Anda di halaman 1dari 8

KEMAS - Volume 4 / No.

2 / Januari - Juni 2009

EUTHANASIA
( DALAM PERSPEKTIF ETIKA DAN MORALITAS )
Intan Zainafree *)

ABSTRAK
Euthanasia oleh seorang dokter terhadap seorang pasien yang sudah tidak
memiliki kemampuan mengobati penyakitnya saat ini masih merupakan
perbuatan pidana berupa menghilangkan nyawa seseorang. Untuk
menempuh euthanasia, selain masih ada persoalan hukum juga masih
ada persoalan etika dan moral. Euthanasia telah melalui tahapan
perkembangan panjang dan menimbulkan situasi pro dan kontra serta
dilematis di beberapa negara. Pro dan kontra mengenai boleh tidaknya
euthanasia dilakukan haruslah dilihat dalam keadaan senyatanya, dan
akan lebih baik lagi bila sebelum dilakukan didahului dengan pengkajian
secara komprehensif, syarat ketat, dan regulasi peraturan. Dalam tulisan
ini akan diuraikan secara luas euthanasia bila dipandang dalam perspektif
etika dan moralitas.
Kata kunci : euthanasia, etika, moral

PENDAHULUAN
Euthanasia atau suntik mati oleh
dokter terhadap seorang pasien yang
sudah tidak memiliki kemampuan
mengobati penyakitnya saat ini masih
merupakan perbuatan pidana berupa
menghilangkan nyawa orang lain. Untuk
menempuh euthanasia, selain masih ada
persoalan hukum yang melarang hal itu,
juga masih ada persoalan etika dan moral.
Masih berlakukah sumpah etik dokter,
yang berasal dari sumpah Bapak Ilmu
Kedokteran Yunani, Hippokrates (400
SM), tak akan kulakukan, walaupun atas
permintaan, untuk memberikan racun
yang mematikan, ataupun sekedar saran
untuk menggunakannya? Pro dan kontra
mengenai boleh tidaknya euthanasia
*)

dilakukan haruslah dilihat dalam keadaan


senyatanya, tetapi akan lebih baik lagi bila
sebelum dilakukan didahului pengkajian
secara komprehensif, syarat ketat, dan
regulasi peraturan.
Dalam tradisi pemikiran moral
diakui tiga pengecualian atas larangan
untuk membunuh, yaitu :
1) Membunuh karena membela diri;
membunuh orang yang menyerang,
bila hal itu perlu untuk membela diri.
Dalam beberapa kasus seorang polisi
misalnya, boleh menembak mati
penyandera yang mengancam
kehidupan sanderanya;
2) Membunuh dalam kondisi perang
yang adil; seorang anggota angkatan
bersenjata boleh membunuh

Staf Pengajar pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat FIK UNNES

183

Euthanasia ... - Intan Zainafree

angkatan bersenjata musuh dalam


aksi di medan perang. Mereka ini
disebut sebagai combatants;
3) Hukuman mati.
Pengalaman menunjukkan dari ketiga
pengecualian itu, nampaknya
hukuman mati paling banyak
menimbulkan pro dan kontra.
Semakin banyak orang menyatakan
hukuman mati sebagai tindakan yang
tidak etis, oleh karenanya banyak
kalangan mengajukan rekomendasi
untuk menghapuskannya.
Sejalan dengan perkembangan
paradigma kesehatan, terkait dengan
fungsi serta tugas dokter dan hak hidup
pasien dalam beberapa dekade terakhir
telah berkembang fenomena dilematis
persoalan pengecualian yang keempat
yaitu Physician assisted suicide ( bunuh
diri yang diperkenankan ) dan
merupakan salah satu sebab terbesar
terjadinya bunuh diri di Amerika Serikat.
Istilah lain mengenai bunuh diri model
ini adalah Euthanasia. Namun beberapa
kepustakaan menunjukkan bahwa
sesungguhnya assisted suicide (bunuh
diri berbantuan) adalah perkembangan /
perluasan dari euthanasia.
Di beberapa negara kini mulai
bermunculan
organisasi
yang
memperjuangkan keabsahan euthanasia
(di Inggris bahkan telah berdiri organisasi
sejenis ini sejak tahun 1935). Organisasi
ini dalam tahap bahkan internasional telah
melakukan kerjasama sejak tahun 1976
dalam International Federation of Right
to Die Societis. Yang menjadi pertanyaan
sekarang, apakah fenomena euthanasia
ini dapat diterima secara logika dan
moralitas hukum, mengingat di dalamnya
terdapat aspek pembunuhan atau
penghilangan nyawa seseorang ?

184

PEMBAHASAN
Euthanasia bukanlah suatu
fenomena baru. Euthanasia telah melalui
tahapan perkembangan panjang dan
menimbulkan situasi pro dan kontra
serta dilematis di beberapa negara.
Sebelum membicarakan euthanasia,
pertanyaan pertama yang mengemuka
adalah kalau ada hak untuk hidup,
tidakkah juga harus disetarakan
keberdayaan hak untuk mati ?
Masyarakat umum menganggap
euthanasia sama dengan suicide. Euthanasia (good death/easy death atau mercy
killing) berasal dari bahasa Yunani, Eu =
baik dan thanatos = mati, disebut juga
kematian yang baik atau bahagia atau
pembunuhan karena kasihan.
Terdapat sejumlah rumusan
pengertian tentang euthanasia, antara lain
sebagai berikut :
1) Plato : euthanasia adalah mati
dengan tenang dan baik.
2) Gezondheidsraad ( Belanda ) : euthanasia adalah perbuatan yang
dengan sengaja memperpendek
hidup ataupun dengan sengaja tidak
berbuat untuk memperpanjang hidup
demi kepentingan pasien oleh
seorang dokter atau bawahannya
yang bertanggung jawab padanya.
3) Van Hattum : euthanasia adalah sikap
mempercepat proses kematian pada
penderita penderita penyakit yang
tidak dapat disembuhkan, dengan
melakukan atau tidak melakukan
suatu tindakan medis, dengan
maksud untuk membantu korban
menghindarkan diri dari penderitaan
dalam menghadapi kematiannya dan
untuk membantu keluarganya
menghindarkan diri melihat
penderitaan
korban
dalam
menghadapi saat kematiannya.

KEMAS - Volume 4 / No. 2 / Januari - Juni 2009

4) Kode Etik Kedokteran Indonesia,


merumuskan euthanasia dalam tiga
arti :
(1) berpindahnya ke alam baka
dengan tenang dan aman tanpa
penderitaan, untuk yang beriman
dengan nama Allah di bibir;
(2) waktu hidup akan berakhir,
diringankan penderitaan si sakit
dengan memberinya obat
penenang;
(3) mengakhiri penderitaan dan
hidup seorang sakit dengan
sengaja atas permintaan pasien
sendiri dan keluarganya.
(4) Oxford English Dictionary
merumuskan euthanasia sebagai
sebuah kematian yang lembut
dan nyaman; dilakukan terutama
dalam kasus penyakit yang
penuh dengan penderitaan dan
tak tersembuhkan.
Mencermati ragam rumusan di atas,
euthanasia secara umum adalah suatu
tindakan mengakhiri hidup seseorang
atas dasar belas kasihan karena menderita
penyakit, cidera atau tidak berdaya yang
tidak memiliki harapan lagi untuk
sembuh. Tindakan ini dilakukan semata
mata agar seseorang meninggal lebih
cepat dengan esensi :
1) Tindakan menyebabkan kematian;
2) Dilakukan pada saat seseorang itu
masih hidup;
3) Penyakitnya tidak ada harapan untuk
sembuh atau dalam fase terminal;
4) Motifnya belas kasihan, karena
penderitaan berkepanjangan;
5) Tujuannya mengakhiri penderitaan.
Berdasarkan ada atau tidaknya
upaya pendahuluan oleh dokter terhadap
pasien, euthanasia dikelompokkan dalam
dua bagian besar, yaitu :
1) Euthanasia aktif; euthanasia yang

mengacu pada praktek yang


membawa kematian secara langsung
, baik orang tersebut menhendaki
atau tidak. Pelaksanaan euthanasia di
sini memerlukan suatu upaya tertentu
untuk mencapai kematian.
2) Euthanasia pasif; tidak melakukan
tindakan apapun untuk mencegah
kematian itu terjadi. Pelaksanaan euthanasia yang kematiannya dibuat
secara perlahan lahan dan alami,
sehingga tidak diperlukan adanya
tindakan apapun untuk mencapai
kematian. Istilah euthanasia pasif kini
tidak lagi dipergunakan tetapi diganti
dengan membiarkan pasien
meninggal (letting die).
Menurut perkembangan terbaru,
euthanasia dikelompokkan dalam tiga
tahapan : mercy death, mercy killing, allowing someone to die. Pemilahan ini
muncul karena semakin banyak kasus
baru yang timbul. Salah satu kasus yang
menarik di antaranya adalah penemuan
di bidang medis yaitu brain death
(kegagalan fungsi otak yang cenderung
parah/fatal ). Menghadapi kasus
demikian, timbul kebimbangan moral
seorang dokter yang dihadapkan pilihan
antara kasihan apabila tetap
dipertahankan
dan
mengakhiri
penderitaan pasien dan di sisi lain sumpah
dokter untuk mempertahankan hak hidup
seseorang.
Perkembangan Euthanasia di
Amerika Serikat
Di negara bagian Washington dulu
berlaku larangan dilakukannya physician
assisted suicide. Namun setelah
keputusan Ninth U.S. Circuit Court of
Appeals sejak 1997 telah membatalkan
larangan tentang Physician assisted suicide , maka kini hak untuk mengakhiri
185

Euthanasia ... - Intan Zainafree

hidup telah diperbolehkan.


Komite ad hoc terpaksa dibentuk
di Harvard Medical School tahun 1969
dan menghasilkan rekomendasi
mengenai boleh / tidaknya mengakhiri
hidup pasien penderita brain death, yaitu
bila memenuhi unsur unsur :
1) Unreceptivity
and
unrespondesiveness (kehilangan daya
tanggap/reaksi);
2) No spontaneous movements or
breathing (tanpa gerak spontan dan
nafas);
3) No reflexes (tanpa refleks);
4) a flat electroencephalogram / EEG
(kerusakan otak).
Sebuah penelitian menunjukkan di
Amerika Serikat pendapat masyarakat 60
%, (sementara di Cina 89 %) setuju
dilakukannya euthanasia. Jawaban setuju
di kalangan responden di Amerika Serikat
itu setidaknya dilandasi tujuh alasan
berbeda untuk mendukung pembunuhan
atas dasar belas kasihan (euthanasia),
yaitu :
1) Tesis filosofis bahwa setiap pribadi
rasional mempunyai hak yang tak
dapat dialihkan dan tak dapat
dikurangi untuk membunuh dirinya;
2) Anggapan mengenai kepemilikan
anggapan bahwa kehidupan
seseorang merupakan miliknya
sendiri;
3) Fakta materiil, sejumlah penyakit
dirasa membuat rasa amat menderita;
4) Keputusan yang mengakibatkan
sejumlah kehidupan, kendatipun
bukan karena sakit, tidak mempunyai
arti;
5) Pendapat bahwa ketergantungan
pada perhatian orang orang lain
itu merendahkan dan tidak pantas;
6) Gagasan bahwa teknik medis modern memaksa kita untuk menerima
186

pembunuhan belas kasih dalam


banyak kasus;
7) Teori filosofis mengenai tindakan dan
kelalaian.

Euthanasia di Australia
Negara bagian Australia, Northern
Territory sesungguhnya menjadi tempat
pertama di dunia dengan UU yang
mengizinkan euthanasia dan bunuh diri
berbantuan, meski reputasi ini tidak
bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut
Right of the terminally ill bill ( UU tentang
hak pasien terminal ). Penetapan ini
membuat Bob Dent seorang penderita
kanker prostat orang pertama yang
mengakhiri hidupnya dengan jalan euthanasia. Kamis 2 Januari Janet Mills (
52 th ) mengikuti jejak Bob melakukan
euthanasia karena telah 3 tahun lamanya
mengidap penyakit mycosis fungoides.
Penderitaan yang dialaminya berupa gatal
gatal diikuti rontoknya kulit, bau busuk,
sprei yang dijadikan alas tidur penuh
darah.
Undang undang ini kemudian
beberapa kali dipraktekkan, tetapi bulan
Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan
Senat Australia, sehingga harus ditarik
kembali.
Euthanasia di Belgia dan Belanda
Belgia menyetujui draf RUU euthanasia berdasarkan persetujuan dari
parlemen, untuk mengundangkan praktik
itu. Kars Veling, anggota Senat dari Partai
Kristen Bersatu, mengakui kalangan
agama tidak menyetujui undang- undang
ini. Euthanasia, kata Veling, bukanlah
sesuatu yang dipaksakan pada orang,
akan tetapi hanyalah sebuah opsi, pilihan
terakhir, bagi mereka yang secara medis
sudah tidak mempunyai harapan hidup

KEMAS - Volume 4 / No. 2 / Januari - Juni 2009

lagi ( AFP / Reuters / sha Kompas, 12


April 2001 ).
Suatu penelitian yang pernah
dilakukan oleh Brian Pollard di Belanda
pada tahun 1991, menemukan sedikitnya
25.000 kali setiap tahun dilakukan
pembunuhan secara medis. Angka itu
adalah 20 % dari seluruh kematian di
Negeri Belanda. 14.500 dari kematian
medis di atas merupakan euthanasia yang
diandaikan atau dipaksakan. Pada tahun
yang sama sebuah dewan Belanda
mendapatkan bahwa 27 % dari seluruh
dokter di Belanda pernah melakukan euthanasia tanpa permintaan apapun dari
pasien.
Berhadapan dengan rekomendasi
mengenai euthanasia di Belanda, yang
meskipun dilarang oleh hukum
perundang undangan, namun hal ini
dilindungi oleh serangkaian keputusan
pengadilan dan Mahkamah Agung, serta
secara luas dianggap legal, atau lebih
tepat gedoeken. Gedoekan dinyatakan
sebagai tindakan toleransi sehingga dapat
melindungi seorang dokter bila
melakukan euthanasia, bila :
1) Permintaan pasien harus bersifat
sukarela;
2) Pasien berada dalam penderitaan
yang tidak dapat ditolerir;
3) Semua alternatif untuk meringankan
penderitaan yang bisa diterima oleh
pasien, telah dicoba;
4) Pasien mempunyai informasi lengkap
/ cukup ( the right to die in dignity );
5) Dokter telah berkonsultasi dengan
dokter kedua, yang penilaiannya
diharapkan independen.

Euthanasia di Indonesia
Di Indonesia sendiri, pemberian
bantuan kepada pasien dalam keadaan
terminal untuk diakhiri hidupnya (dengan

berbagai cara, antara lain, menyuntikkan


obat yang membuat pasien mati), belum
ada laporannya, sehingga sulit untuk
mengetahui apakah pernah dilaksanakan
tindakan euthanasia. Yang seringkali
terjadi adalah penolakan pasien untuk
diberikan bantuan / pertolongan
pelayanan kesehatan, sehingga pasien
tersebut meninggal dunia. Dengan
adanya TROS (hak manusia untuk
menentukan dirinya sendiri) maka dokter
/ Rumah Sakit tidak dapat memaksa
pasien untuk mendapatkan pertolongan
kesehatan, meskipun kemungkinan
pasien sembuh sangat besar.
Belum lama berselang masalah euthanasia di Indonesia begitu gencar
diperdebatkan, dan menjadi silang
pendapat antara pro dan kontra ketika
Panca Satrya Hasan Kusuma menyatakan
bahwa ia meminta istrinya mati demi
anak. Ia meminta agar istrinya, Agian
Isna Nauli ( 33 th ), disuntik mati karena
tidak bisa sembuh lagi. Ny Agian sudah
hampir tiga bulan lumpuh setelah
melahirkan anak keduanya, Rayge Atila
Nurullah Kesuma, melalui operasi Caesar di Rumah Sakit Islam Bogor. Ny Agian
mengalami kerusakan otak permanen.
Kerusakan itu terjadi pada batang otak,
syaraf otak, serta otak bagian kiri dan
kanan. Saat operasi Caesar, menurut
Hasan, istrinya mengalami tekanan darah
sangat rendah dan kemudian dipompa
agar tekanannya naik. Setelah operasi,
Ny Agian mengalami koma selama
beberapa hari.
Memang, bila ditelusuri hukum di
Indonesia belum mengatur euthanasia,
tetapi mengingat kondisi tertentu pasien,
bisa saja pengadilan mengambil
terobosan hukum baru atas kasus yang
secara medik tidak bisa lagi disembuhkan
dan dokter sudah angkat tangan. Dengan
187

Euthanasia ... - Intan Zainafree

alasan ini misalnya, bolehlah untuk


direnungkan bagaimana implikasinya
terhadap kasus kasus tertentu. Meski
dalam sejumlah kasus lain berbagai
alasan seperti moral, etika, maupun
religius, ada kecenderungan euthanasia
dapat saja dinyatakan tetap tabu dan
terlarang untuk dilakukan.

Euthanasia dalam Perspektif Etika


dan Moralitas
Menurut Bertens, diterimanya
Undang Undang Euthanasia dinilai
sebagai semacam revolusi di bidang
hukum. Banyak pihak tidak setuju, baik
di Belanda sendiri maupun di luar negeri.
Partai Demokrat Kristen di Jerman malah
mempertimbangkan
menggugat
keabsahan undang undang Belanda ini
pada Mahkamah Pengadilan Eropa karena
dianggap bertentangan dengan
Konvensi Eropa tentang Hak Asasi
Manusia . Tetapi dalam demokrasi modern, undang undang dibentuk oleh
institusi institusi yang demokratis.
Dalam hal ini keabsahan undang
undang Belanda itu tidak dapat diragukan
lagi. Dalam parlemen undang undang
ini diterima dengan mayoritas 104
melawan 40 suara ( November 2000 ),
lalu dalam senat dengan mayoritas 46
melawan 28 suara.
Bila disimak secara cermat, apakah
penerimaan secara hukum atas euthanasia
akan menimbulkan fenomena baru ? Lebih
lanjut menurut Berten tampaknya tidaklah
akan signifikan pengaruhnya. Sudah lebih
dari 25 tahun Belanda mengenal praktek
euthanasia. Selama itu euthanasia dilarang
menurut hukum, tetapi bila syarat syarat
tertentu dipenuhi, instansi kehakiman tidak
mengambil tindakan terhadap dokter dalam
mendampingi pasien pasien terminal
berkeyakinan tidak boleh menolak eutha188

nasia kepada pasien yang memintanya.


Tentang masalah euthanasia, waktu itu
berlaku tidak, kecuali Setelah diterima
undang undang baru April 2001, mulai
berlaku ya, asalkan Mulai saat itu
hukum secara positif mengijinkan dokter
mengakhiri kehidupan pasien terminal, asal
beberapa syarat dipenuhi. Karena itu praktik
euthanasia di Belanda hampir tidak
mengalami perubahan, tetapi posisi dokter
terhadap hukum menjadi lebih jelas dan
aman. Sebelumnya dokter sering segan
melapor tindakan euthanasia, karena
merasa ragu bagaimana tanggapan instansi
kehakiman. Kini kekhawatiran ini tidak perlu
lagi, sebab tindakan euthanasia sudah
menjadi legal.
Euthanasia menjadikan buah
simalakama bagi insan medis. Euthanasia pada dasarnya masih dianggap tidak
ada bedanya dengan pembunuhan yang
secara hukum dapat diancam pidana
berdasarkan KUHPidana.
Pasal 344 :
Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas
permintaan yang tegas dan sungguh
sungguh dari orang lain itu sendiri
dihukum dengan hukuman penjara
selama lamanya dua belas tahun.
Ketentuan di atas dilakukan bila atas
permohonan pasien atau keluarganya
(melakukan euthanasia aktif). Namun bila
dilakukan tanpa permintaan pasien
(dikategorikan euthanasia pasif ),
ancamannya Pasal 338 dan 340
KUHPidana.
Pasal 338 : Barangsiapa dengan
sengaja menghilangkan nyawa orang
lain, karena salah telah melakukan
pembunuhan dihukum dengan hukuman
penjara selama lamanya lima belas
tahun.
Pasal 340 : Barangsiapa dengan
sengaja dan dengan direncanakan terlebih

KEMAS - Volume 4 / No. 2 / Januari - Juni 2009

dahulu menghilangkan nyawa orang lain,


karena salah telah melakukan
pembunuhan dengan direncanakan
terlebih dahulu, dihukum dengan
hukuman mati atau dengan hukuman
penjara seumur hidup atau dengan
hukuman penjara sementara selama
lamanya dua puluh tahun.
Padahal euthanasia pasif dapat
memiliki keterkaitan dengan hak hak
pasien, antara lain hak atas informasi, hak
memberikan persetujuan, hak memilih
dokter, hak memilih rumah sakit, hak atas
rahasia kedokteran, hak menolak
pengobatan, hak menolak suatu tindakan
medis tertentu, hak untuk menghentikan
pengobatan.
Sedangkan dari sisi lain yaitu etika,
pandangan mengenai kesucian kehidupan
dan penghargaan pengakuan hak untuk
hidup memungkinkan untuk melakukan
euthanasia ini, karena adanya pengakuan
hak untuk hidup seyogyanya diperlakukan
juga setara dengan adanya hak untuk
mati. Prinsip menghormati kehidupan
adalah salah satu prinsip yang cukup
penting dalam etika medis.
PENUTUP
Mengingat kondisi demikian, yang
dibutuhkan kemudian adalah perawatan
dan pendampingan, baik bagi si pasien
maupun bagi pihak keluarga. Perhatian
dan kasih sayang sangat diperlukan bagi
penderita sakit terminal, bukan lagi
kebutuhan fisik, tetapi lebih pada
kebutuhan psikis dan emosional,
sehingga baik secara langsung maupun
tidak kita dapat membantu pasien
menyelesaikan persoalan-persoalan
pribadinya dan kemudian hari siap
menerima kematian penuh penyerahan
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimanapun si pasien adalah manusia

yang masih hidup, maka perlakuan yang


seharusnya adalah perlakuan yang
manusiawi kepadanya.
Memang euthanasia berbicara
pengakhiran hidup, namun jangan lupa
di dalamnya terkait juga masalah quality
of life. Dan sekiranya pun apabila dahulu
pengadilan akhirnya mengabulkan
permohonan Panca, seorang dokter atas
dasar belas kasihan melakukan suntikan
mati, apakah tindakan dokter ini telah
dapat dinyatakan sesuai dengan hak asasi
manusia ?
Tampaknya dua kubu pro dan
kontra terhadap euthanasia ini senantiasa
akan terjadi meski keduanya sama sama
berlandaskan peri kemanusiaan dan asas
kehidupan yang asasi. Pro euthanasia
bersandarkan kepada sudut pandang
penghilangan penderitaan ( tidak semata
mata pembunuhan ) sedangkan kubu
yang menolak euthanasia beranggapan
bahwa pada hakekatnya euthanasia justru
adalah pembunuhan itu sendiri. Memang,
konteks euthanasia cenderung kepada
konteks medis, namum berimplikasi lebih
luas kepada tatanan sosial lain termasuk
hukum. Di sinilah letak penting
dilakukannya kajian secara komprehensif
terutama batasan pengertian apakah
sesungguhnya makna kematian itu.
Dengan batasan yang jelas, maka dapat
dihindari misunderstanding , meskipun
itu berarti akan memberikan kepastian
atas hukum.
Hukum (pidana) positif di Indonesia jelas belum memberikan ruang bagi
euthanasia, baik euthanasia aktif maupun
euthanasia pasif. Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan
euthanasia sebagai salah satu materi
pembahasan, semoga tetap diperhatikan
dan dipertimbangkan sisi-sisi nilainya,
baik sosial, etika, maupun moral.
189

Euthanasia ... - Intan Zainafree

DAFTAR PUSTAKA
Ameln Fred. 1991. Kapita Selekta Hukum
Kedokteran. Jakarta : Grafikatama
Jaya.
Chandrawila Wila. 2001. Hukum
Kedokteran. Bandung : Mandar
Maju.
Dahlan Sofwan. 2003. Hukum Kesehatan.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Fuady Munir. 2005. Sumpah Hippocrates
(Aspek Hukum Malpraktek Dokter).
Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Guwandi J. 2005. Medical Error dan
Hukum Medis . Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
Teguh Adminto. Euthanasia Perspektif
Medis dan Hukum Pidana Indonesia. http://tittoarema.blogspot.com/
14 Juni 2009.
Wiranata I Gede A.B. 2004. Euthanasia
(Pro dan Kontra), Masalah-masalah
Hukum. Majalah Ilmiah Fakultas
Hukum Universitas Diponegoro Vol.
33 No. 4. Semarang : Fakultas
Hukum Universitas Diponegoro.

190