Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam biologi, filogeni atau filogenesis adalah kajian mengenai hubungan di antara
kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang dianggap
mendasarinya. Istilah "filogeni" dipinjam dari bahasa Belanda, fylogenie, yang berasal
dari gabungan kata bahasa Yunani Kuna yang berarti "asal-usul suku, ras".
Filogeni tidak sepenuhnya sama dengan kladistika (sistematika filogenetik), namun
banyak menggunakan metode-metode dan konsep yang dipakai di dalamnya. Kladistika
banyak dipakai untuk merumuskan keterkaitan filogenik dalam bentuk diagram pohon,
namun di dalam filogeni dipelajari pula anatomi perbandingan dari berbagai organisme.
Filogeni pada masa sekarang banyak menggunakan dukungan genetika dan biologi
molekuler. Sistematika (klasifikasi) biologi juga banyak menggunakan masukan dari
cabang ilmu ini.
Pernyataan evolusionis adalah bahwa setiap spesies di bumi berasal dari satu nenek
moyang yang sama melalui perubahan sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, teori ini
menganggap kehidupan sebagai sebuah peristiwa yang berkelanjutan, tanpa ada
pengelompokan tetap atau yang telah ditentukan sebelumnya. Akan tetapi, pengamatan di
alam dengan jelas tidak mengungkap gambaran berkelanjutan semacam itu. Apa yang
muncul dari dunia kehidupan adalah bahwa bentuk kehidupan benar-benar terpisah dalam
kelompok-kelompok yang benar-benar berbeda. Robert Carrol, seorang evolusionis yang
berpengaruh, mengakui kenyataan ini dalam bukunya Patterns and Processes of
Vertebrate Evolution (Pola dan Proses Evolusi Vertebrata).
Walaupun jumlah spesies yang hidup di bumi saat ini hampir tidak bisa
dibayangkan, mereka tidak membentuk sebuah rantai dengan sambungan yang hampir
tidak bisa dibedakan. Malahan, hampir semua spesies bisa dikenali sebagai anggota
kelompok-kelompok besar yang sangat berbeda dan terbatas jumlahnya, sangat sedikit
yang menggambarkan bentuk atau cara hidup peralihan.
Oleh karena itu, evolusionis beranggapan bahwa bentuk kehidupan peralihan
yang menjadi penghubung antar makhluk hidup pernah hidup di masa lalu. Inilah

sebabnya mengapa disadari bahwa ilmu pengetahuan dasar yang bisa memecahkan
persoalan ini adalah paleontologi, ilmu yang mempelajari fosil-fosil. Evolusi dikatakan
sebagai sebuah proses yang terjadi di masa lalu, dan satu-satunya sumber ilmiah yang
bisa memberi kita informasi tentang sejarah kehidupan hanyalah penemuan fosil.
Berkenaan dengan hal ini, ahli paleontologi Perancis, Pierre-Paul Grasse, berkata: Para
Naturalis harus ingat bahwa proses evolusi hanya terungkap melalui bentukan fosil hanya
paleontologi yang bisa menyediakan bukti evolusi bagi mereka dan mengungkap tata cara
atau jalannya. Supaya temuan fosil bisa memperjelas persoalan ini, kita hendaknya
membandingkan hipotesis teori evolusi dengan temuan-temuan fosil.
Menurut teori evolusi, setiap spesies muncul dari satu pendahulu. Satu spesies yang
telah ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain sejalan dengan waktu, dan semua
spesies telah mewujud dengan cara ini. Menurut teori ini, perubahan bentuk ini
berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun.
Jika demikian kejadiannya, maka seharusnya telah hidup spesies peralihan yang tak
terhitung jumlahnya selama masa panjang ketika perubahan bentuk ini dianggap sedang
berlangsung. Sebagai contoh, seharusnya telah hidup di masa lalu makhluk setengah
ikan-setengah reptilia yang yang telah memperoleh beberapa ciri reptilia sebagai
tambahan atas ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya telah hidup makhluk
reptilia-burung, yang telah memperoleh ciri burung sebagai tambahan atas ciri reptilia
yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk khayalan ini, yang mereka
percaya pernah hidup di masa lampau, sebagai bentuk-bentuk peralihan.
Jika hewan semacam itu benar-benar ada, seharusnya terdapat jutaan, bahkan
milyaran, dari mereka. Lebih penting lagi, sisa-sisa dari makhluk khayalan ini seharusnya
ada dalam rekaman fosil. Jumlah bentuk peralihan ini seharusnya lebih besar daripada
spesies yang ada, dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia.
Dalam The Origin of Species, Darwin menerima kenyataan ini dan menjelaskan: Satusatunya penjelasan yang dapat diajukan Darwin untuk menghadapi keberatan ini adalah
bahwa temuan fosil saat ini belum lengkap. Ia menyatakan bahwa ketika temuan fosil
telah dipelajari secara teliti, mata rantai yang hilang akan ditemukan. Para ahli
paleontologi evolusi telah menggali fosil-fosil dan mencari mata rantai yang hilang ini
diseluruh dunia sejak pertengahan abad ke-19. Semua fosil yang ditemukan dalam

penggalian menunjukkan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam
bentuk lengkap.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan filogeni?
2. Bagaimana filogeni asal-usul manusia?
3. Bagaimana teori rekapitulasi dari Haeckel?
4. Bagaimana pengaruh penyebaran geografis makhluk hidup?
5. Bagaimana perkembangan teori evolusi?
6. Bagaimana embriologi perbandingan dalam perkembangan makhluk hidup?
7. Bagaimana homologi antar organ-organ pada makhluk hidup?
1.3 Metode penyusun filogeni
a. Fenetik, Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik.
Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks
keanekaragaman, Anaisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan
fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisispunya kedudukan yang sama.
b. Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan
selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik
mempunyai tingkatan yang berbeda.
1.4 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian filogeni
2. Untuk mengetahui filogeni asal usul manusia
3. Untuk mengetahui teori rekapitulasi dari Haeckel
4. Untuk mengetahui pengaruh penyebaran geografis makhluk hidup
5. Untuk mengetahui perkembangan teori evolusi
6. Untuk mengetahui embriologi perbandingan dalam perkembangan makhluk hidup
7. Untuk mengetahui homologi antar organ-organ pada makhluk hidup
1.5 Manfaat
1. Untuk dapat mengetahui pengertian filogeni
2. Untuk dapat mengetahui filogeni asal usul manusia
3. Untuk dapat mengetahui teori rekapitulasi dari Haeckel
4. Untuk dapat mengetahui pengaruh penyebaran geografis makhluk hidup
5. Untuk dapat mengetahui perkembangan teori evolusi
6. Untuk dapat mengetahui embriologi perbandingan dalam perkembangan makhluk
hidup
7. Untuk dapat mengetahui homologi antar organ-organ pada makhluk hidup

1.6 Metode penyusun filogeni

c. Fenetik, Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik.


Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks
keanekaragaman, Anaisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan
fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisispunya kedudukan yang sama.
d. Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan
selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik
mempunyai tingkatan yang berbeda.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filogeni
Dalam biologi, filogeni atau filogenesis adalah kajian mengenai hubungan di antara
kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang dianggap
mendasarinya. Istilah filogeni dipinjam dari bahasa Belanda, fylogenie, yang berasal
dari gabungan kata bahasa Yunani Kuna yang berarti asal-usul suku, ras. Hubungan
tersebut ditentukan berdasarkan morfologi hingga DNA. Filogeni sangat diperlukan
dalam mempelajari proses evolusi dan penyusunan taksonomi. Evolusi sendiri dapat

diartikan sebagai perubahan yang berangsur-angsur dari suatu organisme menuju kepada
kesesuaian dengan waktu dan tempat. Jadi evolusi sendiri merupakan proses adaptasi dari
suatu organisme terhadap lingkungannya.
Filogeni tidak sepenuhnya sama dengan kladistika (sistematika filogenetik), namun
banyak menggunakan metode-metode dan konsep yang dipakai di dalamnya. Kladistika
banyak dipakai untuk merumuskan keterkaitan filogenik dalam bentuk diagram pohon,
namun di dalam filogeni dipelajari pula anatomi perbandingan dari berbagai organisme.
2.2 Asal usul manusia
Darwin mengajukan penyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek
moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man, terbitan tahun 1871. Sejak saat
itu hingga sekarang, para pengikut jalan Darwin telah mencoba mendukung
pernyataannya. Tatapi meskpun berbagai penelitian telah dilakukan, pernyataan mengenai
evolusi manusia tidak didukung oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya dalam
hal fosil.
Kebanyakan masyarakat awam tidak menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa
pernyataan evolusi manusia didukung oleh banyak bukti yang kuat. Penyebab adanya
opini yang keliru ini adalah bahwa permasalahan ini sering dibahas dalam media dan
dihadirkan sebagai fakta yang terbukti. Tetapi yang benar-benar ahli dalam masalah ini
menyadari bahwa tidak ada landasan ilmiah bagi pernyataan evolusi manusia. David
Pilbeam, ahli paleoanthropologi dari Harvard University, mengatakan:
Jika Anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan
menunjukkan padanya sedikitnya bukti yang kita miliki ia tentu akan mengatakan,
Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan. Dan William Fix, seorang penulis
sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropologi, berkomentar: Seperti yang telah
kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang populer saat ini yang memiliki nyali
untuk mengatakan bahwa tidak ada keraguan tentang bagaimana manusia berasal. Jika
saja mereka memiliki bukti Pernyataan evolusi ini, yang miskin akan bukti, memulai
pohon kekerabatan manusia dengan satu kelompok kera yang telah dinyatakan
membentuk

satu

genus

tersendiri,

Australopithecus.

Menurut

pernyataan

ini,

Australopithecus secara bertahap mulai berjalan tegak, otaknya membesat, dan ia

melewati serangkaian tahapan hingga mencapai tahapan manusia sekarang (Homo


sapiens). Tetapi rekaman fosil tidak mendukung skenario ini. Meskipun dinyatakan
bahwa semua bentuk peralihan ada, terdapat rintangan yang tidak dapat dilalui antara
jejak fosil manusia dan kera. Lebih jauh lagi, telah terungkap bahwa spesies yang
digambarkan sebagai nenek moyang satu sama lain sebenarnya adalah spesies masa itu
yang hidup pada periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori
evolusi abad ke-20, berpendapat dalam bukunya One Long Argument bahwa khususnya
[teka-teki] bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo sapiens, adalah sangat sulit
dan bahkan mungkin tidak akan pernah menerima penjelasan akhir yang memuaskan.
Tetapi apakah landasan gagasan evolusi manusia yang diajukan oleh para evolusionis?
Ialah adanya banyak fosil yang dengannya para evolusionis bisa membangun tafsirantafsiran khayalan. Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000 spesies kera, dan
kebanyakan dari mereka telah punah. Saat ini, hanya 120 spesies yang hidup di bumi.
Enam ribu atau lebih spesies kera ini, di mana sebagian besar telah punah, merupakan
sumber yang melimpah bagi evolusionis.
Di lain pihak, terdapat perbedaan yang berarti dalam susunan anatomi berbagai ras
manusia. Terlebih lagi, perbedaannya semakin besar antara ras prasejarah, karena seiring
dengan waktu ras manusia setidaknya telah bercampur satu sama lain dan terasimilasi.
Meskipun demikian, perbedaan penting masih terlihat antara berbagai kelompok populasi
yang hidup di dunia saat ini, seperti, sebagai contoh, ras Scandinavia, suku pigmi Afrika,
Inuits, penduduk asli Australia, dan masih banyak lagi yang lain. Tidak terdapat bukti
untuk menunjukkan bahwa fosil yang disebut hominid oleh ahli paleontologi evolusi
sebenarnya bukanlah milik spesies kera yang berbeda atau ras manusia yang telah punah.
Dengan kata lain, tidak ada contoh bagi satu bentuk peralihan antara manusia dan kera
yang telah ditemukan.
Setelah semua penjelasan umum ini, sekarang mari kita telaah bersama hipotesis
evolusi manusia. Pohon Kekerabatan Manusia Yang Dibuat-Buat. Pernyataan Darwinis
mendukung bahwa manusia moderen berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera.
Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun
yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen

dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah
empat kelompok dasar sebagai berikut:
1. Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh
evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti kera dari selatan.
Australophitecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan
dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat (tegap), sementara
yang lain lebih kecil dan rapuh (lemah) Para evolusionis menggolongkan tahapan
selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus Homo, yaitu manusia. Menurut
pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang
daripada Australopithecus, dan tidak begitu berbeda dengan manusia moderen. Manusia
moderen saat ini, yaitu spesies Homo sapiens, dikatakan telah terbentuk pada tahapan
evolusi paling akhir dari genus Homo ini. Fosil seperti Manusia Jawa, Manusia
Peking, dan Lucy, yang muncul dalam media dari waktu ke waktu dan bisa ditemukan
dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis, digolongkan ke dalam salah satu dari
empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi
spesies dan sub-spesies, mungkin juga. Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan
dulunya, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan
manusia setelah disadari bahwa mereka hanyalah kera biasa.
Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai Australopithecus >
Homo Habilis > Homo erectus > Homo sapiens, evolusionis secara tidak langsung
menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi,
penemuan terbaru ahli paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, Homo
habilis dan Homo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama. Lebih
jauh lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan sebagai Homo erectus kemungkinan
hidup hingga masa yang sangat moderen. Dalam sebuah artikel berjudul Latest Homo
erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia,
dilaporkan bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur rata-rata
27 2 hingga 53.3 4 juta tahun yang lalu dan ini memunculkan kemungkinan bahwa

H. erectus hidup semasa dengan manusia beranatomi moderen (H. sapiens) di Asia
tenggara Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan
Homo sapiens sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas hidup bersamaan. Hal ini
sepertinya menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek
moyang bagi yang lain.
Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa
rekaman fosil tidak menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para
evolusionis. Fosil-fosil, yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh
evolusionis, sebenarnya bisa milik ras lain manusia atau milik spesies kera.
2.3

Teori rekapitulasi dari Haeckel


Di akhir abad ke-19, Ernst Haeckel mencetuskan teori rekapitulasi (hukum

biogenesis) yang diterima luas. Prinsipnya yang terkenal adalah ontogeni mencerminkan
filogeni. Dalam versi aslinya, embrio dianggap mencerminkan bentuk dewasa organisme
moyang evolusionernya. Versi ini sekarang ditolak namun modifikasinya sekarang
diterima luas. Dalam versi modern, banyak dukungan bagi pernyataan perkembangan
embrio (ontogeni) mencerminkan bentuk embrio moyang evolusionernya. Donald
Williamson mengembangkan tesis ini lebih lanjut dengan menyatakan bahwa larva dan
embrio menunjukkan perwujudan bentuk dewasa dari taksa yang lain yang mengalami
transfer melalui hibridisasi (teori transfer larva).
2.4 Pengaruh Penyebaran Geografis Makhluk Hidup
Letak geografis berpengaruh terhadap faktor-faktor utama yang menentukan
berbagai tipe atau karakteristik habitat tertentu. Iklim merupakan faktor utama yang
menentukan tipe tanah maupun spesies tumbuhan yang tumbuh di daerah tersebut.
Sebaliknya jenis tumbuhan yang ada menentukan jenis hewan dan mikroorganisme yang
akan menghuni daerah tersebut.
Pada dasarnya iklim tergantung pada matahari. Matahari bertanggung jawab tidak
hanya sebagai intensitas cahaya yang tersedia untuk proses fotosintesis tetapi juga
temperatur pada umumnya. Komponen iklim lain yang menentukan organisme apa yang
dapat hidup di suatu daerah adalah kelembapan. Curah hujan yang banyak

diperlukanuntuk mendukung pertumbuhan pohon-pohon yang besar, sedangkan curah


hujan yang sedikit membantu komunitas yang didominasi oleh pohon-pohon pendek,
semak belukar, dan rumput. Dengan demikian iklim merupakan salah satu faktor utama
terbentuknya daerah-daerah biografi. Daerahdaerah biografi menekankan terutama pada
sejarah evolusi (perkembangan) dari kelompok-kelompok organisme. Dari mana mereka
berasal, bagaimana mereka menyebar, dan bagaimana distribusinya pada masa sekarang
dapat menjelaskan tentang sejarahnya pada masa lalu.
2.5

Perkembangan Teori Evolusi


Walaupun telah banyak para ahli yang mengemukakan tentang evolusi, namun

Darwinlah yang dianggap sebagai orang yang mencetak Teori Evolusi. Teori Evolusi
didasarkan pada seleksi alam, dan didukung dengan fakta-fakta yang merupakan
pedoman bagi penyelidikan biologi. Teori Evolusi yang diciptakan oleh Darwin dimulai
dari ekspedisinya di Kepulauan Galapagos pada tahun 1835. Kepulauan Galapagos
terletak 900 km di sebelah barat Pantai Ekuador, Amerika Selatan. Di pulau ini, Darwin
meneliti berbagai macam kura-kura dan burung finch (pipit). Burung-burung itu
mempunyai variasi bentuk dan ukuran paruh yang berbeda-beda. Burung ini mempunyai
sifat yang sama dengan burung-burung yang hidup di Ekuador, Amerika Selatan.
Dari hasil penelitiannya, ternyata burung-burung finch di Kepulauan Galapagos beraneka
ragam dalam bentuk tubuh, besar kecilnya paruh, dan perilaku. Berdasarkan kesamaan
sifat yang ada, Darwin menduga burung finch di Galapagos berasal dari keturunan yang
sama dengan burung finch dari Amerika Selatan. Karena migrasi, burung tersebut
berpindah ke Kepulauan Galapagos yang mempunyai keadaan lingkungan berbeda
dengan tempat asalnya.
Pada lingkungan baru yang beraneka ragam, dihasilkan 14 spesies burung finch
yang dapat dibeda-bedakan menurut ukuran dan bentuk paruhnya. Perbedaan-perbedaan
ini diduga ada hubungannya dengan jenis makanan. Adapun jenis-jenis burung finch
sebagai berikut.
1. Burung finch dengan paruh tebal dan kuat merupakan pemakan biji-bijian yang
terdapat di tanah. Burung finch jenis ini ditemukan sebanyak enam spesies.

2.

Burung finch dengan paruh lurus merupakan burung pengisap madu. Burung
finch jenis ini mempunyai berbagai macam bentuk paruh yang berlainan yang
dipengaruhi dari pohon-pohon penghasil madu.

3. Burung finch dengan paruh tebal, lurus, dan berlidah pendek merupakan burung
pematuk dalam mencari mangsa. Burung- burung tersebut serupa tetapi masingmasing memiliki ciri khas yang berbeda.
Darwin, dalam membentuk pendapatnya tentang timbulnya spesies banyak
dipengaruhi oleh isi buku Charles Lyell (Inggris, 17971875) dalam bukunya yang
berjudul Principles of Geology, dan Thomas Robert Maltus (Inggris, 17661834) dalam
bukunya yang berjudul, An Essay on The Principle of Population. Kedua pendapat
tersebut memengaruhi anggapan Darwin dalam mencari jawaban tentang terbentuknya
makhluk hidup sekarang.
Di alam, individu yang tidak sesuai dan tidak mampu beradaptasi akan punah dan
hanya individu yang sesuai yang menghasilkan generasi selanjutnya. Seleksi alam telah
berperan terhadap munculnya penyimpangan-penyimpangan atau perubahan- perubahan
pada makhluk hidup. Darwin mengumpulkan faktafakta yang berguna untuk
memperkukuh teorinya. Kumpulan semua hasil studinya disusun ke dalam sebuah buku
yang berjudul On the Origin of Species by Means of Natural Selection (Timbulnya
Spesies Baru Melalui Seleksi Alam) pada tahun 1859. Buku ini memuat dua teori sebagai
berikut.
1. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa lampau.
2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
Para ahli ilmu pengetahuan ada yang sependapat dengan teori ini, dan ada pula
yang menolak kedua teori Darwin tersebut. Berbeda dengan pendapat Lamarck yang juga
mengemukakan Teori Evolusi, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu
individu disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Lamarck berpendapat bahwa organ-organ
yang terlatih dan sering digunakan akan berkembang dan membesar. Sebaliknya, jika
tidak sering digunakan akan mengecil dan mereduksi, akhirnya lenyap. Silang pendapat
antara Lamarck dan Darwin di antaranya mengenai jerapah berleher panjang dan berleher
pendek. Menurut Lamarck, jerapah yang berleher panjang pada mulanya berasal dari
jerapah yang berleher pendek, tetapi karena harusmencapai daun-daun dari pohon yang

tinggi maka lehernya tumbuh menjadi agak panjang. Sifat leher panjang ini diturunkan
pada generasi berikutnya, sehingga dari generasi ke generasi, jerapah memiliki leher
panjang.
Darwin tidak sependapat, menurutnya nenek moyang jerapah terdiri atas individu
yang berleher panjang dan pendek. Jerapah yang berleher panjang mudah memperoleh
makanan sehingga dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adapun jerapah yang
berleher pendek punah karena tidak mampu mempertahanan kelangsungan hidupnya.
Dengan demikian, evolusi terjadi melalui seleksi alam terhadap populasi jerapah.
Teori Lamarck menekankan peranan lingkungan terhadap terbentuknya perubahanperubahan pada suatu individu, tetapi sifat-sifat tersebut tidak dapat diturunkan.
Percobaan August Wismann (18341914) membuktikan pada pemotongan ekor tikus
sampai pada 20 generasi, ternyata generasi ke-21 tetap memiliki ekor seperti generasi
sebelumnya. Menurut Wismann, evolusi menyangkut tentang cara diwariskannya gen-gen
melalui sel-sel kelamin, misalnya evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap faktorfaktor genetika.
2.6

Embriologi Perbandingan dalam Perkembangan Makhluk Hidup


Embriologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perkembangan embrio.

Perkembangan embrio menunjukkan adanya kesamaan pada fase-fase perkembangannya.


Haeckel (18341919) mengemukakan Teori Rekapitulasi yang kini menjadi skandal besar
dalam perkembangan ilmu evolusi, menyatakan bahwa suatu organisme atau individu
dalam perkembangannya (ontogeni) cenderung untuk merekapitulasi tahap-tahap
perkembangan yang telah dilalui nenek moyangnya (filogeni). Filogeni adalah sejarah
perkembangan organisme dari filum paling sederhana hingga paling sempurna.
Ontogeni adalah sejarah perkembangan organisme dari zigot sampai dewasa.
Ontogeni organisme merupakan ulangan dari sejarah perkembangan evolusi atau dengan
kata lain ontogeni merupakan ulangan singkat dari filogeni. Dalam embriologi
perbandingan terdapat hubungan kekerabatan pada Vertebrata yang ditunjukkan adanya
persamaan bentuk perkembangan yang dialami dari zigot sampai embrio. Makin banyak
persamaan yang dimiliki embrio-embrio menunjukkan makin dekatnya hubungan
kekerabatan.

Gambar 1. Perkembangan bermacam-macam embrio vertebrata


2.7 Homologi Antar organ-organ pada Makhluk Hidup

Gambar 2 . Homologi Antar organ-organ pada Makhluk Hidup


Homologi adalah organ-organ yang mempunyai bentuk asal sama dan kemudian
berubah strukturnya sehingga fungsinya berbeda. Homologi digunakan sebagai petunjuk
evolusi dengan membandingkan asal-usul organ-organ makhluk hidup tersebut dari
berbagai spesies. Contoh, tangan manusia homolog dengan kaki depan kucing, kuda,
buaya, dan vertebrata lainnya, namun fungsi dari anggota depan masing-masing spesies
tersebut berbeda. Sebaliknya, organ-organ yang sama fungsinya tetapi memiliki asal-usul
yang berbeda disebut analog. Contoh, sayap burung analogdengan sayap serangga.
Macam-macam anggota gerak itu pada spesies-spesies tersebut mengalami modifikasi
yang adaptif.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Dalam biologi, filogeni atau filogenesis adalah kajian mengenai hubungan di
antara kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang
dianggap mendasarinya. Filogeni sangat diperlukan dalam mempelajari proses evolusi
dan penyusunan taksonomi. Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan yang
berangsur-angsur dari suatu organisme menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan

tempat. Jadi evolusi sendiri merupakan proses adaptasi dari suatu organisme terhadap
lingkungannya. Evolusi, teori evolusi, dan teori Darwin adalah tiga hal yang berbeda
meskipun berkaitan sangat erat. Evolusi dapat dipandang sebagai fakta dan sebagai teori.
Sebagai fakta, evolusi adalah perubahan. Teori evolusi menjelaskan mekanisme
perubahan itu. Teori Darwin hanyalah salah satu dari beberapa teori evolusi yang pernah
diajukan, dan sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan.
Lamarck berpendapat bahwa Makhluk hidup mewariskan sifat-sifat yang
mereka peroleh selama hidup ke generasi berikutnya. Sedangkan Charles Darwin
mengatakan bahwa Semua spesies berasal dari satu nenek moyang yang sama melalui
proses yang terjadi secara kebetulan.
Berdasarkan percobannya, August Weismann menyimpulkan dan memberikan
teorinya tentang evolusi, yaitu: Perubahan jaringan tubuh karena faktor

lingkungan

tidak diwariskan kepada keturunannya dan evolusi merupakan gejala seleksi alam
terhadap faktor-faktor genetika. Jadi evolusi dalam kajian biologi berarti perubahan pada
sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3.2 Saran
Kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi salah satu referensi dan
pengetahuan untuk mengetahui lebih dalam tentang evolusi. Dan untuk lebih
menyempurnakan makalah ini kami berharap saran dan masukan dari para dosen dan
mahasiswa sekalian untuk perbaikan makalah ini ke depan.

DAFTAR PUSTAKA
Adioetomo

2011.

Melacak

Filogeni.

Tersedia

<http://faufaufau.wordpress.com/2011/12/02/melacak-filogeni/>.

( Diakses : 09 Oktober 2012 ).


Campbell, 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Campbell, 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Gunarso,W., 1988. DNA Rekombinan (Terjemahan). Erlangga: Jakarta.
Inyong.2012. Evolusi. Tersedia : < http://inyong-shubhi.blogspot.com/2012/09/makalahevolusi.html>. ( Diakses : 09 Oktober 2012 ).
Nuryani, Pramono Shidiq, Subardi, 2009. Biologi 3. CV. Usaha Makmur: Jakarta.
Rafiistianto.2012.

Filogeni.

Tersedia

<

http://rafiistianto.blogspot.com/2012/07/melacak-filogeni.html>. ( Diakses : 09
Oktober 2012 ).
Yusuf, F.M., 2006. Bahan Ajar Mata Kuliah Evolusi. Universitas Negeri Gorontalo:
Gorontalo.