Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TOKSIKOLOGI
ANTELMINTIK

Disusun oleh :
Desty Putri N.K

17113137A

Yahya Febrianto

17113139A

Maria Handayani

17113126A

Efren P Nahak

17113122A

S-1 FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
2013

1.

Tujuan
Dapat merancang dan melakukan eksperimen sederhana untuk menguji aktivitas
antelmintik (anti cacing) suatu bahan uji secara in vitro.
Dapat menjelaskan perbedaan paralisis spastic dan flasid yang terjadi pada cacing
setelah kontak dengan antelmintik (anti cacing)

2.

Pendahuluan
Antelmintik atau obat cacing adalah obat-obat yang dapat memusnahkan
cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Yang tercakup dalam istilah ini adalah
semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obatobat sistemis yang membasmi cacing maupun larvanya yang menghinggapi organ
dan jaringan tubuh.
Banyak antelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing,
jadi tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi
atau sisasisa cacing mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus
dikeluarkan secepat mungkin (Tjay dan Rahardja, 2002:185)
Contoh zat aktif antelmintik yang lazim digunakan, diantaranya:
1. Piperazin
Efektif terhadap A.lumbricoides dan E.vermicularis. Mekanisme kerjanya
menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin _ paralisis dan
cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus. Absorpsi melalui saluran cerna,
ekskresi melalui urine. (Anonim.2010)
Piperazin pertama kali digunakan sebagai antelmintik oleh Fayard (1949).
Pengalaman klinik menunjukkan bahwa piperazin efektif sekali terhadap A.
lumbricoides dan E. vermicularis sebelumnya pernah dipakai untuk penyakit pirai.
Piperazin juga terdapat sebagai heksahidrat yang mengandung 44% basa. Juga
didapat sebagai garam sitrat, kalsium edetat dan tartrat. Garam-garam ini bersifat
stabil non higroskopis, berupa kristal putih yang sangat larut dalam air,
larutannnya bersifat sedikit asam. (Anonim.A)

a. Efek antelmintik

Piperazin menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap


asetilkolin sehinggga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh
peristaltik usus. Cacing biasanya keluar 1-3 hari setelah pengobatan dan tidak
diperlukan pencahar untuk mengeluarkan cacing itu. Cacing yang telah
terkena obat dapat menjadi normal kembali bila ditaruh dalam larutan garam
faal pada suhu 37C. (Anonim.A)
Diduga cara kerja piperazin pada otot cacing dengan mengganggu
permeabilitas

membran

sel

terhadap

ion-ion

yang

berperan

dalam

mempertahankan potensial istirahat, sehingga menyebabkan hiperpolarisasi


dan supresi impuls spontan, disertai paralisis. (Anonim.A)
Pada suatu studi yang dilakukan terhadap sukarelawan yang diberi
piperazin ternyata dalam urin dan lambungnya ditemukan suatu derivat
nitrosamine yakni N-monistrosopiperazine dan arti klinis dari penemuan ini
belum diketahui. (Anonim.A)
b. Farmakokinetik
Penyerapan piperazin melalui saluran cerna, baik. Sebagian obat yang
diserap mengalami metabolisme, sisanya diekskresi melalui urin. Menurut,
Rogers (1958) tidak ada perbedaan yang berarti antara garam sitrat, fosfat dan
adipat dalam kecepatan ekskresinya melalui urin. Tetapi ditemukan variasi
yang besar pada kecepatan ekskresi antar individu. Yang diekskresi lewat urin
sebanyak 20% dan dalam bentuk utuh. Obat yang diekskresi lewat urin ini
berlangsung selama 24 jam. (Anonim.A)
c. Efek nonterapi dan kontraindikasi
Piperazin memiliki batas keamanan yang lebar. Pada dosis terapi
umumnya tidak menyebabkan efek samping, kecuali kadang-kadang nausea,
vomitus, diare, dan alergi. Pemberian i.v menyebabkan penurunan tekanan
darah selintas. Dosis letal menyebabkan konvulsi dan depresi pernapasan.
Pada takar lajak atau pada akumulasi obat karena gangguan faal ginjal dapat
terjadi inkoordinasi otot, atau kelemahan otot, vertigo, kesulitan bicara,
bingung yang akan hilang setelah pengobatan dihentikan. Piperazin dapat
memperkuat efek kejang pada penderita epilepsi. Karena itu piperazin tidak
boleh diberikan pada penderita epilepsi dan gangguan hati dan ginjal.
Pemberian obat ini pada penderita malnutrisi dan anemia berat, perlu
mendapatkan pengawasan ekstra. Karena piperazin menghasilkan nitrosamin,

penggunaannya untuk wanita hamil hanya kalau benar-benar perlu atau kalau
tak tersedia obat alternatif. (Anonim.A)
d. Sediaan dan posologi
Piperazin sitrat tersedia dalam bentuk tablet 250 mg dan sirop 500
mg/ml, sedangkan piperazin tartrat dalam tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis
dewasa pada askariasis adalah 3,5 g sekali sehari. Dosis pada anak 75
mg/kgBB (maksimum 3,5 g) sekali sehari. Obat diberikan 2 hari berturutturut. Untuk cacing kremi (enterobiasis) dosis dewasa dan anak adalah 65
mg/kgBB (maksimum 2,5 g) sekali sehari selama 7 hari. Terapi hendaknya
diulangi sesudah 1-2 minggu. (Anonim.A)
2. Pirantel Pamoat
Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme
kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi
imfuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik,
ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. (Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing
tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan
perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk
kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh
akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan
segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay
dan Rhardja, 2002:193)
Resorpsinya dari usus ringan kira kira 50% diekskresikan dalam
keadaan utuh bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui
urin. Efek sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran
cerna dan kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap
cacing kremi dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak 2
tablet sesuai usia (10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel
pamoat 10mg/kg Bb (ISO, 2009 : 81).

3.
Alat

Alat dan bahan


Bahan

4.

Cawan petri(diameter 20 cm)


Batang pengaduk kaca
Gelas ukur
Pinset
Sarung tangan
Thermometer
Incubator
Pinset
Labu takar
Lampu duduk
Tangas air

Aquades
Ekstrak uji
piperazin sitrat
NaCl 0.9% b/v

Prosedur

1. Cawan petri disiapkan, masing-masing berisi ekstrak dan larutan piperazin sitrat
sesuai konsentrasi masing-masing serta larutan Nacl 0,9% yang telah dihangatkan
terlebih dahulu pada suhu 3700C.
2. Cacing Ascariasisyang masih aktif bergerak (normal) sebanyak 8 ekor dimasukkan ke
dalam masing-masing cawan petri, kemudian diinkubasi pada suhu 3700C.
3. Untuk melihat apakah cacing mati, paralisis, atau masih normal setelah diinkubasi,
cacing diusik dengan batang pengaduk. Jika cacing diam, pindahkan ke dalam air
panas dengan suhu 500C, apabila dengan cara ini cacing tetap diam berarti cacing
tersebut telah mati, tetapi jika bergerak maka cacing itu hanya paralisis.
4. Hasil yang diperoleh dicatat.\
Batasan mati dalam percobaan ini adalah cacing tidak bergerak bila dimasukkan ke
dalam air panas dengan suhu 500C

Penentuan LC50
Menentukan nilai probit berdasarkan presentasi kematian larva melalui
table konversi probit. Buat kurva hubungan log konsentrasi vs probit

berdasarkan persamaan; y=a+bx, dimana x: log LC 50, y;nilai probit


pada 50%,yaitu 5. Hitung nilai LC50 sampel.
Menggunakan rumus m=a-b(pi-0,5) yang dimana:
m : log LC50
a : log dosis terendah yang masih memberikan respon 100%
b : beda log dosis berurutan
pi: jumlah hewan uji yang mati/jumlah total hewan uji

DATA PERCOBAAN

PENGENCERAN UNTUK PREPARASI SAMPEL

TABEL UJI

PERHITUNGAN DATA

5. Pembahasaan
Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat adalah
aktivitas pirantel pamoat juga piperazin sitrat sebagai obat antelmintik yang
bekerja dalam mempengaruhi sistem saraf dari cacing yang akan diamati efeknya.
Pada prosedur awal, cacing yang digunakannya haruslah berupa cacing pita
babi (Ascaris suum) jantan dan betina, namun karena keterbatasan sumber daya,
maka diganti oleh cacing tanah (Lumbricoides terrestris), hal ini dapat dilakukan
karena yang akan diamati oleh pengamat adalah aktivitas piperazin sitrat dan

pirantel pamoat terhadap aktivitas sistem saraf pusat, jadi dapat digantikan oleh
jenis cacing lain, dan yang lebih memudahkannya adalah bila menggunakan
cacing tanah tidak diperlukan dua jenis cacing dari jenis kelamin yang berbeda,
karena cacing tanah merupakan cacing berkelamin ganda (hemaprodit).
Pada awal praktikum, sebelum semua prosedur dilakukan seharusnya cacing
diaktifkan terlebih dulu pada suhu 37oC, karena cacing pita babi hidup didalam
perut babi dengan keadaan sistem bersuhu 37oC. Sedangkan setelah diganti
dengan cacing tanah, hal tersebut tidak perlu dilakukan, karena cacing tanah sudah
aktif pada suhu ruangan ( 25oC).
Setelah cacing aktif, maka yang perlu dilakukan adalah menyiapkan sediaan
uji, yaitu berupa pirantel pamoat, piperazin sitrat juga sediaan kontrol berupa
NaCl fisiologis. Pada praktikum yang lalu kelompok kami hanya mengamati efek
piperazin sitrat saja dengan dua dosis berbeda, dosis satu sebanyak 1,5 ml dan
dosis dua sebanyak 2,5 ml, selain itu disiapkan air panas bersuhu 50 oC sebagai
sarana uji penentuan sifat paralisis yang akan terjadi karena aktivitas obat
antelmintik yang diberikan.
Cacing yang sudah aktif diletakan pada dua cawan petri yang berbeda, cawan
petri yang pertama untuk dosis satu sebanyak 1,5 ml, dan cawan petri yang kedua
untuk dosis dua sebanyak 2,5 ml. Setelah pemberian piperazin sitrat, cacing
diamati dengan waktu maksimal 120 menit dengan jarak pengamatan, 15 menit
sekali.
Pada 15 menit pertama, pada cacing yang diberikan dosis satu belum
memberikan aktifitas yang signifikan, maka oleh dari itu dapat dikatagorikan
sebagai normal, sedangkan pada cacing yang diberikan dosis dua, memberikan
efek cacing yang diam tidak bergerak. Untuk memastikan cacing tersebut, hidup,
paralisis atau mati, dapat dilakukan dengan menempatkan cacing tersebut ke
dalam air yang sudah dipanaskan. Dan setelah hal itu dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa cacing yang diberikan dosis dua mengalami paralisis flasid,
karena ia masih mampu bergerak dalam air yang dipanaskan, namun ketika
diangkat darinya, cacing tersebut diam kembali. Pengamat tidak menyimpulkan
bahwa cacing tersebut bukan mengalami paralisis spastik, karena bentuk cacing
yang lemas.
Pada 15 menit kedua, atau t= 30 menit, didapat hasil berupa cacing yang
diberikan dosis satu memberikan efek paralisis flasid, karena mengalami ciri-ciri
sesuai dengan cacing dosis dua pada 15 menit pertama. Sedangkan untuk cacing

dosis dua, pada t= 30 menit ini mengalami kematian, karena tidak meberikan
aktivitas apapun setelah dimasukan ke dalam air panas.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa piperazin sitrat memberikan efek paralisis
flasid karena mempunyai mekanisme kerja berupa penghambatan sinyal yang
akan menempel pada reseptor asetilkolin, maka cacing tersebut bentuknya lemas
atau flasid. Dan akan memberikan efek kematian seiring dengan dinaikkannya
dosis.

Daftar pustaka
Anonim.A.http://puputo.blogspot.com/2008/12/farkol-antelmintik.html
Anonim.B.http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/11/mengenal-seluk-beluk-phylumannelida/
Anonim.2010. http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/antelmintik.pdf
Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo,
Jakarta
Kasim, Fauzi, dkk.,2009, ISO Indonesia, volume 44, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia,
Jakarta