaja?

Tanpa mengetahui masalah-masalah tersebut, teramatlah sulit memahami sikap


dan tingkah laku para remaja. Berapa banyak keluhan yang berkepanjangan dari orang
tua. Bahkan bersedih hati, kecewa bercampur frustasi di mana faktor penyebabnya adalah
kerana anaknya yang telah remaja menjadi keras kepala, sukar diatur, mudah
tersinggung, sering membuat masalah dan bersifat melawan.

Bahkan ada orang tua remaja tersebut yang bingung atau panik memikirkan
kelakuan anak-anaknya yang telah remaja, seperti sering bertengkar, tingkah laku yang
menentang adat istiadat, budaya dan norma-norma ajaran agama.

Di samping itu, tidak sedikit pula jumlahnya remaja-remaja yang merasa tidak
mendapat tempat dalam masyarakat dewasa, bahkan di antara mereka ada yang merasa
sedih dan penuh penderitaan dalam hidupnya. Mereka merasa tidak dihargai dan merasa
tidak disayangi oleh orang tua, bahkan merasa diremeh dan direndahkan dirinya. Pada
fikirannya timbul problematika baru, mereka cuba mencari jalan sendiri untuk membela
dan mempertahankan harga dirinya, maka ditentangnya segala nilai yang dijunjung tinggi
oleh masyarakat mereka ingin hidup lepas, bebas nilai dan ikatan, maka di kota-kota
besar timbullah kelompok pemabuk, peradat, hippies dan lainnya. Segala persoalan dan
problematika yang terjadi pada remaja itu sebenarnya saling bertumpang tindih dan
berkaitan dengan usia yang mereka lalui dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh
lingkungan di mana mereka hidup.

Apabila seseorang remaja telah merasa dapat bertanggungjawab untuk dirinya


sendiri, mampu mempertanggungjawabkan setiap sepak terajang dan dapat menerima
falsafah hidup yang terdapat dalam masyarakat di mana ia hidup, maka waktu itu ia telah
dapat dikatakan dewasa.

Masalah yang dihadapi remaja di Indonesia, biasanya berhubungan dengan


kehidupan remaja itu dalam keluarga.

Bagi kita kaum muslimin sangat menarik untuk mengkaji dan sebagai rumusan
tujuan bina remaja yang berkualitas seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw dari Abu
Hurairah r.a:

Sabda Rasulullah saw: “Ada tujuh golongan manusia yang Allah akan menaungi
mereka di hari kiamat, dalam naungannya pada hari yang tiada naungan kecuali
naungannya iaitu pemimpin yang adil dan anak muda yang tumbuh atau menjadi dewasa
dalam keadaan selalu mengabdi kepada Allah swt dan seorang yang hatinya tergantung

1
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

di masjid dan dua orang yang kasih mengasihi mereka berkumpul kerana Allah dan
berpisah kerana Allah dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan
berpangkat atau bangsawan lagi cantik pula tetapi ia menolak dan berkata:
Sesungguhnya aku takut pada Allah dan seorang yang selalu ingat kepada Allah di kala
berkhalwat hingga kedua matanya mencucurkan air mata.”
-Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim-

DAKWAH DI KALANGAN REMAJA

Pembinaan remaja muslim yang berkualiti merupakan salah satu tugas


yang mutlak diperlukan dalam pembinaan umat muslim. Remaja mempunyai potensi yang
tinggi, merupakan modal yang tidak ternilai harganya untuk membentuk masyarakat yang
islami.

Sesungguhnya islam tidak akan membiarkan pemeluknya tertidur


seperti tertidurnya Ahli Kahfi sebab islam adalah agama yang dinamis, hidup dan bebas.

Berdasarkan konsep ini, maka akan terus bermunculan manusia


manusia yang mengadakan pembaharuan terhadap umatnya. Allah sentiasa mengutus
mujaddid baik secara individu, kelompok, institusi atau gerakan yang terkadang datang
dari kelompok alim ulamak, pendidik, panglima, pemimpin yang soleh atau khalifah yang
bijak yang akan membangunkan umat dari tidurnya dan menghidupkan generasi islam.

Kebangkitan menurut Dr. Qardhawi dalam bukunya ‘Humumu al


muslim al-mu’ashir’ berkata: “Kebangkitan ini merupakan kebangkitan akal, sekaligus
kebangkitan emosi, perasaan dan sikap perbuatan. Kebangkitan menjadikan umat Islam
mengenal dan menerima nilai-nilai berharga yang dibawa oleh Islam yang Hanif ”.

Sesungguhnya masa depan itu berada dibawah kekuasaan Allah,


dapat kita prediksikan, kemudian kita pastikan akan begini dan begitu. Berdasarkan
gejala-gejala yang muncul. Insya-Allah jika dakwah tetap berjalan sesuai dengan yang
digariskan Allah dan sunnah Rasulullah saw akan dapat menyingkirkan kendala yang
menghadangnya serta dapat memecahkan segala permasalahan yang meliputinya.

Seseorang tidak mungkin membendung dan melawan krisis akhlak dan


menyelesaikan masalahnya dengan kacamata Islam secara individual, sebab potensi
manusia kecil bila bercerai-berai dan akan besar jika berkelompok. Orang akan lemah
secara individual dan akan kuat secara kolektif.

Oleh kerana itu, meskipun Musa a.s adalah orang yang kuat, percaya,
amanah, masih berdoa ke hadrat Allah agar diberikan keteguhan dan kekuatan dengan
dibantu saudaranya Harun a.s.

1. ‫ كي نسبحك كثيرا ونذكرك كثيرا‬.‫ وأشركه في أمري‬.‫اشدد به أزري‬.‫هرون أخي‬

“Harun saudaraku, teguhkanlah dengan Dia kekuatanku dan jadikanlah


Dia sekutu dalam urusanku supaya kami banyak bertasbih kepada
Engkau dan banyak mengingati Engkau ”.
( Q.S.Thaha :30-34 )

Mencuba mengaitkan dakwah dengan masyarakat yang semakin moden tanpa


melakukan pemahaman dan penyegaran kembali pengertian dakwah akan membawa kita

2
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

kepada normative dan bahkan apologetik. Pemahaman dakwah selama ini, baik pada
tingkat akademik mahupun praktis lebih terpusat pada satu sisi atau dimensi sahaja, iaitu
dakwah sebagai penyampaian kebenaran dimensi kerisalahan semata. Padahal ada
dimensi lain yang Allah sendiri tegaskan dalam firman-Nya pada surah Al-Anbiya’ ayat
107:

"‫"وماأرسلنك إل رحمة للعلمين‬


“Tidak kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali untuk rahmat semesta alam”.
Disamping itu dakwah sering dikonorasikan pada pengertian tabligh dalam makna
sempit.

DUA DIMENSI BARU

Dimensi kerisalahan: Memahami dakwah dari Dimensi Kerisalahan (Al- Maidah 67


dan surah Al- Imran 104) bererti meneruskan tugas Rasulullah untuk menyeru agar
manusia lebih mengetahui secara benar, memahami menghayati (mengimani) dan
mengamalkan Islam sebagai pandangan hidup dan pedoman tingkah laku.

Oleh itu, dakwah yang dimaksudkan sebenarnya mengarah pada perubahan


perilaku manusia pada peringkat individu maupun kelompok ke arah perilaku yang
semakin Islami. Demensi kerisalahan dakwah, dengan demikian mencuba menubuhkan
kesedaran dari dalam individu atau masyarakat tentang kebenaran nilai dan pandangan
hidup Islam sehingga terjadi proses internalisasi nilai Islam sebagai intisari nilai hidupnya.
Dengan ungkapan lain, kegiatan dakwah bererti proses mengkomunikasikan atau
menentraksikan nilai-nilai Islami.

Melihat dakwah dari demensi kerisalahannya kita dapat simpulkan


bahawa:
1. Islam merupakan sumber nilai
2. .Dakwah merupakan proses alih nilai.

Dimensi Kerahmatan. Dengan melihat Firman Allah ( Anbiya, 107), maka kita akan
melihat dimensi kerahmatan dakwah, iaitu mengaktualisasikan atau merealisasikan Islam
sebagai Rahmat (dalam hidup sejahtera, bahagia dan sebagainya) bagi umat manusia,
manakala dalam dimensi kerisalahan dakwah lebih bercorak mengamalkan Islam secara
keseluruhan, maka dalam kerahmatan ini dakwah bererti mewujudkan Islam dalam
kehidupan dengan konsep kerahmatan ini memang dituntut bagi umat Islam (Da’ie) untuk
membuktikan validitas Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Dengan demikian dakwah
berupaya menyebarkan nilai-nilai normatif Islam (dalam Al-Quran dan Sunnah) dan
menjadi konsep kehidupan yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari- hari.

Menatap dakwah dari dimensi kerahmatannya dapat kita simpulkan bahawa:


1. Islam merupakan sumber konsep.
2. Dakwah sebagai operasionalisasi ajaran Islam (Aktualisasi
dan kebenaran mutlak Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin,
sebagai sumber konsep).

DAKWAH MULTIDIALOGIS

Untuk dapat berlangsungnya interaksi maka pesan dakwah harus dikemas sebaik
mungkin bagi mencakupi pelbagai aspek kehidupan manusia baik pada peringkat maupun
peringkat komunitas, dalam kaitan tersebut maka kegiatan dakwah merupakan aktiviti

3
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

yang bersifat multidialogi dan kerananya akan dikenal sebagai “Jalur” dialog dakwah
sesuai dengan pesan yang disampaikan.

Pada tingkat individu misalnya, dakwah berupa :


1. Dialog informasi( pengetahuan)
2. Dialog nilai
3. Dialog Ide, gagasan atau konsep
4. Dialog Estetik(seni budaya)
5. Dialog emaliah
6. Dialog aqidah dan spiritual dan
sebagainya.
Pada tingkat komunitas misalnya dakwah berupa :
1. Dialog ekonomi
2. Dialog sosial
3. Dialog budaya dan seterusnya.

Kalau kita mencuba melakukan “pemotretan” masyarakat di masa depan ada tiga
kecenderungan utama yang akan dan mulai terjadi dalam masyarakat secara langsung
mahupun tidak langsung akan mempengaruhi pada kegiatan dakwah Islamiah. Ketiga-tiga
kecenderungan di maksudkan ialah:
1. Loncatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iftek)
2 Proses ledakan informasi
3 Proses Globalisasi di berbagai aspek kehidupan

Ketiga-tiga hal tersebut saling kait mengait dan akan memberi perubahan wajah
masyarakat yang amat berbeza dengan keadaan sekarang. Perubahan tersebut oleh
sebahagian pakar bahkan dilukiskan sebagai suatu perubahan yang sangat cepat.
Perubahan yang kita hadapi, baik sebagai bangsa maupun umat Islam.

Tulisan ini hanya akan mengupas kecenderungan perubahan masyarakat secara


“ad-hock” terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang harus dihadapi oleh umat
Islam. Ketiga-tiga kecenderungan di atas akan merubah wajah masyarakat termasuk
umat Islam menjadi masyarakat yang mempunyai ciri-ciri berikut:

Pertama: Teknologisasi kehidupan, masyarakat teknologis adalah masyarakat


yang semua urusan dan kegiatan harus dikerjakan menurut tekniknya masing-masing
yang cenderung sudah baku (standernised) polar kehidupan yang teknologis membawa
konsekuensi nilai iaitu makin dominannya pertimbangan efisiensi, produktivitas (fizik) dan
yang sejenis yang umumnya menggambarkan suatu ciri-ciri materialistik. Pertanyaan yang
timbul dalam masyarakat teknologis? Interpretasi nilai agama yang bagaimana dapat kita
tawarkan masyarakat teknologis tersebut ? Inilah pertanyaan–pertanyaan “pekerjaan
rumah” bagi umat islam yang selama ini belum secara serius dikerjakan .

Kedua: Kecenderungan perilaku masyarakat yang makin “fungsional”. Yang


dimaksudkan masyarakat fungsional adalah masyarakat yang masing-masing warganya
sekadar menjalankan fungsinya dalam semua aspek kehidupan. Hubungan sosial hanya
terjadi kerana adanya kegunaan atau fungsi tersebut, ertinya hubungan antara manusia
lebih diwarnai oleh motif-motif kepentingan (fungsional) yang biasanya berkonotasi fisik
material. Dalam masyarakat yang demikian, nilai–nilai agama kurang mendapat (pasaran )
kerana dianggap tidak fungsional. Persoalan langsung bagi kita ialah bagaimana kita
dapat menyebarkan islam dan kemudian menawarkan ke tengah masyarakat sedemikian
rupa sehingga menjadi sesuatu yang “fungsional” yang dibutuhkan.

4
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

Ketiga: Masyarakat padat informasi. Dengan makin berkembangnya teknologi


informasi, maka masuknya masyarakat dalam era informasi merupakan hal yang tak
teralakkan. Ada beberapa hal yang berkenaan dengan masyarakat informasi ini, yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan dakwah Islamiah. Pertama, makin sentralnya
kedudukan informasi pada pelbagai aspek kehidupan. Informasi merupakan (komoditas)
atau “zodal” ekonomi, politik ataupun sosial. Mereka yang menguasai informasi bererti
kelompok yang “menguasai” kehidupan. Hal yang demikian juga bersangkutan dengan
bidang dakwah. Konsekuensi yang perlu kita fikirkan ialah makin pentingnya kedudukan
“dialog informasi” sebagai salah satu bentuk dakwah dengan pensyarikatan. Kedua,
masuknya era informasi bererti makin mudahnya berbagai tata nilai dan budaya asing
memasuki masyarakat kita. Kecenderungan yang ada ialah makin berkembangnya tata
materialistik, hedonistik, rasionalistik, sekularistik dan sebagainya, yang pada hakikatnya
merupakan permasalahan dakwah yang harus dihadapi.

Keempat: Kehidupan yang makin sistamik dan terbuka. Salah satu ciri masyarakat
moden ialah sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem dinamika. Kehidupan sosial kita
diatur oleh sistem, bukan diatur oleh orang lain Selanjutnya sistem yang mengatur
tersebut tidak hanya bersifat lokal, nasional atau regional, akan tetapi juga bersifat global.
Dalam masyarakat yang demikian, maka masyarakat di pelbagai negara menjadi suatu
masyarakat yang “terbuka” terhadap pengaruh luar dari mana pun. Di masa mendatang,
pelbagai kekuatan asing (baik kekuatan sosial, politik, ekonomi, teknologi, maupun
budaya) akan ikut menentukan bagaimana dinamika masyarakat kita berlangsung.

Kelima: Individualisasi kehidupan beragama. Dalam konsep modenisasi tersebut


memang agama tidak menduduki lagi peranan yang layak atau bahkan tersisih. Kalaupun
agama dilakukan, semata-mata masalah individu belaka, agama dipandang hanya
menyangkut masalah ruhaniah (transcendental) saja, sedang terhadap kehidupan
menyangkut sehari-hari agama tidak lagi mempunyai kompetan untuk mengatur.

MODEL DAKWAH DI KALANGAN REMAJA DI INDONESIA

Titik sentral upaya kebangkitan ruhil Islam adalah kebangkitan para pemuda.
Sebab pemuda-pemudilah sebagai tunggak atas tiang yang sangat diperlukan untuk
mendekati mereka para pemikir atau berdialog dengan mereka secara kebapakan, tidak
menyaingi mereka dan tidak selalu mencurigai mereka. Pemuda mukmin dan mukminah
merupakan potensi termahal dalam ummah. Mereka adalah kekayaan ummah. Oleh
sebab itu kita memberi sepenuh perhatian kepadanya kerana apabila perlekehkan mereka
maka dengan siapa lagi mereka membangun dan memajukan agama dan umat?

Bila anak sering dikritik, dia belajar mengumpat


Bila anak sering dikasari, dia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, dia belajar pemalu
Bila anak sering dipermalukan, dia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, dia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disayangi, dia belajarmenghargai
Bila anak diterima dan diakrabi, dia akan menemui cinta.

Ungkapan puitis ini sangat menarik untuk direnungi bersama yang diutarakan oleh
pakar pendidik kanak-kanak dalam buku (children learn what oney live).

5
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

Sikap orang tua atau ibu bapa yang terbaik adalah sebagaimana yang dirakamkan
dalam kitab sucinya:

‫"ياأيها الذين أمنوا إن من أزواجكم وأولدكم عدوالكم‬: ‫قال الله تعالى‬


‫فاحذروهم وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا‬
."‫فإن الله غفور رحيم‬

Maksudnya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan


anak-anakmu menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah, dan jika kamu memaafkan
dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”
(surah 64: ayat 14)

Berupaya untuk membentuk keluarga bahagia dan konsep anak soleh, berupaya ke
arah ini untuk kita telusuri ajaran yang terkandung kira-kira empat puluh tanggungjawab
orang tua, masyarakat dan lembaga pendidikan islam demi untuk kesejahteraan lahiriah
dan batiniah anak-anak atau remaja yang dimulai dari mencari jalan yang baik untuk
menanam bibit unggul atau terpilih yang sesuai untuk pertumbuhannya (HR. Ibnu Majah,
Daruquthni dan Al Hakim) sampai kepada wasiat terakhir untuk si anak.

Al-Quran dan Sunnah telah menjelaskan materi-materi pokok yang harus


ditanamkan, dilatih dan dibiasakan serta diajarkan, dididik kepada anak-anak:

• Memilih calon jodoh yang baik


• Cari calon jodoh yang jauh pertalian darah
• Utamakan yang perawan
• Fungsi anak
• Berdoa waktu berjima’
• Sikap menyambut bayi perempuan
• Bergembira menyambut kelahiran anak
• Memberi nama yang baik
• Mengaqiqah
• Menyusui
• Mengkhitankan
• Menberi nafkah
• Lemah lembut dan kasih sayang
• Menanamkan rasa cinta sesama anak
• Memenuhi janji pada anak
• Tidak mengurangi hak anak
• Mendidik akhlak
• Menanamkan aqidah
• Melatih ibadah solat
• Berlatih adil
• Memisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan
• Memerhati teman pergaulannya
• Mengajarkan Al- Quran
• Mengajarkan suruhan dan larangan Allah
• Menjauhkan anak-anak bermewah-mewah
• Memerhatikan tiga waktu aurah
• Mengajarkan olahraga

6
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

• Menghormati anak
• Menghibur keluarga
• Mencegah pergaulan bebas
• Menyuruh berpakaian taqwa
• Menjauhkan anak daripada bersikap buruk
• Menempatkan anak-anak pada suasana yang baik
• Memperkenalkan kaum kerabat kepada anak-anak
• Mendidik berjiran dan bermasyarakat
• Membantu anak untuk berkahwin
• Bersabar ketika anak mendapat musibah
• Mendidik anak menyayangi binatang
• Menyuruh anak menegakkan amar makruf nahi mungkar
• Mewasiatkan agama pada anak

Selanjutnya dalam makalah ini sekelumit saya sampaikan model dakwah bina
remaja di Indonesia, baik pengalaman di lapangan mahu pun ditangani langsung oleh
lembaga-lembaga dakwah atau pun perguruan tinggi baik negeri mahu pun partikelir
(swasta):

A Dakwah remaja melalui jalur perguruan tinggi

Kami selaku dosen agama islam fakultas sastera dan kebudayaan Universitas
Gajah Mada setiap tahun ajaran baru atau penerimaan mana-mana siswi baru; mereka
didata biografinya secara terperinci; latar belakang orang tua, pengalaman keagamaan
“sudah melaksanakan ibadah atau belum”, kemudian dapat atau tidak membaca al-quran.

Dalam perkuliahan Agama Islam mereka dididik dan ditarbiyah sedemikian rupa
dan diberi paket-paket dakwah yang memuat komponen-komponen ajaran Islam seperti
(Akidah Islamiah, Syariah, Ibadat dan muamalah ).

Kuliah-kuliah bersifat kumulatif dalam memberikan nilai: mereka wajib


melaksanakan:
1. Hadir minimal 75% tatap muka.
2. Resensi buku atau bedah buku karangan pakar Islam kaliber Internasional dalam
pelbagai judul.
3. Membuat makalah untuk seminar berkelompok, minimal 3 orang atau lebih untuk
membahas topik-topik pilihan (semua mahasiswa wajib membuat makalah dan hadir
pada waktu yang ditetapkan).
4. Masing-masing membuat klipping / guntingan koran / majalah dijilid dengan rapi
yang isinya menarik, memuat masalah aktual baik tentang Islam, teknologi
kebudayaan, kesihatan dsb.
5. Mereka wajib bersedekah setiap akhir / tutup kuliah bersama-sama bakti sosial ke
desa-desa dengan membawa tikar, lampu petromak, buku keIslaman dalam
pelbagai judul untuk disumbangkan ke masjid–masjid yang miskin dan tidak jarang
daripada yang terkumpul, dibelikan batu bata / lantai untuk masjid yang belum
selesai pembangunannya. Puncak pertemuan di masjid adalah menyelenggarakan
“Pengajian akhbar” bersama-sama Ahlul bait dan masyarakat sekitarnya.
6. Kemudian kuliah-kuliah agama Islam setiap minggu tiga hari wajib
mengikuti pagi sore hari kuliah asistan agama Islam yang materinya
antara lain belajar membaca Al-Quran, praktik solat, Fuqhunnisa
(Khusus Akhawat) pengalaman aqidah.

7
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

7. Diskusi pannal ditunjuk / dipilih mahasiswa yang dedikasi dan


intelektualnya tinggi membuat majalah–majalah ilmiah seperti: Konsep
Islamiah Ilmu Pengetahuan, Pandangan islam terhadap sekularisma,
Seni dalam pandangan Islam, Agenda permasalah umat dan
sebagainya.
.
B Dakwah Remaja melalui masjid

Masjid Kampung dan masjid Kampus berperanan sedemikian rupa dan para
remaja terlibat sepenuhnya, baik selaku takmir maupun saksi– saksi yang dibuat dalam
Organisasi Kemasjidan. Program-program dakwah yang ditawarkan untuk membina
remaja Iman dan Islam dengan melakukan kegiatan–kegiatan:

1 Melakukan peringatan–peringatan Hari Besar Islam di masjid seperti Peringatan


Maulidur Nabi saw, Peringatan I Muharam (Tahun baru hijrah ), Peringatan Nuzulul
Quran, Peringatan berdirinya masjid dan setiap hari raya masing–masing masjid di
Indonesia menyelenggarakan ceramah umum dan upacara rasmi bersalaman dan
saling maaf-memaafkan dengan istilah halal bi halal.

2 Lembaga-lembaga masjid atau organisasi remaja masjid pada tingkat kecamatan,


kabupatan dan propinsi terbentuk dalam rangka kerjasama dakwah dan sosial
kemasyarakatan.
3 Training-training yang diikuti remaja masjid dengan bobot materi penataran atau
latihan dimaksud berkisar sekitar:

1. Management masjid dan Management dakwah.


2. Metodologi dan strategi dakwah dalam menghadapi sosial.
3. Retorika dakwah dan kursus ketrampilan .
4. Sirah nabawiyah .
5. Aqidah Islamiah .
6. Psikologi Dakwah dan Public Relation.
7. Ukhuwwah Islamiah.
8. Hikmah dan tujuan pernikahan
9. Problematika dunia Islam .
10.Praktik-praktik dakwah, diskusi, sembahyang malam, menghafal
ayat- ayat pilihan.
11.Survel lapangan dan pembuatan program.

C Pendekatan Dakwah secara umum

Upaya memupuk, membina dan memelihara keimanan remaja di Indonesia, model-


model pendekatan yang terbaru telah dilakukan baik melalui jalur dakwah informasi
maupun semi pendidikan formal seperti;

1. Mendirikan Pusat Kajian Islam yang diterima oleh para mahasiswa, pendidikan
selama dua tahun dengan diberi nama Ma’had Islamy, pesentrena/ pondok
Mahasiswa, masing-masing bertempat di masjid dan 1 buah sudah mempunyai
gedung ( Aji Mahasiswa), peminatnya tidak bisa ditampung maka terpaksa
diseleksi, yang mengikuti mahasiswa yang merengkuh kuliah dari perguruan tinggi
umum seperti Fakulti Kedoktoran, Teknik, Sospel, Ekonomi, Sasdaya dsb.
2. Bina remaja khusus dipilih mahasiswa yang nilai indeknya prestasinya minima 3
(tiga), ditampung atau bertempat tinggal diasrama atau kompleks: dan mereka

8
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

diberi pengajian wajib seperti tafsir, hadith, fiqh tauhid dan kapita selekta serta
mendatang pakar- pakar dari pelbagai disiplin ilmu. Diharapkan mereka para
sarjana yang telah selesai nantinya mengembangkan wawasan keIslaman(Dakwah
Islamiyah): usaha lain untuk memadukan pakar sains dan Islam tidak terjadi
konflik, mereka wajib memperjuangkan agamanya menurut disiplin ilmunya masing-
masing.
3. Membentuk Lembaga Kerpa Mubaligh Pedesaan ditangani remaja.

Hampir setiap Perguruan Tinggi Umum maupun Agama para


mahasiswa mempunyai lokasi khusus yang diberi nama “Desa Bina “ ertinya satu
kaluharan (kenegeriaan, dibantu dalam wujud dakwah bil qalam, bil hal dan bil khitabah),
juga pada acara hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha dakwah remaja bersama-sama ke desa
bina memberikan zakat fitrah dan ternak korban untuk fuqara’ dan masa kini.

Pendekatan remaja /umum secara retorika dapat dikemukakan bahawa setiap idea
atau gagasan, konsepsi yang dibicarakan di hadapan umum (massa), dianggap mencapai
hasil yang dinilai sukses, manakala Audiensinya:

• Telah merasa seperti yang dibicarakan oleh pembicara.


• Telah berfikir dengan cara dan seperti pemikiran pembicara.
• Telah dapat memahami atau mengerti dengan baik isi pesan ( Idea) oleh pembicara
(Orator).
• Telah sefaham atau sependapat dan mendukung isi pesan yang disampaikan.
• Telah yakin akan kebenaran idea yang dikemukakan oleh si pembicara.
• Telah bertindak mengamalkan isi pesan yang dimaksudkan.
• Dan telah bersedia berjuang dan berkorban untuk membela dan mempertahankan
kebenaran isi pesan (massage) yang diungkapkan oleh pembicara.

KESIMPULAN

Pendekatan dakwah di kalangan remaja memakai method multi dimensional, baik


melalui kajian-kajian intensif, melalui latihan kepimpinan dengan menyerahkan tugas
tertentu, melalui media massa, tulisan ataupun uswatun hasanah. Mungkin perlu diuji cuba
sebuah pilut projek Islamic Center yang dikelola sepenuhnya oleh remaja yang serba
lengkap dengan fasilitas:

1. Ladoratorium.
2. Laboraronium.
3. Masjid.
4. Taman bacaan/ perpustakaan.
5. Radio ( Pemacar Radio Dakwah Remaja ).
6. Ruang diskusi atau seminar.
7. Pesantren seleksi bibit dari propinsi, Madrasah atau sekolah umum ( mereka
dididik, dilatih dan dikader.
8. Perkebunan ataupun persenian perantohan.
9. Tempat latihan teknik terpakai.
10. Tempat Diklat (pendididikan latihan) berjanjan tingkat awal / menengah dan
tinggi seperti latihan kepimpinan, karya tulisan ilmiah keagamaan dan para
dai’e atau (du’at ).

9
Projek Pustaka Alaf Azhari Manhal PMRAM

11. Komputerisasi dan pemetaan Dakwah terlengkap yang memuatkan data


kependudukan, pemeluk agama, lembaga – lembaga dakwah, jumlah
masjid, mubaligh yatim piatu, fuqarak dan masakin, data desa tertinggal,
jumlah remaja yang bersekolah, data kegiatan remaja Islam, tinggat
pendidikan mahupun data pengnagguran dsb.

Demikianlah secercah tulisan yang mungkin kurang sempurna yang


dapat disajikan kepada para hadirin yang amat mulia ini, semoga dapat memberikan ilmu
yang bermanfaat.

WABILLAHITTAUFIQ WAL HIDAYAH


WALLAHUL MUAFIQ ILA AQWAAMITHTHAARIQ
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.
Oleh : RMA.HANAFIAH ACHMAD

10