Anda di halaman 1dari 7

TENGGELAM

Adalah kematian akibat perendaman dalam cairan dan termasuk jenis mati lemas
(asfiksia) oleh karena jalan napas terhalang air / cairan, yang terhisap masuk ke jalan napas
sampai ke alveoli paru-paru.

Jenis mati tenggelam berdasarkan posisinya

Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk
ke dalam air, seperti bagian kepala mayat.

Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke
dalam air.

Jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya

Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air

Spasme laring (menimbulkan asfiksia).


Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.

Wet drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air.


Asfiksia.
Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar.
Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut)
Mekanisme kematian pada korban tenggelam yaitu dapat meliputi asfiksia akibat spasme

laring, asfiksia karena gagging dan choking, refleks vagal, fibrilasi ventrikel (dalam air tawar)
dan edema pulmoner (dalam air asin).
Proses kejadian pada tenggelam :
-

Berat jenis tubuh lebih besar dibandingkan air sehingga mayat tenggelam. Setelah 2-3
hari proses pembentukan terbentuk gas, maka mayat akan terapung

Kemudian proses pembusukan terus berjalan hingga 1 minggu, perut akan meletus dan
mayat akan tenggelam kembali

Tenggelam di air tawar


Pada keadaan ini terjadi absorbsi cairan yang masif karena konsentrasi elektrolit
dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah, makan akan terjadi
hemodilusi darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan
pecahnya sel darah merah.
Akibat pengenceran darah yang tejadi, tubuh mencoba mengompensasi dengan
melepaskan ion kalium dari serabut otot jantung sehingga kadar ion kalium dalam plasma
meningkat, terjadi perubahan keseimbangan ion kalium dan kalsium dalam serabut otot
jantung dapat mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah,
yang kemudian menyebabkan timbulnya kematian akibat anoksia otak. Kematian terjadi
dalam waktu 5 menit.

Tenggelam di air asin (hipertonik)


Konsentrasi elektrolit cairan air asin lebih tinggi daripada dalam darah, sehingga
air akan ditarik dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstisial paru yang akan
menimbulkan edema pulmoner, hemokonsentrasi, hipovolemi dan kenaikan kadar
magnesium dalam darah. Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi lambat
dan menyebabkan terjadinya payah jantung. Kematian terajadi kira-kira dalam waktu 8-9
menit setelah tenggelam.

Pemeriksaan luar yang dilakukan pada korban tenggelam akan ditemukan :

Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah.

Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna merah
muda.

Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer woman's
hands/feet).

Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan, paha dan bahu mayat.

Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang bersifat
melekat.

Bila mayat kita miringkan, cairan akan keluar dari mulut / hidung.

Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam
genggaman tangan mayat

Pemeriksaan dalam pada korban tenggelam akan ditemukan :

Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.

Saluran napas mayat berisi buih. Kadang-kadang berisi lumpur, pasir, atau rumput air.

Lambung mayat berisi banyak cairan.

Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli.

Organ dalam mayat mengalami kongesti.

Tanda intravitalitas pada korban tenggelam adalah sebagai berikut :

Cadaveric spasme.

Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.

Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran
pencernaan dan saluran pernapasan mayat.

Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat.

Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri.

Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat.

Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus mati
tenggelam (drowning), dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka
lecet pada belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung kaki mayat.

Pemeriksaan khusus yang dilakukan pada korban tenggelam adalah sebagai berikut:

Percobaan Paru (lonsef proef)


Kegunaannya untuk mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan, telur cacing)
dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus
segar / belum membusuk.
Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru
dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris

permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus
sedikit mengandung eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal,
persegi dan lebih besar dari eritrosit. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir,
tanaman air dan telur cacing.
Hasil percobaan getah paru dan interpretasinya adalah :

Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.


Korban mati karena tenggelam

Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain.


Korban mati karena tenggelam
Korban mati karena sebab lain

Hasilnya negatif.
Korban mati dahulu sebelum tenggelam
Korban tenggelam dalam air jernih
Korban mati karena vagal reflex

Pemeriksaan Diatome
Untuk mencari ada tidaknya diatome dalam paru-paru mayat. Diatome merupakan
ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Syaratnya paru-paru harus
masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru, dan
jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.
Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian
perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4.
Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna
hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan
hitam. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek

gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi


dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel.
Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronik. Untuk hepar
atau lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari
penyerapan abnnormal gastrointestinal.

Penentuan Berat Jenis Plasma


Bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya
hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059
(1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut 1,065.
Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat
jenisnya.

Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test)


Bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan kalium.
Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung
Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan
kadar K meningkat dalam plasma.
Korban yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih tinggi pada
jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit
meningkat dalam plasma.

Percobaan Histopatologi
Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di
sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot

PERBEDAAN MATI TENGGELAN DI AIR LAUT DAN AIR TAWAR


Air laut

Air Tawar

Paru paru besar dan berat

Paru-paru besar dan ringan

Basah

Relatif ringan

Bentuk besar kadang overlapping

Bentuk biasa

Ungu biru dan permukaan licin

Merah pucat dan emfisematous

Krepitasi tidak ada

Krepitasi ada

Busa sedikit dan banyak cairan

Busa banyak

Dikeluarkan dari torak akan

Dikeluarkan dari toraks tapi

mendatad dan ditekan akan

kempes

menjadi cekung
Mati dalam 5-10 menit, 20

Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB

ml/kgBB
Darah:

Darah:

1. BJ 1,0595 -1,0600

1. BJ 1,055

2. Hipertonik

2. hipotonik

3. hemokonsentrasi dan

3. hemodilusi/hemolisis

edema paru
4. hipokalemia
5. hipernatremia

4. hiperkalemia
5. hiponatremia
6. hipoklorida

6. hiperklorida
Resusitasi lebih mudah

Resusitasi aktif

Tranfusi dengan plasma

Tranfusi dengan PRC