Anda di halaman 1dari 27

KEPERAWATAN DEWASA

FLU BURUNG (H5N1)

Disusun Oleh : KELOMPOK IV


Gusti ayu Desi sagitari (04.11.2891)
Umaya pravitasari (04.11.)
Eka dwi karyanti (04.11)
Sariwati ningsi (04.11)

KONSENTRASI INSTALASI GAWAT DARURAT


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL YOGYAKARTA
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan limpahan rahmat_Nya.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul Flu Burung
(H5N1), disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan dewasa , jurusan Ilmu
Keperawatan Stikes Surya Global Yogyakarta.
Dalam penulisan makalah ini tentunya penulis berterimakasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah ini yaitu Eka Oktavianto S,Kep. Ns, yang telah membimbing,
memotifasi dan mendampingi kami dalam pembelajaran.
Makalah ini berisi tentang Pengertian flu burung, Patofisiologi flu burung, Etiologi flu
burung, Tanda dan gejala flu burung, Cara penularan flu burung, Cara pencegahan flu
burung, Penatalaksanaan flu burung.
Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam penulisan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran semua pihak
untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 10 Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................

1.3 Tujuan ..................................................................................................

BAB 2. PEMBAHASAN
A. Pengertian Flu burung ..........................................................................

B. Patofisiologi flu burung .......................................................................

C. Etiologi flu burung ...............................................................................

D. Tanda dan gejala flu burung ................................................................

E. Cara penularan flu burung ...................................................................

F. Cara pencegahan flu burung ................................................................

10

G. Penatalaksanaan flu burung .................................................................

11

H. Pathway ................................................................................................

17

I. Askep ...................................................................................................

19

BAB 3. PENUTUP

Kesimpulan ..........................................................................................

25

Daftar pustaka ......................................................................................

27

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Flu burung telah menjadi perhatian yang luas dari masyarakat karena telah
menewaskan banyak korban baik unggas maupun manusia. Pada awal tahun 1918, wabah
pandemi virus influenza telah membunuh lebih dari 40.000 orang, dimana subtipe yang
mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan Spanish Flu. Tahun 1957 virus
bermutasi menjadi H2N2 atau Asian Flu menyebabkan 100.000 kematian. Tahun 1968
virus bermutasi menjadi H3N2 atau Hongkong Flu menyebabkan 700.000 kematian. Tahun
1977 virus bermutasi menjadi H1N1 atau Russian Flu. Akhirnya pada tahun 1997, virus
bermutasi lagi menjadi H5N1 atau Avian Influenza. Beberapa tahun kemudian, awal wabah
pada peternakan di dunia telah dikonfirmasi sejak Desember 2003. Pada 8 Februari 2006,
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menyatakan bahwa wabah flu burung pertama kali
terjadi di Nigeria, kemudian menyebar hingga ke Mesir dan Kamerun.
Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau
peternakan unggas sebagai jalur migrasi burung liar. Sehingga pada 21 Juli 2005, tiga kasus
fatal terjadi di Tangerang, yang disebabkan oleh flu burung subtipe H5N1. Hingga 6 Juni
2007, WHO telah mencatat sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia yang
disebabkan virus ini termasuk Indonesia dengan 99 kasus dengan 79 kematian. Hal ini
dipengaruhi oleh matapencaharian penduduk Indonesia sebagai peternak unggas sehingga
Indonesia rawan pada penyebaran penyakit flu burung. Selain itu, kurangnya pengetahuan
sebagian penduduk Indonesia terhadap dampak dari flu burung juga ikut berpengaruh pada
kasus penyebaran flu burung.
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A yang menyebar antar unggas.
Virus influenza ini termasuk famili Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubahubah bentuk (drift, shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Virus flu burung
yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang ditandai adanya Hemagglutinin
(H) dan Neuramidase (N) dan memiliki waktu inkubasi selama 1 minggu pada unggas dan 3
4

hari pada manusia. Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber
penyebar H5N1. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan,
minuman, dan sentuhan. Virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi (60C selama 30 menit),
namun dapat bertahan hidup pada suhu rendah (0C selama lebih dari 30 hari). Gejala flu
burung pada unggas adalah kematian secara mendadak dengan laju mortalitas mendekati
100%, jengger berwarna biru, dan luka pada kaki. Sedangkan gejala umum yang terjadi pada
manusia adalah demam tinggi (suhu badan di atas 38C), batuk dan nyeri tenggorokan,
radang saluran pernapasan atas, pneumonia, infeksi mata, dan nyeri otot. Replikasi virus
dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis.
Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipelainnya sehingga disebut dengan Highly
Pathogenic H5N1 Avian Influenza (HPAI).
B. RUMUSAN MASALAH

Apa pengertian flu burung ?

Patofisiologi flu burung ?

Etiologi flu burung ?

Tanda dan gejala flu burung ?

Cara penularan flu burung ?

Cara pencegahan flu burung ?

Penatalaksanaan flu burung ?

C. TUJUAN

Mengetahui pengertian flu burung

Mengetahui patofisiologi flu burung

Mengetahui etiologi flu burung

Mengetahui tanda dan gejala flu burung

Mengetahui cara penularan flu burung

Mengetahui cara pencegahan flu burung

Mengetahui penatalaksanaan flu burung

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FLU BURUNG


Flu Burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang
menyerang burung/unggas/ayam . Salah satu tipe yang perlu diwaspadai adalah yang
disebabkan oleh virus influenza dengan kode genetik H5N1 (H=Haemagglutinin,
N=Neuramidase) yang selain dapat menular dari burung ke burung ternyata dapat
pula menular dari burung ke manusia.
B. PATOFISIOLOGI FLU BURUNG
Flu burung bisa menulari manusia bila manusia bersinggungan langsung
dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung. Virus flu burung hidup di
saluran pencernaan unggas. Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini
melalui tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi semacam bubuk. Bubuk
inilah yang dihirup oleh manusia atau binatang lainnya. Menurut WHO, flu burung
lebih mudah menular dari unggas ke manusia dibanding dari manusia ke manusia.
Belum ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia, dan juga belum terbukti
penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi.
Satu- satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari
manusia ke manusia adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur
dengan virus flu manusia. Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan
pada manusia karena kontak langsung,misalnya karena menyentuh unggas secara
langsung, juga dapat terjadi melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu,
di kandangnya dan alat-alat peternakan (termasuk melalui pakan ternak).
Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak
yang

langsung

menangani

kasus

unggas

yang

sakit

dan

pada

saat jual beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain. Secara umum, ada 3
6

kemungkinan mekanisme penularan dari unggas kemanusia.Dalam hal penularan dari


unggas ke manusia, perlu ditegaskan bahwa penularan pada dasarnya berasal dari
unggas sakit yang masih hidup dan menular. Unggas yang telah dimasak, digoreng
dan lain-lain,tidak menularkan flu burung ke orang yang memakannya. Virus flu
burung akan mati dengan pemanasan 80C selama 1 menit.
Penyebaran virus Avian Influenza (AI) terjadi melalui udara droplet infection
di mana virus dapat tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran nafas atau
langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus yang tertanam
pada membran mukosa akan terpajan mukoprotein yang mengandung asam sialat
yang dapat mengikat virus. Reseptor spesifik yang dapat berikatan dengan virus
influenza berkaitan dengan spesies darimana virus berasal. Virus avian influenza
manusia

(Human

influenza

viruses)

dapat

berikatan

dengan

alpha

2,6

sialiloligosakarida yang berasal dari membran sel di mana didapatkan residu asam
sialat yang dapat berikatan dengan residu galaktosa melaluiikatan 2,6 linkage.
C. ETIOLOGI FLU BURUNG
Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu;
dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22C dan lebih dari 30 hari pada
0C.Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih
lama, tetapi mati pada pemanasan 60C selama 30 menit. Dikenal beberapa tipe Virus
influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa
strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain.
Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru,
strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi
yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A
(H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan
penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak
menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih
ganas dan menyerang manusia.
D. TANDA DAN GEJALA FLU BURUNG
Gejala flu burung dapat dibedakan pada unggas dan manusia.
a. Gejala pada unggas:
7

Jengger berwarna biru

Borok di kaki

Kematian mendadak

b. Gejala pada manusia:

Demam (suhu badan diatas 38 C)

lemas

Pendarahan hidung dan gusi

sesak nafas

muntah dan nyeri perut serta diare

Batuk dan nyeri tenggorokan

Radang saluran pernapasan atas

Pneumonia

Infeksi mata

Nyeri otot

MASA INKUBASI

Pada Unggas : 1 minggu

Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari
sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari

DEFINISI KASUS
1. Kasus Suspek
Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala
demam (temp > 38C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus
serta dengan salah satu keadaan;

seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit flu


burung.

kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan.

bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen


manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung

2. Kasus "Probable"
Kasus "probale" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan;

Bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A


(H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1.

Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia gagal pernafasan/


meninggal.

Terbukti tidak terdapat penyebab lain.

3. Kasus Kompermasi
Kasus kompermasi adalah kasus suspek atau "probale" didukung oleh
salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;

Kultur virus influenza H5N1 positip.

PCR influenza (H5) positip.

Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali

E. CARA PENULARAN FLU BURUNG


Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas kemanusia,
melalui air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini juga dapat menular melalui
udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta
burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga
dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
Contohnya: pekerja di peternakan ayam, pemotong ayam dan penjamah produk
unggas lainnya.
Unggas yang sakit oleh Influenza A atau virus H5N1 dapat mengeluarkan
virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air
sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol
derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan
lebih lama. Virus ini mati pada pemanasan 56 derajat Celcius dalam 3 jam atau 60
derajad celcius selama 30 menit. Bahan disinfektan fomalin dan iodine dapat
membunuh virus menakutrkan ini.
Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Burung yang terinfeksi
virus akan mengeluarkan virus ini melalui saliva (air liur), cairan hidung, dan kotoran.
Avian Virus influenza avian dapat ditularkan terhadap manusia dengan 2 jalan.
Pertama kontaminasi langsung dari lingkungan burung terinfeksi yang mengandung

virus kepada manusia. Cara lain adalah lewat perantara binatang babi. Penularan
diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan.

Penyebaran flu burung di berbagai belahan dunia antara lain:


1. Ayam dan manusia di Hongkong. Selama wabah tersebut Pada tahun 1997 Avian
Influenza A (H5N1) telah menginfeksi berlangsung 18 orang telah dirawat di rumah
sakit dan 6 diantaranya meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran tersebut
pemerintah setempat memusnahkan 1,5 juta ayam yang terinfeksi flu burung. Pada
tahun 1999, di Hongkong dilaporkan adanya kasus Avian Influenza A (H9N2) pada 2
orang anak tanpa menimbulkan kematian. Pada tahun 2003, di Hongkong ditemukan
lagi dua kasus Avian Influenza A (H5N1) dan satu orang meninggal.
2. Pada tahun 2003, di Belanda ditemukan 80 kasus Avian Influenza A (H7N7) dan
satu diantaranya meninggal.
3. Pada tahun 2004 terjadi lagi 25 kasus Avian Influenza A (H5N1) di Vietnam (19)
dan Thailand (6) yang menyebabkan 19 orang meninggal (5 di Thailand, 14 di
Vietnam)
F. CARA PENCEGAHAN FLU BURUNG
1. Pada Unggas:

Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung

Vaksinasi pada unggas yang sehat

2. Pada Manusia:
Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang):

Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.

Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu
burung.

Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).

Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja.

Membersihkan kotoran unggas setiap hari.

Imunisasi.
10

3. Masyarakat umum:

Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat
cukup.

Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu : Pilih unggas yang sehat
(tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)

Memasak daging ayam sampai dengan suhu 800 C selama 1 menit dan
pada telur sampai dengan suhu 640 C selama 4,5 menit.

Basuh tangan sesering mungkin, penjamah sebaiknya juga melakukan


disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau larutan pemutih/khlorin
0,5%untuk alat2/instrumen)

Lakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang terpajan dan


keluarganya. Perhatikan keluhan-keluhan seperti Flu, radang mata,
keluhan pernafasan.

G. PENATALAKSANAAN FLU BURUNG


Pengobatan bagi penderita flu burung adalah:

Oksigenasi bila terdapat sesak napas.

Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus).

Pemberian obat anti virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari.

Anti replikasi neuramidase (inhibitor): Tamiflu dan Zanamivir

Amantadin diberikan pada awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam
pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2
dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari.

CATATAN PENTING
Penyebab flu burung di Indonesia adalah virus influenza tipe A subtipe H5N1.
PENTING YANG HARUS ANDA KETAHUI DARI FLU BURUNG DARI WHO
Petunjuk bagi penduduk yang tinggal di daerah yang tertular flu burung Penyebaran
flu burung di daerah yang tertular bisa dicegah:
1. orang sebaiknya menghindari kontak dengan ayam, bebek dan unggas lainnya kecuali
sangat perlu. Ini adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi oleh flu burung.
11

2. Anak anak memiliki resiko yang lebih tinggi karena mungkin mereka bermain di
tempat di mana unggas berada. Ajarilah anak anak untuk mengikuti petunjuk berikut:

Hindari kontak dengan unggas jenis apapun, dengan bulu bulunya, kotoran
maupun limbahnya.

Jangan memelihara unggas sebagai hewan kesayangan.

Cucilah tangan dengan air dan sabun setiap sesudah bersentuhan dengan
unggas.

Jangan tidur di dekat tempat pemeliharaan unggas.

3. Jangan memindahkan unggas baik yang hidup maupun yang mati dari satu tempat ke
tempat lain, bahkan sekalipun anda kira unggas tersebut sehat.
4. Menangani

unggas

di

daerah

tertular

harus

dilakukan

ditempat,

tanpa

memindahkannya ke luar dari area tersebut.


5. Jangan memasak unggas berasal dari daerah tertular untuk makanan keluarga maupun
hewan peliharaan anda. Penyembelihan dan penanganan unggas tersebut untuk
makanan adalah berbahaya.
6. Apabila anda secara tidak sengaja kontak dengan unggas di daerah tertular, seperti
misalnya menyentuh badan unggas, feses atau kotoran unggas yang lain, atau berjalan
di atas tanah di mana ada kotoran unggasnya:

Cucilah tangan sampai bersih memakai air dan sabun sesudah setiap kontak.

Lepaskan sepatu di luar rumah dan dibersihkan.

Periksa suhu tubuh anda sekali setiap hari selama 7 hari. Apabila anda demam
( di atas 37.5 oC), periksakan diri anda ke dokter atau ke rumah sakit terdekat
dengan segera.

7. Penanganan yang benar terhadap unggas yang sakit, diduga karena flu burung atau
unggas yang mati merupakan kontrol yang penting untuk mencegah penyebaran
penyakit.
8. Anak anak di jaga agar tidak mendekati unggas yang sakit atau mati.
9. Apabila anda harus menangani unggas yang mati atau sakit, pakailah alat pelindung,
seperti

masker,

goggle

(pelindung

mata),

sepatu

boot,

sarung

tangan..

Apabila peralatan tersebut tidak tersedia, gunakan kain/sapu tangan untuk menutup
mulut dan hidung, pakailah kaca mata, gunakan tas plastik sebagai sarung tangan dan
pembungkus sepatu dan mengikatnya pada pergelangan tangan dan kaki dengan karet.
Pakailah baju overall yang bisa dicuci.
12

10. Apabila anda baru pertama kali mendapati unggas yang sakit atau mati dan tidak
yakin situasinya, segera beritahu petugas yang berwenang dan serahkan penangan
unggas tersebut kepada ahlinya. Dekontaminasi kebun atau kandang ayam akan
membantu menghambat penyebaran penyakit.
11. Apabila mungkin, mintalah jasa petugas yang ahli untuk membantu dekontaminasi
kebun atau kandang ayam.
12. Apabila hal itu tidak mungkin, dan anda harus mengejakannya sendiri, pakailah
perlengkapan untuk melindungi mata, kepala, tangan, kaki dan bagian bagian lain yg
tidak tertutup pakaian.
13. Unggas yang mati harus dikubur dengan aman
14. Pembersihan yang efektif akan menghilangkan bulu bulu atau feses yang tertinggal di
kandang.
15. Virus flu bisa bertahan untuk sementara waktu di bahan bahan organic, jadi melalui
pembersihan total dengan deterjen merupakan langkah yang amat penting. Semua
bahan organic harus disingkirkan dari kandang ayam sedapat mungkin.
16. Oleh karena area terbuka (pekarangan) yang digunakan untuk memelihara unggas
sulit untuk di bersihkan ataupun didesinfeksi, unggas sebaiknya ditiadakan dari area
tersebut selama paling sedikit 42 hari untuk membiarkan radiasi ultraviolet
menghacurkan sisa sisa virus. Periode pengosongan ini perlu diperpanjang pada
musim dingin (hujan).
17. Penyemprotan desinfektan pada tumbuh tumbuhan di pekarangan/kebun maupun pada
tanah hampir tidak ada gunanya, karena bahan kimia tersebut akan diinaktifkan oleh
bahan organic. Pengupasan lapisan tanah biasanya tidak dianjurkan kecuali bila
kontaminasi feses pada tanah tersebut sangat berat. Unggas yang mati dan
feses/kotorannya harus dikubur.
18. Sedapat mungkin, mintalah bantuan dari petugas peternakan setempat bagaimana cara
mengubur bangkai unggas dengan aman.
19. Pada waktu mengubur bangkai unggas dan fesesnya, usahakan untuk tidak
menimbulkan debu. Semprotlah terlebih dahulu area penguburan dengan air untuk
melembabkan. Kuburlah bangkai unggas dan fesesnya dengan kedalaman paling
sedikit 1 meter.
20. Setelah bangkai unggas telah dikubur dengan benar, bersihkan seluruh area dengan
seksama menggunakan deterjen dan air. Virus flu relatif bisa dimatikan oleh berbagai

13

jenis deterjen dan desinfektan. Pakaian pelindung yang terkontaminasi harus ditangani
dengan benar atau dimusnahkan.
21. Setelah area dibersihkan, lepaskan semua perlengkapan pelindung dan cucilah tangan
dengan air dan sabun.
22. Cucilah pakaian menggunakan air panas atau air sabun yang hangat. Jemurlah
dibawah sinar matahari.
23. Letakkan sarung tangan bekas pakai dan benda benda lain yg akan dimusnahkan ke
dalam kantung plastik untuk dimusnahkan dengan aman.
24. Bersihkan semua perlengkapan yang bisa dipakai kembali seperti misalnya sepatu
boot dan kaca mata pelindung menggunakan air dan deterjen, tapi jangan lupa untuk
mencuci tangan setelah memegang benda benda tersebut.
25. Benda benda yang tidak dapat dibersihkan dengan baik harus dimusnahkan.
26. Bersihkan badan/ mandi dengan air dan sabun. Cucilah rambut juga.
27. Hati hati untuk tidak menyentuh lagi pakaian atau benda yang terkontaminasi, atau
mengotori lagi area yang telah dibersihkan.
28. Yang paling penting, cucilah tangan setiap selesai menangani benda benda yang
terkontaminasi.
Alas kaki/sepatu juga harus didekontaminasi.
29. Setelah berjalan di area yang mungkin terkontaminasi ( misalnya: peternakan, pasar,
kebun tempat memelihara ayam), bersihkan sepatu sebaik mungkin menggunakan air
dan sabun.
30. Pada saat membersihkan sepatu, berhati hati agar tidak ada kotoran yang terpercik ke
wajah atau ke baju. Pakailah kantong plastik untuk melindungi tangan, lindungi mata
dengan kaca mata atau goggles, tutuplah hidung dan mulut dengan kain/ saputangan.
31. Tinggalkan sepatu dan sepatu boot di luar rumah sampai kita merasa yakin sepatu
tersebut sudah benar benar bersih. Orang orang yang menderita gejala flu/pilek
sebaiknya lebih berhati hati.
32. WHO percaya bahwa sangatlah penting untuk mencegah penyebaran flu manusia
pada area yang terkena flu burung. Apabila flu manusia dan flu burung saling kontak,
ada resiko terjadinya pertukaran materi genetis yang bisa menimbulkan terbentuknya
jenis virus baru.
33. Setiap orang yang sedang menderita flu/pilek haruslah berhati hati dengan kotoran
dari hidung(ingus) dan mulutnya pada saat berada di sekitar orang lain, terutama anak
anak, untuk mencegah penularan flu manusia.
14

34. Tutuplah hidung dan mulut pada waktu batuk atau bersin. Gunakan tissue dan
dibuang setelah sekali pakai. Ajarkan anak anak untuk melakukan hal ini juga.
35. Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun setiap sehabis menyentuh kotoran hidung
atau mulut karena kotoran tersebut bisa mengandung virus.
36. Anak anak cenderung untuk menyentuh wajah, mata dan mulut dengan tangan yang
masih kotor. Ajarkan pada anak anak untuk mencuci tangan setelah batuk, bersih dan
menyentuh benda benda yang kotor.
37. Laporkan ke petugas kesehatan segera dan konsultasikan ke ahli kesehatan apabila
anda menderita demam dan atau gejala seperti flu. Tindakan pencegahan bisa
dilakukan apabila mengunjungi teman/saudara yang dirawat di rumah sakit
38. Apabila anda mengunjungi pasien yang menderita flu burung, ikuti petunjuk dari
petugas rumah sakit untuk mengenakan pakaian pelindung, termasuk masker, jas
laboratorium, sarung tangan dan goggles (pelindung mata).
39. Pakaian pelindung seperti itu dibutuhkan apabila anda akan kontak secara langsung
dengan pasien atau lingkungan di mana pasien berada.
40. Pastikan bahwa masker yang anda kenakan unkurannya pas buat anda. Apabila tidak,
bicarakan dengan petugas rumah sakit.
41. Pada waktu anda meninggalkan ruangan pasien, anda harus melepaskan semua
pakaian pelindung tersebut dan mencuci tangan dengan air dan sabun. Di daerah
tertular, di mana adanya flu burung telah dipastikan, jangan mengkonsumsi daging
ayam yang berasal dari ayam yang sakit atau mati.
42. Di daerah tertular, disarankan untuk tidak memanfaatkan ayam sakit atau mati untuk
makanan orang maupun hewan. Walaupun nampak sehat, ayam yang berasal dari
daerah tertular jangan dimanfaatkan untuk makanan. Di daerah sekitarnya ( yang
berdekatan dengan daerah tertular) beberapa tindakan pencegahan perlu dilakukan.
43. Secara umum, hanya unggas yang sehat yang boleh dimanfaatkan sebagai bahan
makanan.
44. Untuk memotong/mematikan unggas, gunakan cara cara agar anda maupun
lingkungan di rumah anda tidak dicemari oleh darah, debu, feses maupun kotoran lain
yang berasal dari unggas tersebut. Tanyakan ke petugas peternakan setempat
mengenai prosedur pemotongan unggas yang benar.
45. Untuk pencabutan bulu, gunakan cara yang benar agar tidak mengotori anda maupun
lingkungan tempat tinggal anda. Cara terbaik adalah dengan merendam unggas
tersebut di dalam air panas sebelum mencabuti bulunya.
15

46. Untuk membersihkan isi perut dan usus unggas gunakan cara yang benar agar tidak
mengotori lingkungan tempat tinggal anda.
47. Jangan menyentuh benda benda lain maupun wajah anda (misalnya: mengusap mata)
pada saat anda melakukan prosedur prosedur tersebut di atas, kecuali setelah anda
mencuci tangan dengan air dan sabun. Lakukan semua tindakan pencegahan untuk
memastikan bahwa unggas atau produk asal unggas diproses dengan benar dan aman
untuk di konsumsi.
48. Ayam diproses secara higienis dan di masak sampai matang, contohnya: sudah tidak
ada lagi cairan berwarna kemerahan, ayam dianggap aman untuk di makan.
Tetapi perlu diingat bahwa apabila ayam tersebut mengandung penyakit menular spt
misalnya flu burung, orang yang memasak ayam tersebut mempunyai resiko tertular
demikian juga lingkungan tempat ayam itu dipersiapkan untuk dimasak bisa tercemar
oleh virus.
49. Telur juga bisa membawa bibit penyakit, seperti misalnya virus flu burung di bagian
dalam telur maupun di kulit luarnya. Telur mentah dan kulit telur harus ditangani
dengan hati hati. Cucilah kulit telur dengan air sabun dan cucilah tangan setelahnya.
Telur yang dimasak sampai matang (direbus selama 5 menit pada temperature 70oC)
tidak akan menularkan virus flu burung apabila dimakan.
50. Secara umum, semua makanan harus dimasak sampai matang, mencapai temperatur
paling sedikit 70oC atau lebih di bagian dalam.

16

H. PATHWAY
PATHWAY
FLU BURUNG

UNGGAS : melalui tinja kemudian mongering dan di hirup

LANGSUNG

TIDAK

LANGSUNG

1. Kontak langsung dgn unggas

1. Transfuse darah

2. Kendaraan yg mengangkut binatang

2. Penyebaran flu

3. Alat-alat peternakan
4. pakaian

virus avian influenza

menyebar melalui udara

memasuki alveoli

radang dan bengkak

peningkatan produksi eksudat


efektif
17

bersihan jalan nafas tdk

G. ASKEP
KASUS FLU BURUNG
Tn F (35 thn) masuk rumah sakit atas rujukan dari puskesmas setempat karena diindikasikan
suspek flu burung. Klien mengalami demam dengan suhu 390C, sakit tenggorokan, nyeri otot,
sakit kepala, batuk- pilek, dengan dahak yang banyak dan sesak nafas RR: 24x/menit, ronkhie
(+). Seminggu terakhir klien sibuk mengurus unggas-unggasnya yang kebetulan banyak yang
mati mendadak. Saat dilakukan pemeriksaan di RS didapatkan: keadaan umum klien lemah,
kesadaran: CM (compos mentis), TD: 125/80 mmHg, HR: 100x/menit, saturasi oksigen 98%,
isolasi virus H5N1 dalam sekret hidung dan dahak, akantetapi gambaran rontgen thorak
belum menunjukan adanya infiltrat.

1. Data Fokus
DS :
a. Seminggu terakhir klien sibuk mengurus unggas-unggasnya yang
kebetulan banyak yang mati mendadak
b. Sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, batuk pilek dengan dahak
yang banyak dan sesak nafas
DO :
a. KU : lemah
b. TTV : TD 125/80 mmHg, HR 100 x/menit, RR 24x/menit, Suhu 390C,
ronkhie (+), saturasi oksigen 98 %
c. Kesadaran: CM (compas mentis)
d. Isolasi virus H5N1 dalam sekret hidung dan dahak

2. Analisa Data
No.

Symptom
DS

1.

Etiologi
Sekresi tertahan

DO

Sakit

- RR : 24 x/menit

tenggorok

- Rokhie : (+)

an

- Saturasi

Batuk

oksigen

98%

18

Problem
Ketidak efektipan
jalan nafas

pilek

- Isolasi firus H5N1

dengan

dalam

sekret

dahak

hidung dan dahak

yang
banyak
dan sesak
nafas

DS
2.

Invasi virus

DO

-seminggu

-TD : 125/80

terakhir klien

mmHg

sibuk mengurus

-Suhu : 39 0C

unggas-

-RR : 24 x/menit

unggasnya yang

- HR : 100 x/menit

kebetulan banyak

- Rhonkie : (+)

Hipertermia

yang mati
mendadak

3. Diagnosa keperawatan
1.

Hipertermia berhubungan dengan invasi virus ditandai dengan :

DS : - seminggu terakhir klien sibuk mengurus unggas-unggasnya yang


kebetulan banyak yang mati mendadak
.
DO : - suhu : 390C
- RR : 24 x/menit
- Ronkie : (+)
- HR : 100 x/menit
Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan sekresi tertahan yang
ditandai dengan :
DS : -Pasien mengeluh sakit tenggorokan.
19

- Nyeri otot, sakit kepala, batuk pilek dengan dahak yang banyak dan
sesak nafas
DO : -RR : 24 x/menit
-ronkie (+)
-saturasi oksigen : 98 %
- Isolasi virus H5N1 dalam sekret hidung dan dahak

4. Intervensi

Jam/tgl

No.

Tujuan

Intervensi

Dx

(NOC)

(NIC)

I
selasa,
24/12/
12,

07.00

07.30

08.00

Rasional

Setelah dilakukan

-Monitor TTV pasien.

-untuk

tindakan keperawatan

- Berikan cairan dan

mengetahui

selama 1x24 jam,

nutrisi secukupnya

keadaan pasien

termoregulation (0800)

kepada klien

-Agar

dapat teratasi dengan

-Ajarkan klien

tercukupnya

kriteria hasil :

memasukkan cairan

kebutuhan

-pernafasan dengan

melalui oral

cairan pada

batas normal 16-20

-kolaborasikan dengan klien.

x/menit (080013)

dokter untuk

-Agar pasien

- Radial pulse dengan

pemberian obat

dapat

batas normal 60-100

parasetamol

memasukkan

x/menit (080012)

cairan secara

-hipertermia dengan

mandiri

batas normal (36-37 C)

-agar
mempercepat
kesembuhan
klien

20

TTD

II.
rabu,2
6/12/1
2
07.00

07.30
08.00

09.00

09.30

Setelah dilakukan

Airway management

-Untuk

tindakan keperawatan

(3140)

mengetahui

selama 1x24 jam,

-pantau pernafasan

keadaan

ketidak efektifan jalan

dan status klien

pernafasan klien

nafas (0410) dengan

-dorong klien untuk

- Agar klien

kriteria hasil :

menggunakan nafas

dapat bernafas

-pernafasan (16-20

dalam

dengan lancar

x/menit) (041004)

-Ajarkan klien

-Agar klien

-pernafasan normal

bagaimana cara batuk

dapat

dengan kriteria tidak

efektif

mengeluarkan

menggunakan alat

-Kolaborasi dengan

dahak

bantu nafas dan suara

dokter untuk

-Agar

nafas (041005)

pemberian obat

memperlancar

-kemampuan untuk

pengencer dahak bila

pernafasan klien

mengeluarkan sekret

perlu dilakukan

dan

dengan batuk efektif

suction

mempercepat

(041012)

kesembuhan

-penumpukan sekret

klien

dapat diatasi dengan


batuk efektif (041021)
-

5. Implementasi
Hari/tgl

Jam

No.

Implementasi

Respon

TTD

Dx
11.00

I.

-Memonitor TTV

-DS: -.

Selasa,

-DO:

24/12/12

suhu=
360C

12.00
Selasa,

-Memberikan cairan dan


nutrisi secukupnya

x/menit
-

21

RR = 19

Ronkie =

24/12/12

kepada klien

(-)
-

HR = 80
x/menit

DS:
- Klien mengatakan kondisinya sudah
membaik
DO:
13.00

-Mengajarkan klien

Selasa,

memasukkan cairan

24/12/12

melalui oral

Klien terlihat segar dari sebelumnya

DS:
-klien mengatakan sudah bisa
memasukkan cairan melalui oral secara
mandiri
14.00

DO:

Selasa,

-berkolaborasi dengan

24/12/12

dokter dalam pemberian

- Klien

terlihat

dapat

memasukkan

cairan melalui oral dengan baik

obat penurun panas


(parasetamol)
DS:
-klien mengatakan kondisinya mulai
membaik dan demamnya turun
DO:
- Suhu tubuh klien normal 360C
10.00

II

rabu,

Memantau

-DS: klien mengatakan sulit bernafas

pernafasan

26/12/12

dan karena adanya penumpukan sekret

status oksigen

DO: klien terlihat sesak dan adanya


bunyi ronkie

Mondorong klien -DS: klien mengatakan dapat

22

untuk

menggunakan nafas dalam

menggunakan

DO: klien terlihat dapat menggunakan

nafas dalam

nafas dalam dengan baik

-DS: klien mengatakn dapat


menggunakn batuk efektif
-

Mengajarkan

DO: klien terlihat dapat menggunakan

klien bagaimana batuk efektif dengan baik


cara batuk efektif
-DS: klien mengatakn dapat bernafas
dengan lega
DO: klien terlihat bernafas dengan baik
-

Berkolaborasi
dengan

dan lancar.

dokter

dalam pemberian
obat

pengencer

dahak bila perlu


dilakukan suction

6. Evaluasi
Tgl/jam

Evaluasi

No.
Dx
I.

Selasa,
24/12/12
2012

S : Pasien mengatakan kondisinya mulai membaik


dan kebutuhan cairan sudah terpenuhi
O : pasien terlihat tenang dan segar dari
sebelumnya
TTV:
-Suhu : 360C
-HR: 80x/menit
-RR : 19x/menit

A : hipertermia teratasi keseluruhan


P : hentikan intervensi
23

TTD

II.
Rabu,
26/12/12
10.30

S:
- klien mengatakan sulit bernafas karena adanya
penumpukan sekret
- klien mengatakan dapat menggunakan nafas
dalam
- klien mengatakn dapat batuk efektif
- klien mengatakn dapat bernafas dengan lega
tanpa hambatan

O:
- klien terlihat sesak dan adanya bunyi ronkie
- klien dapat menggunakan nafas dalam
-klien terlihat dapat batuk efektif
-klien terlihat bernafas dengan baik dan lancar

A : Airway management teratasi keseluruhan


P : Hentikan intervensi

24

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Flu Burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang
menyerang burung/unggas/ayam . Salah satu tipe yang perlu diwaspadai adalah yang
disebabkan oleh virus influenza dengan kode genetik H5N1 (H=Haemagglutinin,
N=Neuramidase) yang selain dapat menular dari burung ke burung ternyata dapat
pula menular dari burung ke manusia Flu burung bisa menulari manusia bila manusia
bersinggungan langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung. Virus
flu burung hidup di saluran pencernaan unggas. Unggas yang terinfeksi dapat pula
mengeluarkan virus ini melalui tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi
semacam bubuk. Bubuk inilah yang dihirup oleh manusia atau binatang lainnya.
Menurut WHO, flu burung lebih mudah menular dari unggas ke manusia dibanding
dari manusia ke manusia. Belum ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia, dan
juga belum terbukti penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi.
Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru,
strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi
yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A
(H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan
penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak

25

menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih
ganas dan menyerang manusia.

26

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-13409-Chapter1.pdf

http://rivafauziah.wordpress.com/2006/02/25/pengertian-flu-burung/

http://dreamfile.wordpress.com/2012/03/09/flu-burung-gejala-cara-penularanpencegahan-dan-pengobatannya/

http://individuasi.blogspot.com/2011/10/makalah-flu-burung-dbd.html

http://siswa.univpancasila.ac.id/afrilia2012/2012/12/04/patofisiologi-fluburung/

http://fluburung.org/gejala-pada-manusia.asp

http://tiopenta.wordpress.com/tag/flu-burung/

27