Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah Sakit merupakan sarana untuk melayani berbagai pasien dimana
setiap Rumah Sakit memiliki sistem pelayanan rumah sakit dan struktur
organisasi yang berbeda-beda. Ada yang rumah sakit tipe A, B, C , D dan ada
juga Puskesmas. Rumah Sakit Swasta berbeda dengan Rumah Sakit pemerintah
juga ada Rumah Sakit Umum dan Daerah yang mempunya pelayanan yang
berbeda namun masing-masing sama-sama memberikan pelayanan kesehatan
yang memadai.
Rumah Sakit tidak bertujuan untuk memberikan keuntungan melainkan
sebagai

pelayanan

kesehatan

yang

dapat

memuaskan

klien.Seiring

berkembangnya zaman, rumah sakit harus memilki sistem teknologi yang


canggih juga seperti tempat tidur otomatis.Struktur organisasi menggambarkan
kerjasama antara berbagai bidang maupun kepala. Jika struktur organisasi
tersebut berjalan dengan baik maka akan menghasilkan pelayanan dengan
kualitas yang baik pula.
Sebagaimana kita ketahui bahwa rumah sakit itu di perlukan oleh banyak
orang setiap hari nya karena rumah sakit adalah tempat untuk ber obat, dan hanya
satu satu nya tempat paling legal atau satu satu nya tempat yg paling banyak di
kunjungi oleh orang yang kurang sehat, hampir tiap hari orang bisa jatuh sakit
dan mereka akan langsung pergi mencari rumah sakit oleh karena itu pada
sebuah rumah sakt di butuhkan suatu organisasi agar semua berjalan dengan
lancar, cepat dan juga efisien. Karena pada tiap harinya rumah sakit itu pasti di
kunjungi oleh banyak pasien jd di butuhkan suatu organisasi agar para pasien
dapat dilayani degan cepat. Dan juga suatu organisasi di rumah sakit berfungsi
agar setiap intasi di dalemnya tau tujuan mereka untuk apa disana.jadi secara
garis besar organisasi di rumah sakit itu sangat dibutuh kan demi kelancaran
rumah sakit tersebut krn jika kita liat dr banyak nya pengunjung tiap harinya,
suatu organisasi sangat lah di butuh kan demi kelancaran-kelancaran tersebut.
Bisa kita bayangkan jika di sebuah rumah sakit tidak mempunya organisasi, pasti
akan terjadi sebuah chaos atau bisa di sebut sebuah kekacauan di dalem rumah
sakit tersebut krn tidak adanya suatu organisasi .karena pasti jika tidak ada
organisasi, semua akan terasa repot dan tidak ada nya suatu aturan-aturan yang

mengatur para pasien ataupun instasi yang ada di dalem lingkungan kerja rumah
saki tersebut.
Masing-masing memiliki tugas atau kewenangan tersendiri untuk
membangun sebuah manajemen yang tepat untuk rumah sakit. Tidak ada
perbedaan namun harus sama-saama saling melengkapi antara manajer dan
teknisi untuk membangun sebuah pelayanan yang ujung-ujungnya akan membuat
pelayanan prima sehingga rumah sakit baik tipe A, B, C , D dan puskesmas bisa
berjalan dengan baik. Sebaliknya jika tidak ada kerjasama yang baik dalam
sebuah struktur organisasi maka akan membuat kualitas pelayanan rumah sakit
pun menurun.
1.2 Rumusan Masalah
Makalah ini membahas tentang bagaimana sistem Pelayanan Kesehatan
dan Struktur Organisasi Rumah Sakit Tipe A, B, C, D dan Puskesmas.

1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan Mahasiswa/pembaca
mengenai sistem Pelayanan Kesehatan dan Struktur Organisasi Rumah Sakit
Tipe A, B, C, D dan Puskesmas.

1.4 Manfaat
Semoga dengan dibuatnya makalah ini, Mahasiswa/pembaca dapat lebih
mudah memahami sistem Pelayanan Kesehatan dan Struktur Organisasi Rumah
Sakit Tipe A, B, C, D dan Puskesmas.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Rumah Sakit


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1204/MENKES/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah
sakit dinyatakan bahwa rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, tempat
berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat
penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan
gangguan kesehatan (Depkes RI : 2004).
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 986/Menkes/Per/11/1992 pelayanan
rumah sakit umum pemerintah Departemen Kesehatan dan Pemerintah Daerah
diklasifikasikan menjadi kelas/tipe A,B,C,D dan E (Azwar,1996)
Rumah sakit adalah suatu organisasi kompleks yang menggunakan
Perpaduan peralatan ilmiah yang rumit dan khusus, yang difungsikan oleh
kelompok tenaga terlatih dan terdidik dalam menghadapi masalah-masalah yang
berkaitan dengan pengetahuan medik modern untuk tujuan pemulihan dan
pemeliharaan kesehatan yang baik.
Rumah Sakit menurut WHO (1957) diberikan batasan yaitu suatu bagian
yang menyeluruh lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitative
dimana output layanannya menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan
rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan serta untuk
penelitian biososial .
Rumah

Sakit

983/Menkes/per/II/1992

menurut
yaitu

Mentri

sarana

Kesehatan
upaya

RI

kesehatan

No.
dalam

menyelanggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk


pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. (Hand Book of Instutionl Parmacy
Pratice).

2.2 Fungsi Rumah Sakit


Berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan RI No.983/Menkes/per/II 1992
Tugas rumah sakit adalah melaksanakan upaya kesehatan serta berdaya guna
dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan
yang di laksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan

pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Untuk melaksanakan tugas


tersebut, rumah sakit memiliki fungsi yaitu:
2.2.1 Fungsi Perawatan
Meliputi

promotif

(Peningkatan

kesehatan),

prefentif

(Pencegahan penyakit), kuratif (Penyembuhan penyakit), rehabilitataif


(Pemulihan penyakit),penggunaan gizi,pelayanan pribadi,dll.
2.2.2 Fungsi Pendidikan
Critical right (Penggunaan yang tepat meliputi : tepat obat, tepat
dosis, tepat cara pemberian, dan tepat diagnosa).
2.2.3 Fungsi Penelitian
Pengetahuan medis mengenai penyakit dan perbaikan pelayanan
rumah sakit (Depkes RI).Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari
rumah sakit yaitu :
a. Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan penunjang
medis tambahan.
b. Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman.
c. Melaksanakan pelayanan medis khusus.
d. Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan.
e. Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi.
f. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan.
g. Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat
tinggal (Observasi).
h. Melaksanakan pelayanan rawat inap.
i. Melaksanakan pelayanan pendidikan para medis.
j. Membantu pendidikan tenaga medis umum.
k. Membantu pendidikan tenaga medis spesialis.
l. Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan.

2.3 Unsur dalam Organisasi Rumah Sakit


Keorganisasian dalam rumah sakit menurut UU 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit, yaitu paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur
Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang
medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan
keuangan. Beberapa unsur tersebut diatas dapat disederhanakan menjadi unsur

staf medis, administrator atau CEO (manajemen), pegawai, serta Governing


Board. Unsur tersebut memiliki kekuasaan dan peranan yang berbeda satu sama
lain, antara lain:
a. Staf Medis
Staf medis terdiri dari semua dokter yang telah memiliki lisensi untuk
merawat pasien di rumah sakit. Staf medis memiliki sebuah oraganisasi yang
disebut Komite Medik. Komite Medik mbertanggung jawab langsung kepada
pemilik rumah sakit
b. Administrator atau CEO
Administrator atau CEO memiliki peranan dan tanggung jawab
terhadap segala manajemen di semua bagian rumah sakit. Administrator dapat
membuat kebijakan, tidak tergabung dalam Komite Medik. Administrator
mendapatkan mandat dari governing body untuk menjalankan manajemen di
rumah sakit sesuai dengan visi dan misi rumah sakit tersebut.CEO juga
memiliki wewenang terhadap pegawai atau karyawan yang dipekerjakan di
institusi tersebut, tetapi tidak memiliki wewenang yang besar kepada staf
medis, seperti pemberhentian.
c. Pekerja
Pekerja (employee) dalam UU Ketenagakerjaan 13 tahun 2000 adalah
setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk
lain. Namun dalam rumah sakit, pekerja adalah orang yang bekerja di rumah
sakit namun bukan merupakan staff medis.
d. Governing Body
Governing Body rumah sakit pada intinya adalah badan yang menjadi
penghubung

formal

antara

sistem

di

dalam

rumah

sakit

dengan

masayarakat.Governing Body Rumah Sakit adalah unit terorganisasi yang


bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan dan objektif rumah sakit,
menjaga penyelenggaraan asuhan pasien yang bermutu, dengan menyediakan
perencanaan serta manajemen institusi. (Jacobalis dalam Tinarbuka , 2011)

2.4 Rumah Sakit Kelas A


2.4.1 Pengertian Rumah Sakit Kelas A
Rumah Sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas oleh pemerintah, rumah
sakit ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi (top

referral hospital) atau disebut juga rumah sakit pusat.Fasilitasnya pelayanan


medis dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat Umum dan kesehatan
gigi), spesialistik (bedah, pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan
kandungan, kesehtan atau THT, kulit dan kelamin, jantung syaraf,gigi dan
mulut, paru-paru, orthopedic,jiwa, radiology anastesiologi (pembiusan),
patologi anatomi dan kesehatan).Dengan pendalaman tertentu dalam salah
satu pelayanan spesialistik yang luas, memiliki lebih dari 1000 kamar tidur.

2.4.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Kelas A Permenkes RI Nomor


1045/Menkes/Per/XI/2006
Rumah sakit umum daerah kelas A terdiri dari paling banyak 4
(empat) wakil direktur dan masing-masing membawahi maksimal 3 (tiga)
bagian atau bidang. Setiap bidang membawahi kelompok jabatan fungsional
dan atau terdiri dari 2 (dua) seksi.Pada wakil direktur yang membidangi
administrasi umum terdiri dari paling banyak 4 (empat) bagian dan
membawahi maksimal 3 (tiga) subbagian.
2.4.3 Sistem Pelayanan Rumah Sakit Kelas A
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor 56
Tahun 2014 Tentang Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit, Sistem
Pelayanan Rumah Sakit Kelas A yaitu:
Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Kelas A haruslah
memadai dan sesuai dengan kelas rumah sakit, dengan demikian pelayanan
yang harus ada di Rumah Sakit Umum tipe A

paling sedikit meliputi:

pelayanan medik, pelayanan kefarmasian, pelayanan keperawatan dan


kebidanan, pelayanan penunjang klinik, pelayanan penunjang nonklinik, dan
pelayanan rawat inap.
A. Pelayanan medik
Pelayanan medik yang ada di Rumah Sakit Umum tipe A paling sedikit
terdiri dari:
a.

Pelayanan gawat darurat


Pelayanan gawat darurat yang ada di Rumah Sakit Umum tipe
A harus diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara
terus menerus.

Gambar : Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas A (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

Pelayanan medik spesialis dasarPelayanan medik spesialis dasar


yang ada harus meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak,
bedah, dan obstetri dan ginekologi.
a.

Pelayanan medik spesialis penunjang


Pelayanan medik spesialis penunjang yang diselenggarakan,
sedikitnya harus meliputi pelayanan anestesiologi, radiologi,
patologi klinik, patologi anatomi, dan rehabilitasi medik.

b.

Pelayanan medik spesialis lain


Pelayanan medik spesialis lain yang sebagaimana dimaksud,
harus meliputi pelayanan mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf,
jantung dan pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa,
paru, 8orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan
kedokteran forensik.

c.

Pelayanan medik subspesialis


Pelayanan medik subspesialis yang ada di Rumah Sakit Umum
tipe ini sedikitnya harus meliputi pelayanan subspesialis di bidang
spesialisasi bedah, penyakit dalam, kesehatan anak, 8obstetri dan
ginekologi, mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan
pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, paru,
8orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan gigi mulut.

d.

Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut


Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut harus meliputi
pelayanan

bedah

mulut,

konservasi/endodonsi,

periodonti,

orthodonti, prosthodonti, pedodonsi, dan penyakit mulut.


B. Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian yang di selenggarakan di Rumah Sakit
Umum tipe A harus meliputi pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan
dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik.
C. Pelayanan keperawatan dan kebidanan
Pelayanan keperawatan dan kebidanan ynag ada harus meliputi
asuhan keperawatan generalis dan spesialis serta asuhan kebidanan.
D. Pelayanan penunjang klinik

Pelayanan penunjang klinik yang diselenggarakan harus meliputi


pelayanan bank darah, perawatan intensif untuk semua golongan umur
dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi instrumen dan rekam medik.
E. Pelayanan penunjang nonklinik
Pelayanan

penunjang

nonklinik

harus

meliputi

pelayanan

laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas,


pengelolaan limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi,
pemulasaraan jenazah, sistem penanggulangan kebakaran, pengelolaan
gas medik, dan pengelolaan air bersih.
F. Pelayanan rawat inap
Pelayanan rawat inap yang ada di Rumah Sakit Umum tipe A ini
sedikitnya harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut:
a. Jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 30% (tiga puluh
persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah;
b. Jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 20% (dua puluh
persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik swasta;
c. Jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen) dari
seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan Rumah
Sakit milik swasta.
Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas A haruslah sangat
memadai agar pelayanan yang terselenggara sesuaidengan kelas rumah
sakit itu sendiri. Dengan demikian Sumber daya manusia harus terdiri
atas:
A. Tenaga medis
Tenaga medis yang ada di Rumah Sakit Umum tipe A paling sedikit
terdiri atas:
a. 18 (delapan belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 4 (empat) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 6 (enam) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik
spesialis dasar;
d. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
penunjang;
e. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

lain;
f. 2 (dua) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik
subspesialis; dan
g. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik
spesialis gigi mulut.
B. Tenaga kefarmasian
Tenaga kefarmasian sebagaimana yang harus ada, paling sedikit terdiri
atas:
a. 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh
paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
c. 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10
(sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh
minimal 2 (dua) tenaga teknis kefarmasian;
e. 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2
(dua) tenaga teknis kefarmasian;
f. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang
dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap
atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang
jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
Rumah Sakit;
g. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan
dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya
disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.

C. Tenaga keperawatan
Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang ada harus sama
dengan jumlah tempat tidur pada instalasi rawat inap. Selain itu
kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan yang ada disesuaikan
dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.

D. Tenaga nonkesehatan
Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga
nonkesehatan yang ada disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan
Rumah Sakit.
Peralatan Rumah Sakit Umum kelas A harus memenuhi standar
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peralatan yang
ada paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk instalasi gawat
darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi, persalinan,
radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi, dan kamar jenazah.

2.5 Rumah Sakit Kelas B


2.5.1 Pengertian Rumah Sakit Kelas B
Rumah Sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan

kedokteran

medik

spesialis

luas

dan

subspesialis

terbatas.Direncanakan rumah sakit tipe B didirikan di setiap ibukota


propinsi (provincial hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari
rumah sakit kabupaten. Rumah sakit pendidikan yang tidak termasuk tipe
A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit tipe B.Fasilitasnya pelayanan
medis dasar (pelayanan kesehatan yang bersifat umum dan kesehatan gigi),
spesialistik (bedah, pelayanan bedah, penyakit dalam, kebidanan dan
kandungan, kesehatan atau THT, kulit dan kelamin, jantung, syaraf, gigi
dan

mulut,

paru-paru,

orthopedic,

jiwa,

radiology,anastesiology

(pembiusan), patology anatomi, dan kesehatan dengan pendalaman tertentu


dalam salah satu pelayanan spesialistik), yang terbatas memiliki kamar
tidur.
2.5.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Kelas B Permenkes RI Nomor
1045/Menkes/Per/XI/2006
A. Rumah Sakit Umum Kelas B Pendidikan
Rumah sakit umum kelas B Pendidikan dipimpin oleh seorang
direktur utama.Direktur utama membawahi paling banyak 3 (tiga)
direktorat, dan masing-masing direktorat terdiri dari paling banyak 3
(tiga) bagian atau bidang.Masing-masing bagianterdiri dari paling

banyak 3 (tiga) subbagian dan setiap bidang membawahi kelompok


jabatan fungsional maksimal 3 (tiga) seksi.
B. Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan
Rumah sakit umum kelas B non pendidikan dipimpin oleh
seorang kepala disebut Direktur utama. Direktur utama membawahi
paling banyak 2 (dua) direktorat. Masing-masing direktorat terdiri dari
paling banyak 3 (tiga) bidang atau 3 (tiga) bagian. Masing-masing
bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) seksi dan setiap bagian
terdiri maksimal 3 (tiga) subbagian.

2.5.3 Sistem Pelayanan Rumah Sakit Kelas B


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor 56
Tahun 2014 TentangKlasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit, Sistem
Pelayanan Rumah Sakit Kelas B yaitu:
Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum kelas B paling
sedikit meliputi: pelayanan medik, pelayanan kefarmasian, pelayanan
keperawatan dan kebidanan, pelayanan penunjang klinik, pelayanan
penunjang nonklinik, dan pelayanan rawat inap.
A. Pelayanan medik
Pelayanan medik yang akan diselenggarakan di Rumah sakit tipe ini,
paling sedikit terdiri dari:
a. Pelayanan gawat darurat
Pelayanan gawat darurat yang ada di Rumah Sakit tipe B
harus diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus
menerus.

b. Pelayanan medik spesialis dasar


Pelayanan medik spesialis dasar, sebagaimana dimaksud
harus meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah,
dan obstetri dan ginekologi.

Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas B Pendidikan (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

SOTK DEPKES TIPE B


PENDIDIKAN
DEWAN PEMBINA

DIREKTUR

KONDIX DAN SMF

WADIR PELAYANAN
& KEPERAWATAN

BIDANG
PELAYANAN

BIDANG
KEPERAWATAN

SPI

WADIR
PENUNJANG &
DIKLIT

BIDANG
PENUNJANG

WADIR UMUM
DAN KEUANGAN

BIDANG DIKBANG

BAGIAN
SEKRETARIAT

BAGIAN
KEUANGAN

BAGIAN
PERENCANAAN

SEKSI RAWAT
JALAN DAN
DARURAT

SEKSI ASUHAN
KEPERAWATAN

SEKSI PENUNJANG
MEDIS I

SEKSI DIKLAT

SUBAG TATA
USAHA

SUBAG ANGG &


MOBDAN

SUBAG
PERENCANAAN
&PELAP

SEKSI RAWAT INAP


DAN INTENSIF

SEKSI BINA
KEPERAWATAN

SEKSI PENUNJANG
MEDIS II

SEKSI LITBANG

SUBAG
KEPEGAWAIAN

SUBAG
PERBENDAHARAAN

SUBAG RM & SIM

SUBAG
PERLEENGKAPAN

SUBAG VERIF &


AKUNT

SUBAG HUKMAS

Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006 Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

SOTK DEPKES TIPE B NON


PENDIDIKAN

DEWAN PEMBINA

DIREKTUR

KONDIX DAN SMF

SPI

WADIR PELAYANAN
& KEPERAWATAN

BIDANG PELAYANAN

BIDANG
KEPERAWATAN

WADIR UMUM DAN


KEUANGAN

BAGIAN
SEKRETARIAT

BAGIAN KEUANGAN

BAGIAN
PERENCANAAN

SEKSI PELAYANAN

SEKSI KEPERAWATAN

SUBAG
KEPEGAWAIAN

SUBAG ANGGARAN
& MOB DANA

SUBAG
PENYUSUNAN
PROGRAM & LAP

SEKSI PENUNJANG

SEKSI PENDIDIKAN &


LITBANG

SUBAG
PERLENGKAPAN

SUBAG
PERBENDAHARAAN

SUBAG RM & SIM

SUBAG VERIFIKASI &


AKUNTANSI

SUBAG HUKMAS

c. Pelayanan medik spesialis penunjang


Pelayanan

medik

spesialis

penunjang

harus

meliputi

pelayanan anestesiologi, radiologi, patologi klinik, patologi


anatomi, dan rehabilitasi medik.
d. Pelayanan medik spesialis lain
Pelayanan medik spesialis lain paling sedikit berjumlah 8
(delapan) pelayanan dari 13 (tiga belas) pelayanan yang meliputi
pelayanan mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan
pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, paru,
orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan kedokteran
forensik.
e. Pelayanan medik subspesialis
Pelayanan medik subspesialis yang diselenggarakan paling
sedikit berjumlah 2 (dua) pelayanan subspesialis dari 4 (empat)
subspesialis dasar yang meliputi pelayanan subspesialis di bidang
spesialisasi bedah, penyakit dalam, kesehatan anak, dan obstetri dan
ginekologi.
f. Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut
Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut, paling sedikit
berjumlah 3 (tiga) pelayanan yang meliputi pelayanan bedah mulut,
konservasi/endodonsi, dan orthodonti.
B. Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian harus meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan
farmasi klinik.
C. Pelayanan keperawatan dan kebidanan
Pelayanan Keperawatan dan kebidanan yang ada di Rumah Sakit
Tipe B ini harus memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan dan asuhan
kebidanan.
D. Pelayanan penunjang klinik
Pelayanan penunjang klinik yang ada harus meliputi pelayanan
bank darah, perawatan intensif untuk semua golongan umur dan jenis
penyakit, gizi, sterilisasi instrumen dan rekam medik.

E. Pelayanan penunjang nonklinik


Pelayanan

penunjang

nonklinik

meliputi

pelayanan

laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas,


pengelolaan limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan
komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem penanggulangan kebakaran,
pengelolaan gas medik, dan pengelolaan air bersih.
F.

Pelayanan rawat inap


Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud paling sedikit
harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut:
a.

Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
Pemerintah;

b.

Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
swasta;

c.

Jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen)


dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan
Rumah Sakit milik swasta.

Selain itu, sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas B terdiri
atas:
A. Tenaga medis
Tenaga medis yang tersedia di Rumah Sakit Umum tipe B paling sedikit
terdiri atas:
a. 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar
b 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut
c 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
dasar
d. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
penunjang
e. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
lain
f. 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik
subspesialis

g. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik


spesialis gigi mulut.
B. Tenaga kefarmasian
Tenaga kefarmasian yang tersedia paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah
Sakit;
b. 4 (empat) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh
paling sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;
c. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling
sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) orang apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh
minimal 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;
e. 1 (satu) orang apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling
sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;
f. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan dan
distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi
klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja
pelayanan kefarmasian Rumah Sakit; dan
g. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau
rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang
jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
Rumah Sakit.
C. Tenaga keperawatan
Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang tersedia harus sama
dengan jumlah tempat tidur pada instalasi rawat inap. Selain itu,
kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan yang ada disesuaikan
dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
D. Tenaga kesehatan lain
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain yang
sebagaimana dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan
Rumah Sakit.

E. Tenaga nonkesehatan
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga nonkesehatan yang ada
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
Peralatan Rumah Sakit Umum kelas B harus memenuhi standar sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Peralatan yang tersedia paling sedikit
terdiri dari peralatan medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap,
rawat intensif, rawat operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan
darah, rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi, dan kamar jenazah.

2.6 Rumah Sakit Kelas C


2.6.1 Pengertian Rumah Sakit Kelas C
Rumah Sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran subspesialis terbatas.Terdapat empat macam
pelayanan spesialis disediakan yakni pelayanan penyakit dalam, pelayanan
bedah, pelayanan kesehatan anak, serta pelayanan kebidanan dan
kandungan. Direncanakan rumah sakit tipe C ini akan didirikan di setiap
kabupaten/kota (regency hospital) yang menampung pelayanan rujukan
dari puskesmas.Fasilitasnya pelayanan medis dasar (pelayanan kesehatan
yang bersifat umum dan kesehatn gigi) memilki 100-500 kamar tidur.

2.6.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Kelas C Permenkes RI Nomor


1045/Menkes/Per/XI/2006
Rumah sakit umum kelas C dipimpin oleh seorang direktur.Direktur
membawahi 1(satu) bagian dan paling banyak 2 (dua) bidang.Masingmasing bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) subbagiandan setiap
bidang membawahi maksimal 3 (tiga) seksi.
2.6.3 Sistem Pelayanan Rumah Sakit Kelas C
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor
56 Tahun 2014 TentangKlasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit, Sistem
Pelayanan Rumah Sakit Kelas C yaitu:
Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum kelas C paling sedikit
meliputi:

A. Pelayanan medik
Pelayanan medik yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum tipe C ,
paling sedikit terdiri dari:
a. Pelayanan gawat darurat
Pelayanan

gawat

darurat

yang

diberikan

harus

diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus


menerus.
b. Pelayanan medik umum
Pelayanan medik umum yang disediakan di Rumah Sakit
Umum tipe D harus meliputi pelayanan medik dasar, medik gigi
mulut, kesehatan ibu dan anak, dan keluarga berencana.
c. Pelayanan medik spesialis dasar
Pelayanan medik spesialis dasar yang sebagaimana dimaksud
harus meliputi meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan
anak,bedah, dan obstetri dan ginekologi.
d. Pelayanan medik spesialis penunjang
Pelayanan medik spesialis penunjang yang ada harus meliputi
pelayanan anestesiologi, radiologi, dan patologi klinik.
e. Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut paling sedikit
berjumlah 1 (satu) pelayanan.

B. Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian yang di sediakan di Rumah Sakit Umum
tipe C harus meliputi pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik.
C. Pelayan Keperawatan dan Kebidanan
Pelayanan keperawatan dan kebidanan yang ada harus meliputi
asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.

Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas C (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

DIREKTUR ESELON III


A

KELOMPOK KERJA
FUNGSIONAL

BAGIAN SEKRETARIAT
ESELON III B

SUBAG UMUM &


HUMAS ESELON IVA
T/M

SUBAG
KEPEGAWAIAN &
SDM ESELON IVA H

SUBAG
PERLENGKAPAN
ESELON IVA S

BIDANG PELAYANAN
ESELON III B

BIDANG
PERENCANAAN
ESELON III B

BIDANG KEUANGAN
ESELON III B

SEKSI PELAYANAN
ESELON IVA B

SEKSI PERENCANAAN
& PENGENDALIAN
ESELON IVA H

SEKSI
PERBENDAHARAAN
ESELON IVA M/C

SEKSI KEPERAWATAN
ESELON IVA C/U

SEKSI RM & SIM


ESELON IV A S

SEKSI ANGGARAN &


VEERIFIKASI ESELON
IVA J

Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas C (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

D. Pelayanan penunjang klinik


Pelayanan penunjang klinik yang sebagaimana dimaksud harus
meliputi pelayanan bank darah, perawatan intensif untuk semua
golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi instrumen dan
rekam medik.
E. Pelayanan penunjang nonklinik
Pelayanan penunjang nonklinik yang ada di Rumah Sakit Umum
tipe D harus meliputi pelayanan laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik
dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah, gudang, ambulans,
sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem
penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik, dan pengelolaan
air bersih.
F.

Pelayanan rawat inap


Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
huruf f harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut:
a. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
Pemerintah;
b. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
swasta;
c. Jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen)
dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan
Rumah Sakit milik swasta.

Selain itu, sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas C harus
memenuhi standar sesuai peraturan, yang mana terdiri atas:
A. Tenaga medis
Tenaga medis sebagaimana dimaksud, paling sedikit terdiri atas:
a. 9 (sembilan) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 2 (dua) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;

c. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis


dasar;
d. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
penunjang; dan
e. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik
spesialis gigi mulut.
B. Tenaga kefarmasian
Tenaga kefarmasian yang di sediakan di Rumah Sakit Umum tipe C
paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 2 (dua) apoteker yang bertugas di rawat inap yang dibantu oleh paling
sedikit 4 (empat) orang tenaga teknis kefarmasian;
c. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling
sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan
produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik
di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja
pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.
C. Tenaga keperawatan
Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang ada, dihitung
dengan perbandingan 2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur.
Sementara itu kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan disesuaikan
dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
D. Tenaga kesehatan lain
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain yang
sebagaimana dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah
Sakit.
E. Tenaga nonkesehatan
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga nokesehatan

yang

sebagaimana dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah


Sakit.

Peralatan Rumah Sakit Umum kelas C harus memenuhi standar sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peralatan yang ada di
Rumah Sakit Umum tipe C paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi, dan kamar jenazah.

2.7 Rumah Sakit Kelas D


2.7.1 Pengertian Rumah Sakit Kelas D
Rumah Sakit ini bersifat transisi karena pada suatu saat akan
ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C. Pada saat ini kemampuan
rumah sakit tipe D hanyalah memberikan pelayanan kedokteran umum
dan kedokteran gigi. Sama halnya dengan rumah sakit tipe C, rumah sakit
tipe D juga menampung pelayanan yang berasal dari puskesmas.
2.7.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Kelas DPermenkes RI Nomor
1045/Menkes/Per/XI/2006
Rumah sakit umum kelas D dipimpin oleh seorang direktur.
Direktur membawahi 2 (dua) seksi dan 3 (tiga) subbagian.
2.7.3 Sistem Pelayanan Rumah Sakit Kelas D
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
56 Tahun 2014 TentangKlasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit, Sistem
Pelayanan Rumah Sakit Kelas C yaitu:
Sebagai mana di jelaskan dalam Pasal 47, pelayanan yang
diberikan oleh Rumah Sakit Umum Kelas D paling sedikit harus meliputi
pelayanan-pelayanan seperti :
A. Pelayanan medik
Pelayanan Medik yang di berikan oleh Rumah Sakit Umum tipe
D paling sedikit harus menyediakan beberapa pelayanan yaitu
pelayanan gawat darurat, pelayanan medik umum, pelayanan medik
spesialis dasar, dan pelayanan medik spesialis penunjang.
Yang mana pelayanan gawat darurat yang disediakan di Rumah
Sakittipe D harus 24 jam dalam sehari secara terus menerus. Pada
pelayanan medik umum di rumah sakit umum tipe D paling sedikit
harus meliputi meliputi pelayanan medik dasar, medik gigi mulut,

kesehatan ibu dan anak, dan keluarga berencana. Untuk pelayanan


medik spesialis dasar, paling sedikit 2 (dua) dari 4 (empat) pelayanan
medik spesialis dasar yang meliputi pelayanan penyakit dalam,
kesehatan anak, bedah, dan/atau obstetri dan ginekologi. Dan pada
pelayanan medik spesialis penunjang di Rumah Sakit Uum tipe D
harus meliputi pelayanan radiologi dan laboratorium.
B. Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian yang ada di Rumah Sakit Umum tipe D
sebagaimana yang dimaksud harus meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan
farmasi klinik.
C. Pelayanan keperawatan dan kebidanan
Pelayanan keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud
harus

meliputi asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan, untuk

memenuhi kebutuhan klien untuk proses bersalin.


D. Pelayanan penunjang klinik
Pelayanan penunjang klinik yang ada di Rumah Sakit Umum tipe
D harus meliputi pelayanan darah, perawatan high care unit untuk
semua golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi instrumen
dan rekam medik.
E. Pelayanan penunjang nonklinik
Pelayanan penunjang nonklinik di Rumah Sakit Umum tipe D
sebagaimana dimaksud harus meliputi pelayanan laundry/linen, jasa
boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah,
gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan
jenazah, sistem penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik,
dan pengelolaan air bersih.

Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas D (Permenkes RI Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006)

F. Pelayanan rawat inap


Pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Umum tipe D harus
dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut:
a. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
Pemerintah;
b. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
swasta;
c. Jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen)
dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan
Rumah Sakit milik swasta.
Sementara itu selain fasilitas yang harus ada di Rumah Sakit Umum Tipe
D, juga sumber daya manusia rumah sakit umum kelas D harus memadai. Yang
mana Sumber daya manusia yang ada terdiri atas:
A. Tenaga medis
Tenaga medis yang ada di Ruamah Sakit Umum tipe D paling sedikit terdiri
atas:
a. 4 (empat) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 1 (satu) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis
dasar.
B. Tenaga kefarmasian
Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit
b. 1 (satu) apoteker yang bertugas di rawat inap dan rawat jalan yang
dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian
c. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan
produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di
rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian
yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
Rumah Sakit.

C. Tenaga keperawatan
Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan Di Rumah Sakit Umum Tipe D
dihitung dengan perbandingan 2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur.
Selain itu kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan disesuaikan
dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
D. Tenaga kesehatan lain
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain yang sebagaimana
dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
E. Tenaga nonkesehatan
Untuk jumlah dan kualifikasi tenaga nonkesehatan yang sebagaimana
dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
Selain itu, peralatan Rumah Sakit Umum kelas D harus memenuhi standar
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peralatan sebagaimana
dimaksud paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk instalasi gawat darurat,
rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi, persalinan, radiologi,
laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi,
dan kamar jenazah.

2.8 Puskesmas
2.8.1 Pengertian Puskesmas
Puskesmas

adalah

unit

pelaksana

teknis

dinas

kesehatan

kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan


kesehatan di suatu wilayah kerja (DEPKES RI:2006).
Wilayah kerja Puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian
dari kecamatan.Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik
dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam
menentukan wilayah kerja Puskesmas.
Puskesmas merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II,
sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau
Walikota, dengan saran teknis dari kepala Dinas Kesehatan Kabupaten /
Kota.Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata-rata
30.000 penduduk setiap Puskesmas.
Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka Puskesmas
perlu ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana

yanng disebut Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.Khusus untuk


kota besar dengan jumlah penduduk satu juta atau lebih, wilayah kerja
Puskesmas bisa meliputi 1 Kelurahan. Puskesmas di ibukota Kecamatan
dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan Puskesmas
Pembina yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi Puskesmas kelurahan
dan juga mempunyai fungsi koordinasi.
Dalam perkembangannya, batasan-batasan di atas makin kabur seiring
dengandiberlakukannya UU Otonomi Daerah yang lebih mengedepankan
desentralisasi. Dengan Otonomi, setiap daerah tingkat II punya
kesempatan mengembangkan Puskesmas sesuai Rencana Strategis (
renstra ) Kesehatan Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah ( RPJMD ) Bidang Kesehatan sesuai situasi dan kondisi daerah
Tingkat II. Konsekuensinya adalah perubahan struktur organisasi
kesehatan serta tugas pokok dan fungsi yang menggambarkan lebih
dominannya aroma kepentingan daerah tingakt II, yang memungkinkan
terjadinya perbedaan penentuan skala prioritas upaya peningkatan
pelayanan kesehatan di tiap daerah tingkat II, dengan catatan setiap
kebijakan tetap mengacu kepada Renstra Kesehatan Nasional. Di sisi lain
daerah tingkat II dituntut melakukan akselerasi di semua sektor penunjang
upaya pelayanan kesehatan.
2.8.2 Fungsi Puskesmas
Fungsi puskesmas itu sendiri meliputi:
a. Fungsi Pokok
1) Pusat

pengerak

pembangunan

berwawasan

kesehatan

Pusat

pemberdayaan
2) Masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan
3) Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama
b. Peran Puskesmas
Sebagai lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat diwilayah
terkecil dalam hal pengorganisasian masyarakat serta peran aktif
masyarakat dalam penyelenggaraan kesehatan secara mandiri.
c.

Cara-cara yang ditempuh


1) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan

dalam rangka menolong dirinya sendiri.


2) Memberikan

petunjuk

kepada

masyarakat

tentang

bagaimana

menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif.


3) Memberikan bantuan teknis
4) Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat
5) Kerjasama lintas sector
d. Program Pokok Puskesmas

1)

KIA

2)

KB

3)

Usaha Kesehatan Gizi

4)

Kesehatan Lingkungan

5)

Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular

6)

Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan

7)

Penyuluhan kesehatan masyarakat

8)

Kesehatan sekolah

9)

Kesehatan olah raga

10) Perawatan Kesehatan


11) Masyarakat
12) Kesehatan kerja
13) Kesehatan Gigi dan Mulut
14) Kesehatan jiwa
15) Kesehatan mata
16) Laboratorium sederhana
17) Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK
18) Pembinaan pemgobatan tradisional
19) Kesehatan remaja
20) Dana sehat
e. Satuan Penunjang
1)

Puskesmas Pembantu
Pengertian puskesmas pembantu yaitu Unit pelayanan kesehatan
yang

sederhana

dan

berfungsi

menunjang

dan

membantu

melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam


rung lingkup wilayah yang lebih kecil.
2)

Puskesmas Keliling

Pengertian puskesmas Keliling yaitu Unit pelayanan kesehatan


keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan
kesehatan, peralatan komunikasiserta sejumlah tenaga yang berasal
dari puskesmas dengan fungsi dan tugas yaitu memberi pelayanan
kesehatan daerah terpencil, melakukan penyelidikan KLB, transport
rujukan pasien, penyuluhan kesehatan dengan audiovisual.
3)

Bidan Desa
Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan
ditempatkan seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan
bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.Wilayah kerjanyadengan
jumlah penduduk 3.000 orang. Adapun Tugas utama bidan desa yaitu :
a) Membina PSM
b) Memberikan pelayanan
c) Menerima rujukan dari masyarakat

2.8.3 Tujuan Puskesmas


Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh
puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan
kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran , kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja
puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam
rangka mewujudkan Indonesiam Sehat 2010.
2.8.4 Tugas Puskesmas
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD)
kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan
pembangunankesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat
pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan

tingkat

pertama

secara

menyeluruh,

terpadu

dan

berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private


goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmas
melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat
sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan.Puskesmas adalah suatu
kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan
secara mrnyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu
dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.Jenis pelayan kesehatan

disesuaikandengan kemampuan puskesmas, namun terdapat

upaya

kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan


upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan
yang ada serta kemampuan puskesmas.Upaya-upaya kesehatan wajib
tersebut adalah ( Basic Six):
a. Upaya promosi kesehatan
b. Upaya kesehatan lingkungan
c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
d. Upaya perbaikan gizi masyarakat
e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan
Berdasarkan pertimbangan diatas maka pada tahun 1994
dibangunlah Puskesmas Wangisagara yang beralamat di Jln Raya
Wangisagara dengan nomor kode Puskesmas yaitu 2904.Status puskesmas
Wangisagara saat ini yaitu TTP. Adapun status puskesmas dalam program
TB Paru yaitu PRM. PRM ini dibentuk dengan harapan bisa menciptakan
sebuah kecamatan yang sehat untuk menuju Indonesia Sehat 2010.
2.8.5 Struktur Organisasi Puskesmas
Susunan organisasi Puskesmas terdiri dari:
a
.

Unsur Pimpinan

: Kepala Puskesmas

b Unsur Pembantu
.

Pimpinan

: Urusan Tata Usaha

Unsur Pelaksana

c
.

Unit yang terdiri dari tenaga / pegawai dalam jabatan

fungsional

jumlah unit tergantung kepada kegiatan, tenaga dan fasilitas

tiap daerah
Unit terdiri dari : unit I, II, III, IV, V, VI dan VII

3
.
a. Tugas:
Kepala Puskesmas :

Mempunyai

tugas

pokok

dan

fungsi:

memimpin,

mengawasi

dan

mengkoordinir kegiatan Puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan


struktural dan jabatan fungsional.
Kepala Urusan Tata Usaha:
Mempunyai tugas pokok dan fungsi: di bidang kepegawaian, keuangan,
perlengkapan dan surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan.
Unit I:
- Mempunyai tugas pokok dan fungsi: melaksanakan kegiatan Kesejahteraan
Ibu dan Anak, Keluarga Berencana dan Perbaikan Gizi.
Unit II:
- Mempunyai tugas pokok dan fungsi: melaksanakan kegiatan pencegahan
dan pemberantasan penyakit, khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan
dan laboratorium.
Unit III:
- Mempunyai tugas pokok dan fungsi: melaksanakan kegiatan Kesehatan
Gigi dan Mulut, Kesehatan tenaga Kerja dan Lansia ( lanjut usia ).
Unit IV:
- Mempunyai tugas pokok dan fungsi: melaksanakan kegiatan Perawatan
Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Sekolah dan Olah Raga, Kesehatan
Jiwa, Kesehatan Mata dan kesehatan khusus lainnya.
Unit V:
- Mempunyai tugas pokok dan fungsi: melaksanakan kegiatan di bidang
pembinaan

dan

pengembangan

upaya

kesehatan

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

Struktur Organisasi Puskesmas

masyarakat

dan

Kepala
Puskesmas

Urusan Tata
Usaha

Unit : I - III
Pelaksana Teknis

Pelaksana
Pembantu

Unit : IV - VII
Pelaksana Teknis

b. Ringkasan Tata Kerja


Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Puskesmas wajib menetapkan
prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik dalam lingkungan
Puskesmas maupun dengan satuan organisasi di luar Puskesmas sesuai dengan
tugasnya masing-masing.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Puskesmas wajib mengikuti dan
mematuhi petunjuk-petunjuk atasan serta mengikuti bimbingan teknis
pelaksanaan yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Dati II, sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Kepala Puskesmas
bertanggung jawab memimpin, mengkoordinasi semua unsur dalam
lingkungan Puskesmas,

memberikan bimbingan serta petunjuk bagi

pelaksanaan tugas masing-masing petugas bawahannya.Setiap unsur di


lingkungan Puskesmas wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dari dan
bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas.

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan teori di atas, Pembagian Rumah sakit dapat dibedakan
menjadi Rumah Sakit tipe A,B,C,D dan Puskesmas. Berdasarkan struktur
organisasi dan sistem pelayanannya, Rumah Sakit tipe A, memiliki struktur
organisasi yang lebih luas dan memiliki sistem pelayanan yang lebih lengkap
dibandingkan dengan Rumah Sakit tipe B,C,D bahkan dengan puskesmas,
sehingga rumah sakit tipe A, menjadi rumah sakit menjadi tempat rujukan yang
teratas, beda halnya dengan Puskesmas, beda halnya dengan puskesmas yang
memiliki

sistem

pelayanan

yang

tidak

terlalu

lengkap

dan

struktur

organisasinyapun lebih sederhana dan puskesmas akan lebih banyak ditemukan


di

desa-desadibandingkan dengan rumah sakit tipe A,B,C, dan D. tetapi

semuanya tidak bertujuan untuk memberikan keuntungan melainkan sebagai


pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan klien.
3.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan kepada para pembaca
khususnya Dosen dan Mahasiswa memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun. Makalah yang berjudul Sistem Pelayanan dan Struktur Organisasi
Rumah Sakit ini dapat dengan mudah difahami dengan cara membaca secara
seksama dan teliti sehingga materi dapat bermanfaat dan difahami secara mudah.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan Dirjen Yanmed Depkes RI,
Standar Pelayanan Rumah Sakit cetakan ketiga, Jakarta 1994.
Dirjen Yanmed, Pembentukan dan Tata Kerja Komite Medik Rumah Sakit,
Jakarta Juli 1995.
Djuhaeni. H, Manajemen Pelayanan Medik dan Keperawatan, Hospital
Management Training PERSI 1993.
MC Gibony, Principles of Hospital Administration Pittsburgh, 1969.
Taurany M.H., Pendekatan Sistem dalam Manajemen Rumah Sakit. Dalam :
Taurany M.H. kumpulan materi kuliah KMA 600, FKM - UI, Depok 1989.