Anda di halaman 1dari 14

RMK

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN


LAPORAN POSISI KEUANGAN

Oleh :

I Gede Dirga Surya A.W.


Dwi Haryadi Nugraha

1491661007
1491661022

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014

LAPORAN POSISI KEUANGAN

HUBUNGAN LAPORAN POSISI KEUANGAN DENGAN LAPORAN LABA RUGI


Dalam mendefinisikan elemen akuntansi dan hubungan antara neraca dan laporan laba rugi, ada
dua pendekatan, yaitu: pendekatan artikulasi dan pendekatan non artikulasi.
>

Artikulasi

=> Laporan posisi keuangan dan laba rugi secara sistematis mampu
mendefinisikan bahwa laba bersih sama dengan perubahan ekuitas
pemilik dalam satu periode, dengan asumsi bahwa periode
sebelumnya tidak ada transaksi ekuitas serta penyesuaian.

>

Non Artikulasi

=> Memisahkan hubungan matematis antara laporan posisi keuangan


dengan laba rugi, dan masing-masing dari laporan tersebut
didefinisikan dan diukur tersendiri.

1.

Pendekatan Artikulasi

Ada dua alternatif dalam mendefinisikan elemen-elemen akuntansi, yaitu:


a

Pendekatan Pendapatan-Biaya
Pendekatan ini fokus pada pendefinisian elemen-elemen yang ada pada laporan laba
rugi. Pendekatan ini lebih mengutamakan laba rugi, prinsip-prinsip pengakuan
pendapatan dan aturan-aturan pengukuran pendapatan. Konsekuensinya, laporan posisi
keuangan dianggap sebagai sampingan dari aturan-aturan pengukuran pendapatan.

Pendekatan Aset-Kewajiban
Pendekatan ini kebalikan dari pendekatan pendapatan-biaya karena lebih menekankan
pada definisi, pengakuan dan pengukuran aset dan kewajiban. Pendapatan didefinisi,
diakui dan diukur sebagai akibat sampingan dari pengukuran aset dan kewajiban.

2.

Pendekatan Non Artikulasi


Terdapat pertentangan yang kuat antara pendukung pendekatan pendapatan-biaya tradisional
dan pendekatan aset-kewajiban karena pendukung pendapatan-biaya utamanya lebih
memperhatikan stabilisasi akibat fluktuasi transaksi pada laporan laba rugi dan
memperkenalkan biaya yang ditangguhkan dan kredit yang ditangguhkan untuk
menghaluskan pengukuran laba. Sebaliknya, aset-kewajiban menyarankan pada perubahan
pelaporan dalam nilai aset bersih, dan menyiapkan dan membiarkan fluktuasi laporan laba
rugi yang mungkin melibatkan adanya laba dan rugi yang belum direalisasi.

ASET
1.

Definisi Aset
a

Commitee on Terminology

Aset adalah sesuatu yang disajikan di debet yang akan


dipindahkan setelah tutup buku, sesuai dengan prinsip
akuntansi (bukan karena saldo negatif dan dinilai
sebagai utang). Saldo debet ini merupakan hak milik
atau nilai yang dibeli atau pengeluaran yang
dibuat untuk mendapatkan kekayaan dimasa
depan.

APB

Aset adalah sumber daya ekonomi perusahaan,


termasuk pembebanan yang ditunda, yang dinilai
dan diakui sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku.

FASB

Aset adalah kemungkinan keuntungan ekonomi yang


diperoleh dimasa depan oleh suatu perusahaan
sebagai akibat transaksi atau kejadian yang sudah
terjadi.

2.

Kontrak Eksekutori
Merupakan perjanjian yang belum dilakukan tetapi sudah mengikat kedua pihak, baik untuk
memenuhi kewajiban maupun menerima kekayan atau jasa di masa depan. Namun dalam
akuntansi tradisional, kontrak eksekutori ini tidak diakui kaena kontrak seperti ini terlalu
tidak pasti dan contigent bagi pencatatan akuntansi.

3.

Pengakuan dan Pengukuran Aset


Prinsip pervasif yang telah ditetapkan tentang pengakuan awal dan pengukuran aset dan
kewajiban, yaitu:
Aset dan kewajiban umumnya dicatat berdasarkan kejadian yang mana perusahaan
memperoleh sumber daya dari entitas lain atau membuat kewajiban dengan entitas lain.
Aset dan kewajiban diukur dengan perubahan harga transfer.

4.

Piutang
Piutang dicatat sebesar biaya historis dan disesuaikan untuk estimasi piutang tak tertagih.
Atribut yang diukur adalah sebuah perkiraan atas nilai realisasi bersih. Bagaimanapun juga,
ukuran yang sebenarnya dari nilai realisasi bersih akan menjadi harga jual dari piutangpiutang yang menyebabkan berkurangnya perkiraan kewajiban untuk sumber-sumber yang
tidak dibayar oleh debitur.

5.

Investasi Tidak Tunduk Pada Akuntansi Ekuitas


Sebelumnya, SFAS No. 12 => Biaya historis yang lebih rendah atau nilai current market.
SFAS No. 115 => mengarah pada nilai sekarang (current value).
Namun, perubahan ini bukannya tanpa masalah. Investasi dalam saham diklasifikasikan
dalam tiga cara, yaitu:
a Held-to-maturity

=> Dimana perusahaan memiliki maksud positif dan menahan


sahamnya hingga jatuh tempo.

b Trading

=> Dimana tujuannya adalah untuk menjual sekuritas dalam


jangka pendek

c Available-for-sale

=> Dimana tidak termasuk diantara dua kategori di atas yang


diterapkan

6.

Investasi Tunduk Pada Akuntansi Ekuitas


Sekuritas ekuitas dalam jumlah 20% - 50% dari saham yang beredar, umumnya dihitung
dengan menggunakan metode ekuitas menurut Opini APB No. 18. Ketika akuntansi ekuitas
digunakan, investasi tidak lagi menyajikan atribut sebenarnya dari pengukuran, namun
3

merupakan suatu biaya historis yang disesuaikan yang penyesuaiannya ditentukan


berdasarkan aturan-aturan yang ada dalam akuntansi ekuitas.
7.

Persediaan
Persediaan akhir dihitung dengan menghitung jumlah persediaan yang masih ada, lalu
dikalikan dengan kos akuisisi per unit. Kos per unit dapat ditentukan dengan menggunakan
metode FIFO (first in first out), LIFO (last in first out), atau nilai rata-rata weight average).
ARB No. 43, persediaan dinilai menggunakan harga yang lebih rendah antara harga pasar
atau harga perolehan. Harga pasar disebut juga kos pengganti (replacement cost), tetapi
jaraknya ditetapkan dimana kos pengganti harus jauh diantara batasan yang tertinggi nilai
realisasi bersih) dan terendah (nilai realisasi bersih yang kurang dari markup normal.
Batasan tertinggi dan terendah ini digunakan hanya jika harga pengganti jatuh di luar
batasan. Batasan tertinggi dan terendah ini mengurangi fluktuasi dalam pendapatan
akuntansi diantara periode ketika persediaan dicatat.

8.

Aset yang Dibuat Sendiri dan Persediaan yang Diproduksi


Permasalahan pengukuran mengenai aset yang dibuat sendiri adalah pengidentifikasian
biaya yang timbul saat membuat aset tersebut.
Ada dua masalah khusus, yaitu:

Produksi persediaan, dan

Perlakuan pada kos bunga.

Selain itu, ada dua metode yang bisa digunakan untuk persediaan yang diproduksi, yaitu:
Variabel costing

=> Hanya kos produksi variabel yang digunakan untuk


menghitung persediaan, sedangkan kos tetap dibebankan
sebagai kos periode.

Full-absorption costing => Keseluruhan

kos,

baik

tetap

maupun

diperhitungkan.untuk produksi persediaan.

variabel

Perdebatan akuntansi ini tidak dapat diatasi dengan definisi asset yang disajikan dalam
SFAC No. 6.
SFAS No. 34 mensyaratkan tambahan kos bunga dari dana pinjaman kos akuisisi pada aset
yang dibangun sendiri bila jumlah biaya bunga tersebut signifikan. Persyaratan ini berlaku
untuk aset yang dibangun yang digunakan atau dijual tetapi tidak untuk produksi persediaan
rutin.
Selain itu, SFAS No. 34 juga menyebutkan bahwa pendapatan dari periode yang akan
datang akan bermanfaat dengan kos seperti bunga yang merupakan bagian dari akuisisi
sumber daya.
Salah satu kritik utama dari SFAS No. 34 adalah bahwa SFAS No. 34 menghubungkan kos
bunga dengan mengabaikan apakah ada utang khusus yang telah dikeluarkan untuk
membiayai pembangunan aset.
9.

Aset yang Mengalami Depresiasi atau Deplesi


Kos akusisi historis dari aset yang didepresiasikan atau deplesi adalah dialokasikan selama
perkiraan umur kegunaan. Alokasi depresiasi menggunakan beberapa metode: garis lurus,
jumlah tahun, saldo menurun, dan unit produksi. Peraturannya hanya ada untuk konsistensi
penggunaan dari tahun ke tahun.
Kos dari sumber daya alam dideplesi dari pada didepresiasikan. Kos deplesi dialokasikan
sesuai umur ekonomis sama seperti aset yang didepresiasikan. Metode yang digunakan
adalah metode unit produksi (perkiraannya dihitung berdasarkan jumlah produksi yang
diharapkan).
Neraca yang memuat nilai untuk subjek aset untuk depresiasi dan deplesi adalah kos historis
dikurangi alokasi kumulatif kos pada laporan laba rugi. Jumlah ini disebut nilai buku dan
hasil dari alokasi kos. Nilai buku tidak menunjukkan atribut yang nyata oleh karena itu tidak
dapat diukur secara langsung. Nilai buku hanya dapat dihitung dengan mengaplikasi aturan
yang dispesifikasi dalam metode depresiasi atau deplesi yang digunakan.

10. Aset yang Mengalami Penurunan Nilai


Pada SFAS No. 121 FASB meneliti masalah penurunan nilai dari aset jangka panjang dan
kemungkinan kemunculan goodwill sebagai akibat dari penurunan nilai pasar, perubahan
fisik yang signifikan dari aset atau cara penggunaanya, perubahan iklim bisnis yang dapat
5

mempengaruhi pengoperasian aset dan penurunan arus kas dari current dan prospektif
operations. Kejadian dimasa depan akan sangat menentukan apakah penurunan nilai terjadi.
11. Pertukaran Non Moneter dari Aset Sejenis
Opini APB No. 29 menetapkan aturan unik untuk menjelaskan pertukaran aset non moneter
yang sama, yang berlawanan dengan prinsip umum penggunaan nilai ekonomi yang
dikorbankan untuk mengukur transaksi tersebut. Dalam pertukaran non moneter,
pengorbanan untuk memperoleh aset baru terdiri dari perdagangan dalam aset dan sejumlah
kas yang mungkin. Di bawah opini APB No. 29, aset baru dicatat pada nilai buku aset yang
diperdagangkan (daripada nilai pasar), ditambah berbagai pertimbangan kas yang
dipertimbangkan.
12. Aset Tidak Berwujud

Semua aset tidak berwujud dicatat pada nilai pengorbanan yang terjadi demi mendapatkan
aset tersebut. Dihitung dengan menggunakan kos historis dikurang beban kumulatif ke
pendapatan.
13. Biaya yang Ditangguhkan
Ada dua jenis dari beban yang ditangguhkan, yaitu:

Biaya yang dibayar dimuka (menyediakan manfaat di masa depan dalam bentuk
pengurangan arus kas keluar masa depan untuk jasa), umumnya dialokasikan ke laba
rugi dengan dasar garis lurus sepanjang periode masa depan, dan

Biaya yang ditangguhkan dari pengakuan biaya oleh karena aturan pengukuran
pendapatan. Jenis ini termasuk biaya startup organisasi dan kerugian ditangguhkan pada
penjualan sewa. Sebagian besar biaya yang ditangguhkan diamortisasi dengan cara yang
sama sebagai aset tidak berwujud kecuali persyaratan tertentu berlaku.

KEWAJIBAN
1.

Definisi Kewajiban
a

Commitee on Terminology

Kewajiban adalah saldo kredit atau jumlah yang harus


dipindahkan dari saat tutup buku ke periode tahun
berikutnya berdasarkan pencatatan yang sesuai dengan
prinsip akuntansi

APB

Kewajiban ekonomis dari suatu perusahaan yang


diakui dan dinilai sesuai dengan prinsip akuntansi

FASB

Kemungkinan pengorbanan di masa mendatang yang


timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk
masa yang akan datang sebagai akibat suatu transaksi
atau kejadian yang sudah terjadi

Terdapat lima jenis kewajiban dalam akuntansi, yaitu:


a Kewajiban kontraktual

=> Akibat dari kejadian-kejadian yang menimbulkan


kewajiban berdasarkan kontrak secara legal.

b Obligasi kontruktif

=> Kewajiban yang bersifat implisit, tidak secara tertulis.

c Obligasi merata yang => kewajiban yang tidak bersifat kontraktual tetapi timbul
sangat ambigu

dengan adanya prinsip-prinsip keadilan yang bersifat


etis.

d Kewajiban kontijensi

=> Ada suatu situasi, atau kumpulan keadaan yang tidak


pasti yang mengakibatkan suatu perusahaan mungkin
akan mengalami untung atau rugi yang baru akan
diketahui ketika satu atau lebih kejadian terjadi atau
tidak terjadi di masa depan

Kredit yang
ditangguhkan

=> Terdiri atas pendapatan dibayar di muka dan kredit


yang ditangguhkan yang disebabkan oleh peraturan
mengenai pendapatan yang menangguhkan pengakuan
akun tersebut dalam laporan laba rugi.

2.

Pengakuan dan Pengukuran Kewajiban


APB Statement No. 4 dan SFAC No. 5, kewajiban diukur dengan jumlah yang terjadi saat
transaksi, biasanya sejumlah nilai yang harus diserahkan, yang mungkin didiskontokan.
Prinsip umumnya, kewajiban diukur pada jumlah yang terjadi dalam pertukaran. Untuk
7

kewajiban lancar, seperti utang dagang, ini representasi face value dari obligasi untuk masa
yang akan datang. Kewajiban lancar yang tidak didiskontokan adalah membenarkan alasanalasan yang tidak material; itu adalah, nilai sekarang tidak material berbeda dari nilai di
masa yang akan datang yang didiskontokan.
Untuk kewajiban tidak lancar, pengukuran menunjukkan nilai sekarang diukur berdasarkan
nilai tunai yang diperhitungkan sebagai dasar tingkat bunga. Penerimaan bersih
menunjukkan aliran pembayaran bunga dan diskonto pembayaran utama pada tingkat bunga
pasar saat ini. Jika tingkat bunga obligasi pada rate saat ini, nilai sekarang, hasil bersih, dan
nilai jatuh tempo adalah sama pada saat pengeluaran. Jika tingkat bunga yang ditetapkan
berbeda dari harga pasar, maka terjadi permi atau diskon.
3.

Utang Wesel Dengan Harga Dibawah Suku Bunga Pasar


Berdasarkan opini APB No. 21, utang wesel dengan bunga di bawah suku bunga pasar harus
didiskontokan. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan biaya bunga secara periodik pada
suku bunga pasar. Diskonto ini kemudian diamortisasi selama umur ekonomis wesel untuk
menyesuaikan biaya bunga secara periodic dengan suku bunga pasar.

4.

Utang Obligasi
Obligasi dicatat sebesar hasil jual bersih dari transaksi. Hasil jual bersih adalah nilai
sekarang dari pembayaran bunga di masa depan dari pembayaran kembali pokok,
didiskontokan pada suku bunga pasar, dikurangi kos penerbitan obligasi. Hal ini diperlukan
untuk membuat premi obligasi atau akun diskonto jika tingkat bunga berbeda dari harga
pasar. Berdasarkan opini APB No. 21, premi dan diskonto diamortisasi dengan metode
bunga efektif.

5.

Obligasi yang Dapat Dipertukarkan (Covertible Bonds)

Alasannya: Bahwa investor akan membayar harga konversi opsi, dan harga tersebut dibayar
dalam bentuk suku bunga yang lebih rendah.
Untuk alasan ini, obligasi ini memiliki elemen utang dan pemilik ekuitas. Pembatalan bunga
dapat dianggap sebagai sumbangan modal untuk perusahaan dalam pertukaran hak istimewa
ini.

Dua kebijakan yang dapat dipergunakan pada akun obligasi yang dapat dipertukarkan:

Pendekatan dengan memperlakukannya sebagai utang konvensional sampai dikonversi


(APB Opinion No. 14).

Pendekatan dengan memisahkan jumlah utang dengan nilai yang harus dibayar untuk
hak konversi dan menambahkan jumlah ini ke dalam modal kontribusi.

6.

Utang Dengan Waran Saham


Opini APB No.14 menyatakan => Nilai yang ditetapkan untuk melepas waran saham dapat
menyertai permasalahan utang.
Kebijakan ini tidak konsisten dengan perlakuan dari utang konvertibel.
Alasannya: Bahwa utang konvertibel didalilkan menjadi utang atau ekuitas pada satu waktu
dan tidak bisa menjadi keduanya secara bersamaan.

7.

Penarikan Kembali Saham Preferen dan Sekuritas


Manajer keuangan terus menerus berusaha menghindari adanya utang dalam laporan posisi
keuangan. Caranya dengan penarikan kembali saham preferen.
Saham preferen => Tidak mempunyai hak suara, mempunyai jadwal kewajiban membayar
secara periodik pada nilai nominal (pari) dan dapat ditebus pada opsi
perusahaan; deviden kumulatif dan memiliki preferen lebih dari saham
biasa, dan saham memiliki tingkat deviden tahunan tetap tanpa
patisipasi lebih lanjut
Isu terbaru dari saham preferen => Saham preferen dapat dikonversi menjadi saham biasa.

8.

Sekuritisasi
Melibatkan dua pihak, yaitu: penjualan oleh perusahaan (transferor) dari suatu aset atau
kelompok-kelompok aset kepada perusahaan yang lain (transferee). Umumnya, aset
melibatkan aset keuangan seperti piutang hipotik. Transferee membiayai akuisisi dengan
pengeluaran sekuritas pada sekelompok investor luar.
Masalah dalam sekuritisasi:
Apakah transferor telah melepaskan semua hak atas asetnya atau belum. Jika telah
dilepas, transferor mengkredit aset dan tidak memunculkan utang pada laporan posisi
keuangannya. Namun jika transferor mempertahankan dan belum melepaskan semua hak
atas asetnya, transferee tidak bebas menggunakan atau membuang aset tersebut.

EKUITAS
1.

Definisi Ekuitas Pemilik


Ekuitas pemilik => Kepentingan residual pemegang saham atas aset bersih perusahaan.
Definisi ini merupakan teori kepemilikan sesuai dengan pemegang saham mana yang
dianggap menjadi pemilik perusahaan.
Komponen Ekuitas:
a

Kontribusi modal.

Modal hukum (perseroan terbatas pemegang saham), dan

Modal lainnya (premi saham, modal sumbangan, modal dari stok bendahara, modal
dari masalah opsi saham dan jaminan).

2.

Laba ditahan

Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi.

Pengakuan dan Pengukuran Ekuitas Pemilik


Berikut jenis-jenis transaksi perubahan ekuitas pemilik, yaitu:
a.

Transaksi-transaksi modal (kontribusi atau penarikan langsung aset oleh pemilik)

b.

Transaksi-transaksi terkait pendapatan (transaksi laporan laba rugi dan periode dan
penyesuaiannya pada periode sekarang dengan periode sebelumnya)

3.

Opsi Saham
Perencanaan Opsi Saham Karyawan (ESOP) dianggap sebagai bentuk kompensasi
ditangguhkan kepada karyawan, jika ada harga penawaran pembelian baru terbentuk dalam
perencanaan tersebut. Jika harga penawaran pembelian sudah ada, maka pengakuan dan
pengukuran akuntansi berfokus pada nilai penawaran pembelian opsi. Pengukuran terjadi
pada waktu yang berbeda, antara lain pada tanggal hibah, tanggal penerimaan oleh pegawai,
tanggal awal kadaluawarsa dan tanggal aktual pemakaian.

4.

Saham Treasuri
Akuisisi saham treasuri dilihat sebagai metode prospek masa depan untuk pemegang saham.
Alasan pembelian saham treasuri, yaitu:
a.

Keinginan manajemen yang kuat dalam memiliki proporsi saham yang lebih besar.

b.

Keinginan untuk memiliki saham yang tersedia untuk pelaksanaan opsi saham.

c.

Keinginan untuk mengurangi lingkup investasi oleh perusahaan karena biaya modal
melebihi pengembalian marjinal investasi.

d.

Mendukung harga pasar saham perusahaan.


10

Dua metode yang digunakan untuk menghitung saham treasuri, yaitu:


a

Metode biaya

Metode nilai nominal.

Kedua metode tersebut hanya berbeda dalam cara perhitungannya, tetapi pengaruhnya
terhadap pemilik ekuitas bersifat sama.
5.

Deviden Saham
Menurut ARB 43, ada dua kebijakan akuntansi untuk deviden saham yang didasarkan pada
ukuran deviden.
a

Deviden saham besar (>25%)

=> Dihitung dengan mengklasifikasikan kembali laba


ditahan dalam memberikan kontribusi modal
berdasarkan nilai nominal saham yang diterbitkan.

Deviden saham kecil (< 20%)

=> Dihitung dengan mengklasifikasikan kembali laba


ditahan ke modal setoran atas dasar nilai/harga
pasar dari saham dan menggunakan pre-devidend
harga pasar.

CAP beranggapan, bahwa pembagian dividen benar-benar untuk tujuan manajemen, yaitu:
apakah manajemen:

ingin memberikan bukti bunga laba ditahan kepada pemegang saham,

atau keinginan memperkecil harga saham (pemecahan saham tanpa merubah nilai pari
saham tesebut).

Menggunakan nilai pari saham untuk mengukur deviden saham dari pada menggunakan
nilai pasar saham beredar yang diharapkan tidak berubah, karena prinsip deviden saham
tidak berbeda dengan pemecahan saham yang tidak menyebabkan perbedaan yang dicatat
oleh pemilik ekuitas.

INSTRUMEN KEUANGAN
Instrumen keuangan meliputi sebuah aset keuangan atas suatu entitas dan beban keuangan (atau
ekuitas) atas entitas lainnya. FASB mendefinisikan instrumen keuangan sebagai kas, bukti
kepemilikan dalam suatu entitas, atau keduanya:
1.

Pembebanan obligasi kontraktual pada suatu entitas untuk memberikan uang tunai atau
instrumen keuangan lain kepada entitas kedua, atau menukar instrumen keuangan yang
berpotensi tidak menguntungkan entitas kedua.

11

2. Menyampaikan kepada entitas kedua tentang hak kontraktual untuk menerima uang tunai
atau instrumen keuangan lain dari entitas pertama, atau menukar instrumen keuangan yang
berpotensi menguntungkan yang lainnya dengan entitas pertama.
Derivatif
Merupakan instrumen keuangan yang nilainya didasarkan atas insturmen keuangan lain, indeks
saham, atau suku bunga atau indeks suku bunga.
Derivatif dapat diklasifikasikan dalam dua tipe umum:
1.

Forward-Based Derivatives, muncul antara dua pihak.


Pihak pertama mendapatkan keuntungan, sedangkan pihak lain mendapatkan kerugian
sebagai akibat dari perubahan pada nilai dari faktor yang mempengaruhi instrumen.
Kontrak forward meliputi mata uang asing, kontrak utang, atau komoditas yang mempunyai
harga khusus pada tanggal kontrak dengan keuntungan atau kerugian dari perubahan harga
khusus pada tanggal penetapan penyelesaian.

2.

Option-Based Derivative, dimana pemegang opsi memiliki hak untuk membeli atau menjual
suatu kuantitas spesifik pada suatu harga yang sfesiifik dari komoditas standar, instrumen
keuangan dan ekuitas.

Pernyataan FASB Terkait Derivatif


Beberapa standar sebelumnya yang berkaitan dengan pengungkapan derivatif telah digantikan
oleh SFAS No. 133 yang menilai derivatif berdasarkan nilai wajar serta membutuhkan
pengungkapan terkait efektivitas lindung nilai.
Tingkat bunga swap efektif:
Bila jumlah yang disepakati antara swap sama dengan jumlah aset atau kewajiban yang
menjadi lindung nilai, serta apabila nilai wajar swap pada awalnya sama dengan nol.
Dalam hal pengungkapan, entitas harus menunjukkan tujuan dan kebijakan mereka untuk
memegang derivatif dan instrumen lindung nilai. Mereka juga didorong untuk memberikan
informasi kuantitatif tentang berbagai jenis risiko pasar yang terlibat.

12

KLASIFIKASI DALAM LAPORAN POSISI KEUANGAN


ARS 43 => Mewajibkan klasifikasi aset dan kewajiban yang didasarkan pada likuiditasnya.
Dua klasifikasi yang digunakan, yaitu:

Pendekatan Current didefinisikan sebagai siklus operasi perusahaan atau satu tahun atau
lebih.

Pendekatan current-noncurrent ini hanya memberikan indikasi kasar dari likuiditas


perusahaan.

Cara pengklasifikasian yang lain adalah berdasarkan aset yang dimiliki untuk tujuan dijual,
digunakan, dan direpresentasikan yang mewakili biaya yang ditangguhkan. Hal ini akan
memberikan beberapa informasi tambahan tentang seberapa manfaat ekonomi yang akan
terealisasi dan realisasi ketidakpastian.

Sumber :
Wolk, Harry. I., Michael G, Tearney., James. L. Dodd, 2001. Accounting Theory : A Conceptual
and Institutional Approach, Fifth Edition. South Western Collage Publishing, Cincinnati,
Ohio.

13