Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH FISIKA DAN KIMIA LINGKUNGAN

HUJAN ASAM

OLEH:
ASMAWATI
NURUL FADILLAH
NUR HIDAYAH ALFIAH
RUKHAYYAH RIZAL NB. LADE
FERDIANSYAH
MUHAMMAD ARIF SETIAWAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan

kehadirat Allah swt. Yang mana telah

memberikan kepada kami nikmat ilmu serta nikmat kesehatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini .

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad
saw. Nabi yang telah memberikan kita petunjuk dan menjadi suri tauladan yang baik
kepada ummatnya sehingga kita bisa membedakan yang haq dan yang bathil.

Penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak


lain berkat bantuan dari berbagai pihak, olehnya itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan penulisan laporan ini.

Samata-Gowa, Oktober 2014

Penulis,

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan sejarah Hujan Asam ............................................................. 3
B. Proses dan Penyebab terjadinya Hujan Asam ............................................... 4
C. Dampak Hujan Asam .................................................................................... 6
D. Pencegahan Hujan Asam............................................................................... 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................... 10
B. Saran .............................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencemaran lingkungan sebagai dampak negatif dari industrialisasi telah
menimbulkan efek yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia.
Diantara dampak negatif tersebut adalah hujan asam.
Pada tahun 2000-2001, LAPAN melakukan sampling di Kota Bandung,
dan hasilnya adalah:
Tabel 1
Hasil Pengukuran pH Air Di Kota Bandung 2000-2001
No.
Tempat Sampling
pH Air
1
Dago
5,89
2
Cipedes
4,69
3
Martadinata
5,66
4
Kebon Kelapa
5,47
5
Kopo
5,77
Sumber: Penelitian Bidang Pengkajian Ozon dan Polusi udara, LAPAN
Tabel di atas menunjukkan bahwa, di Kebon Kelapa pH air berada di
bawah 5,47 (di bawah 5,6) yang artinya air telah bersifat asam.
Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa peningkatan keasaman yang ada
dalam air hujan pada beberapa dekade ini terjadi karena ulah manusia seperti dari
trasportasi, industri, pertanian dan peternakan.

Oleh karena itu, penting untuk dibahas lebih detail kapan sebenarnya
hujan asam mulai muncul, apa penyebabnya dan bagaimana mencegahnya.
B. Rumusan Masalah
1. Kapan hujan asam mulai terjadi?
2. Mengapa hujan asam bisa terjadi?
3. Bagaimana mencegah terjadinya hujan asam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kapan hujan asam mulai terjadi
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya hujan asam
3. Untuk mengetahui pencegahan hujan asam

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Sejarah Hujan Asam
Hujan asam adalah air hujan yang turun ke bumi dengan pH di bawah 5,6
(bersifat basa).
Robert Angus Smith, adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah
acid rain atau hujan asam. Menurut situs wikipedia.com, hujan asam ditemukan
pada tahun 1852. Ketika itu, Smith menemukan bahwa terdapat hubungan antara
hujan asam dengan polusi udara di Manchester, Inggris. Smith menjelaskan
fenomena hujan asam pada bukunya yang berjudul Air and Rain: The Beginnings
of Chemical Technology.
Dalam Majari Magazine, dikemukakan bahwa fenomena hujan asam
sebenarnya telah dikenal sejak akhir abad 17. Robert Boyle, adalah orang yang
pertama kali menggambarkan fenomena hujan asam sebagai nitrous or salinosulforus spiris dalam bukunya yang berjudul A General History of the Air pada
tahun 1960.
Masalah hujan asam dengan skala besar pertama kali terjadi pada tahun
1960-an di sebuah danau di Skandinavia Amerika Utara. Air di danau tersebut
meningkat keasamannya hingga mengakibatkan berkurangnya populasi ikan.
Pada tahun yang sama, banyak hutan-hutan yang rusak di bagian Eropa dan
Amerika.

Pada tahun 1970, Amerika mengeluarkan peraturan pemerintah Clean Air


Act dengan tujuan untuk mengontrol emisi SO2 dan NOx. Peraturan ini memuat
standar polutan untuk kendaraan bermotor dan industri. Pada tahun 1990,
peraturan ini diamandemen untuk lebih memperketat kontrol emisi. Hasilnya,
emisi SO2 berkurang dari 23,5 juta ton menjadi sekitar 16 juta ton.
B. Proses dan Penyebab Terjadinya Hujan Asam
1. Proses Hujan Asam
Ada banyak gas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar
fosil terutama batu bara. Di antara gas yang dihasilkan tersebut ada yang
bersifat asam, seperti sulfur dioksida dan nitrogen dioksida.
Secara sederhana sulfur dioksida bisa bereaksi menjadi asam sulfat
dan nitrogen oksida bisa menjadi asam nitrat. Di atmosfer kedua zat ini akan
bercanpur dengan titik-titik air di awan yang mengakibatkan titik-titik air ini
menjadi asam. Ketika titik-titik air ini jatuh ke bumi, pada saat iulah terjadi
hujan asam. Reaksi pembentukan hujan asam dapat diilustrasikan sebagai
berikut:
S (g) + O2 SO2 (g)
2SO (g) + O2 (g) 2SO3 (g)
SO3 (g) + H2SO4 (l) H2SO4 (Aq)
Semua mahluk hidup mengandung sulfur, dan sulfur itu tinggal dalam
bahan bakar fosil. Pada waktu bahan bakar fosil digunakan dalam
pembakaran, belerang teroksidasi dan lepas ke udara. Oksida belerang itu

selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Gambiro: 8). Begitupun dengan


NOX, ia juga berasal dari aktivitas jasad renik tanah yang kehidupannya
menggunakan senyawa organik mengandung N (Nitrogen), dimana oksida N
merupakan hasil samping aktivitas tersebut. Dalam tanah, pupuk nitrogen
yang tidak terserap oleh tumbuhan juga mengalami perombakan kimia, fisik
dan biologis yang menghasilkan oksida N (Gambiro: 9).
Sumber asam nitrat yang lain adalah amoniak (NH3), yang sebenarnya
bersifat basa, namun di dalam tanah sebagian mengalami proses nitrifikasi
asam nitrat (Gambiro: 9). Sumber utama NH3 adalah kegiatan pertanian dan
peternakan (pupuk dan kotoran ternak).
2. Penyebab Hujan Asam
Bukan hanya karena industrialisasi, akan tetapi sebenarnya sekitar
50% SO2 dan NOX yang ada dalam atmosfer adalah alamiah karena semburan
gunung merapi, proses biologis tanah, rawa dan laut. Akan tetapi 50% lainnya
adalah antropogenik, yaitu berasal dari kegiatan manusia (Gambiro: 8).
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) dari hasil pembakakaran
bahan bakar fosil dan nitrogen oksida yang apabila bereaksi dengan oksigen
akan menghasilkan sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Zat-zat ini berdifusi
ke atmosfer dan akan bereaksi dengan air dan membentuk asam sulfat dan
asam nitrat. Karena zat ini mudah larut, sehingga ia bisa jatuh bersama air
hujan.

Nitrogen oksida, diemisikan dari pembakaran pada temperatur tinggi


yang bereaksi dengan bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat
hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau smog kabut berawan
coklat kemerahan (Susanta dan Sutjahjo, 2008 dalam Anonymous).
Semakin modern pengembangan industri maka akan semakin tinggi
pula

pencemaran

udara.

Pembakaran

sempurna

bahan

bakar

fosil

menghasilkan CO2 dan H2O bersama beberapa nitrogen oksida yang muncul
dari fiksasi nitrogen dan atmosfer pada suhu tinggi. Pembakaran yang tidak
sempurna menghasilkan asap hitam yang terdiri dari partikel-partikel karbon
atau hidrokarbon kompleks atau CO dan senyawa organik yang teroksidasi
sebagian (Kristanto, 2002 dalam Anonymous).
C. Dampak Hujan Asam
1. Merusak tanah
Pada dasarnya hujan asam akan memberikan dampak negatif terhadap
daerah yang terkena, termasuk tanah. Dalam tanah, hujan asam akan
melarutkan kalsium, potasium dan nutrien lain. Akibatnya, biotik seperti
tumbuhan akan mengalami dalam proses pertumbuhannya atau bahkan mati.
2. Menyebabkan pH air turun
Ketika lingkungan hidup biotik berubah tentu saja akan mempengaruhi
kelangsungan hidup biotik tersebut. Kelebihan zat asam pada danau akan
mengakibatkan kurangnya spesies yang bertahan. Jenis plankton dan
invertebrata merupakan mahluk yang paling pertama mati akibat pengaruh

pengasaman (Cahyono: 50). Jika pH air danau di bawah 5, maka lebih dari
75% spesies ikan akan hilang. Hal ini disebabkan oleh pegaruh rantai
makanan, yang secara signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu
ekosistem (Cahyono: 50).
Tidak pada semua danau yang terkena hujan asam akan menjadi asam.
Telah ditemukan jenis batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan
keasaman (Cahyono: 50).
3. Merusak abiotik
Bukan hanya biotik, akan tetapi benda tak hidup pun (abiotik) bisa
terkena dampak hujan asam. Tetesan-tetesan air hujan asam bisa masuk ke
dalam dinding melalui retakan-retakan, kemudian melarutkan kalsium dalam
bahan-bahan beton, lalu meleleh keluar dari dinding. Tidak hanya beton,
tetapi hujan asam juga dapat merusak lantai dari marmer bahkan atap-atap
rumah.
Huan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa
material seperti batu kapur, pasir besi, marmer, batu pada dinding beton serta
logam (Cahyono: 51). Jadi, bisa kita bayangkan bila hujan asam terus
berlangsung maka jembatan bisa rusak karena materialnya mengalami korosi,
monumen bisa runtuh karena hujan asam dapat merusak batuan dengan kals
ium karbonat dan meninggalkan kristal pada batuan yang telah menguap.

D. Pencegahan Hujan Asam


1. Reboisasi
Pohon dapat mengatasi dampak negatif dari hujan asam melalui proses
fisiologis tanaman yaitu gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa
unsur diantaranya adalah Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin
dan gula (Utomo, 2006). Bahan anorganik yang diturunkan ke lanai hutan dari
tajuk melalui prose troughfall dengan urutan K>Ca>Mg>Na baik untuk tajuk
dari tegakan daun lebar maupun dari daun jarum (Utomo, 2006).
Dalam utomo, 2006, hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3
apabila tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan
daun mulai dibasahi, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang
terdapat pada daun membentuk garam Ca SO4 yang bersifat netral, dengan
demikian adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan
sangat membentu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak
begitu berbahaya lagi bagi linkungan. Jika pH air hujan yang melewati tajuk
pohon dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon
maka akan kelihatan bahwa pH air air hujan yang melewati tajuk pohon lebih
rendah daripada yang tidak melewati tajuk pohon.
2. Menghemat energi yang menggunakan hasil olahan batu bara dan minyak
bumi karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyebab hujan
asam adalah belerang (sulfur) dan NOX yang terdapat dalam bahan bakar
fosil.

3. Mengurangi penggunaan pupuk N (Nitrogen) dan beralih ke pupuk kompos.


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pupuk N yang tidak terserap oleh
tumbuhan akan menghasilkan oksida N.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Iindustrialisasi dan modernisasi telah membawa manusia ke era kemajuan
akan tetapi tela memberikan dampak buruk kepada alam seperti hujan asam,
dimana efek dari dampak buruk ini juga akan menimpa manusia itu sendiri.
2.

Untuk mengurangi efek dari hujan asam maka kita harus bijak dalam
menggunakan bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan seperti bahan
bakar fosil dan pupuk Nitrogen. Selain itu, kita juga harus mengurangi
logging untuk menjaga hutan kita tetap lestari.

B. Saran
1. Mengingat dampak hujan asam sangat besar dan berpengaruh terhadap unsur
biotik dan abiotik di bumi, maka kita harus serius untuk melakukan upayaupaya pencegahan
2. Pemerintah lokal dan internasional juga harus menunjukkan komitmen dan
keseriusannya dalam mengatasi pencemaran udara.

DAFTAR PUSTAKA
Astra, I Made. 2010. Energi dan Dampaknya terhadap Lingkungan. Jurnal
Meteorologi dan Geofisika. 2 (2): 131-139
Cahyono, Eko.W. Pengaruh hujan Asam Pada Biotik dan Abiotik. LAPAN.
Gambiro, Henny. Lingkungan Udara. Materi Ajar. Pusat Pengembangan Bahan Ajar
UMB.
Pipi, Andi. Artikel Hujan Asam. Academia.edu. 26 Oktober 2014 (20.00).
Siregar, A. Zuliyanti. 2007. Pemberdayaan Wanita Dalam Mengelola Lingkungan.
USU Repository.
Sumahamijaya, Inra. 2009. Hujan Asam Menghancurkan Bumi. Majari Magazine. 26
Maret.
Utomo, Budi. 2006. Hutan SebagaiMasyarakat Tumbuhan Hubungannyadengan
Lingkungan. Karya Ilmiah. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
Medan.