Anda di halaman 1dari 26

Pembahasan JUDUL 1

Percobaan kali ini untuk mengenal zat anorganik dan membedakannya dari zat
organic yang dapat diketahui dari perubahan kimia dan fisika, untuk mengidentifikasi
unsur alumunium dalam sampel tanah, dan mengidentifikasi keberadaan ion Mg2+
dalam sampel daun dengan metode pengeringan.
Pada praktikum kali ini dilakukan perlakuan terhadap sampel NaCl,CaCO3, susu
bubuk instan , dan bagian tanaman mawar (batang, akar, daun, bunga) dalam cawan
dengan pemanasan pada suhu 105oC dan 200oC. Cawan kosong dipanaskan pada suhu
105oC selama 1 jam. Ini dilakukan agar cawan bebas dari zat pengotor, dan untuk
menstrerilkan cawan dari zat-zat yang mungkin akan menempel pada cawan tersebut.
Lalu cawan tersebut kita dinginkan dalam desikator. Setelah itu cawan ditimbang di
neraca analitik. Nilai berat cawan tersebut nantinya digunakan dalam perhitungan kadar
air yang masih berada dalam sampel. Kemudian sampel tumbuhan di potong kecil-kecil,
dan dimasukkan kedalam cawan tersebut. Pemotongan sampel menjadi kecil-kecil agar
memudahkan sampel dimasukkan pada cawan, dan agar ketika dipanaskan kadar air
dalam sampel akan lebih cepat menguap, karena semakin kecil luas permukaan semakin
cepat kadar air hilang. Setelah sampel dalam cawan dipanaskan pada suhu 105 oC, dari
data yang diperoleh dan telah dimasukkan ke dalam perhitungan, dapat diketahui
bahwa yang mengandung kadar air tertinggi adalah pada sampel batang bunga mawar
yaitu sebesar 17.2248 %. Perbedaan kadar air dalam suatu sampel disebabkan karena
perbedaan bahan, metode, dan suhu serta proses penyimpanannya. Selain itu
perbedaan ini dapat disebabkan karena pengaruh alat-alatnya seperti timbangan
analitik yang sulit stabil dan bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan bahan
lain ketika penyimpanan atau ketika berada dalam desikator.
Setelah itu, dilakukan pemanasan kembali pemanasan pada sampel pada suhu
o
200 C. dalam pemanasan sampel pada suhu 200oC lebih kecil nilai pengurangannya
dibandingkan dengan pemanasan pada suhu 105oC, ini dikarenakan titik didih tiap
senyawa dalam sampel tersebut berbeda-beda. Sampel susu, garam, dan CaCO3,
sesudah pemanasaan pada suhu 105oC maupun 200oC, mengalami perubahan. Garam
setelah dipanaskan tidak menjadi gosong tapi menjadi kering, hal ini karena garam
merupakan senyawa anorganik Meskipun kering, sampel tersebut tidak terbakar,
karena tidak banyak mengandung unsur karbon. NaCl atau garam ini ikatannya kuat,
sehingga sulit mengganti ikatannya dengan karbon, apabila ingin melelehkannya maka
harus dilakukan pemanasan pada suhu 801oC dan akan menguap pada suhu 1413oC.
CaCO3 bila dipanaskan akan pecah menjadi serbuk remah yang lunak dinamakan kalsium
oksida. Hal ini terjadi karena pada reaksi tersebut, setiap setiap molekul dari kalsium
akan bergabung dengan satu atom oksigen dan molekul lainnya akan berikatan dengan

oksigen menghasilkan CO2 yang akan terlepas ke udara sebagai gas karbon dioksida
dengan reaksi sebagai berikut :
CaCO3 CaO + CO2
Adapun susu dipanaskan menjadi gosong, karena salah satu unsur penyusun
susu adalah karbohidrat. Tanah ketika dipanaskan menjadi kering, hal ini
mengindikasikan bahwa unsur penyusun tanah adalah zat anorganik.
Lain halnya pada sampel tumbuhan. Selain kering, sampel juga mengalami
perubahan warna menjadi kehitaman. Secara kimia, ini dikarenakan dimana senyawa
dalam sampel bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan karbon berwarna hitam. Ini
membuktikan dalam sampel bagian tumbuhan lebih banyak zat organiknya, juga mudah
terbakar.
Pada identifikasi unsur alumunium dalam sampel tanah, dilakukan penambahan
larutan NaOH 40% ini dimaksudkan untuk melarutkan zat organic dan anorganik dalam
sampel. Karena zat anorganic dapat larut dalam air dan pelarut organic sedangkan zat
organik hanya mampu larut dalam pelarut organic. Penambahan NaOH akan
membentuk Al(OH)3 yang bersifat amfoter (bias bersifat asam jika direaksikan dengan
basa kuat, dan bersifat basa jika direaksikan dengan basa kuat). Kemudian ditambahkan
larutan H2SO4 dengan tujuan untuk menetralkan campuran basa. Selain menetralkan,
fungsi H2SO4 adalah untuk menghidrolisis senyawa kompleks dalam sampel sehingga
lebih melarut. Penambahan H2SO4 dilakukan secara perlahan agar campuran tidak
kelebihan asam. Setelah ditambahkan asam sulfat, pH menjadi netral dan di dapat dari
pengukuran pH menggunakan indicator universal denan cara membandingkannya
dengan literature warnanya. Dikatakan indicator universal karena terdiri dari beberapa
indicator dengan perubahan warna berbeda di setiap trayek pHnya, sehingga
menimbulkan warna tertentu. Kemudian dilakukan penyaringan dan filtratnya di bagi
menjadi 2 bagian. Untuk mengidentifikasi kandungan Al3+ pada sampel harus
ditambahkan basa kuat yaitu NaOH dengan konsentrasi yang berbeda. Al 3+
teridentifikasi pada larutan dengan penambahan NaOH yang berkonsentrasi tinggi.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi berpengaruh terhadap reaksi. Setelah
ditambahkan NaOH, terbentuk endapan sesuai dengan persamaan kimia :
Al3+ + NaOH Al(OH)3
(coklat kehitaman)
Al(OH)3 + H2SO4 Al2SO4 + H2O
Al2SO4 + NaOH Al3+ + NaSO4 + OHSelanjutnya adalah mengidentifikasi unsur Mg2+ pada sampel daun. Ditambahkan
larutan HCl 6M agar melarutkan zat organic dan anorganik, karena zat anorganik dapat
melarut dalam air dan pelarut organic seperti HCl, sedangkan zat organik hanya mampu
2

larut dalam pelarut organic. Terbentuk 2 fase, ini karena dalam campuran tersebut
terdapat senyawa non polar dan senyawa polar. Kemudian dikocok dan didiamkan
selama 5 menit. Fungsi pengadukan adalah untuk menghomogenkan campuran, dan
pendiaman selama 5 menit bertujuan agar interaksi senyawa polar dengan senyawa
polar, dan senyawa non polar dengan non polar dapat berlangsung, dimana interaksi ini
tidak dapat berlangsung ketika partikel bergerak. Setelah itu ditambahkan NaOH yang
bertujuan untuk menetralkan larutan setelah diasamkan dengan HCl. Dilihat dari sifat
asam basa, karena Mg merupakan unsur periode ketiga maka akan membentuk
senyawa hidroksida, yaitu Mg(OH)2. Kemudian diencerkan dan dilakukan penyaringan
yang bertujuan agar melarutkan zat anorganik karena zat anorganik larut dalam air dan
disaring agar analit lebih murni dari matriksnya. Kemudian ditambahkan dengan Na2SO4
dengan tujuan untuk menentukan kation anorganik Mg2+. Pada pemanasan 105oC,
terdapat endapan putih dalam sampel daun. Hal ini mengindikasikan bahwa pada
sampel daun ini mengandung ion Mg2+. Berikut reaksinya :
Mg2+ + 2HCl 2MgCl2 + 2H
(hijau)
(hijau seulas)
+
MgCl2 + 2H + H2O MgCl2 + H2O
(hijau seulas)
MgCl2 + NaOH Mg2+ + NaCl + H2O
(hijau seulas) (tidak berwarna)
Mg2+ + Na2SO4 MgSO4 + 2Na+

Kesimpulan
Pada proses pemanasan 105oC didapat presentase kadar air yang hilang pada
sampel, diantaranya yaitu Batang 17.2248 %, daun 6.4994 %, akar 5.2594 %,
bunga 6.3161%, tanah 6.4600%, susu 0.3352%, CaCO3 0.0050%, dan garam
0.3437%. Sedangkan pada proses pemanasan 200oC didapat presentase kadar air
yang hilang pada sampel, diantaranya yaitu Batang 9.38 %, daun 6.45 %, akar
4.75 %, bunga 3.11%, tanah 5.5701%, susu 3.0475%, CaCO3 0.0193%, dan garam
3.9204%
Semakin tinggi suhu, maka kadar air akan berkurang karena teruapkan.
Pada sampel tanah terdapat unsur Al3+
Pada sampel daun (pemanasan 105oC) terdapat unsur Mg2+
Zat anorganik tidak rusak oleh pemanasan, sebab ciri dari senyawa anorganik
sendiri adalah memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi, sehingga tahan
dengan pemanasan

Zat organic mudah rusak oleh pemanasan, sebab ciri senyawa organic sendiri
adalah memiliki titik didih dan titik leleh yang rendah sehingga tidak kuat bahkan
bias rusak oleh pemanasan.

Tugas laporan
1. Dari eksperimen yang telah dilakukan, sebutkan beberapa ciri atau sifat yang
menyertai zat anorganik dan membedakannya dengan zat organic!
2. Apa saja dan bagaimana perubahan fisika dan kimia yang terjadi dari setiap
langkah perlakuan dan juga identifikasinya. Tuliskan persamaan kimianya!
Jawaban :
1. Senyawa organic :
- Titik lebur dan titik didih rendah
- Tidak tahan terhadap pemanasan
- Umumnya tidak larut dalam air
Senyawa anorganik :
- Titik didih dan titik leleh tinggi
- Tahan terhadap pemanasan
- Umumnya larut dalam air

PEMBAHASAN JUDUL 2
Nama : Rini Nuraeni
NIM : 1127040061
1. Reaksi asam basa dan metatesis
Pada percobaan pertama yaitu tentang reaksi asam basa dan metatesis.
Reaksi asam basa merupakan reaksi kimia yang melibatkan reagen asam dan reagen
basa yang menghasilkan air dan garam. Reagen asam yang dipakai dapat berupa asam
kuat maupun asam lemah. Begitupun dengan reagen basa yang dipakai dapat berupa basa
kuat dan basa lemah. Apabila asam kuat direaksikan dengan basa kuat maka akan
menghasilkan garam netral, dengan pH = 7.
Reaksi metatesis merupakan reaksi metatesis adalah reaksi-reaksi kimia yang
melibatkan pertukaran atom/ion atau gugus atom/gugus ion dengan atom/ion atau gugus
atom/gugus ion yang lain.
Pada percobaan ini dilakukan 4 perlakuan dengan larutan yang berbeda, yaitu :
a. HCl dengan NaOH

Reaksi antara larutan natrium hidroksida (NaOH) dengan larutan asam klorida
(HCl) tergolong reaksi eksoterm. Tergolong reaksi eksoterm karena, pada reaksi itu
terjadi pelepasan kalor yang menyebabkan suhu menjadi naik.
Ketika proses pencampuran berlangsung dalam tabung reaksi, tabung reaksi
tersebut agak panas. Terjadi kenaikan suhu dari 260C menjadi 44,50C.
Dari pencampuran NaOH yang merupakan basa kuat dengan HCl yang
merupakan asam kuat akan menghasilkan garam (NaCl) dan air (H2O) sebagai produk
reaksi. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Jika HCl dicampurkan dengan NaOH, maka ion H+ dari HCl akan bereaksi
dengan ion OH dari NaOH membentuk air (H2O). Reaksi ini disebut reaksi
penetralan. Sementara, Cl dari HCl akan bereaksi dengan ion Na+ dari NaCl
membentuk garam NaCl.
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
Di dalam larutannya, HCl dan NaOH akan terurai menjadi ion-ionnya,
sehingga reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
H+(aq) + Cl(aq) + Na+(aq) + OH(aq) Na+(aq) + Cl(aq) + H2O(aq)
Dari reaksi di atas dapat disederhanakan menjadi reaksi ion bersih adalah
H+(aq) + OH(aq) H2O(aq)

b. Na2CO3 dengah HCl


Na2CO3 termasuk senyawa karbonat. Secara fisik, semua garam-garam karbonat
adalah berwarna putih dan berbentuk serbuk (hablur) dan jarang sekali yang
berbentuk Kristal. Senyawa karbonat jika direaksikan dengan asam kuat encer akan
menghasilkan gas karbon dioksida (CO2), air dan garam lain.
Na2CO3 (aq) + HCl(aq) 2 NaCl(aq) + H2CO3
H2CO3 H2O (l) + CO2 (g)
H2CO3 yang terbentuk akan terurai menjadi H2O dan gas CO2 seperti reaksi diatas.
Gas CO2 yang dihasilkan timbul seperti gelembung ketika ditambahkan asam (apakah
itu asam pekat atau pun asam encer). Dalam percobaan ini digunakan HCl.
Terjadi perubahan suhu pada perconaan reaksi ini. Suhu awal yang di ukur adalah
larutan Na2CO3 yaitu 26oC. dan saat dicampurkan dengan HCl suhu meningkat
menjadi 30o C.
Setelah di reaksikan, kemudian campuran kedua larutan tersebut diuapkan sampai
kering. Terdapat endapan berwarna putih di dasar tabung. Endapan tersebut
5

merupakan endapan garam (NaCl) karena pada saat proses penguapan, air dan gas
karbon dioksida yang dihasilkan dari pencampuran ikut teruapkan, sehingga yang
tertinggal hanya NaCl. NaCl mempunyai sifat tidak mudah menguap.
Na2CO3 (garam alkali) maka dia akan larut dalam air, jika sampel yang anda punya
adalah CaCO3 garam (alkali tanah) maka akan mengendap.
c. Amoniak dengan asam asetat
Antara asam asetat dengan amonia membentuk amonium asetat merupakan contoh
reaksi netralisasi asam lemah dan basa lemah adalah. Reaksinya adalah sebgai
berikut:
CH3COOH + NH3

CH3COONH4

d. Na2CO3 dengan CaCl2


Senyawa karbonat jika direaksikan dengan asam kuat encer akan menghasilkan gas
karbon dioksida (CO2), air dan garam lain. Pada percobaan selanjutnya yaitu
mereaksikan Na2CO3 dengan CaCl2 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) CaCO3 (s) + 2 NaCl (aq)
Dari hasil pengamatan, pada saat mencampurkan kedua larutan, terbentuk endapan
putih. Endapan putih tersebut terbentuk karena anion dari Na2CO3 (CO32-) bereaksi
dengan kation dari CaCl2 (Ca2+) membentuk senyawa yang tidak mudah larut dalam
larutannya, yaitu CaCO3. CaCO3 merupakan garam karbonat (alkali tanah) yang
memang tidak dapat larut dalam air.

2. Reaksi redoks
Reaksi reduksi oksidasi (redoks) adalah reaksi-reaksi kimia yang melibatkan
terjadinya perubahan bilangan oksidasi suatu zat. Pada percobaan reaksi redoks ini
dilakukan 2 percobaan yaitu :
a. Reaksi antara paku besi dan H2SO4
Paku besi dimasukkan ke dalam H2SO4. Reaksi antara larutan asam sulfat encer
(H2SO4) dan paku besi mengakibatkan terdapat gelembung pada permukaan paku
besi tersebut.
6

Apabila Paku besi (Fe) dicampur dengan larutan H2SO4 (Asam sulfat) maka akan
timbul gelembung gelembung gas yang membentuk larutan FeSO4. Berikut
reaksinya :
Fe (s) + H2SO4 FeSO4 (aq) + CO2 (g) + H2O (l)
Gelembung gas disebabkan apabila produk yang dihasilkan dari suatu reaksi tidak
larut dalam air dan titik didihnya rendah. Selain itu, gas tersebut dapat terbentuk
apabila reaksi tidak stabil hingga terurai menjadi gas.
Karena larutan asam sulfat yang bersifat asam kuat maka akan mengoksidasi besi
dalam paku.. Ion oksigen akan mengoksidasi besi, sehingga dapat dilihat pada reaksi
berikut.

Setelah didiamkan beberapa lama, terbentuk karat pada paku tersebut. Karat pada
paku terbentuk karena ada factor tingkat keasamaan dari asam sulfat. Ini bias disebut
dengan proses korosi. Proses korosi yang terjadi pada paku, terjadi dalam suasana
asam.
b. Reaksi antara AgNO3 dan NaCl
Pada saat AgNO3 direaksikan dengan NaCl, dihasilkan perubahan warna dari tidak
berwarna menjadi warna putih. Setelah beberapa menit didiamkan, terbentuk
endapan putih. Reaksi ini termasuk reaksi pengendapan. Reaksi pengendapan adalah
reaksi antara zat-zat atau ion logam yang sukar larut dalam air, sehingga terbentuklah
endapan. Pada reaksi antara AgNO3 dengan NaCl menyebabkan semua ion pemisah
tidak dihilangkan. Endapan hasil reaksi disebut juga presipitat. Berikut reaksinya :
AgNO3 + NaCl AgCl2 + NaNO3
Reaksi pengendapan adalah reaksi antara zat-zat atau ion logam yang sukar larut
dalam air, sehingga terbentuklah endapan. Contohnya pada reaksi antara AgNO3
dengan NaCl menyebabkan semua ion pemisah tidak dihilangkan. Endapan hasil
reaksi disebut juga presipitat.
Setelah terbentuk endapan, endapan tersebut di bagi 2. Endapan pertama disimpan di
bawah sinar matahari, dan endapan ke dua disimpan di tempat yang gelap. Didapat
7

hasil bahwa endapan yang terkena sinar matahari, menjadi warna abu-abu tua,
hamper warna hitam. Sedangkan yang disimpan di tempat gelap, endapan tetap
berwarna putih.
Karena endapan AgCl termasuk garam-garam perak, apabila di jemur di bawah sinar
matahari akan berwarna hitam. Endapan warna hitam timbul karena terjadinya proses
penguraian oleh cahaya matahari. Berikut persamaan reaksinya :
2 AgCl 2Ag + Cl2

3. Reaksi Pembentukan Kompleks dan Substitusi Ligan


Percobaan ketiga adalah Reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan, yaitu
pertama CaCl ditambahkan amoniak, campuran larutan tersebut tidak berwarnaa, akan
tetapi terdapat 2 fasa, kemudian + Mg EDTA maka larutan akan menjadi tidak berwarna.
Ketika reaksi dibalik CaCl + Mg EDTA akan menghasilkan perubahan, larutan tetap
tidak berwarna akan tetapi ketika + amoniak larutan terdapat dua fasa. Hal tersebut
kurang lebih dapat dikatakan tidak jauh berbeda karena terdapat suatu EDTA dapat
membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam. EDTA
yang awalnya berikatan dengan Mg kemudian mengalami reaksi substitusi ketika
pencampuran larutan terjadi, ion Mg bersubstitusi dengan ion logam Fe dan Ca. Reaksi
penggantian ditandai dengan perubahan warna dari larutan ketika dicampurkan, sehingga
dihasilkan reaksi seperti berikut.
MgEDTA+FeCl3
FeEDTA+MgCl2
MgEDTA + CaCl2
CaEDTA + MgCl2
4. Reaksi Katalisis
Percobaan keempat adalah reaksi katalisis, yaitu pertama kita menampuran FeCl +
tiosulfat larutan mengalami perubahan warna menjadi warna hitam, semakin lama
larutan akan semakinpudar sehingga tanda silang yang telah dibuat dan diletakan
dibawahnya tidak dapat terlihat lagi pada detik ke 60. Namun ketika CuSO + tiosulfat
larutan akan berubah menjadi warna biru kehijauan, reaksi begitu cepat sehingga tanda
silang yang terdapat dibawahnya langsung tidak terlihat sehingga tidak memerlukan
waktu sedikitpun untuk menunggu tanda silang hilang. Reaksi tersebut termasuk reaksi
katalis karena terjadireaksi antara FeCl3 dengan natrium tiosulfat dan CuSO4 dengan
natrium tiosulfat. Adapun reaksinya yaitu :
2 Na2S2O3 + 2 FeCl3
2 NaCl + Na2S4O6 + 2FeCl2
Na2S2O3 + CuSO4
Na2SO4 + Cu2S2O3

Pada reaksi tersebut, besi III klorida (FeCl3) dan CuSO4 bertindak sebagai katalis. besi
III klorida (FeCl3) dan CuSO4 turut bereaksi, tetapi pada akhir reaksi zat itu tebentuk
kembali. Hal ini dapat terlihat pada perubahan warna larutan besi III klorida (FeCl3) dari
kuning jingga menjadi cokelat tetapi pada akhir reaksi kembali berwarna kuning jingga.
Hal ini menunjukkan bahwa besi III klorida (FeCl3) tidak dikonsumsi dalam reaksi
tersebut.

KESIMPULAN
Nama : Rini Nuraeni
NIM : 1127040061
Jadi, pada percobaan ini terjadi reaksi-reaksi dalam anorganik yaitu diantaranya:
9

Reaksi asam basa terjadi pada:


HCl (aq) + NaOH (aq) NaCl (aq) + H2O (l)
Na2CO3 + HCl

2NaCl + H2O + CO2

CH3COOH + NH3

CH3COO + NH4

Reaksi Metatesis terjadi pada:


Na2CO3 + CaCl2

2NaCl + CaCO3

NaCl + AgNO3 AgCl(s) + NaNO3


Reaksi Redoks terjadi pada:

Reaksi pembentukan Kompleks dan substitusi ligan terjadi pada:


MgEDTA+FeCl3

FeEDTA+MgCl2

MgEDTA + CaCl2

CaEDTA + MgCl2

Dan yang terakhir reaksi katalisis terjadi pada:


2 Na2S2O3 + 2 FeCl3

2 NaCl + Na2S4O6 + 2FeCl2

Na2S2O3 + CuSO4

Na2SO4 + Cu2S2O3

PERTANYAAN
Nama : Rini Nuraeni
NIM : 1127040061
1. Bagaimana persamaan reaksi dari setiap perlakuan diatas?
Reaksi asam basa dan metatesis :
10

HCl + NaOH = NaCl + H2O


Na2CO3 (aq) + 2HCl(aq) = NaCl (aq) + CO2 (g) + H2O
NH3 (aq) + CH3COOH (aq) = CH3COO- (aq) + NH4+ (aq)
Na2CO3 (aq) + CaCl2 (aq) = 2NaCl (aq) + CaCO3 (s)
Reaksi Redoks :
AgNO3 + NaCl = NaNO3 + AgCl
Fe (s) + H2SO4 = FeSO4 (aq) + CO2 (g) + H2O
Reaksi Pembentukan kompleks dan pembentukan ligan :
FeCl3 (aq) + Mg-EDTA (aq) = Fe-EDTA (aq) + MgCl (aq)
FeCl3 (aq) + NH4OH (aq) = [Fe(NH3)6]Cl (aq)
CaCl2 (aq) + Mg-EDTA (aq) = Cu-EDTA (aq) + MgCl (aq)
CaCl2 (aq) + NH4OH (aq) = [Ca(NH3)4]Cl (aq)
Reaksi Katalisis :
FeCl3 (aq) + Na2S2O3 (aq) = FeCl2 (aq) + Na2SO4O6 + NaCl
CuSO4 + Na2S2O3 = CuS2O3 + NaSO4 (aq)
2. Carilah data entalpi dan entropi semua reaktan dan produknya, lalu hitung perubahan
energy bebasnya. Lalu tentukan jenis kendali (termokimia atau kinetika) yang dominan
pada setiap reaksi yang telah dilakukan!
Reaksi asam basa dan metatesis

Reaksi antara HCl dan NaOH


HCl merupakan asam kuat, dan NaOH merupakan basa kuat. Jika di tinjau dari
buku, nilai entalpi (H) dapat kita hitung, yaitu H = (-411.15 + (-285.83)) ((425.61) + (-167.16)). Sehingga jika di kalkulasikan kita akan mengetahui nilai H
reaksi tersebut bernilai -104.21 kj/mol, sedangkan nilai entropinya (S) adalah S
= (72.13+69.91) (64.46 + 56.5) sehingga dapat diketahuin nilai S adalah 21.08
j/k.mol. Dari data tersebut kita dapat mengetahui nilai G dengan memasukannya
pada rumus G = H T S, yaitu -104.21 kj/mol - 311 K (21.08 X 10-3 kj/k.mol)
yang berjumlah -110,7559 kj/mol.
Reaksi antara Na2CO3 dan HCl
Na2CO3(aq) + HCl(aq)
2NaCl(s) + H2O(g) + CO2(g)
Reaksi ini terjadi antara asam kuat dan basa lemah, hasil reaksi yang mengendap
pada suhu 351K. Dari reaksi ini dapat di tinjau dari buku, nilai entalpi (H) dapat
kita hitung, yaitu H = (2(-411.15) + (-241.82) + (-393.51)) ((-1157.38) + (167.16)). Sehingga jika di kalkulasikan kita akan mengetahui nilai H reaksi
tersebut bernilai -133.09 kj/mol, sedangkan nilai entropinya (S) adalah S =
(72.13 + 188.83 + 213.74) (61.1 + 56.5) sehingga dapat diketahuin nilai S
adalah 357.1 j/k.mol. Dari data tersebut kita dapat mengetahui nilai G dengan
memasukannya pada rumus G = H T S, yaitu -133.09 kj/mol - 351 K (357.1
X 10-3 kj/k.mol) yang berjumlah -258.4321 kj/mol.
Reaksi antara ammonia dan asam asetat
11

CH3COOH + NH3
CH3COO + NH4
Pada reaksi ini dapat di tinjau dari buku, nilai entalpi (H) dapat kita hitung, yaitu
H = (-486.01) + (-132.51 ) ((-485.76) + (-80.29)). Sehingga jika di kalkulasikan
kita akan mengetahui nilai H reaksi tersebut bernilai -52.47 kj/mol, sedangkan
nilai entropinya (S) adalah S = (86.6+ 113.4) (178.7 + 111.3) sehingga dapat
diketahuin nilai S adalah -90 j/k.mol. Dari data tersebut kita dapat mengetahui
nilai G dengan memasukannya pada rumus G = H T S, yaitu -52.47 kj/mol
- 305 K (-90 X 10-3 kj/k.mol) yang berjumlah -25.02 kj/mol.
Reaksi antara Na2CO3 dan CaCl2
Na2CO3 + CaCl2
2NaCl + CaCO3
Hasil reaksi yang mengendap pada suhu 351K. Dari reaksi ini dapat di tinjau dari
buku, nilai entalpi (H) dapat kita hitung, yaitu H = (2(-411.15) +(-1207.1)) ((1157.38) +(-709.99). Sehingga jika di kalkulasikan kita akan mengetahui nilai H
reaksi tersebut bernilai -162.03 kj/mol, sedangkan nilai entropinya (S) adalah S
= (72.13 + 88.7) (61.1 + 3.4) sehingga dapat diketahuin nilai S adalah 96.33
j/k.mol. Dari data tersebut kita dapat mengetahui nilai G dengan memasukannya
pada rumus G = H T S, yaitu -162.03 kj/mol - 351 K (96.33 X 10-3 kj/k.mol)
yang berjumlah -195.8418 kj/mol

Reaksi Redoks
Pada reaksi redoks terjadi reaksi oksidasi yang meningkatkan bilangan oksidasi dan
jenis kendalinya adalah kendali termokimia.
Reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan
Pada reaksi pembentukan kompleks dan substitusi ligan terjadi reaksi penggantian
ligan dan jenis kendalinya merupakan kendali kinetika.
Reaksi Katalisis
Pada reaksi katalis jenis kendalinya adalah kendali termokimia karena reaksi terjadi
sangat cepat.
PEMBAHASAN JUDUL 3
Percobaan kali ini berjudul Identifikasi Senyawa Anorganik Pada Sampel Tanah, Air,
dan Udara. Dilakukan 3 macam percobaan, yaitu pada sampel tanah, beberapa sampel air,
dan udara menggunakan lampu spiritus serta plastisin.
1. Uji pada Sampel Tanah Kebun
Perlakuan awal yaitu memanaskan cawan porselen kosong yang sebelumnya
telah dibersihkan ke dalam oven. Cawan porselen dipanaskan selama kurang lebih
15 menit. Fungsi dari pemanasan cawan tersebut adalah agar cawan bebas dari zat
pengotor, dan untuk menstrerilkan cawan dari zat-zat yang mungkin akan
menempel pada cawan tersebut. Lalu cawan tersebut kita dinginkan. Setelah itu
cawan ditimbang di neraca analitik. Diperoleh beratnya sebesar 43.96 gram.
12

Kemudan di masukkan sampel tanah kebun sebanyak 5 gram, sehinggan berat


cawan dan tanah kebun tersebut naik menjadi 48.96 gram. Lalu dilakukan
pemanasan kembali didalam oven pada suhu 105oC selama 30 menit. Setelah
dipanaskan, sampel tanah kebun tersebut menjadi kering. Dilakukan penimbangan
kembali terhadap cawan dan sampel tanah kebun tersebut, dan di peroleh hasil
sebesar 48.63 gram. Nilai berat cawan tersebut nantinya digunakan dalam
perhitungan persen berat hilang sampel tanah kebun. Persen berat hilang sampel
tanah kebun diperoleh dari pengurangan berat cawan+tanah sebelum pemanasan
dan sesudah pemanasan, kemudian membaginya dengan berat sampel awal dan
mengalikannya dengan 100% (dipersenkan). Hasil persen berat hilang sampel tanah
kebun yang di peroleh yaitu 6.6%. Terjadi pengurangan berat pada sampel, hal itu
disebabkan karna pada saat proses pemanasan, air yang terkandung dalam sampel
tanah kebun tersebut menguap oleh proses pemanasan.
Setelah itu, sampel tanah dibagi menjadi 2 bagian dan dimasukkan ke dalam 2
gelas kimia. Terdapat 2 perlakuan. Sampel tanah kebun dalam gelas kimia pertama
ditambahkan dengan NaOH 6M. Tujuannya untuk mengetahui reaksi yang terjadi
pada tanah dalam suasana basa. Karena tanah merupakan zat anorganic, maka
dapat larut dalam air dan pelarut organic. Hasil yang diperoleh yaitu terlihat dari
warna larutannya yang agak memudar dari warna asli tanah. Pada tanah, biasanya
terdapat kandungan logam. Umumnya logam yang terkandung pada tanah yaitu
logam Al3+ dan Ca2+. Berikut reaksi kimia yang terjadi :
Logam + NaOH logamOH + Na+
Ca2+ + NaOH Ca(OH)2 + Na+
Al3+ + NaOH Al(OH)3 + Na+
Sampel tanah kebun dalam gelas kimia kedua ditambahkan dengan H2SO4 6M.
Tujuannya untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada tanah dalam suasana asam.
Hasil yang diperoleh yaitu terlihat dari warna larutannya yang lebih pekat dari warna
asli tanah.

2. Uji Pada Beberapa Sampel Air


Pada percobaan ini dilakukan pengujian pada beberapa sampel air, yaitu sampel
air sumur, sampel air hujan, sampel air sungai tidak tercemar, sampel air danau,
sampel air sungai tercemar, dan sampel air PDAM.
Perlakuan pertama yang dilakukan yaitu mengukur pH dari masing sampel air
tersebut. pH menyatakan intensitas keasaman dan alkalinitas dari suatu cairan encer,
13

dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnnya. pH tidak mengukur seluruh kemasaman


atau alkalinitas. Diperoleh hasil, pH sampel air sumur = 6.7, pH sampel air hujan =
6.3, pH sampel air sungai tidak tercemar = 7.6, pH sampel air danau = 7, pH sampel
air sungai tercemar 8.3, dan pH sampel air PDAM 7.3. Dapat diketahui bahwa
sampel dengan Kualitas air yang baik berada di rentang pH 7 (netral) yaitu air
danau. Dikatakan berkualitas baik karena sifatnya netral, yang berarti sampel air
danau tersebut tidak tercemar, tidak terkontaminasi zat pengotor baik pengotor
yang bersifat asam maupun bersifat basa. Selain itu, jika air bersifat netral berarti
tidak mengandung alkali, karena junlak ion hidrogennya sebanding dengan jumlah
ion hidroksil.
Sedangkan sampel air dengan pH di atas 7 bersifat basa. Sampel air tersebut
yaitu air sungai tidak tercemar, air sungai tercemar, dan air PDAM. Air yang tidak
bersifat asam (basa) dapat dipastikan mengandung alkali, karena kekurangan ion
hydrogen.
Untuk sampel air dengan pH di bawah 7 bersifat asam. Sampel air tersebut yaitu
air sumur dan air hujan. Jika air bersifat asam, berarti di dalam kandungan air
tersebut kelebihan ion hydrogen.
Jadi, konsentrasi ion hydrogen merupakan petunjuk mengenai reaksi air. Air
adalah bahan pelarut yang baik sekali, maka jika dengan pH yang tidak netral dapat
melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya, sehingga dapat merusak kualitas
air.
Perlakuan selanjutnya adalah mengidentifikasi air dengan berbagai reagen.
Reagen yang digunakan yaitu NaOH 6 M, HCl 6M, Na2CO3 6M, NH3 6M, Na2SO4 6M.
Masing-masing reagen tersebut mempunyai fungsi tersendiri. NaOH 6 M berfungsi
untuk uji kebasaan , HCl 6M berfungsi untuk uji keasaman, Na2CO3 6M berfungsi
untuk uji kesadahan (karena mengandung senyawa karbonat, dimana air yang
mempunyai sadah mengandung CaCO3 yang tinggi, maka dari itu harus di uji dengan
reagen yang mengandung senyawa karbonat pula), NH3 6M berfungsi untuk uji
kandungan ammonium (NH4+, karena reaksi antara H2O dengan NH3 akan
membentuk NH4+ dan OH-), Na2SO4 6M berfungsi untuk uji kation yang terkandung
dalam air.
Untuk sampel air sumur ketika ditambahkan reagen-reagen tersebut, tidak
terjadi perubahan yang signifikan. Hanya saja ketika ditambahkan reagen NaOH,
terdapat gelembung dan sedikit endapan putih.
Untuk sampel air hujan, terjadi perubahan pada sampel air tersebut ketika di
tambahkan beberapa reagen. Ketika ditambahkan NaOH, terdapat gelembung kecil.
Ketika ditambahkan Na2SO4 terdapat gelembung-gelembung kecil dengan jumlah
yang cukup banyak serta terdapat endapan putih.
14

Untuk sampel air sungai tidak tercemar, terjadi perubahan pada sampel air
tersebut ketika di tambahkan beberapa reagen. Ketika ditambahkan NaOH,
terdapat gelembung kecil dengan jumlah yang cukup banyak. Ketika ditambahkan
Na2SO4 terdapat gelembung-gelembung kecil dengan jumlah yang cukup banyak
serta terdapat sedikit endapan putih.
Untuk sampel air danau, terjadi perubahan pada sampel air tersebut Ketika
ditambahkan Na2SO4, yaitu terdapat sedikit gelembung.
Pada sampel air sungai tercemar, warna airnya keruh kehitaman, terdapat
kotoran-kotoran hitam, disertai dengan bau yang tidak sedap (berbau busuk).
Warna dapat berasal dari buangan industri. Warna dalam air dapat disebabkan oleh
adanya ion-ion metal alam (besi dan mangan), hunus, plankton, tanaman air dan
buangan industry. Untuk sampel air sungai tidak tercemar, terjadi perubahan pada
sampel air tersebut ketika di tambahkan beberapa reagen. Ketika ditambahkan
NaOH, terdapat gelembung kecil didinding tabung. Ketika ditambahkan HCl, kotoran
hitam menghilang. Ketika ditambahkan Na2CO3, endapan hitam bertambah banyak.
Endapat tersebut dimungkinkan CaCO3. Ketika ditambahkan Na2SO4, endapan hitam
sedikit bertambah. Endapan tersebut dimungkinkan ion kation yang mengendap.
Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi antara sampel air dengan beberapa
reagen:
H2O(l) + NaOH(aq) Na+ + OH- + H2O
H2O(l) + HCl(aq) H3O+ + Cl2H2O(l) + Na2CO3(aq) H2O(l) + CO2 (g) + 2NaOH(aq)
H2O(l) + NH3 NH4+ + OH2H2O(l) + Na2SO4(aq) 2NaOH(aq) + H2SO4(aq)
Untuk sampel air PDAM, terjadi perubahan pada sampel air tersebut ketika di
tambahkan beberapa reagen. Ketika ditambahkan NaOH, warna air berubah
menjadi keruh. Ketika ditambahkan HCl, terdapat gelembung gas di tabung reaksi.
Ketika ditambahkan Na2SO4 terdapat zat yang mengapung diatas permukaan air.
Perlakuan selanjutnya adalah menguapkan semua sampel air sampai kering.
Tujuannya adalah untuk mengetahui terbentuk atau tidaknya endapan dalam
sampel air tersebut. Yang terdapat endapan hanya pada sampel air hujan (endapan
warna putih), air sungai tidak tercemar (endapan warna putih), air sungai tercemar
(endapan warna hitam). Endapan tersebut terbentuk karena didalam sampel air
tersebut mengandung unsur-unsur anorganik yang tidak ikut menguap pada saat
diuapkan. Unsur-unsur tersebut tidak ikut menguap karena perbedaan titik lebur.
Pada saat diuapkan, hanya di panaskan dengan api yang tidak terlalu panas.
3. Uji Pada Udara dengan menggunakan lampu spiritus dan plastisin

15

Perlakuan pertama yaitu menimbang berat lampu spiritus yang telah diisi
spiritus. Didapat hasil sebesar 177.11 gram. Kemudian dibuat dudukan untuk lampu
spiritus tersebut dengan menggunakan plastisin. Kemudian lampu spirtus di
nyalakan, dan segera ditutup dengan menggunakan gelas kimia 1 L, bersamaan
dengan itu, stopwatch dinyalakan untuk mengetahui pada menit ke berapa api yang
menyala pada lampu spiritus tersebut padam. Pada menit ke 9 detik ke 50, api
tersebut padam, dan cairan spirtus berkurang, serta plastisin meleleh. Api padam
disebabkan karena oksigen/udara yang berada di dalam gelas kimia tersebut sudah
habis. Plastisin meleleh karena posisi plastisin tersebut tepat di bawah lampu
spirtus, yang artinya sangat dekat dengan sumber panas (api), maka semakin cepat
pula plastisin tersebut menerima suhu panas, sehingga plastisin yang berada di
dekat api akan cepat meleleh. Perambatan panas dimulai dari jarak yang terdekat.
Cairan spirtus berkurang karena menguap pada saat api menyala. Hal tersebut
menyebabkan berat lampu spirtus berkurang.
Nama : Rini Nuraeni
NIM : 1127040061
Kelas : KIMIA 5B
KESIMPULAN
Pada sampel tanah, di dalam tanah terdapat logam. Karena setelah dipanaskan
larut dalam NaOH dan H2SO4
Pada sampel air, di peroleh hasil pH. Yang bernilai netral (pH 7) hanya sampel air
danau. Itu menunjukkan bahwa tidak terdapat bahan pencemar di dalamnya.
Kandungan ion hydrogen dan hidroksilpun seimbang jumlahnya.
Untuk sampel air tanah yang bersifat basa yaitu air sungai tidak tercemar, air
sungai tercemar, dan air PDAM.
Untuk sampel air yang bersifat asam yaitu air sumur dan air hujan. Jika air
bersifat asam, berarti di dalam kandungan air tersebut kelebihan ion hydrogen.
Pada sampel air, yang paling tidak aman untuk dikonsumsi adalah air sungai
tercemar sebab airnya kotor dan berbau serta terdapat banyak endapan
berwarna hitam. Tingkat kesadahannya tinggi.
Pada udara, menunjukkan bahwa tanpa udara yang masuk ke beaker gelas,
lampu spirtus menjadi mati dan berat lampu spirtus mengalami penurunan dari
berat semula.

16

PEMBAHASAN
Percobaan kali ini berjudul Uji Kelarutan dan Sifat Unsur Zat Kimia. Tujuan dari
percobaan ini yaitu untuk mengidentifikasi sifat atau tingkat kelarutan sampel kimia berupa
padatan dan larutan dalam berbagai macam pelarut, Mengetahui reaksi yang timbul dari suatu
pelarut apabila direaksikan dengan suatu zat atau reagen, apakah mengendap atau larut,
membandingkan kekuatan interaksi antara suatu zat dengan zat lainnya menggunakan magnet,
mengetahui pelarut yang sesuai untuk melarutkan sampel, mengukur daya hantar listrik pada
larutan sampel dan mengamati sifat listriknya. Adapun sampel padatan yang digunakan yaitu
NaOH, MgCl2, PbSO4, CaCO3, NiSO4, CuCl2, Al2(SO4)3, Ba(OH)2, Zn, Mn, Hg dengan
pelarutnya yaitu aquades, aquades panas, HCl encer, HCl pekat, dan air raja (aquaregia).
Sedangkan reagen yang di gunakan untuk uji sifat unsur pada sampel yaitu larutan NaOH, NaCl,
Na2SO4, Na2CO3, NH4OH, Mg-Edta, dan Na3PO4.
1. Uji Kelarutan pada Sampel dengan berbagai macam pelarut
Pelarut-pelarut yang di gunakan pada percobaan ini yaitu aquades, aquades panas,
HCl encer, HCl pekat, dan aquaregia. Untuk HCl dan aquaregia (HCl pekat+HNO3
pekat=3:1) termasuk ke dalam pelarut anorganik, lebih tepatnya pelarut asam-asam
mineral.
a. NaOH
NaOH berwarna putih atau praktis putih, berbentuk pellet, serpihan atau
batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan
hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab.
Unsur yang diteliti tingkat kelarutannya adalah Natrium. Berdasarkan
hasil percobaan, NaOH dapat larut di dalam aquades. Menurut litelatur, NaOH
sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, karena pada
proses pelarutannya dalam air bereaksi secara eksotermis. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air.
Berikut reaksinya : NaOH (s) + H2O (l) Na+(aq) + OH- (aq)

17

b. MgCl2
Magnesium Klorida adalah logam yang kuat, putih keperakan, ringan (satu
pertiga lebih ringan daripada aluminium) dan akan menjadi kusam jika dibiarkan
pada udara. Dalam bentuk serbuk, logam ini sangat reaktif dan bisa terbakar
dengan nyala putih apabila udaranya lembab.
Berdasarkan hasil percobaan, MgCl2 ini dapat larut dalam aquades panas.
MgCl2 termasuk ke dalam klorida ionik sederhana, dan senyawa ionik, tetapi
dengan pengaturan ion-ion yang lebih rumit karena jumlah ion kloridanya dua
kali lebih banyak dari ion magnesium. Panas yang dibutuhkan untuk mengatasi
daya tarik diantara ion-ion juga besar, sehingga titik leleh dan titik didihnya juga
tinggi. Maka dari itu, ia dapat larut dalam aquades panas.
Berikut reaksinya : MgCl2 (s) + H2O (l) Mg2+(aq) + Cl- (aq)
c. PbSO4
Unsur yang akan di uji kelarutannya pada sampel ini yaitu Pb atau timbal.
Timbal merupakan logam berwarna abu-abu. Timbal bersifat lembek-lemah
dengan titik leburnya 327,460C. Pada saat di uji kelarutannya dalam air, Timbal
ini mengendap, tidak larut. Setelah di uji kelarutannya dengan aquades panas,
tetap tidak larut dan mengendap. Meskipun telah di larutkan dalam aquades
panas, timbal tidak akan larut karena titik leburnya sangat tinggi. Sedangkan
aquades panas, suhunya hanya berkisar 90-100oC.
Berikut reaksinya : PbSO4 (s) + H2O(l) Pb2+ (s) + SO42- (s)
Pada saat di uji kelarutanya dalam Asam klorida encer(atau klorida yang larut),
terdapat endapan putih dalam larutan yang dingin dan tak terlalu encer. Dengan
persamaan berikut :
PbSO4(s) + 2HCl(l) PbCl2 + H2SO4
Kelarutan PbSO4 dalam air adalah 1,4 x 10-4 M pada suhu sekitar 300C.
d. CaCO3
Kalsium karbonat berupa padatan serbuk berwarna putih yang sedikit
berbau. Pada saat di uji kelarutannya baik itu dengan aquades ataupun aquades
pana, kalsium karbonat ini tidak larut, dan membentuk endapan berwarna putih.
18

Apabila kalsium karbonat ini ditambahkan air, reaksinya akan berjalan


dengan sangat kuat dan cepat apabila dalam bentuk serbuk, serbuk kalsium
karbonat akan melepaskan kalor. Molekul dari CaCO3 akan segera mengikat
molekul air (H2O) yang akan membentuk kalsium hidroksida, zat yang lunak
seperti pasta (zat mengendap). Sebagaimana ditunjukkan pada reaksi sebagai
berikut:
CaCO3 + H2O Ca(OH)2 + CO2
Untuk uji kelarutan dengan menggunakan HCl pekat, hasilnya larut.
Endapan Ca(OH)2 yang dihasilkan bereaksi hebat dengan berbagai asam, dengan
adanya air. Sehingga dapat larut. Berikut persamaan reaksinya :
CaCO3 + 2 HCl CaCl2 + H2CO3
e. NiSO4
Nikel Sulfat NiSO4.6H2O atau Nikel (II) Sulfat merupakan garam berwarna biru.
Dari hasil percobaan, setelah di uji kelarutannnya dalam air, NiSO4 ini larut dalam
air. Nikel (II) sulfat termasuk Anhidrat Hexa hydrate atau hidrat ionic. Semua
hidrat ionic sangat larut dalam air. Berikut persamaan reaksinya :
NiSO4 (s) + H2O(l) Ni2+ + SO42f. CuCl2
Kuprum(II) klorida merupakan senyawa ionic, yang mempunyai sifat sangat
melarut dalam air. Dan dari hasil percobaan, Kuprum(II) klorida ini larut
sempurna dalam air.
g. Al2(SO4)3
Pada saat di uji kelarutannya, Al2(SO4)3 larut dalam air.
h. Ba(OH)2
Barium hidroksida mempunyai sifat tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam
larutan asam. Dari hasil percobaan, barium hidroksida baru dapat larut ketika di
larutkan dengan HCl encer.
i. Zn dan Hg
Zn merupakan salah satu unsur transisi. Logam Zn dan Hg ini sangat sukat larut
di dalam air. Pada saat uji kelarutan dengan aquades, aquades panas, dan HCl pun

19

tidak mampu untuk melarutkan logam ini. Logam ini baru dapat larut ketika di
larutkan dengan aquaregia.
j. Mn
Zat besi atau mangan dalam air umumnya berada dalam bentuk ion Fe2+ atau
Mn2 bentuk senyawa yang larut dan air dan tidak berwarna.
2. Uji reaksi dengan indicator pp dan penetralan dengan NaOH
Setelah di ketahui pelarut yang cocok untuk sampel-sampel di atas, larutan
di netralkan oleh NaOH dengan bantuan indicator pp. Penetralan dilakukan
sampai terjadi perubahan warna.
Uji Reaksi dan kelarutan pada larutan dalam berbagai macam pelarut
3. Uji kekuatan interaksi larutan dengan menggunakan magnet
Percobaan selanjurnya yaitu menguji kekuatan interaksi sampel dengan
menggunakan magnet. Larutan sampel dalam tabung reaksi, di gantungkan
menggunakan benang, kemudian di dekatkan pada magnet. Dilihat apakah terjadi
reaksi atau tidak, jika terdapat reaksi tabung reaksi itu akan bergerak karena tertarik
oleh magnet.
Pada sampel Ba(OH)2 terjadi interaksi, namun hanya sedikit saja. Pada sampel
Hg, tidak terjadi reaksi sama sekali. Pada sampel CuCl2 terjadi reaksi, namun hanya
sedikit saja. Pada Al2(SO4)3 terjadi interaksi yang cukup kuat. Pada NiSO4 terjadi
interaksi yang sangat kuat. Pada MgCl2 terjadi interaksi yang cukup kuat. Pada
CaCO3, terjadi interaksi cukup kuat. Pada Zn, tidak terjadi interaksi sama sekali. Pada
Mn terjadi interaksi cukup kuat. Pada KI terjadi interaksi yang cukup kuat. Pada
MnSO4 terjadi interaksi yang cukup kuat. Pada KCl tidak terjadi reaksi sama sekali.
Pada FeCl3 interaksi amat sangat kuat. Pada Al2(SO4)3 tidak terjadi reaksi sama
sekali. Pada PbSO4 terjadi sedikit interaksi.
Magnet dapat menarik alat magnetik zat paramagnetik karakteristik, maka
ditentukan oleh sifat dari magnet itu sendiri.
Sifat magnetik suatu zat apakah terdiri atas atom, ion atau molekul ditentukan
oleh struktur elektronnya. Interaksi antara zat dan medan magnet dibedakan menjadi
dua, yaitu diamagnetik dan paramagnetik. Zat paramagnetik tertarik oleh medan
20

magnet, sedangkan zat diamagnetik tidak. Banyak unsur transisi dan senyawaannya
bersifat paramagnetik. Hal ini disebabkan adanya elektron yang tidak berpasangan.
Dilihat dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa, yang tidak berinteraksi
dengan magnet adalah Zn dan Hg. Zink dan Hg termasuk ke dalam unsur-unsur
golongan IIB yang tidak bersifat paramagnetik, melainkan bersifat diamagnetik
(sedikit ditolak keluar medan magnet). Sehingga tidak terjadi interaksi pada saat
larutannya didekatkan pada magnet.
Sedangkan pada sampel larutan yang lainnya terjadi interaksi dengan magnet.
Ada yang interaksinya sangat kuat, ada yang sedang tingkatan interaksinya, dan ada
juga yang sedikit interaksinya (interaksinya lemah).
Semua sampel yang bersifat dengan magnet terutama yang interaksinya tidak
cukup kuat, itu termasuk ke dalam zat paramagnetik. Terkecuali untuk sampel yang
mengandung Ni dan Fe, yaitu NiSO4 dan FeCl3, keduanya termasuk ke daman zat
yang bersifat fero magnetik, zatyang sangat kuat interaksinya dengan magnet.
Sifat magnet zat berkaitan dengan konfigurasi elektronnya. Zat yang bersifat
paramagnetik mempunyai setidaknya satu elektron tak berpasangan. Semakin banyak
elektron tak berpasangan, semakin bersifat paramagnetik. Pengukuran sifat magnet
dapat digunakan untuk menentukan jumlah elektron tak berpasangan dalam satu
spesi.

4. Uji daya hantar listrik


Pada uji terakhir adalah uji hantar adanya listrik pada larutan MnSO4, FeCl3,
NiSO4, PbSO4, NaCl, KCl, MgCl2, CaCO3, Ba (OH)2, MgEDTA, CuCl2, KI,
Al2(SO4)3, Zn dan Hg. Pada uji ini kita tidak melakukan akan tetapi dsini hanya
dibahas secara teori. Ketika berbicara tentang hantaran listrik pada larutan maka kita
berbicara tentang larutan elektrolit dan non elektrolit. Laruta elektrolit kuat adalah
larutan yang banyak menghasilkan ion ion karena terurai sempurna, maka harga
derajat ionisasi ( ) = 1. Banyak sedikit elektrolit menjadi ion dinyatakan dengan
derajat ionisasi ( ) yaitu perbandingan jumlah zat yang menjadi ion dengan jumlah
zat yang di hantarkan. Yang tergolong elektrolit kuat adalah :
Asam asam kuat
21

Basa basa kuat


Garam garam yang mudah larut
Ciri ciri daya hantar listrik larutan elektrolit kuat yaitu lampu pijar akan
menyala terang dan timbul gelembung gelembung di sekitar elektrode. Larutan
elektrolit kuat terbentuk dari terlarutnya senyawa elektrolit kuat dalam pelarut air.
Senyawa elektrolit kuat dalam air dapat terurai sempurna membentuk ion positif (
kation ) dan ion negatif (anion). Arus listrik merupakan arus electron. Pada saat di
lewatkan ke dalam larutan elektrolit kuat, electron tersebut dapat di hantarkan
melalui ion ion dalam larutan, seperti ddihantarkan oleh kabel. Akibatnya lampu
pada alat uji elektrolit akan menyala. Elektrolit kuat terurai sempurna dalam larutan.
Contoh : HCl, HBr, HI, HNO3, H2SO4, NaOH, KOH, dan NaCL. Sedangkan larutan
elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya lemah dengan harga
derajat ionisasi sebesar 0 < > 1. Larutan elektrolit lemah mengandung zat yang
hanya sebagian kecil menjadi ion ion ketika larut dalam air. Yang tergolong
elektrolit lemah adalah :
Asam asam lemah
Garam garam yang sukar larut
Basa basa lemah
Adapun larutan elektrolit yang tidak memberikan gejala lampu menyala, tetapi
menimbulkan gas termasuk ke dalam larutan elektrolit lemah. Contohnya adalah
larutan ammonia, larutan cuka dan larutan H2S. Terakhir Larutan non elektrolit
adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat terlarutnya di
dalam pelarut tidak dapat menghasilkan ion ion ( tidak mengion ). Yang tergolong
jenis larutan ini adalah larutan urea, larutan sukrosa, larutan glukosa, alcohol dan lain
lain.

PEMBAHASAN JUDUL 5
Percobaan kali ini berjudul Sintesis dan Karakterisasi Garam Tunggal dan Garam
Rangkap. Tujuan dari perbobaan ini yaitu menentukan kemurnian NaCl dengan cara penguapan
dan kristalisasi, menentukan % rendemen NaCl dan menghitung presentase hilangnya NaCl yang
didapatkan secara teoritis, mengetahui proses pembuatan tawas dengan menggunakan
alumunium foil, membandingkan hasil penjernihan air dengan menggunakan tawas sintesis dan
tawas komersial.
1.

Pembuatan Tawas

22

Aluminium, Al merupakan anggota golongan IIIA berada dialam sebadai aluminosilikat


dikerak bumi dan lebih melimpah daripada besi. Mineral aluminium yang paling penting
dalam metalrugi adalah bauksit AlOx(OH)3-2x (0<x<1). Walaupun Al adalah logam mulia
yang mahal diabad ke-19 harganya jatuh bebas setelah dapat diproduksi dengan jumlah
besar elektrolisis alumina, Al2O3 yang telah dilelehkan dalam krolit Na3AlF6. Namun
karena produksinya memerlukan sejumlah besar energi listrik, metalurgi aluminium hanya
di Negara dengan harga energi listrik yang rendah. Sifat aluminium dikenal dengan baik dan
aluminium banyak digunakan dalam keseharian, misalnya untuk koin, panic dan kusein.
Logam aluminium digunakan dengan kemurnian lebih dari 99% dan logam atau paduannya
(missal : duralium) banyak digunakan Logam ini ini biasanya dialoikan dengan Cu atau Mg
agar lebih Keras. Karena logam ini memiliki titik lebur yang tinggi maka digunakan pada
bahan campuran pembuatan furnace.Salah stu senyawa aluminium yang sering dipakai
adalah tawas AlK(SO4)2.
Pada percobaan pembuatan tawas ini digunakan alumunium foil sebagai bahan utama
pembuatan tawas. Proses awal pembuatan tawas adalah dengan memotong kecil kecil
alumunium foil yang hendak dipakai, dengan tujuan agar reaksi yang terjadi antara
alumunium foil dan KOH berlangsung lebih cepat karena salah satu faktor yang dapat
memepengaruhi laju reaksi adalah luas permukaan. Semakin besar luas permuaan maka
semakin cepat pula reaksi itu berlangsung. Kemudian potongan alumunium foil tersebut di
tambahkan larutan KOH. Dilarutkan dalam larutan KOH karena aluminium lebih cepat
bereaksi dengan larutan basa kuat yang kemudian akan membentuk garam kalium aluminat.
Setelah itu dipanaskan. Pemanasan ini bertujuan untuk mempercepat kelarutannya, karena
semakin tinggi suhu dan semakin luas permukaan zat maka kelarutannya semakin besar.
Pada penambahan KOH reaksi berjalan cepat dan bersifat eksoterm karena menghasilkan
kalor. Dalam reaksi ini terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembunggelembung gas. Gelembung-gelembung gas hilang setelah semua aluminium bereaksi.
Setelah Al larut, dihasilkan larutan berwarna abu tua. Reaksi antar Al dan KOH
berlangsung melalui persamaan berikut
2Al (s) + 2KOH (aq) + 2H2O (l)

->

2KAlO2 (aq) + 3H2 (g)

Setelah proses pelarutan selesai, dilakukan penambahan

asam sulfat 6 M. Proses

penambahan asam sulfat ini dilakukan secara perlahan sambil diaduk, hal ini bertujuan agar
23

semua Al yang berada di dalamnya dapat bereaksi sempurna dengan pembentukan endapan
yang sempurna secara teratur. Selain itu, penambahan asam sulfat 6 M ini bertujuan untuk
menetralkan larutan. Larutan asam sulfat 6 M sebelumnya dibuat dengan cara pengenceran
asam, sulfat 98%(yang tersedia di laboratorium) yaitu dengan mencampurkan H2SO4 dan
aquades dengan perbandingan volume 1:1.Reaksi antar zat yang dihasilkan dari reaksi antar
Al dan KOH dengan asam sulfat menghasilkan endapan yang berwarna putih, terbuksi saat
menyimpan larutan di dalam ice bath. Tujuan penyimpanan dalam ice bath adalah untuk
mempercepat terbentuknya endapan Kristal kasar dari tawas.
2KAlO2 (aq) +2H2O (l) + H2SO4(aq) -> K2SO4(aq) + Al(OH)3 (s)
Warna putih yang terbentuk berasal dari senyawa Al(OH)3. senyawa Al(OH)3 yang
bersifat basa dicampurkan dengan asam sulfat. Hal tersebut bertujuan untuk membentuk
kation-kation (K+ dan Al3+) yang merupakan elemen elemen yang diperlukan untuk
membentuk tawas.
H2SO4(aq) + K2SO4(aq) + 2Al(OH)3 (s)

>

2Kal(SO4)2 (aq) + 6H2O

Setelah terbentuk Kristal, lalu di saring dengan tujuan agar terpisah dari filtratnya. Kristal
kemudian di masukkan ke dalam cawan kosong seberat 22,92 gram. Setelah itu, Kristal
dalam cawan tersebut didingin kan di dalam desikator. Setelah Kristal tawas kering, lalu di
timbang.
Pada percobaan ini didapatkan jumlah kristal tawas yang diperoleh adalah sebesar 9.39 gr
yang dihasilkan dari reaksi antara alumunium foil dengan KOH.
Reaksi kimia pembuatan tawas yang terjadi secara keseluruhan :
2 Al (s) + 2 KOH (aq) + 6 H2O (l) 2 K[Al(OH)4] (s) + 3 H2 (g)
2 K[Al(OH)4] (s) + H2SO4 (aq) 2 Al(OH)3 (aq) + K2SO4 (aq) + 2 H2O (l)
2 Al(OH)3 (aq) + 3 H2SO4 (aq) Al2(SO4)3 (s) + 6 H2O (l)
K2SO4 (aq) + Al2(SO4)3 (s) + 12H2O (l) 2 KAl(SO4)2.12H2O (s)
Kemudian, dilakukan uji penjernihan pada air kotor dengan menggunakan tawas hasil
sintetis, dan tawas komersial. . Prinsip penjernihan air adalah dengan menggunakan
stabilitas

partikel-partikel

bahan

pencemar

dalam

bentuk koloid.

Tawas

sebagai koagulan didalam pengolahan air maupun limbah. Sebagai koagulan alum sulfat

24

sangat efektif untuk mengendapkan partikel yang melayang baik dalam bentuk koloid
maupun suspensi.
Didapat hasil bahwa air lebih jernih ketika di masukan tawas komersial. Selain itu, proses
penjernihan air kotor dengan tawas lebih cepat di bandingkan dengan tawas hasil sintesis
yang cenderung agak lambat prosesnya. Hal itu di karenakan tawas yang di hasilkan tidak
terlalu murni karena factor pembuatan tawas yang masih belum sempurna. Bisa disebabkan
karena masih terdapat zat pengotor di dalam tawas tersebut.
2. Sintesis NaCl
Pada percobaan ini digunakan sampel soda kue yang mengandung NaHCO 3. Tujuan dari
percobaan ini adalah untuk menentukan kemurnian NaCl dengan cara penguapan dan
kristalisasi, menentukan % rendemen NaCl dan menghitung presentase hilangnya NaCl yang
didapatkan secara teoritis. Prinsip dari percobaan ini yaitu dengan melakukan titrasi oleh
larutan HCl yang menghasilkan garam NaCl yang terbentuk antara soda kue dan larutan
HCl. Titrasi dilakukan dengan menggunakan bantuan indicator metil merah. Tujuannya
adalah untuk menekan titik akhir titrasi. Perubahan warna yang di hasilkan yaitu dari putih
kekuningan menjadi warna merah muda. Pada saat proses pentitrasian larutan soda kue
dengan HCl, terdapat gelembung-gelembung (berbuih).
Larutan NaCl yang terbentuk dari titrasi (titrat) di masukkan ke dalam cawan porselen
untuk didinginkan di dalam desikator. Cawan porselen sebelumnya telah beratnya dengan
cara diuapkan di dalam oven selama 20-30 menit. Fungsinya adalah agar cawan bebas dari
zat pengotor, dan untuk menstrerilkan cawan dari zat-zat yang mungkin akan menempel
pada cawan tersebut. Lalu cawan tersebut kita dinginkan dalam desikator. Setelah itu cawan
ditimbang di neraca analitik. Nilai berat cawan tersebut nantinya digunakan dalam
perhitungan % rendemen NaCl dan persentase hilangnya NaCl. Berat cawan yang di dapat
adalah 41.1131 gram. Setelah itu, titrat di uapkan selama 1 jam, atau sampai kering.
Terbentuk padatan Kristal berwarna putih yang merupakan padatan Kristal NaCl. Lalu
didinginkan di dalam desikator, kemudian dilakukan penimbangan. Didapat hasil berat
cawan dan padatan NaCl yaitu 46.85 gram.
Persamaan reaksi yang terjadi :
NaHCO3(S) + H2O Na+ + CO32-- + H3O+
NaHCO3(aq) + HCl(aq) NaCl + CO3 + H3O+
25

26