Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KONVERSI ENERGI

ENERGI TENAGA ANGIN

Kelompok :
Akh. faiz (122 841 911)
Rahmad kurniawan (122 841 911 739)
Suryo saputro (122 841 911 738)

Fakultas
TEKNIK MESIN

Universitas widyagama
Malang

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
kebesaranNya kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Energi Tenaga Angin ini sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki. Dan juga kami berterima kasih kepada Dosen
mata kuliah Konversi energy atas tugas yang di berikan kepada kami ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Energi Tenaga Angin. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Malang,15 November 2014

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman judul
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
BAB II
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
2.8
2.9
2.10

PENDAHULUAN
Energi Angin
Asal Energi Angin
Proses Terjadinya Angin
Turbin Angin Sebagai Alternatif Pembangkit Listrik
Pembangkit Listrik Tenaga Angin
ISI
Energi Tenaga Angin
Cara Kerja Kincir Angin
Merancang Generator Angin Skala Kecil
Mekanisme turbin angin
Jenis turbin angin
Alat Pengukur Kecepatan Angin.
Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Dampak PLT Angin Terhadap Lingkungan
Problem Teknis yang Dihadapi PLT Angin
Solusi Masalah Teknis

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan kerja atau kegiatan. Tanpa energi, dunia ini
akan diam atau beku. Dalam icehiduparTmanusia selalu terjadi kegiatan dan untuk kegiatan otak
serta otot diperlukan energi. Energi itu diperoleh melalui _proses oksidasi (pembakaran) zat
makanan yang masuk ke tubuh berupa makanan. Kegiatan manusia lainnya dalam memproduksi
barang, transportasi, dan lainnya juga memerlukan energi yang diperoleh dari bahan sumber
energi atau sering disebut sumber daya alam (natural resources).
Sumber daya alam itu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
1. sumber daya alam yang dapat_diperbarui (renewable) atau hampir tidak dapat habis misalnya:
tumbuhan hewan. air, tanah, sinar matahari, angin, dan sebagainya;
2. sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (unjenewable) atau habis, misalnya: minyak bumi
atau batu bara.
Selanjutnya, secara terinci energi dibedakan atas butir-butir berikut dan perlu diketahui
bahwa energi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Misalnya, energi potensial air
(air terjun) dapat diubah menjadi energi gerak, energi listrik, dan seterusnya.
1.1 Energi Angin
Dua ribu tahun yang lalu manusia sudah dapat memanfaatkan energi angin untuk usaha
sederhana.

Beratus-ratus

tahun

kemudian energi

angin

itu

menjadi

semakin jelas

pemanfaatannya. Kapal kecil dan besar dapat mengarungi lautan luas dengan bantuan energi
angin yang meniup layar kapal. Angin merupakan udara yang
bergerak; udara yang berpindah tempat,mengalir dari tempat yang dingin ke tempat yang panas
dan dari tempat yang panas mengalir ke tempat yang dingin, demikian terus-menerus.
Angin adalah proses alam yang berlaku secara skala kecil dan skala besar, secara lingkup
daerah dan dunia. Di lapisan atmosfir bawah udara dingin mengalir dari daerah kutub menuju
daerah khatulistiwa dan di lapisan atmosfir atas udara hangat mengalir dari khatuistiwa menuju
daerah kutub.

Angin merupakan suatu energi alam yang berlimpah adanya di bumi yang
juga merupakan energi yang murah serta tak pernah habis. Energi angin telah lama dikenal dan
dimanfaatkan oleh manusia. Adapun pemanfaatannya adalah antara lain :
- Pemompaan air untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.
- Melaksanakan kegiatan pertanian, seperti menggiling jagung, menggiling
tepung, tebu.
- Mengalirkan air laut untuk pembuatan garam.
- Membangkitkan tenaga listrik khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Angin
terutama untuk daerah yang belum terjangkau oleh PLN.
1.2 Asal energi angin
Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan bakar fosil kecuali
energi pasang surut dan panas bumi berasal dari Matahari. Matahari meradiasi 1,74 x 1.014
kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam. Dengan kata lain, Bumi menerima 1,74 x 1.017 watt
daya.
Sekitar 1-2 persen dari energi tersebut diubah menjadi energi angin. Jadi, energi angin
berjumlah 50-100 kali lebih banyak daripada energi yang diubah menjadi biomassa oleh seluruh
tumbuhan yang ada di muka Bumi. Sebagaimana diketahui, pada dasarnya angin terjadi karena
ada perbedaan temperatur antara udara panas dan udara dingin. Daerah sekitar khatulistiwa,
yaitu pada busur 0, adalah daerah yang mengalami pemanasan lebih banyak dari
Matahari dibanding daerah lainnya di Bumi.
Daerah

panas

ditunjukkan

dengan

warna merah,

oranye,

dan

kuning

pada

gambar inframerah dari temperatur permukaan laut yang diambil dari satelit NOAA-7 pada Juli
1984. Udara panas lebih ringan daripada udara dingin dan akan naik ke atas sampai mencapai
ketinggian sekitar 10 kilometer dan akan tersebar ke arah utara dan selatan.
Jika Bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara akan tiba di kutub utara dan kutub
selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke khatulistiwa. Udara yang bergerak inilah yang
merupakan energi yang dapat diperbaharui, yang dapat digunakan untuk memutar turbin dan
akhirnya dapat menghasilkan listrik.

1.3 Proses Terjadinya Angin


Angin terjadi bila terdapat pemanasan permukaan bumi yang tak sama oleh
sinar matahari. Disiang hari udara di atas lautan relati lebih dingin daripada daratan.
Sinar matahari menguapkan air lautan dan diserap lautan. Penguapan dan obsorsi sinar matahari
di daratan kurang sehingga udara di atas daratan lebih panas. Dengan demikian udara di atas
mengembang,jadi ringan dan naik ke atas.
Udara dingin yang lebih berat turun mengisi kekurangan udara di daratan,
maka terjadilah aliran udara yang disebit angin dari lautan ke daratan tepi pantai. Di malam hari
peristiwa yang sebaliknya terjadi, angin di permukaan laut mengalir dari pantai ke tengah lautan
dan peristiwa inilah yang dimanfaatkan oleh para nelayan untuk mencari ikan di lautan. Angin di
lereng gunung juga terjadi demikian. Pada sekitar puncak pegunungan lebih dulu panas
dibandingkan

dengan

daerah

lembah.

Karena perbedaan

panas

ini

sehingga

menimbulkan perbedaan tekanan yang akhirnya timbul angin biasa yang disebut angin lembah
dan angin gunung.

1.4 Turbin Angin sebagai Alternatif Pembangkit Listrik


Menurunnya tinggi muka air di berbagai bendungan terutama yang dimanfaatkan sebagai
sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA)-telah menurunkan pasokan listrik di Jawa hingga
500 megawatt. Sebagai salah satu sumber pemasok listrik, PLTA bersama pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) memang memegang peran penting
terhadap ketersediaan listrik terutama di Jawa, Madura, dan Bali. Energi angin yang sebenarnya
berlimpah di Indonesia ternyata belum dimanfaatkan sebagai alternatif penghasil listrik. Padahal,
di berbagai negara, pemanfaatan energi angin sebagai sumber energi alternatif nonkonvensional
sudah semakin mendapatkan perhatian.
Hal ini tentu saja didorong oleh kesadaran terhadap timbulnya krisis energi dengan
kenyataan bahwa kebutuhan energi terus meningkat sedemikian besarnya. Di samping itu, angin
merupakan sumber energi yang tak ada habisnya sehingga pemanfaatan sistem konversi energi
angin akan berdampak positif terhadap lingkungan.

1.5 Pembangkit Listrik Tenaga Angin


Pembangkit listrik tenaga angin, yang diberi nama Wind Power System memanfaatkan
angin melalui kincir, untuk menghasilkan energi listrik. Alat ini sangat cocok sekali digunakan
masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil. Secara umum, sistem alat ini memanfaatkan
tiupan angin untuk memutar motor. Hembusan angin ditangkap baling-baling, dan dari putaran
baling-baling tersebut akan dihasilkan putaran motor yang selanjutnya diubah menjadi energi
listrik.
Wind

Power

System ini

terdiri

dari empat

bagian

utama,

yaitu

rotor,

transmisi, elektrikal dan, tower. Bagian rotor terdiri dari baling-baling dengan empat
daun, bentuknya seperti baling-baling pesawat. Dengan bentuk seperti ini diharapkan
energi angin yang tertangkap bisa maksimal agar bobotnya lebih ringan. Baling-baling ini dibuat
dengan diameter 3,5 dan bahannya dibuat dari fiberglass.
Untuk mendapat hembusan angin, baling-baling diletakkan pada tower setinggi delapan
meter. Sedangkan pada bagian transmisi digunakan sistem kerekan dan tali, sistem transmisi ini
digunakan untuk menyiasati kekuatan angin yang kecil. Karena kecepatan angin di Indonesia
relatif kecil, transmisi ini sangat menguntungkan untuk meningkatkan putaran sebagai pengubah
energi digunakan alternator dua fase 12 volt, energi listrik yang dihasilkan oleh alternator dapat
disimpan dalam aki. Sementara kapasitas daya yang didapat sebesar 1,5 KW. Wind Power
System telah diuji coba oleh para mahasiswa di pantai kenjeran, kurang dari satu jam hasil dari
percobaan tersebut sudah dapat menghasilkan energi listrik untuk menyalakan TV dan lampu
sampai 100 watt.
Karya yang dibuat selama bulan ini sudah dapat langsung diterapkan bagi masyarakat.
Untuk menyimpan energi listrik bisa digunakan aki besar, dan penggunaannya bisa digunakan
instalasi pembagi. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan Win Power System relatif
murah, sekitar Rp 16 juta. Tapi, itu belum termasuk bahan dan pembuatan towernya.

BAB II
ISI
2.1 Energi Tenaga Angin

Energi angin juga menjadi pilihan alternatif sebagai energi pengganti bahan bakar fosil,
yang disediakan alam secara gratis. Energi angin tersedia dalam jumlah tidak terbatas, selama
bumi masih memiliki cadangan udara. Energi tersebut dihasilkan oleh angin yang menggerakkan
kincir angin ukuran raksasa. Biasanya kincir angin sebagai penghasil energi diletakkan pada
wilayah tertentu dengan tingkat intensitas angin yang tinggi.
Untuk menggerakan blade / baling-baling agar bisa berputar saja harus memiliki
kecepatan angin 2 meter/detik dan untuk menghasilkan listrik yang stabil sesuai kapasitas
generatornya rata-rata 6 s/d 10 meter/detik.
Pembangkit ini bisa digunakan untuk skala kecil, menengah dan besar karena arus yang
dihasilkan dalam 1 jam lebih besar serta membutuhkan investasi yang lebih murah ketimbang
PLTS .Daerah yang cocok digunakan pembangkit ini adalah daerah pantai, pesisir, pegunungan.
Kincir angin merupakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Awal mulanya kincir
angin digunakan pada zaman babilonia untuk penggilingan padi.
Penggunaan teknologi modern dimulai sekitar tahun 1930, diperkirakan ada sekitar
600.000 buah kincir angin untuk berbagai keperluan. Saat ini kapasitas daya yang dihasilkan
kincir angin skala industri antara 1 4 mw.

Prinsip kerja Turbin Angin adalah mengubah energi kinetik angin menjadi energi mekanik
putaran poros. Energi mekanik poros biasanya dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik
menggunakan suatu generator. Energi listrik sifatnya sangat fleksibel. Energi ini dapat digunakan
untuk penerangan, menggerakkan mesin-mesin industri, transportasi, dan masih banyak lagi.

Perangkat pembangkit dari angin juga jauh lebih murah dibandingkan perangkat
pembangkit dari energi matahari. Padahal jumlah energi yang dihasilkan oleh 1.000 buah sel
fotovoltaik relatif setara dengan belasan kincir angin. Bahkan sejumlah sistem kincir angin yang
dipasang di Denmark bahkan menghasilkan energi hingga 3.000 megawatt atau sekitar 20 persen
kebutuhan energi di seluruh Eropa.
Kini, Eropa menghasilkan energi angin dengan jumlah energi sekitar 35.000 megawatt
atau setara dengan tiga puluh lima pembangkit listrik tenaga batu bara (National Geographic,
Agustus 2005: 65). Hal ini jelas menjadi sebuah keuntungan besar bagi masyarakat luas. Karena
keuntungannya yang sedemikian besar, maka beberapa negara, di wilayah Eropa dan Amerika
Serikat, menggunakan teknologi ini.
Potensi energi angin untuk kebutuhan energi masa depan sangat menjanjikan. Ketika sel
fotovoltaik tidak mendapatkan sinar matahari, maka pasokan listrik akan terhambat, sedangkan
kincir angin relatif stabil pada semua cuaca karena tidak membutuhkan sinar matahari untuk
menghasilkan energi. Hal itu membuat kincir angin unggul satu langkah di depan sel fotovoltaik
dalam menghasilkan energi.

Para ilmuwan di Eropa dan Amerika Serikat menaruh harapan besar kepada sumber
energi angin sebagai sebuah cara menghadapi krisis energi di masa depan. Namun demikian
tidak semua masyarakat setuju dengan kincir angin sebagai sebuah penghasil energi alternatif,
ukuran kincir yang terlalu besar dan suara desing yang berisik membuat masyarakat di sekitar
proyek kincir angin cenderung menolaknya, padahal banyak sisi positif yang dapat dipetik dari
pemanfaatan energi ini.
Jika kita bisa membuat simulasi numerik aliran udara melintasi turbin angin dengan
rancangan tertentu misalnya aerofoil, jumlah blade (bilah), panjang chord, diameter dan lain
sebagainya, maka dengan menentukan kecepatan aliran udara di depan dan belakang turbin akan
dapat ditentukan berapa Thrust yang dihasilkan dan Daya Angin yang berhasil diserap Turbin
Angin. Thrust bersifat merugikan karena thrust yang mendorong menara penyangga turbin,
semakin besar trhust, maka menara penyangga juga harus kuat, sehingga biaya pembuatannya
akan mahal.
Semakin besar Daya (Power) yang diserap oleh turbin, maka efisiensi konversi energi turbin
akan semakin besar, artinya turbin yang dirancang sangat menguntungkan.

2.2 Cara Kerja Kincir Angin

Cara kincir angin bekerja sangat sederhana yaitu:

Angin akan meniup bilah kincir angin sehingga bilah bergerak

bilah kincir angin akan memutar poros didalam nacelle

Poros dihubungkan ke gearbox, di gearbox kecepatan perputaran poros ditingkatakan

dengan cara mengatur perbandingan roda gigi dalam gearbox

gearbox dihubungkan ke generator. generator merubah energi mekanik menjadi energi

listrik

dari generator energi listrik menuju transformer untuk menaikan tegangannya kemudian

baru didistribusikan ke konsumen

2.3 Merancang Generator Angin Skala Kecil


Generator bekerja dengan menggunakan prinsip magnetic induction dan bekerja dengan
prinsip left-hand rule , yaitu:
1. Thumb Finger determine the direction of motion of inductor
2. Fore Finger determine the direction of flux
3. Other Finger determine the direction of current flow
Generator diklasifikasikan menjadi 2:
1. Generator AC
2. Generator DC
Untuk membuat generator dengan tenaga angin sebagai sumber energinya. Prinsipnya
sederhana, 3 bilah kincir angin dibuat dengan sudut 120 derajat satu sama lain dan kemiringan
kurang lebih 12.75 derajat. Di titik pangkalnya, dipasang poros generator yang kemudian
terhubung dengan slip rings, stator, sikat, komutator, dan armature.
Angin yang berhembus akan memutar kincir sehingga poros akan ikut berputar dan
menyebabkan garis-garis fluks terpotong dan menimbulkan tegangan induksi. Tegangan ini
menyebabkan arus mengalir. Namun,tegangan yang dihasilkan adalah tegangan AC, sehingga
dibutuhkan komutator untuk membuat arus yang mengalir adalah arus searah. Besarnya daya
yang dihasilkan sangat tergantung dari kecepatan putaran kincir, yang artinya sangat tergantung
dari kecepatan hembusan angin

2.4 Mekanisme turbin angin


Sebuah pembangkit listrik tenaga angin dapat dibuat dengan menggabung- kan beberapa
turbin angin sehingga menghasilkan listrik ke unit penyalur listrik. Listrik dialirkan melalui
kabel transmisi dan didistribusikan ke rumah-rumah, kantor, sekolah, dan sebagainya.
Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis lain yang umum adalah jenis turbin dua
bilah.
Turbin angin bekerja sebagai kebalikan dari kipas angin. Bukannya menggunakan listrik
untuk membuat angin, seperti pada kipas angin, turbin angin menggunakan angin untuk
membuat listrik. Angin akan memutar sudut turbin, kemudian memutar sebuah poros
yang dihubungkan

dengan

pemakaian umum berukuran

generator,
50-750

lalu

menghasilkan

kilowatt.

Sebuah turbin

listrik.
kecil,

Turbin
kapasitas

untuk
50

kilowatt, digunakan untuk perumahan, piringan parabola, atau pemompaan air.


2.5 Jenis turbin angin
Dalam perkembangannya, turbin angin dibagi menjadi jenis turbin angin propeler dan
turbin angin Darrieus. Kedua jenis turbin inilah yang kini memperoleh perhatian besar untuk
dikembangkan. Pemanfaatannya yang umum

sekarang sudah digunakan adalah untuk

memompa air dan pembangkit tenaga listrik.


Turbin angin propeler adalah jenis turbin angin dengan poros horizontal seperti balingbaling pesawat terbang pada umumnya. Turbin angin ini harus diarahkan sesuai dengan arah
angin yang paling tinggi kecepatannya.
Kecepatan angin diukur dengan alat yang

disebut anemometer. Anemometer

jenis mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer mangkok mempunyai sumbu
vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap angin.
Jumlah putaran per menit dari poros anemometer dihitung secara elektronik. Biasanya,
anemometer dilengkapi dengan sudut angin untuk mendeteksi arah angin. Jenis anemometer
lain adalah anemometer ultrasonik atau jenis laser yang mendeteksi perbedaan fase dari suara
atau cahaya koheren yang dipantulkan dari molekul-molekul udara.
Turbin angin Darrieus merupakan suatu sistem konversi energi angin yang digolongkan
dalam jenis turbin angin berporos tegak. Turbin angin ini pertama kali ditemukan oleh GJM
Darrieus tahun 1920.

Keuntungan

dari

turbin

angin

jenis

Darrieus

adalah

tidak

memerlukan

mekanisme orientasi pada arah angin (tidak perlu mendeteksi arah angin yang paling
tinggi kecepatannya) seperti pada turbin angin propeler.
Di Indonesia telah mulai dikembangkan proyek percontohan baik oleh lembaga penelitian
maupun oleh pusat studi beberapa perguruan tinggi. Proyek ini perlu memperoleh perhatian dari
pihak

yang

terkait

untuk

dikembangkan

karena membutuhkan

riset

yang

cukup intensif mengenai kecepatan angin, lokasi penempatan turbin angin, serta cara untuk
mengatur pembebanan turbin yang tidak merata.
Misalnya pada malam hari angin cukup kencang, sedangkan pada pagi dan siang hari
kecepatan angin turun sehingga harus ada mekanisme penyimpanan energi serta mekanisme
untuk menstabilkan fluktuasi tegangan listrik yang dihasilkan.

Dalam situasi
tampaknya alternatif

yang
energi

serba
angin

kekurangan
perlu

pasokan

dikaji

ulang.

listrik
Selain

seperti

sekarang,

hasilnya

selalu

berkelanjutan, harganya pun kompetitif dibanding pembangkit listrik lainnya.


2.6 Alat Pengukur Kecepatan Angin.
Dalam mengetahui seberapa besar kecepatan hembusan suatu angin maka perlu suatu
alat/parameter pengukur kecepatan angin itu. Alat yang sering digunakan dalam mengukur
kecepatan angin biasa disebut anemometer.

2.7 Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Angin


Angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia di alam, Pembangkit Listrik Tenaga
Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin
atau kincir angin. Cara kerjanya cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin,
diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan
menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam baterai sebelum
dapat dimanfaatkan. Angin kelas 3 adalah batas minimum dan angin kelas 8 adalah batas
maksimum energi angin yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaatan energi terbarukan yang paling berkembang
saat ini.

Berdasarkan data dari WWEA (World Wind Energy Association), sampai dengan tahun
2007 perkiraan energi listrik yang dihasilkan oleh turbin angin mencapai 93.85 GigaWatts,
menghasilkan lebih dari 1% dari total kelistrikan secara global. Amerika, Spanyol dan China
merupakan negara terdepan dalam pemanfaatan energi angin. Diharapkan pada tahun 2010 total
kapasitas pembangkit listrik tenaga angin secara glogal mencapai 170 GigaWatt.
Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang
dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt. Di seluruh Indonesia, lima
unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun.
Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masingmasing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka
Belitung, masing-masing satu unit. Mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit
listrik tenaga bayu (PLTB) ditargetkan mencapai 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.
Tenaga angin telah lama dimanfaatkan di tanah air kita sejak ratusan mungkin ribuan
tahun yang lalu, khususnya untuk menggerakkan kapal layar sampai sekarang, dan yang banyak
kita lihat sekarang digunakan dalam tambak-tambak ikan di tepi pantai untuk menggerakkan
baling-baling (atau turbin angin) untuk menjalankan memompaan air. Namun baiklah kalau kita
di Indonesia mulai mempopulerkan PTLTA, khususnya ukuran kecil. PTLTA ukuran kecil
adalah istilah yang biasanya diberikan kepada unit 50 KW atau lebih kecil. Tempat-tempat
terpencil

yang biasanya

menggunakan

diesel-generator

dapat

menggantikannya

atau

menambahkannya dengan PTLTA ukuran kecil ini.

2.8 Dampak PLT Angin Terhadap Lingkungan


Keuntungan utama dari penggunaan pembangkit listrik tenaga angin secara prinsipnya
adalah disebabkan karena sifatnya yang terbarukan. Hal ini berarti eksploitasi sumber energi ini
tidak akan membuat sumber daya angin yang berkurang seperti halnya penggunaan bahan bakar
fosil.Oleh karenanya tenaga angin dapat berkontribusi dalam ketahanan energi dunia di masa
depan. Tenaga angin juga merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, dimana
penggunaannya tidak mengakibatkan emisi gas buang atau polusi yang berarti ke lingkungan.
Penetapan sumber daya angin dan persetujuan untuk pengadaan ladang angin merupakan proses
yang paling lama untuk pengembangan proyek energi angin.

Hal ini dapat memakan waktu hingga 4 tahun dalam kasus ladang angin yang besar yang
membutuhkan studi dampak lingkungan yang luas. Emisi karbon ke lingkungan dalam sumber
listrik tenaga angin diperoleh dari proses manufaktur komponen serta proses pengerjaannya di
tempat yang akan didirikan pembangkit listrik tenaga angin. Namun dalam operasinya
membangkitkan listrik, secara praktis pembangkit listrik tenaga angin ini tidak menghasilkan
emisi yang berarti. Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan batubara, emisi karbon
dioksida pembangkit listrik tenaga angin ini hanya seperseratusnya saja.
Disamping karbon dioksida, pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan sulfur
dioksida, nitrogen oksida, polutan atmosfir yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan
pembangkit listrik dengan menggunakan batubara ataupun gas. Namun begitu, pembangkit listrik
tenaga angin ini tidak sepenuhnya ramah lingkungan, terdapat beberapa masalah yang terjadi
akibat penggunaan sumber energi angin sebagai pembangkit listrik, diantaranya adalah dampak
visual , derau suara, beberapa masalah ekologi, dan keindahan.
Dampak visual biasanya merupakan hal yang paling serius dikritik. Penggunaan ladang
angin sebagai pembangkit listrik membutuhkan luas lahan yang tidak sedikit dan tidak mungkin
untuk disembunyikan. Penempatan ladang angin pada lahan yang masih dapat digunakan untuk
keperluan yang lain dapat menjadi persoalan tersendiri bagi penduduk setempat. Selain
mengganggu pandangan akibat pemasangan barisan pembangkit angin, penggunaan lahan untuk
pembangkit angin dapat mengurangi lahan pertanian serta pemukiman.
Hal ini yang membuat pembangkitan tenaga angin di daratan menjadi terbatas. Beberapa
aturan mengenai tinggi bangunan juga telah membuat pembangunan pembangkit listrik tenaga
angin dapat terhambat. Penggunaan tiang yang tinggi untuk turbin angin juga dapat
menyebabkan terganggunya cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah penduduk. Perputaran
sudu-sudu menyebabkan cahaya matahari yang berkelap-kelip dan dapat mengganggu
pandangan penduduk setempat.
Efek lain akibat penggunaan turbin angin adalah terjadinya derau frekuensi rendah.
Putaran dari sudu-sudu turbin angin dengan frekuensi konstan lebih mengganggu daripada suara
angin pada ranting pohon. Selain derau dari sudu-sudu turbin, penggunaan gearbox serta
generator dapat menyebabkan derau suara mekanis dan juga derau suara listrik.

Derau mekanik yang terjadi disebabkan oleh operasi mekanis elemen-elemen yang
berada dalam nacelle atau rumah pembangkit listrik tenaga angin. Dalam keadaan tertentu turbin
angin dapat juga menyebabkan interferensi elektromagnetik, mengganggu penerimaan sinyal
televisi atau transmisi gelombang mikro untuk perkomunikasian. Penentuan ketinggian dari
turbin angin dilakukan dengan menganalisa data turbulensi angin dan kekuatan angin. Derau
aerodinamis merupakan fungsi dari banyak faktor seperti desain sudu, kecepatan perputaran,
kecepatan angin, turbulensi aliran masuk.
Derau aerodinamis merupakan masalah lingkungan, oleh karena itu kecepatan perputaran
rotor perlu dibatasi di bawah 70m/s. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa penggunaan skala
besar dari pembangkit listrik tenaga angin dapat merubah iklim lokal maupun global karena
menggunakan energi kinetik angin dan mengubah turbulensi udara pada daerah atmosfir.
Pengaruh ekologi yang terjadi dari penggunaan pembangkit tenaga angin adalah terhadap
populasi burung dan kelelawar. Burung dan kelelawar dapat terluka atau bahkan mati akibat
terbang melewati sudu-sudu yang sedang berputar.
Namun dampak ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kematian burung-burung
akibat kendaraan, saluran transmisi listrik dan aktivitas manusia lainnya yang melibatkan
pembakaran bahan bakar fosil. Dalam beberapa studi yang telah dilakukan, adanya pembangkit
listrik tenaga angin ini dapat mengganggu migrasi populasi burung dan kelelawar. Pembangunan
pembangkit angin pada lahan yang bertanah kurang bagus juga dapat menyebabkan rusaknya
lahan di daerah tersebut. Ladang angin lepas pantai memiliki masalah tersendiri yang dapat
mengganggu pelaut dan kapal-kapal yang berlayar.
Konstruksi tiang pembangkit listrik tenaga angin dapat mengganggu permukaan dasar
laut. Hal lain yang terjadi dengan konstruksi di lepas pantai adalah terganggunya kehidupan
bawah laut. Efek negatifnya dapat terjadi seperti di Irlandia, dimana terjadinya polusi yang
bertanggung jawab atas berkurangnya stok ikan di daerah pemasangan turbin angin. Studi barubaru ini menemukan bahwa ladang pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai menambah 80
110 dB kepada noise frekuensi rendah yang dapat mengganggu komunikasi ikan paus dan
kemungkinan distribusi predator laut.

Namun begitu, ladang angin lepas pantai diharapkan dapat menjadi tempat pertumbuhan
bibit-bibit ikan yang baru. Karena memancing dan berlayar di daerah sekitar ladang angin
dilarang, maka spesies ikan dapat terjaga akibat adanya pemancingan berlebih di laut. Dalam
operasinya, pembangkit listrik tenaga angin bukan tanpa kegagalan dan kecelakaan. Kegagalan
operasi sudu-sudu dan juga jatuhnya es akibat perputaran telah menyebabkan beberapa
kecalakaan dan kematian.
Kematian juga terjadi kepada beberapa penerjun dan pesawat terbang kecil yang
melewati turbin angin. Reruntuhan puing-puing berat yang dapat terjadi merupakan bahaya yang
perlu diwaspadai, terutama di daerah padat penduduk dan jalan raya. Kebakaran pada turbin
angin dapat terjadi dan akan sangat sulit untuk dipadamkan akibat tingginya posisi api sehingga
dibiarkan begitu saja hingga terbakar habis. Hal ini dapat menyebarkan asap beracun dan juga
dapat menyebabkan kebakaran berantai yang membakar habis ratusan acre lahan pertanian.
Hal ini pernah terjadi pada Taman Nasional Australia dimana 800 km2 tanah terbakar.
Kebocoran minyak pelumas juga dapat teradi dan dapat menyebabkan terjadinya polusi daerah
setempat, dalam beberapa kasus dapat mengkontaminasi air minum. Meskipun dampak-dampak
lingkungan ini menjadi ancaman dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, namun
jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil, dampaknya masih jauh lebih kecil. Selain itu
penggunaan energi angin dalam kelistrikan telah turut serta dalam mengurangi emisi gas buang.

2.9 Problem Teknis yang Dihadapi PLT Angin


1. Kecepatan Angin
Variable angin menimbulkan masalah manajemen sistem jaringan listrik lebih sedikit
daripada yang diharapkan oleh pihak-pihak yang skeptis. Ketidakstabilan permintaan energi dan
kebutuhan untuk melindungi gagalnya pembangkit listrik konvensional memenuhi kebutuhan
tersebut, sesungguhnya membutuhkan sistem jaringan listrik yang lebih fleksibel daripada tenaga
angin, dan pengalaman dunia nyata telah menunjukan bahwa sistem pembangkit listrik nasional
mampu menjalankan tugas tersebut.

Pada malam berangin, sebagai contoh, turbin angin 50% pembangkit listrik di bagian
barat Denmark, tapi kekuatannya telah terbukti dapat diatur. PLTB (pembangkit listrik tenaga
bayu/angin) saat ini cukup menjadi primadona di dunia barat dikarenakan potensi angin yang
mereka miliki (daerah sub tropis) sangat besar. Berangsur-angsur tapi pasti, PLTN mulai diganti
dengan penggunaan PLTB ataupun pembangkit renewable lainnya. Perlu diingat di lokasi-lokasi
tersebut size kapasitas PLTB mereka sudah besarbesar (Min 1 MW). PLTB ukuran kecil seperti
di Nusa penida dengan kapasitas 80 kW sangat teramat jarang sekarang ini.
Untuk di Indonesia, dengan iklim tropisnya mungkin akan cukup sulit untuk menemukan
daerah dengan potensi angin (distribusi anginnya) yang konstan/baik. Ada beberapa daerah di
Indonesia yang katanya memiliki kecepatan angin cukup tinggi (gust wind) berdasarkan survei
yang dilakukan selama 3 bulan, tapi hal ini tidak berguna bagi PLTB bila kecepatan angin itu
hanya cuma bertahan beberapa menit/detik saja dan kemudian hilang. Perlu adanya survei/studi
berkesinambungan yang memerlukan data selama minimal satu tahun untuk mevalidasi potensi
angin didaerah tersebut.
Rata-rata PLTB yang dijual di pasaran untuk kapasitas kecil (kurang dari 100 kW), cut in
dan cut out mereka adalah 3 dan 25 m/s dengan kecepatan optimumnya adalah 12 m/s. Di dunia
saat ini banyak ditemukan PLTB stand alone yang beredar dipasaran (untuk ukuran 10 kW).
Penggunanya adalah daerah-daerah terpencil yang tidak tersentuh oleh ataupun terlalu mahal
untuk dihubungkan oleh grid. Kebanyakan dari mereka tidak pure hanya menggunakan PLTB
tapi juga menggunakan PV. Selain karena disebabkan kebutuhan listrik yang cukup besar juga
disertai dengan diversikasi energi apabila tiba-tiba tidak terdapat anginya yang cukup.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia saat ini untuk daerah-daerah terpecil
seperti di kepulauan-kepulauan, diperlukan hybrid system antara potensi renewable energy yang
ada di lokasi (seperti PLTB-PLTsurya-baterai, PLTB-PLTMH-Fuel Cell, dll). Akan tetapi perlu
menjadi catatan, semua teknologi untuk penggunaan energi-energi tersebut masih cukup mahal
bila dilihat dari kelayakan ekonominya terutama FC dan PLTSurya.

2. Resiko Kincir

Kelemahan listrik tenaga angin pada bunyi bising kincir dan resiko tersambar petir
serta tidak cocok untuk daerah jalur penerbangan. Apalagi kalau banyak yang bermain
layang-layang atau banyak burung terbang jadi mudah tersangkut.Hal ini juga berpengaruh
pada dampak lingkungan yang disebabkan pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
skala besar.
2.10 Solusi Masalah Teknis
Karena kecepatan angin yang diperlukan untuk memutar kincir sangat bergantung pada
alam maka pada pembangkit

listrik

tenaga angin

ini

dilengkapi

dengan charger

baterai/aki,sehingga pada saat kecepatan angin cukup untuk menghasilkan listrik,listrik yang
dihasilkan disimpan dalam baterai/aki dan dapat digunakan saat turbin angin tidak beroperasi.
Kombinasi dari penggunaan listrik tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga micro hidro mampu
mengatasi krisis energi dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Untuk tenaga angin selama kincir berputar maka suplai listrik terus terpenuhi walau hari
sudah gelap. Ingatlah bahwa matahari meradiasi 1,74 x 1.014 kilowatt jam energi ke bumi setiap
jam.
Jadi bumi menerima 1,74 x 1.017 watt daya. Dengan menggabungkan dua atau lebih energy
konvensional maka hal ini dapat menutupi kekurangan energy yang diakibatkan kelemahankelemahan dari pembangkit listrik tenaga angin tersebut. Penciptaan jaringan listrik yang super
mengurangi masalah ketidakstabilan angin.
Caranya dengan membiarkan perubahan pada kecepatan di wilayah-wilayah berbeda
untuk diseimbangkan satu sama lain. Perkembangan tenaga angin berkembang dengan pesat saat
ini, namun demikian masa depan tenaga ini belum terjamin. Saat ini tenaga angin telah
dimanfaatkan oleh sekitar 50 negara di dunia.

Namun sejauh ini kemajuan itu disebabkan oleh usaha segelintir pihak, yang dipimpin
oleh Jerman, Spanyol dan Denmark. Negara - negara lain perlu untuk memperbaiki industri
tenaga angin secara dramastis jika target global ingin dicapai. Oleh karena itu prediksi untuk
menjadikan tenaga angin dapat memasok energi dunia sebesar 12 persen pada tahun 2020
sebaiknya tidak dilihat sebagai hal yang pasti, tapi sebagai tujuan satu kemungkinan masa
depan yang kita bisa pilih jika kita mau.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keuntungan utama dari penggunaan pembangkit listrik tenaga angin secara prinsipnya
adalah disebabkan karena sifatnya yang terbarukan. Hal ini berarti eksploitasi sumber
energi ini tidak akan membuat sumber daya angin yang berkurang seperti halnya
penggunaan bahan bakar fosil.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin juga berdampak terhadap lingkungan sekitar, dampak
yang paling jelas adalah dambak visual,karena pembangkit istrik ini membutuhkan tempat
yang luas untuk skala besar.
Ramah lingkungan- keuntungan terpenting dari tenaga angin adalah berkurangnya level
emisi karbon dioksida penyebab perubahan ikilm. Tenaga ini juga bebas dari polusi yang
sering diasosiasikan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir.
Penggunaan energi konvensional tenaga angin merupakan alternative sumber energi yang
efektif apabila digunakan ditempat yang mempunyai sumber daya angin tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

http://elektrojiwaku.blogspot.com/

http://afrizalmulyana.blogspot.com/2009/12/pembangkit-listrik-tenaga-angin.html

http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--windmill/2272-pembangkit-listrik-tenaga-angin-wind-power.html

www.beritaiptek.com

www.kincirangin.info

http://semuaada07.blogspot.com/2014/04/contoh-makalah-mengenai-energi-tenaga.html